Yang Terjadi Di Papua Sejak Tahun 1990 ( Tahun 1991- 1992 )

Anggota TPN/OPM (http://suarabaptis.blogspot.com)

Jayapura – Beberapa peristiwa penting yang terjadi di Papua sejak tahun 1990 masih memberikan pengaruh hingga saat ini. Salah satunya adalah konflik bersenjata antara militer Indonesia dengan TPN/OPM.

Berikut adalah beberapa peristiwa penting tersebut yang terjadi pada tahun 1991 hingga 1992.

Mei 1991
Sebuah keputusan pengadilan Indonesia ditetapkan kepada seorang pilot Swiss secara in absentia. Pilot ini dihukum enam tahun penjara. Sang pilot diduga mendaratkan pesawat Cessna di daerah perbatasan dengan amunisi dan kamera untuk TPN/OPM. Pilot ini diyakini bersembunyi di hutan atau telah menyelinap ke negara lain melalui PNG .

Agustus 1991
Seorang pemimpin Organisasi Papua Merdeka (OPM), Melkianus Salossa, yang melarikan diri dari penjara pada awal bulan ini, ditemukan tewas di hutan Papua Barat. Dia dijatuhi hukuman penjara seumur hidup oleh pengadilan Indonesia pada bulan Maret 1991, setelah ia ditangkap di PNG pada bulan Mei 1990 dan dideportasi ke Indonesia .

November 1991
Tentara Indonesia membunuh tiga gerilyawan TPN/OPM dalam bentrokan di hutan pedalaman Papua. Pasukan TNI juga mengumpulkan senjata dan amunisi dari para anggota TPN/OPM ini.

Januari 1992
Menteri Luar Negeri PNG Sir Michael Somare menegaskan kembali komitmen negaranya untuk menjaga hubungan erat dan hangat dengan Indonesia. Menteri juga mengulangi penolakan pemerintahnya untuk mendukung perjuangan OPM, dengan memerintahkan mereka kembali ke Indonesia . Indonesia percaya bahwa PNG menawarkan perlindungan kepada para anggota TPN/OPM.

Maret 1992
Pejabat Indonesia dan PNG bertemu untuk membahas masuknya ratusan pengungsi yang melarikan diri ke daerah perbatasan menyusul bentrokan antara TPN/OPM dan pasukan Indonesia. Ada sekitar 6.500 pengungsi di kamp-kamp PBB di daerah perbatasan PNG. Pasukan Indonesia mengklaim bahwa anggota TPN/OPM yang keluar untuk mengganggu pemilihan umum Indonesia saat itu ditahan di tahanan Papua.

Juli 1992
Pemerintah Indonesia mempromosikan 13 tentara yang terlibat dalam pembunuhan seorang pemimpin TPN/OPM bulan Juni 2013 .

Agustus 1992
Indonesia mencapai kesepakatan dengan PNG untuk membuka Konsulat di Vanimo. Pada bulan yang sama, Otoritas Indonesia menjatuhkan hukuman penjara selama delapan tahun kepada Bendahara Yayasan Pendidikan Kristen, yang dinyatakan bersalah melakukan tindakan subversi membantu pemberontak OPM dengan senjata dan makanan. Pemerintah Indonesia mengklaim bahwa 44 pemberontak telah menyerah dalam beberapa bulan terakhir kepada pasukan keamanan Indonesia. Komandan militer Papua (saat itu Irian Jaya) telah mengesampingkan kompromi dengan anggota TPN/OPM.

November 1992
Kepala Angkatan Darat Indonesia, Jenderal Eddi Sudradjat, telah menyerukan untuk mengejar anggota TPN/OPM . Dia mengatakan kepada sekelompok perwira milite, ” Kita harus memberikan perhatian serius untuk mengatasi gangguan keamanan ini, sekali dan untuk seluruhnya.” ( United Press Int’l , 11/17/92 ). (Jubi/Victor Mambor)

Sumber : Minorities at Risk

October 29, 2013,TJ

Sikapi Kekerasan Militer Di Papua, AMP Akan Gelar Aksi Serentak Di Jawa

Logo AMP

Yogyakarta – Guna menyikapi berbagai kasus Pelanggaran HAM dan kekerasan yang dilakukan oleh aparat Militer Indonesia ( TNI – Polri ) terhadap rakyat Papua yang terus menerus terjadi hingga saat ini, maka Mahasiswa Papua yang tergabung dalam Aliansi Mahasiswa Papua [AMP] berencana melakukan aksi serentak pada hari, Senin (21/10/2013 ) di beberapa kota di wilayah Jawa.

Aksi ini merupakan bentuk penyikapan yang dilakukan oleh Mahasiswa Papua yang berada di daerah Jawa atas tindakan kekerasan dan Pelanggaran HAM yang dilakukan Oleh aparat Militer Indonesia yang sedang bertugas di Papua. Dalam seruan aksi yang dikeluarakan  AMP pada blog : ampjogja.blogspot.com, menyebutkan bahwa 

” Dalam tahun 2013 ini, sudah terjadi beberapa kasus kejahatan terhadap kemanusiaan yang dilakukan militer (TNI/Polri) terhadap rakyat Papua. Dikabupaten Deiyai pada 1 Juni 2013 terjadi pembunuhan terhadap Yemi Pakage (16 tahun) oleh oknum Brimob, kemudian penganiayaan, penyiksaan terhadap Pontianus Madai (31 tahun) oleh Brimob pada 26 Juli 2013 yang dilakukan oleh 3 Oknum berpakaian Brimob dan 2 orang yang berpakaian preman. Lagi pada 23 September 2013 penembakan oleh aparat polisi dan brimob terhadap kerumunan warga dipasar wagete yang mengakibatkan siswa SMA atas nama Alpius Mote (18 tahun) tertembak dan meninggal dunia, dan Fransiscus Dogopia (27 tahun) anggota Satpol PP, mengalami luka tembak di punggung belakang, Aleks Mote (29 tahun) petani, mengalami luka tembak di kaki “.

Dengan melihat situasi ini maka, Aliansi Mahasiswa Papua [AMP] mengajak seluruh elemen Rakyat Papua yang ada di wilayah Jawa untuk dapat terlibat dalam aksi penyikapan ini. [rk]

Aksi Demo KNPB Dijaga Ketat

Demo KNPB di Ekspo Waena Memperingati HUT IPWP ke-5 dan menyambut hasil pidato PM Vanuatu, dijaga Ketat Aparat Kepolisian.JAYAPURA – Janji Parlemen Nasional West Papua (PNWP) dan Komite Nasional Papua Barat (KNPB) akan melakukan aksi demo setelah Idul Adha, diwujudkan Rabu (15/10), kemarin. Aksi ini, dalam rangka memperingati HUT International Parlementary West Papua (IPWP) ke-5 yang tepatnya jatuh pada Selasa (15/10) lalu dan juga menyambut hasil pidato dari Perdana Menteri (PM) Vanuatu di Sidang Umum PBB beberapa waktu lalu di Amerika Serikat (AS).

Awalnya, aksi demo ini sebenarnya dipusatkan di Makam Theys Hiyo Eluay, mendapatkan pengawalan ketat dan pemblokiran dari aparat keamanan baik TNI/Polri.

Dengan demikian, aksi demo ini hanya dilakukan di depan Museum Taman Budaya Ekspo, Waena, diikuti massa aksi demo KNPB berjumlah ratusan orang yang dijaga ketat aparat keamanan.

Hal itu diungkapkan Penanggung Jawab Aksi Demo yang juga merupakan Ketua PNWP Buchtar Tabuni didampingi Ketua I KNPB Agus Kossay, Juru Bicara (Jubir) KNPB Wim Rocky Medlama serta sejumlah pengurus KNPB lainnya, usai menggelar aksi demo di depan Museum Taman Budaya Ekspo, Kelurahan Waena, Distrik Heram, Rabu (16/10) kemarin sore.

Buchtar Tabuni sangat menyayangkan dan merasa sangat keberatan dengan surat pemberitahuan yang telah dilayangkan pihaknya (KNPB) kepada pihak kepolisian tentang aksi demo yang akan dilaksanakan di Lapangan Makam Alm. Theys Hiyo Eluay yang tidak diberikan ijin.

“Kami sangat keberatan dengan surat pemberitahuan yang telah kami layangkan kepada pihak kepolisian untuk melakukan aksi demo damai yang tak diberikan ijin oleh aparat kepolisian tersebut,” kesalnya.
Lanjut Buchtar yang juga merupakan Ketua PNWP mengakatan, aksi tersebut dalam rangka memperingati HUT IPWP ke-5 yang jatuh pada 15 Oktober 2013 lalu, namun karena bertepatan dengan Hari Raya Idul Adha 1434 H, maka aksi demo damai itu pihaknya undur sehari sehingga dilaksanakan Rabu (16/10) kemarin pagi.
Kata Buchtar, aparat keamanan dalam hal ini TNI/Polri telah memasang tenda tenda di Lapangan Makam Alm. Theys Hiyo Eluay dan itu merupakan suatu bentuk kegiatan untuk menggagalkan apa yang akan dilakukan pihaknya tersebut.

Maka untuk menghindari gesekan-gesekan maupun benturan-benturan dengan TNI/Polri, sehingga massa aksi demo KNPB dialihkan aksi demo damai dalam bentuk mimbar bebas di depan Museum Taman Budaya Ekspo ini.

“Jadi, tujuan kami adalah memberikan ucapan terimakasih kepada Perdana Menteri (PM) Vanuatu Moanan Kalosil Carcasses yang telah menyampaikan pidato tentang kemanusiaan dan penentuan nasib sendiri (Self Determination) bagi Bangsa Papua Barat dalam Sidang Umum PBB pada 28 September lalu. Selain itu juga, kami rangkai dengan memperingati HUT IPWP ke-5 yang jatuh Selasa (15/10) lalu,” jelasnya.

Ia mengatakan, bahwa Ketua Umum Pusat IPWP Andrew Smith telah melakukan pertemuan dengan beberapa partai yang ada di Kerajaan Inggris, yang mana membahas permasalahan Papua yang terjadi saat ini. Sehingga aksi hari ini (kemarin) akan kami laporkan kepada tuan Andrew Smith di Kerajaan Inggris.

Ketika wartawan Koran ini menanyakan terkait diijinkannya jurnalis asing masuk ke Papua, Buchtar menyampaikan bahwa itu merupakan hal-hal yang wajar atau sah-sah saja.

“Namun kami baik dari KNPB maupun PNWP tak akan pernah memberikan informasi tentang permasalahan Papua saat ini kepada jurnalis asing yang nantinya akan masuk ke Papua, dikarenakan kami akan mengikuti prosedur dan ketentuan-ketentuan terlebih dahulu yang mana nantinya akan berpihak kepada NKRI,” tukasnya.

Sementara itu ditempat yang sama, salah satu pengurus KNPB dalam orasinya menyampaikan, bahwa rakyat Papua Barat tetap satu komando dan satu tujuan untuk melakukan aksi demo bersama KNPB bahwa Papua hari ini (kemarin) telah dibungkam dan ditindas diatas tanahnya sendiri.

“Jadi, hari ini (kemarin) sudah terbukti bahwa KNPB dan seluruh rakyat Papua Barat serta dunia internasional sudah mengetahui adanya tentang pembungkaman dan penindasan oleh orang asli Papua (OAP),” tegasnya.

Ia mengatakan, bahwa masalah Papua ‘Merdeka’ bukanlah masalah pejabat-pejabat yang ada di Papua baik itu bupati, walikota maupun gubernur tapi masalah Papua ‘Merdeka’ adalah masalah ideology rakyat Bangsa Papua Barat.

“Hari ini (kemarin) kita telah berjuang bersama-sama demi tanah Bangsa Papua Barat yang dikoordinir oleh KNPB dan PNWP. Maka itu kami menolak adanya NKRI diatas tanah ini, sebab kami sudah Merdeka dan sudah bisa menentukan nasib sendiri (Self Determination),” ujarnya.

“Kami tidak memerlukan pihak kepolisian buat memfasilitasi setiap aksi demo damai yang akan kami lakukan, sebab kami tidak mau menerima uang haram dan uang yang selalu memeras orang asli Papua,” katanya dengan nada keras.

Ia mengatakan, bahwa orang asli Papua tidak meminta Otsus karena Otsus merupakan sumber malapetaka bagi orang asli Papua salah satunya contohnya adalah banyaknya beredar minuman keras (Miras) dan virus mematikan HIV/AIDS.

“Dimana, orang Indonesia yang merupakan ras Melayu tidak pernah membutuhkan orang asli Papua melainkan hanya membutuhkan emas atau SDA yang ada di Papua,” ungkapnya.

Senada dengan hal itu, Ketua PRD Kaimana Muhammad Urika mengucapkan terimakasih kepada Ketua IPWP Andrew Smith dan negara-negara yang ada di dunia karena bendera Bintang Kejora telah berkibar di PBB yang sederajat satu tiang dengan bendera-bendera lain yang ada di dunia ini.

Senada dengan hal itu juga, salah satu anggota KNPB Ucak Logo dalam orasinya mengatakan, bahwa Papua ‘Merdeka’ itulah tujuan dari rakyat Papua Barat untuk dpaat hidup sejahtera dan terbebas dari segala penindasan penjajah NKRI diatas Tanah Bangsa Papua Barat.

“Dimana, aksi demo yang memperjuangkan Papua ‘Merdeka’ itu bisa memperkuat posisi Papua Barat di PBB maupun di dunia internasional, sehingga seluruh dunia bisa menilai dan juga bisa menegur segala tindakan penindasan maupun kekerasan yang dilakukan oleh penjajah NKRI tersebut,” tegasnya.

Sementara ditempat yang sama, Kapolres Jayapura Kota AKBP Alfred Papare, S.IK., melalui Wakapolres Jayapura Kota Kompol Kiki Kurnia mengatakan, pihaknya sangat berharap kepada massa aksi demo untuk mematuhi peraturan UU yang ada diatas negara Indonesia ini.

Lanjutnya, Otsus dan kesejahteraan di Papua sudah bisa dilihat bahwa yang menjadi pejabat seperti gubernur yang ada di Papua adalah orang asli Papua.

“Kami tidak pernah melakukan pembungkaman atau penindasan terhadap masyarakat Papua Barat melainkan yang kami dalam hal ini kepolisian lakukan adalah memberikan pelayanan terhadap masyarakat banyak dan terlebih khususnya kepada masyarakat asli Papua,” tukasnya.

Berdasarkan pantauan Bintang Papua di lapangan juga membawa sejumlah spanduk maupun pamflet yang bertuliskan segera hentikan pengdropan aparat militer baik organik maupun non organik diseluruh wilayah Papua Barat, rakyat Papua Barat mengucapkan terimakasih kepada PM Vanuatu yang membawa masalah Papua Barat dalam Sidang PBB dan mendesak PBB segera meninjau ulang status politik Papua Barat Tahun 1969 yang dinilai telah cacat hukum dan moral.

Tepat pukul 13.30 WIT aksi demo ini ditutup dengan ibadah doa yang dibawakan oleh Pdt. Timotius Idie dan ratusan massa aksi demo pun membubarkan diri dengan tertib. (Mir/don/l03)

Kamis, 17 Oktober 2013 06:38, BintangPapua.com

Enhanced by Zemanta

Demo KNPB di Yahukimo, 1 Tewas dan 2 Kritis

Kabid Humas Polda Papua AKBP Sulistyo Pudjo Hartono, S.I.K.JAYAPURA–Demo Komite Nasional Papua Barat (KNPB) di Kantor Bupati Lama Kabupaten Yahukimo, Dekay Rabu (16/10), untuk mendukung pidato Perdana Menteri Vanuatum Moana Kalosil Carcasses pada Sabtu (28/9) dan meminta PBB menunjuk seorang Wakil Khusus untuk menyelidiki pelanggaran HAM di Papua dan status politik yang cacat hukum dan moral, berakhir rusuh antara massa KNPB dengan massa Suku Kimial. Rusuh ini dipicu kasus dugaan perselingkuhan. Akibatnya, anggota KNPB yangberinisial TS dilaporkan tewas.

Sedangkan DS dan YB mengalami kritis dan tengah dirawat intensif di RSUD Dekay.

Demikian disampaikan Kabid Humas Polda Papua AKBP Sulistyo Pudjo Hartono, S.I.K., diruang kerjanya, Rabu (16/10). Dikatakan Kabid, massa berjumlah sekitar 250 orang menggelar aksi demo KNPB di Kantor Bupati Lama Yahukimo di Dekay, Rabu (16/10) dipimpin SP dan YP. Massa melakukan jalan kaki (long march) dari Jalan Gunung dan Ruko ke Kantor Bupati Lama Yahukimo.

Aksi demo KNPB awalnya berlangsung aman. Kemudian sekitar pukul 12.00 WIT massa dari Suku Kimial dipimpin EM mencari TS dan MM, anggota KNPB yang sedang demo. Pasalnya, TS dan MM diduga telah selingkuh dengan istri EM inisial NK. Setelah ketemu, EM kontan mengejar TS sekaligus menikam menggunakan benda tajam sebanyak tiga kali mengenai dada kanan tembus punggung, pinggang kiri dan paha kanan sehingga tewas seketika.

Tak hanya itu, rekan TS lainnya inisial DS merasa cemburu dengan VL yang bersama mantan istrinya inisial YBkemudian DS berusaha menampar mantan istrinya. VL marah sekaligus mengejar DS dan menikam mengenai kuping mengakibatkan yang bersangkutan kritis.

Aksi kerusuhan tak berhenti, tapi dilanjutkan aksi baku kejar dan baku lempar sepanjang jalan antara massa KNPB dan Suku Kimial, karena massa KNPB marah karena massa Suku Kimial mengganggu jalannya aksi demo. Sementara itu, massa Suku Kimial marah karena dia ingin mencari TS dilarang oleh massa KNPB. Selanjutnya, terjadi aksi baku panah mengakibatkan YB mengalami luka panah di bagian pantat.

Di tengah aksi kerusuhan, ujar Kabid, anggota Polres Yahukimo segera melakukan Olah TKP, mengamankan barang bukti serta membawa para korban ke RSUD Dekay.

“Kami juga menahan tersangka EM, guna proses lebih lanjut sekaligus mengejar FL yang melarikan diri atau DPO,” ujar Kabid.

Kabid menjelaskan, pasca aksi kerusuhan massa membubarkan diri dengan tertib, sedangkan situasi keamanan dan ketertiban di Yahukimo berangsur pulih. (mdc/don/l03/@dv)

Kamis, 17 Oktober 2013 06:54, BintangPapua.com

Enhanced by Zemanta

IPWP Luncurkan All Party Parliamentary Group for West Papua

IPWP Luncurkan All Party Parliamentary Group for West Papua

London — Dalam rangka memperingati HUT IPWP ke-5, di London 15 Oktober 2013 waktu London, IPWP meluncurkan sebuah grup bernama All Party Parliamentary Group for West Papua, atau Grup Parlemen dari Semua Partai untuk Papua Barat, yang terdiri dari anggota parlemen Inggris yang diambil dari setiap partai politik.

Seperti diberitakan di situs resmi IPWP, grup ini akan mengadakan pertemuan rutin, membahas dua situasi yakni hak asasi manusia (HAM) dan status politik Papua Barat.

Pertemuan pertama grup ini, sesuai dengan kalender Parlemen tahun ini akan berlangsung pada hari Rabu 16 Oktober dari jam 5 sampai 6 sore di Gedung Parlemen Inggris.

Ini Fokus Utama All Party Parliamentary Group for West Papua

Bidang dan fokus utama dari Grup ini, seperti diberitakan situs resmi IPWP, ipwp.org adalah:

Pertama, PENENTUAN NASIB SENDIRI; dengan menyerukan penentuan pendapat rakyat Papua ulang (referendum ulang), yang memenuhi standar yang diakui internasional , dalam bentuk referendum baru yang bebas, dan diawasi PBB.

Kedua, DIALOG; dengan menyerukan kepada Pemerintah Indonesia untuk menyelenggarakan dialog dengan bangsa Papua. Dialog dimaksud adalah yang dimediasi pihak ketiga dari dunia internasional, tanpa pra kondisi, dengan sungguh-sungguh, dengan representasi pemimpin Papua Barat, yang mana sampai saat ini ditolak oleh Indonesia.

Ketiga, AKSES; dimana pemerintah Indonesia sangat membatasi akses ke Papua Barat bagi wartawan asing dan pengamat hak asasi manusia internasional, termasuk Amnesty International .

Keempat, DEMILITERISASI; sebagai langkah pertama menuju perdamaian, Papua Barat menghimbau Pemerintah Indonesia untuk menghentikan semua rencana penambahan militernya (TNI) untuk hadir di Papua Barat dan segera menarik TNI, Polisi paramiliter (Brimob) dan agen intelijen (BIN) keluar dari tanah Papua.

Kelima, KEBEBASAN BEREKSPRESI; pemerintah Indonesia saat ini sangat membatasi orang Papua Barat untuk melaksanakan hak berekspresi, berkumpul dan bermufakat dengan bebas, terutama dalam kaitannya dengan demonstrasi damai mendukung kemerdekaan bagi Papua Barat.

Dalam hal ini, Indonesia saat ini melanggar kewajibannya berdasarkan Kovenan Internasional tentang Hak Sipil dan Politik yang ditandatangani pada tahun 2006. (BT/MS)

Senin, 14 Oktober 2013 15:36,MS

Buka Ruang Demokrasi Bagi Rakyat Papua

Selasa, 08 Oktober 2013 00:09, Ditulis oleh Frm/Papos

JAYAPuluhan mahasiswa yang menamakan diri Solidaritas Pemuda dan Mahasiswa Peduli Demokrasi (SPMPD) menggelar demo di gedung DPR Papua, Senin (7/10).PURA[PAPOS]-Puluhan mahasiswa yang tergabung dalam Solidaritas Pemuda dan Mahasiswa Peduli Demokrasi (SPMPD) menggelar demo damai di gedung DPR Papua, Senin (7/10). Dalam demo tersebut mereka mendesak pemerintah pusat dan provinsi untuk membuka ruang demokrasi bagi rakyat Papua.

“Selama ini ruang demokrasi untuk menyampaikan hak dan pendapat tak berjalan dengan baik. Saat ini pemerintah harus melihat hal ini,” ucap salah satu pendemo saat menyampaikan aspirasi di halaman gedung DPR Papua.

Menurutnya, selama ini masyarakat Papua, khususnya mahasiswa mau menyampaikan pendapatnya soal hal-hal yang prinsip tak bisa dilaksanakan.”Sejak Desember tahun 2012 lalu baru kali ini mahasiswa ke DPR Papua untuk menyampaikan aspirasi. Ini menandakan demokrasi tak berjalan,” ujarnya.

Ia berharap DPR Papua sebagai penyambung aspirasi masyarakat bisa mengakomodir persoalan ini sehingga pemerintah provinsi Papua maupun Pusat tidak menutup mata melihat keadaan yang terjadi ini.

“Selama ini jika kami ingin melakukan aksi sulit mendapat ijin dari pihak yang berwenang,” tambah salah satu pendemo.

Selain meminta untuk dibukanya ruang demokrasi, mahasiswa juga meminta pemerintah pusat untuk tidak menangkap para aktivis. Membebaskan tapol dan napol tanpa syarat sebagai bentuk menjunjung tinggi demokrasi di Indonesia.

Membuka kesempatan kepada media internasional ke Papua. Dan menolak kebijakan Pemprov Papua dengan program otsus plus sebab itu merupakan copi paste dari undang-undang pemerintahan Aceh.

Setelah berorasi hampir satu jam, akhirnya puluhan mahasiswa itu diterima ketua Komisi E DPR Papua, Kenius Kogoya bersama anggotanya. Kenius Kogoya mengatakan pada prinsipnya pihaknya akan menerima aspirasi mahasiswa dan disampaikan kepada pimpinan DPR Papua.

Menurut Kenius, setiap orang maupun berhak untuk menyampaikan aspirasinya sebab itu dijamin oleh undang-undang sehingga tidak bisa dilarang.

Sementara Kapolresta Jayapura, AKBP Alfred Papare menegaskan, pihak kepolisian tidak melarang mahasiswa untuk menggelar demo. Hanya saja demo juga tidak mengorbankan kepentingan umum.

“Sepanjang demo untuk hal-hal yang positif kami tidak akan melarang. Surat ijin tetap akan diberikan,” imbuh Kapolresta Alfred.

Kapolres Afred juag membantah menahan mahasiswa yang hendak menggelar demo.”Mahasiswa yang sempat ditahan itu karena tidak memiliki SIM dan STNK saat akan ikut dalam aksi demo,” jelas Kapolresta Alfred.[frm]

Vanuatu Minta PBB Akui Kesalahan Sejarah atas West Papua

 

Jayapura, 29/09 (Jubi) – “Bahkan karena Act of Free Choice (Pepera-Red) yang kontroversial, rakyat Papua Barat hingga hari ini selalu ditolak untuk diakui secara sosial oleh PBB,” kata Moana Karkas Kalosil kepada Debat Umum tahunan Majelis Umum Perserikatan Bangsa-Bangsa, 28 September 2013.

Moana menyatakan PBB telah secara konsisten membantah pengakuan untuk Papua Barat. Untuk itu, ia meminta PBB menunjuk seorang Wakil Khusus agar menyelidiki dugaan pelanggaran hak asasi manusia di propinsi Papua dan Papua Barat dan status politik Papua Barat.

“Kita sekarang berunding tentang masalah Suriah , tapi ketika datang ke masalah hak-hak rakyat Papua Barat , suara kami dimatikan bahkan di podium ini.” kata Kalosil dihadapan anggota majelis umum PBB

Kalosil meminta negara-negara anggota PBB untuk tidak terlalu khawatir dengan kesalahan sejarah yang menghasilkan “kesalahan” Act of Free Choice pada Rakyat Papua Barat. Sekarang adalah saatnya untuk memperbaiki kesalahan tersebut. Karena dengan memperbaiki kesalahan, maka solidaritas PBB akan semakin kuat.

“Bagaimana kita kemudian mengabaikan ratusan ribu orang Papua Barat yang telah secara brutal dipukuli dan dibunuh? Orang-orang Papua Barat meminta PBB bertindak sebagai mercusuar harapan … Mari kita, dengan keyakinan moral yang sama menghasilkan dukungan terhadap penderitaan orang Papua Barat. Sudah saatnya bagi PBB untuk beraksi dan memperbaiki beberapa kesalahan sejarah.” lanjut Kalosil.

Pada bulan Mei Komisaris Tinggi PBB untuk Hak Asasi Manusia Navi Pillay menyuarakan keprihatinan atas tindakan kekerasan terhadap demonstrasi massa di provinsi Papua dan menyerukan kepada Pemerintah Indonesia untuk memungkinkan protes damai dan meminta pertanggungjawaban mereka yang bertanggung jawab atas kekerasan yang terjadi. ” Belum ada transparansi yang memadai dalam menangani pelanggaran hak asasi manusia berat di Papua, ” kata Kalosil .

“Jelas dari banyak catatan sejarah bahwa orang Melanesia di Papua Barat adalah kambing hitam politik perang dingin dan dikorbankan untuk memuaskan nafsu atas sumber daya alam yang dimiliki bangsa ini,” kata Kalosil.

Video pidato PM Vanuatu bisa dilihat disini http://www.un.org/apps/news/story.asp?NewsID=46117&Cr=indonesia&Cr1=#.UkePzj8fiNF (Jubi/Victor Mambor)

 

Source: Penulis : Victor Mambor on September 29, 2013, TabloidJubi.com

KNPB Mnukwar – Penolakan Surat Pemberitahuan Oleh KAPOLRES Manokwari pada Hari/Tanggal Rabu, 11 September 2013

Aksi demo KNPB dalam rangka memperingati Hari demokrasi internasional 16 september mendatang Komite Nasional Papua Barat wilayah mnukwar, telah memasukan surat Pemberitahuan Ke POLRES Manokwari pada Hari/tanggal, Selasa, 10 September 2013. namun kami Ketua KNPB Mnukwar dipanggil oleh KAPOLRES Mnukwar pada Hari/tanggal, Rabu, 11 Oktober 2013, Jam 10:10 WPB, dengan didampingi oleh satu orang anggota KNPB, langsung menghadap Ke KAPOLRES manokwari namun kapolres didampingi oleh Oleh DANDIM manokwari dan KASAT LANTAS dan Jajaranya, kami langsung bertemu didalam ruang Kerja KAPOLRES Manokwari, dengan tegas KAPOLERS Manokwari mengatakan bahwa surat pemberitahuan yang dikasih masuk oleh KNPB kami tolak dan tidak kami izinkan KNPB untuk melakukan longmars aksi demo damai dalam bebas berekspresi dan alasan yang klasik disampaikan oleh POLRES manokwari bahwa KNPB tidak terdaftar di KESBANGPOL, setelah itu KAPOLRES Manokwari memberikan kesempatan kepada DANDIM Manokwari, dengan tegas DANDIM Manokwari mengatakan bahwa, kami akan membatu dan membackup POLRES Manokwari dengan kasih turun Pasukan TNI untuk menghadang atau menindak tegas kepada KNPB dan Massa Rakyat Papua Barat apabila melakukan aksi demo damai dalam berekspresi.

Menanggapi dari Sikap KAPOLRES dan DANDIM Manokwari bahwa Ketua Komite Nasional Papua Barat “KNPB” Wilayah Mnukwar sesuai dengan hari demokrasi Internasional yang ditetapkan oleh oleh PBB pada tanggal 16 September 2013, bahwa kami akan tetap turun jalan dengan melakukan aksi demo damai dalam bebas berekspresi dan Bebas menyampaikan pendapat didepan umum atau publik baik lokal, nasional dan Internasional.

Dan Bagian LANTAS mengatakan bahwa aksi longmars juga akan macet lalulintas.

dan pada akhirnya kami sampaikan bahwa KNPB Mnukwar kami akan tetap turun jalan! dan Bapak POLRES dan DANDIM silakan bertindak sesuai dengan Perintah dan Kami KNPB akan tetap memperingati hari demokrasi internasional yang ditetapkan oleh PBB pada 16 September 2013.

Ketua MSG Serukan Para Pemimpin Tetap Dukung West Papua dan Kanaky

MSG Ketua Victor Tutugoro berbicara di MSG sekretariat upacara penyambutan pada Senin Ketua baru Melanesia Spearhead Group ( MSG ) , Victor Tutugoro , telah mendesak para pemimpin kelompok sub -regional Melanesia untuk menekan peran utama mereka dalam kampanye untuk mendukung liberalisasi politik Kanaky – Kaledonia Baru dan Papua Barat .

Tutugoro mengulangi desakan dalam pidatonya pada hari Senin saat upacara penyambutan untuk kunjungan resmi pertamanya ke markas sekretariat MSG di Port Vila, Vanuatu sejak asumsi ketua MSG pada bulan Juni tahun ini .

Para Juru bicara FLNKS juru dan ketua MSG mengunjungi ibukota Vanuatu pekan ini untuk putaran keterlibatan , ini termasuk mengunjungi kursi MSG untuk pertama kalinya dalam kapasitasnya sebagai ketua MSG dan pertemuan dengan pemimpin pemerintahan Vanuatu .

Dalam sambutannya beliau mengatakan ia berencana untuk mengunjungi semua ibukota negara-negara anggota MSG setelah Vanuatu untuk membahas ” lima tantangan utama ” yang , dalam pandangannya , kelompok Melanesia yang dihadapi saat ini.

”Yang pertama dari lima tantangan saya akan membahas dengan para pemimpin adalah kebutuhan untuk memperkuat dan mengembangkan kapasitas sumber daya manusia negara-negara MSG . Kedua , ketidakstabilan politik negara kita , ”

kata Tutugoro .

Hari ini , negara kita ditandai dengan ‘ negara-negara dengan ketidakstabilan politik ‘ nama . Kami ingin mengubah ini sekitar dikenal sebagai negara stabil secara politis, ” katanya .

Ketiga, ketua MSG mengatakan bahwa selama kunjungan yang direncanakan ke ibukota MSG ia akan memperkuat kebutuhan bagi negara-negara MSG tidak goyah dalam usahanya untuk mencapai beberapa bentuk pembebasan politik Kanaky dan Papua Barat dari Perancis dan Indonesia masing-masing.

”Selain itu , di Kanaky , kami ingin dukungan dari negara-negara Melanesia yang merdeka untuk tujuan pembebasan kami untuk terus karena dalam waktu dua tahun kami berencana untuk membuat tujuan kami untuk menjadi bagian dari Melanesia dan Pasifik secara keseluruhan kenyataan , ”

katanya terus .

Terakhir, ketua MSG baru mengatakan bahwa ia akan menekankan ”perlunya MSG untuk mulai serius mempertimbangkan mengubah sub – wilayah sekitar dan mempertimbangkan suatu Melanesia dalam waktu 50 sampai dengan 55 tahun” .

Hal ini diantisipasi poin ini akan disorot ketika ketua MSG menghadiri sidang khusus parlemen Vanuatu , Jumat . Pada akhir pekan , Tutugoro akan kembali ke Noumea dan nantinya akan melakukan kunjungan resminya ke Port Moresby , Suva dan Honiara , ibukota Papua Nugini , Fiji , dan Kepulauan Solomon , masing-masing.

Sumber: independenceinfo ⋅ 31/08/2013

Sumber ; http://www.dailypost.vu/content/msg-chair-appeals-leaders-stay-course-kanaky-and-west-papua-freedom

POLDA PAPUA WASPADAI KEDATANGAN FREEDOM FLOTILLA | tabloidjubi.com

POLDA PAPUA WASPADAI KEDATANGAN FREEDOM FLOTILLA | tabloidjubi.com.

Jayapura 21/8 (Jubi) – Kepolisian Papua menyerukan kepada sejumlah Polres yang berada di perairan Papua untuk mewaspadai adanya kapal asing yang kini mendekati perairan Papua.

Instruksi ini menyusul adanya isu tentang kedatangan kapal layar Freedom Flotilla yang ditumpangi oleh para aktivis Papua dan Australia, untuk mengkampanyekan kemerdekaan Papua.

Kabid Humas Polda Papua, I Gede Sumerta Jaya mengatakan, pihaknya menyerukan dan juga telah membuat surat kepada jajaran Polres Merauke, Biak, Timika, Yapen, Asmat, dan Keerom. “Kami sudah menyerukan kepada polres-polres yang ada laut atau dermaganya ataupun ada pantai yang untuk disinggahi. Untuk apabila ada kelompok ini masuk ke wilayah Indonesia tentu yang pertama kita melihat passport dan visanya dulu,” katanya (21/8).

Pihaknya juga meminta jajarannya untuk mengamankan para aktivis papua tersebut, apabila dalam pemeriksaan nanti tidak memiliki surat-surat. “Apabila mereka tidak memiliki passport dan visa. Ya tentunya bisa melakukan mengamankan mereka dulu,” katanya.

Kepolisian setempat mengklaim tetap berkoordinasi dengan imigrasi, Lantamal dan Syahbandar setempat dalam kedatangan Freedom Flotilla tersebut.

Sebelumnya telah dikabarkan 50-an aktivis Papua dan Australia dengan menggunakan tiga unit kapal layar, yang direncanakan bersandar di Papua. Para aktivis itu juga mengklaim kedatangan mereka dengan tujuan Sosial dan Budaya. Namun isu yang berkembang di masyrakata setempat menyebutkan kedatangan para aktivis ini untuk kampanye Papua Merdeka. (Jubi/Indrayadi TH)

Enhanced by Zemanta

Up ↑

Wantok Coffee

Melanesia Single Origin Coffee

MAMA Minimart

MAMA Stap, na Yumi Stap!

PT Kimarek Aruwam Agorik

Just another WordPress.com site

Wantok Coffee News

Melanesia Foods and Beverages News

Perempuan Papua

Melahirkan, Merawat dan Menyambut

UUDS ULMWP

for a Free and Independent West Papua

UUDS ULMWP 2020

Memagari untuk Membebaskan Tanah dan Bangsa Papua!

Melanesia Spirit & Nature News

Promoting the Melanesian Way Conservation

Kotokay

The Roof of the Melanesian Elders

Eight Plus One Ministry

To Spread the Gospel, from Melanesia to Indonesia!

Koteka

This is My Origin and My Destiny