Utusan Khusus Jenderal TPN/OPM Mathias Wenda dikirim ke Eropa pada tahun 1998 dan bergerilya di kota-kota di Eropa selama hampir 2 tahun, sebelum akhirnya dipanggil pulang tahun 2000 untuk mengikuti Kongres Rakyat Papua 2000 dan diutus kembali tahun 2001 – 2003.Tahun 2004 – 2006 diberi tugas lagi untuk melakukan gerilya kota-kota Melanesia. Utusan Khusus Mathias Wenda bertemu Senior OPM Andy Ayamiseba dan Senor Dr. OPM John Otto Ondawame di Port Vila, Republik Vanuatu. Para utusan disambut dengan sambutan militer oleh Dr. OPM Otto Ondawame di Lapangan terbang Internasional Port Vila.
Dalam perjalanan regilya kota-kota ini telah meninggalkan banyak sekali cerita yang tidak mudah dilupakan, terutama bagi para pasukan TPN/OPM di Markas Pusat Pertahanan. Banyak juga peristiwa bersejarah yang pernah terjadi. Salah satu hasil dari perjalanan ini ialah gagasan untuk memisahkan TPN dari OPM, dengan cara TPN memisahkan diri dari OPM dan salah dua hasil adalah memfokuskan perjuangan Papua Merdeka di kawasan Melanesia.
Peristiwa pemisahan diri TPN dari OPM terjadi pada tahun 2006 dalam Kongres TPN/OPM yang berlangsung di Markas Pusat TPN/OPM, dipimpin langsung oleh Jenderal TPN/OPM Mathias Wenda.
Dalam sidang itu, TPN memisahkan diri secara resmi dari OPM dan menamakan dirinya sebagai Tentara Revolusi West Papua.
Sedangkan perjuangan Papua Merdeka mulai tahun 2006 diarahkan ke kawasan Melanesia. Banyak pertemuan dengan para tokoh politik dilakukan berulang-ulang, secara undercover. Istilah TRWP ialah gerilya kota. Lobi-lobi pribadi telah dilakukan sejak tahun 2006 di Papua New Guinea. Sedangkan lobi-lobi di Vanuatu sudah berlangsung sejak 2004. Maksud lobi bukan lobi politik, tetapi lobi pendekatan adat mengingat masyarakat Melanesia sampai hari ini sampai besok-pun masih tetap masyarakat adat.
Pada tahun 2001, utusan khusus TPN/OPM bertemu dengan Mr. Mortimer, Sekretaris 1 dari Kofi Annan, Sekjen PBB di Geneva Swiss Waktu itu utusan Khusus TPN/OPM melakukan intervensi di Sidang Minority Rights Group, di mana Utusan Khusus TPN/OPM diangkat menjadi Chairman dari salah satu sidang di sana. Dalam pertemuan itu Utusan TPN/OPM bertemu dengan Direktur Utama Palang Merah Internasional untuk menyampaikan Protes atas Peristiwa Berdarah Mapenduma mengakhiri penyanderaan oleh Jenderal TPn/OPM Kelly Kwalik waktu itu.
Mr. Mortimer mengatakan kalimat-kalimat ini, sebagaimana diceritakan kepada PMNews:
Mortimer: Where are you from?
TPN/OPM: West Papua?
Mortimer: Where is West Papua?
TPN/OPM: It is nearby Australia?
Mortimer: What region is it? Middle East? Africa?
TPN/OPM: No. Oceania, South Pacific, Melanesia.
Mortimer: How many Melanesian countries are there?
TPN/OPM: Four already Independent states, and three are still fighting.
Mortimer: Ok. Good. Mr. Annan was the UN Staff during the Act of Free Choice. He knows what had happened when you were still children, he knows the history, he was part of the history of West Papua. You do not need to teach him about West Papua history. What you should do now is Go to your Melanesian states, mobile support from the four already independent states, and let them bring West Papua issue to the UN, not you. OK? I do not want to see your face here, from now, from this place, I do not want to see you anymore. You go to your people, mobile their support, and come back here, not here, but to New York, not yourself, but with your Melanesian leaders, presidents or prime ministers. That is the only way. Then you go to African countries.
(Setelah mengatakan ini, di amengeluarkan tangannya dan katakan, mari keluarkan tanganmu) Lalu dia katakan
Do you see the colour? My colour is different from your colour. Here we are just playing Mr. Annan is your colour, Melanesia is your colour, Africa is your colour. Just follow the colour, then you get the real outcome.
TPN/OPM: I realy thank you very much, on behalf of my heroes, my elders, my leaders and myself.
Mortimer: Off you go. Here is my Card, if anything happen to you, just email me, phone me right away.
TPN/OPM: Off, saya keluar dari sidang, angkat barang, dan pulang ke Tanah Papua, Papua New Guinea.
Semoga dari cerita singkat ini, membawa manfaat bagi kita.
Kita harus merasa kecil, merasa tidak berarti, merasa tidak ada arti sama sekali dari hari ke hari, maka Dia yang menciptakan kita, pahlawan yang mendahului kita, dan tanah leluhur kita akan mengangkat kita, menjadi pelayan.
Dalam sejarah manusia di seluruh dunia, baik yang tercatat dalam Kitab Suci agama-agama modern, atau juga dalam agama-agama tua dan ajaran-ajaran dan cerita adat di mana-mana, telah dicatat ber-ulang-ulang, diceritakan dan dikhotbahkan di mana-mana, secara prinsipil mengatakan bahwa “para pemenang adalah mereka yang berani dan berhasil mengalahkan ego sendiri”.
Cerita Yesus Kristus merupakan cerita yang paling mudah kita jadikan sebagai salah satu dari mereka. Yesus menjadi Juruselamat umat manusia di dunia, sepanjang masa, itu menurut pengakuan salah satu agama modern, Agama Kristen. Apa yang dilakukan Yesus Kristus adalah salah-satu patokan, dan jelas menjadi patokan utama dalam perjuangan Papua Merdeka, karena hampir 90% penduduk OAP adalah beragama Kristen.
Kita selalu merayakan Hari Kelahiran Yesus Kristus yang kita sebut Hari Natal dan Hari Kematian Yesus Kristus, yang kita sebut Minggu Paskah. Kedua peristiwa ini adalah peristiwa di mana “Yesus Mengalahkan Ego-Nya” dan menyerahkan sepenuhnya kepada kedaulatan dan kekuasaan Allah Bapa.
Yesus meninggalkan kerajaan-Nya, kekuasan-Nya, kemuliaan-Nya, dan segala yang Ia miliki sebagai seorang Raja di atas tahta-Nya di Surga, dan rela lahir sebagai seorang bayi adalah sebuah “penyangkalan ego dan secara otomatis mengalahkan ego-Nya”.
Setelah Yesus menjalani kehidupan sebagai seorang manusia, sama dengan kita manusia di dunia, sama dengan orang Melanesia, ia rela makan-minum, tidur-bangun, jalan-kerja, lapar, harus, menderita sebagai seorang manusia, sama dengan kita semua. Ia benar-benar, selama 33 tahun, bukan setahun dua tahun, secara berturut-turut, berulang-ulang, mengalahkan ego-Nya.
Proses menuju puncak pengalahan ego-Nya Yesus Kristus merelakan diri-Nya ditangkap, disiksa, dikhianati oleh murid-Nya sendiri, dan disalibkan. Ia berdoa di Zaman Getsemani, yang kita sebut sebagai Konferensi terakhir untuk mengambil sikap Kerajaan Allah terhadap misi Yesus Kristus. Bisa terjadi waktu itu Allah membatalkan proses penyaliban. Yesus sendiri sudah mengeluhkan penderitaan-Nya waktu itu. Tetapi Yesus katakan, “Kehendak-Mu-lah yang jadi,bukan kehendak-Ku”.
Akhirnya di Bukit Tengkorak, Yesus rela disalibkan di kayu salibm dan mati di kayu salib. Secara manusiawi, Yesus bisa saja memerintahkan bala tentara surga untuk menyambutnya dan kedatangan mereka itu pasti saja membumi-hanguskan semua orang yang menghianati, menghukum dan menyalibkan Dia.
Tetapi itu semua tidak terjadi. Semua skenario daging dikalahkan-Nya, semua skenaio ego Yesus dikalahkan-Nya.
Apa hasilnya?
Hasilnya Yesus dikukuhkan secara sah dan mutlak sebagai Raja di atas segala Raja.
Apakah ego saya?
Mau jadi terkenal dan dikenal serta ditepuk-tangan selalu oleh orang lain?
Sulit meninggalkan kebiasaan merokok dan mabuk-mabukan?
Sulit meninggalkan kecanduan narkoba?
Sulit meninggalkan nafsu-nafsu duniawi?
Sulit menerima masukan dan kritikan?
……
Ego Yesus dikalahkan sebelum Ia mengalahkan Iblis.
Ego tokoh Papua Merdeka harus dikalahkan terlebih dulu sebelum mengalahkan NKRI! Itu rumus baku, rumus revolusioner.
Para tokoh Papua Merdeka, di kota, di kampung, di hutan, di dalam negeri, di luar negeri, senior, yunior, gerilyawan, politisi, aktivis, semuanya, semuanya.
Mari Kita belajar dan jadikan Yesus sebagai Panglima Tertinggi Revolusi West Papua,
Jadikan dirikita mengikuti dan mencontoh secara dekat, teladan yang ditinggalkannya,
Jalannya ialah dengan menyangkal, meninggalkan, dan menyalibkan egoisme pribadi, dan jadikan kepentingan dan penderitaan bangsa Papua dalam konteks West Papua dan penderitaan Melanesia dalam konteks kawasan
Kalau kita masih saja memegang “ego” sebagai Tuhan kita, maka kita akan dikalahkan oleh ego kita sendiri. Jangan pernah bermimpi mengalahkan NKRI, karena sebelum apa-apa kita sudah kalah dari ego sendiri.
Setelah berpengalaman selama 5 dasawarsa dalam perjuangan kemerdekaan Bangsa dan Tanah Air Papua Barat, saya merenungkan kembali visi dan misi perjuangan kemerdekaan yg telah memakan Umur para pejuang2 kemerdekaan termasuk pahlawan2 yg telah mendahului kita. Apa kiranya hal2 yg membuat perjuangan ini makin berkepajangan???
Saya secara pribadi berpendapat bhw ada banyak sebab yg membuat perjuangan ini TINGGAL DITEMPAT karena kepentingan Nama Besar para Pemimpin2 yg mabuk hormat dan prestige tanpa memperhitungkan pengorbanan rakyat jelata.
Kelihatannya perjuangan ini disengajakan berkepanjangan oleh beberapa Pemimpin yg dipakai oleh penasihat2 asingnya selaku mata pencarian mereka se-hari2 membuat perjuangan nasional sesuatu bangsa tampil selaku suatu organisasi LSM dan para Pemimpin berperan selaku aktivis2 dari LSM tersbt.
Saya memiliki visi yg berbeda dan menolak segala versi Papua selaku zona DAMAI karena kata Damai secara sepihak tidak memiliki sesuatu MAKNA apapun.
Saya menyerukan kepada seluruh institusi2 perjuangan utk membangun kekuatan (empowerment) dan bersiap siaga bilamana ada seruan MOBILISASI UMUM utk menghadapi Pejajah Sadisme. Ingat bhw penjajah kita tidak pernah menganggap kita selaku manusia ciptaan Tuhan, melainkan binatang yg mereka berhak membunuh seenaknya, jadi jangan terbuai oleh segala tipu muslihatnya.
Penandatangan Petisi Global #LetWest PapuaVote dan dukungan kampanye #BackTheSwim yang diluncurkan di Istana Westminster, Parlemen Inggris (24/1/2017) – freewestpapua.org
Jayapura, Jubi – Kampanye Free West Papua kembali melakukan gebrakan dari London mengajak masyarakat internasional menandatangani Petisi Global untuk West Papua mendukung Deklarasi Wesminster atas Referendum di bawah pengawasan internasional untuk West Papua.
Kampanye sekaligus petisi tersebut diberi tajuk yang bertagar #BackTheSwim dan #LetWestPapuaVote, dilansir situs freewestpapua.org diluncurkan Selasa (24/1) waktu London di Istana Westminster, Parlemen Inggris.
Sehari setelah diluncurkan, hampir 3000 orang telah menandatangani petisi online di medium avaaz.org itu.
Dari Westminster, Petisi tersebut akan terus digalang dengan target awal 10,000 penandatangan, utamanya rakyat West Papua di seluruh dunia, hingga bulan Agustus 2017. Selanjutnya ia akan dibawa berenang oleh tim Swim for West Papua (Berenang untuk West Papua) sejauh 69 km menyeberangi Danau Geneva untuk menyerahkannya langsung ke tangan Perserikatan Bangsa Bangsa (PBB).
Gebrakan kampanye Free West Papua terbaru ini seiring meningkatnya atmosfer solidaritas terhadap hak penentuan nasib sendiri West Papua di panggung internasional sepanjang tahun ini. “Ini adalah kesempatan kita untuk menghubungkan dukungan individual dan kelompok-kelompok di seluruh dunia,” demikian seperti dinyatakan dalam laman freewestpapua.org.
Kampanye Let West Papua Vote hingga delapan bulan mendapatang ditujukan untuk mengumpulkan dukungan terhadap hak penentuan nasib sendiri West Papua ke PBB. Dukungan tersebut, menurut para pengkampanye, dibutuhkan agar membuka mata para pemimpin dunia dan PBB, “bahwa kita, komunitas internasional, meminta mereka memperbaiki kesalahan masa lalu dan Biarkan Papua Memilih!
Deklarasi Westminter memuat landasan dan prinsip-prinsip penentuan nasib sendiri West Papua. Di dalamnya memuat protes terhadap pelanggaran HAM di Papua; pernyataan bahwa “Pepera 1969” tidak sah; masyarakat asli Papua yang terancam musnah; serta referendum di bawah pengawasan internasional untuk West Papua.
Menyikapi peningkatan suhu politik dukungan penentuan nasib sendiri West Papua di internasional, pemerintah Indonesia tampak mulai semakin waspada. Dilansir Antara, kunjungan 14 dari 23 calon duta besar RI ke Jayapura, Papua Rabu (25/1/2017) yang bertujuan untuk orientasi empat pilar politik luar negeri Indonesia menunjukkan pemerintah tak mau ‘kecolongan’ lagi atas isu kemerdekaan Papua di luar negeri.
“Papua yang dipilih terkait dengan empat prioritas: keutuhan NKRI, diplomasi ekonomi, pelayanan dan perlindungan WNI, serta penguatan diplomasi bilateral, regional juga multilateral,” kata Ketua Rombongan Lintas Nusantara yang juga Sekretaris Jenderal Kementerian Luar Negeri Kristiarto Legowo.
Menurut Kristiarto, Papua dipilih karena diyakini sebagai aset dalam upaya menjaga keutuhan NKRI, pembangunan ekonomi Indonesia, menguatkan hubungan bilateral, regional dan multilateral.
“Papua juga merupakan aset bagi bangsa dan negara. Para duta besar yang mewakili kepentingan masyarakat juga kepentingan warga Bumi Cenderawasih,” ujarnya.(*)
Sebagai orang tua, sebagai generasi yang sudah hampir empat dekade bertahan di hutan New Guinea, Gen. TRWP Mathias Wenda telah berulang-ulang mengatakan, bangsa Papua saat ini West Papua sebagai sebuah wilayah yang memperjuangkan kemerdekaannya, bangsa Papua sebagai sebuah bangsa yang terjajah dan ULMWP sebagai perwakilan bangsa Papua sudah waktunya, bahkan waktunya sudah lewat, untuk menjalankan tugas dan fungsinya sebagai sebuah pemerintahan, bukan sekedar sebagai sebuah kelompok sipil yang memperjuangkan hak-haknya saja.
Memang banyak pihak di dalam negeri maupun di luar negeri tidak menghendaki penyusunan pemerintahan dimaksud. Ada para tokoh Papua Merdeka yang menganggap usulan Mathias Wenda sebagai wakil dari suku tertentu dan tidak mewakili bangsa Papua secara umum. Ada juga menganggap bangsa Papua masih rentant untuk terpecah-belah, oleh karena itu sebaiknya kita berjuang dulu lewat badan ULMWP untuk sementara waktu. Sementara yang lain mengatakan kalau ULMWP kemudian membentuk pemerintahan, maka akan mengalami banyak kendala secara hukum.
Oleh karena hal-hal inilah, TRWP atau WPRA (West Papua Revolutionary Army) telah mengusulkan untuk semua pihak mengikuti langkah dari Parlemen Nasional West Papua (PNWP) menindak-lanjuti bunyi pasal dan ayat di dalam Undang-Undang yang telah disahkan PNWP, sehingga dengan demikian kita tidak melanggar Undang-Undang, tetapi sedang menjalankan Undang-Undang. Dengan demikian kita tidak melawan sebuah pemerintahan, tetapi kita menjalankan pemerintahan dari sebuah wilayah West Papua.
Pemikiran politik seperti ini masih harus berhadapan dengan oknum di dalam perjuangan kita yang masih egois dan masih punya persepsi sempit.
Menurut Gen. Tabi,
kita harus tunggu sepuluh tahun lagi, menunggu tokoh Papua Merdeka yang masih kerdil dalam pemikiran dan masih belum tahu real-politik global dan regional, untuk belajar lagi, sampai kita mencapai kesepahaman. Ini sebenarnya sama saja dengan membiarkan penderitaan bangsa Papua berlanjut, dan memberikan peluang kepada NKRI untuk bermanuver mengalahkan bangsa Papua di kancah politik Melanesia. Tetapi apa boleh buat, ini pilihan kolektiv kita, walaupun orang tua terlama di hutan, Mathias Wenda sudah bicara, tetapi anak-anak merasa lebih pintar, jadi silahkan jalan saja.
Ketika ditanyakan apakah UURWP dan ULMWP dapat dijalankan saat ini? Menurut Gen. Tabi PNWP perlu melakukan Sidang-Sidang Khusus dan diakhiri Sidang Paripurna untuk Amandemen UURWP, banyak yang perlu diperbaiki dan disesuaikan, tetapi itu tidak berarti harus berlama-lama sementara penderitaan dan ketidak-pastian semakin merngakar di tanah Papua.
Tabi melanjutkan
Bangsa Papua dan Melanesia pada umumnya, di tingkat alam tak sadar kita memiliki kelemabahan terbesar, yaitu kita sering cepat lupa, dan sering mudah dimanipulasi, kita sering panas-panas tahu ayam, sering tidak punya fokus dan sering kita menghabiskan waktu banyak dalam bercek-cok sendiri, akibatnya tidak ada waktu lagi untuk melawan penjajah.
Tugas pemimpin dan roh perjuangan ialah memberi petunjuk dan arahan. Adalah hak penuh bagi para pemain untuk memainkan bola perjuangan ini. Kalah dan menang tergantung kapada ULWP sekarang, bukan siapa-siapa.
Tak seperti perjuangan pembebasan negara-negara jajahan Inggris yang akhirnya diberi jalan untuk merdeka dan membentuk negara baru, Indonesia benar-benar harus melawan Belanda dalam perang empat tahun untuk mencapai kemerdekaan seutuhnya.
Uni Soviet mendukung gerakan antikolonialisme di Asia dan tertarik dengan misi Sukarno untuk membebaskan seluruh Hindia Timur dari pemerintahan kolonial Belanda. Dukungan terbuka dan bantuan persenjataan Moskow terhadap Jakarta memaksa Belanda untuk bernegosiasi di meja perundingan.
Pada Desember 1949, Belanda mengakui kedaulatan Indonesia di seluruh bekas wilayah Hindia Belanda, kecuali Papua. Pemerintah Belanda beralasan bahwa pulau dan suku-suku yang mendiami Papua memiliki kebudayaan mereka sendiri yang berbeda dengan wilayah Indonesia lainnya.
Presiden pertama RI Sukarno, yang memimpin gerakan kemerdekaan Indonesia, membuat misi pribadi untuk membebaskan wilayah yang saat itu disebut sebagai Irian Barat dari kekuasaan Belanda.
“Pada awalnya, ini adalah upaya yang sia-sia,” kata Clarice Van den Hengel, seorang peneliti dan ahli Indonesia yang tinggal di Den Haag, kepada penulis. “Awalnya, Amerika, yang telah membentuk NATO, mendukung Belanda, sedangkan Stalin tidak peduli dengan Indonesia yang berada jauh di khatulistiwa.”
Upaya Sukarno untuk membebaskan Irian Barat dimulai dengan melakukan negosiasi bilateral langsung dengan Belanda. Ketika langkah ini gagal, Indonesia kemudian mencoba untuk menggalang dukungan di Majelis Umum PBB. Namun, hal ini pun terbukti sia-sia.
Konfrontasi
Pada tahun 1956, Presiden Sukarno, yang memiliki kecenderungan jiwa sosialis yang kuat, melakukan kunjungan pertamanya ke Moskow. Di Moskow, sang presiden pertama RI membahas sengketa negaranya dengan Belanda, yang kemudian disebut sebagai Sengketa Irian Barat.
Presiden Soekarno dan Nikita Kruschev berpose bersama kosmonot Sovyet pada Juni 1961. Foto: Ria Novosti
Pemimpin Soviet Nikita Khrushchev, yang mendukung gerakan antikolonialisme di Asia dan Afrika, dengan cepat mengumumkan dukungannya terhadap Indonesia yang pada waktu itu tengah berupaya mendapatkan dukungan di PBB.Moskow juga mulai mempersenjatai angkatan bersenjata Indonesia. Dari akhir 1950-an hingga akhir masa kepemimpinan Sukarno pada 1966, Uni Soviet telah memasok Indonesia dengan satu kapal penjelajah, 14 kapal perusak, delapan kapal patroli antikapal selam, 20 kapal rudal, beberapa kapal torpedo bermotor dan kapal meriam, serta kendaraan-kendaraan lapis baja dan amfibi, helikopter, dan pesawat pengebom.
“Situasi benar-benar berubah ketika Indonesia dipersenjatai oleh Soviet,” kata Van den Hengel. “Belanda sudah kalah perang dengan rakyat Indonesia dan tidak siap untuk berurusan dengan tentara Indonesia yang dilengkapi dengan senjata modern.”
Pesawat Mig-21, paling canggih di era tersebut
Dengan dukungan persenjataan Soviet, Indonesia memulai kebijakan konfrontasi dengan Belanda pada tahun 1960.Subandrio Bertemu Khrushchev
Konfrontasi antara Indonesia dan Belanda melibatkan kombinasi tekanan diplomatik, politik, dan ekonomi, serta kekuatan militer yang terbatas.
Tahap akhir konfrontasi memaksa invasi militer berskala penuh, suatu rencana berisiko yang akan memaksa Amerika untuk campur tangan dan membantu sekutu NATO mereka.
Selama puncak konfrontasi, Subandrio, menteri luar negeri Sukarno yang fasih berbahasa Rusia, terbang ke Moskow untuk meminta dukungan Soviet.
Nikita Khrushchev menggambarkan peristiwa yang berujung pada konfrontasi ini dalam memoarnya. “Saya bertanya kepada Subandrio, ‘Seberapa besar kemungkinan kesepakatan (dengan Belanda) bisa tercapai’,” tulis Khruschev.
BTR50 milik KKO (Marinir)
“Dia menjawab, ‘Tidak terlalu besar.’ Saya bilang, ‘Jika Belanda tidak bisa bersikap rasional dan memilih terlibat dalam operasi militer, ini akan menjadi perang yang, pada batas tertentu, bisa berfungsi sebagai medan pembuktian bagi pilot-pilot kami yang menerbangkan pesawat tempur yang dilengkapi dengan rudal. Kita akan melihat bagaimana rudal kami bekerja’.”Meskipun dukungan Moskow terhadap Indonesia sangat jelas dan dinyatakan secara terbuka, pembicaraan antara Khrushchev dan Subandrio ini seharusnya bersifat rahasia. Namun, sang menlu, menurut memoar Khrushchev, mengungkapkan hasil pembicaraannya itu kepada Amerika, yang sama sekali tak ingin terjebak dalam krisis lain yang berpotensi menjadi Perang Dunia.
Kapal Selam Wishkey Class, Indonesia sempat mempunya 12 unit dan 2 unit untuk spare.
“Ini menjadi momen berakhirnya kekuasaan Belanda di Irian Barat,” kata Van den Hengel. “Selain ingin menghindari konfrontasi langsung dengan Uni Soviet, AS tidak ingin terlihat bahwa negaranya tampak mendukung penjajah Eropa melawan negara dunia ketiga yang baru merdeka.”Di bawah tekanan Amerika, pada Agustus 1962, Belanda akhirnya setuju untuk menyerahkan Irian Barat ke Otoritas PBB (UNTEA). Pada 1963, wilayah Irian Barat akhirnya diserahkan kepada Indonesia.
Setelah referendum tahun 1969, atau yang dikenal sebagai Penentuan Pendapat Rakyat (Pepera), rakyat Irian Barat dengan suara bulat memilih bergabung dengan Indonesia. Meskipun dibantah oleh beberapa pengamat Barat, hasil referendum diterima oleh Amerika Serikat, Uni Soviet, Australia, serta 81 anggota PBB lainnya.
Namun, Belanda mengembangkan sekelompok orang yang hendak menentang penggabungan wilayah Papua dengan Indonesia. Unsur-unsur ini kemudian membentuk gerakan separatis yang hingga kini masih aktif di Papua.
This week, activists across the world celebrated as the Army Corps of Engineers announced that it would not grant the permit for the Dakota Access pipeline to drill under the Missouri river. This followed campaigning efforts from local Standing Rock Sioux tribe and thousands of Native American supporters from across North America and further afield, who argued that if the pipeline was approved, their spiritual lands would be compromised and local waters would be contaminated, threatening their livelihood. With a message that resonated with indigenous rights activists and environmentalists everywhere, campaigners were successful in forcing officials to back down.
The announcement was, however, met with scepticism from some first-nation Americans. With a heavy awareness that the DAPL would appeal the decision, many tribe members were cautious about celebrating too soon. After all, exploitation of indigenous groups, particularly in excavation projects, is common place: in Australia, historically aboriginal lands have been named as the preferred site for a nuclear waste dump, and in Nigeria, the indigenous Ogoni people have, according to numerous reports, been subjected to ethnic cleansing in the course of mishandled oil extraction projects.
It’s clear then that the exploitation of indigenous peoples is commonplace. So what set Standing Rock aside from the cases of groups in Australia, Nigeria and so many more? The answer is clear: a global coalition of activists. And no case study demonstrates more clearly the importance of activism in the struggle for indigenous rights than the situation in West Papua.
West Papua forms half of the Papua island, to the west of Papua New Guinea in South-East Asia. The island itself is split in half. The indigenous people of West Papua have Melanesian roots, and culturally and ethnically enjoy many similarities to the people of Papua New Guinea. However, the region’s fraught history and decades of political turmoil have left it without international recognition. It was formally colonised by the Dutch in 1898, and while the Netherlands began a process of decolonising the region following the Second World War, this was co-opted when Indonesia asserted a claim over the territory. Papuans fought back, declaring independence in 1961, but Indonesia soon retaliated by invading, backed by the Soviet Union. The situation was exacerbated when the US, prompted by fears of spreading Communist influence, interfered, brokering a deal with Indonesia to grant her control over West Papua. This was in theory meant to be followed by a referendum with the end goal of self-determination, but this never happened.
Since then, the military occupation of West Papua has resulted in over 500,000 deaths. The occupation has devastated indigenous people and scarred West Papuan communities: the Biak massacre of 1998 is a particularly haunting example of this. On the anniversary of the unsuccessful Papuan declaration of independence, over 200 independence demonstrators were forced by the army into two Indonesian naval vessels and taken to two different locations to be thrown into the ocean. In the following days, the protesters’ bodies washed up on Biak’s shores, or were snarled in fishing nets.
The Biak tragedy is just the tip of the iceberg. Aside from the scores of unlawful deaths, there are widespread reports of violence, including sexual violence, against civilians. In a public report to the U.N. Commission on Human Rights in 1999, the Special Rapporteur on Violence Against Women concluded that the Indonesian security forces used rape “as an instrument of torture and intimidation” in West Papua, and “torture of women detained by the Indonesian security forces was widespread”. Political prisoners engaged in peaceful demonstration are routinely convicted in unfair trials, and large numbers have yet to be released. The depth of suffering in West Papua is such that, in 2004, a groundbreaking report from Yale Law School referred to the Indonesian policy in West Papua as “genocide”- a label which was, apparently, taken lightly by the international communiyu.
It has been clear for a while now that the situation in West Papua has reached, and remained at, crisis point. So how do we explain the lack of public awareness and concerted policy responses? The problem is that most campaigns and activist movements are catalysed by news stories that shock us and compel us to take action, but there is a distinct lack of reporting on the West Papua situation. West Papua is effectively off limits to international journalists, and the penalties for flouting the region’s restrictive laws are severe: if discovered without permission they are arrested and deported by the Indonesian authorities. Some have even been attacked and imprisoned. Indonesian President Joko Widodo announced earlier this year that Papua would be open to foreign journalists, but this does not reflect the reality on the ground.
This is worsened by the fact that Indonesian authorities have made it near impossible for many NGOs to operate in West Papua: organisations such as the International Red Cross, Amnesty International and Human Rights Watch have all been denied access, and their vital services denied along with it.
West Papua represents one of the most atrocious systems of repression of indigenous peoples that we see in the world today. But the Standing Rock victory shows us that the will, manpower and resources do exist to mount an effective opposition tothreats to indigenous peoples’ rights. Even if it isn’t possible to go to West Papua and prevent these atrocities from happening directly, there is still a lot that each of us can do: you can support the fundraising efforts of the few NGOs that are allowed to operate in West Papua, you can write to your Member of Parliament, you can share resources and information with friends, family and colleagues, and you can help increase the public awareness that is so sorely needed to effect change.
Standing Rock taught us that persistent efforts can succeed- this lesson must not be forgotten, especially when it comes to groups that need protection the most.
The chairperson of the Melanesian Spearhead Group, Solomon Islands Prime Minister Manasseh Sogavare has postponed the PNG leg of his Melanesia tour.
Manasseh Sogavare Photo: RNZI
The tour, his second as chairperson, is to discuss the restructuring of the MSG Secretariat in Vanuatu and the revision of MSG Membership Guidelines with other MSG leaders.
Earlier this week Mr Sogavare met with his Vanuatu counterpart, Charlot Salwai in Port Vila and also with FLNKS spokesperson Victor Tutugoro.
Today he is to meet with the Fiji’s Prime Minister Frank Bainimarama in Suva.
Fiji’s Prime Minister, Frank Bainimarama. Photo: RNZ/ALEX PERROTTET
Following that meeting Mr Sogavare was supposed to fly to Port Moresby to meet with PNG’s prime minister Peter O’Neill.
But this leg of the tour has now been postponed until February.
Mr Sogavare, who flys back to Solomon Islands on Sunday, said he would not be releasing a statement on the outcome of the tour until he completes the PNG leg in February.
The MSG secretariat in Port Vila has been plaqued by issues with funding and its overhaul was recommended by an independent review commissioned because of persistent funding problems and the review of membership guidelines has arisen over the issue of West Papuan membership to the Melanesian Spearhead group.
Solomon Islands and Vanuatu favour West Papuan Membership while Fiji and Papua New Guinea support Indonesia’s view that it should represent West Papuan interests in the group.
WASHINGTON, SATUHARAPAN.COM – Presiden ke-45 Amerika Serikat, Donald Trump, menyampaikan pidato sesaat setelah dilantik dengan penekanan pada kembalinya kekuasaan kepada rakyat dan kepentingan AS nomor satu.
Dengan gayanya yang khas, dengan tangan yang tidak pernah diam saat ia berbicara, Donald Trump menegaskan bahwa hari-hari mendatang adalah hari-hari yang berbeda bagi rakyat AS.
“Upacara hari ini, bagaimanapun, memiliki makna sangat khusus. Karena hari ini kita tidak hanya mentransfer kekuasaan dari satu pemerintahan kepada yang lain, atau dari satu pihak kepada pihak lain – tetapi kami sedang memindahkan kekuasaan dari Washington, DC dan memberikan kembali kepada Anda, Rakyat Amerika,” kata dia, selepas tengah hari, Jumat (20/1) waktu Washington DC.
“Sudah terlalu lama, sebuah kelompok kecil di ibukota negara kita menuai manfaat dari pemerintahan sedangkan rakyat yang menanggung biayanya. Washington berkembang – tetapi rakyat tidak mendapat bagian kekayaan,” kata dia.
“Bahwa semua perubahan – mulai di sini, dan sekarang, karena saat ini adalah milik Anda,” tutur dia.
“Apa yang benar-benar penting adalah bukan partai yang mengontrol pemerintah, tapi apakah pemerintah kita dikendalikan oleh rakyat,” ia menambahkan.
“Pria dan perempuan yang selama ini terlupakan, tidak akan dilupakan lagi, kata dia pada bagian lain pidatonya.
“Mulai hari ini, visi baru akan mengatur tanah air kita.”
“Mulai saat ini, Amerika menjadi yang pertama.”
Berikut ini teks pidato lengkap Donald Trump, yang diterjemahkan dari Bahasa Inggris. (Teks asli dalam bahasa Inggris disajikan di bawah terjemahan ini).
Hakim Agung Roberts, Presiden Carter, Presiden Clinton, Presiden Bush, Presiden Obama, rakyat Amerika, dan rakyat dunia: terima kasih.
Kita, rakyat Amerika, kini bergabung dalam upaya nasional yang besar untuk membangun kembali negara kita dan untuk mengembalikan janjinya untuk semua rakyat kita.
Bersama-sama, kita akan menentukan jalannya Amerika dan dunia untuk tahun-tahun mendatang.
Kita akan menghadapi tantangan. Kita akan menghadapi kesulitan. Tapi kita akan menyelesaikan pekerjaan.
Setiap empat tahun, kita berkumpul untuk proses ini melaksanakan transfer kekuasaan yang tertib dan damai, dan kita berterima kasih kepada Presiden Obama dan Ibu Negara Michelle Obama untuk bantuan murah hati mereka sepanjang transisi ini. Mereka hebat.
Upacara hari ini, bagaimanapun, memiliki makna sangat khusus. Karena hari ini kita tidak hanya mentransfer kekuasaan dari satu pemerintahan ke yang lain, atau dari satu pihak kepada pihak lain – tetapi kita sedang memindahkan kekuasaan dari Washington, DC dan memberikan kembali kepada Anda, Rakyat Amerika.
Sudah terlalu lama, sebuah kelompok kecil di Ibu Kota negara kita menuai manfaat dari pemerintahan sedangkan rakyat yang menanggung biayanya.
Washington berkembang – tetapi rakyat tidak bertambah kekayaannya.
Politisi makmur – tetapi lapangan kerja lenyap, dan pabrik-pabrik ditutup.
Kalangan mapan melindungi dirinya sendiri, tetapi bukan melindungi warga negara.
kemenangan mereka bukan kemenangan Anda, kejayaan mereka bukan kejayaan Anda; dan sementara mereka merayakannya di Ibu Kora, hanya sedikit perayaan bagi mereka yang berjuang untuk keluarganya di seluruh tanah air kita.
Semua berubah – mulai di sini, dan sekarang, karena momen ini adalah momen Anda: itu milik Anda.
Ini milik semua orang yang berkumpul di sini hari ini dan semua orang yang menonton di seluruh Amerika.
Ini adalah hari Anda. Ini adalah perayaan Anda.
Dan ini, Amerika Serikat, adalah negara Anda.
Apa yang benar-benar penting adalah bukan partai yang mengontrol pemerintah kita, tapi apakah pemerintah kita dikendalikan oleh rakyat.
20 Januari 2017, akan dikenang sebagai hari dimana rakyat menjadi penguasa bangsa ini kembali.
Laki-laki dan wanita yang terlupakan oleh negara kita tidak akan dilupakan lagi.
Semua orang mendengarkan Anda sekarang.
Anda datang dengan puluhan juta orang untuk menjadi bagian dari gerakan bersejarah yang tidak pernah terlihat oleh dunia sebelumnya.
Di tengah-tengah gerakan ini ada keyakinan penting: bahwa bangsa ada untuk melayani warganya.
Amerika ingin sekolah hebat untuk anak-anak mereka, lingkungan yang aman bagi keluarga mereka, dan pekerjaan yang baik bagi diri mereka sendiri.
Ini adalah tuntutan yang adil dan wajar dari masyarakat yang benar.
Tapi bagi terlalu banyak warga negara kita, realitas yang berbeda ada: Ibu dan anak-anak terjebak dalam kemiskinan di kota-kota pedalaman kita; pabrik berkarat tersebar seperti batu nisan di lanskap bangsa kita; sistem pendidikan, disiram dengan uang tunai, tetapi membiarkan siswa muda dan cantik kita kehilangan pengetahuan; dan kejahatan dan geng dan obat-obatan yang telah mencuri terlalu banyak kehidupan dan merampok potensi negara kita yang belum begitu banyak diwujudkan.
Pembantaian Amerika berhenti di sini dan berhenti sekarang.
Kita adalah salah satu bangsa – dan rasa sakit mereka adalah rasa sakit kita. Mimpi mereka adalah impian kita; dan keberhasilan mereka akan akan menjadi kesuksesan kita. Kita berbagi satu hati, satu rumah, dan satu takdir yang mulia.
Sumpah jabatan saya angkat hari ini adalah sumpah setia untuk semua orang Amerika.
Untuk beberapa dekade, kita telah memperkaya industri asing dengan mengorbankan industri Amerika;
Mensubsidi tentara negara lain sementara memungkinkan penggerusan militer kita;
Kita telah membela perbatasan negara lain sementara menolak untuk membela perbatasan kita sendiri;
Dan menghabiskan triliunan dolar di luar negeri sementara infrastruktur Amerika telah jatuh ke dalam kerusakan dan membusuk.
Kita telah membuat negara-negara lain kaya sementara kekayaan, kekuatan, dan keyakinan dari negara kita telah menghilang di cakrawala.
Satu per satu, pabrik-pabrik tutup dan meninggalkan pantai-pantai kita, bahkan dengan tidak memikirkan jutaan demi jutaan pekerja Amerika ditinggalkan.
Kekayaan kelas menengah kami telah diambil dari rumah mereka dan kemudian didistribusikan ke seluruh dunia.
Tapi itu masa lalu. Dan sekarang kita akan melihat hanya ke masa depan.
Kita berkumpul di sini hari ini untuk membuat keputusan baru untuk didengar di setiap kota, di setiap ibukota negara asing, dan di setiap lorong kekuasaan.
Mulai hari ini, visi baru akan mengatur tanah air kita.
Mulai saat ini, Amerika akan menjadi yang pertama.
Setiap keputusan dalam perdagangan, pajak, imigrasi, di luar negeri, akan dibuat untuk menguntungkan pekerja Amerika dan keluarga Amerika.
Kita harus melindungi perbatasan kita dari kerusakan akibat negara-negara lain membuat produk kita, mencuri perusahaan kita, dan menghancurkan pekerjaan kita. Perlindungan akan menyebabkan kemakmuran dan kekuatan.
Saya akan berjuang untuk Anda dengan setiap napas dalam tubuh saya – dan saya tidak akan pernah mengecewakan Anda.
Amerika akan mulai menang lagi, menang seperti sebelumnya.
Kita akan mendapatkan kembali lapangan pekerjaan kita. Kita akan mendapatkan kembali perbatasan kita. Kita akan mendapatkan kembali kekayaan kita. Dan kita mendapatkan kembali mimpi-mimpi kita.
Kita akan membangun jalan baru, dan jalan raya, dan jembatan, dan bandara, dan terowongan, dan jalur kereta api di seluruh negara kita yang indah.
Kita akan membuat rakyat kita sejahtera dan kembali bekerja – membangun kembali negara kita dengan tangan Amerika dan tenaga kerja Amerika.
Kita akan mengikuti dua aturan sederhana: Beli Amerika dan Sewa Amerika.
Kita akan mencari persahabatan dan niat baik dengan bangsa-bangsa di dunia – tapi kita melakukannya dengan pemahaman bahwa itu adalah hak segala bangsa untuk menempatkan kepentingan mereka sendiri yang pertama.
Kita tidak ingin memaksakan cara hidup kita pada siapa pun, melainkan untuk membiarkannya bersinar sebagai contoh untuk diikuti semua orang.
Kita akan memperkuat aliansi lama dan membentuk yang baru – dan menyatukan dunia beradab melawan terorisme Islam radikal, yang akan kita basmi sepenuhnya dari muka bumi.
Landasan politik kita akan menjadi kesetiaan total bagi Amerika Serikat, dan melalui kesetiaan kita kepada negara kita, kita akan menemukan kembali kesetiaan kita kepada satu sama lain.
Ketika Anda membuka hati Anda untuk patriotisme, tidak ada ruang untuk prasangka.
Alkitab mengatakan kepada kita, “betapa baik dan menyenangkan ketika anak-anak Allah hidup bersama dalam kesatuan.”
Kita harus mengutarakan pikiran kita dengan terbuka, memperdebatkan perbedaan pendapat kita secara jujur, tetapi selalu mengupayakan solidaritas.
Ketika Amerika bersatu, Amerika benar-benar tak terbendung.
Seharusnya tidak ada rasa takut – kita dilindungi, dan kita akan selalu dilindungi.
Kami akan dilindungi oleh orang-orang besar dan pria dan wanita militer dan penegakan hukum kita dan, yang paling penting, kita dilindungi oleh Tuhan.
Akhirnya, kita harus berpikir besar dan mimpi yang lebih besar.
Di Amerika, kita memahami bahwa bangsa hanya hidup selama ia berjuang.
Kita tidak akan lagi menerima politisi yang hanya bicara dan tidak ada tindakan – terus-menerus mengeluh tapi tidak pernah melakukan apa-apa tentang hal itu.
Waktu untuk bicara kosong telah berlalu.
Sekarang tiba waktunya untuk beraksi.
Jangan biarkan orang lain mengatakan itu tidak dapat dilakukan. Tidak ada tantangan yang dapat menaklkkan hati dan perjuangan dan semangat Amerika.
Kita tidak akan gagal. Negara kita akan berkembang dan makmur lagi.
Kita berdiri pada kelahiran milenium baru, siap untuk membuka misteri ruang, untuk membebaskan bumi dari penderitaan penyakit, dan untuk memanfaatkan energi, industri dan teknologi masa depan.
Sebuah kebanggaan nasional yang baru akan menggerakkan jiwa kita, mengangkat pemandangan kita, dan menyembuhkan keterbelahan kita.
Ini adalah waktu untuk mengingat bahwa kebijaksanaan lama tentara kita tidak akan pernah dilupakan: bahwa apakah kita hitam atau coklat atau putih, kita semua memiliki darah, darah merah yang sama dari patriot, kita semua menikmati kebebasan mulia yang sama, dan kita semua menghormati bendera hebat Amerika yang sama.
Dan apakah seorang anak lahir di perkotaan Detroit atau dataran tinggi Nebraska, mereka melihat langit malam yang sama, mereka mengisi hati mereka dengan mimpi yang sama, dan mereka diresapi dengan nafas kehidupan yang sama dari sama Pencipta.
Jadi untuk semua eakyat Amerika, di setiap kota yang dekat dan jauh, kecil dan besar, dari gunung ke gunung, dan dari laut ke laut, dengarkanlah kata-kata ini:
Anda tidak akan pernah diabaikan lagi.
Suara Anda, harapan Anda, dan impian Anda, akan menentukan nasib Amerika. Dan keberanian dan kebaikan dan cinta Anda selamanya akan membimbing kita sepanjang jalan.
Bersama-sama, Kita Akan Membuat Amerika Kuat Lagi.
Kita Akan Membuat Amerika kaya lagi.
Kita Akan Membuat Amerika Bangga Lagi.
Kita Akan Membuat Amerika Aman Lagi.
Dan, Ya, Bersama, Kita Akan Membuat Amerika Jaya Lagi. Terima kasih, Tuhan memberkati Anda, dan Tuhan memberkati Amerika.
Teks asli dalam Bahasa Inggris adalah sebagai berikut:
Chief Justice Roberts, President Carter, President Clinton, President Bush, President Obama, fellow Americans, and people of the world: thank you.
We, the citizens of America, are now joined in a great national effort to rebuild our country and to restore its promise for all of our people.
Together, we will determine the course of America and the world for years to come.
We will face challenges. We will confront hardships. But we will get the job done.
Every four years, we gather on these steps to carry out the orderly and peaceful transfer of power, and we are grateful to President Obama and First Lady Michelle Obama for their gracious aid throughout this transition. They have been magnificent.
Today’s ceremony, however, has very special meaning. Because today we are not merely transferring power from one Administration to another, or from one party to another – but we are transferring power from Washington, D.C. and giving it back to you, the American People.
For too long, a small group in our nation’s Capital has reaped the rewards of government while the people have borne the cost.
Washington flourished – but the people did not share in its wealth.
Politicians prospered – but the jobs left, and the factories closed.
The establishment protected itself, but not the citizens of our country.
Their victories have not been your victories; their triumphs have not been your triumphs; and while they celebrated in our nation’s Capital, there was little to celebrate for struggling families all across our land.
That all changes – starting right here, and right now, because this moment is your moment: it belongs to you.
It belongs to everyone gathered here today and everyone watching all across America.
This is your day. This is your celebration.
And this, the United States of America, is your country.
What truly matters is not which party controls our government, but whether our government is controlled by the people.
January 20th 2017, will be remembered as the day the people became the rulers of this nation again.
The forgotten men and women of our country will be forgotten no longer.
Everyone is listening to you now.
You came by the tens of millions to become part of a historic movement the likes of which the world has never seen before.
At the center of this movement is a crucial conviction: that a nation exists to serve its citizens.
Americans want great schools for their children, safe neighborhoods for their families, and good jobs for themselves.
These are the just and reasonable demands of a righteous public.
But for too many of our citizens, a different reality exists: Mothers and children trapped in poverty in our inner cities; rusted-out factories scattered like tombstones across the landscape of our nation; an education system, flush with cash, but which leaves our young and beautiful students deprived of knowledge; and the crime and gangs and drugs that have stolen too many lives and robbed our country of so much unrealized potential.
This American carnage stops right here and stops right now.
We are one nation – and their pain is our pain. Their dreams are our dreams; and their success will be our success. We share one heart, one home, and one glorious destiny.
The oath of office I take today is an oath of allegiance to all Americans.
For many decades, we’ve enriched foreign industry at the expense of American industry;
Subsidized the armies of other countries while allowing for the very sad depletion of our military;
We’ve defended other nation’s borders while refusing to defend our own;
And spent trillions of dollars overseas while America’s infrastructure has fallen into disrepair and decay.
We’ve made other countries rich while the wealth, strength, and confidence of our country has disappeared over the horizon.
One by one, the factories shuttered and left our shores, with not even a thought about the millions upon millions of American workers left behind.
The wealth of our middle class has been ripped from their homes and then redistributed across the entire world.
But that is the past. And now we are looking only to the future.
We assembled here today are issuing a new decree to be heard in every city, in every foreign capital, and in every hall of power.
From this day forward, a new vision will govern our land.
From this moment on, it’s going to be America First.
Every decision on trade, on taxes, on immigration, on foreign affairs, will be made to benefit American workers and American families.
We must protect our borders from the ravages of other countries making our products, stealing our companies, and destroying our jobs. Protection will lead to great prosperity and strength.
I will fight for you with every breath in my body – and I will never, ever let you down.
America will start winning again, winning like never before.
We will bring back our jobs. We will bring back our borders. We will bring back our wealth. And we will bring back our dreams.
We will build new roads, and highways, and bridges, and airports, and tunnels, and railways all across our wonderful nation.
We will get our people off of welfare and back to work – rebuilding our country with American hands and American labor.
We will follow two simple rules: Buy American and Hire American.
We will seek friendship and goodwill with the nations of the world – but we do so with the understanding that it is the right of all nations to put their own interests first.
We do not seek to impose our way of life on anyone, but rather to let it shine as an example for everyone to follow.
We will reinforce old alliances and form new ones – and unite the civilized world against Radical Islamic Terrorism, which we will eradicate completely from the face of the Earth.
At the bedrock of our politics will be a total allegiance to the United States of America, and through our loyalty to our country, we will rediscover our loyalty to each other.
When you open your heart to patriotism, there is no room for prejudice.
The Bible tells us, “how good and pleasant it is when God’s people live together in unity.”
We must speak our minds openly, debate our disagreements honestly, but always pursue solidarity.
When America is united, America is totally unstoppable.
There should be no fear – we are protected, and we will always be protected.
We will be protected by the great men and women of our military and law enforcement and, most importantly, we are protected by God.
Finally, we must think big and dream even bigger.
In America, we understand that a nation is only living as long as it is striving.
We will no longer accept politicians who are all talk and no action – constantly complaining but never doing anything about it.
The time for empty talk is over.
Now arrives the hour of action.
Do not let anyone tell you it cannot be done. No challenge can match the heart and fight and spirit of America.
We will not fail. Our country will thrive and prosper again.
We stand at the birth of a new millennium, ready to unlock the mysteries of space, to free the Earth from the miseries of disease, and to harness the energies, industries and technologies of tomorrow.
A new national pride will stir our souls, lift our sights, and heal our divisions.
It is time to remember that old wisdom our soldiers will never forget: that whether we are black or brown or white, we all bleed the same red blood of patriots, we all enjoy the same glorious freedoms, and we all salute the same great American Flag.
And whether a child is born in the urban sprawl of Detroit or the windswept plains of Nebraska, they look up at the same night sky, they fill their heart with the same dreams, and they are infused with the breath of life by the same almighty Creator.
So to all Americans, in every city near and far, small and large, from mountain to mountain, and from ocean to ocean, hear these words:
You will never be ignored again.
Your voice, your hopes, and your dreams, will define our American destiny. And your courage and goodness and love will forever guide us along the way.
Together, We Will Make America Strong Again.
We Will Make America Wealthy Again.
We Will Make America Proud Again.
We Will Make America Safe Again.
And, Yes, Together, We Will Make America Great Again. Thank you, God Bless You, And God Bless America.
Donald Trump resmi jadi presiden ke-45 AS, saat mengangkat sumpah di depan Gedung Capitol, Washington DC, hari Jumat (20/1). (Foto: Ist)
WASHINGTON, SATUHARAPAN.COM – Secara resmi Donald Trump, mengangkat sumpah jabatan sebagai presiden ke-45 Amerika Serikat di depan Gedung Capitol, Washington, AS, hari Jumat (20/1) waktu Washington DC, atau hari Sabtu (21/1) pukul 00:00 WIB.
Hakim Agung John J Roberts Jr. bertindak sebagai pemandu pembacaan sumpah Presiden ke-45 yang dikenal kontroversial namun tetap religius. Trump bersumpah dengan mengangkat tangan kanan dan tangan kirinya diletakkan pada Alkitab masa kecilnya, yang diletakkan di atas Alkitab Abraham Lincoln. Sementara istrinya, Melania Trump, memegangi kedua Alkitab tersebut.
“Saya, Donald John Trump, bersumpah bahwa saya akan menjalankan jabatan saya sebagai presiden Amerika Serikat, dan dengan seluruh kemampuan saya melestarikan, melindungi, dan mempertahankan konstitusi Amerika Serikat. Tuhan tolonglah saya. (I Donald J Trump do solemnly swear that I will faithfully execute the office of President of the United States and will to the best of my ability preserve, protect and defend the constitution of the United States, so help me God),” kata Trump dihadapan rakyat AS yang hadir dan disiarkan langsung oleh media internasional.
Trump menyampaikan pidato sesaat setelah dilantik dengan penekanan pada kembalinya kekuasaan kepada rakyat dan kepentingan AS nomor satu. Dengan gayanya yang khas, dengan tangan yang tidak pernah diam saat ia berbicara, Donald Trump menegaskan bahwa hari-hari mendatang adalah hari-hari yang berbeda bagi rakyat AS.
Dalam waktu kurang lebih 16 menit 30 detik Trump berpidato, sekira pada menit 12:00 dia mengutip ayat alkitab Mazmur 133:1 dari versi baru internasional (New International Version). Ayat itu merupakan nyanyian ziarah Daud mengenai persaudaran yang rukun, “A song of ascents. Of David. How good and pleasant it is when God’s people live together in unity.”
Dalam cetakan Lembaga Alkitab Indonesia, Mazmur 133:1 berbunyi, “Nyanyian ziarah Daud. Sungguh, alangkah baiknya dan indahnya, apabila saudara-saudara diam bersama dengan rukun.”
Sebelum mengutip nyanyian Daud, Trump menyatakan bahwa dalam landasan politiknya akan menjadi seorang yang setia total pada Amerika Serikat, dan melalui kesetiaan kepada negara maka akan ditemukan kembali kesetiaan pada satu sama lain.
“Ketika Anda membuka hati Anda untuk patriotisme, tidak ada ruang untuk prasangka,” katanya.
Kemudian Trump mengutip Alkitab, yang mengatakan,”seberapa baik dan menyenangkan itu adalah ketika umat Allah hidup bersama dalam kesatuan (how good and pleasant it is when God’s people live together in unity).
“Kita harus berbicara dalam pikiran kita secara terbuka, berdebat tentang perbedaan pendapat kita dengan terus terang, tetapi selalu mengejar solidaritas. Ketika Amerika bersatu, Amerika benar-benar tak dapat dihentikan,” katanya.
“Seharusnya tidak ada rasa takut – kita dilindungi, dan kita akan selalu terlindungi.”
“Kita akan dilindungi oleh pria dan wanita hebat dalam militer kita dan penegak hukum dan, yang paling penting, kita dilindungi oleh Tuhan. Akhirnya, kita harus berpikir besar dan bermimpi yang lebih besar,” katanya.
Selengkapnya, dalam Bahasa Inggris, inilah teks pidato Donald Trump.
Chief Justice Roberts, President Carter, President Clinton, President Bush, President Obama, fellow Americans, and people of the world: thank you.
We, the citizens of America, are now joined in a great national effort to rebuild our country and to restore its promise for all of our people.
Together, we will determine the course of America and the world for years to come.
We will face challenges. We will confront hardships. But we will get the job done.
Every four years, we gather on these steps to carry out the orderly and peaceful transfer of power, and we are grateful to President Obama and First Lady Michelle Obama for their gracious aid throughout this transition. They have been magnificent.
Today’s ceremony, however, has very special meaning. Because today we are not merely transferring power from one Administration to another, or from one party to another – but we are transferring power from Washington, D.C. and giving it back to you, the American People.
For too long, a small group in our nation’s Capital has reaped the rewards of government while the people have borne the cost.
Washington flourished – but the people did not share in its wealth.
Politicians prospered – but the jobs left, and the factories closed.
The establishment protected itself, but not the citizens of our country.
Their victories have not been your victories; their triumphs have not been your triumphs; and while they celebrated in our nation’s Capital, there was little to celebrate for struggling families all across our land.
That all changes – starting right here, and right now, because this moment is your moment: it belongs to you.
It belongs to everyone gathered here today and everyone watching all across America.
This is your day. This is your celebration.
And this, the United States of America, is your country.
What truly matters is not which party controls our government, but whether our government is controlled by the people.
January 20th 2017, will be remembered as the day the people became the rulers of this nation again.
The forgotten men and women of our country will be forgotten no longer.
Everyone is listening to you now.
You came by the tens of millions to become part of a historic movement the likes of which the world has never seen before.
At the center of this movement is a crucial conviction: that a nation exists to serve its citizens.
Americans want great schools for their children, safe neighborhoods for their families, and good jobs for themselves.
These are the just and reasonable demands of a righteous public.
But for too many of our citizens, a different reality exists: Mothers and children trapped in poverty in our inner cities; rusted-out factories scattered like tombstones across the landscape of our nation; an education system, flush with cash, but which leaves our young and beautiful students deprived of knowledge; and the crime and gangs and drugs that have stolen too many lives and robbed our country of so much unrealized potential.
This American carnage stops right here and stops right now.
We are one nation – and their pain is our pain. Their dreams are our dreams; and their success will be our success. We share one heart, one home, and one glorious destiny.
The oath of office I take today is an oath of allegiance to all Americans.
For many decades, we’ve enriched foreign industry at the expense of American industry;
Subsidized the armies of other countries while allowing for the very sad depletion of our military;
We’ve defended other nation’s borders while refusing to defend our own;
And spent trillions of dollars overseas while America’s infrastructure has fallen into disrepair and decay.
We’ve made other countries rich while the wealth, strength, and confidence of our country has disappeared over the horizon.
One by one, the factories shuttered and left our shores, with not even a thought about the millions upon millions of American workers left behind.
The wealth of our middle class has been ripped from their homes and then redistributed across the entire world.
But that is the past. And now we are looking only to the future.
We assembled here today are issuing a new decree to be heard in every city, in every foreign capital, and in every hall of power.
From this day forward, a new vision will govern our land.
From this moment on, it’s going to be America First.
Every decision on trade, on taxes, on immigration, on foreign affairs, will be made to benefit American workers and American families.
We must protect our borders from the ravages of other countries making our products, stealing our companies, and destroying our jobs. Protection will lead to great prosperity and strength.
I will fight for you with every breath in my body – and I will never, ever let you down.
America will start winning again, winning like never before.
We will bring back our jobs. We will bring back our borders. We will bring back our wealth. And we will bring back our dreams.
We will build new roads, and highways, and bridges, and airports, and tunnels, and railways all across our wonderful nation.
We will get our people off of welfare and back to work – rebuilding our country with American hands and American labor.
We will follow two simple rules: Buy American and Hire American.
We will seek friendship and goodwill with the nations of the world – but we do so with the understanding that it is the right of all nations to put their own interests first.
We do not seek to impose our way of life on anyone, but rather to let it shine as an example for everyone to follow.
We will reinforce old alliances and form new ones – and unite the civilized world against Radical Islamic Terrorism, which we will eradicate completely from the face of the Earth.
At the bedrock of our politics will be a total allegiance to the United States of America, and through our loyalty to our country, we will rediscover our loyalty to each other.
When you open your heart to patriotism, there is no room for prejudice.
The Bible tells us, “how good and pleasant it is when God’s people live together in unity.”
We must speak our minds openly, debate our disagreements honestly, but always pursue solidarity.
When America is united, America is totally unstoppable.
There should be no fear – we are protected, and we will always be protected.
We will be protected by the great men and women of our military and law enforcement and, most importantly, we are protected by God.
Finally, we must think big and dream even bigger.
In America, we understand that a nation is only living as long as it is striving.
We will no longer accept politicians who are all talk and no action – constantly complaining but never doing anything about it.
The time for empty talk is over.
Now arrives the hour of action.
Do not let anyone tell you it cannot be done. No challenge can match the heart and fight and spirit of America.
We will not fail. Our country will thrive and prosper again.
We stand at the birth of a new millennium, ready to unlock the mysteries of space, to free the Earth from the miseries of disease, and to harness the energies, industries and technologies of tomorrow.
A new national pride will stir our souls, lift our sights, and heal our divisions.
It is time to remember that old wisdom our soldiers will never forget: that whether we are black or brown or white, we all bleed the same red blood of patriots, we all enjoy the same glorious freedoms, and we all salute the same great American Flag.
And whether a child is born in the urban sprawl of Detroit or the windswept plains of Nebraska, they look up at the same night sky, they fill their heart with the same dreams, and they are infused with the breath of life by the same almighty Creator.
So to all Americans, in every city near and far, small and large, from mountain to mountain, and from ocean to ocean, hear these words:
You will never be ignored again.
Your voice, your hopes, and your dreams, will define our American destiny. And your courage and goodness and love will forever guide us along the way.
Together, We Will Make America Strong Again.
We Will Make America Wealthy Again.
We Will Make America Proud Again.
We Will Make America Safe Again.
And, Yes, Together, We Will Make America Great Again. Thank you, God Bless You, And God Bless America.