Kejar TPN/OPM di Puja

brimob-lllllla JAYAPURA [PAPOS] – Polda Papua meminta bantuan 1 SSK personil Brimob dari Kelapa Dua Jakarta untuk melakukan pengejaran terhadap kelompok kriminal bersenjata yang berada di kabupaten Puncak Jaya.

Penambahan pasukan Brimob ini untuk membantu tim Polri dan TNI yang sudah berada di kabupaten Puncak Jaya selama ini, karena aksi-aksi yang dilakukan kelompok sipil bersenjata itu telah meresahkan masyarakat setempat, setelah melakukan penembakan terhadap karyawan PT. Modern yang bekerja dalam pembangunan jalan dikabupaten tersebut.

Kapolda Papua Irjen Pol. Drs. Bekto Suprapto M,Si kepada wartawan mengatakan, situasi keamanan diwilayah kabupaten Puncak Jaya sangat memerlukan penanganan yang serius, karena aksi-aksi yang dilakukan kelompok sipil bersenjata itu sudah mengganggu ketenangan masyarakat setempat.

“ Masyarakat yang ada di sana sudah resah atas perbuatan yang dilakukan kelompok sipil bersenjata itu, mereka melakukan pengancaman kepada masyarakat setempat, sehingga mereka tidak bisa lagi bekerja untuk mencari kebutuhan sehari-hari, “ ujar Kapolda kepada wartawan usai acara serah terima jabatan pejabat teras Polda Papua, Senin (31/5) kemarin.

Untuk itu, sebanyak 1 Satuan Setingkat Kompi (SSK) Brimob dari Kelapa Dua Jakarta akan di tempat ke Kabupaten Puncak Jaya untuk melakukan pengejaran terhadap pelaku-pelaku penembakan tersebut,sekaligus untuk mengantisipasi Pemilukada di Papua dan Papua Barat pada bulan Agustus 2010 mendatang.

“ Mereka akan membantu Brimob yang ada di Papua untuk melakukan pengejaran serta mengantisipasi keamanan dalam Pemiludaka yang akan di laksanakan pada bulan Agustus mendatang,” tambahnya.

Dikatakan, situasi daerah Kabupaten Puncak Jaya saat ini tidak kondusif dengan adanya intimidasi bahkan penembakan yang dilakukan kelompok sipil bersenjata selama ini. Masyarakat telah melapor ke Komnas HAM atas keresahan mereka.

“ Saat itu Komnas HAM langsung datang kepada kami untuk mempertanyakan pengamanan yang ada di sana. Ketika mereka mempertanyakan masalah keamanan di sana, saya menjawab, begitu ada kejadian Polda langsung melakukan pengejara,” ujarnya.

Hanya saja, lanjutnya kondisi medan di daerah Kabupaten Puncak Jaya tidak seperti di daerah lain. Kalau anggota saya lari dari 4 km di Jayapura, kalau di Puncak Jaya lari 500 meter maka nafasnya langsung putus, tambah Kapolda

Lebih jauh Kapolda menjelaskan, bahwa dulu hingga sekarang personil Polda Papua hanya memiliki 14 ribu personil yang akan disiagakan menangani segala bentuk permasalahan di Papua, namun mengingat situasi tidak konsusif, sehingga meminta bantuan dari Markas Brimo Kelapa Dua Jakarta sebanyak 1 SSK dan bila kurang akan dilakukan penambahan lagi.

Disinggung soal batas waktu yang diberikan Bupati Puncak Jaya, Lukas Enembe kepada kelompok sipil bersenjata untuk menyerahkan diri, tanggal 28 Juni. Jika kelompok pelaku penembakan karyawan PT. Modern dan pengacau keamanan di Puncak Jaya tidak menyerahkan diri, maka akan dilakukan pengejaran. Kapolda Papua mengungkapan bahwa bupati Puncak Jaya sangat bijak untuk memberikan apresi atas waktu sampai tanggal 28 juni, dan lebih dari itu akan meminta kepada Polri dan TNI untuk mengejar mereka.

“ Ini adalah pelaksanaan tugas pokok Polri, tugas pokok Polri ada 3 yakni menjaga keamanan dan ketertiban masyarakat, mengayomi dan melindungi masyarakat,” katanya.

Tugas pengamanan masyarakat telah dilakukan di Puncak Jaya, tetapi kelompok sipil bersenjata itu malah melakukan pembunuhan terhadap karyawan perusahaan, masyarakat setempat, penyerangan terhadap Pos TNI dan Polri, Polisi sedang mengevakuasi anggota TNI, mereka serang maka atas perbuatan mereka itu akan dilakukan pengejaran.

Kapolda menegaskan, sudah menjadi tugas polisi untuk melakukan pengamanan situasi yang tidak aman. Sesuai konstitusi Undang-undang bahwa Polisi sebagai penjaga kemanan, akan melakukan pengejaran terhadap pelaku pengacau situasi keamanan untuk diproses hukum. Polisi tidak bicara masalah politik, tetapi menjadi tanggungjawab polisi untuk memberikan keamanan kepada masyarakat. “Kalau berbicara separatis itu politik, saya tidak berbicara politik, saya hanya mengamankan sesuai dengan Undang-undang,” tegasnya. [loy]

Ditulis oleh loy/Papos      
Selasa, 01 Juni 2010 00:00

Komandan regu tewas, OPM makin beringas

Jayapura–Polri makin memperketat pengamanan di Puncak Jaya, Papua. Setelah mendatangkan satu satuan setingkat kompi (SSK) Brimob Kelapa Dua Depok, Polda Papua akan menambah pasukan di Puncak Jaya, untuk mengejar dan menangkap kelompok separatis Organisasi Papua Merdeka (OPM) yang selama ini kerap mengacau.

Hal tersebut seperti yang diungkapkan Kapolda Papua, Inspektur Jenderal Bekto Suprapto Senin (31/5) di Jayapura. “Jika situasi masih membutuhkan penambahan anggota, tentu akan kami tambah lagi Brimob ke Puncak Jaya,  menumpas penjahat bersenjata yang terus menciptakan keresahaan,” katanya.

Menurutnya, situasi Puncak Jaya saat ini cukup meresahkan, akibat ulah kelompok bersenjata yang terus menebarkan teror penembakan maupun pembunuhan. Sehingga, bila pasukan Brimob ditambah, itu sesuai kebutuhan dilapangan.

“Polisi kan tugasnya menciptakan rasa aman dan tentram ditengah-tengah masyarakat, jadi bila anggota yang saat ini ditempatkan di Puncak Jaya masih dianggap kurang, akan ditambah,” tegasnya. Pasca tewasnya komandan regu OPM, Werius Telenggen, kelompok separatis kian beringas, mereka menembaki Pos TNI dan anggota Polisi.

Kelompok TPN/OPM menembaki aparat keamanan yang bertugas di Puncak Jaya pada Jumat (21/5) dan Sabtu (22/5) lalu. Akibatnya, dua anggota TNI dan dua polisi luka tembak. Diduga, aksi itu merupakan balas dendam atas tewasnya Werius Telenggen, komandan regu TPN/OPM wilayah Kampung Yambi, Distrik Mulia, Puncak Jaya. Werius tewas tertembak aparat gabungan TNI dan Polri 17 Mei lalu.

vivanews/ tiw

PASUKAN TNI DAN POLISI SIAP MENGADAKAN OPERASI BESAR-BESARAN TERHADAP PASUKAN GIRILYA OPM PIMPINAN GOLIAT TABUNI DI PUNCAK JAYA, PAPUA

Leut.Gen TRWP Nggoliar Tabuni, Komandan Operasi Markas Pusat Pertahanan
Leut.Gen TRWP Nggoliar Tabuni, Komandan Operasi Markas Pusat Pertahanan

West Papua May 26, 2010. Tekad TNI dan Polisi untuk mengadakan Operasi Militer di Puncak Jaya tinggal menunggu waktu pelaksanaan. Tekad Operasi dilakukan untuk menumpas total aktivitas Girilya OPM dibawah pimpinan Goliat Tabuni.

Sejumlah kekuatan dari TNI dan Polisi telah disiapkan untuk mengadakan operasi militer di Puncak Jaya. Operasi militer ini akan dilaksanan pada tanggal 28 Mei 2010 di Puncak Jaya guna menumpas keberadaan girilya OPM dibawah pimpinan Goliat Tabuni.

Operasi militer ini bukan hal baru yang dilakukan TNI dan Polisi terhadap Penduduk West Papua. Sejak West Papua diambil sebagai bagian dari NKRI sampai saat ini Operasi militer masih terus saja berlangsung.

Modus Operasi yang dipakai TNI dan Polisi selama ini terhadap penduduk West Papua adalah mengadakan penyisiran disejumlah kampung tempat pemukiman masyarakat local. Karena sulitnya TNI dan Polisi dapat mengenal keberadaan Girilya OPM, maka masyarakat local pada sejumlah kampung yang dicurigai sebagai basis OPM menjadi target operasi mereka.

Pengalaman Operasi militer TNI dan Polisi di West Papua sangat brutal dimana hasil tani masyarakat local di basmi, sejumlah pemukiman yang dicurigai digebrek dan bahkan dibakar, tindakan kekejaman dan sewenang-wenang masa saja dilakukan TNI dan Polisi terhadap masyarakat local.

Modus dan tindakan-tindakan TNI dan Polisi ini dikawatirkan akan dipakai pada Operasi Militer pada tanggal 28 Mei 2010, di Puncak Jaya.

Daerah Pucak Jaya adalah dataran tinggi di West Papua yang hanya ditempu melalui transportasi udara (

Pesawat). Daerah ini banyak gunung-gunung dan jurang-jurang, dan Hutan Rimba, namun kita dapat temui banyak masyarakat local yang bermukim di daerah-daerah tersebut. Mereka memiliki suatu kesatuan budaya dan hidup di Onai ( traditional House) di lokasi-lokasi tersebut.

Rumitnya medan di Puncak Jaya mengakibatkan sulitnya kita dapat mengetahui sejauhmana operasi militer ini dilakukan dan sasaran-sasaran yang akan dilakukan oleh TNI dan Polisi karena hampir semua datarang tinggi di West Papua khususnya di Puncak Jaya diuni oleh masyarakat local.

Pengalaman operasi militer yang selama ini dilakukan di West Papua mengakibatkan banyak jatuh korban pada masyarakat local dan mengakibatkan harus mengungsi ke hutan untuk mencari perlindungan.

Antisipasi Penyerangan Kembali oleh TPN/OPM

JAYAPURA–Buntut aksi penembakan yang diduga kuat dilakukan oleh kelompok TPN/OPM di Puncak Jaya terhadap aparat TNI maupun Polri, sebagaimana terjadi Jumat (21/5) dan Sabtu (22/5) lalu hingga mengakibatkan 2 TNI dan 2 polisi terluka wajib diwaspadai oleh semua Pos TNI yang ada di Puncak Jaya.

“Untuk persoalan ini tidak ada upaya lebih lanjut yang dilakukan atau perintah untuk menyerang, namun dihimbau kepada seluruh Pos TNI yang ada di Puncak Jaya untuk meningkatkan kewaspadan dan kesiagaannya untuk mengantisipasi kejadian yang sama,” ungkap Kepala Penerangan Kodam XVII/Cenderawasih Letkol Inf Susilo kepada Cenderawasih Pos, Senin (24/5).

Pihaknya menegaskan, untuk menindaklanjuti kasus penembakan tersebut tetap diserahkan kepada pihak kepolisian, karena ini tindakan kriminal dan belum menjadi tugas TNI.

Sementara saat ditanya soal apakah ada penambahann anggota TNI untuk membantu anggota yang sudah ada di Puncak Jaya, Kapendam menegaskan, tidak akan ada penambahan anggota, namun kemungkinan yang ada hanya pergantian anggota. Itupun masih menunggu perintah, sebab belum ada kebijakan dari Panglima Kodam XVII/Cenderawasih.

“Tidak ada penambahan anggota TNI di Puncak Jaya, tapi masih cukup dengan anggota TNI dari Satgas Pamrahwan Yonif 753/AVT dari Kabupaten Nabire dan tidak ada anggota TNI lainnya,” tuturnya.

Lebih lanjut diungkapkan, dengan tertembaknya 2 orang anggota Satgas Pamrahwan Yonif 753/AVT itu, maka secara otomatis akan ada pengurangan jumlah personel, karena yang tertembak itu sudah dievakuasi ke Jayapura, sehingga kemungkinan akan diganti dengan cara digeser dari pos yang lain. Namun demikian, menurutnya, belum ada perintah dari pimpinan untuk hal itu.

Sementara terkait kondisi dua anggota Pos TNI Satgas Pamrahwan Yonif 753/AVT di Yambi, Distrik Mulia, Kabupaten Puncak Jaya yang tertembak oleh TPN/OPM yaitu Lettu Inf. Agung Setia yang terkena tembakan di bagian lengan kanan dan Pratu Afrianto mengalami kritis karena luka tembak di bagian pantat bagian belakang, kini kondisi keduanya semakin membaik bahkan stabil.

Kapendam mengatakan, kedua anggota TNI yang menjadi korban penembakan itu telah menjalami operasi di RS Marten Indey (Minggu, 23/5), dimana korban Lettu Inf. Agung Setia mulai dilakukan operasi sejak pukul 15.00-18.00 WIT sore. Sedangkan korban Pratu Afrianto mulai dilakukan operasi mulai pukul 19.00-21.00 WIT.

“Proses operasi ditangani langsung oleh Dr. Mayor Ckm. Deddy dari RS Marten Indey dan Dr. Mayor Arif dari Angkatan Laut. Operasi berjalan dengan baik bahkan kondisi kedua korban pagi ini (Senin kemarin) semakin stabil dengan perawatan medis yang dilakukan,” ungkapnya.

Dalam proses operasi tersebut tidak ada sisa proyektil yang diangkat, karena semua peluru yang ditembakkan itu tembus dan tidak bersarang, namun kemungkinan Pratu Afrianto akan dilakukan penambahan darah. “Kondisi mereka sudah membaik dan saat ini Lettu Inf Agung Setia dirawat di ruang Nuri 2 dan Pratu Afrianto dirawat di ruang bangsal pria RS Marten Indey,” ujarnya lagi. (nal/fud) (scorpions)

Situasi Kamtibmas di Puncak Jaya Kondusif

ANGKUTAN : Salah satu pesawat yang menjadi alat transportasi ke Mulia-Puncak Jaya.

ANGKUTAN : Salah satu pesawat yang menjadi alat transportasi ke Mulia-Puncak Jaya.
Timika [PAPOS] – Situasi keamanan dan ketertiban masyarakat (kamtibmas) di Mulia, Kabupaten Puncak Jaya, Papua, pasca insiden kontak senjata antara aparat gabungan Polri dan TNI melawan kelompok sipil bersenjata, Senin (17/5), kembali kondusif.

“Situasi di Puncak Jaya umumnya aman, tidak seperti yang diberitakan di luar,” kata Bupati Puncak Jaya, Lukas Enembe di Timika, Rabu.

Enembe mengakui pada Senin (17/5) sekitar pukul 12.30 WIT terjadi kontak tembak antara aparat gabungan Polri dan TNI dari tim gegana Brimob, Densus 88 Anti Teror dibantu anggota TNI dari Batalyon Infanteri 753 Nabire dengan kelompok Yambi, sebuah kelompok sipil bersenjata pimpinan Werius Tenggelen.

Kontak tembak terjadi di Kampung Gorubuk, Distrik Mulai, sekitar 11 kilo meter dari Mulia, Ibu Kota Kabupaten Puncak Jaya.

Dalam insiden itu, jelas Enembe, Werius dan salah satu anggotanya tertembak. Werius sendiri akhirnya meninggal dunia di lokasi kejadian.

Saat aparat gabungan mengevakuasi jenazah Werius ke RS Mulia, juga ditemukan satu megazin amunisi dan sebuah bendera bintang kejora. Sedangkan senjata api milik Werius berhasil dibawa kabur oleh anggota kelompoknya.

“Saya sempat melihat kondisi jenazah korban yang tertembak, memang benar seratus persen itu adalah Werius,” kata Enembe.

Enembe mengatakan, korban telah dikubur di halaman Gereja Klasis GIDI Mulia pada Selasa (18/5) lantaran keluarga tidak ada yang mengambil jenazah Werius.

Werius merupakan satu dari delapan orang yang masuk Daftar Pencarian Orang (DPO) polisi karena terlibat kasus penembakan karyawan PT Modern saat pengerjaan jalan penghubung Mulia-Mewoluk sekitar sebulan lalu.

Sebelum kontak tembak terjadi, demikian Enembe, aparat telah mengimbau Werius dan anggotanya untuk menyerahkan diri. Foto-foto para DPO juga sudah disebarkan ke masyarakat.

Enembe mengatakan dalam upaya menangkap para kelompok sipil bersenjata di daerahnya, diperlukan rambu-rambu khusus agar rakyat yang tidak tersangkut dengan kelompok bersenjata tidak ikut menjadi korban.

Pemkab Puncak Jaya, katanya, telah meminta masyarakat untuk ikut membujuk kelompok sipil bersenjata agar menyerahkan diri.

“Ini yang kita tawarkan kepada aparat Polri dan TNI agar rakyat tidak jadi korban. Untuk sementara kita belum ijinkan Polri dan TNI masuk ke lokasi-lokasi itu, karena kita masih melakukan pendekatan ke kelompok sipil bersenjata agar menyerahkan diri secara baik-baik,” kata Enembe yang didampingi Ketua DPRD Puncak Jaya, Nesco Wonda.

Enembe mengakui, sejak tahun 2002 situasi di Puncak Jaya memang rawan terjadi aksi oleh kelompok sipil bersenjata.

Para sipil bersenjata tersebut sering terlibat kontak tembak dengan aparat Polri dan TNI, bahkan ditengari sekitar 26 pucuk senjata api jenis AK, SS1, AK Cina dan M16 masih dipegang oleh kelompok sipil bersenjata di wilayah Puncak Jaya.

Senjata-senjata api tersebut, demikian Enembe, sebagian besar dirampas dari tangan anggota Polri dan TNI. [ant/agi]

Ditulis oleh Ant/Agi/Papos
Sabtu, 22 Mei 2010 00:00

Korban Penembakan OPM

TPN/OPM pimpinan Goliat Tabuni
korban : Salah satu korban penembakan TPN/OPM di Distrik Tingginambut, Kabupaten Puncak Jaya pada April lalu saat dievakuasi ke Jayapura. Apakah mereka juga korban pelanggaran HAM yang dilakukan TPN/OPM pimpinan Goliat Tabuni?

korban : Salah satu korban penembakan TPN/OPM di Distrik Tingginambut, Kabupaten Puncak Jaya pada April lalu saat dievakuasi ke Jayapura. Apakah mereka juga korban pelanggaran HAM yang dilakukan TPN/OPM pimpinan Goliat Tabuni?
JAYAPURA [PAPOS]

Kasus Penembakan Oleh Oknum Polisi Direposisi

WAMENA-Untuk memperjelas posisi pelaku, korban dan saksi-saki pada saat kejadian penembakan yang diduga dilakukan oleh salah seorang oknum polisi FT (43) terhadap korban JT Minggu (2/5), anggota Reskrim Polres Jayawijaya menggelar reposisi di Tempat Kejadian Perkara (TKP) di Hom-Hom Wamena, tepatnya depan Lembaga Pemasyarakatan (LP) Kelas IIB Wamena, Sabtu (23/5).

Kapolres Jayawijaya AKBP I Gede Sumerta Jaya SIK didampingi Kasat Reskrim Polres Jayawijaya AKP Philip Ladjar mengatakan, pihaknya menggelar reposisi untuk menunjang proses penyidikan, terhadap kasus penembakan yang diduga dilakukan oleh oknum polisi anggota Polres Jayawijaya.

Dari hasil reposisi tersebut kata Kasat Philip, terlihat jika sebelum kejadian tersangka bersama korban dan beberapa rekannya mengkonsumsi minuman keras jenis ballo.

GPK Puncak Jaya Ditembak Mati

JAYAPURA [PAPOS] – Seorang anggota kelompok gerombolan pengacau keamanan (GPK) yang masuk daftar pencarian orang (DPO) pihak Polda Papua yang terlibat dalam kasus penembakan terhadap karyawan PT Modern di Kampung Mewoluk Kabupaten Puncak Jaya, akhirnya berhasil di sergap Tim gabungan Polri dan TNI Kampung Goburuk Kabupaten Puncak Jaya, Senin (17/5) sekitar pukul 12.30 Wit.

Dalam penyergapan itu, DPO yang merupakan anggota GPK berininsial WT, ditembak mati saat dilakukan pengejaran yang pada saat itu WT berada di kampung Goburuk, saat petugas melihatnya, korban berusaha lari dari kejaran petugas, akhirnya petugas mengeluarkan tembakan dan tepat mengenai korban WT.

Dalam penggerbekan dilokasi kejadian, aparat Polri dan TNI berhasil mengamankan satu magazen senjata AK 47 dan beberapa butir peluru yang diduga milik WT milik kelompok GPK.

Kepala Bidang Hubungan Masyarakat (Humas) Polda Papua, Kombes Pol. Drs Agus Rianto kepada Papua Pos, Senin (17/5) menjelaskan, penyergapan terhadap kelompok GPK dilakukan tim gabungan Polri dan TNI dalam rangka penegakan hukum terhadap kelompok kriminal bersenjata dikawasan Puncak Jaya yang telah melakukan pembunuhan terhadap karyawan PT. Modern dan penyerangan terhadap petugas beberapa waktu lalu.

Aparat keamanan serbu Markas OPM, 1 tewas

Puncak Jaya –-Meski operasi penyerbuan terhadap markas Organisasi Papua Mereka (OPM) di Puncak Jaya, Papua, baru disetujui Pemkab setempat pada tanggal 28 Juni mendatang, namun pihak keamanan tampaknya sudah tak sabar.

Satu pasukan polisi yang didukung pihak TNI, dilaporkan melakukan penyergapan di Kampung Koburuk Puncak Jaya, Senin (17/5) sekitar pukul 12.00 WIT.

Dari aksi penyergapan ini, seorang anggota OPM  berinisial WT tewas tertembak. WT diduga salah satu anggota organisasi pengacau keamanan yang menembak tiga karyawan PT Modern Group hingga tewas di kawasan Tiginambut, Puncak Jaya.

Dalam penyergapan, polisi juga berhasil menyita sejumlah barang bukti seperti beberapa butir peluru AK 47.

Sementara Kapolda Papua Irjen Pol Bekto Suprapto kepada wartawan di Jayapura mengakui operasi penyergapan terhadap kelompok separatis di wilayah Puncak Jaya tak harus menunggu batas waktu dari Pemkab Puncak Jaya.

Operasi, lanjut dia, sudah dilakukan jauh-jauh hari sebelumnya dalam rangka pengamanan bagi masyarakat serta penegakan hukum di wilayah pegunungan tersebut

dtc/tya

SITUASI AKHIR PUNCAK JAYA: Dearah Operasi Militer (DOM) Diterapkan, Penduduk Diungsikan

Puncak Jaya SPMNews:  Permintaan Bupati Puncak Jaya, serta ketua Dewan Puncak Jaya kepada Gubernur, Pangdam, serta ke Pemerintah Puasat  untuk menjadikan Puncak Jaya sebagai Derah Operasi Militer (DOM)  di wilaya Puncak Jaya akhirnya dikabulkan oleh TNI/POLRI.  Menurut info yang kami terima dari orang terpercaya di PEMKAB Puncak Jaya bahwa operasi besar-besaran akan dilakukan didalam minggu besok 17 Juni 2010. Persiapan dilakukan dari 4 titik (Empat Kabupaten) untuk pendropan pasukan TNI/POLRI, dari arah Tolikara, Puncak Jaya, Ilaga ( Kab. Puncak).

Menurut orang terpercaya tersebut mengatakan bahwa Anggaran yang dianggarkan dari dana Rakyat/ OTONOMI Khusus sebesar Rp.100m.

Semua rakyat di sekitar Tingginambut dan Pilia, Monia  di ungsikan ke kampung-kampung yang jauh dari daerah yang ditargetkan menjai Daerah Operasi Militer (DOM).

Sebagian dari mereka memilih untuk mengungsi ke Wamena, ada ke Puncak Jaya, ada yang ke Tolikara. Operasi akan di jalankan jika ada komando bergerak dari Kapolda Papua dan Pangdam Papua, sedangkan komando untuk pendropan Pasukan serta Alat perang sudah dilakukan didalam minggu ini.

Pendropan pasukan membuat rakyat di 4 Kabupaten panic karena trauma dengan perlakuan TNI/POLRI didalam operasi-operasi sebelumnya.

Goliat Tabuni, Gen. TRWP nyatakan siap untuk berperang, namun ia masih mengadakan perhitungan amunisi karena mereka kekurangan Amunisi. Adik kandungnya seorang perempuan dikirim ke Vanimo untuk membeli amunisi, sayangnya ia masuk ke alamat dan orang yang salah sehingga dana sumbangan untuk membeli amunisi lenyap di pertengahan usahanya.

Demikian

Up ↑

Wantok Coffee

Melanesia Single Origin Coffee

MAMA Minimart

MAMA Stap, na Yumi Stap!

PT Kimarek Aruwam Agorik

Just another WordPress.com site

Wantok Coffee News

Melanesia Foods and Beverages News

Perempuan Papua

Melahirkan, Merawat dan Menyambut

UUDS ULMWP

for a Free and Independent West Papua

UUDS ULMWP 2020

Memagari untuk Membebaskan Tanah dan Bangsa Papua!

Melanesia Spirit & Nature News

Promoting the Melanesian Way Conservation

Kotokay

The Roof of the Melanesian Elders

Eight Plus One Ministry

To Spread the Gospel, from Melanesia to Indonesia!

Koteka

This is My Origin and My Destiny