HIV-AIDS di Papua Tembus 10.522 Kasus

JAYAPURA — Penyebaran virus HIV-AIDS di Papua semakin memprihatinkan. Dari jumlah penduduk Papua yang hanya 2,8 juta jiwa (hasil data BPS), ternyata kasus HIV-AIDS di Papua kini telah menembus angka 10.522 kasus.

“Lonjakan kasus yang begitu cepat dan mengkhawatirkan, sebab data September 2010 lalu, kasus HIV-AIDS di Papua baru mencapai 7000 kasus, tapi kini mencapai 10.522 kasus,” ungkap Kepala Dinas Kesehatan Provinsi Papua drg. Josef Rinta Rachdyatmaka,M.Kes kepada Cenderawasih Pos di Hotel Aston Jayapura, Rabu (12/10).

Pihaknya menjelaskan bahwa data tersebut diperoleh Dinas Kesehatan Provinsi Papua setelah pihaknya turun langsung ke kabupaten dan kota se-Provinsi Papua, dan atas kerja sama dengan Dinas Kesehatan Kabupaten dan Kota se-Provinsi Papua itu akhirnya diperoleh data yang mencapai angka memprihatinkan tersebut.

“Berarti ada selisih data sebesar 3000 orang (bila dibanding tahun 2010), dan saya yakin data tersebut sudah terekap di unit-unit pelayanan kesehatan di kabupaten dan kota, namun selama ini kurang terdata dengan baik, sehingga kami turun langsung untuk mengambil data dan hasilnya seperti itu,” katanya.

Kadinas Kesehatan ini mengatakan bahwa angka 10.522 kasus itu merupakan angka yang bisa terdata, sementara HIV-AIDS merupakan fenomena gunung es. “10.522 kasus di Papua itu merupakan angka yang terdata, namun dilihat dari pendapat sejumlah ahli yang aktif memantau perkembangan HIV/AIDS di Papua ternyata kasus HIV-AIDS di Papua itu diduga mencapai 24.300 yang belum terpantau. Ini menandakan bahwa kita harus lebih serius bekerja dalam penanggulangan kasus ini,” ujarnya.

Bahkan mantan Sekda Kabupaten Merauke ini bahwa kasus HIV-AIDS di Papua saat ini bukan saja berada di kota-kota saja, namun saat ini penderitanya juga sudah tersebar di kampung-kampung. “Ini terjadi karena mudahnya akses transportasi ke kota, sehingga warga kampung dengan cepat ke kota, dan selanjutnya berhubungan dengan lawan main yang bukan istrinya di kota tanpa menggunakan kondom. Selanjutnya kembali ke kampung dan menularkan kepada istrinya,” paparnya.

“Kasus HIV-AIDS sudah ada di kampung, dan itu yang sangat berbahanya karena mereka sangat terbatas dengan informasi soal HIV-AIDS,” sambungnya.

Josef juga mengatakan, jika diurutkan jumlah kasus HIV-AIDS tertinggi per kabupaten dan kota se-Provinsi Papua, maka Kota Jayapura dan Jayawijaya tertinggi, sebab di Kota Jayapura sudah mencapai 2012 kasus, sementara Jayawijaya mencapai 1600.

“Dari 10.522 kasus ini, usia rentang masih di usia priduktif yakni 15-40 tahun, bahkan saat ini juga sudah ada remaja yang sudah terinfeksi,” tambahnya.

Dengan melihat kondisi tersebut, pihaknya sangat berharap agar ada perhatian semua pihak dan pihaknya mendorong agar di Papua bisa diterapkan sunat atau sirkumsisi, untuk mencegah lajunya HIV/AIDS di Papua. “Meskipun harus diakui sirkumsisi tidak menjamin seseorang tidak terserang virus mematikan tersebut, namun setidaknya bisa mencegah,” tandasnya.

Sementara untuk stok ARV (antiretroviral) di Papua masih cukup. “Bahkan kita sudah salurkan ke daerah-daerah, dan dari raker dengan dinas kesehatan se-kabupaten dan kota selama tiga hari ini di Hotel Aston, semua sudah sepakat untuk serius dalam penanganan HIV-AIDS di Papua,” pungkasnya.(cak/fud)
[stickyright]
GRAFIS:
ANGKA HIV-AIDS DI PAPUA
– September 2010 : 7000 Kasus
– September 2011 : 10.522 Kasus
– Yang belum terpantau : 24.300 Kasus
– Rentang Usia Penderita: 15-40 tahun
[/stickyright]

KUTIPAN:
“Ini terjadi karena mudahnya akses transportasi ke kota, sehingga warga kampung dengan cepat ke kota, dan selanjutnya berhubungan dengan lawan main yang bukan istrinya di kota tanpa menggunakan kondom. Selanjutnya kembali ke kampung dan menularkan kepada istrinya,” ujar drg. Josef Rinta Rachdyatmaka,M.Kes

MRP Tidak Akan Campuri Kongres III

Timotius Murib

JAYAPURA – Tampaknya Majelis Rakyat Papua (MRP) tidak akan terlibat jauh dalam rencana pelaksaan Kongres Rakyat Papua III yang rencananya akan dilaksanakan dalam waktu dekat. Hal itu tercermin dari pernyataan Ketua MRP Timotius Murib. Ia mengatakan, MRP sebagai lembaga representatif kultural Papua tidak akan mencampuri segala proses hingga digelarnya Kongres Rakyat Papua III.

Dikatakan, terkait Kongres III ini, posisi MRP diluar, MRP sebagai lembaga Negara, mengambil peran memantau saja kegiatan kongres rakyat Papua yang akan digelar. “ Bila memang kongres rakyat Papua III itu jadi digelar,” ungkap Timotius Murib kepada Bintang Papua, Rabu ( 12/10) di PTC Entrop. Dikatakan MRP melakukan pemantauan, sebab segala kegiatan yang akan dilakukan oleh rakyat Papua, jadi tanggung jawab MRP, namun tidak akan terlibat dalam semua kegiatan kongres Rakyat Papua III.

Sementara itu, terkait penyelesaian konflik Freeport, Majelis Rakyat Papua ( MRP) sejak kemarin pagi telah mengutus 10 orang anggota ke Timika untuk melakukan mediasi dengan kelompok kelompok yang bertikai, antara manajemen dan pihak Karyawan. Ia mengatakan, konflik Freeport jangan dibiarkan berlarut larut, sebab berlarut larutnya penyelesaian masalah Freeport dampak buruknya akan dirasakan semua pihak, Pemerintah, masyarakat, terutama Karyawan dan manajemen.

Untuk itu dengan mediasi yang akan dilakukan MRP, diharapkan manajemen Freeport dan SPSI harus jujur, terbuka terhadap semua pihak terutama Pemerintah. DPRP dan MRP yang akan berupaya memediasi konflik Freeport, tanpa keterbukaan dan kejujuran untuk mengatakan kondisi sebenarnya, semua akan sia sia.

Dikatakan manejemen Freeport perlu mengakomodir keluh kesah SPSI, maka penyelesaian melalui mediasi MRP, DPRP dan Pemerintah akan sia sia.” Kami minta kejujuran Freeport untuk menceritakan kondisi sebenarnya, sebaliknya SPSI juga demikian, mediasi yang dilakukan 10 anggota MRP ini hendaknya ditanggapi serius dua belah pihak”. (Ven/don/l03)

UN Minta Indonesia Pertimbangkan Kedatangan Pelapor Khusus PBB

FOKER LSM Papua, Sawit Watch, Greenpeace, SKP Jayapura dan Walhi dan Sorpatom menyampaikan keterangan soal mega proyek MIFFE di Merauke di Swissbelt Hotel, Jayapura, Rabu (12/10)
FOKER LSM Papua, Sawit Watch, Greenpeace, SKP Jayapura dan Walhi dan Sorpatom menyampaikan keterangan soal mega proyek MIFFE di Merauke di Swissbelt Hotel, Jayapura, Rabu (12/10)
FOKER LSM Papua, Sawit Watch, Greenpeace, SKP Jayapura dan Walhi dan Sorpatom menyampaikan keterangan soal mega proyek MIFFE di Merauke di Swissbelt Hotel, Jayapura, Rabu (12/10)

JAYAPURA—Proyek Merauke Integrated Food and Energy Estate (MIFEE) telah mendapatkan tanggapan dari Komite Penghapusan Diskriminasi Rasial PBB melalui surat yang dikirim Chairperson of the Committee on the Elimination of Racial Discrimination Anwar Kemal kepada Duta Besar Untusan Tetap dan Misi Tetap Indonesia di Genewa H.E.M Dian Triansyah Djani dimana salah satu komisi PBB ini meminta kepada pemerintah Indonesia tentang beberapa hal. Pertama, mempertimbangkan mengundang Pelapor Khusus PBB tentang situasi HAM dan kebebasan dasar masyarakat adat. Kedua, bertemu dengan Komite CERD guna membicarakan masalah masalah ini, dalam sidang Komite mendatang di Genewa dari tanggal 13 Pebruari sampai 13 Maret 2012. Ketiga, menyampaikan informasi tentang semua isu dan masalah yang dijabarkan dalam surat tersebut, sebelum tanggal 31 Januari.

Hal ini disampaikan Koalisi Lembaga Swadaya Masyarakat (LSM) antara lain FOKER LSM Papua, Sawit Watch, Greenpeace, SKP Jayapura dan Walhi serta Sorpatom ketika menggelar jumpa pers di Swissbelt Hotel, Jayapura, Rabu (12/10)

Koalisi LSM mengatakan, menanggapi respons PBB terhadap proyek MIFEE, Koalisi LSM mendesak pemerintah Indonesia agar menghentikan secara total setiap aktivitas yang berkaitan dengan proyek MIFEE dan mengundang pelapor khusus PBB tentang situasi HAM dan kebebasan dasar masyarakat adat untuk meninjau proyek tersebut sebelum 31 Januari 2012.

MIFEE untuk Estat Pangan dan Energi Terpadu Merauke disebut sebut bermakna sangat strategis bagi keamanan persediaan pangan dan cadangan energi Indonesia.

Proyek yang menelan 1,6 juta hektar itu diharapkan akan menghasilkan jutaan ton beras, jagung, kacang kacangan, daging sapi, gula dan seterusnya. Cita cita yang begitu muluk itu ternyata membuat orang tutup mata terhadap masalah besar yang sekarang sudah dihadapi oleh warga Merauke yang tanah mereka tertelan proyek MIFEE.

MIFEE bisa dikatakan mega proyek ambisius pemerintah Indonesia. Slogannya adalah bagaimana Indonesia bisa memberikan makan dunia. Proyek ambisius ini mencakup lahan seluas 1,6 juta hektar yang ingin disulap menjadi sebuah wilayah agribisnis. Harapannya bisa menghasilkan pangan yang bisa diekspor keluar negeri. Dengan kata lain MIFEE berorientasi ekspor.

Dalam proyek MIFEE dikabarkan sudah ada 36 investor yang tertarik untuk menanamkan modal senilai Rp 18,9 triliun. Sementara yang lainnya merupakan pemodal dalam negeri.

Riset dan pengamatan berbagai pihak, terutama NGO terhadap proyek MIFEE telah mengindentifikasi beberapa masalah sebagai berikut. Pertama, proyek yang mencapai 2 juta ha tanah tanah masyarakat adat ini telah berdampak dan akan terus mengancam keberadaan hak hak masyarakat adat.

Kedua, selain yang dilaporkan juga ekspansi tersebut akan merambah dan menggusur tanah tanah masyarakat adat untuk mendukung kelapa sawit, pembalakan kayu akan menyebabkan membludaknya para pekerja dari luar bukan penduduk dari luar, dan semakin mempertaruhkan masa depan mereka, menghilangkan berbagai pilihan sumber penghidupan dan penghancuran ekonomi tradisional mereka. Kenyataan ini akan membuat masyarakat adat Marind (khususnya) dan masyarakat adat Papua secara umum akan terdesak dan menjadi minoritas di atas tanahnya sendiri.

Ketiga, aktivitas aktivitas perambahan di lahan yang direncanakan didukung oleh negara pihak dan menikmati perlindungan dari TNI.

Keempat, pengambilan keputusan mengenai eksploitasi Sumber Daya Alam (SDA) masih sangat tergantung pada pemerintah pusat dan dikontrol oleh UU Nasional yang mengabaikan masyarakat adat, kendati sudah ada UU Otsus Papua tahin 2001 yang dimaksudkan untuk desentralisasi pengambilan kebijakan atas berbagai permasalahan yang dijabarkan kepada tingkat provinsi dan yang belum dilaksanakan karena peraturan turunan tak ada.

Kelima, diduga sebagian besar wilayah MIFEE diklasifikasikan sebagai “hutan” dan dibawah Kementerian Kehutanan yang diduga menafsirkan UU Kehutanan tahun 1999 semakin membatasi hak hak masyarakat adat.

Keenam, telah terjadi manipulasi atas masyarakat oleh investor da pejabag pejabat negara untuk mendapatkan tanda tangan yang diperlukan untuk memenuhi persyaratan persyaratan hukum membuktikan sertifikat hak atas tanah adat. (mdc/don/l03)

Hentikan Penerbangan ke Degeuwo!

JUBI — Masyarakat Adat Suku Mee, Moni dan Wolani yang berdomisili di sepanjang Kali Degeuwo, Kabupaten Paniai, melarang pengusaha helikopter dan pesawat Susi Air melayani penerbangan ke kawasan penambangan emas.

“Kami masyarakat tiga suku ini menyatakan bahwa mulai sekarang tidak boleh ada mobilitas kegiatan penambangan emas dan penerbangan dari Nabire ke kawasan Degeuwo,” ujar Pemangku Otorita Adat Suku Wolani, Willybrodus Magai, saat jumpa pers di Nabire, Sabtu (17/9).

Helikopter dan Susi Air yang selama ini melakukan penerbangan ke dan dari Degeuwo, menurut Magai, turut mendukung kegiatan penghancuran eksistensi kehidupan masyarakat setempat pasca adanya operasi penambangan emas secara ilegal yang masih berlangsung hingga saat ini.

“Kami mau tutup lokasi pendulangan, jadi penerbangan itu harus segera distopkan,” tegasnya.

Larangan itu juga termuat dalam pernyataan sikap yang ditandatangani dan cap jempol sejumlah Tokoh Masyarakat, Tokoh Perempuan, Kaum Intelektual dan Lembaga Adat.

Ditanya tentang larangan penerbangan tersebut, Kepala Kampung Baya Biru, Yahya Kegepe mengaku bukan keputusan satu dua orang. Pernyataan itu, kata dia, hasil kesepakatan semua pihak melihat berbagai fenomena sejak Degeuwo dijadikan lokasi pendulangan emas. “Demi masyarakat kami, saya mendukung,” singkatnya.

Ketua Aliansi Intelektual Suku Wolani Moni (AISWM), Thobias Bagubau menegaskan bahwa pernyataan sikap yang diserahkan kepada pihak terkait pada saat seminar sehari di Guest House Nabire, Selasa (13/9), merupakan keputusan dari masyarakat adat dalam upaya menutup areal pertambangan emas liar di Degeuwo.

“Sekali lagi kami tegaskan bahwa Helikopter dan Susi Air itu berhenti terbang ke Degeuwo,” ujar Thobias Bagubau. (Jubi/Markus)

SATURDAY, 17 SEPTEMBER 2011 20:52

Kecewa, Pedagang Ikan Kembali Palang Jalan

JAYAPURA-Lantaran kecewa dengan janji pemerintah yang akan memberikan ganti rugi belum ditepai, pedangan pasar ikan dok 9 yang sehari sebelumnya dibongkar kiosnya, melakukan aksi pemalangan serta pembakaran ban mobil di ruas jalan depan pasar sebagai wujud ketidak percayaan pedagang terhadap janji tersebut.

“Kami telah berupaya untuk bertemu dengan walikota Jayapura untuk menyelesaikan masalah pembongkaran ini, namun dipersulit saat ingin menemui walikota sehingga warga melakukan pemalangan untuk mempertanyakan janji kepala Disperindakop Kota Jayapura tentang ganti rugi,” ujar Amos Nuboba mewakli padagang.

Dirinya juga menambahkan, para pedagang serta nelayan akan membangun pasarnya sendiri guna membantu perekonomian warga.” Kami telah sepakat untuk membangun pasar sendiri sehingga tidak saling kejar mengejar dengan pemerintah kota,”kata mereka.

Sementara Walikota Jayapura Drs Benhur Tomi Mano yang turun ke lokasi langsung melakukan dialog dengan warga terkait aksi pemblokira jalan tersebut. Walikota berjanji akan berupaya untuk mencari solusi yang terbaik secepatnya sehingga warga dok Sembilan yang juga adalah wilayah daerah kepemimimpinan nya mendapat ketenangan dalam mencari nafkah . Walau demikian para pedagang tetap berjualan di pasar tesebut guna memenuhi kebutuhan mereka sampai ada kesepakatan lebih lanjut terhadap penyelesaia masal tersebut.(cr32/don/l03)

BP, Kamis, 15 September 2011 23:34

Tim Evakuasi Susi Air Nyaris Celaka

Helikopter Penerbangan TNI Angkatan Darat (Penerbad) jenis Bell-412 dengan nomor register HA 5113 pengangkut tim evakuasi bangkai Susi Air, mendarat darurat di wilayah Pegunungan Jayawijaya. Tidak ada korban jiwa dalam musibah ini
Helikopter Penerbangan TNI Angkatan Darat (Penerbad) jenis Bell-412 dengan nomor register HA 5113 pengangkut tim evakuasi bangkai Susi Air, mendarat darurat di wilayah Pegunungan Jayawijaya. Tidak ada korban jiwa dalam musibah ini

JAYAWIJAYA- Helikopter Penerbangan TNI Angkatan Darat (Penerbad) jenis Bell-412 dengan nomor register HA 5113 yang sebelumnya dikabarkan hilang kontak dengan petugas menara pengawas di Bandara Mozes Kilangin Timika mendarat di Pegunungan

Ombin, Kabupaten Jayawijaya, Sabtu (10/9) petang. Pesawat ini sedang mengangkut tim evakuasi kru pesawat Susi Air yang jatuh sebelumnya. Akibatnya rombongan penyelamatan ini justru nyaris celaka. Kepala Bidang Perhubungan Udara Dinas Perhubungan, Komunikasi, dan Informatika Mimika, John Rettob, kepada ANTARA di Timika, Minggu, membenarkan bahwa helikopter tersebut mendarat di Pegunungan Ombin dalam perjalanan dari Timika menuju Wamena.

“Kami baru mendapat informasi bahwa helikopter Penerbad kemarin petang ternyata mendarat di Ombin dan saat ini dalam perjalanan menuju Wamena,” jelas John.

Helikopter tersebut sebelumnya berangkat dari Bandara Mozes Kilangin Timika pada Sabtu petang sekitar pukul 15.45 WIT tujuan Wamena dengan waktu tempuh sekitar satu jam 50 menit.
Helikopter yang ditumpangi lima kru antara lain Kapten Siagian, Lettu Fathoni, Pelda Eko, Serka Yafet dan Praka Heru itu berangkat ke Wamena untuk menjalankan misi kemanusiaan mengevakuasi kru pesawat Susi Air yang jatuh sekitar Kampung Saminage Silimo Area, Kabupaten Yahukimo, pada Jumat (9/11).

Menurut informasi yang diterima ANTARA di Timika, helikopter tersebut juga membawa serta sebuah drum bahan bakar avtur untuk keperluan evakuasi kru pesawat Susi Air.
Kontak terakhir dengan petugas menara pengawas di Bandara Mozes Kilangin Timika dilakukan pada Sabtu petang sekitar 15 nautical mile setelah lepas landas.

Pada Minggu pagi, sebuah helikopter Airfast milik PT Freeport Indonesia yang ditumpangi sejumlah anggota Tim SAR Timika melakukan upaya pencarian dengan mengikuti rute yang dilalui helikopter Penerbad tersebut.

Sementara itu kepada Wartawan Dandrem 172 Prajawirayakti Papua. Kolenel Daniel Ambat. mengatakan sangat bersyukur Anak buahnya pulang dalam keadaan selamat. karena Helikopter cuman masalah teknis yaitu kehilangan kontak, Tower tidak bisa dihubungi karena masalah peralatan, sehingga sekarang kelima kru tersebut hanya istirahat saja untuk menenangkan diri dari kejadian tersebut. setelah itu mereka akan kembali melakukan penerbangan.”katanya.

CUACA BURUK, EVAKUASI DIHENTIKAN
Sementara itu lantaran kabut tebal dan hujan, tim evakuasi Susi Air terpaksa kembali ke Wamena sekitar pukul 15.40 wit, dan untuk sementara tim SAR belum dapat tiba di lokasi .
Personil tim SAR yang terdiri dari 2 orang pilot , 10 orang tim SAR yang bergerak dari kampung saminage serta 1 anggota polri dan 2 anggota SAR yang bereda di distrik silimo menggunakan helicopter Airfast di batalkan untuk pencarian dan evakuasi, karena cuaca yang buruk serta hujan dan akan di lanjutkan hari ini Senin (12/9) .

Bukan Cuma itu, namun tim SAR yang di berangkatkan dengan menggunakan Helikopter milik TNI AD dari bandara Moses Kilangin Timika Sabtu (10/9) sekitar pikul 15.45 saat take off , tujuan Timika –Wamena untuk mengevakuasi pesawat Susi Air yang jatuh di pedalaman Yahukimo sempat kehilangan kontak dengan tower Timika setelah bebera beberapa menit berangkat dari bandara Timika , helicopter tersebut di kemudikan oleh 1 pilot , Kapten CPN E.I Siagian , Co Pilot , Lettu CPN M. Fatoni dan beberapa anggota TNI AD yang ikut serta dalam helicopter tersebut antara lain , Pelda Eko,Serka Yafet, dan Praka Heru.

Namun setelah hampir satu hari kehilangan kontak kemarin Minggu (11/9) sudah bisa kontak dengan tower Wamena ,pesawat jenis Helikopter milik TNI AD sempat mendarat darurat di puncak gunung Rumpius, Yalimo Kabupaten Yahukimo , akibat cuaca buruk namun pesawat tersebut akhirnya dapat kembali tiba di bandara wamena dengan selamat bersama Pilot dan Co Pilot serta lima orang kru yang ikut dalam pesawat tersebut.

Kabid Humas Polda Kombes Pol Wachyono , Minggu (11/9) kemarin ketika dihubungi melalui Ponsel Seluler membenarkan kalu tim evakuasi telah kembali ke Wamena sekitar pukul 15.40 wit dan sementara menghentikan misi pencarian dan evakuasi tersebut karena cuaca yang buruk , yang di sertai hujan sehingga evakuasi di hentikan tegas Wachyono . (ant/cr-25/cr32/don/l03)

Senin, 12 September 2011 01:27

Dua Suku Yang Bertikai di Jayawijaya, Akhirnya Berdamai

Ratusan masyarakat dari dua suku yang bertikai saat melakukan perdamaian di Wamena, Sabtu (10/9).Tampak Ketua LMA dan pihak kepolisian sedang menyampaikan arahan.
Ratusan masyarakat dari dua suku yang bertikai saat melakukan perdamaian di Wamena, Sabtu (10/9).Tampak Ketua LMA dan pihak kepolisian sedang menyampaikan arahan.

JAYAPURA- Lembaga Masyarakat Adat (LMA) Provinsi Papua beserta DPD LMA Wamena kabupaten Jayawijaya, Sabtu (10/9) berhasil melakukan perdamaian antara suku lawak dan suku kogoya, dimana sebulan yang lalu telah terjadi pertikaian antara dua suku tersebut.

Ketua LMA Provinsi Papua Lenis Kogoya , S.Th, M.Hum saat dikonfirmasi Cenderawasih Pos membenarkan adanya perdamaian tersebut. “Perdamaian tersebut didampingi pihak kepolisian dan juga tokoh masyarakat serta dua suku yang bentrok, yang mana perdamaian tersebut berlangsung di Wamena, Kabupaten Jayawijaya,” katanya saat di temui di ruang kerjanya.
Dimana Ketua LMA ini menyatakan kesepakatan telah berhasil dilangsungkan, sehinga berjanji tidak akan ada lagi bentrok yang terjadi antar dua suku. “Kami berhasil mendamaikan kedua suku tersebut. Sehingga kesepakatan yang baik kami dapat, yang mana kami kedua suku berjanji tidak melakukan bentrok lagi,” ungkapnya.

Dari perdamain itu juga, LMA berhasil mengajak delapan suku untuk bulan oktober nanti akan melakukan pertemuan tentang tradisi kepala bayar kepala atau kepala diganti dengan denda.
“Kami LMA bukan untuk merubah tradisi, tetapi bagaimana jika terjadi konflik untuk dibicarakan baik, dengan mencari pelakunya dan menghukumnya dengan jalur hukum, agar nantinya tidak banyak yang dirugikan,” terangnya dengan harapan persetujuan dicapai pada bulan oktober mendatang.

Dalam perdamai tersebut kedua suku juga menyerahkan ratusan babi dengan jumlah 276 ekor untuk tanda kesepakatan perdamaian.“Saya pinta kesepakatan ini bisa dipegang oleh kedua suku dan kedua suku semakin mempererat perdamaian dan juga berjabat tangan,” pinta Linius.

Sebatas diketahui pada tanggal 6 Agustus seorang supir di bunuh didaerah kabupaten Lannyjaya dare suku Kogoya yang saat ini menyenggol seorang menyenggol anak kecil saat mengendarain mobilnya dan seorang nenek luka-luka. Higga akhirnya Suku Kogoya juga membalas perbuatan Suku Walak yang sama-sama dare pegunungan tengah. (ro/nan)

Cepos Senin, 12 September 2011 , 04:20:00

Tim Evakuasi Susi Air Terkendala Medan

JAYAPURA – Proses evakuasi terhadap bangkai pesawat Susi Air jenis Caravan C 208 B PK-VVE yang jatuh di sekitar Distrik Pasema, Kabupaten Yahukimo, Provinsi Papua, hingga Minggu (11/9) belum bisa dilakukan.

Sulitnya medan menuju lokasi dan hujan lebat membuat tim evakuasi tak bisa menembus tempat jatuhnya pesawat yang dipiloti Dave Cootes warga negara Australia dan Copilot Thomas Munk warga negara Slovakia itu. Hingga berita ini diturunkan, kondisi pilot dan copilot itu juga belum diketahui.

Kapolres Jayawijaya, AKBP I Gede Sumerta Jaya,SIK yang dikonfirmasi Cenderawasih Pos mengatakan tim evakuasi yang terdiri dari 12 orang anggota SAR Jayapura, dan dua dari pilot Susi Air serta 1 polisi sebenarnya sudah berada di sekitar lokasi jatuhnya pesawat. Namun tim mengalami kendala untuk sampai ke lokasi jatuhnya pesawat. Sebab kondisinya bergunung-gunung serta hutannya masih lebat. Selain itu kondisi cuaca yang tertutup kabut juga menyulitkan tim untuk sampai ke lokasi, belum lagi hujan lebat.

Kapolres mengatakan, karena kondisi medan yang sangat berat dan hari sudah menjelang malam dan hujan, akhirnya tim evakuasi memutuskan untuk mengehentikan sementara pencarian dan bermalam di tengah hutan dan juga di kampung di daerah tersebut. “Kabar terakhir yang kami terima, untuk bisa sampai ke lokasi, tim masih harus berjalan kaki sekitar 4 jam,” terangnya.

Sulitnya medan menuju lokasi jatuhnya pesawat yang membuat tim evakuasi belum sampai di lokasi membuat informasi mengenai kondisi pilot dan copilot belum diketahui hingga saat ini. Kapolres mengatakan, lokasi jatuhnya pesawat hanya bisa dipantau dari udara, sehingga keberadaan pilot dan copilot belum diketahui secara pasti. “Kondisinya kami belum dapat informasi, sebab tim belum sampai ke lokasi,” tandasnya.

Sedangkan helicopter Air Fast yang direncanakan terbang untuk melakukan pencarian dibatalkan untuk terbang dan evakuasi melalui helicopter Mision sekitar pukul 15.45 telah kembali ke Wamena begitu juga dengan pesawat Susi Air kembali ke Wamena sekitar pukul 16.00 WIT. “Yang jelas evakuasi ini akan terus dilanjutkan hingga pilot dan copilot serta badan pesawat ditemukan. Selain itu juga kotak hitam yang mengetahui penyebab jatuhnya pesawat juga harus berhasil ditemukan,” ungkapnya.

Sementara itu, Kepala Bandara Wamena, Thomas Alfa Edison saat dikonfirmasi Cenderawasih Pos, juga mengakui kalau proses evakuasi belum bisa dilakukan. Sebab sampai saat ini tim yang diturunkan belum tiba di lokasi jatuhnya pesawat. “Kami masih menunggu kabar dari tim evakuasi yang saat ini sedang menuju lokasi jatuhnya pesawat. Jadi kami belum dapat kabar mengenai kondisi pesawat dan pilot serta copilotnya,” terangnya saat dihubungi Cenderawasih Pos, Sabtu (10/9) malam.

Selain itu Dandim Wamena Letkol Inf Eventius Teddy Danarto saat dikonfirmasi Cenderawasih Pos juga mengakui masih melakukan pencarian terhadap evakuasi pesawat Susi Air itu. “Kami melibatkan diri sejak terjadinya kecelakaan Susi Air tersebut, sebanyak saru regu saya kerahkan yang berjumlah 10 orang, yang saat ini berada di perkampungan sekitar pesawat tersebut jatuh,” katanya saat dihubungi tadi malam.

Dandim juga mengakui bahwa jauh dan sulitnya medan ditambah juga cuaca yang tak bersahabat membuat tim evakuasi sangat sulit untuk sampai di tempat lokasi badan pesawat. “Yang jelas kami akan terus berupaya melakukan evakuasi sampai pada lokasi jatuhnya pesawat. Besok (hari ini,red) tim akan kembali melakukan pencarian,” ungkapnya.

Sementara itu, Helikopter jenis bell Seri HA-5113 milik TNI yang dioperasikan di Papua sempat dilaporkan kehilangan kontak saat terbang dari Timika, Kabupaten Mimika ke Wamena, Kabupaten Jayawijaya untuk membantu evakuasi pesawat Susi Air, Sabtu (10/9).

Informasi yang dihimpun Cenderawasih Pos menyebutkan, helikopter yang dipiloti Kapten Cpn. E.L. Siagian dan copilot Lettu. Cpn. M. Fatoni, terbang dari Timika Sabtu (10/9) sekitar pukul 15.45 WIT, mulai kehilangan kontak sekitar 15 mil dari Wamena. Menurut sumber-sumber Cenderawasih Pos, helikopter tersebut berhasil mendarat di Wamena, Minggu (11/9) sekitar pukul 11.00 WIT.

“Namun hingga saat ini saya belum mengetahui sebelumnya helikopter tersebut sempat mendarat dimana hingga mencemaskan pihak TNI AD yang tak mendapat keberadaannya,” ungkap sumber itu.

Sebelum hilang kontak, helikopter tersebut terbang pada ketinggian 060 altitude runway 12 Wamena. Karena menghindari cuaca yang saat itu sangat buruk. Heli mendarat pada posisi E 04 18′ 027 S 138 52′ 45 di sekitar Pegunungan Rumpius Kabupaten Wamena sekitar pukul 17.50 WIT Sabtu kemarin.

Sementara itu Heli baru bertolak dari lokasi pendaratan, Minggu 11 September sekitar 12.40 WIT dan 10 menit kemudian berhasil mendarat di Makodim 1702/JWY, Minggu (11/9) sekitar pukul 11.00 WIT kemarin.

Pilot Kapten Cpn. E.L Siagian, Copilot, Lettu. Cpn. M Fatoni bersama tiga orang kru antara lain, Pelda. Eko, Serka Yafet dan Praka Heru dilaporkan selamat dan tidak mengalami gangguan apapun, termasuk helikopter tersebut ketika mendarat di Makodim 1702/JWY juga tidak mengalami gangguan.

Pangdam XVII/Cenderawasih, Mayjen TNI. Erfi Triassunu ketika ditemui wartawan di Bandara Sentani usai mendampingi kunjungan KSAD di Timika, Minggu (11/9) kemarin mengatakan, helikopter tersebut telah mendarat mulus di Wamena, Kabupaten Jayawijaya dimana sebelumnya diketahui mendarat darurat di tempat datar tepatnya di pegunungan Rumpius karena cuaca saat itu buruk.

”Helikopter itu hilang kontak dan berupaya mendarat darurat kurang lebih 25 menit sampai di Bandara Wamena akhirnya keputusan pilotnya untuk mendarat di lokasi datar sehingga mendarat darurat. Pilot ketika itu sempat berupaya berkomunikasi baik itu ke Wamena maupun ke Timika namun karena cuaca buruk kemudian pilot mengambil keputusan untuk bermalam di tempat itu selanjutnya pagi harinya hendak terbang namun karena cuaca masih buruk sehingga sekitar pukul 11.00 WIT melihat cuaca baik akhirnya terbang menuju Wamena,” katanya.

Ditanya kenapa helicopter tersebut memilih terbang sore hari, Pangdam menjelaskan, sebenarnya heli tersebut berangkat sekitar pukul 15.40 WIT dan cuaca saat itu masih bagus karena perhitungan waktu sudah bisa mendarat di Wamena sekitar pukul 17.20 WIT. ”Memang cuaca di Papua ini tidak bisa diperkirakan bahkan terkadang berubah secara mendadak. Namun karena sesuai koordinasi dengan Basarnas untuk membantu pencarian korban Susi Air maka titik kumpulnya di Wamena, akhirnya heli itu berangkat ke Wamena,” paparnya.

Meskipun demikian, lanjut Pangdam, pihaknya telah berkoordinasi dengan Basarnas untuk tetap membantu dan melaksanakan proses evaluasi korban jatuhnya pesawat Susi Air namun melihat kondisi cuaca. Menurut Pangdam, karena berada di lembah dan kondisi geografis wilayah pegunungan tengah yang ekstrem membuat upaya helikopter hendak berangkat terpaksa gagal.
Sekedar diketahui, sesuai laporan dari Tower Bandara di Timika, bahwa Helikopter berangkat sekitar pukul 15.45 WIT menuju Wamena namun hanya beberapa menit kemudian langsung hilang kontak. Helikopter kehilangan kontak tepat pukul 15.52 WIT dimana 15 mil sebelum tiba di Bandara Wamena dan helikopter tersebut sempat diduga jatuh. Kemudian dari Bandara Timika bahwa Helikopter terbang dari Runway 12 dengan ketinggian 060 altitude dan Endurance 0230 Radial 090. (ro/nal/fud)

Cepos, Senin, 12 September 2011 , 07:32:00

Dua Malam, Dua Kasus Kebakaran

Jayapura- Dalam dua malam berturut-turut, si Jago merah ngamuk di Kota Jayapura. Kebakaran pertama terjadi di jalan Manokwari no 14, tepatnya dibawa SMP Negeri 2 Jayapura Jumat (9/9) sekitar jam 001.00 wit . Tidak ada korban jiwa dalam dua kebakaran yang terjadi di dua tempat yang berdeda itu, kecuali hanya menimbulkan kerugian material. Kasus di Jalan Manokwari ini, berawal dari korban saat itu sedang tertidur dan ketika bangun api sudah meraja lela dengan besar di dalam rumah , saat itu korban langsung lari menyelamatkan diri namun saat itu api sudah merambat ke rumah tetangga dan menghanguskan 2 rumah .

Atas kejadian tersebut korban MS melaporkan ke mapolsek Abepura , dan untuk kerugian belum dapat di taksir .
Sementara itu di tempat lain juga, sehari sebelumnya si jago merah melahap gudang mainan di APO kali, Kamis ( 8/9) sekitar jam 02.30 wit .

Sedangkan gudang mainan tersebut itu disewakan kepada pemiliknya kepada MR.
Tentang kronologis menurut keterangan saksi bahwa gudang tersebut berisikan mainan – mainan dan sisa petasan milik MR. (cr32/don/l03)

BP, Jumat, 09 September 2011 19:26

PESAWAT SUSI AIR JATUH

JAYAPURA—Awan mendung kembali menyelimuti dunia penerbangan di pegunungan rimba Papua. Kabar terbaru, pesawat Susi Air C 208 B PK – VVE jenis Caravan ditemukan jatuh di sekitar Silimo Area, Kabupaten Jayawijaya, Papua Provinsi pada Jumat (9/9) kemarin. Pesawat naas tersebut dikabarkan berangkat dari Bandara Wamena pada pukul 12.20 WIT dengan tujuan Keneyam, Kabupaten Nduga, tanpa penumpang dan membawa bahan bakar Minyak (BBM) jenis solar sebanyak 4 drum dan barang campuran lainnya. Pilot Dave Cootes, warga negara Australia dan Co Pilot Thomas Munk, warga negara Slovakia, diduga tewas dalam tragedi tersebut.

Pesawat tersebut diperkirakan jatuh di koordinat 042497 lintang selatan (LS) pada bujur timur (BT) di daerah Silimo Area, South Gap.

Menurut Kabid Perhubungan Udara, Dinas Perhubungan dan Informasi dan telekomunikasi Kabupaten Mimika, Dpl. Ing John Rettob, S.Sos.MM, pihaknya belum tahu persis penyebab jatuhnya pesawat milik maskapai penerbangan Susi Air ini. Pesawat ini mengangkut 4 drum bahan bakar minyak (BBM) jenis solar dan 150 kg bahan makanan (bama). Tidak ada penumpang yang ikut dalam penerbangan tersebut.

Lokasi jatuhnya pesawat ini diperkirakan 9.000-10.000 feet, dengan kondisi cuaca ekstrim, angin bertiup cukup kencang, sehingga membutuhkan tenaga-tenaga evakuasi yang berpengalaman.

Menurut John kemarin sore sempat ada penerbangan dari Timika menuju lokasi jatuhnya pesawat , namun tidak bisa dilakukan evakuasi karena cuaca sangat buruk. Menurut rencana Sabtu (10/9/2011) sekitar pukul 05.30 wit helicopter mining sharf (Euro hely copter) akan diterbangkan ke lokasi jatuhnya pesawat untuk melakukan evakuasi. Selain itu juga ada helicopter milik PT Freeport Indinesia juga akan membantu upacara pencairan dan evakuasi pesawat. Selain itu pula pihak Basarnas akan membantu dengan penggunakan heli kopter milik TNI AD yang saat ini sudah stand by di Hanggar Helipad Timika.

Namun petugas terus berkoordinasi untuk penyiapan cadangan bahan bakar di arela terdekat seperti di Dekay atau di Wamena. Sementara itu, tim SAR dari Jayapura akan bertolak ke Wamena kemudian akan melanjutkan penerbangan ke lokasi evakuasi pesawat.

SAR Mimika Kirim 8 Tenaga Penyelamat
Untuk membantu pencarian dan evakuasi korban pesawat Susi Air yang jatuh di Silimo Area, pihak im Mimika akan mengirim 8 orang personil terlatih untuk bergabung bersama tim evakuasi lainnya. Sabtu (10/9/2011) sekitar pukul 05.30 wit personil SAR Timika stand by di Hanggar Bandara Iternasional Moses Kilangin untuk diberangkatkan ke lokasi jatuhnya pesawat.

“ Pusat pengendali ada di SAR Jayapura, SAR Mimika mengikuti petunjuk dari Jayapura. Untuk mempercepat proses evakuasi SAR Mimika mengirim 8 tenaga terlatih untuk bergabung bersama tim SAR lainnya. Tim SAR akan bekerja melakukan pencarian dan evakuasi korban,” kata Kepala SAR Mimika, Zulfikar, S.Sos kepada wartawan melalui telpon genggamnya malam tadi.

Zulfikar mengatakan pihaknya telah melapor ke SAR Jayapura, mengenai kesiapan tenaga SAR Mimika untuk membantu proses evakuasi di lokasi jatuhnya pesawat di Silimo Area. Basarnas sendiri telah berkoodinasi dengan pihak TNI ADa untuk menggunakan pesawat helicopternya yang dapat dipergunakan untuk mendukung proses evakuasi.

Pekerjaan yang dilakukan oleh SAR jelas sesuai protap melakukan tindakan penyelematan, pencairan dan evakuasi korban. Setelah evakuasi korban mau dibawah ke mana menjadi tanggungjawab pihak Susi Air. Sembari Zulfikar menjelaskan, selalu berkoodinasi terus menerus dengan Perhubungan Udara Dinas Perhubungan dan Infokom Kabupaten Mimika, pihak Lanud Timika, pihak Bandara Timika, dan Basarnas Jayapura. “ Evakuasi mulai besok, Timika terjunkan 8 personil sedangkan selebihnya dari SAR Jayapura dan personil penyelemat dari kesatuan-kesatuan lainnya,” jelas Zulfikar.

Sementara itu Kabid Humas Polda Papua Kombes Pol Wachyono yang dikonfirmasi Bintang Papua semalam terkait tragedi pesawat ini mengatakan bahwa,” Sementara ini Tim SAR dari Susi Air bekerja sama dengan Polres Jayawijaya sedang melakukan evakuasi korban pesawat naas tersebut,” jelasnya.

Wachyono juga menyatakan,”Sejauh ini belum ada persiapan dan rencana dari Tim SAR Polda Papua untuk naik ke Wamena, namun, apabila pada perkembangannya ternyata dibutuhkan, pihaknya pasti akan melakukan persiapan dan memberikan dukungan guna membantu dan mengevakuasi korban serta mencari black box (kotak hitam),” tambahnya. (hdm/cr-32/don/l03)

BP, Jumat, 09 September 2011 19:33

Up ↑

Wantok Coffee

Melanesia Single Origin Coffee

MAMA Minimart

MAMA Stap, na Yumi Stap!

PT Kimarek Aruwam Agorik

Just another WordPress.com site

Wantok Coffee News

Melanesia Foods and Beverages News

Perempuan Papua

Melahirkan, Merawat dan Menyambut

UUDS ULMWP

for a Free and Independent West Papua

UUDS ULMWP 2020

Memagari untuk Membebaskan Tanah dan Bangsa Papua!

Melanesia Spirit & Nature News

Promoting the Melanesian Way Conservation

Kotokay

The Roof of the Melanesian Elders

Eight Plus One Ministry

To Spread the Gospel, from Melanesia to Indonesia!

Koteka

This is My Origin and My Destiny