Salam Natal 2010 dan Tahun Baru 2011: Mari Kita Berjuang Terus Sampai PAPUA MERDEKA!

Dengan melewati perayaan Tahun rakyat dan anugerah sang Khalik Langit dan Bumi serta segenap isinya, maka dengan ini pula bangsa Papua mensyukuri memperoleh anugerah dan berkat yang melimpah.

Kedatangan Yesus Kristus ke Muka Bumi bertujuan utama menyelamatkan umat manusia dari kegelapan dan penjajahan, dari penguasa gelap yang menyangkal dan menyiksa umat manusia. Kedatangannya telah membawa banyak perubahan dan perubahan-perubahan yang dilakukannya penuh dengan kontroversial, banyak yang menolak, banyak juga yang menerima. Lama kelamaan, kontrovesi itu semakin jelas.

Manusia mulai dewasa dan memahami semua karya Yesus sebagai sang Juruselamat.

Tetapi perlu dicatat bahwa Yesus Kristus bukan hanya sekedar seorang Juruselamat, tetapi bisnis penyelamatan umat manusia itu dilakukan secara revolusioner, dengan cara merombak apa yang salah dalam bangunan pemahaman umat manusia terhadap Makhluk Ilahi.

Sudah banyak teolog, sosiolog, antropolog, politikus, rohaniawan, masyarakat adat melihat sosok Yesus sebagai seorang Revolusioner terbesar dalam sejarah umat manusia. Yesus lahir, hidup, menderita, dan mati sampai bangkit dan dengan ini melakukan revolusi besar-besaran dan mendasar. Tatatan sosial, budaya, politik, ekonomi, rohani dan aspek kehidupan umat manusia direvousi secara total.

Revolusi itu tidak berhenti saat Yesus disalibkan. Pada saat penyaliban, dan bahkan sebelum penyalibannya, Yesus sudah berulangkali menyatakan, “Kalian akan melakukan hal-hal yang lebih besar lagi,”, dan untuk melakukan hal-hal itu Yesus telah meninggalkan penggantinya.

Dalam perjalanan sejarah kehidupan umat manusia itu telah nyata terjadi revolusi besar-besaran di sana-sini.

Dalam proses revolusi itulah, maka dengan ini, komando Revolusi yang ada di Pulau New Guinea, yang kini beroperasi di hutan rimba New Guinea, saya selaku Panglima Tertinggi Komando Revolusi untuk West Papua, New Guinea dan Melanesia sekalian, menyampaikan kepada sekalian bangsa Papua di manapun Anda berada:

  • Bahwa perjuangan kemerdekaan West Papua merupakan kelanjutan proses revolusi tuntas umat manusia, kelanjutan revolusi yang ditinggalkan Yesus Kristus, yang patut diikuti oleh para pengikut Kristus;
  • Bahwa revolusi ini tidak hanya dimaksudkan untuk mengembalikan kedaulatan bangsa Papua dari tangan penjajah Indonesia, akan tetapi lebih dari itu ialah dalam proses pembangunan umat manusia sebagai kelanjutan pekerjaan Tuhan di Tanah Papua
  • Bahwa revolusi dimaksud di Tanah Papua tidak akan pernah terwujud dengan kehadiran NKRI di Tanah Papua. Karena itu, Otonomi Khusus bukanlah sebuah langkah revolusioner, tetapi ialah langkah kompromi, yang menunjukkan bukti matinya nyali dan rasa manusia Papua, tanda mentalitas orang Papua yang memenuhi syarat dijajah, yang pola pikirnya tidak meneladani revolusi Yesus yang ditinggalkannya; yang secara jelas menunjukkan bukan ciri dari seorang pengikut Revolusioner Dunia, Yesus Kristus

Oleh karena itu, memasuki tahun baru 2011 ini, Saya selaku Panglima Teringgi Komando Revolusi, Tentara Revolusi West Papua, yang memimpin kelanjutan Revolusi di Tanah Papua, untuk kepentingan bangsa Papua, Pulau New Guinea dan ras/etnis Melanesia, menyerukan agar setiap pihak mempersiapkan diri dalam doa, tenaga, waktu dan dana untuk terus mendukung perjuangan Papua Merdeka, karena perjuangan ini merupakan kelanjutan Amanat Agung Yesus Kristus, “Pergilah, Jadikanlah sekalian bangsa murid-Ku, mulai dari Yerusalem, YUdea, Samaria, dan sampai ke Ujung Bumi,” (Kisah Rasul 1:8).

Bagi yang menolak Revolusi ialah mereka yang senang dengan “status quo”, yang mentalnya mental budak, yang nyalinya telah mati, yang hargadirinya telah tergadaikan, atau digadaikan, atau telah hilang sama sekali.

Memasuki tahun 2011, lihatlah kepada perubahan-perubahan sebagai dampai dari Revolusi di Tanah Papua. Semoga bagi yang bertelinga mendengar, yang bermata melihat tanda-tanda ini, dan yang berhatinurani terdorong untuk mendukung misi agung ini.

Issued at: Central Defence Headquarters
On date: 28 December 2010
——————————————————
Secretary-General I,

Signed

Amunggut Tabi, Lieut. Gen. TRWP
BRN: A.018676

Supreme Commander,

Signed

Mathias Wenda, General TRWP
NBP: A.001076

WikiLeaks: RI Desak AS ‘Pulihkan’ Kopassus

VIVAnews – Indonesia dikabarkan tak bersedia menerima kunjungan Presiden Barack Obama kecuali Amerika Serikat (AS) mencabut larangan pelatihan bagi satuan elit Kopassus. Pencabutan ini juga dipandang penting untuk melindungi kepentingan Amerika.

Demikian menurut laman harian Australia, The Age, yang mengklaim mendapat bocoran eksklusif dari WikiLeaks atas memo diplomatik AS menyangkut isu Kopassus itu, Jumat 17 Desember 2010. Laporan itu diduga berasal dari Kedutaan AS di Jakarta dan dikirim ke Washington DC pada Januari 2010.

Menurut The Age, enam bulan setelah keluar memo itu, AS sepakat untuk melanjutkan latihan dengan Kopassus, setelah dilarang sejak 1999. Kebijakan mendapat kritik dari kalangan pembela HAM karena satuan elit Indonesia itu terlibat dalam pelanggaran HAM, diantaranya kekerasan di Timor Timur dan Papua.

Menurut memo itu, Kedubes AS di Jakarta menilai permintaan dari Presiden Susilo Bambang Yudhoyono atas pencabutan larangan itu harus dipenuhi untuk menjamin bahwa militer dan keamanan Indonesia akan melindungi kepentingan Amerika, termasuk kerjasama dalam perang melawan terorisme.

Memo itu juga menyebut bahwa hubungan militer yang lebih dekat dengan kedua negara akan mendorong reformasi lebih lanjut di tubuh militer Indonesia.

“Presiden Yudhoyono [SBY] dan pejabat senior Indonesia lainnya telah menegaskan kepada kami bahwa SBY melihat isu pelatihan Kopassus ini merupakan ujian bagi hubungan bilateral, dan beliau percaya bahwa kunjungan Presiden Obama tidak akan sukses kecuali isu ini diselesakan sebelum kunjungan,” demikian penggalan memo yang dibocorkan WikiLeaks kepada The Age.

Pada kunjungan ke Jakarta Juli lalu, Menteri Pertahanan AS, Robert Gates, mengatakan bahwa AS perlu membuka lagi hubungan dengan Kopassus. Ini “sebagai dampak reformasi militer Indonesia dalam satu dekade terakhir, profesionalisme TNI yang terus berlangsung dan langkah-langkah yang telah dilakukan Kementrian Pertahanan [Indonesia] atas isu HAM,'” demikian laporan itu.

JUM’AT, 17 DESEMBER 2010, 08:26 WIB
VIVAnews

Pengibaran Bintang 14, Diwaspadai

JAYAPURA-Meski pergerakan kelompok pro kemerdekaan ‘Bangsa Melanesi’ selama ini sudah kurang terdengar lagi, namun pihak kepolisian Polda Papua tetap mewaspadai kemungkinan adanya gerekan-gerakan tidak terduga. Untuk itu, sehubungan hari ini, Selasa 14 Desember yang diklaim sebagai hari Kemerdekaan Bangsa Melanesia, pihak Polda Papua telah menginstruksikan ke seluruh jajarannya di Polres dan Polresta untuk menyiagakan pasukannya. Pihak Polda Papua berjanji tidak akan mentolerir pihak-pihak tertentu yang sengaja mengibarkan bendera bintang 14 atau bendera Melanesia di wilayah Papua, dengan tujuan memperingati hari kemerdekaan Bangsa Melanesia. Polda Papua menggerakan sebanyak 999 aparat keamanan, sedangkan masing masing Polres dan Polresta di seluruh Provinsi Papua dan Papua Barat menggerakan 2/3 aparat keamanan sebagai langkah antisipasi. Demikian Kabag Humas Polda Papua AKBP Wachyono mengatakan hal ini ketika dihubungi Bintang Papua via ponselnya semalam. Dia mengatakan, pihaknya melakukan operasi pengamanan dan razia seperti unjukrasa, pengibaran bendera Bintang 14 dan lain lain. Hal ini dilakukan untuk menjaga keamanan dan ketertiban agar masyarakat dapat melakukan aktivitasnya dengan aman dan lancar.

Pengamanan tersebut, katanya, dilakukan selama 4 hari sejak Minggu (12/12) hingga Selasa (14/12) khusus di Kota Jayapura, pihaknya menggerakan aparat keamanan di titik keramaian mulai dari Bhayangkara hingga sampai ke wilayah perbatasan Papua New Gui Nea (PNG) di Skouw Wutung, Distrik Muara Tami, Kota Jayapura serta menjaga obyek obyek vital seperti Kantor Gubernur, Gedung DPRP dan lain lain. Sementara pantauan di Gedung DPRP, Jayapura kemarin tampak aparat keamanan dari Brimobda Papua berjaga jaga sejak Minggu (12/12) pukul 19.00 WIT.Seorang aparat keamanan yang ditemui Bintang Papua di Halaman DPRP, Senin (13/12) mengatakan, kemarin untuk mengantisipasi Hari Melanesia, maka pihaknya mendapat tugas melakukan penjagaan di seluruh titik mulai dari Bhayangkara sampai ke wilayah perbatasan Papua Nugini (PNG) di Skouw Wutung, Distrik Muara Tami, Kota Jayapura.
Sementara itu, menjelang peringatan kemerdekaan bangsa Melanesia 14 Desember 2010, di Wilayah Keerom digelar patroli serta operasi gabungan TNI dan Polri. Demikian diungkapkan Kapolres Keerom, AKBP Bedjo PS saat ditemui di Kantor Bupati, Senin (14/12).

Menurutnya, Razia serta patroli dilakukan untuk menjadikan wilayah Keerom tetap aman dan kondusif. “Diharapkan juga masyarakat tetap tenang dan menjalankan aktifitas seperti biasanya, jangan mudah terovokasi terhadap orang yang tidak bertanggung jawab,” ujarnya.Potroli Gabungan ini dilakukan pada malam hari sampai pagi bersama pihak TNI atau Satgas yang sedang bertugas. “Kami akan lakukan Patroli Gabungan dengan sejumlah TNI yang ada di Wilayah Kabupaten Keerom,” ungkapnya.
Kapolres Kabupaten Jayapura, AKBP Matius Fakhiri kepada wartawan mengakui bila tidak ada pengamanan khusus yang dilakukan untuk mengantisipasi hari malenesia ( 14 Desember) “ Tidak ada pengamanan khusus, hanya saja kita tetap melakukan apel siaga juga menggelar patroli tetap, dalam dua hari terakhir ini, untuk mengantisipasi adanya gerakan-gerakan tidak terduga,” ungkapnya di hadapan wartawan ketika di temui di Mabes Polres Jayapura, kemarin( 13/12).

Diakui Matius, sekalipun ada siaga yang diberlakukan untuk 1 regu dari Brimob, untuk pengamanan di wilayah Sentani dan sekitarnya, akan tetapi pasukan brigadier mobil tersebut tetap bersiaga di markas besar Brimob sambil menunggu perintah lanjutan.Terkait izin untuk melakukan kegiatan pada hari ini ( 14 desember) diakui Martinus bila pihaknya belum menerima laporan permohonan izin untuk melakuakn kegiatan di wilayahnya. Diakuinya, bila situasi di Sentani dan sekitarnya menjelang tanggal 14 Desember aman terkendali.(mdc/cr-11/as/don/03)

Antisipasi Hari Melanesia

AYAPURA [PAPOS]– Polda Papua dan seluruh jajaran Polres di Provinsi Papua dan Papua Barat melakukan pengamanan antisipasi terkait dengan perayaan hari Melanesia yang jatuh pada hari ini, Selasa (14/12). Dimana seperti masa-masa lalu pada 14 Desember, sekelompok kecil masyarakat melakukan pengibaran bendera bintang empat belas.

Untuk Hari ini, Selasa (14/12) Polda dan seluruh Polres melakukan antisipasi gerakan kelompok masyarakat Melanesia tersebut dengan menurunkan personil sebanyak 999 personil dari Satgas Polda Papua, untuk menghindari adanya gerakan sekelompok orang untuk melakukan pelanggaran terhadap kedaulatan NKRI.

Kepala Bidang Humas Polda Papua, Kobes Pol, Wachyono kepada Papua Pos mengatakan, meskipun tidak ada warga yang mengajukan surat perberitahuan ke Polisi untuk melakukan aksi pada peringatan hari Melanesia tanggal 14 Desember ini, namun pihak kepolisian daerah Papua tetap melakukan antisipasi, apakah kemungkinan ada gerakan pengibaran bendera bintang 14 atau aksi demo, maka Polisi akan membubarkan secara paksa.

“ Polda Papua sudah siap melakukan pengamanan diwilayah yang dianggap rawan,” ujar Kabid Humas Polda Papua saat dikonfirmasi Papua Pos, Senin (13/12) kemarin.

Lebih jauh ditegaskan, Jajaran kepolisian akan melakukan patroli di setiap titik yang dianggap rawan serta melakukan operasi rutin untuk menghindari adanya orang yang membawa senjata tajam, bahan peledak dan barang bawaan yang membahayakan diri termasuk narkoba.

Operasi ini juga terkait dalam pengamanan masyarakat menjelang perayaan natal.

Kabid Humas menuturkan, selain melakukan patrol di setia titik rawan baik dari skla kecil maupun skala besar, pihaknya juga akan melakukan pengamanan di Kantor Gubernur, Kantor DPRP, termasuk di daerah Jayapura sampai pada daearah perbatasan RI-PNG di Skouw.

Lanjutnya, dengan anggota yang disiagakan ini melakukan pencegahan adanya pelanggaran-pelanggaran bagi kelompok-kelompok tertentu atau yang ingin mengacaukan situasi keamanan. “ Kalau memang ditemukan pelanggaran yang melawan hukum, maka kita akan melakukan penegakkan hukum,” tegas Kabid Humas.

Selain melakukan antisipasi diwilayah Kota Jayapura, Polda Papua juga mengistruksikan kepada semua jajaran Polres di Polda Papua dan papua Barat untuk melakukan persiapan anggota dalam mengantisipasi kemungkinan terjadinya tindakan masyarakat yang melakukan kegiatan peringatan Hari Melanesia.

“Semua Polres diinstrusikan melakukan pengamanan dan meurunkan 2/3 kekuatan pasukan,” ujar Kabid Humas.

Ketika ditanya, apa tindakan bila ada oknum-oknum yang melakukan pelanggaran atau anarkhis saat perayaan hari Melanesia ini, Kabid Humas mengatakan, kalau ada pelanggara maka ditindak sesuai dengan hukum serta melakukan penangkapan dan memproses sesuai aturan hukum yang berlaku. Polisi tidak pernah kompromi dengan orang-orang yang melakukan anarkis dan pengacau keamanan, tandasnya.[loy]

BEM Uncen Serukan Tangkap ‘Separatis Berdasi’

JAYAPURA [PAPOS]- Tangkap separatis berdasi, itulah tulisan pada spanduk yang akan dibentangkan oleh Badan Esekutif Mahasiswa (BEM) Uncen dalam aksi demo damai di kantor DPRP dalam rangka memperingati hari anti korupsi se-dunia Kamis (9/12) hari ini.

Mahasiswa Uncen bersama Aliansi Pemuda dan Mahasiswa Papua Anti Korupsi akan mendatangi kantor DPRP untuk menyampaikan aspirasi tentang penanganan kasus kerupsi di Papua. Aksi demo damai tersebut di koordinir oleh Ketua Bem Fakultas Hukum, Thomas Syufri dan Ketua Aliansi Pemuda dan Mahasiswa Papua anti Korupsi Kaleb Woisiri.

Kepada wartawan di Seketariat BEM Uncen, Rabu (8/12) kemarin, Thomas Syufri selaku koordinator aksi mengatakan, aksi yang dilakukan oleh mahasiswa Uncen dan Aliansi Pemuda dan Mahasiswa Papua anti Korupsi, mengingat pada tanggal (9/12) hari ini, merupakan hari anti korupsi se-dunia.

Sebagai kaum intelettual dan sebagai fungsi kontrol pembangunan di Papua mahasiswa Papua menilai kasus korupsi semakin merajalela di Papua, namun upaya untuk memberantas kasus korupsi sangat minim. Hal tersebut membuat kami mahasiswa di Papua tergerak hati untuk menyeruhkan kepada pemerintah maupun penegak hukum agar serius dalam penangan kasus korupsi di Papua, tindakan mahasiswa untuk mengingatkan pemerintah dan penegak hukum melalui aksi demo damai yang dilakukan hari ini. Mahasiswa akan memintah DPRP selaku wakil rakyat di Papua untuk mendesak pemerintah dan penegak hukum mengusut seluruh kasus korupsi di Papua yang belum di usut.

“Mereka adalah separatis berdasi yang duduk di kursi empuk, makan uang rakyat sehingga rakyat menderita,” ujar Thomas Syufri.

Sementara itu Ketua Aliansi Pemuda dan Mahasiswa Papua Anti Korupsi Kaleb Woisiri mengatakan, beberapa kasus korupsi yang data-data sudah muncul seperti kasus Hatari dan kasus Jhon Ibo namun tiba-tiba langsung tenggelam, untuk itu kami mahasiswa Papua dalam aksi hari ini, meminta DPRP mendesak penegak hukum menuntaskan kasus korupsi di Papua yang sudah nyata di mata.

Kata Wasiri, mahasiswa telah menyiapkan pokok pikiran untuk disampaikan kepada DPRP untuk ditindak lanjuti kepada pemerintah Provinsi Papua dalam hal ini Gubernur serta Polda Papua untuk serius menangani kasus korupsi.[eka]

Written by Eka/Papos
Thursday, 09 December 2010 00:00

Tak Terima Rekannya Ditembak, Buchtar Mengamuk di Lapas

Sementara itu menyusul, tewasnya 1 rekannya di tangan aparat keamanan saat melarikan diri dari Lapas Abepura Jumat (3/12) sekitar pukul 12.00 WIT, sore harinya sekitar pukul 18.30 WIT, Buchtar Tabuni bersama Filep Karma dan diikuti puluhan orang penghuni lapas lain melakukan aksi keributan di dalam lapas.

Dari informasi yang didapat Bintang Papua bahwa hal itu dipicu saat Buctar Tabuni meminta bertemu dengan Kalapas Abepura untuk mengklarifikasi kejadian penembakan rekannya bernama Miron Wetipo. Buchtar Tabuni yang merupakan Ketua Umum KNPB (Komite Nasional Papua Barat) meminta kepada kalapas untuk menghadirkan aparat yang menembak rekannya hingga tewas di lapas Abepura.

Karena permintaannya tidak dikabulkan Kalapas Abepura Liberti Sitinjak, Bucktar Tabuni bersama Filep Karma mengkoordinir puluhan penghuni lapas Abepura melakukan keributan. Yaitu melempari petugas lapas, serta fasilitas lapas Abepura menggunakan batu. Melihat aksi tersebut, petugas dari Satbrimobda Papua yang berjaga di Lapas bersama petugas Lapas Abepura sempat memberikan tembakan peringatan. Tidak lama kemudian dua unit Truk membawa pasukan dari Brimobda Papua datang ke Lapas Abepura untuk membantu proses pengamanan. Setelah dilakukan sweeping akhirnya situasi di lapas Abepura kembali aman. Dari kejadian tersebut, lima orang narapidana masing-masing Buchtar Tabuni, Filep Karma, Dominggus Pulalo, Alex Elopere dan Dani Karobaba diamankan dan dibawa ke Polresta Jayapura.

Kalapas Abepura Liberti Sitinjak saat dihubungi Bintang papua via Ponselnya membenarkan kejadian tersebut. “Iya kita sudah berkoordinasi dengan kepolisian. Lima orang sementara kita amankan untuk dibawa ke Polresta Jayapura,” ungkapnya.(aj/don/03)

Rayakan 1 Desember, Seorang Warga Tertembak di Mbogola’me, Jayawijaya

Kombes Pol. WachyonoJayapura – Meski diberitakan, perayaan 1 Desember di seluruh Tanah Papua kondusif, namun ternyata sempat diwarnai penembakan yang menewaskan satu korban, di Distrik Bolakme, Jayawijaya, Rabu (1/12). Kabid Humas Polda Papua Kombes Pol. Wachyono membenarkan adanya kasus penembakan seperti yang diberitakan media tersebut. “Memang ada laporan dari Kasat Reskrim Polres Jayawijaya, terkait insiden penembakan itu. Tapi berkaitan dengan motif penembakan dan upaya hukum selanjutnya kita perlu koordinasi dengan pihak TNI, sebab kejadian ini kan pada saat dilakukan patroli gabungan,” ujar Wachyono kepada wartawan di ruang kerjanya, Jumat (3/12) kemarin.Dalam patroli tersebut, diakui Wachyono memang ada dua anggota Polisi dari Polsek Bolakme yang turut serta dengan beberapa aparat TNI dari Batalyon 755 Merauke untuk melakukan pengamanan dalam rangka peringatan HUT Papua 1 Desember di wilayah tersebut. “Memang saat itu ada dua anggota kami yang turut serta dalam patroli,” akunya seraya menambahkan untuk informasi lebih detail lebih baik wartawan menanyakan langsung ke pihak TNI.

Sementara itu berdasarkan informasi dari nara sumber kami, diketahui penembakan bermula dari informasi bahwa ada masyarakat yang menyembunyikan lima pucuk senjata. Selain itu diperoleh pula informasi akan adanya pengibaran bendera Bintang Kejora pada perayaan HUT Papua Merdeka 1 Desember. Berdasarkan informasi itulah, kemudian aparat TNI dari Satgas Batlyon 755 yang bertugas melakukan pengamanan di wilayah tersebut mengajak serta anggota Polisi yang bertugas di Polsek Bolakme untuk bersama sama melakukan patroli.

Setibanya di lokasi yang dicurigai akan ada pengibaran Bintang Kejora, ternyata ditemukan warga sedang beribadah. Petugas pun menanyakan kepada masyarakat perihal informasi yang diterima. Namun entah bagaimana awalnya, tiba tiba terjadi penembakan yang akhirnya menewaskan satu orang warga bernama Atili Wenda (35) terkena luka tembak di bahu kiri, dan melukai satu orang lainnya bernama Melus Tabuni (46) luka tembak di bahu kiri tembus belakang, hingga berita ini diturunkan masih dirawat di Puskemas Bandua, Bolakme.Di tempat terpisah, Kapendam XVII/Trikora, Letkol CZI Harry Priyatna membantah adanya dua korban terkena tembakan saat dilakukan patrol. Bahkan, katanya justru pihak masyarakat yang melakukan penyerangan lebih dulu.”Mereka lebih dulu menyerang petugas yang sedang patroli, makanya untuk membela diri dikeluarkan tembakan,” kata Kapendam kepada wartawan kemarin.

Dia juga mengaku belum memperoleh informasi lebih detail, terkait insiden penembakan ini. (ar/don/03)

Bintang Kejora Tak Berkibar, Kondisi Papua Aman

JAYAPURA – Situasi Kota Jayapura setelah peringatan hari Kemerdekaan Bangsa Papua yang jatuh pada 1 Desember lalu, tetap aman dan kondusif.

“Meski masyarakat umumnya merasa khawatir, namun kepolisian telah memberikan jaminan keamanan sehingga apa yang ditakutkan masyarakat tidak terjadi. Semua ini juga berkat dukungan masyarakat yang bersinergi dengan kepolisian,” ujar Kapolresta Jayapura AKBP Imam Setiawan di Jayapura, Kamis (2/12/2010).

Menurut dia, 1 Desember yang diklaim sebagai hari kemerdekaaan bangsa Papua, cenderung dengan pernyataan sikap bangsa Papua ingin melepas diri dari NKRI. Tetapi, pada 1 Desember kemarin, situasi Kota Jayapura dan sekitarnya tetap aman dan kondusif.

“Ini juga berkat penyataan dari Dewan Adat Papua yang menjamin tidak ada pengibaran Bendera Bintang Kejora pada 1 Desember kemarin,” tandas Kapolresta.

Pantauan okezone di lapangan, sejak Rabu 1 Desember hingga Kamis 2 Desember, situasi kota Jayapura tetap aman terkendali. Meski diisukan akan ada penyerangan 1 Desember oleh sekelompok anggota TPN/OPM. Tetapi aktivitas masyarakat hingga hari ini masih berjalan sebagaimana biasanya.

Sementara itu, kurang lebih 800 personel aparat gabungan dari TNI dan Polri disiagakan di 40 titik yang dianggap rawan. Di antaranya wilayah perbatasan antara Republik Indonesia dengan Negara Papua Nugini, wilayah Tanah Hitam, serta Expo Waena.

(teb)

HUT OPM, Polri-TNI Berkoordinasi

JAKARTA – Mabes Polri akan berkoordinasi dengan TNI terkait pengamanan peringatan kelahiran Organisasi Papua Merdeka (OPM) yang jatuh pada 1 Desember ini.

“Masing-masing satu pleton. Satu pleton Brimob, satu pleton TNI, dari batalyon yang terdekat di sana dan dari Polres sendiri,” ujar Kadiv Humas Polri Irjen Iskandar Hasan, Rabu (1/12/2010).

Iskandar menjelaskan polisi akan terus mewaspadai dan mengantisipasi segala kemungkinan bentuk tindakan seporadis dari OPM.

“Kondisi geografi di Papua cukup sulit walaupun kelihatannya jarak pandangnya dekat, tapi ngejarnya itu turun dulu baru naik lagi. Itu juga sedang ditelusuri pasukan di sana baik itu dari Brimob, TNI, maupun Polres setempat,” jelasnya.
(hri)

1 Desember, Fokus di Makam Theys

Peringatan 1 Desember (hari ini) dipastikan oleh DAP tanpa pengibaran bendera Bintang Kejora namun hanya akan diisi dengan ibadah dan orasi politik dari semua perwakilan DAP di makam Theys Eluay di Sentani. Tampak suasana makam Theys H Eluay beberapa waktu lalu yang akan dipadati ribuan masa hari ini.Sentani- Tepat hari ini 1 Desember 2010, selain diperingati sebagai hari AIDS se-dunia, tapi juga oleh sebagian rakyat Papua dirayakan sebagai suatu hari ‘keramat’ yaitu hari kemerdekaan bangsa Papua. Karena itu, setiap 1 Desember dilakukan berbagai agenda kegiatan oleh masyarakat, bahkan tidak jarang diwarnai pengibaran bendera bintang kejora (BK).

Lantas apa saja kegiatan masyarakat Adat Papua hari ini memperingati 1 Desember? Ketua Umum Dewan Adat Papua, ( DAP) Forkorus Yoboisembut telah menyerukan pada seluruh bangsa Papua pada hari besar peringatan 1 Desember tidak dibenarkan mengibarkan Bintang Kejora, namun lebih menfokuskan diri pada ibadah bersama dan agenda lainnya, yaitu mendengar orasi politik, juga mengadakan jumpa pers yang semuanya akan di gelar di lapangan lokasi Makam Theys Hiyo Eluay, tokoh aktifis Papua, yang di makamkan di lapangan, tepat depan jalan menuju bandara Sentani. “ Jika tidak hujan semua terfokus di satu titik yaitu makam Theys, tapi jika cuaca kurang mendukung, perayaan ibadah akan tetap di laksanakan, namun di gedung-gedung wilayah masing-masing,”katanya.

Forkorus kembali mengingatkan bahwa dalam peringatan 1 Desember ini tidak ada pengibaran bendara bintang Kejora di seluruh penjuru tanah Papua.

“ Saya sudah menyerukan pada semua pimpinan-pimpinan DAP di daerah, baik itu di perbatasan Timur, Barat, Selatan , Pegunungan dan perbatasan utara,” ungkap Forkorus kepada Bintang Papua via teleppn selularnya Selasa 30/11) kemarin.
Selain menyurakan agar seluruh masyarakat bangsa papua tidak kibarkan BK, Forkorus juga meminta seluruh masyarakat untuk tidak takut pada pernyataan TNI/Polri yang sebelumnya telah mempublikasikan akan mengerahkan ratusan personil untuk menjaga keamanan pada puncak kegaiatan 1 Desember.

“ Jangan takut, tugas TNI/Polri adalah menjaga keamanan dan ketertiban serta tugas kita adalah merayakan hari besar kita dengan menggelar ibadah bersama dengan tertib, jadi tetap lah berkumpul selama kita benar, jangan pernah merasa takut,” himbaunya pada seluruh bangasa Papua yang sebelumnya merasa khawatir atas pengamanan yang akan di lakukan aparat TNI/Polri pada hari H nya.

Ditambahkan, jika dalam agenda kegaitan 1 Desember, selain memberikan kesempatan pada setiap pimpinan DAP di berbagai wilayah di Tanah Papua untuk menyampaikan orasi politiknya, kegiatana ini akan diawali dengan menggelar ibadah bersama, dan juga jumpa pers. “Dari DAP akan mengakomodir semua pimpinan- wilayah untuk menyampaikan orasi politiknya ,” kata Forkorus.

Disinggung mengenai orasi politik yang akan di sampaikan oleh Ketua Umum DAP, Forkorus mengatakan, akan berorasi terkait landasan ilmiah dari DAP, karena menurutnya hukum apa pun semua akan kembali pada hak azasi manusia untuk menyampaikan pendapat juga pikirannya.(as/don/03)

Up ↑

Wantok Coffee

Melanesia Single Origin Coffee

MAMA Minimart

MAMA Stap, na Yumi Stap!

PT Kimarek Aruwam Agorik

Just another WordPress.com site

Wantok Coffee News

Melanesia Foods and Beverages News

Perempuan Papua

Melahirkan, Merawat dan Menyambut

UUDS ULMWP

for a Free and Independent West Papua

UUDS ULMWP 2020

Memagari untuk Membebaskan Tanah dan Bangsa Papua!

Melanesia Spirit & Nature News

Promoting the Melanesian Way Conservation

Kotokay

The Roof of the Melanesian Elders

Eight Plus One Ministry

To Spread the Gospel, from Melanesia to Indonesia!

Koteka

This is My Origin and My Destiny