Dua Anggota TNI Masih Kritis

Korban penembakan, anggota TNI
Korban penembakan, anggota TNI
Wakil Ketua Komnas HAM, Nur Kholis bersama rombongannya saat menjenguk anggota TNI yang menjadi korban penembakan di Puncak Jaya, di Rumah Sakit Marthen Indey, Jayapura, Sabtu (16/7).

JAYAPURA – Dari tujuh anggota TNI yang menjadi korban penembakan sipil bersenjata di Puncak Jaya yang kini dirawat di Rumah Sakit Marthen Indey, lima orang sudah mulai membaik, sedangkan dua lainnya masih kritis dan masih berada di Ruang ICU.

Hal ini sebagaimana dikatakan oleh dokter specialis orthopaedi dan traumatologi, Zuhri Efendi kepada wartawan di Rumah Sakit Marthen Indey, Sabtu (16/7).

“Dari 7 anggota TNI yang sudah dirawat di rumah sakit ini, lima korban kondisinya berangsur membaik, namun dua anggota masih mengalami kritis yaitu prada Kadek dan pratu Haiber Rivo. Dimana prada Kadek adalah korban baku tembak pada tanggal 5 Juli 2011 lalu di kampung Kalome Distrik Tingginambut Kabupaten Puncak Jaya yang mengalami luka tembak di bagian kaki kiri,” katanya.

Menurut dokter, Kadek mengalami patah tulang hasta dan kini masih dalam keadaan kritis sebab luka bekas tembakan itu mengalami infeksi. “Lukanya sudah berapa kali dilakukan upaya pembersihan dan kami juga sudah memasang 2 pen di kakinya,” katanya.

Sedangkan pratu Haiber adalah korban tembak pada tanggal 12 Juli 2011 lalu di kampung Pillia Distrik Tingginambut Puncak Jaya yang mana Haiber terkena tembak pada ibu jari jempol telunjuk dan jari tengah tangan kanan.

“Rencananya pratu Haiber akan dievakuasi ke Jakarta karena pembuluh darah pada tangan bekas luka tembak putus. Sementara lima korban lainnya yang berangsur-angsur membaik itu dirawat di ruang Buana I RS TNI-AD Marthen Indey ini,” ungkapnya.

Sementara itu, setelah sebelumnya melakukan pertemuan dengan Pangdam XVII/Cenderawasih, Sabtu (16/7) sekitar pukul 10.00 WIT, Komisi Nasional Hak Asasi Manusia (Komnas HAM) Pusat menjenguk TNI yang menjadi korban penembakan di rumah sakit TNI-AD Marthen Indey.

Pada kesempatan itu, Wakil Ketua Komnas HAM, Nur Kholis didampingi dua anggotanya yaitu Asri Oktavianty dan Siti Hidayawati, serta dari Komnas HAM Perwakilan Papua. Dalam kunjungannya ini, mereka ini didampingi oleh dokter RS Marthen Indey yaitu dr Zuhri Efendi,SpOT.

Dari pantauan Cenderawasih Pos, Wakil Ketua Komnas HAM Nur Kholis,SH,MH melakukan dialog singkat kepada anggota TNI yang tertembak dalam insiden penembakan di Distrik Tingginambut Kabupaten Puncak Jaya.

Salah satu korban itu adalah Pratu Sitorus. Saat dijenguk Komnas Ham itu, ia menceritakan bahwa pada saat kejadian, mereka sedang melakukan patroli dengan dipimpin oleh Letda Inf Jefri Satriansyah, yang juga tertembak.

Dalam aksi tembak menembak dengan sekelompok orang tak dikenal tersebut, diakuinya, sangat susah melakukan perlawanan, dikarenakan medan yang sangat susah dan jauh. “Sementara dari pihak mereka sudah menguasai medan. Maka saat mereka melakukan penembakan, mereka sudah memperhitungkannya serta melakukan penembakan dari beberapa arah, yang mana bisa dibilang arahnya seperti bentuk gunting, dan kami di tengah-tengahnya,” tutur Sitorus.

Partu Sitorus ini merupakan orang ketiga yang tertembak dari lima orang rekannya yang terkena tembakan. “Kami anggota TNI yang tertembak tanggal 12 Juli 2011 kemarin. Di mana saya mengalami luka serpihan tembakan pada kaki bagian paha kanan dan kiri,” terangnya.

Setelah kejadian itu, delapan anggota lainnya membantu hingga bisa membebaskan diri dari sekelompok orang bersenjata tersebut. “Sepanjang evakuasi terhadap kami, tembak menembak terus terjadi. Apalagi jarak ke pos sangat jauh. Bayangin aja dari pagi hari sampai ke malam hari sekitar pukul 21.00 wit baru sampai ke pos,” ucapnya.

Saat Wakil Ketua Komnas HAM bertanya, “Dari pengalaman kamu sebagai anggota TNI bisakah kamu memprediksi senjata apa yang dipakai sekelompok orang bersenjata tersebut?” Sitorus menjawab, saat itu sangat banyak suara tembakan, apalagi dari beberapa arah. Namun dari pengalamannya bisa dibilang bahwa senjata mereka seperti AK 47, M 16 dan juga Moser.

Kepada Cenderawasih Pos Praka Sitorus menegaskan, dirinya tidak merasa trauma atas kejadian yang dialaminya. “Sebagai TNI itu sudah resiko saya terkena tembakan, atau juga harus berkorban nyawa. Apalagi menjadi TNI adalah cita-cita saya dari kecil,” ucapnya.

Saat ditanya apakah kedua orang tua mengetahui bahwa dirinya tertembak? Ia menyatakan, biarlah rasa sakit ini menjadi risiko dirinya, dan kedua orang tua tidak merasakan maupun memikirkannya. “Sekali lagi saya bilang ini adalah risiko saya,” tegasnya.

Sementara dari sumber terpecaya Cenderawasih Pos, kondisi di Puncak Jaya pascapenembakan sudah mulai membaik dan kondusif. Namun aparat TNI dan Polri tampak berjaga-jaga dan juga berusaha mengejar pelaku penembakan tersebut. (ro/fud)

Senin, 18 Juli 2011 , 17:17:00
http://www.cenderawasihpos.com/index.php?mib=berita.detail&id=2330

Korban Penembakan Ternyata Lima Orang

JAYAPURA – Korban penembakan oleh kelompok orang tak dikenal (OTK) yang terjadi di Philia, Distrik Tingginambut Kabupaten Puncak Jaya, Selasa (12/7) ternyta 5 orang, yang kesemuanya merupakan anggota TNI Yonif 753/AVT Nabire (lihat grafis).

Dari lima korban itu, empat orang di antaranya telah dievakuasi ke Rumah Sakit Marthen Indey, Jayapura, Rabu (13/7) kemarin. Mereka adalah Letda Inf Jefri Satriansyah, Pratu Haiber Rivo, Pratu Sitorus, dan Praka Nur Awete.Sedangkan Pratu Imanuel masih dirawat di Rumah Sakit Mulia karena hanya terkena serpihan.

Salah satu sumber terpercaya menceritakan, sulitnya medan di lokasi penembakan membuat proses evakuasi para korban mengalami kendala, sehingga dari kejadian pagi hari, sekitar pukul 20.15 WIT proses evakuasi baru sampai di Puncak Senyum. Selanjutnya dari Puncak Senyum para korban dievakuasi ke Rumah Sakit Mulia, dan Rabu (13/7) kemarin empat korban diterbangkan ke Jayapura dengan menggunakan helikopter MI 15 milik TNI AD.

Turut langsung dalam proses evakuasi tersebut Danrem 173/PVB Kolonel Inf. HP Lubis dan AS Ops Kasdam XVII Cenderawasih Pos Letkol Inf Kemal Hindrayadi. Di mana sekitar pukul 10.40 helikopter itu tiba di Jayapura dan mendarat di lapangan golf Kodam XVII Cenderawasih.

Dari pantauan Cenderawasih Pos, para korban itu selanjutnya dibawa ke Rumah Sakit Marthen Indey sekitar pukul 11.00 WIT. Tidak menggunakan mobil ambulan, melainkan Kijang berwarnah biru dengan DS 960 FM.

Mobil itu datang tanpa pemeriksaan petugas yang berjaga dan langsung masuk ke belakang rumah sakit, sehingga wartawan susah untuk mengambil gambar para korban itu.
Seorang anggota TNI yang berpangkat Kopral saat berjaga mengatakan kepada wartawan untuk tidak meliput atau mengambil gambar di daerah pekarangan rumah sakit.
Sementara kronologi penembakan itu bermula saat TNI dan Polri melakukan penelusuran untuk menyergap markas TPN/OPM yang dipimpin Goliat Tabuni. Kemudian terjadi perlawanan oleh TPN/OPM, yang akhirnya 5 anggota TNI terkena tembakan.

Di tempat terpisah, Kabid Humas Polda Papua Kombes Pol Wachyono saat dikonfirmasi wartawan mengatakan bahwa suasana di Puncak Jaya kini sudah mulai membaik dan kondusif. “Dari suasana yang sudah mulai membaik ini, saya harapkan hal ini terus membaik dan bisa diredam,” katanya.
pascapenembakan itu, belum ada rencana dari Polda Papua untuk menambah Polri atau Brimob untuk membantu ke daerah Puncak Jaya itu. “Kami tetap siaga dalam menyikapi situasi pascapenembakan, baik dari Polsek maupun Polresnya,” terangnya.

Saat disinggung tentang anggota Polri Briptu M. Yazin anggota KP3 Bandara Mulia Puncak Jaya yang tertembak beberapa pekan yang lalu di bandara Mulia serta senjatanya hilang, apakah korban sudah sembuh dan sudah pulang ke Jayapura dan apakah pelakunya ada sangkut pautnya dengan penembakan ini? Kabid Humas menjelaskan bahwa korban masih di Rumah Sakit Bhayangkara Kramatjati Jakarta untuk mendapat perawatan.

“Hingga saat ini korban sudah membaik, namun untuk berbicara hingga saat ini saya belum mendapat informasinya. Tapi yang jelas saat ini korban sudah berangsur pulih kesehatannya,” katanya.

Sedangkan terkait kasusnya, masih dalam penyelidikan dan pengejaran. “Pelaku harus tetap dikejar dan ditangkap untuk mempertanggungjawabkan perbuatannya. Namun jika memikirkan apakah pelakunya adalah kelompok yang kini genjar melakukan penembakan, kami belum bisa memastikan hal tersebut, sebab kami tidak mau berandai-andai. Yang jelas kami akan terus menjaga pengamanan di bandara lebih ekstra lagi,” tegasnya. (ro/fud)

Kamis, 14 Juli 2011 , 18:33:00

Korban Penembakan Ternyata Lima Orang

JAYAPURA – Korban penembakan oleh kelompok orang tak dikenal (OTK) yang terjadi di Philia, Distrik Tingginambut Kabupaten Puncak Jaya, Selasa (12/7) ternyta 5 orang, yang kesemuanya merupakan anggota TNI Yonif 753/AVT Nabire (lihat grafis).

Dari lima korban itu, empat orang di antaranya telah dievakuasi ke Rumah Sakit Marthen Indey, Jayapura, Rabu (13/7) kemarin. Mereka adalah Letda Inf Jefri Satriansyah, Pratu Haiber Rivo, Pratu Sitorus, dan Praka Nur Awete.Sedangkan Pratu Imanuel masih dirawat di Rumah Sakit Mulia karena hanya terkena serpihan.

Salah satu sumber terpercaya menceritakan, sulitnya medan di lokasi penembakan membuat proses evakuasi para korban mengalami kendala, sehingga dari kejadian pagi hari, sekitar pukul 20.15 WIT proses evakuasi baru sampai di Puncak Senyum. Selanjutnya dari Puncak Senyum para korban dievakuasi ke Rumah Sakit Mulia, dan Rabu (13/7) kemarin empat korban diterbangkan ke Jayapura dengan menggunakan helikopter MI 15 milik TNI AD.

Turut langsung dalam proses evakuasi tersebut Danrem 173/PVB Kolonel Inf. HP Lubis dan AS Ops Kasdam XVII Cenderawasih Pos Letkol Inf Kemal Hindrayadi. Di mana sekitar pukul 10.40 helikopter itu tiba di Jayapura dan mendarat di lapangan golf Kodam XVII Cenderawasih.

Dari pantauan Cenderawasih Pos, para korban itu selanjutnya dibawa ke Rumah Sakit Marthen Indey sekitar pukul 11.00 WIT. Tidak menggunakan mobil ambulan, melainkan Kijang berwarnah biru dengan DS 960 FM.

Mobil itu datang tanpa pemeriksaan petugas yang berjaga dan langsung masuk ke belakang rumah sakit, sehingga wartawan susah untuk mengambil gambar para korban itu.

Seorang anggota TNI yang berpangkat Kopral saat berjaga mengatakan kepada wartawan untuk tidak meliput atau mengambil gambar di daerah pekarangan rumah sakit.

Sementara kronologi penembakan itu bermula saat TNI dan Polri melakukan penelusuran untuk menyergap markas TPN/OPM yang dipimpin Goliat Tabuni. Kemudian terjadi perlawanan oleh TPN/OPM, yang akhirnya 5 anggota TNI terkena tembakan.

Di tempat terpisah, Kabid Humas Polda Papua Kombes Pol Wachyono saat dikonfirmasi wartawan mengatakan bahwa suasana di Puncak Jaya kini sudah mulai membaik dan kondusif. “Dari suasana yang sudah mulai membaik ini, saya harapkan hal ini terus membaik dan bisa diredam,” katanya.

pascapenembakan itu, belum ada rencana dari Polda Papua untuk menambah Polri atau Brimob untuk membantu ke daerah Puncak Jaya itu. “Kami tetap siaga dalam menyikapi situasi pascapenembakan, baik dari Polsek maupun Polresnya,” terangnya.

Saat disinggung tentang anggota Polri Briptu M. Yazin anggota KP3 Bandara Mulia Puncak Jaya yang tertembak beberapa pekan yang lalu di bandara Mulia serta senjatanya hilang, apakah korban sudah sembuh dan sudah pulang ke Jayapura dan apakah pelakunya ada sangkut pautnya dengan penembakan ini? Kabid Humas menjelaskan bahwa korban masih di Rumah Sakit Bhayangkara Kramatjati Jakarta untuk mendapat perawatan.

“Hingga saat ini korban sudah membaik, namun untuk berbicara hingga saat ini saya belum mendapat informasinya. Tapi yang jelas saat ini korban sudah berangsur pulih kesehatannya,” katanya.

Sedangkan terkait kasusnya, masih dalam penyelidikan dan pengejaran. “Pelaku harus tetap dikejar dan ditangkap untuk mempertanggungjawabkan perbuatannya. Namun jika memikirkan apakah pelakunya adalah kelompok yang kini genjar melakukan penembakan, kami belum bisa memastikan hal tersebut, sebab kami tidak mau berandai-andai. Yang jelas kami akan terus menjaga pengamanan di bandara lebih ekstra lagi,” tegasnya. (ro/fud)

Kamis, 14 Juli 2011 , 18:33:00
http://www.cenderawasihpos.com/index.php?mib=berita.detail&id=2232

Lima Anggota TNI Ditembak di Puncak Jaya

TEMPO Interaktif, Jayapura – Lima anggota Tentara Nasional Indonesia (TNI) dari Yonif 753 AVT Nabire kembali terluka dalam insiden baku tembak di Mulia, Puncak Jaya, Rabu 13 Juli 2011, sekitar pukul 06.00 WIT.

Prajurit yang dikabarkan tertembak yakni Letda Jefri Satria di betis kanan, Praka Nahor di kaki kiri, Praka Sipir di tangan kanan, Pratu Manuel terluka di betis kanan, dan Pratu Sitorus tertembak pada betis kiri.

Baku tembak terjadi saat anggota TNI menyergap sarang kelompok bersenjata pimpinan Goliat Tabuni di Mulia sekitar pukul 04.30 WIT. Namun, ketika sampai di Kampung Monia, Distrik Tingginambut, anggota TNI dihadang dan ditembaki.

Peristiwa tersebut menambah daftar panjang penyerangan kelompok bersenjata selama 3 pekan terakhir. “Saya ada tugas di luar daerah. Jadi belum tahu perkembangan informasi itu. Benar saya belum mendapat laporan,” kata Kepala Penerangan Kodam XVII Cenderawasih, Kolonel Infantri, Ali Hamdan Bogra, Rabu 13 Juli 2011.

Ia mengatakan, anggota TNI di Puncak Jaya terus berusaha mengamankan wilayah itu. Terkait penembakan pada Selasa, 12 Juli 2011, yang melukai 2 aparat, Hamdan juga belum mendapat laporannya. “Saya belum tahu. Intinya saat ini adalah bagaimana kita menjaga keamanan secara bersama-sama,” ujarnya.

Sebelumnya, Selasa kemarin, baku tembak terjadi di Kampung Kalome, Distrik Tingginambut, Puncak Jaya, sekitar pukul 07.00 WIT. Penyerangan itu mengakibatkan 2 anggota TNI terluka. “Mereka (kelompok bersenjata) selalu berpindah tempat. Ini menyulitkan aparat untuk mengejar,” kata Kapolres Puncak Jaya, AKBP Alex Korwa.

Akibat penembakan Letda inf. J. terluka di bagian kaki dan Praka F terluka di tangan. “Penyerangan terjadi saat aparat TNI sedang menyisir untuk menangkap kelompok anggota Organisasi Papua Merdeka (OPM),” ujarnya.

JERRY OMONA
RABU, 13 JULI 2011 | 13:47 WIB

5 Anggota TNI Korban Tembak di Papua di Evakuasi

[JAYAPURA] Helikopter yang membawa korban kontak senjata antara Orang Tak Dikenal (OTK) di Kampung Pilia, Distrik Tingginambut Kabupaten Puncak Jaya, Selasa (12/7), tiba di lapangan Helly Pad Makodam XVII Cenderawasih, sekitar pukul 10.50 WIT, Rabu (13/7). Korban Dalam kontak tembak tersebut 5 anggota TNI Yonif 753/AVT terluka.

Anggota ini dievakuasi dengan menggunakan Helly MI. 17. Sulitnya medan di daerah itu yang bergunung-gunung, mengakibatkan evakuasi para korban mengalami kesulitan. Selanjutnya para korban langsung menuju RSUD Mulia mendapatkan perawatan intensif.

Dari pantauan SP selanjutnya kelima korban di evakuasi menuju RS Marthen Indey, Aryoko dengan menggunakan mobil Kijang LGX, dan pukul 11.05 WIT korban tiba di RST Marthen Indey. Sumber SP di Kodam XVII Cenderawasih mengatakan ama korban penembakan adalah Letda Inf Jevy Satriansyah terkena luka tembak pada kaki kanan.

Praka Nohor Awate terkena luka tembak pada lutut kiri dan kaki bagian kanan dan dalam kondisi kritis. Lalu Pratu Heiberd Rivo Sipir terkena luka tembak telapak tangan kiri dan Pratu Sitorus luka kaki kiri terkena serpihan benda keras.

Kapendam Kapendam XVII Cenderawasih Letkol Ali Hamdan Bogra saat dihubungi SP pukul 10. 59 WIT, via handphonenya, namun tak dijawabnya. Dihubungi SP lagi pukul 14.50 WIT, ia mengaku sedang rapat. ” Saya sedang rapat,”jawabnya singkat lalu memutuskan pembicaraan.[154]

Rabu, 13 Juli 2011 | 14:01
http://www.suarapembaruan.com/home/5-anggota-tni-korban-tembak-di-papua-di-evakuasi/8950

Lagi, Anggota TNI Ditembak di Papua

[JAYAPURA] Pembakan kembali terjadi di Puncak Jaya, Selasa ( 5/7) sore. Dari sumber SP, terungkap sebanyak tujuh orang anggota TNI dari Yonif 751 melakukan patroli di Kampung Kalome, Distrik Tinggi Nambut, Puncak Jaya. Saat berpatroli tim dihadang dan ditembaki, dan tim patroli membalasnya.

Sehingga terjdi kontak tembak antara Tentara Pembebasan Nasional (TPN) /Organisasi Papua Merdeka ( OPM) dengan personil 751. Akibatnya angota TNI tertembak atas nama Prada Kadek yang mengalami luka tembak pada bagian siku sebelah kanan.

Tak hanya itu saja pada saat tim evakuasi bergeser ke Tempat Kejadian Perkara (TKP) tim evakuasi dihadang dan kembali terjdi kontak tembak lagi antara TPN / OPM dengan tim evakuasi.

Kembali lagi dua anggota terkena bernama Sertu Deni, yang mengalami luka tembak pada bagian paha kanan. Dan Praka Fauzi mngalami luka tembak pada bgian tangan kanan.

Sekitar pukul 20.00 WIT, korban berhasil di evakuasi ke RSUD Mulia dan pagi ini sudah diterbangkan ke Jayapura untuk dirawat di RS Marten Indey Jayapura.

Kapendam XVII Cenderawasih, Kolonel Infantri, Ali Bogra tak ada ditempat saat didatangi wartawan di kantornya di Kodam XVII Cenderawasih, tak ada ditempat.Begitupun saat di hubungi SP, namun tak mengangkat teleponya.[154 ]

http://www.suarapembaruan.com/home/lagi-anggota-tni-ditembak-di-papua/8687

Stop, Stigmatisasi OPM Bagi Orang Papua

JAYAPURA-Membawa misi Indonesia di dunia internasional, yakni sebagai Dubes RI untuk Kolombia, belum cukup baginya, sebelum mengabdikan ilmunya dengan kembali membangun tanah kelahirannya sendiri, tanah Papua, yang masih terus tertinggal di banding daerah lainnya di Indonesia, meski sudah digelontor dengan triliunan dana Otsus. Kira-kira itulah salah satu niat tulus yang mendorong Dubes RI untuk Kolombia, Michael Menufandu memutuskan untuk maju bertarung dalam Pemilihan Gubernur Provinsi Papua periode 2011-2016 mendatang.

Hal itu tercermin dalam pemaparan visi dan misi yang disampaikannya di depan tim Pansus Gerinda dan PBR, Rabu (25/5) kemarin. Penyampaian visi misi ini sesuai dengan permintaan Partai politik yang dipinangnya, Gerindra dan PBR. Sebagai bentuk keseriusannya untuk mengabdikan diri di Papua, maka iapun relah tidak mengenal cape dan lelah hanya untuk datang menyampaikan visi dan misinya di depan penalis Partai Gerindra dan PBR, kemarin. “ Untuk datang ke Papua saya harus menempu penerbangan selama 36 jam dari Kolombia,”katanya di depan wartawan. Michael Menufandu yang mendapat giliran kedua memaparkan visi misi, mengusung visi ‘Terwujudnya Papua yang Sehat, Cerdas, Mandiri, dan Harmoni’.

Dalam pemaparannya sekitar dua jam, dikatakan bahwa diperlukan kewibawaan Pemerintah untuk membawa kemajuan Papua dengan lebih cepat.

Tentang motivasinya untuk ikut dalam proses seleksi oleh Partai Gerindra dan PBR, dikatakan bahwa hal itu semata mengikuti prosedur yang ada. “Ini prosedur partai, yang mana saya ditelepon oleh Bu Yani untuk datang memaparkan visi dan misi saya. Jadi saya datang untuk mengikuti prosedur yang ditetapkan oleh Partai,” ungkap pria yang sekarang menjabat sebagai Dubes Kolombia.

Tentang Otsus, melihat situasi yang ada memang Otsus belum berjalan dengan baik. Otsus ada harus memberikan rasa aman, nyaman dan teratur dalam berbagai aspek.

Tentang rasa aman, dimana selama ini orang Papua masih terus dihantui rasa takut di daeranya sendiri karena masing sering mendapat stigma politik, yakni orang Papua itu OPM, separatis dan pengacau keamanan lah. Kemudian ada juga stigma sosial, menyebut orang Papua terbelakang, tertinggal, bodoh dan lainnya. “Nah, kedepan stigma semacam ini jangan lagi ada, stop stigma orang Papua OPM, orang Papua ada bagian dari warga Negara kesatuan republic Indonesia,”katanya.

Ya sebagai mana langkah dalam menghadapi Pemilukada Provinsi Papua, Partai Gerindra dan Partai Bintang Reformasi yang telah menyatakan bergabung (berkonfederasi) dalam upayanya mengusung pemimpin baik di daerah maupun pusat, Rabu (25/5) menerima pemaparan visi dan misi (mengaudisi) dua kandidat Gubernur Papua Periode 2011-2016, yang ingin menggunakan kedua partai tersebut sebagai perahu menuju Papua Satu.

Ketua Pansus Pilgub 2011 Partai Gerindra-PBR Provinsi Papua Pdt Jack Wanane,MTh mengatakan bahwa, pihaknya ingin memahami lebih jauh tentang Balon yang akan diusung menuju Papua 1.

“Hari ini ada dua orang Bakal Calon Gubernur yang memaparkan visi dan misinya, masing-masing Menase R Kambu dan Michael Manufandu,” ungkapnya saat ditemui Wartawan usai mendengar pemaparan dari mantan Walikota Jayapura dua periode MR Kambu di Aula Sekretariat Partai Gerindra Provinsi Papua di Padang Bulan.

Dikatakan, para Balon yang telah didengar visi dan misinya, selanjutnya akan dibawa ke Pusat. “Nanti pusat yang berwenang menentukan siapa figur yang akan kita usung menjadi Calon Gubernur Papua,” ungkapnya.

MR Kambu yang mengusung thema ‘Bersama Membangun Papua’ mengatakan, bahwa ia sangat berharap untuk mendapat dukungan dari Partai Gerinda dan PBR. “Doa dan harapan saya PBR akan menerima dan mendukung saya,” ungkapnya kepada Wartawan usai memaparkan visi dan misinya.

Tentang upaya Pansus, dikatakan bahwa Tim tersebut lebih mengutamakan visi, misi dan orientasi dari para Bakal Calon dalam membangun Papua ke depan. “Untuk itu kita beri apresiasi kepada tim ini,” ujarnya.

Tentang visi dan misinya, Kambu mengatakan, bahwa visinya adalah membawa Papua bangkit untuk membangun dan melayani. “Tentunya dengan melibatkan 4 komponen besar, yaitu adat, agama, pemerintah dan stake holder lainnya,” ujarnya. (aj/don)

Bintang Kejora Berkibar Dekat Kantor Demokrat

VIVAnews — Bendera bintang kejora — simbol separatis Organisasi Papua Merdeka (OPM)– berkibar di Lapangan Timika Indah di depan Kantor DPC Partai Demokrat, Timika Papua, Rabu 6 April 2011. Juru Bicara Polda Papua, Kombes Wachyono mengatakan, bendera separatis itu ditemukan pertama kali oleh warga masyarakat. ”Bendera bintang kejora berkibar di sebatang tiang yang tingginya 2,30 meter tepat di depan DPC Partai Demokrat, kediaman Saudara Piter Magai, anggota DPRD Kabupaten Mimika,” kata dia, Kamis 7 April 2011. Bendera separatis itu ditemukan oleh seorang warga, Geri Randobkir yang hendak memperbaiki motornya di bengkel depan Lapangan Timika Indah. Ia terkejut saat menjumpai bintang kejora berukuran 2 x 1 meter berkibar. Ia lalu memberitahukan temuannya itu ke rekannya, dan keduanya lantas lapor ke Polsek Mimika Baru. Saat ini polisi telah minta keterangan empat saksi. Bintang kejora sebelumnya sempat berkibar Sabtu 20 November sekitar pukul 11.00 WIT, tepat sehari sebelum kunjungan Presiden Susilo Bambang Yudhoyono di Jayapura. Bintang kejora biasanya marak dikibarkan di Papua jelang dan saat peringatan ulang tahun OPM 1 Desember. Pada November 2010 lalu, polisi memperingatkan, bagi siapapun yang mengibarkan bendera separatis akan ditembak di tempat. Selain pengibaran bintang kejora, Rabu 6 April 2011 juga diwarnai insiden penembakan yang kembali terjadi di areal tambang PT Freeport Tembagapura, Papua. Penembak misterius beraksi, memberondong mobil Freeport yang melintas di Jalan Kali Kopi mile 37, Wilayah Tanggul Timur. Dua orang terluka dalam peristiwa itu. (eh) Laporan: Banjir Ambarita| Papua • VIVAnews

BEM Uncen Serukan Tangkap ‘Separatis Berdasi’

JAYAPURA [PAPOS]- Tangkap separatis berdasi, itulah tulisan pada spanduk yang akan dibentangkan oleh Badan Esekutif Mahasiswa (BEM) Uncen dalam aksi demo damai di kantor DPRP dalam rangka memperingati hari anti korupsi se-dunia Kamis (9/12) hari ini.

Mahasiswa Uncen bersama Aliansi Pemuda dan Mahasiswa Papua Anti Korupsi akan mendatangi kantor DPRP untuk menyampaikan aspirasi tentang penanganan kasus kerupsi di Papua. Aksi demo damai tersebut di koordinir oleh Ketua Bem Fakultas Hukum, Thomas Syufri dan Ketua Aliansi Pemuda dan Mahasiswa Papua anti Korupsi Kaleb Woisiri.

Kepada wartawan di Seketariat BEM Uncen, Rabu (8/12) kemarin, Thomas Syufri selaku koordinator aksi mengatakan, aksi yang dilakukan oleh mahasiswa Uncen dan Aliansi Pemuda dan Mahasiswa Papua anti Korupsi, mengingat pada tanggal (9/12) hari ini, merupakan hari anti korupsi se-dunia.

Sebagai kaum intelettual dan sebagai fungsi kontrol pembangunan di Papua mahasiswa Papua menilai kasus korupsi semakin merajalela di Papua, namun upaya untuk memberantas kasus korupsi sangat minim. Hal tersebut membuat kami mahasiswa di Papua tergerak hati untuk menyeruhkan kepada pemerintah maupun penegak hukum agar serius dalam penangan kasus korupsi di Papua, tindakan mahasiswa untuk mengingatkan pemerintah dan penegak hukum melalui aksi demo damai yang dilakukan hari ini. Mahasiswa akan memintah DPRP selaku wakil rakyat di Papua untuk mendesak pemerintah dan penegak hukum mengusut seluruh kasus korupsi di Papua yang belum di usut.

“Mereka adalah separatis berdasi yang duduk di kursi empuk, makan uang rakyat sehingga rakyat menderita,” ujar Thomas Syufri.

Sementara itu Ketua Aliansi Pemuda dan Mahasiswa Papua Anti Korupsi Kaleb Woisiri mengatakan, beberapa kasus korupsi yang data-data sudah muncul seperti kasus Hatari dan kasus Jhon Ibo namun tiba-tiba langsung tenggelam, untuk itu kami mahasiswa Papua dalam aksi hari ini, meminta DPRP mendesak penegak hukum menuntaskan kasus korupsi di Papua yang sudah nyata di mata.

Kata Wasiri, mahasiswa telah menyiapkan pokok pikiran untuk disampaikan kepada DPRP untuk ditindak lanjuti kepada pemerintah Provinsi Papua dalam hal ini Gubernur serta Polda Papua untuk serius menangani kasus korupsi.[eka]

Written by Eka/Papos
Thursday, 09 December 2010 00:00

Bintang Kejora Tak Berkibar, Kondisi Papua Aman

JAYAPURA – Situasi Kota Jayapura setelah peringatan hari Kemerdekaan Bangsa Papua yang jatuh pada 1 Desember lalu, tetap aman dan kondusif.

“Meski masyarakat umumnya merasa khawatir, namun kepolisian telah memberikan jaminan keamanan sehingga apa yang ditakutkan masyarakat tidak terjadi. Semua ini juga berkat dukungan masyarakat yang bersinergi dengan kepolisian,” ujar Kapolresta Jayapura AKBP Imam Setiawan di Jayapura, Kamis (2/12/2010).

Menurut dia, 1 Desember yang diklaim sebagai hari kemerdekaaan bangsa Papua, cenderung dengan pernyataan sikap bangsa Papua ingin melepas diri dari NKRI. Tetapi, pada 1 Desember kemarin, situasi Kota Jayapura dan sekitarnya tetap aman dan kondusif.

“Ini juga berkat penyataan dari Dewan Adat Papua yang menjamin tidak ada pengibaran Bendera Bintang Kejora pada 1 Desember kemarin,” tandas Kapolresta.

Pantauan okezone di lapangan, sejak Rabu 1 Desember hingga Kamis 2 Desember, situasi kota Jayapura tetap aman terkendali. Meski diisukan akan ada penyerangan 1 Desember oleh sekelompok anggota TPN/OPM. Tetapi aktivitas masyarakat hingga hari ini masih berjalan sebagaimana biasanya.

Sementara itu, kurang lebih 800 personel aparat gabungan dari TNI dan Polri disiagakan di 40 titik yang dianggap rawan. Di antaranya wilayah perbatasan antara Republik Indonesia dengan Negara Papua Nugini, wilayah Tanah Hitam, serta Expo Waena.

(teb)

Up ↑

Wantok Coffee

Melanesia Organic Coffee

MAMA Minimart

MAMA Stap, na Yumi Stap!

PT Kimarek Aruwam Agorik

Just another WordPress.com site

Wantok Coffee News

Melanesia Foods and Beverages News

Perempuan Papua

Melahirkan, Merawat dan Menyambut

UUDS ULMWP

for a Free and Independent West Papua

UUDS ULMWP 2020

Memagari untuk Membebaskan Tanah dan Bangsa Papua!

Melanesia Spirit & Nature News

Promoting the Melanesian Way Conservation

Kotokay

The Roof of the Melanesian Elders

Eight Plus One Ministry

To Spread the Gospel, from Melanesia to Indonesia!

Koteka

This is My Origin and My Destiny