DPRP Minta TNI dan Polri Ditarik Dari Areal Freeport

JAYAPURA [PAPOS]- Ketua Fraksi Pikiran Rakyat Dewan Perwakilan Rakyat Papua (DPRP), Yan P Mandenas S,Sos menilai konvoi pengamanan yang dilakukan aparat TNI dan Polri diareal PT-Freeport hanya membuat karyawan serta masyarakat Tembagapura Timika sengsara.

Untuk itu, DPR Papua meminta agar konvoi gabungan TNI dan Polri diwilayah PT. Freeport Indonesia segera ditarik. “Menurut hemat saya dari pada selalu menyusahkan masyarakat Timika karena selalu terjadi aksi teror penembakan. Alangkah baiknya pasukan ditarik,” tegas Yan Mandenas kepada wartawan diruang kerjanya, Jumat [26/3] kemarin.

Bahkan kata Yan, saat pertemuan antara anggota DPRP dengan Mabes Polri di Jakarta, belum lama ini, persoalan tersebut telah disampaikan ke Wakapolri. Hal ini direspon Wakapolri secara positif. “Wakapolri sudah memerintahkan agar segera dibentuk tim guna melakukan penelitian, sekaligus mengevaluasi sistim pengamanan di areal Freeport dalam mempertimbangkan aspirasi kami. Soal usulan konvoi gabungan di areal PT.FI agar ditarik dari Tembagapura,” ujar Yan.

Dari hasil investigasi tim yang dibentuk tim DPR Papua, selain masyarakat, menurut Yan sejumlah karyawan Freeport juga mengaku tidak nyaman kerja ketika dikawal oleh konvoi gabungan aparat TNI dan Polri. ” Bagaimana tidak setiap kali karyawan berangkat kerja dikawal konvoi. Meskipun mendapat pengamanan, tetapi karyawaan mengaku malah tidak nyaman, karena terjadi penembakan. Apalagi dengan adanya konvoi ini membuat pengeluaran anggaran semakin besar,

Freeport Didesak Utamakan Produk Pertanian Lokal

TIMIKA–MI: Komisi IV DPR RI meminta PT Freeport Indonesia lebih mengutamakan produk pertanian lokal di Mimika, Papua ketimbang mengimpor dari luar negeri.

“Kami sarankan Freeport menyerap kebutuhan sektor pangan seperti sayuran, buah-buahan, ikan dari petani lokal agar kehadiran perusahaan ini memberi nilai tambah kepada peningkatan ekonomi masyarakat lokal,” kata Herman Khaeron, anggota Komisi IV DPR RI dari Partai Demokrat di Timika, Papua, Minggu (14/3).

Ia mengatakan, dengan jumlah karyawan Freeport dan perusahaan kontraktornya yang mencapai 21 ribu orang akan menyerap kebutuhan pangan yang sangat besar. “Ini luar biasa, kalau kebutuhan pangan mereka dipasok oleh petani lokal maka sudah tentu akan merangsang warga di Mimika untuk lebih meningkatkan produktivitas mereka,” ujar Khaeron.

Anggota Komisi IV DPR lainnya, Markus Nari meminta Freeport lebih mengutamakan produk lokal daripada mengimpor kebutuhan sayur-mayur, buah-buahan, daging, ikan dan lainnya dari luar negeri seperti Australia.

Permintaan kalangan wakil rakyat agar Freeport lebih memanfaatkan produk lokal seperti sayuran, buah-buahan, ikan dan lainnya selama ini sudah ditindaklanjuti oleh perusahaan itu. Kebutuhan sayur-mayur dan buah-buahan untuk konsumsi karyawan Freeport selama ini dibeli dari para petani lokal di Mimika oleh PT Pangansari Utama melalui Koperasi Jasa Usaha Bersama (KJUB) Isuri Aiku, Koperasi Serba Usaha (KSU) Sari Rasa dan sejumlah Koperasi Unit Desa (KUD) di Timika.

Adapun kebutuhan ikan dipasok oleh Koperasi Maria Bintang Laut Keuskupan Timika. Suster Yulita PRR dari Keuskupan Timika mengatakan pihaknya sejak 2006 bekerja sama dengan PT Freeport melalui Social Local Development (SLD) untuk memberdayakan nelayanan suku Kamoro yang menetap di sekitar daerah endapan tailing dan di wilayah pesisir barat Mimika. Kerja sama dilakukan dalam bentuk pemasaran ikan hasil tangkapan nelayan, penyediaan bahan bakar minyak, bahan makanan pokok, dan es balok.

Menurut Suster Yulita, Keuskupan Timika terlibat langsung dalam kegiatan tersebut lantaran prihatin dengan kondisi hidup nelayan Kamoro yang selama ini kesulitan memasarkan hasil tangkapan mereka. Di sisi lain, nelayan sering dipermainkan oleh ulah para tengkulak yang membeli ikan dengan harga yang sangat murah.

“Melihat kondisi itu Uskup Timika Mgr John Philip Saklil Pr memutuskan untuk membentuk Koperasi Maria Bintang Laut Kamoro semata-mata untuk membantu meningkatkan ekonomi masyarakat Kamoro yang memang seluruhnya beragama Katolik. Ini bentuk tanggung jawab Gereja Katolik terhadap umat,” tuturnya.

Selain itu, katanya, sejak 2007 PT Freeport dan lembaga pembangunan Pemerintah Amerika Serikat (US AID) membangun sebuah pabrik es di Kokonao, ibukota Distrik Mimika Barat.

Melalui Lembaga Pengembangan Masyarakat Amungme dan Kamoro (LPMAK), Freeport juga memberikan paket bantuan alat tangkap ikan kepada nelayan suku Kamoro berupa jaring, cool box, dan mesin perahu motor 40 PK.

Menyangkut kerjasama dengan Keuskupan Timika untuk pemberdayaan masyarakat nelayan Kamoro, staf SLD Freeport Yahya Alkatiri mengatakan ada sejumlah terobosan yang dilakukan berupa difersifikasi produk dan melebarkan jangkauan pelayanan hingga wilayah pesisir Mimika Barat dan Mimika Timur Jauh.

“Dalam hal melakukan diversifikasi produk, kami akan membuat processing ikan menjadi produk ikan filet dan steak untuk dipasok

DPD-RI Pertanyakan Komitmen CSR PTFI

TIMIKA [PAPOS]- Komite II Dewan Perwakilan Daerah (DPD) RI mempertanyakan sejauh mana komitmen pihak Comitte Social Responsibility (Komitemen Pertanggungjawaban Social) PT Freeport Indonesia kepada masyarakat pemilik hasil dalam meningkatkan SDM suku Amungme dan Kamoro selaku pemilik hak ulayat.

Wakil Ketua II KOmite II DPD RI asal Provinsi Papua Barat, Mervin Sadipun Somber menegaskan, selain menunaikan tugas pengawasan pertambangan dan mineral, ketenagalistrikan, serta pembangunan infrastruktur. Kunjungan DPD RI ke Kabupaten Mimika yang diketahui ada beroperasi pertambangan emas dan tembaga terbesar di dunia ini, hendaknya dapat diketahui juga aspirasi tentang sejauh mana keseriusan PT Freeport Indonesia yang sudah beroperasi cukup lama dalam hal pengembangan sumber daya manusia asli di Kabupaten Mimika, yakni masyarakat Amungme dan Kamoro.

Berkas Tersangka Teror Freeport Dinyatakan Lengkap

Timika, CyberNews. Berkas Berita Acara Pemeriksaan (BAP) salah satu tersangka kasus teror di areal PT Freeport Indonesia atas nama Apius Wanmang telah dinyatakan lengkap oleh Kejaksaan Tinggi (Kejati) Papua.

“BAP salah satu tersangka sudah lengkap, dalam waktu dekat akan dilakukan pelimpahan tersangka dan barang bukti dari penyidik ke penuntut umum guna diproses lebih lanjut,” kata Kepala Seksi Pidana Umum Kejaksaan Negeri Timika, Febrian SH di Timika, Jumat (16/10).

Febrian menerangkan, tersangka Apius Wanmang diduga terlibat kasus kepemilikan amunisi. Atas hal itu, Apius dijerat UU Darurat No 12 tahun 1951 tentang kepemilikan senjata api dengan ancaman maksimal hukuman mati.

Penanganan hukum kasus tersebut akan dilakukan oleh pihak Kejati Papua.

Sementara berkas enam tersangka teror di areal Freeport lainnya hingga kini masih ditangani oleh pihak penyidik Polres Mimika. Enam tersangka yang lain atas nama Simon Beanal, Tomy Beanal, Dominikus Beanal, Eltinus Beanal, Anton Yawame, dan Hender Kiwak yang diduga terlibat kasus penembakan di areal Freeport dijerat pasal 340 jo pasal 338 jo pasal 55 ayat (1) KUHP dengan ancaman maksimal hukuman mati.

Sebelumnya Direktur Yayasan Hak Azasi Manusia Anti Kekerasan (YAHAMAK) Timika, Papua, Yosepha Alomang menilai proses hukum tujuh tersangka kasus teror di areal Freeport sarat konspirasi politik. “Saya melihat anak-anak itu bukan pelaku, mereka masyarakat biasa yang tidak tahu apa-apa,” kata Yosepha Alomang.

Ia menduga, ketujuh tersangka yang seluruhnya merupakan warga suku Amungme selaku pemilik hak ulayat atas areal tambang PT Freeport itu “dipaksa” untuk mengakui melakukan teror penembakan di areal Freeport yang telah menewaskan tiga orang.

“Ya, mereka sepertinya dipaksa untuk mengaku melakukan penembakan,” kata Yosepha tanpa menyebut kelompok mana yang memaksa para tersangka dimaksud.

Penerima piagam Hak Azasi Manusia (HAM) dari masyarakat internasional tahun 2002 itu mendesak jajaran Polres Mimika segera menuntaskan kasus hukum yang dituduhkan kepada tujuh tersangka. “Mereka sudah ditahan hampir tiga bulan di Polres Mimika, bagaimana mungkin mereka bisa ditahan selama itu sementara kasusnya belum disidangkan,” tutur Yosepha.

Wakil Direktur YAHAMAK Timika, Arnold Ronsumbre meminta jajaran kepolisian dan PT Freeport terbuka dalam mengumumkan siapa sesungguhnya dalang di balik aksi teror di areal perusahaan selama Juli-September.

Salah satu orang tua tersangka, Viktor Beanal menilai proses hukum yang ditimpahkan kepada empat orang putranya sarat rekayasa. Viktor Beanal sendiri beberapa waktu lalu juga ditangkap bersama 18 warga lainnya dengan tuduhan melakukan teror penembakan di areal Freeport.

Namun lelaki yang sudah uzur itu akhirnya dibebaskan karena tidak terbukti sebagai pelaku teror. “Badan dan tulang rusuk saya dipukul pakai senjata. Sampai sekarang saya masih merasakan sakit di tubuh saya,” tuturnya.

Viktor Beanal merupakan kepala suku Amungme di Kampung Tsinga, Tembagapura.

Pada 11 Januari 1974 ia bersama lima tokoh lainnya antara lain Tom Beanal, Mozes Kilangin, Paulus Magal, Twuarek, dan Neimun Natkime memberikan cap jempol pada selembar kertas kepada James Movet sebagai persetujuan dimulainya operasional tambang perusahaan Freeport Mcmoran.

Momentum penandatanganan nota persetujuan dimulainya operasional PT Freeport itu yang dikenal dengan istilah Januari Agreement.

Kapolda Papua, Irjen Pol Drs FX Bagus Ekodanto menegaskan proses hukum tujuh tersangka tersebut berdasarkan fakta hukum, bukan atas dasar rekayasa polisi. “Polisi bekerja berdasarkan fakta hukum, bukan atas dasar asumsi-asumsi,” kata Ekodanto dalam pertemuan dengan sejumlah tokoh masyarakat Mimika di Hotel Rimba Papua Timika beberapa waktu lalu.

Guna mendampingi para tersangka dalam persidangan nanti, keluarga telah memberikan kuasa kepada 18 orang pengacara dari LBH Jayapura, Kontras Papua dan Aliansi Demokrasi Papua (ALDP).

( Ant / CN13 )

Tak Aman, Bus Freeport Stop Beroperasi Operasional Malam

JAYAPURA-Pasca penembakan di areal pertambangan PT Freeport Indonesia, Selasa (20/10) yang mengakibatkan 2 orang karyawan Freeport terluka, tampaknya sedikit mulai mengganggu operasional, salah satu tambang emas terbesar di dunia itu.

Pasalnya demi untuk pengamanan, kegiatan operasional Freeport pada malam hari untuk sementara dihentikan. Sedangkan kegiatan siang hari berjalan normal.

Hal ini disampaikan Kepala Bidang Humas Polda Papua Komisaris Besar Polisi Drs Agus Rianto saat dikonfirmasi Bintang Papua di Mapolda Papua di Jayapura, Rabu (21/10).

Menurut Agus Rianto, Polda Papua belum menemukan pelaku yang sebenarnya. Pasca penembakan pihaknya terus mendalami kasus ini dan menugaskan anggota untuk melakukan pencarian. Untuk menemukan pelaku penembakan, tambah Agus Rianto, pihaknya telah melakukan olah TKP beberapa saat setelah kejadian tersebut

Seperti diketahui, Selasa (20/10) sekitar pukul 09.45 WIT, iring-iringan bus yang mengangkut karyawan Freeport ditembak oleh orang tak dikenal di sekitar Mile 42 ruas jalan Timika-Tembagapura. Empat dari tujuh bus karyawan yang dikawal anggota brimob diberondong tembakan dari sisi kiri dan kanan mengakibatkan dua karyawan terluka.

Kedua karyawan itu, Kristian Karangan dan Rudi Parendeng, saat ini dirawat di RS SOS Tembagapura dan Klinik Kuala Kencana.

Mengapa Areal PT Freeport Tetap Tidak Pernah Aman?

Lembah Hasil Galian Freeport di Timika
Lembah Hasil Galian Freeport di Timika

Aksi penembakan dan teror orang tidak dikenal (OTK) di kawasan PT Freeport terjadi sejak 11 Juli itu, telah menewasakan 4 orang, dua di antaranya karyawan PT Freeport dan dua anggota Polri. Selain itu, mencederai puluhan orang, baik anggota Polri, TNI maupun karyawan PT Freeport. Terakhir terjadi Rabu (22/10) sekitar pukul 15.00 WP di mile 38 dan mile 39 Kali Kopi, tapi sayangnya pelakunya belum juga tertangkap.

DENGAN melihat aksi teror yang terjadi selama empat bulan di areal Freeport seharusnya bisa ditangani aparat keamanan, lantaran lokasi penembakan hanya di sekitar Mile 40-50.

Di sisi lain, jumlah aparat keamanan sudah sangat banyak yang mencapai 1.320 personel dan pos-pos aparat gabungan TNI dan Polri telah dibangun di sepanjang ruas jalan Timika-Tembagapura. Namun ironisnya, aksi penembakan terus terjadi hingga saat ini dengan target para karyawan Freeport.

Kapolda Papua Irjen Pol Bagus Ekodanto menduga para pelaku penembakan di areal PT.Freeport hingga kini mempunyai pola tersendiri guna menghindari penanggapan yang dilakukan tim gabungan Polri/TNI.

Kwamki Lama Timika Kembali Kondusif

Selasa, 22 September 2009 17:17 WIB | Peristiwa | Hukum/Kriminal | Dibaca 405 kali
Timika (ANTARA News) – Situasi keamanan di Kwamki Lama, Kelurahan Harapan, Timika, Papua yang sempat memanas pada Senin (21/9) malam hingga pagi tadi, kini aat ini sudah kembali kondusif.

Sebagaimana pantauan ANTARA News, Selasa siang hingga sore, warga Kwamki Lama beraktivitas seperti biasa. Meski begitu, sejumlah aparat kepolisian tampak masih berjaga di sekitar Rumah Panjang dekat SDI Kwamki I.

Sejumlah warga yang ditemui mengatakan tidak khawatir akan terjadi konflik antarkeluarga Wandikbo dan keluarga Kum pascameninggalnya Dorkas Wandikbo, Senin (21/9) malam.

“Sangat kecil kemungkinan terjadi konflik, karena itu kami minta polisi segera menangkap dan memproses para pelakunya,” kata Karel Kum, seorang warga Kwamki Lama.

Warga lainnya, Yohanes Kogoya meminta aparat kepolisian melakukan razia senjata tajam agar warga tidak seenaknya membawa senjata tajam berupa panah, parang dan lain-lain di tempat-tempat umum.

Yohanes berharap kasus pembunuhan Dorkas Wandikbo segera diselesaikan secara hukum maupun secara adat agar tidak merembes ke komunitas warga Kwamki Lama yang lain.

Situasi keamanan di Kwamki Lama Timika khususnya di Jalan Mambruk Jalur III sempat memanas pada Senin malam hingga tadi pagi menyusul tewasnya Dorkas Wandikbo.

Dorkas tewas setelah ditikam oleh Elkin Uamang pada rusuk bagian kanannya karena diduga yang bersangkutan berselingkuh dengan Jhon Kum.

Seorang korban lainnya, Lusia Kum yang mengalami luka robek pada pinggang kanan karena terkena anak panah. Ia kini menjalani perawatan intensif di Rumah Sakit Mitra Masyarakat (RSMM) Timika.

Kwamki Lama merupakan lokasi permukiman warga suku-suku dari wilayah pegunungan Papua. Di wilayah tersebut rawan terjadi perang suku.

Pada 2006, perang suku antara suku Damal dan Dani di Kwamki Lama berlangsung selama lebih dari empat bulan hingga menewaskan belasan orang dan ratusan lainnya luka-luka. (*)

COPYRIGHT

Situasi di Kwamki Lama Timika Memanas

Timika (ANTARA News) – Situasi di Kwamki Lama, Kelurahan Harapan, Timika, Papua memanas menyusul pembunuhan terhadap Dorkas Wandikbo, Senin (21/9) malam. Warga suku Damal yang bermukim di Jalan Mambruk Jalur III Kwamki Lama sejak semalam terus berjaga-jaga.

Guna mengantisipasi kemungkinan terjadi serangan dari pihak keluarga korban, aparat kepolisian dari Polres Mimika sejak Selasa pagi diterjunkan ke Kwamki Lama.

Menurut informasi yang dihimpun, pembunuhan terhadap Dorkas dilatarbelakangi masalah perselingkuhan.

Dorkas yang diduga berselingkuh dengan Jhon Kum pada Senin malam sekitar pukul 19.30 WIT tewas setelah ditikam oleh Elkin Uamang, keluarga Jhon Kum.

Korban mengalami luka pada rusuk bagian kanan. Seorang korban lainnya, Lusia Kum menderita luka karena terkena anak panah.

Kedua korban langsung dilarikan ke RSUD Timika, namun nyawa Dorkas akhirnya tidak tertolong.

Sedangkan Lusia telah dirujuk ke Rumah Sakit Mitra Masyarakat (RSMM) Timika untuk mengeluarkan anak panah dari tubuhnya.

Almarhumah Dorkas rencananya akan dimakamkan siang ini di Tempat Pemakaman Umum (TPU) di Kwamki Lama.

Usai pemakaman, kedua kubu yang bersitegang akan dipertemukan di rumah David Wandikbo untuk mencari solusi atas persoalan yang terjadi.

Kwamki Lama merupakan lokasi pemukiman warga suku-suku dari wilayah pegunungan Papua. Wilayah ini rawan terjadi perang suku.

Pada 2006, perang suku antara suku Damal dan Dani di Kwamki Lama berlangsung selama lebih dari empat bulan hingga menewaskan belasan orang dan ratusan lainnya luka-luka. (*)

COPYRIGHT

Kapolda Yakin, Pelaku Penembakan Segera Terungkap

JAYAPURA-Serangkaian kasus penembakan yang diawali kasus pembakaran yang terjadi di area obyek vital nasional PT Freeport Indonesia, Tembagapura, Timika, Kabupaten Mimika yang terjadi sejak pertengahan Juli hingga September 2009 ini masih terus menjadi perhatian serius aparat keamanan dan dalam hal ini Kapolda Papua meyakini pelakunya akan segera terungkap.

Keyakinan ini disampaikan Kapolda Papua Irjen Pol. Drs. FX. Bagus Ekodanto kepada wartawan di RM Borobudur di sela-sela buka puasa bersama dengan insan pers di Kota Jayapura, Kamis (17/9).

“Untuk kasus pembakaran dan serangkaian penembakan di Freeport itu, sebentar lagi mungkin pelakunya akan kita ungkap,” kata Kapolda Bagus Ekodanto didampingi Kabid Humas Kombes Pol Drs. Agus Rianto.

Kapolda menegaskan, para pelaku penembakan di area PT Freeport Indonesia ini diperkirakan ada 6 orang dari warga sipil dan saat ini masih dilakukan pengejaran.
Ditanya indikasi keterlibatan kelompok lain dalam serangkaian penembakan di Freeport itu? Kapolda mengakui belum mengetahui secara pasti. “Kami belum tahu, soal keterlibatan kelompok lain dalam kasus penembakan itu,” ungkapnya.

Soal motif penembakan di area obyek vital nasional itu, Kapolda mengatakan bahwa pada intinya yang diperoleh aparat kepolisian adalah pelaku berkeinginan agar PT Freeport Indonesia tutup atau tidak beroperasi lagi.

Hanya saja, lanjut Kapolda, pihaknya sudah melakukan upaya pendekatan dengan serikat buruh, karyawan, Komnas HAM dan dampaknya para karyawan tidak terpengaruh dengan adanya kasus penembakan di area PT Freeport Indonesia tersebut. Apalagi, karyawan sudah mengerti dan bersama-sama untuk melawan teror yang dilakukan oleh kelompok bersenjata tersebut.

Kapolda mengatakan, dari TNI sudah ada penambahan 600 personel dan saat ini tinggal surat perpanjangan saja, yang didatangkan dari Papua, sedangkan dari Polri didatangkan dari luar Papua.

Untuk pengamanan di Area PT Freeport Indonesia ini, jelas Kapolda, dilakukan di sepanjang mile, yang telah dibagi tugas dengan TNI. “Sebetulnya aktivitas dan mobilitas karyawan seperti biasa. Ya, jika ada kejadian, kadang-kadang manajemen menghentikan sementara, ya berhenti. Tapi, aparat tetap mengamankan mobilitas baik personel, handak dan logistik setiap hari tetap berjalan,” ujarnya.

Soal mile yang dianggap paling rawan, Kapolda mengakui bahwa kejadian itu selalu berubah-ubah tempatnya, hanya saja biasanya antara mile 41 dan mile 42, serta terakhir di Kali Kopi yang berada di luar Tembagapura.

Ditanya adanya informasi anggota TNI yang tertembak? Kapolda mengakui tidak ada, bahkan Kapolda balik menanyakan hal itu kepada wartawan. “Gak ada itu. Dari mana infonya,” tandas Kapolda.

Sementara dalam ceramah buka puasa yang disampaikan oleh Ustadz H. Muhammad Soleh antara lain mengatakan, setiap orang harus bisa mengendalikan hawa nafsunya. Sebab orang biasanya kalau diuji dengan harta masih belum goyah, tetapi ketika diuji dengan hawa nafsu, misalnya wanita, maka biasanya akan jatuh. “Hawa nafsu itu akan menyurut kepada kejahatan, karena itu waspadalah,” tegas ustadz mengingatkan.
Acara buka bersama ini juga dihadiri Wakapolda Papua Brigjen Pol. Drs. Achmad Riadi Koni,SH dan para pejabat teras Polda Papua lainnya. (bat/fud)

Up ↑

Wantok COFFEE

Organic Arabica - Papua Single Origins

MAMA Minimart

MAMA Stap, na Yumi Stap!

PT Kimarek Aruwam Agorik

Just another WordPress.com site

Wantok Coffee News

Melanesia Foods and Beverages News

Perempuan Papua

Melahirkan, Merawat dan Menyambut

UUDS ULMWP

for a Free and Independent West Papua

UUDS ULMWP 2020

Memagari untuk Membebaskan Tanah dan Bangsa Papua!

Melanesia Spirit & Nature News

Promoting the Melanesian Way Conservation

Kotokay

The Roof of the Melanesian Elders

Eight Plus One Ministry

To Spread the Gospel, from Melanesia to Indonesia!

Koteka

This is My Origin and My Destiny