Gen. TRWP Mathias Wenda: “Saya Bertanggungjawab Atas Peristiwa Baku Tembak di Abepura”

Dengan ini disampaikan kepada:
1. Presiden Republik Indonesia;
2. Panglima Tentara Indonesia Angkatan Udara, Angkatan Laut dan Angkatan Udara serta
3. Kepala Polisi Republik Indonesia

bahwa kegiatan gerilya yang dilancarkan di Kampung Nafri, Abepura, West Papua oleh TRWP (Tentara Revolusi West Papua) saat ini dilakukan atas perintah dari saya, Gen. TRWP Mathias Wenda selaku Panglima Tertinggi Komando Revolusi bermarkas Pusat di Rimba West Papua.

Adapun tujuan kegiatan ini ialah satu dan sama, yaitu “Menuntut Kedaulatan West Papua” dari penjajah NKRI, bukan dalam rangka peringatan HUT OPM seperti dilansir media-media di Indonesia.

Perlu diberitahukan bahwa perjuangan gerilya menyambung perjuangan politik yang sedang digalakkan akan terus berlanjut “Sampai Papua Merdeka”.

Demikian pemberitahuan langsung dari kami,

Panglima,

Mathias Wenda, Gen. TRWP
BRN: A.001076

Breaking News: TRWP Menyerang TNI, 6 Terluka, 1 Anggota Tewas

Tepat di Jalan dari Abepura menuju ke Papua New Guinea (PNG( West Papua Revolutionary Army (Tentara Revolusi West Papua) Menyerang Tentara Nasional Indonesia menyebabkan seorang anggota TNI tewas dan 6 orang lainnya dirumah sakit.

Dari pantauan WPMNews pasukan Brimob, dari Yonif 751 dan satuan angkatan lainnya dari NKRI sedang dikerahkan menuju tempat kejadian dan kini kontak senjata terus berlanjut.

Dimohon kepada seluruh rakyat Papua agar memberikan DOA dengan cara:

1. Berdoa dan berpuasa;
2. Memberikan dukungan dana dan tenaga
3. Memberikan dukungan dukungan moril dan kegiatan2 lainnya di kota-kota untuk mendukung kegiatan gerilya dimaksud.

Penyerangan ini dilakukan atas komando Panglima Tertinggi Komando Revolusi TRWP atau WPRA Gen. Mathias Wenda berbasis di Vanimo, PNG.

Demikian sekilas info ini disampaikan dari meja redaksi WPMNews berdasarkan laporan dari Wakil Sec.Gen. Markas Pusat TRWP, Col. TRWP Yalpi Yikwa.

WPMNews

Kelompok Bersenjata Serang Warga Nafri, Seorang Tewas

(ANTARA News/Grafis/Handry Musa) Jayapura (ANTARA News) – Kelompok sipil bersenjata menyerang warga disekitar kampong Nafri, distrik abepura, kota Jayapura, mengakibatkan satu orang tewas dan tiga orang lainnya dalam kondisi kritis akibat tertembak peluru, Minggu.

Menurut keterangan warga setempat, insiden penembakan terjadi ketika gerombolan pengacau keamanan tersebut keluar dari hutan dan menyerang warga yang ada di kampung tersebut, korban tewas dan mengalami luka kritis langsung dibawa menuju Rumah Sakit Umum Daerah Abepura, sebeljum akhirnya dirujuk ke Rumah Sakit Dok II.

Sementara tiga korban lainnya saat ini dilarikan ke Rumah Sakit Umum Daerah dok II Jayapura.

Data yang diambil di Rumah Sakit Umum Daerah (RSUD) Abepura tempat para korban pertama kali dirawat, mereka antara lain bernama Alex Nongka (11), Vernan Nongka (10), dan Ruswadi Yunus (35) meninggal ditempat sementara korban tembak satunya belum diketahui. Satu diantaranya anak-anak.

Aleks ditembak dilengan atas sebelah kanan, Vernal ditembak di dada kiri dan ,kanan. “Mereka ditembak waktu dalam perjalanan menuju ke Nafri,” kata seorang kerabat korban.

Satu korban kritis ditembak dilarikan ke Puskesmas Koya, dan dilaporkan kondisinya masih kritis.

Kepala Kepolisian Resor Kota (Kapolresta) Jayapura, AKBP Imam Setiawan, mengatakan bahwa saat ini pihaknya masih melakukan penyelidikan.

“Sekelompok pelaku bersenjata tak dikenal tersebut datangnya dari hutan dan menyerang warga dikamnpung Nafri,” ujarnya.

Ia menambahkan, pihak kepolisian hingga kini masih menyelidiki motif dan alasan dibalik kejadian penembakan ini.

Akibat insiden penembakan ini, sebagian warga kampong Nafri memilih pergi keluar kampung tersebut atau mengungsi ke kota Jayapura, karena khawatir terjadi insiden susulan.
(T.ANT-185/P003)

COPYRIGHT © 2010

Ikuti berita terkini di handphone anda http://m.antaranews.com

Dihujani Tujuh Kali Tembakan

Tiga korban penembakan saat dirawat di RSUD Abepura.Jayapura—Lolos dari maut. Lelaki separuh baya, hanya bisa tertunduk lesu, sambil tidak hentinya menyebutkan asma Allah. Bagaimana tidak ia korban yang luput dari aksi penyerangan tiba-tiba di tanjakan Nafri, Minggu (28/11) pagi.

Ia mengaku, menjadi korban terakhir yang ditembak dari jarak 16 meter tepat di depannya.

Namanya, Ahmad Mulud (50) Sopir truk yang selamat dari tembakan orang tidak dikenal mengisahkan bila awalnya, ia tidak mengetahui bila dirinya menjadi incaran peluru dari orang tidak dikenal. “ Waktu saya berangkat dari arah Abepura hendak membuang sampah, tidak ada apa-apa, suasana hening seperti biasanya, jadi tidak pernah terlintas dalam benak saya bila manjadi incaran penembakan terakhir dari orang yang tidak dikenal,” ungkapnya pada Bintang Papua menemuinya di sela-sela olah TKP yang dilakukan tim gabungan Polda, Polresta, Brimob dan Polsek Abepura selaku pemilik sektor.

Ditambahkan, saat pulang dari membuang sampah, ia dengan santai mengemudikan mobil yag sudah dibawahnya sejak empat tahun lalu, tiba-tiba ia mendengar suara letusan, ia tidak menduga sama sekali bila letusan pucuk senjata api itu mengincar nyawanya.

Dihujani Tujuh Kali Tembakan
Dihujani Tujuh Kali Tembakan

Dua kali bunyi letusan, baru ia sadar bila letusan itu mengarah padanya,

“ Waktu suara tembakan pertama, saya tidak tahu, malah mengira ban mobil saya pecah. Tapi pas tembakan kedua mengenai Wiper mobil, barulah saya sadar, langsung saya menunduk dan matikan mesin mobil,”akunya.

Karena saat itu, kondisi jalan menurun, sekalipun mesin mobil dimatikan, mobil tetap jalan, dengan tetap menunduk, ia kembali mendengar sura tembakan yang mengenai wiper kiri momobilnya,

“ Saya sempat lihat ada dua orang, yang satu pake baju loreng agak kumal, tapi wajahnya saya tidak bisa pastikan karena buru-buru menunduk, tapi saya mendengar ada tujuh kali bunyi letusan, yang saya tahu mengenai belakang juga samping mobil truk yang saya kendarai,” terangnya pada aparat sembari menunjukkan lokasi TKP tempat ia dihadang dan dihujami peluru hingga tujuh kali.

Setelah melewati para penembak, dan merasa sudah aman, Ahmad langsung bangun dan kembali menghidupkan mesin mobilnya, sempat terdengar olehnya beberapa kali tembakan namun kedian hening lagi. “Mungkin saya dikira sudah kena tembakan, makanya dibiarkan lewat, tapi hitung-hitung ada tujuh kali tembakan terakhir yang mengarah pada mobil saya,” lanjutnya

Namun, baru berjalan 250 meter kedepan, tiba-tiba ia dihadang oleh korban yang lebih dulu mendapat serangan.

“ Saya melihat ada orang yang berlumuran darah meminta tolong, langsung saya bantu, naikkan di mobil, termaksud istri korban yang meninggal ditempat,” lajutnya lagi.

Selajutnya, ia melarikan tiga orang korban menuju arah Abepua, salah satu korbannya adalah anak kecil, namun ia juga sangat menyayangkan sikap aparat kepolisian yang bertugas di Pos Yanmor Tanah Hitam.

“Saat masuk di Abepantai, ibu yang suaminya meninggal itu minta diturunkan, sedangkan bapak dan anak itu saya bawa menuju Abe, tapi waktu di Pos Yanmor Tanah Hitam, saya minta dikawal tapi tidak ada juga, sampai sempat lama terjebak macet di Kamkey, kalau dikawal kan korban bisa tiba di Rumah sakit dengan cepat, ini malah dibiarkan lewat tanpa pengawalan,” sesalnya sembari menunduk. (as/don)

Penembak Misterius Beraksi di Nafri, 1 Tewas 4 Luka-luka

Penembak Misterius Beraksi di Nafri, 1 Tewas 4 Luka-luka
Penembak Misterius Beraksi di Nafri, 1 Tewas 4 Luka-luka

Salah satu korban penembakan yang tewas Jayapura—Sekelompok Orang Tak Dikenal (OTK), Minggu (28/11) sekitar pukul 10. 45 WIT kemarin memberondong dengan tembakan ke pengendara motor maupun mobil yang lewat di Jalan Irian, tepatnya di Tanjakan Kampung Nafri, Kota Jayapura. Akibatnya, seorang pengendara motor tewas di tempat dan empat orang luka-luka.

Dari pantauan lapangan Bintang Papua, sesaat setelah penembakan tampak Wakapolda Papua, Dirreskrim Kombes Pol Drs. Pietrus Waine,SH,M.Hum, Kapolresta Jayapura AKBP Imam Setiawan,SIK tampak langsung mendatangi Tempat Kejadian Perkara (TKP).

Setelah olah TKP dengan mengambil sejumlah barang bukti di TKP, dengan mengerahkan pasukan Brimobda Papua dan anggota Polda maupun Polresta Jayapura langsung melakukan penyisiran baik ke arah Koya serta Arso maupun kea rah Puay.

Kabid Humas Polda Papua saat dikonfirmasi mengatakan bahwa pelaku penembakan berjumlah 5 orang dan yang memegang senjata jenis SS1 hanya satu orang. “Kronologis penembakan, ada lima orang yang tidak dikenal dari arah bukit dengan senjata api laras panjang menembaki pengendara kendaraan bermotor,” ungkapnya via SMS yang diterima Bintang Papua semalam.

Dalam kasus tersebut, 1 korban meninggal bernama Iswandi Yunus,SE (35) akibat luka tembak bagian dada tembus punggung. Korban adalah karyawan Sumber Makmur yang sedang dalam perjalanan menuju Koya bersama istrinya dengan mengendarai motor Honda Tiger.

Korban lain yang mengalami luka tembak adalah Debi Rumansah, ia luka tembak di lengan kanan, Baharudin (45) mengalami luka tembak di telapak tangan kanan, Fernal Nongka (12) luka telapak tangan kiri, Alex Nonka mengalami luka pada lengan tangan kiri (32), Iswanto (Luka lecet di Lutut), dan Debi D Rumansyah, luka tembak bagian tangan.

Untuk korban meninggal dunia, sesaat setelah dibawa ke RSUD Abepura, langsung dibawa ke rumah duka di Perumahan Grand Permai Kotaraja Blok C 39. Tampak ratusan tetangga maupun kerabatnya berdatangan silih berganti untuk melayat.

Sedangkan untuk korban luka, menurut petugas piket di UGD, setelah dirawat di UGD RSUD Abepura langsung dirujuk ke RSUD Dok II.

Dari kasus penembakan tersebut, baru satu saksi yang diperiksa, yaitu sopir truk sampah bernama Ahmad Maulud yang saat peristiwa penembakan sempat diberondong tembakan. Beruntung ia tidak terkena tembakan sama sekali.

Hasil Olah TKP

Peristiwa penyerangan yang di Tanjangan Nafri yang mengakibatkan empat korban penembakan satu diantaranya tewas di TKP, rupanya menyisakan setitik cahaya dengan ditemukannya 4 slongsong peluru.

Hal itu diketahui dari hasil olah TKP yang dilakukan tim Gabungan dari Polda Papua, Polresta Jayapura, Brimob dan Polsek Abepura menemukan, Empat slongsong peluru.

Penemuan empat slongsong peluru itu berawal dari keterangan saksi, Ahmad Mulud (50) yang dibawa oleh Kasat Reskrim Abepura Ipda Unding Alimudin S.Sos. yang langsung menunjukkan lokasi penembakan dirinya.

Dari pantauan Bintang Papua di TKP, bila pelaku yang diduga dua orang tengah menghadang Ahmad Mulud ( 50) dari samping kiri jalan dengan senjata siap tembak, berjarak 16 meter dari arah mobil, palaku langsung memuntahkan pelurunya ke arah pengemudi truk sampah yang dikemudikan oleh Ahmad.

“Saya tidak melihat secara jelas wajah kedua pelaku yang melakukan penembakan kearah saya, namun, satu diantaranya menggunakan pakain loreng yang sudah agak kumuh,” ungkap Ahmad.

Sementara itu dari TKP, Pihak kepolisian berhasil mengamankan Barang bukti berupa dua Wiper milik truk sampah yang dikemudikan Ahmad, selain itu juga menemukan empat slongsong peluru dan sepasang sepatu sandal milik pelaku yang diduga ditinggalkan pelaku saat melarikan diri. (aj/as/don)

OPM Tembak Mati Warga

JAYAPURA—Aksi Kelompok separatis OPM di Kabupaten Puncak Jaya, kian menjadi-jadi. Rabu 4 Agustus sekitar pukul 18.30 WIT di Kampung Wuyuneri Distrik Mulia Puncak Jaya, kelompok OPM anak buah Goliat Tabuni ini, dilaporkan menembak mati warga, salah seorang pemilik kios. Namun, hal itu baru diketahui, Kamis 5 Agustus, kemarin.

Juru Bicara Polda Papua Kombes Wachyono saat dikonfirmasi mengatakan,korban tewas ditembak di dalam kios rumahnya. “Dari olah TKP, korban yang namanya Atril Wahid (25) asal Padang, ditembak dalam posisi duduk di dalam kios tepat di bagian mulut tembus kepala, namun, baru diketahui hari ini (kemarin),’’ ungkapnya.

Lalu, lanjutnya, setelah menembak korban, pelaku kemudian menembak tukang ojek atas nama Irfan (21) yang saat itu melintas di tempat kejadian. “Setelah menembak pemilik kios, pelaku keluar dan kebetulan
tukang ojek lewat dan kemudian menembaknya. Beruntung Irfan bisa menyelematkan diri dengan terus melarikan sepeda motornya,’’ jelas Wachcyono.

Beberepa saat kemudian, polisi tiba di lokasi dan sempat baku tembak dengan para pelaku yang diperkirakan 3 orang, namun, pelaku berhasil kabur dan menghilang dikegelapan malam.
Di dalam kios korban, terlihat jelas cecerana darah, dan diduga kuta ditembak dengan AK47, pasalnya ditemukan satu selongsongan dari senjata jenis itu.

Pelaku, tandasnya diduga adalah kelompok OPM dengan pimpinan Gobanik Telenggen serta M. Murib. Saat ini sedang dilakukan pengejaran terhadap kelompok tersebut. “Mereka ini anak buahnya Goliath Tabuni yang kerap beraksi di dalam kota,’’ tandasnya.

Sementara korban, rencananya dengan menggunakan pesawat Lion Air akan diterbangkan ke Padang hari ini Jumat 6 Agustus. Saat ini korban sudah berhasil dievakuasi dari Mulia menuju Jayapura dengan pesawat Trigana jenis Twin otter.

Aksi OPM terus berlanjut dan kian sadis, sementara Kapolda Papua mengklaim, pasca penambahan satu SSK Brimob dari Kedunghalang, situasi Puncak Jaya kondusif. Kapolda juga membantah telah memberlakukan jam malam di Mulia, padahal Kapolres Puncak Jaya AKBP Alex Korwa membenarkan hal itu. Warga Puncak Jaya terus diselimuti rasa ketakutan. (jir)

Kamis, 05 Agustus 2010 21:51

Pemprov Jangan Lempar Tanggungjawab

JAYAPURA [PAPOS]- Permintaan Wakil Gubernur Papua Alex Hesegem agar pemerintah kabupaten Puncak Jaya bersikap tegas dalam menyelesaikan masalah penembakan yang terjadi di Puncak Jaya. Dan mempertanyakan kerja Pemkab Puncak Jaya yang sampai sekarang kerap terjadi penembakan diwilayah Puncak Jaya. Hal ini mendapat tanggapan dari Bupati Kabupaten Puncak Jaya, Lukas Enembe, S.IP.

Menurut Lukas, persoalan yang terjadi di Puncak Jaya, bukan hanya masalah Puncak Jaya sendiri, tetapi apa yang terjadi di kabupaten Puncak Jaya sebagai bagian dari Negara Kesatuan Republik Indonesia [NKRI] adalah tanggungjawab negara, khususnya pemerintah provinsi Papua. Masalah sparatis ini adalah masalah besar yang harus disikapi karena mengganggu kedaulatan negara.

Minta Pelaku Dikejar

Salah seorang moderator keluarga korban Yelimus Ramandei dan Hans Saftia saat menunjukan foto Yelimus Ramandei bersama gerombolan bersenjata di Lokasi Kerja di Puncak JayaJAYAPURA [PAPOS]- Kasus penembakan terhadap karyawan PT. Modern di Distrik Newoluk Kabupaten Puncak Jaya tanggal 13 April lalu yang menewaskan dua anak Papua yakni Yelimus Ramandei dan Hans Saftia sampai saat ini masih misteri bagi keluarga, sehingga siapa pelakuknya supaya diungkap dan dikejar.

Keluarga korban Yelimus Ramandei dan Hans Saftia menilai kasus penembakan terhadap kedua saudaranya itu penuh dengan tanda tanya, sehingga pihak keluarga meminta agar apara kepolisian untuk menyelidik kasus tersebut dan mengungkapkan siapa pelakunya.

Hal itu diungkapkan, Renard Ramandei kakak kandung korban Yelimus Ramandei serta kakak sepupu Hans Saftia kepada wartawan, Rabu (21/4)kemarin di Abepura.

Menurut Renard, bahwa sejak kematian korban keluarga hanya menerima surat kematian serta peti jenasa dari pihak perusahan tanpa ada penjelasan mengapa sampai korban meninggal, apa penyebabnya serta korban bekerja sebagai apa sampai ia dibunuh.

Selama ini, kata Renard, keluarga hanya tahu kalau korban berangkat ke Puncak Jaya mengikuti perusahan untuk bekerja pembangunan jalan, namun keluarga korban tidak mengetahui korban bekerja sebagai apa pada perusahan tersebut. Tiba-tiba mendengar kabar kalau kedua korban meninggal dunia ditembak orang tak dikenal, keluarga bingung dan terpukul.

Namun sebelumnya kata Renard, bahwa keluarga korban Yelimus Ramandei mendapat informasi kalau korban kadang berperan sebagai kurir atau penghubung antara gerembolan bersenjata dengan pihak perusahan.

Namun ketika diterima informasi bahwa Yelimus meninggal ditembak orang tak dikenal, sehingga membuat keluarga bingung.

Kelompok Penyerang Sulit Ditangkap

JAYAPURA [PAPOS]- Pelaku penembakan terhadap karyawan PT Modern di Desa Kalome, Distrik Mewoluk, Kabupaten Puncak Jaya yang dilakukan kelompok sipil bersenjata menyebab 3 orang meninggal dan dua luka parah serta merusak alat-alat dan 4 kendaran, Senin (14/4) lalu sampai kemarin belum ditemukan walaupun aparat kepolisian berusaha untuk melakukan pengejaran.

Direktur Reserse dan Kriminal Polda Papua, Kombes Pol. Drs. Pietrus Waine SH.M.Hum saat ditemui di Mapolda Papua, Kamis (15/4) mengungkapkan, pelaku penembakan di Distrik Mewoluk, Punvak Jaya merupakan suatu perbuatan tindak pidana oleh kelompok kejahatan kriminal.

Namun sampai kemarin pihak Kepolisian belum bisa mengidentifikasi pelaku-pelaku penembakan tersebut, karena sangat mempengaruhi alam dan lingkungan serta situasi di daerah tersebut tidak bersahabat sehingga sulit untuk mengungkapkan pelakunya.

Dirreskrim menambahkan, aparat kepolisian akan terus melakukan upaya penyelidikan dan pengembangan atas kasus yang menewaskan 3 orang itu dan merugikan milyaran rupiah itu.

Kasus Puja dan Timika Terkesan Dibiarkan

JAYAPURA [PAPOS] – Rentetan peristiwa penembakan di Timika dan Puncak Jaya yang hingga kini pelakunya belum dapat ditangkap oleh aparat kemanan mendapat sorotan dari DPD KNPI Provinis Papua.

Menurut Ketua DPD KNPI Papua, M Rifai Darus, SH dilihat dari aksi-aksi penembakan yang dilakukan orang yang tak dikenal itu, sepertinya ada pembiaran dari jajaran TNI maupun Polri. Dimana selama ini terjadi aksi penembakan terhadap masyarakat sipil maupun kepada aparat keamanan hanya di dua daerah ini.

Up ↑

Wantok Coffee

Melanesia Single Origin Coffee

MAMA Minimart

MAMA Stap, na Yumi Stap!

PT Kimarek Aruwam Agorik

Just another WordPress.com site

Wantok Coffee News

Melanesia Foods and Beverages News

Perempuan Papua

Melahirkan, Merawat dan Menyambut

UUDS ULMWP

for a Free and Independent West Papua

UUDS ULMWP 2020

Memagari untuk Membebaskan Tanah dan Bangsa Papua!

Melanesia Spirit & Nature News

Promoting the Melanesian Way Conservation

Kotokay

The Roof of the Melanesian Elders

Eight Plus One Ministry

To Spread the Gospel, from Melanesia to Indonesia!

Koteka

This is My Origin and My Destiny