Unifikasi Kekuatan Militer Papua Merdeka setelah Unifikasi Kekuatan Politik dalam ULMWP

Dengan berdirinya United Liberation Movement for West Papua (ULMWP), yang awalnya dirintis oleh dua orang tokoh Organisasi Papua Merdeka (OPM) Dr. OPM John Otto Ondowame dari Faksi Pembela Kebenaran (PEMKA) dan Senior OPM Andy Ayamiseba dari Faksi Marvic (TPN) sejak tahun 2001, didahului dengan pendirian West Papuan Peoples Representative Office (WPPRO), disusul dengan berbagai macam Deklarasi dan penandatanganan, antara lain Deklarasi Saralana tahun 2000 antara tokoh Politik Papua Merdeka Dortherys Hiyo Eluay dan Ketua OPM Faksi Marvic Seth J. Roemkorem dan beberapa rangkaian pertemuan antara utusan Gen. TPN/OPM Mathias Wenda dari Markas Pemka/ Marvic berastu di perbatasan West Papua/ PNG tahun 2004-1006.

Kedua tokoh OPM, Dr. OPM J.O. Ondowame dan Senior OPM Andy Ayamiseba bersama rekan mereka Senior OPM Rex Rumakiek, bekerjasama dengan berbagai elemen masyarakat adat, terutama Dewan Musyawarah Masyarakat Adat Koteka (DeMMAK) telah membentuk West Papua National Coalition for Liberation (WPNCL).

WPNCL kemudian mendaftarkan diri ke Melanesian Spearhead Group (MSG) di dalam KTT-nya di Noumea, Kanaky atas sponsor dana dan sponsor politik dari Perdana Menteri Vanuatu waktu itu, Joe Natuman.

Vanuatu telah memberikan dukungan dana dan dukungan politik selama puluhan tahun. OPM telah menjadi fokus dukungan mereka. Tiga tokoh dan senior OPM: Dr. OPM J.O. Ondowame, Senior OPM Andy Ayamiseba dan Senior OPM Rex Rumakiek selama puluhan tahun telah disponsori oleh Vanuatu untuk mengkampanyekan Papua Merdeka.

Masih atas dukungan Republik Vanuatu terhadap tiga tokoh OPM, Andy Ayamiseba, Otto Ondawame dan Rex Rumakiek, ditambah dukungan yang datang dari rimba oleh Gen. TPN/OPM Mathias Wenda, Gen. TPN/OPM Abumbakarak Wenda, Gen. TPN/OPM Nggoliar Tabuni, dan para petinggi militer di seluruh Tanah Papua, Joe Natuma telah memberanikan diri di dalam kapasitas dan kuasanya sebagai Perdana Menteri Vanuatu, meminta kepada para tokoh OPM untuk menyampaikan lamaran kepada MSG, untuk menjadi anggota MSG.

Atas saran negara Vanuatu pula, maka telah dibentuk WPNCL, namun lamaran ini mengalami kegagalan karena ada kelompok organisasi Papua Merdeka yang memprotes.

Tiga tokoh OPM bersama para gerilyawan dipaksa untuk kembali membangun kekuatan bersama, kali ini dengan memasukkan Parlemen Nasional West Papua (PNWP) dan Negara Federaral Republik Papua Barat (NRFPB).

Dengan dana dari Negara Republik Vanuatu pula, ketiga tokoh OPM bersedia meninggalkan posisi dan kedudukan, dan mengundang semua elemen perjuangan Papua Merdeka, baik organisasi politik maupun militer untuk duduk bersama, membicarakan dan membentuk persatuan organisasi untuk perjuangan politik Papua Merdeka.

Pada 7 Desember 2014, telah terbentuk sebuah wadah politik untuk Papua Merdeka, dibentuk oleh tokoh TPN/OPM, OPM dan DeMMAK yang telah terorganisir bersama tiga tokoh OPM dalam WPNCL, bersama PNWP dan NRFPB. Terbentuklah Organ perjuangan Papua Merdeka bernama “United Liberation Movement for West Papua (disingkat ULMWP).

Hampir lima tahun lalu kita telah sukses menyatukan sayap politik perjuangan Papua Merdeka. Para tokoh OPM di dalam negeri maupun luar negeri, bersama tokoh NRFPB dan PNWP telah menyatakan membentuk ULMWP.

Kini tinggal satu tugas organisatoris lagi, yaitu menyatukan kekuatan militer yang ada di Tanah Papua ke dalam satu garis komando, atau satu garis koordinasi.

Jadi, ada dua skenario tersedia saat iin. Lewat Biro Militer dan Pertahanan ULMWP akan dibentuk sebuah organisasi sayap militer dengan nama baru, menyatukan semua perjuangan para gerilyawan di rimba New Guinea. Skenario pertama ialah menyatukan semua Panglima Perang dan Panglima Komando yang ada di Tanah Papua ke dalam satu struktur organisasi, satu nama sayap mliter, dan satu garis komando.

Skenario kedua ialah membentuk sebuah Dewan Militer yang para anggotanya ialah para panglima dengan komando yang sudah ada pada saat ini, dan para anggota Dewan Militer dapat memilih Panglima Tertinggi Komando Revolusi sesuai dengan aturan yang telah ditetapkan.

Baik skenario pertama maupun kedua tentu saja memiliki kelebihan dan kekuarangan. Yang terpenting ialah dunia melihat bahwa perjuangan Papua Merdeka semakin mengerucut, semakin menyatu dan semakin profesional. Tidka sporadis, tidak unpredictable, tidak banyak panglima dan komando.

Kami berdoa kiranya Biro Pertahanan dan Keamanan ULMWP dapat menuntaskan pekerjaan ini dalam waktu sesingkat-singkatnya sehingga semua persoalan yang muncul dalam perjuangan ini tidak berputar-putar di satu tempat.

 

 

Sayang Kaum Tertindas

Demikianlah Penjajahan dimuka bumi terus berkembang.

Biarpun metode mempertahankan wilayah kekuasaanya berbeda, tetap saja Wataknya Penjajah.

Watak Penjajahan itu sudah ditransformasi dengan teknologi mutakhir, kaum terjajah tidak tersadarkan, terlena dan mengikutinya sebagai sebuah jalan penyelamatan.

Sudah banyak dari kaum terjajah meninggalkan jalan – jalan. Kini ruas-ruas jalan itu sepi.

Kaum Revolusioner terus bertahan namun tidak tahu harus mulai dari mana…?

Sedikit dari kaum terjajah telah sadar lebih dahulu, Kesadaran ini datang Alamiah dengan waktu-waktu tertentu. Mereka telah mulai bangkit melawan…!!!

Katakan LAWAN…!!!
Bila Anda menyadari Penjajahan itu ada.

fk-

Source Facebook.com

Revolusi West Papua Merdeka: antara Proses dan Pendekatan untuk Pembebasan Bangsa Papua

Ada dua hal yang dapat kita pahami dari kata “revolusi”, yaitu pertama “revolusi” sebagai sebuah proses dan kedua “revolusi” sebagai sebuah pendekatan. Walaupun keduanya sering dipahami bersama-sama sebagai satu arti, sebenarnya secara konseptual tidak-lah sama. Pertama, secara biologis, “revolusi” sebagai sebuah proses dapat dibandingkan dengan pengertian kata “evolusi” dan “revolusi”, di mana evolusi ialah sebuah proses perubahan perlahan-lahan secara alamiah, melalui mekanisme seleksi alam. Dibandingkan dengan “revolusi” sebagai sebuah proses berlawanan dengan “evolusi”, maka dapat dikatakan bahwa “revolusi” ialah sebuah proses perubahan yang terjadi secara cepat atau dalam waktu singkat.

Kedua, dalam ilmu politik “revolusi” diartikan sebagai “a forcible overthrow of a government or social order, in favor of a new system.” <https://www.google.com/>, yaitu sebuah pelengseran sebuah pemerintahan atau tatanan sosial dengan paksa untuk menggantikannya dengan sistem yang baru. Maka ini mirip dengan arti dalam teknologi komputer, “A sudden or momentous change in a situation: the revolution in computer technology.”, yaitu perubahan cepat mengikuti momen dalam suatu situasi.

 

Yang ketiga, “revolusi” artinya “a complete or radical change of any kind: a revolution in modern physics”, jadi dalam ilmu fisika modern mengartikan revolusi sebagai sebuah perubahan lengkap dan radikal dari apapun. Dalam hal ini termasuk perubahan lengkap dan tuntas dari sebuah proses pembebasan negara-bangsa.

Kita berhenti dengan tiga makna kata “revolusi” ini. Dari sini dapat kita lihat kata “revolusi” sebagai sebuah proses dan “revolusi” dari sisi pendekatan. Yang lebih banyak salah kaprah di kalangan aktivis, tokoh dan organisasi perjuangan kemerdekaan West Papua ialah memahamim kata “revolusi” dalam arti politik, sebagai sebuah pendekatan pembebasan bangsa sehingga menjadi salah dalam mengartikan “revolusi secara biologis dan fisika” seperti yang dimaksud oleh Soekarno dalam pembebasan NKRI dari penjajahan Belanda.

Revolusi yang dikumandangkan Soekarno ialah revolusi sebagai “proses” yang dinamis dan dialektis, memerlukan fase-fase dan tahapan-tahapan. Yang dimaksud Soekarno tidak sama dengan revolusi Perancis, Revolusi China dan revolusi lainnya, yang beraliran sosialis dan menggunakan pendekatan kekerasan (revolusioner) sebagai cara untuk menggulingkan pemerintahan.

Joko Widodo, presiden kolonial Indonesia hari ini menggunakan kata “revolusi mental” sebagai sebuah proses, yaitu perubahan total paradigma dan frame berpikir orang Indonesia terhadap dirinya sendiri dan terhadap dunianya. Selain revolusi mental, ada juga revolusi industri, revolusi teknologi, dan revolusi bisnis.

“Revolusi” yang dipahami masyarakat awam di dunia hari ini ialah revolusi sebagai pendekatan untuk pembebasan dari penjajahan, bukan sebagai sebuah proses yang memakan waktu puluhan bahkan ratusan tahun. Intisari yang perlu dipegang dalam pembebasan bangsa Papua ialah sebuah “revolusi secara biologis” dan “revolusi secara fisika”, yaitu revolusi yang multi-dimensi, multi-faceted dan revolusi yang rampung (menyeluruh), bukan sekedar terlepas dari penjajahan NKRI, atau Indonesia angkat kaki dari Tanah Papua.

Perjuangan pembebasan bangsa Papua sebatas NKRI keluar dari Tanah Papua ialah perjuangan “anti-revolusiner”, yang berakhir kepada kemerdekaan “semu”, dan kemerdekaan yang tidak tuntas.

NKRI melengserkan Soekarno, atau Soekarno sendiri melengserkan dirinya karena tidak sanggup menjalankan khotbah-khotbah revolusiner yang diajarankannya sendiri. Ia menjadi diktator akhirnya rakyat Indonesia muak melihatnya. Soeharto juga sama, ia dihentikan oleh rakyat Indonesia karena gagal mewujudkan revolusi industri lewat Repelita selama 25 tahun.

Banyak kaum, tokoh dan pemimpin yang mengaku diri sosialis kiri sebenarnya sangat dictatorial, mereka memaksakan kehendak, mereka menghotbahkan sebuah tindakan-tindakan kekerasan dalam rangka menggolkan cita-cita sosialisme mereka, dan mereka malahan bertindak berlawanan dengan pemerataan dan kebersamaan yang mereka sendiri khotbahkan. Dari semua pemimpin sosialisme dunia, termasuk Soekarno, mereka lengser bukan karena ajaran mereka tetapi karena praktek dari ajaran mereka yang jauh bahkan bertentangan dengan apa yang mereka janjikan.

Dalam perjuangan Papua Merdeka hari ini perlu kita cermati secara konseptual dan hakiki, apa yang kita maksudkan dengan diksi-diksi dan kalimat-kalimat yang kita gunakan. Jangan sampai kita terjebak di dalam konsepsi yang keliru, dan kita pelihara kekeliruan kita, lalu akhirnya anak peliharaan kita sendiri akan mengejar dan melengserkan kita dari tahta kita.

Revolusi West Papua haruslah dipahami bukan sebagai sebuah pendekatan, tetapi sebagai sebuah proses, sehingga kita berbicara dari ketidak-tahuan kita menentang realitas hukum alam yang sedang terjadi. Pembebasan sebuah bangsa dari penjajahan ialah sebuah proses “revolusi”.

Tergantung kita hari ini, mau pilih apa,

  1. Apakah “revolusi” sebagai sebuah proses pembebasan bangsa Papua dan Negara West Papua dari penjajahan Indonesia,
  2. Ataukah “revolusi” sebagai sebuah pendekatan dalam pembebasan bangsa Papua dan negara West Papua dari penjajahan NKRI.

Dengan kata lain, “Apa pemahaman kita tentang ‘revolusi’: apakah biologis, fisika modern ataukah sebatas arti politis yang sudah banyak orang ketahui selama ini?

 

WPRA: Kami Telah Memberi Maaf Madan Melupakan karena Kasih Allah telah Mengampuni Kita

Dari Markas Pusat Pertahanan (MPP) West Papua Revolutionary Army (WPRA) melalui Kantor Sekretariat-Jenderal menyampaikan Sambutan Natal 2018 dan Tahun Baru 1 Januari 2019 dari Panglima Terginggi Komando Revolusi Gen. WPRA Mathias Wenda dengan pokok-pokok sambutan sebagai berikut.

Pertama-tama, saya selaku Panglima Tertinggi Komando Revolusi TRWP menyampaikan bahwa kami telah memberi maaf semua orang Papua, sekali lagi, semua anak-anak Papua, baik di hutan maupun di kampung dan kota, baik di pulau New Guinea maupun di pulau-pulau lain di dunia atas apa saja yang mereka lakukan terhadap kami dan terhadap perjuangan ini.

Jadi, mari kita belajar memberi maaf kepada sesama Orang Asli Papua (OAP). Kita harus berdamia dengan masa lalu kita.

Dasar tindakan sadar seperti ini ialah Kasih Allah, yang telah nyata buat kita semua, yaitu kedatangan Yesus ke Dunia dan kelahiran-Nya di kandang binatanga, yang menunjukkan betapa Allah yang Mahakudus telah rela melupakan dosa-dosa manusia, dan siap untuk mengampuni kita semua dari segala dosa kita. Dasar ini paling kuat, dan kita tidak punya alasan apapun untuk mengingat-ingat segala bentuk dendam masa-lalu, apalagi dendam dan pikiran itu menghambat peerjuangan kita mencapai cita-cita kemerdekaan Negara West Papua dari pendudukan dan penjajahan kolonial NKRI.

Kita tidak hanya memberi maaf atas dasar pengampunan yang diberikan Allah leewat Yesus Kristus, tetapi selanjutnya dengan menyambut Tahun Baru 1 Januari 2019 ini, maka kita juga melupakan apa yang telah terjadi, termasuk apa yang kita maafkan semuanya, sehingga kita tidak mengingat-ingat dan mengungkit-ungkit lagi semua jalan yang salah, perbuatan yang salah dan yang menghambat perjuagnan Papua Merdeka.

Kita teringat cerita klasik yang sering diceritakan gereja di Mimbar tentang penumpang pesawat yang naik ke pesawat dan duduk di kursi pesawat tetapi ia tetap membawa barang bawaan dia di pundaknya, tidak mau meletakkannya di tempat bagasi di cabin bagasi atau menaruhnya di kaki di bawah, tetapi dia tetap memikulnya sepanjang penerbangan. Dia telah berada di dalam pesawat yang sanggup mengangkut dirinya dan bagasinya, tetapi beban bagasi dia tetap pikul sama beratnya sepanjang penerbangan.

Yesus telah datang menanggung beban kita, mari kita serahkan kepada-Nya, dan kita melangkah di tahun baru ini dengan lega dan bersyukur kepada Tuhan atas apa yang telah Dia lakukan.

Mari kita menyambut Tahun baru 2019 ini dengan semangat untuk mendukung United Liberation Movement for West Papua (ULMWP) dan mendoakan semua pejabat dan petugas di dalamnya sehingga mereka dapat bekerja secara optimal mewujudkan cita-cita kemerdekaan bangsa Papua.

Mari kita saling memaafkan, dan saling melupakan apa yang salah di masa lalu. Mari kita memabangun masa depan yang merdeka di dalam diri sendiri untuk memerdekakan bangsa dan tanah leluhur.

 

Issued in: MPP TRWP

On date: 1 Januari 2019

 

signed

 

Amunggut Tabi, Gen. WPRA

BRN: A.DF 01867

 

signed

 

Mathias Wenda, Gen. WPRA

NBP: A.001076

Doa Arti Natal Buat Pejuang Papua Merdeka

Oleh Gembaga Pejuang Rimba Raya New Guinea Natal, atau lahir, atau awal kehidupan baru, khususnya kelahiran seorang tokoh revolusionar semesta alam sepanjang masa yang telah meletakkan fondasi revolusi total itu patut direnungkan oleh para pejuang Papua Merdeka, di manapun kita berada. Tidak sama dengan Orang Kristen yang ada di alam kemerdekaan, di alam damai. Para pejaung Papua Merdeka merayakan “natal” dalam posisi di kandang-kandang, di gua-gua, di tenda-tenda, di sepanjang Rimba New Guinea. Rumah-rumah kita sudah cukup layak dan memenuhi syarat bagi Yesus Kristus untuk lahir. Karena kita tahu, Yesus bukannya tidak mendapatkan tempat yang layak, tetapi justru tidak diberi tempat yang layak untuk meletakkan kepala-Nya saja. Yang tidak memberi tempat ialah umat manusia yang hidup di rumah-rumah dan tempat-tempat mewah meriah, aman sentosa. Mereka sudah memiliki semuanya, karena itu untuk apa mengizinkan Yesus masuk ke dalam hidup mereka? Kondisi kandang menunjukkan suasana hati kita. Orang yang merasa tidak berdosa seharusnya tidak merayakan, karena Yesus datang bukan untuk orang benar. Yesus mencari orang berdosa, oleh karena itu kita yang merasa berdosa, bersalah, dan tidak layak, yaitu kandang babi, di situlah tempat Yesus mau lahir. Oleh karena itu, marilah kita membuka hati, membiarkan Yesus lahir. Hal kedua, sebelum kelahiran, ada proses besar telah terjadi. Yesus adalah Allah itu sendiri, ia bertahta di Surga, dengan segenap kemegahan, tahta dan kekuasaan-Nya. Bayangkan saya semua pejuang Papua Merdeka yang saat ini menderita, apakah kita tidak punya status, kedudukan dan harta di tengah-tengah kampung, masyarakat dan kelompok kita? Kita manusia biasa, manusia Papua, hidup sebagai petani, orang kampung, pegawai negeri, Kepala Suku di kampung kita dengan baik-baik, punya keluarga dan kerabat. Tetapi sama dengan Yesus, ia telah meninggalkan tahta-Nya bernama Surga. Ia juga meninggalkan status-Nya sebagai Allah. Sama dengan kita pejuang telah meninggalkan status kita di tempat kita. Yesus lalu berani mengambil wujud seorang “bayi” dan dilahirkan dari seorang manusia. Hal “menjadi bayi” dan “dilahirkan oleh seorang manusia”, yaitu perempuan keturunan Adam dan Hawa yang berdosa, ialah sebuah tindakan yang patut kita teladani dengan segala kerendahan. Kita sebagai pejuang Papua Merdeka, kita harus merendahkan diri, kita harus buang ego kelompok dan ego pribadi. Kita harus lepaskan nafsu-nafsu pribadi, nafsu duniawi, dan bertobat dan menerima Yesus. Hal ini menjadi persoalan terbesar dalam barisan pejuang Papua Merdeka, karena kita yang telah berani meninggalkan tempat, meninggalkan sanak-saudara dan kedudukan, kita diri nafsu kita memberontak, dan pemberontakan itu berujung kepada nafsu dan ambisi yang tidak sehat. Nafsu dan ambisi itu menyebabkan para pejuang Papua Merdeka menjadi hamba nafsu dan ego. Untuk melahirkan sebuah cita-cita Papua Merdeka, kita harus berani lahir lewat kandungan seorang perempuan, dan menjadi bayi; yaitu didaur ulang, mematikan kepribadian lama, dan tumbuh sebagai manusia baru. Hal ketiga, saat Yesus lahir di Kandang Babi di Bethlehem, terjadi tanda-tanda di alam semesta. Di Surga malaikat surga berpesta-ria, di dunia para gembala domba datang menyembang, orang-orang dari Timur datang menyembah, Herodes memberikan reaksi keras membasmi banyak anak-anak, dan sebagainya. Reaksi ini muncul sebagai hasil dari tiga proses tadi, yaitu proses meninggalkan, proses lahir, dan proses menjadi bayi lewat kandungan seorang manusia berdosa. Sebagai pejuang kemerdekaan bangsa Papua, mari kita sadari dan camkan, bahwa revolusi terbesar semesta alam semsesta alam yang pernah diakukan Sang Panglima Mahatinggi Komando Revolusi dilakukan lewat tiga proses tadi, yaitu sebuah proses revolusi dengan penuh kedamaian, penuh cinta-kasih dan penuh kerendahan hati. Sekali lagi, cintah kasih menjadi dasar, sebab dan tujuan. Karena itu revolusi dilakukan dengan penuh kedamaian, karena revolusi ini dijalankan dengan penuh kerendahan hati. Karena bapa semua orang sombong ialah Lucifer. Bapa semua penipu ialah Lucifer. Bapa kami di Surga di dalam Tuhan Yesus, Engkau sebagai Panglima Mahatinggi Komando Revolusi perjuangan kamu terjajah di seluruh muka Bumi. Datanglah kerajaan-Mu, jadilah kehendak-Mu di Bumi Papua, seperti di surga sehingga umat-Mu di Tanah Papua merayakan hari bersejarah ini di tahun-tahun yang akan datang dalam kedamaian, tidak seperti tahun ini, dan tahun-tahun sebelumnya, yang dirayakan dalam teror, tangisan, tekanan, geram, dan tanda-tanya. Berilah kami pada hari ini semua kebutuhan kami seperlunya untuk memperjuangkan dan mengakhiri perjuangan ini, hingga Papua Merdeka berdaulat di luar NKRI. Janganlah menghukum kami atas dosa, nafsu dan ego kami, tetapi ampunilah kami dari segala dosa dan salah kami seperti kami juga telah mengampuni keslaahan orang lain terhadap kami, karena kami juga mengampuni sesama pejuang kami, dari dendam, dari dengki, dari caci-maki, dari saling curiga, dari konflik ego dan nafsu. Ya, Tuhan, jangan kiranya menahan kami berlama-lama lagi di padang belantara ini, tetapi tibakanlah kami ke Tanah Kanaan dengan segera, aman dan sentosa. Kami tahu Tuhan, bahwa kami telah keluar dari Penjajanah Firaun di Mesir, Kami tahu Tuhan bahwa kami telah kehilangan Musa, di Gunung Nebo. Dan kami yakin bahwa kami telah menyeberangi Sungai Yordan. Engkau tahu juga Tuhan, kami sudah mulai mau membangun batu-batu peringatan sesuai dengan perintah-Mu. Akan tetapi kami masih terus bergumul mengumpulkan batu-batu dari setiap suku dan kaum di New Guinea bagian barat. Bantulah kami ya Tuhan. Beri hikmat bijaksana kepada pimpinan United Liberation Movement for West Papua (ULMWP) agar kami melihat suku dan kaum yang harus meletakkan batu sebagai peringatan atas kemenangan yang telah Engkau berikan kepada kami beberapa tahun lalu. Bantulah kami, ya Tuhan! Berilah ULMWP hikmat akal-budi, karena kami akhirnya harus berjalan mengelilingi tembok Jericho dengan puji-pujian dan tarian-tarian Melanesia, dan setelah itu, masih ada beberapa tahun lagi, kami harus menginjakan kaki kami atas tanah Kanaan yang telah kau berikan kepada nenek-moyang kami. Ya Tuhan, di dalam Nama Yesus yang telah lahir dan kami peringati hari ini, kami berdoa kiranya bantulah semua pejuang Papua Merdeka untuk berserah dan bersandar kepada-Mu, dan kepada para pengurus ULMWP untuk meninggalkan dan menanggalkan segala kebutuhan dan kepentingan pribadi, dan memperjuangan perjuangan mulia ini. Karena kami tahu dan percaya, “Ada mujizat Tuhan akan Tuhan tunjukkan ketika kami hamba-hamba-Mu tunduk kepada perintah-Mu!” Dalam nama Adat, Moyang, bangsa Papua, segenal komunitas makhluk, anak-cucu kami, dalam nama Allah Bapa, Allah Anak dan Allah Roh Kudus. Amin! Amin! Amin! Dari Gubung beratapkan batu, berbetonkan batu, beralaskan batu! Dari Surga Kecil yang Jatuh ke Bumi!

Diserukan kepada seluruh pejuang bangsa Papua, di manapun Anda berada bahwa Tanah Papua, dari Sorong sampai Samarai, terutama sekali dari Port Numbay sampai ke Maroke, di kawasan perbatasan di wilayah PNG maupun di West Papua, telah beterbangan banyak pesawat tanpa awak “Drone”, yang diluncurkan oleh Tentara Nasional Penjajah Indonesia (TNI)

Menurut Laporan dari Melanesia Intelligent Service berkantor pusat di Port Moresby, drone yang dipasang dan diterbangkan ke seluruh pulau New Guinea dilakukan dengan jarak bervariasi, dan di tempat yang bervariasi juga. Ada yang jarak dekat, ada yang di atas rata-rata pohon, bahkan ada juga yang di bawah pohon-pohon, dan ada juga dari langit jauh di atas.

Demikian pemberitahuan umum ini supaya menjadi makluk dan supaya semua kegiatan dilaksanakan secara matang.

Pesan  khsus kami

jernihkan hati dan pikiran, dan bekerja dengan tuntutan Roh. Jauhkan emosi dan mental kerupuk. Ikuti petunjuk Tuhan! Tinggalkan ambisi dan kemauan nafsu manusiawi. Karena Tuhan sudah lama di pihak kita, hanya kita bangsa Papua yang tidak memihak kepada Tuhan.

 

ULMWP Segera Bentuk Tim Khusus Tangani Krisis Kemanusiaan Nduga

Dari Markas Pusat Pertahanan (MPP) Tentara Revolusi West Papua (TRWP), Gen. WPRA Amunggut Tabi menyerukan kepada United Liberation Movement for West Papua (ULMWP) ntuk tidak tinggal diam dan hanya memprotes kondisi keamanan dan krisis kemanusiaan di Ndugama dan sekitarnya, dan mendesak agar ULMWP membentuk Tim Khusus untuk menangani Krisis Kemanusiaan Ndugama.

Menurut seruan pesan singkat dinyatakan,

ULMWP tidak bisa tinggal diam. ULMWP tidak hanya sebatas mengutuk atau menyesali atau menyatakan pendapat terhadap kondisi rakyat bangsa Papua, tetapi harus bertindak lebih jauh, membentuk Tim Khusus, entah langsung dari Kantor Pusat di Vanuatu ataupun lewat Biro-Biro yang terkait seperti Biro HAM atau lainnya untuk segera menangani krisis kemanusiaan yang terjadi, dengan mengundang berbagai lembaga kemanusiaan dan wartawan sehingga krisis yang terjadi tidak berkepanjangan

Masih menurut Tabi,

Bangsa Papua dan organisasi perjuangan Papua Merdeka sebenarnya sudah harus tahu saat ini tetang apa yang harus dilakukan oleh masing-masing biro dan lembaga yang sudah lengkap dimiliki oleh bangsa Papua, diakui oleh MSG dan PIF dan sah menurut hukum internasional. Oleh karena itu ULMWP bukan lembaga yang hanya memberikan reaksi terhadap kondisi politik, hal-hal politik saja, tetapi juga mengurus semua aspek kehidupan bangsa Papua.

Dari situ baru bangsa Papua bisa merasakan pentingnya dan manfaat kehadiran ULMWP bagi bangsa Papua. Kalau tidak, apa gunanya? Hanya untuk menggugat Pepera 1969? Hanya untuk menuntut NKRI menyelenggarakan referendum? Tidak!

Menurut perintah yang diturunkan oleh Panglima Tertinggi Komando Revolusi Gen Mathias Wenda, Gen. Tabi menyerukan kepada semua pemimpiin politik Papua Merdeka untuk segera menyambut langkah-langkah militer yang dilakukan oleh para pejuang di Rimba New Guinea secara proaktif dan progressive sehingga perjuangan para gerilyawan tidak sia-sia dan supaya perjuangan para panglima tidak dicap sebagai aksi-aksi kriminal bersenjata tetapi sebagai gerilya perjuangan kemerdekaan West Papua.

Menurut Tabi perlu dibentuk Tim Khusus yang terdiri dari Masyarakat Melanesia dan masyarakat dunia, yang ada di Tanah Papua dan di luar Tanah Papua, melibatkan berbagai lembaga kemanusiaan untuk secara murni turun tangan membantu krisis kemanusiaan.

Lanjut Tabi,

Hal-hal ini wajar. Kita sedang berperang di zaman beradab, era demokrasi dan zaman peradaban modern. Oleh karena itu dampak perang perjuangan yang berakibat penderitaan rakyat sipil harus diakhiri oleh ULMWP, dengan pendekatan kemanusiaan yang tegas dan intervensi politik seingga terjadi dinamika politik yang jelas antara NKRI dan ULMWP.

Kita tidak boleh mau bertanding tetapi lari-lari terus di luar lapangan, sementara para penonton menjadi korban dari pihak lawan. Ini secara moral tidak dapat diterima.

Oleh karena itu, ULMWP perlu melakukan lobi besar-besaran, bukan untuk Papua Merdeka saja, tetapi kali ini secara khusus untuk menghentikan dan menangani krisis kemanusiaan di Nduga secara manusiawi dan beradab.

“Kita ini berperang di era Pascamodern, di abad ke-21, jadi kita harus sadar dan tidak boleh mengulangi kesalahan-kesalahan generasi lalu,” tambah Tabi.

Victor Yeimo dan Cerita tentang Gen. TEPENAL Bernardus Mawen

3 hari lalu, bersama kawan Augustinus Aud, kami duduk bercerita tentang sosok Bernard Mawen, Panglima Komando Daerah Pertahanan (KODAP) V Tentara Pembebasan Nasional Papua Barat (TPN.PB) di Merauke. Kami nonton film dokumenter tentang perjuangannya.

Kawan Gusty tanyai apakah beliau sudah meninggal, dan saya jawab dia masih hidup dan menjadi bapak dari semua rakyat pejuang di Anim Ha, juga bagi ribuan rakyat yang hidup di Kem-kem pengungsian di sepanjang perbatasan Papua-PNG.

Bernardus Moiwen, adalah kader keluaran dari Markas Victoria setelah Proklamasi 1971. Ratusan bukit sungai dan rimba kelam ia lalui dalam perjalanan dari utara menuju selatan West Papua, membawa mandat pertahanan Kodap V. Kisah sedih pertemuan dan perpisahan diceritai hingga kini.

Dia adalah pejuang yang pintar, bijaksana, tegas, bertanggung jawab, konsisten dan tidak ambisius. Semua nilai dari sikap pejuang sejati baru saja ditinggalkan bagi generasi penerus perjuangan.

Cerita kami tiga hari lalu itu ternyata ia sedang sekarat di Rumah Sakit Kiungga. Seakan ia datang berpamitan dan memberitahu agar nilai perjuanganya tetap dikenang sepanjang masa. Sayang!

Selamat jalan Jenderal! Alam negeri leluhur menyabutmu dalam damai. Yang sudah kau tanam akan kami piara sampai maksud tercapai: Papua Merdeka.

—–
Anda bisa menonton film dokumenter perjuangannya di link dibawa:

https://youtu.be/Bqja77rEA_o

R.I.P. GEN. BERNARD MAWEN

We have lost an elder. Gen. Bernard Mawen was the Southern regional commander of the West Papuan National Liberation Army (OPM-TPN). I grew up watching “Rebels of the forgotten world” by Claudio Von Planta, one of the first documentary about the West Papuan Independence struggle. I can still remember that first moment, to see our freedom fighters walking in the jungle of West Papua on the tv screen.

It was very inspiring. Some years later I met bapak Thommey and he told me their story about him and bapak Mawen walking on their bare feet from Jayapura to their native land in southern West Papua, where they have established the OPM-TPN southern command.

Bapak Bernard Mawen spent more than 40 years of his life living in the jungle of West Papua to defend his people against the brutal indonesian occupation. Bapak Mawen was a charismatic leader, a true servant of our people.

Bapak Mawen Thank you for your Fighting Spirit. We will carry your name in our hearts and struggle on.

Tiga Hal Yang Menentukan Referendum Kanaky 4 November 2018 Bisa Terlaksana

Sebagai pelengkap dari tulisan Ibrahim Peyon tentang 6 hal yang membuat referendum Kanaky dimenangkan oleh pihak penentang kemerdekaan Kanaky tanggal 4 November 2018, sebagaimana telah kami publikasikan dalam situs ini, dari Markas Pusat Pertahanan (MPP) Tentara Revolusi West Papua (TRWP) mencatat beberapa hal tentang Rererendum di Kanaky tahun 2018 dan referendum di Bougainville Juni 2019 nanti.

Hal pertama dan utama adalah kesiapan FLNKS (Kanak and Socialist National Liberation Front) untuk bermain politik di pentas politik dunia. Kesiapan itu tunjukkan dengan penyatuan organisasi perjuangan kemerdekaan orang Kanaky dengan membentuk FLNKS, kemudian disusul mendapatkan dukungan penuh dari Vanuatu, dan kemudian disahkan kseabgai anggota dari Melanesian Spearhead Group (MSG).

Bangsa Papua telah melakukan hal ini dengan sukses. ULMWP telah terbentuk, dan telah menjadi anggota MSG. Kita sudah siap memasuki pertandingan ke babak berikutnya.

Yang kedua, begitu didukung oleh negara-negara Melanesia, maka kelompok pro kemerdekaan Kanaky terus melancarkan diplomasi mereka di kawasan Melanesia dan di dalam negeri. Mereka berkampanye secara terbuka di dalam negeri dan secara terbuka di seluruh kawasan Melanesia.

ULMWP melakukan hal yang sama di dalam negeri, dengan membentuk kantor koordinasi ULMWP di dalam negeri. Akan tetapi ULMWP lumpuh dalam mempertahankan dukungan-dukungan politik yang telah diraihnya. Bahkan keanggotaannya di MSG juga terancam kandas. Hal ini disebabkan oleh strategi kerja ULMWP yang Euro-sentris dan sangat kebarat-baratan. Mengharapkan berkat datang dari barat, menganggap saudara sendiri tidak dapat berbuat apa-apa.

Yang ketiga, adalah hal yang selama ini ditolak dengan tegas oleh bangsa Papua, yaitu “berdialog” dengan NKRI itu sendiri. Logikanya sederhana, kalau ada pertandingan sepak bola antara Persipura vs. Persija, maka aturannya kedua kesebelasan harus masuk lapangan, berhadap-hadapan dan bersedia bertanding. Dalam kasus ULMWP – NKRI, sampai hari ini ULWMP menolak untuk berbicara dua arah.

Demikian juga dari sisi NKRI, Indonesia juga menolak berdialog dengan ULMWP. Malahan NKRI mendorong Neles Tebay dkk. dibawah binaan BIN (Badan Intelijen Negara) dan LIPI (Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia)  bekerjasama mendorong Dialog rakyat Papua dengan pemerintah Indonesia dalam bingkai NKRI, dengan nama dialog kebangsaan. Kerangka dialgoue ialah antara pemerintah Indonesia dengan rakyat Indonesia di Tanah Papua.

Pertanyaan kita sekarang, “Apa yang membuat Perancis akhirnya bersedia berdialg engan FLNKS dan akhirnya melahirkan Neumea Accord 1998?”

Yang pertama dan yang jelas ialah keuatan, biaik kekuatan militer maupun kekuatan politik yang dimiliki masyarakat Kanak, yaitu penduduk asli New Caledonia.

Menurut Gen. TRWP Mathias Wenda,

Kalau tidak ada alat paksa, bagaimana mau paksa Indonesia duduk bicaa? Bicara masalah apa dulu? Masalah sejarah? Masalah HAM? Masalah pembangunan? Kalau HAM Indonesia sudah bikin pengadilan HAM. Kenapa Melanesia tidak bikin Peradilan HAM sendiri? Kenapa takut? Atau tidak tahu? Masalah sejarah? Semua orang sudah tahu sejarah salah! Jadi, siapa yang pegang perkara ini? Ajukan kasus ini ke Pengadilan Internasional di Den Haag, ulas kasus ini. Jangan ke Jenewa ka New York sana. Itu tunggu dulu. Kalau masalah pembangunan, Jokowi sudah tutup malu, dan dunia sudah bilang Indonesia sudah tutup malu jadi kasih tinggal sudah.

Memperkuat argumennya, Gen. Wenda kembali menegaskan bahwa perjuangan bangsa Papua tidak cukup kuat untuk memaksa NKRI duduk bicara.

Kita banyak punya mental budak, pengemis politik banyak. Kita harus paksa NKRi duduk bicara. Bukan minta, bukan harap, bukan mengeluh.

Kalau dalam politik, mental pengemis tidak usah terlibat, mental mengadu jangan ikut. Mental menyampaikan kekecewaan jangan. Yang harus ikut dalam perjaungan ini ialah orang-orang mental menuntut hak, memaksa pelanggar hak untuk mendengarkan dan menanggapi.

Bagaimana caranya menuntut? Bukan mengeluh, bukan mengemis?

Cara yang jelas dengan membangun kekuatan politik di dalam dan di luar negeri, mengolah organisasi ULMWP menjadi lembaga modern yang profesional menangani perjuangan kemerdekaan West Papua, dengan infra-struktur dan supra-struktur politik yang jelas dan ditata dalam sebuah konstitusi yang jelas pula.Fungsi dan peran infra-struktur dan supra-struktur politik Papua Merdeka harus ditata sedemikian rupa sehingga masyarakat dunia yang modern ini memahami siapa kita dan apa yang kita lakukan, dan di atas itu, supaya mereka yakin kita benar-benar mau merdeka dan berdaulat sebagai Negara Republik West Papua di luar NKRI.

Konstitusi West Papua tidak hanya menyangkut cara-cara mengusir NKRI keluar dari Tanah Papua, tetapi lebih-lebih tentang Tanah Papua dan rakyat West Papua, terkait kehdupan sehari-hari, pemerintahan: administrasi dan birokrasi, hukum negara, investasi, perdagangan, dan sebagainya, sebagaimana sebuah negara.

ULMWP harus muncul sebagai sebuah lembaga modern, “government-in-waiting” yang tidak bermain-main dengan mengeluh dan mengemis. Ia siap menjalankan sebuah pemerintahan negara Republik West Papua.

Wenda katakan

Itu kalau mau pendekatan politik. Nah, kalau mau pendekatan militer, ya serahkan kepada kami di sini. Pendekatan militer itu semua orang sudah tahu.Tetapi untuk itu ULMWP yang harus mempersilahkan dan mempersiapkan. Kalau tidak, kita akan berputar-putar di tempat yang sama, dari generasi ke generasi.

Up ↑

Wantok Coffee

Melanesia Single Origin Coffee

MAMA Minimart

MAMA Stap, na Yumi Stap!

PT Kimarek Aruwam Agorik

Just another WordPress.com site

Wantok Coffee News

Melanesia Foods and Beverages News

Perempuan Papua

Melahirkan, Merawat dan Menyambut

UUDS ULMWP

for a Free and Independent West Papua

UUDS ULMWP 2020

Memagari untuk Membebaskan Tanah dan Bangsa Papua!

Melanesia Spirit & Nature News

Promoting the Melanesian Way Conservation

Kotokay

The Roof of the Melanesian Elders

Eight Plus One Ministry

To Spread the Gospel, from Melanesia to Indonesia!

Koteka

This is My Origin and My Destiny