Jayapura, Kompas – Polisi terus mengembangkan penyidikan terhadap kasus penganiayaan terhadap Kapten Tasman M Nur (54), perwira pertama Bintal Komando Daerah Militer XVII Cenderawasih. Anggota TNI Angkatan Darat tersebut ditemukan tewas pada Selasa pagi dengan sejumlah luka tusukan di tubuhnya.
Kepala Bidang Humas Kepolisian Daerah Papua Komisaris Besar Wachyono, Selasa (23/8) malam, mengatakan, pihaknya terus mengusut menangani kasus ini, menyusul tertangkapnya dua tersangka pelaku.
Sebagaimana diberitakan, Kapten Tasman M Nur pada Selasa pagi ditemukan tewas di Jalan Baru, Kampwalker, Waena, Jayapura, Papua. Korban diduga dianiaya dua pemalak di kawasan itu.
Menurut keterangan yang dihimpun, kejadian itu berlangsung ketika korban hendak melintas di jalan itu menuju tempatnya berdinas, dengan sepeda motor bernomor polisi DS 2605 AY. Tiba-tiba, dua pemalak menahan korban dan tanpa banyak bertanya langsung menikam korban dengan senjata tajam.
Korban sempat berusaha melarikan diri, tetapi pelaku kembali menyerang hingga korban pun tersungkur dan meninggal di tempat, sekitar 30 meter dari posisi kendaraannya.
Saksi mata segera melaporkan kejadian itu kepada patroli polisi di Perumnas 3 Waena. Polisi segera mengejar pelaku dengan menyisir lokasi kejadian. Polisi akhirnya menangkap YW dan AT, yang diduga pelaku penganiayaan itu.
Kepala Penerangan Kodam XVII Cenderawasih Letkol Ali H Bogra mengatakan, pihaknya menyerahkan seluruh penyidikan kasus itu kepada polisi. Selasa sekitar pukul 16.00 WIT, jenazah Tasman diterbangkan ke Jakarta menggunakan pesawat Merpati. Menurut Bogra, jenazah akan dikebumikan di Jakarta.
Panglima Kodam XVII Cenderawasih Mayjen Erfi Triassunu, melalui Bogra, menyatakan prihatin atas kejadian tersebut. Pangdam berharap kejadian itu tidak terulang kembali.
”Kami menyerahkan kepada polda dan pelaku ditindak sesuai dengan ketentuan yang berlaku,” kata Bogra mengutip Pangdam Cenderawasih. (JOS)
Kapten (Inf) Tasman, anggota TNI AD dari Satuan Bintal Kodam XVII/CenderawasihJayapura — Tindak kekerasan dan kejahatan di Kota Jayapura yang memakan korban jiwa kembali terjadi, kali ini nasib naas menimpa Kapten (Inf) Tasman, anggota TNI AD dari Satuan Bintal Kodam XVII/Cenderawasih.
Selasa (23/8) pukul 07.00 WIT bertempat di Jalan Baru Camp Wolker Perumnas III Kelurahan Yabansai Distrik Heram telah terjadi penikaman dan pembacokan terhadap anggota TNI-AD atas nama Kapten (Inf) Tasman Perwira Pembinaan dan Mental (Bintal) Kodam XVII Cenderawasih oleh dua orang pelaku yang tak di kenal. Menurut keterangan salah seorang saksi kepada polisi, sekitar pukul 07.00 WIT saksi melintasi daerah jalan baru dari arah Kotaraja menuju Perumnas III Waena, namun beberapa meter di depannya saksi melihat korban dengan seragam dinas lengkap menggunakan sepeda motor Honda Vario DS 2605 AY yang saat itu berada di depannya di datangi oleh dua orang tak di kenal.
Kemudian kedua pelaku langsung melancarkan aksinya dengan menikam korban dengan menggunakan pisau di bagian perut juga di bacok oleh pelaku dengan menggunakan parang, saat itu juga korban terjatuh setelah kedua pelaku melihat korban jatuh dan tak berdaya lagi kedua pelaku langsung melarikan diri.
karena kaget dan terkejut setelah melihat kejadian tersebut saksi putar arah kembali kea rah kantor Walikota untuk mengamankan diri, namun selang beberapa waktu setelah menenangkan dirinya dan merasa situasi aman saksi kembali kearah Waena dan langsung melaporkan kejadian tersebut ke pos polisi di Perumnas III.
Setelah itu pukul 07.00 WIT anggota Patroli Motor (PATMOR) Perumnas III langsung menuju Tempat Kejadian Perkara (TKP) dan terdapat korban telah dalam keadaan tak bernyawa lagi .
Korban meninggal dunia dengan mengalami luka tusuk di bagian di perut, luka tusuk di bagian punggung sebelah kiri, serta ibu jari sebelah kiri tergores .
Kapolresta Jayapura AKBP H Imam Setiawan kepada wartawan membenarkan kejadian tersebut, menindaklanjuti laporan saksi, polisi langsung menutup jalan masuk dan keluar ke lokasi untuk mencari pelaku dan, seorang berinisial JW yang di duga kuat sebagai pelakunya berhasil di amankan polisi.
“pelaku yang satunya lagi masih dalam pengejaran oleh aparat kepolisisan” kata Kapolresta kepada wartawan kemarin siang di Mapolresta Jayapura.
Namun berdasarkan release yang diterima Bintang Papua dari Kodam XVII Cenderawasih semalam, disampaikan dua orang yang di duga kuat sebagai tersangka telah berhasil di amankan hasil pengembangan penyelidikan terhadap JW.
“tim gabungan TNI dan Brimobda Papua mendatangi salah satu rumah yang diduga sebagai rumah pelaku di belakang Bhayangkara, seorang berinisial AT (28 tahun) di tangkap dengan barang bukti dua kaos putih dan biru satu jean biru yang diduga digunakan pelaku”, kata Pangdam XVII Cenderawasih Mayor Jenderal (Mayjend) TNI Erfi Triassunu dalam releasenya semalam.
Kapolresta Jayapura AKBP Imam Setiawan via SMS sekitar pukul 22.00 WIT mengatakan hingga kini baru 1 orang tersangka yang di tahan, menurutnya dugaan sementara motif pembacokan adalah kriminal murni, dimana pelaku sempat “memalak” korban namun kemungkinan karena korban melawan atau menolak permintaan pelaku sehingga pelaku nekat membacok korban hingga tewas.
Atas kejadian tersebut, Pangdam XVII/Cenderawasih Mayor Jenderal TNI Erfi Triassunu merasa prihatin dengan jatuhnya korban prajurit, sekaligus mengutuk tindakan biadab pelaku yang sama sekali tidak mengindahkan norma-norma agama dan kemanusiaan. Pangdam XVII/Cenderawasih menyerahkan sepenuhnya penanganan kasus tersebut pada Polda Papua sehingga dapat diungkap motif tindakan pelaku. Kepada seluruh prajurit, Pangdam memerintahkan agar tidak terpancing aksi provokasi yang memang sedang dilakukan oleh kelompok-kelompok yang tidak menginginkan Papua sebagai tanah Damai, kendalikan diri dan hindari aksi balas dendam secara orang perorang maupun kelompok. Namun demikian seluruh prajurit harus terus waspada pada setiap kegiatan, dan lakukanlah tindakan yang mengancam diri maupun kelompok sesuai prosedur tetap yang telah digariskan.
Kepada seluruh elemen masyarakat pecinta damai, Pangdam XVII/Cenderawasih mengajak agar secara sinergis bekerjasama dengan aparat keamanan, untuk menciptakan rasa aman melalui pengamanan swakarsa dilingkungan masing-masing serta melaporkan kepada pihak berwajib atas terjadinya aksi kekerasan maupun segala gejala yang memungkinkan terjadinya aksi kekerasan. Pangdam juga menyampaikan terimakasih atas cepatnya saksi melapor kepada pihak berwajib sehingga para pelaku dengan cepat dapat tertangkap.
Sementara Wakil Ketua Komnas HAM Perwakilan Papua menjawab pesan singkat yang di kirimkan Bintang Papua semalam mengatakan turut berduka cita atas kejadian yang menimpa salah satu perwira Kodam tersebut dan mendesak kepada kepolisian untuk menangkap pelaku dan mengungkap motifnya. (cr-32/amr/l03)
Aparat kepolisian dan TNI usai berhasil menurunkan bendera Bintang Kejora di perbukitan belakang Kompleks BTN Puskopad, Kamkey, Distrik Abepura, Kota Jayapura, Selasa (16/8) kemarin.
JAYAPURA – Sementara itu, peringatan Hari Ulang Tahun (HUT) Kemerdekaan Republik Indonesia yang ke-66 di Kota Jayapura, Rabu (17/8) kemarin dinodai adanya pengibaran bendera yang diklaim sebagai bendera Bangsa Papua Barat yaitu Bintang Kejora, di perbukitan Tanah Hitam, tepatnya di RT 04/RW 03 Kelurahan Asano, Distrik Abepura, Kota Jayapura.
Sehari sebelumnya, tepatnya Selasa pagi (16/8), kelompok kriminal bersenjata itu juga menancapkan dua bendera Bintang Kejora di Perbukitan BTN Puskopad, Abepura. Aparat pun berhasil mengamankan bendera-bendera Bintang Kejora itu, meski harus mengeluarkan tembakan-tembakan agar kelompok sipil bersenjata itu tidak mengganggu saat aparat menurunkan bendera Bintang Kejora itu.
“Kami menduga kalau Bendera Bintang Kejora (di perbukitan Tanah Hitam,red) itu sudah dikibarkan sejak Subuh, tapi baru diketahui oleh sejumlah warga sekitar pukul 09.00 WIT. Itu pun kami langsung melaporkannya ke polisi,” ungkap salah seorang warga bernama Alan kepada Cenderawasih Pos, Rabu (17/8).
Setelah mengetahui adanya aksi pengibaran bendera itu, sekitar pukul 09.00 WIT aparat kepolisian yang dibackup Brimob langsung menuju lokasi dan sekitar pukul 11.00 WIT bendera tersebut berhasil diturunkan oleh Kasat Narkoba Polres Jayapura Kota, AKP. Agustinus, SH dengan cara memanjat pohon karena bendara itu dikibarkan tepat di atas pohon.
Dari pantauan Cenderawasih Pos di lapangan, aparat kepolisian ketika hendak menurunkan bendera tersebut mengeluarkan tembakan ke arah perbukitan tempat lokasi bendera dikibarkan.
Ketika dikonfirmasi wartawan di Mapolsek Abepura Kota, Kapolres Jayapura Kota, AKBP. H. Imam Setiawan, SIK mengakui, ada beberapa informasi yang berkaitan dengan penggagalan pelaksanaan upacara HUT Kemerdekaan RI wilayah di Kota Jayapura dan ternyata informasi tersebut tidak terbukti karena kesiagaan aparat keamanan yang bekerjasama dengan masyarakat.
“Saya memberikan apresiasi bahwa tidak terbuktinya dari kelompok tertentu yang ingin menggagalkan pelaksanaan upacara HUT Kemerdekaan RI kali ini. Saya tegaskan kalau upacara HUT Kemerdekaan RI berjalan aman, lancar, tertib dan tidak ditemukan adanya penggagalan sebagaimana informasi yang beredar,” tegasnya.
Menyoal pengibaran bendera di Tanah Hitam, menurut Kapolres bahwa hal itu tidak bermakna apa-apa, bahkan tidak mempengaruhi NKRI di Papua dan dianggap sebagai simbol-simbol kain yang tidak bermakna.
“Pengibaran bendera itu hanya memprovokasi, namun sayangnya masyarakat tidak terpengaruh tapi malah menganggap hal yang tidak perlu dikhawatirkan. Untuk itu, pada kesempatan ini saya mengucapkan terima kasih kepada masyarakat yang sudah kembali mengaktifkan pamswakarsa (siskamling) sehingga tercipta rasa aman,” imbuhnya.
Disinggung soal perkembangan kasus penembakan di Kampung Nafri, Kapolres menjelaskan, untuk kasus Nafri I dan II saat ini pihaknya sedang melakukan pengejaran karena pihaknya sudah bisa mengidentifikasi siapa pelakunya sehingga hanya tahap pengejaran. Ditambahkannya, dalam waktu dekat ini sketsa wajah pimpinan pelaku penembakan Danny Kogoya beserta 19 pengikutnya termasuk salah seorang pelaku bernama Lambert Siep yang diketahui sebagai Kepala Bagian Operasi di wilayah Kota Jayapura akan diterbitkan dalam bentuk Daftar Pencarian Orang (DPO) dan akan disebar ke seluruh penjuru.
Sementara itu Selasa (16/8) pagi, kelompok sipil bersenjata itu menganiaya seorang warga di Kompleks BTN Puskopad Lama, Kamkey, Distrik Abepura, Kota Jayapura. Akibatnya korban terkena panah di bagian punggung sebelah kanan tembus ke bagian depan, namun beruntung, korban berhasil diselamatkan kemudian langsung dilarikan ke rumah sakit guna mendapatkan perawatan medis.
Setelah memanah korban, para pelaku langsung melarikan diri ke arah perbukitan di belakang komplek tersebut. Selanjutnya para pelaku begerak menuju perbukitan sambil menancapkan dua buah Bendera Bintang Kejora ukuran 180 x 140 cm dan 100 x 50 cm di tempat yang tidak berjauhan antara pepohonan.
Aparat keamanan gabungan baik itu dari TNI dan Polri dipimpin Kapolres Jayapura Kota, AKBP. H. Imam Setiawan, SIK dan Dandim 1701/JPR, Letkol ARM. Ihutma Sihombing yang mengetahui kejadian tersebut kemudian langsung melakukan pengejaran terhadap pelaku namun sayangnya para pelaku sudah lebih dulu melarikan diri sehingga aparat hanya berusaha menurunkan dua buah bendera tersebut.
Cenderawasih Pos yang saat itu ikut dalam proses pengejaran dan penurunan dua buah bendera tersebut melihat upaya yang dilakukan aparat keamanan cukup gigih, meskipun saat itu Kota Jayapura dilanda hujan. Bahkan masyarakat yang di sekitar lokasi sangat takut dikarenakan adanya isu yang dilontarkan orang tidak bertanggungjawab soal adanya suara tembakan, kemudian ironisnya lagi bahwa sejumlah sekolah mulai dari TK sampai SMA/SMK terpaksa memulangkan siswanya karena ketakutan mendengar suara tembakan.
Sekitar pukul 07.00 WIT, aparat gabungan berhasil menurunkan sebuah bendera Bintang Kejora kemudian sekitar pukul 09.00 WIT satu bendera lagi berhasil diturunkan, namun dalam proses penurunan bendera tersebut aparat gabungan terlihat mengeluarkan tembakan ke udara guna memberikan perlawanan kepada kelompok tersebut.
Kapolres Jayapura Kota mengatakan, kelompok sipil bersenjata ini sudah menunjukkan eksistensinya.
“Dokumen-dokumen yang sudah kita temukan, ternyata mereka ini adalah kelompok TPN/OPM pimpinan Danny Kogoya yang selama ini mengganggu ketertiban umum yang akibatnya banyak korban,” ungkapnya kepada wartawan usai turun dari perbukitan.
Kapolres juga mengakui bahwa kelompok TPN/OPM pimpinan Danny Kogoya ini telah mengibarkan dua buah bendera Bintang Kejora di dua perbukitan belakang Komplek BTN Puskopad Lama. Sehingga setelah berkoordinasi dengan pihak TNI maka aparat gabungan langsung melakukan pengejaran di sekitar lokasi pengibaran bendera tersebut.
Untuk memberikan ketenangan kepada masyarakat Kota Jayapura khususnya di sekitar lokasi maka pihaknya bersama aparat TNI akan menyiagakan dan menempatkan sejumlah anggota sampai dengan situasi aman. Oleh karena itu, Kapolres menghimbau kepada masyarakat supaya tetap tenang dan bekerjasama dengan aparat keamanan untuk memberikan informasi yang berkaitan dengan gerakan kelompok tersebut. Bukan hanya itu, Kapolres juga menghimbau kepada masyarakat supaya meningkatkan keamanan masing-masing termasuk lingkungan dan keluarga bahkan masyarakat harus menghidupkan kembali pamswakarsa (siskamling).
“Masalah keamanan adalah tanggungjawab kita bersama meskipun inti dari kamtibmas itu adalah tugas aparat keamanan namun perlu adanya kerjasama masyarakat untuk mewujudkan rasa aman dengan memberikan informasi, kemudian peka terhadap situasi dan hidupkan kembali siskamling. Saya berjanji akan berupaya semaksimal mungkin dengan segala keterbatasan yang ada untuk memberikan kenyamanan kepada masyarakat,” imbuhnya.
Kapolres menegaskan, pihaknya telah memberikan perintah tegas baik itu kepada anggota polisi maupun TNI untuk tidak ragu-ragu mengambil tindakan tembak di tempat apabila menemukan kelompok itu melakukan perlawanan. Hal ini dilakukan, kata Kapolres, karena masyarakat sudah banyak menjadi korban sehingga saat ini pihak pemerintah harus mengambil sikap tegas meskipun ada beberapa oknum-oknum dari masyarakat tertentu mengucilkan aparat keamanan dalam kasus ini, namun yang jelas untuk kasus ini perlu tindakan tegas.
Sementara itu Wali Kota Jayapura Drs. Benhur Tommy Mano,MM saat ditemui Cenderawasih Pos usai malam resepsi HUT RI di Gedung Serba Guna Kantor Wali Kota Jayapura tadi malam mengaku cukup prihatin dengan berbagai kasus penembakan yang terjadi belakangan ini di Kota Jayapura tercinta ini, karena banyak warga kota menjadi tidak aman dalam melakukan berbagai aktivitasnya, baik itu berkebun, berdagang, nelayan dan sebagainya.
Oleh sebab itu pihaknya mendorong aparat keamanan untuk menuntaskan masalah ini dan mencari akar masalahnya. “Sebagai umat Tuhan kita harus banyak berdoa, agar Tuhan memberikan jalan dan menghindarkan dari masalah-masalah ini, sehingga kita dapat bekerja dengan aman dan damai,” harapnya.
Pihaknya juga bekerjasama dengan aparat keamanan untuk membangun pos polisi di Nafri dan sesuai rencana Kamis (18/7) pagi ini, pihaknya akan melakukan coffee morning bersama para tokoh adat, tokoh agama, para pemimpin paguyuban dan aparat untuk mencari solusi yang baik supaya kota ini menjadi aman.
Wali Kota Jayapura ini mengajak masyarakat untuk menjaga kesatuan dan persatuan, karena dengan persatuan ini maka bisa dilakukan pembangunan. “Kami juga menghimbau agar masyarakat tidak terprovokasi dengan hal-hal yang memperkeruh suasana, karena aparat juga sudah siap untuk mengawal situasi keamanan di kota ini,” himbaunya. (nal/fud)
JAYAPURA – Meski secara umum Peringatan Hari Ulang Tahun (HUT) Proklamasi Kemerdekaan Republik Indonesia di Provinsi Papua kali ini berjalan lancar, namun di beberapa daerah peringatan ini justru diganggu oleh kelompok orang tak dikenal (OTK).
Dari data yang berhasil dihimpun Cenderawasih Pos, seorang Prajurit TNI-AD bernama Prada Jamila dari kesatuan 753/AVT ditembak oleh sekelompok orang tak dikenal (OTK) saat melakukan pengamanan upacara HUT RI di Kampung Wandenggobak, Distrik Mulia Kabupaten Puncak Jaya, Rabu (17/8) pagi sekitar pukul 08.30 WIT.
Akibat tembakan itu, Prada Jamila mengalami luka tembak di kaki bagian paha kanan atas tembus ke bagian belakang.
Gangguan lainnya oleh OTK itu terjadi di Kabupaten Paniai. Tepatnya Rabu (17/8) sekitar pukul 09.30 WIT, OTK itu melakukan penembakan dari arah gunung ke lokasi pelaksanaan upacara HUT RI di Kota Enarotali, Kabupaten Paniai. Namun berkat penjagaan aparat, upacara pun berhasil dilaksanakan hingga tuntas.
Sementara sebelumnya, penembakan oleh kelompok OTK terjadi di Kampung Pagepota dan Uwibutu, dua kampung terdekat di Madi, ibu kota Kabupaten Paniai, Rabu (17/8) pukul 05.00 hingga pukul 07.00 WIT. Dalam kejadian ini tidak ada korban jiwa, hanya terjadi kontak senjata dengan aparat TNI dan polri yang bertugas di sana.
Tidak hanya itu, pada Selasa (16/8) kelompok OTK itu menyerang Polsek Komopa Kabupaten Paniai. Dalam penyerangan ini, dua 2 pucuk senjata api milik Polri masing-masing bernomor seri B 20022 dan B 101187 dan 10 butir amunisi berhasil dirampas oleh OTK itu. Pada kasus penembakan yang terjadi di Puncak Jaya itu, pihak TNI berupaya mengejar pelaku hingga terjadi kontak senjata. “Namun dari kontak senjata serta pengejaran itu, para pelaku tidak bisa ditangkap sebab melarikan diri ke hutan,” ujar sumber terpercaya kepada Cenderawasih Pos. Sedangkan korban penembakan kemudian dievakuasi ke Rumah Sakit Mulia Puncak Jaya dan akhirnya korban diterbangkan ke Jayapura untuk mendapatkan perawatan lebih lanjut di RS Marthen Indey.
Panglima Kodam XVII/Cenderawasih, Mayjen TNI Erfi Triassunu saat dikonfirmasi melalui telepon selulernya membenarkan adanya penembakan tersebut. “Para pelaku penembakan tersebut merupakan sekelompok gerakan pengacau keamanan (GPK) yang berniat mengacaukan pelaksanaan upacara detik-detik proklamasi kemerdekaan,” katanya.
Dalam penembakan yang dilakukan GPK, Pangdam mengatakan bahwa aparat sempat melakukan pencegahan terhadap GPK itu. “Pecegahan yang dilakukan prajurit dengan cara melakukan perlawanan serta pengejaran terhadap mereka, demi terlaksananya upacara pengibaran bendera Merah Putih,” ungkapnya.
Kemudian terkait penembakan di Paniai, Kabid Humas Polda Papua Kombes Pol Wachyono saat dikonfirmasi Cenderawasih Pos membenarkan adanya penembakan tersebut.
“Ya laporannya sudah saya terima, kini kami pihak kepolisian telah melakukan pengamanan di daerah wilayah hukum Polres Paniai itu,” jelasnya Pihaknya menjelaskan, aparat kepolisian berhasil melakukan penjagaan dan pengamanan dalam upacara bendera tersebut hingga sampai pada puncaknya. “Kami pihak kepolisian harus memberikan rasa keamanan dan kenyamanan kepada masyarakat supaya bendera merah putih harus tetap dinaikan dalam upacara pengibaran bendera tersebut,” terangnya.
Sedangkan pada Selasa (16/8) sekitar pukul 01.00 wit, sumber terpercaya Cenderawasih Pos menjelaskan bahwa sekelompok Tentara Pembebasan Nasional/Organisasi Papua Merdeka (TPN/OPM) yang berjumlah sekitar 30 orang dipimpin oleh Jhon Yogi melakukan penyerangan ke Polsek Komopa Kabupaten Paniai.
Dalam penyerangan tersebut, 2 pucuk senjata api masing-masing bernomor seri B 20022 dan B 101187 serta 10 butir amunisi milik Polri yang bertugas di Polsek Komopa berhasil dirampas. ‘Perampasan tersebut dilakukan dengan cara pelaku mendobrak dan menodongkan senjata kepada salah satu anggota Polsek Komopa bernama Briptu Hendrik,” terangnya.
Dijelaskan sumber tersebut, sebelum merampas dua pucuk senjata api itu, kelompok tersebut terlebih dahulu menyandera seorang istri anggota Polsek Kamofa yang pada saat itu berada di Polsek. Selanjutnya kelompok tersebut meminta supaya senjata diserahkan sehingga setelah diserahkan maka istri anggota polisi itu langsung dibebaskan.
“Informasi yang beredar bahwa terjadi penembakan ketika merampas dua pucuk senjata api itu adalah tidak benar. Kelompok itu tidak mengeluarkan tembakan tapi hanya menyandera kemudian membebaskannya setelah mendapatkan senjata dan langsung melarikan diri,” kata sumber itu.
Secara terpisah, Kabid Humas Polda Papua, Kombes Pol. Wacyono ketika dikonfirmasi terkait kejadian tersebut mengaku belum mendapatkan laporan tersebut dan pihaknya masih melakukan kordinasi dengan Kapolres Paniai tentang kejadian tersebut.
Sementara penembakan oleh kelompok orang tak dikenal (OTK) terjadi di kampung Pagepota dan Uwibutu, Kabupaten Paniai, Rabu (17/8) pukul 05.00-07.00 WIT. Dalam kejadian ini tidak ada korban jiwa, hanya terjadi kontak senjata dengan aparat TNI dan Polri yang bertugas di sana.
Selain penembakan di dua kampung tersebut, penembakan juga kembali terjadi sekitar pukul 09.30 WIT di Kota Enarotali saat upacara 17 Agustus digelar.
Pangdam XVII/Cenderawasih Brigjen Erfi Triassunu saat dimintai keterangan di Sasana Krida Kantor Gubernur Papua Dok II Jayapura, tadi malam membenarkan soal peristiwa tersebut.
Menurutnya setelah terdengar rentetan penembakan itu, aparat keamanan baik TNI dan Polri yang bertugas di dekat lokasi penembakan langsung melakukan pengejaran terhadap para pelaku, dan sempat terjadi kontak senjata dengan aparat keamanan, namun para pelaku lebih dulu menghilang ke dalam hutan, hanya menyisahkan satu buah pistol.
“Mereka ini kelompok yang berusaha mengacaukan peringatan HUT Proklamasi di Enarotali, hanya saja kami belum memastikan mereka ini berasal dari mana,” ungkapnya.
Pangdam menegaskan, meskipun ada pihak yang berusaha mengganggu jalannya peringatan HUT di Papua, namun secara keseluruhan peringatan HUT RI berjalan dengan aman dan lancar.
“Saya menghimbau kepada masyarakat Papua agar tidak terprovokasi. Marilah kita bersama-sama menjaga keamanan, dengan kondisi yang aman, maka pembangunan dan pekerjaanya kita semua bisa aman dan lancar,” tambahnya.
Sementara di Kabupaten Keerom beredar isu bahwa telah terjadi penembakan terhadap seorang anggota kepolisan dari Polres Keerom di di Arso 7, Kabupaten Keerom, Rabu (17/8) sore kemarin.
Namun informasi penembakan ini dibantah oleh Kapolres Keerom, AKBP Drs. Bedjo PS. “Ah itu cuman isu yang dibuat-buat oleh orang-orang tertentu dan tidak bertanggung jawab untuk sengaja memperkeruh situasi keamana dan keteribaan masyarakat di wilayah hukum Polres Keerom,” ungkapnya singkat saat dikonfirmasi Cenderawasih Pos, tadi malam.
AKBP Bedjo menegaskan bahwa isu tersebut tidak benar. “Secara keseluruhan Kamtibmas menjelang hingga usai upacara HUT RI dalam kondisi yang kondusif. Saya dan anggota telah mengecek langsung informasi tesebut ke lokasi kejadian, namun tidak terjadi penembakan terhadap anggota saya itu,” pungkas Kapolres. ((ro/nal/cak/ben/fud)
Korban yang saat ini masih dirawat di RS BhayangkaraJAYAPURA –Seorang Mahasiswa STAIN semester bernama Indra Wahyudi (20) Mahasiswa STAIN, Semester 5, terluka panah bagian punggung kanan hingga tembus pinggang sebelah kiri. Hal itu terjadi disaat korban hendak berwudu untuk Sholat Subuh di salah satu Masjid di BTN Puskopad Tanah Hitam Abepura, Selasa (16/8).
Sudadi salah seorang rekan korban menceritrakan, kejadian itu terjadi saat korban ke tempat wudu, tiba-tiba terkena panah dari belakangan yang dilakukan orang tidak dikenal. “Saat itu saya berusaha menolong dengan mencabut anak panah yang menancap di tubuhnya dan saya suruh lari,” ungkapnya kepada Wartawan di RS Bhayangkara, Selasa (16/8). Selanjutnya saksi bersama korban langsung berusaha ke UGD RSUD Abepura untuk mendapatkan pertolongan. “Dari RSUD Abepura dirujuk ke sini (RS Bhayangkara),” ungkapnya lagi.
Informasi yang diperoleh Bintang Papua, korban diserang dari belakang dengan menggunakan panah hingga mengenai punggung korban bagian belakang dan tembus ke bagian depan punggung korban. Pada saat korban menjerit, teman korban mendengar dan mau menolong korban dengan niat ingin mencabut panah yang tertancap di punggung korban, namun saat itu tiba- tiba terdengar suara tembakan secara spontan dari arah gunung seketika itu teman korban tiarap langsung lari .
Sementrara kejadian itu berlangsung warga lainnya membunyikan lonceng untuk memberikan kode tanda bahaya sehingga warga berbondong bondong datang untuk membantu korban .
Selang beberapa saat kemudian tepatnya pukul 05.00 tim gabungan dari TNI / POLRI datang ke tempat kejadian dan langsung melakukan penyisiran, namun pelaku sudah melarikan diri.
Sementara korban langsung dibawa ke rumah sakit umum untuk mendapat pertolongan dan tindakan perawatan medis.
Bukan cuma peristiwa itu yang mengejutkan masyarakat tanah hitam saat pagi itu, namun selang beberapa waktu kemudian masyarakat di kejutkan dengan kembali ditemukan bendera Bintang Kejora yang di kibarkan pelaku yang diduga juga sebagai pelaku yang sama dan kelompok yang sama saat menyerang korban warga Tanah hitam pagi itu.
Saat ditemukan adanya pengibaran bendera Bintang kejora di atas gunung Tanah hitam, pihak keamanan yang dipimpin langsung kapolres dan Dandim menuju bendera tersebut lalu menurunkannya . Beberapa saksi mata saat memberikan keterangan tentang kejadian peristiwa penyerangan Selasa (16/8). Mereka menyebutkan kalau dari gerakan mereka pihaknya sudah bisa prediksi kalau penyerangan itu sudah direncanakan. “Karena kami diserang dari bagian belakang sehingga kami tidak bisa melakukan perlawanan dan mereka menyebutkan kalu pelaku lebih dari 2 orang ,”katanya.
Kapolrseta Jayapura AKBP Iman Setiawan saat dikonfirmasi Selasa(16/8) membenarkan adanya aksi penyerangan aksi itu dan pengibaran bendera Bintang Kejora. Dikatakan, ini ada kaitan nya dengan kasus kemarin dan saat ini mereka sedang menunjukan eksistensinya dan kelompok ini adalah gerakan terlarang dari gerakan TPN/OPM . Dikatakan, “ kami sudah mengerahkan anak buah kami untuk terus mengawal di sekitar daerah rawan , namun kami tidak sangka –sangka kalau mereka akan nekad untuk menyerang korban di tempat ibadah, dalam penyerangan tersebut mereka sudah merencanakan terlihat saat penikaman tersebut mereka berusaha mengelabui masyarakat dengan meletuskan tembakan, setelah itu pagi harinya usai kejadian penikaman tersebut mereka mengibarkan dua bintang kejora, masing – masing di gunung Tanah hitam bagian sebelah kanan dan bagian sebelah kiri yang satunya lagi,” tegas Kapolrseta Jayapura AKBP Imam Setiawan kepada sejumblah wartawan di Abepura .
Lebih lanjut Imam menghimbau kepada masyarakat untuk dapat membantu TNI/ POLRI sebagai aparat keamanan dalam memberikan informasi terkait adanya kecurigaan dari kelompok organisasi terlarang. Bukan itu saja kapolresta pun mengajak untuk sama – sama menjaga situasi keaman di sekitar lingkungan masing – masing.
Kapolres pun menyatakan, “ kami akan bertindak tegas bila perlu kami tembak di tempat mereka yang tergabung dalam gerakan terlarang tersebut (TPN/OPM), saya perintahkan untuk tembak di tempat karena ini sudah memakan banyak korban dan mereka adalah masyarakat sipil tegasnya.
Sementara itu, menyikapi sejumlah aksi kekerasan yang mengancam jiwa, bahkan telah menimbulkan korban setidaknya lima orang masyarakat sipil tewas, Forum Komunikasi Himpunan Masyarakat Nusantara (FKHMN) di Jayapura, menyatakan sikap di sela-sela menjenguk korban di Instalasi Gawat Darurat (IGD) RS Bhayangkara, Kotaraja.
Statemen yang dibacakan Ketua KKSS Ir. Junaidi Rahim dan didampingi sejumlah pimpinan paguyuban yang ada di Kota Jayapura tersebut, antara lain : Kami dari Forum Komunikasi Himpunan Masyarakat Nusantara menyatakan bahwa : Dari empat kejadian yang terakhir, yang semuanya kriminal yang berbau SARA, maka kami dengan tegas membuat pernyataan kepada Pemerintah Provinsi dan Pemerintah Kabupaten Kota maupun semua pihak aparat keamanan yang terlibat, untuk menyikapi persoalan ini segera, yakni :
1. Meminta aparat keamanan bertindak tegas menuntas persoalan kriminal yang terjadi akhir-akhir ini. Dan mengungkap pelaku dan menangkapnya serta memproses sesuai hukum yang berlaku.
2. Polisi harus bisa menjain keamanan dan ketentraman khususnya kepada warga yang sedang menjalani ibadah puasa saat ini.
3. Sudah saatnya polisi untuk menempatkan aparatnya di setiap mesjid, khususnya di Kota Jayapura dan sekitarnya.
4. Kepada Panglima TNI, dengan melihat telah dikibar bintang kejora, agar tidak ragu melibas habis pengacau keamanan yang akhir2 ini sudah banyak berulah, memakan korban manusia dan jura merugigan kepentingan umum, sehingga meresahkan masyarakatluas di Papua.
5. Meminta kepada pemerintah provinsi maupun pemrintah kabupaten kota beserta seluruh muspida agar peka menyikapi persoalan ini dan memperhatikan para korban yag semuanya dari kalanga orang yag tidak mampu.
6. Menghimbau kepada seluruh komunitas masyarakat agar segera membentuk swadaya pengamanan d lingkungan masng-masing dengan tertib dan terkoordinasi
Apabila polisi tidak dapat segera mengungkap modus kejadian-kejadian yang ada maka kami dari komunitas kerukunan masyarakatdari seuruh Indonesia akan melakukan langkah2 pengamanan, pembelaan diri dan apabila perlu melakukan perlawanan sapai titk darah penghabisan kepada orang yg melakukan teror dan kejahatan kepada masyarakat.(cr-30/aj/don/l03)
kemarin”]SENTANI [PAPOS]- Peringatan HUT Kemardekaan RI ke-66 yang jatuh, hari Rabu [17/8] membawa suka cita bagi tahanan. Salah satunya Buktar Tabuni mendapatkan remisi bebas bersama tiga orang lainnya. Remisi itu di sambut isak tangis belasan masa yang menjemput Buktar Tabuni di Lapas Narkotika Kelas II A Jayapura, Doyo Kabupaten Jayapura.
Dari pantauan Papua Pos, Buktar ketika keluar dari pintu Lapas Narkortika Doyo, langsung disambut isak tangis belasan masanya yang menjemputnya, isak tangispun tampak kelihatan di raut wajah sejumlah warga yang menjemput itu.
Sebelum dilepaskan, Buktar sempat memberikan sejumlah penjelasan kepada wartawan di halaman Lapas Narkotika, terkait dengan pembabasan dirinya. Kebebasan yang di dapatkannya itu, menurut Buktar Tabuni dianggapnya sebagai suatu penghinaan atas bangsa Papua Barat, karena diberikan bertepatan dengan HUT RI Ke 66. Ia menilai pembebasan dirinya sebenarnya bukan 3 bulan yang akhirnya jatuh pada 17 Agustus, tetapi 2 minggu 3 hari, mereka menunggu dan tunda sampai 17 Agustus.
“Bagi saya sebagai tahanan politik ini suatu penghinaan, dan pemebebasan tahanan politik pada hari kemerdekaan Indonesia adalah bertentangan, kami kecewa karena ini menyangkut harga diri bangsa Papua Barat,” imbuhnya.
Oleh karena itu lanjut Buktar, meski pembebasan dirinya jatuh pada 17 Agustus, namun bukan berarti perjuangannya selesai atau malah menceritakan kemardekaan Indonesia, tetapi perjuangan baginya tetap saja jalan.
“Saya bersama tahana politik lainnya tidak terima dengan pemberian remisi di hari kemerdekaan bangsa Indonesia, kami bangsa Papua Barat tidak mengakui karena nenek moyang kami tidak pernah berjuang untuk Indonesia, melainkan kami adalah bangsa Papua Barat rumpun melanesia, berjuang untuk kebebasan bangsa papua barat,” kata Buktar dengan tegas.
Buktar kembali mengklaim kebebasan dirinya bukan bertepatan dengan 17 Agustus yang kini bertepatan dengan HUT RI ke-66. Justru malah ia menuding pembebasan dirinya merupakan konspirasi poltik untuk mencari pemulihan nama baik pemerintah Indonesia di mata masyarakat Internasional.
Usai menyampaikan keterangannya, Buktar bersama sejumlah warga yang menjemputnya langsung meninggalkan Lapas Narkotika Doyo, dengan iring-iringan kendaraan menuju ke arah Kota Sentani. [amros]
Written by Amros/Papos
Thursday, 18 August 2011 00:00
Jakarta – Sebanyak 18 akademisi dari beberapa Universitas di seluruh Indonesia yang tergabung dalam Forum Akademisi untuk Papua Damai (FAPD) Kamis (11/8) kemarin di Hotel Ibis Jakarta mengeluarkan pernyataan sikapnya, yang meminta agar penyelesaian masalah Papua di lakukan lewat jalan damai, dengan menggelar dialog bagi pihak – pihak terkait dengan Pemerintah.
“ini bentuk kepedulian kami para akademisi untuk ikut ambil bagian dalam proses resolusi konflik yang terjadi di Indonesia secara umum, dan momentumnya pas untuk kita mulai dari Papua,” kata Koordinator FAPD Dr. Otto Syamsuddin Ishak salah satu perwakilan dosen dari Universitas Syiah Kuala kepada Bintang Papua via telepon semalam. Lebih jauh ia menjelaskan bahwa kerja – kerja dari FAPD ini nantnya akan mencoba membuat kajian – kajian akademis guna menolong percepatan proses resolusi konflik secara damai, bukan hanya di Papya namun di seluruh Indonesia nantnya.
Dr. Pater Neles Tebay yang juga salah satu penggagas FAPD kepada Bintang Papua via telepon semalam menjelaskan, gagasan pembentukan dan deklarasi Forum Akademisi untuk Papua Damai ini berangkat dari sebuah Focus Group Discussion (FGD) yang di gagas oleh Imparsial Jakarta dengan mengundang perwakilan akademisi dari beberapa Perguruan Tinggi yang ada di Jayapura.
“Jadi kami diskusi 2 hari, dimana kami semua di minta membuat paper dengan thema “Partisipasi masyarakat kecil dalam mendorong dialog dalam menyelesaikan konflik di Papua” dan mempresentasikannya, berangkat dari FGD kemarin itulah kami hari ini Deklarasikan FAPD ini”, katanya.
Dalam pernyataan sikapnya FAPD, menyampaikan 3 point penting yakni, (1) FAPD prihatin terhadap berlarutnya konflik di Papua, (2) FAPD berkeyakinan bahwa konflik di Papua dapat di selesaikan melalui dialog damai, (3) untuk itu FAPD mendesak para pihak untuk tidak menggunakan kekerasan dalam menyelesaikan persoalan di Papua.
FAPD terdiri dari 18 akademisi diantaranya Prof. Dr. Mestika Zed (Universitas Negri Padang), Prof. Dr. H. Arfin Hamid, S.H., M.H (Universitas Hasanuddin), Prof. Purwo Santoso, M.A., Ph.D (Universitas Gajah Mada), Dr. Muridan S. Widjojo (Universitas Indonesia), Dr. Mangadar Situmorang (Universitas Parahyangan), Dr. I Nyoman Sudira (Universitas Parahyangan), Dr. M. Ali Syafa’at (Universitas Brawijaya), Dr. Rahayu, S.H., M. Hum (Universitas Diponegoro), Dr. Otto Syamsuddin Ishak (Universitas Syiah Kuala), Dr. Pater Neles Tebay (Sekolah Tinggi Filsafat dan Teologi Fajar Timur).
Selain itu juga ada Dr. Antie Solaiman, M.A (Universitas Kristen Indonesia), Ir. Sahat Marojahan Doloksaribu, M.Ing (Universitas Kristen Indonesia), R. Herlambang Perdana W, S.H., M.A (Universitas Airlangga), Shiskha Prabawaningtyas, M.A (Universitas Paramadina), Sholehudin A. Aziz, MA (Universitas Islam Negri Syarif Hidayatullah), Munafrizal Manan, S.Sos, M.Si (Universitas Al-Azhar Jakarta), Vience Tebay, S.Sos, M. Si (Universitas Cendrawasih), dan Anton Aliabbas, M.Si., MDM (Universitas Pertahanan Indonesia).
Menurut FAPD Papua terus dilanda konflik sejak awal integrasi hingga saat ini dan persoalan ketidakadilan tidak teratasi. Penggunaan pendekatan keamanan selama ini terbukti tidak menyelesaikan persoalan konflik.
Akibatnya Konflik Papua justru terus langgeng dan kian mengakar dimana para pelakunya yang terus beregenerasi dari tahun ke tahun. Di lapangan, upaya penekanan pola pendekatan militeristik atau jalan kekerasan terus menimbulkan korban warga sipil di Papua, sebagai akibat dari kekerasan dan pelanggaran hak asasi manusia yang terjadi dan kerap dilakukan oleh aparat keamanan di Papua.
Dalam konteks lainnya, Negara telah mengeluarkan kebijakan dengan memberikan Otonomi Khusus (Otsus) terhadap Papua yakni sejak tahun 2001. Kendati demikian, pemerintah pusat juga dinilai tidak konsisten dalam penerapannya sehingga gagal khususnya dalam menyejahterakan rakyat Papua.
Dengan mencermati perkembangan tersebut, kebutuhan terhadap upaya penyelesaian konflik Papua dengan tanpa menggunakan pendekatan militeristik sangat penting untuk mewujudkan Papua tanah damai.
Langkah tersebut dapat dilakukan dengan mendorong terjadinya dialog Jakarta-Papua sebagai jalan menuju penyelesaian konflik Papua.
Lebih jauh, penggunaan jalan dialog ini juga penting jika mempertimbangkan adanya kompleksitas persoalan yang menjadi akar konflik Papua. Di titik ini, harus dipahami bahwa persoalan akar konflik Papua ini bukan semata urusan keamanan, atau secara spesifik terkait munculnya separatisme Papua.
Jika dicermati lebih jauh, bahwa akar persoalan konflik Papua sesungguhnya begitu kompleks yang meliputi berbagai sektor kehidupan di Papua: persoalan sejarah, politik, ekonomi, sosial, budaya, lingkungan, kesejahteraan, dan lain-lain. Oleh karena itu keliru bila konflik Papua disederhanakan menjadi persoalan separatisme semata.
Kompleksitas persoalan menuntut penyelesaian konflik Papua secara komprehensif. Upaya itu dapat dirintis melalui dialog damai. Jalan dialog damai bukanlah suatu tujuan, melainkan sebagai proses awal untuk bisa menyepakati berbagai akar masalah dan bagaimana cara penyelesaiannya. (amr/don/l03)
Imam SetiawanJayapura- Kapolresta Jayapura AKBP Imam Setiawan mengaku sangat menghargai kelompok masyarakat yang tergabung dalam Komite Nasional Papua Barat KNPB, pasalnya selama dirinya menjabat sebagai Kapolresta Jayapura, massa KNPB selama melakukan aksi demo belum pernah melakukan tindakan –tindakan yang anarkis.
“ Selama hampir 2 tahun saya menjabat Kapolresta Jayapura KNPB belum pernah melakukan tindakan anarkis dalam aksi unjuk rasa,” tegas AKBP Imam Setiawan saat diwawancarai wartawan di Jayapura, Rabu (10/8), kemarin. Terakhir kata Kapolres, saat aksi demo 2 Agustus, tiga hari sebelumnya dirinya sudah menghimbau agar massa tidak membawa senjata tajam dan tidak miras, dan itu terbukti terlihat mereka sangat tertib dalam melakukan aksi demo damai. “Saat kami batasi hanya di bundaran taman Imbi mereka pun tertib menggelar aksi di Taman Imbi dan bergerak ke arah Abe pun dengan tertib sampai selesai pun dengan tertib ,”kata Kapolres memberikan apresiasi.
Di singgung masalah aksi demo damai KNPB (2/8) yang dinodai adanya aksi penikaman , Kapolresta Imam Setiawan mengatakan “kalau sampai sekarang kami belum bisa ungkap siapa pelaku penikaman, oleh sebab itu kami meminta kerja sama dengan MakoTabuni Cs untuk dapat membantu mengusut kasus ini bersama sama dan dalam waktu dekat akan kami panggil pihak korban untuk bertemu lansung dengan Mako Tabuni,” tegas Imam Setiawan. (cr-32/don/l03)
JUBI — Pagi tadi, Senin (1/8) sekitar pukul 03.15 dinihari. Dalam insiden itu, 3 orang warga sipil mengalami luka-luka. Empat orang meninggal dunia.
Dari data yang diperoleh di RSUD Abepura, Jayapura, Papua, tiga warga yang mengalami luka-luka yaitu Ahmad Saud (27) warga Arso, Siti Amimah (49) warga Koya Timur, dan Tarmuji (49) warga Koya Timur. Sementara mereka yang tentara meninggal atas nama pratu Dominikus Kerap, anggota kompi C Yonif 756 Senggi. Indentitas dari empat korban tersebut tak diberikan pihak rumah sakit.
Informasi lain, kelompok penyerang menggunakan kapak dan parang. Menurut Siti Aminah (49) salah satu korban, ketika itu dirinya duduk didepan bersama sopir taksi yang ditumpangi. “Saya dnegan satu orang disebelah kiri saya,” ujarnya saat diwawancarai wartawan di RSUD Abepura, Senin.
Lanjut dia, warga yang berada disamping kirinya tiba-tiba diberondong senjata dari kelompok tak dikenal. Tak lama kemudia terjadi penembakan kearah mobil yang ditumpangi. Siti mengalami luka lantara terkena serpihan kaca mobil. “Kejadian itu begitu cepat. Tiba-tiba saja ada bunyi tembakan,” kata Saminah.
Selain itu, Sumardi (49) salah satu penumpang mengatakan, tiba-tiba mobil yang berada dibelakang mereka, sopirnya dibacok dari leher lalu disuruh menuju rumah sakit. Sopir yang menjadi korban bacokan itu bernama Udin, warga Arso, Kabupaten Keerom.
Sumardi menambahkan, kelompok yang melakukan penyerangan tersebut diperkirakan sekitar 10 orang. “Ada sekitar sepuluh orang. mereka cukup banyak yang lakukan penyerangan,” paparnya. (J/06)
PMNews. Selanjutnya setelah PMNews melakukan konfirmasi ke Markas Pusat Pertahanan Tentara Revolusi West Papua, ditanggapi oleh Panglima Revolusi TRWP Gen. TRWP Mathias Wenda bahwa “Ini Operasi Khusus” yang dilakukan dalam rangka mendesak NKRI untuk memberikan kesempatan kepada bangsa Papua menentukan nasibnya sendiri.”
JAYAPURA—Sesuai rencana, konferensi Papua Tanah Damai secara resmi akan dilaksanakan hari ini Selasa (5/7) di Auditorium UNcen Abepura. Terkait dengan itu, Wakil Ketua DPR Papua Yunus Wonda SH mengatakan, Konferensi Perdamaian di Tanah Papua yang digagas Jaringan Damai Papua (JDP) bersama Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia ini adalah suatu kegiatan merangkum semua pikiran- pikiran masa depan Papua dan bukan kegiatan menuntut Referendum atau “Merdeka”.
Karena itu, diseruhkan kepada semua elemen masyarakat baik pemerintah, institusi TNI/Polri, LSM, adat, gereja, perempuan dan lain lain untuk memberikan dukungan.
Menurut politisi senior Partai Demokrat Provinsi Papua ini, untuk mencapai suatu persamaan persepsi, maka perlu dilakukan mediasi untuk membahas bersama segala macam persoalan persoalan urgen yang dihadapi rakyat Papua. Walaupun dana maupun nilai uang cukup besar yang dialokasikan untuk pembangunan. Tapi mengapa justru Papua tak pernah ada perubahan perubahan.
“Keluh atau isi hati rakyat Papua itu apa. Ini yang harus dibicarakan,” ujarnya ketika dikonfirmasi Bintang Papua di ruang kerjanya, Senin (4/7). Dikatakan, pihaknya mengharapkan kegiatan ini tak hanya sekedar sampai disitu tapi harus ada suatu tindaklanjuti sampai kepada pemerintah pusat. “Jadi tak hanya kita buka dialog lalu selesai, tapi saya yakin Pater Nelles dan kawan kawan sudah punyai visi yang jauh kedepan. Setelah ini harus buat apa agar Otonomi Khusus dan semua pikiran rakyat benar benar disalurkan lewat mekanisme,” tukasnya.
Sedangkan Kordinator Program ICS (Institute for Civil Strengthening) Papua, Yusak Reba,SH,MH
mengatakan, “Kalau saya melihat upaya rekan dari JDP, sebagai upaya mencari jalan tengah berkaitan dengan konflik Papua yang selama ini kita masih mencari model persoalan dan cara pemecahannya,” ungkapnya saat ditemui di Kantornya, Senin (4/7).
Dikatakan, persoalan mendasar adalah berkaitan Papua dalam bingkai NKRI yang masih dipersoalkan.
“Kira-kira cara apa atau media apa, yang kita pakai menyelesaikan persoalan-persoalan mendasar. Masalah pembangunan itu soal kedua, yang terutama status politik Papua dalam bingkai NKRI itu yang masih dipersoalkan,” jelasnya.
Menurutnya, konferensi tersebut sebagai sebuah kesempatan bagaimana orang Papua secara bersama-sama bicara untuk memperoleh cara-cara untuk menyelesaiakan persoalannya. “Apakah itu referendum, apakah dialog atau yang lain, ini kan masih ada perbedaan diantara kelompok orang Papua,” jelasnya.
Bisa saja, menurutnya konferensi tersebut menuju ke arah referendum orang asli Papua. “Yakni untuk menguji pilihan yang teridentifikasi dalam konferensi. Karena ini belum tentu mewakili seluruh orang Papua,” jelasnya lagi.
Yusak juga mengungkapkan bahwa, wacana untuk adanya dialog yang melibatkan perwakilan dari masyarakat pendatang di Papua juga menjadi hal yang cukup penting untuk dilaksanakan.
“Karena saya kira di negeri ini bukan saja orang Papua yang hidup dan tinggal. Orang Papua ini juga jangan dikira hanya orang Papua murni, tanpa perkawinan campur. Oleh karena itu memang perlu ada dialog-dialog yang dibangun melibatkan orang non Papua,” terangnya.
Komentar sebaliknya datang dari orang yang menyatakan sebagai Juru Bicara TPN OPM melalui telepon kepada Wartawan saat dihubungi melalui HP Yusak Pakage.
Orang yang mengaku berpangkat Letjend dan bernama Willy Nambe yang berada di Markas Besar TPN/OPM di Victoria, salah satu wilayah Perbatasan RI-PNG, tersebut menyatakan, Konferensi tersebut tidak akan menghasilkan solusi bagi orang Papua.
“Kami sampaikan bahwa kegiatan besok, kami TPN/OPM tidak tahu, karena memang kami tidak diundang. Kami tidak mendukung, karena tidak ada koordinasi dengan kami,” ungkapnya.
Selain itu, karena yang diiginkannya hanya membentuk Papua sebagai sebuah negara.
“Kami TPN/OPM pesan tidak mendukung, di Papua Barat ini tidak ada dialog nasional, dialog internasional, atau dialog apapun itu tidak ada. Kami hanya menginginkan pengakuan sebagai suatu negara,” tegasnya.
Bahkan ia mencurigai konferensi tersebut diselenggarakan orang-orang yang menjadi alar pemerintah Indonesia. “Kami hanya mau referendum di Papua Barat. Disitu bisa kita saksikan bahwa siapa-siapa orang Papua yang mendukung NKRI dan siapa-siapa orang Papua yang mendukung referendum,” tegasnya.
Sementara itu, Peter Dr Neles Tebay,Pr mengungkapkan, dalam Konferensi yang dibuka hari ini (Selasa 5/7), akan tampil sebagai pembicara utama Menkopolhukan Djoko Suyanto.
Selain itu, Gubenur yang akan memaparkan perspektifnya tentang Papua Zona Damai, Pangdam XVII/Cenderawasih, Kapolda Papua, Tokoh-Tokoh Agama, Ketua Majelis Muslim Papua H Arobi Auitarau, Forkorus Yoboisembut juga sudah siap.
Menyoal pihak TPN/OPM yang menyatakan tidak diundang, diakui konferensi ini hanya untuk orang Papua yang ada di dua provinsi, yaitu provinsi Papua Barat dan Provinsi Papua. “Untuk orang Papua yang di Luar Negeri dan di Hutan yang dikatakan TPN/OPM tidak. Tapi apapun pendapat mereka kita hargai, dan memang mereka punya hak mengemukakan pendapat,” jelasnya.
Ditambahkan, pengamanan lokasi konferensi dipercayakan kepada Petapa (Penjaga Tanah Papua). “Jumlahnya sekitar 100 orang dari Petapa yang akan melakukan pengamanan baik di sini (Auditorium Uncen) maupun di tempat penginapan para peserta,” jelasnya.(mdc/aj/don/lo3)