Rencana Massa Demo Digagalkan

Ditulis Oleh: Javaris/Feri/Papos
Selasa, 21 Oktober 2008

http://papuapos.com
PEMERIKSAAN : Buchtar Tabuni (kanan) didampingi pengacara AL¬DP Anum Siregar SH saat tiba di Polda Papua untuk memberikan keterangan Polisi terkait rencana aksi demo Panitia ubtuk IPWP
JAYAPURA (PAPOS) –Bucthar Tabuni aktor dibalik aksi demo bersama 15 orang lainnya berhasil diamankan oleh aparat keamanan di Taman Imbi, Polisi kembali menggagalkan rencana susulan aksi demo untuk IPWP, dengan membubarkan massa di Taman Imbi yang hendak membawa aspirasinya ke DPRP, Senin (20/10) kemarin.

Penangkapan Buthar Tabuni Cs hanya berlangsung beberapa, jam setelah adanya jaminan dari pengacara ALDP Anum Siregar SH dan Harry Maturbongs SH dari KONTRAS Papua, Polisi tak kuasa untuk tidak melepaskan.

Berkumpulnya massa di Taman Imbi masuknya secara berpencar merupakan suatu perubahan strategi setelah, Kamis (16/10) lalu, massa ini gagal menuju ke Jayapura untuk menyampaikan aspirasi ke DPRP, sehubungan peluncuran IPWP di Inggris tanggal 15 Oktober 2008.
Sekitar pukul 11.45 WIT sekelompok massa di Taman Imbi mulai melakukan gerakan-gerakan yang mencurigakan, termasuk Buchtar Tabuni aktor dibalik rencana aksi demo ke DPRP.

Menurut informasi yang di dapat Koran ini setelah Buchtar Tabuni lolos ke Taman Imbi, sempat masuk ke gedung DPRP, tetapi karena anggota dewan tidak ada, Ia kembali ke Taman Imbi.

Petugas keamanan yang sudah siap siaga di Taman Imbi mencium gelagatnya, langsung mengamankan Buchtar Tabuni ke Polresta Jayapura bersama 15 warga lainnya untuk dimintai keterangan.

Yang diamankan Polisi selain Buchtar Tabuni, Sekretaris IPWP, Victor Yeimo, perwakilan AMPTPI Albeth Wanimbo, Nake Logo, Lisa Sani, Sonny Suhu, Make Minik, Haliek Hano, Noni Ena, Namene Elopere, Edison Payage, Marthen Windey dan Ella Bidau.

Para pendemo sebanyak 15 orang ini, sempat mempertanyakan langkah yang dilakukan Kepolisian dengan menanyakan langsung kepada Wakapolresta Jayapura, Kompol Andreas Paru SH.

Penangkapan Buchtar Cs ini sempat memancing emosi segelintir massa lain yang kebetulan sudah berada di jalan Irian, membuat suara-suara sumbang memprotes,

namun berkat kesigapan dari aparat kepolisian yang di back-up TNI tidak menimbulkan keributan.

Sayangnya salah seorang Koordinator Lapangan aksi demo berhasil lolos begitu mengetahui dan melihat petugas ada disekitarnya. Demikian juga saat petugas Kepolisian menangkap salah seorang mama-mama serta disusul seorang pria ke dalam mobil ‘water canon’.

Saat keduanya diamankan mendapat perhatian dari masyarakat yang kebetulan berada di Jalan Irian, termasuk dari salah seorang anggota DPRP Albert Yogi yang meminta Kapolresta Jayapura AKBP Roberth Djoenso SH agar mengeluarkan keduanya dari mobil ‘Water Canon’.

‘’Saya jamin kalau mereka dikeluarkan tidak terjadi keributan, saya mau mengajak mereka untuk pulang kerumah masing-masing dan tidak melakukan aksi demo. Justru saya kuatir, jika mereka tetap ditahan dapat memancing emosi teman-teman mereka yang lain,’’ kata Albert kepada Kapolresta.

Namun permintaan itu ditolak oleh Kapolresta. Bahkan secara tegas mantan Kapolres Jayawijaya ini mengatakan bahwa mereka bukan untuk ditahan, tetapi diamankan untuk diintrogasi.

‘’Percaya saja kepada saya, mereka tidak akan kita apa-apain, kita hanya minta keterangan dari mereka, siapa sesungguhnya dibalik aksi demo yang dinilai dinilai telah melakukan tindakan anarkis ini dengan membawa benda-benda tajam, termasuk anak panah, ketapel dan parang,’’ kata Kapolresta.

Mantan Kapolres Jayapura ini kuatir, jika mereka tidak diamankan ada pihak ketiga akan memanfaatkan situasi.’’ Saya tidak percaya tindakan anarkis ini dilakukan oleh DAP, mereka itu orang-orang bijak. Justru saya kuatir aksi demo ini ditunggangi pihak ke tiga yang tujuannya jelas tidak ingin melihat Papua damai,’’ tukasnya.

‘’Saya cukup toleransi selama ini kepada semua saudara-saudara kita dari Pegunungan dan selalu melakukan tindakan bersuasif, tetapi apa yang kita lakukan tidak pernah dihargai. Jadi saya akan lebih tegas menindak siapapun yang melakukan tindakan anarkis. Ini menjadi tanggungjawab saya selaku Kapolresta untuk melindungi masyarakat dan anggota saya,’’ tegasnya.

Namun, pada akhirnya Buchtar Tabuni bersama Ella Bidau dan Nake Lego yang didampingi pengacara dari ALDP, Latifah Anum Siregar,SH dan pengacara dari Kontras Papua, Harry Maturbongs SH menuju Mapolda Papua untuk dimintai keterangan tepatnya di Direktorat Reskrim, sekitar pukul 14.00 WIT.

Sebelumnya, Buchtar Tabuni kepada wartawan di Mapolresta Jayapura mengatakan, pihaknya telah menyampaikan pemberitahuan, Jumat 17 Oktober, tetapi hanya sebatas surat pemberitahuan terkait demo tersebut ke Polda Papua.

“Sebagai keamanan, mau datang amankan kah, tidak kah, itu tidak persoalan, yang penting kami sudah beritahukan,” katanya.

Bahkan, pihaknya menyampaikan rencana aspirasi tersebut, titik kumpulnya dimana dan berapa orang, lengkap sesuai dengan ketentuannya. Tapi, sampai di jalan Irian, pihaknya ditangkap Kepolisian, kemudian dipaksa masuk ke mobil Polisi dan dibawa ke Mapolresta Jayapura.

“Katanya, bapak Kapolresta tunggu, tapi setelah disana tidak ada dan sementara akan datang, ini penipuan seharusnya Polisi melindungi dan mengamankan masyarakat. Tapi ini justru menipu rakyat. Ini model-model begini tidak benar,” katanya.

Meski demikian, jelas Buchtar Tabuni, IPWP Dalam Negeri dalam rencana aksinya di DPRP ini, akan menyampaikan aspirasi yang pada intinya mempertanyakan Pepera 1969 lalu.

“Karena ada kesalahan dalam Pepera, sehingga akarnya ini harus diselesaikan. Kalau Indonesia baik, ya mari duduk sama-sama,” ujarnya.

Pengacara dari ALDP, Faisal menyampaikan, pendemo sudah datang di titik kosentrasi dan siap melakukan demo, dengan tiba-tiba Polisi datang dan tanpa konfirmasi langsung mengamankan.

“Ini tindakan anarkis ini, non prosedural dan ini tidak benar serta kami akan menindaklanjuti,” kata pengacara yang mendampingi Buchtar Tabuni ini.

Sementara itu, suasana dijalan Irian tampak banyak warga yang masih berkerumun, sehingga Kepolisian, Brimob serta TNI langsung menghimbau secara persuasif untuk pulang ke rumahnya masing-masing melalui pengeras suara.

“Kami terpaksa melakukan ini, karena demi keamanan masyarakat semua,” ujar Polisi dalam pengeras suara.

Sedangkan, pengacara dari ALDP Latifah Anum Siregar SH didampingi pengacara dari Kontras Papua, Harry Maturbongs SH mengatakan, pihaknya akan tetap memperjuangkan kliennya sebab, tindakan Polisi yang dibilang professional bukan main kasar.

“ Kami kurang berterima kalau tidakan Polisi menangkap Buchtar Tabuni bersama temannya yang lain dengan cara kasar. Terbukti bagian punggung Buchtar dipukul dengan popor senjata Polisi,” imbuhnya.

Sebaiknya, aparat yang professional itu paham dan bukan bertindak arogan. Apalagi, kalau memang Buchtar mau dipanggil sebagai saksi pada panggilan pertama bukan secara paksa.

Kapolresta Jayapura AKBP.Roberth Djoenso SH mengatakan, Polisi sudah berupaya melakukan berbagai langkah persuasif.

” Tindakan kami cukup persuasif, tapi kelihatannya mereka tidak menghargai hukum, ada kesan bahwa mereka menyepelekan dan memaksakan terus kehendak, dengan mengabaikan hukum yang berlaku di negara ini,” katanya.

Untuk itu, aparat gabungan terpaksa mengambil tindakan tegas, jika dibiarkan nantinya akan menurunkan kewibawaan pemerintahan Republik Indonesia.

Lanjut Roberth, tindakan-tindakan yang menyimpang terhadap hukum, maka akan berhadapan dengan hukum itu sendiri.

“Ya, karena kegiatan mereka tidak ada pemberitahuan secar resmi. Sehingga terkesan, mau seenak mereka saja. Saya tidak mau kegiatan seperti itu yang nanti berujung timbulnya bentrok antara masyarakat dan aparat gabungan. Nantinya, akan menimbulkan korban, baik dari masyarakat maupun aparat, apalagi kami punya tanggungjawab sebagai komandan untuk mengamankan wilayah dan menjaga keselamatan anggota juga masyarakat. Saya tidak mau ada benturan dilapangan, tapi jika terpaksa jika ada benturan, kami akan hadapi,” paparnya.

Kapolresta mengungkapkan dalam pengamanan terhadap rencana demo ini, pihaknya menurunkan 10 SSK, termasuk dari TNI.

Apalagi, imbuh Kapolresta, berdasarkan laporan anggota di lapangan dari kegiatan razia ternyata ditemukan adanya senjata tajam, ketapel dan lainnya.

“Ini sudah tidak benar dan saya pikir mereka ada rencana untuk melakukan perlawanan kepada aparat keamanan,” tandasnya.

Sementara Dandim 1701/Cenderawasi Letkol Kav AH Napoleon mengatakan, TNI memback up Polisi merupakan satu kewajiban untuk menjaga keutuhan NKRI dan mengkondusifkan situasi kamtibmas di wilayah kota Jayapura.

“ Dari TNI kami siapkan 4 SSK untuk mengantisipasi keadaan, yakni di perbatasan 1 SSK, untuk wilayah Kota Jayapura 2 SSK dan 1 SSK untuk wilayah Kabupaten Jayapura,” ujarnya kepada wartawan.

Lanjutnya, tindakan Polisi dengan mengamankan ketua panitia dan beberapa korlap lainnya cukup tepat. Sehingga dengan demikian demo yang tidak memiliki izin itu bisa dikendalikan, dan aktifitas masyarakat bisa berjalan normal kembali.

“ Kami terus lakukan koordinasi dengan Kepolisian untuk mengejar aalah satu Korlap dari Keerom bernama Yuris Menanti,” tegasnya.

Sebab, kalau memang pendemo hendak melakukan demo damai sebaiknya dilakukan dengan cara damai pula. Tapi tindakan pendemo ataupun simpatisan dengan membawa beberapa sajam maupun ketapel, tulang kasuari dan batu yang ditemui saat dilakukan razia gabungan adalah tindakan yang tidak baik.

“ Maksudnya apa itu, apa itu namanya tindakan untuk demo damai. Berarti ada kelompok tertentu untuk membenturkan aparat keamanan dengan masyarakat,” kata dia.(bela/feri)

Satu Anggota Tetap DK PBB Dukung Referendum Papua

TEMPO Interaktif, Jakarta Menteri Luar Negeri Otoritas Nasional Papua Barat Jacob Rumbiak mengatakan sudah ada enam negara besar, termasuk satu anggota tetap Dewan Keamanan Perserikatan Bangsa-Bangsa yang mendukung referendum di Papua.

Hanya saja, ia belum bisa menyebutkan keenam negara sponsor itu. “Yang pasti mereka mendukung rencana referendum itu,” kata Rumbiak kepada Tempo melalui telepon selulernya hari ini. Ia menambahkan, masalah Papua akan menjadi agenda Dewan Keamanan jika pemerintah Indonesia menolak membahas persoalan itu dengan para petinggi Organisasi Papua Merdeka.

Rimboak mengatakan sejatinya sudah ada kesepakatan para petinggi OPM bulan ini bakal bertemu Presiden Susilo Bambang Yufhoyono, Wakil Presiden Jusuf Kalla, dan Komisi Pertahanan dan Luar Negeri DPR. Namun agenda itu dibatalkan setelah pembatalan serupa pada Juli.

“Kami memberi waktu pada Jakarta sampai akhir Oktober,” ujar Rumbiak. Jika batas itu habis, Papua akan masuk afenda dekolonisasi di PBB.

Faisal Assegaf

Sepuluh Aktivis Papua Ditangkap

TEMPO Interaktif, Jayapura: Sebanyak sepuluh aktivis Papua, Senin (20/10), ditangkap polisi karena menggelar aksi di Kantor Dewan Perwakilan Rakyat Papua di Jayapura.
Sekitar pukul 11.25 waktu setempat, puluhan warga menggelar aksi di Taman Imbi Jayapura.

Mereka mendukung pembahasan persoalan Papua di Parlemen Inggris. Usai membacakan pernyataan sikap, seorang berpakaian adat menerobos masuk halaman DPRP. Pasukan gabungan TNI/Polri yang berjaga-jaga sejak pagi menangkap warga yang menerobos masuk DPRP.

Polisi juga menangkap koordinator demo, Buchtar Tabuni. Selain, Victor F. Yemo, Nake Logo, Lisa Sani, Sonny Suhu, Makeminik, Haliek Hano, Noni Ena, Namene Elopere, Edison Payage, dan Marthen Windey. Mereka dibawa ke Markas Polres Jayapura.

Kepala Satuan Reserse Kriminal Polres Kota
Jayapura yang dihubungi Senin (20/10) siang mengaku belum tahu perkembangan pemeriksaan yang ditangkap. “Saya belum tahu soal itu,” kata Takamuly.

Dihubungi terpisah, Kepala Polsek Abepura Ajun Komisaris Polisi Dominggus Rumaropen, Senin siang mengatakan situasi Abepura masih aman tidak terpengaruh aksi demo dan penangkapan sejumlah warga pendemo di Taman Imbi.

“Sejak pagi kami sudah mengantisipasi beberapa titik,” kata Rumaropen, yang sebelumnya dibuat repot oleh ribuan pendemo di Taman Expo Waena, Jayapura.

Tjahjono Ep.

Gelar Demonstrasi, Sepuluh Aktivis Papua Ditangkap

TEMPO Interaktif, Jayapura: Sekitar 10 aktivis Papua, Senin (20/10), ditangkap polisi karena menggelar aksi di Kantor Dewan Perwakilan Rakyat Papua di Jayapura sekitar pukul 11.25 waktu setempat.

Puluhan warga menggelar aksi di Taman Imbi Jayapura, Mereka membawa pesan mendukung pembahasan persoalan Papua di Parlemen Inggris.

Usai membacakan pernyataan sikap, seorang berpakaian adat menerobos masuk halaman DPRP. Tidak ingin terjadi masalah, pasukan gabungan TNI/Polri yang berjaga-jaga sejak pagi langsung menangkapi warga yang menerobos.

Polisi juga menangkap koordinator demo Buchtar Tabuni, Victor F. Yemo, Nake Logo, Lisa Sani, Sonny Suhu, Makeminik, Haliek Hano, Noni Ena, Namene Elopere, Edison Payage, dan Marthen Windey. Mereka dibawa ke Markas Polres Jayapura.

Kepala Satuan Reserse Kriminal Polres Kota Jayapura yang dihubungi Senin siang mengaku belum tahu perkembangan pemeriksaan yang ditangkap. “Saya belum tahu soal itu,” kata Takamuly.

Dihubungi terpisah, Kapolsek Abepura, Ajun Komisaris Polisi Dominggus Rumaropen, Senin siang mengatakan situasi Abepura masih aman terkendali.

“Sejak pagi kami sudah mengantisipasi beberapa titik,” kata Rumaropen, yang sebelumnya dibuat repot oleh ribuan pendemo di Taman Expo Waena, Jayapura.

Tjahjono Ep

Komisi I Kecam Asing yang Sponsori Papua Barat

Salvanus Magnus Satripatriawan

JAKARTA, SENIN- Terkait pembentukan Kaukus Parlemen Internasional yang mendukung upaya kemerdekaan dan pemisahan diri Papua Barat dari NKRI, Ketua Komisi I DPR RI Theo L Sambuaga mengecam upaya asing untuk mensponsori kampanye tersebut.

“Upaya pihak asing yang mensponsori kampanye itu dilakukan anggota parlemen Inggris Andrew Smith dan Lord Harries yang membentuk International Parlementarians for West Papua,” kata Theo dalam konferensi pers di Gedung DPR RI, Jakarta, Senin (20/10) sore.

Ia menandaskan pembentukan kaukus tersebut bekerja sama dengan tokoh OPM (Beny Wenda) yang saat ini masih berstatus buron karena terlibat berbagai aksi anarkis dan kriminal di Papua.

“Hal itu jelas-jelas bertentangan dengan semangat kerja sama internasional antara anggota parlemen yang dilandasi prinsip tak mencampuri urusan dalam negeri masing-masing negara dan melanggar prinsip IPU (Inter-Parliamentary Union),” jelasnya.

Theo mengatakan, Komisi I mengharapkan kewaspadaan dan kegiatan proaktif seluruh perangkat KBRI di luar negeri, khususnya Eropa, untuk mengikuti perkembangan pembangunan di Propinsi Papua.

MYS

Thoha Al-Hamid: Ideologi Merdeka Tidak Patah Karena Peluru

Ditulis Oleh: Feri/Islami/Papos
Jumat, 17 Oktober 2008

JAYAPURA (PAPOS) -Sekretaris Jendral Dewan Presedium Papua (PDP), Thoha Al-Hamid mengatakan, ideologi masyarakat Papua untuk memerdekakan diri tidak akan patah karena peluru. “Ini sudah menjadi impian walau belum terwujud, perlu diketahui kalau ideologi masyarakat Papua untuk merdeka tidak akan patah hanya karena peluru,” ujarnya kepada wartawan disela-sela demo di Ekspo Waena, Kamis (16/10) kemarin. Kondisi itu selain adanya dukungan peluncuran parlement Inggris (15/10), juga akibat ketidakpuasan masyarakat Papua terhadap Indonesia selama ini. Bahkan, dukungan peluncuran parlement oleh negara lain untuk mendukungn Papua merdeka bukanlah hal baru, seperti telah dilakukan pihak luar negeri terhadap Timor Leste.

Pembentukan parlement intenasional untuk Papua ini, bertugas untuk menginternasionalisasi masalah-masalah Papua sebagai bahasan ditingkat dunia menyangkut kebenaran Papera yang sampai saat ini menjadi permasalahan.

Apakah ini salah satu perjuangan menuju Papua merdeka? Thoha tidak mengetahui précis, namun pastinya masyarakat Papua memiliki keinginan kuat untuk menentukan nasibnya sendiri.“ Jadi problem ini, problem sejarah,” singkatnya.

Menyikapi aksi demo yang dilakukan masyarakat dan mahasiswa, Thoha menjelaskan, hal ini merupakan hal yang biasa sebab, menyampaikan aspirasi merupakan hak setiap orang.“ Apsirasi hal yang biasa di republik yang belajar demokrasi ini,” katanya.

Sementara, Ketua Dewan Adat Papua (DAP) Forkorus Yoboisembut SPd mengatakan, aksi demo yang dilakukan untuk menarik perhatian masyarakat dunia sebagai luapan perasaan masyarakat Papua.

“ Apalagi, sekarang ini telah diluncurkan parlement internasional untuk Papua oleh Negara Inggris,” ujarnya.

Tampak dalam aksi demo kehadiran penjaga tanah Papua (Petapa) sekitar 30 orang tengah penjagaan massa yang berkumpul ditengah jalan raya dengan cara duduk. Tak

luput pula sekitar 4 SSK TNI serta 4 SSK Kepolisian dari Brimob dan jajaran Polresta Jayapura turut menjaga keamanan disekitar lokasi demo. (feri/islami)

Separatisme Papua Tidak Signifikan

18 Oktober 2008 09:36:29

Dubes: Inggris Dukung Integritas Papua dalam NKRI (Pemerintah Pusat Sebaiknya Jangan Anggap Remeh Masalah Papua)

JAYAPURA-Jika di tanah air (Papua red) digembargemborkan bahwa kelompok kemerdekaan Papua Free west Papua campaign (FWPE) tanggal 15 Oktober lalu yang mengklaim meluncurkan International Parlementarians for West Papua di London Inggris, namun ternyata kenyataannya tidak demikian.

Sebab yang terjadi di negerinya Pangeran Charles itu hanyalah pertemuan antara beberapa orang, tapi tidak ada gaungnya sama sekali. Demikian diungkapkan Duta Besar Republik Indonesia di London Inggris Yuri Thamrin kepada Cenderawasih Pos tadi malam via telepon selulernya.

“Itu bukan pertemuan parlementarians internasional karena yang hadir disana hanya beberapa orang,” tukasnya.

Dijelaskan, kegiatan tanggal 15 oktober itu tepatnya jam 3 Sore bukanlah kegiatan resmi Parlemen Inggris, karena kegiatan itu tidak masuk dan tidak tercatat di dalam agenda kegiatan House of Common serta tidak tercatat dalam pengumuman di loby gedung perlemen. Sebaliknya kegiatan itu kegiatan tertutup yang hanya dihadiri oleh 3 orang anggota parlemen Inggris yang sama sekali tidak punya pengaruh di negara itu. Dan lagi, kegiatan itu dianggap tidak penting dan tidak signifikan secara politik, karena anggota parlemen Inggris jumlahnya mencapai 700 orang dan tidak menaruh perhatian terhadap kegiatan itu.

“Jadi tidak seperti yang diberitakan dan memang tidak ada pengaruhnya di parlemen Inggris,” imbuhnya. Dua dari tiga anggota parlemen itu masing-masing bernama Andrew Smith dan L. Harrys.

Bagi pemerintah dan rakyat Inggris kata Yuri Thamrin, peristiwa tersebut tidaklah terlalu penting karena sama sekali tidak mendapatkan perhatian publik di negara itu. Bahkan media cetak maupun elektronik di negara itu tidak memberitakan peristiwa itu karena memang dianggap tidak penting untuk diberitakan.

Setelah kegiatan itu, ada sejumlah orang Papua yang datang dari Vanuatu, PNG dan Belanda serta beberapa negara lain di Eropa yang selama ini mendukung gerakan separatis di Papua melakukan aksi demo di luar gedung parlemen Inggris (parliament square) pada saat itu, tetapi tetap saja aksi mereka tidak mendapat perhatian publik di London, apalagi pada saat itu Kota London diguyur hujan dan sedang musim dingin. “Jadi tidak ada yang mau perhatikan aksi itu,” imbuhnya.

Dalam aksi demonya itu kata Yuri Thamrin, mereka melakukan aksi menari dan bernyanyi, tetapi Kota London saat itu sedang diguyur hujan dan sedang musim dingin sehingga kegiatan itu tidak mendapat perhatian publik maupun anggota parlemen Inggris lainnya.

Pihaknya menyimpulkan kegiatan itu merupakan upaya – upaya dari beberapa kalangan yang tidak bertanggungjawab, khususnya kalangan prokemerdekaan di Inggris untuk memancing dan mendorong gerakan – gerakan pro kemerdekaan di dalam negeri agar terjadi konflik atau peristiwa yang berdampak negatif bagi Indonesia, sehingga dapat dimanfaatkan untuk kepentingan gerakan menujuk kemerdekaan Papua.

Kata dia, kegiatan itu adalah upaya menyimpangkan sesuatu yang tidak penting dan tidak ditanggapi lalu dibuat besar sehingga menimbukan reaksi. “Ini pekejaan yang tidak bertangung jawab,” ujarnya.

Yuri Thamrin berkali – kali menegaskan bahwa kegiatan itu bukanlah kegiatan resmi parlemen Inggris, karena seperti yang kerap dikemukakan oleh pemerintah Inggris bahwa parlemen, pemerintah dan rakyat Inggris tidak pernah mendukung Papua merdeka ” Sebagai duta besar saya berhubungan dengan tokoh- tokoh, anggota perlemen dan pemerintah serta rakyat Inggeis, mereka semua tidak pernah mendukung kemerdekaan Papua, mereka percaya dengan demokrasi yang solid di Indonesia,” katanya.

Kata dia, orang Inggris melihat demokrasi di Indonesia sangat baik dan sedang berkembang. Mereka percaya bahwa penyelesaian Papua dilaksanakan secara demokratis melalui Otonomi Khusus (Otsus). “Jadi tidak ada dukungan pemerintah Ingeris untuk Papua merdeka,”tukasnya bernada serius.

Untuk itu, ia menghimbau masyarakat Indonesia khususnya di Papua agar tidak terpancing dengan upaya distorsi atas kegiatan yang dilaksanakan oleh kelompok itu yang sama sekali tidak ada artinya secara politik.

Hal senada juga diungkapkan Juru Bicara Departemen Luar Negeri Teuku Faizasyah

Dikatakan, pertemuan tersebut dihadiri oleh 2 anggota Parlemen Inggris, 1 anggota Parlemen Papua Neu Guinea (PNG), 1 anggota Parlemen Vanuatu, dan selebihnya, sekitar 30 orang adalah simpatisan kelompok separatis Papua.

Dikatakan, bahwa dengan komposisi kehadiran tersebut, maka pemerintah menilai bahwa pertemuan tersebut tidak signifikan.

“Walaupun ada upaya-upaya pihak tertentu untuk mengesankan peristiwa tersebut sebagai signifikan, namun pada kenyataannya dari sisi peserta maupun anggota parlemen Inggris yang menghadirinya sangat kecil,” ujarnya di Jakarta kemarin (17/10).

Faiz mengatakan bahwa pertemuan tersebut hanya dihadiri oleh 2 orang anggota parlemen Inggris, padahal keseluruhan jumlah anggota parlemen Inggris terdiri atas House of Lords sejumlah 746 orang dan House of Common sejumlah 646 orang. “Bahkan peristiwa ini dilakukan dalam forum tertutup,” lanjutnya.

Diplomat berkacamata ini menjelaskan bahwa masalah kemerdekaan Papua justru bukanlah suatu hal yang menjadi isu. “Dari sisi keikutsertaan peserta dan parlemen yang hadir menunjukkan bahwa masalah kemerdekaan Papua telah mengalami downgrade,” ungkapnya.

Dirinya menambahkan bahwa masyarakat diharapkan tidak terpancing oleh hal-hal tidak signifikan dan masih menggunakan pola pikir lama untuk melihat masalah dalam negeri.
“Khususnya pandangan yang menggunakan referensi Indonesia di masa 1990-an, sedangkan dewasa ini banyak terjadi perubahan dan perbaikan di Papua terutama sejak diterapkannya otonomi Papua sehingga isu-isu pro-kemerdekaan ini tidak relevan,” imbuh Faiz.

Friends of Indonesia di Inggris menurut Jubir, juga telah memberikan masukan agar Indonesia tidak merisaukan aktifitas pro-kemerdekaan Papua karena selama ini digerakkan oleh orang-orang yang sama dan selalu apriori, tidak mau mengakui kemajuan yang terjadi di Papua.

Wakadiv Humas Polri Brigjen Pol Sulistyo Ishak menjelaskan bahwa kondisi Papua tak sekondusif Aceh. Dari data yang dimiliki polisi, Benny Wenda adalah narapidana kasus perusakan Polsek Abepura yang melarikan diri dari Lembaga Pemasyarakatan Abepura pada tahun 2000.

Polisi telah meminta interpol untuk ikut menangkap Wenda. “IPWP pun tidak ada dan tidak signifikan di Inggris,” ujarnya di Mabes Polri kemarin (17/10).
Markas besar korps baju coklat itu menyebut jika di Papua masih terindikasi adanya upaya makar terkait pengerahan massa mendukung pembentukan kaukus International Parliament for West Papua (IPWP) di Jayapura Kamis lalu (16/10).

Sementara itu, terkait aksi unjuk rasa untuk mendukung peluncuran caucus International Parlement for West Papua yang melibatkan ribuan massa di Expo Waena Jayapura Kamis lalu, sebaiknya disikapi serius oleh pemerintah pusat di Jakarta. Sebab dengan begitu bukan mustahil akan berdampak serius pada ancaman disintegrasi bangsa. Hal itu dikemukakan Yance Kayame, SH Ketua Komisi A DPR Papua yang membidangi politik, luar negeri, pemerintahan dan Otsus kepada Cenderawsih Pos kemarin dikantornya.

“Kalau saya lihat sebaiknya pemerintah memang menseriusi masalah ini dan jangan anggap remeh,” tukasnya serius.

Ia mengatakan, soal tuntutan massa yang melakukan aksi demo itu dewan akan tetap kembali pada aturan main internasional, sehingga DPRP sendiri tak bisa menentukan sikap dalam masalah itu sebab urusan politik luar negeri adalah urusan pemerintah pusat. “Yang harus diingat disini adalah siapa PBB, jawabnya Indonesia juga adalah anggota PBB bahkan Indonesia juga masuk dalam anggota Dewan Keamanan PBB,” katanya.

Karena itu, ia yakin bahwa aspirasi itu akan ditampung dan ditindaklanjuti melalui mekanisme pembahasan masalah internasional. “Pemerintah pusat sudah tentu akan menyikapi dan menyampaikan msalah ini ke PBB apabila dianggap perlu karena Indonesia juga adalah anggota PBB dan anggota dewan keamanan PBB,” katanya.

Selanjutnya Yance Kayame berterima kasih kepada aparat yang sudah mengantar aksi demo sehingga berlangsung dengan damai. “Antisipasi yang dilakukan aparat sudah sudah cukup bagus,” ujarnya. Ia juga berterima kasih kepada kelompok masyarakat yang sudah menyampaikan aspirasinya secara tertib.

Lebih jauh, politisi gaek ini meminta pemerintah pusat dalam rangka meredam masalah – masalah Papua agar sebaiknya memperhatikan beberapa hal diantaranya adalah pertama, pemerintah pusat jangan selalu menganggap remeh masalah Papua. “Pemerintah jangan selalu anggap remeh masalah Papua, karena yang terjadi selama ini selalu begitu,” katanya.

Ia lalu mencontohkan sejumlah persoalan yang terkesan diselesaikan asal – asalan seperti pemaksaan pemekaran Provinsi Papua Barat atau mencangkok Perpu Nomor 1 tahun 2008 yang justru kontra dengan Otsus bahkan lagi diangkat menjadi acuan legalitas Provinsi Papua Barat.

Kedua, ia juga meminta pemerintah agar Otsus di dorong dan dilaksanakan secara murni dan konsekwen dalam rangka meningkatkan kesejahteraan masyarakat Papua. Ketiga, Yance Kayame

menilai para diplomat Indonesia di luar negeri dalam menyikapi masalah Papua di luar negeri tidak kawakan (tidak professional) dan akibatnya NGO, Parlement ataupun sejumlah pemerintah di beberapa negara dan pihak – pihak lain luar negeri seringkali mengembangkan masalah Papua secara negatif.

“Itu karena diplomat kita di luar negeri tidak kawakan, akibatnya NGO ataupun pihak – pihak lain di luar negeri seenaknya mempolitisir isu Papua di luar negeri hingga berkembang,” kilahnya serius.

Karena itu kata Yance Kayame, pemerintah perlu mereposisi para diplomat di luar negeri termasuk sejumlah menteri terkait diantaranya Menteru Luar Negeri, Menkopolhukam, Mendagri dan Kepala BIN. “Saya lihat selama ini mereka terkesan jalan sendiri – sendiri dan minim koordinasi. Jadi harus ada konsep serta kepastian operasional yang terukur bagi para diplomat di luar negeri untuk menjaga integritas NKRI,” ujarnya.

Untuk itu menurut dia sejumlah departemen terkait ini harus menyusun konsep operasioanal diplomat dan inteligen yang mampu memberikan data dan informasi kepada pemerintah agar dapat mengantisipasi dan mencegah hal – hal atau kegiatan – kegiatan yang mengancam disintegrasi bangsa yang cukup marak di luar negeri dengan baik, tepat dan benar.(ta/jpnn)

Dalang Papua Merdeka Buronan

Catatan SPMNews:

Lihat Catatan Markas Pusat Pertahanan TRPB yang disampaikan sebagai artikel terpisah atau klik Tag atua Kategori: Pesan Khusus

=========

Ditulis Oleh: Ant/Papos
Sabtu, 18 Oktober 2008
JAKARTA (PAPOS) -Gerakan pro-kemerdekaan Papua di Inggris yang menamakan dirinya International Parliamentarians for West Papua (IPWP) atau Parlemen Internasional Papua Barat didalangi oleh seorang warga Papua yang kini menjadi buronan Polri karena kasus kriminal. “Pelopor IPWP adalah warga Papua bernama Benny yang kabur dari penjara tahun 2000 karena terlibat kasus penyerangan Polsek Abepura. Ia kabur ke Inggris,” kata Wakil Kepala Divisi Humas Polri Brigjen Pol Sulistyo Ishak di Jakarta, Jumat (17/10) kemarin.

Ia mengatakan sejak kabur tahun 2000, Polri telah meminta bantuan Interpol untuk menangkapnya.”Polri terus berupaya menangkap Benny baik lewat Interpol dan jalur lainnya,” katanya seperti dikutip Koran ini dari Antara tadi malam.

Sebelumnya, pada 15 Oktober 2008, kelompok pro-kemerdekaan Papua, FWPC (Free West Papua Campaign), di depan gedung parlemen Inggris meluncurkan International Parliamentarians for West Papua (IPWP).

Dalam peluncuran itu, ada dua orang anggota parlemen dari luar Inggris yang hadir yakni dari Papua New Guinea dan Vanuatu, sedangkan anggota parlemen Inggris yang hadir adalah tiga anggota yang selama ini dikenal pendukung pro kemerdekaan Papua.

Kegiatan di dalam gedung parlemen tidak mendapat perhatian dari anggota parlemen yang lain, kalangan media dan publik dan tidak masuk dalam agenda kegiatan House of Common dan tidak tercatat dalam pengumuman di lobi gedung parlemen.

Mereka menggelar demonstrasi dengan menyanyi dan menari di luar gedung parlemen Inggris dengan tujuan untuk mendapat dukungan dalam gerakan Papua merdeka.

Sulistyo Ishak mengatakan, IPWP adalah kelompok ilegal di Inggris karena tidak terdaftar di instansi yang berwenang.”Polri telah melakukan cek dengan instansi yang berwenang di Inggris yang menyatakan gerakan itu tidak dikenal,” katanya.

Seperti diketahui pada 16 Oktober 2008 lalu, massa Panitia untuk IPWP berkumpul di jalan depan Ekspo/Museum Waena untuk menyampaikan aspirasinya ke DPRP. Namun ketika massa hendak bergerak ke Kota Jayapura, mereka dihadang aparat gabungan TNI-Polri.

Karena tak dapat menembus brigade kelompok pendukung IPWP di Jayapura itu hanya berorasi. Dalam orasinya mereka meminta agar Penentuan Pendapat Rakyat (Pepera) tahun 1969 yang menyatukan Papua ke pangkuan ibu pertiwi Indonesia ditinjau kembali. Mereka pun menilai pelaksanaan UU Nomor 21 Tahun 2001 tentang Otonomi Khusus (Otsus) bagi Provinsi Papua telah gagal.(ant/nas)

West Papua – Tragedi Terlupakan di Pasifik – 17th October 2008

Oleh WPNews
Sep 30, 2008, 20:02

Anda diundang untuk sebuah even petang hari in Reading pada Jumat 17th October 2008 untuk merayakan bersama masyarakat Papua BArat, budaya mereka dan pelanggaran serta penindasan yang tak terbayangkan.

Orang Papua telah menderita selama bertahun-tahun lamamnya karena pelanggaran HAM, diskriminasi dan pelecehan di tangan Indonesia. Even ini merupakan kesempatan untuk mendengarkan langsung cerita mereka dari Caroline Lucas MEP, pemimpin Partai Hiyau dan dari orang Papua sendiri, termasuk Sekjen DeMMAK, ditambah dengan penari dari Papua BArat, teater dan cerita-cerita.

Yours sincerely,

Dr. Sean V. O’Leary,

On behalf of:
Reading International Solidarity Centre and
Free West Papua Campaign
Tel: 01189 874298
s.v.oleary@reading.ac.uk

West Papua

Oleh WPNews
Sep 30, 2008, 20:02

Anda diundang untuk sebuah even petang hari in Reading pada Jumat 17th October 2008 untuk merayakan bersama masyarakat Papua BArat, budaya mereka dan pelanggaran serta penindasan yang tak terbayangkan.

Orang Papua telah menderita selama bertahun-tahun lamamnya karena pelanggaran HAM, diskriminasi dan pelecehan di tangan Indonesia. Even ini merupakan kesempatan untuk mendengarkan langsung cerita mereka dari Caroline Lucas MEP, pemimpin Partai Hiyau dan dari orang Papua sendiri, termasuk Sekjen DeMMAK, ditambah dengan penari dari Papua BArat, teater dan cerita-cerita.

Yours sincerely,

Dr. Sean V. O’Leary,

On behalf of:
Reading International Solidarity Centre and
Free West Papua Campaign
Tel: 01189 874298
s.v.oleary@reading.ac.uk

Up ↑

Wantok Coffee

Melanesia Single Origin Coffee

MAMA Minimart

MAMA Stap, na Yumi Stap!

PT Kimarek Aruwam Agorik

Just another WordPress.com site

Wantok Coffee News

Melanesia Foods and Beverages News

Perempuan Papua

Melahirkan, Merawat dan Menyambut

UUDS ULMWP

for a Free and Independent West Papua

UUDS ULMWP 2020

Memagari untuk Membebaskan Tanah dan Bangsa Papua!

Melanesia Spirit & Nature News

Promoting the Melanesian Way Conservation

Kotokay

The Roof of the Melanesian Elders

Eight Plus One Ministry

To Spread the Gospel, from Melanesia to Indonesia!

Koteka

This is My Origin and My Destiny