Pangdam Cenderawasih: Bintang Kejora Dua Kali Berkibar

TEMPO Interaktif, Jayapura – Panglima Kodam XVII Cenderawasih Mayor Jenderal Erfi Triassunu mengatakan aksi pengibaran bintang kejora tak mengganggu pelaksanaan upacara Hari Ulang Tahun ke-66 RI. Ada dua bendera lambang kelompok sparatis Papua tersebut yang dikibarkan di Tanah Hitam, Abepura, Jayapura.

Kejadiannya Selasa dan Rabu pagi ini. “Yang tadi pagi kalau tidak salah sekitar pukul enam. Brimob sudah menuju lokasi dan menurunkan bendera itu,” kata Erfi usai upacara memperingati Hari Kemerdekaan, Rabu 17 Agustus 2011.

Apa orang Indonesia pernah Minta Permisi untuk Mengibarkan Merah-Putih mereka di Tanah Papua?
Apa orang Indonesia pernah Minta Permisi untuk Mengibarkan Merah-Putih mereka di Tanah Papua?

Kelompok itu, kata dia, tak lain adalah Organisasi Papua Merdeka. Menurut Erfi, gejolak di Papua tidak mudah diselesaikan secara cepat. Dalam sepekan terakhir sekurangnya empat kasus penembakan dan penyerangan terjadi di kawasan Abepura. Insiden itu, kata dia, hanya ingin menunjukkan bahwa mereka masih eksis di Papua.

Upaya mencegah eksistensi OPM telah dilakukan aparat gabungan TNI dan Polri. Mereka antara lain menyisir hutan Jayapura pada pekan lalu. Aparat menemukan dokumen rencana penyerangan pada 17 Agustus oleh OPM. Mereka juga mendapati bendera bintang kejora yang bertuliskan dokkumer viaggen central, PO Box 14. 9100 AA Dokkum Holland.

Polisi menduga otak di balik aksi ini adalah Danny Kogoya. “Dia pimpinannya. Dia jadi target utama saat ini,” kata Kepala Polres Kota Jayapura Ajun Komisaris Besar Imam Setiawan. Kasus penyerangan terakhir menimpa seorang mahasiswa Sekolah Tinggi Agama Islam, Indrawahyudi. Dia diserang kelompok tak dikenal pada Selasa dini hari.

Korban terkena panah di bagian punggung tembus dada ketika hendak salat subuh di Masjid Nurul Iman BTN Puskopad, Tanah Hitam, Abepura. “Gangguan keamanan ini memang harus ditumpas. Kalau terjadi terus-menerus bisa berbahaya. Jangan sampai warga terprovokasi dengan kasus-kasus ini,” ujar Erfi.

JERRY OMONA

RABU, 17 AGUSTUS 2011 | 11:35 WIB

Ketika Bintang Kejora Berkibar (Lagi)

Teruslah Berkibar, Itulah Tanah Airmu, Tanah Papua

INILAH.COM, Jakarta – Peringatan HUT Kemerdekaan RI ke-66 hari ini, Rabu (17/8/2011) dibarengi dengan aksi pengibaran bendera Bintang Kejora, di Papua.

Bendera Bintang Kejora tersebut dikibarkan oleh Organisasi Papua Merdeka (OPM) di Pegunungan Tanah Hitam, Abepura, Jayapura, Papua.

Pengibaran tersebut terjadi sekitar pukul 10.00 WIT. Ada dua bendera bintang kejora yang dikibarkan oleh OPM. Bendera tersebut nampak terlihat berkibar di sebuah perbukitan di atas pemukiman warga.

Aparat Polda Papua langsung menurunkan bendera tersebut. Tidak ada kontak senjata natara aparat dengan pihak OPM. Kedua bendera itu diamankan di Mapolsek Abepura. [mah]

Meluruskan Sejarah Bangsa Papua

JUBI–Penulisan sejarah memang selalu memperlihatkan kemajemukan interpretasi(polyinterpretability), selain itu bersifat dinamis dan berubah dari waktu ke waktu. Sejarahwan terkemuka asal Jerman Leopold von Ranke(1795-1886) menyebutkan ada peristiwa tertentu dalam periode masa lalu mendapat tempat penting dalam suatu penulisan sejarah. Sebaliknya ada peristiwa dari tokoh-tokoh tertentu dan juga peristiwa-peristiwa yang terjadi justru sedikit sekali mendapat perhatian. Bahkan terlewatkan begitu saja dalam penulisan sejarah termasuk pula pelurusan sejarah orang Papua.

Ketua Dewan Adat Papua Forkorus Yaboisembut menyebutkan tanggungjawabnya adalah untuk meluruskan sejarah Papua. Pasalnya selama ini sejarah orang Papua telah banyak dibengkokan sehingga harus dikembalikan pada jalur yang benar. Oleh karena itu tak heran kalau Forkorus Yaboisembut menerbitkan sebuah buku berjudul Aspek Hukum adanya aneksasi kemerdekaan kedaulatan Papua Barat oleh Pemerintah Republik Indonesia dan Follow Upnya.

Buku ini juga menurut Yaboisembut untuk mengcounter buku yang ditulis Mangasi Sihombing yang berjudul Aspek Hukum Kebenaran Papua atau Irian. Ini artinya bahwa Yaboisembut telah membawa masyarakat Papua ke dalam suatu dialog yang bermartabat sebagai orang yang beradab yakni penerbitan sebuah buku untuk menjawab ketidak benaran sejarah atau sejarah yang dibengkokan perlu diluruskan.

Yaboisembut bukan mengeluarkan pendapat ataupun melarang peredaran buku tetapi mengajarkan orang Papua agar mulai belajar menulis sebuah kebenaran dalam bentuk buku. Walaupun harus diakui minat menulis dan membaca bagi orang Papua sebenarnya sesuatu peradaban baru dari masyarakat yang hanya mengenal budaya lisan.

Namun keberanian Yaboisembut menulis buku patut dihargai dan diacungi jempol guna melengkapi buku-buku tentang pelurusan sejarah di Tanah Papua. Sebenarnya banyak buku yang diterbitkan setelah pelaksanaan Pepera 1969, pemerintah Provinsi Papua menerbitkan buku berjudul PEPERA 1969 di Irian Barat yang isinya tentang proses pemilihan melalui 1025 orang anggota Dewan Musyawarah Pepera (DMP) mewakili 800.000 penduduk di Irian Barat.

Begitupula DR John Saltford yang menjadi pembicara di KTT ILWP di Oxford juga menulis buku Irian Jaya:United Nations Involvement With the Act of Self Determination in West Irian (Indonesia West New Guinea) 1968 to 1969. Socratez Sofyan Yoman juga menulis buku Orang Papua Bukan Separatis, Makar dan OPM juga menyinggung soal Pepera yang tidak demokratis di Irian Barat.

Buku tentang pelurusan sejarah juga telah dilakukan oleh Prof Dr P.J Drooglever di Negeri Belanda yang kemudian diterjemahkan dalam bahasa Indonesia dengan judul, Tindakan Pilihan Bebas Orang Papua dan Penentuan Nasib. Buku ini telah menuai banyak protes dari berbagai pihak terutama dari mereka yang mengganggap proses Penentuan Pendapat Rakyat (Pepera) 1969 sudah selesai. Mestinya harus ada penerbitan buku lain untuk menjawab keragu-raguan orang Papua tentang sejarah integrasi di Indonesia. Mengutip pendapat mantan Kapolda Papua Irjen Pol Bekto Soeprapto menyebutkan dari aspek politik, tantang upaya damai di Papua paling tidak berakar dari perbedaan pandangan antara Pemerintah dan sebagian masyarakat Papua tentang proses integrasi Papua ke Negara Kesatuan Republik Indonesia.Selain itu sebagian masyarakat Papua merasa bukan bagian dari bangsa Indonesia yang didomniasi ras Melayu.(Kompas, 9 Agustus 2011).

Lalu siapa yang sebenarnya memaksakan orang-orang Melanesia di Papua menjadi warga negara Indonesia? Padahal nama Indonesia sendiri sebenarnya diberikan oleh ahli etnolog asal Inggris james Reinhart, sejak 1850. Selanjutnya nama itu digunakan lagi oleh Adolf Bastian antropolog asal Jerman. Kedua antropolog ini mengelompokan Pulau-Pulau yang terbentang antara Samudera Hindia dan Pasifik dengan sebutan Indonesia, Melanesia, Polinesia dan Mikroniesia.

Terlepas dari pro dan kontra apa arti sebuah nama, perlu ditelaah lebih mendalam mengapa orang Papua berkeinginan untuk meluruskan sejarahnya atau meminjam pendapat Bekto tentang perbedaan pandangan tentang proses integrasi bangsa Papua ke dalam Negara Kesatuan Republik Indonesia(NKRI).

Sejarawan Indonesia dari Universitas Indonesia, Lie Tek Tjeng dalam tulisannya berjudul Politik Securiti Asia-Pasifik AS menjelaskan, karena Myanmar(Birma) menjalankan politik netral yang mengakui satu China yaitu RRC, menjalankan politik tidak ingin memusuhinya. Sikap Menlu AS John Foster Dulles mengatakan “netralisme adalah immoral,” menyebabkan AS memusuhi Myanmar maupun Indonesia dan India yang semuanya menjalankan politik satu China dengan mengakui RRC. Belakangan jaman Presiden Obama sekarang ini justru, pemerintah AS menolak penjualan pesawat tempur AS ke Taiwan.

Menurut Lie Tek Tjeng pengakuan satu China yakni RRC mengakibatkan AS tidak menyokong klaim Indonesia terhadap Irian Barat(Papua dan Papua Barat). Ini menyebabkan Presiden Soekarno memanfaatkan dunia komunis untuk perjuangan merebut Irian Barat. Runtuhnya rezim Soekarno membawa pemerintah Orde Baru dibawah kekuasaan Jenderal Besar Soeharto menjadi Presiden RI yang menjalin hubungan erat dengan Pemerintah AS yang membawa wilayah Papua ke dalam wilayah Negara Kesatuan Republik Indonesia lewat Pepera 1969 yang dianggap tidak demokrasi. Kontrak Karya Pertama PT Freeport 1967 antara Pemerintah AS dan Indonesia dilakukan dua tahun sebelum pelaksanaan Pepera, sebagai gambaran di mana pelanggaran terhadap hak-hak penduduk asli Papua yang terus berlangsung hingga kini. (J/02)

WEDNESDAY, 17 AUGUST 2011 10:19 J/02 HITS: 374
http://tabloidjubi.com/daily-news/jayapura/13695-meluruskan-sejarah-bangsa-papua.html

Baku Tembak di Paniai, Kelompok Yang Diduga TPN/OPM Kuasai Dua Lokasi

Tentara dan Polisi Kolonial Indonesia dalam posisi tiarap dan siaga menghadapi gerilyawan Papua Merdeka
Tentara dan Polisi Kolonial Indonesia dalam posisi tiarap dan siaga menghadapi gerilyawan Papua Merdeka
JUBI — Rabu (17/08), sekitar pukul 01.55 WIT, terdengar rentetan tembakan di Pagepota dan Uwibutu, dua kampung terdekat di Madi, ibukota kabupaten Paniai. Demikian dilaporkan oleh wartawan tabloidjubi.com di Paniai. Namun laporan wartawan tabloidjubi.com ini belum menyebutkan adanya korban jiwa dari peristiwa tersebut.

Sementara sumber lain tabloidjubi.com di Paniai menyebutkan bahwa sekitar jam 05.00 waktu Paniai (17/08), kelompok sipil bersenjata yang diduga sebagai TPN/OPM menggunakan dua lokasi di sekitar daerah Madi untuk menyerang TNI/POLRI yg bermarkas di sana. Dua tempat tersebut adalah sekitar kantor DPRD Paniai dan di mata jalan menuju Bibida. Disebutkan juga bahwa karena dua tempat yg di kuasai oleh kelompok sipil bersenjata itu, warga yang mendiami kota Madi tak bisa kemana-mana karena dua lokasi tersebut adalah akses keluar masuk orang dari Madi ke Enaro dan Bibida dan sebaliknya, selain lewat Ekaugi.

Dilaporkan juga bahwa tembak menembak sempat berhenti beberapa saat, namun kembali terjadi pada pukul 05.00 hingga 07.00 pagi. Selang dua jam kemudian, 09.30 WIT, tembakan kembali menyalak di kota Enarotali. Sampai saat laporan ini diberitakan, bunyi tembakan masih terdengar jelas.

Dua hari sebelumnya (15/08), pihak Gereja Kingmi Sinode Papua Koordinator Paniai dan Gereja Katolik Dekanat Paniai telah menyatakan sangat prihatin terhadap situasi keamanan sejak beberapa hari terakhir di wilayah Kabupaten Paniai. Sebab, beredarnya isu akan ada kontak senjata antara TPN/OPM dan aparat keamanan, meresahkan umat/masyarakat, bahkan sebagian orang sudah mengungsi ke tempat yang dianggap aman. (J/01)

Aparat Kontak Tembak Dengan OPM di Abepura

Metrotvnews.com, Abepura: Menjelang peringatan HUT RI ke-66, Organisasi Papua Merdeka kembali mencoba mengacaukan keamanan. Kontak tembak sempat terjadi menyusul aksi pengibaran bendera Bintang Kejora di Abepura, Jayapura.

Konntak tembak terjadi saat kelompok OPM pimpinan Dani Kogoya di Abepura, Jayapura mencoba mengacaukan situasi keamanan di daerah Abepura menjelang peringatan kemerdekaan 17 Agustus 2011 besok.

Kelompok OPM sempat merusak sebuah mobil dan menyerang warga, di daerah Kamkei Atas, Abepura, Jayapura.

Seorang korban terkena panah di perut dan kini dirawat di Rumah Sakit Bhayangkara Kotaraja, Jayapura.

Tidak puas dengan aksi tersebut, kelompok OPM mengeluarkan tembakan untuk menakuti warga di pemukiman BTN Kamkei Atas, dan mengibarkan dua buah bendera Bintang Kejora di pegunungan Tanah Hitam.

Kapolresta Jayapura AKBP Imam Setiawan bersama Dandim kota Jayapura Letkol ARM Ihutma Sihombing beserta pasukan segera melakukan pengejaran di pegunungan Tanah Hitam.

Bendera Bintang Kejora pun akhirnya dapat diturunkan setelah terjadi baku tembak di tengah cuaca hujan dan medan yang berat. Kelompok OPM melarikan diri ke daerah Arso.

Pasca insiden ini, aparat gabungan TNI Polri meningkatkan penjagaan di daerah Nafri, Kamkei, Tanah Hitam, Abepura, Jayapura.(RIE)

Metro Malam / Polkam / Rabu, 17 Agustus 2011 00:14 WIB

TPN/OPM Tuding Laporan Kopassus Ada Kepentingan

JAYAPURA-Tentara Pembebasan Nasional Organisasi Papua Merdeka menuding laporan Komando Pasukan Khusus tahun 2006-2009 yang dibocorkan oleh kelompok media Fairfax Australia, Sabtu (13/8), memiliki kepentingan tertentu. Dokumen tersebut berisi salah satunya gerakan OPM serta persenjataan mereka.

Lambert Pekikir, Koordinator Umum TPN OPM Dalam Negeri Papua Barat, Mandataris J. H. Prai, kepada Bintang Papua mengatakan laporan Kopassus tersebut mencerminkan ketidaktahuan aparat negara terhadap OPM. “Yang ditulis soal senjata dan jumlah anggota OPM, bisa jadi hanya OPM piaran saja. Mereka kan banyak, jadi bisa saja dibikin-bikin. Kepentingannya saya kira dalam laporan itu jelas, orang sudah tahu, saya tidak perlu sebut lagi,” ujarnya, kemarin.

Ia mengatakan, laporan Kopassus, seperti juga yang pernah terbit pada tahun 2010 ketika dibocorkan Alan Nairn, wartawan Amerika Serikat, merupakan bagian dari strategi aparat untuk melemahkan perjuangan rakyat Papua. “Itu kalau benar bocor, saya memang belum membacanya, tapi saya kira apa yang tertulis terkait pergerakan kemerdekaan bukan lagi sesuatu yang harus ditutup tutupi,” ujarnya.

Kemerdekaan sejatinya adalah kehendak seluruh rakyat Papua. Jikalau laporan itu berisikan anggapan pergerakan rakyat membahayakan kedaulatan negara, kata dia, seharusnya pemerintah cepat memberi solusi.

Ia juga mengecam dimasukannya sejumlah nama tokoh Papua dalam laporan Kopassus. Mereka antara lain Buchtar Tabuni yang kini dipenjara akibat tuduhan makar, juga pemimpin gereja Baptis di Papua, Pendeta Socratez Sofyan Yoman. “Itu maksudnya apa? Itu sama dengan aparat yang tidak profesional, asal lapor saja,” ujar Lambert.

Wakil Ketua Komisi Nasional Hak Asasi Manusia, Matius Murib mengatakan, laporan Kopassus yang bocor di luar negeri memberi kesan aparat Intelejen Indonesia tidak profesional. Jika laporan itu sangat berharga, tentu bukan dijadikan barang mainan dan akhirnya diketahui pihak luar negeri. “Ini ada dua, pertama aparat kita kurang profesional dan kedua, memang sengaja dibocorkan, tapi ada apa hingga sampai bocor, itu memang perlu dilihat lagi,” paparnya.

Matius enggan berspekulasi apakah laporan tersebut memiliki ‘kepentingan’. Namun baginya, aparat intelejen perlu mengoreksi diri atau mengevaluasi lagi kinerjanya ke dalam. “Saya heran bisa sampai bocor, catatan pentingnya adalah tidak profesional intelejen kita,” pungkasnya.

Ia memandang, laporan tersebut bisa jadi akan sangat berharga untuk kepentingan Australia yang pernah bersitegang dengan Indonesia beberapa tahun lalu. Tapi apakah itu benar, setidaknya perlu bukti. “Saya kira intelejen atau TNI wajib menjadikan ini sebagai pelajaran untuk menjaga barang rahasia.”

Meski demikian, Matius kurang sreg bila nama tokoh Papua dicantumkan sebagai yang diincar atau sekurangnya dimata-matai. “Setiap orang punya hak hidup, kalau hidup didalam bahaya atau terus dimata-matai, itu melanggar HAM. Apa salahnya para pemimpin gereja sehingga mereka dimasukkan dalam laporan tersebut, ini perlu diperjelas lagi,” urainya.

Ia menyarankan agar pemerintah dan aparat membuka ruang seluas-luasnya bagi aktivitas warga dan memberikan kebebasan selayaknya seperti diatur undang-undang. “Jangan selalu kami dicurigai. TNI, warga sipil atau siapapun dia memiliki hak untuk hidup, jika hidup dalam ancaman, itu melanggar hak asasi seseorang,” katanya.

Sebelumnya Pangdam XVII Cenderawasih Mayjen TNI Erfi Triassunu, Ahad kemarin mengatakan, pihaknya masih menyelidiki dokumen yang bocor tersebut. “Kita masih menyelidiki, saya tahu dokumen itu bocor, tapi belum bisa menjelaskannya, jadi marilah kita cari tahu sama-sama itu,” kata Triassunu.

Menurutnya, masalah ini tidak sampai mengganggu keutuhan negara. Pihak yang melakukan hanya ingin menunjukan bahwa TNI tidak dalam keadaan yang kuat untuk melindungi arsip berharganya. “Tapi itu bukan berarti akan mengancam keutuhan negara, kita tetap utuh, yang penting jangan terprovokasi,” ucapnya.

Dokumen yang berjudul “Anatomi Separatisme Papua” itu menyentil pula tentang gerakan pendukung Papua Merdeka yang ada di luar negeri. Diantaranya Senator AS dari Partai Demokrat, Dianne Feinstein; anggota Parlemen Inggris dari Partai Buruh, Andrew Smith; mantan Perdana Menteri Papua Niugini, Michael Somare, bahkan pejuang antiapartheid Afrika Selatan, Uskup Agung Desmond Tutu. (jer/don/l03)

Rabu, 17 Agustus 2011 17:57
BintangPapua.com

Di Tanah Hitam, Seorang Mahasiswa Diserang Panah

Korban yang saat ini masih dirawat di RS Bhayangkara
Korban yang saat ini masih dirawat di RS Bhayangkara
JAYAPURA –Seorang Mahasiswa STAIN semester bernama Indra Wahyudi (20) Mahasiswa STAIN, Semester 5, terluka panah bagian punggung kanan hingga tembus pinggang sebelah kiri. Hal itu terjadi disaat korban hendak berwudu untuk Sholat Subuh di salah satu Masjid di BTN Puskopad Tanah Hitam Abepura, Selasa (16/8).

Sudadi salah seorang rekan korban menceritrakan, kejadian itu terjadi saat korban ke tempat wudu, tiba-tiba terkena panah dari belakangan yang dilakukan orang tidak dikenal. “Saat itu saya berusaha menolong dengan mencabut anak panah yang menancap di tubuhnya dan saya suruh lari,” ungkapnya kepada Wartawan di RS Bhayangkara, Selasa (16/8). Selanjutnya saksi bersama korban langsung berusaha ke UGD RSUD Abepura untuk mendapatkan pertolongan. “Dari RSUD Abepura dirujuk ke sini (RS Bhayangkara),” ungkapnya lagi.

Informasi yang diperoleh Bintang Papua, korban diserang dari belakang dengan menggunakan panah hingga mengenai punggung korban bagian belakang dan tembus ke bagian depan punggung korban. Pada saat korban menjerit, teman korban mendengar dan mau menolong korban dengan niat ingin mencabut panah yang tertancap di punggung korban, namun saat itu tiba- tiba terdengar suara tembakan secara spontan dari arah gunung seketika itu teman korban tiarap langsung lari .

Sementrara kejadian itu berlangsung warga lainnya membunyikan lonceng untuk memberikan kode tanda bahaya sehingga warga berbondong bondong datang untuk membantu korban .

Selang beberapa saat kemudian tepatnya pukul 05.00 tim gabungan dari TNI / POLRI datang ke tempat kejadian dan langsung melakukan penyisiran, namun pelaku sudah melarikan diri.
Sementara korban langsung dibawa ke rumah sakit umum untuk mendapat pertolongan dan tindakan perawatan medis.

Bukan cuma peristiwa itu yang mengejutkan masyarakat tanah hitam saat pagi itu, namun selang beberapa waktu kemudian masyarakat di kejutkan dengan kembali ditemukan bendera Bintang Kejora yang di kibarkan pelaku yang diduga juga sebagai pelaku yang sama dan kelompok yang sama saat menyerang korban warga Tanah hitam pagi itu.

Saat ditemukan adanya pengibaran bendera Bintang kejora di atas gunung Tanah hitam, pihak keamanan yang dipimpin langsung kapolres dan Dandim menuju bendera tersebut lalu menurunkannya . Beberapa saksi mata saat memberikan keterangan tentang kejadian peristiwa penyerangan Selasa (16/8). Mereka menyebutkan kalau dari gerakan mereka pihaknya sudah bisa prediksi kalau penyerangan itu sudah direncanakan. “Karena kami diserang dari bagian belakang sehingga kami tidak bisa melakukan perlawanan dan mereka menyebutkan kalu pelaku lebih dari 2 orang ,”katanya.

Kapolrseta Jayapura AKBP Iman Setiawan saat dikonfirmasi Selasa(16/8) membenarkan adanya aksi penyerangan aksi itu dan pengibaran bendera Bintang Kejora. Dikatakan, ini ada kaitan nya dengan kasus kemarin dan saat ini mereka sedang menunjukan eksistensinya dan kelompok ini adalah gerakan terlarang dari gerakan TPN/OPM . Dikatakan, “ kami sudah mengerahkan anak buah kami untuk terus mengawal di sekitar daerah rawan , namun kami tidak sangka –sangka kalau mereka akan nekad untuk menyerang korban di tempat ibadah, dalam penyerangan tersebut mereka sudah merencanakan terlihat saat penikaman tersebut mereka berusaha mengelabui masyarakat dengan meletuskan tembakan, setelah itu pagi harinya usai kejadian penikaman tersebut mereka mengibarkan dua bintang kejora, masing – masing di gunung Tanah hitam bagian sebelah kanan dan bagian sebelah kiri yang satunya lagi,” tegas Kapolrseta Jayapura AKBP Imam Setiawan kepada sejumblah wartawan di Abepura .

Lebih lanjut Imam menghimbau kepada masyarakat untuk dapat membantu TNI/ POLRI sebagai aparat keamanan dalam memberikan informasi terkait adanya kecurigaan dari kelompok organisasi terlarang. Bukan itu saja kapolresta pun mengajak untuk sama – sama menjaga situasi keaman di sekitar lingkungan masing – masing.

Kapolres pun menyatakan, “ kami akan bertindak tegas bila perlu kami tembak di tempat mereka yang tergabung dalam gerakan terlarang tersebut (TPN/OPM), saya perintahkan untuk tembak di tempat karena ini sudah memakan banyak korban dan mereka adalah masyarakat sipil tegasnya.

Sementara itu, menyikapi sejumlah aksi kekerasan yang mengancam jiwa, bahkan telah menimbulkan korban setidaknya lima orang masyarakat sipil tewas, Forum Komunikasi Himpunan Masyarakat Nusantara (FKHMN) di Jayapura, menyatakan sikap di sela-sela menjenguk korban di Instalasi Gawat Darurat (IGD) RS Bhayangkara, Kotaraja.

Statemen yang dibacakan Ketua KKSS Ir. Junaidi Rahim dan didampingi sejumlah pimpinan paguyuban yang ada di Kota Jayapura tersebut, antara lain : Kami dari Forum Komunikasi Himpunan Masyarakat Nusantara menyatakan bahwa : Dari empat kejadian yang terakhir, yang semuanya kriminal yang berbau SARA, maka kami dengan tegas membuat pernyataan kepada Pemerintah Provinsi dan Pemerintah Kabupaten Kota maupun semua pihak aparat keamanan yang terlibat, untuk menyikapi persoalan ini segera, yakni :

1. Meminta aparat keamanan bertindak tegas menuntas persoalan kriminal yang terjadi akhir-akhir ini. Dan mengungkap pelaku dan menangkapnya serta memproses sesuai hukum yang berlaku.

2. Polisi harus bisa menjain keamanan dan ketentraman khususnya kepada warga yang sedang menjalani ibadah puasa saat ini.

3. Sudah saatnya polisi untuk menempatkan aparatnya di setiap mesjid, khususnya di Kota Jayapura dan sekitarnya.

4. Kepada Panglima TNI, dengan melihat telah dikibar bintang kejora, agar tidak ragu melibas habis pengacau keamanan yang akhir2 ini sudah banyak berulah, memakan korban manusia dan jura merugigan kepentingan umum, sehingga meresahkan masyarakatluas di Papua.

5. Meminta kepada pemerintah provinsi maupun pemrintah kabupaten kota beserta seluruh muspida agar peka menyikapi persoalan ini dan memperhatikan para korban yag semuanya dari kalanga orang yag tidak mampu.

6. Menghimbau kepada seluruh komunitas masyarakat agar segera membentuk swadaya pengamanan d lingkungan masng-masing dengan tertib dan terkoordinasi

Apabila polisi tidak dapat segera mengungkap modus kejadian-kejadian yang ada maka kami dari komunitas kerukunan masyarakatdari seuruh Indonesia akan melakukan langkah2 pengamanan, pembelaan diri dan apabila perlu melakukan perlawanan sapai titk darah penghabisan kepada orang yg melakukan teror dan kejahatan kepada masyarakat.(cr-30/aj/don/l03)

Rabu, 17 Agustus 2011 17:58

Polisi Sita Dokumen OPM

Kapolresta Jayapura memperlihatkan kepada wartawan satu dari tiga bendera opm yang berhasil disita oleh aparat kepolisian. (Roy Purba/Cenderawasih Pos)
Kapolresta Jayapura memperlihatkan kepada wartawan satu dari tiga bendera opm yang berhasil disita oleh aparat kepolisian. (Roy Purba/Cenderawasih Pos)
JAYAPURA – Polres Jayapura Kota menyita dokumen yang diduga kuat milik Organisasi Papua Merdeka (OPM) yang ditemukan di tengah Hutan daerah Abe-Arso saat melakukan penyisiran, beberapa hari yang lalu.

Kepada wartawan Kapolres Jayapura Kota, AKBP H Imam Setiawan,SIK, didampingi Kabag Ops, Kompol Junoto, Kasubag Humas, Ipda Heri Susanto,SH menjelaskan bahwa barang bukti tersebut ditemukan saat TNI-Polri melakukan penyelusuran ke tengah hutan selama dua hari. “Sayangnya saat itu kelompok tersebut mengetahui kedatangan kami, sehingga lebih awal pergi meninggalkan tempat tinggal mereka,” tuturnya, Senin (15/8).

Dalam penyusuran tersebut bahwa ditemukan markas yang diduga milik OPM yang cukup lengkap dengan Pos Patroli, markas utama, Gubug beserta tempat tinggal, dapur dan juga lapangan upacara . “Di mana bahwa dari dokumen yang disita, jumlah mereka ada sekitar 19 orang. Di mana tertera nama pimpinannya adalah Danny Kogoya di Nafri, yang juga merupakan pimpinan penyerangan Nafri 1 Agustus 2011 yang juga diduga salah satu pelaku nafri 1 tahun lalu,” terangnya.
“Dalam dokumen penyerangan Nafri 2, lengkap dengan nama-nama anggotanya sebanyak 19 orang, dan nama-nama ini akan dipertajam kembali dengan melibatkan semua komponen termasuk TNI untuk melakukan pengejaran terhadap ke 19 nama yang terlampir di dokumen dan didalam dokumen juga terdapat penyerangan 17 Agustus juga kami telah temukan, selain itu sejumlah barang bukti lain saat kami gerebek di Abe Gunung pada beberapa hari lalu,” ujarnya.

Selain dokumen, tim penyelusuran juga mendapatkan 3 bendera Bintang Kejora, dua di antaranya merupakan buatan manusia, sedangkan satu lagi buatan mesin yang dilabel dari Negeri Belanda. “Bendera yang bagus ini ada lambang kecil bendera Belanda dengan bertuliskan “Document Siagn Centrelo”, namun belum bisa dipastikan apakah bendera tersebut didatangkan dari Belanda atau dibuat di Belanda, namun kami akan menelitinya secara pasti,” ucapnya.

Tak hanya itu saja, tim juga menemukan beberapa amunisi dari berbagai jenis serta panah dan anak panahnya, handphone dan banyak lainnya, termasuk kain merah yang terdapat di anak panah saat kejadian di nafri. “Sayang penggerebekan ini bias diketahui mereka lebih awal, namun hal ini juga kami akan selidiki siapa yang membocorkan pengerebekan ini,” katanya.

“Yang jelas, hasil dari penggerebekan tersebut kami sudah bisa mengetahui rencana-rencana mereka, baik yang sudah dilakukan mau pun yang belum terlaksana serta menyangkut kepangkatan mereka. Dan satu lagi kami juga menemukan beberapa nama pejabat di lingkungan Papua yang menjadi target mereka, terlebih saya juga merupakan target mereka,” ungkap Kapolres.

Kapolres mengatakan bahwa Danny Kogoya kini telah dijadikan Daftar Pencarian Orang (DPO) beserta 18 orang lainnya. “Tapi terkait nama-nama yang lainnya saya belum bisa sebutkan, karena kita masih menyelidiki mereka secara intensif,” tuturnya.

Tak hanya itu Kapolres menyatakan bahwa ada salah satu dokumen beita penangkapan Lambertus, yang pernah ditangkap dengan kasus Nafri pertama. “Saat itu Lambertus dilepaskan terkait tidak adanya bukti-bukti kuat untuknya. Tapi mulai hari ini saya akan menangkapnya karena saya sudah bukti kuat terhadapnya,” tegasnya.

Saat ditanya terkait tanggal 17 Agustus yang mana hari kemerdekaan kita NKRI dari penjajahan, berapakah anggota yang akan dikerahkan untuk melakukan pengamanan? Kapolres menjawab bahwa pihaknya akan mengamankan Kota Jayapura dengan 800 personil. Di mana di antaranya bekerja sama dengan TNI-Polri.

Kapolres meminta kepada masyarakat untuk bisa tetap menciptakan suasana aman dan tentram. “Mari kita sama-sama menciptakan suasana aman, nyaman, tenteram dan damai dengan mengaktifkan kembali pos siskamling,” pintanya. (ro/fud)

Selasa, 16 Agustus 2011 , 03:46:00
Cepos

Lagi, 2 Mobil Diberondong Peluru

JAYAPURA-Kasus penembakan kembali terjadi di Kota Jayapura. Jika sebelumnya menimpa mobil Mitsubishi Kuda pada Jumat (13/8) atau 3 hari lalu, di Abepantai, maka kali ini hampir di tempat yang sama, tepatnya di tikungan bawah gereja Khatolik Santo Petrus Abepantai, 2 mobil angkutan umum jurusan Abepantai-Abepura, diberondong peluru oleh orang tak dikenal, Senin (15/8) sekitar pukul 19.10 WIT tadi malam.

Dalam kejadian tidak ada korban jiwa, namun dua mobil yang ditembaki itu masing-masing mobil angkot TS 120 DS 7540 AD warna biru yang dikemudikan oleh Nurdin (23) warga Tanah Hitam dan mobil Suzuki Carry DS 7416 JK warna putih yang dikemudikan Syafrudin (35) warga Tanah Hitam Abepura ini mengalami kerusakan akibat terkena tembakan.

Awalnya, mobil mobil angkot TS 120 DS 7540 AD itu melaju dari arah Abepantai sendirian hendak menuju ke Abepura. Dalam perjalanan, tepatnya di tikungan di bawah Gereja Katolik Santo Petrus Abepantai, tiba-tiba ditembaki oleh orang tidak dikenal, sehingga langsung memacu mobilnya dengan kencang menuju ke Abepura. Akibat, penembakan itu, dashboard tepat berada di depan sopir tersebut terkena tembakan hingga mengakibatkan pecah dan terdapat 2 lobang diduga bekas tembakan.

Tidak berapa lama, mobil Suzuki Carry DS 7416 JK warna putih juga menuju ke Abepura dengan membawa 7 orang penumpang. Mobil ini juga ditembaki orang tidak dikenal yang diduga dilakukan dari arah depan di tikungan Abepantai dekat gereja tersebut, hanya berjarak 5 meter dari lokasi penembakan awal.

Akibat penembakan tersebut mobil Suzuki Carry warna putih mendapat tembakan lebih banyak, yaitu 6 lobang bekas tembakan di bagian depan sopir. Tiga di antaranya mengenai kaca depan mobil hingga pecah dan berlobang, sedangkan 3 lobang lainnya mengenai bagian bodi depan mobil.

Syafrudin, sopir taksi DS 7416 JK warna putih yang ditemui Cenderawasih Pos di tempat kejadian mengatakan, awalnya ia memang dari Abepantai menuju ke Abepura mengantar penumpang. “Saya tidak tahu, jika itu bunyi tembakan. Saya tidak mendengar, namun tiba-tiba kaca mobil di bagian depan itu seperti meledak dan kacanya berhamburan,” katanya.

Syafrudin yang belum menyadari jika ditembaki orang tidak dikenal tersebut, awalnya mengira ada orang yang melempar mobilnya tersebut dengan menggunakan batu, sehingga ia masih sempat berjalan pelan-pelan hingga di tikungan Abepantai itu.

Syafrudin mengatakan jika saat itu juga sempat berhenti dan salah seorang penumpang hendak turun, namun penumpang yang lain akhirnya meminta agar melanjutkan perjalanan menuju ke arah Abepura. “Memang tidak ada yang kena,” katanya.

Sementara itu, salah seorang saksi, Marinus Wanimbo (35) warga Abepantai yang saat itu naik ojek dibonceng oleh Pujianto (26) warga Abepantai mengatakan bahwa saat itu ia berada di belakang mobil Mitsubishi T12 DS 7540 AD warna biru tersebut, hendak menuju ke pasar Youtefa untuk mengambil barang miliknya yang tertinggal di pasar.

Saat di perjalanan, ia mendengar bunyi tembakan 2 kali. Saat itu, tidak diketahui bahwa itu suara tembakan, namun terakhir kalinya, ia merasakan seperti ada sejenis binatang ke arah di depannya seperti angin, baru diketahui itu tembakan dari arah kiri jalan.

“Saya hanya mendengar suara letusan, namun saya kira bukan suara tembakan, namun ketika seperti ada barang yang lewat di depan wajah saya seperti angin, saya sadar itu tembakan, namun yang lebih jelas merasakan suara angin yang melintas tersebut adalah tukang ojek yang saya tumpangi,” katanya.

Selanjutnya, ia menyuruh tukang ojek cepat memacu sepeda motornya. Dalam perjalanan ke Tanah Hitam, ia memberitahu dan melarang pengendara dari arah berlawanan untuk menuju ke Abepantai, karena ada penembakan di dekat Gereja.

Aparat kepolisian mendapatkan laporan adanya penembakan orang tidak dikenal itu, langsung mendatangi TKP. Dari pantauan Cenderawasih Pos, tampak anggota Reskrim Polres Jayapura Kota, Polda Papua dan Polsek Abepura Kota tampak melakukan olah TKP, diback up Sat Brimob dan TNI.

Bahkan, dengan menggunakan lampu sorot, aparat kepolisian mencari barang bukti di sekitar TKP, hingga naik di perbukitan yang ada di samping Gereja Katolik itu. Tampak terlihat Wakapolres Jayapura Kota, Kompol Raydian Kokrosono, Kasat Reskrim Polres Jayapura Kota, AKP IGG Era Adinata dan pejabat Polres Jayapura Kota. Tidak berapa lama, datang mobil INAFIS Unit Identifikasi TKP Polda Papua.

Wakapolres Jayapura Kota, Kompol Raydian Kokrosono,SIK yang ditemui di TKP mengatakan bahwa pihaknya masih melakukan penyelidikan terkait kasus tersebut.

“Kedua mobil sudah kami amankan ke Mapolsek Abepura,” katanya. Bahkan, dalam kejadian ini, kata Wakapolres, tim Reskrim dari Polda Papua, Polres Jayapura Kota dan Mapolsekta Abepura langsung turun ke TKP.

Ditanya Cenderawasih Pos, apakah pelakunya diduga masih ada kaitan dengan pelaku penembakan di tempat yang sama beberapa hari lalu? Wakapolres mengatakan bahwa kemungkinan masih ada kaitannya. “Mungkin pelakunya masih berkaitan., namun kami tentu masih melakukan penyelidikan lebih mendalam dan melakukan pemeriksaan terhadap saksi-saksi,” imbuhnya.

Akibat terjadinya penembakan itu, banyak warga yang ingin pulang ke arah Abepantai dari Abepura maupun Jayapura terpaksa mengurungkan niatnya. “Saya takut pulang. Lebih baik besok saja baru pulang ke Koya,” ujar Yanto, warga Koya ditemui di depan Pos Yanmor Tanah Hitam.

Kapolres Jayapura Kota AKBP H Imam Setiawan SIK sempat melihat langsung kedua mobil yang terkena tembakan saat sudah diamankan di Mapolsekta Abepura.

Sementara salah satu saksi yang enggan disebutkan namannya mengatakan bahwa saat itu sekitar pukul 19.10 wit melihat tiga orang masyarakat dengan menggunakan senjata pendek mengeluarkan tembakan terhadapnya. “Namun saat itu tembakan mengenai pagar besi pembatas jalan, sehingga saat itu saya mendahului mobil angkot warnah biru,” katanya.

Namun, saat itu saksi sempat mengatakan kepada Nurdin untuk jalan cepat dan langsung menuju pos patmor sebab ada tiga orang masyarakat yang membawa senjata dan menembakin orang yang melihat secara membabi buta. “Namun ternyata saudara Nurdin telah terkena tembakan di bagian dalam mobilnya, tetapi untung tidak apa-apa, selanjutnya kita melaporkan kejadian ke Pos Patmor,” terangnya (bat/fan/ro/cr-170/fud)

OTK KEMBALI BERULAH

JAYAPURA-Kasus penembakan kembali terjadi di wilayah hukum Polres Jayapura Kota. Jika sebelumnya terjadi penembakan mobil Mitsubishi Kuda sebelumnya yang terjadi pada Jumat (13/8) atau 3 hari lalu, terjadi di Abepantai, kali ini hampir ditempat yang sama tepatnya tikungan dibawah gereja menuju kearah Abepura sekitar 30 meter, 2 mobil angkutan umum jurusan Abepantai – Abepura, dan 1 kendaran motor supra x 125 diberondong peluru oleh orang tak dikenal, Senin (15/8) sekitar pukul 19.10 WIT tadi malam.

Namun dalam kejadian penembakan tersebut ini terjadi untuk kedua kalinya di tempat yang sama dilakukan oleh orang tidak dikenal alias OTK, dan dalam kejadian tersebut tidak ada korban jiwa.

Dari data yang dihimpun Cenderawasih Pos di TKP, kejadian itu berawal ketika kedua mobil dan motor tersebut berjalan dari Abepantai hendak menuju ke Abepura,tiba-tiba ditembaki dari arah gunung samping gereja sekitar jarak 50 meter dari jalan raya.

Awalnya, mobil mobil angkot TS 120 DS 7540 AD warna biru yang diketahui dikendarai oleh Nurdin (23) warga Tanah Hitam, Abepura ini melaju dari arah Abepantai sendirian hendak menuju ke Abepura. Dalam perjalanan, tepatnya di tikungan dibawah Gereja Katolik Santo Petrus Abepantai, tiba-tiba mobilya ditembaki oleh orang tidak dikenal, yang diduga pelaku penembakanya dari arah gunung.

Akibatnya, penembakan itu,bodi mobil bagian kanan terkena 2 tembakan dan peluru masih tertinggal didalam spidometer mobil.

Selanjutnya mobil Suzuki Carry DS 7416 JK warna putih yang dikemudikan Syafrudin (35) warga Tanah Hitam Abepura juga menuju ke Abepura dengan membawa 7 orang penumpang.

Dan mobil Suzuki Carry warna putih ini, juga ditembaki orang tidak dikenal yang diduga dilakukan dari arah depan Akibatnya, mobil Suzuki Carry warna putih ini terdapat 6 lobang bekas tembakan di bagian depan sopir. Tiga diantaranya mengenai kaca depan mobil hingga pecah dan berlobang, sedangkan 3 lobang lainnya mengenai bagian bodi depan mobil tersebut.

Syafrudin yang ditemui Cenderawasih Pos di TKP mengakui awalnya ia memang dari Abepantai menuju ke Abepura mengantar penumpang.

“Saya tidak tahu, jika itu bunyi tembakan. Saya tidak mendengar, namun tiba-tiba kaca mobil di bagian depan itu seperti meledak,” katanya.

Syafrudin yang belum menyadari jika ditembaki orang tidak dikenal tersebut, bahkan mengira ada orang yang melempar mobilnya tersebut, masih sempat berjalan pelan-pelan hingga ditikungan Abepantai tersebut.

Syafrudin mengatakan jika saat itu juga sempat berhenti dan salah seorang penumpang hendak turun, namun penumpang yang lain akhirnya meminta agar melanjutkan perjalanan menuju kearah Abepura tersebut. “Memang tidak ada yang kena,” katanya.

Sementara itu, salah seorang saksi, Marinus Wanimbo (35) warga Abepantai yang saat itu naik ojek dibonceng oleh Pujianto (26) warga Abepantai mengatakan bahwa saat itu ia berada di belakang mobil Mitsubishi T12 DS 7540 AD warna biru tersebut, hendak menuju ke pasar Youtefa untuk mengambil barang miliknya yang tertinggal di pasar tersebut.
Saat di perjalanan, ia mendengar bunyi tembakan 3 kali. Saat itu, tidak diketahui bahwa itu suara tembakan,dan saya juga tidak melihat pelakunya pada saat itu kerena sudah gelap.Karena merasa takut sayapun lansung menyuruh tukang ojek untuk balap.

Aparat kepolisian mendapatkan laporan adanya penembakan orang tidak dikenal itu, langsung mendatangi TKP. Dari pantauan Cenderawasih Pos dilapangan, sejumlah anggota polisi dari Polres Jayapura Kota, polsek Abepura dan dibantu TNI,melakukan olah TKP

Wakapolres Jayapura Kota, Kompol Raydian Kokrosono yang ditemui di TKP mengatakan bahwa pihaknya masih melakukan penyelidikan terkait kasus tersebut.

“Kedua mobil dan 1 unit motor sudah dan beberapa orang saksi kami amankan ke Mapolsek Abepura untuk penyelidikan lebih lanjut,” ujarnya

Akibat kejadian tersebut sejumlah warga yang mau pulang kearah koya dan abepante terlihat takut dan berbeloh arah,(cr-170)

Korban Penembakan Masih Dirawat di RSUD Dok II

JAYAPURA [PAPOS] – Korban penembakan oleh oknum Brimob terhadap seorang warga Tolikara bernama, Teo Yikwa saat menggelar aksi demo di Kabupaten Tolikara, Jumat [12/8] lalu, kini korban masih dirawat di ruang bedah RSUD Dok II Jayapura.

Saat Papua Pos menemui korban Teo Yikwa di ruang bedah Pria, kondisi korban terlihat sudah mulai membaik, namun wajah korban terlihat pucat karena luka tembak yang dialaminya mengeluarkan banyak darah.

Menurut, Teo selaku korban penembakan, ia mengharapkan kepada pimpinan pelaku agar segera diproses hukum sesuai aturan yang berlaku. Sebab tindkan dari oknum brimob itu menurutnya tidak manusiawi, karena saat melakukan aksi demo, ia dan kawan-kawannya tidak melakukan anarkhis. Konon lagi belum dilakukan orasi.

“Saya heran kenapa kami dikejar dan menembak saya, padahal posisi kami tidak sampai di Kantor Bupati Tolikara, oknum tersebut tidak mengeluarkan tembakan peringatan di udara melainkan langsung mengarahkan senjatanya kepada saya,” papar Teo sambil terbaring saat berbincang-bincang dengan Papua Pos.

Tentang kronologis kejadian. Menurut Teo awalnya massa dari posko menuju Kantor Bupati Tolikara untuk menanyakan surat keputusan Ketua KPU ke Sekda yang juga sebagai PJS Bupati Tolikara, Ir. Yusmin Timang.

Namun, sekitar 100 meter sampai di kantor Bupati, anggota Brimob jumlahnya kurang lebih belasan langsung menembakan senjata kearah massa, tepatnya mengenai dirinya. Bahkan, kata Teo salah satu oknum brimob yang menembak korban menyatakan bahwa “emangnya barang emas kah.

Ditempat yang sama orang tua kandung korban, Mira Tabo, menegaskan bahwa pihaknya, meminta kepada pimpinan agar oknum brimob yang menembak anaknya itu diproses hukum. “Negara ini adalah Negara hukum, jadi pelaku penembak itu harus ditangkap diadili,” tegasnya

Disinggung, laporan kejadian ini sudah dilaporkan ke Polda Papua, Mira mengaku pihaknya belum melaporkan kejadian ini karena dirinya masih berada di rumah Sakit untuk mendampingi anaknya yang sedang mengalami korban tembakan itu.

Prihatin

Sementara ditempat yang sama, Tim Intelektual Kabupaten Tolikara yang juga sebagai calon Wakil Bupati Tolikara, Amos Yikwa Sp.MSi saat mengunjungi korban mengaku sangat prihatin atas penembakan yang dilakukan oleh oknum brimob kepada korban saat melakukan aksi demo di Kabupaten Tolikara.

“Kami terus terang kecewa karena massa belum melakukan anarkhis,bahkan belum sempat duduk dikantor Bupati, tetapi oknum tersebut langsung mengeluarkan tembakan kearah massa,” katanya

Disamping itu juga, lanjut dia, masyarakat Tolikara sangat kecewa dengan sikap Pejabat Sementara Bupati Tolikara yang meninggalkan Kabupaten Tolikara untuk datang ke Jayapura. Padahal, masyarakat ingin menyampaikan aspirasinya kepada pemerintah daerah untuk mengecek kedatangan KPU Provinsi untuk membawa suatu keputusan MA tentang pergantian KPU lama dan KPU baru di Tolikara

Oleh karena kesal, masyarakat terpaksa melakukan aksi demo guna mengetahui kebenaran keputusan itu. “Masyarakat kan punya hak untuk menyampaikan aspirasinya kepada pemerintah dan itu dilindungi UU, namun kenapa harus ditembak saat melakukan aksi itu,” katanya.

Politikus PDS ini mengatakan, baru pertama kali ditemui di Indonesia khusunya di Papua, masyarakat saat demo menyampaikan aspirasinya dengan tidak melakukan anarkhis namun tiba-tiba ditembaki oleh oknum brimob. “Mereka belum sampai di kantor Bupati dan kalau dilihat dari jarak sekitar 100 meter datang brimob mengejar massa dan melakukan penembakan tanpa ada peringatan pertama di udara. Ini tidak ada rasa kemanusiaan,” tandasnya

Untuk itu, dia meminta kepada Kapolda Papua benar-benar menangani masalah ini dengan serius dan oknum-oknum yang terlibat didalam ini harus diproses hukum yang berlku.

Tomas Kecewa

Ditempat terpisah Tokoh masyarakat Tolikara, Bairen Wanimbo sangat menyayangkan terjadinya aksi penembakan yang dilakukan oknum birmob di jalan Tolikara-Puncak Jaya itu. Apalagi penembakan dilakukan oknum brimob tanpa alasan yang tepat. ‘’Kami seluruh masyarakat Tolikara cukup kecewa karena masyarakat Tolikara sudah sepakat sepakat Pemkab Tolikara untuk mempasilitasi KPU provinsi mengantarkan salinan amar putusan MA,’’ ujar Bairen melalui telepon selularnya, Minggu [14/8].

Demikian juga soal ijin keramain penjemputan hari pertama sudah dimasukan. Pada hari kedua pihaknya menunggu kedatangan KPU provinsi Papua, tetapi sayangnya tidak kunjung datang. Ketidak hadiran KPU provinsi Papua membuat masyarakat kecewa. Lantas masyarakat menuju kantor Bupati, tetapi sayangnya massa dihadang diluar kantir Bupati di jalan Raya Tolikara-Puncak Jaya.

Penyisiran pun kata mantan anggota DPRD Kabupaten Tolikara ini tanpa perlawanan fisik. ‘’Saya selaku pimpinan demo melihat secara jelas penembakan yang dilakukan oknum birmob. Padahal kami masih diluar kantor Bupati. Bahkan masyarakat tidak ada melakukan tindakan anarkis,’’ paparnya.

Untuk itu, selaku tokoh masyarakat ia mendesak Kapolda menarik Brimob dan mengganti Kapolres Tolikara 1 x 24 jam.’’Kami cukup kecewa terhadpa perilaku oknum Birmob tersebut, kami diperlakukan seperti bukan manusia. Oleh karena kami minta kepada bapak Kapolda agar mengganti Kapolres Tolikara dan menarik semua Biromod dari Tolikara,’’ tegasnya.[ bela/loy]

Written by Bela/Loy/Papos
Monday, 15 August 2011 00:00

Up ↑

Wantok Coffee

Melanesia Single Origin Coffee

MAMA Minimart

MAMA Stap, na Yumi Stap!

PT Kimarek Aruwam Agorik

Just another WordPress.com site

Wantok Coffee News

Melanesia Foods and Beverages News

Perempuan Papua

Melahirkan, Merawat dan Menyambut

UUDS ULMWP

for a Free and Independent West Papua

UUDS ULMWP 2020

Memagari untuk Membebaskan Tanah dan Bangsa Papua!

Melanesia Spirit & Nature News

Promoting the Melanesian Way Conservation

Kotokay

The Roof of the Melanesian Elders

Eight Plus One Ministry

To Spread the Gospel, from Melanesia to Indonesia!

Koteka

This is My Origin and My Destiny