Lagi, Penembakan di Nafri

DUA KORBAN PENEMBAKAN NAFRI DALAM AMBULANS
DUA KORBAN PENEMBAKAN NAFRI DALAM AMBULANS

JUBI — Pagi tadi, Senin (1/8) sekitar pukul 03.15 dinihari. Dalam insiden itu, 3 orang warga sipil mengalami luka-luka. Empat orang meninggal dunia.

Dari data yang diperoleh di RSUD Abepura, Jayapura, Papua, tiga warga yang mengalami luka-luka yaitu Ahmad Saud (27) warga Arso, Siti Amimah (49) warga Koya Timur, dan Tarmuji (49) warga Koya Timur. Sementara mereka yang tentara meninggal atas nama pratu Dominikus Kerap, anggota kompi C Yonif 756 Senggi. Indentitas dari empat korban tersebut tak diberikan pihak rumah sakit.

Informasi lain, kelompok penyerang menggunakan kapak dan parang. Menurut Siti Aminah (49) salah satu korban, ketika itu dirinya duduk didepan bersama sopir taksi yang ditumpangi. “Saya dnegan satu orang disebelah kiri saya,” ujarnya saat diwawancarai wartawan di RSUD Abepura, Senin.

Lanjut dia, warga yang berada disamping kirinya tiba-tiba diberondong senjata dari kelompok tak dikenal. Tak lama kemudia terjadi penembakan kearah mobil yang ditumpangi. Siti mengalami luka lantara terkena serpihan kaca mobil. “Kejadian itu begitu cepat. Tiba-tiba saja ada bunyi tembakan,” kata Saminah.

Selain itu, Sumardi (49) salah satu penumpang mengatakan, tiba-tiba mobil yang berada dibelakang mereka, sopirnya dibacok dari leher lalu disuruh menuju rumah sakit. Sopir yang menjadi korban bacokan itu bernama Udin, warga Arso, Kabupaten Keerom.

Sumardi menambahkan, kelompok yang melakukan penyerangan tersebut diperkirakan sekitar 10 orang. “Ada sekitar sepuluh orang. mereka cukup banyak yang lakukan penyerangan,” paparnya. (J/06)

PMNews. Selanjutnya setelah PMNews melakukan konfirmasi ke Markas Pusat Pertahanan Tentara Revolusi West Papua, ditanggapi oleh Panglima Revolusi TRWP Gen. TRWP Mathias Wenda bahwa “Ini Operasi Khusus” yang dilakukan dalam rangka mendesak NKRI untuk memberikan kesempatan kepada bangsa Papua menentukan nasibnya sendiri.”

MONDAY, 01 AUGUST 2011 16:31
http://www.tabloidjubi.com/daily-news/jayapura/13462-lagi-penembakan-di-nafri.html

Pepera Tak Bisa Diganggu Gugat

Ramses Ohee
Ramses Ohee

JAYAPURA – Penentuan Pendapat Rakyat (Pepera) yang belakangan semakin menghangat dibicarakan dengan pelaksanaan kajian oleh International Lawyer for West Papua (ILWP) di London, Inggris, memaksa salah satu pelaku sejarah Pepera, Ramses Ohe kembali mengeluarkan statemennya terkait sejarah Papua.

Saat menggelar jumpa pers di kediamannya, Waena, Minggu (31/7), yang dengan tegas bahwa Pepera Tahun 1969 tidak bisa diganggu gugat lagi. “Kita sudah merdeka sejak Tahun 1945, sekarang yang kita butuhkan adalah bersatu padu himpun seluruh kekuatan kita untuk bangun Negara Kesatuan Republik Indonesia ini,” ungkapnya saat menggelar jumpa pers di kediamannya, Waena, Minggu (31/7).

Apa yang telah diletakkan sebagai dasar atau pondasi oleh orang tua terdahulu, ditegaskan agar jangan dibongkar. “Mari kita bicara tentang apa yang orang tua belum capai, baik pendidikan, kesehatan, ekonomi, dan apapun yang diperlukan oleh kita semua. Itu yang kita lihat. Sehingga keinginan yang tidak baik itu, bongkar pasang rumah itu kita buang dari kita semua,” lanjujtnya. Ramses yang menegaskan kembali bahwa ia sebagai pelaku sejarah pelaksanaan Pepera, yang membacakan sikap politik saat itu di hadapan Ortisan, bahwa Pepera tersebut sudah sah dan harga mati. “Dalam tempo tiga bulan, ketukan PBB jatuh, dan Belanda pergi dari Papua. Jadi tidak bisa bicara apa yang telah kita buat, sudah harga mati. Kalau mau bicara itu lagi, PBB mana yang mau akui lagi,” tandasnya.

Di tempat terpisah, Selpius Bobii selaku Ketua Umum Eknas Front Pepera PB (Eksekutif Nasional Front Persatuan Perjuangan Rakyat Papua Barat) menyatakan bahwa, agenda yang digelar oleh ILWP adalah forum ilmiah (seminar).

“Ada pihak-pihak yang menganggap itu pra referendum, bahkan ada yang menganggap itu final. Pemahaman itu perlu diluruskan,” ungkapnya saat menggelar jumpa pers di Asrama Tunas Harapan, Padang Bulan.

Dikatakan, kalaupun nanti forum yang digelar oleh ILWP mengasilkan sebuah rekomendasi berupa peninjauan kembali Pepera 1969, maka tidak bisa dilaksanakan begitu saja. “Itu harus dibawa ke Dewan Keamanan Perserikatan Bangsa-Bangsa (DK PBB), dan yang membawa harus sebuah Negara anggota PBB. Karena ILWP tidak punya kewenangan ketuk palu yang sifatnya mengikat,” lanjutnya.

Dewan Keamanan PBB, kata Selpius Bobii juga belum bisa mengetuk palu yang sifatnya final. “Karena apa yang menjadi kesimpulannya harus direkomendasikan ke PBB untuk dimasukkan dalam agenda pembahasan di PBB. Dan untuk masuk dalam agenda itu membutuhkan proses yang rumit,” lanjutnya lagi.

Dikatakan juga, bahwa dalam pembahasan di PBB, juga tidak bisa langsung diambil keputusan dengan mudah. “Di situ akan diadakan perundingan-perundingan, setelah perundingan tidak tercapai kata sepakat batu di voting,” ungkapnya.

Sehingga ia berharap agar tidak ada reaksi yang berlebihan oleh masyarakat Papua, yang memicu ketegangan. Demikian juga tentang isu-isu yang berkembang belakangan ini, seperti adanya demo tandingan pada 2 Agustus nanti, serta berbagai issu lainnya, dinilainya sebagai pembunuhan psikologis masyarakat Papua.

Sehingga ia berharap agar tidak ada penekanan yang berlebihan dari pihak aparat TNI dan Polri dalam menyikapi agenda 2 Agustus oleh ILWP di London. “Rakyat Bangsa Papua yang hendak melakukan demonstrasi atau kegiatan damai lainnya dalam menyambut kegiatan ILWP di London, harus dilakukan dengan bermartabat dan damai, hindari penyusupan-penyusupan yang memprovokasi massa aksi damai,” harapnya.

Sedangkan Mako Tabuni selaku Ketua I Komite Nasional Papua Barat (KNPB), memastikan bahwa pada 2 Agustus besok, pihaknya akan menggelar aksi demo damai sebagaimana demo-demo sebelumnya. Yakni mengambil titik kumpul massa di Perumnas III, Expo, Lingkaran Abe, dan sejumlah tempat lainnya.

Bahkan pihak KNPB juga membatasi peliputan oleh wartawan, yakni dengan membagi Kartu Identitas (ID Card) kepada wartawan. “Kami tidak bertangungjawab apabila terjadi apa-apa pada wartawan saat meliput tanpa kartu identitas dari kami,” ungkapnya, yang Minggu (31/7) kemarin membagi-bagikan ID Card kepada wartawan.(aj/cr-32/don/l03)

Senin, 01 Agustus 2011 00:17
http://bintangpapua.com/headline/13182-pepera-tak-bisa-diganggu-gugat

Digerakkan Kelompok Tertentu Penyerang di Nafri dari Kelompok Abu-abu

[JAYAPURA] Peraih Yap Thiam Hien 2009, Pastor John Jonga Pr menilai, para pelaku penyerangan warga sipil di Nafri, Senin (1/8) pagi yang menewaskan empat orang dan melukai 8 orang lainnya berasal dari kelompok abu-abu yang digerakkan oleh kepentingan tertentu untuk meneror kegiatan 2 Agustus 2011 yaitu kongres
ILWP (International Lawyer West Papua) di London. Acara itu mengkritisi pelaksanaan Pepera 1969 lalu.

“Saya sudah berkomunikasi dengan kelompok-kelompok pejuang di Papua dan mereka mendukung perdamaian, mereka mengatakan kelompok yang melakukan penyerangan itu tidak jelas,” kata Jhon Jonga kepada SP melalui telepon di Jayapura, Senin (1/8) siang.

Menurut dia, penyerangan itu juga dibuat untuk mengerdilkan hasil Konferensi Papua Damai yang dilaksanakan di Universitas Cenderawasih 5-7 Juli 2011 lalu. Pada kesempatan itu semua elemen di Papua sepakat untuk melakukan perjuangan secara damai. “Tujuan lain dari aksi penyerangan itu untuk melemahkan dukungan dari Papua terhadap kegiatan 2 Agustus 2011 di London,” ujar pastor asal Manggarai, Flores Nusa Tenggara Timur itu.

Sementara Kapolres Kota Jayapura Imam Setiawan secara terpisah sebelumnya mengatakan, pelaku penyerangan itu diduga berasal dari kelompok Organisasi Papua Merdeka (OPM).

Kejadian kekerasan terhadap warga sipil di Nafri itu terjadi pada sekitar pukul 03.15 WIT dini hari. Pada pukul 04 WIT, Seorang warga bernama Sugiantoro (37) mengalami luka bacok sangat parah. Sementara Putri Mutiara Andin, anaknya, mengalami luka sobek pada punggung dan kaki sehingga mendapat jahitan sepanjang empat sentimeter dan 3 jahitan dan jari telunjuk dan jari tengah kaki kanan.

Kejadian berlangsung di Asrama Bucen 6 Angkasa tepatnya di Masjid An Nadir. Dari info yang diperoleh SP, sekitar Pukul 04.30 WIT, Sugiantoro lagi duduk-duduk saat menunggu adzan subuh masjid.

Saat itu Nadir mendengar orang masuk sebanyak dua orang dengan berambut panjang gimbal, muka bertopeng dan baju panjang tangan hitam, celana panjang hitam, dan kedua Pelaku memegang parang panjang, dan langsung membacok dengan menggunakan parang panjang dari belakang.

Sugiantoro langsung berbalik kanan dan menangkis dengan tangan kiri kemudian membacok lagi, namun Sugiantoro menghindar dan mengenai punggung kiri. Selanjutnya, pelaku membacok lagi dan mengenai kaki putrinya Mutiara Andin (2 tahun 8 bulan). Sugiantoro berteriak minta tolong dan pelaku melarikan diri dan menghilang. [154]

http://www.suarapembaruan.com/home/penyerang-di-nafri-dari-kelompok-abu-abu/9674

Penembakan di Abepura Pelaku Penembakan di Abepura Diduga OPM

[JAYAPURA] Kepala Polda Papua Irjen Pol Bikman L Tobing belum mau berkomentar panjang lebar tentang aksi penembakan oleh orang tak dikenal di Kampung Nafri, Distrik Abepura pada Senin (1/8) dini hari tadi yang menewaskan empat orang. Sementara Kapolres Kota Jayapura AKBP Imam Setiawan menduga, pelakunya adalah dari kelompok Organisasi Papua Merdeka (OPM).

“Kami mengevakuasi korban dulu,” ujarnya singkat sambil memasuki mobil dinasnya di Abepura, Senin (1/8) pagi. Menurutu Bikman, pihaknya sedang melakukan olah tempat kejadian perkara (TKP).

Sementara itu Kapolres Kota Jayapura, AKBP Imam Setiawan kepada wartawan mengatakan, pelaku di duga kelompok Organisasi Papua Merdeka (OPM). “Dugaan kami sementara itu, dan pengejaran sejak kejadian kami lakukan pengejaran,” ujarnya di lokasi kejadian.

Sedangkan menurut data yang diperoleh SP dari RSUD Abepura, korban luka-luka dalam peristiwa itu adalah Ahmad Saud (27), Siti Amimah (49), Tarmuji ( 49), M.Saiun ( 25), Budiono ( 22). Sedangkan di RS Bhayangkara ada korban luka-luka bernama Suyono ( 37), Yulianto ( 20).

Sementara Korban meninggal dunia adalah Pratu Dominikus Kerap dengan NRP 31060418520386, anggota Kompi C Yonif 756 Senggi, sepasang suami istri yaitu Yusman dan Titin, serta Sardi. [154]

Senin, 1 Agustus 2011 | 8:10
http://www.suarapembaruan.com/home/pelaku-penembakan-di-abepura-diduga-opm/9633

KTT International Lawyers on Papua, 2 Agustus 2011

Tanggapan terhadap rencana KTT Inter.Lawyers on Papua, 2 Agustus 2011 di Oxford London.

Benny Wenda, seorang aktivis Papua Meredeka yang sementara menetap di Inggris, telah mendapat simpati dan dukungan dari sejumlah aktivis HAM, Hukum dan Politik di Inggris dan beberapa negara Eropah, US, Afrika, Australia dan Snadinavia.

Dalam negeri, khusus di Papua, Benny Wenda mendapat dukungan dari sayap garis keras, a.l KNPB serta kelompok PDP, Adat dan Collective Leadership dibawah pimpinan Edison Waromi, Don Flassy, Awom dkk.

Tugas Profetis Gereja dibidang Hukum HAM dan Politik

Motivasi dasar dari gerakan Benny Wenda, bertolak dari akar permasalahan Papua, yakni pelaksanaan Pepera tahun 1969, yang dianggap catat hukum oleh rakyat Papua.

Selama 48 tahun, Papua dalam Indonesia, proses integrasi yang bermasalah secara hukum dan politik, telah menyandra semua kebijakan Pemerintah, sehingga, dalam kurun waktu 48 itu, keseluruhan kebijakan Pemerintahan dan Pembangunan di Tanah Papua, sangat bernuansa “politik”. Nuansa ini nampak dalam kebijakan Pemerintahan, dimana semua keputusan dan UU yang diberlakukan, selalu memastikan, bahwa Papua, adalah bagian dari NKRI. Semua suara dan aktivitas yang berseberangan ditanggapi secara militer.

Wajah Indonesia, selama 48 tahun di Papua, adalah wajah dan profil militer, sadis dan menyerupai monster yang siap menerkam siapa saja yang melawan negara kesatuan Indonesia.

Potret Indonesia selama 48 tahun diatas, oleh GKI di Tanah Papua, telah didokumentasikan pada tahun 1992, dalam buku putih dengan judul : Untuk Keadilan dan Perdamaian. Buku tersebut merekam sejumlah kasus pelanggaran HAM yang termasuk kategori berat; a.l praktek mutilasi di Tor Sarmi, dimana seorang Kepala Desa di sate, dan dipaksakan kepada istri dan anak2 untuk disantap; kasus lain ialah sepasang anak muda dipaksa melakukan hubungan “suami istri” dipantai dan diarak dijalan dalam keadaan bugil menuju acara “pernikahan” di Gereja.

Buku tersebut telah mendapat perhatian Persekutuan Gereja Indonesia, dan telah menjadi perhatian komunitas Oikumenis Internasional.

Pada tahun 2004, dalam General Council ke 24 dari World Alliance of Reformed Churches di Accra, Ghana, WARC mengeluarkan rekomendasi tentang Rekognisi WARC untuk Hak Menentukan nasib Sendiri dari orang Papua. Pengakuan tentang “rights for Self Determination” tadi, mendapat affirmasi pada bulan Juni 2010, pada Sidang Raya pertama World Communion of Reformed Churches di Grand Rapids, Michigan, USA. WCRC mempertegas rekomenmdasi WARC 2004, dan meminta Executive WRCR untuk membawa masalah Papau ke Badan2 Dunia yang relevant dan berkompetend untuk itu.

GKI di Tanah Papua, bersama Persekutuan Gereja Baptis, Gereja Kingmi Papua, telah mengeluarkan Komunike bersama pada tanggal 10 Yanuari 2011, dan deklarasi Theologis, 26 Yanuari 2011, yang pada intinya mendukung aspirasi rakyat 9-10 Juni 2010, tentang status Otonomi Khusus Papua, yang oleh rakyat dinilai gagal dalam implementasi dan manfaatnya bagi rakyat asli Papua.

GKI di Tanah Papua, secara resmi telah melakukan appeal melalui Sidang Raya PGI, November 2009 di Mamasa Sulawesi Barat, dalam bentuk “rekomendasi” dn menawarkan suatu “suatu roadmap” atau landscape Gereja dengan 10 issue strategis Papua. Ke 10 issue tersebut: a.l. Persoalan Hukum Politik dan HAM; stigma separatisme, ancaman HIV AIds terhadap hidup masyarakat asli Papua, Kerusakan Sumber Daya Alam, Manokwari Kota Injil, Dialog Nasional, dan Otus Papua. Sidang Raya PGI Mamasa menerima ke 10 rekomendasi GKI sebagai agenda PGI dan 88 gereja anggota, dan berkomitmen bersama GKI dan Gereja2 di Papua, berjuang agar persoalan Papua, segera diimplementasikan sehingga: Stigma Separatisme dihapus di Papua, penegakkan Hukum dan HAM dihormati dan stop kekerasan bersenjata, termasuk de-militerisasi di Papua. SR PGI mendukung terlaksananya Dialog Papua Jakarta sebagai penyelesaian demokratis yang diakui Dunia.

Apa Road Map dan Land Scape yang diusung Gereja

Berdasarkan fakta fakta historis diatas, maka gerakan Benny Wenda dkk di Oxford Inggris, 2 Agustus, adalah bagian dari Roap Map bersama Papua, yang juga diprakarasi Gereja, agar terjadi dialog, percakapan yang adil antara rakyat Papua dengan Pemerintah Indonesia, secara komprehensif, adil dan bertarbat.

Gereja memiliki kredibilitas yang kuat baik secara historis, Budaya dan Teologis; mewakili rakyat Papua dalam fungsi Profetisnya. Karena itu semua gerakan dalam maupun di luar negeri yang menempuh koridor hukum dan demokrasi, mendapat dukungan dan blessing dari Gereja, dalam perspektif Profetis Gereja untuk menegakkan nilai2 Kerajaan Allah; yakni : keadilan, Kebenaran, Kasih dan Perdamaian di Tanah Papua.

Dalam perspektif tugas Profetis diatas itulah, maka Roap Map dan land Scape yang ditawarkan Gereja ialah : Mendorong Implementasi Rekomendasi WARC dan WCRC untuk proses Self Determination rakyat Papua. Inilah fokus dari agenda Papua.

  

Pdt. Karel Phil Erari

[info]Catatan PMNews:Perlu dijelaskan bahwa yang dimaksud Dr. Erari disini bukan berarti Gereja memberikan rekomendasi atau mandat kepada DeMMAK (Benny Wenda) untuk membentuk ILWP dan IPWP serta menyelenggarakan KTT, tetapi maksudnya apa yang dilakukan sejalan dengan yang telah dan sedang dilakukan gereja.[/info]

Dua Anggota TNI Masih Kritis

Korban penembakan, anggota TNI
Korban penembakan, anggota TNI
Wakil Ketua Komnas HAM, Nur Kholis bersama rombongannya saat menjenguk anggota TNI yang menjadi korban penembakan di Puncak Jaya, di Rumah Sakit Marthen Indey, Jayapura, Sabtu (16/7).

JAYAPURA – Dari tujuh anggota TNI yang menjadi korban penembakan sipil bersenjata di Puncak Jaya yang kini dirawat di Rumah Sakit Marthen Indey, lima orang sudah mulai membaik, sedangkan dua lainnya masih kritis dan masih berada di Ruang ICU.

Hal ini sebagaimana dikatakan oleh dokter specialis orthopaedi dan traumatologi, Zuhri Efendi kepada wartawan di Rumah Sakit Marthen Indey, Sabtu (16/7).

“Dari 7 anggota TNI yang sudah dirawat di rumah sakit ini, lima korban kondisinya berangsur membaik, namun dua anggota masih mengalami kritis yaitu prada Kadek dan pratu Haiber Rivo. Dimana prada Kadek adalah korban baku tembak pada tanggal 5 Juli 2011 lalu di kampung Kalome Distrik Tingginambut Kabupaten Puncak Jaya yang mengalami luka tembak di bagian kaki kiri,” katanya.

Menurut dokter, Kadek mengalami patah tulang hasta dan kini masih dalam keadaan kritis sebab luka bekas tembakan itu mengalami infeksi. “Lukanya sudah berapa kali dilakukan upaya pembersihan dan kami juga sudah memasang 2 pen di kakinya,” katanya.

Sedangkan pratu Haiber adalah korban tembak pada tanggal 12 Juli 2011 lalu di kampung Pillia Distrik Tingginambut Puncak Jaya yang mana Haiber terkena tembak pada ibu jari jempol telunjuk dan jari tengah tangan kanan.

“Rencananya pratu Haiber akan dievakuasi ke Jakarta karena pembuluh darah pada tangan bekas luka tembak putus. Sementara lima korban lainnya yang berangsur-angsur membaik itu dirawat di ruang Buana I RS TNI-AD Marthen Indey ini,” ungkapnya.

Sementara itu, setelah sebelumnya melakukan pertemuan dengan Pangdam XVII/Cenderawasih, Sabtu (16/7) sekitar pukul 10.00 WIT, Komisi Nasional Hak Asasi Manusia (Komnas HAM) Pusat menjenguk TNI yang menjadi korban penembakan di rumah sakit TNI-AD Marthen Indey.

Pada kesempatan itu, Wakil Ketua Komnas HAM, Nur Kholis didampingi dua anggotanya yaitu Asri Oktavianty dan Siti Hidayawati, serta dari Komnas HAM Perwakilan Papua. Dalam kunjungannya ini, mereka ini didampingi oleh dokter RS Marthen Indey yaitu dr Zuhri Efendi,SpOT.

Dari pantauan Cenderawasih Pos, Wakil Ketua Komnas HAM Nur Kholis,SH,MH melakukan dialog singkat kepada anggota TNI yang tertembak dalam insiden penembakan di Distrik Tingginambut Kabupaten Puncak Jaya.

Salah satu korban itu adalah Pratu Sitorus. Saat dijenguk Komnas Ham itu, ia menceritakan bahwa pada saat kejadian, mereka sedang melakukan patroli dengan dipimpin oleh Letda Inf Jefri Satriansyah, yang juga tertembak.

Dalam aksi tembak menembak dengan sekelompok orang tak dikenal tersebut, diakuinya, sangat susah melakukan perlawanan, dikarenakan medan yang sangat susah dan jauh. “Sementara dari pihak mereka sudah menguasai medan. Maka saat mereka melakukan penembakan, mereka sudah memperhitungkannya serta melakukan penembakan dari beberapa arah, yang mana bisa dibilang arahnya seperti bentuk gunting, dan kami di tengah-tengahnya,” tutur Sitorus.

Partu Sitorus ini merupakan orang ketiga yang tertembak dari lima orang rekannya yang terkena tembakan. “Kami anggota TNI yang tertembak tanggal 12 Juli 2011 kemarin. Di mana saya mengalami luka serpihan tembakan pada kaki bagian paha kanan dan kiri,” terangnya.

Setelah kejadian itu, delapan anggota lainnya membantu hingga bisa membebaskan diri dari sekelompok orang bersenjata tersebut. “Sepanjang evakuasi terhadap kami, tembak menembak terus terjadi. Apalagi jarak ke pos sangat jauh. Bayangin aja dari pagi hari sampai ke malam hari sekitar pukul 21.00 wit baru sampai ke pos,” ucapnya.

Saat Wakil Ketua Komnas HAM bertanya, “Dari pengalaman kamu sebagai anggota TNI bisakah kamu memprediksi senjata apa yang dipakai sekelompok orang bersenjata tersebut?” Sitorus menjawab, saat itu sangat banyak suara tembakan, apalagi dari beberapa arah. Namun dari pengalamannya bisa dibilang bahwa senjata mereka seperti AK 47, M 16 dan juga Moser.

Kepada Cenderawasih Pos Praka Sitorus menegaskan, dirinya tidak merasa trauma atas kejadian yang dialaminya. “Sebagai TNI itu sudah resiko saya terkena tembakan, atau juga harus berkorban nyawa. Apalagi menjadi TNI adalah cita-cita saya dari kecil,” ucapnya.

Saat ditanya apakah kedua orang tua mengetahui bahwa dirinya tertembak? Ia menyatakan, biarlah rasa sakit ini menjadi risiko dirinya, dan kedua orang tua tidak merasakan maupun memikirkannya. “Sekali lagi saya bilang ini adalah risiko saya,” tegasnya.

Sementara dari sumber terpecaya Cenderawasih Pos, kondisi di Puncak Jaya pascapenembakan sudah mulai membaik dan kondusif. Namun aparat TNI dan Polri tampak berjaga-jaga dan juga berusaha mengejar pelaku penembakan tersebut. (ro/fud)

Senin, 18 Juli 2011 , 17:17:00
http://www.cenderawasihpos.com/index.php?mib=berita.detail&id=2330

Korban Penembakan Ternyata Lima Orang

JAYAPURA – Korban penembakan oleh kelompok orang tak dikenal (OTK) yang terjadi di Philia, Distrik Tingginambut Kabupaten Puncak Jaya, Selasa (12/7) ternyta 5 orang, yang kesemuanya merupakan anggota TNI Yonif 753/AVT Nabire (lihat grafis).

Dari lima korban itu, empat orang di antaranya telah dievakuasi ke Rumah Sakit Marthen Indey, Jayapura, Rabu (13/7) kemarin. Mereka adalah Letda Inf Jefri Satriansyah, Pratu Haiber Rivo, Pratu Sitorus, dan Praka Nur Awete.Sedangkan Pratu Imanuel masih dirawat di Rumah Sakit Mulia karena hanya terkena serpihan.

Salah satu sumber terpercaya menceritakan, sulitnya medan di lokasi penembakan membuat proses evakuasi para korban mengalami kendala, sehingga dari kejadian pagi hari, sekitar pukul 20.15 WIT proses evakuasi baru sampai di Puncak Senyum. Selanjutnya dari Puncak Senyum para korban dievakuasi ke Rumah Sakit Mulia, dan Rabu (13/7) kemarin empat korban diterbangkan ke Jayapura dengan menggunakan helikopter MI 15 milik TNI AD.

Turut langsung dalam proses evakuasi tersebut Danrem 173/PVB Kolonel Inf. HP Lubis dan AS Ops Kasdam XVII Cenderawasih Pos Letkol Inf Kemal Hindrayadi. Di mana sekitar pukul 10.40 helikopter itu tiba di Jayapura dan mendarat di lapangan golf Kodam XVII Cenderawasih.

Dari pantauan Cenderawasih Pos, para korban itu selanjutnya dibawa ke Rumah Sakit Marthen Indey sekitar pukul 11.00 WIT. Tidak menggunakan mobil ambulan, melainkan Kijang berwarnah biru dengan DS 960 FM.

Mobil itu datang tanpa pemeriksaan petugas yang berjaga dan langsung masuk ke belakang rumah sakit, sehingga wartawan susah untuk mengambil gambar para korban itu.
Seorang anggota TNI yang berpangkat Kopral saat berjaga mengatakan kepada wartawan untuk tidak meliput atau mengambil gambar di daerah pekarangan rumah sakit.
Sementara kronologi penembakan itu bermula saat TNI dan Polri melakukan penelusuran untuk menyergap markas TPN/OPM yang dipimpin Goliat Tabuni. Kemudian terjadi perlawanan oleh TPN/OPM, yang akhirnya 5 anggota TNI terkena tembakan.

Di tempat terpisah, Kabid Humas Polda Papua Kombes Pol Wachyono saat dikonfirmasi wartawan mengatakan bahwa suasana di Puncak Jaya kini sudah mulai membaik dan kondusif. “Dari suasana yang sudah mulai membaik ini, saya harapkan hal ini terus membaik dan bisa diredam,” katanya.
pascapenembakan itu, belum ada rencana dari Polda Papua untuk menambah Polri atau Brimob untuk membantu ke daerah Puncak Jaya itu. “Kami tetap siaga dalam menyikapi situasi pascapenembakan, baik dari Polsek maupun Polresnya,” terangnya.

Saat disinggung tentang anggota Polri Briptu M. Yazin anggota KP3 Bandara Mulia Puncak Jaya yang tertembak beberapa pekan yang lalu di bandara Mulia serta senjatanya hilang, apakah korban sudah sembuh dan sudah pulang ke Jayapura dan apakah pelakunya ada sangkut pautnya dengan penembakan ini? Kabid Humas menjelaskan bahwa korban masih di Rumah Sakit Bhayangkara Kramatjati Jakarta untuk mendapat perawatan.

“Hingga saat ini korban sudah membaik, namun untuk berbicara hingga saat ini saya belum mendapat informasinya. Tapi yang jelas saat ini korban sudah berangsur pulih kesehatannya,” katanya.

Sedangkan terkait kasusnya, masih dalam penyelidikan dan pengejaran. “Pelaku harus tetap dikejar dan ditangkap untuk mempertanggungjawabkan perbuatannya. Namun jika memikirkan apakah pelakunya adalah kelompok yang kini genjar melakukan penembakan, kami belum bisa memastikan hal tersebut, sebab kami tidak mau berandai-andai. Yang jelas kami akan terus menjaga pengamanan di bandara lebih ekstra lagi,” tegasnya. (ro/fud)

Kamis, 14 Juli 2011 , 18:33:00

Korban Penembakan Ternyata Lima Orang

JAYAPURA – Korban penembakan oleh kelompok orang tak dikenal (OTK) yang terjadi di Philia, Distrik Tingginambut Kabupaten Puncak Jaya, Selasa (12/7) ternyta 5 orang, yang kesemuanya merupakan anggota TNI Yonif 753/AVT Nabire (lihat grafis).

Dari lima korban itu, empat orang di antaranya telah dievakuasi ke Rumah Sakit Marthen Indey, Jayapura, Rabu (13/7) kemarin. Mereka adalah Letda Inf Jefri Satriansyah, Pratu Haiber Rivo, Pratu Sitorus, dan Praka Nur Awete.Sedangkan Pratu Imanuel masih dirawat di Rumah Sakit Mulia karena hanya terkena serpihan.

Salah satu sumber terpercaya menceritakan, sulitnya medan di lokasi penembakan membuat proses evakuasi para korban mengalami kendala, sehingga dari kejadian pagi hari, sekitar pukul 20.15 WIT proses evakuasi baru sampai di Puncak Senyum. Selanjutnya dari Puncak Senyum para korban dievakuasi ke Rumah Sakit Mulia, dan Rabu (13/7) kemarin empat korban diterbangkan ke Jayapura dengan menggunakan helikopter MI 15 milik TNI AD.

Turut langsung dalam proses evakuasi tersebut Danrem 173/PVB Kolonel Inf. HP Lubis dan AS Ops Kasdam XVII Cenderawasih Pos Letkol Inf Kemal Hindrayadi. Di mana sekitar pukul 10.40 helikopter itu tiba di Jayapura dan mendarat di lapangan golf Kodam XVII Cenderawasih.

Dari pantauan Cenderawasih Pos, para korban itu selanjutnya dibawa ke Rumah Sakit Marthen Indey sekitar pukul 11.00 WIT. Tidak menggunakan mobil ambulan, melainkan Kijang berwarnah biru dengan DS 960 FM.

Mobil itu datang tanpa pemeriksaan petugas yang berjaga dan langsung masuk ke belakang rumah sakit, sehingga wartawan susah untuk mengambil gambar para korban itu.

Seorang anggota TNI yang berpangkat Kopral saat berjaga mengatakan kepada wartawan untuk tidak meliput atau mengambil gambar di daerah pekarangan rumah sakit.

Sementara kronologi penembakan itu bermula saat TNI dan Polri melakukan penelusuran untuk menyergap markas TPN/OPM yang dipimpin Goliat Tabuni. Kemudian terjadi perlawanan oleh TPN/OPM, yang akhirnya 5 anggota TNI terkena tembakan.

Di tempat terpisah, Kabid Humas Polda Papua Kombes Pol Wachyono saat dikonfirmasi wartawan mengatakan bahwa suasana di Puncak Jaya kini sudah mulai membaik dan kondusif. “Dari suasana yang sudah mulai membaik ini, saya harapkan hal ini terus membaik dan bisa diredam,” katanya.

pascapenembakan itu, belum ada rencana dari Polda Papua untuk menambah Polri atau Brimob untuk membantu ke daerah Puncak Jaya itu. “Kami tetap siaga dalam menyikapi situasi pascapenembakan, baik dari Polsek maupun Polresnya,” terangnya.

Saat disinggung tentang anggota Polri Briptu M. Yazin anggota KP3 Bandara Mulia Puncak Jaya yang tertembak beberapa pekan yang lalu di bandara Mulia serta senjatanya hilang, apakah korban sudah sembuh dan sudah pulang ke Jayapura dan apakah pelakunya ada sangkut pautnya dengan penembakan ini? Kabid Humas menjelaskan bahwa korban masih di Rumah Sakit Bhayangkara Kramatjati Jakarta untuk mendapat perawatan.

“Hingga saat ini korban sudah membaik, namun untuk berbicara hingga saat ini saya belum mendapat informasinya. Tapi yang jelas saat ini korban sudah berangsur pulih kesehatannya,” katanya.

Sedangkan terkait kasusnya, masih dalam penyelidikan dan pengejaran. “Pelaku harus tetap dikejar dan ditangkap untuk mempertanggungjawabkan perbuatannya. Namun jika memikirkan apakah pelakunya adalah kelompok yang kini genjar melakukan penembakan, kami belum bisa memastikan hal tersebut, sebab kami tidak mau berandai-andai. Yang jelas kami akan terus menjaga pengamanan di bandara lebih ekstra lagi,” tegasnya. (ro/fud)

Kamis, 14 Juli 2011 , 18:33:00
http://www.cenderawasihpos.com/index.php?mib=berita.detail&id=2232

Lima Anggota TNI Ditembak di Puncak Jaya

TEMPO Interaktif, Jayapura – Lima anggota Tentara Nasional Indonesia (TNI) dari Yonif 753 AVT Nabire kembali terluka dalam insiden baku tembak di Mulia, Puncak Jaya, Rabu 13 Juli 2011, sekitar pukul 06.00 WIT.

Prajurit yang dikabarkan tertembak yakni Letda Jefri Satria di betis kanan, Praka Nahor di kaki kiri, Praka Sipir di tangan kanan, Pratu Manuel terluka di betis kanan, dan Pratu Sitorus tertembak pada betis kiri.

Baku tembak terjadi saat anggota TNI menyergap sarang kelompok bersenjata pimpinan Goliat Tabuni di Mulia sekitar pukul 04.30 WIT. Namun, ketika sampai di Kampung Monia, Distrik Tingginambut, anggota TNI dihadang dan ditembaki.

Peristiwa tersebut menambah daftar panjang penyerangan kelompok bersenjata selama 3 pekan terakhir. “Saya ada tugas di luar daerah. Jadi belum tahu perkembangan informasi itu. Benar saya belum mendapat laporan,” kata Kepala Penerangan Kodam XVII Cenderawasih, Kolonel Infantri, Ali Hamdan Bogra, Rabu 13 Juli 2011.

Ia mengatakan, anggota TNI di Puncak Jaya terus berusaha mengamankan wilayah itu. Terkait penembakan pada Selasa, 12 Juli 2011, yang melukai 2 aparat, Hamdan juga belum mendapat laporannya. “Saya belum tahu. Intinya saat ini adalah bagaimana kita menjaga keamanan secara bersama-sama,” ujarnya.

Sebelumnya, Selasa kemarin, baku tembak terjadi di Kampung Kalome, Distrik Tingginambut, Puncak Jaya, sekitar pukul 07.00 WIT. Penyerangan itu mengakibatkan 2 anggota TNI terluka. “Mereka (kelompok bersenjata) selalu berpindah tempat. Ini menyulitkan aparat untuk mengejar,” kata Kapolres Puncak Jaya, AKBP Alex Korwa.

Akibat penembakan Letda inf. J. terluka di bagian kaki dan Praka F terluka di tangan. “Penyerangan terjadi saat aparat TNI sedang menyisir untuk menangkap kelompok anggota Organisasi Papua Merdeka (OPM),” ujarnya.

JERRY OMONA
RABU, 13 JULI 2011 | 13:47 WIB

5 Anggota TNI Korban Tembak di Papua di Evakuasi

[JAYAPURA] Helikopter yang membawa korban kontak senjata antara Orang Tak Dikenal (OTK) di Kampung Pilia, Distrik Tingginambut Kabupaten Puncak Jaya, Selasa (12/7), tiba di lapangan Helly Pad Makodam XVII Cenderawasih, sekitar pukul 10.50 WIT, Rabu (13/7). Korban Dalam kontak tembak tersebut 5 anggota TNI Yonif 753/AVT terluka.

Anggota ini dievakuasi dengan menggunakan Helly MI. 17. Sulitnya medan di daerah itu yang bergunung-gunung, mengakibatkan evakuasi para korban mengalami kesulitan. Selanjutnya para korban langsung menuju RSUD Mulia mendapatkan perawatan intensif.

Dari pantauan SP selanjutnya kelima korban di evakuasi menuju RS Marthen Indey, Aryoko dengan menggunakan mobil Kijang LGX, dan pukul 11.05 WIT korban tiba di RST Marthen Indey. Sumber SP di Kodam XVII Cenderawasih mengatakan ama korban penembakan adalah Letda Inf Jevy Satriansyah terkena luka tembak pada kaki kanan.

Praka Nohor Awate terkena luka tembak pada lutut kiri dan kaki bagian kanan dan dalam kondisi kritis. Lalu Pratu Heiberd Rivo Sipir terkena luka tembak telapak tangan kiri dan Pratu Sitorus luka kaki kiri terkena serpihan benda keras.

Kapendam Kapendam XVII Cenderawasih Letkol Ali Hamdan Bogra saat dihubungi SP pukul 10. 59 WIT, via handphonenya, namun tak dijawabnya. Dihubungi SP lagi pukul 14.50 WIT, ia mengaku sedang rapat. ” Saya sedang rapat,”jawabnya singkat lalu memutuskan pembicaraan.[154]

Rabu, 13 Juli 2011 | 14:01
http://www.suarapembaruan.com/home/5-anggota-tni-korban-tembak-di-papua-di-evakuasi/8950

Up ↑

Wantok Coffee

Melanesia Single Origin Coffee

MAMA Minimart

MAMA Stap, na Yumi Stap!

PT Kimarek Aruwam Agorik

Just another WordPress.com site

Wantok Coffee News

Melanesia Foods and Beverages News

Perempuan Papua

Melahirkan, Merawat dan Menyambut

UUDS ULMWP

for a Free and Independent West Papua

UUDS ULMWP 2020

Memagari untuk Membebaskan Tanah dan Bangsa Papua!

Melanesia Spirit & Nature News

Promoting the Melanesian Way Conservation

Kotokay

The Roof of the Melanesian Elders

Eight Plus One Ministry

To Spread the Gospel, from Melanesia to Indonesia!

Koteka

This is My Origin and My Destiny