Telah Berpulang Kepala Suku Walak

Bapak Bangsa ALM THOMAS TOGODLY Selamat jalan ke pangkuan Bapak Di surga. Bapak Atas Perjuangan membela kebenaran nya kami akan kenang di suatu hari, dan kami anak anak mu akan melanjutkan perjuangan Bapak. 

Selamat jalan Bapak. 😭😭😭

Doable terakhir almarhum adalah

PAPUA PASTI MERDEKA!

Amin!!!

Pendoa Syafaat Papua Merdeka: Rev. Selion Karoba Tawy Meninggal Dunia 02 Mei 2023

Dengan menundukkan kepala sekali lagi, pada tanggal 02 Mei 2023, telah berpulang ke Runah Bapa di Sorga,

nama: Pdt. Selion Karoba, S.Th.

jabatan: Wakil Ketua Wilayah Bogo, Gereja Injili Di Indonesia

meninggal di: Rumah Sakit Daerah Wamena

Saya selaku saudara kandung, dan teman sekerja di ladang Tuhan sangat menyesal dan sangat terpukul dengan keputusan Tuhan ini, dan menyatakan,

Berduka dan Bersandar kepada Keputusan Daulat Allah.

Saya angkat tangan! Keputusan Tuhan-lah yang terbaik! Saya harus tunduk kepada kehendak-Nya!

Terpujilah nama Allah Bapa, Allah Anak dan Allah Roh Kudus.

Sem Karoba Tawy

Informasi DUKA Dari (KUNUME NUMBAY) Pada Tanggal, 18/10/2022 Waktu West Papua.

Yaitu Atas Kepergiannya, Adik, Anak, Om, Kami Yang Bernama: (KRIS TABUNI, Berusia 9-Tahun) ..aaaee.. Sayang dia Telah Meninggal dunia, Pada Malam Ini Tanggal 18/10/2022.

Dia Adlah: Pahlawan Kami Untuk Negeri West Papua Ini, Dan Dia Adalah: Termasuk Aktivis PAPUA MERDEKA atau Generasi Muda Yang Punya Nyali Untuk, Bicara Bangsa Papua ini.

Tapi Sayang ..Aaeee.. Kami Keluarga Besar Telah Kehilangan, Atas Kepergiannya Almarhum (KRIS TABUNI).😭💔

Maka Kami dari keluarga DUKA mengimbaukan Kepada Seluruh Keluarga Besar Kami Yang Ada Di Kota Jayapura, atau Ikatan/Suku, (WENDA-TABUNI) dan Keluarga Besar Kami Ikatan (SUKU-LAWAK).
Kami Dari Pihak Keluarga Duka Hanya Mengimbaukan Informasi DUKA Ini. 🙏😭

Dan sementara Almarhum Atau Tempat Rumah Duka Di Dok5 Atas, Atau YAPIS.

Makasih banyak Atas Perhatiannya. Dan Arwanya semoga Disisi Allah Yang Punya Akal Budi Ya..Aaee..
Wah.wahwah.. 😭💔

Gombonack_Papua_Wenne_Kanok_Gitar_Egwa_Jira.😭💔 Om Merasa Kehilangan Atas KepergianMu .#Iki.😭💔

PENGGU, Komandan Papua Merdeka Sejati(Constantinopel Ruhukail)

Jonah, aka (also known as) Penggu adalah seorang anak Papua yang sederhana hidupnya tetapi aggressive ketika berbicara tentang perjuangan dan hak politik bangsa Papua untuk Merdeka sebagai suatu bangsa. Saya mengenal Jonah secara dekat ketika ia menyelesaikan pendidikannya di Divine Word University Madang, PNG tahun 2003 dan berada di Port Moresby setelah itu. Kami jumpa di rumah alm. Fred Mambrasar di 3Mile. Kami saling menyapah dengan sebutan “komandan”. Sampai akhir hidupnya ia adalah seorang komandan lapangan yang berjiwa besar yang tidak pernah memiliki rasa perbedaan antar sesama orang Papua, pantai dan gunung, pulau dan darat. Di bagian inilah saya mempunyai rasa hormat dan penghargaan yang tinggi terhadapnya.
Dia juga adalah seorang pelopor persatuan bangsa, pelopor dan pendorong berdirinya koalisi nasional antara organisasi2 perjuangan Pro-OPM dalam pembentukan West Papua National Coalition for Liberation (WPNCL) untuk melanjutkan perjuangan Papua Merdeka setelah Dewan Papua/Presidium Dewan Papua (PDP) hasil Kongres Papua II/2000 dibekukan setelah Pemimpin Besar Papua yang juga Ketua PDP, Theys Hiyo Eluay dibunuh oleh satuan Kopassandha/KOPASUS NKRI pada malam 10 November 2000. Jonah Penggu termasuk salah satu yang ikut dalam diskusi awal di bawah rumah alm. Clemens Runawery di Tokarara (2003) tentang bagaimana membangun sebuah front pembebasan di luar negeri untuk mendukung upaya2 diplomasi di wilayah Pasific yang dikordinir oleh Alm. Dr. John Ondoame, alm. Andy Ayamiseba, dan Tuan Rex Rumakiek di bawah Kordinasi WPRO (West Papua Representative Office) yang berkedudukan di Vanuatu. Alm. John Tekwie ikut pula terlibat dalam diskusi2 awal ini. Melalui proses rekonsiliasi yang panjang yang dilakukan secara intensif baik di dalam maupun di luar negeri dengan organisasi2 perjuangan Pro-OPM, akhirnya terbentuklah Koalisi Nasional yang disebut: WEST PAPUA NATIONAL COALITION for LIBERATION (WPNCL) tahun 2006 di Port Vila, Republic of Vanuatu.
Saya menjemput Penggu yang mengawal alm. Richard Joweni dan Tuan Nicolaas Ipohau di Airport dan membawa mereka ke tempat penginapan sambil mengurus perjalanan lanjut mereka ke Vanuatu minggu berikutnya melalui Honiara, Solomon Islands.
Banyak orang Papua di PNG yang PRO-NKRI ternyata berinisiatif untuk menggagalkan rencana perjalanan Joweni, Ipohau dan Penggu, tetapi tidak berhasil karena upaya mereka lebih dulu diketahui dan pengaturan perjalanan kembali Penggu dan kawan2 dirahasiakan dalam kerjasama jaringan bawah tanah yang telah lama dibangun oleh Penggu sejak ia mengikuti pendidikan di Madang, Papua New Guinea.
Begitu WPNCL terbentuk. Richard Joweni di pilih sebagai Pemimpin dan Dr. John Ondoame sebagai Wakilnya. Rex Rumakiek adalah Sekretaris Jenderalnya.
WPNCL adalah perwujudan dari Port Vila Declaration 1987 yang ditandatangani oleh Rumkorem dan Prai sebagai upaya mempersatukan Agenda National Perjuangan Papua Merdeka yang diperjuangkan secara terpisah sejak 1976-Perpecahan oleh Pemerintahan Defacto (PEMKA) Pimpinan Jacob H. Prai dan Pemerintahan Revolusi Sementara (PRS) pimpinan Seth J. Rumkorem.
Dan Tuan Penggu yang kini telah bersama Penciptanya, adalah satu diantara sekian banyak orang Papua yang mendedikasikan diri dan seluruh kehidupannya bagi Persatuan Bangsa karena keyakinannya yang kuat bahwa Tanpa Persatuan Nasional Perjuangan Bangsa Papua tidak pernah akan mencapai tujuannya.

Jonah, hari ini jasadmu akan dikebumikan tetapi Roh dan Semangat Perjuanganmu akan terus hidup dalam hati Generasi Muda Papua yang mencintai Persatuan, Keadilan dan Kejujuran dalam Menuntut Pengembalian Hak Politik Bangsa Papua untuk Merdeka, Berdiri sendiri sebagai suatu bangsa yang Berdaulat di atas tanah adat dan leluhurnya, PAPUA BARAT.

Selamat jalan Penggu,
Beristirahatlah dengan Damai di sisi Tuhan Yesus, Juruselamat mu.

Rest In Peace.

Tentara Pembebasan Nasional Papua Barat Komnas TPNPB-OPM Umumkan Duka Nasional Se Tanah Papua

SERANGAN JANTUNG. DEWAN MILITER TPNPB BRIGJEN NAFTALI AWOM MENINGGAL DUNIA

Biak, 21 September 2021|00.30

Kronologis:
Brigjen Naftali Awom AwalNya Menjadi Anggota Organisasi Papua Merdeka Sejak Kecil, Jend. Melkias Korkonsup Awom Lantik Brigjen Naftali Awom Menjadi Anggota OPM Kemudian Menjadi Kepala Markas Besar Organisasi Papua Merdeka, Perwomi Biak. di Bawah Komando Panglima Organisasi Papua Merdeka (OPM) Jend. Melkias Korkonsup Awom.

Setelah Komnas Dorong Konferensi Tingkat Tinggi Organisasi Papua Merdeka-Tentara Pembebasan Nasional KTT. TPN-OPM, di Markas Induk OPM Perwomi Biak.

Almarhum Naftali Awom Di Angkat Menjadi Ketua Dewan Militer Tentara Pembebasan Nasional Papua Barat. Brigjen Naftali Awom. Almarhum meninggal Karena Jantung di Mnukwar.
Almarhum Lahir: Biak, 5 September 1950

Meninggal Dunia: Mnukwar 20 September 2021, Waktu. 07.25 WP.

Jabatan: Ketua Dewan Militer KOMNAS TPNPB Di Teritorial Papua Barat.

Demikian Laporan Sementara.
Oleh
Jubir Komnas TPNPB-OPM
Sebby Sambom
Pewarta : Admin KOMNAS TPNPB-OPM
Foto istimewa Doc TPNPB-OPM Markas Perwomi Biak

Pendoa Syafaat Papua Merdeka: Rev. Emeritus Ki’marek Karoba Tawy Meninggal Dunia 06 Agustus 2021

Seorang tokoh syafaat Papua Merdeka, yang selama 20 tahun terakhir mendoakan secara tekun untuk sebuah West Papua yang merdeka dan berdaulat di luar NKRI

Rev. Emeritus Ki’marek Karoba Tawy

Alm. Pdt Emeritus Ki’marek Karoba Tawy

pada pukul 01.01 subu tanggal 06 Agustus 2021, di Guest House 8plus1.org Wamena dan telah dikremasi di kampung halamannya, Gunung Mogonik, kempung Eragayam

Almarhum meninggalkan 2 Anak Perempuan dan 4 anak laki-laki

Anak laki-laki pertama, Sem Karoba Tawy menyatakan

Terpujilah nama YHWH! Pencipta! Pelindung! Gembala! Juruselamat! dan Raja di atas segala Raja yang dinantikan oleh semua orang percaya di seluruh dunia

Mari kita lanjutkan dan selesaikan misi perjuangan pembebasan bangsa Papua.

Beliau memesankan agar Pemerintah Negara Republik West Papua dengan Kementerian Penginjilan untuk Indonesia iala cita-cita dan doa-nya selama hidupnya dan beliau meninggal dengan ucapan syukur Negara West Papua telah berpikir untuk menyelamatkan orang-orang Indonesia Islam yang selama ini menjadi pemerkosa, penjarah, peneror, penipu, perampok dan pembunuh atas tanah dan bangsa Papua.

Beliau mengatakan, “Bangsa Papua diberkati dengan menginjili semua orang Indonesia menjadi anak-anak Allah di dalam Yesus Krstus! Negara West Papua pasti diberkati!

Rest in peace our grandfather, our father and our prophet!

Sem Karoba, dan keluarga besar Karoba

Pastor Alan Nafuki berpulang, ucapan duka cita mengalir dari Papua

Nabire, Jubi – Direktur Eksekutif United Liberation Movement for West Papua atau ULMWP, Markus Haluk menyampaikan rasa duka citanya atas berpulangnya Pastor Alan Nafuki pada Senin (14/6/2021). Pastor Alan Nafuki adalah Ketua Vanuatu West Papua Unification and Association Committee atau VWPUAC yang selalu konsisten menyuarakan dukungan bagi gerakan Papua merdeka.

“Ia adalah seorang Bapa, Gembala, saudara, dan seorang pejuang kemerdekaan Vanuatu. Sejak studi pada awal 1970-an di Meden, Papua Nugini, ia jatuh hati dengan manusia dan perjuangan kemerdekaan Papua Barat. Selama 40 tahun lebih ia berjuang dan bersuara bagi kemerdekaan Papua di Vanuatu. Kami sedih dan berduka,” kata Haluk saat dihubungi melalui panggilan telepon pada Senin (14/6/2021).

Haluk mengatakan Pastor Alan merupakan salah satu tiang gerakan Papua merdeka di Vanuatu. “Rakyat dan bangsa Papua akan selalu mengenangnya selalu memimpin aksi, lobi Papua merdeka di berbagai forum di Vanuatu, Melanesia, dan Pacifik,” kata Haluk.

Ia berharap semangat mendiang Pastor Alan Nafuki akan menggugah hati para pemimpin Melanesian Spearhead Group (MSG). “Supaya pada pertemuan MSG pada 15-17 Juni 2021 [nanti] forum MSG dapat menerima ULMWP sebagai anggota penuh,” kata Haluk.

Haluk menyatakan Ketua ULMWP, Benny Wenda, telah mengumumkan masa berkabung selama sepekan, untuk menghormati berpulangnya Pastor Alan Nafuki. “Itu duka bersama rakyat, para pemimpin Vanuatu dan Melanesia. Wakil ULMWP akan hadir dalam acara duka di Vanuatu,” kata Haluk.

Aktivis Hak Asasi Manusia, Daniel Randongkir juga menyampaikan rasa bela sungkawanya atas berpulangnya Pastor Alan Nafuki. “Terlalu besar jasa-jasamu untuk Tanah Papua. Kami akan mengenang jasa besar yang kau abdikan untuk perjuangan Tanah Papua. Jangan lupa mendoakan kami dan perjuangan kami,” kata Randongkir.

Randongkir mengatakan rakyat Vanuatu maupun rakyat Papua berduka atas berpulangnya Pastor Alan Nafuki. “Kami orang West Papua juga berduka yang amat mendalam atas kepulangan Pastor Alan Nafuki,” katanya.

Kabar berpulangnya Pastor Alan Nafuki menyebar luas di Papua. Salah satu warga di Papua, Melvin Yobe turut menyampaikan rasa duka citanya. “Kami rakyat Papua korban penjajahan Indonesia merasa kehilangan [atas berpulangnya] pejuang kemerdekaan Papua di Vanuatu. Tuhan Allah bangsa Papua menyebutmu di surga,” kata Yobe. (*)

Editor: Aryo Wisanggeni G

Gen. WPRA Mathias Wenda Expresses Deep Condolences and All Eni Faleomavaega Families and Friends to Continue Fight

After being reported by the Secretariat-General of the death of one our West Papua independence advocate Eni Faleomavaega, Gen. WPRA Mathias Wenda sang very long Lamentation Song as Lani tribal elder normally do, from morning to late afternoon, and declared days of mourning for the late Eni Faleomavaega.

Gen. Wenda extends his deep condolences and says,

On behalf of West Papuan peoples, on behalf of those who have died for the cause, those who are still fighting and those who will be born and fight for their rights on New Guinea Island, I express my deep condolences.

May his examples of tireless work for the sake of human beings and humanities across the globe, particularly for West Papuan peoples and for his homeland will become lessons for all of us to continue fight, until West Papua is free and until all colonised peoples are free.

All family members and friends in American Samoa, we are pray that God will give you all strength and we invite you all to praise God Almighty for what the Late Faleomavaega had contributed to His Creation in this planet Earth during his life.

We also pray that his spirit will be lways with us in our struggle in West Papua.

Eni Faleomavaega is a West Papua Hero, we will always remember him in commemorating our history of struggle for independence, and his has printed his name on West Papua history. They history will be told always until the end of the world history.

 

Issued in: Central Defence Headquarters of West Papua Revolutionary Army

On Date: 26 February 2017

 

With Prayers,

 

 

Mathias Wenda, Gen. WPRA

NBP: A.001076

Revolutionary Fidel Alejandro Castro Ruz Dies: General Mathias Wenda Expresses Condolences

Castro lights a cigar with Che Guevara
Castro in the mid-1950s with another leading revolutionary – Che Guevara. http://www.bbc.co.uk/news/world-latin-america-38114953

From the jungles of New Guinea, I am, Gen. Mathias Wenda, with all my militari officers and Commanders, from our Central Command of West Papua Revolutionary Army, we would like to send our

 

DEEP CONDOLENCES

 

and our military SALUTE to the late

Fidel Alejandro Castro Ruz

 

 

 

  1. as a military commanders in a revolution who had helped Cuba out from dictatorship and imperialism, to a fair and just society, based on local wisdom and reality of the surrounding environment and
  2. for what he had contributed to our humanity, and to world revolutions against global powers and influences that destroy our society.

Fidel Alejandro Castro Ruz is a great example for revolution everywhere in the World, and also in West Papua as well as in Melanesia.

Melanesia does need a revolution, it dearly waiting for revolutionary leaders to come out and speak for the truth, and according the will of the Melanesian peoples, not surrendering to the orders from colonial masters who live in Canberra, Wellington, New York, London, etc.

We understand, that many approaches and tactics that the Late Castro took do not perfectly match to our West Papua Revolution against Indonesian military invasion and occupation during the last 53 years, we do share the same mission to accomplish, that is, to free our people from colonialism, and from foreign interventions purely for the sake of financial profits.

Yes, Comrade Fidel Castro, Ia m Gen. Mathias Wenda, your Comrade from the Pacific is with you in our spirits all the way along, until West Papua is free, until Melanesia faces the revolution, until the world is revolutionized, just as Jesus Christ did to triger and continuously support revolutions in the whole world.

We are with you, and you are with us, Salute!!

Rest in Peace, we will continue the revolution you started.

 

Issued in West Papua Revolutionary Army Headquarters

On Date: 27 November 2016

West Papua Revolutionary Army,

Commander in Chief

 

 

Mathias Wenda, Gen. PRA
NBP:A.001076

Former Cuban leader Fidel Castro dies aged 90

Fidel Castro, the Cuban revolutionary leader who built a communist state on the doorstep of the United States and for five decades defied U.S. efforts to topple him, died on Friday. He was 90.

A towering figure of the second half of the 20th Century, Castro stuck to his ideology beyond the collapse of Soviet communism and remained widely respected in parts of the world that had struggled against colonial rule.

He had been in poor health since an intestinal ailment nearly killed him in 2006. He formally ceded power to his younger brother Raul Castro two years later.

Wearing a green military uniform, a somber Raul Castro, 85, appeared on state television on Friday night to announce his brother’s death.

“At 10.29 at night, the chief commander of the Cuban revolution, Fidel Castro Ruz, died,” he said, without giving a cause of death.

“Ever onward, to victory,” he said, using the slogan of the Cuban revolution.

Tributes came in from allies, including Indian Prime Minister Narendra Modi and Venezuela’s socialist President Nicolas Maduro, who said “revolutionaries of the world must follow his legacy.”

Although Raul Castro always glorified his older brother, he has changed Cuba since taking over by introducing market-style economic reforms and agreeing with the United States in December 2014 to re-establish diplomatic ties and end decades of hostility.

Fidel Castro offered only lukewarm support for the deal, raising questions about whether he approved of ending hostilities with his longtime enemy. Some analysts believed his mere presence kept Raul from moving further and faster, while others saw him as either quietly supportive or increasingly irrelevant.

He did not meet Barack Obama when he visited Havana earlier this year, the first time a U.S. president had stepped foot on Cuban soil since 1928.

Days later, Castro wrote a scathing newspaper column condemning Obama’s “honey-coated” words and reminding Cubans of the many U.S. efforts to overthrow and weaken the Communist government.

The news of Castro’s death spread slowly among Friday night revelers on the streets of Havana. One famous club that was still open when word came in quickly closed.

Some residents reacted with sadness to the news.

“I’m very upset. Whatever you want to say, he is a public figure that the whole world respected and loved,” said Havana student Sariel Valdespino.

But in Miami, where many exiles from Castro’s Communist government live, a large crowd waving Cuban flags cheered, danced and banged on pots and pans.

Castro’s body will be cremated, according to his wishes. Cuba declared nine days of mourning, during which time the ashes will be taken to different parts of the country. A burial ceremony will be held on Dec. 4.

The bearded Fidel Castro took power in a 1959 revolution and ruled Cuba for 49 years with a mix of charisma and iron will, creating a one-party state and becoming a central figure in the Cold War.

He was demonized by the United States and its allies but admired by many leftists around the world, especially socialist revolutionaries in Latin America and Africa.

Nelson Mandela, once freed from prison in 1990, repeatedly thanked Castro for his firm efforts in helping to weaken apartheid.

In April, in a rare public appearance at the Communist Party conference, Fidel Castro shocked party apparatchiks by referring to his own imminent mortality.

“Soon I will be like all the rest. Our turn comes to all of us, but the ideas of the Cuban communists will remain,” he said.

Castro was last seen by ordinary Cubans in photos showing him engaged in conversation with Vietnamese President Tran Dai Quang earlier this month.

Transforming Cuba from a playground for rich Americans into a symbol of resistance to Washington, Castro crossed swords with 10 U.S. presidents while in power, and outlasted nine of them.

He fended off a CIA-backed invasion at the Bay of Pigs in 1961 as well as countless assassination attempts.

His alliance with Moscow helped trigger the Cuban Missile Crisis in 1962, a 13-day showdown with the United States that brought the world the closest it has been to nuclear war.

 

Up ↑

Wantok Coffee

Melanesia Single Origin Coffee

MAMA Minimart

MAMA Stap, na Yumi Stap!

PT Kimarek Aruwam Agorik

Just another WordPress.com site

Wantok Coffee News

Melanesia Foods and Beverages News

Perempuan Papua

Melahirkan, Merawat dan Menyambut

UUDS ULMWP

for a Free and Independent West Papua

UUDS ULMWP 2020

Memagari untuk Membebaskan Tanah dan Bangsa Papua!

Melanesia Spirit & Nature News

Promoting the Melanesian Way Conservation

Kotokay

The Roof of the Melanesian Elders

Eight Plus One Ministry

To Spread the Gospel, from Melanesia to Indonesia!

Koteka

This is My Origin and My Destiny