Gempa Talaud, 1.220 Rumah Rusak

[MANADO] Bencana gempa bumi di Kabupaten Talaud, Sulawesi Utara (Sulut) mengakibatkan sebanyak 1.220 bangunan rumah, terumasuk rumah ibadah rusak. Sebanyak 597 rumah rusak berat, 326 rusak sedang, dan 297 rusak ringan.

“Akibat gempa, 64 orang luka-luka ringan. Tim sudah turun bersama dari pemerintah pusat. Hingga sat ini, sekitar 6.000 warga yang terkena bencana ini, karena rumah mereka rusak. Pemerintah akan memberikan bantuan,” kata Kepala Badan Penanggulangan Bencana Sulut Roy Roring kepada SP di Manado, Jumat (13/2).

Kabupaten Talaud, yang jaraknya sekitar 300 mil dari Kota Manado, sebagian besar masyarakat tinggal di pulau-pulau. Bupati Talaud Elly Lasut menjelaskan, satu orang dinyatakan meninggal, yakni Yasmin Unas (65). Korban adalah pasien Rumah Sakit Mala, yang syok saat diungsikan di Kantor Bupati Talaud.

Kerugian akibat gempa bumi, penghitungan sementara sekitar Rp 170 miliar. Itu terjadi di tujuh kecamatan, dari 16 kecamatan di Talaud. Gempa ini memang sangat besar, yaitu 7,4 skala ricther, yang memang terbesar dalam 10 tahun belakangan ini. Kondisi masyarakat, sudah kembali dari pengungsian. Namun, masih takut tinggal di rumah mereka yang retak-retak dan rusak berat, katanya.

Kepala Dinas Sosial Sulut Rekky Tumanduk mengatakan, saat ini sudah diberikan bantuan 2,5 ton beras, 100 selimut, 1.500 dus mi instan, dan 60 tenda. Mereka yang rumahnya rusak belum kembali dan masih trauma kalau malam tetap berada di lokasi pengungsian. Bantuan akan terus diberikan, baik dari pemerintah pusat, provinsi, maupun kabupaten. [136]

Dua Artikel Tentang Banjir di Semarang

Banjir di Semarang Kereta Terlambat 17 Jam

ANTARA/R. Rekotomo

Warga melewati genangan air di Jalan Citarum Semarang, Jawa Tengah (Jateng), Minggu (8/2). Sejumlah kawasan di Kota Semarang kembali dilanda banjir, menyusul hujan deras yang mengguyur ibu kota Jateng itu sejak Sabtu (7/2) malam hingga Minggu pagi.

Selengkapnya

Banjir Semarang Rusak Fasilitas 82 Sekolah

[SEMARANG] Banjir di Semarang, Jawa Tengah, mengakibatkan fasilitas 82 sekolah rusak akibat terendam banjir. Sekolah tersebut, terdiri atas 66 SD, 13 SMP, dan dua SMA/SMK serta satu kantor Unit Pelayanan Teknis Daerah (UPTD) Kecamatan Semarang Timur.

Selengkapnya

Gelombang Panas di Australia 14 Orang Tewas

SYDNEY – Saat sebagian wilayah tanah air kedinginan oleh banjir, Australia, negara benua di selatan Indonesia, kini sedang menghadapi bencana yang wujudnya bertolak belakang. Di wilayah tenggara, gelombang panas sampai 46 derajat Celsius yang disertai tiupan angin kencang memicu terjadinya bush fire (kebakaran semak belukar) hebat yang menewaskan 14 orang dan menghanguskan lahan seluas 12.140 hektare dan 30 rumah.

Menurut catatan pemerintah, sedikitnya tiap tahun ada 60.000 titik api.

Di Victoria, negara bagian dengan skala kebakaran terbesar, lebih dari 4.000 petugas pemadam kebakaran (PMK) dikerahkan. Sedangkan di negara bagian New South Wales (NSW), PMK berusaha untuk menguasai kebakaran yang menghantam hutan cemara di barat daya ibu kota Australia, Canberra.

Kebakaran juga menyebabkan bencana lingkungan besar berupa tewasnya ribuan satwa, menurut para ahli lingkungan, awal pekan ini. “Ribuan koala, kanguru, possum, burung, dan reptil-reptil langka lainnya tidak bisa melarikan diri dari neraka tersebut,” kata Jenny Stokes, juru bicara Dinas Taman Nasional dan Margasatwa NSW. (CNN/kim)

Kontras Kukuh Sebut Muchdi Pembunuh Munir

Jakarta (ANTARA News) – Koordinator Kontras Usman Hamid tidak akan mencabut pernyatannya bahwa mantan Deputi V Badan Intelijen Negara (BIN) Muchdi Pr adalah pembunuh aktivis kemanusiaan Munir, meski Muchdi mengadukannya kepada Polri dengan alasan pencemaran nama baik.

“Saya akui bahwa saya pernah menyatakan Muchdi sebagai pembunuh Munir, dan saya yakin sampai sekarang Muchdi memang pembunuh Munir,” tandasnya di Jakarta, Jumat.

Usman menegaskan, pembunuhan Munir adalah konsprasi yang melibatkan banyak instansi dan orang dan Muchdi Pr adalah salah seorang yang terlibat.

“Saya tegaskan, saya tidak akan mencabut pernyataan sebelumnya tentang motif dia membunuh karena dipaksa mundur, sampai hari ini saya yakin Muchdi dibebastugaskan sebagai Danjen Kopassus karena kasus penculikan aktivis dimana dia terlibat,” tandas Usman lagi.

Ia mempersilakan Muchdi mengadukkanya ke polisi. “Silakan saja karena saya kira hukum harus diletakkan pada tempatnya dimana pembunuh Munir harus ditemukan dan saya harap masyarakat tidak terkecoh dengan permainan persespi mereka.”

Sementara itu, istri Munir Suciwati mengatakan pengaduan pihak Muchdi Pr atas dirinya merupakan upaya pengalihan agar kasus Munir terlupakan.

“Itu hanya pengalihan isu. Saya sih tak peduli. Dulu Usman dan Rachland (aktivis Kontras) juga dulu dilaporkan Hendropriyono (mantan Kepala BIN) namun tak terbukti,” ucapnya ringan.

Suciwati menegaskan, akan tetap fokus mencari kebenaran dalam kasus pembunuhan suaminya.

Kuasa hukum Muchdi Pr Luthfie Hakim telah mengadukan Koordinator Kontras Usman Hamid dan Suciwati kepada polisi karena dianggap menyebarkan kebohongan publik dengan selalu menuding Muchdi Pr sebagai pembunuh Munir. (*)

COPYRIGHT © 2009 ANTARA

Gempa 5,0 SR di Sumatera Barat

Bengkulu, (ANTARA News) – Gempa bumi tektonik berkekuatan 5,0 skala richter (SR) terjadi di Painan, Provinsi Sumatera Barat (Sumbar) pada Jumat siang pukul 13:54:58 WIB

Informasi dari Badan Meteorologi dan Geofisika (BMG), Jumat menjelaskan, gempa tersebut terjadi pada episentrum 1,61 lintang selatan dan 100,39 bujur timur.

Menurut BMG, pusat gempa yang tak berpotensi menimbulkan gelombang pasang tsunami itu, berada pada 35 Km barat daya Painan, Provinsi Sumbar dengan kedalaman 21 Km.(*)

COPYRIGHT © 2009 ANTARA

Dorongan Kasasi Muchdi Pr Dituding Sebagai Pelanggaran HAM

Jakarta (ANTARA News) – Tim Advokat Muchdi Pr mendatangi Komnas HAM di Jalan Latuharhari, Jakarta Pusat, Kamis, untuk mengadukan bahwa dorongan berbagai pihak yang ingin melakukan kasasi terhadap Muchdi Pr merupakan sebuah bentuk pelanggaran HAM.

Tim Advokat Muchdi Pr, yang terdiri antara lain dari Mahendradatta, Wirawan Adnan, dan Lutfi Hakim, mendatangi Komnas HAM sekitar pukul 13.30 WIB dan diterima oleh Wakil Ketua Komnas HAM MB Ridha Saleh dan Komisioner Subkomisi Penyelidikan Nurcholis.

Menurut Lutfi Hakim, kedatangan mereka ke Komnas HAM untuk mengklarifikasi pernyataan sejumlah pihak antara lain dari Komnas HAM yang mendorong agar dilakukan kasasi terhadap Muchdi Pr yang divonis bebas dalam kasus pembunuhan aktivitas HAM Munir.

Lutfi juga berharap agar Komnas HAM sebagai lembaga publik dapat memberikan pendapat yang lebih objektif.

Sementara itu, Mahendradatta mengatakan, apabila Kejaksaan Agung benar-benar melakukan kasasi maka hal itu merupakan pelanggaran HAM terhadap Muchdi Pr.

Hal itu, ujar dia, karena dalam Pasal 244 KUHAP secara jelas dinyatakan bahwa tidak ada kasasi untuk putusan bebas dari pengadilan negeri.

“Di dalam pasal tersebut juga tidak ada kata-kata atau istilah bebas murni atau bebas tidak murni,” katanya.

Wirawan Adnan mengatakan, bila Kejaksaan Agung mengajukan kasasi maka pihaknya akan mengadukan Kejaksaan Agung kepada Komnas HAM.

Di pihak Komnas HAM, Ridha Saleh mengatakan, pihaknya akan mengeksaminasi secara menyeluruh hasil putusan bebas terhadap terdakwa Muchdi Pr dengan memperhatikan aspek HAM semua pihak termasuk terdakwa.

Keputusan dari Komnas HAM, ujar dia, akan dilakukan secara kolektif melalui rapat pleno yang dihadiri para komisioner lembaga tersebut.

Sedangkan Nurcholish menuturkan, pihaknya juga menerima salinan dari putusan dan berkas perkara serta rekaman visual dari jalannya persidangan yang diserahkan oleh Tim Advokat Muchdi Pr. (*)

COPYRIGHT © 2009 ANTARA

Banjir Lumpuhkan Dua Kabupaten

Liputan6.com, Pandeglang: Banjir di sejumlah desa di Pandeglang, Banten, Kamis (5/2), semakin besar. Akibatnya aktivitas warga di sejumlah desa lumpuh. Seperti yang dialami warga Desa Surianeun. Tidak ada aktivitas yang dilakukan warga selain tinggal di rumah sambil memantau ketinggian air yang mencapai dua setengah meter. Ratusan keluarga terpaksa diungsikan ke sejumlah sekolah dasar.

Banjir juga merendam rumah warga dan beberapa jalan protokol di Walantaka, Serang. Penyebab banjir diduga karena hujan lebat dan tidak berfungsinya sistem drainase serta tidak adanya tindakan nyata dari aparat pemerintah Serang.

Sedangkan di Karawang, Jawa Barat, meluapnya Sungai Citarum menyebabkan ratusan rumah dan ratusan hektare areal pesawahan terendam. Ratusan warga korban banjir terpaksa mengungsi di sejumah tenda darurat.

Di Makassar, Sulawesi Selatan, ratusan kepala keluarga warga Batua Raya, Manggala, terpaksa mengungsi ke masjid karena permukiman mereka terendam. Di tempat pengungsian warga terutama anak-anak dan balita mulai terserang penyakit. Ini disebabkan kondisi lingkungan yang tidak bersih dan sumber air yang dikonsumsi tidak higienis. Selain itu bantuan obat-obatan sangat terbatas sehingga para pengungsi rentan terserang penyakit. Warga berharap pemerintah setempat cepat memberikan bantuan obat-obatan.(IAN/Tim Liputan 6 SCTV)

Kasus HIV-AIDS Bertambah Menjadi 4305 – Karma: Fenomena Gunung Es, Diperkirakan 28 Ribu yang Terjangkit

JAYAPURA-Jika pada triwulan II (Juni 2008) jumlah kasus HIV-AIDS di Papua mencapai 4114, maka sesuai data yang dihimpun Dinas Kesehatan Provinsi Papua hingga triwulan III atau per September 2008, jumlah kasus HIV-AIDS di Papua bertambah menjadi 4305.
Hal ini menunjukkan bahwa dalam kurun waktu 3 bulan (Juni-September) terdapat penambahan 191 kasus. Dalam data resmi yang dikeluarkan oleh Kepala Dinas Kesehatan Provinsi Papua, Dr. Bagus Sukaswara dijelaskan, dari 4305 kasus hingga triwulan III itu terdiri dari jenis kelamin laki-laki sebanyak 2212 kasus, perempuan 2037 kasus dan tidak diketahui identitasnya 56 kasus.

Kemudian bila dilihat dari kelompok umur, kasus HIV-AIDS ini lebih banyak menyerang pada usia produktif, sebagaimana terlihat dalam keterangan berikut, dimana usia kurang dari 1 tahun sebanyak 23 kasus, usia 1-4 tahun sebanyak 50 kasus, usia 5-14 tahun 43 kasus, usia 15-19 sebanyak 355 kasus, usia 20-29 sebanyak 1.957 kasus, 30-39 sebanyak 1102 kasus, usia 40-49 sebanyak 380 kasus, usia 50-59 sebanyak 116 kasus dan usia diatas 60 tahun 19 kasus, sedangkan yang tidak diketahui usianya sebanyak 260 kasus.

Selanjutnya bila dilihat dari daerahnya, Kabupaten Mimika menempati urutan pertama dengan jumlah kasus HIV-AIDS mencapai 1.681 kasus, kemudian Merauke sebanyak 987 kasus, Nabire 552 kasus, Biak 442 kasus, Kota Jayapura 231 kasus, Kabupaten Jayapura 209 kasus, Jayawijaya 118 kasus, Yapen Waropen 66 kasus, Puncak Jaya dan Paniai masing-masing 19 kasus, Mappi 9 kasus, dan Keerom 2 kasus.

Dari data kasus penyebaran HIV-AIDS ini, ternyata didominasi karena perilaku seks yang berganti-ganti pasangan atau hetero seks yang mencapai 4044 kasus, homosek 11 kasus, biseksual 21 kasus dan lainnya.

Ketua Komisi Penanggulangan AIDS (KPA) Provinsi Papua, drh. Constant Karma saat dikonfirmasi Cenderawasih Pos mengatakan, penambahan jumlah kasus HIV-AIDS yang cukup signifikan ini merupakan bagian dari fenomena gunung es, dimana sebenarnya masih banyak lagi yang terjangkit HIV-AIDS, namun banyak yang belum terdeteksi.

“Angka kasus HIV-AIDS ini masih akan naik terus, dimana untuk Papua ini diperkirakan ada 28 ribu orang yang terjangkit HIV-AIDS. Di PNG saja sudah 18 ribu kasus yang positif,” tuturnya.

Menurutnya, dengan adanya penambahan ini berarti pemerintah sedang bekerja, sehingga ditemukan jumlah kasus yang baru. “Kalau bertambah berarti kegiatan VCT berjalan, kita bekerja sehingga ketahuan yang positif itu,” ujarnya.

Terkait meningkatnya jumlah kasus ini, pihaknya menghimbau agar semua komponen masyarakat terus menerus memberikan informasi yang benar dan tepat, sebab informasi yang benar dan tepat itu adalah awal dari pencegahan HIV. “Ini prinsip utama sekali,” tandasnya sambil menyatakan untuk upaya pencegahan ini perlu upaya yang lebih besar lagi dan VCT harus diperbanyak, supaya yang positif HIV menjadi cepat ketahuan, sehingga cepat mencapai angka yang sebenarnya. (fud)

Napi Kasus 16 Maret Dipindahkan ke Polda – Diduga Terlibat Pengeroyokan Petugas LP

JAYAPURA-Diduga telah melakukan pengeroyokan terhadap salah seorang petugas LP, sebanyak 7 penghuni Lembaga Pemasyarakatan (LP) Abepura, terpaksa dipindahkan ke Rutan Mapolda Papua.

Ketujuh orang tersebut, enam diantaranya berstatus narapidana. Mereka diantaranya, Cosmos Yual, Selfius Bobby, Elias Tamaka, Zedrik Ricky Jitmau dan Kornelis Rumbiak yang tercatat sebagai narapidana (Napi) kasus 16 Maret 2006 yang menewaskan 4 anggota Brimob dan 1 anggota Lanud Jayapura. Kemudian Yusak Pakage narapidana kasus makar bersama seorang tahanan Buchtar Tabuni dalam kasus dugaan makar.

Ketujuh orang narapidana dan tahanan LP Abepura ini, dengan menggunakan mobil tahanan dipindah dari LP Abepura sekitar pukul 08.30 wit dan tiba di Mapolda Papua sekitar pukul 09.30 wit. Sesampainya di Mapolda, mereka langsung diserahkan ke petugas Rutan Mapolda Papua dan oleh petugas Biddokkes Polda Papua langsung melakukan pemeriksaan kesehatan terhadap mereka.

Kepala Devisi Pemasyarakatan Kanwil Hukum dan HAM Provinsi Papua, Demianus Rumbiak, didampingi Kalapas Abepura, AM Ayorbaba dan Direskrim Polda Papua, Kombes Pol Drs Paulus Waterpauw mengatakan, proses penitipan narapidana dan tahanan ke Rutan Mapolda Papua ini, semata-mata karena alasan masalah keamanan saja.

‘Ini semata-mata karena untuk keamanan dan ketertiban di lapas. Kami juga sudah berkoordinasi dengan Polda Papua untuk memindahkan 7 penghuni lapas tersebut,” jelas Rumbiak di Gedung Ditreskrim Polda Papua.

Rumbiak mengatakan, penitipan sementara terhadap 7 penghuni lapas tersebut sambil menunggu normalisasi kembali Lapas Abepura, sambil pihaknya akan melakukan evaluasi pasca penitipan sementara narapidana dan tahanan ke rutan Mapolda Papua tersebut, apakah akan dikembalikan lagi.

Sebelum proses penitipan itu, jelas Rumbiak, Kalapas telah menyampaikan kepada Kakanwil Hukum dan HAM Papua dan berkoordinasi dengan Polda Papua guna menyepakati penitipan sementara narapidana politik, narapidana kasus 16 Maret 2006 dan narapidana kriminal murni lainnya, termasuk Buchtar Tabuni.

Sedangkan, Kalapas Abepura, Anthonius M Ayorbaba menjelaskan, penitipan 6 napi dan 1 tahanan ke Rutan Polda Papua, karena mereka diduga melakukan pengeroyokan

Terhadap petugas LP.

Kasus ini berawal hari Rabu (28/1) lalu, ada pelimpahan berkas perkara dan tersangka Buchtar Tabuni dari kepolisian ke Kejaksaan Negeri, dimana saat itu tersangka Buchtar Tabuni diantar ke Lapas Abepura.

“Pada saat diantar ke Lapas Abepura, bersamaan dengan 6 tahanan lainnya, petugas kami yang menerima tahanan baru itu, sudah melakukan pengecekan dan memberi informasi bahwa siapa diantara tahanan yang membawa handphone dan barang-barang berbahaya dan terlarang lainnya, tolong diberikan. Selama 3 kali ditanya tidak ada yang menyerahkan,” ujarnya.

Untuk itu, jelas Kalapas, saat dilanjutkan pemeriksaan badan, ditemukan sebuah handphone disembunyikan di celah pantat Buchtar Tabuni, sehingga petugas Lapas Abepura, Adrianus Sihombing yang memeriksa pada awalnya memeriksa, merasa kecewa dan tidak dihargai, karena sudah bertanya tetapi tidak dijawab, sehingga sempat menempeleng Buchtar Tabuni sekali.

Karena kepentingan pada Kamis (29/1) ada kunjungan Menteri Hukum dan HAM bersama Dirjen Pemasyarakatan dalam rangka peresmian Kanwil Hukum dan HAM Papua Barat, sehingga pihaknya sebagai Kalapas merasa perlu untuk keamanan di dalam Lapas. Karena itu, pihaknya mengkoordinasikan dengan Kejaksaan Negeri bahwa untuk Buchtar Tabuni diminta agar dikembalikan ke rutan Polda Papua, hingga proses kunjungan selesai baru dikembalikan ke Lapas Abepura.

Pada Jumat (30/1), Buchtar Tabuni dikembalikan lagi ke Lapas Abepura dan diterima sesuai prosedur di lapas. Bahkan tidak terjadi hal-hal yang dikhawatirkan.

Sampai Minggu (1/2) lalu, petugas Lapas Abepura dalam regu jaga yang berjaga pada Rabu lalu berdinas kembali. Kemudian pukul 17.30 wit pada saat jam penguncian blok, petugas bernama Adrianus Sihombing diperintahkan komandan jaga melakukan penguncian blok tahanan, ternyata di sana yang bersangkutan dikeroyok oleh Yusak Pakage yang mendahului dengan memegang tangannya dan menarik ke belakang dan memukul pertama.

Karena dipukul, petugas Lapas tersebut melakukan pemukulan untuk membela diri, tapi serempak kemudian diserang oleh penghuni lapas kasus 16 Maret 2006 lalu, termasuk beberapa kriminal murni yang mengejar.

“Petugas hampir 3 kali jatuh, berdiri dan melarikan diri untuk menyelamatkan diri ke pos utama, tapi masih dikejar ke pos utama,” ujar Kalapas sambil menunjuk foto petugasnya yang terluka akibat dikeroyok.

Karena petugas Lapas Abepura tersebut bertugas dengan menggunakan atribut lengkap, jelas Kalapas, pada saat kejadian pihaknya langsung datang ke Lapas dan meninjau langsung, bahkan mengkomunikasikan dengan Yusak Pakage. Namun Yusak Pakage awalnya sangat emosi dan temperantal dan kooperatif, bahkan ia sebagai Kalapas diusir dari ruangannya.

Untuk itu, lanjut Kalapas, banyak petugasnya yang tidak terima dengan sikap Yusak Pakage tersebut, sehingga pihaknya langsung memerintahkan Yusak Pakage yang saat itu berada di ruangan tahanan bersama Pilep Karma, Selfius Bobby dan lainnya.
Namun, justru tidak ada yang mau mendengar, malah memberikan perlawanan kepada petugas lapas. Sebagai pimpinan di Lapas Abepura, Kalapas menilai bahwa ada unsur kesengajaan dan sebuah perencanaan dalam upaya bertindak di luar prosedur dan mekanisme yang ada di lapas untuk melakukan penyerangan terhadap petugas.

“Kenapa demikian, pada saat hari minggu saya berada di Gereja dan saya beribadah dan berbicara dengan mereka-mereka ini. Tapi, tidak seorang pun yang bilang ke saya sebagai kalapas, misalnya bapak saya mau bicara karena ada petugas kita yang waktu Buchtar masuk dipukul, tidak sama sekali. Mereka menyembunyikan masalah ini sangat rapi dan menunggu oknum petugas ini, sehingga petugas kami saat bertugas dikeroyok ramai-ramai. Karena itu secara kedinasan seluruh petugas kami marah, karena korp kami dan ini puncak terhadap petugas dan terhadap sesama penghuni lain, mereka ini sering melakukan pengeroyokan, termasuk juga terhadap oknum polri yang dikirim ke Lapas, sehingga kita harus memediasi dengan baik,’ paparnya.

Kalapas mengatakan, dalam kasus-kasus sebelumnya, pihaknya melakukan prosedur tetap untuk memanggil dan memberikan pemahaman agar menjaga kebersamaan di lapas karena isi Lapas dalam overcrawdied serta sarana penunjang terbatas, sehingga berpengaruh terhadap penghuni lain.

“Saya sendiri tidak bisa mengendalikan emosi petugas, sehingga saya berpikir alangkah baiknya jika melaporkan Kakanwil Hukum dan HAM dan berkoordinasi dengan Polda untuk pemindahan napi dan tahanan sementara tersebut,” katanya.

Hal ini, imbuh Kalapas, dilakukan dalam upaya normalisasi suasana di Lapas Abepura, karena selama 2 hari sejak peristiwa tersebut, pihaknya tidak membuka kunjungan dan tidak membuka blok penghuni melakukan aktivitas, karena harus menyelesaikan masalah tersebut secara baik dan tuntas supaya tidak berdampak pada masalah lain, yang akhirnya memunculkan masalah baru baik diantaranya penghuni dan petugas. ‘Kepentingan pemindahan ini, juga untuk kepentingan keamanan mereka,’ imbuhnya.

Direskrim Polda Papua, Drs Paulus Waterpauw, berdasarkan surat permohonan dari Kalapas Abepura ke Kapolda Papua untuk penitipan sementara terhadap 7 penghuni Lapas Abepura tersebut di rutan Mapolda Papua. “Alasan hanya semata-mata keamanan saja,” kata Direskrim.

Memang sebelumnya, ada permasalahan berkaiatan pada saat penyerahan Buchtar Tabuni ke Lapas Abepura ada masalah dan situasi sempat memanas waktu itu, sehingga tidak memungkinkan dan pihak Lembaga Pemasyarakatan Abepura berinisiatif untuk melakukan upaya pemindahan sementara. “Bahkan, ada 10 orang lainya dalam kasus kriminal murni yang terlibat, kami lakukan isolasi,’ imbuhnya.
Soal pemindahan 7 penghuni Lapas Abepura ke rutan Polda Papua apakah tidak bermasalah? Direskrim mengaku bahwa hal tersebut tidak akan masalah dalam rutan Mapolda Papua. Bahkan Paulus Waterpauw mengakui pihaknya telah menemui ke-7 orang penghuni lapas tersebut dan menjelaskan soal pemindahan mereka bahwa hal ini merupakan suatu proses. “Saya bilang, jangan persoalan kecil dimunculkan menjadi permasalahan besar, apalagi di lapas sarana dan fasilitas terbatas dan jumlah narapidana serta tahanan sudah over, sehingga dapat memperngaruhi adanya permasalahan,” imbuhnya. (bat)

Januari, Ditemukan 8 Kasus HIV/AIDS

MERAUKE- Penyebaran HIV/AIDS di Kabupaten Merauke tampaknya terus meningkat. Buktinya sepanjang Januari lalu, telah berhasil ditemukan 8 warga yang dinyatakan positif terinfeksi HIV/AIDS. ”Memang benar, selama Januari itu telah ditemukan 8 yang positif HIV/AIDS, “kata Kepala Pusat Kegiatan Reproduksi (PKR) RSUD Merauke dr Selvia Ingie, ketika ditemui Cenderawasih Pos, di ruang kerjanya, Rabu (4/2).

Menurutnya, 8 yang positif terinfeksi tersebut ditemukan dari 189 warga yang melalui test pemeriksaan darah dari seluruh pusat-pusat VCT yang ada di Kabupaten Merauke baik 2 rumah sakit ( RSUD dan Bunda Pengharapan) Merauke maupun Puskesmas yang ada.

Dari 8 yang positif itu juga, tercatat 2 diantaranya merupakan pekerja seks komersial sedangkan 6 lainnya dari umum. Saat itu, dr Silvia Ingie enggan memberikan data tersebut dengan alasan bukan wewenangnya. ”Kami di sini hanya merekap hasil itu dari seluruh pusat VCT kemudian kami laporkan ke dinas. Dinas yang berwenang memberikan keterangan ini dan laporannya itu disampaikan pertriwulanan,”katanya memberi alasan.

Menyinggung keberadaan KPR selama ini, Silvia mengaku rata-rata dikunjungi sekitar 200 orang setiap bulannya baik untuk konseling, pemeriksaan darah (test HIV/AIDS maupun IMS (Infeksi Menular Seksual). ”Ada yang datang dengan kesadaran sendiri melalui informasi yang diperoleh dan ada pula karena memang rujukan,”katanya.

Dari pantauan Cenderawasih Pos selama ini yang terbanyak mengunjungi KPR adalah mereka yang bekerja di tempat-tempat hiburan, seperti, lokalisasi, bar, diskotik atau tempat pijat.(ulo)

Up ↑

Wantok Coffee

Melanesia Single Origin Coffee

MAMA Minimart

MAMA Stap, na Yumi Stap!

PT Kimarek Aruwam Agorik

Just another WordPress.com site

Wantok Coffee News

Melanesia Foods and Beverages News

Perempuan Papua

Melahirkan, Merawat dan Menyambut

UUDS ULMWP

for a Free and Independent West Papua

UUDS ULMWP 2020

Memagari untuk Membebaskan Tanah dan Bangsa Papua!

Melanesia Spirit & Nature News

Promoting the Melanesian Way Conservation

Kotokay

The Roof of the Melanesian Elders

Eight Plus One Ministry

To Spread the Gospel, from Melanesia to Indonesia!

Koteka

This is My Origin and My Destiny