Kemerdekaan Papua Barat gagal tanpa dukungan regional

Diperbaharui August 9, 2010 10:37:13

Perdana Menteri Vanuatu, Edward Natapei, mengatakan pemerintahnya akan gagal jika memaksakan kemerdekaan Papua Barat dari Indonesia TANPA dukungan regional.

Organisasi Papua Merdeka, O-P-M, mempunyai kantor perwakilan di Vanuatu dan mengatakan kecewa bahwa Perdana Menteri Natapei tidak mengangkat isu tersebut dalam pertemuan antar Forum Kepulauan Pasifik di Port Vila minggu lalu.

Wartawan Radio Australia melaporkan bahwa dalam komunike Forum Pasifik tidak disebut-sebut soal Papua Barat walaupun parlemen Vanuatu baru-baru ini dengan suara bulat mengesahkan resolusi yang mendukung kemerdekaan Papua Barat.

Ketika ditanya mengapa ia tidak mengangkat isu tersebut dalam pembicaraan dengan para pemimpin Forum Pasifik lainnya, Perdana Menteri Natapei mengatakan bahwa ia terlebih dahulu ingin mendapat dukungan dari Kelompok Ujung Tombak Melanesia.

Bulan lalu ia menangguhkan pertemuan tahunan kelompok itu akibat masalah lain yakni tidak ingin mengikut-sertakan Komodor Frank Bainimarama, Perdana Menteri Fiji yang tidak dipilih rakyat, yang akan menggantikannya sebagai ketua kelompok.

Sekjen Koalisi Nasional Bagi Kemerdekaan Papua Barat mengatakan pihaknya merasa ditelantarkan.

Perdana Menteri Natapei mengakui, memang ada isu HAM bagi warga Melanesia di Papua Barat, namun ia tidak ingin melihat Vanuatu maju sendirian memperjuangkan masalah tersebut dan gagal total.

Papua Nugini Sahabat Setia RI

Presiden RI Susilo Bambang Yudhoyono dan PM Papua Nugini Michael Somare berjabat tangan saat menerima kunjungan Presiden RI di Papua NuginiPapua Nugini adalah satu-satunya negara di Pasifik barat daya yang berbatasan darat dengan Indonesia sepanjang 750 km, berbagi wilayah kabupaten di Papua mulai dari ujung Utara hingga di unjung Selatan.

Kalau Presiden Susilo Bambang Yudhoyono pada 11-12 Maret lalu, sebagai Presiden RI kedua yang mengunjungi tetangga kita ini, seusai lawatan ke Australia (9-11 Maret) jelas ada nilai strategisnya, meski tetangga kita ini belum maju.

Papua Nugini meski kaya sumber daya alam, secara ekonomi negara ini miskin dan belum maju. Ketika tiba di Bandar Udara Port Moresby dan menyaksikan upacara penyambutan kenegaraan, aroma kemiskinan itu sudah terasa.

Bahkan, sebuah sumber menyebutkan, meriam upacara untuk menyambut Presiden Yudhoyono dengan 21 kali tembakan, didatangkan dari Jakarta, lengkap dengan prajurit dari Yon Armed yang mengoperasikannya. Keempat meriam itu bahkan diminta oleh tuan rumah untuk ditinggal saja. Ibu Negara, Ani Yudhoyono, pada lawatan ini juga menghibahkan 10 inkubator bayi dan alat x-ray untuk rumah sakit di Papua Nugini.

Dalam perjalanan dari Jackson International Airport, Port Moresby, ke pusat kota, mulai tampak pembangunan di berbagai daerah. Bahkan, perkantoran, apartemen modern, dan berbagai proyek real estate tampak mulai didirikan di sana-sini. Mobil-mobil keluaran terbaru (umumnya jenis SUV) juga lalu-lalang di jalan yang terlihat padat dan macet di sejumlah ruas. Namun, itu juga sangat kontras dengan penduduk miskin yang bertelanjang kaki dan terlihat di kanan-kiri jalan.

Papua Nugini yang berpenduduk 6,3 juta ini memang belum banyak berkembang sejak merdeka 16 September 1975 dari Australia. Kini, hanya 15 persen dari jumlah penduduknya yang tinggal di perkotaan. Sebagian besar mereka tinggal di perkampungan dan hutan yang masih perawan.

Negeri ini sangat kaya dengan berbagai sumber daya alam, antara lain berupa mineral (emas, tembaga, migas), kekayaan hutan, dan ikan. Jumlah suku di Papua Nugini lebih dari 800, dan mereka menggunakan lingua franca bahasa Inggris, Pidgin, dan Motu berbeda dengan di Papua yang menggunakan bahasa pengantar bahasa Indonesia atau Melayu kasar.

Mitra Strategis

Dalam catatan Duta Besar RI untuk Papua Nugini dan Salomon Islands, Bom Suryanto, kepentingan nasional Indonesia sangat terkait dengan Papua Nugini karena kita sangat membutuhkan konsistensi negara tetangga kita ini untuk mempertahankan integritas wilayah RI. Papua Nugini selama ini walau mengizinkan elemen kelompok separatis Organisasi Papua Merdeka (OPM) tinggal di sana sebagai permissive resident, tak pernah mengizinkan mereka melancarkan kegiatan politik, apalagi bersenjata untuk agenda separatis mereka.

Bahkan, Papua Nugini selalu konsisten menggagalkan berbagai upaya OPM dan pendukungnya untuk mengangkat isu-isu Papua dalam berbagai forum, seperti Melanesian Spearhead Group (MSG) dan Pasific Islands Forum (PIF). Di berbagai forum internasional seperti pembahasan perubahan iklim, hutan tropis, coral triangle initiative, ASEAN, Pacific Islands Forum, APEC, Papua Nugini senantiasa saling mendukung dengan Indonesia.

Di Papua Tak Ada Separatis

JAYAPURA (PAPOS) -Panglima Kodam XVII/Cenderawasih Mayjen TNI A.Y Nasution menepis adanya kelompok separatis yang berkeliaran atau membuat rusuh hingga meresahkan warga masyarakat Papua.

Sopir Sumber Makmur Dibunuh – *Leher Dijerat, Diduga Korban Perampokan

Mati lagi, Lag-Lagi Misterius???
11UTM1

JAYAPURA-Lagi, kasus penemuan mayat korban pembunuhan hebohkan warga Kota Jayapura. Jika sebelumnya, Senin (7/7) korbannya,
Roberth Winarto, pemilik Roberth Salon di Abe, yang mayatnya ditemukan di pinggir jalan di Skow, Koya Timur Kota Jayapura, maka
tadi malam giliran seorang karyawan CV Sumber Makmur, ditemukan tewas mengenaskan.

Korban bernama Syahrul (36) ini, ditemukan di dalam mobil Zuzuki Baleno warna putih bernomor polisi DS 1441 A yang diparkir di
halaman Bank Danamon Jayapura sekitar pukul 21.30 tadi malam.

Saat ditemukan posisi korban tepat duduk di kursi kemudi (stir mobil) dengan jeretan luka di leher dan di celana korban nampak
keluar cairan serta hidung korban mengeluarkan darah, namun kondisi mobil yang dikemudi korban tidak nampak adanya
ke
Continue reading “Sopir Sumber Makmur Dibunuh – *Leher Dijerat, Diduga Korban Perampokan”

Perang di Kwamki Didalangi

TIMIKA-Bentrokan antarsuku di Kwamki Lama, Mimika, Papua, belum reda. Perang kubu atas dengan kubu tengah Rabu kemarin berlanjut lagi. Insiden itu meletus pukul 08.00 hingga 14.30 WIT di lokasi Jalur IV Kwamki Lama. Lokasi pertikaian pindah karena Jalan Kanguru -lokasi perang sebelumnya- telah diblokade aparat gabungan Polri-TNI.

Hingga perang berakhir sore kemarin, tidak ada korban tewas. Tetapi, dari data yang dihimpun Radar Timika (Grup Jawa Pos), sedikitnya sembilan orang luka. Mereka terkena tembakan senjata angin dan anak panah.

Semula, tersiar kabar bahwa ada korban tewas dari kubu atas. Tetapi, panglima perang kubu atas Negro Kogoya membantah kabar itu. “Dari pihak kami, tidak ada korban mati,” katanya ketika dikonfirmasi Radar Timika melalui telepon seluler kemarin sore. “Jika ada korban jiwa, usai perang, kedua kubu tentu saling buang suara untuk menyampaikan yang mati di medan perang,” tambahnya.

Direktur Rumah Sakit Mitra Masyarakat (RSMM) Dr Paulus S. Sugiharto SPb mengatakan, jumlah korban perang yang dievakuasi ke RSMM kemarin 20 orang. “Saat ini satu korban masih dirawat di RSMM,” katanya kepada Radar Timika (grup Rakyat Aceh).

Radar Timika kemarin menyaksikan langsung seorang warga kubu tengah yang betisnya ditembus anak panah. Namun, identitas korban tidak diketahui karena segera diamankan rekan-rekannya.

Seperti sehari sebelumnya, 350 personel aparat gabungan yang mengamankan tidak mampu menghentikan perang. Mereka hanya menyaksikan dari jarak tertentu.

Aparat hanya bisa melokalisasi wilayah perang agar tidak meluas. Ketika perang usai, aparat gabungan tetap siaga di lokasi batas antara kubu tengah dan kubu atas di sekitar Kios Panjang, Check Point 1 Mile-28, dan beberapa titik lain.

Kapolda Papua Irjen Pol Tommy Yacobus menduga ada aktor yang mendalangi perang antarsuku di Kel. Harapan, Kwamki Lama, Distrik Mimika Baru, Kab Mimika, Papua, sejak sekitar dua bulan lalu. “Ada indikasi kuat, ada oknum yang menggerakkan sehingga terjadi perang lagi,” katanya kepada wartawan kemarin.

Kapolda menegaskan, pihaknya masih menyelidiki kasus itu. Dia berjanji menangkap para aktor atau dalang perangnya untuk diproses secara hukum.

Soal perang yang masih terjadi kemarin, jenderal bintang dua itu menyatakan bahwa polisi bukan hendak melegalkan tindak pidana. Tetapi, aparat menghindarkan kemungkinan meluasnya bentrok. “Saya tidak mau anggota saya terlibat benturan dengan masyarakat yang bertikai,” ujarnya. (vis/jpnn)

http://rakyataceh.com/ ID berita: 899 Jumat, 5 Januari 2007

Tak Dihadiri Kubu Tengah, Kwamki Lama Tetap Ingin Damai

Rakyat Merdeka. Upaya mendamaikan pertikaian di Kwamki Lama, Mimika Baru, Kabupaten Mimika, Papua, terus dilakukan. Sabtu sore hingga malam, Wakil Gubernur Provinsi Papua Alex Hasegem memimpin langsung dialog dengan perwakilan Kubu atas dan kubu bawah.

Pertemuan di Pendopo Rumah Negara Bupati Mimika tersebut, diikuti sekitar 50 warga kedua kubu dari Kwamki Lama. Pertemuan berlangsung alot. Terjadi tarik ulur. Tetapi pertemuan yang berakhir pukul 20.00 WIT tadi, akhirnya menelorkan keputusan kubu atas dan kubu bawah siap mengakhiri pertikaian.

Pertemuan tersebut dihadiri Kapolda Papua Irjen Tommy Jacobus, Ketua MRP Agus Alua dan sejumlah anggotanya, Bupati Mimika Klemen Tinal, Muspida Kabupaten Mimika, jajaran Pemerintah Provinsi Papua.

Sayangnya pertemuan itu belum dihadiri para tokoh kubu tengah yang dipimpin Elminus Mom, David Wandikbo dan Jimmy Kora. Mereka kabarnya sudah berada di lokasi kubu tengah di Kwamki Lama.

Informasi yang diperoleh Radar Timika dari sumber kepolisian, ketiga pimpinan kubu tengah itu belum bersedia hadir dengan alasan yang perlu diutamakan adalah keinginan keluarga korban dari kubu tengah. Setelah tercapai kesepakatan antara keluarga korban kubu tengah dengan pemerintah, kabarnya Elminus Mom baru mau menghadiri pertemuan untuk berdamai.

Pertemuan berlangsung sejak pukul 15.20 hingga 20.00 WIT tadi malam. Tokoh dari kubu atas yang hadir diantaranya Negro Kogoya dan Jackman Waker. Dari kubu bawah yang hadir diantaranya Philipus Waker dan Yakobus Kogoya.

Dalam dialog terjadi tarik ulur antara pihak keluarga korban tewas dan para tokoh perang baik dari kubu atas maupun kubu bawah. Namun akhirnya mereka sepakat akan menyelesaikan pembayaran adat.

Wagub Alex Hesegem dalam dialog meminta kelompok yang bertikai segera menghentikan pertikaian.

Ini bukan perang suku, tetapi ini adalah kriminal atau kejahatan,” kata Alex yang mengaku malu atas pertikaian selama ini. Dia pun mengingatkan agar masyarakat tidak berpikir bahwa pemerintah takut menghentikan secara paksa pertikaian tersebut.

Sebelum menghadiri pertemuan, warga telah didekati anggota MRP. Masyarakat diharapkan dengan sendirinya sadar untuk menghentikan pertikaian.

Sementara Kepala Kepolisian Daerah (Kapolda) Papua Irjen Tommy Jacobus mengatakan dirinya sudah 7 kali datang ke Timika untuk menangani pertikaian di Kwamki Lama. Sehingga Kapolda meminta warga sadar bahwa kehadiran dirinya, Wagub Papua, Ketua MRP dan anggotanya, sebagai momen berdamai.

Bupati Mimika Klemen Tinal, tadi malam secara singkat mengatakan selama ini Pemkab Mimika sudah cukup membantu ketiga kubu yang bertikai dengan memberi bantuan bahan makanan. Namun menurutnya, masyarakat tetap tidak sadar. Sehingga Bupati Klemen Tinal meminta masyarakat meninggalkan kebiasaan atau adat yang tidak relevan dengan kehidupan di kota.

Menurut rencana, pertemuan antara Wagub Papua, MRP, dan Muspida Mimika akan dilaksanakan siang ini (Minggu, 10/9) di Rumah Negara Dinas Mimiak yang terletak di Kampung Karang Senang (SP III). Pertemuan awalnya direncanakan tadi malam, tetapi mengingat waktu dialog bersama kubu atas dan kubu bawah baru selesai malam, sehingga pertemuan itu ditunda. vis/jpnn

Minggu, 10 September 2006, 03:43:31 WIB

Tak Dihadiri Kubu Tengah, Kwamki Lama Tetap Ingin Damai

Rakyat Merdeka. Upaya mendamaikan pertikaian di Kwamki Lama, Mimika Baru, Kabupaten Mimika, Papua, terus dilakukan. Sabtu sore hingga malam, Wakil Gubernur Provinsi Papua Alex Hasegem memimpin langsung dialog dengan perwakilan Kubu atas dan kubu bawah.

Pertemuan di Pendopo Rumah Negara Bupati Mimika tersebut, diikuti sekitar 50 warga kedua kubu dari Kwamki Lama. Pertemuan berlangsung alot. Terjadi tarik ulur. Tetapi pertemuan yang berakhir pukul 20.00 WIT tadi, akhirnya menelorkan keputusan kubu atas dan kubu bawah siap mengakhiri pertikaian.

Pertemuan tersebut dihadiri Kapolda Papua Irjen Tommy Jacobus, Ketua MRP Agus Alua dan sejumlah anggotanya, Bupati Mimika Klemen Tinal, Muspida Kabupaten Mimika, jajaran Pemerintah Provinsi Papua.

Sayangnya pertemuan itu belum dihadiri para tokoh kubu tengah yang dipimpin Elminus Mom, David Wandikbo dan Jimmy Kora. Mereka kabarnya sudah berada di lokasi kubu tengah di Kwamki Lama.

Informasi yang diperoleh Radar Timika dari sumber kepolisian, ketiga pimpinan kubu tengah itu belum bersedia hadir dengan alasan yang perlu diutamakan adalah keinginan keluarga korban dari kubu tengah. Setelah tercapai kesepakatan antara keluarga korban kubu tengah dengan pemerintah, kabarnya Elminus Mom baru mau menghadiri pertemuan untuk berdamai.

Pertemuan berlangsung sejak pukul 15.20 hingga 20.00 WIT tadi malam. Tokoh dari kubu atas yang hadir diantaranya Negro Kogoya dan Jackman Waker. Dari kubu bawah yang hadir diantaranya Philipus Waker dan Yakobus Kogoya.

Dalam dialog terjadi tarik ulur antara pihak keluarga korban tewas dan para tokoh perang baik dari kubu atas maupun kubu bawah. Namun akhirnya mereka sepakat akan menyelesaikan pembayaran adat.

Wagub Alex Hesegem dalam dialog meminta kelompok yang bertikai segera menghentikan pertikaian.

Ini bukan perang suku, tetapi ini adalah kriminal atau kejahatan,” kata Alex yang mengaku malu atas pertikaian selama ini. Dia pun mengingatkan agar masyarakat tidak berpikir bahwa pemerintah takut menghentikan secara paksa pertikaian tersebut.

Sebelum menghadiri pertemuan, warga telah didekati anggota MRP. Masyarakat diharapkan dengan sendirinya sadar untuk menghentikan pertikaian.

Sementara Kepala Kepolisian Daerah (Kapolda) Papua Irjen Tommy Jacobus mengatakan dirinya sudah 7 kali datang ke Timika untuk menangani pertikaian di Kwamki Lama. Sehingga Kapolda meminta warga sadar bahwa kehadiran dirinya, Wagub Papua, Ketua MRP dan anggotanya, sebagai momen berdamai.

Bupati Mimika Klemen Tinal, tadi malam secara singkat mengatakan selama ini Pemkab Mimika sudah cukup membantu ketiga kubu yang bertikai dengan memberi bantuan bahan makanan. Namun menurutnya, masyarakat tetap tidak sadar. Sehingga Bupati Klemen Tinal meminta masyarakat meninggalkan kebiasaan atau adat yang tidak relevan dengan kehidupan di kota.

Menurut rencana, pertemuan antara Wagub Papua, MRP, dan Muspida Mimika akan dilaksanakan siang ini (Minggu, 10/9) di Rumah Negara Dinas Mimiak yang terletak di Kampung Karang Senang (SP III). Pertemuan awalnya direncanakan tadi malam, tetapi mengingat waktu dialog bersama kubu atas dan kubu bawah baru selesai malam, sehingga pertemuan itu ditunda. vis/jpnn

Minggu, 10 September 2006, 03:43:31 WIB

Hampir Semua Warung Internet Se-Jayapura Dikuasai Anggota Intel Kodam dan Polda Papua

Laporan: Wimalom SPMNews-
Pasca bentrokan di depan kampus Uncen Abepura antara para pendemo dan aparat keamanan pada tanggal 16 Maret 2006 yang lalu. BIN serta semua institusi Intelejen Republik Indonesia lainnya sedang bekerja keras untuk menangkap dan para Mahasiswa Papua khususnya mereka yang berasal dari Pegunungan. Hal ini terlihat jelas pada siang dan malam hari di kota Numbay (Jayapura) akhir-akhir ini, setiap orang Papua Pegunungan selalu diwaspadai gerak gerik dan langkah mereka dan bahkan tidak luput dari aksi sweeping oleh aparat intelejen TNI dan Polri.

Untuk diketahui bersama bahwa hampir semua Warung Internet  (WarNet) di Numbay, Abepura dan Sentani dikuasai oleh anggota Intelejen dari Kodam dan Polda Papua, Nampaknya aksi mematai-matai aktivitas di Warung Internet ini sudah berlangsung lama bahkan mungkin hampir di seluruh WarNet di daerah lain di Papua. Di Numbay aksi ini sebelumnya dilakukan tidak begitu mencolok, Kini terlihat jelas hampir setiap Warnet sudah dikuasi para anggota Intelejen dengan meningkatkan personil pada setiap WarNet untuk melakukan tugas spionase mereka. Contoh kasus, Yusuf Weya 21th Mahasiswa Universitas Cenderawasih Fakultas Antropology pada hari Kamis, 20/4 lalu ia ditangkap dan dihajar babak belur di depan salah satu WarNet di Sentani oleh beberapa anggota intelejen dari Kodam dan Polda Papua.

Waktu itu Yusuf bermaksud menemani dan mengantar Kakaknya ke Warnet untuk mengecek E-mail, Setibanya di Warnet mereka mulai mengecek email, Karena ada beberapa point penting yang perlu dicatat maka Yusuf disuruh kakaknya mencarikan ballpoint sementara Kakaknya didalam Warnet Yusuf keluar untuk membelikan ballpoint di tokoh seberang, saat kembali inilah dia dihadang di depan WarNet oleh beberapa orang tak dikenal, Yusuf dicurigai sebagai Crew SPMNews dan ditangkap dan dihajar-habis-habisan lalu digotong ke Polda Papua. Kini Yusuf masih ditahan di Polda Papua untuk dimintai keterangan.

Provokator Intelejen Diusir Pulang dari Distrik Eragayam (Mbaliem) Jayawijaya

Pada bulan ini April 2006 pada beberapa minggu yang lalu tepatnya pada minggu pertama dan kedua ada dua orang anggota Intelejen dari Kodam Trikora mendatangi Kabupaten Jayawijaya, Kedua orang anggota Intelejen ini adalah orang asli Papua, mereka mengaku diri sebagai aktivis Papua Merdeka di Jayapura, setelah beberapa hari di Kota Kabupaten, kedua orang aktivis gadungan ini mendatangi salah satu Distrik di Jayawijaya, Distrik Eragayam yang mereka pilih dan datangi untuk memprovokasi massa yang ada di daerah tersebut.

Daerah ini dipilih kedua anggota Intel setelah mengetahui bahwa di Eragayam adalah basis massa anggota DeMMaK (Dewan Musyawarah Masyarakat Adat Koteka) yang akhir-akhir ini begitu gigih menyuarakan aspirasi Papua Merdeka baik didalam negeri maupun diluar negeri seperti Eropa dengan hadirnya Benny Wenda di Inggris Raya, cukup membuat panas kuping para elit politik dan Keamanan di Jakarta maupun di tanah Papua Barat.

Setibanya dua anggota Intel ini  di Distrik Eragayam, mereka mencoba mendekati para tokoh masyarakat disana dan meminta untuk diadakan pertemuan antara mereka dan seluruh tokoh-tokoh yang ada di daerah itu, baik tokoh masyarakat, tokoh agama tokoh pemuda dan tokoh perempuan.  Sesuai dengan kesepakatan keesok harinya pertemuanpun dilaksanakan, kedua anggota Intel ini menyampaikan maksud dan tujuan kedatangan mereka kepada beberapa tokoh yang hadir dalam pertemuan tersebut, menurut salah satu aktivis gadungan ini, mereka datang untuk melakukan upacara pengibaran bendera Bintang Kejora; Berikut kalimat provokasi yang sempat disampaikan kepada para tokoh agama :….Kita harus pertahankan issue yang sudah panas ini, kalo tidak kita akan kembali berjuang lagi dari awal, Sekarang ini sudah, kesemptan yang sangat baik buat kita orang Papua Barat untuk Merdeka jadi mari katong sama-sama adakan upacara pengibaran bendera Bintang Kejora……dst.

Karena para tokoh tidak percaya sepenuhnya dengan kedatangan orang asing ini sehingga mereka meminta untuk rencana ini ditunda pada minggu yang akan datang. Akhirnya kedua anggota Intel ini kembali ke Wamena, Setelah seminggu di Wamena mereka kembali mendatangi Distrik Eragayam dan mempertanyakan kembali kesiapan aksi atas pembahasan yang dibahas pada minggu lalu.

Para tokoh masyarakatpun tidak tinggal diam, mereka mencari kebenaran pengakuan kedua anggota Intelejen yang mengaku sebagai aktivis Papua ke seluruh jaringan baik di Jayapura, Jawa dan Luar Negeri dan setelah mengetahui kedua orang tersebut bukan aktivis Papua maka rencana para provokasi yang disusun rapi ini ditolak mentah-mentah oleh beberapa tokoh masyarakat tersebut dan mengusir mereka pulang kembali ke Wamena.

Karena aksi Provokasi yang sudah disusun rapi telah diketahui masyarakat umum dan dibatalkan maka kini ada beberapa Mahasiswa dan Pemuda yang bekerja pada DeMMak telah di catat nama-nama mereka oleh pihak intelejen Kodam dan Kodim Jayawijaya dan sedang diincar. Demikian dilaporkan crew SPMNews dari Mbaliem (Wamena) dan Port Numbay   (Jayapura) Papua Barat. (ktk)
__________________________________________
Sumber: http://www.papuapost.com

_____________________________
“BETRAYED but NOT DEFEATED”
Website: http://www.koteka.info

Sebulan Mengenang Almarhum Hans Wospakrik: Kecemerlangan dalam Kesederhanaan

Persis sebulan yang lalu, Indonesia kehilangan salah salah satu putra terbaiknya. Hans J. Wospakrik meninggal di RS Dharmais, Jakarta pada tanggal 11 Januari 2005 karena penyakit leukimia. Dosen Fisika Teoritik di ITB ini juga merupakan kebanggaan daerah asalnya, Papua. Bukan hanya kecermelangannya yang membuat banyak orang kehilangan dirinya, tapi terutama kesantunan dan kelembutan hati beliau. Komitmennya pada dunia pendidikan serta perhatiannya pada mahasiswanya meninggalkan kesan mendalam bagi bekas murid-muridnya. Tulisan ini hanya hendak sedikit mengenang kembali beliau, sehingga semangat positif dan nilai luhur yang diperjuangkan oleh alm. Hans J. Wospakrik dapat menginspirasi dan diteruskan oleh banyak orang.

Hans J. Wospakrik memang lahir dalam keluarga pendidik. Keluarga Wospakrik adalah keluarga yang terpandang di masyarakat Papua, sebagai keluarga pendidik. Saudara-saudaranya banyak yang berprofesi sebagai dosen juga; salah satunya, Frans Wospakrik,
menjadi rektor Universitas Cendrawasih.

Atas saran kakaknya, Hans J. Wospakrik muda masuk ITB tahun 1971 sebagai mahasiswa Teknik Pertambangan. Namun, Pak Hans tidak betah, sehingga tahun berikutnya Hans pindah ke jurusan Fisika ITB Pendidikan sarjananya diselesaikan tahun 1976. Akhir tahun 1970-an, Hans pergi ke Belanda untuk melanjutkan studi pascasarjana di bidang fisika teoritik. Minatnya terhadap bidang penelitian mulai berkembang di sana. Dia lebih tertarik melakukan pendidikan di luar bidang desertasinya, ujar Satria Bijaksana, dosen Fisika, Wakil Dekan FMIPA

Semenjak tahun 1999 beliau pergi ke Universitas Durham, UK. Tapi, program doktornya baru diambil pada tahun 2002 di universitas yang sama. Menurut Satria, yang juga bekas anak didik almarhum, di sana, beliau banyak mengadakan penelitian yang pantas dikagumi. Menurut Satria, dalam satu-dua tahun ke depan, Hans diharapkan sudah menjadi guru besar Departemen Fisika. Dari segi senioritas; dari segi akademik kami sudah berharap banyak, tuturnya.

Pada awal tahun 1980-an, sembari melanjutkan studi pascasarjananya, pernah mengadakan riset bersama Martinus JG Veltman, di Utrecht, Belanda, dan di Ann Arbor, Michigan, Amerika Serikat (AS). Tahun 1999, Veltman meraih Nobel Fisika.

Cemerlang dan Bersemangat
Beliau sangat mengutamakan originalitas, ungkap Fredy P. Zen, ketua Kelompok Bidang Keahlian (KBK) Fisika Teoritik, Departemen Fisika, ITB Bidang fisika teoritik memang salah satu bidang Fisika yang sulit; juga sulit dalam pengembangan penelitiannya. Publikasi beliau tidak sangat banyak, tapi originalitasnya pantas dikagumi, ujar Fredy, yang juga teman dekat almarhum Hans. Beberapa publikasinya diterbitkan di jurnal internasional, Physical Review D (1982 dan 1989), Journal of Mathematical Physics (2001 dan 2002), International Journal of Modern Physics (1991), serta Modern Physics Letters A (1986 dan 1989).

Semangat kerja beliau yang tinggi diakui oleh rekan-rekan staff pengajar Fisika. Kadang saya mengira sudah bekerja cukup keras. Sudah telat pulangnya, ujar Satria, Tapi begitu lewat kantor Pak Hans, masih ada beliau (di kantornya red.) Semangatnya tinggi sekali tapi juga low-profile, ungkap Boby E. Gunara, rekan dosen Fisika teoritik yang satu ruangan dengan almarhum Hans.

Sebelum almarhum pergi ke RS Dharmais di Jakarta, bahkan, almarhum Hans masih menyempatkan diri untuk membuat kunci jawaban ujian mahasiswa S-1. Hans juga telah meminta tolong Boby untuk memeriksa ujian-ujian mahasiswanya. Tanggung jawabnya sebagai pengajar dan pembimbing tidak pernah dilupakannya, kendati sedang sakit parah sekalipun.

Kesetiaan pada ITB
Kecemerlangannya membuat banyak pihak menawarkan pada Hans tawaran mengajar dan proyek-proyek tertentu. Banyak sekali yang menawarkan Pak Hans, ungkap Fredy, Terakhir itu, Pak Hans ditawarkan mengajar di Kyoto University. Tapi, Hans tidak pernah mau menerima tawaran-tawaran itu walaupun bayarannya tinggi.

Dia dosen yang benar-benar setia dan sederhana, kenang Fredy. Setiap kali ditanya mengapa tidak mau menerima tawaran menggiurkan itu, Hans selalu menjawab dengan: saya malas . Tapi, Fredy yakin bahwa ada alasan yang lebih besar, mengapa almarhum Hans menolak banyak tawaran itu.

Kepergian yang Mendadak
Tidak ada yang menyangka tokoh pendidik kebanggaan masyarakat Papua ini akan pergi begitu cepat. Kalau orang melihat perawakan Pak Hans yang tegap dan gagah, tidak akan ada yang menyangka kalau beliau sakit, ungkap Satria. Rekan-rekannya tidak ada yang mengetahui bahwa Hans mengidap leukimia. Bahkan Hans sendiri baru memeriksakan diri dan mengetahui bahwa dirinya mengidap leukimia seminggu sebelum beliau meninggal.

Hari Jumat, 7 Januari, Hans masuk RS Dharmais, Jakarta. Rekan-rekan dosen yang mengetahui hal ini sudah berencana menjenguk tapi tidak segera karena banyak yang mengira bahwa walaupun leukimia itu penyakit berat, namun prosesnya butuh waktu lama. Teman-teman di Fisika mengira ya, Pak Hans mau kontrol ke Jakarta, ujar Satria. Tidak ada yang mengira lima hari kemudian beliau meninggal.

Fredy, yang dekat dengan almarhum mengungkapkan bahwa memang Hans pernah mengeluh lemas dan tidak enak badan. Waktu itu, dikira karena pengaruh diet, ujar Fredy. Saat itu Hans memang sedang diet tidak makan daging untuk menekan kolesterol. Setahunya, Hans memang tidak pernah mengeluh sakit kepada siapa pun kecuali dirinya. Mungkin beliau tidak mau orang khawatir, ujar Fredy.

Saat halal bihalal 2004, Hans memang tampak lebih kurus tapi tetap bersemangat. Waktu itu kami bercanda, bahwa ini karena diet, kenang Fredy. Menurutnya, terakhir bertemu dengan almarhum adalah Desember 2004, Hans menceritakan dengan bersemangat bahwa dirinya baru saja mengirimkan kartu natal bersamaan dengan hasil penelitiannya terakhir kepada profesor pembimbingnya di Durham, UK.

Saat Hans sering tidak ke kampus, tidak banyak rekan-rekan atau mahasiswanya yang mempunyai prasangka negatif. Teman-teman mengira Pak Hans itu flu. Kan sedang musim hujan, ujar Fitria Armalivia, mahasiswa program sarjana Departemen Fisika yang tugas akhirnya dibimbing oleh almarhum. Bulan Desember 2004 ada banyak liburan dan juga merupakan masa ujian semester sehingga dosen-dosen pun jarang bertemu, ungkap Satria. Mahasiswa sibuk belajar dan dosen mempersiapkan serta memeriksa ujian.

Hubungan dengan Mahasiswa
Hans memang bukan tepatnya dosen yang gaul dengan mahasiswanya, namun Hans selalu mengutamakan mahasiswanya. Kalau diajak berdiskusi tentang Fisika, dia sangat bersemangat, ungkap Fredy. Walaupun harus pulang sampai larut malam pun, Hans tetap mau meladeni mahasiswa yang berkonsultasi dengannya.

Kuliah yang dipegangnya bukan kuliah gampangan, tapi karena cara mengajarnya, kuliahnya menjadi mudah. Pak Hans bilang kalau kehadiran kuliah gak wajib, tapi justru kita yang selalu ingin dateng ke kuliah Pak Hans, ujar Arma, Sayang kalau ketinggalan kuliah Pak Hans. Hans memang dikenal pandai mengajar. Kalau kita tanya sesuatu, pasti ceritanya panjang, bukan cuma ngasih definisi. Karena menurut Pak Hans, kita harus bisa ngerti sendiri, bukan cuma dikasih definisi dan bisa ngitung, kenang Arma. Dia bisa membuat hal sulit menjadi kelihatan mudah, ujar Satria yang pernah menjadi mahasiswa Hans juga. Saat mengajar, Hans selalu membawa catatan kuliah yang ditulis sendiri dengan tulisan tangan tanda bahwa selalu mempersiapkan diri sebelum memberikan kuliah.

Dalam membimbing mahasiswanya, Hans itu tidak pernah terburu-buru. Pekerjaan beliau juga dikenal rapih. Saya pernah mengalami masalah dalam suatu perhitungan. Enam kali pertemuan dengan Pak Hans, baru ketemu salahnya, kenang Arma, Pak Hans itu benar-benar telaten. Hans memang selalu involve dalam kegiatan mahasiswanya. Tidak hanya omong, kenang Satria Beliau ikut terlibat dalam setiap pekerjaan dan tugas anak-anak bimbingannya.

Pak Hans itu sangat encouraging, ujar Fredy, rekan dosen yang juga pernah menjadi mahasiswa almarhum, Dia selalu mendorong yang muda-muda. Hal ini juga tampak dalam kuliah-kuliah yang beliau berikan. Dia tidak mau jadi yang pintar sendiri, kenang Fredy, Saya belajar banyak tentang cara mengajar dari beliau.

Banyak rekan-rekan dan mahasiswanya yang amat kehilangan dengan sikap beliau yang santun dan hormat. Pak Hans betul-betul menempatkan orang dengan respek, semua orang diperlakukan dengan santun dan hormat, kata Satria, Dia hebat tapi tetap santun.
***
Bukan hanya Departemen Fisika atau masyarakat Papua yang kehilangan beliau. ITB dan juga, Indonesia telah kehilangan satu individu yang patut dibanggakan: hebat, potensial, tapi juga rendah hati dan santun. Kesantunannya dalam bersosialisasi dengan siapapun serta keterlibatannya pada setiap mahasiswanya patut dijadikan contoh. Kesetiaan dan komitmennya pada ITB terwujud dalam prinsipnya yang benar-benar fokus dalam pekerjaannya mengajar dan meneliti; tawaran mengajar atau ber- proyek selalu ditolaknya. Diluar kecermelangan serta semangatnya yang tinggi dalam mengajar serta meneliti, Hans tetap menjadi pribadi yang ramah serta sederhana. Bahkan, pulang-pergi dari ITB menuju rumah kontrakannya, Hans masih menggunakan kendaraan umum.

Banyak potensi dan perjuangan almarhum Hans Wospakrik yang belum selesai. Semoga keutamaan almarhum Hans Wospakrik dan nilai-nilai yang beliau perjuangkan dapat menginspirasi kita dan dapat dilanjutkan oleh kita: masyarakat ITB dan masyarakat Indonesia.

Jumat, 11 – Februari – 2005, 12:21:00 | krisna, Sumber: ITB News
antonius krisna murti
10/2/05 11.12 pm

Enhanced by Zemanta

Panglima TNI: Sistem Rudal Australia Bukan Ancaman

TEMPO Interaktif, Jakarta: Panglima Tentara Nasional Indonesia, Jenderal Endriartono Sutarto menyatakan, keberadaan rudal yang dimiliki negara tetangga Australia bukanlah ancaman terhadap Indonesia.

TEMPO Interaktif, Jakarta: Panglima Tentara Nasional Indonesia, Jenderal Endriartono Sutarto menyatakan, keberadaan rudal yang dimiliki negara tetangga Australia bukanlah ancaman terhadap Indonesia. “Tidak seharusnya kita melihat sebagai ancaman. Kita tidak perlu khawartir,” katanya di Jakarta, Minggu (29/8).

Menurut Endriartono, pada dasarnya setiap negara mempunyai hak untuk mempertahankan wilayahnya dari ancaman. “Mereka memerlukan rudal itu dan mempunyai kemampuan untuk memiliki, itu hak mereka,” katanya. Indonesia diharapkan untuk tidak mengikutinya dengan perlombaan senjata, melainkan dengan membina hubungan baik dengan negara-negara lain. “Menciptakan persahabatan yang sangat baik, justru akan menguntungkan semua pihak,” katanya.

Kamis lalu Australia mengumumkan rencana pengembangan peluru kendali dari udara senilai A$ 350-450 juta dolar. Rudal ini memiliki kemampuan menghancurkan sasaran hingga jarak 400 kilometer. Sejauh ini belum diketahui apa motif Australia memiliki senjata berat itu, walau sebelumnya sempat dikatakan, Indonesia merupakan ancaman terbesar.

Edy Can – Tempo News Room
Written by Administrator, Monday, 30 August 2004
http://web.archive.org/web/20040831113545/http://papuapost.com/Mambo/index.php?option=content&task=view&id=43

Up ↑

Wantok Coffee

Melanesia Single Origin Coffee

MAMA Minimart

MAMA Stap, na Yumi Stap!

PT Kimarek Aruwam Agorik

Just another WordPress.com site

Wantok Coffee News

Melanesia Foods and Beverages News

Perempuan Papua

Melahirkan, Merawat dan Menyambut

UUDS ULMWP

for a Free and Independent West Papua

UUDS ULMWP 2020

Memagari untuk Membebaskan Tanah dan Bangsa Papua!

Melanesia Spirit & Nature News

Promoting the Melanesian Way Conservation

Kotokay

The Roof of the Melanesian Elders

Eight Plus One Ministry

To Spread the Gospel, from Melanesia to Indonesia!

Koteka

This is My Origin and My Destiny