Soal Penembakan di Mulia Diserahkan Ke Pihak Berwajib

JAYAPURA [PAPOS]- Terjadinya aksi penembakan yang kembali terjadi di Mulia, Kabupaten Puncak Jaya, Senin [22/3] lalu menurut Wakil Gubernur Papua, Alex Hesegem, SE sepenuhnya diserahkan pemerintah daerah kepada pihak berwajib untuk menyelesaikan masalah tersebut.

Menurut Wagub, insiden yang terjadi terus menerus di daerah Kabupaten Puncak Jaya belakangan ini maupun daerah lainnya, hingga kini jajaran aparat keamanan masih terus melakukan pengejaran kepada pelaku penembakan.

Anggota Brimob Ditambah ke Mulia

JAYAPURA [PAPOS] – Kasus penyerangan kelompok criminal bersenjata yang diduga OPM kepada pasukan TNI dari Yonif 753 Nabire saat patrol di Puncak Senyum, Puncak Jaya yang mencederai Praka Asri disingkapi serius oleh Polda Papua maupun Kodam XVII/Cenderawasih.

Sehingga tahap pertama untuk membantu aparat keamanan yang bertugas di kabupaten Puncak Jaya. Polda Papua akan menambah sedikitnya 2 regu anggota Brimob untuk pengamanan diwilayah hukum Polres Puncak Jaya. Sementara pihak TNI sementara ini belum menambah pasukan tetapi lebih mengambil tindakan meningkatkan kewaspadaan terhadap aksi susulan.

Kepala Bidang Hubungan Masyarakat (Humas) Polda Papua, Komisaris Besar Polisi Drs Agus Rianto saat ditemui Papua Pos, Rabu (24/3) di ruang kerjanya mengatakan, penambahan 2 Regu Brimob Polda Papua ke Mulia semata-mata dalam rangka penyegaran anggota di Puncak Jaya, khususnya pengamanan Pos Brimob di Tinggi Nambut.

TNI dan OPM Kontak Senjata

Jayapura [PAPOS] – Tembak menembak antara OPM dengan aparat keamanan TNI dari Yonif 753 Nabire terjadi di sekitar “Puncak Senyum” Distrik Mulia, Kabupaten Puncak Jaya, Selasa dini hari. Baku tembak itu berawal ketika mobil aparat keamanan dari Yon 753 Nabire, Senin petang sekitar pukul 18.30 WIT, dicegat OPM saat hendak kembali ke pos mereka di Puncak Senyum.

Aparat keamanan yang berjumlah 13 orang dipimpin Lettu Inf. Syahputra ketika berkendaraan dari Mulia menuju pos mereka di Puncak Senyum yang berjarak sekitar 700 meter dihadang kelompok OPM, sehingga terjadi baku tembak.

Akibat baku tembak itu dikabarkan salah seorang anggota TNI dari Yon 753 mengalami luka ringan di pinggang terkena serpihan peluru.

Kepala Penerangan Kodam XVII/Cendrawasih Letkol Inf. Susilo saat di konfirmasi Papua Pos, Selasa (23/3), membenarkan adanya penembakan terhadap anggota TNI yang diduga dilakukan kelompok OPM/TPN. Sehingga anggota membalas tembakan tersebut, hingga mereka melarikan diri kedalam hutan.

Di Puncak Jaya, Patroli TNI Ditembaki GPK

JAYAPURA-Kendaraan patroli yang membawa 13 anggota TNI dari Batalyon Infanteri (Yonif) 753/AVT Pos Puncak Senyum, Kabupaten Puncak Jaya, Papua, dilaporkan ditembaki oleh sekelompok orang tidak dikenal yang diduga dari Gerakan Pengacau Keamanan (GPK).

Insiden ini terjadi saat dalam perjalanan kembali dari Kota Baru menuju ke Pos Puncak Senyum, tepatnya di Kali Semen Kampung Puncak Senyum, pada Senin (22/3) sekitar pukul 18.30 WIT.

Akibat penembakan itu, seorang anggota Yonif 753/AVT atas nama Bripka Asri terkena serpihan peluru dari para pelaku penembakan tersebut, sehingga korban mengalami luka ringan di pinggul bagian belakangnya.

Kepala Penerangan Kodam XVII/Cenderawasih, Letkol Inf. Susilo ketika dihubungi Cenderawasih Pos via telepon selulernya tadi malam membenarkan adanya penembakan terhadap kendaraan yang ditumpangi oleh anggota Yonif 753/AVT tersebut.

“Memang benar ada penembakan terhadap anggota Yonif 753/AVT dan seorang anggota terkena serpihan peluru di bagian pinggul belakangnya, namun sudah diobati oleh Kesehatan Pos Puncak Senyum dan saat ini masih dalam pengobatan lebih lanjut,” ungkap Susilo.

Kapendam menjelaskan, kejadian itu berawal ketika 13 anggota Yonof 753/AVT itu sebelumnya berangkat dari Pos Puncak Senyum menuju ke Kota Baru, Puncak Jaya, namun dalam perjalanan pulang menuju ke Pos Puncak Senyum, tepatnya di Kali Semen, Kampung Puncak Senyum, Kabupaten Puncak Jaya, kendaraan yang ditumpangi anggota Yonif 753/AVT tersebut tiba-tiba ditembaki oleh sekelompok orang.

Ditanya apakah para anggota tersebut sempat melakukan penembakan balasan? Kapendam menjelaskan, tidak ada tembakan balasan, apalagi para pelaku langsung menghilang di kegelapan malam. “Mereka langsung lari menghilang karena sudah gelap,” ujar Kapendam.

Kapendam mengungkapkan, Selasa (23/3) kemarin, anggotanya tengah melakukan penyisiran di sekitar tempat kejadian perkara (TKP) untuk melakukan pencarian terhadap pelaku penembakan. “Selain melakukan upaya pencarian terhadap pelaku, kami juga meningkatkan kewaspadaan di Pos Puncak Senyum,” katanya.

Saat ditanya kira-kira para pelaku tersebut dari kelompok mana? Kapendam Susilo belum bisa memastikannya, namun yang jelas para pelaku penembakan itu merupakan Gerakan Pengacau Keamanan (GPK) Papua. “Ya, kami sebut mereka Gerakan Pengacau Keamanan Papua,” tandasnya. (bat/fud)

Delapan Senjata Api Polda Papua Dirampas

JAYAPURA–MI: Sebanyak delapan senjata api milik aparat Kepolisian Daerah (Polda) Papua hilang akibat dirampas oleh kelompok tidak dikenal dalam kurun waktu dua tahun terakhir.

Perampasan senjata api tersebut terjadi di Kabupaten Puncak Jaya dan Jayapura, ketika personel Polda Papua sedang melaksanakan tugas pengamanan.

Kepala Bidang Humas Polda Papua Komisaris Besar Agus Rianto di Jayapura, Selasa (9/3), mengatakan pihaknya hingga saat ini masih melakukan penyelidikan terhadap sejumlah kasus perampasan senjata milik aparat Polri.

“Polisi belum mengetahui kelompok mana yang bertanggung jawab atas serangkaian aksi penyerangan terhadap aparat Polri yang mengakibatkan senjata api turut raib dirampas oleh sekelompok massa. Polisi masih mengintensifkan pencarian,” ujarnya.

Agus menjelaskan, dalam tahun ini saja tiga pucuk senjata api milik Polda Papua raib. Dua senjata api di antaranya dirampas di Jayapura dan satu lagi di Kabupaten Puncak Jaya.

“Kasus hilangnya senjata api paling banyak terjadi di Puncak Jaya selama dua tahun terakhir. Sebanyak enam pucuk senjata api yang dirampas oleh sekelompok massa dalam tiga aksi penyerangan di antaranya penyerangan di Pos polisi Tingginambut, pengamanan BBM (bahan bakar minyak), dan Bandara Mulia,” katanya. (FO/OL-01)

Oknum Polri Tewas Misteri

SENTANI [PAPOS] -Brigpol Laode Akbar, anggota Batilang Polantas Polres Jayapura, ditemukan tewas mengenaskan di kediamannya blakang Toko Yasmi Pasar Lama Sentani, Rabu (3/3) kemarin.

Korban meninggal bersimbah darah, karena luka bocor akibat terkena lengseran peluru Senjata Api (Senpi) di bagian depan wajah tembus bagian belakang kepala.

Kapolres Jayapura AKBP Mathius D Fakhiri SIK, melalui Kapolsek Sentani Kota Iptu Frans Fenanlampir, mengatakan korban ditemukan tewas Rabu (3/3), sekitar pukul 09.00.

Kasusnya dilaporkan oleh seorang ibu menggunakan sepeda motor datang ke Mako Polsek Sentani Kota, yang mengatakan almarhum Laode ditemukan meninggal di rumahnya.

Tukang Ojek di Puncak Jaya Tewas Mengenaskan

JAYAPURA–MI: Seorang tukang ojek, Moganif Pulanca, 32, Jumat (26/2) pagi, sekitar pukul 09.00 WIT, ditemukan tewas mengenaskan di pinggir jalan kampung Muyukwi, Mulisa, Kabupaten Puncak Jaya, Papua.

Kapolres Puncak Jaya AKB Alek Korwa yang dihubungi dari Jayapura membenarkan temuan mayat yang setelah diselidiki ternyata tukang ojek. Korban meninggal akibat dikampak di rahang kiri tembus leher belakang.

Saat ditemukan sepeda motor korban nampak menindih tubuhnya. Lokasi temuan jasad korban yang terletak di sekitar kota Mulia atau tiga kilometer dari Polres Mulia, berdasarkan laporan masyarakat yang menemukan sesosok mayat di pinggir jalan.

Setelah diselidiki ternyata korban adalah Moganif yang berprofesi sebagai tukang ojek. Jenazah korban saat ini sudah dievakuasi ke Jayapura dengan menggunakan pesawat Susi Air.

Ketika ditanya apakah sudah ada yang dimintai keterangan, Alek mengakui belum ada yang dimintai keterangannya. “Kami masih menggumpulkan barang bukti dan melakukan olah TKP,” jelasnya. (Ant/OL-04)

Penembakan di perbatasan, aparat buru penembak warga

Jayapura–Seorang warga pendatang terluka karena tembakan dari orang tak dikenal di perbatasan RI-Papua Nugini. Penembak tersebut lari menuju Papua Nugini. Aparat keamanan kini tengah mencari pelaku penembakan.

“Ini sedang dicari. Saya mau cek ke lokasi,” kata Komandan Distrik Militer (Dandim) 1701 Jayapura Letkol Infanteri Imam Santoso MA kepada detikcom, Sabtu (19/12).

Menurut Imam, rentetan senjata di perbatasan bukan dari OPM namun dari orang tak dikenal tiba-tiba menembak warga pendatang kemudian kabur ke Papua Nugini. Warga yang terkena tembakan itu kemudian dibawa ke rumah sakit terdekat.

“Hanya luka bukan meninggal. Sudah dibawa ke rumah sakit,” jelasnya.

Imam mengatakan, hingga kini situasi di lokasi kejadian masih aman dan kondusif. Pasar Lonjing yang tadinya dikabarkan ditutup masih buka.

“Pedagang juga masih ada. Nggak ada masalah. Masyarakat masih berjualan seperti biasa,” imbuhnya.

dtc/isw

Berkas Tersangka Teror Freeport Dinyatakan Lengkap

Timika, CyberNews. Berkas Berita Acara Pemeriksaan (BAP) salah satu tersangka kasus teror di areal PT Freeport Indonesia atas nama Apius Wanmang telah dinyatakan lengkap oleh Kejaksaan Tinggi (Kejati) Papua.

“BAP salah satu tersangka sudah lengkap, dalam waktu dekat akan dilakukan pelimpahan tersangka dan barang bukti dari penyidik ke penuntut umum guna diproses lebih lanjut,” kata Kepala Seksi Pidana Umum Kejaksaan Negeri Timika, Febrian SH di Timika, Jumat (16/10).

Febrian menerangkan, tersangka Apius Wanmang diduga terlibat kasus kepemilikan amunisi. Atas hal itu, Apius dijerat UU Darurat No 12 tahun 1951 tentang kepemilikan senjata api dengan ancaman maksimal hukuman mati.

Penanganan hukum kasus tersebut akan dilakukan oleh pihak Kejati Papua.

Sementara berkas enam tersangka teror di areal Freeport lainnya hingga kini masih ditangani oleh pihak penyidik Polres Mimika. Enam tersangka yang lain atas nama Simon Beanal, Tomy Beanal, Dominikus Beanal, Eltinus Beanal, Anton Yawame, dan Hender Kiwak yang diduga terlibat kasus penembakan di areal Freeport dijerat pasal 340 jo pasal 338 jo pasal 55 ayat (1) KUHP dengan ancaman maksimal hukuman mati.

Sebelumnya Direktur Yayasan Hak Azasi Manusia Anti Kekerasan (YAHAMAK) Timika, Papua, Yosepha Alomang menilai proses hukum tujuh tersangka kasus teror di areal Freeport sarat konspirasi politik. “Saya melihat anak-anak itu bukan pelaku, mereka masyarakat biasa yang tidak tahu apa-apa,” kata Yosepha Alomang.

Ia menduga, ketujuh tersangka yang seluruhnya merupakan warga suku Amungme selaku pemilik hak ulayat atas areal tambang PT Freeport itu “dipaksa” untuk mengakui melakukan teror penembakan di areal Freeport yang telah menewaskan tiga orang.

“Ya, mereka sepertinya dipaksa untuk mengaku melakukan penembakan,” kata Yosepha tanpa menyebut kelompok mana yang memaksa para tersangka dimaksud.

Penerima piagam Hak Azasi Manusia (HAM) dari masyarakat internasional tahun 2002 itu mendesak jajaran Polres Mimika segera menuntaskan kasus hukum yang dituduhkan kepada tujuh tersangka. “Mereka sudah ditahan hampir tiga bulan di Polres Mimika, bagaimana mungkin mereka bisa ditahan selama itu sementara kasusnya belum disidangkan,” tutur Yosepha.

Wakil Direktur YAHAMAK Timika, Arnold Ronsumbre meminta jajaran kepolisian dan PT Freeport terbuka dalam mengumumkan siapa sesungguhnya dalang di balik aksi teror di areal perusahaan selama Juli-September.

Salah satu orang tua tersangka, Viktor Beanal menilai proses hukum yang ditimpahkan kepada empat orang putranya sarat rekayasa. Viktor Beanal sendiri beberapa waktu lalu juga ditangkap bersama 18 warga lainnya dengan tuduhan melakukan teror penembakan di areal Freeport.

Namun lelaki yang sudah uzur itu akhirnya dibebaskan karena tidak terbukti sebagai pelaku teror. “Badan dan tulang rusuk saya dipukul pakai senjata. Sampai sekarang saya masih merasakan sakit di tubuh saya,” tuturnya.

Viktor Beanal merupakan kepala suku Amungme di Kampung Tsinga, Tembagapura.

Pada 11 Januari 1974 ia bersama lima tokoh lainnya antara lain Tom Beanal, Mozes Kilangin, Paulus Magal, Twuarek, dan Neimun Natkime memberikan cap jempol pada selembar kertas kepada James Movet sebagai persetujuan dimulainya operasional tambang perusahaan Freeport Mcmoran.

Momentum penandatanganan nota persetujuan dimulainya operasional PT Freeport itu yang dikenal dengan istilah Januari Agreement.

Kapolda Papua, Irjen Pol Drs FX Bagus Ekodanto menegaskan proses hukum tujuh tersangka tersebut berdasarkan fakta hukum, bukan atas dasar rekayasa polisi. “Polisi bekerja berdasarkan fakta hukum, bukan atas dasar asumsi-asumsi,” kata Ekodanto dalam pertemuan dengan sejumlah tokoh masyarakat Mimika di Hotel Rimba Papua Timika beberapa waktu lalu.

Guna mendampingi para tersangka dalam persidangan nanti, keluarga telah memberikan kuasa kepada 18 orang pengacara dari LBH Jayapura, Kontras Papua dan Aliansi Demokrasi Papua (ALDP).

( Ant / CN13 )

Tak Aman, Bus Freeport Stop Beroperasi Operasional Malam

JAYAPURA-Pasca penembakan di areal pertambangan PT Freeport Indonesia, Selasa (20/10) yang mengakibatkan 2 orang karyawan Freeport terluka, tampaknya sedikit mulai mengganggu operasional, salah satu tambang emas terbesar di dunia itu.

Pasalnya demi untuk pengamanan, kegiatan operasional Freeport pada malam hari untuk sementara dihentikan. Sedangkan kegiatan siang hari berjalan normal.

Hal ini disampaikan Kepala Bidang Humas Polda Papua Komisaris Besar Polisi Drs Agus Rianto saat dikonfirmasi Bintang Papua di Mapolda Papua di Jayapura, Rabu (21/10).

Menurut Agus Rianto, Polda Papua belum menemukan pelaku yang sebenarnya. Pasca penembakan pihaknya terus mendalami kasus ini dan menugaskan anggota untuk melakukan pencarian. Untuk menemukan pelaku penembakan, tambah Agus Rianto, pihaknya telah melakukan olah TKP beberapa saat setelah kejadian tersebut

Seperti diketahui, Selasa (20/10) sekitar pukul 09.45 WIT, iring-iringan bus yang mengangkut karyawan Freeport ditembak oleh orang tak dikenal di sekitar Mile 42 ruas jalan Timika-Tembagapura. Empat dari tujuh bus karyawan yang dikawal anggota brimob diberondong tembakan dari sisi kiri dan kanan mengakibatkan dua karyawan terluka.

Kedua karyawan itu, Kristian Karangan dan Rudi Parendeng, saat ini dirawat di RS SOS Tembagapura dan Klinik Kuala Kencana.

Up ↑

Wantok Coffee

Melanesia Single Origin Coffee

MAMA Minimart

MAMA Stap, na Yumi Stap!

PT Kimarek Aruwam Agorik

Just another WordPress.com site

Wantok Coffee News

Melanesia Foods and Beverages News

Perempuan Papua

Melahirkan, Merawat dan Menyambut

UUDS ULMWP

for a Free and Independent West Papua

UUDS ULMWP 2020

Memagari untuk Membebaskan Tanah dan Bangsa Papua!

Melanesia Spirit & Nature News

Promoting the Melanesian Way Conservation

Kotokay

The Roof of the Melanesian Elders

Eight Plus One Ministry

To Spread the Gospel, from Melanesia to Indonesia!

Koteka

This is My Origin and My Destiny