Parlemen Uganda Terima Petisi Penentuan Nasib Sendiri Papua

KAMPALA, SATUHARAPAN.COM – Sebuah perkembangan baru dalam diplomasi yang memperjuangkan penentuan nasib sendiri Papua terungkap lewat berita kunjungan salah seorang tokoh United Liberation Movement for West Papua (ULMWP) ke Kampala, Uganda, belum lama ini.

Kunjungan ini memberi gambaran bahwa aspirasi menentukan nasib sendiri kini kian dikenal di benua Afrika setelah sebelumnya tokoh ULMWP juga telah mendekati pemerintahan Ghana.

Selain Ghana, pemenang Nobel Perdamaian, Uskup Desmond Tutu dari Afrika Selatan, juga termasuk tokoh yang bersimpati pada aspirasi penentuan nasib sendiri dan telah pernah bertemu dengan tokoh ULMWP, Benny Wenda.

Dalam laporannya hari ini (8/04), situs berita berbasis di Uganda, Saturday Vision melaporkan Jacob Rumbiak, salah seorang pemimpin ULMWP, telah bertemu dengan Wakil Ketua Parlemen Uganda, Jacob Oulanya,pada 7 April.

Situs itu juga menampilkan foto Jacob Rumbiak menyerahkan bendera bintang kejora kepada Jacob Oulanya.

Foto yang ditampilkan oleh Saturday Vision, menunjukkan Jacob Rumbiak menyerahkan bendera bintang kejora kepada wakil ketua parlemen Uganda. (Foto: Saturday Vision)

Kepada Saturday Vision, Rumbiak mengatakan parlemen Uganda berjanji untuk mendukung Papua dalam berjuang mewujudkan mimpinya untuk penentuan nasib sendiri.

Disebutkan, Rumbiak mengajukan petisi penentuan nasib sendiri itu dan membeberkan penderitaan rakyat Papua.

Dalam petisi itu, menurut Jacob Rumbiak, pihaknya ingin Uganda mempengaruhi negara-negara lain di kawasan Afrika untuk mendukung usulan mereka bagi penentuan nasib sendiri di PBB.

Rumbiak mengatakan keyakinannya akan  kekuatan Uganda di Uni Afrika dapat mengarahkan suara Afrika di sidang umum PBB untuk mewujudkan penentuan nasib sendiri pada tahun 2019.

Selain menemui parlemen, pimpinan ULMWP itu juga ingin bertemu dengan Presiden Uganda, Yoweri Museveni, untuk menyampaikan keinginan mereka.

Saturday Vision tidak memuat komentar pihak parlemen Uganda dalam laporannya.

ULMWP selama ini berjuang untuk diadakannya referendum di Papua, hal yang selama ini ditolak oleh Jakarta.

ULMWP mengklaim bahwa organisasi itu merupakan payung pemersatu dari berbagai organisasi di Papua yang menyuarakan penentuan nasib sendiri Papua.

ULMWP kini tengah berjuang menjadi anggota penuh Melanesian Spearhead Group (MSG), dimana Indonesia juga menjadi anggota associate.

Indonesia tidak mengakui ULMWP sebagai perwakilan rakyat Papua dan menggolongkannya sebagai kelompok separatis. Namun tidak sedikit tokoh masyarakat Papua berbeda pendapat dalam hal ini dan mengakui keberadaan ULMWP. Umumnya para pemerhati HAM dan pakar yang mendalami masalah Papua, menilai keberadaan ULMWP tidak boleh dinafikan.

Road Map Papua yang disusun oleh LIPI  memasukkan kelompok ini sebagai salah satu unsur yang harus duduk dalam dialog Papua, bila hal itu diselenggarakan.

Editor : Eben E. Siadari

Bertemu Parlemen Uganda, ULMWP sampaikan petisi referendum bangsa Papua

Uganda - ULMWP
Jacob Rumbiak memberikan bendera Bintang Kejora kepada Wakil Ketua Parlemen Uganda Jacob Oulanyah dalam kunjungan ULMWP di Parlemen Uganda, Jumat (7/4/2017) – IST

Jayapura, Jubi – Jacob Rumbiak, satu dari para pemimpin United Liberation Movement for West Papua (ULMWP) kepada Jubi mengatakan ia telah bertemu dalam sebuah kunjungan kehormatan dengan Parlemen Uganda dan menyampaikan keinginan rakyat West Papua untuk merdeka dan berdulat sebagai sebuah negara.

“Kami ingin Uganda mempengaruhi negara-negara lain di kawasan Afrika untuk mendukung perjuangan rakyat dan bangsa West Papua di PBB untuk merdeka,” kata Rumbiak, Sabtu (8/4/2017).

Rumbiak, mantan tahanan politik West Papua ini mengaku telah bertemu dengan anggota Parlemen Uganda pada Jumat (7/4/2017).  Dalam pertemuan tersebut, ia menyerahkan petisi referendum yang ditandatangani oleh rakyat West Papua dan menyampaikan kondisi rakyat West Papua yang terus menerus menjadi minoritas di atas tanahnya sendiri.

“Kami percaya kekuatan Uganda di Uni Africa (AU) dapat menggembleng suara Afrika di New York untuk membantu kami. Bangsa West Papua berjuang untuk mempertahankan eksistensi kami di muka bumi ini. Jika kami tidak berjuang sekarang, suatu saat nanti pasti bangsa Papua akan hilang dari muka bumi ini. Saat ini saja, Orang Asli Papua sudah menjadi minoritas di atas tanahnya sendiri,’” jelas Rumbiak.

Lanjut Rumbiak, Parlemen Uganda berjanji mendukung rakyat West Papua berjuang untuk mewujudkan kemerdekaannya.

Dalam kesempatan tersebut, Wakil Ketua Parlemen Uganda Jacob Oulanyah mengatakan meski Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) selama ini menyerukan kemerdekaan bagi setiap negara tetapi masih ada bangsa dan rakyat yang dijajah oleh bangsa lain.

“Mengapa ada bangsa tertentu yang menguasai bangsa lain?” tanyanya.

Oulanyah mengatakan kekuatan setiap negara di dunia saat ini terletak pada generasi mudanya. Ia berharap bangsa West Papua mengoptimalkan kekuatan generasi muda untuk memperjuangkan kemerdekaan.

“Generasi muda Papua harus berjuang untuk kemerdekaan bangsanya,” ujar Oulanyah.

Dalam kesempatan tersebut, Jacob Rumbiak menyerahkan bendera Bintang Kejora kepada Jacob Oulanyah. (*)

Reporter :Victor Mambor
victor_mambor@tabloidjubi.com

Tokoh Gereja Afrika akan Bawa Isu Papua ke AS

Pendeta Fred Deegbe, mantan Ketua Ghana Baptist Convention
Pendeta Fred Deegbe, mantan Ketua Ghana Baptist Convention dan pendiri gereja Calvary Baptist Church (kiri), mengatakan akan membawa isu Papua ke pertemuan gereja di AS (Foto: gospelcrusader.com)

Penulis: Eben E. Siadari 08:24 WIB | Jumat, 11 Maret 2016

Pendeta Fred Deegbe, mantan Ketua Ghana Baptist Convention dan pendiri gereja Calvary Baptist Church (kiri), mengatakan akan membawa isu Papua ke pertemuan gereja di AS (Foto: gospelcrusader.com)

ACCRA, SATUHARAPAN.COM – Salah seorang tokoh gereja Afrika, Pdt Dr. Fred Deegbe, berjanji akan mengangkat isu pelanggaran Hak Asasi Manusia (HAM) di Papua dalam pertemuan raya gereja di Amerika Serikat dalam waktu dekat.

Deegbe, pendeta senior pada Calvary Baptist Church dan mantan ketua Dewan Kekristenan Ghana (Christian Council of Ghana, CCG), mengatakan hal itu dalam pertemuannya dengan Juru Bicara United Liberation Movement for West Papua (ULMWP), Benny Wenda.

Sebagaimana dilaporkan oleh ghanaweb.com, Benny Wenda mengunjungi Ghana dalam rangka menghadiri peringatan ulang tahun ke-59 kemerdekaan negara itu pada 6 Maret lalu.

Pendeta Deegbe bahkan mendoakan rakyat Papua dan Benny Wenda atas kedatangannya ke Ghana. “Tuhan menciptakan manusia dan Dia menginginkan manusia di mana pun untuk merdeka,” kata dia.

Deegbe berjanji akan mengangkat isu Papua pada pertemuan gereja di AS.

Sementara itu, mengatasnamakan rakyat Papua, Benny Wenda pada kesempatan tersebut memohon pejabat pemerintah dan pemimpin Ghana untuk membantu ULMWP dalam upaya mereka untuk bergabung dengan PBB.

Benny Wenda yang pernah dinominasikan untuk menerima hadiah Nobel untuk bidang perdamaian, bertemu dengan sejumlah pemimpin Ghana, di antaranya dengan dua mantan presiden Ghana, yaitu John Agyekum Kufuor dan Jerry John Rawlings.

satuharapan.com mencoba mengubungi Benny Wenda melalui seluluar, tetapi belum ada respons.

Sementara itu, Sekjen ULMWP, Octovianus Mote, lewat pesan singkat mengatakan dirinya juga akan mengadakan diskusi di New York membicarakan masalah Papua. Salah satunya adalah mengenai laporan genosida di Papua oleh Gereja Katolik Keuskupan Brisbane dan satu topik lain.

Kufuor dalam pertemuan dengan Benny Wenda menyerukan dukungan terhadap pembebasan rakyat Papua.

“Sangat penting bahwa kemanusiaan harus menjadi pusat dari segala sesuatu. Sebagai seorang manusia, Anda memiliki hak kemanusiaan,” kata Kufuor.

Kufuor juga meyakinkan Benny Wenda bahwa ia akan berhasil dan seluruh dunia mendukung dia.

“Indonesia bahkan tidak dapat menghentikan Anda,” kata dia.

“Ghana pernah menjadi negara koloni selama 100 tahun, Apa yang Anda kerjakan sudah benar,” lanjut Kufuor kepada Benny Wenda.

Menurut dia, meskipun jarak Ghana dan Papua jauh, pada dasarnya mereka adalah sama.

“Sangat jelas, Anda bukan orang Indonesia.”

Rawlings juga telah menjanjikan dukungan bagi perjuangan ULMWP. Dia mengatakan “kami merasa terhormat untuk memperjuangkan rakyat Anda. Kita mengalami sejarah yang mirip.”

“Tidak mengherankan bagi saya Anda mendapat dukungan dari Ghana di PBB pada tahun 1969 dan kami juga menerima pengungsi Papua pada tahun 1980,” kata Kufuor.

“Afrika Barat telah mengalami perbudakan, perjuangan melawan kolonialisme dan merdeka.”

Ia juga menyarankan agar Benny Wenda melobi semua anggota kongres, senator dan wakil rakyat berbagai negara dan organisasi dunia.

Di antarnya adalah melobi Uni Eropa, Uni Afrika dan organisasi lainnya.

“Terus lah ketuk dan ketuk lagi, jangan biarkan mereka tertidur,” kata Kufuor.

Editor : Eben E. Siadari

Yang Kita Lawan Bukan Indonesia, tetapi Tipu Daya, yaitu Iblis sebagai Bapa Segala Pendusta

Menanggapi perkembangan lagu-lagu yang diluncurkan oleh Benny Wenda bersama anggota Band Lucky Dube di Afrika Selatan ini, Lt. Gen. Amunggut Tabi menyebut sudah banyak beredar musik perjuangan Papua Merdeka, mulai dari Mambesak, Black Brothers, sampai Freedom Songs dan Lani Ndawe, kini sebuah prestasi politik besar diraih Benny Wenda dengan kerjasama antara Lucky Dube Band dan Benny Wenda.

Dalam SMS yang dikirimkan menyebutkan

Yang kita lawan bukan Indonesia saja, bukan NKRI sendiri, tetapi yang kita lawan iala tipu daya Indonesia dan penjajah di dunia ini. Tipu daya, menurut Kitab Suci Agama di dunia, selalu berasal dari satu oknum namanya Iblis sebagai Bapa dari semua pendusta.

Atas nama apapun, atas nama negara, atas nama demokrasi dan HAM, atas nama kesatuan dan persatuan, atas nama kerakusan kita sebagai mausia harus melawan tipu muslihat dan tipu daya. Kita kembali kepada hukum alam, bahwa ada hukum yang mengatur kehidupan ini.

Dengan menyanyikan lagu-lagu perjuangan, bersama para penyanyi terkenal di dunia, kita sudah memasuki era perjuangan global yang menyentuh “kemanusiaan”, bukan hanya menyentuh simpatisan karena sama-sama ras, sama-sama agama, sama-sama politik, tetapi ia sudah menjangkau lebih jauh, lebih dalam, lebih luas.

Menurut Tabi pula, musin berbicara kepada semua makhluk, tumbuhan, hewan, manusia, bahkwan roh-pun memahami, menikmati dan ikut dipengaruhi dan mempengaruhi musik. Tuhan senang dipuja-puji, manusia senang musik, tumbuhan dan hewan juga bernyanyi dan berdansa. Kehidpuan ini terdiri dari alunan musik, yang bernyanyi dalam irama, satu irama menurut hukum alam.

Oleh karena itu, lagu-lagu dan musik yang digabungkan oleh Benny Wenda bersama teman-teman dari South Afrika ini patut kita dukung dengan doa dan persatuan-kesatuan di antara orang Papua sendiri.

Semua orang Melanesia harus bersatu : pertama menyatukan pikiran, lalu menyatukan program perjuangan dan ketiga langkah-langkah perjuangan. Setelah semua pihak sudah membentuk dan menerima ULMWP sebagai payung organisasi perjuangan, maka sekarang saatnya memperkuat dukungan dari Melanesia, Afrika dan Karibea. Tiga kawasan ini mengerti apa artinya penjajahan, apa artinya perjuangan dan apa artinya musik.

Tabi mengatakan, “Tentu saja pendekatan perjuangan untuk kawasan Asia bukan dengan musik, tetapi ada pendekatan lain.” Ketika PMNews tanyakan apa pendekatan lain yang dimaksudkan untuk Asia, Tabi menolak menyebutkannya. Ia melanjutkan “Kita juga akan menggunakan pendekatan lain untuk Amerika Selatan (Latin).” tetapi menolak untuk mengatakan pendekatan itu namanya apa.

Dia akhir percakapan dengan SMS ini, Tabi kembali menyatakan,

“Yang kita lawan bukan Indonesia sebagai sebuah negara, tetapi Indonesia sebagai penipu dan pencuri, perampok dan pembunuh. Yang kita lawan ialah tipu daya, yaitu Iblis sebagai bapa segala pendusta di dunia. Kita berdiri di pihak kebenaran, dan kebenaran pasti akan menang, dan kia akan menjadi bagian dari kemenangan kebenaran itu!”

 

Papua Sudah Bersatu: Apa Berikutnya?

Ini pertanyaan yang diajukan oleh semua yang bercita-cita dan mendukung perjuangan Papua Merdeka. Selama ini kami selalu dibuat kecewa dan dikendorkan semangat oleh fakta faksionaliasi di antara organisasi yang memperjuangkan satu aspirasi bernama: Papua Merdeka.

Faksionalisasi sebenarnya tidak menyebabkan pertentangangan dan cekcok di antara faksi, tetapi membuat energi, waktu dan sumberdaya yang tersalur melakui masing-masing faksi menjadi tersebar dan tidak terarah secara baik sehingga bangsa Papua dan bahkan para pejuang sendiri sulit membayangkan hasil kerja dan tindak-lanjut dari perjuangan yang sedang diperjuangkan.

Kini persoalan faksionalisasi sudah mati. Dengan pendirian ULMWP di Vanuatu pada Desember 2014 maka tidak ada satupun orang Papua yang bisa mengkleim diri sebagai satu-satunya dan menyalahkan yang lain sebagai organisasi atau tokoh palsu atau bayaran. Kita semua sudah sehati, sejiwa, senasib, sepenanggunggan, se-tujuan, sekata.

Buahnya sangat jelas: dukungan dari seluruh masyarakat dan negara-negara Melanesia sudah mengalir tak terbendung. Dukungan dari Arfika tidak dapat dibendung juga. Mengalir semuanya sesuai hukum alam: Di mana ada pelanggaran HAM, di situ akan disoroti oleh manusia beradab di seluruh dunia; di mana ada penipuan, pasti ketahuan boroknya dan akan diperbaiki oleh kebenaran.

Setelah dukungan tunggal dari Negara Republik Vanuatu dan rakyat Vanuatu, kini rakyat Fiji sudah menyatakan dukungan terbuka, disponsori oleh gereja-gereja. Dukungan dari rakyat Solomon Islands juga sudah jelas. Apalagi yang kurang, dukungan dari orang Papua sendiri, yaitu dari Papua New Guinea, baik pemerintah dan rakyat serta gereja dan LSM sudah jelas sudah tidak dapat dibendung lagi.

Dukungan yang sudah membanjir ini tentu saja tidak dapat dibendung atau dialihkan oleh siapapun, karena dukungan ini bukan berasal dari emosi rasialisme atau fasisme, tetapi ditimbulkan oleh belas-kasihan manusia yang satu terhadap manusia yang tertindas dan teraniaya, manusia yang saban hari menerima nasib maut di moncong senjata penjajah.

Lalu pertanyaan selanjutnya ialah: Apa yang harus dilakukan selanjutnya?

Papua Merdeka News mengusulkan kepada segenap organ perjuangan kemerdekaan West Papua hal-hal berikut:

Pertama, para tokoh kemerdekaan West Papua dan organ-organ yang terlibat dalam ULMWP selalu berkoordinasi, berkonsultasi dan saling mendukung, baik secara pribadi, organisasi, dalam urusan pribadi, organisasi; dalam bentuk doa, dukungan moral ataupun dukunga finansial. “Komunikasi” di antara semua pihak “setiap hari” menjadi kunci pada saat ini dalam kondisi ini, demi mempertahankan spirit dan kesatuan dan keutuhan yang telah terbangun, sehingga tidak dirusak/ dikoyak oleh lawan.

Kedua, organ perjuangan Papua Merdeka agar terus melakukan sosialisasi perjuangan Papua Merdeka dan menggalang dukungan sumberdaya dari seluruh orang Papua: baik pejabat, petani, siswa/ mahasiswa, penganggur, Merah-Putih, Bintang-Kejora, Otsus-Merdeka, semuanya memberikan sumbangan menurut kemauan, kelebihan/kekurangan dan menurut kerelaan dan tanggungjawab.

Ketiga, Membentuk sebuah wadah bernama “West Papua Trust Fund”, yang dikelola oleh sebuah badan bernama Pundi Revolusi West Papua sehingga wadah ini memobilisasi, menganggarkan, mengorganisir, mempertanggungjawabkan dan mengatur pemanfaatan dana perjuangan Papua Merdeka.

Keempat, agenda perjuangan dipersatukan. Sudah jelas, agenda perjuangan Papua Merdeka sudah disatukan secara otomatis pada saat ULWP dibentuk. Akan tetapi ULWP sebagai sebuah organisasi perlu pertama-tama (1) membuka kantor sekretariat; kemudian kantor dimaksud diisi oleh para pekerja/ fungsionaris; dan selanjutnya mengorganisir semua kampanye Papua Merdeka secara terpusat. (2) Setelah ada kantor, maka mengatur kantor-kantor diplomasi untuk melobi negara-negara di seluruh dunia mendukung Papua Merdeka serta (3) menyusun rencana perjuangan jangka pendek, jangka panjang dan jangka menengah.

Semua orang tahu, bahwa perjuangan Papua Merdeka selalu bersifat faksional dan panas-panas tahi ayam. Kini salah satu sifat sudah dimatikan. Kini tunggu kita matikan sifat yang lain, “panas-panas tahi ayam” dengan empat saran di atas.

Semoga bermanfaat.

Up ↑

Wantok Coffee

Melanesia Single Origin Coffee

MAMA Minimart

MAMA Stap, na Yumi Stap!

PT Kimarek Aruwam Agorik

Just another WordPress.com site

Wantok Coffee News

Melanesia Foods and Beverages News

Perempuan Papua

Melahirkan, Merawat dan Menyambut

UUDS ULMWP

for a Free and Independent West Papua

UUDS ULMWP 2020

Memagari untuk Membebaskan Tanah dan Bangsa Papua!

Melanesia Spirit & Nature News

Promoting the Melanesian Way Conservation

Kotokay

The Roof of the Melanesian Elders

Eight Plus One Ministry

To Spread the Gospel, from Melanesia to Indonesia!

Koteka

This is My Origin and My Destiny