Penembakan Misterius di Freeport Skenario Asing?

Jayapura – Serangkaian aksi penembakan misterius di areal tambang PT Freeport Tembagapura Timika Papua, terus menjadi sorotan sejumlah pihak. DPR Papua tak henti-hentinya menyoroti aksi misterius yang hingga kini belum terungkap siapa pelakunya. Bahkan mensinyalir, aksi itu bisa saja skenario dari pihak asing.

”Perlu diwaspadai, kemungkinan serangkai aksi di Freeport bukan ulah lokal, tapi bisa saja pihak asing, dengan tujuan ingin mengeruk kekayaan alam kita, tanpa di awasi,”ujar Wakil Ketua Komisi A DPRP Bidang Politik Hukum dan HAM, Yanni , S.H., Senin 16 Desember.

Sinyalemen bahwa pihak asing bisa saja terlibat, lanjutnya, karena mudahnya pelaku dengan berbagai senjata dan amunisi yang dimiliki, masuk areal Freeport. “Pengawasan di areal Freeport kan sangat ketat, namun pelaku dan senjata yang dimilikinya, seperti mudah dimasukan untuk melakukan teror, ini salah satu yang mengindikasikan kemungkinan pihak asing bermain, dan seolah-olah OTK atau OPM sebagai pelakunya, “kata dia.” terangnya.

Apalagi, peristiwa penembakan misterius di Areal Freeport, sudah kerap terjadi, tapi pelaku belum pernah bisa diungkap. “Penembakan sudah sering terjadi, korban juga sudah cukup banyak, tapi siapa pelakunya tidak pernah terungkap.”paparnya.

Untuk itu, kata dia, aparat keamanan harus segera mengungkap pelaku serangkaian aksi penembakan misterius di areal Freeport, agar tak memunculkan berbagai persepsi atau opini yang kurang baik. “Persepsi publik kan jadinya negatif, karena pelaku teror tak pernah bisa diungkap dan ditangkap, jadi harus diungkap secepatnya,” tandasnya.
Ia juga meminta aparat keamanan dalam hal ini Kepolisian, untuk meningkatkan aksi razia atau sweeping senjata api, tajam maupun bahan peledak di Timika. “Dengan gencar menggelar razia, ruang gerak pelaku akan semakin sempit,”terangnya.

Mengenai pernyataan KSAD yang memerintahkan tembak ditempat bagi pelaku aksi teror di Freeport, harus di apresiasi, karena aksi itu sangat meresahkan dan mengganggu kegiatan tambang. “Kalau KSAD perintah ditempat, kita harus meresponnya, karena memang serangkaian aksi sudah sangat meresahkan,”pungkasnya.

Serangkaian aksi penembakan itu, sangat berimbas bagi kondisi keamanan di seluruh Papua, pasalnya, opini yang terbentuk khususnya di luar Papua, bahwa secara keseluruhan Papua tidak aman. “Kan yang dirugikan seluruh Papua, karena dianggap tidak aman, padahal kejadian hanya di Freeport,”tandasnya.

Sebelumnya, KSAD Jenderal TNI Budiman menganggap, eksistensi pengacau keamanan di Papua masih berjalan. Meski sudah memerintahkan Kodam XVII Cenderawasih dan jajarannya melakukan pendekatan persuasif.

“Penembakan yang diarahkan ke rombongan Komanda Korem 174/Anim Ti Weninggap atau ATW Brigadir Jenderal Bambang Haryanti dianggap, merupakan aksi melawan simbol negara. Selama ini kami anggap mereka saudara. Kalau mereka menggunakan senjata saya perintahkan hadapi juga dengan senjata. Sekalipun penyelidikan ditangani polisi, saya juga memerintahkan agar TNI ikut mengusut pelaku yang meresahkan masyarakat itu. Penembakan terhadap TNI juga harus dihadapi oleh anggota TNI,” kata Kasad Jenderal TNI Budiman.

Sementara itu Juru Bicara Polda Papua AKBP Pujo Sulistyo saat dikonfirmasi terkait perkembangan pengungkapan pelaku aksi teror penembakan di Freeport, mengatakan, pihaknya masih terus memburu para pelaku. “Kami masih kejar pelaku, bahkan guna mempersempit ruang geraknya, juga memperketat pengamanan di sepanjang areal Freeport,”ucapnya.

Selain itu, kata dia, pengawalan terhadap kendaraan perusahaan ditingkatkan. “Kendaraan perusahaan yang hilir mudik dari Timika ke Tembagapura dan sebaliknya, pengawalannya kami perketat,”ucapnya. (jir/don/l03)

Selasa, 17 Desember 2013 06:43, Binpa

Teror Penembakan di Freeport Makin Menjadi

JAYAPURA[Anggota Brimob saat melakukan penyisiran di sekitar Mile 42 pasca penembakan, Senin (10/12) lalu.PAPOS]-Aksi teror penembakan yang dilakukan kelompok sipil bersenjata (KSB) di kawasan PT Freeport Indonesia di Timika makin menjadi. Mereka seperti tak mau memilih korban. Setiap kendaraan yang melintasi kawasan tersebut menjadi sasaran tembak.

Kali ini satu mobil yang mengangkut rombongan Komandan Korem 174/Anim Ti Waninggap (ATW) Merauke, Brigjen TNI Bambang Hariyanto diberondong tembakan di sekitar Mil 42, Kamis (12/12) sekitar pukul 12.30 WIT.

Teror penembakan oleh orang tak dikenal ini merupakan keempat kalinya. Sebelumnya tiga penembakan beruntun terjadi mulai Minggu (9/12) hingga Selasa (11/12).

Dalam kejadian tersebut Danrem Korem 174/Anim Ti Waninggap (ATW) Merauke selamat termasuk Dandim Timika, Letkol Dwi Lagan, anggota polisi dan petinggi PT. Freeport. Kepala Penerangan Kodam XVII/Cenderawasih, Kolonel Inf. Lismer Lumban Siantar dihubungi semalam membenarkan adanya penembakan tersebut.

”Memang benar ada penembakan, namun selain rombongan Danrem Merauke, ada rombongan dari polisi, kemudian Freeport juga. Tidak ada korban dari kejadian ini,”

ujar Kapendam kepada Papua Pos melalui ponselnya semalam.

Menurut Kapendam, penembakan itu terjadi ketika rombongan usai melakukan peninjauan pos-pos pengamanan di areal Freeport. ”Saat mereka usai melakukan peninjauan, rombongan ditembaki,” ujarnya.

Kapendam mengatakan, walau petinggi TNI ditembaki, namun pihaknya menyerahkan kasus ini sepenuhnya kepada kepolisian untuk menanganinya.”TNI sebatas memback-up kepolisian,” ucapnya.

Masih menurut Kapendam.,Kapendam menuturkan, pihaknya belum mengetahui secara pasti motif penembakan tersebut.”Kami belum tahu, sebab masih dalam penyelidikan kepolisian,” katanya. Kapendam menegaskan, pihak TNI siap membantu kepolisian untuk melakukan pengejaran terhadap para pelaku penembakan.

Kenny Kwalik Dibalik Penembakan

Sementara Kapolda Papua, Irjen Polisi Tito Karnavian mengatakan dari pengembangan penyidikan diketahui bahwa aksi teror penembakkan di area Freeport tersebut diduga ada keterlibatan kelompok bersenjata Kali Kopi pimpinan Teny Kwalik yang bermarkas di Tanggul Timur.

“Kita sudah tahu mereka sehingga kita sedang meningkatkan pengamanan di area Freeport dengan melakukan patroli, pengawalan dan penjagaan. Kita tingkatkan dan intensifkan,” kata Tito kepada wartawan di Timika, Kamis pagi.

Meski aksi teror penembakkan kembali marak, namun Polda Papua belum berencana menambah pasukan pengamanan PT Freeport.

“Tidak ada penambahan pasukan karena personil yang disiagakan untuk melakukan pengamanan sebanyak 800 orang untuk menghadapi kelompok ini,”

kata Tito.

Dari data pihak kepolisian, kelompok bersenjata pimpinan Teny Kwalik berjumlah sekitar delapan hingga 10 orang. Kelompok ini diketahui memiliki beberapa pucuk senjata api. Senjata itulah yang selama ini digunakan untuk melakukan teror penembakan terhadap sejumlah kendaraan yang melintas di ruas jalan Timika-Tembagapura maupun ruas jalan Tanggul Timur menuju Kampung Nayaro.

Usai melakukan aksi teror penembakan, kelompok tersebut langsung melarikan diri ke dalam hutan.

Kapolda Papua mengakui pekan lalu jajarannya menerima surat selebaran yang mengatasnamakan Markas Komando Militer III Timika pimpinan Teny Kwalik.

Selebaran serupa diterima pihak Kodim 1710/Mimika. Dalam surat tersebut, kelompok Teny Kwalik menuntut agar limbah Freeport yang berdekatan dengan markas mereka harus dihentikan karena mereka merasa dirugikan.

“Motif inilah yang sedang kami pelajari bersama Freeport dan berupaya melakukan komunikasi dengan kelompok ini untuk menanyakan apa keinginan mereka. Jika mereka mengakui betul persoalan limbah Freeport maka kita akan berkoordinasi dengan Freeport untuk mencari jalan keluarnya dengan memindahkan aliran pembuangan limbah itu,”

kata Tito.

Selain limbah Freeport, perusahaan tambang asal Amerika Serikat itu diketahui juga mengambil material batu dan pasir dari area Kali Kopi untuk membangun Tanggul Timur.

Kelompok bersenjata pimpinan Teny Kwalik diketahui merupakan kelompok yang sudah lama terbentuk. Kelompok Teny Kwalik diketahui juga mendalangi serangkaian aksi teror penembakan di area Freeport sejak 2009.

Dengan semakin gencarnya pembangunan Tanggul Timur sebagai dinding pembatas area pengendapan tailing PT Freeport, kelompok Teny Kwalik merasa makin dibatasi ruang geraknya. [tom]

Jum’at, 13 Desember 2013, Ditulis oleh Tom/Papos  

 

Imparsial : Penembakan di Freeport Banyak Kepentingan “Main”

Direktur Eksekutif Imparsial, Poengki IndartiJAYAPURA – Serangkaian aksi penembakan secara berturut-turut selama 3 hari, terjadi di areal Tambang PT Freeport Timika Papua, dimana aparat Kepolisian belum mampu menghentikannya.

Mendapat tanggapan dari Imparsial LSM Pemerhati HAM. Imparsial mensinyalir terkait aksi teros penembakan ini ada banyak kepentingan yang “bermain” di sana.

“Penembakan di Freeport yang sangat marak sejak 2009, kembali terjadi lagi. Diawali pada Minggu 8 Desember dan terjadi berturut-turut di mile 40-41, mengenai kendaraan yang ditumpangi aparat keamanan. Ini teror yang sangat misterius, karena pelakunya tidak pernah bisa diketahui atau bahkan ditangkap,”

ujar Direktur Eksekutif Imparsial, Poengki Indarti melalui pesan elektroniknya, Rabu 11 Desember.

Kekerasan berupa penembakan yang tak pernah bisa dihentikan, jika pelakunya tidak berhenti sendiri, justru mengundang tanda tanya besar. “Mengapa Freeport yang selama ini selalu dijaga aparat keamanan bersenjata dengan sangat ketat, masih saja kecolongan dengan aksi para pelaku? Mengapa selama ini aparat keamanan gagal menangkap para pelaku? Apakah para pelaku sedemikian lihai mengecoh aparat? Atau justru ada sebab-sebab lain.”tanya dia.

Dari analisa Imparsial, kata dia, ada sejumlah hal yang menjadi pemicu kembali terjadinya aksi penembakan misterius di areal Freeport.

“Ada beberapa analisa terhadap hal ini. Kekerasan di Freeport terjadi tidak dalam ruang yang kosong. Ada banyak kepentingan “bermain”di situ. Bahkan situasi politik nasional juga kemungkinan besar bisa berdampak di Papua – pilihannya bisa di Freeport atau di Puncak Jaya. Dinamika politik di Papua juga bisa menjadi penyebab kembali maraknya aksi kekerasan di Freeport,”

terangnya.

Namun, faktor lain juga bisa menjadi munculnya aksi teror itu, seperti masalah uang atau upeti.

“Selain itu serangan ini bisa juga dialamatkan pada PT. Freeport Indonesia, dengan maksud mendapatkan uang dari PT. Freeport. Ini bisa dilakukan oleh pihak mana saja yang mempunyai akses pada senjata api,”

jelasnya.

Oleh karena itu, yang paling penting harus dilakukan adalah upaya Polda Papua secara serius dan sungguh-sungguh untuk melakukan pengejaran dan penangkapan terhadap para pelaku.

“Selain itu sangat penting bagi Polda untuk melakukan operasi razia senpi dan sajam, termasuk bahan-bahan peledak di seluruh Papua. Nama baik Polda dipertaruhkan untuk bisa menangkap para pelaku hidup-hidup dan membawanya ke pengadilan,”

terangnya. (jir/don/l03)

Kamis, 12 Desember 2013 08:26, Binpa

Ada Teny Kwalik di Balik Penembakan Freeport ?

SESEORANG yang mengaku bernama Teny Kwalik semalam menghubungi Redaksi SULUH PAPUA dan mengklaim dirinya yang bertanggung jawab terhadap serangkaian peristiwa penembakan yang terjadi di Freeport beberapa hari ini.

“Saya Teny Kwalik, Panglima Daerah TPN/OPM Makodam 3, kami yang melakukan penembakan siang kemarin, dan kami bukan OTK atau kelompok separatis, kami TPN/OPM yang ingin Papua merdeka”,

kata lelaki di ujung telepon agak terbata – bata semalam.

Namun yang mencurigakan, nampaknya di belakang si penelepon ada orang kedua yang mengajarkan atau mengarahkan kepadanya tentang apa – apa yang harus di sampaikan, saat SULUH PAPUA mengejar apa bukti bahwa ia pelakunya dan apa bukti bahwa ia benar – benar Tenny Kwalik, si penelepon terdengar gugup dan menjawab ragu – ragu, dan terdengar suara halus di belakang yang mengarahkan, namun belum selesai pembicaraan tiba – tiba ada gangguan pada saluran telepon dan akhirnya terputus.

Kapolda Papua Irjen Pol Tito Karnavian mengatakan, aksi penembakan yang terjadi di PT Freeport Indonesia menjadi atensi khusus Polri-TNI. Kemudian dari hasil pengembangan kasus kelompok yang melakukan penembakan tersebut merupakan kelompok Tenny Kwalik.

”Kita sudah tahu mereka sehingga kita sedang meningkatkan pengamanan di area Freeport dengan melakukan patroli, pengawalan dan penjagaan. Kita tingakkaan dan intensifkan. Tidak ada penambahan pasukan karena personil yang disiagakan untuk melakukan pengamanan sebanyak 800 personil untuk menghadapi kelompok ini ,”

jelas Tito usai melakukan pertemuan perwira TNI-Polri di Rimba Papua Hotel, Rabu (11/12).

Selain melakukan peningkatan pengamanan, Satgas Amole bersama TNI akan melakukan anting dan pengejaran terhadap kelompok ini yang bermarkas di Kali Kopi Tanggul Timur. Kelompok ini jumlahnya tidak terlalu banyak kemungkinan mereka berjumlah sekitar delapan sampai sepuluh orang sehingga ketika mereka melakukan penembakan langsung melarikan diri.

”Kita sedang mempelajari motif penembakan yang dilakukan kelompok itu. Memang ada sebuah selebaran yang kami terima dari Polres Mimika dan Kodim 1710/Mimika mereka menuntut agar limbah Freeport yang berdekatan dengan markas mereka harus dihentikan karena mereka merasa dirugikan,”

jelas Tito.

Meskipun ada beberapa poin di dalam surat itu yang menyatakan ingin memisahkan diri dan lain sebagainya, tetapi kepolisian melihatnya dari motif persoalan yang di timbulkan yakni limbah pembuangan PT Freeport Indonesia yang berdekatan dengan markas kelompok bersenjata itu di Kali Kopi yang dianggap sangat merugikan mereka sesuai dengan surat edaran itu.

”Motif inilah yang sedang kami pelajari bersama Freeport dan berupaya melakukan komunikasi dengan kelompok ini untuk menanyakan apa keinginan mereka. Aapabila mereka mengaku betul persoalan limbah Freeport, kita akan berkoordinasi dengan Freeport untuk mencari jalan keluarnya dengan memindahkan aliran pembuangan limbah itu,”

kata Tito.

Wakil Direktris Yayasan Hak Asasi Manusia Anti Kekerasan (Yahamak) Kabupaten Mimika Arnold Ronsumbre mengecam keras aksi penembakan yang kelompok bersenjata di areal obyek vital nasional (obvitnas) PT Freeport Indonesia.

“Kasus penembakan ini merupakan sebuah perbuatan yang sangat tidak terpuji. Kami mengutuk keras aksi penembakan itu sehingga saatnya nanti pelaku akan dapat merasakan hukum karma,”

kata Arnold kepada wartawan di Timika.

Menurutnya, aksi penembakan di area Freeport menunjukkan ketidakmampuan aparat keamaman dalam melakukan pengamanan. Sudah tentu masyarakat akan mempertanyakan sejauh mana kinerja aparat keamanan. Arnold mengatakan, selama ini aparat selalu menggunakan istilah OTK yang semestinya tidak digunakan sebagai sebuah istilah apabila aparat keamanan sudah mengetahui pelaku penembakan itu. Seharusnya aparat keamanan harus menjelaskan siapa otak di balik sejumlah kasus penembakan yang terjadi di area Freeport.

“Tugas aparat keamanan adalah segera menjawab siapa pelaku sebenarnya dari penembakan itu. Jika penembakan itu dilakukan karena ketidakpuasan dengan Freeport, harus dibicarakan secara jujur apa yang masih menjadi kekurangan, sehingga tidak membuat gerakan terlalu banyak dan menimbulkan keresahan bagi masyarakat,”

ujarnya.

Sebelumnya Eli Ramos Patege, aktivis HAM di Papua mensinyalir penembakan di Freeport yang kembali mencuat merupakan bagian dari skenario bisni pengamanan di areal freeport. “Konflik di areal FI didesain oleh aparat untuk mencapai dua tujuan yakni mendapatkan dana keamanan dari perusahaan Freeport dan dari pemerintah daerah atau pusat serta menciptakan ketidaknyamanan di Tanah Papua,” kata Eli Ramos Petege, Aktivis HAM dalam siaran pers ke media ini, kemarin.

Menurut Eli, akses masuk ke areal perusahaan raksasa ini sangat sulit sebab pengawasan begitu ketat. Warga pemilik wilayah Amungsa yang tinggal di Kampung Banti, Arwanop dan lainnya harus mengurusi surat izin untuk pergi dan pulang dari kampung ke Timika. Pun sebaliknya, pemilik ulayat yang mau mengambil kayu bakar saja, wajib mengurus izin di departemen Lingkungan Hidup FI sekitar satu minggu. “Sementara itu, berdasarkan pantauan saya pada tahun lalu, sepanjang jalan dari mile 32 (lowland) sampai mile 73 (highland/tempat penggilingan) diawasi ketat oleh aparat keamanan. Kita juga tahu bahwa perusahaan itu berada dibawah pengawasan 1.800 personil TNI/Polri. Artinya bahwa kekerasan itu tidak mungkin dilakukan oleh warga sipil yang berada di luar dari areal freeport,” papar Eli Ramos Petege.

Berdasarkan data SULUH PAPUA, penembakan yang dilakukan orang tak dikenal itu terjadi pukul 12.45 wit terhadap 1 unit monil Escort warna putih dengan nomor lambung 01-4758. Pengemudinya adalah Ridwan yang mengendarai mobil bersama dua personil Brimob Detasemen B Polda Mimika, Brigadir Supriadi yang sedang melaksanakan pengawalan trailer explosive menuju mil 68. Bersama Escort putih, ada juga tujuh unit trailer yang membawa bahan peledak beriringan dari Cargodok dengan tujuan mil 68. Pada pukul 12.40 wit rombongan tiba di Pos Pengamanan di mil 40, kemudian melanjutkan perjalanan ke mil 68 dengan urutan monil Escort warna putih Nomor Lambung 01-4758, mobil trailer dengan Nomor Lambung 020955 dan mobil trailer 020868. Pada pukul 12.45 wit, ketika rombongan telah berjalan sekitar 100 meter dari Pos mil 40, tiba-tiba mobil Escort yang dikemudikan Ridwan ditembak dari arah sebelah kanan sebanyak dua kali.

Spontan, pimpinan iring-iringan mobil Brigadir Supriyadi langsung membalas tembakan. Mobil Escort yang mereka tumpangi pun kemudian berbalik arah menuju Pos Pengamanan di mil 40. Pada saat berbalik arah itu, kelompok bersenjata menembak lagi iring-iringan sebanyak satu kali. Serangan kedua itu membuat mobil trailer dengan Nomor Lambung 020868 spontan mundur dan menabrak mobil trailer 020955 hingga mengakibatkan selang radiator kendaraan itu terlepas. Mendengar bunyi tembakan, anggota Brimob yang berada di Pos Penjagaan mil 40 langsung menuju ke Tempat Kejadian Perkara (TKP) untuk memberikan bantuan.

Aksi baku tembak pun tak terhindarkan antara Brimob Detaseman B dengan kelompok bersenjata yang berlangsung kurang lebih 10 menit. Pukul 13.15 wit, Komandan Satgas wilayah dataran rendah area Freeport Indonesia AKBP Yusuf Wali bersama satu peleton Brimob Satgas Amole PT Freeport Indonesia tiba di Pos mil 40 dan langsung menuju ke TKP. Selanjutnya, pada pukul 13.30 wit, satu regu Anggota TNI Yonif 754 Ene Neme Kangase dibawa pimpinan Mayor Inf Akbar, beserta satu regu TNI Denkav-3/SC Pos Randfile dibawa pimpinan Lettu (Kav) Musrsaling juga tiba di TKP dilanjutkan dengan peninjauan. Selanjutnya, anggota Denkav 3/SC (Pos Randfile) pimpinan Musrsaling menggunakan Rantis Anoa melaksanakan patroli dari mil 40 sampai dengan mil 46.

Tidak ada korban jiwa dalam aksi penembakan misterius itu. Sementara, satu unit mobil Escort terkena tembakan pada pintu bagian kanan bawah, dan satu buah lubang tembakan pada bagian atas ban belakang sebelah kanan, juga bekas tembakan pada kaca spion sebelah kiri. Sehari sebelumnya, seorang karyawan Kuala Pelabuhan Indonesia (KPI) bernama Agustinus Waiyay ditembak kelompok bersenjata, Senin (9/12), sekira pukul 02.00 wit. Waiyay merupakan driver yang mengendarai water truck dengan nomor lambung 021010 menuju Mil 41, tujuan pos pengamanan internal PT Freeport Indonesia. Korban ditembak sebanyak enam kali dari arah kiri jalan mengakibatkan lima bekas tembakan di pintu radiator atas ban. (K6/R1)

Kamis, 12-12-2013, SuluhPapua

Penembakan Freeport, Jangan Tuduh OPM

Penembakan_karyawan__freeport_indonesiaDUA rentetan kasus penembakan di areal PT Freeport Indonesia tiga hari terakhir, Minggu (8/12) sekitar pukul 12.56 wit dan Senin (9/12), pukul 02.00 wit, terhadap seorang karyawan Kuala Pelabuhan Indonesia (KPI) bernama Agustinus Waiyay, dipandang memiliki muatan kepentingan bisnis. Apakah benar pelakunya berasal dari kelompok sipil bersenjata?

“Saya melihat tidak demikian, menurut saya dalam kasus ini ada muatan tertentu, bukan masalah politik, ini perebutan lahan bisnis,” kata Matius Murib, Pembela HAM, Direktur Baptis Voice Papua,

kepada SULUH PAPUA, Senin.

Baginya, pelaku dalam kejadian tersebut bisa saja kelompok sipil bersenjata ataupun korps berpangkat yang memiliki akses dalam areal Freeport. “Kita tidak bisa bilang OPM atau bukan, atau OTK yang mengarah ke OPM, karena sejak Kelly Kwalik meninggal dunia dua tahun lalu, rasanya tuduhan kepada OPM sebagai pelaku sudah tidak bisa diterima,” katanya.

Ia memandang, siapa saja kelompok dapat ‘bermain’ demi mempertahankan kepentingannya. Apalagi areal Freeport menawarkan peluang meraup rupiah tidak sedikit. “Sekarang menjadi tugas dari kepolisian untuk mengungkap siapa dibalik aksi, pelakunya harus ditangkap dan diadili, kalau tidak segera diungkap, bisa saja terror ini akan terjadi setiap saat,” katanya.

Murib memperkirakan, sepanjang pelaku belum menemukan atau mencapai keinginannya, sejauh itu pula penembakan akan terus terjadi.

“Bisa saja, ini masalah kepentingan usaha, bukan politik,”

tegasnya.

Sebelumnya, Kabid Humas Polda Papua, AKBP Sulistyo Pudjo Hartono mengatakan, seorang karyawan Kuala Pelabuhan Indonesia (KPI) bernama Agustinus Waiyay ditembak kelompok bersenjata, Senin (9/12), sekira pukul 02.00 wit.

Pudjo Hartono menambahkan, Waiyay merupakan seorang driver yang mengendarai water truck dengan nomor lambung 021010 menuju Mil 41, tujuan pos pengamanan internal PT Freeport Indonesia. “Sekitar 200 meter sebelum tiba untuk mengisi air, korban ditembak sebanyak enam kali dari arah kiri jalan.”

Menurutnya, berdasarkan pengakuan, korban mendengar tembakan lebih dari satu sumber. Terdapat lima bekas tembakan yang mengarah ke pintu radiator atas ban. “Meski demikian kasus penembakan misterius tersebut tidak menimbulkan korban jiwa,” kata Pudjo.

Pudjo menuturkan, pasca insiden, anggota Satgas Amole bersama penyidik Reserse dan Kriminal Polres Mimika langsung menuju lokasi kejadian untuk melakukan olah Tempat Kejadian Perkara (TKP). “Kapolres Mimika AKBP Jermias Rontini bersama Satgas Amole sudah melakukan identifikasi.”

Sehari sebelumnya, kelompok tak dikenal juga memberondong kendaraan anggota TNI Brigif 20 Ima Jaya Karamo Praka Warsidi saat melintas menggunakan Inova dengan Nopol S739WG, dari arah Timika menuju mil 50. “Setibanya di mil 41, korban ditembak dari kanan dan kiri jalan. Kejadian itu mengakibatkan kaca mobil sebelah kiri retak. Tidak ada korban,” kata Pudjo.

Kepolisian telah melakukan olah TKP, sedangkan barang bukti telah diamankan di Polres Mimika.

Kapolres Mimika AKBP Jermias Rontini mengatakan, hingga kini pihaknya masih mendalami kasus penyerangan misterius.

“Tim penyidik Reskrim sudah menangani dengan melakukan olah TKP,”

kata Jermias.

Pada September 2009 hingga Februari 2012, rangkaian penembakan di Freeport menghentak banyak pihak. Gangguan keamanan di wilayah tambang terbesar di dunia itu mengakibatkan sebanyak 20 pekerja PT Freeport, pendulang tradisional, pekerja asing bahkan aparat keamanan, tewas.

Satu dari sekian korban tewas itu adalah anggota Brimob Detasemen B Polda Papua di Timika yaitu Briptu Ronald Sopamena. Korban tewas dalam operasi penyergapan kelompok bersenjata tak dikenal di kawasan Kali Kopi ruas jalan Tanggul Timur pada Februari 2012. (JR/K6/R4/L03)

Selasa, 10-12-2013, SuluhPapua.com

Ini Bukan Penembakan Misterius, Ini Rekayasa Oleh TNI/Polri dalam Rangka Tambahan Uang Saku

Menanggapi berita dua hari terakhir tentang penembakan misterius yang kembali terjadi di areal pertambangan PT Freeport Indonesia di Kabupaten Mimika (seperti dilansir BintangPapua.com, SuluhPapua.com dan  PapuaPos.com, maka dari Markas Pusat Pertahanan Tentara Revolusi West Papua (TRWP) lewat Sekretaris-Jenderal Lt. Gen. Amunggut Tabi per SMS (sebanyak 5 buah SMS) dengan isi pesan yang disampaikan kepada PMNews bahwa:

1. Penembak misterius yang muncul lagi saat ini ialah sama otaknya, dari kesatuan yang sama, dan dengan tujuan yang sama.

2. Otak penembakan misterius ini ialah aparat TNI/Polri binaan TNI Kopassus dan BIN, di bawah komando kesatuan yang bertugas di wilayah pertambangan, di mana antara TNI dan Polri berkerjasama;

3. Pelaku penembakan misterius ini ialah anggota dari kesatuan TNI/ Polri;

4. Sasaran penembakan misterius ialah salah satu dari anggota TNI/Polri;

5., Tujuan dari kegiatan ini ialah sekedar mencari uang tambahan untuk sesuap nasi, yang sering disebut uang kaget atau uang saku, atau uang dadakan. Karena mereka tahu dengan sekali peluru ditembakkan saja, PT Freeport Indonesia akan kuncurkan ratusan juta bahkan milyaran rupiah untuk mengejar pelaku, melakukan penyelidikan, mengamankan keadaan, dan seterusnya.

Oleh karena itu disampaikan kepada semua orang Papua agar tidak terpengaruh oleh permainan-permainan murahakn yang selalu dimulai mengawali Bulan Desember, bulan Suci orang Papua dan orang Kristen di Tanah ini. Awal bulan ini selalu diwarnai dengan pertumpahan darah, kekacauan dan penembakan-penembakan tanpa hentinya.

Orang Papua harus bertanya kepada diri sendiri siapa yang senang dan berharap cemas agar Papua selalu ada kekacauan kalau bukan TNI/Polri? Siapa yang dapat uang tambahan mendadak saat ada kekacauan di Tanah Papua selain TNI/Polri? Oleh karen itu, siapa yang jelas-jelas ingin Papua tetap kacau? Siapa yang tidka menghargai bulan Suci orang Kristen ini, kalau bukan teroris, jaringan Jihad yang bekerjasama dengan TNI/Polri dan Kopassus di Tanah Papua?

Namanya orang Papua, namanya orang Kristen, tidak akan mengacaukan Bulan Desember, karena itu BIN/Kopassus sudah salah waktu dalam menyusun skenario mereka. Namanya orang Papua tidak akan menembak dan membiarkan target penembakan masih hidup dan sanggup melarikan diri dengan santainya.

 

Dari Markas Pusat Pertahanan,

 

TTD

 

 

Amunggu Tabi, Lt. Gen.  TRWP
BRN: A.001076

 

Up ↑

Wantok COFFEE

Organic Arabica - Papua Single Origins

MAMA Minimart

MAMA Stap, na Yumi Stap!

PT Kimarek Aruwam Agorik

Just another WordPress.com site

Wantok Coffee News

Melanesia Foods and Beverages News

Perempuan Papua

Melahirkan, Merawat dan Menyambut

UUDS ULMWP

for a Free and Independent West Papua

UUDS ULMWP 2020

Memagari untuk Membebaskan Tanah dan Bangsa Papua!

Melanesia Spirit & Nature News

Promoting the Melanesian Way Conservation

Kotokay

The Roof of the Melanesian Elders

Eight Plus One Ministry

To Spread the Gospel, from Melanesia to Indonesia!

Koteka

This is My Origin and My Destiny