Demo di KJRI Melbourne

Ditulis Oleh: Ant/Papos

Jumat, 17 Oktober 2008
BRISBANE (PAPOS)  -Sejumlah aparat kepolisian Australia, Kamis (16/10) kemarin, berjaga-jaga di bagian depan Konsulat Jenderal (KJ) RI di Melbourne selama belasan orang Papua pimpinan gembong anti-Indonesia Jacob Rumbiak dan Herman Wanggai menggelar demonstrasi selama kurang dari satu jam. Aparat keamanan dari unsur Polisi Federal Australia (AFP) dan unit “protective service” melakukan penjagaan dan pengawasan terhadap 13 orang anti-Indonesia ini dari dalam pintu gerbang KJRI Melbourne. Namun aksi mereka berakhir damai.

Informasi yang dihimpun dari Antara menyebutkan, pihak KJRI Melbourne sudah mengetahui rencana aksi Herman Wanggai cs yang berlangsung sekira pukul 11.30 waktu setempat itu sejak beberapa hari lalu.

Melbourne merupakan kota tempat tinggal puluhan pencari suaka politik asal Provinsi Papua anti-Indonesia setelah mereka diberikan visa menetap sementara oleh pemerintah Australia di era pemerintahan Perdana Menteri John Howard dua tahun lalu.

Pada 23 September lalu, dua dari 43 orang pencari suaka itu memutuskan untuk kembali ke kampung halaman mereka di Merauke dan Serui. Kepulangan Hana Gobay dan Yubel Surei itu telah membuat gembong Papua Merdeka, Herman Wanggai, kebakaran jenggot dan mengeluarkan ancaman atas keselamatan keduanya.

Ancaman Herman Wanggai kepada kedua Hana Gobay dan Yubel Surei itu terungkap dalam surat elektronisnya kepada ” SIMPA@yahoogroups.com”.

Dalam surat bertajuk “SIMPA” 2 WNI kembali ke Indonesia!” tertanggal 23 Sep 2008 20:02:10 -0700″ itu, Herman Wanggai mengatakan, keduanya adalah musuh bersama para pendukung Papua Merdeka.

“Ade Hana Gobay dan Jubel Kareni, kaka Herman cuma ucapkan selamat atas pengkhianatanmu.”

“Semoga keputusanmu menjadi pijakan yang benar untuk kepuasanmu berdua. Hari ini engkau boleh senang goyang poco-poco dengan mas-mas kolonial RI tapi hari ini juga engkau adalah musuh orang banyak Papua Barat… Harapan saya, semogaaaaaaa engkau bisa melihat tanah bintang fajar dengan pengkhianatanmu!”
Dua warga negara Indonesia (WNI) itu ke kampung halaman mereka masing-masing dengan rute Melbourne-Denpasar untuk kemudian ke Papua dengan difasilitasi oleh KJRI Melbourne dan KBRI Canberra. (ant)

Tuntut Papua Merdeka, Demonstran Beraksi di Depan Istana

DHONI SETIAWAN

JAKARTA,JUMAT-Front Persatuan Perjuangan Rakyat Papua Barat (Front Perpera PB) berunjuk rasa di depan Istana Negara Jl Merdeka Utara Jakarta, Jumat (17/10).

Mereka menuntut kemerdekaan rakyat Papua. Menurut koordinator aksi Viktor Koboya, dirinya bersama 70 warga Papua datang dari beberapa kota di Jawa, seperti Surabaya, Malang, Yogyakarta, Bandung, Solo, Semarang, dan Bogor. Mereka melakukan aksi sebagai tindak lanjut momentun peluncuran International Parlementarian Forward Papua (IPFP) yang diluncurkan pada 15 Oktober 2008 di London, Inggris.

“Ini merupakan wujud solidaritas internasional terhadap persoalan rakyat di Papua, kami juga mendukung solidaritas masyarakat yang peduli pada nila-nilai kemanusiaan dan HAM di Papua,” kata Viktor.

Para demonstran menuntut kepada pemerintah Indonesia untuk memberikan kemerdekaan kepada rakyat merdeka. Mereka juga mengutuk berbagai kejahatan militer yang belum dituntaskan di Papua. Seperti tragedi penembakan pada Opinus Tabuni yang terjadi di Wamena pada Agustus 2008. Serta penangkapan dan pemenjaraan aktivis Papua Merdeka di Manukwari pada April 2008.

Wakapolres Jakarta Pusat AKBP Herry Wibowo menegaskan para demonstran menyampaikan aspirasi tidak sesuai dengan surat pemberitahuan kepada polisi. “Pada saat pemberitahuan mereka hanya akan melakukan unjuk rasa biasa. Namun, kenyataannya mereka meneriakkan Papua merdeka. Apalagi aksi mereka dilakukan di depan Istana Negara yang menjadi simbol negara Indonesia,” katanya.

Untuk itu kepolisian terus berjaga-jaga dan memantau aksi. Sedikitnya dua peleton anggota polisi disiagakan dan akan datang lagi bantuan. “Siapa tahu nanti terjadi hal-hal yang bermuatan makar,” kata Wakapolres.

C11-08
Sent from my BlackBerry © Wireless device from XL GPRS/EDGE/3G Network

Bintang Kejora Berkibar

Ditulis Oleh: Ant/Papos
Kamis, 16 Oktober 2008

JAYAPURA (PAPOS) -Bendera “Bintang Kejora” dikibarkan sekelompok warga masyarakat Nabire, Kabupaten Nabire pada, Rabu (15/10) dini hari, sekitar Pkl.03.00 WIT. Seperti dilansir Koran ini dari Antara di Jayapura tadi malam, pengibaran bendera Bintang Kejora itu berlangsung ketika kota Nabire sedang diguyur hujan lebat dan listrik PLN padam, sehingga kota Nabire berada dalam keadaan gelap gulita.

Pengibaran bendera berlangsung di empat lokasi dan dua di antaranya yakni di depan Kantor DPRD Nabire dan Kantor Bupati Nabire. “Para pelaku pengibaran bendera itu belum diketahui aparat keamanan Polres Nabire namun lima orang warga telah dimintai keterangan. Mereka adalah penjaga keamanan di Kantor Bupati Nabire, Kantor DPRD Nabire dan penjaga keamanan di Kantor Dinas Pariwisata Nabire,” kata Kapolres Nabire AKBP Rianto.

Kapolres Rianto mengatakan, kejadian pengibaran bendera Bintang Kejora baru diketahui sekitar Pkl.05.00 WIT oleh aparat keamanan gabungan Polres Nabire dan TNI yang melakukan patroli rutin di wilayah itu. “Empat lembar bendera Bintang Kejora berukuran kecil telah disita aparat keamanan,” kata AKBP Rianto.(ant)

Bintang Kejora Berkibar di Asrama Papua, Yogyakarta

Bintang Kejora berkibar di Asrama Papua, Yogyakarta, Indonesia tanggal 16 Oktober 2008, mulai pukul 04:00 sampai diturunkan oleh anggota Polri setempat pada pukul 07:00.

Sejumalh anggota Brimob terlihat berkendaraan dan mondar-mandir sekitar Asrama Papua di pagi itu.

SPMNews mencari informasi, pengibar bendera katakan, “Kami bangsa Papua telah berjuang lama dan kini selangkah semakin maju. Kemajuan yang terjadi perlu diberikan dukungan oleh kami di Asrama Papua juga. Maka kami memberikan dukungan dengan mengibarkan Bendera Negara kami.”

Setelah berdiskusi sejanak, sang pengibar bendera juga menyatakan, “Asrama ini tanah milik bangsa Papua, sudah dibayar lunas. Tidak sama dengan tanah Papua yang dirampas itu. Jadi, ini tanah kami, maka kami berhak menaikkan dan menurunkan Bendera Negara kami. Setelah Papua Merdeka, tanah dan gedung ini akan menjadi Kantor Kedutaan Papua Barat di Pulau Jawa.”

Demikian sekilas info.

Bintang Kejora Dikibarkan di Asrama Papua, Yogyakarta, Indonesia

Sebagai dukungan terhadap Peluncuran Interparliamentary Group for West Papua di London, Inggris, Bendera Bintang Kejora dikibarkan dari pukul 04 dinihari tanggal 17 Oktober 2008 dan diturunkan oleh Kepolosian kolonial Indonesia pada pukul 07:00 pagi.

Dari pantauan SPMNews terlihat sejumlah anggota Brimob berkeliaran tetapi tidak berbuat apa-apa.

Ketika para pengibar dihubungi, mereka katakan, ini hari penting dalam sejarah diplomasi Papua Merdeka di luar negeri, maka kita harus memberitahu kepada NKRI bahwa Asrama ini adalah sebidang tanah milik bangsa Papua yang harganya telah dibayar lunas dan statusnya milik bangsa Papua selama-salamnya. Jadi, setelah kemerdekaan, gedung dan tanah ini akan dijadikan sebagai Kantor Kedutaan Papua Barat di wilayah NKRI.

Oleh karena itu, dalam peristiwa penting begini harus dikibarkan,” kata para pengibar Bendera.

Press Release: for immediate release & circulation: INTERNATIONAL PARLIAMENTARIANS FOR WEST PAPUA

Di Parlemen Rendah (House off Commons), London, tanggal 15 Oktober 2008, tepat pukul 15:00 GMT akan terjadi sebuah peristiwa bersejarah di mana akan ada pertemuan Internasional sejumlah Anggota Parlemen, dalam rangka mendukung Penentuan Nasib Sendiri bagi penduduk asli Papua Barat. Hidup dalam pengasingan sebagai pemimpin Papua Merdeka, Benny Wenda akan bergabung dengan sejumlah pemimpin Melanesia dan Anggota Parlemen lintas negara untuk meluncurkan sebuah kelompok lobi dan forum diskusi di antara para politisi bernama “International Parliamentarians for West Papua” (Anggota Perlemen Internasional untuk Papua Barat). Diharapkan berkumpul di Parliament Square satu jam sebelumnya. Hari perayaan ini akan didahului dengan musik dan tarian tradisional dari Papua Barat yang kini berada di pengasingan di Belanda, di arliament Square, yang akan mempersembahkan pertunjukkan untuk peristiwa ini. Peluncuran ini diselenggarakan bersama oleh Hon. Andrew Smith MP & Lord Harries. Tujuan kelompok ini adalah mengkoordinasi aksi-aksi anggota parlemen di seluruh dunia untuk Papua Barat. Pembicara dalam acara ini termasuk: Ms Melinda Janki – International Human rights Lawyer Hon. Andrew Smith MP (U.K.) Lord Harries (U.K.) Benny Wenda (WEST PAPUA) Hon. Powes Parkop LLB LLM MP (PAPUA NEW GUINEA) Hon. Carcasses Moana Kalosil MP (VANUATU) Silahkan bergabung dalam sebuah peristiwa bersejarah dalam sejarah Papua Barat ini. CONTACT: +44 (0)845 2579145 – Office@FreeWestPapua.org <mailto:Office@FreeWestPapua.org> http://www.FreeWestPapua.org

AS Harus Hargai RI Atas Papua

Jakarta, (ANTARA News) – Pihak Amerika Serikat harus menghargai segala upaya Indonesia dalam penanganan dan pengelolaan segala persoalan di Papua.

“Kami senantiasa berupaya menangani Papua dalam kerangka demokratis termasuk dalam usaha penegakkan hukum yang independen, tidak terpengaruh pihak luar,” kata Menteri Koordinator Bidang Politik, Hukum dan Keamanan (Menkopulhukam) Widodo Adi Sutjipto di Jakarta, Selasa.

Ditemui seusai berbicara dalam seminar “Strategi Keamanan Menjelang Pemilu 2009”, ia mengatakan pemerintah Indonesia telah menyerahkan sepenuhnya masalah dua anggota Organisasi Papua Merdeka Filep Karma dan Yusak Pakage kepada proses hukum secara independen.

“Pemerintah tidak mencampuri proses hukum yang memberikan putusan hukum tetap dan mengikat terhadap kedua orang tersebut. Jadi, tolong ini dilihat sebagai bentuk penegakan hukum yang independen dalam kerangka negara demokrasi,” katanya.

Intinya, katanya, dalam menangani Papua, Indonesia melakukannya dalam kerangka demokratisasi.

Ia menyatakan tidak ada yang menyimpang dalam pelaksanaan demokratisasi pada penanganan persoalan di Papua termasuk dalam penanganan rusuh di Kabupaten Wamena akhir pekan lalu.

“Kami mencoba memberikan peran yang lebih besar kepada pemerintah dan masyarakat daerah Papua untuk mengembangkan dirinya menjadi lebih baik di masa datang,” katanya.

Menkopolhukam memastikan tidak ada kaitan antara surat 40 anggota Kongres AS mengenai Filip Karma dan Yusak Pakage dengan insiden Wamena.

Hal senada dilontarkan Kepala Badan Intelijen Negara (BIN) Syamsir Siregar bahwa tidak ada hubungan antara surat dari Kongres AS dan kerusuhan di Wamena.

“Tidak berarti karena waktunya hampir bersamaan lalu kedua masalah itu saling berkaitan,” katanya.

Syamsir mengatakan masih banyak anggota Kongres AS yang tidak tahu secara rinci tentang Papua sehingga kerapkali membuat persoalan menjadi rumit. (*)

Vanuatu tidak Menegaskan Gagasan Penempatan Pengungsi Papua Barat dari PNG

Pemerintah Vanuatu katakan negara itu tidak memberikan tawaran untuk menempatkan kembali sekelompok pengungsi Papua Barat yang sekarang ada di Papua New Guinea.

Tanggapan ini disampaikan menyusul laporan bahwa sekitar 100 orang dari Papua Barat telah diberikan tawaran untuk memasuki vanuatu oleh Dewan Adat Nasional setempat.

Para pengungsi, yang hidup dalam tenda-tenda di Port MOresby, katakan bahwa mereka mengajukan mengungsi ke negara ketiga.

Akan tetapi, Komisioner Badan PBB Urusan Pengungsi mengatakan kelompok ini tidak memenuhi kriteria untuk penempatan kembali.

Jubir PM Vanuatu dan penasehat pertama Nikenike Vurobaravu katakan dukungan penuh untuk kesejahteraan orang Papua dari para Kepala Suku tidak sama dengan tawaran untuk penempatan mereka oleh negara.

“Kebijakan pemerintah manapun menyangkut pengungsi harus dipertimbangkan matang – kami harus memikirkan tentang aturan main internasional dan persyaratan dalam negeri kami sendiri, jadi kalau ada isu-isu seperti itu perlu, maka pemerintah akan mempertimbangkannya seturut syarat=syarat ini.”

Nikenike Vurobaravu
RNZI Posted at 01:47 on 10 October, 2008 UTC

Diburu Aktor Intelektual Pengibaran Bintang Kejora

TIMIKA (PAPOS) –Meski MM dan PK telah resmi ditetapkan sebagai pelaku pengibaran bendera Bintang Kejora di Kwamki Baru Timika, namun Polisi masih terus memburu otak dibalik layar pengibaran bendera sparatis tersebut pada Selasa (23/9) lalu. Sementara 16 warga lainnya yang ditangkap bersamaan, statusnya hanya sebagai saksi dan mereka telah diijinkan pulang ke rumahnya masing-masing. MM dan PK oleh Polis dijerat pasal 106 dan 107 KUH Pidana tentang Makar, dan Undang-Undang Darurat Nomor 12 Tahun 1951 tentang Larangan Membawa Senjata Tajam.

Menurut Kapolres Mimika AKBP Godhelp C Mansnembra, pihaknya masih mengembangkan kasus untuk mengungkap aktor intelektual dibalik aksi pengibaran bendera berlambang sparatis tersebut.

Dari tangan MM dan PK polisi berhasil menyita barang bukti berupa Handphone (Hp), puluhan busur dan panah, dua buah senapan angin jenis CIS, serta beberapa buah parang dan benda tajam lainnya termasuk satu Bendera Bintang Kejora berukuran 130 x 50 cm.

Ditulis Oleh: Husyen/Papos, Senin, 06 Oktober 2008

IBU..LEPASKAN SAJA ANAKMU PAPUA…jika kau tak sanggup mengurusiku IBU..LEPASKAN SAJA ANAKMU PAPUA…

Catatan SPMNews:
Hai Bangsa Papua, ini pendapat dan pandangan orang Indonesia sendiri, berdasarkan realitas yang ada di tanah air. Tidak ada aktivis Papua yang mempengaruhi dia, tetapi ia melihat, dan sebagai manusia merasakan sendiri.

Bagaimana hatinurani orang Papua-Indonesia (Papindo)???


Ya bagi seorang yg memiliki rasa nasionalisme tinggi tentu akan geram membaca judul diatas.Karena bukan maksud saya memecah persatuan dan kesatuan bangsa… “Saya Cinta Indonesia”.

Disini saya melihat dari segi kemanusiaan…

Marilah kita merenungkan nasib penduduk Papua

Ketika saya menyaksikan acara ttg pariwisata di “Raja Ampat” yg memilki 75% keanekaragaman makhluk laut. Akan tetapi kekayaan tersebut bukannya dilestarikan dan dimanfaatkan dengan baik.. malah dibuat project tambang.. yg dimiliki oleh industri kecil… secara otomatis mereka kurang dalam menanganan limbah maupun kesadaran akan lingkungan, otomatis mengancam alam lingkungan sekitar dan kehidupan makhluk laut didalamnya…

Sungguh sangat menyedihkan Pemerintah Indonesia ini!!…

APA SIH YANG DIMILIKI JAKARTA??? SAMPAH & POLUSI SAJA KAN!!!

Ya bandingkan saja dengan Papua yg merupakan penghasil tambang terbesar di DUNIA

Akan tetapi Pemerintah memberikanya ijin keperusahaan asing untuk mengeksploitasinya

Bayangkan saja bila Indonesia menguasai hasil tambang tersebut.. uranium misalnya… bahan utama untuk menciptakan nuklir, emas, dan mineral berharga lainnya..

Apa yg didapatkan Penduduk Papua??

Kemiskinan..Kelaparan..Kebodohan.. bandingkan dengan keadaan anda yg hidup layak dengan menikmati MP3player, Videogame, Shoping, Ngedugem dll

Gak adil kan?? Bagi mereka makan dengan seadanya saja sulit!.. dan alangkah senangnya bisa memberikan segelas susu sehat kepada anak2 mereka.

Contoh lain pulau luar Papua misalnya Bepondi dan Mapia… dengan perut yg kosong… anak2 Papua hafal menyanyikan lagu Indonesia Raya dengan semangat yg tinggi pada hari kemerdekaan Indonesia, bandingkan dengan artis yg hidup layak dari Indonesia seperti nikita willy dan artis muda lainnya pancasilapun mereka tidak hafal??

Masih ingatkah anda dengan Insiden Perkibaran Bintang Kejora di Wamena yg diperingati pada hari Internasional “Kebebasan Dunia” yang mengakibatkan meninggalnya seorang warga Papua, serta turunnya Surat Kongres Amerika, tidak dipungkiri lagi bahwa amerika menginginkan Papua, karena kekayaan SDA nya yg sangat berlimpah

Skali lagi disini saya melihat dari sisi kemanusiaan dimana warga Negara Indonesia, bertempat tinggal diPapua yg notabene kaya SDA tidak merasakan hasil buminya

“PEMBANGUNAN ADIL YG DAN MERATA”

tidak terlaksana oleh pemerintah Indonesia sejak dulu hingga sekarang…sampai2 mutiara hitam ini ditelantarkan oleh ibunya…lepaskan saja mereka bila tak sanggup mengurusinya! biarlah orang lain mengasuhnya dengan baik agar tumbuh dan berkembang dengan sehat..

Taukah anda angka harapan hidup papua hanya 48 tahun??

-Jika pemerintah tidak bisa memberikan penghidupan yg layak untuk papua, buat apa mempertahankannya?

-Jika pemerintah tidak bisa menjalankan amanat bangsa buat apa menjadi pemerintah?

Legislatif dan Penegak Hukum sekeras tenaga menghalalkan segala cara untuk memperkaya diri mereka…

Parpol dan elit politik lainnya berusaha merebut kursi dipemerintahan

Lantas apa yg dapatkan oleh penduduk Papua???

Biarkanlah spirit mereka yang melakukannya..

Bebaskanlah mereka dari belenggu pemerintah kotor

Bukankah segala sesuatu berasal dari Niat??(al-awwalu binniah)

Dan bukankah niat merka tulus untuk memajukan penduduk papua??

Hey bung merdeka sekarang sudah berubah! Merdeka bukan lagi lepas dari penjajahan, namun telah berevolusi menjadi keadilan dan pemerataan

————————————————————————————————————

Merdeka Untuk Semua

Yup share disini bagi anda tentang Papua..:D

Tentang apa yg harus dilakukan oleh Pemerintah sekarang Mengingat tidak akan terjadi perubahan pada mereka..marilah kita melihatnya dari sisi kemanusiaan…

CMIIW-manusia tidak terlepas dari kesalahan… maka perbaikilah kesalahan tersebut

————–
Sumber: http://arifminds.blogspot.com/

Up ↑

Wantok Coffee

Melanesia Single Origin Coffee

MAMA Minimart

MAMA Stap, na Yumi Stap!

PT Kimarek Aruwam Agorik

Just another WordPress.com site

Wantok Coffee News

Melanesia Foods and Beverages News

Perempuan Papua

Melahirkan, Merawat dan Menyambut

UUDS ULMWP

for a Free and Independent West Papua

UUDS ULMWP 2020

Memagari untuk Membebaskan Tanah dan Bangsa Papua!

Melanesia Spirit & Nature News

Promoting the Melanesian Way Conservation

Kotokay

The Roof of the Melanesian Elders

Eight Plus One Ministry

To Spread the Gospel, from Melanesia to Indonesia!

Koteka

This is My Origin and My Destiny