Faktor Alam, Penyebab Jatuhnya Helikopter Freeport

Kamis, 11 Oktober 2012 07:16, BintangPapua.com

JAYAPURA— Musibah jatuhnya Helikopter Airfast jenis M 18 milik PT Freeport Indonesia di Perbukitan Tembagapura, Kabupaten Mimika, Selasa (9/10) sekitar pukul 07.20 WIT akibat faktor alam, bukan kerusakan mesin.

Kepala Bagian Operasional Polres Mimika, Kompol Albertus Andreana, SIK via ponselnya, Rabu (10/10) malam.

Dia menjelaskan, saat terjadi kecelakaan cuaca disekitar lokasi tengah dikeliling kabut, sehingga memperpendek jarak pandang pilot saat hendak melakukan landing di landasan Helipad yang berjarak 30 meter dari posisi jatuh.
Kata dia, ketika terjadi musibah cuaca tengah kabut padahal helikopter tersebut berada pada posisi landasan Halipad, sehingga terbang rendah. Namun, pilot kaget Helikopter masih berada dibawah bukit, sehingga helikopter tersebut jatuh dari ketinggian 10 meter. Sedangkan posisi jarak landasan sekitar 30 meter.

Namun demikian, lanjutnya, pihaknya hingga kini belum menerima laporan lebih lanjut terkait kondisi dan keberadaan helikopter naas tersebut.

”Saya belum menerima laporan lanjutan, apakah Helikopter ini sudah diangkat dari lokasi atau belum, apalagi peristiwa ini tidak menjadi sorotan pihak perusahaan, karena seluruh penumpang dalam keadaan selamat,” ujarnya. Sebagaimana diwartakan, Helicopter Airfast jenis M 18 milik PT Freeport Indonesia di Perbukitan Tembagapura, Kabupaten Mimika, Papua, Selasa (9/10) sekitar pukul 07.20 WIT. Tapi, Pilot Mr. Igor, Co Pilot Mr. Vladimir dan Engginner Victor. Semuanya warga negara Rusia, penumpang 26 orang karyawan selamat serta kondisi Helikopter masih dalam keadaan utuh dan tak terbakar, sementara masih dilakukan evakuasi penumpang dan awak Helicopter ke Rumah Sakit Tembagapura. (mdc/don/l03)

Helikopter Freeport Jatuh, 29 Orang Selamat

Rabu, 10 Oktober 2012 06:01, BintangPapua.com

I Gede S. Jaya
I Gede S. Jaya

JAYAPURA—Lagi-lagi, dunia penerbangan di Papua mengalami musibah. Jika sebelumnya Pesawat milik Tariku jatuh di wilayah Kabupaten Yahukimo dan menewaskan pilot serta seorang penumpangnya, kini giliran sebuah Helikopter Hevylift milik Nyaman Air Tipe MIL 8 No. REG: ER-MHL yang sedang mengangkut karyawan PT Freeport jatuh di Tembagapura. Helikopter nahas ini Dipiloti Mr. Igor, Co Pilot Mr. Vladimir dan Engginner Victor. Semuanya warga negara Rusia, penumpang 26 orang karyawan jatuh ke tebing gunung yang berjarak sekitar 10 meter dari udara, setelah take off (lepas landas) dari Bandara Moses Kilangin Timika tujuan Tembagapura sesaat sebelum landing di Helipad Tembagapura, Kabupaten Mimika, Papua, Senin (9/10) sekitar pukul 07.20 WIT.

Beruntung 29 orang yang ada di dalam pesawat itu ( 3 Kru dan 26 penumpang) selamat serta Kondisi Helikopter masih dalam keadaan utuh dan tak terbakar, sementara masih dilakukan evakuasi penumpang dan awak Helikopter ke Rumah Sakit Tembagapura.

Pjs. Kabid Humas Polda Papua AKBP I Gde S Jaya, SIK yang dikonfirmasi via ponsel, Selasa (9/10) menyampaikan pihaknya hingga kini belum menerima laporan terkait musibah Helikopter di Tembagapura tersebut.

“Saya akan konfirmasi ke Timika dulu ya,” tukasnya.

Dari keteranga saksi, ketika hendak landing yang kedua kalinya dari Timika, kelihatan Helikopter terbang agak rendah karena ada kabut sehingga ada baling-balingnya menyentuh pinggiran tebing, maka Helikopter terlihat sepertinya terpaksa mendarat ke pinggir bukit yang cukup dalam sekitar 30 meter dari landasan Helipad Tembagapura. Jatuhnya Helikopter yang sedang mengangkut perja Tambang Freeport ini juga dibenarkan Jubir PTFI, Ramdani Sirait.
Dalam keterangannya yang diterima Bintang Papua, Ramdani mengatakan, pada sekitar pk. 7.21WIT kemarin, Helikopter Mil-8 mencoba lakukan pendaratan di helipad MP66, & terpaksa mendarat darurat di area perbukitan di bawah landasan pendaratan.

Namun diakui Tidak ada korban jiwa dari 26 penumpang, 3 awak heli, mtk luka dan sudah diperiksa di RS Tembagapura. Penyebab kecelakaan ini masih dalam investigasi. Ada indikasi masalah pada mesin helicopter. Cuaca kabut ketika heli akan mendarat, tapi disinyalir bukan menjadi faktor penyebab. Heli dioperasikan oleh PT Hevilift Aviation Indonesia dan adalah penerbangan rutin karyawan PTFI dan kontraktornya dari bandara Timika ke helipad MP 66.

Berikut ini daftar penumpang antara lain, Lukman Hamma, Sokoy Reinhard, Lukas David, Paillips Michael, Gaylerd Leane, Anin Nova, Rusdin, Yawan Alex, Jackson Michael, Susan Gilman, Michael A Demoth, Margareth Youne, Wiyono, Nerekouw Steven, Mambay Eqberg, Nussy Alex, Bachmid Salim, Woldrand, Irianto, Rouulika Yoxan, Christian Ruth, Reza Mohammad, Kurniawan Edi, Rantelino Johni. (mdc/don/don/l03)

Semarak HUT TNI Tinggalkan Duka

Usai Upacara, Kadis Ops Lanud Jayapura Meninggal Dunia

SENTANI—Semarak HUT TNI ke-67 yang jatuh pada tanggal 5 Oktober 2012 ini meninggalkan duka tersendiri bagi jajaran Lanud Jayapura. Pasalnya, usai mengikuti upacara HUT TNI ke-67 di Bumi Perkemahan (Buper) Waena, Kadis Ops Lanud Jayapura Letkol Pnb Wellem Anton Mengko menghembuskan nafas terakhirnya di Rumah Sakit Dian Harapan Waena,  karena mengalami sesak napas pada pukul 14.10 WIT.
Komandan Lanud (Danlanud) Jayapura Kolonel Pnb Diyah Yudanardi mengatakan kronologis kejadiannya,  terjadi seusai melaksanakan upacara di Buper Waena, Kadis Ops sempat pulang ke Lanud. Tiba-tiba mengalami sesak nafas dan pusing lalu dibawa ke klinik Lanud. Namun karena semakin parah, akhirnya dirujuk ke Rumah Sakit Dian Harapan yang berada di Waena.

“Kami tiba di RS Dian Harapan sekitar pukul 13.15 WIT dan kondisi Kadis Ops masih dalam keadaan sadar,” ujarnya kepada Bintang Papua Jumat malam (05/10) ketika dihubungi melalui telepon celularnya.

Menurut Danlanud, meskipun sudah cepat dibawa ke rumah sakit tetapi ternyata Kadis Ops tetap tidak bisa tertolong. Kini, jenazahnya  disemayamkan di Lanud dan rencananya besok pagi (hari ini-Red) akan diterbangkan ke Manado dengan pesawat yang paling pagi.
“Kami tidak tahu akan menggunakan pesawat apa, kita lihat besok pagi, pesawat apa yang paling pagi ke Manado, itu yang akan digunakan,” jelasnya.

Ketika ditanya mengenai sosok Kadis Ops, Danlanud menuturkan bahwa Kadis Ops merupakan sosok yang bertanggung jawab, berintegritas dan berdedikasi tinggi sehingga pihaknya sangat merasa kehilangan. “Selain pribadi yang menyenangkan, jabatan yang didudukinya sangat penting. Pasalnya, Kadis Ops merupakan jabatan yang membantu Komandan Lanud di bidang operasi. Apalagi, beliau juga merupakan lulusan Ikatan Dinas Pendek (IDP),” urainya.

Diungkapkan, Kadis Ops sebelumnya tidak memiliki riwayat kesehatan yang buruk. Bahkan setelah mengikuti upacara, Kadis Ops masih sempat mengobrol dengan Danlanud. “Secepatnya kami akan isi kekosongan ini karena jabatan yang ditinggalkan merupakan jabatan yang penting,” tambah Danlanud. (dee/don/l03)

Penerbangan Tariku Distop

Senin, 08 Oktober 2012 06:41, BintangPapua.com

Tampak jenazah Capt. Chris ketika hendak dibawa ke Pemakaman Umum Sentani dari rumah duka Minggu sore (07/10)
Tampak jenazah Capt. Chris ketika hendak dibawa ke Pemakaman Umum Sentani dari rumah duka Minggu sore (07/10)
SENTANI— Jenazah Capt. Christian Yus, pilot pesawat jenis PAC 750 XSTOL dengan nomor registrasi PK-RWT milik maskapai penerbangan Tariku Aviation, yang jatuh di Kampung Dagi Kabupaten Yahukimo, akhirnya berhasil diterbangkan kembali ke Sentani Sabtu siang (06/10) pukul 12.30 WIT.

Sementara itu akibat musibah kecelakaan pesawat ini, pihak Tariku akan menghentikan (stop) penerbangan untuk sementara waktu.

Hal itu dibenarkan Program Manager Tariku Aviation, Robin Hood Ratuntiga kepada Bintang Papua Minggu sore (07/10) di Sentani.

Dijelaskan, setelah sampai ke Sentani, jenazah pilot langsung dibawa ke Rumah Sakit Dian Harapan Waena oleh pihak keluarga untuk dimandikan dan ditempatkan ke dalam peti mati.

Sedangkan untuk jenazah penumpangnya diserahkan kepada pihak keluarganya di Kampung Corupun Kabupaten Yahukimo.
“Sekitar pukul 17.00 WIT, setelah pulang dari rumah sakit, jenazah kami semayamkan di rumah duka yang berlokasi di Jalan Gereja Silo depan Batalyon 751 Sentani,” tandasnya.

Dikatakannya, jenazah Capt. Chris dimakamkan pada Minggu sore (17/10) di pemakaman umum Sentani pada pukul 15.00 WIT dengan dihadiri oleh teman-teman sejawatnya dan handai taulan.

“Sekitar pukul 13.00 WIT, sebelum dimakamkan, pihak keluarga mengadakan ibadah pelepasan jenazah di rumah duka,” imbuhnya. Diungkapkan Robin, pihaknya sangat kehilangan sosok Capt. Chris tetapi diketahui bersama bahwa di dalam Alkitab sudah disebutkan bahwa tidak ada manusia yang dapat menghindari hal ini sehingga semuanya merupakan baik adanya.

Sedangkan ketika ditanyai mengenai aktivitas penerbangan di Tariku Aviation, Robin menegaskan bahwa penerbangan untuk sementara ini akan dihentikan.

“Kami belum tahu sampai kapan akan dhentikan, yang jelas besok (hari ini-Red) pihak kami belum melayani penerbangan,” tukasnya.

Untuk diketahui, maskapai penerbangan Tariku Aviation melayani penerbangan ke wilayah pedalaman dan pegunungan Papua seperti Mamberamo dan Yahukimo. (dee/don/l03)

Jenazah Awak Tariku Ditemukan Utuh

Sabtu, 06 Oktober 2012 09:30, BintangPapua.com

Pesawat Caravan Tariku
Pesawat Caravan Tariku
SENTANI—Setelah dilakukan pencarian selama 3 hari sejak dinyatakan hilang kontak, Rabu siang (03/10) sekitar pukul 11.00 WIT, akhirnya bangkai pesawat jenis PAC 750 XSTOL bernomor registrasi PK-RWT milik maskapai penerbangan Tariku Aviation, dengan rute Dekai-Corupun-Dekai, ditemukan.

Demikian juga Pilot bernama Capt. Christian Yus dan seorang penumpang bernama Poldus Osu ditemukan dalam kondisi tewas, Jumat siang (05/10) 13.00 WIT. Korban dan bangkai pesawat ditemukan oleh tim SAR gabungan yang berhasil sampai di lokasi kecelakaan yakni di Kampung Dagi Kabupaten Yahukimo.

Hal ini disampaikan Program Manager Tariku Aviation, Robin Hood Ratuntiga kepada wartawan usai mendapatkan informasi melalui telepon satelitnya Jumat (05/10).

Dijelaskan, akibat cuaca ekstrim akhirnya jenazah batal diterbangkan ke Sentani, sehingga direncanakan besok pagi (hari ini-Red) baru dapat dievakuasi ke Sentani oleh pesawat AMA.

“Kondisi jenazah masih utuh dan ditemukan di dalam pesawat,” imbuhnya.

Disebutkan, prediksi sementara, kecelakaan pesawat ini diakibatkan oleh perubahan cuaca yang sangat ekstrim.
“Kami belum bisa memastikan penyebab kejadian ini, tetapi cuaca ekstrim menjadi satu-satunya penyebabnya,” tandasnya.
Dipaparkan Robin, saat ini jenazah telah disimpan di kantong mayat dan sudah masuk di dalam helly pad atau landasan pesawat dan telah siap diberangkatkan kapanpun jika kondisi cuaca memungkinkan. “Tetapi ternyata rencana yang sudah kami susun untuk menerbangkan jenazah kembali ke Sentani gagal. Pasalnya, cuaca tiba-tiba berubah menjadi ekstrim dan akhirnya kami harus menerbangkan jenazah keesokan harinya (hari ini-Red),” urainya.

Robin mengatakan, saat ini pihaknya juga telah mengabarkan berita duka ini kepada keluarga korban secara resmi. Yang mana evakuasi pada Sabtu (06/10) akan menggunakan helicopter dari Timika dengan alat bantu yang canggih.

“Kami sungguh berharap agar cuaca bisa kembali normal dan terang sehingga rombongan tim SAR gabungan dapat menuju Dekai atau minimal menuju Kampung Corupun sehingga pihak kami bisa mengambil inisiatif untuk menentukan jenazah pilot kapan akan dievakuasi ke Sentani,” pungkasnya.

Ditambahkan, rencananya jenazah pilot akan disemayamkan dulu di hanggar Tariku untuk selanjutnya akan dibawa ke rumah duka. Sedangkan jenazah penumpangnya langsung dibawa ke kampungnya di Corupun oleh pihak keluarganya. (dee/don/l03)

Lagi, Penembak Misterius Beraksi di Timika

JAYAPURA – Lagi, aksi penembakan oleh kelompok tak dikenal terjadi di areal jalan tambang PT Freeport Indonesia, Sabtu 29 Oktober sekitar 08.30 WIT, Tepatnya di Mile 36. Meski sempat terjadi adu tembak, tapi tidak ada korban dalam kejadian itu.

Juru Bicara Polda Papua, Kombes Wachyono mengatakan, pelaku menembak mobil patroli anggota TNI. ‘’Pada saat patroli TNI dari cek point 40 melakukan patroli ke mile 36, mereka Mendengar bunyi tembakan dari dalam hutan, setelah mendengar bunyi tembakan patroli TNI melakukan tembakan balasan ke dalam hutan sambil mengejar pelaku penembakan, ke arah bunyi tembakan,’’ ujarnya. Brimob yang berada di mile 40 juga menyusul ke mile 36 dan berusaha melakukan pengejaran. ‘’Hasilnya nihil, pelaku berhasil menghilang di dalam hutan,’’paparnya.

Namun, yang pasti, tidak ada korban dalam kejadian itu, baik dari TNI maupun Brimob.

Sementara itu, Bupati Kabupaten Puncak Jaya Lukas Enembe mendapat surat dari kelompok yang mengaku TPN/OPM dan mengklaim sebagai yang bertanggung jawab atas penembakan terhadap Kapolsek Mulia, Dominggus Otto Awes, sama seperti surat yang diterima Kapolres Puncak Jaya AKBP Alex Korwa.

‘’Saya terima surat itu dari seseorang yang mengakui sebagai wakil komandan operasi OPM bernama Rambo Wonda,’’kata Lukas Enembe, ketika dihubungi via selulernya, Sabtu 29 Oktober.

Isi surat itu kata Enembe ‘’Kami sampaikan kepada Bapak Bupati Puncak Jaya, bahwa yang bertanggung jawab atas perampasan senjata dan penembakan Kapolsek di 8andara Mulia adalah Kodam X dibawah komandan Purom alias Okinak Wonda. Kalau bapak-bapak TNI dan Polisi mau cari kami, silahkan datang ke Kampung Pilia, kami siap menunggu. Jangan melakukan operasi di Ligitime sampai Girimuli, kalau mau operasi silahkan kirimkan orang non Papua.’’

Enembe mengakui, kelompok ini diluar komando Goliat Tabuni yang memiliki markas di Yambi dan Tingginambut. ‘’Pusat militer mereka di Pilis daerah Kuyawage di Kabupaten Intan Jaya, memang dulunya mereka dibawah komando kelompok Marunggen, yang sekarang ternyata sudah memiliki komandan baru dan mengatasnamakan Kodam X serta senjata api yang lumayan banyak,’’terangnya.

Menurutnya, Kelompok ini adalah sayap militer OPM, dimana, ada 30 sayap militer mereka, dan dipusatkan di Tingginambut. Lanjut Enembe, saat surat itu disampaian, dirinya sempat memberikan bendera merah putih untuk mereka bawa pulang, tapi ditolak. Mengenai situasi terkahir Puncak Jaya, Enembe menyatakan berangsur pulih, namun/malam hari, Patroli aparat keamanan lebih diintensifkan. (jir/don/l03)

MRP Tidak Akan Campuri Kongres III

Timotius Murib

JAYAPURA – Tampaknya Majelis Rakyat Papua (MRP) tidak akan terlibat jauh dalam rencana pelaksaan Kongres Rakyat Papua III yang rencananya akan dilaksanakan dalam waktu dekat. Hal itu tercermin dari pernyataan Ketua MRP Timotius Murib. Ia mengatakan, MRP sebagai lembaga representatif kultural Papua tidak akan mencampuri segala proses hingga digelarnya Kongres Rakyat Papua III.

Dikatakan, terkait Kongres III ini, posisi MRP diluar, MRP sebagai lembaga Negara, mengambil peran memantau saja kegiatan kongres rakyat Papua yang akan digelar. “ Bila memang kongres rakyat Papua III itu jadi digelar,” ungkap Timotius Murib kepada Bintang Papua, Rabu ( 12/10) di PTC Entrop. Dikatakan MRP melakukan pemantauan, sebab segala kegiatan yang akan dilakukan oleh rakyat Papua, jadi tanggung jawab MRP, namun tidak akan terlibat dalam semua kegiatan kongres Rakyat Papua III.

Sementara itu, terkait penyelesaian konflik Freeport, Majelis Rakyat Papua ( MRP) sejak kemarin pagi telah mengutus 10 orang anggota ke Timika untuk melakukan mediasi dengan kelompok kelompok yang bertikai, antara manajemen dan pihak Karyawan. Ia mengatakan, konflik Freeport jangan dibiarkan berlarut larut, sebab berlarut larutnya penyelesaian masalah Freeport dampak buruknya akan dirasakan semua pihak, Pemerintah, masyarakat, terutama Karyawan dan manajemen.

Untuk itu dengan mediasi yang akan dilakukan MRP, diharapkan manajemen Freeport dan SPSI harus jujur, terbuka terhadap semua pihak terutama Pemerintah. DPRP dan MRP yang akan berupaya memediasi konflik Freeport, tanpa keterbukaan dan kejujuran untuk mengatakan kondisi sebenarnya, semua akan sia sia.

Dikatakan manejemen Freeport perlu mengakomodir keluh kesah SPSI, maka penyelesaian melalui mediasi MRP, DPRP dan Pemerintah akan sia sia.” Kami minta kejujuran Freeport untuk menceritakan kondisi sebenarnya, sebaliknya SPSI juga demikian, mediasi yang dilakukan 10 anggota MRP ini hendaknya ditanggapi serius dua belah pihak”. (Ven/don/l03)

UN Minta Indonesia Pertimbangkan Kedatangan Pelapor Khusus PBB

FOKER LSM Papua, Sawit Watch, Greenpeace, SKP Jayapura dan Walhi dan Sorpatom menyampaikan keterangan soal mega proyek MIFFE di Merauke di Swissbelt Hotel, Jayapura, Rabu (12/10)
FOKER LSM Papua, Sawit Watch, Greenpeace, SKP Jayapura dan Walhi dan Sorpatom menyampaikan keterangan soal mega proyek MIFFE di Merauke di Swissbelt Hotel, Jayapura, Rabu (12/10)
FOKER LSM Papua, Sawit Watch, Greenpeace, SKP Jayapura dan Walhi dan Sorpatom menyampaikan keterangan soal mega proyek MIFFE di Merauke di Swissbelt Hotel, Jayapura, Rabu (12/10)

JAYAPURA—Proyek Merauke Integrated Food and Energy Estate (MIFEE) telah mendapatkan tanggapan dari Komite Penghapusan Diskriminasi Rasial PBB melalui surat yang dikirim Chairperson of the Committee on the Elimination of Racial Discrimination Anwar Kemal kepada Duta Besar Untusan Tetap dan Misi Tetap Indonesia di Genewa H.E.M Dian Triansyah Djani dimana salah satu komisi PBB ini meminta kepada pemerintah Indonesia tentang beberapa hal. Pertama, mempertimbangkan mengundang Pelapor Khusus PBB tentang situasi HAM dan kebebasan dasar masyarakat adat. Kedua, bertemu dengan Komite CERD guna membicarakan masalah masalah ini, dalam sidang Komite mendatang di Genewa dari tanggal 13 Pebruari sampai 13 Maret 2012. Ketiga, menyampaikan informasi tentang semua isu dan masalah yang dijabarkan dalam surat tersebut, sebelum tanggal 31 Januari.

Hal ini disampaikan Koalisi Lembaga Swadaya Masyarakat (LSM) antara lain FOKER LSM Papua, Sawit Watch, Greenpeace, SKP Jayapura dan Walhi serta Sorpatom ketika menggelar jumpa pers di Swissbelt Hotel, Jayapura, Rabu (12/10)

Koalisi LSM mengatakan, menanggapi respons PBB terhadap proyek MIFEE, Koalisi LSM mendesak pemerintah Indonesia agar menghentikan secara total setiap aktivitas yang berkaitan dengan proyek MIFEE dan mengundang pelapor khusus PBB tentang situasi HAM dan kebebasan dasar masyarakat adat untuk meninjau proyek tersebut sebelum 31 Januari 2012.

MIFEE untuk Estat Pangan dan Energi Terpadu Merauke disebut sebut bermakna sangat strategis bagi keamanan persediaan pangan dan cadangan energi Indonesia.

Proyek yang menelan 1,6 juta hektar itu diharapkan akan menghasilkan jutaan ton beras, jagung, kacang kacangan, daging sapi, gula dan seterusnya. Cita cita yang begitu muluk itu ternyata membuat orang tutup mata terhadap masalah besar yang sekarang sudah dihadapi oleh warga Merauke yang tanah mereka tertelan proyek MIFEE.

MIFEE bisa dikatakan mega proyek ambisius pemerintah Indonesia. Slogannya adalah bagaimana Indonesia bisa memberikan makan dunia. Proyek ambisius ini mencakup lahan seluas 1,6 juta hektar yang ingin disulap menjadi sebuah wilayah agribisnis. Harapannya bisa menghasilkan pangan yang bisa diekspor keluar negeri. Dengan kata lain MIFEE berorientasi ekspor.

Dalam proyek MIFEE dikabarkan sudah ada 36 investor yang tertarik untuk menanamkan modal senilai Rp 18,9 triliun. Sementara yang lainnya merupakan pemodal dalam negeri.

Riset dan pengamatan berbagai pihak, terutama NGO terhadap proyek MIFEE telah mengindentifikasi beberapa masalah sebagai berikut. Pertama, proyek yang mencapai 2 juta ha tanah tanah masyarakat adat ini telah berdampak dan akan terus mengancam keberadaan hak hak masyarakat adat.

Kedua, selain yang dilaporkan juga ekspansi tersebut akan merambah dan menggusur tanah tanah masyarakat adat untuk mendukung kelapa sawit, pembalakan kayu akan menyebabkan membludaknya para pekerja dari luar bukan penduduk dari luar, dan semakin mempertaruhkan masa depan mereka, menghilangkan berbagai pilihan sumber penghidupan dan penghancuran ekonomi tradisional mereka. Kenyataan ini akan membuat masyarakat adat Marind (khususnya) dan masyarakat adat Papua secara umum akan terdesak dan menjadi minoritas di atas tanahnya sendiri.

Ketiga, aktivitas aktivitas perambahan di lahan yang direncanakan didukung oleh negara pihak dan menikmati perlindungan dari TNI.

Keempat, pengambilan keputusan mengenai eksploitasi Sumber Daya Alam (SDA) masih sangat tergantung pada pemerintah pusat dan dikontrol oleh UU Nasional yang mengabaikan masyarakat adat, kendati sudah ada UU Otsus Papua tahin 2001 yang dimaksudkan untuk desentralisasi pengambilan kebijakan atas berbagai permasalahan yang dijabarkan kepada tingkat provinsi dan yang belum dilaksanakan karena peraturan turunan tak ada.

Kelima, diduga sebagian besar wilayah MIFEE diklasifikasikan sebagai “hutan” dan dibawah Kementerian Kehutanan yang diduga menafsirkan UU Kehutanan tahun 1999 semakin membatasi hak hak masyarakat adat.

Keenam, telah terjadi manipulasi atas masyarakat oleh investor da pejabag pejabat negara untuk mendapatkan tanda tangan yang diperlukan untuk memenuhi persyaratan persyaratan hukum membuktikan sertifikat hak atas tanah adat. (mdc/don/l03)

Tim Evakuasi Susi Air Nyaris Celaka

Helikopter Penerbangan TNI Angkatan Darat (Penerbad) jenis Bell-412 dengan nomor register HA 5113 pengangkut tim evakuasi bangkai Susi Air, mendarat darurat di wilayah Pegunungan Jayawijaya. Tidak ada korban jiwa dalam musibah ini
Helikopter Penerbangan TNI Angkatan Darat (Penerbad) jenis Bell-412 dengan nomor register HA 5113 pengangkut tim evakuasi bangkai Susi Air, mendarat darurat di wilayah Pegunungan Jayawijaya. Tidak ada korban jiwa dalam musibah ini

JAYAWIJAYA- Helikopter Penerbangan TNI Angkatan Darat (Penerbad) jenis Bell-412 dengan nomor register HA 5113 yang sebelumnya dikabarkan hilang kontak dengan petugas menara pengawas di Bandara Mozes Kilangin Timika mendarat di Pegunungan

Ombin, Kabupaten Jayawijaya, Sabtu (10/9) petang. Pesawat ini sedang mengangkut tim evakuasi kru pesawat Susi Air yang jatuh sebelumnya. Akibatnya rombongan penyelamatan ini justru nyaris celaka. Kepala Bidang Perhubungan Udara Dinas Perhubungan, Komunikasi, dan Informatika Mimika, John Rettob, kepada ANTARA di Timika, Minggu, membenarkan bahwa helikopter tersebut mendarat di Pegunungan Ombin dalam perjalanan dari Timika menuju Wamena.

“Kami baru mendapat informasi bahwa helikopter Penerbad kemarin petang ternyata mendarat di Ombin dan saat ini dalam perjalanan menuju Wamena,” jelas John.

Helikopter tersebut sebelumnya berangkat dari Bandara Mozes Kilangin Timika pada Sabtu petang sekitar pukul 15.45 WIT tujuan Wamena dengan waktu tempuh sekitar satu jam 50 menit.
Helikopter yang ditumpangi lima kru antara lain Kapten Siagian, Lettu Fathoni, Pelda Eko, Serka Yafet dan Praka Heru itu berangkat ke Wamena untuk menjalankan misi kemanusiaan mengevakuasi kru pesawat Susi Air yang jatuh sekitar Kampung Saminage Silimo Area, Kabupaten Yahukimo, pada Jumat (9/11).

Menurut informasi yang diterima ANTARA di Timika, helikopter tersebut juga membawa serta sebuah drum bahan bakar avtur untuk keperluan evakuasi kru pesawat Susi Air.
Kontak terakhir dengan petugas menara pengawas di Bandara Mozes Kilangin Timika dilakukan pada Sabtu petang sekitar 15 nautical mile setelah lepas landas.

Pada Minggu pagi, sebuah helikopter Airfast milik PT Freeport Indonesia yang ditumpangi sejumlah anggota Tim SAR Timika melakukan upaya pencarian dengan mengikuti rute yang dilalui helikopter Penerbad tersebut.

Sementara itu kepada Wartawan Dandrem 172 Prajawirayakti Papua. Kolenel Daniel Ambat. mengatakan sangat bersyukur Anak buahnya pulang dalam keadaan selamat. karena Helikopter cuman masalah teknis yaitu kehilangan kontak, Tower tidak bisa dihubungi karena masalah peralatan, sehingga sekarang kelima kru tersebut hanya istirahat saja untuk menenangkan diri dari kejadian tersebut. setelah itu mereka akan kembali melakukan penerbangan.”katanya.

CUACA BURUK, EVAKUASI DIHENTIKAN
Sementara itu lantaran kabut tebal dan hujan, tim evakuasi Susi Air terpaksa kembali ke Wamena sekitar pukul 15.40 wit, dan untuk sementara tim SAR belum dapat tiba di lokasi .
Personil tim SAR yang terdiri dari 2 orang pilot , 10 orang tim SAR yang bergerak dari kampung saminage serta 1 anggota polri dan 2 anggota SAR yang bereda di distrik silimo menggunakan helicopter Airfast di batalkan untuk pencarian dan evakuasi, karena cuaca yang buruk serta hujan dan akan di lanjutkan hari ini Senin (12/9) .

Bukan Cuma itu, namun tim SAR yang di berangkatkan dengan menggunakan Helikopter milik TNI AD dari bandara Moses Kilangin Timika Sabtu (10/9) sekitar pikul 15.45 saat take off , tujuan Timika –Wamena untuk mengevakuasi pesawat Susi Air yang jatuh di pedalaman Yahukimo sempat kehilangan kontak dengan tower Timika setelah bebera beberapa menit berangkat dari bandara Timika , helicopter tersebut di kemudikan oleh 1 pilot , Kapten CPN E.I Siagian , Co Pilot , Lettu CPN M. Fatoni dan beberapa anggota TNI AD yang ikut serta dalam helicopter tersebut antara lain , Pelda Eko,Serka Yafet, dan Praka Heru.

Namun setelah hampir satu hari kehilangan kontak kemarin Minggu (11/9) sudah bisa kontak dengan tower Wamena ,pesawat jenis Helikopter milik TNI AD sempat mendarat darurat di puncak gunung Rumpius, Yalimo Kabupaten Yahukimo , akibat cuaca buruk namun pesawat tersebut akhirnya dapat kembali tiba di bandara wamena dengan selamat bersama Pilot dan Co Pilot serta lima orang kru yang ikut dalam pesawat tersebut.

Kabid Humas Polda Kombes Pol Wachyono , Minggu (11/9) kemarin ketika dihubungi melalui Ponsel Seluler membenarkan kalu tim evakuasi telah kembali ke Wamena sekitar pukul 15.40 wit dan sementara menghentikan misi pencarian dan evakuasi tersebut karena cuaca yang buruk , yang di sertai hujan sehingga evakuasi di hentikan tegas Wachyono . (ant/cr-25/cr32/don/l03)

Senin, 12 September 2011 01:27

Tim Evakuasi Susi Air Terkendala Medan

JAYAPURA – Proses evakuasi terhadap bangkai pesawat Susi Air jenis Caravan C 208 B PK-VVE yang jatuh di sekitar Distrik Pasema, Kabupaten Yahukimo, Provinsi Papua, hingga Minggu (11/9) belum bisa dilakukan.

Sulitnya medan menuju lokasi dan hujan lebat membuat tim evakuasi tak bisa menembus tempat jatuhnya pesawat yang dipiloti Dave Cootes warga negara Australia dan Copilot Thomas Munk warga negara Slovakia itu. Hingga berita ini diturunkan, kondisi pilot dan copilot itu juga belum diketahui.

Kapolres Jayawijaya, AKBP I Gede Sumerta Jaya,SIK yang dikonfirmasi Cenderawasih Pos mengatakan tim evakuasi yang terdiri dari 12 orang anggota SAR Jayapura, dan dua dari pilot Susi Air serta 1 polisi sebenarnya sudah berada di sekitar lokasi jatuhnya pesawat. Namun tim mengalami kendala untuk sampai ke lokasi jatuhnya pesawat. Sebab kondisinya bergunung-gunung serta hutannya masih lebat. Selain itu kondisi cuaca yang tertutup kabut juga menyulitkan tim untuk sampai ke lokasi, belum lagi hujan lebat.

Kapolres mengatakan, karena kondisi medan yang sangat berat dan hari sudah menjelang malam dan hujan, akhirnya tim evakuasi memutuskan untuk mengehentikan sementara pencarian dan bermalam di tengah hutan dan juga di kampung di daerah tersebut. “Kabar terakhir yang kami terima, untuk bisa sampai ke lokasi, tim masih harus berjalan kaki sekitar 4 jam,” terangnya.

Sulitnya medan menuju lokasi jatuhnya pesawat yang membuat tim evakuasi belum sampai di lokasi membuat informasi mengenai kondisi pilot dan copilot belum diketahui hingga saat ini. Kapolres mengatakan, lokasi jatuhnya pesawat hanya bisa dipantau dari udara, sehingga keberadaan pilot dan copilot belum diketahui secara pasti. “Kondisinya kami belum dapat informasi, sebab tim belum sampai ke lokasi,” tandasnya.

Sedangkan helicopter Air Fast yang direncanakan terbang untuk melakukan pencarian dibatalkan untuk terbang dan evakuasi melalui helicopter Mision sekitar pukul 15.45 telah kembali ke Wamena begitu juga dengan pesawat Susi Air kembali ke Wamena sekitar pukul 16.00 WIT. “Yang jelas evakuasi ini akan terus dilanjutkan hingga pilot dan copilot serta badan pesawat ditemukan. Selain itu juga kotak hitam yang mengetahui penyebab jatuhnya pesawat juga harus berhasil ditemukan,” ungkapnya.

Sementara itu, Kepala Bandara Wamena, Thomas Alfa Edison saat dikonfirmasi Cenderawasih Pos, juga mengakui kalau proses evakuasi belum bisa dilakukan. Sebab sampai saat ini tim yang diturunkan belum tiba di lokasi jatuhnya pesawat. “Kami masih menunggu kabar dari tim evakuasi yang saat ini sedang menuju lokasi jatuhnya pesawat. Jadi kami belum dapat kabar mengenai kondisi pesawat dan pilot serta copilotnya,” terangnya saat dihubungi Cenderawasih Pos, Sabtu (10/9) malam.

Selain itu Dandim Wamena Letkol Inf Eventius Teddy Danarto saat dikonfirmasi Cenderawasih Pos juga mengakui masih melakukan pencarian terhadap evakuasi pesawat Susi Air itu. “Kami melibatkan diri sejak terjadinya kecelakaan Susi Air tersebut, sebanyak saru regu saya kerahkan yang berjumlah 10 orang, yang saat ini berada di perkampungan sekitar pesawat tersebut jatuh,” katanya saat dihubungi tadi malam.

Dandim juga mengakui bahwa jauh dan sulitnya medan ditambah juga cuaca yang tak bersahabat membuat tim evakuasi sangat sulit untuk sampai di tempat lokasi badan pesawat. “Yang jelas kami akan terus berupaya melakukan evakuasi sampai pada lokasi jatuhnya pesawat. Besok (hari ini,red) tim akan kembali melakukan pencarian,” ungkapnya.

Sementara itu, Helikopter jenis bell Seri HA-5113 milik TNI yang dioperasikan di Papua sempat dilaporkan kehilangan kontak saat terbang dari Timika, Kabupaten Mimika ke Wamena, Kabupaten Jayawijaya untuk membantu evakuasi pesawat Susi Air, Sabtu (10/9).

Informasi yang dihimpun Cenderawasih Pos menyebutkan, helikopter yang dipiloti Kapten Cpn. E.L. Siagian dan copilot Lettu. Cpn. M. Fatoni, terbang dari Timika Sabtu (10/9) sekitar pukul 15.45 WIT, mulai kehilangan kontak sekitar 15 mil dari Wamena. Menurut sumber-sumber Cenderawasih Pos, helikopter tersebut berhasil mendarat di Wamena, Minggu (11/9) sekitar pukul 11.00 WIT.

“Namun hingga saat ini saya belum mengetahui sebelumnya helikopter tersebut sempat mendarat dimana hingga mencemaskan pihak TNI AD yang tak mendapat keberadaannya,” ungkap sumber itu.

Sebelum hilang kontak, helikopter tersebut terbang pada ketinggian 060 altitude runway 12 Wamena. Karena menghindari cuaca yang saat itu sangat buruk. Heli mendarat pada posisi E 04 18′ 027 S 138 52′ 45 di sekitar Pegunungan Rumpius Kabupaten Wamena sekitar pukul 17.50 WIT Sabtu kemarin.

Sementara itu Heli baru bertolak dari lokasi pendaratan, Minggu 11 September sekitar 12.40 WIT dan 10 menit kemudian berhasil mendarat di Makodim 1702/JWY, Minggu (11/9) sekitar pukul 11.00 WIT kemarin.

Pilot Kapten Cpn. E.L Siagian, Copilot, Lettu. Cpn. M Fatoni bersama tiga orang kru antara lain, Pelda. Eko, Serka Yafet dan Praka Heru dilaporkan selamat dan tidak mengalami gangguan apapun, termasuk helikopter tersebut ketika mendarat di Makodim 1702/JWY juga tidak mengalami gangguan.

Pangdam XVII/Cenderawasih, Mayjen TNI. Erfi Triassunu ketika ditemui wartawan di Bandara Sentani usai mendampingi kunjungan KSAD di Timika, Minggu (11/9) kemarin mengatakan, helikopter tersebut telah mendarat mulus di Wamena, Kabupaten Jayawijaya dimana sebelumnya diketahui mendarat darurat di tempat datar tepatnya di pegunungan Rumpius karena cuaca saat itu buruk.

”Helikopter itu hilang kontak dan berupaya mendarat darurat kurang lebih 25 menit sampai di Bandara Wamena akhirnya keputusan pilotnya untuk mendarat di lokasi datar sehingga mendarat darurat. Pilot ketika itu sempat berupaya berkomunikasi baik itu ke Wamena maupun ke Timika namun karena cuaca buruk kemudian pilot mengambil keputusan untuk bermalam di tempat itu selanjutnya pagi harinya hendak terbang namun karena cuaca masih buruk sehingga sekitar pukul 11.00 WIT melihat cuaca baik akhirnya terbang menuju Wamena,” katanya.

Ditanya kenapa helicopter tersebut memilih terbang sore hari, Pangdam menjelaskan, sebenarnya heli tersebut berangkat sekitar pukul 15.40 WIT dan cuaca saat itu masih bagus karena perhitungan waktu sudah bisa mendarat di Wamena sekitar pukul 17.20 WIT. ”Memang cuaca di Papua ini tidak bisa diperkirakan bahkan terkadang berubah secara mendadak. Namun karena sesuai koordinasi dengan Basarnas untuk membantu pencarian korban Susi Air maka titik kumpulnya di Wamena, akhirnya heli itu berangkat ke Wamena,” paparnya.

Meskipun demikian, lanjut Pangdam, pihaknya telah berkoordinasi dengan Basarnas untuk tetap membantu dan melaksanakan proses evaluasi korban jatuhnya pesawat Susi Air namun melihat kondisi cuaca. Menurut Pangdam, karena berada di lembah dan kondisi geografis wilayah pegunungan tengah yang ekstrem membuat upaya helikopter hendak berangkat terpaksa gagal.
Sekedar diketahui, sesuai laporan dari Tower Bandara di Timika, bahwa Helikopter berangkat sekitar pukul 15.45 WIT menuju Wamena namun hanya beberapa menit kemudian langsung hilang kontak. Helikopter kehilangan kontak tepat pukul 15.52 WIT dimana 15 mil sebelum tiba di Bandara Wamena dan helikopter tersebut sempat diduga jatuh. Kemudian dari Bandara Timika bahwa Helikopter terbang dari Runway 12 dengan ketinggian 060 altitude dan Endurance 0230 Radial 090. (ro/nal/fud)

Cepos, Senin, 12 September 2011 , 07:32:00

Up ↑

Wantok Coffee News

Melanesia Foods and Beverages News

Perempuan Papua

Melahirkan, Merawat dan Menyambut

UUDS ULMWP

for a Free and Independent West Papua

UUDS ULMWP 2020

Memagari untuk Membebaskan Tanah dan Bangsa Papua!

Melanesia Spirit & Nature News

Promoting the Melanesian Way Conservation

Kotokay

The Roof of the Melanesian Elders

Eight Plus One Ministry

To Spread the Gospel, from Melanesia to Indonesia!

Koteka

This is My Origin and My Destiny

Melanesia Web Hosting

Melanesia Specific Domains and Web Hosting

Sem Karoba Tawy

Patient Spectator of the TRTUH in Action

Melanesia Business News

Just another MELANESIA.news site

Sahabat Alam Papua (SAPA)

Sahabat Alam Melanesia (SALAM)

Melanesian Spirit's Club

Where All Spirit Beings Talk for Real!

Breath of Bliss Melanesia

with Wewo Kotokay, BoB Facilitator

Fast, Pray, and Praise

to Free Melanesia and Melanesian Peoples from Satanic Bondages