SESEORANG yang mengaku bernama Teny Kwalik semalam menghubungi Redaksi SULUH PAPUA dan mengklaim dirinya yang bertanggung jawab terhadap serangkaian peristiwa penembakan yang terjadi di Freeport beberapa hari ini.
“Saya Teny Kwalik, Panglima Daerah TPN/OPM Makodam 3, kami yang melakukan penembakan siang kemarin, dan kami bukan OTK atau kelompok separatis, kami TPN/OPM yang ingin Papua merdeka”,
kata lelaki di ujung telepon agak terbata – bata semalam.
Namun yang mencurigakan, nampaknya di belakang si penelepon ada orang kedua yang mengajarkan atau mengarahkan kepadanya tentang apa – apa yang harus di sampaikan, saat SULUH PAPUA mengejar apa bukti bahwa ia pelakunya dan apa bukti bahwa ia benar – benar Tenny Kwalik, si penelepon terdengar gugup dan menjawab ragu – ragu, dan terdengar suara halus di belakang yang mengarahkan, namun belum selesai pembicaraan tiba – tiba ada gangguan pada saluran telepon dan akhirnya terputus.
Kapolda Papua Irjen Pol Tito Karnavian mengatakan, aksi penembakan yang terjadi di PT Freeport Indonesia menjadi atensi khusus Polri-TNI. Kemudian dari hasil pengembangan kasus kelompok yang melakukan penembakan tersebut merupakan kelompok Tenny Kwalik.
”Kita sudah tahu mereka sehingga kita sedang meningkatkan pengamanan di area Freeport dengan melakukan patroli, pengawalan dan penjagaan. Kita tingakkaan dan intensifkan. Tidak ada penambahan pasukan karena personil yang disiagakan untuk melakukan pengamanan sebanyak 800 personil untuk menghadapi kelompok ini ,”
jelas Tito usai melakukan pertemuan perwira TNI-Polri di Rimba Papua Hotel, Rabu (11/12).
Selain melakukan peningkatan pengamanan, Satgas Amole bersama TNI akan melakukan anting dan pengejaran terhadap kelompok ini yang bermarkas di Kali Kopi Tanggul Timur. Kelompok ini jumlahnya tidak terlalu banyak kemungkinan mereka berjumlah sekitar delapan sampai sepuluh orang sehingga ketika mereka melakukan penembakan langsung melarikan diri.
”Kita sedang mempelajari motif penembakan yang dilakukan kelompok itu. Memang ada sebuah selebaran yang kami terima dari Polres Mimika dan Kodim 1710/Mimika mereka menuntut agar limbah Freeport yang berdekatan dengan markas mereka harus dihentikan karena mereka merasa dirugikan,”
jelas Tito.
Meskipun ada beberapa poin di dalam surat itu yang menyatakan ingin memisahkan diri dan lain sebagainya, tetapi kepolisian melihatnya dari motif persoalan yang di timbulkan yakni limbah pembuangan PT Freeport Indonesia yang berdekatan dengan markas kelompok bersenjata itu di Kali Kopi yang dianggap sangat merugikan mereka sesuai dengan surat edaran itu.
”Motif inilah yang sedang kami pelajari bersama Freeport dan berupaya melakukan komunikasi dengan kelompok ini untuk menanyakan apa keinginan mereka. Aapabila mereka mengaku betul persoalan limbah Freeport, kita akan berkoordinasi dengan Freeport untuk mencari jalan keluarnya dengan memindahkan aliran pembuangan limbah itu,”
kata Tito.
Wakil Direktris Yayasan Hak Asasi Manusia Anti Kekerasan (Yahamak) Kabupaten Mimika Arnold Ronsumbre mengecam keras aksi penembakan yang kelompok bersenjata di areal obyek vital nasional (obvitnas) PT Freeport Indonesia.
“Kasus penembakan ini merupakan sebuah perbuatan yang sangat tidak terpuji. Kami mengutuk keras aksi penembakan itu sehingga saatnya nanti pelaku akan dapat merasakan hukum karma,”
kata Arnold kepada wartawan di Timika.
Menurutnya, aksi penembakan di area Freeport menunjukkan ketidakmampuan aparat keamaman dalam melakukan pengamanan. Sudah tentu masyarakat akan mempertanyakan sejauh mana kinerja aparat keamanan. Arnold mengatakan, selama ini aparat selalu menggunakan istilah OTK yang semestinya tidak digunakan sebagai sebuah istilah apabila aparat keamanan sudah mengetahui pelaku penembakan itu. Seharusnya aparat keamanan harus menjelaskan siapa otak di balik sejumlah kasus penembakan yang terjadi di area Freeport.
“Tugas aparat keamanan adalah segera menjawab siapa pelaku sebenarnya dari penembakan itu. Jika penembakan itu dilakukan karena ketidakpuasan dengan Freeport, harus dibicarakan secara jujur apa yang masih menjadi kekurangan, sehingga tidak membuat gerakan terlalu banyak dan menimbulkan keresahan bagi masyarakat,”
ujarnya.
Sebelumnya Eli Ramos Patege, aktivis HAM di Papua mensinyalir penembakan di Freeport yang kembali mencuat merupakan bagian dari skenario bisni pengamanan di areal freeport. “Konflik di areal FI didesain oleh aparat untuk mencapai dua tujuan yakni mendapatkan dana keamanan dari perusahaan Freeport dan dari pemerintah daerah atau pusat serta menciptakan ketidaknyamanan di Tanah Papua,” kata Eli Ramos Petege, Aktivis HAM dalam siaran pers ke media ini, kemarin.
Menurut Eli, akses masuk ke areal perusahaan raksasa ini sangat sulit sebab pengawasan begitu ketat. Warga pemilik wilayah Amungsa yang tinggal di Kampung Banti, Arwanop dan lainnya harus mengurusi surat izin untuk pergi dan pulang dari kampung ke Timika. Pun sebaliknya, pemilik ulayat yang mau mengambil kayu bakar saja, wajib mengurus izin di departemen Lingkungan Hidup FI sekitar satu minggu. “Sementara itu, berdasarkan pantauan saya pada tahun lalu, sepanjang jalan dari mile 32 (lowland) sampai mile 73 (highland/tempat penggilingan) diawasi ketat oleh aparat keamanan. Kita juga tahu bahwa perusahaan itu berada dibawah pengawasan 1.800 personil TNI/Polri. Artinya bahwa kekerasan itu tidak mungkin dilakukan oleh warga sipil yang berada di luar dari areal freeport,” papar Eli Ramos Petege.
Berdasarkan data SULUH PAPUA, penembakan yang dilakukan orang tak dikenal itu terjadi pukul 12.45 wit terhadap 1 unit monil Escort warna putih dengan nomor lambung 01-4758. Pengemudinya adalah Ridwan yang mengendarai mobil bersama dua personil Brimob Detasemen B Polda Mimika, Brigadir Supriadi yang sedang melaksanakan pengawalan trailer explosive menuju mil 68. Bersama Escort putih, ada juga tujuh unit trailer yang membawa bahan peledak beriringan dari Cargodok dengan tujuan mil 68. Pada pukul 12.40 wit rombongan tiba di Pos Pengamanan di mil 40, kemudian melanjutkan perjalanan ke mil 68 dengan urutan monil Escort warna putih Nomor Lambung 01-4758, mobil trailer dengan Nomor Lambung 020955 dan mobil trailer 020868. Pada pukul 12.45 wit, ketika rombongan telah berjalan sekitar 100 meter dari Pos mil 40, tiba-tiba mobil Escort yang dikemudikan Ridwan ditembak dari arah sebelah kanan sebanyak dua kali.
Spontan, pimpinan iring-iringan mobil Brigadir Supriyadi langsung membalas tembakan. Mobil Escort yang mereka tumpangi pun kemudian berbalik arah menuju Pos Pengamanan di mil 40. Pada saat berbalik arah itu, kelompok bersenjata menembak lagi iring-iringan sebanyak satu kali. Serangan kedua itu membuat mobil trailer dengan Nomor Lambung 020868 spontan mundur dan menabrak mobil trailer 020955 hingga mengakibatkan selang radiator kendaraan itu terlepas. Mendengar bunyi tembakan, anggota Brimob yang berada di Pos Penjagaan mil 40 langsung menuju ke Tempat Kejadian Perkara (TKP) untuk memberikan bantuan.
Aksi baku tembak pun tak terhindarkan antara Brimob Detaseman B dengan kelompok bersenjata yang berlangsung kurang lebih 10 menit. Pukul 13.15 wit, Komandan Satgas wilayah dataran rendah area Freeport Indonesia AKBP Yusuf Wali bersama satu peleton Brimob Satgas Amole PT Freeport Indonesia tiba di Pos mil 40 dan langsung menuju ke TKP. Selanjutnya, pada pukul 13.30 wit, satu regu Anggota TNI Yonif 754 Ene Neme Kangase dibawa pimpinan Mayor Inf Akbar, beserta satu regu TNI Denkav-3/SC Pos Randfile dibawa pimpinan Lettu (Kav) Musrsaling juga tiba di TKP dilanjutkan dengan peninjauan. Selanjutnya, anggota Denkav 3/SC (Pos Randfile) pimpinan Musrsaling menggunakan Rantis Anoa melaksanakan patroli dari mil 40 sampai dengan mil 46.
Tidak ada korban jiwa dalam aksi penembakan misterius itu. Sementara, satu unit mobil Escort terkena tembakan pada pintu bagian kanan bawah, dan satu buah lubang tembakan pada bagian atas ban belakang sebelah kanan, juga bekas tembakan pada kaca spion sebelah kiri. Sehari sebelumnya, seorang karyawan Kuala Pelabuhan Indonesia (KPI) bernama Agustinus Waiyay ditembak kelompok bersenjata, Senin (9/12), sekira pukul 02.00 wit. Waiyay merupakan driver yang mengendarai water truck dengan nomor lambung 021010 menuju Mil 41, tujuan pos pengamanan internal PT Freeport Indonesia. Korban ditembak sebanyak enam kali dari arah kiri jalan mengakibatkan lima bekas tembakan di pintu radiator atas ban. (K6/R1)
Kamis, 12-12-2013, SuluhPapua