Kapolres Jayapura Kota, AKBP, Imam Setiawan, SIK, saat melihat barang bukti, mobil jenis Kuda, yang ditembak oleh Orang Tak diKenal.JAYAPURA – Lagi-lagi aksi penembakan mengejutkan warga Kota Jayapura dan sekitarnya. Belum hilang dari ingatan kita, kejadian penembakan dan aksi pembantaian yang terjadi tanjakan Kampung Nafri beberapa waktu lalu, maka Kamis (11/8) kemarin, sekitar pukul 18.30 WIT, aksi penembakan kembal terjadi. Kali ini, menimpa sebuah kendaraan jenis Kuda, dilakukan oleh Orang Tak di Kenal di kawasan Abe Pantai. Mobil jenis kuda berwarna biru yang dikendarai oleh John Yoku, tersebut dihadang oleh Orang Tak di Kenal dan dihujani tembakan yang mengenai bagian depan kanan bawah mobil.
Setidaknya 8 peluru berhasil mengenai bagian mobil tersebut. Selanjutnya mobil dengan plat nomor DS 1897 AG tersebut diamankan di Mapolsek Abepura. Peristiwa penembakan ini tidak menimbulkan korban jiwa, sementara seorang sopir, John Yoku dan seorang penumpang wanita bernama, Ety Suebu, hingga berita ini dicetak, masih dalam pemeriksaan pihak kepolisian di Polsekta Abepura. Kapolres Jayapura Kota, AKBP Imam Setiawan, SIK, yang langsung meluncur ke Tempat Kejadian Perkara, sesaat setelah kejadian, menjelaskan kepada sejumlah wartawan bahwa,”Kejadian itu terjadi pada pukul 18.30 WIT, seorang pengendara kendaraan roda empat dengan jenis Mitsubishi Kuda dari arah Koya menuju ke Jayapura, saat melintas di Abe Pantai, mendapatkan serangan mendadak dari orang yang tidak dikenal, atau OTK, berupa serangan tembakan senjata api sebanyak delapan tembakan atau delapan sasaran perkenaan,” jelas Kapolres Jayapura Kota.
Ditambahkan, bahwa,”Pelaku penembakan itu adalah orang yang terdidik, atau biasa berlatih menggunakan senjata, hal itu bisa disimpulkan dari perkenaan tembakan yang betul-betul terbidik, dan saya juga memprediksi bahwa, itu adalah aksi dari kelompok yang mungkin terdesak, karena hari ini (kemarin) juga kita sedang melakukan pencarian pelaku kasus Nafri di Tanah Hitam dan sekitarnya, dan hingga saat ini, kami, sekitar 300 personil masih berada disekitar gunung Abe dan Tanah Hitam,” tambah AKBP, Imam Setiawan, SIK.s
Berdasarkan barang bukti dan keterangan pengendara mobil, pihak Kepolisian Resort Jayapura Kota, akan terus melakukan penyelidikan,”Karena kejadian ini dekat dengan pemukiman penduduk, jadi kami akan coba menggali informasi dari warga setempat, mungkin ada diantara mereka yang sempat melihat dan mengenali pelaku, siapapun itu pelakuknya, akan terus saya kejar dan saya akan mengambil langkah tegas, untuk itu kami juga akan bekerja sama dengan pihak TNI,”tegas Kapolres Jayapura Kota.
Sementara barang bukti yang telah berhasil diamankan oleh pihak Kepolisian adalah, beberapa proyektil yang menempel di badan atau body kendaraan, kemudian kendaraan atau mobil itu, dan dari proyektil yang sudah diamankan pihak Kepolisian, dan perkenaan sasaran tembak, Kapolres Jayapura Kota, memprediksi bahwa besar kemungkinan dari kaliber 56, dan kaliber 65 tersebut bisa dipakai di senjata api dengan jenis M16, dan bisa juga jenis SS1,” jelasnya. (cr-28/don/l03)
JAYAPURA–MICOM: Anggota Dewan Perwakilan Daerah Republik Indonesia Sophia Maypauw mengatakan serangkaian aksi kekerasan yang terus terjadi di Papua belakangan ini menjadikan penduduk setempat sebagai orang yang paling dirugikan dan selalu jadi korban.
“Saya berharap semua pihak yang selama ini pakai kekerasan segera menghentikan, sebab yang paling dirugikan dari seluruh peristiwa yang terjadi di tanah Papua dan Papua Barat adalah orang asli Papua sendiri,” ujarnya, di Jayapura, Selasa (9/8).
Ia menjelaskan semua kejadian kekerasan dan penembakan memberikan dampak buruk bagi orang asli Papua, seperti sangat berdampak pada ekonomi.
Sophia mencontohkan kejadian di Ilaga, Kabupaten Puncak, dan penembakan di Kampung Nafri, Kota Jayapura, pekan lalu, menyebabkan harga barang langsung naik drastis, dan orang asli Papua paling menderita karena berada dalam posisi ekonomi yang paling rendah di tanah ini.
“Harga barang melambung tinggi di Ilaga. Sementara di Jayapura sama juga, karena para pedagang dan pemasok sayuran dan buah terbesar dari Koya, yang harus lewat Kampung Nafri sebelum ke pasar. Mereka sudah takut akibat penembakan itu. Kasihan orang asli Papua akibat naiknya harga-harga barang itu,” jelasnya.
Kerugian dan beban paling berat lainnya yang harus dialami orang asli Papua sebagai konsekuensi kekerasan yang terjadi tanpa keinginan mereka itu adalah dengan peristiwa itu, stigma separatis dan lainnya akan terus dilabelkan pada orang Papua dari waktu ke waktu.
“Padahal kami terus berjuang di pusat agar pelabelan stigma ini harus dicabut dari orang asli Papua, agar perlahan mereka merasa menepuk dada sebagai Warga Negara Indonesia yang baik,” ujarnya.
Dalam kesempatan itu Sophia Maypauw juga meminta kepada aparat yang berwenang, agar segera mengungkap tuntas serangkaian kasus kekerasan di provinsi paling timur Indonesia itu. (Ant/OL-10)
VIVAnews — Hari belum terang. Masih pukul tiga pagi Waktu Indonesia Timur. Senin 1 Agustus 2011 itu sebuah angkutan umum melaju. Dari arah Yotefa di Jayapura menuju Arso kabupaten Keerom. Arso itu penuh kampung transmigran. Kawasan yang cukup rata ketimbang Jayapura yang berlembah bukit.
Tak ada yang janggal. Angkutan itu melaju seperti hari yang sudah-sudah. Tapi ketika melaju di jalan menurun di kampung Nafri mobil itu mendadak berhenti. Tak bisa melaju. Terhalang batang-batang kayu yang melintang di jalan.
Sang sopir kaget. Juga para penumpang. Sebab tak ada hujan badai yang menumbangkan kayu-kayu itu ke jalan. Kekagetan itu berubah kenggerian, ketika sejumlah orang yang menenteng bedil dan kapak mendadak muncul. Di keremangan pagi itu susah menghitung berapa banyak kawanan ini. Cuma bisa mengira sekitar 10 orang. Mereka muncul dari belakang angkutan.
Kampung Nafri yang dirimbuni pohon kelapa nan teduh, pagi itu tersaput kenggerian. “Terjadi penganiayaan, penembakan terhadap masyarakat yang ada di dalam angkutan,” kata Kepala Divisi Humas Markas Besar Polri, Irjen Anton Bachrul Alam di Mabes Polri, Jalan Trunojoyo, Senin 1 Agustus 2011.
Gerombolan itu memberondong pintu kanan mobil dengan 16 peluru. Mengenai sejumlah orang. Mereka luka parah. Yang belum tertembus peluru berusaha kabur. Tapi disabet parang dan kapak. Sebagian mengalami luka robek.
Para pembunuh yang mengamuk seperti sapi gila itu juga menghabisi nyawa dua penumpang Toyota Hilux DS 5851 AD yang juga melintas di tempat kejadian. Mereka tewas dibantai di dalam mobil dengan cara dibacok. Nyawa prajurit TNI dari Batalyon Infantri 756 Senggi, Pratu Dominikus Kerap, yang melintas di lokasi kejadian juga melayang.
Salah seorang warga yang menumpang taksi berplat DS 7117 A juga tewas dibunuh. Kemarahan gerombolan ini menewaskan empat orang, sejumlah orang luka berat dan dua orang luka ringan. “Semua korban sipil kecuali satu TNI, tapi dia sedang pakai pakaian preman,” kata Anton.
Apa motif gerombolan ini memang belum jelas. Polisi bilang motifnya adalah untuk mengganggu ketenangan masyarakat. Sebab dari aksi pagi buta itu, mereka tampaknya tidak menyasar kelompok tertentu.
Tapi siapa mereka juga belum dipastikan. Namun, polisi menemukan petunjuk: bendera Organisasi Papua Merdeka (OPM) yang tertancap di tempat kejadian perkara (TKP). “Mereka menancapkan bendera OPM di TKP,” tambah Anton.
Selain bendera bintang kejora berukuran 1×2 meter, polisi juga menemukan empat selongsong peluru . “Dilihat dari selongsong, biasanya peluru dari senjata laras panjang,”ujar juru bicara Polda Papua. Juga ditemukan tiga tombak kayu, 3 anak panah, 2 buah parang, dan 1 tulang Kasuari.
Dia menambahkan, polisi telah memeriksa lebih dari 5 saksi dalam kasus penghadangan dan penembakan itu. Polisi dibantu TNI masih berada di lokasi kejadian untuk melakukan pengejaran. Benarkah OPM belum pasti memang. Sejumlah tokoh OPM, seperti Moses Weror di Madang PNG, belum bisa dikontak VIVAnews.com.
Tapi kampung Nafri, entah kenapa menjadi salah satu titik paling didih di porpinsi paling timur itu. Kampung itu terletak di dekat kota Jayapura. Ini satu-satunya jalan masuk dan keluar Jayapura menuju kawasan transmigrasi di Arso dan perbatasan dengan Papua Nugini (PNG). Kampung ini terletak di pinggir laut.
Tak banyak warga pendatang di sini. Umumnya penduduk asli Papua. Meski penduduk asli di situ terkenal ramah, orang sering takut lewat daerah ini. Apalagi sendirian. Sebab kenggerian sering kali terjadi. Minggu 28 November 2010, misalnya, gerombolan orang tidak dikenal juga mencegat warga yang lewat di pagi hari.
Mereka menembak warga dengan bedil. Satu orang tewas dan sejumlah orang luka parah dan sekarat. Yang menggerikan adalah bahwa menurut Polda Papua, kawanan ini menenteng SS1, senjata yang tergolong canggih. Sempat beredar kabar bahwa para penyerang itu bukan OPM tapi sipil bersenjata. Siapa mereka belum jelas juga.
19 Orang tewas korban bentrok Ilaga
Papua belakangan ini kian memanas. Selain penembakan brutal di Nafri itu, juga terjadi kerusuhan di Ilaga, Kabupaten Puncak. Kerusuhan itu meletik semenjak Sabtu 30 Juli 2011. Puncak kerusuhan itu terjadi Minggu 31 Juli 2011, sekitar pukul 07.00 WIT.
Semula dikabarkan bahwa 17 korban tewas. Tapi hingga Senin sore, jumlah nyawa melayang sudah mencapai 19 orang. Beruntung, “Saat ini situasi sudah terkendali,” kata Kepala Divisi Humas Mabes Polri, Irjen Anton Bachrul Alam di Mabes Polri, Senin 1 Agustus 2011.
Anton memastikan bahwa kepolisian telah menurunkan satu pleton Brimob untuk menjaga lokasi bentrok. Jenazah korban bentrokan sudah dikembalikan ke keluarga untuk dimakamkan. “Polisi sedang melakukan olah TKP, mengumpulkan barang bukti dan saksi-saksi, kemudian akan dilanjutkan dengan pemeriksaan tersangka,” kata dia.
Kerusuhan di Ilaga dipicu proses tahapan Pilkada di kabupaten hasil pemekaran itu. Komisi Pemilihan Umum Daerah (KPUD) setempat menyebutkan bahwa ada dualisme rekomendasi dari partai Gerindra, untuk dua pasangan calon bupati.
”Ada dua rekomendasi yang dikeluarkan partai Gerindra, yakni untuk pasangan calon bupati Elvis Tabuni-Yosia Tembak dan Simon Alom-Heri Kosnai. Inilah yang kemudian memicu terjadinya bentrok, karena saling klaim mengklaim,”ujar anggota KPU Puncak, Herianus Pakage kepada wartawan di Jayapura.
KPUD Puncak, lanjutnya, membuka pendaftaran calon bupati pada 24-30 Juli 2011. Lalu kedua pasangan mendaftar. ”Awalnya, proses pendaftaran berjalan lancar, namun di akhir pendaftaran, bentrok kedua kubu terjadi,” jelasnya.
Pasangan Elvis Tabuni-Yosia Tembak mendaftar pada 26 Juli dengan rekomendasi DPC Gerindra Puncak. Lantas, 30 Juli, giliran pasangan Simon Alom-Heri Kosnai yang mendaftar dengan membawa rekomendasi DPP Gerindra. Kedua kubu saling tak terima. Polisi lantas berupaya menghalau, tapi kedua massa tetap bentrok. Pada kerusuhan Sabtu 30 Juli 2011, empat orang tewas terkena tembakan aparat.
Tidak terima, Minggu 31 Juli kubu Simon Alom melakukan penyerangan dan sebanyak 14 pendukung Elvis Tabuni, tewas. ”Kedua kubu bentrok dengan menggunakan parang, tombak dan panah,” kata Herianus.
Sampai saat ini situasi Ilaga Puncak masih mencekam. ”Kami anggota KPU memutuskan turun ke Jayapura karena situasi masih tegang, sekaligus untuk berkoordinasi dengan KPU Provinsi apakah menunda proses tahapan pilkada atau melanjutkannya,”kata dia. Jika tidak ada kerusuhan, KPU akan melangsungkan tahapan verifikasi pasangan calon pada Senin 1 Agustus.
Herianus Pakage melanjutkan, bentrok itu sama sekali tidak ada kaitannya dengan KPU, karena dualisme rekomendasi pasangan calon, adalah urusan internal partai. ”Kami hanya mengimbau, dualisme
rekomendasi itu diselesaikan secara internal oleh partai,”imbuhnya.
Ditemui terpisah, Partai Gerindra membantah jadi penyebab bentrok berdarah. “’Partai Gerindra hanya merekomendasi satu pasangan calon yakni Simon Alom-Heri Kosnai sebagai calon bupati yang diusung. Rekomendasi terhadap mereka langsung dikeluarkan Gerindra pusat,” ujar Wakil Ketua Partai Gerindra Provinsi Papua, yang juga ketua DPC Gerindra kabupaten Puncak, Amir Mahmud Madubun kepada wartawan, Senin 1 Agustus di Jayapura.
Menurut dia, sesuai dengan aturan partai, calon kepala daerah yang diusung bertarung di Pilkada, harus mendapat rekomendasi DPP Gerindra. Dan Simon Alom sudah mendapatkannya secara resmi. ”Yang diusung secara resmi oleh Partai Gerindra hanya Simon Alom,”singkatnya.
Terkait kerusuhan yang terjadi, lanjutnya, akibat dari sikap KPUD Puncak yang bertindak tidak netral. ”Gerindra hendak mendaftarkan pasangan Simon Alom-Heri Kosnai, tapi KPUD Puncak menolak, dengan alasan, ada dualisme rekomendasi. Mestinya, dalam tahapan pendaftaran, semua yang mendaftar harus diterima dulu, baru kemudian diverifikasi. Jika hasil verifikasi persyaratan tidak memenuhi aturan, baru dianggap tidak lolos.”
“Tapi, yang terjadi, saat kami mendaftarkan pasangan yang diusung partai secara resmi, KPU menolak dengan alasan, ada dualism rekomendasi, sehingga harus diselesaikan dulu secara partai. KPU kan
sudah kerja tidak sesuai aturan,” kata dia.
Menurut Madubun, yang juga menyaksikan kerusuhan antar dua kubu itu, karena sikap KPUD Puncak yang tidak netral, memancing emosi pendukung kedua kubu. ”Saat itu kami hanya diterima KPUD di halaman di luar pagar, tiba-tiba sekelompok massa dari pendukung pasangan calon Elvis Tabuni menyerang massa pendukung Simon Alom. Polisi mencoba menghalau, dengan mengeluarkan tembakan, tapi malah korban jatuh sebanyak empat orang, ”ungkapnya.
Ketika bentrok terjadi, lanjut dia, pihaknya berupaya menyelamatkan diri dari tempat kejadian, ke pos polisi terdekat. ”Karena situasi tiba-tiba tidak tekendali, kami pun ketakutan,”imbuhnya.
Setelah bentrok hari pertama dengan menewaskan empat warga, bentrok susulan kembali tejadi Minggu pagi yang menewaskan 15 warga. Selain itu rumah dan mobil milik Elvis Tabuni juga ikut dibakar massa. “Kami juga ketakutan, pasalnya untuk keluar dari Ilaga hanya bisa dengan pesawat, dan baru Senin pagi kami bisa keluar menuju Timika,” ungkapnya.
Gerindra, tambah dia, akan menggungat KPUD Puncak secara hukum, karena telah bertindak menyimpang dari aturan. ”Kami akan gugat KPU Puncak karena bekerja diluar mekanisme aturan yang ditetapkan,”imbuhnya.
Laporan: Banjir Ambarita| Papua
• VIVAnews
SENIN, 1 AGUSTUS 2011, 21:54 WIB Elin Yunita Kristanti, Nila Chrisna Yulika
JAYAPURA-Kerusuhan antar warga terjadi di Ilaga Kabupaten Puncak,Papua, Minggu31 Juli, sekitar pukul 07.00 WIT. Akibat kerusuhan itu17 orang tewas dan puluhan lainnyaluka-luka.
Juru Bicara Polda Papua, Kombes Wachyono ketika dikonfirmasi mengatakan, selain 17 orang tewas dan puluhan lainnya luka, sejumlah rumah dan kendaraan warga hangus dibakar. “ Tempat kerusuhan disekitarkantor DPRD setempat, hingga perumahan warga, satu unit mobil dinas DPRD Puncak,” jelasnya.
Menurut Wachyono, pihaknya belum mengetahui secara detail pemicu terjadinya bentrok massal itu. “Kami masih menyelidiki penyebab kerusuhan antar dua warga bermarga berbeda, yang menyebabkan belasanorang tewas,” terangnya.
Lanjut Wachyono, pihaknya juga masih kesulitan mendapat perkembangan terakhir terutama kondisi Ilaga. Karena akses ke sana sangat sulit dan hanya dengan pesawat itupun jika cuaca memungkinkan. “Hubungan kesana hanya dengan telepon satelit, sedangkan kami mendapat laporan dari sana melalui SSB. Akses kesana juga hanya bisa dengan pesawat,” paparnya.
Namun, dari informasi awal yang diterima, sambungnya, kerusuhan antara warga pendukung Elvis Tabuni Ketua DPRD kabupaten Puncak dengan pendukung Simon Alom, mantan karetaker Bupati Kabupaten yang baru di mekarkan itu. “Akibat kerusuhan itu Kelompok Elvis Tabuni tewas 13 orang, sedangkan pengikut Simon Alom 4 orang tewas,” ungkapnya.
Wachyono mengatakan, pihaknya belum mendapat laporan mengenai kronologis kejadian, baru sebatas hanya jumlah korban yang tewas.
Sementara dari informasi yang berhasil dihimpun, kerusuhan itu dipicu proses Pemilukada kabupaten Puncak yang saat ini sedang berlangsung. Elvis Tabuni dan Simon Alom ikut dalam proses tersebut.
Sementara Kepala Bappeda Kabupaten Puncak, Wellem Wandik ketika dikonfirmasi, membenarkan adanya kerusuhan massal di Ilaga.”Saya sedang di Jayapura tapi dari informasi yang saya peroleh memang ada kerusuhan, tapi detailnya, silahkan tanya Bupati atau Polda Papua,” tukasnya melalui telepon selelurnya.
Sementara penjabat Bupati Puncak Recky Ambrauw saat ini masih menjalani proses hukum, karena diduga memalsukan dokumen SK pengangkatakan dirinya sebagai penjabat Bupati Puncak. (jir/don/l03)
Korban penembakan, anggota TNIWakil Ketua Komnas HAM, Nur Kholis bersama rombongannya saat menjenguk anggota TNI yang menjadi korban penembakan di Puncak Jaya, di Rumah Sakit Marthen Indey, Jayapura, Sabtu (16/7).
JAYAPURA – Dari tujuh anggota TNI yang menjadi korban penembakan sipil bersenjata di Puncak Jaya yang kini dirawat di Rumah Sakit Marthen Indey, lima orang sudah mulai membaik, sedangkan dua lainnya masih kritis dan masih berada di Ruang ICU.
Hal ini sebagaimana dikatakan oleh dokter specialis orthopaedi dan traumatologi, Zuhri Efendi kepada wartawan di Rumah Sakit Marthen Indey, Sabtu (16/7).
“Dari 7 anggota TNI yang sudah dirawat di rumah sakit ini, lima korban kondisinya berangsur membaik, namun dua anggota masih mengalami kritis yaitu prada Kadek dan pratu Haiber Rivo. Dimana prada Kadek adalah korban baku tembak pada tanggal 5 Juli 2011 lalu di kampung Kalome Distrik Tingginambut Kabupaten Puncak Jaya yang mengalami luka tembak di bagian kaki kiri,” katanya.
Menurut dokter, Kadek mengalami patah tulang hasta dan kini masih dalam keadaan kritis sebab luka bekas tembakan itu mengalami infeksi. “Lukanya sudah berapa kali dilakukan upaya pembersihan dan kami juga sudah memasang 2 pen di kakinya,” katanya.
Sedangkan pratu Haiber adalah korban tembak pada tanggal 12 Juli 2011 lalu di kampung Pillia Distrik Tingginambut Puncak Jaya yang mana Haiber terkena tembak pada ibu jari jempol telunjuk dan jari tengah tangan kanan.
“Rencananya pratu Haiber akan dievakuasi ke Jakarta karena pembuluh darah pada tangan bekas luka tembak putus. Sementara lima korban lainnya yang berangsur-angsur membaik itu dirawat di ruang Buana I RS TNI-AD Marthen Indey ini,” ungkapnya.
Sementara itu, setelah sebelumnya melakukan pertemuan dengan Pangdam XVII/Cenderawasih, Sabtu (16/7) sekitar pukul 10.00 WIT, Komisi Nasional Hak Asasi Manusia (Komnas HAM) Pusat menjenguk TNI yang menjadi korban penembakan di rumah sakit TNI-AD Marthen Indey.
Pada kesempatan itu, Wakil Ketua Komnas HAM, Nur Kholis didampingi dua anggotanya yaitu Asri Oktavianty dan Siti Hidayawati, serta dari Komnas HAM Perwakilan Papua. Dalam kunjungannya ini, mereka ini didampingi oleh dokter RS Marthen Indey yaitu dr Zuhri Efendi,SpOT.
Dari pantauan Cenderawasih Pos, Wakil Ketua Komnas HAM Nur Kholis,SH,MH melakukan dialog singkat kepada anggota TNI yang tertembak dalam insiden penembakan di Distrik Tingginambut Kabupaten Puncak Jaya.
Salah satu korban itu adalah Pratu Sitorus. Saat dijenguk Komnas Ham itu, ia menceritakan bahwa pada saat kejadian, mereka sedang melakukan patroli dengan dipimpin oleh Letda Inf Jefri Satriansyah, yang juga tertembak.
Dalam aksi tembak menembak dengan sekelompok orang tak dikenal tersebut, diakuinya, sangat susah melakukan perlawanan, dikarenakan medan yang sangat susah dan jauh. “Sementara dari pihak mereka sudah menguasai medan. Maka saat mereka melakukan penembakan, mereka sudah memperhitungkannya serta melakukan penembakan dari beberapa arah, yang mana bisa dibilang arahnya seperti bentuk gunting, dan kami di tengah-tengahnya,” tutur Sitorus.
Partu Sitorus ini merupakan orang ketiga yang tertembak dari lima orang rekannya yang terkena tembakan. “Kami anggota TNI yang tertembak tanggal 12 Juli 2011 kemarin. Di mana saya mengalami luka serpihan tembakan pada kaki bagian paha kanan dan kiri,” terangnya.
Setelah kejadian itu, delapan anggota lainnya membantu hingga bisa membebaskan diri dari sekelompok orang bersenjata tersebut. “Sepanjang evakuasi terhadap kami, tembak menembak terus terjadi. Apalagi jarak ke pos sangat jauh. Bayangin aja dari pagi hari sampai ke malam hari sekitar pukul 21.00 wit baru sampai ke pos,” ucapnya.
Saat Wakil Ketua Komnas HAM bertanya, “Dari pengalaman kamu sebagai anggota TNI bisakah kamu memprediksi senjata apa yang dipakai sekelompok orang bersenjata tersebut?” Sitorus menjawab, saat itu sangat banyak suara tembakan, apalagi dari beberapa arah. Namun dari pengalamannya bisa dibilang bahwa senjata mereka seperti AK 47, M 16 dan juga Moser.
Kepada Cenderawasih Pos Praka Sitorus menegaskan, dirinya tidak merasa trauma atas kejadian yang dialaminya. “Sebagai TNI itu sudah resiko saya terkena tembakan, atau juga harus berkorban nyawa. Apalagi menjadi TNI adalah cita-cita saya dari kecil,” ucapnya.
Saat ditanya apakah kedua orang tua mengetahui bahwa dirinya tertembak? Ia menyatakan, biarlah rasa sakit ini menjadi risiko dirinya, dan kedua orang tua tidak merasakan maupun memikirkannya. “Sekali lagi saya bilang ini adalah risiko saya,” tegasnya.
Sementara dari sumber terpecaya Cenderawasih Pos, kondisi di Puncak Jaya pascapenembakan sudah mulai membaik dan kondusif. Namun aparat TNI dan Polri tampak berjaga-jaga dan juga berusaha mengejar pelaku penembakan tersebut. (ro/fud)
JAYAPURA – Korban penembakan oleh kelompok orang tak dikenal (OTK) yang terjadi di Philia, Distrik Tingginambut Kabupaten Puncak Jaya, Selasa (12/7) ternyta 5 orang, yang kesemuanya merupakan anggota TNI Yonif 753/AVT Nabire (lihat grafis).
Dari lima korban itu, empat orang di antaranya telah dievakuasi ke Rumah Sakit Marthen Indey, Jayapura, Rabu (13/7) kemarin. Mereka adalah Letda Inf Jefri Satriansyah, Pratu Haiber Rivo, Pratu Sitorus, dan Praka Nur Awete.Sedangkan Pratu Imanuel masih dirawat di Rumah Sakit Mulia karena hanya terkena serpihan.
Salah satu sumber terpercaya menceritakan, sulitnya medan di lokasi penembakan membuat proses evakuasi para korban mengalami kendala, sehingga dari kejadian pagi hari, sekitar pukul 20.15 WIT proses evakuasi baru sampai di Puncak Senyum. Selanjutnya dari Puncak Senyum para korban dievakuasi ke Rumah Sakit Mulia, dan Rabu (13/7) kemarin empat korban diterbangkan ke Jayapura dengan menggunakan helikopter MI 15 milik TNI AD.
Turut langsung dalam proses evakuasi tersebut Danrem 173/PVB Kolonel Inf. HP Lubis dan AS Ops Kasdam XVII Cenderawasih Pos Letkol Inf Kemal Hindrayadi. Di mana sekitar pukul 10.40 helikopter itu tiba di Jayapura dan mendarat di lapangan golf Kodam XVII Cenderawasih.
Dari pantauan Cenderawasih Pos, para korban itu selanjutnya dibawa ke Rumah Sakit Marthen Indey sekitar pukul 11.00 WIT. Tidak menggunakan mobil ambulan, melainkan Kijang berwarnah biru dengan DS 960 FM.
Mobil itu datang tanpa pemeriksaan petugas yang berjaga dan langsung masuk ke belakang rumah sakit, sehingga wartawan susah untuk mengambil gambar para korban itu.
Seorang anggota TNI yang berpangkat Kopral saat berjaga mengatakan kepada wartawan untuk tidak meliput atau mengambil gambar di daerah pekarangan rumah sakit.
Sementara kronologi penembakan itu bermula saat TNI dan Polri melakukan penelusuran untuk menyergap markas TPN/OPM yang dipimpin Goliat Tabuni. Kemudian terjadi perlawanan oleh TPN/OPM, yang akhirnya 5 anggota TNI terkena tembakan.
Di tempat terpisah, Kabid Humas Polda Papua Kombes Pol Wachyono saat dikonfirmasi wartawan mengatakan bahwa suasana di Puncak Jaya kini sudah mulai membaik dan kondusif. “Dari suasana yang sudah mulai membaik ini, saya harapkan hal ini terus membaik dan bisa diredam,” katanya.
pascapenembakan itu, belum ada rencana dari Polda Papua untuk menambah Polri atau Brimob untuk membantu ke daerah Puncak Jaya itu. “Kami tetap siaga dalam menyikapi situasi pascapenembakan, baik dari Polsek maupun Polresnya,” terangnya.
Saat disinggung tentang anggota Polri Briptu M. Yazin anggota KP3 Bandara Mulia Puncak Jaya yang tertembak beberapa pekan yang lalu di bandara Mulia serta senjatanya hilang, apakah korban sudah sembuh dan sudah pulang ke Jayapura dan apakah pelakunya ada sangkut pautnya dengan penembakan ini? Kabid Humas menjelaskan bahwa korban masih di Rumah Sakit Bhayangkara Kramatjati Jakarta untuk mendapat perawatan.
“Hingga saat ini korban sudah membaik, namun untuk berbicara hingga saat ini saya belum mendapat informasinya. Tapi yang jelas saat ini korban sudah berangsur pulih kesehatannya,” katanya.
Sedangkan terkait kasusnya, masih dalam penyelidikan dan pengejaran. “Pelaku harus tetap dikejar dan ditangkap untuk mempertanggungjawabkan perbuatannya. Namun jika memikirkan apakah pelakunya adalah kelompok yang kini genjar melakukan penembakan, kami belum bisa memastikan hal tersebut, sebab kami tidak mau berandai-andai. Yang jelas kami akan terus menjaga pengamanan di bandara lebih ekstra lagi,” tegasnya. (ro/fud)
JAYAPURA [PAPOS]- Tangkap separatis berdasi, itulah tulisan pada spanduk yang akan dibentangkan oleh Badan Esekutif Mahasiswa (BEM) Uncen dalam aksi demo damai di kantor DPRP dalam rangka memperingati hari anti korupsi se-dunia Kamis (9/12) hari ini.
Mahasiswa Uncen bersama Aliansi Pemuda dan Mahasiswa Papua Anti Korupsi akan mendatangi kantor DPRP untuk menyampaikan aspirasi tentang penanganan kasus kerupsi di Papua. Aksi demo damai tersebut di koordinir oleh Ketua Bem Fakultas Hukum, Thomas Syufri dan Ketua Aliansi Pemuda dan Mahasiswa Papua anti Korupsi Kaleb Woisiri.
Kepada wartawan di Seketariat BEM Uncen, Rabu (8/12) kemarin, Thomas Syufri selaku koordinator aksi mengatakan, aksi yang dilakukan oleh mahasiswa Uncen dan Aliansi Pemuda dan Mahasiswa Papua anti Korupsi, mengingat pada tanggal (9/12) hari ini, merupakan hari anti korupsi se-dunia.
Sebagai kaum intelettual dan sebagai fungsi kontrol pembangunan di Papua mahasiswa Papua menilai kasus korupsi semakin merajalela di Papua, namun upaya untuk memberantas kasus korupsi sangat minim. Hal tersebut membuat kami mahasiswa di Papua tergerak hati untuk menyeruhkan kepada pemerintah maupun penegak hukum agar serius dalam penangan kasus korupsi di Papua, tindakan mahasiswa untuk mengingatkan pemerintah dan penegak hukum melalui aksi demo damai yang dilakukan hari ini. Mahasiswa akan memintah DPRP selaku wakil rakyat di Papua untuk mendesak pemerintah dan penegak hukum mengusut seluruh kasus korupsi di Papua yang belum di usut.
“Mereka adalah separatis berdasi yang duduk di kursi empuk, makan uang rakyat sehingga rakyat menderita,” ujar Thomas Syufri.
Sementara itu Ketua Aliansi Pemuda dan Mahasiswa Papua Anti Korupsi Kaleb Woisiri mengatakan, beberapa kasus korupsi yang data-data sudah muncul seperti kasus Hatari dan kasus Jhon Ibo namun tiba-tiba langsung tenggelam, untuk itu kami mahasiswa Papua dalam aksi hari ini, meminta DPRP mendesak penegak hukum menuntaskan kasus korupsi di Papua yang sudah nyata di mata.
Kata Wasiri, mahasiswa telah menyiapkan pokok pikiran untuk disampaikan kepada DPRP untuk ditindak lanjuti kepada pemerintah Provinsi Papua dalam hal ini Gubernur serta Polda Papua untuk serius menangani kasus korupsi.[eka]
Written by Eka/Papos
Thursday, 09 December 2010 00:00
Kombes Pol. WachyonoJayapura – Meski diberitakan, perayaan 1 Desember di seluruh Tanah Papua kondusif, namun ternyata sempat diwarnai penembakan yang menewaskan satu korban, di Distrik Bolakme, Jayawijaya, Rabu (1/12). Kabid Humas Polda Papua Kombes Pol. Wachyono membenarkan adanya kasus penembakan seperti yang diberitakan media tersebut. “Memang ada laporan dari Kasat Reskrim Polres Jayawijaya, terkait insiden penembakan itu. Tapi berkaitan dengan motif penembakan dan upaya hukum selanjutnya kita perlu koordinasi dengan pihak TNI, sebab kejadian ini kan pada saat dilakukan patroli gabungan,” ujar Wachyono kepada wartawan di ruang kerjanya, Jumat (3/12) kemarin.Dalam patroli tersebut, diakui Wachyono memang ada dua anggota Polisi dari Polsek Bolakme yang turut serta dengan beberapa aparat TNI dari Batalyon 755 Merauke untuk melakukan pengamanan dalam rangka peringatan HUT Papua 1 Desember di wilayah tersebut. “Memang saat itu ada dua anggota kami yang turut serta dalam patroli,” akunya seraya menambahkan untuk informasi lebih detail lebih baik wartawan menanyakan langsung ke pihak TNI.
Sementara itu berdasarkan informasi dari nara sumber kami, diketahui penembakan bermula dari informasi bahwa ada masyarakat yang menyembunyikan lima pucuk senjata. Selain itu diperoleh pula informasi akan adanya pengibaran bendera Bintang Kejora pada perayaan HUT Papua Merdeka 1 Desember. Berdasarkan informasi itulah, kemudian aparat TNI dari Satgas Batlyon 755 yang bertugas melakukan pengamanan di wilayah tersebut mengajak serta anggota Polisi yang bertugas di Polsek Bolakme untuk bersama sama melakukan patroli.
Setibanya di lokasi yang dicurigai akan ada pengibaran Bintang Kejora, ternyata ditemukan warga sedang beribadah. Petugas pun menanyakan kepada masyarakat perihal informasi yang diterima. Namun entah bagaimana awalnya, tiba tiba terjadi penembakan yang akhirnya menewaskan satu orang warga bernama Atili Wenda (35) terkena luka tembak di bahu kiri, dan melukai satu orang lainnya bernama Melus Tabuni (46) luka tembak di bahu kiri tembus belakang, hingga berita ini diturunkan masih dirawat di Puskemas Bandua, Bolakme.Di tempat terpisah, Kapendam XVII/Trikora, Letkol CZI Harry Priyatna membantah adanya dua korban terkena tembakan saat dilakukan patrol. Bahkan, katanya justru pihak masyarakat yang melakukan penyerangan lebih dulu.”Mereka lebih dulu menyerang petugas yang sedang patroli, makanya untuk membela diri dikeluarkan tembakan,” kata Kapendam kepada wartawan kemarin.
Dia juga mengaku belum memperoleh informasi lebih detail, terkait insiden penembakan ini. (ar/don/03)
Tepat di Jalan dari Abepura menuju ke Papua New Guinea (PNG( West Papua Revolutionary Army (Tentara Revolusi West Papua) Menyerang Tentara Nasional Indonesia menyebabkan seorang anggota TNI tewas dan 6 orang lainnya dirumah sakit.
Dari pantauan WPMNews pasukan Brimob, dari Yonif 751 dan satuan angkatan lainnya dari NKRI sedang dikerahkan menuju tempat kejadian dan kini kontak senjata terus berlanjut.
Dimohon kepada seluruh rakyat Papua agar memberikan DOA dengan cara:
1. Berdoa dan berpuasa;
2. Memberikan dukungan dana dan tenaga
3. Memberikan dukungan dukungan moril dan kegiatan2 lainnya di kota-kota untuk mendukung kegiatan gerilya dimaksud.
Penyerangan ini dilakukan atas komando Panglima Tertinggi Komando Revolusi TRWP atau WPRA Gen. Mathias Wenda berbasis di Vanimo, PNG.
Demikian sekilas info ini disampaikan dari meja redaksi WPMNews berdasarkan laporan dari Wakil Sec.Gen. Markas Pusat TRWP, Col. TRWP Yalpi Yikwa.
Jayapura [PAPOS] – Wilayah Distrik Tiginambut, Kabupaten Puncak Jaya, hingga kini masih rawan penyerangan oleh kelompok bersenjata yang tidak dikenal.
Hal ini diungkapkan Bupati Puncak Jaya, Lukas Enembe, di Jayapura, Jumat, terkait penyerangan dengan membakar sebuah mobil pada tiga hari lalu.
"Biasanya mobil yang masuk ke Puncak Jaya dari Wamena sekitar 20 sampai 30 mobil, untuk lewat jalur ini," katanya.
Ia menambahkan, penyerangan sebelumnya terjadi pada 4 mobil yang melintas dengan tujuan Wamena, namun tiba di Tingginambut mereka dihadang tembakan dari kelompok sipil bersenjata.
"Mungkin mereka yang lewat merasa yakin, akan tetapi sebenarnya sangat bahaya," katanya.
Enembe mengakui, dalam mengendalikan wilayah ini, kemampuan TNI dan polisi sangat kuat, namun medan dan alam di sana "dikuasai" kelompok tak dikenal ini.
Untuk mengejar para pengacau keamanan di wilayah Tingginambut, Lukas mengatakan perlu ada perencanaan yang baik, termasuk jika ingin melakukan pengejaran, karena kelompok ini menguasai alam di Tiginambut.
Dia mengatakan, kalau hanya aparat menjaga di sepanjang jalan, tidak akan menyelesaiakan masalah.
Terkait kasus-kasus penyerangan di Tiginambut, Pemerintah Daerah Kabupaten Puncak Jaya telah memperpanjang imbauan dan ultimatum. Yakni meminta kelompok bersenjata di hutan untuk menyerahkan diri dan kembali membangun daerah.
"Semua pendekatan sudah dan akan terus kami lakukan, bahkan berupa imbauan, akan tetapi ini menyangkut idiologi yang sudah tertanam puluhan tahun," ungkap Enembe, yang juga Ketua Partai Demokrat Provinsi Papua.
Daerah Puncak Jaya, kata dia, memang selalu terjadi penyerangan, baik bagi masyarakat maupun aparat keamanan di sana dalam beberepa tahun terakhir.
"Kelompok ini ada yang berjuang untuk kemerdekaan, tetapi ada juga yang ikut karena gagal jadi anggota dewan atau bupati, termasuk ada yang dendam karena perang antarsuku," katanya.
Sementara itu, Danrem 172/PYJ, Kolonel TNI. Daniel Ambat saat acara pertemuan dengan para wartawan di Aula Korem 172/PYJ, Kamis (29/7) lalu mengatakan, bahwa kondisi keamanan wilayah Papua masih termasuk kondusif dibandingkan dengan daerah lain di Indonesia. Menyangkut adanya serangan pihak sipil bersenjata di Tingginambut menurutnya adalah merupakan tindakan perampokan, sama seperti yang terjadi dikota-kota besar di Indonesia.
“ Aksi-aksi itu sama halnya seperti aksi perampokan yang terjadi dikota besar. Mereka merampok dengan memakai senjata,” katanya seraya menambahkan kalau masalah keamanan di Papua cukup aman. [ant/agi]