PBB Mulai Buka Mata Soal Papua

JAYAPURA – Kekerasan Negara dan kejahatan kemanusiaan serta pelanggaran Hak Asasi Manusia (HAM) di Indonesia dan juga lebih khusus di Tanah Papua, mulai membuka mata dunia internasional. Hal itu terbukti dalam Sidang HAM PBB hari ini Rabu (23/5) kemarin), di Genewa, Swiss, hampir 70 Negara menyatakan keprihatinan kekerasan Negara dan kejahatan kemanusiaan serta pelanggaran HAM di Indonesia, lebih khusus di Tanah Papua.
Adanya keprihatinan dunia internasional tersebut seperti diungkapkan Ketua Umum Badan Pelayan Pusat Persekutuan Gereja-gereja Baptis Papua, Socratez Sofyan Yoman melalui jaringan mereka, baik yang ada di Jakarta maupun dari luar negeri. “Berita ini kami akses melalui jaringan kami yang terpercaya,”jelasnya saat dihubungi Bintang Papua, semalam Rabu (23/5).

Menurut Tokoh Agama yang terkenal vocal ini, Pemerintah Amerika Serikat, Pemerintah Jepang, Pemerintah Denmark, dan Pemerintah Jerman,meminta kepada Pemerintah Indonesia membuka akses untuk media Internasional ke Papua. Pemerintah Jerman juga dengan tegas meminta kepada Pemerintah Indonesia untuk membebaskan Filep Karma dari tahanan politik tanpa syarat. “Termasuk tahanan politik lainnya tanpa terkecuali ikut dibicarakan di sana, seperti Forkorus Cs,”katanya lagi.

Dikatakan, Pemerintah Jerman juga meminta Pemerintah Indonesia tidak menyalahgunakan KUHP 106 dam 110. Dunia Internasional melalui lembaga atau badan dunia PBB mulai membuka hati dan mata untuk melihat penderitaan rakyat Indonesia dan rakyat Papua yang mengalami ketidakadilan dan kekerasan serta kejahatan Negara. Tidak ada alasan Pemerintah Indonesia untuk menutup pintu akses media internasional dan diplomat asing ke Papua. Sekarang sudah waktunya Pemerintah Indonesia meninggalkan atau berhenti beberbagai bentuk rekayasa dan kebohongan-kebohongan tentang persoalan Papua. Sudah saatnya Pemerintah Indonesia dan rakyat Papua untuk duduk berunding dan berdialog dalam semangat kesetaraan untuk mengakhiri kekerasan dan kejahatan kemanusiaan di Tanah Papua.

“Tekanan Internasional ini juga tidak terlepas dari kegagalan Otonomi Khusus sebagai solusi politik tentang masalah Papua. Amanat Otsus seperti perlindungan (protektion), keberpihakan (affirmative action) dan pemberdayaan (empowering) mengalami kegagalan tolal dan sebaliknya kejahatan dan kekerasan Negara semakin meningkat dan menyengsarakan penduduk asli Papua,” demikian Socratez Sofyan Yoman dalanm Pressreleasenya yang dikirim ke redaksi Bintang Papua. (don/don/l03)

Danny Kogoya: Hargai Kami Kibarkan ‘BK’

JAYAPURA- Adanya rencana Ketua TPN-OPM atau Dewan Revolusi Papua Barat wilayah Victoria (Perbatasan RI-PNG), Lambert Pekikir akan memperingati HUT TPN-OPM pada 1 Juli 2012 mendatang dengan mengibarkan bendera Bintang Kejora (BK) selama tiga hari berturut-turut, tanggal 1, 2 dan 3 Juli 2012, mendapat dukungan dari Panglima Tertinggi Komando Perang TPN-OPM wilayah Victoria (Perbatasan RI-PNG) Devacto 1 Juli 1971 Markas Besar TPN-OPM Pusat Kendali Pergerakan Revolusi Bangsa Papua Barat, ‘Letjend’ P. Danny Kogoya PM. M.Pd.

Ia menginstruksikan kepada seluruh rakyat asli ‘Bangsa Papua Barat’ bahwa penunggu tulang belulang Anak Negeri Papua Barat siap memback-up upacara memperingati HUT TPN-OPM Pemerintahan Devacto 1 Juli 1971 Papua Barat.

Dikatakan, kepada Pemerintah Republik Indonesia (RI) dalam hal ini Presiden RI, SBY agar tidak mengganggu kegiatan memperingati HUT TPN-OPM yang akan dilakukan dengan pengibaran bendera BK di seluruh Tanah Air Papua Barat.

Lanjutnya, Presiden RI, SBY segera membuka diri sebelum pihak keamanan dunia mengambil alih di Papua Barat dan segera kembalikan kemerdekaan Bangsa Papua Barat yang telah dirampas oleh Pemerintah RI lewat Tri Komando Rakyat (Trikora) Tahun 1963. “Kami juga meminta kepada Negara Israel segera ambil alih di atas Tanah Papua Barat, dikarenakan kami adalah Ummat Allah yakni Bangsa Papua Barat yang telah bertahun-tahun menjadi korban dari Negara Indonesia,” tegas Danny Kogoya saat diwawancarai Bintang Papua via telepon selulernya, Rabu (16/5) kemarin malam.

Bila Tak Mampu Jalankan Tugas, Saya Siap Mundur

Adirao: 08/04/2011

Sepuluh tahun lebih saya berkawan dengan para sahabat dari beberapa wilayah. Dari pembicaraan mereka jelas nampak sekali ketidak puasan mereka terhadap management dan kepemimpinan Jakarta tidak dapat disembunyikan.

Saya memprediksikan kalau seandainya berlaku perang antara Malaysia dengan Indonesia, maka yang sangat rugi itu adalah Indonesia. Sejumlah wilayah Indonesia yang memiliki dendam lama dengan pemerintah pusat karena pelanggaran HAM, ketidak adilan, ketidak profesionalismean dan sebagainya akan memanfaatkan situasi ini untuk memerdekakan diri serta keluar dari NKRI atau setidaknya menggabungkan diri atau membuat perjanjian kerjasama ekonomi dan militer dengan negara Singapura atau Malaysia. Biarlah kita dikatakan berafiliasi dengan Inggris, karena memang terbukti bahwa Inggris memang ingin semua manusia jadi makmur dan bahagia.

Negara-negara yang terbentuk setelah kemerdekaan saat ini seperti Indonesia, Malaysia, dan Singapura tidak menunjukkan teritori dan kekuasaan raja-raja melayu Islam silam. Kerajaan Aceh Darussalam (1607-1936) dengan rajanya yang terkenal Iskandar Muda wilayah kekuasaannya meliputi Aceh, Deli, Johor, Bintan, Selangor, Kedah, Pahang sampai ke Semenanjung Malaka. Sebuah kerajaan Melayu Riau Lingga (Abad ke 19) wilayah kekuasaannya meliputi Deli, Johor, dan Pahang. Setelah merdeka bangsa Melayu dipisahkan menjadi warga negara Brunei, Indonesia, Malaysia, Singapura dan Selatan Thailand. Apa yang pasti, dalam istilah ilmu tidak mengenal adanya bangsa Brunei, Indonesia, Malaysia, Singapura dan Selatan Thailand. Karena bangsa bermaksud race. Istilah bangsa Brunei, Thailand, Malaysia dan sebagainya adalah istilah politik saja, yang benar adalah warganegara atau rakyat.

Parameswara raja Malaka yang pertama adalah berasal dari Palembang. Kerajaan Aceh Darus Salam memiliki hubungan yang sangat erat dengan Kerajaan pahang, Malaka dan Johor. Keluarga Diraja Negeri Sembilan yaitu Yang Dipertuan Agung Malaysia yang pertama, yang sampai sekarang menjadi lambang mata uang Malaysia berasal dari Minangkabau. Kerajaan Johor Memiliki hubungan kekeluargaan yang rapat dengan Kerajaan Riau Lingga. Para Menteri dan pejabat tinggi lainnnya di Malaysia banyak yang memiliki darah Rao, Aceh, Riau, Minangkabau, Palembang, Jambi, kerinci.

Kalau beberapa wilayah ini bersatu menghancurkan istana negara, gedung dpr/mpr, markaz besar TNI/Polri di Jakarta, maka secara otomatis negara Indonesia akan bubar dengan sendirinya. Ide-ide lama membentuk Sumatera Merdeka (Andalas), Kalimantan Merdeka, Sulawesi merdeka dll. akan memanfaatkan situasi ini untuk merealisasikan impian mereka. Para prajurit yang berasal dari daerah ini tidak mungkin akan menghancurkan kampung mereka sendiri.

Membiarkan Jawa menjadi sebuah negara merdeka dengan Surabaya sebagai ibu kota negaranya dan sby sebagai Presiden seumur hidup atau menjadi sebuah kerajaan dengan Sultan Jogja menjadi pemerintahan yang tersendiri, terserahlah pada mereka

Dari sini akan terlihat nantinya, kepemimpinan dari suku manakah yang paling berhasil memajukan negaranya masing-masing tersebut.

Isu sejumlah wilayah mau keluar dari Indonesia sebenarnya bukan cerita baru dalam sejarah Indonesia. Gerakan Riau merdeka, Gerakan Aceh Merdeka dan sebagainya masih tersimpan dalam catatan sejarah yang soheh. Menurut Anhar Gonggong dan Arbi Sanit, hampir separo daerah di Indonesia menuntut kemerdekaan saat ini.

Ada beberapa alasan mengapa sejumlah wilayah mau merdeka;

1. Kekayaan Alam, Mereka memiliki kekayaan yang melimpah, tetapi kekayaan itu tidak dirasakan sama sekali oleh rakyatnya. Kemiskinan, buta huruf, pengangguran, bertambah, sementara pembangunan infrastruktur hampir tidak terlihat. Mereka hanya mendapatkan resiko saja seperti kerusakan alam, global warming, bencana alam dan sebagainya. Ini terutama berlaku di Aceh, Riau, Kalimantan, Sulawesi dan Sumatera secara keseluruhan.

2. Dendam lama, Peristiwa APRA, Andi Aziz, Darul Islam, PRRI, Permesta di orde lama. Beberapa bekas daerah operasi militer (DOM), kezaliman dan penindasan hak-hak asasi mereka dibidang sosial, politik, ekonomi, budaya dan pembangunan di zaman orde baru. Pembantaian di Psantren Tengku Bantaqiyah, peristiwa KKA, DOM, Pemberhentian Jedah Kemanusiaan & kekerasan di Aceh, peristiwa Ummi Makasar, peristiwa Balukumba di Sulawesi di era reformasi dan sebagainya.

3. Muak, dengan berbagai macam skandal perampokan uang rakyat yang semakin hari semakin menjadi-jadi dan tidak menemukan jalan penyelesaian. Seperti lingkaran setan yang tidak diketahui kapan bermula dan bila akan berakhir segala penyalahgunaan kuasa di negara ini. Skandal BLBI, Century, Rekening Gendut Polisi, Brunei Gate, Bulog Gate, Mafia pajak dan berbagai penyalahgunaan kuasa lainnya.

4. Bosan, dengan tidak dirasakannya fungsi pemerintah oleh rakyat, sehingga keberadaan dengan ketiadaan pemerintah sama saja atau malah memperburuk keadaan saja. Ketidak pastian hukum dinegara ini seperti kasus Ibu Prita, Antasari, Susno Duadji, Sri Mulyani, kasus koruptor dan sebagainya.

5. Capek, selalu menderita akibat ulah dan perangai pejabat negara yang bertindak seperti keparat yang menjajah, seperti preman yang menindas, seperti gangstar yang menggelisahkan. Public service yang tidak mesra pengunjung, fungsi keberadaan instansi pemerintah yang tidak terasa bahkan menindas rakyat, pembangunan infrastruktur yang lambat melempem dll.

Tentu saja saya tidak mengharapkan semua ini berlaku karena ongkosnya terlalu mahal, apalagi kalau proses kemerdekaan itu memakan masa yang lama. Yang rugi adalah umat Islam juga tentunya. Keadaan akan kacau balau, pendidikan anak-anak akan terganggu, keamanan akan tergugat, kuasa besar akan memanfaatkan keadaan.

Tetapi mungkin juga cita-cita untuk mendapatkan pemerintah yang baik, bersih, profesional, merakyat, kemakmuran, kebahagian, kesenangan hanya akan tercapai melalui jalan ini saja…

Logika sederhana

Bergabung dengan Malaysia atau Singapura, rakyat mereka bisa menikmati layanan kesehatan dari dokter yang ahli dengan peralatan rumah sakit yang canggih, anak-anak mereka akan bisa sekolah dengan kualitas pendidikan yang baik, murah, rakyatnya bisa menikmati terangnya lampu listrik yang tidak sering mati seperti PLN, dapat minum air bersih PAM, bisa membeli kenderaan.

Bisa makan daging setiap hari, makanan lima sempurna mudah dan murah didapati. Transportasi yang lancar dan berkualitas, publik servis yang ramah, pegawai negara yang merakyat, mesra. ramah dan tidak korupsi, kebersihan yang selalu dijaga, kemakmuran, keamanan dan ketentraman yang selalu ada, kekayaan negara yang dimiliki dan dinikmati secara bersama.

Disaat itu anda akan merasa lucu dan ketawa mendengar lagu Iwan Fals & Ebid G Ade tentang seorang anak yang mengais sampah untuk mencari sisa makanan yang dibuang, tentang orang tua yang terbakar melecur sekujur tubuhnya tetapi tidak dilayani rumah sakit karena tidak memiliki uang, tentang Umar Bakri guru SD yang memakai sepeda tua, tentang jadwal kereta api yang selalu terlambat, tentang pengemis tua dan pencopet muda mati berpelukan karena kelaparan, tentang bantuan keselamatan negara (SAR, Polisi, Pemadam kebakaran) yang datang lambat setelah semua korban meninggal dunia, tentang orang tua yang tidak mampu membeli susu untuk pertumbuhan anaknya menjadi sehat dan pintar, tentang bocah tukang semir dan penjaja koran yang berpacu dengan waktu antara sekolah dengan mencari sesuap nasi, tentang orang tua yang menggendong mayat anaknya ke kampung karena tidak mampu membayar ongkos kenderaan, tentang wakil rakyat yang tidak merakyat, tentang tikus-tikus kantor yang selalu menggerogoti uang rakyat, tentang polisi yang memperkaya diri dengan tawar menawar harga pas tancap gas.

Waktu itu anda mungkin tak akan pernah mendengar lagi tentang rakyatmu yang mati bunuh diri karena kemiskinan, tentang orang miskin yang sanggup menunggu berjam-jam sampai ada yang mati rebutan pembagian zakat Rp 35.000/keluarga, tentang rakyat yang hanya makan nasi dengan garam atau sayur tempe setiap hari, tentang rakyat yang hanya makan daging setahun sekali waktu hari raya haji saja. Karena dana bantuan sosial yang cukup untuk membeli rumah dan kenderaan sudah dimasukkan kedalam rekening mereka setiap bulannya.

Waktu itu anda akan terbiasa mendengar berita tentang aparat negara yang dipenjara dan diberhentikan kerja karena hanya meminta uang sogokan Rp. 1 Juta saja. Tentang PNS yang dipecat karena selalu terlambat masuk kantor. Tentang polisi yang dipecat karena hanya meminta uang damai ditengah jalan. Tentang camat yang dipecat karena tidak pernah tahu keadaan rakyat. Tentang tentara yang dipecat dan menjadi hansip dan satpam karena melanggar undang-undang. Tentang Direktur, menteri, kepala bagian, rektor, manager yang diganti karena gagal memajukan institusinya.

Kala itu jika anda mau mengenang masa lalu atau ingin mensyukuri nikmat Allah SWT. Ajaklah keluargamu berjalan-jalan ke Jawa sebagai seorang turist. Untuk melihat para pengemis dan pengamen di dalam angkutan umum yang padat dan tidak nyaman. Untuk melihat para penjual barangan yang terkesan memaksakan kehendaknya. Untuk melihat anak-anak jalanan dan gelandangan yang berkeliaran ditengah jalan dan tidur diemperan toko. Untuk melihat penempatan kumuh yang tidak layak huni untuk standart manusia yang berakal. Untuk melihat preman-preman di pasar, terminal, bandara, pelabuhan yang menunggu mangsa. Untuk melihat jalan-jalan berlubang dan berliku yang membuat pening kepala. Untuk membuat sebuah negara koboi yang berlaku hukum rimba, dimana siapa yang kuat, berharta dan bertahta dialah sebagai raja. Untuk melihat negara preman dimana kebenaran diukur dengan keuangan, kekuasaan dan kekuatan.

Bersama Indonesia selamanya kita akan menderita, karena di negara ini kepentingan politik partai mengalahkan segalanya. Sementara bersama negara lain masa depan anak cucu kita akan menemui cahaya terang dan akan lebih terjamin…***

Enhanced by Zemanta

6000-an Warga PNG Ingin Gabung ke NKRI

KEEROM – Jika selama ini sudah cukup banyak warga Indonesia (Papua) yang melarikan diri ke negara tetangga Papua New Guinea (PNG), maka kondisi saat ini sebaliknya, justru orang PNG yang ingin bergabung ke NKRI. Ya, kabarnya ada sekitar 6.675 warga PNG justru ingin gabung menjadi Warga Negara Republik Indonesia (NKRI) di wilayah perbatasan.
Mereka adalah warga di dua kampung yakni, Kampung Wenes Wenda, yang bermukim antara Kampung Yabanda dan Waris di sepanjang Perbatasan RI-PNG.

Adanya keinginan 6000-an warga PNG ke NKRI ini seperti diungkapkan Ketua DPRD Kabupaten Keerom, Isack Yunam. Menurutnya, niat warga PNG bergabung ke NKRI terungkap dalam pertemuannya dengan warga PNG di Kampung Yamanda Rabu pekan lalu. Adapun alasan mereka ingin bergabung, karena merasa tidak diperhatikan bahkan ditelantarkan Pemerintah PNG. “Sejak dari nenek moyang sampai sekarang, pihak PNG tidak melakukan aktifitas pembangunan di kampung mereka, mulai dari Pembangunan Sekolah, Rumah Sakit dan Gereja, sehingga masyarakat tersebut menjadi terlantar, dengan alasan itulah ribuan warga PNG igin berbagung ke NKRI,”jelas Ketua DPRD Keerom,Isack Yunam saat ditemui di ruang kerjanya usai pertemuan warga PNG di Kampung Yabanda, Distrik Waris,Kabupaten Keerom, Rabu Pekan lalu. Ditambahkan, masyarakat telah melakukan pertemuan dengan Vernopes salah satu petinggi pemerintah di Vanimo. Kata Vernopes jika ada warganya yang inginan bergabung ke NKRI seperti begitu silakan saja.

Terkait dengan keinginan itu, masyarakat PNG telah melakukan Kordinasi dengan seluruh warga yang berada di Kampung masing-masing dan telah menentukan pilihan, yakni yang igin menetap di PNG dan yang ingin berbagung dengan Indonesai di tempat terpisah. “ini sudah ada keputusan bersama di Kampung-kampung masing-masing,”jelasnya.
Oleh kerana itu, pihaknya akan menjejaki dulu,setelah itu melaporkan ke Bupati Keerom untuk mengetahui tindaklanjutnya seperti apa.

Kata Isack Yunam, sebelum melakukan pertemuan, ia telah melaporkan ke pihak kepolisian, dalam hal ini Kapolres Keerom dan juga Pemerintah Daerah, yaitu Asisten I Sekda Keerom. Bahkan juga ada bantuan dari Dinas Sosial Keerom berupa Sembako yang diserahkan melalui DPRD kepada warga PNG. “Saya dijemput masyarakat PNG dengan tarian-tarian adat mereka di Kampung Yabanda,” katanya. Pertemuan itu dihadiri Danyon 122/TS, Danki 122 Pos Yabanda, Kepala Distrik Waris,Kepala Kampung Yabanda dan juga Anggota DPRD, Anton Nangai yang dipandu Kepala Kampung Sauri.

Memang mereka adalah bagian dari orang asli Papua yang memiliki pulau ini dan hak memperoleh pelayanan pelaksanaan otonomi khusus di Papua, hal demikian bukanlah suatu hal yang baru karena, mereka merasa daerah mereka dan tanah mereka dikuasai oleh kebanyakan orang non Papua yang menikmati kekayaan diatas tanah mereka. jika mereka gabung ke NKRI atau tanah jawa itu baru kita bisa katakan diluar dari yang biasa dan katakan gabung ke NKRI.

Mereka bukan warga negara PNG tetapi mereka adalah warga dan tuan atas pulau New guinea, tidak bisa kita katakan gabung ke NKRI semata hanya karena wilayah politik, secara moyang apa bedanya orang dari bagian timur datang ke bagian barat dalam pulau yang sama, hal ini ibarat keluarga dari Genyem pergi ke kerom karena satu keluarga dalam satu tanah. memang mereka pulang kampung dibilang bergabung dengan NKRI? sama hal juga dari kerom juga bisa ke PNG karena tanahnya satu tidak dibatasi dengan lautan.

Kita bedakan NKRI dan PNG hanya karena bekas penjajah dan batas Negara moderen yang dibuat oleh Penjajah yang bukan pemilik tanah pulau New Guinea maka yang mengatakan warga PNG dan NKRI adalah suatu yang ironis, karena kedua nama itu tidak ada dalam kamus adat orang Papua diatas tanah New Guinea.

Bagi orang Papua itu hal yang biasa karena kembali ke kampung halaman, kita tidak bisa besar-besarkan hal tersebut, karena memang begitu cara orang papu hidup, dan itu bagian dari budaya orang Papua dari kampun ke kampung lain, maka warga yang lama bermukim disana karena operasi militer tanah mereka dirampas atas nama pembagunan, maka degan kebebasan demokrasi ini mereka berinisiatip untuk kembali ke kempung halaman mereka untuk memperoleh tanah, mereka yang dirampas oleh pemerintah dalam rangka pembagunan. dan tidak perlu dibesar-besarkan karena mereka pulang kampung. bukan bergabung degan NKRI suda besar-besarkan tanpa melihat secara jelas.(Manggu/edited/03)

‘’Kami Ingin Segera Punya Gubernur Definitif ‘’

JAYAPURA—Sekitar 150-an rakyat yang mengatasnamakan Masyarakat Peduli Pembangunan Papua (MPPP) terdiri dari elemen masyarakat mendesak Pansus DPR Papua terus melanjutkan tahapan verifikasi Calon Gubernur dan Cawagub Provinsi Papua periode 2012-2017 sesuai Perdasus No. 6 Tahun 2011 tentang Pemilihan Gubernur Papua. “Kami ingin segera mempunyai Gubernur definitif tahun 2012 dan awal tahun 2013 pemerintah daerah mulai membangun demi mewujudkan kesejahteraan rakyat Papua,” ujar Koordinator Lapangan MPPP Adena Busup didampingi dan Bara Karoba menyampaikan kepada Wakil Ketua I DPR Papua Yunus Wonda SH didampingi Anggota DPR Papua masing masing Yulianus Rumbairusi SSos, MM, Jhony Banua Rouw, SE dan Melkias Yeke Gombo ketika menggelar aksi unjukrasa di Kantor DPR Papua, Jayapura, Jumat(11/5).

Dalam aksi unjukrasa tersebut, MPPP mengusung sejumlah spanduk yang antara lain bertuliskan Masyarakat Peduli Pembangunan Papua ‘’ Pansus Pilgub Lanjutkan Kewenanganmu Sesuai Perdasus No 6 Tahun 2011’’. Masyarakat Peduli Pembangunan Papua ‘’Kekhususan Pilgub Papua Harga Mati’’. Mayarakat Peduli Pembangunan Papua ‘’Jangan Halangi Pansus, KPU dan MRP Menjalankan Kekhususan di Papua’’. Masyarakat Peduli Pembangunan ‘’Kami Ingin Punya Gubernur Defenitif Segera’’.

KONTROVERSI DAN KETIDAK JELASAN PERJUAGAN RAKYAT PAPUA SENDIRI

Sebenarnya masyarakat Papua inginkan Apa? Minta Merdeka, Minta Gubernur, atau Minta UP4B kebingungan meraja lelah di tanah Papua akibat permainan yang diskenariokan oleh aktor-aktor politikus lokal dan Nasional menyebabkan kebingungan besar dan korban berjatuhan bagi bangsa Papua. Karena perihal yang diperjuangkan tidak jelas arahnya hal membingunkan dan kerugian besar bagi bangsa Papua sendiri, dalam hal memperjuangkan hak-hak dasar melalui pengorbanan nyawa dan harta benda sepanjang NKRI menduduki tanah Papua.

keadaan semacam ini benar-benar merugikan bangsa Papua yang memiliki hati nurani untuk memperjuangkan kedaulatan dan hargadiri bangsa, karena perjuagan murni dimanipulasi oleh segala kepentingan untuk sesaat dan akan membawa dampak suram degan pengharapan yang tidak jelas kedepan bagi generasi bangsa Papua. Masyarakat Papua harus mebutuhkan dan mulai merevolusi pemikiran demi menata perjuangan bangsa Papua untuk memfokuskan dan mengitifikasikan apa yang diperjuangkan sebenarnya. akakibat dari tindakan semborono dan tidak terarah akan merugikan diri sendiri dan kepentingan bangsa Papua sendiri.

AS Dukung Kedaulatan NKRI Atas Papua

JAYAPURA—Staf Kedubes Amerika Serikat Ms. Melani Hinggin menjelaskan bahwa pemerintah Amerika mendukung kedaulatan NKRI secara penuh atas wilayah Papua. Hal ini disampaikan ketika melakukan kunjungan ke Kodam XVII/Cenderawasih. Pada kunjungan ini ia diterima oleh Asisten Operasi Kasdam XVII/Cenderawasih (Asops) Kolonel Inf Joppye Onesimus Wayangkau di Ruang Cycloop Makodam XVII/Cenderawasih kemarin.
“Kami juga melihat keadaan stabilitas keamanan dan politik di Papua sangat kondusif,” tutur Melani.
Diungkapkannya, pihaknya juga memberikan apresiasi yang tinggi atas keberhasilan Kodam XVII/Cenderawasih dalam menarik simpati warga Papua yang selama ini masih berseberangan dengan pemerintah NKRI.

“Pemberitaan sebagian media dan LSM lebih banyak mengekploitasi sisi negatif dari perkembangan situasi di Papua dan Papua Barat. Disisi lain pemberitaan yang mengangkat tentang keberhasilan pembangunan stabilitas politik dan keamanan sangat sedikit dan beberapa LSM dalam memberikan laporan atau informasi justru sering memutarbalikan fakta,” urai Melani. Untuk itu, lanjutnya, perlu ada pemberitaan yang berimbang untuk menjelaskan kepada masyarakat internasional tentang kondisi yang sebenarnya di lapangan.

Dalam kunjungan tersebut, rombongan memperoleh penjelasan tentang tanggung jawab TNI dalam pendekatan keamanan secara persuasif di Papua serta peran TNI dalam mengamankan obyek vital di perbatasan.
Sekedar diketahui, dalam menerima kunjungan Staf Kedubes Amerika Serikat, Asops didampingi oleh Waasintel Kasdam XVII/Cenderawasih, Wakapendam XVII/Cenderawasih. (dee/don/l03)

APAKAH BENAR KEAMANAN KONDUSIF DI PAPUA?

Perlu pernyataan Onesimus Wayangkau sebagai kaki tangan NKRI, menyatakan hal demikian karena tidak pernah juga melihat akar masalah yang sebenarnya yang ada di masyarakat asli Papua, kemungkinan besar pernyataan demikian dari sisi menjaga hubungan baik, hanya semata-mata karena USA memiliki kepentingan di Indonesia dan pada khususnya di Papua.

Perlu rakyat Papua sadari bahwa pernyataan demikian keluar oleh karena perjuagan bangsa Papua tidak terarah dan konsisten, dalam memperjuangkan hak-hak dasar orang Papua sendiri karena, dari tindakan dan sikap yang selama ini rakyat papua sendiri tidak mengerti apa yang diperjuangkan, apakah perjuangkan Kemerdekanan ( Berbingkai Negara sendiri diluar NKRI ) atau memperjuangkan Pemekaran, Gubernur, bupati yang merupakan perangkat pelaksanan Undang-undang Otonomi khusus dan UP4B dalam bingkai NKRI maka perjuagan harus jelas.

Model-model gaya perjuganan bangsa Papua yang tidak berfokus dan terarah maka layak dikatakan oleh utusan kedubes USA Melani mengakatan demikian tetapi tidak bisa kita simpulkan bahwa USA mendukung atas kinerja Militer NKRI di tanah Papua dalam konteks penerapan PEMBAGUNAN, karena di lapangan kenyataan berbeda dari penyataan orang luar, dan perlu juga indonesia dalam hal ini KODAM XVII Cenderawasih merasa bangga dan senang karena dibalik pernyataan itu juga berdampak negatif untuk indonesia sendiri.

Penudingan kepada LSM merupakan hal yang terlalu dini, karena LSM yang hidup dan berada degan masayarakat di lapisan bawah dan merekalah yang tahu persis apa kinerja TNI/POLRI di tanah Papua maka, apaun yang dikatakan oleh pihak LSM itu faktual dari lapangan dan tidak bisa dipungkiri. karena faktanya TNI/POLRI hadir di kampung juga meresahkan rakyat karena trauma tindakan-tindakan arogansi aparat Militer/Polri selama NKRI berada di tanah Papua (Edited/Wp/Kont).

Kepala UP4B datang mendengarkan aspirasi Masyarakat Nabire

Jayapura, 10 Mei 2012, 15.00 WIT
Hari ini tanggal 10 Mei 2012 dalam perjalanan dari Kota Sorong menuju Kota Jayapura Kepala UP4B Bambang Darmono menyempatkan diri singgah di Kota Nabire untuk memenuhi undangan masyarakat dan bertemu dengan Muspida Nabire.

Menjelang mendarat, Kepala UP4B Bambang Darmono mendapat informasi ada sekitar 50an orang demonstrasi kedatangannya di Bandara Nabire. Meskipun sebelumnya mendapatkan informasi adanya demo massa tersebut, Bambang Darmono setelah mendarat menemui massa untuk mendengarkan aspirasi mereka. Demonstrasi massa dipandang oleh Pimpinan UP4B sebagai salah satu bentuk cara penyampaian aspirasi. Setelah massa berbicara, Bambang Darmono menanyakan “Apakah saya perlu menjawab aspirasi yang telah disampaikan?” Massa menjawab “tidak perlu.” dan terus berbicara. Bambang Darmono tetap berdiri dengan tenang mendengarkan. Disayangkan, massa sendirilah yang menutup “ruang dialog”.

Atas arahan Kapolres akhirnya massa mulai tenang. Kepala UP4B melanjutkan pertemuan dengan Ketua DPRD, Bupati, dan unsur Muspida lainnya, pendeta serta tokoh-tokoh masyarakat lainnya.

Jadi berdasarkan fakta di atas, jumlah peserta demo tidak mencapai sampai ribuan massa hanyalah 50an tidak seperti yang dilansir oleh beberapa situs, juga tidak ada peristiwa penahanan dan pengusiran terhadap pimpinan dan rombongan UP4B di Bandara Nabire.

Rombongan UP4B meninggalkan Bandara Nabire setelah selesai pertemuan dengan unsur Muspida dan tokoh masyarakat lainnya yang hadir dalam suasana yang mulai tenang. Sebelum naik ke pesawat, Kepala UP4B menyampaikan permohonan maaf kepada Bupati Nabire atas adanya kejadian yang kurang mengenakan atas kedatangannya di Nabire.

Pihak-pihak yang menyebarkan isu atau berita bahwa Kepala UP4B ditahan dan diusir dari Bandara Nabire oleh ribuan massa hanyalah upaya mencari sensasi. Oleh karena itu jangan tipu masyarakat Papuan dengan berita-berita sensasional yang tidak berdasar.

oleh : Yupi Fourbi pada 10 Mei 2012 pukul 17:37

Kepala UP4B datang mendengarkan aspirasi Masyarakat Nabire

Jayapura, 10 Mei 2012, 15.00 WIT

Hari ini tanggal 10 Mei 2012 dalam perjalanan dari Kota Sorong menuju Kota Jayapura Kepala UP4B Bambang Darmono menyempatkan diri singgah di Kota Nabire untuk memenuhi undangan masyarakat dan bertemu dengan Muspida Nabire.

 

Menjelang mendarat, Kepala UP4B Bambang Darmono mendapat informasi ada sekitar 50an orang demonstrasi kedatangannya di Bandara Nabire. Meskipun sebelumnya mendapatkan informasi adanya demo massa tersebut, Bambang Darmono setelah mendarat menemui massa untuk mendengarkan aspirasi mereka. Demonstrasi massa dipandang oleh Pimpinan UP4B sebagai salah satu bentuk cara penyampaian aspirasi. Setelah massa berbicara, Bambang Darmono menanyakan “Apakah saya perlu menjawab aspirasi yang telah disampaikan?” Massa menjawab “tidak perlu.” dan terus berbicara. Bambang Darmono tetap berdiri dengan tenang mendengarkan. Disayangkan,  massa sendirilah yang menutup “ruang dialog”.

 

Atas arahan Kapolres akhirnya massa mulai tenang. Kepala UP4B melanjutkan pertemuan dengan Ketua DPRD, Bupati, dan unsur Muspida lainnya, pendeta serta tokoh-tokoh masyarakat lainnya.

 

Jadi berdasarkan fakta di atas, jumlah peserta demo tidak mencapai sampai ribuan massa hanyalah 50an tidak seperti yang dilansir oleh beberapa situs, juga tidak ada peristiwa penahanan dan pengusiran terhadap pimpinan dan rombongan UP4B di Bandara Nabire.

 

Rombongan UP4B meninggalkan Bandara Nabire setelah selesai pertemuan dengan unsur Muspida dan tokoh masyarakat lainnya yang hadir dalam suasana yang mulai tenang. Sebelum naik ke pesawat, Kepala UP4B menyampaikan permohonan maaf kepada Bupati Nabire atas adanya kejadian yang kurang mengenakan atas kedatangannya di Nabire.

 

Pihak-pihak yang menyebarkan isu atau berita bahwa Kepala UP4B ditahan dan diusir dari Bandara Nabire oleh ribuan massa hanyalah upaya mencari sensasi. Oleh karena itu jangan tipu masyarakat Papuan dengan berita-berita sensasional yang tidak berdasar.

<

Kantor KPU Papua Dirusak Puluhan Orang Bermobil

AYAPURA – Kantor Komisi Pemilihan Umum (KPU) Provinsi Papua, dilempari dan dirusak puluhan warga tak dikenal, Rabu (9/5/2012), sekitar pukul 14.00 WIT. Belum diketahui motif pengrusakan tersebut, namun kejadian ini langsung ditangani pihak Polresta Jayapura dengan melakukan pengejaran terhadap sejumlah pelaku pengrusakan. Pihak kepolisian juga tengah memburu empat dari enam (6) mobil yang diduga mengangkut warga yang melakukan pengrusakan di Kantor KPU Papua.

Keempat mobil yang sedang dalam pengejaran, yakni mobil Toyota Innova warna biru bernomor polisi DS 1552 AB, mobil Avansa abu-abu bernomor polisi DS 1672 AR, mobil Avansa warna hijau bernomor polisi DS 1631 AT, serta mobil jenis Rush warna abu-abu bernomor polisi DS 1963 AR.
Menurut saksi mata yang berada di tempat kejadian, para pelaku datang dengan 6 mobil jenis Toyota tersebut, kemudian langsung melakukan pelemparan dan pengrusakan sejumlah kaca jendela maupun pintu masuk di Kantor KPU.
Aksi pengrusakan ini, sontak membuat para pegawai yang berada dekat Kantor KPU berhamburan keluar menyaksikan pengrusakan itu.

Usai menjalankan aksinya, puluhan warga yang melakukan pengrusakan langsung naik ke mobil dan meninggalkan tempat kejadian perkara (TKP).
Tak ada korban jiwa dari peristiwa pengrusakan ini namun kerugian diperkirakan mencapai belasan juta rupiah.
Sebelumnya Ketua KPU Papua sempat diancam akan dibunuh dengan cara dipotong-potong karena mem-PAW-kan 2 Anggota KPU Mamberamo Tengah. Sementara itu, Kapolsek Jayapura Utara (Japut), AKP. K. R. Sawaki, SE. menyatakan puluhan OTK itu datang menggunakan 6 mobil jenis Toyota, dan langsung melakukan pengrusakan sekitar pukul 14.00 WIT. “Dari pihak kami sudah mengidentifikasi para pelaku tersebut. Jadi yang jelas secara prosedur hukum yang mana Negara kita adalah Negara hukum, maka kami akan menyikapinya dengan tegas dan perintah langsung dari Wakapolda Papua, Brijen Pol Drs. Paulus Waterpauw karena TKP berada di wilayah hukum Polsekta Japut, dan permasalahan ini gaungnya sangat besar, sehingga kasus pengrusakan Kantor KPU Papua ini diserahkan ke pihak Polresta Jayapura Kota yang akan di back up dengan pihak Polsekta Jayapura Utara, dikarenakan TKPnya yang berada di wilayah hukum Polsek Japut,” tegasnya.

Dikatakan Sawaki, ciri-ciri pelaku yang menggunakan 6 mobil jenis Toyota tersebut, sudah berhasil di identifikasi. Dan bagi kami tidak sulit untuk mengejar para pelaku pengrusakan tersebut karena ciri-cirinya sudah di identifikasi oleh kami. Kami optimis dalam satu atau dua hari kedepan para pelaku pengrusakan sudah bisa kami tangkap. Bahkan informasi terkini yang diterima BIntang Papua tadi malam bahwa 13 orang yang diduga pelaku pengrusakan telah ditangkap polisi.
Sementara itu, ketika wartawan menanyakan terkait dengan permasalahan Pemilukada Kabupaten Mamberamo Tengah (Mamteng), Ketua KPU Papua Benny Swenny menyatakan bahwa pelaksanaan Pemilukada Mamteng hingga saat ini masih tertunda karena pihaknya masih menunggu putusan dari PTUN.

“Jadi sebenarnya ini adalah masalah internal saja, yang mana sudah kami tata dan selesaikan tetapi ada beberapa pihak yang tidak setuju dengan kami, maka itu kami menghimbau agar menempuh atau menggunakan jalur hukum, sehingga keputusan kami itu bersifat mengikat dan tidak dipersoalkan di kemudian hari,” himbaunya.

Benny Swenny juga membenarkan adanya berupa teror-teror melalui pesan singkat yang masuk ke ponsel selulernya, yakni berupa ancaman akan dibunuh. “Saya curigai itu dari kelompok-kelompok yang pernah menyerang kediaman saya. Jadi saya menghimbau agar jangan melakukan hal-hal seperti itu, sebaiknya kita menempuh jalus hukum yang ada, dan kami hormati kalau pihak-pihak yang keberatan itu, secara hukum mendapatkan kepastian hukum yang mengikat. Dan yang terpenting disini saya meminta dukungan dari pihak keamanan,” himbaunya.

Ia mengharapkan ada tindakan tegas dari pihak keamanan. “ Karena saya sudah melaporkan hal ini langsung kepada Bareskrim Mabes Polri sejak tiga (3) bulan lalu, saya menyampaikan bahwa di Kota Jayapura ini seperti daerah texas (bahaya, red) begitu yang tidak ada jaminan hukumnya, bagaimana jadinya kalau Pilgub seperti ini. Jadi disini bagaimana hukum di tegakkan, sehingga pelaksanaan Pilgub ini lebih aman, dan tak lupa mengharapkan dukungan dari pihak keamanan,”katanya di tempat terpisah. (mir/don/l03)

Mendagri Diperintahkan Hentikan Proses Tahapan Pilgub

JAYAPURA – Terkait gugatan Mantan Gubernur Provinsi Papua Barnabas Suebu, terhadap keputusan Menteri Dalam Negeri (Mendagri) mengenai pelaksaan Peraturan Daerah Khusus nomor 6 tahun 2011, yakni tentang Pemilihan Gubernur dan wakil Gubernur Provinsi Papua, Pengadilan Tata Usaha Negara Jakarta mengeluarkan putusan sela, Senin 7 Mei. Putusan sela dengan nomor W2.TUN1.519.HK.06/V?2012, meminta menunda pelaksanaan dan tindak lanjut surat Mendeti dalam Negeri RI tanggal 3 April nomor 188.3/1177/Sj, sampai dengan putusan sengketa Aquo berkekuatan hokum tetap.

Dalam putusan yang ditanda tangani Ketua Panitera PTUN Jakarta Wahidin SH, MH, alasan penundaan terhadap pelaksanaan keputusan objek sengketa berdasarkan surat gugatan tertanggal 13 April dan surat permohonan tertanggal 23 April, sebagai tindak lanjut klarifikasi peraturan daerah khusus Provinsi Papua nomor 6 tahun 2011 yaitu tentang Pilgub Papua sebagai aturan pelaksanaaa UU nomor 21 tentang otonomi khusus, mengenai penyelenggaraan pemilihan kepala daerah di Papua. Oleh karena itu, Perdasus Pilgub Papua tidak boleh bertentangan dengan UU Otsus Papua itu sendiri, disamping perundang-undangan yang lain, serta putusan pengadilan yang telah berkekuatan hokum tetap yang terkait dengan pengujian terhadap peraturan perundang-undangan tersebut. Penasehat hokum Steve Waramury kepada wartawan mengatakan, dengan adanya surat keputusan sela PTUN Jakarta, maka DPR Papua harus menunda pelaksanaan tahapan Pilkada yang saat ini sedang dalam proses pengambilan formulir. ‘’Ini perintah pengadilan, jadi Pansus DPR Papua harus menghentikan untuk sementara pelaksanaan tahapan Pilkada, menunggu adanya keputusan hokum yang tetap,’’tandasnya.

Lanjut dia, sebenarnya yang berkompoten mengajukan gugatan mengenai Perdasus nomor 6 tahun 2011 adalah KPU Provinsi Papua, namun karena lembaga itu tidak mengajukan, maka Barnabas Suebu sebagai warga Negara berhak mengajukan, karena keputusan itu sangat berponsei merugikan dirinya. ‘’Klien saya sangat potensial dirugikan oleh keputusan itu, sehingga kami mengajukan gugatan,’’tandasnya.

Menurutnya, semestinya pemerintah dalam hal ini Mendagri memiliki kewenangan mealkukan pengawasan secara repfresif terhadap Perdasus, termasuk Perdasus Pilgub Papua sesuai dengan yang tertuang pada pasal 68 ayat 2 UU Otsus. ‘’Penjelasan UU Otsus, sebagai bentuk pengawasan refresif, pemerintah dapat membatalkan Perdasus, Perdasi dan keputusan Gubernur apanila dianggap bertentangan dengan peraturan perundang-undangan yang lebih tinggi atau kepentingan umum masyarakat Papua. nah, Perdasus ini kami anggap bertentangan,’’jelasnya.

Ia melanjutkan, sebagaimana yang diatur Perpu nomor 1 tahun 2008, pasal 7 ayat 1 huruf a, yang telah disahkan menjadi UU nomor 35 tahun 2008 tentang perubahan Otsus, dengan jelas dikatakan, tugas dan kewenangana DPR Papua dalam pemilihan Gubernur dan Wakilnya telah dihapus. “Bahkan MK juga menolak uji materil terkait perubahan UU tersebut, namun MK tidak menemukan bukti yang meyakinkan bahwa;

Pemilihan Gubernur dan wakilnya adalah merupakan kekhusuan Papua, sehingga kewenangan itu harus diserahkan kepada KPU Provinsi Papua,’’singkatnya. Kata Steve, dalam putusan sela PTUN Jakarta mempertimbangkan ada keadaan mendesak untuk dilakukan penundaan pelaksanaan obyek sengketa. “Putusan sela ini sangat jelas meminta pelaksanaan tahapan Pilgub, ditunda, ‘’tegasnya. Ia mengatakan, proses sengketa terkait Perdasus yang akan berlangsung di PTUN, bisa akan memakan waktu kurang lebih 2 bulan. ‘’Kalau sidang ini berjalan nantinya bisa sampai dua bulan, jadi penundaan Pilkada juga bisa terjadi 2 bulan,’’paparnya.(jir/don/l03)

Up ↑

Wantok Coffee

Melanesia Single Origin Coffee

MAMA Minimart

MAMA Stap, na Yumi Stap!

PT Kimarek Aruwam Agorik

Just another WordPress.com site

Wantok Coffee News

Melanesia Foods and Beverages News

Perempuan Papua

Melahirkan, Merawat dan Menyambut

UUDS ULMWP

for a Free and Independent West Papua

UUDS ULMWP 2020

Memagari untuk Membebaskan Tanah dan Bangsa Papua!

Melanesia Spirit & Nature News

Promoting the Melanesian Way Conservation

Kotokay

The Roof of the Melanesian Elders

Eight Plus One Ministry

To Spread the Gospel, from Melanesia to Indonesia!

Koteka

This is My Origin and My Destiny