Polda Kejar OPM

Irjen Pol Bagus Ekodanto
Irjen Pol Bagus Ekodanto

JAYAPURA (PAPOS) -Kepolisian Daerah (Polda) Papua menetapkan delapan orang anggota Organisasi Papua Merdeka (OPM) masuk dalam daftar pencaharian orang (DPO) terkait kasus penyerangan Pos Polisi di Tingginambut, Kabupaten Paniai.

Kapolda Papua Irjen Pol Bagus Ekodanto mengemukakan, pihaknya juga sedang mempersiapkan pamflet berisi daftar nama mereka, dan himbauan agar mereka mengembalikan empat pucuk senjata milik Polri yang diambil saat menyerang Pos Polisi awal Januari lalu.
“Pamflet itu dibuat dalam dua bahasa yakni bahasa Indonesia dan bahasa daerah,”jelas Kapolda Papua seperti dilansir Koran ini dari ANTARA, Selasa (10/2) kemarin, seusai acara coffe morning di Mapolda Papua.

Kapolda yang didampingi Direktur Reskrim Kombes Pol Paulus Waterpauw itu, mengungkapkan bahwa diantara delapan nama itu terdapat pimpinan OPM yakni Goliath Tabuni.

Polri juga tidak akan melakukan penyisiran melainkan tindakan kepolisian dengan terus melibatkan para tokoh agama dan adat setempat dalam penyelidikan yang saat ini dilakukan.

Diakuinya, kedelapan nama itu diperoleh dari hasil pemeriksaan yang dilakukan penyidik terhadap salah seorang anggota OPM yang berhasil dilumpuhkan saat bentrokan di sekitar Tingginambut.

Saat terjadi bentrok dengan OPM, anggota brimob berhasil menembak Yandenak Wonda, anggota OPM yang ikut menyerang pos polisi Tingginambut.

“Memang saat penyerangan, Goliath tidak memimpin langsung melainkan melalui salah seorang anak buahnya,” tambah Dir Reskrim Kombes Pol Paulus Waterpauw.(ant/nas)

Ditulis Oleh: Ant/Papos
Rabu, 11 Februari 2009
http://papuapos.com

Buchtar Tabuni ResmiTahanan Kejaksaan Tinggi

Buchtar Tabuni bersama tim pengacara, Iwan Niode SH dan Piter Ell, SH
Buchtar Tabuni bersama tim pengacara, Iwan Niode SH dan Piter Ell, SH

JAYAPURA (PAPOS) -Proses penyidikan terhadap Buchtar Tabuni dinyatakan oleh Polda Papua telah memasuki tahap dua, Rabu (28/1) kemarin, resmi kasusnya dilimpahkan ke Kejaksaan Tinggi (Kejati) Provinsi Papua.

Pelimpahan BAP (Berita Acara Pemeriksaan ) dari tim penyidik Polda Papua ke Kejati berlangsung aman dan tertib. Menurut kuasa hukum Buchtar Tabuni, Iwan Niode SH, dengan pelimpahan BAP dan tersangka ke Kejati maka, dianggap proses penyelidikan di Polda telah selesai. Dengan demikian kata dia, tanggung jawab penahanan atas Buhtar Tabuni beralih kepada penuntut umum (Jaksa, red). Oleh sebab itu, Iwan mengatakan, dalam waktu dekat tim pengacara Buchtar akan melakukan pertemuan terkait penyerahan kasus Buchtar ke Kejati.

Sementara itu, penyidil menjerat Buhtar Tabuni dengan lima pasal berlapis diantaranya pasal 106 KUHP JO pasal 110 (Makar) KUHP, pasal 160 KUHP, pasal 212 KUHP serta pasal 216 KUHP terkait kasus makar, penghasutan dan melawan perintah jabatan.

Pelimpahan berkas dan tersangka juga diikuti dengan penyerahan barang Bukti (BB) yang terdiri dari dua buah HP milik Buchtar, berkas-berkas atau dokumen lainnya, serta CD tentang insiden yang terjadi di Expo pada oktober tahun 2008 lalu.

Menanggapi pasal yang dijeratkan, Iwan, mengatakan kliennya tidak pernah melakukan kasus makar, dugaan makar hanya merupakan unsur politik dari pihak kepolisian semata.

“Dari awal saya katakan klien saya tidak ada unsure makar dalam melakukan kegiatannya,” ungkap Iwan kepada wartawan disela-sela pelimpahan berkas dan tersangka ke Kejaksaan, Rabu (28/1) kemarin.

Dikatakan, dugaan makar yang dituduh kepada kliennya sebenarnya tidak pernah terjadi. Yang terjadi pada Oktober tahun 2008 lalu itu, adalah apresiasi atas dukungan terhadap IPWP yang berlangsung di London.

Hanya saja, Indonesia yang merasa kebakaran jenggot, hingga kliennya dijadikan sebagai tersangka dengan mengatakan telah melakukan kasus makar. Diharapkan olehnya, Polda seharusnya bersikap adil.

Adil menurut Iwan, dalam penyelidikan terhadap berbagai kasus misalnya, menyelidiki kasus yang terjadi terhadap Opinus Tabuni, jangan hanya kasus makar yang dituduhkan terhadap kliennya saja yang dikejar, sedangkan kasus-kasus lainnya didiamkan.

“Kami juga mengharapkan Polda dapat menuntaskan insiden yang menewasdkan Opinus Tabuni dengan mengungkapkan siapa pelaku dari insiden tersebut,” papar dia.

Sementara itu, pada pelimpahan pukul 12:00 WIT Bucthar terlihat tampak kurus dan pucat.

Sepanjang perjalanan dari Polda menuju Kejati menggunakan Mobil tanahan Dir Reskrim Polda Papua Buchtar tampak tenang, dia duduk sambil bernyanyi sepanjang perjalanan.

“Saya sakit hati tidak mau banyak bicara, saya diperlakukan kurang baik selama berada ditahanan oleh mereka,” ujar Buchtar saat berada didalam mobil tahanan bersama para wartawan.(lina)

Ditulis Oleh: Lina/Papos
Kamis, 29 Januari 2009
http://papuapos.com

Senjata TNI Belum Dikembalikan

paulus-waterpauwTIMIKA (PAPOS)- Satu buah senjata jenis pistol milik salah satu anggota TNI yang dirampas warga saat bentrok aparat Kepolisian dengan warga yang melakukan penyerangan ke Mapolsek Mimika Baru, Selasa (27/1) lalu, belum dikembalikan.

Peristiwa hilangnya senjata milik salah satu anggota TNI unit intel berinisial AS dari Kodam Trikora, terjadi pada saat AS berada disekitar Depan Gereja Tigaraja Timika yang turut memantau berlangsungnya rencana penyerangan warga ke Mapolsek Mimika Baru.
Korban saat itu sedang berada dipinggir Jalan yang dilalui massa hendak menuju ke Mapolsek dengan maksud memantau situasi, namun massa yang mengira AS adalah wartawan sebab hendak mengabadikan kejadian tersebut karena membawa sebuah tas pinggang ,akhirnya dikeroyok massa dan melakukan perampasan terhadap tas korban, yang didalamnya terdapat sebuah senjata jenis pistol.

Menurut data yang dihimpun dari beberapa saksi, korban AS saat dikeroyok massa tidak melakukan perlawanan, AS juga sempat mendapat pukulan dan lemparan batu yang mengenai Kepala Bagian belakang namun korban dapat menyelamatkan diri.

Sebagaimana yang diberitakan beberapa media cetak dan elektronik yang dikutip dari wawancara Kapolda Papua Irjen Polisi Drs.FX Bagus Susanto di Mapolsek Rabu (28/1), yang mengatakan bahwa senjata milik TNI yang dirampas sudah dikembalikan ke aparat.

Direktur Reskrim Polda Papua Kombes Polisi Paulus Waterpauw ketika dikonfirmasikan wartawan di Mapolsek Mimika Timur Kamis (29/1) sore, membenarkan kalau senjata milik salah satu anggota TNI belum dikembalikan.

“Karena adanya salah penyampaian informasi dari slah satu tokoh masyarakat Maluku Tenggara, yang sebelumnya telah menyampaikan kepada Kapolda melalui SMS bahwa senjata sudah berada di mereka dan tinggal menyerahkannya saja kepada aparat. Namun setelah dikonfirmasikan kembali ternyata warga yang rencananya menyerahkan tak kunjung datang”,tegas Waterpauw.

Kata Waterpauw bahwa terkait belum kembalinya senjata tersebut, sekaligus mengklarifikasi pemberitaan dibeberapa media bahwa senjata telah dikembalikan namun kenyataannya hingga saat ini berada di tangan warga.

Waterpau juga menjelaskan bahwa dirinya sudah mendapat penyampaian langsung dari Kepala Staff Brigir 20 Ima Jaya Keramo Letkol TNI Hamdan Bogra yang menyampaikan bahwa memang senjata milik salah seorang anggota Intel Kodam belim diterimanya.

Beberapa wartawan yang mencoba mengkonfirmasikan terkait kejelasan senjata yang dirampas warga kepada Dandim 1710 Mimika Letkol TNI Tri Soeseno, enggan memberikan komentar, termasuk salah pimpinan dari korban AS di Makodim 1710 dan Dimako Koramil Kota tak satupun berani memberikan keterangan.

Termasuk kepada korban AS yang menjadi korban perampasan hendak ditemui wartawan salah satu klinik milik KODIM 1710 Mimika yang berada didalam kompleks Koramil Kota tidak diperbolehkan, menurut salah satu anggota TNI yang memang ditugaskan untuk menjaga korban, kepada wartawan mengatakan bahwa atas perintah pimpinan tak diijinkan untuk menjenguknya termasuk wartawan.
Dari salah satu sumber menyebutkan bahwa pihak TNI memberikan batas waktu kepada warga sampai hari ini untuk dapat mengembalikan senjata yang dirampas kepada aparat, sumber tersebut juga menyebutkan bila batas waktu yang diberikan juga belum dikembalikan, aparat akan berusaha mencarinya termasuk melakukan penyiisiran kebeberapa lokasi yang dicurigai senjata tersebut disembunyikan.(husyen)

Ditulis Oleh: Husyen/Papos
Sabtu, 31 Januari 2009
http://papuapos.com

Polda Kirim Tim Ke Tingginambut

KETERANGAN GAMBAR: Irjen Pol Bagus Ekodanto

MERAUKE (PAPOS) -Kepolisian Daerah (Polda) Papua, pasca kontak senjata OPM dengan Brimod pada Jumat (16/1) pagi sekitar pukul 10.00 WIT, akan mengirim tim ke Tingginambut, Kabupaten Puncak Jaya.

Kapolda Papua Irjen Pol Bagus Ekodanto ketika dihubungi ANTARA, Jumat (16/1) malam mengatakan, pihaknya akan mengirimkan tim yang terdiri atas Propam, Intelkam dan lainnya ke Mulia untuk menyelidiki insiden tersebut.

Dari hasil tim itulah baru akan diputuskan apakah pihaknya akan melakukan pengejaran mengingat sebelumnya atas permintaan dari tokoh masyarakat agar memberi waktu kepada mereka untuk membantu mencari senjata yang dirampas saat menyerang Pos Polisi di Tingginambut, Selasa (13/1) lalu.

“Kami belum memutuskan apakah tetap memberikan waktu tiga minggu sesuai permintaan para tokoh masyarakat dan kepala suku atau tidak,” ungkap Kapolda Papua Irjen Pol Bagus Ekodanto yang dirilis Koran ini tadi malam (18/1).

Menurutnya, insiden baku tembak antara kelompok Organisasi Papua Merdeka (OPM) dengan anggota Brimob berawal dari saat anggota melakukan patroli dekat markas OPM di Tinggi Neri, Kamis ( 15/1) sekitar pukul 22.00 WIT.

Saat mendekati markas OPM, anggota ditembaki gerombolan OPM, namun setelah membalas dan mendapati markas mereka ternyata sudah kosong, sehingga anggota kembali keesokan paginya.

Namun, kata Kapolda Papua, di sekitar sungai anggotanya ditembaki hingga kembali terjadi baku tembak. Dalam kontak senjata itu salah seorang anggota OPM tertembak.

Kapolda Papua mengakui, anggota OPM bernama Yendenak Wonda yang tertembak itu saat ini dirawat di RSUD Mulia dan menurut rencana dijadwalkan Senin (19/1) hari ini dievakuasi ke Jayapura.

Ketika ditanya apakah saat bentrok senjata OPM menggunakan senjata yang dirampas dari pospol Tingginambut, Kapolda Papua mengakui, dari informasi yang diterima anggota mengaku bahwa senjata yang digunakan itu senjata organik.

“Belum dapat dipastikan karena setelah Wonda terluka senjatanya dilempar ke temannya,” jelas Kapolda Papua Irjen Pol Bagus Ekodanto.(ant/nas)

Ditulis Oleh: Ant/Papos
Senin, 19 Januari 2009

OPM-Brimob Baku Tembak

Kombes Pol Agus Riyanto
Kombes Pol Agus Riyanto

JAYAPURA (PAPOS) -Kelompok separatis bersenjata yang tergabung dalam Organisasi Papua Merdeka (OPM), Jumat (16/1) pagi sekitar pukul 10.00 WIT menghadang anggota Brimob yang sedang menuju Mulia, ibukota Kabupaten Puncak Jaya.

Dalam penghadangan itu satu anggota OPM terluka. Informasi yang dikumpulkan Koran ini dari Antara, Jumat (16/1) malam mengungkapkan, satu anggota OPM yang tertembak atas nama Yendenak Wonda dan saat ini tengah di rawat di RUSD Mulia. Insiden itu bermula dari kegiatan yang dilakukan anggota Brimob yakni melakukan pemetaan lokasi markas OPM Kamis malam sekitar pukul 22.00 WIT, saat anggota Brimob bersama anggota Densus 88 yang berlokasi di Tinggi Neri.

Saat berada di Tinggi Neri, yang berjarak sekitar dua jam berjalan kaki, anggota Brimob ditembaki dengan OPM dan membalas sehingga terjadi baku tembak selama beberapa saat.

Setibanya di Markas OPM, anggota Brimob memutuskan kembali ke Tingginambut dan keesokan paginya kembali ke Mulia. Saat kembali ke Mulia itulah anggota Brimob dihadang dan terjadi baku tembak.

Sebelumnya tanggal 9 Januari lalu, OPM menyerang pos polisi di Tingginambut dan membawa lari empat pucuk senjata milik Polri.

Kapolda Papua Irjen Pol F.X Bagus Ekodanto, ketika dikonfirmasikan Papua Pos tadi malam (Jumat 16/1), melalui telepon selulernya tidak dapat dihubungi, karena telepon genggam Kapolda sedang tidak aktif.

Karena tidak dapat menghubungi Kapolda Papua Pos berusaha menghubungi Kabid Humas Polda Papua Kombes Pol Agus Riyanto. Disela-sela rapat, Kabid Humas masih sempat menjawab beberapa pertanyaan. Namun Agus Riyanto, belum dapat kepastian kebenaran adanya kontak senjata antara OPM dan Brimod seperti yang seperti dikonfirmasikan Papua Pos, tadi malam (Jumat 16/1).

Dijelaskan, dirinya belum dapat memastikan kapan insiden antara OPM dan Brimob. Karena dirinya selaku Kabid Humas Polda belum mendapatkan laporan resmi. “Saya belum bisa memastikan, menunggu informasi yang pasti,” ungkapnya.(lina/ant)

Ditulis Oleh: Lina/Ant/Papos
Sabtu, 17 Januari 2009
http://papuapos.com

Wagub Minta OPM Kembalikan Senjata – Aktivitas Kantor dan Sekolah di Tingginambut Lumpuh

SENTANI- Aksi kelompok separatis bersenjata atau OPM yang merampas 4 pucuk senajta dan melukai istri seorang anggota polisi di Pos Polisi Tingginambut, Kabupaten Puncak Jaya, Provinsi Papua, mendapat perhatian serius dari Wakil Gubernur Papua, Alex Hesegem, SE.

Wagub yang juga sebagai Ketua Badan Komunkasi Intelijen Daerah (Kominda) Provinsi Papua ini, meminta agar pihak yang membawa lari senjata milik polisi tersebut, segera dikembalikan.

Diakui, sebelumnya pihaknya memang sudah mendapatkan SMS dari Bupati Puncak Jaya tentang kebenaran berita kejadian di Tingginambut ini. “Sampai saat ini memang belum ada pertemuan dari Komunikasi Intelijen Daerah Papua yang ketuanya adalah saya sendiri, namun sore ini (kemarin) rencananya kami dari Kominda ini akan melakukan pertemuan,”tuturnya saat ditemui disela acara Wisuda di STAKPN Burere Sentani, Senin (12/1).

Selaku Wagub dan juga tokoh masyarakat dari Pegunungan Tengah, Alex Hesegem minta saudara-saudara yang telah membawa lari senjata milik anggota Polri ini bisa segera mengembalikan kepada pemerintah, lewat jalur gereja maupun pemerintah kampung.

Terkait kejadian tersebut, Wagub juga mengaku sudah minta kepada pemerintah Kabupaten Puncak Jaya untuk pro aktif melakukan pendekatan agar senjata-senjata milik anggota Polri tersebut dikembalikan, tanpa harus ada kontak fisik.

“Kita juga sebenarnya bisa langsung serahkan polisi dan tentara untuk cari sendiri, tapi yang saya takutkan bila aparat harus mencari sendiri dengan melakukan penyisiran bisa menimbulkan salah pengertian antara masyarakat dan aparat sehingga bisa timbul jatuh korban lagi,”ujar Wagub yang berharap senjata tersebut segera dikembalikan.

Untuk itu, supaya tidak timbul persoalan baru lagi, diharapkan warga masyarakat yang membawa lari senjata tersebut dengan besar hati dan tulus bisa menyerahkan senjata, agar tidak disalahgunakan lebih jauh. Wagub berharap jalur gereja maupun pemerintah kampung bisa menjadi mediasi untuk penyerahan kembali senjata.

Lebih lanjut Wagub Alex Hesegem juga menghimbau pada kelompok masyarakat orang-orang yang masih mengatasnamakan TPN/OPM supaya tidak ganggu rakyat Papua dan pemerintah yang sedang bersama-sama membangun dari kampung.

“Sebaiknya mari semua ikut bergabung, jangan suka ganggu, sebab pada dasarnya perjuangan yang dilakukan adalah sama untuk membangun dan mensejahterakan rakyat Papua,”tandasnya.

Untuk itu, tidak hanya bagi orang-orang Papua yang ada di luar negeri maupun yang saat ini masih tinggal di hutan-hutan, kembali bergabung dengan masyarakat Papua. Tidak perlu takut, sebab Pemerintah RI sudah membuka diri untuk menerima, asalkan sungguh-sungguh sadar untuk kembali setia pada NKRI dan mau berbuat baik untuk membangun bersama daerah Papua ini.

“Kalau terus sembunyi dan curi senjata, siapa pun tidak pernah mendukung. Tanah Papua ini Tanah yang diberkati, Tanah Damai, tidak boleh ada yang tumpahkan darah, yang tumpahkan darah harus dikutuk. Karena ini mewujudkan Papua Tanah Damai ini merupakan tangung jawab kita bersama pada Tuhan.”pungkasnya.

Laporan dari Puncak Jaya

Sementara itu dari Puncak Jaya dilaporkan, aksi sekelompok OPM yang melarikan 4 pucuk senjata serta melukai istri seorang anggota Pos Polisi Tingginambut, berakibat pada lumpuhnya aktifitas sekolah dan kantor pemerintahan di sana.

Hal itu seperti diungkapkan Bupati Lukas Enembe, S.IP melalui Plh. Sekda Kabupaten Puncak Jaya, Heri Dosinaen, S.IP. kepada wartawan saat dikonfirmasi Senin (12/1), kemarin.

Dikatakan, memang kondisi di Kabupaten Puncak Jaya khususnya di Distrik Tingginambut dan Distrik Mulia ibukota Kabupaten masih aman dan kondusif. Saat ini yang dilakukan pemerintah adalah masih mengambil langkah-langkah persuasif yaitu melakukan pendekatan secara keluarga melalui tokoh agama, adat, pemuda dan masyarakat supaya senjata yang telah dirampas bisa dikembalikan secepatnya.
“Kondisi saat ini memang masih aman terkendali dan yang kami lakukan masih melakukan langkah persuasif dengan pendekatan-pendekatan, sehingga dalam waktu dekat senjata bisa dikembalikan,”ungkapnya di Hotel Mulia In, Senin (12/1).

Dijelaskan, memang masyarakat sangat ketakutan dan mengungsi, tapi masih dalam ruang lingkup daerah Distrik Tingginambut, sehingga pihaknya tetap mengontrol kesibukan dari masyarakat dengan mengakomodir mereka yang turun karena ada penekanan dari pihak ketiga yang tidak bertanggungjawab dalam hal ini OPM.

Pemerintah telah menampung masyarakat di Distrik Tingginambut kemudian untuk sekolah semua aktifitas perkantoran milik pemerintah sementara ini diliburkan dalam waktu yang singkat sekitar 1 minggu.

“Untuk aktifitas penyelenggaraan pemerintahan dan pendidikan memang sekarang boleh dikatakan masih lumpuh terkait kejadian tersebut dimana guru-guru dan pegawai masih ketakutan, namun ke depan sekitar 1-2 minggu semua akan berjalan seperti biasa,”ujarnya.

Sementara itu, terkait penyelidikan yang dilakukan pihak Polres Puncak Jaya dan Reskrim Polda Papua saat ini masih dalam tahap penyelidikan. Kapolres Puncak Jaya, AKBP. Chris Rihulay, SSt.Mk saat dikonfirmasi Cenderawasih Pos di ruang kerjanya mengatakan, pihaknya saat ini sedang memeriksa beberapa saksi, yaitu istri Briptu Felix (Kapospol Tingginambut), Bripda Bob Simamora, seorang guru kontrak dan 2 orang masyarakat yang melihat kejadian dan akan tetap mencari saksi-saksi lainnya guna memperkuat bukti kemudian akan mengembangkannya.

“Kami telah memintai keterangan saksi-saksi terkait 4 orang pelaku (Dekiles CS) yang diduga telah mengambil senjata dan melukai korban, namun dugaan itu harus dikuatkan dengan bukti kuat,”katanya.
Namun demikian, jelas Kapolres, pihaknya masih tetap melakukan langkah-langkah persuasif dengan pendekatan melalui tokoh agama, adat, pemuda dan masyarakat sesuai dengan deadline yang diberikan Kapolda Papua selama 3 minggu. Sedangkan untuk penyelidikan akan tetap berjalan sesuai aturan yang berlaku karena akan memperkuat bukti-bukti yang ada.(tri/nal)

Lukas Enembe: Beri Kami Waktu

Kapolda, Lukas Enembe, membahas Peristiwa Perampasan Senjata oleh TRPB
Kapolda, Lukas Enembe, membahas Peristiwa Perampasan Senjata oleh TRPB

MULIA (PAPOS) Bupati Puncak Jaya Lukas Enembe S.IP meminta, pihak aparat untuk memberikan waktu kepada pemerintah dan masyarakat untuk dapat mengupayakan pengembalian senjata yang diambil saat penyerangan Pospol Tingginambut, Kamis (8/1) lalu. “Beri kami waktu untuk pendekatan secara kekeluargaan, dan kalau kami tidak bisa maka kami akan serahkan kepada pihak Polri untuk mengambil tindakan lain” tutur Bupati Enembe.

Lanjut bupati, pemerintah bersama masyarakat akan terus membantu aparat untuk mendapatkan kembali senjata yang sudah dicuri oleh masyarakat.

Dan dihadapan masyarakat Distrik Tingginambut Bupati Lukas Enembe SIP. Menegaskan, senjata yang dicuri harus segera dikembalikan kepada pihak aparat keamanan dalam hal ini pihak kepolisian.

Guna mengatasi terjadinya kegiatan-kegiatan seperti ini, maka pihak pemerintah akan melakukan upaya-upaya pendekatan secara kekeluargaan dalam mendukung pelaksanaan pembangunan di daerah ini.

“Kita sudah sepakat dengan semua komponen yang ada di Tingginambut untuk bagaimana caranya supaya senjata yang di curi bisa dikembalikan, kami akan mengupayakannya melalui pihak keluarga, gereja” tuturnya.

Dilanjutkan, jika upaya yang dilakukan tidak berhasil, maka pihaknya akan menyerahkannya kembali kepada pihak aparat untuk mengambil tindakan yang lain, pungkas bupati Enembe dihadapan wartawan.(fredy)

Ditulis Oleh: Fredy/Papos
Senin, 12 Januari 2009

OPM Dideadline 3 Minggu – Kapolda: Jika Tak Kembalikan Senjata, Akan Ada Langkah Lain

Korban di Rumah Sakit Dok II Numbay
Korban di Rumah Sakit Dok II Numbay

PUNCAK JAYA-Aksi sekelompok Organisasi Papua Merdeka (OPM) di Distrik Tingginambut ini, Kabupaten Upuncak Jaya, Provinsi Papua, dengan membawa lari 4 pucuk senjata serta melukai seorang istri polisi, langsung disikapi Polda Papua.

Terkait aksi penyerangan itu, Kapolda Papua Irjen Pol Drs FX Bagus Ekondanto langsung ke terbang ke Puncak Jaya selanjutnya ke Tingginambut guna melakukan penyelidikan.

Dalam kunjungannya Kabupaten Puncak Jaya, Kapolda langsung dengan membawa tim. Antara lain, Direskrim Polda Papua, Kombes Pol Drs Paulus Waterpauw, Kasat Brimob, Kombes Pol. Drs. Wirawibawa, Danprovost, AKBP Suparno, Kasat Intel 4 Polda Papua, AKBP Baron Hadi Darmawan dan Kapolres Puncak Jaya, AKBP Chris Rihulay, SSt.Mk. Rombongan Kapolda tiba di ruangan VIP bandara Mulia pukul 10.00 Wit dan disambut Bupati Lukas Enembe, SIP bersama muspida, perwira TNI dan tokoh-tokoh lainnya.
Setelah itu, rombongan Kapolda bersama Bupati langsung menuju Pos Polisi Tingginambut guna meninjau Tempat Kejadian Perkara (TKP) dengan menggunakan kendaraan mobil L200.

Dari pantauan Cenderawasih Pos di TKP, tampak kesibukan tim Reskrim Polda Papua melakukan olah TKP dibantu Reskrim Polres Puncak Jaya. Usai beberapa jam Kapolda mendapat keterangan dari 2 orang anggota pos polisi yang bertugas, Briptu Felix dan Bripda Bob Simamora ditambah melihat beberapa lokasi yang rusak akibat pelaku saat mengambil 4 senjata dari dalam kamar.

Selanjutnya, Kapolda, Bupati dan rombongan bertemu dengan tokoh agama, adat, pemuda, kepala kampung, kepala suku dan masyarakat di depan Kantor Distrik Tingginambut.

Dalam arahannya, Kapolda Papua menghimbau kepada masyarakat agar bisa membantu pihak keamanan, baik Polisi maupun TNI dalam upaya mengembalikan senjata yang telah diambil OPM. Dikatakan, pihaknya akan berupaya menjalin kerjasama dengan para tokoh maupun masyarakat yang apabila ada melihat orang membawa senjata tersebut agar bisa dikembalikan.

“Kita akan melakukan pendekatan dengan cara damai dan akan kita serahkan kepada tokoh agama, adat, pemuda dan masyarakat untuk bisa mengatasinya sampai dengan waktu 3 minggu ke depan kita tunggu,”katanya.

Setelah batas waktu (deadline) 3 minggu, jelas Kapolda, akan ada langkah lain. Namun demikian langkah pertama sudah dilakukan, yaitu menyelamatkan korban. Pihaknya juga akan dibantu TNI dalam menghimbau masyarakat agar senjata tersebut secepatnya dikembalikan.

Ditanya apakah ada penambahan personel sementara di pos polisi Tingginambut, Kapolda mengungkapkan, pihaknya sudah menempatkan anggota Brimob dan juga meminta bantuan kepada TNI yang ada di sana.

Kapolda menjelaskan, pihaknya saat ini akan menghimbau dahulu, karena sudah pasti senjata itu tidak akan jauh dan masih berada di sekitar TKP. Pihaknya akan berusaha menunggu hingga 3 minggu ke depan dan masyarakat nantinya yang akan membantu dalam pencariannya.

“Saat ini saya tidak akan menambah anggota dari luar, karena disini ada Brimob dan TNI. Jadi saya kira sudah cukup. Dalam arti tidak mendatangkan pasukan tambahan,”jelasnya.

Namun ke depan, tambah Kapolda, pihaknya akan menambah anggota untuk ditempatkan di pos polisi Tingginambut. Bahkan sesuai rencana, pos polisi ini akan diperbaiki dan tidak menjadi pos polisi laagi, tapi ditingkatkan menjadi polsek Tingginambut.

Untuk pos polisi lain dalam mengantisipasi kejadian ini, pihaknya melihat akan kebutuhan aktifitas masyarakat bahwa itu sudah harus polsek atau masih pos polisi. “Saya rasa untuk pos polisi Tingginambut sudah seharusnya menjadi polsek, karena kebutuhan akan aktifitas masyarakat sangat mendukung, kemudian memang sesuai rencana saya sudah harus menjadi polsek,”ujarnya.

Disinggung soal apakah kejadian ini terjadi karena terlalu bebasnya masyarakat masuk ke dalam pos polisi Tingginambut, Kapolda menambahkan, sebenarnya memang tidak ada jarak dengan masyarakat. Dalam arti, Polri dan TNI tidak membatasi diri dengan masyarakat.

Hanya masalahnya sekarang bahwa ada oknum yang seharusnya tidak terjadi dan karena kepentingan kelompok tertentu telah memanfaatkan dari pada hubungan masyarakat yang sudah terjalin selama ini dengan polisi. Misalnya, apa yang dimiliki di pos polisi, baik televisi dan radio yang bisa digunakan maka masyarakat juga bisa menggunakannya.

Terkait penggalangan yang telah dilakukan selama ini, pihaknya akan tetap melanjutkan upaya itu, kepada mereka, khususnya kelompok ini untuk turun bersama-sama membangun daerahnya dan kembali ke NKRI. “Karena kita sudah membangun lebih maju, namun kalau mereka masih mengelompokkan sendiri bahwa ingin melepaskan diri dari NKRI, maka itu sesuatu hal yang mustahil,”katanya.

Sementara itu, Bupati Lukas Enembe, S.IP mengungkapkan, kebiasaan masyarakat di daerah ini sudah dari nenek moyang terjadi konflik dan setelah pemerintah dan injil masuk, kemudian lebih khusus kepada injil masuk penyebaran injil ini bisa dilaksanakan, tapi setelah pemerintah masuk juga sudah banyak terjadi konflik secara adat.

Kebiasaan masyarakat di sini bahwa setiap anak lahir adalah untuk peperangan dan bukan untuk membuat kebun. Setiap anak lahir sudah harus mempersiapkan diri untuk berperang dan itu sudah dari dulu turun temurun, makanya hampir semua sekolah dibakar karena tidak setuju sekolah berdiri.
Upaya pertama dilakukan pemerintah adalah mensekolahkan anak-anak dari Tingginambut agar setelah kembali ke daerah mereka dapat menerima pembangunan, kemudian dilakukan pendekatan keluarga. Memang pihaknya sudah sepakat dengan seluruh komponen yang ada disini supaya bagaimana caranya senjata yang dirampas bisa harus kembali dalam waktu singkat.

“Kalau memang kami tidak mampu mengembalikan dengan cara itu, maka kami akan mengembalikan kepada pihak TNI/Polri untuk melakukan sesuai kewenangan mereka karena memang kita tidak mampu mengembalikannya,”tandasnya.

Ditusuk Menggunakan Tulang Kasuari dan Pisau

KETERANGAN GAMBAR: Korban Evana Helan Ayer terbaring di RSUD Dok II

Korban Evana Helan Ayer terbaring di RSUD Dok II Jayapura didampingi sang suami Bripda Yan Ayer
Penyerangan Pos Polisi di Ditsrik Tingginambut Kabupaten Puncak Jaya, Kamis (8/1) kemarin, oleh segerombolan orang tak dikenal membuat korban Evana Helan Ayer menderita luka serius.

PENUTURAN suami korban yang juga korban penyerangan pada saat itu, Bripda Yan Ayer menjelaskan, ketika penyerangan terjadi dirinya bersama seorang anggota lainnya dan istri Kapospol serta istri Evana berada di pos Polisi itu. Namun sebelum kejadian, Bripda Yan Ayer bersama rekannya dan beberapa masyarakat sedang berada di depan pos sambil menonton Televisi, Kamis (8/1) malam sekitar pukul 20.00 WIT.

Tak lama Yan Ayer bersama teman anggotanya dan istri Kapospol pergi ke dapur untuk makan malam, sedangkan korban pada saat itu berada di kamar karena SEDANG sakit.

Ketika mereka berada di dapur dan melihat keadaan pos tidak sedang dijaga, sekitar 20-an orang menyerang Pos Polisi sambil membawa berbagai alat tradisional.

Sontak masyarakat yang berada di pos ikut lari menyelematkan diri, lalu para pelaku mengobrak-abrik pos Polisi sambil mencari tepat penyimpanan senjata.

“Kami berdua tidak mengetahui adanya penyerangan itu, hanya mendengar ribut-ribut ketika di dapur. Begitu mau keluar dapur, ternyata beberapa orang sudah berada didepan pintu sambil mengayunkan parang, sontak kami pun lari lewat pintu belakang dapur,” ujar Yan kepada wartawan di RSUD Dok II Jayapura, Sabtu (10/1) kemarin.

Ketika melihat beberapa orang berada di depan pintu dapur, Bripda Yan Ayer bersama rekannya dan istri Kapospol langsung lari ke Hutan untuk menyelamatkan diri, sedangkan istrinya Evana masih dikamar.

Para pelaku yang telah menguasai pos Polisi itu, seluruh ruangan dimasukin termasuk kamar anggota yang masih bujang untuk mengambil senjata lalu sebanyak lima pelaku masuk ke kamar korban.

Korban pun sempat terkaget dengan masuknya para pelaku ke kamarnya, lalu korban ditusuk menggunakan alat tradisional yang diduga merupakan tulang kasuari dibagian punggung bagian kiri hingga tembus lalu tangan kanan korban pun ditusuk dengan pisau.

“Jadi pada saat kejadian, istri saya berada di kamar satunya karena sakit, sedangkan senjata yang diambil berada di kamar paling depan (kamar anggota bujang-red) dan kamar satunya dikunci,” terang Bripda Yan Ayer.

Setelah menguasai senjata, para pelaku langsung kabur dengan membawa 4 buah Senpi jenis SS1 lalu sempat menembakkan senjata tersebut secara berentetan. Setelah keadaan mulai sunyi, Bripda Yan Ayer dan rekannya kembali ke pos untuk menyelamatkan istrinya, namun ketika tiba di pos dirinya melihat sang istri telah berlumuran darah didalam kamar.

Korban pun dibawa keluar untuk menyelamatkan diri, tak jauh dari pos terdapat asrama Guru SD sehingga seluruh korban menyelamatkan diri di asrama tersebut.

Sekitar pukul 23.30 WIT, korban Evana langsung dibawa ke rumah sakit di Mulia Ibukota Puncak Jaya guna mendapatkan pertolongan pertama. Setelah dirawat dan korban lainnya melapor ke Polres Puncak Jaya, korban langsung dikirim ke Rumah Sakit Dok II Jayapura.

Menurut keterangan Yan, akibat tusukan yang dihujamkan kepada istrinya itu, hampir mengenai paru-paru korban sehingga korbanpun sempat tak sadarkan diri. Namun hingga berita ini diturunkan, korban yang kini dirawat di RSUD Dok II Jayapura sudah nampak sehat dibandingkan dengan pertama terkena tusukan.(islami)

Ditulis Oleh: Islami/Papua Pos
Senin, 12 Januari 2009
http://papuapos.com

Kapolda Deadline OPM 3 Minggu

KETERANGAN GAMBAR: TINJAU : Kapolda Papua didampingi Kapolres Puncak Jaya AKBP. Chris Rihulay , Bupati Puncak Jaya, Lukas Enembe saat berada di TKP Pospol Tingginambut

MULIA (PAPOS) -Pasca penyerangan di Pospol (Pos Polisi) Tingginambut Kabupaten Puncak Jaya, Kapolda Papua Irjen Pol Drs Fx Bagus Ekodanto, Sabtu (10/1) lalu, meninjau langsung Tempat Kejadian Perkara (TKP)

Kapolda Papua dalam kunjungannya didampingi Direskrim Polda Papua Kombes Pol Drs Paulus Waterpauw, Dansat Brimob Polda Papua Kombes Pol Drs Wirawibawa, Dir P3D Polda Papua AKBP Suparno, Kasat 4 Intelkam Polda Papua AKBP Baron Hadi Darmawan.
Rombongan Kapolda Papua dijemput Bupati Puncak Jaya Lukas Enembe SIP, beserta para pejabat dilingkungan pemkab Puncak Jaya. Setelah istirahat di ruang VIP Bandara Mulia, Kapolda beserta rombongan beserta Bupati Puncak Jaya menuju Distrik Tingginambut menggunakan kendaraan roda empat.

Setibanya di TKP Kapolda melihat kondisi Pospol Pasca penyerangan. Di sini Kapolda sempat mendapat laporan dari dua anggota Pospol yang juga saksi atas kejadian penyerangan tersebut. Selain itu, juga dilakukan olah TKP oleh aparat dari Reskrim Polda Papua dan Polres Puncak Jaya.

Seusai mengunjungi Pospol Tingginambut Kapolda Papua Irjen Pol Drs Fx Bagus Ekodanto dan Bupati Puncak Jaya Lukas Enembe SIP, melakukan pertemuan dengan para kepala kampung, kepala suku, tokoh agama, tokoh pemuda, dan tokoh perempuan di halaman kantor Distrik Tingginambut.

Dihadapan masyarakat Kapolda Papua meminta agar dapat selalu menjaga semua fasilitas yang telah di siapkan oleh pemerintah seperti pospol karena bangunan ini dibangun untuk menjaga keamanan dimasyarakat.

Kapolda juga meminta kepada masyarakat agar dapat memberikan informasi kepada pihak keamanan maupun pemerintah mengenai keberadaan empat pucuk senjata yang di curi oleh masyarakat pada saat penyerangan Pospol, Kamis (8/1) lalu.

“Kalau ada masyarakat yang lihat senjata tolong beritahukan kepada pihak keamanan atau pemeritah untuk dikembalikan” pinta Kapolda Papua.

Menjawab pertanyaan wartawan mengenai upaya pencarian senjata yang hilang, Kapolda Papua mengatakan, pihaknya akan menyerahkannya terlebih dahulu kepada pihak keluarga untuk melakukan pendekatan secara kekeluargaan dalam mencari keberadaan empat pucuk senjata yang diambil pada penyerangan Pospol Tingginambut.

”Kita melakukan pendekatan sacara damai, dan kita serahkan dulu kepada tokoh adat, tokoh agama, tokoh pemuda, untuk bisa berbuat lebih dahulu sebelum kami mengambil langkah yang lain” terang Kapolda.

Pihaknya juga kata Kapolda memberikan himbauan kepada masyarakat untuk dapat membantu aparat untuk menemukan senjata yang diambil. “Kami tetap memberikan waktu selama tiga minggu kepada pihak masyarakat untuk membantu aparat dalam menemukan dan mengembalikan senjata yang di bawa, karena barang tersebut belum dibawa pergi jauh tapi masih disekitar daerah ini” ujar Kapolda.

Ketika disinggung soal penambahan pasukan Kapolda mengatakan, pihaknya tidak akan melakukan penambahan pasukan tetapi akan menggunakan pasukan yang ada saat ini.

Ke depan pihaknya akan menaikan status dari Pospol Tingginambut menjadi Polsek, jelasnya. ”Kedepan kami sudah berencana untuk mejadikan Pospol Tingginambut sebagai Polsek namun dengan kejadian ini maka akan mempercepat proses pembentukan Polsek Tingginambut” kata Kapolda.

Kapolda juga menjelaskan bahwa dengan adanya kejadian penyerangan ini pihaknya tidak akan akan memberikan jarak kepada masyarakat dalam pelayanannya.

“Polri dengan TNI tidak membatasi jarak dengan masyarakat, namun dari kejadian ini menunjukan adanya kepentingan oknum atau kelompok tertentu yang memanfaatkan situasi dengan kedekatan hubungan masyarakat dengan aparat” ujar kapolda.

Kapolda menambahkan, penggalangan yang selama ini telah dilakukan akan tetap dilakukan untuk sama-sama membangun daerah ini dan kembali ke pangkuan NKRI, ungkap Kapolda.(fredy)

Ditulis Oleh: Fredy/Papos
Senin, 12 Januari 2009
http://papuapos.com

Up ↑

Wantok Coffee

Melanesia Single Origin Coffee

MAMA Minimart

MAMA Stap, na Yumi Stap!

PT Kimarek Aruwam Agorik

Just another WordPress.com site

Wantok Coffee News

Melanesia Foods and Beverages News

Perempuan Papua

Melahirkan, Merawat dan Menyambut

UUDS ULMWP

for a Free and Independent West Papua

UUDS ULMWP 2020

Memagari untuk Membebaskan Tanah dan Bangsa Papua!

Melanesia Spirit & Nature News

Promoting the Melanesian Way Conservation

Kotokay

The Roof of the Melanesian Elders

Eight Plus One Ministry

To Spread the Gospel, from Melanesia to Indonesia!

Koteka

This is My Origin and My Destiny