40 Warga Intan Jaya Tewas

JAYAPURA [PAPOS] – Sebanyak 40 orang warga Kampung Distrik Humeo Kabupaten Intan Jaya tewas akibat terkena wabah penyakit Tropica selama 3 bulan berjalan. Mereka tewas aibat tidak adanya pengobatan dari tenaga medis dan tidak adanya stok obat-obat untuk penyakit yang diderita masyarakat tersebut.

Diduga wabah malaria tropica yang melanda warga kampung Humeo itu akibat pengaruh suhu cuaca yang sangat dingin hinga diperkirakan mencapai sekitar 15 derajat celcius, sehingga mereka tidak biaa mengatasi serangan penyakit yang diderita itu.

Anggota DPR Papua, Julius Miagoni kepada wartawan, Selasa (8/6) mengatakan, wabah malaria yang melanda 4 kampung di Distrik Humeo telah berlangsung sejak April lalu dan telah menewaskan sebanyak 40 orang.

Julius mengatakan bahwa dari keempat kampung yang terkena wabah penyakit malaria Tropica itu diantaranya kampong Maya, Kampung Mapa, Kampung Sanepa dan kampung Bilae.

Dia mengatakan kalau pemerintak daerah setempat sudah berupaya memberikan bantuan medis kepada mereka, namun karena keterbatasan stok obat dan sulitnya untuk menjangkau lokasi penduduk tidak bisa meminimalisir jumlah korban yang tewas, bahkan diperkirakan korban akan bertambah, jika tidak segera ditangani.

“ Jika tidak segera dilakukan penanganganan khusus di kampung-kampung tersebut serta perhatian terutama dari Dinas Kesehatan di Kampung tersebut, akan menambah korban lebih banyak lagi,” ujarnya.

Dia mengatakan, bahwa kondisi warga saat ini banyak yang sudah terjangkit wabah penyakit, mereka sangat membutuhkan pertolongan medis terutama obat-obatan, jika tidak maka korban akan terus bertambah.

Dia berharap kepada Pemerintah daerah (Pemda), terutama kepada Dinas Kesehatan untuk melakukan penanganan dengan mengirimkan tenaga Medis, dan obat-obatan untuk membantu mereka.

Ketika ditanya awal munculnya penyakit tersebut, Julius mengatakan, muncul penyakit itu karena faktor cuaca dalam tiga bulan terakhir ini, dimana suhu sangat ekstrem yakni dingin, sehingga warga banyak yang tidak tahan. “Kondisi cuaca yang ekstrem membuat daya tahan warga lemah dan tidak bisa berbuat apa-apa,” katanya.

Sudah saatnya pemerintah provinsi maupun pemerintah pusat segera merespon dan mengambil langka-langkah pertolongan untuk mencegah korban yang lebih banyak.

“Pemerintah harus segera merespon kondisi ini agar korban tidak bertambah,” tandasnya.[loy]

Ditulis oleh loy/Papos  
Selasa, 08 Juni 2010 20:11

Barak Tamtama Polres Jayawijaya Dilahap Si Jago Merah

WAMENA [PAPOS]- Barak tamtama Polres Jayawijaya yang terletak di Jalan Bhayangkara Wamena Senin [7/6] sekitar pukul 09.15 menit WIT hangus di lahap s jago merah.

Kapolres Jayawijaya AKBP I Gede Sumerta Jaya, SIK.  yang ditemui wartawan siang kemarin mengatakan, sekitar pukul 09.00 pagi telah terjadi kebakaran di asrama Polres Jayawijaya. “Kebakaran asrama polres Jayawijaya tadi telah menghanguskan sepuluh blok rumah yang dihuni oleh sepuluh kepala keluarga,” ungkapnya.

Ketika ditanya soal sumber terjadinya kebakaran. Kapolres mengatakan, sumber api masih diselidiki oleh pihak Reskrim yang dipimpin langsung oleh Kasat Reskrim Polres Jayawijaya AKP. Philip M. Ladjar. “Untuk penyebab yang pasti masih di selidiki oleh pihak Reskrim tapi untuk rata-rata saat ini diperkirakan api berasal dari kompor  karena itu jam-jam untuk memasak atau arus pendek listrik,” katanya.

Kebakaran yang sontak mengagetkan warga kota Wamena ini menurut Kapolres Jayawijaya berlangsung sekitar satu jam dan api yang berkobar tidak menjalar ke bangunan lain yang ada disekitar Polres Jayawijaya karena langsung ditangani oleh pihak pemadam kebakaran yang agak terlambat saat dating ke TKP.  “Kebakaran berlangsung sekitar satu jam dan berhasil dijinakan oleh pihak pemadam kebakaran yang dibantu oleh anggota Polres Jayawijaya,” tukasnya seraya ia menambahkan bahwa pihaknya kesal pihak pemadam kebakaran Kabupaten Jayawijaya yang dalam menangani masalah kebakaran di daerah ini dinilai lambat.

Selain itu menurut Kapolres bangunan yang terbakar merupakan bangunan tua yang terbuat dari seng sehingga mudah untuk terbakar, dia juga menambahkan bahwa para korban kebakaran untuk sementara akan di pindahkan ke tiga rumah yang ada di sekitar Polres Jayawijaya sambil menunggu dirinya memberikan laporan kepada pihak Polda Papua. ‘’Untuk para korban akan tinggal di tiga rumah yang ada di Polres sini, dan saya akan melaporkan kejadian ini kepada Kapolda untuk bagaimana membangun bangunan yang baru nanti,” terangnya.

Mengenai kerugian materi yang dialami para korban dalam kebakaran ini menurut Kapolres pihaknya belum dapat menentukan karena belum mendapatkan keterangan pasti karena hingga saat ini masih dilakukan oleh TKP oleh pihak Reskrim Polres Jayawijaya. “Tapi diperkirakan semua barang berharga habis terbakar. Namun dalam kebakaran ini menurut Kapolres, tidak ada korban jiwa ataupun luka-luka yang dialami oleh para korban.’’ [fredy]

Di Distrik Pirime Orang Dikampak Hingga Tewas

WAMENA [PAPOS]- Kamis (3/6) lalu di Kampung Golo Distrik Pirime Kabupaten Lanny Jaya telah terjadi kasus pembunuhan yang dilakukan oleh DK (34) terhadap korban dengan inisial DW (40).

Kasat Reskrim Polres Jayawijaya AKP. Philip M. Ladjar ketika ditemui wartawan dirung kerjanya Senin (7/6) mengatakan, pada hari Sabtu (5/6) pihaknya telah menerima laporan dari seorang PNS bernama Yundin Wandik (32) bahwa telah terjadi kasus pembunuhan dan pengeniayaan di Kampung Golo Distrik Pirime oleh tersangka DK terhadap dua orang korban masing-masing DW (40) aparat kampung Libome Distrik Pirime yang langsung meniggal dunia di TKP dan korban luka NW (30).

Kronologis kejadian pembunuhan dan penganiayaan yang dilakukan oleh pelaku DK, menurut Philip awalnya pelaku dengan membawa kapak memanggil kedua korban untuk keluar dari rumahnya (honai) dan pada saat keluar pelaku langsung mengayunkan kampaknya dan langsung mengenai dahi korban DW yang langsung meniggal seketika di TKP sedangkan korban NW yang bermaksud melerai dan mengambil kampak milik pelaku namun korban NW juga terkena ayunan kapak di lengan sebelah kanan.

Korban NW langsung dilarikan ke puskesmas setempat untuk mendapatkan perawatan intensif, sehingga dirinya dapat tertolong. Setelah mendapatkan informasi tersebut pihak Polres Jayawijaya yang dipimpin oleh Kasat Reskrim AKP. Philip M. Ladjar yang memimpin oleh TKP langsung mengamankan pelaku dan para saksi serta menyita barang bukti (BB) berupa satu buah kapak yang di gunakan pelaku dalam melakukan aksinya.

“Pelaku DW dan barang bukti telah kami amankan di Polres Jayawijaya untuk kepentingan penyidikan dan setelah berkasnya lengkap kami akan melimpahkannya” kata Philip.

Selain itu Philip juga mengatakan dalam penanganan kasus ini pihaknya juga bekerjasama dengan Polsek Pirime karena tempat dan lokasi kejadian berada di wilayah hukum Polsek Pirime.

Menurut Philip, Pelaku DW akan dikenakan pasal 338 KUHP pembunuhan biasa tanpa rencana dengan ancaman hukuman 15 tahun penjara dan pasal 351 KUHP penganiayaan yang mengakibatkan luka berat dengan ancaman hukuman 5 tahun penjara.

Ditambahkannya, dari keterangan saksi yang diperoleh menjelaskan bahwa pelaku diperkirakan mengalami gangguan jiwa (gila) sehingga dirinya melakukan tindakan pembuhunan dan penganiayaan yang memakan dua orang korban. [fredy]

Ditulis oleh Fredy/Papos  
Selasa, 08 Juni 2010 00:00

Ribuan Kayu Ilegal dari teluk Bintuni Disita

JAYAPURA [PAPOS]– Ribuan kayu tanpa dokumen di Sungai Mayapo,Kabupaten Teluk Bintuni, Jumat (4/6/) lalu berhasil disita Tim Operasi Hutan Lestari (OHL) 2010, Wilayah Papua dan Papua Barat.

Ribuan kayu tersebut terdiri dari 2175 m3 Kayu Merbau dan 3124 m3 Kayu campuran yang rencananya akan ke Surabaya yang akan diangkut menggunakan dua kapal tongkang milik PT.N dan PT.WG.

“ Hasil yang diperoleh para pengusaha yang selama ini telah dikenal memiliki HPH atau UPH, tetapi mereka tidak bisa menunjukkan dokumen sah sehingga kami dianggap sebagai perbuatan pidana sesuai dengan UU. No.41 tahun 1999,” ungkap anggota Tim Operasi Hutan Lestari 2010 Wilayah Papua Barat, Kombes Pol Paulus Waterpauw, kepada wartawan di Jayapura, Selasa [8/6].

Lebih jauh dikatakan, pihaknya telah menyita sejumlah 5300 m3 kayu Merbau, 2175 m3 atau 435 batang dan kayu campuran sebanyak 3125 m3 atau 625 batang.

Disamping ribuan kayu illegal, tim yang dipimpin langsung Direktur V Bareskrim Mabes Polri ini, juga menangkap 2 Tongkang yakni Ringgo milik PT.N dan tongkang Samudera Indonesia 77 PT. WG.

“Ada juga 7 alat berat milik PT.WG dan 3 mobil pengangkut kayu,” tambah Waterpauw.

Dituturkan, kronologis penangkapan saat kedua tongkang yang mengangkut ribuan kapal ini,  telah keluar dari areal penebangan.

Dimana dari informasi awal telah di pegang oleh Tim yang terdiri dari 12 orang.

Tim kemudian melakukan pengejaran dengan lama perjalanan darat selama 5 dari ibukota kabupaten dan melewati sungai dengan Long boat selama 2 jam. Setelah dicek oleh petugas ternyata, dari log atau TPK sementara, para pembalak ini tidak mampu menunjukkan dokumen dari kayu tersebut.

Hasil penangkapan ini, telah ada 3 tersangka, dimana salah satunya berisial A sementara 2 orang lainnya merupakan tenaga stailer. Ketiga tersangka telah diamankan di Polres Bintuni. oleh Tim penyidik.

Keterangan  tersangka mengatakan perusahaan mereka telah beroperasional sejak tahun 1992.[lina]

Ditulis oleh Lina/Papos  
Rabu, 09 Juni 2010 00:00

Benny : Kampung Wadapi Bukan Sarang OPM

SERUI [PAPOS]- Kampung Wadapi Distrik Angkaisera diakui sangat tertinggal pembangunan dibandingkan dengan daerah lain, bahkan pertumbuhan ekonomi di daerah itu sangat jauh tertinggal. Karena itu, masyarakat kampung Wadapi sangat membutuhkan sentuhan pembangunan.

‘’Kami selalu berteriak, tetapi teriakan kami tidak pernah didengar pemerintah daerah. Kami sudah capek berteriak, kami tidak tahu lagi kepada siapa mengadu. Padahal daerah kami selain transportasi laut, juga dapat dilalu transportasi darat,’’ kata Benny saat bertemu dengan anggota DPD RI Tony Tesar Rouw di balai Kampung Wadapi, belum lama ini.

Konon lagi kata Benny kampung Wadapi selalu dicap sebagai basis OPM. Padahal itu tidak benar sama sekali. Selaku warga Negara Indonesia, sama seperti daerah lainnya di Papua, Kampung Wadapi ingin diperhatikan lewat pembangunan, sehingga pertumbuhan perekonomian di daerah semakin berkembang. Karena kondisi pembangunan di Kampung Wadapi tidak tersentuh.

“Siapa yang tidak sedih kalau pembangunan ke daerah kami dibiarkan begitu saja, tanpa ada perhatian pemerintah. Kami butuh uluran tangan pemerintah, buatlah pembangunan di daerah kami, sama seperti daerah lain, pembangunan selalu diluncurkan pemerintah,” katanya.

Disamping itu, lanjut Benny kalau Kampung Wadapi yang di cap adalah pusatnya gerakan Papua Merdeka, kenapa arus keluar masuk kedaerah ini tidak terganggu. Oleh karena itu, ia menegaskan bahwa Kampung Wadapi yang dicap sebagai basis OPM adalah tidak benar, sebaliknya kalau dikatakan Kampung Wadapi selalu menyerukan agar kampung itu selalu di bangun adalah benar.“Sebenarnya kami hanya butuh perhatian pemerintah daerah untuk membangun daerah kami, karena jika daerah kami sudah di bangun sudah jelas tingkat perekonomian di daerah ini semakin meningkat, bukan seperti saat ini,” pintahnya.

Untuk itulah, ia mengharapkan kepada pak Tony yang sudah di dengar Kampung Wadapi maju dalam Pemilukada Yapen sangat menaruh harapan memperhatikan Kampung Wadapi lewat pembangunan-pembangunan di berbagai sektor. “Saya sangat mengharapkan jika memang pak Tony terpilih nanti menjadi pemimpin di daerah ini, Kampung Wadapi harus di perhatikan lewat pembangunan, karena sudah banyak janji-janji yang ditebar di daerah ini, tetapi kenyataan kondisi Kampung Wadapi saat ini masih seperti yang dulu, tidak berubah,”terangnya.

Ditempat yang sama Sergius Paulus Wamea juga mengemukakan kalau memang Tuhan menghendaki pak Tony sebagai pemimpin di daerah ini, warga masyarakat di daerah ini sangat berpengharapan terjadi suatu perubahan dan memang benar berubah pembangunan di daerah ini. Sehingga kendati banyak janji yang sudah bergema di daerah ini, mungkin saja harus terobati dalam kepemimpinan pak Tony nanti.

“Sudah jelas Kampung Wadapi dalam Pemilu legislatif memberikan hak suara kepada pak Tony, sehingga wajar kalau kami di Kampung Wadapi berharap pak Tony mengubah pembangunan di daerah ini,” katanya. [cr-53]

Ditulis oleh Cr-53/Papos  
Rabu, 09 Juni 2010 00:00

Suku Moni Desak Gubernur Bertindak

JAYAPURA [PAPOS] – Aliansi Suku Wolani Moni [ASWM] Kabupaten Pania mendesak agar Gubernur Provinsi Papua, Barnabas Suebu, SH segera mengeksekusi wilayah pertambangan liar di Degewo Kabupaten Pania.

Desakan itu disampaikan Ketua Intelektual ASWM, Thobias Baguban kepada Papua Pos, Selasa (8/6) kemarin di Abepura.

Thobias Baguban mengatakan bahwa kondisi yang terjadi saat ini di Degewo dimana banyak sekali pengusahan tanpa ijin melakukan pertambangan liar dan mengambil hasil di daerah tersebut sehingga merugikan masyarakat setempat.

Thobias Baguban menyampaikan bahwa parahnya lagi pengusaha yang tidak mempunyai ijin tersebut saat melakukan pertambangan liar dibekap oleh pihak Keamana sehingga masyarakat yang mempunyai hak wilayah tidak bisa berbuat apa-apa lantar takut ditembak.

Thobias Baguban menuturkan bahwa tindakan penambangan tersebut sangat merusak lingkungan dan sangat merugikan daerah, sehingga pemerintah provinsi harus mengatasinya segera mungkin karena pemerintah Kabupaten setempat tidak mampu berbuat apa-apa hanya sebagai penonton.

Thobias Baguban berkata, pernyataan Gubernur Provinsi Papua Barnabas Suebu,SH di beberapa media masa tertanggal 25 Mei yang lalu dimana Gubernur mengatakan bahwa segera hentikan pertambangan liar di daerah Nabire dan Paniai. Namun pernyataan Gubernur itu sampai saat ini belum dilakukan dan pertambangan liar masih terjadi sampai detik ini.

Thobias Baguban sangat pemenyayangkan kalau Gubernur hanya bicara dari media tanpa ada tindakan yang dilakukan untuk menyelamatkan hasil tambang didaerah tersebut.

“Meskipun Gubernur telah menyampaikan ultimatum lewat media agar penambangan liar di Pania ditutup. Namun kenyataan yang terjadi saat ini penambangan liar semakin banyak dan semuanya diback up aparat keamana, sehingga ASWM mewakili masyarakat di daerah itu berharap Gubernur segerah mengambil tindakan untuk mengeksekusi daerah tersebut agar tidak ada lagi penambangan liar,” ujar Thobias Baguban.

Thobias Baguban juga berharap kepada Kapolda Papua agar menindak anggotanya yang memback-up penambangan liar di daerah Pania khususnya di Degowo dan sekitarnya.

Bahkan Thobias Baguban meminta agar Kapolda Papua meninjau lokasi penambangan di Pania dan memeriksa setiap anggota yang terlibat memback up penambangan liar tersebut serta memberikan mereka hukuman yang setimpa dengan perbuatannya. [eka]

Ditulis oleh Eka/Papos  
Rabu, 09 Juni 2010 00:00

Api Mengamuk di APO

MUSIBAH : Si jago merah melahap empat rumah milik KONI Papua di belakang Gedung Olahraga Cenderawasih [GOR] APO, Jayapura, Senin [7/6] dini hari sekitar pukul 02.30 Wit. Akibat kebakaran tersebut satu orang meninggal dunia hangus terbakar terjebak ketika menyelamatkan keluarganya.

MUSIBAH : Si jago merah melahap empat rumah milik KONI Papua di belakang Gedung Olahraga Cenderawasih [GOR] APO, Jayapura, Senin [7/6] dini hari sekitar pukul 02.30 Wit. Akibat kebakaran tersebut satu orang meninggal dunia hangus terbakar terjebak ketika menyelamatkan keluarganya.
JAYAPURA [PAPOS] – Lagi-lagi kebakaran terjadi di Kota Jayapura, kali ini sijago merah mengamuk diperumahan Koni Provinsi Papua, tepatnya di belakang Gedung Olahraga Cenderawasih [GOR] APO, Jayapura, Senin [7/6] dini hari sekitar pukul 02.30 Wit.Akibatnya 4 rumah ludes dilahap sijago merah dan 1 orang tewas hangus terbakar. Api diduga berasal dari arus pendek rumah yang tidak di huni selama 2 tahun.

Menurut keterangan sejumlah saksi yang berada di lokasi kejadian bahwa kebakaran itu berawal dari rumah bekas Primagama lama yang kini sudah 2 tahun tidak dihuni.

Api menyala sekali hingga menghabiskan rumah di sekitarnya termasuk kos-kost.

Sayangnya, saat kebakaran itu korban Ramly tewas dalam kebakaran. Sebelum terbakar, korban sempat menyelamatkan anaknya berusia sekitar 17 tahun, serta menyelamatkan barang-barang milik mereka, namun begitu korban keluar bersama anaknya, ia kembali kerumah untuk mengambil barang-barang miliknya.

Hanya hitungan detik, kemudian api sudah membakar kayu bangunan dan jatuh menimpa korban serta rumah dipenuhi asap. Alhasil, korban tidak bisa keluar, akhirnya membakar seluruh tubuhnya hingga hangus.

Selain korban tewas terbak, mobil carry bernopol DS 7530 AB ikut hangus di lalap si jago merah. Akibat kebakaran kerugian materil sekitar ratusan juta.

Dari Pantauan Papua Pos saat kejadian, mobil water Canon dari Polda Papua, bersama 3 unit mobil pemadam milik Pemda langsung turun ke lokasi kejadian untuk memadamkan api. Apbi baru bisa dipadamkan setelah 3 jam kemudian.

Setelah berhasil memadamkan api, korban terbakar dievakuasi oleh tim identifikasi Polresta Jayapura ke Rumah Sakit Dok II Jayapura untuk di lakukan otopsi.

Wakapolresta Jayapura, Kompol Amazona Pelamonia SH,SIK di dampingi Kaur Bin Ops Reskrim Polresta Jayapura, Ipda Saraju mengatakan api tersebut diduga berasal dari arus pendek, hingga si jago merah itu mengamuk dan melalap semua rumah bersama 1 orang tewas serta mobil carry yang berada di areal tempat kebakaran tersebut.

“Saat kejadian kami dari pihak Polresta bersama Polda Papua langsung menuju ke TKP untuk menyelamtkan semua barang-barang pelaku serta berusaha untuk memadakan api dengan di bantu oleh mobil Water Canon bersama 3 unit mobil dari Pemda,” tambah Wakapolresta

Wakapolresta mengungkapkan, pihaknya sampai saat ini masih tetap melakukan penyelidikan dan penyidikan dengan memanggil sejumlah saksi secara intensif untuk dimintain keterangannya. Akibat kebakaran ini ujarnya kerugian pemilik rumah maupun yang kos di sekitarnya dikasir ratusan juta. “ Kita belum bisa memastikan berapa kerugian para korban, namun dari perkiraan kami nilainya sekitar ratusan juta,” tandasnya. [loy]

Ditulis oleh loy/Papos  
Selasa, 08 Juni 2010 00:00

13 IRT Pengidap HIV/ AIDS Shok Berat

MERAUKE [PAPOS]-Berdasarkan data dari Komisi Penaggulangan AIDS Daerah (KPAD) Kabupaten Merauke, sebanyak 13 ibu rumah tangga (IRT) yang positif mengidap penyakit HIV/AIDS. Dari jumlah tersebut, lima diaantaranya sedang dalam keadaan hamil. Jumlah para penderita itu, terhitung dari Januari-Maret 2010. Meskipun saat ini mereka masih tinggal bersama suami dan anak-anak, namun sedang dalam keadaan shok berat lantaran tidak menduga akan menerima kenyataan hidup demikian.

Salah seorang staf KPAD Kabupaten Merauke, Pdt. Stef Labwoer yang ditemui Papua Pos di ruang kerjanya, Senin (7/6) mengungkapkan, jumlah tersebut, umumnya tinggal di Kota Merauke, tetapi ada satu dan dua yang berada di distrik dan kampung. “Kami mengetahui keberadaan dari para penderita, tetapi tidak mungkin haraus menyebutkan nama dan alamat tempat tinggal mereka. Karena itu merupakan rahasia dan tidak boleh diketahui oleh siapapun. Hal tersebut bertujuan agar mereka tetap bergaul sebagaimana biasa dengan masyarakat lain di lingkungan sekitar,” ungkap Stef.

Stef mengakui jika 13 IRT yang mengidap penyakit HIV/AIDS, sampai sekarang belum diketahui oleh suami mereka meskipun tinggal serumah. Mereka pun masih sungkan untuk menyampaikan kepada suami masing-masing tentang kondisi kesehatan yang sedang dihadapi sekarang. KPAD, katanya, memiliki program konselling buka status. Artinya, suatu waktu, para penderita didampingi petugas, akan menyampaikan secara transparan akan penyakit yang tengah dihadapi sekarang. “Memang membutuhkan waktu yang panjang untuk istri menyampaikan kondisi yang sebenarnya. Kita harus akui juga jika ketika sang istri membuka mulut, suami tentunya akan kaget dan tidak percaya. Tetapi itulah fakta dan kondisi riil yang harus diterima,” katanya.

Ditanya bagaimana jika suami meminta untuk dilayani, Stef mengungkapkan, pihaknya telah mengingatkan para IRT agar selalu menggunakan kondom. Hal itu bermaksud agar sang suami tidak tertular penyakit mematikan tersebut. Terkadang juga isteri menolak untuk melayani dengan alasan kondisi kurang fit atau sedang sakit. “Ya, memang itu salah satu cara yang dilakukan agar suami tidak ikut tertular. Sekali lagi saya katakan bahwa suatu waktu akan disampaikan secara terbuka. Kita tidak bisa serta merta langsung meminta penderita untuk membuka mulut ke suami. Semua butuh waktu dan melihat kondisi yang ada,” tandasnya.

Saat ini, jelas Stef, para penderita tetap melakukan pemeriksaan secara rutin di sejumlah VCT yang tersebar di Kota Merauke. Khusus lima IRT yang sedang dalam keadaan hamil dan tidak lama akan melahirkan, telah diingatkan agar selalu menjaga bayi dalam kandungan dan memeriksakan kesehatan secara kontinyu. Karena dengan pemeriksaan rutin dan obat-obatan yang diberikan untuk dikonsumsi, otomatis bayi dalam kandungan akan selamat dan tidak tertular penyakit HIV/AIDS. “Ya, kuncinya adalah ibu dari bayi sendiri yang harus kontrol rutin ke beberapa tempat dimaksud. Saya menjami bayi akan lahir selamat dan tidak mengidap penyakit,” kata dia. [frans]

Ditulis oleh Frans/Papos  
Selasa, 08 Juni 2010 00:00

Hutan Papua Berkurang 3,5 Juta Hektare

Timika (ANTARA News) – Luas kawasan hutan di Provinsi Papua mengalami pengurangan sekitar 3,5 juta hektar dari sekitar 31,56 juta hektar pada dekade 1960-an hingga menjadi 28 juta hektare saat ini.

Kepala Dinas Kehutanan Provinsi Papua, Ir Marthen Kayoi kepada ANTARA News di Timika, Sabtu mengatakan pengurangan luas kawasan hutan Papua itu sebagai dampak dari meningkatnya aktivitas pembangunan serta pengelolaan hutan.

"Pengurangan kawasan hutan di Papua salah satunya akibat pemekaran wilayah kabupaten/kota serta meningkatnya aktivitas pengelolaan hutan," jelas Kayoi.

Ia mengatakan, sekitar tujuh kabupaten yang baru terbentuk di Provinsi Papua yang berada di wilayah pegunungan tengah, wilayah administratifnya seluruhnya berada di dalam kawasan hutan lindung Taman Nasional Lorentz dan Taman Nasional Memberamo.

"Kabupaten Nduga, Memberamo Raya dan Memberamo Tengah itu seluruh wilayahnya berada dalam kawasan Taman Nasional Lorentz dan Taman Nasional Memberamo," jelas Kayoi.

Menurut dia, pembentukan sejumlah kabupaten baru tersebut otomatis akan berdampak terhadap pemanfaatan kawasan hutan untuk pembangunan perkantoran pemerintah dan pemukiman masyarakat.

Meski demikian, Kayoi berharap Pemda di semua kabupaten yang baru dibentuk tersebut dapat membangun infrastruktur umum dengan memperhatikan kelangsungan ekosistem hutan di sekitar agar tidak terjadi kerusakan akibat penebangan yang tidak terkendali.
(T.E015/S006/P003)

COPYRIGHT © 2010

Satu Orang Tewas Tertimbun Longsor di Jayapura

Jayapura (ANTARA News) – Satu orang warga Dok V, Jalan Lembah Yapis, Kota Jayapura, Papua, ditemukan tewas tertimbun tanah longsor yang melanda kawasan tersebut, Jumat (4/6) pagi.
Kepala Kesatuan Bangsa (Kesbang) Provinsi Papua, Washington Turip, Jumat, mengatakan, korban tewas tersebut bernama Rumbeka Degey (36) dan berstatus sebagai istri Simon Kudiay (35).

Ia menjelaskan, meninggalnya satu orang itu karena terbawa oleh reruntuhan tanah dari ketinggian lima meter lalu tertimbun tertimbun. Sementara, satu korban lainnya yang selamat, Yuniaria Kudiay (5), anak Simon Kudiay.

"Korban meninggal direncanakan akan dimakamkan Sabtu (5/6), sementara Yuniaria Kudiay, masih menjalani perawatan intensif di Rumah Sakit Umum Daerah (RSUD) Dok II Jayapura," ujarnya.
Simon Kudiay menjelaskan, peristiwa tanah longsor itu terjadi pada Jumat pagi sekitar pukul 05:30 WIT.

Diawali ketika hujan yang terus mengguyur kawasan itu sejak dua malam berturut-turut, sementara tebing setinggi lima meter yang berada di atas rumah korban mendadak longsor dan menimbun tiga rumah.

Sementara, di lingkungan tersebut hanya ada delapan kepala keluarga (KK) yang tinggal, sedangkan dengan kejadian ini, tujuh KK lainnya selamat.

"Lokasi tempat tinggal korban berada di lembah Yapis, jadi kawasan ini memang rawan terjadi tanah longsor," ucapnya.

Hingga Jumat siang, sejumlah warga dibantu aparat keamanan dan Departemen Sosial masih membersihkan sisa longsor tersebut.
(KR-ALX/S026)
COPYRIGHT © 2010

SITUASI AKHIR PUNCAK JAYA: Dearah Operasi Militer (DOM) Diterapkan, Penduduk Diungsikan

Puncak Jaya SPMNews:  Permintaan Bupati Puncak Jaya, serta ketua Dewan Puncak Jaya kepada Gubernur, Pangdam, serta ke Pemerintah Puasat  untuk menjadikan Puncak Jaya sebagai Derah Operasi Militer (DOM)  di wilaya Puncak Jaya akhirnya dikabulkan oleh TNI/POLRI.  Menurut info yang kami terima dari orang terpercaya di PEMKAB Puncak Jaya bahwa operasi besar-besaran akan dilakukan didalam minggu besok 17 Juni 2010. Persiapan dilakukan dari 4 titik (Empat Kabupaten) untuk pendropan pasukan TNI/POLRI, dari arah Tolikara, Puncak Jaya, Ilaga ( Kab. Puncak).

Menurut orang terpercaya tersebut mengatakan bahwa Anggaran yang dianggarkan dari dana Rakyat/ OTONOMI Khusus sebesar Rp.100m.

Semua rakyat di sekitar Tingginambut dan Pilia, Monia  di ungsikan ke kampung-kampung yang jauh dari daerah yang ditargetkan menjai Daerah Operasi Militer (DOM).

Sebagian dari mereka memilih untuk mengungsi ke Wamena, ada ke Puncak Jaya, ada yang ke Tolikara. Operasi akan di jalankan jika ada komando bergerak dari Kapolda Papua dan Pangdam Papua, sedangkan komando untuk pendropan Pasukan serta Alat perang sudah dilakukan didalam minggu ini.

Pendropan pasukan membuat rakyat di 4 Kabupaten panic karena trauma dengan perlakuan TNI/POLRI didalam operasi-operasi sebelumnya.

Goliat Tabuni, Gen. TRWP nyatakan siap untuk berperang, namun ia masih mengadakan perhitungan amunisi karena mereka kekurangan Amunisi. Adik kandungnya seorang perempuan dikirim ke Vanimo untuk membeli amunisi, sayangnya ia masuk ke alamat dan orang yang salah sehingga dana sumbangan untuk membeli amunisi lenyap di pertengahan usahanya.

Demikian

Up ↑

Wantok Coffee

Melanesia Single Origin Coffee

MAMA Minimart

MAMA Stap, na Yumi Stap!

PT Kimarek Aruwam Agorik

Just another WordPress.com site

Wantok Coffee News

Melanesia Foods and Beverages News

Perempuan Papua

Melahirkan, Merawat dan Menyambut

UUDS ULMWP

for a Free and Independent West Papua

UUDS ULMWP 2020

Memagari untuk Membebaskan Tanah dan Bangsa Papua!

Melanesia Spirit & Nature News

Promoting the Melanesian Way Conservation

Kotokay

The Roof of the Melanesian Elders

Eight Plus One Ministry

To Spread the Gospel, from Melanesia to Indonesia!

Koteka

This is My Origin and My Destiny