Di Puskesmas Jayapura 4 Motor Terbakar

JAYAPURA-Warga Kloofkamp, tepatnya yang tinggal di sekitar Puskesmas Jayapura, Distrik Jayapura Utara, dikagetkan dengan teriakan kebakaran dari warga saat melihat api membakar 4 motor yang diparkir di samping gedung puskesmas, Jumat (17/4) pukul 04.30 WIT.

Warga yang mendengar teriakan langsung ke TKP dan berusaha memadamkan 4 motor yang terbakar sehingga api tidak merambat dan membakar Puskesmas. Namun, api sempat membakar plafon dan jendela serta mengakibatkan kaca jendala pecah.

Aparat kepolisian yang mendapatkan laporan, langsung ke TKP dan mengamankan 4 yang terbakar ke Mapolresta Jayapura dan mempolice line keempat motor itu. Untuk mengungkap kasus tersebut, polisi juga telah meminta keterangan beberapa orang warga.

Empat motor yang terbakar yaitu Honda Grand DS 4844 AL dan Honda Supra X DS 2219 AG hangus terbakar di bagian depan dan joknya. Kedua motor tersebut diketahui milik korban Darmadi (38) warga belakang Puskesmas Jayapura, Kloofkamp.

Sedangkan, motor Honda Grand DS 2668 AE milik Tri Astuti (30) juga hangus terbakar. Demikian juga motor Honda Supra X AD 5729 milik Tardi (38) warga Kloofkamp yang sedang pulang kampung di Jawa Tengah juga hangus terbakar.

Salah seorang saksi, bernama Jaka (22) yang tinggal di belakang Puskesmas mengaku bahwa saat itu ia tidak bisa tidur dengan nyenyak di rumahnya dan ia selalu terbangun. Apalagi, sekitar pukul 02.00 wit ia sempat menerima telepon.

Sekitar pukul 04.00 WIT, tiba-tiba ia mendengar ada suara 2 kali ledakan dari samping gedung Puskesmas tersebut, sehingga ia langsung kaget dan lari menuju ke arah suara ledakan tersebut.

Enam Brimob Dievakuasi

KORBAN : Anggota Brimob setiba di RS Bhayangkara mendapat perawatan medis setelah diterbangkan dari Mulia Kabupaten Puncak Jaya

JAYAPURA (PAPOS) – Enam aggota Brimob, yang ditembak sekelompok TPN/OPM

di Kampung Lombuk kawasan Tinggi Nambut Kabupaten Puncak Jaya, dievakuasi ke Jayapura untuk mendapat perawatan di RS Bhayangkara, Kamis (16/4) kemarin sekitar pukul 13.00 WIT.

Dari hasil rujukan Rumah Sakit Mulia itu, 2 anggota Brimob mengalami luka berat yakni Bripda Khairudin Hamid dan Bripda Basri Haineka. Bripda Khairudin Hamid

mengalami luka tembak di bagian kaki kanan dan bagian pinggang kanan, sedangkan Bripda Basri Haineka mengalami luka di bagian kaki kanan.

Sementara 4 anggota Brimob lainnya mengalami luka-luka ringan yakni Bripda Khomarul Huda, Bripda Adam Hanock, Bripda Ronald Patigaja. Ke-empat anggota ini hanya mengalami luka ringan, karena saat diserang mereka langsung loncat ke atas mobil.

Suasana haru, sedih dan ucapan syukur kepada Sang Pencipta, berbaur mewarnai penyambutan ketika 6 anggota Brimob tiba di RS Bhayangkara, dimana keluarga, teman, kerabat menjenguk dan melihat langsung keadaan korban.

Saat diserang anggota Brimob yang menumpang dua mobil itu, posisi sekolompok posisi TPN/OPM diketinggian sekitar 50-100 meter di atas gunung, mobil di depan ditumpangi 7 orang anggota Brimob.

Bripda Musa Sewar Aninam (meninggal, Red) kena tembak dibagian kepala, sehingga nyawanya tak bisa diselamatkan, almarhum meninggal dunia di atas pesawat saat dievakuasi dari Mulia ke Jayapura.

Mengetahui mobil di depan ditembak anggota Brimod yang menumpang mobil ke dua di bagian belakang langsung melakukan perlawanan terjadilah kontak senjata dengan menembak di atas gunung.

Atas kejadian itu, Kapolda Papua Irjen Pol Bagus Ekodanto langsung terbang menuju lokasi untuk melakukan olah TKP, Rabu (15/4) lalu. Menurut PLT Kabid Humas Polda Papua AKBP Nurhabri, pihaknya siap melakukan pengejaran terhadap pelaku penyerangan.

Brimob-TPN/OPM Baku Tembak, 1 Tewas

JAYAPURA – Kelompok sipil bersenjata yang disinyalir dari TPN/OPM di Distrik Tingginambut, Kabupaten Puncak Jaya berulah. Dilaporkan telah terjadi kontak senjata antara satuan Brimob Polda Papua BKO Polres Puncak Jaya dengan TPN/OPM di Kampung Lumbuk, Distrik Tingginambut, Kabupaten Puncak Jaya Rabu (15/4) sekitar pukul 11.40 Wit. Enam anggota Brimob mengalami luka tembak, sementara 1 orang lagi atas nama Bripda Musa Aninam tewas setelah sempat dievakuasi ke RS Bhayangkara, Jayapura.

Dari data yang berhasil dihimpun koran ini, kejadian itu berawal ketika 11 anggota Brimob ini bergerak dari Kota Mulia hendak menuju ke Distrik Tingginambut dengan menggunakan 2 buah mobil Strada.

Mobil pertama ditumpangi 7 orang anggota Brimob, sedangkan mobil di belakangnya ditumpangi oleh 4 orang anggota. Ketika kedua kendaraan tersebut sampai di Kampung Lumbok, tepatnya sekitar 2 km dari Pos Polisi Tingginambut untuk mengamankan kotak suara dari Distrik Tingginambut, tiba-tiba mereka dihadang kelompok TPN/OPM. Mobil langsung ditembaki oleh kelompok bersenjata dari ketinggian sebuah bukit kampung tersebut.

Saat itu, sopir sempat terkena tembakan terlebih dahulu, selanjutnya mobil oleng dan dilaporkan menabrak tebing dan kelompok bersenjata lainnya yang melakukan penghadangan langsung melakukan penembakan.

Akibat baku tembak itu, 6 orang anggota Brimob mengalami luka tembak, semantara satu orang anggota Brimob bernama Bripda Musa Sewar Aninam gugur dalam perjalanan menuju ke Rumah Sakit Bhayangkara Polda Papua di Jayapura. Korban mengalami luka tembak serius di kepalanya.

Sementara ke 6 anggota brimob yang mengalami luka tembak diketahui bernama Brigpol Khomarul Huda, Brigpol Khairudin Hamid, Brigpol Adam Hanock, Bripda Roland Pattigaja, Bripda Basri Haineka dan Bripda Nusran. Mereka mengalami luka tembak di kaki dan beberapa bagian tubuhnya. Saat ini mereka dalam perawatan secara intensif di Rumah Sakit Mulia, Puncak Jaya.

Kapolda Papua Irjen Pol Drs FX Bagus Ekodanto ketika dikonfirmasi wartawan membenarkan laporan penghadangan rombongan kendaraan Brimob yang tengah melintas di Kampung Lumbok, Distrik Tingginambut yang mengakibatkan 6 anggota luka-luka, sementara satu korban lainnya meninggal.

“Kejadiannya, ada anggota Polri di Pos Polisi Tingginambut sedang sakit, sehingga perlu dilakukan penjemputan dari Pos Polisi tersebut. Pada waktu yang menjemput ini, melewati Kampung Lumbok terjadi penyerangan oleh TPN/OMP. Korban yang luka 6 orang, 1 luka berat dan dievakuasi ke Jayapura, tapi informasi sudah meninggal,” papar Kapolda.

Terkait dengan hal itu, Kapolda Bagus Ekodanto pihaknya tentunya akan melakukan pengamanan di daerah Tingginambut, Kabupaten Puncak Jaya.

Disinggung soal penambahan pasukan ke daerah tersebut, diakui oleh Kapolda Bagus Ekodanto, hanya saja kapan waktunya, pihaknya belum bisa memastikannya. Soal kedatangan Brimob dari Kelapa Dua Jakarta, Kapolda mengatakan bahwa pasukan Brimob tersebut untuk melakukan pengamanan di Polda Papua, hanya saja kedatangan pasukan Brimob ini bertepatan dengan insiden di Puncak Jaya tersebut.

Ditanya apakah sudah ada upaya pengejaran terhadap pelaku? Kapolda mengakui belum ada upaya tersebut, karena pihaknya masih fokus untuk melakukan penyelamatan terlebih dahulu kepada korban. “Saya belum menerima dengan lengkap, kejadiannya bagaimana,” imbuhnya.
Sementara itu, Kabid Dokkes Polda Papua Kombes Pol. Dr. M.Zamil mengungkapkan, Bripda Dance Musa Aninam meninggal dipesawat akibat luka tembaknya sangat parah. Awalnya, dia dievakuasi ke Jayapura dengan mengunakan pesawat Susi Air untuk kepentingan penangganan luka tembaknya. Namun, dalam perjalanann korban menghembuskan nafas terakhirnya.

” Untuk anggota yang mengalami luka tembak berdasarkan hasil koordinasi kami dengan dokter di Rumah Sakit Puncak Jaya, masih bisa dan ditanggani oleh Rumah sakit setempat. Tapi ada kemungkinan untuk proses penanganan lebih intensif lagi mereka besok ( hari ini) akan dievakuasi ke Jayapura,” ujar M. Zamil kepada wartawan di RS Bayangkara Kotaraja, kemarin.
Dikatakan, jika nantinya penangganan mereka membutuhkan tenaga-tenaga dokter seperti bedah, Keslap dan DBI, dokter ahli dari Universitas Hasanudin (Unhas) Makassar dan Mabes Polri siap didatangkan ke Jayapura tinggal menunggu permintaan saja. Hanya saja, permintaan bantuan para dokter ahli itu sangat tergantung kondisi korban.

Sementara itu, suasana disekitar kamar jenazah RS Bhayangkara di Kotaraja dipenuhi anggota Brimob yang merupakan rekan-rekan korban, termasuk anggota Brimob Polda kendari yang merupakan BKO Polda Papua. Begitupun keluarga korban juga mulai memadati luar kamar jenazah.

Suasana hening tiba-tiba pecah menjadi haru disaat keluarga korban tiba dilokasi langsung menanggis sambil meluapkan emosi kesedihannya setelah mengetahui keluarganya telah meninggal. Bahkan atas musibah yang menimpa Bripda Aninam, Ibu korban terlihat shock seolah-olah belum menerima takdir yang menimpa anaknya itu.(nal/bat/mud)

Penyebab Kebakaran Masih Diselidiki

JAYAPURA- Kapolda Papua Irjen Pol Drs Bagus Ekadanto mengatakan pihaknya belum bisa menyimpulkan penyebab kebakaran ruang rapat kantor KPU Provinsi Papua kemarin malam, apakah ada unsur sabotase atau karena kosleting listrik arus pendek.

Karena itu, untuk mengungkap penyebab maupun motif kebakaran tersebut, pihaknya dengan bantuan Timpuslabfor dari Mabes Polri melakukan penyelidikan di Tempat Kejadian Perkara (TKP).

” Timpuslabfor dari Mabes Polri memang sedang kita bahwa ke sini untuk mengolah TKP, dari laporan itu akan dilaporkan ke saya baru bisa tahu hasilnya. Jadi saya sekarang hanya melihat awal kejadian perkara itu, karena secara teknis hasil temuan itu akan bisa dikembangkan lagi, jadi kita belum bisa menyimpulkan penyebabnya sekarang,” kata Kapolda Papua kepada wartawan usai meninjau TKP, kemarin.

Kapolda Papua datang ke TPK sekitar pukul 10.00 WIT kemarin sambil melihat dari dekat olah TKP yang dilakukan Timpuslabfor Mabes Polri.

Kapolda juga belum bisa menyimpulkan apakah terbakarnya Kantor KPU ini ada kaiatannya dengan serangkaian aksi-aksi teror yang terjadi belakangan ini. Termasuk kemungkinan adanya unsur sabotase hasil Pemilu. Terkait dengan kejadian ini dan situasi yang berkembang saat ini, Kapolda kembali meminta kepada masyarakat untuk tidak mudah terprovokasi dengan isu-isu teror yang berkembang.

” Kalau ada isu, jangan langsung percaya sebelum dicek kebenarannya terlebih dahulu, dan itu saya sudah himbau melalui beberapa media,”tegasnya.

Meski belum bisa disimpulkan motif kebakaran itu, namun Kapolda mengatakan jika terbakarnya kantor KPU ini ada kaitanya dengan serangkaian aksi sebelumnya, maka tujuannya pastilah teror untuk menggagalkan pemilu.

“Jadi mereka sengaja menebar teror, agar masyarakat takut tidak mau datang ke TPS, bahkan masyarakat tidak ada yang melakukan penghitungan suara,”katanya.

Kapolda mengakui sehari sebelumnya, dirinya mendapat selebaran dari TPN/OPM yang intinya menyatakan akan menggagalkan Pemilu.” Nah ini semua kita kaji,”tambahnya.

Sementara itu terkait, terbakarnya Kantor KPU ini berdampak pada lumpuhnya kegiatan di kantor tersebut. Para staf dan anggota KPU belum bisa beraktivitas, selain karena depan kantor masih dipolisi line, juga karena listriknya masih padam.

“Jadi sejak tadi malam sampai sekarang kami belum bisa beraktifitas, tapi kami harapkan kondisi ini tidak terlalu lama, sehingga kegiatan KPU yang mulai sibuk menerima data dari daerah tidak terganggu,”jelas Anggota KPU Papua, Hasyim Sangaji kepada wartawan kemarin.
Disinggung soal kerusakan yang diderita KPU, dikatakan dari sisi kerugian tidak terlalu besar. Demikian dokumen penting terkait dengan Caleg tidak ada yang terbakar. ” Memang ada beberapa bendera Parpol, kursi dan meja ikut terbakar, tapi untuk dokumen penting tidak ada,”katanya lagi.

Dia mengakui tidak meluasnya kebakaran ini, sangat terbantu dengan ditempatkannya 5 petugas keamanan yang saat itu langsung sigap memadamkan api, walau dengan cara manual. “Ini juga sangat terbantu dengan adanya dua bak penampungan air di ujung kantor, yang bisa digunakan memadamkan api,”tambahnya.

Ditempat terpisah, Plh Kabid Humas Polda Papua, AKBP Nurhabri mengatakan bahwa terbakarnya kantor KPU Provinsi diduga kuat terjadi akibat hubungan arus pendek. ” Dugaan kuat, terbakarnya Kantor KPU Provinsi Papua karena konsleting,” tegasnya kepada wartawan di Mapolda Papua, Rabu (15/4) kemarin.

Nurhabri membantah adanya isu yang berkembang bahwa Kantor KPU Provinsi Papua tersebut telah dibakar orang. ” Tidak benar jika dibakar orang, itu hanya isu,” tandasnya.

Dijelaskan, dari keterangan saksi-saksi dan fakta yang ada, bahwa Kantor KPU Provinsi Papua tersebut terbakar karena hubungan arus pendek listrik dan belum ada unsur kesengajaan.

Dalam kasus ini, lanjut Nurhabri, sudah ada 5 orang saksi dari petugas keamanan yang telah dimintai keterangan, termasuk 2 orang staff KPU Provinsi Papua dan 1 orang petugas PLN.

Dari keterangan saksi-saksi tersebut, memang sempat terjadi lampu padam sekitar pukul 21.30 wit, sehingga petugas KPU langsung menghubungi petugas PLN untuk menyalakan genset di Kantor KPU tersebut. Setelah 15 menit genset kantor KPU tersebut dinyalakan, tiba-tiba salah satu AC (Air Conditioner) yang ada di ruang rapat KPU tersebut meledak dan muncul api, sehingga tidak lama kemudian listrik padam lagi.

Petugas sempat melihat ke ruang rapat tempat AC tersebut terbakar. Saat itu api dengan cepat sudah merambat ke plafon ruang rapat tersebut, namun api berhasil dikuasai oleh petugas pemadam kebakaran, sehingga tidak merambat ke ruangan lainnya.

“Yang terbakar, bendera partai, tiang bendera, kursi dan alat sound sistem ruang rapat Kantor KPU dan plafon, sedangkan data dokumen KPU lain tidak terbakar. Tidak ada surat suara yang terbakar, apalagi rekapitulasi surat suara masih berada di tingkat Distrik,” ujarnya.

Sementara itu, 2 orang petugas dari Tim Laboratorium Forensik Mabes Polri langsung melakukan olah TKP di Kantor KPU Provinsi Papua, sejak pukul 09.00 hingga 12.00 wit.

Menurut keterangan Ilham, salah seorang saksi kepada polisi, saat kejadian ia sedang piket dan berada di dalam kantor KPU, tepatnya di Posko Monitoring. Ia berlima dengan Yus Rianto, Helmi, Hengki, Yance Isir dari anggota KPU sedang berada di ruangan tersebut.

Saat sedang nonton televisi, tiba-tiba listrik padam serentak, kemudian Hengky berteriak supaya ada yang menelpon petugas piket PLN di kantor Cabang Jayapura. Dan tidak lama kemudian Julius Rudolof Morin (Pegawai PLN) datang dan langsung menyalakan genset. Setelah listrik menyala selang 2 menit kemudian terdengar suara percikan api yang berasal dari salah satu Ac yang berada di ruang Rapat KPU.

Setelah itu, ia bersama 3 orang temannya tersebut, langsung mendatangi mendatangi tempat sumber api dan ternyata salah satu Ac sudah terbakar. Kemudian ia bersama dengan teman-temannya berusaha memadamkan api dengan air ala kadarnya, namun api malah menjalar ke plafon yang terbuat dari tripleks, sehingga ada yang menghubungi petugas piket pemadam kebakaran dan tidak lama kemudian tiba di Kantor KPU. (don/bat)

Baku Tembak di Perbatasan West Papua – PNG Terus Berlanjut Hari ini

Per telepon, SPNews menerima laporan dari Mabes Pertahanan Komando Revolusi Tertinggi TRPB bahwa baku tembang terus sedang berlanjut di wiayah perbatasan West Papua – PNG.

Pasukan TRPB telah menguasai beberapa wilayah dan kini baku tembak terus berlanjut.

Menurut telepon ini lagi, langsung dari Wakil Sekretaris Jenderal TRPB, bahwa baku tembak akan terus berlanjut sampai dunia internasional memberikan tanggapan menyangkut masa depan Papua Barat, agar dibawa ke meja perundingan.

“Masalah West Papua sudah dibiarkan di bawah karpet begitu lama,” Presiden Indonesia yang akan terpilih nanti perlu menomor-satukan agenda Dialogue West Papua – Jakarta sesegera mungin.”

Demikian sekilas info

TPS-TPS di Distrik Tinggineri Akan Dipindahkan – Untuk Cegah Gangguan TPN/OPM

PUNCAK JAYA – Bupati Puncak Jaya, Lukas Enembe, SIP mengatakan, setelah dilakukan koordinasi dengan pihak keamanan yaitu TNI/Polri yang bertugas di Kabupaten Puncak Jaya bahkan KPUD dan semua pimpinan partai politik (parpol) serta panwaslu untuk menyepakati setiap TPS di daerah Distrik Tingginambut, khususnya di daerah Tinggineri, tempat keberadaan TPN/OPM maka TPS-TPSnya akan dipindahkan di sepanjang jalur darat Wamena menuju Mulia dimana ada pos-pos TNI/Polri.

Hal ini dikatakan Bupati Enembe kepada Cenderawasih Pos usai menyampaikan orasi politiknya saat kampanye di Distrik Abenaho, Kabupaten Yalimo, Kamis (2/4).

Ia menjelaskan, pihaknya telah memanggil Danki Brimod untuk memperbaiki jembatan di Gurage yang diputuskan oleh TPN/OPM dan bahkan sudah dilaporkan bahwa jembatan tersbut sudah bagus dan sudah bisa dilalui kendaraan roda empat maupun roda dua. Dengan demikian, Bupati Enembe melihat kendaraan sudah kembali normal mulai kemarin lalu bahkan Bupati perintahkan kepada pos yang ada di Distrik Ilu supaya mengawal kendaraan yang masuk ke Kota Mulia dan begitu juga sebaliknya dari Mulia menuju Wamena.

“Saya berencana akan melakukan perjalanan darat dari Ilu ke Kota Mulia untuk melihat apakah jembatan tersebut sudah bisa dilalui oleh kendaraan sehingga dalam kondisi apapun pemilu di Kabupaten Puncak Jaya khususnya di Tingginambut tetap akan dilakukan,”ungkapnya.

Menurut Bupati Lukas, tidak ada masalah untuk Tinginambut sebab TPS yang ada di tingkat kampung dan desa sudah pindahkan disepanjang jalur Wamena menuju Mulia dan dimana ada pos TNI/Polri karena itu merupakan kesepakatan bersama untuk pemindahan lokasi tersebut. Pelaksanaan pemilu akan tetap dilaksanakan karena ini merupakan agenda nasional yang tidak bisa dibatalkan sebab ada 30 lebih TPS yang akan dipindahkan sehingga jangan sampai gangguan dari pihak TPN/OPM mengacaukan pemilu. (nal)

Dalam Sidang Dugaan Makar Buchtar Tabuni Satu Saksi Cabut Keterangannya

Buckhtar Tabuni
Buckhtar Tabuni

JAYAPURA- Sidang kasus dugaan makar dengan terdakwa Buchtar Tabuni kembali digelar di Pengadilan Negeri (PN) Jayapura, Selasa (1/4). Awalnya berlangsung seperti sidang sebelumnya yakni diwarnai aksi demo di depan pertokoan tepatnya di depan pengadilan. Namun satu hal yang menarik dari sidang kemarin adalah seorang saksi dari kepolisian menarik keterangan yang disampaikan dalam Berita Acara Pemeriksaan (BAP).

Dari pantauan Cenderawasih Pos, sebelum sidang dimulai, Buchtar awalnya disambut beberapa Penasehat Hukumnya (PH) kemudian mencicipi beberapa cemilan sambil berkomunikasi dan tertawa ringan. Tak lama kemudian sidang yang dipimpin Majelis Hakim yang diketuai Manungku Prasetyo, SH, dibantu anggota majelis masing-masing Lucky Rombot Kalalo, SH dan Hotnar Simarmata, SH, MH dengan JPU, Maskel Rambolangi, SH, Edi S Utomo, SH dan Alin Michel Rambi, SH dimulai.

Dari sidang ini JPU menghadirkan 4 saksi yakni Bripka Agus dari Polsekta Abepura, Kapolspol Nafri Bripka Oscar Orisu, Sebi Sembom dan Iswandi dari Satreskrim Polresta Jayapura. Keterangan saksi pertama membenarkan bahwa ia ke lokasi berdasarkan perintah Kapolsekta Abepura dan pada saat itu baik di depan Gapura Uncen Perumnas III maupun depan Expo Waena terjadi perkumpulan massa dan terlihat ada beberapa orang yang berorasi.

“Yang saya ketahui memang ada beberapa orang berorasi menggunakan megaphone dengan jumlah massa yang cukup banyak,”aku Agus menjawab pertanyaan jaksa. Beberapa penyampaian juga dikatakan ada yang berteriak ‘Papua’ dan dijawab ‘merdeka’ oleh massa. Dikatakan, massa saat itu awalnya hendak pergi ke DPRP, namun tujuan untuk ke sana ia sendiri tidak mengetahui pasti hingga akhirnya harus berorasi sampai selesai di lokasi tadi.

“Iya selain dari aparat kepolisian memang ada dari TNI, namun saya tidak tahu dari satuan mana,”paparnya. Saksi kedua, Bripka Oscar Orisu sempat menarik perhatian penonton, pasalnya setiap mengawali jawaban yang diberikan hakim, jaksa maupun PH, yang bersangkutan selalu mengatakan “sekali lagi saya sampaikan secara jujur bahwa” hingga beberapa kali sehingga membuat PH maupun hakim tersenyum. Peran saksi saat itu dikatakan untuk memberikan pemahaman kepada massa pendemo soal situasi. “Sekali lagi saya sampaikan secara jujur bahwa saya sampaikan ke massa agar jangan terpengaruh isu lebih baik cari ilmu,”katanya seraya membenarkan tidak terjadi bentrok fisik.

Menanggapi beberapa pertanyaan yang lebih sering dikembalikan pada isi BAP, hakim menyampaikan bahwa hal di atas tidak bisa memberi dasar bagi hakim untuk memberi putusan dan saksi diminta menjawab apa sepengetahuan tanpa mengembalikan jawaban ke BAP. Sementara PH, Piter Ell, SH yang terus mendalami pertanyaan terlihat bingung dari jawaban-jawaban yang terus dikembalikan ke BAP hingga akhirnya saksi memutuskan untuk menarik semua keterangannya dalam BAP. “Saya cabut keterangan saya dalam BAP,” singkat saksi yang membuat PH, dan jaksa terhenyak. Tanggapan ini langsung disambung oleh Piter Ell untuk panitera bisa mencatat pengakuan saksi.

Jaksa yang menanyakan mengapa saksi menarik keterangannya juga dijawab bahwa isi BAP tidak sesuai dengan pendapat langsungnya. “Saya waktu itu datang dan penyidik sudah membuat lalu saya baca dan menandatangani,” akunya. Situasi ini sempat membuat PH dan jaksa saling ngotot, namun akhirnya ditengahi oleh hakim. Saksi ketiga mengambil keterangan dari Iswandi yang berkomentar tak jauh beda dengan saksi lainnya. Hanya dikatakan tugasnya saat itu adalah melakukan pengamanan tertutup terutama mengawal rekannya yang bertugas mengambil gambar. “Terdengar kalimat tidak ada alasan Indonesia mempertahankan NKRI di atas kedaulatan bangsa Papua dan PEPERA cacat hukum,” tutur saksi.

Sementara Sebi Sembom mengakui kehadirannya dalam demo itu karena membaca selebaran. Tetapi ia sendiri tidak mengetahui siapa yang membuat selebaran tadi. “Panitia (Buchtar) menyampaikan ke saya bahwa situasi tidak mendukung lalu akhirnya massa membubarkan diri,” tutur Sebi yang mengeluhkan blokade aparat dalam penyampaian pendapat. Ia juga mengaku tidak mengetahui apa itu IPWP, hanya memahami sebatas peluncuran IPWP. Sidang akhirnya ditunda Rabu (15 April mendatang) dengan agenda mendengarkan keterangan saksi dari Ketua Dewan Adat Papua, Forkorus Yaboi Sembut dan mendatangkan 3 saksi ahli. JPU, Edi S Utomo yang ditemui usai sidang menjelaskan, ditariknya keterangan dalam BAP oleh saksi merupakan hak dari saksi itu sendiri karena berbicara di bawah sumpah.
“Itu hak dia dan tidak mengurangi apapa dalam sidang, apalagi masih banyak saksi yang akan memberikan keterangan,”ungkap Edi.(ade)

Tokoh OPM Bertemu Presiden

Nicolaas Jouwe
Nicolaas Jouwe

JAYAPURA (PAPOS) -Tokoh pergerakan Organisasi Papua Merdeka (OPM) yang selama 40 tahun bermukim di Belanda, Nicolaas Jouwe (85) sudah menyiapkan agenda penting berupa usul-saran konstruktif yang akan disampaikan pada pertemuan khusus dengan Presiden Susilo Bambang Yudhoyono pekan depan.

Hal itu disampaikan Ketua Dewan Penasehat “Independent Group Supporting The Autonomous Region of Papua with The Republic of Indonesia”

OPM Berulah Lagi, 1 TNI Tertembak – Pangdam: Ini Merupakan Pelanggaran HAM

JAYAPURA- Disaat perhatian masyarakat Papua, tertujuh kepada kedatangan pencetus Organisasi Papua Merdeka (OPM), Nicholas Jouwe ke Jayapura , Kota tempat kelahirannya, maka di waktu yang hampir bersamaan dari Puncak Jaya dilaporkan kelompok separatis bersenjata TPN/OPM di sana, justru kembali berulah.

Jika sebelumnya, satu anggota TNI bernama Pratu Saiful Yusuf tewas setelah diterjang peluru dari anggota OPM saat melakukan kegiatan patroli di daerah Tingginambut, Puncak Jaya, maka Senin (23/3) sekitar pukul 05.00 WIT kelompok separatis bersenjata yang diduga kelompoknya Goliat Tabuni kembali menembak satu anggota TNI dari Yonif 754 Timika bernama Pratu Ahmad.

Dalam peristiwa ini, korban kondisinya kritis dan saat ini sedang menjalani perawatan intensif di RS Marthen Indey Jayapura. Dari data yang diperoleh Cenderawasih Pos, korban mengalami luka tembak di bagian dada tembus perut samping kiri serta lengan atas.
Korban merupakan anggota Yonif 754 yang baru saja mengalami pergeseran pasukan (Serpas) dari Timika untuk membantu keamanan jelang Pemilu.

Pangdam XVII/Cenderawasih Mayjen TNI A.Y Nasution mengungkapkan, korban tertembak anggota OPM pimpinan Goliat Tabuni saat melakukan patroli pasca peristiwa tertembaknya Pratu Saiful Yusuf empat hari lalu.

” Yang perlu diingat TNI adalah ksatria pelindung rakyat. Jadi tugas TNI adalah melindungi rakyat. Kalaupun dalam menjalankan tugas melindungi rakyat itu ada anggota TNI yang tertembak, itu sudah menjadi risiko,” ujar Pangdam kepada wartawan usai menjengkuk korban di kamar bedan RS Marthen Indey, Senin (23/3) kemarin.
Dikatakan, perbuatan yang dilakukan OPM itu sudah merupakan pelanggaran HAM berat. Sebab, selain menembaki anggota TNI yang sedang bertugas, mereka juga menembaki warga sipil hingga tewas. Karena mereka ini telah melakukan pelanggaran HAM berat, maka orang yang melanggar itu harus diburu dan dikejar.

Disinggung langkah-langkah apa yang akan diambil, Pangdam enggan berkomentar. Menurutnya, meski sudah ada anggota TNI yang menjadi korban, namun tugas TNI tetap harus melindungi rakyat.

Sekedar diketahui korban sendiri dievakuasi dari Mulia Puncak Jaya dengan menggunakan pesawat Susi Air. Setelah mendarat di Bandara Sentani sekitar pukul 11.50 WIT, korban selanjutnya diangkut dengan menggunakan Hely Puma dan mendarat di Lapangan heliped di Makodam. Selanjutnya korban diangkut menggunakan mobil Ambulance menuju RS Marthen Indey Jayapura. (mud)

Tokoh OPM Kembali ke Indonesia Akan ke Papua

Nicolaas Jouwe: Perancang Bintang Kejora dan Lambag Burung Mambruk
Nicolaas Jouwe: Perancang Bintang Kejora dan Lambag Burung Mambruk

WAMENA-Guna mengidentifikasi berbagai permasalahan dari 9 kabupaten di kawasan Taman Nasional Lorenz yaitu Kabupaten Jayawijaya, Puncak Jaya, Puncak, Paniai, Yahukimo, Mimika, Asmat, Nduga dan Lanny Jaya serta untuk mendapatkan data dan informasi yang akurat di 9 kabupaten tersebut sebagai bahan dalam melengkapi penyusunan Rencana Tata Ruang Wilayah (RTRW) maka dilakukan pertemuan koordinasi antara pihak terkait, kemarin.

Pertemuan yang berlangsung di Hotel Baliem Pilamo Wamena, Kamis (19/3) kemarin dihadiri Bupati Jayawijaya Wempi Wetipo, S.Sos, Bupati Lanny Jaya Ir Pribadi Sukartono, MM, Kepala Bappeda Provinsi Papua Drs Alex Rumasep, MM, Kepala Dinas Kehutanan Provinsi Papua Ir Marthen Kayoi,MM, Perwakilan USAID Chris Benet, Direktur WWF Papua Benja V Mambai, Kepala Balai Taman Nasional Lorentz Ir Yunus Rumbarar dan pimpinan SKPD dilingkungan pemerintah daerah dari 9 kabupaten terkait.

Gubernur Provinsi Papua, Barnabas Suebu, SH dalam sambutannya yang dibacakan oleh Bupati Kabupaten Jayawijaya, Wempi Wetipo, S.Sos, MPar mengungkapkan, pertemuan ini merupakan suatu langkah maju yang dilakukan oleh Pemerintah Provinsi Papua bekerjasama dengan USAID, ESP, WWF dan 9 kabupaten dalam upaya mencari solusi guna mempersiapkan rencana tata ruang yang berbasis pada nilai-nilai pelestarian keanekaragaman hayati, keterwakilan ekosistem dan kepentingan pembangunan ekonomi berkelanjutan dan mempertahankan fungsi Taman Nasional Lorentz sebagai kawasan lindung.

” RTRWP yang dihasilkan diharap menjadi kerangka acuan bagi masing-masing kabupaten/kota untuk merumuskan RTRWnya secara komprehensip, aplikatif dan akomodatif,”jelas gubernur.

Selain itu, diharapkan keberadaan Taman Nasional Lorentz menjadi input dalam penyusunan tata ruang wilayah Provinsi Papua sekaligus sebagai pembelajaran bagi kabupaten lain. Gubernur juga menyampaikan penghargaan yang setinggi-tingginya kepada USAID, ESP dan WWF Indonesia yang telah bekerjasama mencari solusi dalam menjaga pelestarian kawasan Taman Nasional Lorentz serta membantu Pemerintah Provinsi Papua dalam penyusunan RTRW.

Sementara itu, Ketua Panitia Workshop, Ir Daswil Bakar, M.MT mengungkapkan, tujuan workshop ini untuk mengindentifikasi berbagai permasalahan dari 9 kabupaten, mendapatkan data dan informasi spasial 9 kabupaten sebagai bahan dalam melengkapi penyusunan RTRW Provinsi Papua, mendapatkan gambaran tentang potensi, peluang dan pengelolaan Taman Nasional Lorentz guna pembangunan daerah kemudian untuk memahami kebijakan perencanaan tata ruang kabupaten serta mengoptimalkan jasa konsevasi dalam menunjang pembangunan khususnya kabupaten di sekitar Taman Nasional Lorentz. (nal)

Up ↑

Wantok Coffee

Melanesia Single Origin Coffee

MAMA Minimart

MAMA Stap, na Yumi Stap!

PT Kimarek Aruwam Agorik

Just another WordPress.com site

Wantok Coffee News

Melanesia Foods and Beverages News

Perempuan Papua

Melahirkan, Merawat dan Menyambut

UUDS ULMWP

for a Free and Independent West Papua

UUDS ULMWP 2020

Memagari untuk Membebaskan Tanah dan Bangsa Papua!

Melanesia Spirit & Nature News

Promoting the Melanesian Way Conservation

Kotokay

The Roof of the Melanesian Elders

Eight Plus One Ministry

To Spread the Gospel, from Melanesia to Indonesia!

Koteka

This is My Origin and My Destiny