Catatan SPMNews:
Hai Bangsa Papua, ini pendapat dan pandangan orang Indonesia sendiri, berdasarkan realitas yang ada di tanah air. Tidak ada aktivis Papua yang mempengaruhi dia, tetapi ia melihat, dan sebagai manusia merasakan sendiri.
Bagaimana hatinurani orang Papua-Indonesia (Papindo)???
Ya bagi seorang yg memiliki rasa nasionalisme tinggi tentu akan geram membaca judul diatas.Karena bukan maksud saya memecah persatuan dan kesatuan bangsa
JAYAPURA- Ratusan massa kemarin mendatangi UNDP (United Nasional Development ) sebagai salah satu bagian dari lembaga PBB (Perserikatan Bangsa Bangsa) dan DPR Papua. Mereka meminta agar pemeriksaan yang dilakukan terhadap sejumlah pentolan Dewan Adat Papua (DAP) terkait peristiwa peringatan hari pribumi di Wamena beberapa waktu lalu dihentikan.
Massa yang menamakan diri Koalisi Mahasiswa dan Masarakat Peduli Tanah Papua (KMMPTP) itu, tiba di gedung DPR Papua sekitar pukul 14.45 WIT. Mereka datang hanya membawa spanduk yang bertuliskan dua yang urgent “1, UNDP Harus segera mendesak Kapolda Papua untuk menghentikan pemeriksaan terhadap DAP dan panitia perayaan hari Pribumi internasional sebelum ada pelapor khusus dari PBB bagi masyarakat pribumi karena penyelesaian persoalan ini harus melalui hukum internasional bukan hokum RI. 2, Meminta Polisi segera mengungkap pelaku penembakan Opinus Tabuni.
Di halaman Gedung DPRP itu, massa yang dipimpin Buktar Tabuni itu berorasi yang intinya mendesak DPR Papua agar lembaga wakil rakyat itu segera bersurt ke Polda Papua untuk menghentikan pemeriksan terhadap pentolan DAP. “Kami minta DPRP harus segera secepatnya menyurai Kapolda Papua untuk hentikan pemeriksaan terhadap DAP,” teriak Buktar.
Ia juga mengatakan bahwa peristiwa yang terjadi di Wamena itu merupakan bentuk pelanggaran HAM yang harus diusut tuntas oleh pengadilan internasional.
Selain itu, mereka juga menilai pemerintah Republik Indonesia telah menodai dan melanggar deklarasi PBB 13 Septemer 2007 tentang perlindungan bangsa pribumi internasional. “Karena itu, kami minta kasus ini diusut tuntas, karena militer RI sudah mencoreng hari pribumi untuk itu prosesnya harus internasional,” teriaknya lantang.
Dalam pernyataan sikapnya antara lain disebutkan bahwa Deklarasi PBB yang terbaru adalah hak asazi masyarakat adat pribumi (United Nations Declaration on the rights of Indigenous Peoples) yang disahkan dalam sidang PBB tanggal 13 September 2007 di New York. Deklarasi yang terdiri dari 46 pasal itu salah satu pasalnya yakni pasal 3 menyatakan masyarakat adat berhak menentukan nasib sendiri. Atas itu, mereka juga berhak menetukan status politik mereka dan secara bebas memacu pengembangan ekonomi social budaya.
Disebutkan juga bahwa masyarakat adat dalam melaksanakan hak menentukan nasib sendiri dan berhak untuk otonomi atau berpemerintahan sendiri dalam hal – hal local. Salah satunya DAP secara resmi terdaftar sebagai anggota bangsa pribumi internasional se-dunia maka mensyukuri ini DAP melaksanakan Hari perayaan Pribumi tanggal 9 Agustus lalu tetapi perayaan tersebut dinodai dengan insiden penembakan Opinus Tabuni.
Bergantian mereka berorasi antara lain Usama Waka, Rony Murib dan Seby Sambom, namun isi orasinya semuanya hampir sama, mereka meminta dewan untuk menyurati Kapolda. “Untuk itu, kami ingin bertemu dengan semua pimpinan dewan sekarang juga,” kata Usama. Hanya saja, kemarin itu pimpinan DPRP tidak ada, bahkan sebagian besar anggotanya juga tidak hadir sehingga mereka hanya bertemu dengan beberapa anggota diantaranya Ketua Komisi F Ir Weynand Watori, Ketua Komisi E Zakarias Yoppo dan Henny Arobaya dari Komisi A. Mereka diterima di halaman parkir gedung wakil rakyat itu.
Weynand Watori mengatakan bahwa pihaknya juga sedang menseriusi kasus tersebut karena ia juga menilai kalau kasus itu mengarah pada pelanggaran HAM. Ia bahkan telah menyampaikan kasus tersebut kepada Ketua Komnas HAM beberapa waktu lalu ketika dating ke Jayapura dan rencananya Komnas juga akan melakukan penyeldikan terhadap kasus tersebut. Kata Weynand, orang Papua tidak ingin terus menjadi korban dan tidak ingin menjadi eksperimen, karena pihaknya meminta Komnas HAM untuk turun ke Wamena. “Kami sudah sampaikan kasus ini kepada Komnas HAM Pusat dan sudha tanyakan peristiwa tersebut tetapi sampai sekarang memang belum ada penjelasan resmi,” katanya.
Selain itu, ia juga meminta semua pihak untuk mengungkap kasus in dengan jelas, bagaimana sebenarnya yang terjadi sehingga rakyat merasakan keadilan. Ia berjanji akan menyampaikan aspirasi itu kepada pimpinan dewan dan mengatakan pada Hari Senin nanti dipastikan surat permintaan penghentian pemeriksaan terhadap pentolan DAP sudah sampai di Polda Papua. “Kami usahakan suratnya pada hari Senin nanti suratnya sudah sampai di Polda Papua,” katanya.
Markus Haluk yang juga ikut dalam aksi tersebut mengatakan, pihaknya berharap agar dewan serius menindaklanjuti aspirasi itu dengan harapan Polda Papua dapat menghentikan pemeriksaan terhadap DAP. “Harapan kami begitu, dewan menanggapi ini serius dan segera menyurati Polda,” tandasnya.
Sementara itu, demo yang dilakukan oleh KMMPTP ini, dipantau langsung oleh Kapolresta Jayapura, AKBP Roberth Djoenso SH. Menurut Kapolresta, dalam pengamanan demo ini, pihaknya mengerahkan 1 SSK Brimob dan 1 SSK Dalmas Polresta Jayapura.
“Dalam demo ini, kami mengerahkan 2 SSK pasukan untuk mengamankan,” kata Kapolresta.
Kapolresta menjelaskan UNDP ini bukan menangani masalah politik dan HAM,namun mereka bekerjasama dengan Bappeda dalam pembangunan terutama untuk mempercepat program pembangunan yang dilaksanakan pemerintah daerah, termasuk bekerjasama dengan BPMD Provinsi Papua dalam bidang ekonomi dan sejumlah LSM yang bergerak di bidang kemasyarakatan.
Seperti diketahui sebelum mendatangi UNDP, KMMPTP lebih dahulu mengelar aksi long marc ( berjalan kaki) dari depan Ekspo Waena ke pertokoan depan Kantor Kanwil Pos Wilayah XI Maluku- Papua. Tak pelak, aksinya itu sempat membuat arus lalu lintas Abepura- Waena macet.
Sebelum massa menuju ke kantor UNDP, sempat terjadi ketegangan antara massa dengan pihak aparat keamanan. Saat itu, massa memaksakan diri untuk berjalan long march, namun dicegah Kapolsekta Abepura AKP D Rumaropen. Alasannya, aksinya itu bisa menganggu ketertiban masyarakat, karena akan membuat arus lalu lintas terganggu.
Selama menggelar orasi di Abepura, massa mendapat pengawalan dari pihak keamanan, dari Brimob, Dalmas Polresta dan Polsekta Abepura. (tia/api/bat/mud)
JAKARTA, SELASA – Panglima TNI Jenderal TNI Djoko Santoso menyatakan, pengibaran bendera Bintang Kejora di Wamena, bukti masih adanya kegiatan separatisme di Papua.
“Pengibaran bendera selain ’Merah Putih’ di Republik ini, jelas bentuk separatisme,” katanya usai menghadiri seminar “Strategi Keamanan Menjelang Pemilu 2009” di Jakarta, Selasa.
Terkait insiden Wamena, Djoko menegaskan, TNI belum akan mengirimkan pasukan tambahan ke Papua. “Insiden itu lebih pada persoalan hukum, jadi kita serahkan saja penanganannya pada kewenganan hukum,” ujarnya.
Sabtu (9/8), peringatan Hari Penduduk Pribumi Sedunia di Wamena, Papua, yang digelar kelompok Dewan Adat Papua (DAP) yang semula berlangsung tertib berakhir rusuh menyusul pengibaran tiga bendera, Merah Putih, bendera PBB, dan bendera Bintang Kejora.
Ketika akan diturunkan oleh anggota (polisi), tiba-tiba ada sekelompok orang yang melempar anggota dengan batu. Bahkan, Kepala Kepolisian Resor Wamena Ajun Komisaris Besar Azis terkena panah di sepatunya.
Situasi makin memanas, hingga Anthonius Tabuni (40), warga asli Papua, tewas. Terkait itu, Badan Bintang KejoraReserse Kriminal atau Bareskrim Mabes Polri, Senin (11/8), menyelidiki penyebab tewasnya Anthonius dengan mengirimkan tim khusus yang terdiri atas bagian reserse, intel, serta tim laboratorium dan forensik.
Jakarta – Bendera bintang kejora dikibarkan di Wamena Sabtu 9 Agustus. Satu orang tewas tertembus peluru saat polisi berusaha membubarkan aksi itu.
Mabes Polri pun akan mengirim tim ke Wamena. “Ya, kami akan kirim tim ke sana,” kata Kadiv Humas Mabes Polri Irjen Pol Abubakar Nataprawira saat dihubungi wartawan, Senin (11/8/2008).
Tim itu, kata Abubakar, terdiri atas tim Puslapfor, direktorat satu Bareskrim Mabes Polri, dan tim dari kesatuan Baintelkam Mabes Polri. Namun Abubakar membantah, tim ini dikirim karena kondisi di Wamena yang berbahaya.
“Kami hanya membantu penanganan kasus yang ada di Wamena. Kondisi di sana sudah aman,” ujarnya.
Informasi yang diterima detikcom, tim tersebut akan berangka Senin malam. (ddt/ken)
Jakarta – Pengibaran bendera bintang kejora terjadi di Wamena, Papua. Namun naasnya saat bendera itu hendak diturunkan, seorang perwira polisi kena panah.
“Ada 3 buah bendera yang berkibar yaitu bendera PBB, bendera merah putih, dan Bintang Kejora,” kata Wakadiv Humas Mabes Polri Brigjen Pol Sulistyo saat dihubungi via telepon Sabtu (9/8/2008).
Pengibaran bendera itu terjadi sekitar pukul 14:30 WIT. Kemudian, lanjut Sulistyo, petugas Polres Wamena bergegas menurunkan bendera tersebut.
“Saat petugas mau menurunkan bendera tersebut, sekelompok massa menyerang dengan batu dan panah, bahkan Kapolres Wamena terkena panah di sepatunya,” jelas Sulistyo.
Sulistyo menjelaskan pihak mabes polri masih melakukan pengecekan ke Polres Wamena mengenai kebenaran informasi yang menyebutkan adanya korban dari masyarakat.
Dia juga belum mengetahui berapa orang yang telah ditetapkan sebagai tersangka. “Kami belum bisa memberikan berapa orang yang dinyatakan tersangka dalam kasus ini,” sebutnya.
Peristiwa pengibaran bendera ini bermula dari perayaan hari Internasional Bangsa Pribumi yang diselenggarakan oleh dewan adat papua, yang juga dihadiri oleh ketua dewan adat Papua Forkorus.(ddt/ndr)
Jakarta – Pengibaran bendera bintang kejora di Wamena, Papua memakan korban jiwa. Dilaporkan seorang warga tewas tertembus peluru polisi yang hendak membubarkan aksi tersebut.
Indra Subagja – detikNews
(Foto: Raiden Raga/Reuters)
Seperti dikutip Reuters, Sabtu (9/8/2008), saat itu ribuan warga berkumpul di Kota Wamena untuk merayakan hari pribumi. “Setelah sambutan, sekelompok orang memasuki lapangan dan mengibarkan bendera Indonesia, bendera PBB, bendera SOS, dan bintang kejora,” kata Ketua Pimpinan Dewan Adat Papua Fadhal Alhamid.
Melihat bintang kejora berkibar, polisi lantas merangsek masuk. “Polisi memberikan tembakan peringatan, tapi tiba-tiba sesorang berteriak dan ternyata dia tertembak,” tambah Fadhal.
Dan setelah diidentifikasi, menurut penyelenggara yang tertembak itu adalah seorang pria bernama Opinus Tabuni (35).(ndr/)
Bintang Kejora BerkibarJAYAPURA, SABTU – Kapolda Papua Irjen Pol FX Bagus Ekodanto menegaskan, pihaknya akan meminta pertanggungjawaban Dewan Adat Papua (DAP) atas pengibaran bendera “Bintang Kejora” di Wamena, ibu kota Kabupaten Jayawijaya, Provinsi Papua pada pukul 14.55 WIT, Sabtu (9/8).
Pertanggungjawaban itu diminta karena acara peringatan Hari Internasional Hak-Hak Masyarakat Pribumi yang dipusatkan di lapangan Sinabuk, Wamena itu sebelumnya sudah dilarang dan tidak diizinkan.
“Namun ternyata mereka tetap menggelar acara tersebut dan mengibarkan bendera Bintang Kejora dan bendera PBB serta bendera Merah Putih sehingga aparat berupaya menurunkannya,” ujar Kapolda ketika dihubungi melalui telepon selularnya.
Menurut Ekodanto, dari laporan terungkap bendera berhasil diturunkan dan situasi Kamtibmas masih terkendali.
Ketika ditanya tentang adanya warga sipil yang tewas kena tembakan, Kapolda dengan tegas mengatakan dirinya belum mendapat laporan. “Yang pasti saat ini situasi sudah dapat dikendalikan,” katanya.
Rachmadin Ismail – detikNews
Jakarta – Puluhan aktivis Hizbut Tahrir Indonesia (HTI) demo di depan Kedubes AS memprotes tindakan anggota kongres AS yang meminta 2 anggota Organisasi Papua Merdeka (OPM) dibebaskan.
Massa HTI yang akan berunjuk rasa diperkirakan sebanyak 500 orang. Namun yang baru datang baru sekitar 50 orang.
Massa HTI mulai berdatangan secara bergelombang di Kedubes AS, Jalan Medan Merdeka Selatan, Jakarta Pusat, Sabtu (9/8/2008) sejak pukul 09.45 WIB.
“Kami memprotes aksi intervensi AS ke Papua,” kata koordinator lapangan HTI, Sodiq Ramadhan.
Aksi diisi oleh orasi-orasi yang intinya meminta AS tidak mengintervensi Indonesia. Massa HTI juga mengibarkan bendara dan 6 spanduk bertuliskan “HTI Menolak Intervensi AS.”
HTI juga meminta agar pemerintah tidak terpengaruh oleh intervensi anggota kongres AS dan meminta masyarakat di Papua tetap mendukung NKRI.
Sekitar 50 aparat kepolisian tampak berjaga-jaga. Arus lalu lintas di sepanjang Jalan Medan Merdeka Selatan dan sebaliknya masih lancar.
40 Anggota Kongres AS menyurati Presiden SBY meminta agar 2 anggota OPM, Filep Karma dan Yusak Pakage dibebaskan tanpa syarat. Mereka menilai tindakan Filep dan Yusak itu merupakan wujud dari kebebasan mengeluarkan pendapat.(aan/djo)
Jakarta – Anggota DPR dari Partai Bulan Bintang (PBB) Ali Muchtar Ngabalin akan mendorong DPR untuk mengirimkan surat kepada Presiden AS George W Bush dalam watu dekat ini. Surat itu untuk meminta dukungan politik untuk membebaskan tahanan muslim asal Indonesia yang dipenjara di Guantanamo.
Alasan pengiriman surat ini sebagai balasan dari surat Kongres AS kepada Presiden Susilo Bambang Yudhoyono (SBY), yang meminta agar dua anggota Organisasi Papua Merdeka (OPM), pelaku pengibaran bendera Bintang Kejora, dibebaskan dari tahanan. Menurut informasi, surat itu dikirimkan kepada Presiden SBY pada tanggal 29 Juli 2008 lalu.
“Saya akan bertemu dengan Pak Agung Laksono dan Badan Kerjasama antar Parlemen (BKSAP) DPR untuk mengirim surat kepada Presiden AS untuk melepaskan tahanan Indonesia yang Islam di Guantanamo,” kata anggota Komisi I DPR Ali Muchtar Ngabalin yang dihubungi wartawan, Kamis (7/8/2008).
Surat Kongres AS kepada SBY tersebut, lanjut Ngabalin, berisi tentang permintaan agar pemerintah Indonesia melepaskan dua tahanan OPM. Seharusnya, sesuai perjanjian internasional, permintaan itu harus saling menguntungkan.
“Permintaan tersebut berdasarkan perjanjian hukum internasional yang seharusnya bersifat saling menguntungkan kedua pihak,” jelasnya.
Kapan surat itu dikirim ke SBY? “Surat Kongres itu sudah diterima dan masuk ke SBY pekan ini,” jawab dia singkat.(zal/asy)
Jakarta – Bendera Bintang Kejora kembali berkibar di Kabupaten Fak-Fak, Provinsi Papua Barat. Polisi telah menahan sejumlah orang yang diduga ikut terlibat dalam pengibaran bendera Papua Merdeka.
“Pukul 04.00 Wita, bendera Bintang Kejora dinaikan,” ujar Kadiv Humas Mabes Polri, Irjen Abubakar Nataprawira saat dihubungi detikcom, Sabtu (19/07/08).
Menurut Abubakar, pihaknya telah menahan 41 orang yang diduga ikut terlibat dalam kejadian tersebut. Namun hingga saat ini belum ada satu pun yang telah ditetapkan menjadi tersangka.
“Ada 41 orang yang ditahan, tapi belum ada yang jadi tersangka,” jelas Abubakar.
Bendera Bintang Kejora dijadikan sebagai simbol bagi kelompok separatis Organisasi Papua Merdeka (OPM). Pemerintah Indonesia telah melarang keras adanya pengibaran bendera simbol kedaulatan lain selain bendera Merah Putih. (mok/anw)