Ra
Sidang Viktor Yemo,Mengadili Sebuah Wacana
JAYAPURA [PAPOS] -Komite Nasional Papua Barat (KNPB) menilai, sidang Viktor Yemo yang didakwa kaus Makar, sama saja penegak hukum mengadili sebuah wacana.
Hal tersebut dikatakan oleh Humas KNPB Mako Tabuni kepada Papua Pos, Kamis (11/3), di Pengadilan Negeri Jayapura. Menurut Mako Tabuni, Jaksa dan Majelis Hakim yang mengadili Viktor Yemo dalam kasus maker, sama saja Majelis Hakim dan Jaksa mengadili sebuah wacana.
Mako Tabuni mengatakan, Viktor Yemo melakukan aksi unjuk rasa untuk menyampaikan aspirasi dan tuntutan Rakyat Papua mengapa harus diadili dan di cap maker.
Delapan Senjata Api Polda Papua Dirampas
JAYAPURA–MI: Sebanyak delapan senjata api milik aparat Kepolisian Daerah (Polda) Papua hilang akibat dirampas oleh kelompok tidak dikenal dalam kurun waktu dua tahun terakhir.
Perampasan senjata api tersebut terjadi di Kabupaten Puncak Jaya dan Jayapura, ketika personel Polda Papua sedang melaksanakan tugas pengamanan.
Kepala Bidang Humas Polda Papua Komisaris Besar Agus Rianto di Jayapura, Selasa (9/3), mengatakan pihaknya hingga saat ini masih melakukan penyelidikan terhadap sejumlah kasus perampasan senjata milik aparat Polri.
“Polisi belum mengetahui kelompok mana yang bertanggung jawab atas serangkaian aksi penyerangan terhadap aparat Polri yang mengakibatkan senjata api turut raib dirampas oleh sekelompok massa. Polisi masih mengintensifkan pencarian,” ujarnya.
Agus menjelaskan, dalam tahun ini saja tiga pucuk senjata api milik Polda Papua raib. Dua senjata api di antaranya dirampas di Jayapura dan satu lagi di Kabupaten Puncak Jaya.
“Kasus hilangnya senjata api paling banyak terjadi di Puncak Jaya selama dua tahun terakhir. Sebanyak enam pucuk senjata api yang dirampas oleh sekelompok massa dalam tiga aksi penyerangan di antaranya penyerangan di Pos polisi Tingginambut, pengamanan BBM (bahan bakar minyak), dan Bandara Mulia,” katanya. (FO/OL-01)
Oknum Polri Tewas Misteri
SENTANI [PAPOS] -Brigpol Laode Akbar, anggota Batilang Polantas Polres Jayapura, ditemukan tewas mengenaskan di kediamannya blakang Toko Yasmi Pasar Lama Sentani, Rabu (3/3) kemarin.
Korban meninggal bersimbah darah, karena luka bocor akibat terkena lengseran peluru Senjata Api (Senpi) di bagian depan wajah tembus bagian belakang kepala.
Kapolres Jayapura AKBP Mathius D Fakhiri SIK, melalui Kapolsek Sentani Kota Iptu Frans Fenanlampir, mengatakan korban ditemukan tewas Rabu (3/3), sekitar pukul 09.00.
Kasusnya dilaporkan oleh seorang ibu menggunakan sepeda motor datang ke Mako Polsek Sentani Kota, yang mengatakan almarhum Laode ditemukan meninggal di rumahnya.
Di Mulia, Tukang Ojek Dibunuh OTK
JAYAPURA-Kasus pembunuhan yang dilakukan oleh orang tak dikenal (OTK) kembali terjadi di Mulia, Kabupaten Puncak Jaya, Papua, Jumat (26/2) kemarin.
Jika sebelumnya seorang anggota Brimob Polda Papua, Briptu Sahrul Mahulau (23) tewas ditembak OTK, maka Jumat (26/2) kemarin seorang tukang ojek bernama Muganif Pulance (32) yang sering beroperasi di Kota Mulia juga tewas.
Korban ditemukan tewas mengenaskan di Kampung Wuyukwi, Distrik Mulia 300 meter dari pusat kota lama sekitar pukul 10.30 WIT. Saat ditemukan, korban ditutupi alang-alang dan di bagian lehernya nyaris putus, diduga karena dikampak oleh para pelakunya.
Kapolres Puncak Jaya AKBP Alex Korwa saat dikonfirmasi Cenderawasih Pos melalui telepon selulernya mengatakan, pihaknya menerima adanya penemuan mayat sekitar pukul 09.00 WIT, setelah itu langsung bergerak menuju TKP dan menemukan sosok mayat yang ditutupi alang-alang bersama kendaraan sepeda motor milik korban DS 2538 AO.
“Mendapatkan laporan itu kami langsung melakukan olah TKP untuk mengetahui motifnya,” ungkap Kapolres.
Untuk saksi-saksi kejadian ini, pihaknya belum melakukan pemeriksaan, sebab saat bergerak menuju TKP tidak satupun orang ada di sekitar TKP, sehingga belum ada saksi yang diperiksa.
Namun demikian, pihaknya akan tetap melakukan penyelidikan lebih lanjut sehingga bisa menemukan titik terang siapa pelakunya.
Sementara itu, Pabung Puncak Jaya, Kapten Inf. Junaedi mengungkapkannya, penemuan mayat ini berawal dari seorang purnawirawan TNI yang melihat mayat ditutupi dengan alang-alang tepatnya di gang (jalan setapak) masuk ke arah Gereja Agape bersama motor DS 2538 AO.
Dugaan pembunuhan itu, menurut Pabung Puncak Jaya dilakukan dengan menggunakan kampak hingga mengenai bagian rahang tembus ke belakang. Sebelumnya, korban diduga membawa penumpang ke Kampung Wuyukwi dan diduga pada saat pulang itu korban kemudian dibunuh.
Setelah dievakuasi dari TKP, korban kemudian diotopsi di RSUD Mulia dan selanjutnya diterbangkan ke Jayapura dan kemudian diterbangkan ke kampung halamannya. “Jenazah dibawa ke Jayapura dengan menggunakan pesawat Susi Air bersama istri dan anaknya,” tandasnya. (nal/fud)
(scorpions)
===============
Selasa, 16/02/2010 19:26 WIB
Anggota Polda Papua Tewas
Polisi Telusuri Indikasi Keterlibatan OPM
Didit Tri Kertapati – detikNews
Jakarta – Kepolisian terus menelusuri indikasi keterlibatan Organisai Papua Merdeka (OPM) dalam aksi penembakan yang menyebabkan seorang anggota Brimob Polda Papua tewas. Akibat peristiwa itu peningkatan kewaspadaan menjadi prioritas Kepolisian di wilayah Papua.
“Dari peristiwa kemarin, peningkatan kewaspadaan menjadi prioritas, nanti ke depan tidak ada lagi under estimate. Keluar petugas sendirian, karena di tempat umum mereka melakukan hal tersebut,” kata Kadivhumas Mabes Polri Irjen Pol Edward Aritonang di Mabes Polri, Jl Trunojoyo, Jakarta Selatan, Selasa (16/2/2010).
Edward mengatakan ada indikasi pelaku adalah anggota OPM. Namun saat ini belum ada kesimpulan hingga proses pemeriksaan saksi dan penyelidikan selesai.
“Dugaan sementara seperti itu,” imbuhnya.
Menurut Edward ada beberapa akar permasalahan di Papua yang menyebabkan sering terjadinya konflik. Antara lain adalah adanya sekelompok orang yang menginginkan Papua melepaskan diri dari NKRI dan soal pemekaran daerah.
“Polisi tidak bisa sampai ke akar masalah tersebut. Kita berharap dari pemerintah secara komprehensif bisa mengatasinya. Kita sudah memberi rekomendasi kepada pemerintah, tapi kalau masalah pemekaran ada yang setuju ada yang tidak. Kalau masalah keluar NKRI jelas tidak bisa karena itu sudah harga mati,” jelasnya.
(mpr/nwk Cepos)
Tukang Ojek di Puncak Jaya Tewas Mengenaskan
JAYAPURA–MI: Seorang tukang ojek, Moganif Pulanca, 32, Jumat (26/2) pagi, sekitar pukul 09.00 WIT, ditemukan tewas mengenaskan di pinggir jalan kampung Muyukwi, Mulisa, Kabupaten Puncak Jaya, Papua.
Kapolres Puncak Jaya AKB Alek Korwa yang dihubungi dari Jayapura membenarkan temuan mayat yang setelah diselidiki ternyata tukang ojek. Korban meninggal akibat dikampak di rahang kiri tembus leher belakang.
Saat ditemukan sepeda motor korban nampak menindih tubuhnya. Lokasi temuan jasad korban yang terletak di sekitar kota Mulia atau tiga kilometer dari Polres Mulia, berdasarkan laporan masyarakat yang menemukan sesosok mayat di pinggir jalan.
Setelah diselidiki ternyata korban adalah Moganif yang berprofesi sebagai tukang ojek. Jenazah korban saat ini sudah dievakuasi ke Jayapura dengan menggunakan pesawat Susi Air.
Ketika ditanya apakah sudah ada yang dimintai keterangan, Alek mengakui belum ada yang dimintai keterangannya. “Kami masih menggumpulkan barang bukti dan melakukan olah TKP,” jelasnya. (Ant/OL-04)
Aspirasi Tuntut Merdeka Kembali Disuarakan
JAYAPURA – Ratusan massa yang menamakan dirinya Solidaritas HAM, Hukum dan Demokrasi Papua kembali menyuarakan aspirasi Papua Merdeka lewat aksi demo damai yang dilakukan di DPRP, Senin (22/2) kemarin.
Aksi demo yang berlangsung tertib itu, awalnya massa berkumpul dari Perunas III Waena sekitar pukul 09.00 Wit.
Massa dengan berjalan kaki menuju Ekspo Waena. Sesampainya di depan Ekspo Waena sekitar pukul 09.45 WIT kemudian massa yang dari Perumnas III bergabung dengan massa yang telah menunggu di Ekpo Waena. Disana mereka kemudian beberapa orasi.
Dalam orasinya, para pendemo beberapa kali meneriakan ‘Papua Merdeka’. Mereka juga mengajak rakyat Papua untuk memperjuangkan hak-hak rakyat Papua yang selama ini tertindas. Kemudian setelah massa semakin banyak selanjutnya massa hendak berjalan kaki kearah Abepura.
Setelah berkoordinasi dengan Pihak Polsekta Abepura yang dipimpin langsung oleh Polsekta Abepura AKP Yafet Karafir akhirnya pihak kepolisian mengijinkan para pendemo untuk melakukan long much.
Para pendemo dengan berjalan kaki sambil bernyanyi dan terus meneriakan ‘Papua Merdeka’. Selain itu, para pendemo menggelar spanduk yang isinya ; Pemerintah segera tarik pasukan organic dan non organic , Stop militerisme di Papua. Negara bertanggung jawab atas seluruh korban pelanggaran HAM di Papua.
Selain spanduk para pendemo juga membawa beberapa pamflet yang diantaranya tertulis, Papua tanah damai hanyalah hayalan. Hentikan kekerasan terhadap tahanan Napol Tapol, bebaskan tahanan Tapol dan Napol di Papua. Stop militerisme di Papua, stop pembunuhan di luar proses hukum, hentikan penambahan kodam di Tanah Papua, hentikan bisnis di Tanah Papua, rakyat Papua lawan penindasan, dan pamphlet-pamflet lainnya.
Sesampainya di Padang Bulan ratusan massa itu dihentikan aksinya oleh pihak kepolisian karena aksi itu cukup mengganggu arus lalu lintas. Setelah berkoordinasi dengan aparat, kemudian disediakan lima buah truk dan satu buah taxi untuk mengangkut mereka. Ratusan pendemo kemudian menuju ke Abepura.
Sesampainya di Abepura tepatnya di depan Kantor Pos Abepura mobil yang dikendarai pendemo langsung berhenti dan para pendemo kembali berkoordinasi dengan pihak kepolisian akan melanjutkan aksinya tersebut ke DPRP.
Pengawalan ketat dari aparat gabungan Dalmas Mapolresta Jayapura dan Brimob sebanyak 1 kompi plus ditambah 1 unit kendaraan Water Canon telah disiagakan di Taman Imbi guna mengantisipasi hal-hal yang tidak diinginkan. ”Dalam mengantisipasi hal-hal yang tidak kita inginkan dalam aksi demo ini, kami telah menyiagakan pasukan untuk siap siaga,”ungkap Kapolresta Jayapura, AKBP. H. Imam Setiawan, SIK kepada wartawan disela-sela aksi demo tersebut.
Massa yang tiba di DPRP dengan berjalan kaki sambil membawa spanduk dan pamflet langsung masuk kemudian meneriakkan Papua Merdeka dan mengelilingi bundaran taman air yang ada di DPRP. Setelah tiba kemudian massa langsung membentangkan spanduk lain yang bertuliskan ”Pemerintah segera bebaskan Tapol/Napol tanpa syarat kemudian
Pemerintah RI segera membuka ruang HAM dan Demokrasi bagi rakyat Papua serta meminta supaya pemerintah segera menarik pasukan organik maupun non organik.
Sambil melakukan orasi secara bergantian dari masing-masing daerah dan kota. Dalam orasi-orasinya, Koordinator aksi, Usama Yogobi meminta supaya semua tahanan politik (Tapol) dan narapidana politik (Napol) dibebaskan tanpa syarat kemudian meminta kepada aparat kepolisian mengungkap kasus penembakan Opinus Tabuni di Wamena yang sampai sekarang tidak jelas.
Massa sempat menunggu lama ada pihak DPRP yang turun menemui namun menurut informasi bahwa hampir seluruhnya anggota DPRP sedang tidak ditempat karena sedang mengikuti Raker Bupati Se-Pegunungan Tengah di Wamena. Sambil menunggu, orasi terus berlanjut dan akhirnya Wakil Ketua II DPRP, Komarudin Watubun, SH, MH bersama Wakil Ketua Komisi A, Ir. Weynand Watori, anggota Komisi A, Amal Saleh, Wakil Ketua Komisi B, H. Zainuddin Sawiyah, SH dan anggota Komisi E, H. Maddu Mallu, SE turun untuk menemui mereka.
Namun sangat disayangkan meskipun pihak DPRP sudah menemui mereka tampaknya massa menginginkan Ketua DPRP, Drs. John Ibo, MM yang datang menemui namun berkat proses negosiasi dan pemahaman bahwa Ketua DPRP sedang tidak ditempat maka Wakil Ketua II yang menerima. Alasan itu akhirnya diterima massa namun tidak serta merta langsung memberikan semua pernyataan sikapnya sehingga dialog secara singkat pun terjadi. Massa meminta supaya DPRP bekerja untuk memperjuangkan pembebasan sejumlah tapol dan napol lewat pembentukan tim.
”Aspirasi ini tetap akan kami tindaklanjuti dan akan menjadi agenda sehingga untuk memutuskan permintaan itu kami tidak bisa karena harus lewat mekanisme. Kemudian menyangkut pembentukan tim itu akan ditinjau kembali karena akan lebih koordinasi dengan pimpinan DPRP sedangkan untuk pembebasan tapol dan napol, hal itu akan dikoordinasikan kepada Komisi A yang membidanginya sehingga perlu dibahas lebih jauh,”jelas Komarudin. (dni/nal/luc) (scorpions)
Long Mars Pendemo Digagalkan Aparat Keamanan
DEMO : Massa Solidaritas HAM dan Demokrasi Rakyat Sipil Papua saat melakukan unjuk rasa terkait masalah
pelanggaran HAM yang terjadi di Papua. Berlangsung di gedung DPR Papua, Senin (22/2) kemarin[ft:loi/papos]
JAYAPURA [PAPOS] – Ratusan masa yang tergabung dalam Solidaritas HAM dan Demokrasi Rakyat Sipil Papua melakukan unjuk rasa terkait masalah pelanggaran HAM yang terjadi di Papua selama ini.
Masa yang dipimpin Usama Yogobe berecana melakukan aksi demo di Gedung DPR Papua, sebelum menuju ke DPRP masa
berkumpul di Depan Ekspo Waena, Perumnas III Waena dan di depan Kantor Pos Abepura dikawal Satgas Penjaga Tanah
Papua (Petapa), Massa dari Perumnas III dan Expo Waena kumpul lalu melakukan long mars menuju Abepura untuk bergabung dengan massa di Abepura dan sama-sama menuju ke DPRP menyampaikan aspirasi.
Namun masa tiba di Padang bulan menuju Abepura sudah dihadang aparat keamanan lantara aksi long mars tersebut membuat arus lalulintas macet.
Aparat keamanan yang dipimpin Kapolsekta Abepura AKP Yafet Karafir langsung mengarakan masa untuk naik ke truk dan menuju ke DPRP di Jayapura agar arus lalulintas tidak terganggu.
Masa kemudian naik truk, sesampai di Abepura masa yang berkumpul di depan Kantor Pos Abepura, langsung naik ke truk dan masa dibawa menuju kota Jayapura dengan truk, diatas truk massa sambil membentangkan berbagai spanduk dan pamplet langsung menuju ke DPRP di pusat kota.
Menurut Koordinator aksi demo, Usama Yogobe kepada wartawan mengatakan, tujuan aksi tersebut ke DPRP adalah menyampaikan tuntutan tentang kasus pelanggaran HAM yang terjadi di Papua dan yang tidak terselesaikan.
Menurut, Usama Yogobe Inti dari tuntutan yang disampaikan ke DPRP yakni pemerintah harus bertanggungjawab terhadap
kasus pelanggaran HAM yang terjadi di Papua, Mendesak Pemerintah RI untuk membuka ruang HAM dan Demokrasi bagi rakyat sipil Papua, mendesak DPRP segera membentuk komisi hukum dan HAM karena kasus pelanggaran HAM di Papua menuju genoside dan meminta pemerintah segera menarik pasukan organik dan non organik dari Papua, mendesak pemerintah RI dan Internasional untuk membawa kasus pelanggaran HAM di Papua ke Pengadilan Internasional.
Tiba di gedung DPR Papua, massa yang datang dengan truk itu melakukan orasi-orasi yang disampaikan Ketua koordinator Usama didepan anggota DPRP terkait dengan kasus pelanggaran HAM yang terjadi di Tanah Papua.
Mereka menuntut pemerintah Indonesia dan negera-negara asing bertanggungjawab masalah kemanusiaan (Genoside) di Papua.
Selain itu pendemo juga menuntut agar pemerintah provinsi Papua, DPRP dan Kakanwil Hukum dan HAM Papua bertanggungjawab atas biaya kesehatan Filep Karma karena status tahanan negara (Tapol) dan menuntut DPRP segera melakukan sidang istimewa untuk penutupan PT Freepot Indonesia.
Wakil II DPRP Komarudn Watubun SH.MH yang menerima aspirasi yang disampaikan para pendemo, mengatakan semua aspirasi yang disampaikan akan diterima dengan baik, namun belum bisa dipastikan untuk memberikan jawaban atas tuntutan yang disampaikan, karena perlu dibicarakan dalam kalangan dewan.
Sementara itu Wakil Ketua Komisi A, Ir. Weynand Watory mengatakan pihaknya siap mempasilitasi pertemuan dengan perwakilan pendemo pada tanggal 15 Maret 2010 mendatang.
Weynand juga mengatakan kalau semua persoalan yang terjadi di Tanah Papua telah disampaikan kepada dewan akan disampaikan ke pimpinan dewan, serta akan melakukan pertemuan-pertemuan dengan berbagai pihak untuk membicarakan masalah yang disampaikan sesuai mekanisme yang ada di dewan.
Dulu Disebut Hollandia atau Tanah/Tempat yang Berteluk
Dalam bukunya, Drs. MR Kambu, M.Si yang juga Walikota Jayapura juga mengungkapkan sedikit tentang sejarah Kota Jayapura dan hubungannya dengan bangsa asing.
Laporan: Hendrik Siregar, Jayapura
Eksistensi Kota Jayapura telah lama lahir di bumi pertiwi pada saat Hindia Belanda masih bercokol menjajah negeri ini. Pada saat itu roda waktu masih menunjukkan angka tahun 1910. Kota Jayapura di Tanah Papua saat itu masih bernama Hollandia.
Dalam bukunya, Drs. MR Kambu, M.Si mendiskripsikan peristiwa yang terjadi saat itu yaitu pada 7 Maret 1910, cuaca di langit tampak buruk. Tetapi, suasana di antara para penghuni eksplorasi detesemen sangat baik. Kempat brigade berkumpul dalam sikap bersiap untuk melakukan upacara penting.
Mereka berdiri tegap di sekeliling bendara. Pakaian mereka rapih dan bersih serta dengan paduan kancing-kancing yang berkilat. Kapten Infanteri F.J.P. Sachse kemudian berpidato. Mula-mula ia berpidato dalam bahasa Belanda, kemudian diselingi bahasa Melayu dengan penuh semangat.
Kemudian dengan penuh semangat ia memberikan komando:
Penembakan di perbatasan, aparat buru penembak warga
Jayapura–Seorang warga pendatang terluka karena tembakan dari orang tak dikenal di perbatasan RI-Papua Nugini. Penembak tersebut lari menuju Papua Nugini. Aparat keamanan kini tengah mencari pelaku penembakan.
“Ini sedang dicari. Saya mau cek ke lokasi,” kata Komandan Distrik Militer (Dandim) 1701 Jayapura Letkol Infanteri Imam Santoso MA kepada detikcom, Sabtu (19/12).
Menurut Imam, rentetan senjata di perbatasan bukan dari OPM namun dari orang tak dikenal tiba-tiba menembak warga pendatang kemudian kabur ke Papua Nugini. Warga yang terkena tembakan itu kemudian dibawa ke rumah sakit terdekat.
“Hanya luka bukan meninggal. Sudah dibawa ke rumah sakit,” jelasnya.
Imam mengatakan, hingga kini situasi di lokasi kejadian masih aman dan kondusif. Pasar Lonjing yang tadinya dikabarkan ditutup masih buka.
“Pedagang juga masih ada. Nggak ada masalah. Masyarakat masih berjualan seperti biasa,” imbuhnya.
dtc/isw