
JAYAPURA – Dari tujuh anggota TNI yang menjadi korban penembakan sipil bersenjata di Puncak Jaya yang kini dirawat di Rumah Sakit Marthen Indey, lima orang sudah mulai membaik, sedangkan dua lainnya masih kritis dan masih berada di Ruang ICU.
Hal ini sebagaimana dikatakan oleh dokter specialis orthopaedi dan traumatologi, Zuhri Efendi kepada wartawan di Rumah Sakit Marthen Indey, Sabtu (16/7).
“Dari 7 anggota TNI yang sudah dirawat di rumah sakit ini, lima korban kondisinya berangsur membaik, namun dua anggota masih mengalami kritis yaitu prada Kadek dan pratu Haiber Rivo. Dimana prada Kadek adalah korban baku tembak pada tanggal 5 Juli 2011 lalu di kampung Kalome Distrik Tingginambut Kabupaten Puncak Jaya yang mengalami luka tembak di bagian kaki kiri,” katanya.
Menurut dokter, Kadek mengalami patah tulang hasta dan kini masih dalam keadaan kritis sebab luka bekas tembakan itu mengalami infeksi. “Lukanya sudah berapa kali dilakukan upaya pembersihan dan kami juga sudah memasang 2 pen di kakinya,” katanya.
Sedangkan pratu Haiber adalah korban tembak pada tanggal 12 Juli 2011 lalu di kampung Pillia Distrik Tingginambut Puncak Jaya yang mana Haiber terkena tembak pada ibu jari jempol telunjuk dan jari tengah tangan kanan.
“Rencananya pratu Haiber akan dievakuasi ke Jakarta karena pembuluh darah pada tangan bekas luka tembak putus. Sementara lima korban lainnya yang berangsur-angsur membaik itu dirawat di ruang Buana I RS TNI-AD Marthen Indey ini,” ungkapnya.
Sementara itu, setelah sebelumnya melakukan pertemuan dengan Pangdam XVII/Cenderawasih, Sabtu (16/7) sekitar pukul 10.00 WIT, Komisi Nasional Hak Asasi Manusia (Komnas HAM) Pusat menjenguk TNI yang menjadi korban penembakan di rumah sakit TNI-AD Marthen Indey.
Pada kesempatan itu, Wakil Ketua Komnas HAM, Nur Kholis didampingi dua anggotanya yaitu Asri Oktavianty dan Siti Hidayawati, serta dari Komnas HAM Perwakilan Papua. Dalam kunjungannya ini, mereka ini didampingi oleh dokter RS Marthen Indey yaitu dr Zuhri Efendi,SpOT.
Dari pantauan Cenderawasih Pos, Wakil Ketua Komnas HAM Nur Kholis,SH,MH melakukan dialog singkat kepada anggota TNI yang tertembak dalam insiden penembakan di Distrik Tingginambut Kabupaten Puncak Jaya.
Salah satu korban itu adalah Pratu Sitorus. Saat dijenguk Komnas Ham itu, ia menceritakan bahwa pada saat kejadian, mereka sedang melakukan patroli dengan dipimpin oleh Letda Inf Jefri Satriansyah, yang juga tertembak.
Dalam aksi tembak menembak dengan sekelompok orang tak dikenal tersebut, diakuinya, sangat susah melakukan perlawanan, dikarenakan medan yang sangat susah dan jauh. “Sementara dari pihak mereka sudah menguasai medan. Maka saat mereka melakukan penembakan, mereka sudah memperhitungkannya serta melakukan penembakan dari beberapa arah, yang mana bisa dibilang arahnya seperti bentuk gunting, dan kami di tengah-tengahnya,” tutur Sitorus.
Partu Sitorus ini merupakan orang ketiga yang tertembak dari lima orang rekannya yang terkena tembakan. “Kami anggota TNI yang tertembak tanggal 12 Juli 2011 kemarin. Di mana saya mengalami luka serpihan tembakan pada kaki bagian paha kanan dan kiri,” terangnya.
Setelah kejadian itu, delapan anggota lainnya membantu hingga bisa membebaskan diri dari sekelompok orang bersenjata tersebut. “Sepanjang evakuasi terhadap kami, tembak menembak terus terjadi. Apalagi jarak ke pos sangat jauh. Bayangin aja dari pagi hari sampai ke malam hari sekitar pukul 21.00 wit baru sampai ke pos,” ucapnya.
Saat Wakil Ketua Komnas HAM bertanya, “Dari pengalaman kamu sebagai anggota TNI bisakah kamu memprediksi senjata apa yang dipakai sekelompok orang bersenjata tersebut?” Sitorus menjawab, saat itu sangat banyak suara tembakan, apalagi dari beberapa arah. Namun dari pengalamannya bisa dibilang bahwa senjata mereka seperti AK 47, M 16 dan juga Moser.
Kepada Cenderawasih Pos Praka Sitorus menegaskan, dirinya tidak merasa trauma atas kejadian yang dialaminya. “Sebagai TNI itu sudah resiko saya terkena tembakan, atau juga harus berkorban nyawa. Apalagi menjadi TNI adalah cita-cita saya dari kecil,” ucapnya.
Saat ditanya apakah kedua orang tua mengetahui bahwa dirinya tertembak? Ia menyatakan, biarlah rasa sakit ini menjadi risiko dirinya, dan kedua orang tua tidak merasakan maupun memikirkannya. “Sekali lagi saya bilang ini adalah risiko saya,” tegasnya.
Sementara dari sumber terpecaya Cenderawasih Pos, kondisi di Puncak Jaya pascapenembakan sudah mulai membaik dan kondusif. Namun aparat TNI dan Polri tampak berjaga-jaga dan juga berusaha mengejar pelaku penembakan tersebut. (ro/fud)
Senin, 18 Juli 2011 , 17:17:00
http://www.cenderawasihpos.com/index.php?mib=berita.detail&id=2330


