Pangdam: Papua Sangat Kondusif

AYAPURA [PAPOS] – Pangdam XVII/Cenderawasih Mayjen TNI Drs. Christian I Zebua, MM menyampaikan wilayah Papua adalah daerah sangat kondusif, aman dan damai. Hal ini, dibuktikan dengan adanya aktivitas pemerintahan dan perekonomian serta aktivitas masyarakat yang berjalan selama 1 x 24 jam, tetap aman tanpa ada gangguan dari pihak manapun.

Hal tersebut ditegaskan Pangdam saat memberikan materi pada Kegiatan Kebhaktian Kebangunan Rohani (KKR) Papua Dipulihkan yang diselenggarakan Korem 172/PWY di Aula Makorem 172/PWY Padang Bulan, Jumat (15/11) kemarin.

Menurut Pangdam, bukti lain bahwa Papua sangat kondusif adalah, dengan semakin meningkatkan kondisi iklim investasi di Papua sejak beberapa tahun ini.

Tidak hanya itu, belakangan ini juga, Papua juga menjadi tuan rumah penyelenggaraan sejumlah ivent nasional, dan semua kegiatan tersebut berlangsung aman dan normal.

“Papua adalah Tanah yang diberkati oleh Tuhan, sehingga banyak memiliki keunggulan-keunggulan yang tidak dimiliki daerah lain, khususnya keunggulan sumber daya alamnya,”

ujar Pangdam didepan puluhan peserta seminar KKR.

Yang berkembang saat ini di Papua menurut jenderal bintang dua ini adalah, adanya pandangan pro kontra terkait dinamika pemekaran daerah otonomi baru (DOB) serta adanya otonomi khusus (Otsus) plus.

Pro dan kontra pemekaran DOB ini bagi Pangdam, merupakan hal yang wajar sebagai bagian dari dinamika politik dan demokrasi, karena pada intinya apa yang diharapkan pemerintah maupun masyarakat itu, untuk kepentingan kesejahteraan rakyat.

“Kami bagian dari alat Negara tugas pokoknya adalah melindungi seluruh rakyat Indonesia serta mempertahankan dan menegakkan kedaulatan NKRI. Karena ini, melalui seminar KKR ini tentunya memberikan harapan untuk ikut berkontribusi dan mendukung pemerintah untuk terciptanya suatu wilayah yang selalu diberkati Tuhan, yakni wilayah yang penuh dengan kedamaian dan cinta kasih,”

demikian Pangdam XVII/Cenderawasih Mayjen TNI Drs. Christian I Zebua, MM. [nur]

Jum’at, 15 November 2013 23:29, Ditulis oleh M.Nur/Papos

Enhanced by Zemanta

“Jangan Sepelekan Negara-Negara MSG”

English: Papua Indonesia Flag
English: Papua Indonesia Flag (Photo credit: Wikipedia)

JAYAPURA – Pengamat politik dan pemerintahan dari Universitas Cenderawasih, Marinus Yaung, mengingatkan pemerintah agar tidak menganggap remeh proposal yang diajukan oleh negara-negara Melanesian Spearhead Group (MSG) yang ingin berkunjung ke Papua. Hal ini terkait dengan penolakan pemerintah terhadap negara-negara MSG, yang dapat berakibat pada semakin kencangnya seruan untuk memasukkan Papua sebagai anggota MSG.

“Proposal yang diajukan oleh West Papua National Coalition for Liberation (WPNCL) untuk masukkan Papua menjadi anggota pada sidang MSG di Nomea bulan Juni lalu,akan segera terealisasi apabila pemerintah Indonesia mengabaikan kesepakatan negara anggota MSG tentang peninjauan kembali proposal WPNCL sebelum mereka diundang untuk melihat situasi dan kondisi terkinipembangunan di Papua dalam era Otsus,”terangnya via telepon seluler kepada Bintang Papua, Senin (18/11).

Ia mengatakan, rupanya pemerintah Indonesia secara sepihak memutuskan mengundang delegasi Solomon saja yang datang ke Papua. Tindakan ini dianggap sebagian besar negara MSG sebagai bentuk pelanggaran terhadap kesepakatan di Noumea. Sehingga kalau sampai akhir bulan November ini tidak ada undangan dari pemerintah Indonesia,maka proposal WPNCL akan diterima dan tahun depan WPNCL akan ditetapkan menjadi anggota forum MSG.

“ Maka melalui media ini saya meminta pemerintah Indonesia untuk segera mengundang negara MSG datang ke Papua,karena langkah ini menurut hemat saya akan sangat mempengaruhi keputusan diterima atau tidaknya proposal WPNCL. Bahkan saya berani menjamin bahwa akhir dari kunjungan delegasi MSG, seluruh negara MSG akan meminta kerja sama ekonomi dan pembangunan dengan Indonesia. Kenapa demikian? Contoh paling sederhana saja bahwa kantor Gubernur Papua di dok 2 adalah kantor Gubernur termegah dan terbaik di seluruh negara-negara anggota MSG. Saya sekali lagi meminta keseriusan pemerintah dalam menyelesaikan masalah isu Papua merdeka di Pasifik Selatan,”ungkapnya.

Untuk itu, sekali lagi ia mengingatkan pemerintah untuk tidak meremehkan sikap ketersinggungan Negara Vanuatu dan Kaledonia Baru terhadap undangan dari Indonesia yang hanya kepada negara kepulauan Solomon.

“Karena mereka akan terus mendorong proses politik yang sama ke PBB terkait WPNCL. Organisasi Internasional ini akan melakukan tindakan yang sama dengan memutuskan Papua menjadi negara merdeka secara unilateral tanpa perlu mendapat persetujuan dari negara Indonesia,”

katanya.

Ia menambahkan, pemerintah Indonesia, terutama departemen luar negeri RI sudah tahu bahwa strategi diplomasi invisible hand adalah diplomasi subversif yang telah merusak dan mengancam integrasi bangsa sejak jaman Presiden Soekarno sampai hari ini.

“Dunia internasional selalu menggunakan cara-cara subversi untuk mengancam integrasi bangsa. Cara subversi adalah menggunakan negara-negara kecil di pasifik sebagai kaki dan tangan menjalankan kepentingan mereka untuk menghancurkan Indonesia. Maka kalau pemerintah Indonesia sudah menunjukkan pengaruh yang kuat di pasifik selatan,maka jangan merusak kepercayaan yang sudah didapat dari negara MSG. Undang mereka segera dan lihat apakah masalah Papua masih akan terus berkibar di pasifik selatan atau akan segera berakhir,”

tandasnya.(art/don/l03)

Selasa, 19 November 2013 03:09, Binpa

Enhanced by Zemanta

Socrates: Pernyataan Gubernur Sulut Patut Diapresiasi

Socratez YomanJAYAPURA – Ketua Persekutuan Gereja-Gereja Baptis Papua (PGBP), Socratez Yoman, menegaskan, pernyataan Gubernur Sulawesi Utara (Sulut), D.R. Sarundajang bahwa dialog solusi tepat bagi Papua, itu patut diapresiasi.

Karena ‘kata dialog’ bagi Pemerintah Indonesia adalah seperti ‘hantu’ yang menakutkan, sehingga selalu dihindari  dengan berbentuk siasat dengan banyak cara seperti sekarang Otsus Plus yang disebut Undang-Undang Pemerintahan Papua yang ditolak oleh rakyat Papua.

Hanya saja baginya, esensi dialog yang dimengerti Gubernur Sulut dan orang asli Papua itu berbeda. Yang mana Gubenrur Sulut bisa saja memahami bahwa dialog terjadi antara Gubernur Papua dan rakyat Papua.

Dia (Gubernur Sulut,red) kenapa hanya melokalisir dialog hanya di Papua? Dialog yang diperjuangkan dan disuarakan orang asli Papua bersama rakyat Papua selama ini adalah dialog damai, jujur dan setara antara Pemerintah Indonesia dan rakyat Papua tanpa syarat dimediasi pihak ketiga yang netral.

Menurutnya, akar persoalan Papua bukan masalah pembangunan dan kesejahteraan. Masalah mendasar di Papua ialah status politik dalam Indonesia, pelanggaran HAM berat, pemusnahan etnis Papua.

“Dialog Damai mutlak dilaksanakan karena Otsus 2001 sebagai solusi politik antara Indonesia dan Papua telah gagal total,” ungkapnya saat menghubungi Bintang Papua via ponselnya, Senin, (18/11).

Untuk itu, dirinya meminta agar Pemerintah Indonesia dan dunia internasional jangan lupa dan menutup mata, karena persoalan Papua sudah menjadi perhatian dunia internasional. Kalau Pemerintah RI mau bangun Papua, silakan saja karena masalah ideologi tidak bisa digadaikan dengan uang, makan minum dan bagi-bagi obat, foto bersama orang Papua yang berkuasa di Papua.

Soal penilaian bahwa Papua aman tidak seperti yang diberitakan, kata Socratez Yoman bahwa itu juga sebuah penilaian yang keliru dan terlalu dangkal. Karena masa rombongan Gubernur Sulut hanya satu hari saja di Papua tanpa mengalami, menyelami dan menjiwai masalah psikologis, perasaan dan nurani penduduk asli Papua dinyatakan Papua aman.

“Disisi lain, orang asli Papua memang menjaga tanah leluhur pusaka mereka dengan aman dan damai, karena tidak ada tanah dan negeri alternatif, kecuali Surga setelah kematian. Lagi pula jangan menipu dan menindas orang asli Papua dengan slogan-slogan Kristen,” tandasnya.

Lanjutnya, selama 50 tahun Papua dalam wilayah Indonesia, banyak pejabat Kristen yang datang menjadi kepanjangan tangan penindas dan perampok di Papua ini.(nls/don/l03)

Selasa, 19 November 2013 03:04, Binpa

Enhanced by Zemanta

“CONCELHO DA REVOLUSAUN PACIFICA DO SOFREDOR POVO MAUBERE EM SOLO PATRIO TIMOR LESTE”

PRESS RELEASE:

HO HAU NIA DEPOIMENTO KONA BA EVENTU 11 NOVEMBRO 2013 IHA TIMOR LOROSAE NIA LARAN.

“CONCELHO DA REVOLUSAUN PACIFICA DO SOFREDOR POVO MAUBERE EM SOLO PATRIO TIMOR LESTE”
PRESS RELEASE:
HO HAU NIA DEPOIMENTO KONA BA EVENTU.

Iha loron 11 Novembro 2013, ita bele dehan loron ida importante teb-tebes, tamba iha loron ne’e husi loron kraik to’o kalan (durante horas 6) nia laran, ulun bo’ot Resistencia Armada nian tomak, figures mais destakadas hanesan: Xanana, Taur, Lere, Lu Olo, Falur, Sabika, Maukalo, L7, ho seluk-seluk tan halibur ho orgauns soberania Timor Leste nian: membros governo, parlamento, tribunal rekurso, komponentes sociedade civil, representates partidos politicos, hala’o sorumuto ida iha Dili Convention Center, fo sasin ba akontecimento ne’ebe mosu iha 1983, kona ba kontradisaun ne’ebe mosu entre komandantes balun, hasoru Xanana Gusmao iha momento neba hanesan komandante em chefe das FALINTIL.

Kostuma dehan “konflitos iha organizasaun ida nia laran, inevitavel” organizasaun ida dinamika, progressiva hodi buka atinge metas la ses husi konflitos ka diferensas ideas atu enrikece no sai saudavel. Hanesan mos Aristoteles iha biban ida dehan “democracy is interesting because people disagree”. Embora konflitos buat ida normal hanesan mos diferensas ideas, iha ema hotu nia moris, bainhira la uza ho prudencias no inteligencia atu resolve, bele provoka konsequencias dezastrozas, sa tan iha funu laran. Experiencias hatudu no hanorin ita hotu, iha moris lor-loron nia…

Nudar hau akompanha ho atensaun maxima transmissaun live TVTL nian ba povo tomak iha Timor Leste, temi debate ne’ebe modera husi DR Mari Alkatiri akompanha husi ex-deputada Maria Paixao ho Dr. Rui de Araujo. Sira ne’ebe presta deklarasoens hasoru hau Mauk Moruk maka Presidente da Republika, PM Xanana Gusmao, Major General Lere ho mos intervensoens balun sugestoens, klarifikasaun husi Sr. Lu Olo, Maukalo ho hau nia maun L7, alem de sira lubuk ida ne’ebe hamosu perguntas.

Personagem principal ne’ebe tece konsiderasoens barak, no detalhadas durante horas rua resin nia laran maka Sr. Xanana, ne’ebe narra episodios ka eventos ne’ebe hasoru hau, dala ruma liafuan “sarkasticas no gozos” karakteristikas tipikas Xanana nian.
Dala barak sadik hau tan sa la mossu debate ida ne’e…

DR. Mari Alkatiri dehan “sorte Mauk Moruk provoka situasaun ne’e hodi ita bele rona no hatene konteudo historia iha ailaran, entre responsaveis militares sira, se lae karik, falun metin hela, ita la hatene”

Tan sa mak hau la marka presenca?

Publiko tomak hanoin katak hau la mosu, tanba tauk. La los. Hau la mosu tanba rekesitos ne’ebe hau koloka la prenche hanesan:

1. Hau husu atu Bispos sira husi Igreja Catolica mak modera, tanba imparcial; hau la simu atu DR. Mari Alkatiri deit mak sai moderador, tanba ikus mai ne’e, ho razoens financeiras ba mega projecto Oe-Kusse, Xanana mak patraun Mari Alkatiri nia. Dr. Alkatiri esvazia a’an tiha ona, hanesan lider da Oposisaun, horas ne’e sai fali projecto manager Xanana nian.

2. Hau konhece diak Xanana iha funu laran. Xanana possue astucia ida extraordinaria atu orchestra armadilhas ba nia adversarios politicos sira;

3. Se karik hau mossu iha asaun solene horseik iha Dili Convention Center, hau tama “armadilha kah emboskada Xanana nia, ho lia fuan seluk” hau rasik assina hau nia atestado de morte face plano maquievelico no assassino premeditado husi Xanana nia ne’e.

4. Hau sei la halo debate ho Sr. Primeiro Ministro (Bazeia ba karta Presidente da Republica) hodi nune’e hau sei        attende deit debate ho Sr. Xanana Gusmao la’os debate ho Sr. Primeiro Ministro da Republica Demokratika Timor  Leste i nem taun pouco hodi mos nia kanar hanesan funsoens akumulativos husi Ministro de Defesa no seguransa nia.  Atu debate ne’e bele la’o ho justo no demokratiku, laiha intimidasaun no manobras oin-oin no mos ho ma-fe kontra  ninia maluk veteranus ninia dignidade no nia vida.

Ho razaun hirak ne’e, maka hau deside la marka presenca no hanoin hadi’a ba oportunidade seluk.

Bainhira maka hau marka prezensa atu presta deklarasaun ruma?

Funu hotu ona, buat ne’ebe ita nia beiala sira mehi to’o ita nia gerasaun hetan tiha ona iha loron 20 de Maio 2002 hodi ita Restaura fali ita nia Independensia nebe Forsas Invasoras Indonesias mai hodi sira nia forsa politika militar no ekonomika iha tinan 1975 tama iha ita nia Soberania hodi invade, hodi viola no ikus mai sira okupa ilegalmente ita nia Rai doben Timor Leste, depois ita hateke ba kotuk liu processo ida que naruk; 450 anos dominasaun Portugues, besik tinan 25 luta armada klandestina ho politica no diplomatika hasoru administrasaun invasora Indonesia.
Hanesan Major General Lere Anan dehan “Os meios justificam os fins” atu atinge ita nia objectivo final. Los duni, ita atinge duni ho kustos ne’ebe bo’ot no todan: ruin, ran, vidas, matan ben, sacfricios, terus no susar oi-oin atu konkista lia fuan “ukun rasik an”.

Nune’e iha loron 20 de Maio 2002, Secretario Geral ONU nian Sr. Kofi Anan akompanha ho chefes do Estado, potencias kolonizadoras (Portugues ho Indonesia) ho nasaun vizinhas sira hotu sai sasin ba acto solene reconhecimento ONU nian ba independencia total i kompleta Timor Leste nian.

Ita ukun an tiha ona tinan 38 juridicamente hahu 28 Novembro 1975. Maibe legalidade no praticamente hodi reconhecomento internacional husi 20 Maio 2002. Hau hanesan cidadaun Timor Leste, hau iha direito no legitimidade atu expressa hau nia hanoin no sentimentu kona ba buat ne’ebe akontese iha kotuk, ba ohin loron no aban bain rua nia. Ora hau nia expressaun la monu ba nai ulun, ukun nain sira nia laran, buat ida ne’e,kestaun seluk.

Tanba ne’e mak iha loron 11 de Novembro loke forum debate maske hau la mosu. Maibe hau dehan ba publiko katak hau Mauk Moruk “la tauk, la rekua ba se se deit”. Iha lei regula ita hotu nia komportamento no moris. Ita hotu hakru’uk ba lei. Nune mos ita hotu hatene katak Republika Demokratika Timor Lorosae ne’e Estado de direito, nune prinsipios basilares da Demokrasia no Liberdade nrbr extraido husi Delarasaun Universal dos Direitos Humanos mak norteia kah konduz Povo no Sociedade Timor Lorosae nia moris loron2 nia iha ita nia Nasaun ida ne’e, tanba Deklarasaun Universal Direitos Humanos mak sebagai linha mestra kah pedra-angular ba ita ema kriatura hotu2 nia moris no lalaho kah hahalok iha ita nia Republika Demokratika Timor Leste ne’e.

Hau fo hatene ba publiko katak hau prepara an didiak lai; mak atu fo hau nia depoimento ba publiko iha loron ida. Bainhira los? Hau husu ba ita bo’ot sira hotu nia pasencia atu hein uitoan.

Hau husik hela klaru katak, hau opta ba paz, lia los, repozisaun verdade historika iha ita nia nasaun Timor Leste.

Hau kontra lia bosok, kontra nepotismo, kontra buat ne’ebe falsu, transforma demokrasia ba kapa ditadura institusional atu serbi egoisme ukun nain balun nian.
Hanesan ema Timor oan, hare sasan barak la los, desperta emosaun no sensibilidade forte. Nune’e hau hakilar ho lian maka’as kontra formas hotu-hotu violensia hasoru ema, uza forsa kilat, lia fuan, diferensia social ne’ebe ohin loron mosu grupo ki’ik ida riku bo’ot besik elite politika, iha maioria kiak nia le’et. Hau nia preokupasaun baseia ba dever atu konstroe sociedade ida justa ba ema hotu, ne’ebe kontempla ba ema hotu, la’os ba grupo ki’ik ida deit nia moris diak.

Ita hotu nia kontribuisaun no partisipasaun maka hetan independencia, nune’e ita hotu sai herdeiros ba nasaun ida ne’e.

Hau apela ba domin no paz duradoira, koperasaun ba dezenvolvimento nasional iha lia los nia mahon okos, hanesan ita Nain Maromak nia hakarak ba ita oan kriatura hotu2 iha Universo ne’e em geral i em particular ba ita Povo kik no kiak iha Timor Lorosae nia laran tomak.

Husi Concelho da Revolusaun Pacifica do Povo sofredor Maubere iha Quartel-General Fatuada, 12/11/2013.
Mauk Moruk Ran NakalY Lemoray Teky Timur / Maubere Tuba Rai Metin

Benny: Orang Papua Tidak Minta Otsus Plus, Tapi Dialog

Dr. Benny Giay

Abepura – Ketua Sinode Gereja Kemah Injil (Kingmi) di Tanah Papua Pdt. Dr. Benny Giay mengatakan, orang Papua tidak meinta RUU PP dan Otsus Plus tetapi dialog damai.

Ia menilai, Jakarta salah menanggapi masalah-masalah yang terjadi di Papua dengan memberikan RUU PP dan Otsus Plus atau UP4B.

“RUU Pemerintahan Papua dan Otsus Plus itukan copy paste. Saya minta pemerintah; gubernur, MRP dan Jakarta harus bertobat dan kembali ke jalan yang benar dalam menangani masalah-masalah yang ada di Tanah Papua,’

katanya di Abepura, Kota Jayapura, Sabtu (9/11).

Universitas Cenderawasih (Uncen), kata dia, seharusnya melakukan kajian-kajian dan analisa yang netral, bukan cenderung mencari proyek dari pemerintah lalu membuat analisa sepihak untuk kepentingan penguasa.

“Kita ini kan tahu daerah Papua ini merupakan daerah konflik yang berkepanjangan untuk mengatur RUU PP dan Otonomi Plus itu  harus melibatkan masyarakaat, pemerintah, mahasiswa dan beberapa tokoh di Tanah Papua, bukan seenaknya membuat undang-undang yang sepihak seperti itu,”

katanya lagi.

Menyinggung sejumlah oknum Gerakan Mahasiswa Pemuda dan Rakyat Papua (Gempar) yang ditangkap ketika memerotes adanya RUU PP dan Otsus Plus pekan lalu, ia meminta aparat untuk membebaskan mereka.

“Mereka itu bicara tentang kepentingan rakyat dan mereka tidak anarkis sebenarnya aparat harus tahu hal itu. Negara ini negara demokrasi, semua orang berhak memberikan pendapatnya,”

katanya. (B/CR1/R5)

Monday, 11-11-2013,Sulpa

AMP Kota Solo melakukan aksi menuntut Papua Merdeka dan adili para pelaku kejahatan kemanusiaan terhadap Rakyat Papua.

AMP Kota Solo Menuntut Papua Merdeka
Puluhan Massa Aksi AMP Kota Solo Menuntut Papua Merdeka, 09/11/2013.

Puluhan mahasiswa dan warga Papua di Solo Jawa Tengah kembali menggelar demonstrasi di Surakarta, untuk menuntut kemerdekaan atas tanah Papua, Sabtu (09 November 2013).

Para pendemo yang tergabung dalam Aliansi Mahasiswa Papua Komite Kota Solo menggelar aksi menuntut kepada pemerintah Indonesia dan kepada aparat militer (TNI-POLRI) dinilai telah melakukan pelanggaran HAM berat di Papua.

Papuapost.com Telah melakukan wawancara singkat, menurut koordinator Umum Nggay W menyatakan bahwa aksi kali ini kami menuntut kepada Pemerintah Indonesia agar segera bertanggung jawab atas kejahatan terhadap kemanusiaan dan terutama pada tanggal 10 November 2001 adalah hari dimana tokoh Papua Bapak Dortheys Eluway ditembak oleh Kopasus Indonesia, maka kami menuntut agar negara bertanggung jawab atas sejumlah peristiwa yang terjadi terhadap rakyat Papua.

Mereka juga menuntut kepada pemerintah pusat agar memperhatikan situasi keamanan dan kenyamanan rakyat Papua. Mereka beranggapan kekerasan yang terjadi di tanah Papua merupakan bentuk pelanggaran HAM berat pemerintah Indonesia terhadap rakyat Papua.

Salah Satu Orator perwakilan Perempuan Papua

Berdasarkan pantauan Papuapost.com bahwa massa aksi mulai berjalan dari tempat titik kumpul kemudian bergegas tempat aksi di Tugu Slamet Riyadi, aksi dumulai sejak Jam 09.00 Wib. Salah satu masa aksi menyampaikan orasinya; Solusi penyelesaian masalah Papua adalah Hak Penentuan Nasib Sendiri dan ia juga menambakan bahwa AMP mendukung Free West Papua Campaign yang dipimpin oleh Tuan Benny Wenda sebagai Koordinator Diplomasi untuk Papua Merdeka.

Selanjutnya aksi telah selesai pada pukul 11.30 Wib, masa aksi telah membubarkan diri setelah beberapa jam orasi bergantian, berikut adalah tuntutan aksi AMP Kota Solo:

  1. Berikan kebebasan dan Hak Menentukan Nasib Sendiri sebagai Solusi Demokratis bagi Rakyat Papua;
  2. Segera menghentikan semua pelanggaran HAM, Seret dan Adili para pelaku pelanggaran HAM di Papua ke Pengadilan HAN Internasional;
  3. Menarik Militer Indonesia (TNI-POLRI) Organik dan Non-Organik dari seluruh tanah Papua untuk menghentikan segala bentuk kejahatan terhadap kemanusiaan oleh negara indonesia terhadap rakyat Papua;
  4. Kami mendukung sepenuhnya kepada Free West Papua Campaign yang sedang mengampanyekan masalah Papua di seluruh dunia secara khusus di Papua New Guinea oleh Koordinator Diplomasi Tuan. Benny Wenda.

Setelah membaca pernyataan sikap kemudian membubarkan diri. Walau demonstrasi berjalan dengan damai dan tertib, tetapi aksi Aliansi Mahasiswa Papua Komite Kota Solo Jawa Tengah ini cukup menarik perhatian bagi warga Solo yang melintas baik berkendaraan maupun pejalan kaki. Tidak kala menariknya lagi Para Touris pun ikut mendengarkan aksi tersebut, massa aksi menuntut agar Papua Merdeka, Papua Merdeka dalam orasi oleh setiap orator silih berganti hingga pukul 11.30 wib.

Published by: Mgr/WPRA Dili-TL.

Pastor Jhon Jonga: Alasan Pemekaran Kabupaten untuk Kesejahteraan Rakyat itu Bohong

Pastor Jhon Jonga

Wamena  – Makin gencarnya pengusulan puluhan pemekaran kabupaten dan kota di Provinsi Papua dan Papua Barat yang diklaim lebih mendekatkan pelayanan pemerintahan dan pembangunan, mendokrak kesejahteraan rakyat, menurut Pastor Jhon Jonga Pr, bohong belaka.

Kata Pastor Jhon, semangat para elit Papua dan Papua Barat yang mendorong pemekaran kabupaten dan kota ini kebanyakan dibungkus dengan kepentingan kelompok atau berdasarkan keinginan para elit belaka.

“Fakta yang saya lihat selama ini ketika telah dimekarkan suatu wilayah menjadi kabupaten baru, kelakukan pejabatnya mulai dari tingkatan bawah sampai pejabat kepala dinas menjauh dari rakyat dan hanya mengejar kepentingan semata,”

katanya kepada SULUH PAPUA di Wamena, Jumat (8/11).

Pastor Jhon mengatakan hadirnya kabupaten pemekaran itu banyak rakyat terlantar, banyak rakyat yang miskin bahkan yang sangat ironisnya banyak pengangguran, dan bahkan pejabat ini tidak memberikan pelayaan pemerintahan dan pembangunan  yang  maksimal kepada masyarakat.

Dia menilai juga, kriteria yang digunakan sebagai syarat untuk pemekaran kabupaten tersebut tidak memenuhi syarat, khusunya jumlah penduduk, luas wilayah dan peryaratan formal lainnya. Dia mencontohkan di Kampung Hepuba Distrik Asolokobal kabupaten Jayawijaya tempat ia mengabdi jumlah penduduknynya tidak sampai 100 jiwa bahkan jumlah  kepala keluarganya cuman sekitar 25 orang.

“Saya mengakui juga kalau akibat pemekaran kampung, distrik hingga kabupaten tidak ada pelayanan yang maksimal terutama pelayanan pendidikan dan kesehatan di tingkat masyarakat paling bawah. Ini masalah mendasar yang saya lihat dampak dari pemekaran distrik lalu naik jadi pemekaran kabupaten,”

pungkasnya. (D/CR8/R2)

Saturday, 09-11-2013

Jangan Gadaikan Ideologi Papua Merdeka Dengan Pemekaran

Peta Papua
YOGYA – Mahasiswa dari berbagai jurusan yang ada di daerah JATENG kembali mengelar diskusi terkait komentar Indrayanto, Direktur Jenderal Pemetaan dan Pemekaran Wilayah Otonomi Daerah Kementerian Dalam Negeri mengaku diancam oleh tim pemekaran DOB dari Tanah Papua dengan isu Papua Merdeka bila pusat menolak usulan  DOB dari mereka.
“Kami ditekan oleh tim pemekaran bahwa jika pemerintah pusat bersama anggota DPR/DPD RI tidak menerima usulan pemekaran, maka Papua akan keluar dari Negara Indonesia,”
tutur Indrayanto mengakui tekanan yang diterima.
Jangan gadaikan ideologi manusia dengan sesuatu barang, dan ideologi itu tidak ada pernah lumpuh dari otak manusia sekalipun ideologi itu dimaniskan dengan berbagai cara, program, dan barang berharga apapun. Itulah pokok-pokok diskusi jurusan pemerintah daerah JATENG Rabu, 06/11/2013 di kota baru Yogyakarta saat makan siang berlangsung. 
Hal yang paling aneh adalah ketika ideologi manusia itu digadaikan dengan sesuatu hal yang manis untuk dinikmati sendiri. Hal yang paling lucu adalah ketika ideologi suatu bangsa dan ras manusia itu digadaikan dengan sesuatu program yang tidak akan pernah menghasilkan nilai positif bagi bangsa dan ras tersebut. Kata Donatus B.Mote mengawali diskusi terkait pemekaran di Papua.
Mote mengutip perkataan MK saat puluhan mahasiswa Papua menolak pemekaran
Kami juga ditekan dengan bahasa; kalau tidak diberikan pemekaran di Papua maka kami siap keluar dari NKRI”.
Ungkapan itu, Mote; sebagai mahasiswa tulang punggung bangsa Papua sangat mengayangkan ungkapan tersebut.
“jangan gadaikan Ideologi bangsa Papua dengan pemekaran di Papua sebab sesungguhnya ideologi yang tertanam dan sedang bertumbuh dalam manusia itu tidak bisa dihapuskan dengan barang berharga apapun.
 Tegas Donatus, pemimpin diskusi lepas terrsebut.
Sementara itu, Salah satu Mahasiswa Diponegoro Semarang “Imam” mengatakan;
saya terkejut ketika baca berita bahwa, elit-elit lokal di Papua menekan “kalau tidak diberikan pemekaran di Papua berarti kami siap keluar dari NKRI”.
 Kata Imam.
Lanjut Iman;
saya tidak tahu, apa benar mereka ungkapkan seperti itu atau hanya ucapan manis di MK untuk mendiamkan masa aksi yang datang di kantor. Namun, saya sebagai mahasiswa yang berdiri netral kembali mengatakan dengan tegas bahwa; sesungguhnya ideologi suatu bangsa dan ras itu tidak bisa digadaikan dengan barang apapun sekalipun dengan emas dan perak.
Tegas Imam, Yang selalu ikuti perkembambangan Papua.
Tonchi, salah satu mahasiswa jurusan pemerintahan di UGM kembali memperkuat;
memang ideologi orang Papua itu tidak bisa dilumpuhkan sekalipun dengan manisnya program pemerintah pusat dan daerah. Apalagi ideologi atau Papua ingin keluar dari NKRI itu bukan hal yang baru muncul di Jakarta, tetapi sudah ada sejak 1962 Papua dianeksasi ke dalam NKRI.
Kata Tonci dalam diskusi.
Saya sangat lucu dan merasa aneh, melihat tingkah laku dari pemerintah Pusat. Kelihatannya dalam Negara Indonesia ini ada wilayalah-wilayah yang dimanja oleh pemerintah dibandingkan dengan wilayah-wilayah lain.
Jelas Tonci
Lanjut,
jujur saja bahwa, selama ini saya melihat Papua itu wilayah yang dimanja oleh Negara. Kenapa? Karena Negara mencoba untuk melumpuhkan ideologi Papua Merdeka. Tetapi hal yang perlu kita lihat adalah; ideologi suatu bangsa itu tidak bisa dihilangkan oleh Negara sekalipun menjalankan dengan bentuk kekerasan oleh satuan militer.
Tambahnya Tonci.
Dalam diskusi tersebut, Fitria; seorang perempuan yang aktif dalam berbagai organisasi kampus mengakatan dengan singkat
daripada Negara menghabiskan dana triliyunan di Papua, lebih bagus dilepaskan saja. Kenapa? Karena memang ideologi suatu bangsa itu tidak bisa dihilangkan dengan jumlah dana besar yang selama ini Negara kasih ke Papua.Kata Fitria, dalam penuh harapan akan kehidupan masyarakat Papua.
Lebih baik, lanjut Fitria;
Negara fokus terhadap wilayah-wilayah lain yang ada di NKRI. Biarkan saja Papua mau lepas dari NKRI atau tidak karena sudah cukup banyak dana yang dihabiskan di Papua.
Sekitar dua jam lebih disuksi berjalan. Untuk mengakhiri diskusi, forum menyimpulkan bahwa, Ideologi masyarakat Papua tidak bisa dihilangkan oleh pemekaran. Orang-orang yang datang minta pemekaran di Jakarta dengan mengadaikan ideologi masyarakat Papua “RAS MELANESIA” adalah orang-orang yang tidak mempunyai identitas dan telah didoktrin oleh Negara. Orang-orang yang datang di Jakarta itu, masyarakat Papua musti bertanya kembali. Kata Donatus, pengurus KOMAP APMD(Editor: Bidaipouga)
Jumat, November 08, 2013 ,timipotu

MOVIMENTO INTERNASIONAL BA DIREITOS HUMANOS I LIGA DOS PRESOS POLÍTICOS!

PRESS RELEASE

QUARTEL GENERAL BA CONCELHO REVOLUSAUN POVO MAUBERE NIA, FRETILIN MATADALAN NO GLORIOSAS FALINTIL LIMAN KROAT POVO MAUBERE NIA IHA FATIN: FATUHADA – COMORO FATUHADA, DILI – TIMOR LESTE.

Press Release: Movimento internasional ba direitos humanos i liga dos presos políticos!
Press Release: Movimento internasional ba direitos humanos i liga dos presos políticos!

Nasaun timor leste la’os kompanhia privado, senhor xanana nia, nune mak senhor xanana mak politiza fali historia tuir ninia hakarak no ninia sistema ukun ho modos facismu, ditadura, madaun komanadante no general no selseluk tan, nune mak nia transforma cnrt ba ninia partido privadu, hodi bosok no lohi povo kik no kiak maubere no fretilin hotu, nune mos falintil no asuwain veteranus sira i hodi moen2 hakat liu ita nia saudosos matebian sira nia ru’in no kulit, isin no ran nebe sira soe no fakar hodi sakrifisios oin2 ba ikus mai oin loron timor lorosae bele ukun rasik a’an duni. Xanana hodi momoen tan halibur mesak nia maluk lubuk ida husi ninia assosisaun mafiosas federalistas, integrasionistas no autonomistas hamrik no tu’ur nia sorin hodi ukun ho kkn nia sistema nebe buras no halebar ba nasaun kik no kiak republika demokratika timor lorosae ne’e…pois hodi ninia sistema ukun atrasado ho mentaklidade mesak desekilibradu sira ne’e mak xanana nia ukun besik tinan sanulu resin, kkn kontinua buras no habebar ba timor lorosae nia laran tomak i halo ita nia povo kiak, mukit no kik ba bebeik.

Sidadaun hotu2 iha direito atu hala’o transformasaun kah remodelasaun nune mos bele korrije sistema ukun xanana nia nebe oin loron ita haré ninia funcionalismu parado hotu i lala’o hodi dever moral ho responsabilidade obrigatoriu atu serve povo no nasaun tuir nia propaganda politika hodi renda2 no funan2 durante ninia kampanha parlamentar nia. Bahinra hodi ita povo arbitragem ninia lian ba halo koresaun ba ninia a’an, xanana hakarak kah lakohi tenke rona povo kik no kiak nebe ke vota ba nia atu kaer nafatin ninia knar hanesan ukun nain ba segundo mandato amp ii kah gbk nebe agora la’o macet total i osan barak mak mohu deit ba sira nia gostus diabolikus sira ne’e…
Se xanana la rona mak povo mukit no kiak ho nia dever moral ejije responsabilidade serio ba governo xanana nia atu halo mudansa radikal ba sistema nebe ke atrasado no la iha plano ba nmanejamento klaro hodi define lolos prioridade ba halo ita nia povo kiak no mukit bele sai moris diak no hakmatek iha domin no dame nia laran, nune bele moris iha komprensaun mutua no harmonia nia laran, iha justsa social ba sidadaun hothotu sem deskriminasaun nenhuma. Kuando xanana ho ulun tós lakohi muda ninia mentalidade arkaika no korrupsaun ukun nia mak massas populares tenke rekore kah halai ba revolusaun popular hodi…

”as the people power must show his powerful policy to save the country before too late”. The people power is only one and unique way to pressure government to change his retrograde system of which it has no more place in our human society’s life daily”…”Therefore in fact the people power’s action through the big and most powerful idea of revolution should forced fragile and very weakness government to introspect himself to change off or to be conformist and awaiting than have severe punition from mass popular revolution as indeed the real people power marching to the great revolution to transform the nation and its leadership, as what we are watching it now with very sadness manner”.

”by the way, the revolution is the only the last way to go to put all the odds and maquevelics that could not compromise of fate of the millions of the innocent and poor people in our east timor’s soil after we have restored our independence till nowadays.
Long life maubere people!
Long live the glorious falintil!
Long live fretilin and all its components!
Our struggle continuing goes on till the all maubere people became liberate from odds and style modus of governing people and nation in this modernization era of the globalization and liberalization leaded by xanana in maubere people motherland”.

Xanana komo primeiro ministro ba republica demokratika timor leste, nia iha dever moral obrigatorio hodi tuir lolos bolu administrador sira halo reuniaun atu fo’o atensaun ba korruptor sira hotu2 atu merese sansaun kah atu husik haburas no habebar nafatin kkn ba nune halo susar no terus nafatin ita nia povo maubere hothotu iha ita nia rai doben timor lorosae nia laran tomak. Mas pelo kontrario xanana hodi nia intensaun a’at tebtebes hodi haruka fali chefes do suco, adminitradores postos e concelhos no mos policias nacionais iha 13 destritos ne’e mai atu ba hafú resistentes sira nia actividade no nia uma fatin moris no hela nia iha timor lorosae nia laran tomak.

Ukun lahatene tun, lideransa nebe hakarak ukun tenki konsistente ho nia maturidade no idoniedade politika hodi ukun ho nia integridade no dignidade hodi informa korrektamente ba masas populares kona ba transparensia no akontabilidade iha governasaun nia.

Lian menon: ba sé deit mak fo’o apoio ho suporta ba koruptores sira atu hane’an povo kik no kiak sira, ami oan doben povo kik no kiak timor lorosae kah povo maubere sei la tolera duni i ami sei la hakfodak ba senhor pm xanana nia statement politika nebe hodi hanesan lolos ema ema bosok ten, nauk ten, bobar ten, politiza historia ba ninia interesse rasik kah privadu, no mos facista no ditador hodi kelas kakap mesak mak ne’e…

Povo mak sei hamrik hamutuk julga korruptores sira tuir realidade moris loron2 nia nebe ke sira hasoru hela dadauk ne’e.
Povo falta bé mos, electricidade, uma ho kondisoens diak atu moris ho, estradas ho kondisoens ho tan buat sira selseluk ba sira nia moris loron2 nia, nebe governo husi alkatiri to’o xanana oin loron ne’e i besik tan tinan 14 seidauk hatudu iha pratika ida…

Governante sira aprova oje, hodi biloens no biloens dolares amerikanos simplesmente hodi habokur koruptor, maibe la’os hadiha povo kik, kiak no mukit nia moris.

Labarik sira la iha nutrisaun diak ba futura nasaun atu lori ba nebe deit mak ne’e, hodi destino incerto deit mak ita akompanha no haré lorloron ne’e.

Korruptor sira mak kontinua ukun, apesar ita hotu hatene sira nia moras kronika hirak ne’e hotu. Crise hirak nebe mosu iha ita nia rai doben timor lorosae tomak nia laran iha tinan2 ba kotuk liu ne’e. Autor nain mak sé lós? Pára ameasa povo! Pára lohi povo! Pára nauk povo! Pára politiza povo ho imi nia politka befoer no moen tantanan deit hirak ne’e…

Korupsaun povo nia inimigo! Manipulasaun iha processu eleitoral se mak involve iha laran? Campanha ala americano uja osan sé nian? Nasun riku povo kik. Sé mak ukun?

Hatun xanana ho nia kronis sira! Reforma governo urgente i la iha pre-condisoens ida! Povo presisa moris diak! Ita precisa matenek timor oan ho espiritu nasionalismu no patriotismu as tebtebes, hodi hadomi nia povo i moris ho sira mukit no kiak hodi serbi sira hodi neon no laran! Maibe la’os halo fali ita povo mukit no kiak sai fali ukun nain sira nia atan.

Hau pronto hamutuk ho matenek timor oan sira hotu-hotu, hamutuk ho povo tomak timor lorosae no maubere, frentistas sira hotu, gloriosas falintil funu nain, juventude maubere no loriku asuwain no mos komponentes hotu2 husi fretilin nia, hodi hala’o revolusaun hasoru mister korruptor sira.

Viva povo maubere! Viva asuwain falintil, liman kroat povo maubere nia viva fretilin no nia komponentes hotu2 iha rai doben timor lorosae nia laran tomak!

Hamutuk ita bele!…

Ba ita hotu nia informasaun contact no. Telefone +670-78145466.
Mauk Moruk Ran Nakaly Lemoray Teky Timor / Maubere Tuba Rai Metin!
Dili, 4 novembro 2013.

14.00

Normal
0

false
false
false

IN
X-NONE
X-NONE

/* Style Definitions */
table.MsoNormalTable
{mso-style-name:”Table Normal”;
mso-tstyle-rowband-size:0;
mso-tstyle-colband-size:0;
mso-style-noshow:yes;
mso-style-priority:99;
mso-style-parent:””;
mso-padding-alt:0cm 5.4pt 0cm 5.4pt;
mso-para-margin-top:0cm;
mso-para-margin-right:0cm;
mso-para-margin-bottom:10.0pt;
mso-para-margin-left:0cm;
line-height:115%;
mso-pagination:widow-orphan;
font-size:11.0pt;
font-family:”Calibri”,”sans-serif”;
mso-ascii-font-family:Calibri;
mso-ascii-theme-font:minor-latin;
mso-hansi-font-family:Calibri;
mso-hansi-theme-font:minor-latin;
mso-bidi-font-family:”Times New Roman”;
mso-bidi-theme-font:minor-bidi;
mso-fareast-language:EN-US;}

PM Xanana Gusmao: “Mauk Moruk Mak Bolu TNI Ataka Daitula”

PM Xanana Gusmao: “Mauk Moruk Mak Bolu TNI Ataka Daitula”
PM Xanana Gusmao: “Mauk Moruk Mak Bolu TNI Ataka Daitula”

Primeiru Ministru Kay Rala Xanana Gusmao justifika katak, Komandante FALINTIL iha tempu rezistensia, Paulino Gama “Mauk Moruk” mak hatudu dala ba Tentara Nasional Indonesia (TNI) hodi atake David Alex “Daitula”.

Ida ne’e akontese tan problema oi-oin ho Konis Santana sira, hodi halo Mauk Moruk la lori ona kilat musan mai ba Forsa sira hodi ataka inimigu, no hakfodak la kleur Mauk Moruk ba mosu fali iha venilale hodi rende ba Bapak sira, ne’e mak ohin nia (mauk Moruk) koalia oi-oin hakarak halo revolusaun.

“TNI sira simu Mauk Moruk ho Orgulho boot, faru Jeneral foti tau ba nia kabas, Bapa sira hahu fiar nia, tanba nia mak hatene dalan nune’e-nune’e, ne’e mak nia hodi provoka ho TNI sira ataka David Alex,” informa PM Xanana ba Jornalista sira iha segunda (28/10) iha Akademia Polisia Comoro, Dili.

Xanana hatutan, tanba TNI sira nia jeneral mos atu mate, fila fali mai, bapak sira la fiar kedas nia, hodi Mauk Moruk nonok ba tiha Jakarta no halai tiha ba Olanda. Xanana mos dehan, ema seluk ne’ebe nia (Xanana) lahatene, no lahare sira ne’eba, nia la autoriza sira atu dikute kona ba FRETILIN.

“Se-se mak hau bele lembra katak iha neeba hotu mak, Abel Larisina, Filomeno paixao, Mau Hunu ho Felicano, sira ne’e deit, restu lakon hotu. Ami sira ne’e hau autoriza sira koalia kona-ba ida ne’e, atu mai kontradis hau mos, hau autoriza sira dehan sira matenek, ema sira ne’ebe laiha laran, hau la autoriza, atu dehan katak, Mauk Moruk mai atu kurizi hau, ida ne’e bosok, tanba nia lahatene,” katak Xanana.

“Mauk Moruk bele lembra katak, iha akapamentu report, bainhira Benny Murdani kaer fali TNI, Heli Kopter ida ho Maijor ida ne’e naran Jen, tun iha ne’eba hodi dehan ba FALINTIL sira hotu katak, imi halimar ho Jeneral Yusuf, maibe ho hau imi la halimar, Ami reuniaun lalais tiha ho Maijor ne’e, soladadu sira dehan katak, ita tiru mate boa tamak sira ne’e, ita kaer helikoptru, hau dehan lae, tenki hanoin ho ulun, tanba ida ne’e mak ami haruka sira fila,” dehan Xanana.

Xanana esplika, Komandante Kilik, Mauk Moruk, Mau Hunu, Mau Hudu, Koni Santana, Victor da Costa nia alin no nia rasik (Xanana), realiza reuniaun ida hodi koalia hare ba situasaun, tanba informasaun ne’ebe spalla iha fatin barak, Forsa FALINTIL sira tama la sai fali.

Xanana afirma katak, Mauk Moruk ba to’o iha Alas ne’eba, hasoru komandante Laga nia oan ida, naran Bloku Loi hodi reuni ho Ruak atu buka dalan hodi salva Forsa FALINTIL sira, no fo hatene hela ba sira dehan katak, atu reorganiza forsa FALINTIL sira hodi kontinua funu, so halo hanesan ne’e.

“Maibe sira nia grupu mesak sees an, tanba lia fuan ne’ebe Sr. Ruak koalia hela se ita la serve sai komandante kompania, ba fali komandante pelataun, se ita la serve ba ida ne’e ba fali ida ne’eba,” esklarese Xanana.

Tanba Xanana dehan, iha funu laran kestaun mak ida ne’e, servi didiak hodi bele lori nafatin funu ba oin. Xefi Estadu no komandante Brigada konese sira ho kilat oituan, ho kilat musan ba nia rai dehan katak atu halo operasaun bobot mais nunka akontese buat ida.

“Ho ida ne’e hau ba hasoru padre Locoteli, hau dehan ba nia, ba kedas Dili dehan ba senor Governu, hau hakarak hasoru nia mesa-mesak atu koalia politik, hau lahatene sr. Mauk iha funu laran nia akompanha buat sira ne’e hotu ka lae, ohin loron sr. Mauk Moruk fila tiha ba lia,” akresenta Xanana.

“Enkuantu ami estuda gerilia iha ne’eba, hau estuda Guinea ninian, Mocambique ninian, Cuba nian, hodi ida ne’ebe mak bele aplika mai ita nia rain, laiha ida atu bele aplika ida ne’e, kaer deit mak prinsipius,” relata Xanana. Tanba ida ne’e, tenik xanana Mauk Moruk labele lohi dehan katak, nia mak halo tematika sira ne’e, no nia mak prepara reuniaun 1981.

“Hau mak responsavel gerilia husi komite sentral FRETILIN ninian ne’ebe momentu ida ne’eba Nicolau Lobatu sei moris,” informa Xanana.

Xanana esplika, nia bolu komandante Kilik no sira seluk ba hamutuk atu estuda saida mak nia rasik (Xanana) hakerek ona iha ne’eba. “Hau mai foti sira iha salari, mai to’o iha Waibobo hetan asuain Ologari, depois hau ba fali Uatulari hetan tiha sira, ami fo volta nune’e, ne’ebe lalika dehan katak Mauk Moruk mak hanoin buat sira ne’e hotu,” haklaken Xanana.

Xanana haktuir, lalika mai dehan fali buat oi-oin, iha kompania ida, Primeiru Komandante mak Watulari oan ida, Jose Henrique, segundu komandante mak Joni Meta, sei moris hela maibe nia ulun la dun diak.

“Mai buka atu estuda nafatin, husi sentru ida ne’e mak hau provoka sira, mai reuniaun, iha reuniaun ida ne’e mak hili mos Sr. Mauk Moruk sai membru Comite Sentral FRETILIN, ikus fali estuda sai segundu vice Xefe Estado maior,” realsa Xanana.

Ohin loron nia (Mauk Moruk) ba tama to’o iha UNTL hodi temi kamradas no revolusaun, maibe nia kala aprende kamarada revolusaun iha Olanda ne’eba, ne’e mak foin hodi dehan saida mak Kamarada no saida mak revolusaun. Iha 1983, nia (Mauk Moruk) inventa buat oi-oin, kona ba kontaktu entre sira iha ai laran, sei nia hatene saida mak estratejia politika, funu nudar akta ida atu manan aniversariu, husi nia hanoin ne’e, katak funu ne’e tiru malu deit.

“Funu ita bai-bain dehan katak, ita manan ho pregu, maibe manan funu ho estratejia politika, konversoens da paz iha Hotel da Graca, nia halua tiha katak, hau hasoru malu ho Wiranto, ho Bandeira RDTL, ida ne’e tanba nia hanoin boot liu, hanoin liu fali ba to’o iha ne’eba mak nia lahare,” afirma Xanana.

Tanba nia estuda hela deit, mak nia lahatene katak, buat sira ne’e la’o hanesan ne’e, nia haluha tiha katak, primeiru inkontru ho Wiranto iha ne’eba ne’e, aprezenta planu atu rezolve Timor nia problema ne’e mak, so iha 1999.

“Tanba ne’e lalika rona problema oi-oin hodi mai inventa, tanba iha 1983 hau ba hasoru ho Bandeira RDTL nian, hau aprezenta planu solusaun ba kazu Timor, ne’ebe uluk implementa ona iha 1999,” haktuir Xanana.

Tanba Mauk Moruk nia hanoin luan tebe-tebes ona, nia la hanoin kona ba ida ne’eba, no tanba hanoin luan ne’e mos mak haluha tiha planu sira uluk ne’ebe halo hodi manan funu ida ne’e. Tanba nia (Mauk Moruk) iha tiha ona HOlanda ne’eba mak nia la hatene katak, ho Reprejetante Dr. Ramos Horta reprezenta CRM iha liur ne’eba mos husu dehan atu halo ida ne’e no ida ne’eba, maibe nia (Xanana) dehan ramos Horta katak, lae, 1983 nian tenki kaer metin planu ida ne’ebe entrega ona ba iha Soeharto.

“Hau sai husi FRETILIN, hau respeita nafatin FRETILIN, laos mai koalia fali FRETILIN seluk, nia dehan katak, hau trai revolusaun, nia haluha katak, iha 1981 bainhira ami halo reorganizasaun, ami loke tiha ona planu ba buat ida,” reafirma Xanana.

Ida ne’e signifika katak, unidade nasional la’os tenki tama ba FRETILIN, unidade nsional bele la tama iha Partidu, no bele husi artidu seluk, labele mos dehan katak, funu ne’e arte, tanba arte ne’e mak halo oinsa mak manan inimigu. Iha 1983, bainhira FALINTIL mosu, forsa Indonesia sira mos hakfodak ho planu ida ne’e, hodi dehan katak, tanba sa mak sai anesan ne’e.

“Tamba sa mak hau hasoru malu ho Mario carrascalao, hau hasoru malu ho Carrascalao tanba purwanto lahatene politika, koalia ho nia mos ladiak tanba hau hatene deit portugues ho tetum, bahasa mos lahatene, i nia mos dehan mai hau katak, hau lahatene politika, pak governu hatene politika, entaun hau dehan, pronto haruka pak governu ne’e mai, ida ne’e mak hau hasoru Carrascalao,” relata Xanana.

Hasoru tiha sr. Carrascalao iha Mertutu, atu koalia saida, naran hatudu boavontade atu hasoru ema politiku ida, Mario Carrascalao atu koalia buat seluk mos labele, tanba nia mos hanesan ne’e, koalia bai bain deit.

Maibe ida ne’e laos influsiadu husi Mario carrascalao, atu temi karik Timor nia istoria, uluk ASDT, Mauk Moruk temi ba jornalista sira dehan katak, buat hotu katuas Xavier ninian, ida ne’e sala,” kestiaona xanana. Sei Mauk Moruk temi revolusaun, ne’e hatudu nia uluk laos membru Komite sentral, ne’ebe nia lahatene.

“Tanba uluk buat ida ita bolu imperealismu ne’e, hakarak domina nafatin povu sira hodi esplora rikusoin sira, mak nen fo oin ida katak, rai ne’e ita atu ukun an laiha, ida ne’e mak sira ba rekorda hotu ba iha uniaun Sobetika, sira mak fo kilat no buat sira ne’e hotu, tanba ne’e mak Guine Bissau, Angola no Mozambique, simu apoiu barak husi uniaun Sobietika,” akresenta Xanana.

Neduni ba labarik sira dala barak lahatene historia, labele bosok sira dehan katak, nia (Xanana) mak fundador, husu xanana. Tanba ida ne’e mak Sr. Mauk Moruk dehan karik kona-ba revolusaun, nia ba hateten katak, nudar membru Komite sentral nia ba asisti miloens iha ailaran, ne’ebe manda ba setor ida ne’e, tanba laos fasil.

Xanana afirma, debate kona-ba Narsismu, no debate kona-ba buat sira ne’e hotu, hahu iha maio 1976 iha Soibada, Mauk Moruk lahatene, iha parte ida ne’ebe depois iha 20 de maio, sr. Xavier halai tiha husi ne’eba, tanba nia la defende narsismu.

Senor Nikolau Lobato mos la defende Narsismo, relizioju no ensionalista, hahu kedas iha nia moris mai ne’e, tanba nia aman mos proffesor katekista.

“Reuniaun iha Lalini iha tinan 1977, problema bo’ot ho Nikolau, tanba la aseita narsismu, ami kontinua reuniaun Nikolau sira haruka deskansa, semana ida la koalia ho ami, no ami mos la besik, hodi ikus fali mai nia rende, tanba ne’e mak se-se deit mak hakarak deskuti FRETILIN ninia lalaok, no ninia difikuldades, hau mak ne’e,” konta tuir Xanana.

Iha fatin hanesan, Major jeneral Lere Anan Timur hateten katak, koalia kona ba revolusaun ne’e, Timor oan mak tenki uza konseitu ida ne’ebe dinamiku.

“Labele dehan revolusaun hotu-hotu dehan revolusaun ho kialt, ida ne’e hau la fiar katak, Mauk Moruk ho ninia maun L7 sira nain rua atu hanoin at ba ita nia rai ne’e, hau la fiar,” dehan Lere.

Problema ne’e politiku sira no ONG sira esplora espekula sira nia konseitu, bainhira sira la domina, ou tanba la kumpriende saida mak revolusaun,” katak Lere.

Revolusaun ne’e ema komunis sira mak halo, tanba revolusaun ne’e intrepretasaun sinonim, dehan katak, dinamiku ne’e revolusaun mudansa,” esplika Lere.

Jornal Nacional Diario – Kinta-feira, 31 Outubru 2013

http://www.timorhauniandoben.com

Up ↑

Wantok Coffee

Melanesia Single Origin Coffee

MAMA Minimart

MAMA Stap, na Yumi Stap!

PT Kimarek Aruwam Agorik

Just another WordPress.com site

Wantok Coffee News

Melanesia Foods and Beverages News

Perempuan Papua

Melahirkan, Merawat dan Menyambut

UUDS ULMWP

for a Free and Independent West Papua

UUDS ULMWP 2020

Memagari untuk Membebaskan Tanah dan Bangsa Papua!

Melanesia Spirit & Nature News

Promoting the Melanesian Way Conservation

Kotokay

The Roof of the Melanesian Elders

Eight Plus One Ministry

To Spread the Gospel, from Melanesia to Indonesia!

Koteka

This is My Origin and My Destiny