Lagi, Uncen Dipalang Tuntut Yason Dibebaskan

Gempar Papua Palang Kampus UncenJAYAPURA – Lagi, puluhan mahasiswa yang tergabung dalam Gerakan Mahasiswa, Pemuda dan Rakyat (Gempar) Papua lakukan pemalangan baik terhadap pintu gerbang Kampus Uncen Atas dan Kampus Uncen Bawah guna mendesak pihak Uncen maupun aparat kepolisian seegara membebaskan Ketua Badan Eksekutif Mahasiswa (BEM) FISIP Uncen yang juga Ketua Umum Gempar Papua Yason Ngelia.

Aksi pemalangan itu juga dirangkai dengan aksi mimbar bebas di depan pintu gerbang Kampus Uncen Atas, Rabu (11/12) kemarin pagi sekira pukul 08.00 WIT, sehingga membuat aktivitas perkuliahan tidak berjalan normal.

Puluhan mahasiswa dari Gempar Papua yang dikoordinir sejumlah aktivis diantaranya Alfa Rohrohmana dan Philipus Robaha tiba tepat Pukul 08.00 WIT langsung melakukan pemalangan dan juga membentang sejumlah pamphlet dan spanduk bergambar foto Ketua BEM FISIP Uncen Yason Ngelia.

Diantaranya pamflet yang bertuliskan segera bebaskan Yason Ngelia, ruang demokrasi bagi mahasiswa Papua dibungkam aparat kepolisian yang disertai dengan aksi penangkapan sejumlah aktivis.

Aktivis Gempar Papua Philipus Robaha mengatakan, bahwa pihaknya menduga penangkapan terhadap Yason Ngelia dipolitisir oleh aparat kepolisian, karena dia dituding telah melakukan pemukulan terhadap Wakil BEM FISIP Uncen Stenly Salamahu. Walaupun korban Stenly sudah mencabut laporan pengaduannya untuk menangkap Yason tersebut namun pihak kepolisian masih saja menahannya.

“Kami menduga penangkapan terhadap Yason Ngelia itu dipolitisir oleh aparat kepolisian. Dimana, dia (Yason) dituding telah melakukan pemukulan terhadap salah seorang mahasiswa Uncen yang juga merupakan Wakil Ketua BEM FISIP Uncen Stenly Salamahu. Kenapa pihak kepolisian masih menahan Yason padahal korban sudah mencabut laporan pengaduan kasus penganiayaan guna menangkap Yason,”

jelasnya.

Philipus menegaskan bahwa penangkapan terhadap Yason Ngelia sangat jelas dipolitisir oleh pihak kepolisian. Maka itu, dia bersama sejumlah rekan-rekan aktivis Gempar Papua yang lain mendesak agar Yason dibebaskan secepatnya dan tanpa syarat.

“Jadi, kami nilai penangkapan terhadap Yason sangat dipolitisir oleh aparat kepolisian. Oleh sebab itu, kami minta dengan tegas kepada pihak kepolisian untuk segera membebaskan Yason tanpa sayarat. Dikarenakan, dari pihak korban (Stenly) telah mencabut laporannya di Polisi untuk menangkap Yason. Ia (Yason) tidak bersalah,”

tegas Philipus.

Gempar menilai penangkapan terhadap Ketua BEM FISIP Uncen yang juga Ketua Umum Gempar Papua Yason Ngelia saat melakukan aksi demo damai menolak Otsus Plus di Kantor Majelis Rakyat Papua (MRP) beberapa waktu lalu itu sama halnya mengadopsi cara-cara yang sudah tidah etis dan berlaku lagi di era reformasi saat ini.

Sebab, penangkapan tersebut dinilai sangat tidak beralasan sekali karena massa pendemo dalam hal ini Gempar Papua melakukan aksi demo secara damai, sementara pada saat aksi demo berlangsung tidak melakukan tindakan anarkis yang mencelakakan ataupun merugikan orang lain.

Ketika Bintang Papua menemui sejumlah mahasiswa di Kampus Uncen Bawah sangat menyesalkan aksi pemalangan dan pengusiran secara paksa dari dalam ruangan saat mereka menggelar ujian akhir semester yang dilakukan oleh sejumlah oknum mahasiswa sambil membawa kayu balok.

Dengan adanya aksi itu, sehingga membuat ratusan mahasiswa lari berhamburan ke luar ruangan dan aktivitas perkuliahan menjadi tersendat serta membuat kemacetan panjang di depan Kampus Uncen Bawah.

Berdasarkan pantauan Bintang Papua sekitar pukul 09.30 WIT Kapolsekta Abepura Kompol Decky Hursepunny didampingi Wakapolsekta Abepura Iptu Frits Orlando Siagian tiba dilokasi pemalangan di Kampus Uncen Atas.

Sementara itu, Pembantu Rektor (PR) 3 Drs. Fredrick Sokoy, M.Si., yang datang sekira pukul 10.00 WIT untuk menemui puluhan mahasiswa yang melakukan aksi mimbar bebas dan juga pemalangan guna melakukan negosiasi terhadap sejumlah aktivis Gempar Papua agar dapat membuka pintu gerbang kampus yang dipalang tersebut.

Sehingga tepat pukul 10.15 WIT, Kapolsekta Abepura Kompol Decky Hursepunny didampingi Wakapolsekta Abepura Iptu Frits Orlando Siagian bersama PR.3 Uncen Drs. Fredrick Sokoy, M.Si., berhasil membuka pintu gerbang kampus yang dipalang oleh puluhan mahasiswa tersebut.

Berdasarkan pantauan Bintang Papua tepat pukul 15.00 WIT puluhan mahasiswa Gempar Papua dengan sendirinya membubarkan diri di depan pintu gerbang kampus Uncen tersebut.

Sekedar diketahui bahwa Ketua BEM FISIP Uncen yang juga Ketua Umum Gempar Papua Yason Ngelia ditangkap kepolisian ketika melakukan aksi penolakan terhadap Otonomi Khusus (Otsus) Plus saat hendak menggelar aksi demo damai di depan Kantor MRP, Kotaraja, pada Kamis (07/11/13) lalu. Dan, Ysaon ditangkap bersama 15 aktivis Gempar Papua lainnya. (Mir/don/l03)

Kamis, 12 Desember 2013 08:25, BinPa

Ada Teny Kwalik di Balik Penembakan Freeport ?

SESEORANG yang mengaku bernama Teny Kwalik semalam menghubungi Redaksi SULUH PAPUA dan mengklaim dirinya yang bertanggung jawab terhadap serangkaian peristiwa penembakan yang terjadi di Freeport beberapa hari ini.

“Saya Teny Kwalik, Panglima Daerah TPN/OPM Makodam 3, kami yang melakukan penembakan siang kemarin, dan kami bukan OTK atau kelompok separatis, kami TPN/OPM yang ingin Papua merdeka”,

kata lelaki di ujung telepon agak terbata – bata semalam.

Namun yang mencurigakan, nampaknya di belakang si penelepon ada orang kedua yang mengajarkan atau mengarahkan kepadanya tentang apa – apa yang harus di sampaikan, saat SULUH PAPUA mengejar apa bukti bahwa ia pelakunya dan apa bukti bahwa ia benar – benar Tenny Kwalik, si penelepon terdengar gugup dan menjawab ragu – ragu, dan terdengar suara halus di belakang yang mengarahkan, namun belum selesai pembicaraan tiba – tiba ada gangguan pada saluran telepon dan akhirnya terputus.

Kapolda Papua Irjen Pol Tito Karnavian mengatakan, aksi penembakan yang terjadi di PT Freeport Indonesia menjadi atensi khusus Polri-TNI. Kemudian dari hasil pengembangan kasus kelompok yang melakukan penembakan tersebut merupakan kelompok Tenny Kwalik.

”Kita sudah tahu mereka sehingga kita sedang meningkatkan pengamanan di area Freeport dengan melakukan patroli, pengawalan dan penjagaan. Kita tingakkaan dan intensifkan. Tidak ada penambahan pasukan karena personil yang disiagakan untuk melakukan pengamanan sebanyak 800 personil untuk menghadapi kelompok ini ,”

jelas Tito usai melakukan pertemuan perwira TNI-Polri di Rimba Papua Hotel, Rabu (11/12).

Selain melakukan peningkatan pengamanan, Satgas Amole bersama TNI akan melakukan anting dan pengejaran terhadap kelompok ini yang bermarkas di Kali Kopi Tanggul Timur. Kelompok ini jumlahnya tidak terlalu banyak kemungkinan mereka berjumlah sekitar delapan sampai sepuluh orang sehingga ketika mereka melakukan penembakan langsung melarikan diri.

”Kita sedang mempelajari motif penembakan yang dilakukan kelompok itu. Memang ada sebuah selebaran yang kami terima dari Polres Mimika dan Kodim 1710/Mimika mereka menuntut agar limbah Freeport yang berdekatan dengan markas mereka harus dihentikan karena mereka merasa dirugikan,”

jelas Tito.

Meskipun ada beberapa poin di dalam surat itu yang menyatakan ingin memisahkan diri dan lain sebagainya, tetapi kepolisian melihatnya dari motif persoalan yang di timbulkan yakni limbah pembuangan PT Freeport Indonesia yang berdekatan dengan markas kelompok bersenjata itu di Kali Kopi yang dianggap sangat merugikan mereka sesuai dengan surat edaran itu.

”Motif inilah yang sedang kami pelajari bersama Freeport dan berupaya melakukan komunikasi dengan kelompok ini untuk menanyakan apa keinginan mereka. Aapabila mereka mengaku betul persoalan limbah Freeport, kita akan berkoordinasi dengan Freeport untuk mencari jalan keluarnya dengan memindahkan aliran pembuangan limbah itu,”

kata Tito.

Wakil Direktris Yayasan Hak Asasi Manusia Anti Kekerasan (Yahamak) Kabupaten Mimika Arnold Ronsumbre mengecam keras aksi penembakan yang kelompok bersenjata di areal obyek vital nasional (obvitnas) PT Freeport Indonesia.

“Kasus penembakan ini merupakan sebuah perbuatan yang sangat tidak terpuji. Kami mengutuk keras aksi penembakan itu sehingga saatnya nanti pelaku akan dapat merasakan hukum karma,”

kata Arnold kepada wartawan di Timika.

Menurutnya, aksi penembakan di area Freeport menunjukkan ketidakmampuan aparat keamaman dalam melakukan pengamanan. Sudah tentu masyarakat akan mempertanyakan sejauh mana kinerja aparat keamanan. Arnold mengatakan, selama ini aparat selalu menggunakan istilah OTK yang semestinya tidak digunakan sebagai sebuah istilah apabila aparat keamanan sudah mengetahui pelaku penembakan itu. Seharusnya aparat keamanan harus menjelaskan siapa otak di balik sejumlah kasus penembakan yang terjadi di area Freeport.

“Tugas aparat keamanan adalah segera menjawab siapa pelaku sebenarnya dari penembakan itu. Jika penembakan itu dilakukan karena ketidakpuasan dengan Freeport, harus dibicarakan secara jujur apa yang masih menjadi kekurangan, sehingga tidak membuat gerakan terlalu banyak dan menimbulkan keresahan bagi masyarakat,”

ujarnya.

Sebelumnya Eli Ramos Patege, aktivis HAM di Papua mensinyalir penembakan di Freeport yang kembali mencuat merupakan bagian dari skenario bisni pengamanan di areal freeport. “Konflik di areal FI didesain oleh aparat untuk mencapai dua tujuan yakni mendapatkan dana keamanan dari perusahaan Freeport dan dari pemerintah daerah atau pusat serta menciptakan ketidaknyamanan di Tanah Papua,” kata Eli Ramos Petege, Aktivis HAM dalam siaran pers ke media ini, kemarin.

Menurut Eli, akses masuk ke areal perusahaan raksasa ini sangat sulit sebab pengawasan begitu ketat. Warga pemilik wilayah Amungsa yang tinggal di Kampung Banti, Arwanop dan lainnya harus mengurusi surat izin untuk pergi dan pulang dari kampung ke Timika. Pun sebaliknya, pemilik ulayat yang mau mengambil kayu bakar saja, wajib mengurus izin di departemen Lingkungan Hidup FI sekitar satu minggu. “Sementara itu, berdasarkan pantauan saya pada tahun lalu, sepanjang jalan dari mile 32 (lowland) sampai mile 73 (highland/tempat penggilingan) diawasi ketat oleh aparat keamanan. Kita juga tahu bahwa perusahaan itu berada dibawah pengawasan 1.800 personil TNI/Polri. Artinya bahwa kekerasan itu tidak mungkin dilakukan oleh warga sipil yang berada di luar dari areal freeport,” papar Eli Ramos Petege.

Berdasarkan data SULUH PAPUA, penembakan yang dilakukan orang tak dikenal itu terjadi pukul 12.45 wit terhadap 1 unit monil Escort warna putih dengan nomor lambung 01-4758. Pengemudinya adalah Ridwan yang mengendarai mobil bersama dua personil Brimob Detasemen B Polda Mimika, Brigadir Supriadi yang sedang melaksanakan pengawalan trailer explosive menuju mil 68. Bersama Escort putih, ada juga tujuh unit trailer yang membawa bahan peledak beriringan dari Cargodok dengan tujuan mil 68. Pada pukul 12.40 wit rombongan tiba di Pos Pengamanan di mil 40, kemudian melanjutkan perjalanan ke mil 68 dengan urutan monil Escort warna putih Nomor Lambung 01-4758, mobil trailer dengan Nomor Lambung 020955 dan mobil trailer 020868. Pada pukul 12.45 wit, ketika rombongan telah berjalan sekitar 100 meter dari Pos mil 40, tiba-tiba mobil Escort yang dikemudikan Ridwan ditembak dari arah sebelah kanan sebanyak dua kali.

Spontan, pimpinan iring-iringan mobil Brigadir Supriyadi langsung membalas tembakan. Mobil Escort yang mereka tumpangi pun kemudian berbalik arah menuju Pos Pengamanan di mil 40. Pada saat berbalik arah itu, kelompok bersenjata menembak lagi iring-iringan sebanyak satu kali. Serangan kedua itu membuat mobil trailer dengan Nomor Lambung 020868 spontan mundur dan menabrak mobil trailer 020955 hingga mengakibatkan selang radiator kendaraan itu terlepas. Mendengar bunyi tembakan, anggota Brimob yang berada di Pos Penjagaan mil 40 langsung menuju ke Tempat Kejadian Perkara (TKP) untuk memberikan bantuan.

Aksi baku tembak pun tak terhindarkan antara Brimob Detaseman B dengan kelompok bersenjata yang berlangsung kurang lebih 10 menit. Pukul 13.15 wit, Komandan Satgas wilayah dataran rendah area Freeport Indonesia AKBP Yusuf Wali bersama satu peleton Brimob Satgas Amole PT Freeport Indonesia tiba di Pos mil 40 dan langsung menuju ke TKP. Selanjutnya, pada pukul 13.30 wit, satu regu Anggota TNI Yonif 754 Ene Neme Kangase dibawa pimpinan Mayor Inf Akbar, beserta satu regu TNI Denkav-3/SC Pos Randfile dibawa pimpinan Lettu (Kav) Musrsaling juga tiba di TKP dilanjutkan dengan peninjauan. Selanjutnya, anggota Denkav 3/SC (Pos Randfile) pimpinan Musrsaling menggunakan Rantis Anoa melaksanakan patroli dari mil 40 sampai dengan mil 46.

Tidak ada korban jiwa dalam aksi penembakan misterius itu. Sementara, satu unit mobil Escort terkena tembakan pada pintu bagian kanan bawah, dan satu buah lubang tembakan pada bagian atas ban belakang sebelah kanan, juga bekas tembakan pada kaca spion sebelah kiri. Sehari sebelumnya, seorang karyawan Kuala Pelabuhan Indonesia (KPI) bernama Agustinus Waiyay ditembak kelompok bersenjata, Senin (9/12), sekira pukul 02.00 wit. Waiyay merupakan driver yang mengendarai water truck dengan nomor lambung 021010 menuju Mil 41, tujuan pos pengamanan internal PT Freeport Indonesia. Korban ditembak sebanyak enam kali dari arah kiri jalan mengakibatkan lima bekas tembakan di pintu radiator atas ban. (K6/R1)

Kamis, 12-12-2013, SuluhPapua

Warga Doyo Baru, Ditemukan Tewas Tengkurap

Kapolsek Sentani Kota, AKP. Charles Simanjutak, S.H., bersama anggotanya saat membungkus mayat korban, Absalom Toam dengan menggunakan kulit pisang, Selasa (10/12) kemarin di jalan Sosial, Sentani.SENTANI – Sesosok pria paruh baya dengan identitas, Absalom Toam berusia 56 tahun ditemukan tewas tengkurap di Jl. Sosial, tepatnya, di tanjakan samping pemancar, Kampung Manado, Kelurahan Hinekombe, Distrik Sentani, Kabupaten Jayapura sekitar pukul 08.00 WIT Selasa (10/9) kemarin.

Dari data yang diperoleh Bintang Papua, peristiwa itu berawal dari salah seorang warga yang enggan dikorankan namanya menyampaikan bahwa, ketika dirinya hendak berangkat kerja sempat melihat seorang pria yang sedang tidur di tengah jalan.

Namun karena penasaran, langsung menyampaikan kepada tetangga lainnya serta warga setempat untuk mengecek kepastian pria tersebut dan setelah di dekati, ternyata korban sudah tidak bernyawa, sehingga saat itupula langsung menghubungi petugas Polsek Sentani.

Mendapat laporan itu, Kapolsek Sentani Kota, AKP. Charles Simanjutak, S.H., bersama tim penyidik Reskrim langsung menuju ke lokasi kejadian untuk melakukan olah tempat kejadian perkara.

Dari hasil olah TKP, korban yang merupakan warga Doyo Baru, Distrik Waibu itu tidak ditemukan satupun luka didalam tubuh, melainkan polisi hanya menemukan 1 Botol minuman beralkohol jenis Wisky Robinson, 3 kaleng Bir Putih dan 1 gelas air Fit, yang selanjutnya Jenazah korban langsung di evakuasi ke RSUD Yowari.

Kapolsek Sentani Kota, AKP. Charles Simanjuntak saat ditemui Bintang Papua, mengatakan, penemuan mayat seorang pria paruh baya ini berdasarkan laporan dari salah seorang warga.

“Ya, ada penemuan mayat itu dan sekarang jenazah korban sudah diamankan sementara di RSUD Yowari sambil menunggu keluarganya, apakah dilakukan otopsi atau tidak, nanti kita lihat”

katanya kemarin.

Sementara dari hasil keterangan saksi yang dimintai dilokasi kejadian, jelas Kapolsek Charels, awalnya, Senin (9/12) malam sekitar pukul 21.00 WIT korban bersama kedua rekannya sedang pesta miras di dekat rumah miliknya hingga tengah malam.

“Pada esok harinya, saksi tersebut hendak berangkat kerja dan melihat salah satu dari ketiga orang yang sedang pesta miras di malam harinya sudah dalam keadaan tidak bernyawa,”

jelasnya.

Kapolsek Chalres, mengungkapkan, dari hasil olah TKP ditubuhkan korban tidak menemukan satupun kekerasan ataupun luka-luka yang dialami korban. “Kita akan terus mendalami kasus ini, dengan mencari kedua rekan korban yang sedang pesta miras pada malam hari itu,” tandasnya. (Loy/don/l03)

Rabu, 11 Desember 2013 02:55, BinPa

Penembakan Freeport, Jangan Tuduh OPM

Penembakan_karyawan__freeport_indonesiaDUA rentetan kasus penembakan di areal PT Freeport Indonesia tiga hari terakhir, Minggu (8/12) sekitar pukul 12.56 wit dan Senin (9/12), pukul 02.00 wit, terhadap seorang karyawan Kuala Pelabuhan Indonesia (KPI) bernama Agustinus Waiyay, dipandang memiliki muatan kepentingan bisnis. Apakah benar pelakunya berasal dari kelompok sipil bersenjata?

“Saya melihat tidak demikian, menurut saya dalam kasus ini ada muatan tertentu, bukan masalah politik, ini perebutan lahan bisnis,” kata Matius Murib, Pembela HAM, Direktur Baptis Voice Papua,

kepada SULUH PAPUA, Senin.

Baginya, pelaku dalam kejadian tersebut bisa saja kelompok sipil bersenjata ataupun korps berpangkat yang memiliki akses dalam areal Freeport. “Kita tidak bisa bilang OPM atau bukan, atau OTK yang mengarah ke OPM, karena sejak Kelly Kwalik meninggal dunia dua tahun lalu, rasanya tuduhan kepada OPM sebagai pelaku sudah tidak bisa diterima,” katanya.

Ia memandang, siapa saja kelompok dapat ‘bermain’ demi mempertahankan kepentingannya. Apalagi areal Freeport menawarkan peluang meraup rupiah tidak sedikit. “Sekarang menjadi tugas dari kepolisian untuk mengungkap siapa dibalik aksi, pelakunya harus ditangkap dan diadili, kalau tidak segera diungkap, bisa saja terror ini akan terjadi setiap saat,” katanya.

Murib memperkirakan, sepanjang pelaku belum menemukan atau mencapai keinginannya, sejauh itu pula penembakan akan terus terjadi.

“Bisa saja, ini masalah kepentingan usaha, bukan politik,”

tegasnya.

Sebelumnya, Kabid Humas Polda Papua, AKBP Sulistyo Pudjo Hartono mengatakan, seorang karyawan Kuala Pelabuhan Indonesia (KPI) bernama Agustinus Waiyay ditembak kelompok bersenjata, Senin (9/12), sekira pukul 02.00 wit.

Pudjo Hartono menambahkan, Waiyay merupakan seorang driver yang mengendarai water truck dengan nomor lambung 021010 menuju Mil 41, tujuan pos pengamanan internal PT Freeport Indonesia. “Sekitar 200 meter sebelum tiba untuk mengisi air, korban ditembak sebanyak enam kali dari arah kiri jalan.”

Menurutnya, berdasarkan pengakuan, korban mendengar tembakan lebih dari satu sumber. Terdapat lima bekas tembakan yang mengarah ke pintu radiator atas ban. “Meski demikian kasus penembakan misterius tersebut tidak menimbulkan korban jiwa,” kata Pudjo.

Pudjo menuturkan, pasca insiden, anggota Satgas Amole bersama penyidik Reserse dan Kriminal Polres Mimika langsung menuju lokasi kejadian untuk melakukan olah Tempat Kejadian Perkara (TKP). “Kapolres Mimika AKBP Jermias Rontini bersama Satgas Amole sudah melakukan identifikasi.”

Sehari sebelumnya, kelompok tak dikenal juga memberondong kendaraan anggota TNI Brigif 20 Ima Jaya Karamo Praka Warsidi saat melintas menggunakan Inova dengan Nopol S739WG, dari arah Timika menuju mil 50. “Setibanya di mil 41, korban ditembak dari kanan dan kiri jalan. Kejadian itu mengakibatkan kaca mobil sebelah kiri retak. Tidak ada korban,” kata Pudjo.

Kepolisian telah melakukan olah TKP, sedangkan barang bukti telah diamankan di Polres Mimika.

Kapolres Mimika AKBP Jermias Rontini mengatakan, hingga kini pihaknya masih mendalami kasus penyerangan misterius.

“Tim penyidik Reskrim sudah menangani dengan melakukan olah TKP,”

kata Jermias.

Pada September 2009 hingga Februari 2012, rangkaian penembakan di Freeport menghentak banyak pihak. Gangguan keamanan di wilayah tambang terbesar di dunia itu mengakibatkan sebanyak 20 pekerja PT Freeport, pendulang tradisional, pekerja asing bahkan aparat keamanan, tewas.

Satu dari sekian korban tewas itu adalah anggota Brimob Detasemen B Polda Papua di Timika yaitu Briptu Ronald Sopamena. Korban tewas dalam operasi penyergapan kelompok bersenjata tak dikenal di kawasan Kali Kopi ruas jalan Tanggul Timur pada Februari 2012. (JR/K6/R4/L03)

Selasa, 10-12-2013, SuluhPapua.com

Menyambangi “Markas Raja Cycloop” di Hutan Distrik Ravenirara (Bagian 1)

Laporan : Ibrahim S/Walhamri Wahid

Eduard Okoseray Korban Penembakan di Kampung YongsuSEBUAH pesan singkat masuk di handphone saya Selasa malam (3/12/2013), instruksi dari Pemimpin Redaksi (Pimred) untuk menghubungi beberapa kontak person yang bisa mengantarkan saya untuk masuk ke markas tempat persembunyian Adrianus Apaseray dan beberapa orang rekannya yang belakangan ini ramai di juluki sebagai “Raja Cycloop” oleh polisi.

Beberapa daftar pertanyaan yang harus saya konfirmasi, plus petunjuk teknis liputan demi keamanan saya menjadi bekal dari Pimred via SMS itu.

Sehari pasca penyerbuan dan penyisiran polisi di Kampung Yonsu Spari saya mencoba bertemu “Raja Cycloop”, namun karena masih di liputi suasana duka dan amarah pasca tertembaknya Eduard Okoseray salah satu rekan seperjuangan mereka, sehingga beberapa kontak person yang coba saya hubungi tidak berani menjamin keamanan saya nantinya.

Rabu (4/12/2013) saya berhasil berjumpa dengan beberapa kontak person Adrianus Apaseray yang masih kerabatnya juga, meski awalnya mereka masih ragu untuk mempertemukan saya, karena selain khawatir akan keselamatan saya, nampaknya juga ada sedikit keraguan terhadap saya yang nantinya akan membocorkan rahasia keberadaan “Raja Cycloop” yang masih menjadi buruan polisi tersebut.

Selama perjumpaan dengan kontak di daerah Sentani tersebut, saya aktif berkomunikasi dengan Pimpinan Redaksi sejauh mana peluang untuk bertemu, menjelang siang saya di khabari oleh si penghubung bahwa tidak ada peluang untuk bertemu Adrianus Apaseray, karena situasinya belum kondusif, jadi semua rencana batal, dan saya diminta untuk memberitahukan hal tersebut kepada Pimpinan Redaksi via SMS.

“demi keamanan kamu, kalau sikonnya tidak aman, sebaiknya batalkan saja”, pesan singkat yang saya terima dari Pimred, namun berselang 30 menit kemudian saya di minta untuk mematikan HP dan si penghubung mengajak saya untuk berjalan – jalan ke Depapre sambil membaca sikon katanya, dan semenjak itu kontak saya dengan kantor dan keluarga putus sama sekali.

Namun rupanya hal itu merupakan bagian dari strategi si penghubung untuk memastikan bahwa saya cukup steril untuk di bawa masuk ke hutan tempat persembunyian Adrianus Apaseray.

Kami sampai di Kampung Dormena sudah sore hari, dengan dalih menunggu kontak dari “orang dalam”, kami bermalam di Kampung Dormena, dan pagi – pagi sekali kami berjalan kaki menuju ke Kampung Yonsu Spari Distrik Ravenirara, sesekali kami melalui jalan setapak yang penuh dengan becek karena di guyur hujan, kadang kala kami harus naik ke ketinggian tebing menyusuri jalan berbatu, kurang lebih 1 jam berjalan akhirnya kami sampai di Kampung Yonsu Spari.

Suasana lengang, rumah – rumah warga masih tak berpenghuni, ada sekitar 4 orang laki – laki dewasa yang saya lihat berada di dalam kampung, tapi mereka hanya sekedar melihat – lihat saja.

Saya mencoba memastikan apakah ada patroli polisi atau aparat yang berjaga – jaga di kampung tersebut, namun tidak satupun aparat yang saya temukan, padahal sehari sebelumnya di salah satu media lokal, Kabidhumas Polda Papua mengatakan bahwa untuk menjamin keamanan warga telah ditempatkan satu peleton anggota polisi di Kampung Yonsu Spari pasca penyerbuan.

Setelah duduk beristirahat di dekat salah satu rumah warga yang di bakar, akhirnya kami dijemput oleh “orang dalam” anak buah Adrianus Apaseray dan perjalanan kami lanjutkan kembali membelah rerimbunan hutan Distrik Ravenirara. Semak belukar lebat, dan bebatuan yang tajam di tambah perasaan was – was menjadi satu symphoni yang bergemuruh dalam hati saya. Saya baru terpikir, bahwa sudah sehari saya tidak ada kontak dengan keluarga maupun kantor, bisa jadi mereka akan cemas memikirkan keberadaan saya, namun sepanjang jalan, dalam hati saya hanya bisa berdoa semoga ini bukan perjalanan terakhir dan tugas terakhir saya sebagai wartawan.

Kurang lebih 1 jam kami berjalan kaki akhirnya kami tiba di sebuah gubuk – gubuk kecil tanpa dinding yang menjadi “markas” kelompok ini, tanpa komando kami bertiga langsung merebahkan diri di tanah, melepas segenap penat, peluh bercucuran memancing rasa dahaga.

“mari minum teh dulu, pasti haus dan capek to”, kata beberapa orang pemuda yang berada di pondok tersebut sembari menyuguhkan teh hangat kepada kami usai bersalaman.

Hati saya plong melihat penerimaan mereka yang bersahabat terhadap saya, tidak ada tampang sangar, apalagi mencurigai saya, mereka memeluk saya erat seperti bertemu teman lama, dan kami akhirnya bercengkerama untuk mencairkan suasana.

Beberapa saat kemudian dari balik rerimbunan pohon di belakang pondok kecil tersebut muncul sosok lelaki bertubuh tegap postur semampai dengan sepucuk senapan menggelayut di pundaknya menyapa kami.

“selamat siang, bagaimana capek kah ?”, tanyanya mengulurkan tangan sambil tersenyum memperkenalkan diri, saat itulah baru saya tahu bahwa dia adalah Adrianus Apaseray, yang di juluki oleh polisi sebagai Raja Cycloop selama ini.

Saya memberinya oleh – oleh berupa koran – koran lokal yang mengulas pemberitaan tentang dirinya yang dijuluki sebagai Raja Cycloop dan kronologis penyerbuan kampung Yonsu di penghujung November kemarin, semua koran yang ada ia baca habis.

“tidak benar semua yang dikatakan polisis, tidak ada kontak senjata”, katanya dengan mimik sedikit menahan emosi sambil mengoper koran yang sudah ia baca kepada rekan lainnya.

Sejurus kemudian ia mulai menceritakan ihkwal penyerbuan polisi di pagi hari Jumat (29/11) lalu, dimana menurutnya saat itu ia tengah berada di dalam rumahnya, ketika terdengar bunyi rentetan tembakan dari ujung kampung, ia berlari keluar rumah dan menuju ke hutan dengan membawa senjata, bahkan ia sendiri tidak mengetahui dari arah mana bunyi tembakan tersebut, namun saat itu ia meyakini bahwa yang datang adalah polisi dan targetnya adalah dirinya.

“mereka bukan menyergap, targetnya kan saya, kalau memang saya yang mereka mau sergap mestinya rumah – rumah kami yang di kepung, tapi yang polisi lakukan adalah menyerbu kampung, menghambur tembakan sehingga warga panik dan berlarian menyelamatkan diri, jadi tidak benar kalau polisi bilang kami ada melawan, karena penyerbuaan itu mendadak, di pagi hari, jadi tidak ada yang melawan, semua warga karena takut langsung panik dan lari meninggalkan kampung”,

kata Adrianus membantah pernyataan polisi soal adanya kontak senjata dan hujan anak panah dari masyarakat ke arah polisi.

Saat itu semua masing – masing warga berpikir menyelamatkan diri dan keluarga masing – masing, setelah kampung kosong, barulah anggota polisi beraksi menggeledah bahkan merusak rumah – rumah warga yang mereka curigai sebagai pengikut Adrianus.

“saya sudah di tengah hutan pinggiran kampung dan bertemu beberapa warga lainnya dan mereka menceritakan kepada saya bahwa Eduard Okoseray tertembak dan jatuh di jalan kampung kok, di depan mata aparat, dan mereka semua tahu yang mereka tembak itu manusia, jadi kalau mereka menyangkal tidak ada korban itu sama saja pembohongan publik, atau mereka pikir yang mati itu bukan manusia kah ?”,

katanya dengan nada tinggi menahan geram.

Ia juga sangat menyesalkan, bahwa setelah Eduard tertembak, jasadnya di biarkan tergeletak hingga tengah hari, padahal menurutnya teroris saja yang sudah nyata – nyata membunuh orang jasadnya pasti masih di hargai aparat, di angkat atau di tangani secara layak.

“Tidak, kami tidak melakukan perlawanan, itu polisi dong’ tipu hanya untuk menutupi kesalahan dan membenarkan diri mereka. Kami sama sekali tidak melakukan kontak senjata mengingat ada warga yang takut pada saat itu untuk menyelamatkan diri. Kalau kitong baku tembak tentu warga banyak yang mati dan pasti polisi akan menuduh kami yang melakukannya, padahal kami tidak mungkin membunuh warga yang tidak tahu apa-apa”,

katanya ketika saya mencoba mengejar apa benar ia tidak melakukan perlawanan pagi itu.

Ia kembali menegaskan bahwa ketika itu mereka semua tanpa kecuali memilih menyelamatkan diri, karena polisi yang datang langsung mengarahkan senjata kepada mereka sebagai target.

“Tidak ada tembakan peringatan atau seruan untuk menyerah layaknya sebuah penggerebekan, tapi tembakan polisi itu sudah mengarah langsung ke sasaran sehingga dari pagi masuk polisi sudah menembak Eduard Okoseray ketika lari kurang lebih 100 meter jatuh di jalan mobil, karena Eduard Okoseray lari untuk menyelamatkan anak-anaknya yang masih kecil serta istrinya namun ia ditembak mati jatuh di jalan mobil”,

katanya lagi.

Menjelang tengah hari setelah mereka memastikan bahwa polisi sudah meninggalkan kampung, akhirnya Adrianus dan beberapa warga lainnya memutuskan kembali ke kampung, dan menguburkan jenazah Eduard Okoseray dengan di pimpin oleh seorang pendeta.

“memang kami marah ketika itu setelah tahu teman ada yang mati, jadi kami bakar beberapa rumah yang kami duga kuat sebagai informan polisi sehingga terjadi penyerbuan kemarin”,

katanya mengakui bahwa ia memang yang membakar beberapa rumah warga.

“Kapolda dan Kapolres Jayapura stop tipu sudah kalau tidak ada korban, mereka harus mengakui bahwa telah menembak Eduard Okoseray teman kami. Kalau tidak percaya datang sendiri lihat kuburannya, atau tanyakan langsung kepada keluarganya atau Pendeta yang telah memakamkan jenazah teman kami setelah aparat meninggalkan kampung Yongsu”.

kata Adrianus Apaseray.

Lantas bagaimana asal muasal julukan Raja Cycloop yang kini melekat di sosoknya dan bagaimana ia menggambarkan aktivitas maupun perjuangan kelompoknya dimana ia mengaku anak buah dari Brigjen Hans Yoweni, Panglima TPN/OPM Wilayah Mamta ? Nantikan laporan perjalanana eksklusif saya di edisi esok yah ! (Bersambung)

Selasa, 10-12-2013, SuluhPapua.com

Insiden Kampung Yongsu, TPN-OPM Klaim Rekayasa TNI-Polri

Eduard Okoseray Korban Penembakan di Kampung YongsuJayapura (Sulpa) – Penyergapan dan penyisiran yang dilakukan aparat Jumat (29/11) dan Sabtu (30/11) di kampung Youngsu Sapari, Distrik Ravenirara, Kabupaten Jayapura yang mengejar kelompok bersenjata “Raja Cycloop” Cs dinilai sebagai rekayasa TNI/POLRI untuk mengacaukan perjuangan TPN/OPM yang selama ini selalu mengedepankan penyelesaian dengan jalan damai.

Hal itu dikatakan juru bicara TPN/OPM Jonah Wenda melalui surat edaran dengan kop surat Tentara Pembebasan Nasional Papua Barat yang diterima SULUH PAPUA, Sabtu (07/12). Dalam rilis yang ditandatangani juru bicara TPN/OPM tersebut disebutkan beberapa poin, seperti, pertama, di kampung Yongsu tidak ada kelompok sipil bersenjata dengan nama “Radja Cycloop, seperti yang disampaikan oleh pihak Kepolisian Indonesia, dimana nama Radja Cycloop adalah nama yang digunakan pihak TNI-Polri, yang dianggap untuk mengacaukan perjuangan damai Papua Merdeka yang selama ini dilakukan dengan cara-cara damai.

Kedua, sejumlah senjata rakitan yang ditemukan dalam operasi yang dilakukan oleh TNI/POLRI di kampung Younsu yang dikatakan bahwa senjata-senjata rakitan tersebut adalah milik TPN/OPM adalah tidak benar, dimana sebelumnya telah ada kesepakatan antara TPN/OPM dan utusan khusus Presiden RI, Farid Muhamad bahwa penyelesaian masalah Papua Barat diselesaikan dengan cara-cara damai. Dan sudah hampir 2 tahun belakangan ini belum ada jawaban soal penyelesaian masalah Papua Barat, oleh pemerintah Indonesia, dan situasi di Papua Barat sama sekali tidak ada perubahan, malah yang terjadi, TNI/POLRI melakukan banyak pendekatan kekerasan, yang mengakibatkan kematian masyarakat sipil, baik Papua, maupun non Papua.

Ketiga, penyerangan di Kampung Youngsu adalah permainan pihak TNI/POLRI, untuk mengacaukan kegiatan damai yang dilakukan bangsa Papua Barat, untuk memperingati hari atribut bangsa Papua Barat, 1 Desember.

Karena itu, TPN/OPM mendesak pemerintah Indonesia untuk segera menarik seluruh pasukannya dari wilayah Papua Barat dan segera membuka ruang untuk berunding dengan bangsa Papua Barat.

Diberitakan sebelumnya, pihak Kepolisian pada Jumat (29/11) dan Sabtu (30/11) lalu, di kampung Youngsu Sapari, Distrik Ravenirara, Kabupaten Jayapura melakukan penggebrekan terhadap kelompok sipil bersenjata “Radja Cycloop” diwilayah itu. Insiden itu akhirnya menewaskan Eduard Oktoseray. Kepolisian juga menyita senjata api rakitan yang diduga digunakan Radja Cycloop yang beroperasi di wilayah tersebut.

Terkait dengan surat bantahan dari pihak TPN/OPM melalui juru bicaranya, Jonah Wenda, pihak Kepolisian dari Polda Papua belum bisa dimintai klarifikasi terkait surat bantahan tersebut. (d/k7/r5)

Senin, 09-12-2013, Sulpa

Selamat Jalan Nelson Mandela dari Rakyat Papua

Belasungkawa Papua untuk Nelson Mandela
Belasungkawa Papua untuk Nelson Mandela di Kedubes Afsel Jakarta

JAYAPURA [PAPOSMahasiswa dan aktivis Papua Barat se-Jakarta dan Bogor menghantarkan krans bunga tanda turut beduka cita ke kantor Dubes Afrika Selatan.] – Masyarakat di seluruh dunia, termasuk rakyat Papua Barat berkabung atas kepergian Nelson Madiba Mandela. Dia dihormati atas kesetian dan kerelaan dalam perjuangan melawan politik apartheid di Afrika Selatan.

Dia juga sebagai simbol perlawanan rakyat Afrika Selatan, bahkan menjadi tokoh kemanusiaan di abad-21 ini. Untuk mengenang Mandela, mahasiswa dan aktivis Papua Barat di Jakarta dan Bogor menghantarkan krans bunga tanda turut beduka cita dari seluruh rakyat Papua.

Belasan mahasiswa dan akvitis Papua Barat, Minggu (08/12), sekitarpukul 11.30 Wib,mewakili rakyat dan Bangsa Papua Barat menyampaikan ungkapan berdukacita dan menyerahkan krans bunga kepada perwakilan pemerintah Afrika Selatan di Kedutaan Besar Afrika Selatan untuk Indonesia di Jakarta.

Perwakilan rakyat dan Bangsa Papua Barat diterima oleh sekretaris satu (first Secretary) atase politik Kedutaan Besar Afrika Selatan untuk Indonesia, Mr. Moses Phahlane, di Kantor Kedutaan Besar Afrika Selatan, Suite 705, 7th floor 7, Wisma GKIB, Jln. JendSudirman No.28, Jakarta 10210.

“Kami atas nama rakyat dan Bangsa Papua Barat menyampaikan turut berdukacita atas kepulangan Nelson Mandela, tokoh perjuangan pembebasan bagi Afrika Selatan juga bagi dunia,” ucap aktivis Papua Elias Petege dalam rilis yang dikirim ke dapur Papua Pos.

“Dia adalah bapak bagi rakyat tertindas di berbagai bangsa di dunia, termasuk bagi rakyat Papua. Dia juga tokoh inspirasi bagi kami,”

ungkap Darmince Nawipa, salah satu perwakilan mahasiswa Papua dari Bogor.

“Kami tentu terinspirasi dari perjuangan rakyat Afrika Selatan, termasuk dari bapak Nelson Mandela,”

ujar Darmince.

Pages: 1 2

Lambert Mau Berunding, Purom Ngotot Merdeka

Pasukan TRWP, Rimba New Guinea
Pasukan Tentara Revolusi West Papua di Markas Pusat Pertahanan saat Kongres I TPN/OPM 2006 yang memisahkan Organ militer dari organ Politik

Lambert Pekikir : Masalah Papua harus diselesaikan dengan perundingan. Antara Indonesia, Papua dan pihak ketiga.

TPN-OPM_dari_dailyUSAHA mendorong perundingan damai antara Papua dan Indonesia untuk penyelesaian akar masalah di Bumi Cenderawasih, yang digagas Koordinator Umum OPM Lambert Pekikir, menuai beragam pendapat. Salah satunya datang dari Panglima Tinggi Tentara Pertahanan Nasional OPM Distrik Pirime, Kabupaten Lanny Jaya, Purom Okiman Wenda.

“Silahkan OPM bicara begitu, kami dari TPN hanya minta kedaulatan penuh, kemerdekaan, bukan perundingan atau apapun,”

kata Purom Okiman Wenda kepada SULUH PAPUA, Ahad.

Menurut dia, perundingan damai tidak akan membawa harapan bagi kebebasan Papua. Sebaliknya yang terjadi adalah konflik tak berkesudahan dan jatuhnya korban jiwa.

“Masalah Papua tidak selesai dengan perundingan, kita tegas, kedaulatan, kalau ada yang ingin perundingan, kami tidak setuju,”

ujarnya.

Ia menambahkan, apapun resikonya, pihaknya tetap menuntut merdeka. “Kami bukan minta pemekaran atau kesejahteraan, kami minta kedaulatan, dari dulu TPN selalu begitu.”

Purom termasuk orang yang dicari setelah sejumlah aksinya menewaskan petugas. “Saya tidak takut, saya kuat, anak buah saya banyak,” katanya.

Ia mengatakan, jumlah personelnya mencapai ratusan. “Wilayah Operasi saya di Puncak Senyum, Puncak Jaya dan di Tiom, ada juga operasi di Sinak, anak buah saya, ada yang kentara, ada yang diam diam (bersembunyi),” katanya.

Purom mempunyai sejumlah senjata otomatis hasil rampasan. Salah satunya didapat saat penyerangan terhadap Markas Kepolisian Sektor Distrik Pirime, Kabupaten Lany Jaya, Selasa, 27 November 2012. Tiga polisi tewas ketika itu. ”OPM tembak. Saya yang pimpin penyerangan itu,” kata Purom.

Purom disebut juga sebagai orang yang bertanggungjawab atas penyerbuan rombongan polisi, Rabu 29 November 2012 di daerah pegunungan. “Mereka (rombongan polisi) menggunakan sekitar 22 mobil. Ada lima yang kami tembak,” katanya.

Purom pandai menyamar. Kalau lagi butuh logistik, ia berani turun sendiri ke Kota Mulia, Ibukota Kabupaten Puncak Jaya.

“Tentara tidak tahu, kami jadi orang (warga) biasa saja.”

Purom akan terus mengangkat senjata demi Papua Merdeka. “Saya waktu bulan Juli kemarin, ada naikan Bintang Kejora, itu bukti bahwa saya masih ada, kita akan berjuang sampai mati.”

Aksi terakhir Purom, adalah ketika memberondong mobil ambulans yang sedang mengevakuasi warga sakit. Akibat kejadian itu, 1 orang tewas. Penembakan terjadi di Puncak Senyum, Puncak Jaya, Rabu 31 Juli 2013, sekitar pukul 14.10 WIT. “Iya, itu kami yang tembak, mobil ambulans itu membawa tentara, bukan orang sakit,” katanya.

Puron adalah bekas anak buah Goliat Tabuni. Mereka berpisah sejak Kabupaten Lany Jaya terbentuk. Purom Wenda memboyong anak buahnya, dan kemudian mendirikan markas di Puncak Senyum yang dinamai Kodap (Komando Daerah Operasi) Pilia.

Pages: 1 2

Nelson Mandela Wafat

Jakarta – Ucapan belasungkawa terus mengalir dari berbagai petinggi negara. Selain dari Presiden Amerika Serikat Barack Obama, giliran Perdana Menteri Inggris David Cameron memberikan ucapan belasungkawa. Cameron menilai sosok pemimpin kulit hitam pertama Afrika Selatan ini sebagai legendaris dan pahlawan global.

“Nelson Mandela adalah sebuah legenda dalam hidup dan kini dalam kematian, sosok pahlawan pahlawan global sejati,”

ucap Cameron seperti dilansir AFP, Jumat (6/12/2013).

“Sebuah cahaya besar telah pergi meninggalkan dunia,”

imbuhnya.

Dia menilai, seluruh dunia akan berkabung mengenang kepergian tokoh perjuangan segregasi rasialis di Afrika Selatan.

“Di seluruh negara yang dicintainya mereka akan berkabung terhadap seorang pria yang merupakan perwujudan dari kasih karunia,”

kenangnya.

Nelson Mandela meninggal, Jumat (6/12/2013) hari ini, karena penyakit infeksi paru-paru yang diidapnya. Nelson Mandela terus berjuang mesti dalam kondisi kritis. Putri Mandela menyebut ayahnya masih memiliki semangat berjuang, meski secara kasat mata terlihat tak berdaya di ranjang.

Mandela terus menjalani perawatan medis di kediamannya di Johannesburg selama penyakit yang diidapnya menyerang dirinya. Sebelum dirawat di rumah, Mandela menghabiskan waktu selama 3 bulan dirawat intensif di rumah sakit.

(ahy/kha)

Jumat, 06/12/2013 05:54 WIB, Andri Haryanto – detikNews

PM Abbot: Mandela Lebih Dikenang Sebagai Pemimpin Moral

Jakarta – Sosok perjuangan Nelson Mandela melawan segregasi rasialis di Afrika Selatan mengilhami banyak kalangan dan negarawan di belahan dunia lain. Perdana Menteri Australia Tony Abbott menilai Mandela adalah tokoh besar abad terakhir.

“Nelson Mandela adalah salah satu tokoh besar Afrika, bisa dibilang salah satu tokoh besar dari abad terakhir, “

kata Abbott dalam pernyataannya di Radio Fairfax, dan dilansir AFP, Jumat (6/12/2013).

“Dia adalah seorang pria yang benar-benar hebat. Selamanya akan dikenang sebagai lebih dari seorang pemimpin politik, dia adalah seorang pemimpin moral,”

kata Abbott.

Menurut Abbott, sebagian hidup Mandela diisi demi perjuangan melawan pemisahan kelompok rasial di Afrika Selatan. Perjuangan tersebut tak ayal berujung dijebloskannya Mandela ke penjara selama 27 tahun.

“Dia menghabiskan sebagian besar hidupnya berdiri melawan ketidakadilan apartheid,”

kenang Abbott.

Perlawanan Mandela terhadap ketidakadilan serta kehidupannya yang sederhana tentu patut menjadi teladan para pemimpin di belahan negara manapun.

Mantan perdana menteri Australia Malcolm Fraser , antara tokoh-tokoh internasional pertama yang mengunjungi Mandela di penjara sebagai ketua Commonwealth Kelompok Eminent Persons pada tahun 1986 , mengatakan kematiannya adalah kerugian bagi dunia .

“Kita bisa belajar dari teladannya. Dia meninggalkan warisan yang semua pemimpin berikutnya harus berusaha untuk meniru,” kata Mantan PM Australia Malcolm Frasher.

(ahy/kha)

Jumat, 06/12/2013 06:15 WIB, Andri Haryanto – detikNews

Up ↑

Wantok Coffee

Melanesia Single Origin Coffee

MAMA Minimart

MAMA Stap, na Yumi Stap!

PT Kimarek Aruwam Agorik

Just another WordPress.com site

Wantok Coffee News

Melanesia Foods and Beverages News

Perempuan Papua

Melahirkan, Merawat dan Menyambut

UUDS ULMWP

for a Free and Independent West Papua

UUDS ULMWP 2020

Memagari untuk Membebaskan Tanah dan Bangsa Papua!

Melanesia Spirit & Nature News

Promoting the Melanesian Way Conservation

Kotokay

The Roof of the Melanesian Elders

Eight Plus One Ministry

To Spread the Gospel, from Melanesia to Indonesia!

Koteka

This is My Origin and My Destiny