Haul Kematian Theys, Ricuh

Liputan6.com, Jayapura: Haul memperingati tujuh tahun kematian Theys Hiyo Eluai di Gedung DPRD Papua, Rabu (12/11), berlangsung ricuh. Massa pendukung Theys nyaris bentrok dengan polisi. Mereka marah begitu mengetahui pimpinan Dewan tidak berada di tempat.

Adu mulut antara polisi dengan demonstran terjadi saat warga yang akan menyampaikan aspirasi kecewa karena Ketua Dewan Papua tidak hadir. Demonstran berorasi di depan Gedung Dewan meminta agar berbagai pelanggaran hak asasi manusia seperti kasus kematian Theys dan yang terakhir Optimus Tabuni diungkap.

Salah seorang anggota Dewan, Weynant Watory akhirnya menemui demonstran. Dia berjanji mempertemukan wakil pendemo dengan Ketua Dewan pada Jumat esok. Massa juga mendesak dipertemukan dengan Panglima Kodam XVII Cendrawasih dan Kepala Kepolisian Daerah Papua.(TOZ/Tim Liputan 6 SCTV)

Sepuluh Aktivis Papua Ditangkap

TEMPO Interaktif, Jayapura: Sebanyak sepuluh aktivis Papua, Senin (20/10), ditangkap polisi karena menggelar aksi di Kantor Dewan Perwakilan Rakyat Papua di Jayapura.
Sekitar pukul 11.25 waktu setempat, puluhan warga menggelar aksi di Taman Imbi Jayapura.

Mereka mendukung pembahasan persoalan Papua di Parlemen Inggris. Usai membacakan pernyataan sikap, seorang berpakaian adat menerobos masuk halaman DPRP. Pasukan gabungan TNI/Polri yang berjaga-jaga sejak pagi menangkap warga yang menerobos masuk DPRP.

Polisi juga menangkap koordinator demo, Buchtar Tabuni. Selain, Victor F. Yemo, Nake Logo, Lisa Sani, Sonny Suhu, Makeminik, Haliek Hano, Noni Ena, Namene Elopere, Edison Payage, dan Marthen Windey. Mereka dibawa ke Markas Polres Jayapura.

Kepala Satuan Reserse Kriminal Polres Kota
Jayapura yang dihubungi Senin (20/10) siang mengaku belum tahu perkembangan pemeriksaan yang ditangkap. “Saya belum tahu soal itu,” kata Takamuly.

Dihubungi terpisah, Kepala Polsek Abepura Ajun Komisaris Polisi Dominggus Rumaropen, Senin siang mengatakan situasi Abepura masih aman tidak terpengaruh aksi demo dan penangkapan sejumlah warga pendemo di Taman Imbi.

“Sejak pagi kami sudah mengantisipasi beberapa titik,” kata Rumaropen, yang sebelumnya dibuat repot oleh ribuan pendemo di Taman Expo Waena, Jayapura.

Tjahjono Ep.

Gelar Demonstrasi, Sepuluh Aktivis Papua Ditangkap

TEMPO Interaktif, Jayapura: Sekitar 10 aktivis Papua, Senin (20/10), ditangkap polisi karena menggelar aksi di Kantor Dewan Perwakilan Rakyat Papua di Jayapura sekitar pukul 11.25 waktu setempat.

Puluhan warga menggelar aksi di Taman Imbi Jayapura, Mereka membawa pesan mendukung pembahasan persoalan Papua di Parlemen Inggris.

Usai membacakan pernyataan sikap, seorang berpakaian adat menerobos masuk halaman DPRP. Tidak ingin terjadi masalah, pasukan gabungan TNI/Polri yang berjaga-jaga sejak pagi langsung menangkapi warga yang menerobos.

Polisi juga menangkap koordinator demo Buchtar Tabuni, Victor F. Yemo, Nake Logo, Lisa Sani, Sonny Suhu, Makeminik, Haliek Hano, Noni Ena, Namene Elopere, Edison Payage, dan Marthen Windey. Mereka dibawa ke Markas Polres Jayapura.

Kepala Satuan Reserse Kriminal Polres Kota Jayapura yang dihubungi Senin siang mengaku belum tahu perkembangan pemeriksaan yang ditangkap. “Saya belum tahu soal itu,” kata Takamuly.

Dihubungi terpisah, Kapolsek Abepura, Ajun Komisaris Polisi Dominggus Rumaropen, Senin siang mengatakan situasi Abepura masih aman terkendali.

“Sejak pagi kami sudah mengantisipasi beberapa titik,” kata Rumaropen, yang sebelumnya dibuat repot oleh ribuan pendemo di Taman Expo Waena, Jayapura.

Tjahjono Ep

Bintang Kejora Berkibar

Ditulis Oleh: Ant/Papos
Kamis, 16 Oktober 2008

JAYAPURA (PAPOS) -Bendera “Bintang Kejora” dikibarkan sekelompok warga masyarakat Nabire, Kabupaten Nabire pada, Rabu (15/10) dini hari, sekitar Pkl.03.00 WIT. Seperti dilansir Koran ini dari Antara di Jayapura tadi malam, pengibaran bendera Bintang Kejora itu berlangsung ketika kota Nabire sedang diguyur hujan lebat dan listrik PLN padam, sehingga kota Nabire berada dalam keadaan gelap gulita.

Pengibaran bendera berlangsung di empat lokasi dan dua di antaranya yakni di depan Kantor DPRD Nabire dan Kantor Bupati Nabire. “Para pelaku pengibaran bendera itu belum diketahui aparat keamanan Polres Nabire namun lima orang warga telah dimintai keterangan. Mereka adalah penjaga keamanan di Kantor Bupati Nabire, Kantor DPRD Nabire dan penjaga keamanan di Kantor Dinas Pariwisata Nabire,” kata Kapolres Nabire AKBP Rianto.

Kapolres Rianto mengatakan, kejadian pengibaran bendera Bintang Kejora baru diketahui sekitar Pkl.05.00 WIT oleh aparat keamanan gabungan Polres Nabire dan TNI yang melakukan patroli rutin di wilayah itu. “Empat lembar bendera Bintang Kejora berukuran kecil telah disita aparat keamanan,” kata AKBP Rianto.(ant)

Bintang Kejora Dikibarkan di Asrama Papua, Yogyakarta, Indonesia

Sebagai dukungan terhadap Peluncuran Interparliamentary Group for West Papua di London, Inggris, Bendera Bintang Kejora dikibarkan dari pukul 04 dinihari tanggal 17 Oktober 2008 dan diturunkan oleh Kepolosian kolonial Indonesia pada pukul 07:00 pagi.

Dari pantauan SPMNews terlihat sejumlah anggota Brimob berkeliaran tetapi tidak berbuat apa-apa.

Ketika para pengibar dihubungi, mereka katakan, ini hari penting dalam sejarah diplomasi Papua Merdeka di luar negeri, maka kita harus memberitahu kepada NKRI bahwa Asrama ini adalah sebidang tanah milik bangsa Papua yang harganya telah dibayar lunas dan statusnya milik bangsa Papua selama-salamnya. Jadi, setelah kemerdekaan, gedung dan tanah ini akan dijadikan sebagai Kantor Kedutaan Papua Barat di wilayah NKRI.

Oleh karena itu, dalam peristiwa penting begini harus dikibarkan,” kata para pengibar Bendera.

Bintang Kejora Berkibar di Asrama Papua, Yogyakarta

Bintang Kejora berkibar di Asrama Papua, Yogyakarta, Indonesia tanggal 16 Oktober 2008, mulai pukul 04:00 sampai diturunkan oleh anggota Polri setempat pada pukul 07:00.

Sejumalh anggota Brimob terlihat berkendaraan dan mondar-mandir sekitar Asrama Papua di pagi itu.

SPMNews mencari informasi, pengibar bendera katakan, “Kami bangsa Papua telah berjuang lama dan kini selangkah semakin maju. Kemajuan yang terjadi perlu diberikan dukungan oleh kami di Asrama Papua juga. Maka kami memberikan dukungan dengan mengibarkan Bendera Negara kami.”

Setelah berdiskusi sejanak, sang pengibar bendera juga menyatakan, “Asrama ini tanah milik bangsa Papua, sudah dibayar lunas. Tidak sama dengan tanah Papua yang dirampas itu. Jadi, ini tanah kami, maka kami berhak menaikkan dan menurunkan Bendera Negara kami. Setelah Papua Merdeka, tanah dan gedung ini akan menjadi Kantor Kedutaan Papua Barat di Pulau Jawa.”

Demikian sekilas info.

Diburu Aktor Intelektual Pengibaran Bintang Kejora

TIMIKA (PAPOS) –Meski MM dan PK telah resmi ditetapkan sebagai pelaku pengibaran bendera Bintang Kejora di Kwamki Baru Timika, namun Polisi masih terus memburu otak dibalik layar pengibaran bendera sparatis tersebut pada Selasa (23/9) lalu. Sementara 16 warga lainnya yang ditangkap bersamaan, statusnya hanya sebagai saksi dan mereka telah diijinkan pulang ke rumahnya masing-masing. MM dan PK oleh Polis dijerat pasal 106 dan 107 KUH Pidana tentang Makar, dan Undang-Undang Darurat Nomor 12 Tahun 1951 tentang Larangan Membawa Senjata Tajam.

Menurut Kapolres Mimika AKBP Godhelp C Mansnembra, pihaknya masih mengembangkan kasus untuk mengungkap aktor intelektual dibalik aksi pengibaran bendera berlambang sparatis tersebut.

Dari tangan MM dan PK polisi berhasil menyita barang bukti berupa Handphone (Hp), puluhan busur dan panah, dua buah senapan angin jenis CIS, serta beberapa buah parang dan benda tajam lainnya termasuk satu Bendera Bintang Kejora berukuran 130 x 50 cm.

Ditulis Oleh: Husyen/Papos, Senin, 06 Oktober 2008

Pengibaran Bintang Kejora Buktikan Separatisme Masih Ada

JAKARTA, SELASA – Panglima TNI Jenderal TNI Djoko Santoso menyatakan, pengibaran bendera Bintang Kejora di Wamena, bukti masih adanya kegiatan separatisme di Papua.

“Pengibaran bendera selain ’Merah Putih’ di Republik ini, jelas bentuk separatisme,” katanya usai menghadiri seminar “Strategi Keamanan Menjelang Pemilu 2009” di Jakarta, Selasa.

Terkait insiden Wamena, Djoko menegaskan, TNI belum akan mengirimkan pasukan tambahan ke Papua. “Insiden itu lebih pada persoalan hukum, jadi kita serahkan saja penanganannya pada kewenganan hukum,” ujarnya.

Sabtu (9/8), peringatan Hari Penduduk Pribumi Sedunia di Wamena, Papua, yang digelar kelompok Dewan Adat Papua (DAP) yang semula berlangsung tertib berakhir rusuh menyusul pengibaran tiga bendera, Merah Putih, bendera PBB, dan bendera Bintang Kejora.

Ketika akan diturunkan oleh anggota (polisi), tiba-tiba ada sekelompok orang yang melempar anggota dengan batu. Bahkan, Kepala Kepolisian Resor Wamena Ajun Komisaris Besar Azis terkena panah di sepatunya.

Situasi makin memanas, hingga Anthonius Tabuni (40), warga asli Papua, tewas. Terkait itu, Badan

Bintang Kejora
Bintang Kejora
Reserse Kriminal atau Bareskrim Mabes Polri, Senin (11/8), menyelidiki penyebab tewasnya Anthonius dengan mengirimkan tim khusus yang terdiri atas bagian reserse, intel, serta tim laboratorium dan forensik.

Bintang Kejora Berkibar di Wamena

Bintang Kejora Berkibar
Bintang Kejora Berkibar
JAYAPURA, SABTU – Kapolda Papua Irjen Pol FX Bagus Ekodanto menegaskan, pihaknya akan meminta pertanggungjawaban Dewan Adat Papua (DAP) atas pengibaran bendera “Bintang Kejora” di Wamena, ibu kota Kabupaten Jayawijaya, Provinsi Papua pada pukul 14.55 WIT, Sabtu (9/8).

Pertanggungjawaban itu diminta karena acara peringatan Hari Internasional Hak-Hak Masyarakat Pribumi yang dipusatkan di lapangan Sinabuk, Wamena itu sebelumnya sudah dilarang dan tidak diizinkan.

“Namun ternyata mereka tetap menggelar acara tersebut dan mengibarkan bendera Bintang Kejora dan bendera PBB serta bendera Merah Putih sehingga aparat berupaya menurunkannya,” ujar Kapolda ketika dihubungi melalui telepon selularnya.

Menurut Ekodanto, dari laporan terungkap bendera berhasil diturunkan dan situasi Kamtibmas masih terkendali.

Ketika ditanya tentang adanya warga sipil yang tewas kena tembakan, Kapolda dengan tegas mengatakan dirinya belum mendapat laporan. “Yang pasti saat ini situasi sudah dapat dikendalikan,” katanya.

Bintang Kejora Kembali Berkibar di Papua

Moksa Hutasoit – detikNews

Jakarta – Bendera Bintang Kejora kembali berkibar di Kabupaten Fak-Fak, Provinsi Papua Barat. Polisi telah menahan sejumlah orang yang diduga ikut terlibat dalam pengibaran bendera Papua Merdeka.

“Pukul 04.00 Wita, bendera Bintang Kejora dinaikan,” ujar Kadiv Humas Mabes Polri, Irjen Abubakar Nataprawira saat dihubungi detikcom, Sabtu (19/07/08).

Menurut Abubakar, pihaknya telah menahan 41 orang yang diduga ikut terlibat dalam kejadian tersebut. Namun hingga saat ini belum ada satu pun yang telah ditetapkan menjadi tersangka.

“Ada 41 orang yang ditahan, tapi belum ada yang jadi tersangka,” jelas Abubakar.

Bendera Bintang Kejora dijadikan sebagai simbol bagi kelompok separatis Organisasi Papua Merdeka (OPM). Pemerintah Indonesia telah melarang keras adanya pengibaran bendera simbol kedaulatan lain selain bendera Merah Putih.
(mok/anw)

Up ↑

Wantok Coffee

Melanesia Single Origin Coffee

MAMA Minimart

MAMA Stap, na Yumi Stap!

PT Kimarek Aruwam Agorik

Just another WordPress.com site

Wantok Coffee News

Melanesia Foods and Beverages News

Perempuan Papua

Melahirkan, Merawat dan Menyambut

UUDS ULMWP

for a Free and Independent West Papua

UUDS ULMWP 2020

Memagari untuk Membebaskan Tanah dan Bangsa Papua!

Melanesia Spirit & Nature News

Promoting the Melanesian Way Conservation

Kotokay

The Roof of the Melanesian Elders

Eight Plus One Ministry

To Spread the Gospel, from Melanesia to Indonesia!

Koteka

This is My Origin and My Destiny