Penyelundupan Senpi ke Wamena Digagalkan

Jayapura – Kepolisian Sektor Kawasan Bandara Sentani Jayapura berhasil menggagalkan upaya penyeludupan senjata api dan amunisi, yang akan dibawa ke Wamena, Rabu (1/4) sekitar pukul 09.20 WIT. Pemilik senjata api berhasil kabur dan masih dalam pengejaran.

Kapolsek Kawasan Bandara Sentani, AKP Jubelina Wally, S.H., M.H., mengatakan, upaya penyeludupan senjata api senjata rakitan dengan amunisi 6 butir kaliber 46 mm, berhasil digagalkan, setelah X-Ray utama memasuki ruang cek in mendeteksi adanya tas ransel yang mencurigakan. “Ada tas yang isinya mencurigakan saat dideteksi X-ray, setelah diperiksa ternyata berisi senpi dan amunisi,”paparnya.

Sedangkan pemilik senjata dan amunisi berinisial HT, berhasil melarikan diri. “Pelaku masih kami kejar,”jelasnya.

Adapun kronologis penggagalan penyuludupan senjata api ilegal tersebut, bermula ketika pukul 09.10 WIT pelaku datang ke bandara dengan menggunakan mobil Carry warna biru. Saat turun hendak cek-in, pelaku bertemu dengan dua orang saksi KK dan Lu.

”KK ini porter bandara, ia kemudian masuk ruang chek in membawa tas pelaku. Tapi saat pemeriksaan X-ray dideteksi ada benda mencurigakan, sehingga petugas mengamankan tas tersebut,”

jelasnya.

Saat dibuka, ternyata tas ransel berisi sepucuk senjata api Revolver rakitan dan 6 butir amunisi. “Petugas bandara lantas melaporkan kepada Polisi,”ucapnya.

Selanjutna KK porter bandara yang membawa tas itu diamankan untuk dimintai keterangan. “KK kami Amankan untuk dimintai keterangan,”ujarnya.
Saat KK diamankan, Polisi berupaya menangkap HT yang diduga pemilik senpi dan rekannya Lu, tapi keduanya berhasil melarikan diri dengan jasa ojek bandara. “Pemilik senpi berhasil kabur dari lingkungan bandara,”ungkapanya. (jir/don/l03)

Source: Kamis, 02 April 2015 18:05, BinPa

Di Puncak, Satu Kriminal Bersenjata Tewas Ditembak

JAYAPURA – Salah seorang anggota Kelompok Kriminal Bersenjata (KKB) bernama Agustinus Tabuni (24), warga Jenggernok, Distrik Gome tewas setelah ditembus timah panas Tim Khusus Polda Papua bersama anggota Brimob di Kampung Gome, Distrik Gome, Kabupaten Puncak-Papua Selasa 31 Maret pagi sekitar sekitar pukul 10.00 WIT.

Agustinus Tabuni yang merupakan anak buah dari Militer Murib tersebut, ditembak setelah mengarahkan Senjata Api Jenis Refolver kepada Timsus. Sontak kejadian itu, aparat langsung melakukan penembakan hingga meninggal dunia.

Kepala Bidang Hubungan Masyarakat (Humas) Polda Papua, Kombes Pol. Patrige ketika dikonfirmasi, membenarkan adanya penembakan terhadap salah satu anggota kelompok Militer Murib yang selama ini bereaksi di Kabupaten Puncak.

“Awalnya Tim Khusus dan Brimob yang di BKO ke Puncak berjumlah 30 orang sedang melaksanakan Patroli di bawah komando AKP Syawal Halim, dengan tujuan melakukan kunjungan di beberapa Pos dan Pos TNI. Seketika itu terlihat tiga orang bersenjata dengan menggunakan jenis Monser dan Refolver,”

katanya.

Melihat peristiwa itu, lanjut Patrige, Timsus dan Brimob melakukan pengejaran terhadap tiga orang bersenjata tersebut. “Dari pengejaran, dua orang berhasil melarikan diri. Sementara, satu orang atas Nama Agustinus yang saat itu tak jauh dari tempat pengejaran langsung mengarahkan senpi laras pendek ke arah anggota. Saat itupula anggota langsung melakukan penembakan,” jelasnya dia.

Ia mengemukakan, pengejaran yang dilakukan Timsus dan Brimob disaksikan langsung oleh Kepala Distrik Gome, Zakeus Wakerkwa, S.Sos, yang saat itu ikut bersama-sama melakukan kunjungan di beberapa Pos. “Ketika dilakukan identifikasi, Kepala Distrik mengetahui betul orang yang tertembak itu. Dan statusnya merupakan Tenaga bantuan dari Pimpinan KKB Militer Murib,” katanya.

Sementara itu, ketika dilakukan pengecekan Senjata Api Laras Pendek yang digunakan Agustinus Tabuni diketahui jenis Revolver tanpa nomor seri dan berhasil menyita sebanyak 36 butir kaliber 5,56 mm, amunisi sebanyak 12 butir kaliber 7,62x51mm dan 2 butir amunisi kaliber 3,8 mm.

“Usai diidentifikasi langsung diadakan pemakaman dengan cara dibakar di lokasi kejadian yang disaksikan langsung oleh Kepala Distrik Gome dan seluruh masyarakat Gome. Situasi sampai saat ini aman dan terkendali. Namun aparat kepolisian terus mengantisipasi terhadap adanya kelompok yang ingin melakukan pembalasan,”

tandasnya. (Loy/don/l03)

Source: Kamis, 02 April 2015 18:00, BinPa

Minta Indonesia Kurangi Militer di Papua, Pernyataan O’Neill Dinilai Sangat Keras

Jayapura, Jubi – Dr Richard Chauvel dari University of Melbourne Asia Institute mengatakan ia belum pernah mendengar pernyataan yang keras dari seorang pemimpin Papua Nugini (PNG), ketika mereka berbicara tentang Papua Barat yang merupakan salah satu provinsi di Indonesia. Namun pernyataan Perdana Menteri PNG, Peter O’Neill saat diwawancarai Radio Australia Jumat (27/3/2015) adalah pernyataan yang sangat keras dan berpotensi mempermalukan Indonesia.

“Keterusterangan Peter O’Neill meminta pertanggungjawaban pemerintah Jokowi untuk memenuhi komitmen presiden sebelumnya, Soesilo Bambang Yoedhoyono (SBY) adalah kejujuran yang sangat luar biasa,” kata Richard Cauvel setelah O’Neill diwawancarai Radio Australia, Jumat (27/3/2015).

O’Neill saat berada di Australia untuk menghadiri pemakaman Malcolm Fraser, mantan Perdana Menteri Australia telah diwawancarai oleh Radio Australia terkait Papua Barat. Dalam wawancara ini, O’Neill meminta pemerintah Indonesia memenuhi janji mengurangi personel militer di Papua Barat.

Menurut O’neill, pengurangan personel militer ini adalah janji presiden SBY saat ia bertemu dengan mantan Presiden Indonesia ini dalam pertemuan bilateral antara Indonesia dengan PNG di Jakarta.

“Kami akan terus mencoba untuk memastikan bahwa pemerintah Indonesia saat ini juga memiliki pandangan yang sama tentang pengurangan kehadiran militer di Papua. Dan otonomi yang lebih luas tentu lebih baik untuk rakyat Papua Barat,” kata O’Neill kepada Radio Australia.

Pernyataan inilah yang disebut oleh Richard Chauvel, seorang ahli Papua Barat, sangat keras dan berpotensi untuk mempermalukan pemerintah Indonesia.

“Tapi dia (O’Neill) juga sangat berhati-hati dalam caranya menghubungkan pernyataan untuk pelaksanaan otonomi yang lebih efektif untuk Papua Barat dan juga tanggung jawab Indonesia sebagai anggota masyarakat internasional,” kata Chauvel kepada Jubi melalui sambungan telepon, Sabtu (28/3/2015).

Chauvel bahkan meragukan pernyataan versi Indonesia tentang pertemuan Menteri Luar Negeri Indonesia, Retno Marsudi dengan O’Neill baru-baru ini.

“Versi Indonesia terhadap pertemuan dengan Mr O’Neill, bagaimanapun, sangat jauh berbeda,” ujarnya.

Dr Richard Chauvel pernah menjadi konsultan untuk International Crisis Group (ICG) di Papua dan laporannya diterbitkan tahun 2001 oleh ICG dengan judul “Indonesia: Ending Repression in Irian Jaya”. (Victor Mambor)

Idiologi Beda, KNPB Tak Terdaftar di Kesbang

JAYAPURA — Kepala Badan Kesatuan Bangsa (Kesbang) Provinsi Papua Musa Isir, S.Sos, MPA., melalui Kepala Sub Bidang Ketahanan Kemasyarakatan dan Ekonomi Kesbang Provinsi Papua, Palgunadi, SE., mengatakan pihaknya tidak bisa membubarkan KNPB.

Pasalnya, Organisasi Masyarakat (Ormas) tersebut sama sekali belum mendaftarkan diri ke Badan Kesbang Provinsi Papua.

“KNPB tak terdaftar di Kesbang, karena termasuk Ormas tak resmi, karena ideologinya   bertentangan dengan Pancasila  dan UUD 1945,” tegas Musa Isir ketika dikonfirmasi terkait status hukum Komite Nasional Papua Barat (KNPB). Di ruang kerjanya, Jumat (27/3).

Musa Isir menjelaskan di Papua terdapat 320-an Ormas yang terdaftar di Badan Kesbang Papua, di dalamnya tak termasuk  KNPB, bahkan pihaknya juga tak  mengetahui  keberdaaan  Ormas tersebut.

“Mungkin karena tujuan KNPB memang bertentangan dengan negara, sehingga  dia tak mendaftar di Kesbang. Kalau dia mendaftar jelas kita tolak, sebab salah-satu persyaratan sebagaimana UU No. 17 /2013 tentang Ormas, setiap Ormas harus memiliki AD/ART dan  berdasarkan Pancasila  dan UUD 1945,”

kata  Palgunadi.

Untuk membubarkan Ormas  yang  bertentangan dengan UU, Menurut Palgunadi, mesti ada  prosedur  dan tahapan-tahapannya, seperti peringatan tertulis. Apabila peringatan tertulis  ternyata tak digubris, maka Ormas  tersebut  dapat  dituntut  di  Pengadilan. Jika terbukti melanggar hukum,  maka  Pengadilan berhak  untuk  membubarkan  Ormas tersebut.

Palgunadi menandaskan, walaupun ada UU No. 17 /2013 tentang Ormas,  tapi  peraturan ini belum ada Peraturan Pemerintah (PP). Ini  yang menyebabkan pihaknya  sulit membubarkan Ormas  yang  bertentangan, termasuk KNPB.

Palgunadi mengatakan, sebetulnya yang salah bukan Prmas, tapi oknum-oknumnya ternyata bertentangan  dengan ideologi negara dan mengganggu ketertiban umum.

Karenanya, terangnya, aparat seharusnya mengamankan oknum-oknum Ormas yang melakukan tindakan-tindakan yang bertentangan dengan UU.

Dikatakan Palgunadi, hingga tahun 2015 terdapat  320-an  Ormas di Papua  yang terdaftar di Kesbang Provinsi Papua. Tapi hanya sebagian kecil melaporkan kegiatan-kegiatan yang mereka lakukan.

“Sebetulnya yang perlu dilakukan tindakan hukum sesuai  KUHP adalah oknum-oknum yang melakukan tindakan anarkis  dan mengganggu  ketertiban masyarakat,” katanya.

Sebelumnya, Kapolda Papua Irjen (Pol) Yotje Mende mengusulkan agar KNPB dibubarkan, karena sudah sering melakukan tindakan anarkis  dan mengganggu ketertiban masyarakat. (Mdc/don/l03)

Source: Sabtu, 28 Maret 2015 14:13, BinPa

Goliat Tabuni Bantah 23 Pengikutnya Turun Gunung

JAYAPURA – Panglima Tertingi Organisasi Papua Merdeka ‘jenderal’ Goliat Tabuni membentah keras jika dirinya bersama pengikutnya dikatakan menyerahkan diri (baca: turun gunung) dan bergabung dengan NKRI. Ia masih tetap berjuang untuk kemerdekaan Papua sesuai mandat yang diberikan rakyat Papua pada Konferensi Tingkat Tinggi OPM tahun 2012.

Pernyataan Goliat Tabuni itu disampaikannya kepada salah seorang Tokoh masyarakat Papua Deerd Tabuni, Kamis 26 Maret. “Saya sudah berkomunikasi dengan Goliat Tabuni kalau dia tidak pernah menginstruksikan anggotanya untuk turun menyerahkan diri. Itu hanya mengatasnamakan anak buah Goliat Tabuni demi kepentingan pribadi,” kata Deerd Tabuni kepada wartawan, Jumat (27/3).

Deerd yang juga sebagai anggota DPR Papua meminta kepada Pemerintah Provinsi Papua, Kabupaten/Kota maupun TNI/Polri agar mendapat informasi yang pasti terhadap isu 23 anggota TPN OPM Kelompok Goliat Tabuni menyerahkan diri. “Kalau hanya mendengar dari orang lain dengan mengatasnamakan Goliat Tabuni dan anggotanya mau turun boleh saja. Kami pun merasa senang. Sekarang, apakah benar 23 orang itu turun sudah melakukan komunikasi dengan Goliat Tabuni, dan Anton Tabuni, dan pimpinan lainnya di Papua. Kalau sudah ada komunikasi barulah munculkan ke media. Ini kan ada pembohongan publik,” kata Deerd yang merupakan keponakan Goliat Tabuni.

Ia menyatakan, dirinya sebagai bagian dari keluarga Goliat Tabuni selalu memberikan dorongan kepada Goliat Tabuni agar tidak melakukan penyerangan dengan mengambil nyawa orang. “Saya selalu katakan kepada beliau (Goliat Tabuni) bahwa mengambil nyawa tidak boleh manusia siapapun selain Tuhan. Informasi inilah saya selalu sampaikan,” paparnya.

Namun ketika dirinya mendengar ada beberapa media dan SMS yang bereda di Papua, bahkan sampai di telinga Presiden RI, jikalau Goliat Tabuni akan turun dan akan bertemu dengan Presiden Indonesia. “Hal ini tidak akan terjadi. Setelah kami komunikasi, Goliat Tabuni mengaku bertahan di Hutan,” katanya.

Alasan Goliat bertahan di Hutan, lanjut Deerd Tabuni, karena sejak tanggal 1 Mei 2012 lalu, seluruh aktifis rakyat Papua menyelenggarakan Konferensi tingkat tinggi di Tingginambut, Kabupaten Puncak Jaya. “Dari situlah, Goliat Tabuni dipercayakan sebagai Panglima tertinggi TPN/OPM untuk berbicara masalah tanah Papua. Jadi, kalau dia memberikan statemen dirinya bersama anggota akan turun, maka pernyataan sejak komprefensi itu akan dicabut, tapi dia tidak pernah melakukan itu,” ucapnya.

Dia mengemukakan, isu yang beredar bahwa jikalau dari 23 orang tersebut lima orang diantaranya masing-masing Kulingga Morip, Riki Morip, matahari Kogoya, Supir Morip dan Gube Morip.

“Kelima orang ini hanya mengatasnamakan diri kelompok Goliat Tabuni. Ternyata sampai hari ini bukan kelompok Goliat Tabuni. Jangan kita mencari makan lalu mengatasnamakan orang lain. Jangan memperjual beli nyawa manusia. Kalau betul-betul mau turun harus komunikasi baik kepada Pemerintah, dan tokoh masyarakat yang ada,”

katanya.

Deerd Tabuni juga menyatakan, bahwa dirinya sebagai anggota DPR Papua juga sekaligus kerabat Goliat Tabuni siap memfasilitasi jika ingin berkomunikasi kepada Goliat Tabuni. “Saya ini dididik Indonesia untuk selalu jujur, dan saya juga bukan bermuka dua, kalau Goliat tetap dengan keyakinannya ya itulah dia, tapi saya bisa memfasilitasi jika pemerintah atau TNI/Polri ingin berkomunikasi dengan Goliat Tabuni,”imbuhnya. (loy/jir/don/l03)

Source: Sabtu, 28 Maret 2015 14:17, BinPa

Jenderal TPNPB Goliath Tabuni Tak Pernah Menyerah!

Nggoliar Tabuni, Panglina Tinggi TPN PB
Nggoliar Tabuni, Panglina Tinggi TPN PB

Jayapura, MAJALAH SELANGKAH — “Saya Goliat Tabuni tidak pernah berkata bahwa menyerakan diri ke NKRI, itu tidak benar, karena NKRI dan TNI/Polri itu musuh-musuh saya.”

Hal ini ditegaskan Jenderal Tentara Pembebasan Nasional Papua Barat (TPNPB), Goliath Tabuni, melalui sumber AMP Numbay, Rabu (25/03/2015) menanggapi isu yang beredar.

Sebelumnya, sejumlah media nasional dan lokal seperti  viva.co.id, wartabuana.com, jakartagreater.com, tak ketinggalan bintangpapua.com dan media nasional-lokal lainnya ramai-ramai memberitakan perihal menyerahnya panglima tinggi TPNPB ini.

Sumber informasi menyerahnya Jendral Goliath Tabuni yang hoaks alias bohong ini disebarkan oleh oknum Kepolisian Republik Indonesia (Polri) di Papua. Di situs wartabuana.com dan Viva.co.id, edisi Selasa, 24 Maret 2015 ada pembenaran akan menyerahnya Jenderal Goliath dari  Kepala Staf TNI Angkatan Darat, Jenderal Gatot Nurmantyo.

Sementara itu, Kepala Staf Kodam (Kasdam) XVII/Cendrawasih, Brigjen TNI Tatang Sulaiman, saat berkunjung di Tingginambut, Senin (23/3/2015) rupanya salah satu sumber utama isu dari berita  mengenai hal ini  di jakartagreater.com edisi 24 Maret 2015 dan bintangpapua.com edisi Rabu, 25 Maret 2015.

“Ke-23 anggota KSB (kelompok saparatis bersenjata) pimpinan Goliat Tabuni itu mau turun gunung ke daerah Tingginambut beserta anak dan istrinya, mereka sudah menyadari dan ingin kembali menjadi WNI akan kita terima,”

kata Kasdam XVII/Cendrawasih dilansir bintangpapua.com edisi Rabu, 25 Maret 2015.

Jenderal Goliath Tabuni membantah semua tuduhan dan isu bohong yang diamanatkan pada dirinya dengan sebuah komentar singkat, “Saya Goliat Tabuni tidak pernah berkata bahwa menyerakan diri ke NKRI, itu tidak benar, karena NKRI dan TNI/Polri itu musuh-musuh saya.”

Pihak TPNPB sendiri melalui sumber kami menjelaskan, semua itu upaya negara Indonesia sebagai pihak penjajah yang dilawan oleh TNPPB untuk menghancurkan perjuangan TPNPB. sumber yang sama juga menghimbau untuk semua rakyat Papua tidak terganggu dengan propaganda bohong dari TNI/Polri melalui media-media binaannya dan tetap semangat bekerja sesuai profesi, kemampuan dan kapasitasnya untuk mencapai Papua Merdeka.

Jenderal Goliath Tabuni tidak pernah menyerah kepada penjajah sampai Papua merdeka.

Dikonfirmasi, Jenderal tetap pada sikapnya seperti isi pidato saat pengangkatannya menjadi panglima tinggi TPNPB, dengan menyatakan kebulatan tekad dengan berjanji siap memimpin TPNPB dan melaksanahkan revolusi tahapan guna revolusi total untuk hak penentuan nasib sendiri bagi rakyat bangsa Papua barat. (SAL/MS)

Mengenai TPNPB, klik: #Pencarian-TPNPB

Sumber: MajalahSelangkah.com, Penulis : Admin MS | Rabu, 25 Maret 2015 09:50

Benny Wenda Meninggalkan Papua Nugini Setelah “Masalah Visa”

Port Moresby, MAJALAH SELANGKAH —  Pemerintah Papua Nugini mengatakan, Juru Bicara The United Liberation Movement for West Papua (ULMWP), Benny Wenda  yang sempat  ditahan  oleh imigrasi Papua Nugini (PNG), Selasa (24/3/15) siang karena masalah visa  telah  diterbangkan ke luar negeri.

“Sekarang aku dideportasi,” kata Wenda sebelum dibawa ke terminal internasional di bandara Port Moresby itu seperti dikutip abc.net.au.

“Itu berarti saya meninggalkan negara ini, tapi semangat saya dan perjuangan, saya akan meninggalkannya dengan orang-orang dari PNG hari ini.”

Perdana menteri Papua Nugini, Peter O’Neill  mengatakan,  Wenda telah tiba di negara itu tanpa visa.

Seorang juru bicara Mr O’Neill mengatakan,  pemimpin kemerdekaan Papua Barat tidak dideportasi, tapi ia “tidak diizinkan untuk memasuki negara”.

“Ini bukan isu politik, itu masalah visa,” katanya.

Perdana menteri campur tangan dalam kasus ini, Rabu.

Benny Wenda, yang telah dilepaskan ke perawatan teman-teman, terbang keluar dari PNG pada Kamis sore.

Bulan lalu Mr O’Neill mengatakan, dia akan mulai berbicara tentang pelanggaran hak asasi manusia di Papua Barat Indonesia.

“Saya pikir, sebagai negara, sudah saatnya bagi kita untuk berbicara tentang penindasan rakyat kita di sana,” katanya.

Beberapa pengamat bertanya-tanya apakah memaksa keberangkatan  Benny Wenda dari PNG merupakan pengunduran oleh Mr O’Neill.  (Yermias Degei/MS)

Sejumlah Reaksi Masyarakat PNG atas Deportasi Benny Wenda dari Port Moresby

Lorna Terry This is what our so called government is so good at doing . We are all aware that they have never been for their people . So why would they be for WP? Our fellow Melanesia ? Their actions speak louder than any kundu garamut or bamboo pipes . Cowardless men with no spines . Worse than criminals . It is like they themselves own the country and we are common refugees with no say in the matter . They steal from us , they sell us out of our land , our minerals and our resources , they have slowly been raping our mother land of all her goodness, whoring it off to offshore companies and foreigners and does not give two fucks about its people and those neighborhood surrounding it . We do not need anymore proof of why they are so readily abled and willing to deport an innocent man out of the country without reason; when they themselves won’t lift a finger to ban a fugitive and the thief from hiding in PNG. Let alone sell off our birth right inch by inch while we standby and watch . shame ! shame ! shame ! May the blood of all innocent West Papuans be on your hands PM , your cronies and the Indonesian Government.

George Gauba If they want to deport Wenda then they must also deport all Indonesians and Asylum seekers back to their land!!!!! im sick and tired of the government excuses!!!!

Nigel Druven Sawanga I’m sorry west Papua ..but the truth is , PNG can’t do anything to help at the moment . Our military is weak and our government is corrupt, its all false hope ..but we’ll do our best to spread the word and pray someone comes to your aid soon. Always believe in the god that took Israelites out of Egypt.

Christine Lacey This is a bloody disgrace, when a man cant live in his own country, regardless of what the UN say, get rid of the UN maybe people will live a better life free of politics, and favouritism.

Gibson Simon By denying and Deporting Mr Wenda you are indirectly Promoting extermination of Fellow Melanesians and is Tatamount to Highest TREASON CMO!!! . Have you lost your Sense???How could you Put Money ahead of Precious souls that are Recklessly Murdered,Tortured ,raped and systematically Depopulated by the Indonesian military Junta. Since 1969. ???You are no different to a Murderer!! Hope you eat and sleep well as of the Moment Benny Wenda leaves his Land..To our West Papuan Brothers ,let this not Dampen our spirits , Ordinary PNG people supports this cause and are with you all , from Sorong to Samarai we are One People, one Graun, one tumbuna GOD Bless PNG, GOD Bless WEST PAPUA ..Merdeka Papua

Aboriginal Patron Wao’moni Thats messed up, a soon as he touches american soil he will lose his identity and be called an African-American….SMH the world dislike the original man!!! Power to the indigenous original man of the earth

Kaiku Freeman PM (O’NEILL), you made it clear that we Papua New Guineans are with West Papua and will fight for the rights of West Papuans and yet now what you are doing is totally different and its telling us the public that this is who you really is.. please stop it and think as a real Leader . he is your native brother so try do something best for your country.. Stop being a puppet all the time….!!! You Pussy…. !!!

M Steven Reoghberths How can we deport someone from his own motherland when we can allow yellow bellied fugitives in and out of our country at will? this not on. Perhaps it is now a question of the high ups knowing how they themselves originated. Their background indicates otherwise. All the reason why.

Martita Maima Block the road at Gordons so he’ll not get to Jacksons. O’Neill and his govt is doing a favor for Asians hey? C’mon O’Neill, you can’t do that

Ben Victor PNG, authourities are fuckin whores, they sell their families for cash.

Tunaefa Moafanua Omeli What a bunch of cowards these people are. Deport a native but kept these pigs killing their own people.

Danny Draper Come to Australia we’re used to Indonesia having the shits with us.

Tony Dundon How brave is Benny Wenda , Peter O’Neill PNG PM has deserted his brother from WPNG , uses excuse of no visa to bow to Indonesian wishes , wonder what the pay off is? Benny will be sent to Brisbane , let’s see how our government treats him, specially how Indonesia is treating Australia at the moment joki won’t even return abbots phone calls

Sambaiyok P Den i just felt something deep in my heart n my tears swept down my chicks when i saw mothers and sisters raped and tortured, fathers and brothers killed and operated like pigs. i just can’t hold back my breath, i for one i feel like helping myself with a ripple and go to fight for these our brothers and sisters from W. P….their colour skin is just like ours its just that the border that is separating the whole country otherwise we are all one. if this png government claims itself as a peoples government then why not do something for our west papuans who are in a genocide situation in the hands of these inhuman Indonesians..

Eddy Diro I feel guted and betrayed by our leaders The battle may have been won by those gutless soul less PNG Government officials but you never kill a spirit The greatest tragedy is to stay down when you get knocked below the belt and I Refuse to surrender and put up my flag to those cretans gutless kniving corrupt government officials and the pro Indonesia West Papua lobby led by Franz Albert Joking I live to fight another day until the morning star is raised on liberation day in West Papua. Freedom

Jason Jesse Simon What’s the reasons behind his deportation our very own PM was very vocal about the plight that was faced by our Family from the other side of the boarder so the Question is why in the world for such a person to be treated like a fugitive?

Susan Merton Im sorry but Oneil has sacked and appointed anyone in png govt bodies etc to benefit his own interest yet he couldnt do anything to stop Benny from been deported.Who is Oneils puppet master? I wonder.Where is the Solidarity mr Oneil?

Paul Madden The rest of the world is now starting to question whether PM Peter O’Neil is a tool of the evil Indonesian regime?

Geo Solien Indonesian govt have probably done a deal with Immigration. They are so corrupt. The PM and Foreign Minister are saying Benny can stay and immigration aren’t listening.

Trish Hunnam So…was the PNG Prime Minister telling porkies that Benny Wenda could stay in the country? Well he is a politician after all, and that’s what they excel in.

Lorraine Joy Foote I hope and pray our politicians were listening to the sermon at Malcolm Frasers funeral today. It was magnificent. Please listen if you can. Good word for those ignoring West Papua and there were lots of politicians there too.

Dialog Versi Presiden Bukan Tujuan Referendum

JAYAPURA – Akademisi Universitas Cenderawasih, Panus Jingga menyatakan, seluruh rakyat di Papua mau dialog, namun dialog versi rakyat ini kadang diartikan sebagai buntut dari segala sesuatu yang tidak tercapai, sehingga kesan yang dimunculkan disebagian orang adalah dialog sama dengan referendum atau dialog merupakan satu kata kunci menuju referendum.

Dikatakan, Presiden ke-7 RI Joko Widodo dalam kesempatan perayaan Natal di Papua sempat mengungkapkan, akan membuka ruang Dialog antara Pemerintah dengan rakyat di Papua, namun ungkapan Dialog yang sempat terlontar dari mulut Presiden bukan Dialog Jakarta – Papua seperti yang ada dalam pikiran semua orang di Papua. Hal ini mengingat Dialog Jakarta – Papua merupakan konsep Dialog yang telah digagas sebelumnya oleh Pastor Neles Tebay melalui jaringan Damai Papua.

Menurut Panus Jingga, kita jangan salah persepsi tentang konsep Dialog yang diungkapkan Presiden Desember 2014 lalu, kalau ditelisik lebih seksama, makna Dialog yang dimaksudkan Presiden Jokowi adalah bagaimana membuka ruang komunikasi yang intens antara Pemerintah dengan rakyat di Papua dalam soal-soal pembangunan dan kemajuan di Papua, bukan Dialog untuk referendum.

Panus mengingatkan, upaya-upaya untuk Dialog diresponi semua pihak, namun sekali lagi Dialog dibutuhkan dan harus berada dalam konsep yang jelas dan tidak keluar dari NKRI. Kelompok Jaringan Damai Papua perlu menelisik apa konsep Dialog yang diinginkan Pemerintah seperti diungkapkan Presiden, mengingat Presiden tidak pernah mengungkapkan Dialog Jakarta- Papua, Presiden hanya mengungkapkan membuka ruang Dialog.

Jaringan Damai Papua perlu mengirim konsep ke Presiden atau ke Jakarta, Papua sebenarnya mau apa, itu dikirim ke Presiden. “ Kalau Presiden katakan itu ada unsur memisahkan diri dari NKRI, maka BIN sebagai Badan Intelijen Negara akan menghentikan proses Dialog itu,” ujar Panus Kemarin.

Konsep Dialog akan diuji oleh BIN. Lembaga Intelijen Negera ini akan menterjemahkan konsep Dialog yang diungkapkan Presiden dengan konsep Dialog yang diinginkan rakyat Papua sebagaimana digagas oleh jaringan Damai Papua melalui koordinatornya Pastor Neles Tebay, ujar Panus.

Diakui, memang hanya Dialoglah yang akan membuka ruang untuk menyelesaikan semua masalah di Papua, semua sektor, kalau Jaringan Damai Papua telah dibentuk sebagai sebuah Tim yang mulai membangun Dialog, maka sebaiknya Tim yang sama juga terbentuk dari Pemerintah, Pemerintah juga harus punya Tim yang mempunyai konsep Dialog, hingga kedua konsep Dialog itu disamakan, disatukan. Diingatkan juga peran BIN yang tak akan diam saja, BIN akan selalu mengikuti perkembangan dari permintaan Dialog rakyat Papua, bahkan BIN akan menilai kalau Dialog itu menganggu kestabilan Negara, BIN akan hentikan, BIN akan lihat kalau berbau referendum, otomatis tidak akan jadi.

Lebih dari itu konsepnya akan beda saat mantan Presiden Habibie mengundang 100 Orang Papua yang disebut Tim 100 menghadap Presiden, konsep seperti itu mungkin bisa. Jaringan Damai Papua diminta untuk mulai membangun komunikasi dengan Presiden dan menyodorkan konsep Dialog mulai sekarang mengingat proses Dialog itu panjang dan sudah harus dimulai dari sekarang.

Sementara itu, Yan Christian Warinussy Direktur Eksekutif LP3BH Manokwari kepada Bintang Papua Kamis (26/3) menuturkan, Pernyataan Presiden Jokowi tersebut tentang dialog ternyata cukup mempengaruhi perubahan total dalam aspek komunikasi politik Jakarta-Papua, dimana kata dialog yang sebelumnya sulit digunakan oleh sebagian besar pejabat negara, di pusat dan daerah, tetapi kini seringkali diucapkan dengan mudah dan tanpa halangan, bahkan diperbincangkan dalam berbagai level.

Menurut pandangan saya selaku Advokat dan Pembela Hak Asasi Manusia (Human Right Defender/HRD) di Tanah Papua bahwa seharusnya sejak itu, (27/12/2014), Pemerintah Provinsi Papua dan Provinsi Papua Barat beserta segenap otoritas keamanan di daerah ini, seperti Polda dan Kodam juga mulai mempersiapkan diri dan mengkaji dialog sebagai alat penyelesaian konflik bersenjata di Tanah Papua.

Sekiranya Gubernur Papua dan Papua Barat beserta jajaran DPR Papua dan Papua Barat maupun MRP serta MRP PB segera ikut memfasilitasi berbagai langkah hukum dan politik dalam mendorong terjadinya dialog diantara berbagai komponen masyarakat di Tanah Papua sejak sekarang ini.

Terselenggaranya dialog diantara rakyat di Papua dan Papua Barat atau bisa disebut sebagai Dialog Internal Papua dapat difasilitasi penuh oleh pemerintah daerah di kedua provinsi tertimur di Nusantara tersebut sejak sekarang ini.

Barangkali akan sangat baik, jika kedua Kepala Daerah Provinsi di Papua dan Papua Barat tersebut dapat meminta nasihat dan saran bahkan asistensi dari Jaringan Damai Papua (JDP) beserta Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI) sebagai inisiator dan sekaligus fasilitator dialog Papua – Jakarta atau Papua – Indonesia yang masih aktif hingga dewasa ini.

Dialog seharusnya kini menjadi kata kunci dan dapat didorong untuk dimasukkan dalam perencanaan pembangunan dan pemerintahan dan terutama dalam konsep penyelesaian konflik sosial-politik di Tanah Papua untuk Membangun Perdamaian Bersama.

Tujuan pencapaian Papua Sebagai Tanah Damai (PTD) seharusnya tidak menjadi slogan kosong, tapi merupakan sebuah tujuan luhur dari semua komponen pemerintah lokal/daerah, insitusi keamanan (TNI/POLRI) maupun masyarakat adat/sipil dan kelompok masyarakat sipil pendukung Papua Merdeka ke depan. (ven/sera/don/l03)

Source: BinPa, Jum’at, 27 Maret 2015 01:59

Tiga Oknum TNI Penjual Amunisi Resmi Dipecat

JAYAPURA – Tiga oknum anggota Komando Distrik Militer (Kodim) 1702 Jayawijaya yang diduga kuat menjual amunisi ke kelompok Sipil Bersenjata (KSB) di daerah pegunungan, akhirnya resmi dipecat Tidak Dengan Hormat (PTDH).

Pemecatan terhadap ketiga oknum TNI tersebut berdasarkan hasil sidang putusan yang berlangsung di Pengadilan Militer Jayapura, Dok V Atas Distrik Jayapura Utara-Kota Jayapura kamis (26/3) kemarin. Sidang itu dipimpin Majelis Hakim, Letkol Laut (KH), Ventje Bulo, S.H., didampingi Hakim Anggota, Letkol Laut (KH) Asep, S.H., dan Mayor CHK Ahmad Jailanie.

Ketiga oknum tersebut, masing-masing Pratu Derius Kogoya, Serda Martinus Jikwa dan Serda Arsyad Wagab. Usai putusan sidang, mereka diberikan kesempatan selama 7 hari untuk melakukan banding terhadap putusan tersebut.

Dalam sidang putusan yang dibacakan Majelis Hakim, Letkol Laut (KH) Ventje Bulo, S.H., mengatakan, ketiga oknum anggota TNI tersebut terbukti tanpa hak menyerahkan, membawa dan menyimpan serta menjual amunisi kepada Kelompok Kriminal Bersenjata di Pegunungan, sehingga dikenakan pasal 1 ayat 1 UU RI No.12/ Darurat Tahun 1951.

“Serda Martinus Jikwa dipidana selama 3 tahun plus di pecat dari dinas Militer TNI, Serda Arsyad Wagab dipidana selama 6 tahun plus di pecat dan Pratu Derius Kogoya dipidana selama 2 tahun plus dipecat dari dinas Militer TNI,”

kata letkol Ventje Bulo dalam amar putusannya.

Namun dalam putusan sidang tersebut, 3 terdakwa oknum TNI yakni, dua diantaranya masing-masing Serda Martinus Jikwa dan Arsyad Wagab diberikan kesempatan selama 7 hari untuk memikirkan putusan itu, sedangkan satu terdakwa atas nama, Pratu Derius Kogoya mengajukan banding dengan diberikan waktu 7 hari.

Hakim Ketua menegaskan, kepada ketiga terdakwa yang telah mendengar Pembacaan Putusan sidang dan merasa masih memikir-mikir dan mengajukan banding diberikan batas waktu selama 7 hari lamanya, terhitung sejak pembacaan Putusan sidang.

“Apabila sesuai waktu yang telah diberikan mlewati batas yang ditentukan tidak merespon terhadap putusan itu, maka ketiga terdakwa otomatis dianggap menerima pembacaan Putusan Sidang Pengadilan Militer,”

tegasnya. Letkol Ventje

Sementara, Kepala Penerangan Kodam XVII/Cenderawasih, Letkol Inf Teguh Puji Harjo menyatakan, Kodam tetap menghormati apa yang menjadi Putusan Sidang kepada tiga anggota TNI yang sudah berstatus sebagai terdakwa. “Kalau memang benar mereka dipecat, tentunya mereka telah terbukti bersalah melanggar tugasnya sebagai anggota TNI,” katanya.

Terkait pelepasan baju dinas, kata Kapendam, masih menunggu salinan Putusan hasil sidang tersebut. “Bila, Pengadilan telah mengirimkan maka Kodam selanjutnya bisa melakukan pelepasan Baju Dinas kepada tiga anggota TNI tersebut yang digelar dengan cara seremonial,” tandasnya. (loy/don/l03)

Source: BintangPapua.com, Jum’at, 27 Maret 2015 01:58

Up ↑

Wantok Coffee

Melanesia Single Origin Coffee

MAMA Minimart

MAMA Stap, na Yumi Stap!

PT Kimarek Aruwam Agorik

Just another WordPress.com site

Wantok Coffee News

Melanesia Foods and Beverages News

Perempuan Papua

Melahirkan, Merawat dan Menyambut

UUDS ULMWP

for a Free and Independent West Papua

UUDS ULMWP 2020

Memagari untuk Membebaskan Tanah dan Bangsa Papua!

Melanesia Spirit & Nature News

Promoting the Melanesian Way Conservation

Kotokay

The Roof of the Melanesian Elders

Eight Plus One Ministry

To Spread the Gospel, from Melanesia to Indonesia!

Koteka

This is My Origin and My Destiny