Kepolisian: Polda Papua Bubarkan Paksa Massa Demonstran KNPB di Papua

JAYAPURA [M]– Kronologis Aksi Demo damai pada (04/06 2012) di Numbay West Papua, Ratusan Rakyat Papua melakukan aksi demo damai di Jayapura Papua dalam rangga menuntut kepada pemerintah Indonesia, dalam hal ini aparat Keamanan (Tni-Polri) untuk terungkap kasus penembakan pelanggaran HAM yang terjadi di Papua yakni; penembakan 5 warga Papua di Paniai Degewou dan 1 anggota KNPB ditembak oleh aparat di Jayapura pada (01/05/ 2012) saat melakukan aksi demo, penembakan terhadap warga asing asal Jerman di Pantai Base G di Jayapura dan kasus-kasus penembakan lainya di Papua. Sejak Aneksasi Papua ke Kolonial Indonesia dengan Kekuatan Militer pada Tahun 1963 sampai saat ini Tahun 2012.
Rakyat Papua yang tergabung dalam Komite Nasional Papua Barat (KNPB) melakukan Aksi demo di beberapa titik kumpul sentral salah satunya adalah; Sentani, Expo dan Kota Madja Jayapura, Aksi demo KNPB ini hari dihadang oleh aparat keamanan kepolisian Polda Papua dan BRIMOB, pertama kali pada pukul: 10:20 wp saat masa aksi sedang melakukan perjalanan menuju titik sentral aksi ke arah Abepura, namun pertengahan jalan di kampung Harapan Kepolisian Polda Papua dengan peralatan lengkap, satu pangser alat perang, dua gas air mata, dan 4 truk dalmas Polisi, milik Polda Papua, memalang masa aksi demo di Kampung Harapan pada pukul: 12: 35 wp. Aparat Keamanan menghadang dan mengancam dengan kekuatan peralatan perang lengkap, maka semua rakyat melarikan diri ke pinggiran Danau dan hutan-hutan di kampung Harapan.
Kemudian, dalam hadangan pemalangan para demostran ini, polisi juga sempat keluarkan tembakan hingga 1 warga demonstran tewas 1 warga demonstran kritis dan 2 warga luka-luka. Berikut nama-nama korban dibawah ini:
Nama Lengkap : Fanuel Taplo
Umumr : 29 thn
Suku Bangsa : Ngalum Pegunungan Bintang-West Papua
Pekerjaan : Swasta
Keterangan : Kena temabakan di bagian tangan kiri tembus mengakibatkan kritis, sebentara dirawat di Rumah Sakit Yowari di Sentani Papua.
Nama Lengkap : Yesa Mirin
Umur : 25 thn
Suku Bangsa : Kimyal Yahukimo-West Papua
Pekerjaan : Swasta
Keterangan : Korban dibunuh setelah ditangkap oleh aparat, namun tidak ada bekas tembakan rupanya dibunuh dengan tangan oleh Aparat Kepolisian dan Brimob Polda Papua. Kemudian, karena Korban tewas, maka pihak aparat dibawah ke rumah sakit yowari.
Nama Lengkap : Esan Sobolim
Umur : 23 thn
Pekerjaan : Pelajar Mahasiswa
Suku Bangsa : Yahukimo-West Papua
Keterangan : Korban tulang tangan kanan patah, aparat memukul korban dengan hulu senjata mengakibatkan tulang tangan kanan patah.

Dalam peristiwa ini 43 Demonstran KNPB ditangkap oleh aparat kepolisian Polda Papua , tetapi belum kami cek, karena pihak aparat dilarang ketat untuk mengecek anggota KNPB yang ditanggap kemarin, dan situasi hari ini di Jayapura masih dalam tekanan aparat militer, semua masyarakat, para pelajar untuk melakukan aktifitas semua warga trauma dan tidak keluar rumah.

Aparat keamanan, terus bungkam demokrasi di Papua, baru-baru tanggal 23 Mei dalam sidang UPR PBB beberapa Negara anggota merekomendasikan, Indonesia atas situasi HAM di Papua termasuk Kebebasan Berekspresi, dan Pelanggaran HAM namun Demonstran, kemarin dibubarkan. Perlakuan pihak aparat ini menunjukan bahwa, Menteri Luar Negeri Mr. Natalegawa menyanggal mati-matian di Sidang UPR-PBB itu tidak benar padahal, realita di Papua tidak seperti yang dia katakana, namun yang ada hanya Pembungkaman Demokrasi, Pembunuhan dan Penangkapan, hal ini terbukti.

Pembubaran Massa KNPB, 1 Tewas

Kabid Humas: KNPB Tak Diizinkan Demo Lagi

AYAPURA—Aksi unjuk rasa   massa  Komite Nasional  Papua Barat (KNPB) di Sentani, Senin  (4/6) mengakibatkan seorang    warga   bernama Yesa Mirin  dilaporkan   tewas.   Seorang lagi bernama  Tenius  Kalakmabin mengalami   luka  tembak  di bagian dada,  2    korban  menderita  luka  di bagian  kepala  terkena  pukulan  serta  seorang  korban  luka   terkena  panah   yang  belum diketahui  identitasnya.
Kabid  Humas Polda Papua AKBP  Drs. Johannes  Nugroho  W ketika  dikonfirmasi  Bintang Papua  diruang kerjanya, Selasa  (5/6) membenarkan hal  tersebut.  Dia mengatakan  aparat  Polda Papua  juga  memeriksa  sedikitnya  43 orang  yang  diduga  kuat   terkait  aksi  unjukrasa.  Tapi ke-43  orang tersebut  belum  ditetapkan  sebagai saksi maupun tersangka.
Karenanya,  dia  mengatakan, pihaknya   tak mengizinkan KNPB  menggelar  unjukrasa. Apapun yang  diunjukrasakan. Pasalnya, bila  KNPB  menggelar   aksi  unjukrasa  selalu ada  perbuatan anarkis yang mendatangkan  kerugian     baik  kerugian material maupun imaterial.
“Mari  kita  cari solusinya  jangan  kita kemudian saling  menyalahkan.  Berikan  informasi kepada polisi supaya  ia bisa menegakan  hukum, menangkap dan menahan    orang  yang  kita justifikasi  sebagai  tersangkanya berdasarkan  fakta  dan alat  bukti,” imbuhnya. Soal tewasnya Yesa Mirin salah satu korban pembubaran paksa massa KNPB dibenarkan Direktur RSUD Yowari Kabupaten Jayapura dr. Nikodemus Barends,M.Kes.
Menurutnya, korban mengalami luka di bagian punggung dan mengalami pendarahan di hidung. Hanya saja pihaknya belum bisa memastikan penyebab kematian korban, karena harus dilakukan visum di bagian dalam.
“Dong tusuk pakai pisau kah atau pakai jubi atau mungkin dengan yang lain yang bikin lubang,”tukasnya kepada wartawan, Selasa (05/06) di Sentani Dijelaskan, kalau dari visum luar korban mengalami luka di bagian punggung dengan diameter 2 cm, dan itu yang bisa disampaikan dari hasil visum luar.
“Tetapi kalau kita mau cari tahu penyebab, kita belum bisa karena kita belum melakukan visum bagian dalam,” tandasnya.
Niko menambahkan, selain itu dua korban lainnya yakni atas nama Sunardi (32) yang mengalami luka terkena panah di bagian belakang tembus di ketika serta korban Immanuel Taplo (21) luka tusuk di bagian bahu kanan, masih mendapatkan perawatan intensif di ruang ICU RSUD Yowari.
Senada dengan Niko, Spesialis Bedah pada RSUD Yowari dr. Erik Siagian, SpB.KBD.FINACS.MPH di tempat yang terpisah menuturkan bahwa korban pertama atas nama Sunardi untuk selanjutnya minta dirujuk ke Rumah Sakit Angkatan Laut di Hamadi.
“Hal ini karena tempat tinggal korban yang berada di Entrop sehingga ingin lebih dekat jika dirawat di RS Lantamal,” tandas dr. Erik.
Disebutkannya, sedangkan untuk korban kedua atas nama Immanuel Taplo memilih untuk tetap dirawat secara intensif di RSUD Yowari Sentani.
Sebelumnya aparat kepolisian melakukan pembubaran paksa terhadap massa KNPB yang melakukan demo karena tidak memiliki ijin. Akibat pembubaran tersebut 3 orang dilarikan ke rumah sakit. (mdc/dee/don/l03)

DIRAGUKAN PROFESIONALISME POLISI NKRI DALAM PENERAPAN PRINSIP DEMOKRASI

( Semakin Hari POLRI merusak Citra buruk NKRI dalam Penerapan Prinsip-Prinsip Demokrasi  di Tanah Papua)

Dalam penaganan bentuk keamanan di Papua polisi semakin memicu suasana tanpa memikirkan dampak, yang akan mepemalukan  kepolisian Republik Indonesia karena dinilai bentuk penaganan hampir sama degan pola penaganan terorisme di Indonesia, degan menggunakan alat Negara lengkap.

Jika dilihat sebenarnya tugas Polisi mengamankan Negara atau Mengamankan keadaan kota dari pencuri, intimidasi, terror, criminal bersenjata, seperti terjadi di beberapa daerah Papua, Pantai Base-G dan Kab. Puncak Jaya, berkaitan degan tindakan polisi yang tidak kompromi degan perkembangan demokrasi di Indonesia khusnya di Papua.

Tindakan polisi di Papua merupakan mengambat perkembangan demokrasi di Indonesia maka, fungsi polisi yang sebenarnya tidak difungsikan sesuai degan aturan hukum setiap polisi di dunia, kita bisa melihat bahwa tindakan anarkis yang dilakukan dalam proses demokrasi harus ditangani secara hukum karena pendemo dan warga Negara yang ada harus merasa aman dalam menyampaikan aspirasi.

Namun tindakan polisi yang tidak ingin mengeluarkan surat izin gangguan publik atau izin menyampaikan pendapat di depan umum yang berkaitan degan kasus criminal yang terjadi di Papua antara lain penembakan warga asing di pantai Base-G dan beberap warga sipil di kab. Puncak Jaya, seharusnya polisi memberikan izin menyampaikan pendapat sesuai degan undang-undang yang berlaku.

Berkaitan degan bentrokan antara masa KNPB dan Gabungan Brimob dan Polisi di Sentani merupakan bentuk represin dan penindasan terhadap perkembangan demokrasi di Papua, jika kedua belah pihak sepakat dalam menjaga kestabilan keamanan warga hal ini dinilai pasti tidak ada kericuan seperti yang terjadi di Sentani Papua kemarin, tetapi dalam kenyataan ini diindikasi bahwa pihak polisi degan sengaja menciptakan konflik untuk memojokan KNPB yang selama ini menyuarakan aspirasi Masyarakat Papua tetang hak-hak dasar untuk menentukan nasip sendiri. Hal ini suda jelas, karena polisi harus berpikir dan mempertanyakan apakah degan menyuarakan aspirasi tersebut Papua akan Merdeka otomatis? Apakah ini menggangu keamanan? Kalau menggangu keamanan warga masyarakat dari mana? Apakah menganggu warga masyarakat non Papua? Jika oleh karena itu kita katakana bahwa Polisi Indonesia hanya menjaga keamanan warga non Papua di Papua, degan demikian warga asli Papua bukan bagian dari NKRI karena polisi tidak perduli degan warga asli Papua.

Jadi perlu polisi mengerti juga dalam menagani masalah karena polisi bertugas untuk menjaga keamanan dan kamtipmas di dalam kota, karena nama suda jelas ( Police ) artinya pegamanan kota dan , untuk mengurangi terjadinya peluapan emosi yang bermuara pada kriminal polisi harus memfasilitasi untuk masyarakat megeluarkan bentuk dan unek-unek secara teratur degan demikian proses demokrasi berkembang di Indonesia. Tetapi kenyataan lain dari yang seharusnya  oleh tindakan polisi yang arogansi dan sebenarnya polisi memancing konflik antar mereka dan warga masa KNPB inilah yang  bisa kita katakana kurangya profesionalisme polisi di Papua.

Perlu memberikan pembinaan secara bentuk-bentuk penaganan masalah mana yang dikategorikan criminal mana yang dikategorikan kelompok aktivis demokrasi maka polisi dan masyarakat sama-sama mememlihara keamanan atau kamtipmas degan mengedepankan proses perkembangan demokrasi, kedepan diharapkan polisi bertindak degan proporsional dan profesional, jagan sampai semua bentuk penaganan keamanan sepeti menagani kelompok Anarkis, Teroris dan gerombolan penjahat..semua disama ratakan bentuk penaganan akan berkibat buruk bagi nama baik kepolisian NKRI di mata masyarakat Nasiona dan Internasional.

 

By; Etarugwe Yoretnda

Yusak Reba: Papua Makin Tak Kondusif

Sejumlah Kasus Penembakan dan Kekerasan Tak Bisa Diungkap Aparat

AYAPURA— Pasca sejumlah  aksi  penembakan  dan  kekerasan  yang  dilakukan  orang  tak  dikenal  (OTK)  terhadap  warga  Jerman Dietmar Pieper (55)  di Pantai Base-G, Selasa (29/5), disusul  tewasnya  seorang  guru  bernama  Anton Arung Tambila   setelah ditembak   OTK di Puncak Jaya,  Kamis (31/5) serta pengeroyokan dan penikaman seorang mahasiswa Uncen, Ajudh Jimmy Purba (19) di Reumnas 3 Waena Minggu (3/6),   menunjukkan  situasi keamanan  dan  ketertiban  Papua  pada umumnya  di Kota Jayapura makin tak kondusif.
“Siapapun dia  entah  WNI  maupun  warga  negara asing di Papua  memiliki    potensi    ancaman  dari   pihak  yang  tak  kita ketahui  asal  muasalnya,” ujar Koordinator Program  Institute for   Civil Strengthening  (ICS) Papua atau  Lembaga Penguatan  Masyarakat  Sipil  (LPMS) Papua  Yusak E. Reba, SH,MH ketika diwawancarai  Bintang Papua  di Jayapura, kemarin.
Dosen  Hubungan  Internasional  Uncen ini mengutarakan, apabila   diperhatikan  kondisi  keamanan di Papua sebenarnya intensitasnya   mulai berkurang  atau  bisa  pulih.  Tapi  ternyata   masih terus  terjadi.   Di beberapa wilayah  di Papua  termasuk di Kota Jayapura  angka kriminalitas  grafiknya  terus  tinggi. Tak jelas  sebenarnya  siapa yang  akan menjadi  sasaran penembakan dan kekerasan berikutnya.
Pertama,  negara memiliki  tugas  dan  tanggungjawab  untuk  memastikan warga  negaranya  harus  mendapat perlindungan  keamanan atau harus mendapat  aman   dalam kehidupan  kesehariannya.
“Apabila  terjadi   bagi warga negara yang  bukan  warga negara Indonesia efeknya adalah kemudian memunculkan ketidakpercayaan  terhadap pemerintah     dalam  kaitan   memberi rasa aman  bagi warga negaranya  yang  datang ke Papua,” tukas dia. Kedua,  rakyat  sudah  mulai  tak percaya terhadap keberadaan negara dalam memberi rasa  aman. Ketiga,  jika  siapa  saja berpotensi  untuk   terjadi  kriminalitas  bagi dirinya  atau mendapat ancaman,  maka kemudian rakyat  akan bertanya apa   fungsinya  negara  kalau  warga negaranya tak memperoleh rasa aman.
“Kalau  ini  yang  terjadi   akan  memberikan dampak buruk  terhadap kinerja  atau  apapun   yang dilakukan  pemerintah bagi kehidupan  masyarakat  terutama  WNI  sendiri  khususnya  kita yang  ada di Tanah Papua,”  katanya seraya  menambahkan, situasi   ini akan  mempengaruhi pelbagai  aktivitas  kehidupan masyarakat.  Masyarakat  akan was  was  ketika  harus bepergian.
“Saya  sendiri secara pribadi mulai merasa ketakutan   dan mulai  was was  dan  pertanyaannya adalah apakah memang   kita  harus masing masing menjaga  diri kita karena alat  negara sudah tak mampu memberi rasa  aman   pada kita,” ujarnya.
Dia mengatakan,  bila  terjadi persepsi atau paradigma  itu yang muncul  maka  seluruh masyarakat   kemudian mempertanyakan kredibilitas, kinerja  serta  peran  institusi negara melalui alat  alat  negara seperti  Kepolisian   dalam memberi rasa  aman.
Karenanya,  lanjut dia,  negara     harus  memikirkan  langkah   langkah  agar menetralisir  pelbagai  tingkat  kriminalitas  yang   terus terjadi  di Papua.
Suatu hal yang paling  penting,  menurut dia, Pertama,  terkait  tak  tertibnya    pengendalian penduduk  di Papua  yang terus  berdatangan.   “Kita tak tahu  apakah semua orang yang berdatangan di negeri ini adalah  orang baik ataukah juga ada   yang  sebenarnya ada datang  dengan  tujuan  tujuan  yang  tak baik.
Kedua,  pengendalian setiap orang  itu menjadi  penting. Kedua,   terkait   tingginya  angka  kriminalitas,  dia  mengatakan, penegak hukum dalam  hal  ini kepolisian itu  harus mengungkap setiap  peristiwa  yang  terjadi  untuk  memberi  kepastian  dan keyakinan kepada masyarakat terkait  dengan  motif   motif  dan  modus  modus kriminalitas  yang   terjadi  di Papua  khususnya di  Kota Jayapura.   Sangat   tak rasional  jika pelaku kejahatan   bila  tak  bisa  terdeteksi, maka  profesionalitas  kepolisian  selalu dipertanyakan.
“Kalau  profesional  kita masih menjadi  sesuatu  tanda tanya  maka  ini menjadi tanggungawab  negara khususnya pada institusi  kepolisian supaya terus  meningkatkan  profesionalitas,”  ujar dia  seraya  menambahkan,  pihaknya  percaya  kepolisian mempunya  kapasitas  dan kemampuan  untuk  mengungkap pelaku kejahatan  akan  menimbulkan  rasa ketidakpercayaan  dari masyarakat. (mdc/don/l03)

Dihadang Polisi, Massa KNPB Mengamuk

Rusak Marka Jalan dan Rumah Warga, 43 Orang Diamankan

Jayapura – Sekitar 500 massa Komite Nasional Papua Barat (KNPB) yang hendak menggelar aksi demo ke Taman Imbi Jayapura, dihadang  aparat Kepolisian, Senin 4 Juni di Perbatasan antara Kota Jayapura dan Kabupaten Jayapura. Akibatnya, massa yang datang dari arah Sentani kembali dan mulai melakukan pengrusakan terhadap marka jalan dan sejumlah rumah warga. Polisi kemudian mengejar, dan berhasil mengamankan puluhan massa.
Dari pantauan langsung,  massa KNPB yang berencana menggelar aksi demo, mulai berkumpul sejak siang hari dari segala penjuru Kota dan Kabupaten Jayapura serta Keerom. Mereka menetapkan titik kumpul di Expo Waena tepat di Jalan Raya Abepura-Sentani.
Ratusan Massa yang datang dari arah Sentani dengan 11 truk dan belasan sepeda motor kemudian dihadang dan dibubarkan di perbatasan kota oleh aparat gabungan Brimob dan personil Polresta Jayapura dan Sentani. Massa lantas kembali ke arah Sentani, namun mulai bertindak brutal. Saat tiba di Kampung Harapan, massa lalu mulai anarkis dengan merusak dan menghancurkan marka jalan, serta merusak rumah warga.
Juru Bicara Polda Papua AKBP Yohanes Nugroho Wicaksono saat dikonfirmasi membenarkan aksi anarkis ratusan massa KNPB. “Mereka memang dihadang di batas Kota Jayapura, dan saat kembali ke arah Sentani massa merusak rambu, marka jalan serta sejumlah rumah warga,”ungakpnya.
Mengetahui tindakan massa sudah anarkis, sambungnya, aparat gabungan kemudian melakukan pengejaran dan berhasil menangkap puluhan massa yang diduga bertindak anarkis. “Ada 43 orang yang diamankan karena diduga melakukan pengrusakan, dan disaat dilakukan pengejaran, satu orang ditemukan terkapar diselokan,”ucapnya. Massa juga melempar tombak dan panah hingga mengenai dua warga. “Ada dua warga yang terkena di bahu dan tangan, saat ini sedang dirawat di Rumah Sakit,”jelasnya.
Menurutnya, situasi sudah dapat dikendalikan, massa sudah membubarkan diri. Namun 43 orang masih diamankan untuk menjalani pemeriksaan.

Di Sentani
Sementara itu dari Sentani Kabupaten Jayapura dilaporkan,  Senin siang (04/06) bertempat di Jalan Hawai samping Pompa Bensin Sentani, dua orang warga terkena panah dari massa yang hendak berdemo ketika massa ini membubarkan diri secara paksa karena tidak diberi ijin berdemo oleh pihak keamanan.
Dari data yang berhasil diperoleh di lapangan, kedua korban tersebut diantaranya Sunardi (32) seorang laki-laki beragama Budha suku Lombok yang beralamat di Entrop Distrik Jayapura Selatan yang terkena luka panah pada bagian punggung belakang sekitar pukul 14.30 WIT. Saat kejadian korban sedang memarkir mobil kemudian jalan kaki menuju jalan setapak ke rumah Haji Usman, tiba-tiba massa memanah korban dari belakang, kejadian tersebut bersamaan pada saat massa bergerak dari Kampung Harapan menuju Kota Sentani yang mana kemudian korban langsung dievakuasi ke Rumah Sakit Youwari. Korban lainnya bernama Roni Sihombing (36) laki-laki beragama Kristen Protestan suku Batak yang beralamat di Yapis Dok V yang terkena luka panah di bagian lengan kanan bagian atas selebar 5 cm sekitar pukul 16.00 WIT. Sihombing terkena panah di sekitar Hawai dekat Asrama Koramil ketika hendak pulang ke Yapis.
Kejadian bermula ketika massa yang hendak menuju arah Waena dibubarkan oleh aparat keamanan di Telaga Maya. Karena tidak diperbolehkan melintas akhirnya massa bubar dan massanya terpencar. Ketika sampai di Kampung Harapan, beberapa orang massa mulai merusaki rumah warga yang ada di sekitar jalan raya. Demikian juga massa yang melintas di sepanjang jalan Hawai. Salah satu massa membawa panah dan menghamburkan panah kemana-mana hingga mengenai dua orang warga. Bahkan beberapa rumah warga serta toko di sepanjang jalan Hawai samping Pom Bensin Hawai Sentani dilempari batu hingga kaca-kaca pecah dan rusak.
Akibat kejadian tersebut, sontak Kota Sentani yang tadinya ramai tiba-tiba sepi. Masyarakat berhamburan menyelamatkan diri dari panah-panah yang berterbangan di udara. Pertokoan yang ada di sepanjang Jalan Sentani Kota lantas tutup rapat. Masyarakat yang memiliki aktifitas di pinggir jalan seperti berjualan atau yang mengojek memilih menghindari jalan raya dan kembali ke rumahnya masing-masing.
Polisi pun tampak berjaga di depan Masjid Raya Sentani yang menghimbau warga yang melintas baik yang berjalan kaki maupun naik kendaraan untuk putar baik dan kembali ke rumah atau mencari tempat yang aman.
Beberapa warga yang tinggal di pinggir jalan memilih untuk mengungsi ke tempat yang dirasa lebih aman. Bahkan ada warga yang nekat mengungsi ke Bataliyon 751, baik dengan menggunakan kendaraan maupun yang berjalan kaki.
Seperti yang diutarakan Marisa seorang pemilik toko yang ditemui Bintang Papua tengah mengungsi bersama dua orang anaknya.
“Kita disuruh mengungsi mba karena rumah kita di pinggir jalan, takutnya massa rusak atau bakar rumah dan toko kita,” tuturnya dengan nada terengah-engah sembari menggendong bayinya yang baru berumur 8 bulan dan cepat-cepat meninggalkan Bintang Papua.
Selain itu, dari data yang dikumpulkan pula, sebanyak 9 tersangka pelaku pengrusakan dan pemanah warga telah berhasil diamankan di Polsek Sentani Kota untuk penyelidikan lebih lanjut. Dari pantauan Bintang Papua di lapangan, Sentani sempat mencekam sejak pukul 14.00-18.00 WIT.
Ketika dikonfirmasikan kepada Kabid Humas Polda Papua AKBP Yohanis Nugroho mengenai kejadian ini, dirinya menyebutkan bahwa pihaknya masih menunggu laporan dari anggotanya di Sentani.
“Maaf, saya masih tunggu laporan dari Sentani,” ujarnya melalui teks SMS yang dikirim kepada Bintang Papua. (jir/dee/don/l03)

ORANG PAPUA DEMAM CALON BUPATI DAN GUBERNUR BERMUARA KEPADA KONFLIK DAN MERUGIKAN MASYARAKAT ADAT ASLI PAPUA

Degan adanya Undang-Undang 21 tetang Otonomi khusus dan maraknya pemekaran Kabupaten membawa orang Papua dalam keadaan yang tidak menentu dalam rangka menerapkan pembagunan akibat bentuk dan praktek perpolitikan yang mengatasnamakan pembagunan di tanah Papua yang membahayakakan bagi kepentingan Masyarakat Adat Papua dalam pengambilan kebijakan serta implementasi pembagunan degan model pendekatan serta ikuti kemauan orang lain degan mengorbankan nilai-nilai harkat manusia serta mengorbankan hak-hak dasar sebagai pewaris tanah leluhur masyarakat Adat di Papua.

Suda sekian lama sejak NKRI menduduki Pulau New Guinea penerapan Pembagunan yang dilaksanakan degan model dan konsep orde baru Trilogy pembagunan oleh mantan presiden Soeharto dengan pengawasan militerisme yang ketat, telah berakar urat dalam pola dan konsep orang asli Papua hingga sekarang, dan pada kenyataanya kita dapat melihat buah dari penerapan sistem pembagunan ala Soeharto.

Model dan teknik pendekatan pembagunan ini sebenarnya jika dilihat semua ikuti kemauan Jakarta, sistem demokrasi pembagunan terpimpin atau terpusat, walaupun daerah memiliki kewenangan dalam otonomi khusus, namun dalam penerapan semua ikuti program pusat, tanpa melihat konteks budaya dan topograpi di bumi cenderawasih. Semua bentuk penerapan pembagunan dalam segala bidang sesuai degan program pusat, entah itu bidang pendidikan, kesehatan dan pembagunan ekonomi, apalagi pembagunan politik dan hukum serta demokrasi politik, semuanya ikuti dari pusat, pada kenyataanya model pemerintahan di pusat yang mengalami banyak kecauan, korupsi, kolusi dan nepotisme sampai bau busuknya pun berdampak ke setiap daerah di seluruh Indonesia.

Ada suatu keanean yang terjadi di tanah Papua berkaitan degan sistem politik dalam pilkada Bupati maupun Gubernur, orang Papua asli yang mencalonkan diri berhubung karena otonomi khusus sebenarnya sangat merugikan bagi masyarakat Adat di Papua sendiri, dan masyarakat Papua pun harus sadar karena dalam otonomi khusus dalam menerapkanya orang Papua sendiri bingun dan tidak mengerti baik, sedangkan orang Jakarta tahu persis bagaimana cara menyerap dana otonomi itu kembali ke pusat dan cara untuk menyerap dana otonomi khusus itu banyak cara yang dibuat oleh pemerintah NKRI di Jakarta.

Caya yang mereka buat adalah, ketika orang Papua asli mencalonkan diri untuk maju bupati dan gubernur, oknum tersebut tidak memiliki banyak uang untuk maju dalam pertarungan politik maka, dia harus pergi ke Jakarta untuk melobi uang, dan di Jakarta itu suda ada lembaga yang telah dibagun degan modal anggaran yang cukup ( Capital Politic Investment ) sehingga kandidat tersebut harus membuat proposal dan melobi kesana untuk mendapatkan uang dari lembaga tersebut, degan jaminan bahwa, ketika menjadi bupati atau gubernur akan mengembalikan lewat pemberian proyek-proyek yang bernilai miliaran.

Kemudian ada cara pemerasan yang terjadi sebenarnya dalam Satuan Kerja Pemerintah Daerah (SKPD ) entah itu di Provinsi maupun Kabupaten, perlu kita telitih dan perhatikan adalah dalam rangka Perjalanan Dinas, perlu kita cermati degan kata “ RADIO GRAM” dari dempartemen atau kementrian untuk kegiatan, pelatihan dan kegiatan lain-lain, tentu itu tidak memakan biaya yang sedikit untuk pergi ke Jakarta. Kemudian hasil dari perjalanan itu apa yang didapat oleh orang Papua yang mengadakan perjalan dinas tersebut; saya pikir ini juga trik dan model untuk menyerap anggaran otonomi khusus kembali kepada pusat di Jakarta. Karena untuk menjalankan itu kebanyakan menteri atau dempartemen di Pusat memberikan proyek kepada lembaga-lembaga tertentu yang merupakan lembaga tempat lahan untuk setiap orang yang berkopetensi degan memakai kata “ Radio Gram, program Menteri,dll “ maka orang Papua sebagai pejabat bupati, gubernur dan SKPDnya harus pahami baik.

Apabila hal tersebut diatas para bupati dan gubernur serta SKPD suda mengetahui tetapi terus ikuti semua kemauan Jakarta karena ada dua motiv ; yang pertama karena takut jabatan akan di copot atau dianggap melawan pemerintah pusat/atasan; yang kedua karena mau menghamburkan uang rakyat degan berpesta pora di tempat diskotik dan sejenisnya, maka kami sebagai masayarakat Adat menilai oknum atau pelaku tersebut adalah; orang Papua asli yang paling terkebelakan pemikiran dan dibawa dari standar nilai-nilai hidup Masyarakat Adat di Papua.

Cara yang lain adalah megadaikan kepentingan rakyat, kepada pengusaha-pengusaha besar yang memiliki modal yang cukup maka terjadi investasi ekonomi dalam politik maka terjadi politik di-ekonomikan untuk dan kepada elit dan kelompok antara lain, bupati terpilih,pengusaha/ pemberi pinjaman uang, maka yang terjadi adalah pembagunan antar kepentingan (the interest investment to economic network development ) hal ini yang terjadi maka jika dilihat terjadi adalah ( the Society Capital Flight) anggaran biaya untuk membagun masyarakat adat di Papua itu sendiri kembali ke luar Papua.

Model dan cara ini setiap kandidat telah melakukan hal yang sama, dan gaya melobi dana degan cara yang samapula maka, yang terjadi adalah jika satu kandidat mengalami kekalahan dalam bursa pemilihan bupati dan gubernur maka, degan beban pikiran atas utang yang telah dipinjam dari lembaga tersebut mau tidak mau harus gotot untuk menang, maka semua kandidat saling bertahan untuk menang, akibat itu Masyarakat Adat pendukung kandidat yang satu degan kandidat yang lain mulai baku adu mulut sampai kepada perang suku, hingga mengorbankan nyawa masyarakat Adat di Papua.

Praktek – praktek ini sebenarnya saya secara pribadi bagian dari anggota masyarakat Adat di Papua merasa jijik, geli dan merasa aneh karena pola yang dianut baik para kandidat bupati dan gubernur serta masyarakat Adat Papua sendiri, harus sadar diri karena pola dan gaya berpolitik model tersebut diatas sebenarnya belum pernah ada diatas tanah Papua sejak tanah ini dijadikan, dan sebagai masyarakat Adat harus tahu bagaimana cara memilih seorang pemimpin melalui penilaian dan track record yang masyarakat Adat Papua miliki, sehingga pemimpin entah itu bupati dan gubernur benar-benar terpilih secara Alam dan Adat sehingga dapat menghindari proses pinjam- meminjam uang dan yang tidak harus terjadi.

Lebih memprihatinkan lagi fungsi MRP, LMA, dan DAP yang mengkleim diri sebagai lembaga Adat, tugas dan kerja mereka apa saja yang dikerjakan? Hal –hal seperti ini harus diperhatikan oleh lembaga-lembaga adat tersebut agar melakukan tindakan protektif bagi masayarakat Asli Papua, kita perlu tanyakan lagi apakah lembaga Adat ini dibuat oleh NKRI dalam rangka mendukung program dan gaya penerapan pembagunan di tanah Papua? Ataukah benar-benar mewakili masyarakat adat di Papua?.

Saya sebagai anggota masyarakat Adat di Papua menilai hal ini sebenarnya apakah yang membuat orang asli Papua bertingka diluar dari adat mereka? Apakah Adat orang Papua suda dihancur luluhkan oleh Agama, Pemerintah dan sejenisnya? Maka degan pandangan yang sempit saya berpendapat bahwa sebenarnya orang papua tahu dan pura-pura tidak mau tahu, atau karena mereka memang suda tidak tahu adat sebagai orang asli Papua itu sendiri.

Namun sekali lagi saya simpulkan dan tekankan bahwa; sebenarnya semua bentuk lembaga mengatas namakan Adat di Papua, kandidat bupati/gubernur yang mengatasnamakan PEMBAGUNAN dan masyarakat Adat asli Papua yang melaksanakan pemilihan degan cara domokrasi dari luar tanpa memakai standar nilai dari Adat itu sendiri dan mengadopsi demokrasi orang lain, serta semua bentuk yang mengatasnamakan masyarakat Adat di Papua hanya OMONG KOSONG BELAKAH. Tetapi barang siapa yang berpihak kepada kebenaran maka ia akan dapat melihat dari satu tanda heran kepada satu tanda heran yang lain dan Barang siapa yang melakukan diluar dari kebenaran, siapapun dia biarlah dia meninggalkan bumi dimana ia berpijak.

Posted by: Pemerhati Allah,Adat dan Alam Papua ( A3P )
Mole : Etarugwe Yoretnda

Keriting dan Berewok Jangan Jadi Patokan

JAYAPURA – Aparat kepolisian diharapkan dapat segera mengungkap pelaku penembakan terhadap warga Jerman, Dietmar Piepir Selasa ( 29/5/2012) lalu, mengingat dari sekian banyak kasus penembakan yang dalangnya OTK alias orang tak dikenal, Polisi belum bisa mengungkap secara transparan ke Publik siapa sebenarnya pelakunya, entah OTK di Timika, Puncak Jaya maupun yang ada di Kota Jayapura, termasuk di Pantai Base-G. Ketua MRP Timotius Murib menyatakan, tidak terungkapnya kasus penembakan di ketiga daerah ini, sangat disesalkan MRP.

“Sebagai masyarakat awam yang ada di MRP mewakili seluruh masyarakat adat Papua, kami sangat menyesalkan aksi- aksi penembakan yang terjadi di Papua dan tak dapat diungkap,” ujarnya kepada Bintang Papua, Minggu ( 3/6/2012) Menurut Murib, aparat Kepolisian lebih mengetahui cara terbaik untuk mengungkap pelaku penembakan, namun dengan alat yang lengkap sekalipun, toh, pelakunya tak pernah diketahui.

“ Kami sangat sesalkan hal ini. Bila demikian menunjukkan OTK lebih luar biasa,” katanya. Ditegaskan, jangan aparat berpatokan pada keterangan saksi yang menyatakan orang yang melakukan penembakan berambut keriting dan berewok.

“Saya tegaskan bahwa kesaksian semacam ini bukan satu satunya cara bagi Polisi untuk mengungkap fakta sesungguhnya, polisi mempunyai alat- alat canggih yang bisa digunakan dalam mengungkap kasus penembakan di Base- G, bukan hanya di Base saja, tetapi kasus serupa di Timika, Puncak Jaya juga harus diungkap,” sambungnya. Ia berharap aparat dapat mengungkap Kasus penembakan ini, mengingat sebentar lagi Provinsi Papua akan menggelar Pilkada Gubernur, sangat disayangkan bila menjelang pilkada rakyat dihantui rasa ketakutan dan ketidaknyamanan. ALDP: Polisi Harus Jamin Rasa Aman Publik Hal senada diungkapkan Yusman Conoras dari Aliansi Demokrasi untuk Papua( ALDP).

Ia menyatakan, aparat kepolisian harus mengungkap kasus penembakan terhadap warga Jerman Dietmar Piepir. “Polisi sebagai alat negara mempunyai cara dan sangat mengetahui langkah langkah apa yang harus diambilnya bila berhadapan dengan kasus seperti penembakan,” ujar Yusman. Dalam berbagai kasus penembakan yang terjadi di Papua, Polisi belum pernah mengungkap secara transparan pelaku penembakan.

“Lantas penembakan yang sama terjadi lagi di Base- G Jayapura, kalau polisi tak dapat mengungkap kasus penembakan ini, maka akan menjadi tanda tanya, harus jelas,” ujarnya. Menurut Yusman, Aparat kepolisian berkewajiban memberikan rasa aman kepada masyarakat, saat ini masyarakat Kota Jayapura merasa takut dan was was dengan kasus penembakan seperti ini, akhirnya rakyat mencari solusi sendiri. “Misalnya dengan tidak keluar rumah, jadi ada suatu ketidak nyamanan hingga rakyat cari metodenya sendiri, tidak keluar malam,” ujar Yusman Sabtu(2/6/2012) usai acara presentasi Penelitian AJI.

Dikatakan, bagaimanapun caranya yang namanya sebuah kasus penembakan, polisi adalah aparat yang paling mengetahui, sebab polisi punya cara sendiri dan mengetahui langkah langkah apa yang harus dilakukan untuk mengungkap kasus penembakan.

Ia menambahkan, yang terpenting adalah polisi harus bisa menjaga keamanan, khususnya menciptakan rasa aman Publik, itu yang pertama harus dilakukan. (ven/don /l03)

Satu Anggota OPM Ditangkap

JAYAPURA – Satu dari ratusan orang yang diduga anggota OPM berhasil ditangkap saat penggerebekan Markas OPM di Angkasera Kepulauan Yapen,  Rabu (30/5).  Kapolda Papua Irjen Pol Drs. BL. Tobing mensinyalir masih banyak markas tempat pelatihan Tentara Pembebasan Nasional Organisasi Papua Merdeka, yang belum terungkap. Dan saat ini aparat gabungan Polisi dan TNI masih terus menelusurinya.
“Selain Markas di Kampung Wadapi Distrik Angkaisera Kepulauan Yapen yang berhasil di grebek pada Rabu 30 Mei lalu, kami meyakini masih ada tempat lain yang dijadikan markas dan tempat pelatihan OPM,’’ucap Kapolda, Jumat 1 Juni.
Hanya saja, lanjut dia, Polisi dan TNI masih terus melakukan penelusuran. ‘’Kami masih selidiki tempat lain, tapi belum bisa diungkap guna kepentingan penyelidikan,’’paparnya.
Terkait markas OPM Angkasera, menurut Kapolda, sangat banyak anggotanya. “Yang  terlibat, diperkirakan berjumlah ratusan orang, tapi saat dilakukan penggerebekan berhasil kabur dan hanya berhasil menangkap orang,’’terangnya.
Markas sekaligus tempat pelatihan OPM ini banyak anggotanya, karena pembentukannya terencana. ‘’Kalau seperti ini, anggota cukup banyak tentu mereka sangat terorganisir,’’imbuhnya.    . Mengenai agenda pelatihan para militer OPM ini, kata Kapolda, belum diketahui secara pasti, karena dokumen-dokumen yang berhasil disita belum dibuka. ‘’Satu orang yang ditangkap kan belum tentu tokoh utamanya, namun kami akan terus mengembangkan semua keterangannya, agenda apa yang direncanakan mereka,’’tandasnya.
Kapolda mengapresiasi kerja sama POlri dan TNI dalam melakukan penggrebekan terhadap markas OPM di Yapen ini. “Saya kira ini koordinasi yang baik, mudah-mudahan masih bisa menemukan markas OPM lainnya,’’kata dia.
Terkait salah seorang anggota OPM yang berhasil ditangkap yakni Tedi John Muntia 26, akan diproses sesuai hukum yang berlaku.
“Pelaku akan dijerat dengan pasal makar, karena mencoba membentuk Negara di dalam Negara,’’ tandasnya. Mengenai dugaan keterlibatan mantan anggota TNI dalam perakitan senjata di Markas OPM sekaligus pelatihan para militer, Kapolda belum bisa memastikannya. ‘’Mudah-mudahan tidak sampai sejauh itu, kami akan dalami,’’terangnya.
.
Barang Bukti Yang disita
1. 5 pucuk Senjata Rakitan Laras panjang
2. 4 Senjata Angin
3. 2 Buah Bintang Gejora
4. 2 Buah Tombak
5. 3 Kampak
6. 11 parang
7. 1 Handycamp
8. 1 kaset dokumen pelatihan
9. 12 Amunisi dari bermacam jenis
10. 88 lembar dokumen
11. 47 jenis kelengkapan medis
12. 1 Genset
13. 1 Chainsaw
14. 1 Printer. (jir/don/l03)

 

KELOPOK PENDUKUNG PAPUA MERDEKA DI KEPULAUAN SOLOMON MENDESAK PEMIMPIN MSG SEGERA BERTINDAK

Kepulauan Solomon atas Papua Barat, sebuah kelompok advokasi gerakan Papua Barat Merdeka menyuarakan pada pemimpin Melanesia untuk berbicara terhadap pelanggaran hak asasi manusia dan pelanggaran orang Papua Barat oleh pendudukan pasukan Indonesia.

Dalam pernyataannya, kelompok itu mengatakan posisi yang diambil oleh para pemimpin Melanesia tentang berkesinambungan pelanggaran HAM yang diderita oleh orang Melanesia di Papua Barat merupakan langkah penting untuk penentuan nasip bagi pribumi Papua Barat dalam referendum.

“Pada token Kepulauan Solomon untuk Papua Barat bergabung dengan pro- pendukung Papua barat Merdeka mengutuk tindakan dari pemerintah Vanuatu untuk menandatangani pakta militer dengan Indonesia.

“Minggu lalu sekitar dua kelompok Pro-pendukung Papua Barat ditangkap di Vanuatu untuk memprotes hubungan pengembangan militer antara pemerintah Vanuatu dengan Indonesia.

“Hal ini menjadi suatu pertahanan umum oleh para pemimpin pemerintah Melanesia bahwa pemerintah dan orang-orang selalu memiliki pandangan yang berbeda dan pendapat tentang isu-isu, baik itu domestik atau diplomatik tapi satu hal para pemimpin kita gagal pahami adalah bahwa dan bahkan diplomasi harus memiliki wajah manusia dan tidak hanya pada basis buku cek diplomasi mutlak. ”

Kelompok itu mengatakan negara-negara Melanesia Kepulauan Solomon, Vanuatu, Papua Nugini, Fiji dan New Kaledonia perlu bersatu dan mengutuk penderitaan yang dihadapi oleh orang Papua Barat di tangan pasukan Indonesia.

“Dukungan dari negara-negara Melanesia sangat penting dan langkah dan usaha pemimpin kita mengambil sikap melawan pelanggaran HAM di Papua Barat merupakan langkah maju yang penting dalam membantu penduduk asli Papua Barat semakin dekat dengan tujuan akhir penentuan nasib sendiri.

“Pelanggaran hak asasi Manusia di Papua Barat tidak dapat dihentikan kecuali kita bersatu melawan itu untuk memberhentikan.

” Solidaritas Melanesia adalah platform penting bahwa orang Papua Barat dapat mengandalkan untuk mewujudkan aspirasi mereka.”

Kata Kelompok “dalam kenyataan kekerasan yang sedang berlangsung yang diderita oleh saudara-saudara Melanesia di Papua Barat, Kepulaua Solomon merujuk Papua Barat kepada pemerintah Kepulauan Solomon untuk mengambil peran proaktif dalam membahas masalah yang berhubungan dengan pelanggaran hak asasi manusia di Papua Barat dalam Forum Kepulauan Pasifik yang ke-43 pertemuanya pada bulan Agustus nanti”.
“Kami juga menghimbau kepada para pemimpin MSG untuk memberikan status pengamat khusus untuk Papua Barat dalam organisasi regional seperti MSG dan Forum Kepulauan Pasifik.

Kelompok dari Kepulauan Solomon untuk Papua Barat menekankan bahwa Indonesia harus menanggalkan statusnya sebagai pengamat dengan MSG.

“Kami menyerukan kepada anggota parlemen kita untuk bergabung dengan kelompok penekan internasional seperti Parliamentarian For West Papua ( IPWP ) bersama dengan anggota parlemen lain dari Australia, Vanuatu, Selandia Baru dan Papua Nugini untuk menangani tantangan yang dihadapi masyarakat Melanesia di Papua Barat.”

Kelompok itu mengatakan anggota parlemen lokal tertentu telah menegaskan kepada mereka dukungan mereka terhadap gerakan kemerdekaan Papua Barat.

“Karena itu kami berencana untuk mengadakan dialog dengan para pemimpin kita atas masalah yang berhubungan dengan nasib orang Papua Barat.”

Oleh: EDNAL Palmer
http://www.solomonstarnews.com/news/national/14734-solomon-islands-for-west-papua-group-urges-msg-leaders-to-actan

PNG Governor urges Indonesia to recognise rights of West Papuans

Posted at 23:17 on 22 May, 2012 UTC

The Governor of Papua New Guinea’s National Capital District says pressure must be brought to bear on Indonesia to address the West Papua issue.

A long-time advocate of West Papuan rights, Powes Parkop says the West Papua issue remains the obstacle to good relations between Indonesia and the Pacific islands community.

He says if his Social Democratic Party is part of the next government after the June election, he will push for recognition of the long-denied right to self-determination of West Papuans.

Mr Parkop says Indonesia must allow the proper exercise of that right to proceed.
“We have a plan to work with the Indonesian government to give them assurance and, if you like, security of their investment and so on, if West Papua should choose to become a nation of independence. We want to see more political and economic integration between Papua New Guinea, West Papua and Indonesia.”

Powes Parkop

News Content © Radio New Zealand International
PO Box 123, Wellington, New Zealand
http://www.rnzi.com/pages/news.php?op=read&id=68373

Up ↑

Wantok Coffee

Melanesia Single Origin Coffee

MAMA Minimart

MAMA Stap, na Yumi Stap!

PT Kimarek Aruwam Agorik

Just another WordPress.com site

Wantok Coffee News

Melanesia Foods and Beverages News

Perempuan Papua

Melahirkan, Merawat dan Menyambut

UUDS ULMWP

for a Free and Independent West Papua

UUDS ULMWP 2020

Memagari untuk Membebaskan Tanah dan Bangsa Papua!

Melanesia Spirit & Nature News

Promoting the Melanesian Way Conservation

Kotokay

The Roof of the Melanesian Elders

Eight Plus One Ministry

To Spread the Gospel, from Melanesia to Indonesia!

Koteka

This is My Origin and My Destiny