PNG Restates Wet Papua Concerns

11:39 am on 26 May 2016

Papua New Guinea’s prime minister says his government is concerned about what is happening in West Papua and has expressed this directly to Indonesia’s President Joko Widodo.

Peter O’Neill made the comment on FM100’s radio talk back show while responding to questions from the public about West Papua.

Papua New Guinea's Prime Minister, Peter O'Neill.
Papua New Guinea’s Prime Minister, Peter O’Neill. Photo: PNG PM’s office

 

The prime minister has previously spoken of the need for PNG to speak out about ongoing human rights abuses in his country’s neighbouring territory.

On talkback yesterday, Mr O’Neill indicated West Papuans were welcome in PNG.

“We are equally concerned about what is happening in West Papua,” he said.

“We have expressed that directly to the highest authority including the President this year particularly the human rights issue and for autonomy.”

The prime minister said that as chair of the Pacific Islands Forum, PNG had written to President Widodo, requesting to send a fact-finding team of Pacific Island leaders to West Papua to talk directly with the people themselves.

“The response we received from Indonesia is they welcome such a dialogue and appreciative of our desire for West Papua have some more autonomy, whether that will be self-determination or not is something that can be worked on towards,” he said.

The prime minister’s comments follow criticism by the chairman of the Melanesian Spearhead Group, Manasseh Sogavare, that Indonesia has failed to respond to requests for engagement over Papua by both the Pacific Forum and the MSG.

After their special summit scheduled for Port Vila earlier this month was postponed, MSG leaders were now expected to meet in Port Moresby in coming days.

Port Moresby meeting

The MSG leaders meeting is expected to coincide with a summit of the African Carribean and Pacific Group that PNG is hosting.

“So I am aware we will have an MSG side meeting at the weekend,” Mr O’Neill is reported in the Post Courier as saying, “and some of the issues will be brought up during the ACP summit which is coming up next week.”

Vanuatu’s Daily Post newspaper reports that the country’s Prime Minister Charlot Salwai and his Foreign Minister Bruno Leingkone will be attending.

Mr Salwai has clearly stated his government’s support for the United Liberation Movement of West Papua’s bid for full membership in the MSG.

Indonesia is also seeking full membership, although Mr Salwai is also proposing that Indonesia’s current associate membership in the group be cancelled.

Bougainville dan Papua New Guinea menetapkan target untuk referendum kemerdekaan

Presiden Bougainville John Momis dan Perdana Menteri Papua Nugini Peter O’Neill telah sepakat untuk bekerja menuju 2019 referendum kemerdekaan, setelah pertemuan di Port Moresby minggu lalu.

Bougainville merupakan bagian otonom dari PNG dan berjuang perang saudara selama satu dekade dengan pemerintah nasional yang berakhir pada tahun 1999.

daerah harus memegang referendum kemerdekaan pada tahun 2020 di bawah ketentuan Perjanjian Perdamaian Bougainville, tetapi target baru belum final.

Presiden Momis mengatakan keputusan itu kickstarted proses perencanaan menjelang pemilihan bersejarah pada tanggal 15 Juni 2019.

“Dengan tanggal tersebut sekarang setuju, kita dapat merencanakan langkah-langkah yang diperlukan untuk mengadakan referendum, dan waktu dan dana dan tenaga yang dibutuhkan untuk melaksanakan setiap langkah,” katanya kepada surat kabar Post Courier di PNG.

Pemerintah PNG juga telah berkomitmen untuk persiapan dana referendum, dan diharapkan keputusan akan menyebabkan pembuangan senjata penuh di Bougainville.

Beberapa fraksi di Bougainville memegang senjata mereka setelah konflik dalam kasus PNG tidak akan membiarkan referendum untuk melanjutkan, tapi Presiden Momis mengatakan kecurigaan mereka dapat merusak suara.

“Saya call now untuk pembuangan senjata lengkap … hanya kemudian Bougainville akan dapat menjadi referendum-siap. Perjanjian Perdamaian Bougainville mengharuskan referendum bebas dan adil,” katanya.

“Seharusnya tidak ada lagi keraguan di antara Bougainville apakah referendum akan diadakan.”

Sumber: http://mobile.abc.net.au/news/2016-05-23/bougainville-referendum-set-for-2019/7436566

Solomons PM Reiterates Papua Stand

7:57 am on 18 May 2016, Radio NZ

The Solomon Islands prime minister has reiterated his support for full membership of the Melanesian Spearhead Group for the United Liberation Movement of West Papua.

Manasseh Sogavare, who is also the chairman of the MSG, has returned from a visit to Port Vila where he announced his intention to support Vanuatu and push to elevate the Liberation Movement from its current observer status in the group.

He also confirmed his plan to request United Nations intervention in West Papua due to ongoing alleged human rights abuses by the Indonesian security forces

Mr Sogavare has criticised Indonesia for not taking up repeated efforts by the MSG and Pacific Islands governments to establish dialogue with Jakarta over concerns about West Papua.

United Liberation Movement for West Papua members Mama Yosepha Alomang, Edison Waromi, AndyAyamiseba and Jacob Rumbiak with the Solomon Islands prime minister Manasseh Sogavare (centre),
United Liberation Movement for West Papua members Mama Yosepha Alomang, Edison Waromi, Andy Ayamiseba and Jacob Rumbiak with the Solomon Islands prime minister Manasseh Sogavare (centre), Photo: MSG

Ketua MSG Sogavare Desak PBB Turun Tangan Soal Papua

Sabtu, 14 Mei 2016 | 09:47 WIB

TEMPO.CO, Port Vila- Ketua Melanesian Spearhead Group (MSG) Mannasseh Sogavare mengatakan MSG mendesak Perserikatan Bangsa-Bangsa untuk turun tangan terhadap masalah di Papua Barat (Papua).

Sogavare yang saat ini menjabat Perdana Menteri Kepulauan Solomon menjelaskan, sejak Papua mendapatkan status pengamat di MSG tahun lalu, situasi Papua di wilayah Indonesia menjadi lebih tegang dan masyarakat adat Papua dalam situasi “diambang kepunahan.”

Selain meminta PBB segera melakukan intervensi seperti dilansir radionz.co.nz, 13 Mei 2016, Sogavare juga telah mendeklarasikan dukungan negaranya kepada Persatuan Pergerakan Pembebasan untuk Papua Barat (United Liberation Movement for West Papua-ULMWP) yang mengajukan diri untuk menjadi anggota penuh MSG.

Permintaan ULMWP untuk diterima sebagai anggota penuh di MSG, menurut Sogavare, akan dibahas dalam pertemuan tingkat tinggi MSG pada Juni ini.

Sogavare berada di Port Vila, Vanuatu saat menjelaskan tentang desakannya agar PBB turun tangan dalam kasus Papua dan agenda pembahasan status ULMPW di MSG.

Di Port Vila, Sogavare bertemu rekannya Charlot Salwai, Perdana Menteri Vanuatu. Keduanya memberikan dukungan kepada ULMWP untuk mendapatkan keanggotaan penuh dalam pertemuan tingkat tinggi MSG Juni nanti di Port Moresby, Papua Nugini.

Meski pertemuan tinggi MSG baru berlangsung Juni nanti, namun 3 anggota MSG dipastikan mendukung ULMWP mendapat status anggota penuh, yakni Kepuluan Solomon, Vanuatu dan Kanak Kaledonia Baru. Dua anggota lainnya, Fiji dan Papua Nugini belum memberikan sinyal yang jelas.

Awal tahun ini, Sogavare telah menawarkan diri kepada Presiden Joko Widodo (Jokowi) sebagai mediator dialog antara pemerintah Indonesia dengan rakyat Papua. Namun Jokowi menolak tawaran itu.

MSG juga telah menerima laporan dari sejumlah lembaga hak asasi manusia tentang situasi yang dihadapi rakyat Papua. Sehingga menurut Sogavare, dalam pertemuan tingkat tinggi MSG nanti mengagendakan permintaan kepada PBB untuk melakukan aksi terhadap masalah genosida sebagai kejahatan kemanusiaan yang dilakukan Indonesia terhadap rakyat Papua.

RADIONNZ.CO.NZ | MARIA RITA

MSG chair urges UN intervention in West Papua

Radio NZ – The chairman of the Melanesian Spearhead Group, Manasseh Sogavare, says the regional body is pushing for an urgent intervention by the United Nations in West Papua.

Manasseh Sogavare

Manasseh Sogavare Photo: RNZI

Mr Sogavare, who is the prime minister of Solomon Islands, has also declared his country’s support for the United Liberation Movement for West Papua’s bid to be a full member of the MSG.

Mr Sogavare has just been in Port Vila where he met with his Vanuatu counterpart Charlot Salwai whose proposal to give the Liberation Movement full membership at the MSG is to be discussed at an upcoming MSG leaders summit in Papua New Guinea.

While in Vila, the MSG chair met with visiting representatives of the Liberation Movement which has strong support in Indonesia’s Papua region.

Since the West Papuans were granted observer status in the MSG last year, Mr Sogavare said the situation in Indonesia’s Papua region had become more tense, leaving the indigenous people on the “brink of extinction”.

This comes after Indonesia’s leading human rights organisation said that since the new government came to power in late 2014, abuses in Papua were as rampant as they were under previous governments.

United Liberation Movement for West Papua members Mama Yosepha Alomang, Edison Waromi, Andy
Ayamiseba and Jacob Rumbiak with the Solomon Islands prime minister Manasseh Sogavare (centre),

United Liberation Movement for West Papua members Mama Yosepha Alomang, Edison Waromi, Andy Ayamiseba and Jacob Rumbiak with the Solomon Islands prime minister Manasseh Sogavare (centre), Photo: MSG

Crossing the line

Indonesia was granted MSG associate member status last year in a bid to foster dialogue with Jakarta on West Papua.

However, in a statement, Mr Sogavare censured Jakarta for rebuffing his his request for dialogue on Papua.

‘Indonesia has crossed the line so we need to take some tough stance,” he said.

A recent surge in Indonesian diplomatic overtures to Pacific Islands countries is increasingly seen as being about countering the growing regional support for West Papuan self-determination aspirations.

However Melanesian leaders are frustrated at Jakarta’s apparent aversion to meaningful dialogue about West Papua.

The Indonesian President Joko Widodo’s refusal to meet with Mr Sogavare in his capacity as the MSG chair has been proffered as grounds for the Melanesian states to “take the matter up to the next notch which is the United Nations”.

Mr Sogavare said as well as the membership bid, the MSG summit would address the group’s pursuit of UN action on what he called “genocides committed against humanity in West Papua by Indonesia”.

While Solomon Islands, Vanuatu and New Caledonia’s Kanaks have signalled support for West Papua’s membership bid, it remains uncertain where the other two full MSG members – Fiji and PNG – stand.

Governments of both countries have closer ties with Indonesia than the others, and Jakarta has recently said that it has support of the Fiji and PNG for its own bid for full MSG membership.

Fiji Prime Minister Frank Bainimarama receives a 5 million US dollar cheque from Indonesia's Coordinating Political, Legal and Security Affairs Minister Luhut Pandjaitan.

March, 2016: Fiji Prime Minister Frank Bainimarama receives a 5 million US dollar cheque from Indonesia’s Coordinating Political, Legal and Security Affairs Minister Luhut Pandjaitan. Photo: Fiji Sun

Vanuatu appeared to counter that when prime minister Salwai suggested Indonesia should be stripped of its membership status within the MSG.

The West Papua issue continues to be a stern test of MSG unity.

Confusion over director-general’s appointment

The upcoming MSG leaders summit was already shadowed by division among the members of the appointment of a new director-general.

Last month Papua New Guinea and Vanuatu objected to confirmation by the MSG chairman that the Fiji diplomat Amena Yauvoli had been selected for the role, which has been vacant since last year.

Earlier, it came as a surprise to other MSG members that the Fiji Foreign Minister Ratu Inoke Kubuabola announced Mr Yauvoli’s appointment to media, when the formal selection process was still underway.

PNG Foreign Minister Rimbink Pato (right) talking to his Indonesian counterpart Retno Marsudi.

Jakarta’s outreach to Melanesia: Indonesia’s Foreign Minister Retno Marsudi in talks with her PNG counterpart Rimbink Pato (right). Photo: Supplied

The MSG summit, originally scheduled for the first week of May in Vanuatu, was supposed to be when the leaders deliberated on the director-general’s appointment.

Vanuatu had put forward its own nomination for the role, its ambassador to the European Union Roy Mickey-Joy, and insisted that the selection be finalised at the summit.

This prompted an exchange between Charlot Salwai and his Solomon Islands counterpart over MSG procedure.

At the last minute,the summit was postponed, amid reports that Fiji’s prime minister Frank Bainimarama opted instead to attend the Queen’s birthday celebrations in Britain.

The MSG chairman said the summit would now be held next month, in Port Moresby.

Papua New Guinea's capital, Port Moresby

Papua New Guinea’s capital, Port Moresby Photo: RNZI / Johnny Blades

Mr Sogavare has also now indicated that he despite his earlier statements, he would allow the formal appointment of a director-general to proceed as originally planned, with a decision to be reached at the summit.

The other priority item on the summit’s agenda is the formal application for full membership by the United Liberation Movement for West Papua.

Vanuatu minister rejects Jakarta’s West Papua claims

International Parliamentarians for West Papua meet in London, May 2016.
International Parliamentarians for West Papua meet in London, May 2016. Photo: IPWP

A member of the International Parliamentarians for West Papua has dismissed claims by Indonesia that its deliberations on Papuan self-determination are a ‘publicity stunt’.

The Vanuatu government minister Ralph Regenvanu was one of dozens of MPs and leaders from the wider Pacific, Europe and Britain, who attended last week’s IPWP summit in London.

The summit resulted in a declaration calling for an internationally-supervised vote on independence in West Papua.

Jakarta condemned the London meeting, calling it a ‘reflection of colonial acts’ and affirming that Indonesian control of Papua is ‘final’.

But Mr Regenvanu said there was growing international support to address a clearly unresolved decolonisation issue.

“According to international law, that self-determination issue has never been addressed by a proper vote in West Papua, and that’s been recognised at a number of levels, a number of forums. Decolonisation never happened and in fact this colony was simply passed from one colonial power, being the Dutch, to another colonial power which is Indonesia which continues to colonise the territory to this day.”

Inilah Peluang dan Tantangan Jika Papua Merdeka

Jayapura, Jubi – Saat berbicara dalam pertemuan International Parliamentarian for West Papua di London, Selasa (3/5/2016), Jeremy Corbyn, pemimpin oposisi dan ketua partai Buruh Inggris meluncurkan sebuah laporan yang diterbitkan oleh Universitas Warwick. Laporan ini merekomendasikan pemulihan aktivitas LSM di Papua, pembebasan tahanan politik, dan pengiriman delegasi anggota parlemen ke Papua.

Dokumen yang diluncurkan oleh Corbyn ini adalah hasil penilaian terhadap konflik di Tanah Papua. Dokumen ini berjudul “An Overview of The Issues and Recomendations for The UK and International Community”. Penilaian ini merupakan proyek dari departemen Politik dan Studi Internasional Universitas Warwick di Inggris.

Tim proyek ini terdiri dari Keith Hyams, Marinella Capriati, Emma Piercy, Lisa Tilley, Connor Woodman, and Ryan McKay. Proyek ini didanai oleh Universitas Warwick dan ESRC Impact Accelerator Account.

Keith Hyams, kepada Jubi melalui surat elektronik yang diterima Jubi, Jumat (6/5/2016), mengatakan laporan ini sudah dipublikasikan sejak bulan April 2016. Ia menyebutkan tantangan abadi di Papua adalah bagaimana menyelesaikan konflik dan bagaimana mengatasi hambatan politik dan ekonomi untuk pembangunan.

“Tujuan kami adalah untuk memberikan informasi analisis akademis yang ketat yang dapat membantu semua pihak bergerak lebih dekat ke resolusi damai dan berkelanjutan,” kata Hyams.

Ia juga mengatakan laporan ini untuk membantu membangun institusi yang mendukung pembangunan di Papua Barat.

“Untuk tujuan ini, proyek memiliki fokus praktis yang kuat, terlibat erat dengan anggota parlemen Inggris dan Internasional dan pembuat kebijakan lainnya untuk memberikan informasi terbaik dalam pengambilan keputusan di masa yang akan datang dalam masalah ini,” ujar Hyams.

Hyams menjelaskan hasil penilaian Universitas Warwick ini selain memberikan rekomendasi, juga membuka peluang dan tantangan jika Papua berdiri sendiri menjadi satu negara baru yang merdeka.

Peluang dan tantangan tersebut adalah :

Peluang

1. Wilayah (Papua) tidak lagi berada di bawah kendali pasukan Indonesia yang sudah sangat lama melakukan tindakan kekerasan terhadap penduduk asli Papua. Tingkat kekerasan di Timor Timur turun setelah pasukan Indonesia meninggalkan wilayah itu, sehingga sangat wajar untuk mengharapkan hal yang sama akan terjadi di Papua Barat yang merdeka.
Beberapa pertanyaan selama ini mempertanyakan apakah masalah Papua Barat akan bisa benar-benar diselesaikan selama militer Indonesia hadir di Papua.

2. Papua akan memiliki kontrol atas pembangunan ekonomi mereka sendiri, termasuk pendapatan dari sumber daya alam, yang bisa disalurkan kepada proyek-proyek pembangunan akar rumput.

Tantangan

1. Divisi Sosial.

Negara Papua yang baru terbentuk akan dan harus berurusan dengan perpecahan antara migran dan penduduk asli Papua. Peristiwa baru-baru ini mengkonfirmasi adanya peningkatan ketegangan antara penduduk asli Papua dan pendatang. Hal ini sangat mengkhawatirkan karena, seperti yang disorot di atas, migran sekarang merupakan sekitar setengah dari penduduk Papua Barat, dan mengendalikan sebagian besar kehidupan ekonomi di Papua. Selain itu, pemekaran provinsi dan kabupaten baru telah meningkatkan persaingan antara kelompok masyarakat adat yang berbeda sehingga menciptakan ancaman baru bagi stabilitas Papua yang independen dan merdeka. Sebuah rencana transisi yang jelas dengan dukungan luas di basis dan persatuan pemerintah yang kuat dengan dukungan internasional diperlukan untuk menjamin stabilitas negara yang baru terbentuk.

2. Kapasitas Administratif.

Otonomi Khusus 2001 meningkatkan jumlah orang Papua dalam posisi kepemimpinan, tetapi tidak memberikan pelatihan yang sepadan dan pendidikan dalam rangka memastikan bahwa penunjukan seseorang mampu berfungsi secara efektif. Peningkatan sumber daya yang mengalir melalui anggaran internal tanpa perhitungan yang tepat hanya memperburuk masalah.

Agar berhasil, Papua yang merdeka sangat membutuhakn dukungan internasional untuk mengembangkan administrasi yang efektif dan terlatih.

3. Kurangnya Infrastruktur.

Wilayah Papua Barat memiliki infrastruktur dasar yang sangat miskin, termasuk fasilitas kesehatan dan kekurangan pendidikan. Mengingat situasi yang menantang, menetapkan ketentuan kesejahteraan dasar mungkin salah satu tantangan yang paling mendesak untuk Papua yang merdeka.

4. Keamanan Internal.

Militer dan polisi Indonesia saat ini bertanggung jawab untuk memastikan keamanan internal. Sebagaimana dicatat, kehadiran militer dan polisi Indonesia di Papua dan tindak kekerasan yang telah mereka lakukan terhadap penduduk asli Papua berada di inti konflik saat ini. Jika layanan keamanan Indonesia keluar dari Papua, menjadi penting untuk memastikan bahwa kepolisian yang terlatih baik yang bertanggungjawab kepada pemerintah Papua bisa cepat mengambil alih peran keamanan sebelumnya, untuk memastikan keamanan internal dan untuk mencegah gangguan dalam hukum dan ketertiban, dan kekerasan etnis. Pengalaman internasional menunjukkan bahwa ini sering menjadi tantangan utama bagi negara-negara yang baru merdeka. (*)

West Papua: Jeremy Corbyn calls for democratic reform in Indonesian province

UK Opposition Leader Jeremy Corbyn has spoken out about the plight of the West Papuan people and supported a push for democratic reform in the Indonesian province.

Speaking at a meeting of the International Parliamentarians for West Papua at the House of Commons, Mr Corbyn said it was time the West Papuan people were able to make their own choice about their political future.

“It’s about a political strategy that brings to worldwide recognition the plight of the people of West Papua, that forces it onto a political agenda, that forces it to the UN, and ultimately allows the people of West Papua to make a choice about the kind of government they want and the kind of society in which they want to live,” he told the meeting.

The Labour leader described the meeting as historic.

Mr Corbyn endorsed a report published by the University of Warwick that called for the reinstatement of NGOs in Papua, the release of political prisoners, and a parliamentary delegation being sent to the region.

West Papua has been under Indonesian rule since 1969, when the so-called Act of Free Choice took place, a vote that Indonesia claims rightfully handed over sovereignty of what was then known as West Irian.

West Papuan independence advocates claim the vote was a sham and the UN should now facilitate a free and fair vote for independence.

This week Indonesian police detained hundreds of pro-independence demonstrators in the provincial capital of Jayapura.

Lord Harries of Pentregarth, a former Bishop of Oxford who was at the House of Commons meeting, has described the ongoing situation in West Papua as “one of the great neglected scandals of our time”

Kaum Muda Papua Andalkan ULMWP Setelah Kematian Theys

Penulis: Eben E. Siadari 11:16 WIB | Selasa, 03 Mei 2016, satuharapan.com

Dibandingkan dengan Theys, secara institusional ULMWP lebih tepat untuk konteks saat ini dan lebih berdampak secara internasional.

JAKARTA, SATUHARAPAN.COM – Setelah kematian pemimpin adat Papua yang kharismatik, Theys Hiyo Eluway, belum ada tokoh pemersatu Papua dalam memperjuangkan tuntutan politik rakyat Papua. Namun, adanya wadah pergerakan politik kaum muda Papua yang disebut United Liberation Movement for West Papua, arah gerakan Papua lebih jelas.

Hal ini dikatakan oleh peneliti Lembaga Ilmu Penegtahuan Indonesia (LIPI) yang mendalami permasalahan Papua, Adriana Elisabeth, menjawab pertanyaan satuharapan.com. Adriana dimintai pendapatnya tentang peristiwa ditangkapnya ratusan aktivis ULMWP di Jayapura Senin (2/5) yang menuntut diberikannya hak penuh sebagai anggota bagi ULMWP di organisasi sub-regional, Melanesian Spearhead Group (MSG).

Adriana Elisabeth juga diwawancarai sehubungan dengan akan diadakannya konferensi tentang Papua oleh International Parliamentarians for West Papua (IPWP) di London, pada 3 Mei. Pertemuan yang digagas oleh ULMWP itu  mengagendakan perumusan strategi untuk penyelenggaraan penentuan nasib sendiri bagi Papua, paling tidak akhir dekade ini. Paling tidak 95 politisi dan anggota parlemen dari berbagai negara menandatangani dukungan bagi penentuan nasib sendiri Papua. Sejumlah pemimpin negara Pasifik dijadwalkan hadir dalam pertemuan itu.

Menurut Adriana, walaupun Theys tak ada lagi dan belum ada tokoh pemersatu di antara berbagai faksi perjuangan rakyat Papua seperti Theys, keberadaan ULMWP membuat arah gerakan Papua lebih jelas dalam mendorong agenda politik untuk menuntut penyelesaian pelanggaran HAM di Papua, pelurusan sejarah politik Papua, dan referendum menuju kemerdekaan politik.

Memang, kata dia, kaum muda yang membentuk ULMWP tidak bisa dibandingkan dengan Theys yang karismatik. Namun, baik ULMWP maupun Theys sama-sama memiliki peran mempersatukan gerakan Papua. “ULMWP lebih tepat untuk konteks saat ini dan secara institusional lebih berdampak di tingkat internasional,” kata dia.

Mengenai pertemuan IPWP di London, menurut Adriana, hal itu harus tetap dicermati dan diantisipasi. “Untuk mengantisipasi perluasan isu Papua secara internasional, sekecil apa pun pengaruhnya perlu diupayakan untuk dicegah,” tutur dia.

Ia mengakui belum tahu apa agenda pertemuan tersebut. “Tetapi mungkin akan ada update tentang ‘kemajuan’ penyelesaian kasus HAM di Papua, khususnya di masa Jokowi. Komitmen presiden untuk menyelesaikan seluruh kasus HAM tahun ini termasuk di Papua, kalau secara politis tentu tidak sejalan dengan proses rekonsiliasi yang memerlukan beberapa tahap, seperti pengakuan, restorasi, kompensasi dan seterusnya,” kata Adriana.

Namun, penyelesaian HAM, kata dia, dapat dimasukkan sebagai salah satu agenda dialog nasional. Ini menjadi bagian dari mediasi untuk perdamaian jangka panjang di Papua.

Menurut Adriana, upaya ULMWP dalam menggalang dukungan internasional tidak boleh dianggap enteng. Ia mencontohkan Juru Bicara ULMWP, Benny Wenda, terus berupaya menggalang dukungan internasional, terutama dengan mengusung kasus-kasus kekerasan di Papua yang mengarah pada pelanggaran HAM. Di antaranya dengan menggalang dukungan dari Benua Hitam Afrika.

Adriana menambahkan, pemerintah memang telah memberikan otonomi khusus kepada Papua lewat UU Otsus. Ini, dalam hemat Adriana, merupakan bagian dari pemberian hak menentukan nasib sendiri, dalam pengertian Papua diberikan otoritas untuk mengatur daerahnya sendiri. Ini tampak, misalnya, dari posisi kepala daerah d itangan orang asli Papua. Juga alokasi dana Otsus.

Namun demikian, Adriana mengakui dalam implementasinya, UU Otsus Papua yang harus tetap mengacu pada “template” nasional yang juga berlaku di daerah lain di Indonesia, membuat hak menentukan nasib sendiri itu tidak optimal.
“Apabila yang dimaksud self-determination adalah memperoleh kebebasan politik secara penuh, maka hal ini tidak akan pernah diberikan oleh Pemerintah Indonesia,” kata Adriana.

Adriana mengatakan, perjuangan Papua untuk menentukan nasib sendiri adalah proses yang akan memakan waktu sangat panjang. Ia tidak yakin dapat diselesaikan dalam satu dekade.

Theys Hiyo Eluay ditemukan terbunuh di mobilnya di Jayapura pada 10 November 2001. Wikipedia mencatat, penyidikan  pembunuhan ini mengungkapkan bahwa pelakunya adalah oknum-oknum Kopassus, yang kemudian telah dipecat secara tidak hormat.

Eluay dimakamkan di sebuah gelanggang olahraga di tempat kelahirannya di Sentani, pada sebuah tanah ada yang sudah diwakafkan oleh para tetua suku. Pemakamannya dihadiri kurang lebih 10.000 orang Papua.  Sebuah monumen kecil di jalan raya antara Jayapura dan Sentani didirikan untuk mengenang pembunuhan itu.

Editor : Eben E. Siadari

Papua Rights Among Concerns Around Jokowi’s UK Stay

Yogyakarta, (KM) —Radionz.co.nz. Rad – The British prime minister David Cameron has been urged to challenge Indonesian President Joko Widodo over his country’s human rights record, including West Papua.

The call from Amnesty International comes as President Widodo visits the United Kingdom this week as part of his European tour.

Referring to concerns around Indonesia’s performance on such matters as executions and Shari’a law, Amnesty says Indonesia’s record in human rights is an obstacle to any trade deal that Jakarta seeks to forge with the UK.

An Indonesia Researcher at Amnesty International, Papang Hidayat said the NGO’s was concerned about the country’s prisoners of conscience, including 27 in Papua.

He mentioned a Papuan political activist, Steven Itlay who was this month charged with having committed “rebellion” and faces life imprisonment. (radio new zealand)

Post by Admin/03.KM

Up ↑

Wantok Coffee

Melanesia Single Origin Coffee

MAMA Minimart

MAMA Stap, na Yumi Stap!

PT Kimarek Aruwam Agorik

Just another WordPress.com site

Wantok Coffee News

Melanesia Foods and Beverages News

Perempuan Papua

Melahirkan, Merawat dan Menyambut

UUDS ULMWP

for a Free and Independent West Papua

UUDS ULMWP 2020

Memagari untuk Membebaskan Tanah dan Bangsa Papua!

Melanesia Spirit & Nature News

Promoting the Melanesian Way Conservation

Kotokay

The Roof of the Melanesian Elders

Eight Plus One Ministry

To Spread the Gospel, from Melanesia to Indonesia!

Koteka

This is My Origin and My Destiny