45 Marga di Wilayah Adat Meepago Musnah Akibat HIV/AIDS

Pastor Nato Gobay (baju putih) saat mendam-pingi Gubernur ketika menyak-sikan ceremonial pemusnahan Miras.JAYAPURA—Memprihatinkan, 45 marga di enam Kabupaten wilayah adat Meepago sudah habis alias musnah akibat terjangkit virus Hiv/Aids, yang sampai saat ini tidak ada obatnya.

Hal itu diungkapkan Pastor Nato Gobay Pr, saat berpidato di hadapan Gubernur Papua Lukas Enembe, Forkompimda Provinsi dan masyarakat wilayah adat Meepago pada acara Musyawarah Besar Pencegahan Hiv/Aids dan Penanggulangan Minuman Keras (Miras) di wilayah Adat Meepago Provinsi Papua, di Gedung Gereja Katolik Malompo – Distrik Siriniwi – Kabupaten Nabire. Senin (17/11).

Sudah habis, dengan demikian mungkin yang sisa – sisa ini bisa dihabiskan oleh penyakit ini. Kami prihatin dengan keadaan ini,” keluhnya.

Menurutnya, gereja sebagai perpanjangan tangan dari Tuhan sangat menyadari hal itu dan mencoba memberikan sesuatu kepada umat agar tidak terganggu karena penyakit Hiv/Aids ini. Seperti diketahui Mubes dengan Thema Dengan Mubes berusaha menciptakan kesadaran atau jati diri yang sejati bermartabat di wilayah adat Meepago Provinsi Papua, serta sub thema Melalui Mubes ini berusaha mencegah mengurangi penyakit Hiv /Aids dan Miras terhadap Ancaman Kepunahan Manusia Papua.

Mubes digelar oleh 6 kabupaten di wilayah adat Meepago diantaranya Nabire, Dogiyai, Deiyai, Paniai. Intan Jaya dan Mimika, berlangsung selama empat hari. Diharapkan dengan Mubes ini ada perubahan yang terjadi di Papua, yang hasilnya akan diserahkan kepada Pemprov Papua, sebagai bahan masukan.

Dikatakan Pastor Nato Gobay, penyakit Hiv/Aids mulai menghabiskan manusia di seluruh dunia mulai tahun 1987. Kemudian 1998 penyakit ini tiba di Nabire.

“Penyakit ini datang darimana kita tidak tau. Tetapi dikatakan datang dari Afrika Selatan. Pada akhirnya penyakit Aids jadi bagian integral dari kita. Ia juga menjadi musuh bagi kita, sekaligus jadi musuh kehidupan kita,”

katanya.

Bagaimana tidak sekitar 2000 – 3000 manusia Papua sudah dirampas hak hidupnya akibat penyakit ini.

“Kita tidak pernah pikir penyakit ini sudah datang di dunia ini dan sungguh – sungguh menghabisi manusia di daerah ini. Belum sempat kita antisipasi penyakit ini. Datang lagi yang lebih berbahaya virus ebola yang lebih jahat dan ganas. Bagaimana kalau penyakit ini bersatu dengan penyakit Aids yang sudah lama disini. Orang tua kita, pemuda dan pemudi kita sudah habis. Siapa yang harus bertanggung jawab terhadap penyakit ini. Apakah pemerintah, gereja para dokter dan para medis. Saya mau katakan hal ini menjadi tugas dan tanggung jawab dari seluruh masyarakat di Tanah Papua,”

katanya panjang lebar.

Pastor Nato mengingatkan, penyakit Aids menjadi musuh bersama mulai dari pejabat tinggi sampai rendah dan harus merasa bertanggung jawab terhadap hidup seluruh manusia di tanah ini. Hal ini demi anak cucu dan masa depan kita.

”Kalau bukan kita siapa lagi. Mengurangi dan mencegah sudah mempunyai nilai tinggi. Kalau dibiarkan maka manusia tidak berdosa di daerah ini tinggal cerita dan akan punah. Cepat atau lambat manusia akan punah,”

tuturnya. (ds/don/l03)

Selasa, 18 November 2014 03:00, BinPa

Penderita AIDS Terbanyak Ibu Rumah Tangga

Penderita HIV/AIDS di Kabupaten Jayapura, Papua, pada akhir 2009 didominasi Ibu Rumah Tangga (IRT) Sekertaris Komisi Penanggulangan AIDS (KPA) Kabupaten Jayapura Purnomo, SE, di Sentani, Sabtu [20/3].

JUMLAH IRT yang terkena penyakit HIV/AIDS sampai pada akhir Desember 2009 mencapai 109 kasus, dibandingkan Pekerja Seks Komersial (PSK).”Sekarang IRT yang lebih banyak terinfeksi, dibandingkan dengan PSK yang hanya berjumlah 82 orang,” katanya.

Hal ini, lanjutnya disebabkan tertular dari suami yang sering berhubungan seks bebas dengan perempuan yang terinfeksi HIV/AIDS. Ia mengatakan, jumlah penderita HIV/AIDS di Kabupaten Jayapura sampai pada akhir 2009 mencapai 423 kasus, yang tersebar di 14 distrik.

Menurutnya, penderita HIV/AIDS sekarang, tidak hanya dialami orang yang bermukin di perkotaan, tetapi juga masyarakat di daerah pedalaman, terbukti dari semua distrik yang ada rata-rata terdapat penderita penyakit yang mematikan itu.

“Kasus HIV/AIDS diibaratkan seperti gunung es yang setiap saat jumlah penderitanya bisa meledak”, katanya.

Ia mengatakan, penyakit tersebut terus meningkat, maka pihaknya menyarankan kepada Dinas Kesehatan Kabupaten Jayapura, untuk mengadakan Voluntary Counseling and Testing (VCT) di setpa Puskesmas.

Alat ini perlu untuk pemeriksaan secara intensif terhadap mereka yang rentan HIV/AIDS guna meminimalisasi penularan, karena penyakit tersebut tidak mudah untuk diketahui dan disembuhkan.

Ia mengatakan, “screening” merupakan upaya pencegahan yang lebih bermanfaat agar virus HIV/AIDS di Jayapura tidak meluas. Selain itu, katanya, bagi yang ingin memeriksakan diri secara suka relah, tidak dibebankan biaya (gratis).

Untuk mengurangi penderita HIV/AIDS, KPA Kabupaten Jayapura terus menjalin kerjasama dengan pihak terkait guna mensosialisasikan resiko penyakit tersebut.Khusus kepada IRT, dia mengatakan harus memeriksakan diri setiap bulan, apalagi pada saat sedang mengandung, dan diharapkan tidak boleh merasa malu.

Kasus HIV/AIDS di Kabupaten Jayapura sampai pada akhir 2009 tercatat 423 kasus, dengan rincian PSK 82 kasus, Pekerja Seks Jalanan (PSJ) 3 kasus, IRT 109 kasus, swasta 42 kasus, PNS 28 kasus, buruh/petani 40 kasus, pelajar/mahasiswa 29 kasus, TNI 8 kasus, polri 6 kasus, kalangan agama 4 kasus, lain-lain 72 kasus.[**]

Ditulis oleh Ant/Papos
Senin, 22 Maret 2010 00:00

Kasus HIV-AIDS Bertambah Menjadi 4305 – Karma: Fenomena Gunung Es, Diperkirakan 28 Ribu yang Terjangkit

JAYAPURA-Jika pada triwulan II (Juni 2008) jumlah kasus HIV-AIDS di Papua mencapai 4114, maka sesuai data yang dihimpun Dinas Kesehatan Provinsi Papua hingga triwulan III atau per September 2008, jumlah kasus HIV-AIDS di Papua bertambah menjadi 4305.
Hal ini menunjukkan bahwa dalam kurun waktu 3 bulan (Juni-September) terdapat penambahan 191 kasus. Dalam data resmi yang dikeluarkan oleh Kepala Dinas Kesehatan Provinsi Papua, Dr. Bagus Sukaswara dijelaskan, dari 4305 kasus hingga triwulan III itu terdiri dari jenis kelamin laki-laki sebanyak 2212 kasus, perempuan 2037 kasus dan tidak diketahui identitasnya 56 kasus.

Kemudian bila dilihat dari kelompok umur, kasus HIV-AIDS ini lebih banyak menyerang pada usia produktif, sebagaimana terlihat dalam keterangan berikut, dimana usia kurang dari 1 tahun sebanyak 23 kasus, usia 1-4 tahun sebanyak 50 kasus, usia 5-14 tahun 43 kasus, usia 15-19 sebanyak 355 kasus, usia 20-29 sebanyak 1.957 kasus, 30-39 sebanyak 1102 kasus, usia 40-49 sebanyak 380 kasus, usia 50-59 sebanyak 116 kasus dan usia diatas 60 tahun 19 kasus, sedangkan yang tidak diketahui usianya sebanyak 260 kasus.

Selanjutnya bila dilihat dari daerahnya, Kabupaten Mimika menempati urutan pertama dengan jumlah kasus HIV-AIDS mencapai 1.681 kasus, kemudian Merauke sebanyak 987 kasus, Nabire 552 kasus, Biak 442 kasus, Kota Jayapura 231 kasus, Kabupaten Jayapura 209 kasus, Jayawijaya 118 kasus, Yapen Waropen 66 kasus, Puncak Jaya dan Paniai masing-masing 19 kasus, Mappi 9 kasus, dan Keerom 2 kasus.

Dari data kasus penyebaran HIV-AIDS ini, ternyata didominasi karena perilaku seks yang berganti-ganti pasangan atau hetero seks yang mencapai 4044 kasus, homosek 11 kasus, biseksual 21 kasus dan lainnya.

Ketua Komisi Penanggulangan AIDS (KPA) Provinsi Papua, drh. Constant Karma saat dikonfirmasi Cenderawasih Pos mengatakan, penambahan jumlah kasus HIV-AIDS yang cukup signifikan ini merupakan bagian dari fenomena gunung es, dimana sebenarnya masih banyak lagi yang terjangkit HIV-AIDS, namun banyak yang belum terdeteksi.

“Angka kasus HIV-AIDS ini masih akan naik terus, dimana untuk Papua ini diperkirakan ada 28 ribu orang yang terjangkit HIV-AIDS. Di PNG saja sudah 18 ribu kasus yang positif,” tuturnya.

Menurutnya, dengan adanya penambahan ini berarti pemerintah sedang bekerja, sehingga ditemukan jumlah kasus yang baru. “Kalau bertambah berarti kegiatan VCT berjalan, kita bekerja sehingga ketahuan yang positif itu,” ujarnya.

Terkait meningkatnya jumlah kasus ini, pihaknya menghimbau agar semua komponen masyarakat terus menerus memberikan informasi yang benar dan tepat, sebab informasi yang benar dan tepat itu adalah awal dari pencegahan HIV. “Ini prinsip utama sekali,” tandasnya sambil menyatakan untuk upaya pencegahan ini perlu upaya yang lebih besar lagi dan VCT harus diperbanyak, supaya yang positif HIV menjadi cepat ketahuan, sehingga cepat mencapai angka yang sebenarnya. (fud)

Penderita HIV/AIDS Capai 208 Kasus

Kepala Dinas Kesehatan Kabupaten Jayapura, dr Esterlina Ayomi M.Kes mengatakan, dari fasilitas Voluntary Counseling and Testing (VCT) yang sudah dioperasikan di 12 Puskesmas di i 19 Distrik di Kabupaten Jayapura, menunjukkan peningkatan jumlah penderita HIV/AIDS.

Dimana hingga Juni 2008 untuk HIV 100 kasus dan AIDS 108 kasus, hingga total keseluruhan capai 208 kasus.

Jumlah tersebut meningkat karena kesadaran masyarakat untuk memeriksakan diri semakin banyak.Ini diungkapkan Esterlina saat ditemui di Aula Cipta Karya, Rabu (6/8).Menurutnya angka tersebut dipastikan akan meningkat seiring dengan akan dilengkapinya perlengkapan VCT di 17 Puskesmas diseluruh Kabupaten Jayapura.

“Inidikasi akan bertambah memang cukup signifikan namun kami berharap suatu saat angka tersebut akan menurun,” ujar Esterlina memaparkan.Dari 19 distrik yang ada, menurut Esterlina saat ini daerah yang mendominasi adalah Distrik Sentani Kota, Sentani Timur, Kaureh dan Kemtuk.

Diakui saat ini masih banyak penderita yang belum tercover disebabkan kesadaran untuk memeriksakan diri maupun fasilitas VCT yang belum sampai ke kampungnya dan menjawab persoalan ini pihaknya mencoba menurunkan mobile klinik yang beroperasi ke kampung-kampung.

Mengani penyebab utamanya sendiri, Esterlina menjelaskan bahwa seks merupakan penyebab utama saat ini ironisnya lagi yang mengidap justru mereka yang sedang dalam usia produktif sehingga dikatakan pemahaman masyarakat untuk menjauhi penyakit ini perlu dipreasure kembali.

Cara yang baik adalah menjauhi seks bebas ataupun menggunakan kondom saat melakukan hubungan seks dengan demikian secara pribadi yang bersangkutan sudah melakukan pengamanan pada diri sendiri.(ade)

Up ↑

Wantok Coffee

Melanesia Single Origin Coffee

MAMA Minimart

MAMA Stap, na Yumi Stap!

PT Kimarek Aruwam Agorik

Just another WordPress.com site

Wantok Coffee News

Melanesia Foods and Beverages News

Perempuan Papua

Melahirkan, Merawat dan Menyambut

UUDS ULMWP

for a Free and Independent West Papua

UUDS ULMWP 2020

Memagari untuk Membebaskan Tanah dan Bangsa Papua!

Melanesia Spirit & Nature News

Promoting the Melanesian Way Conservation

Kotokay

The Roof of the Melanesian Elders

Eight Plus One Ministry

To Spread the Gospel, from Melanesia to Indonesia!

Koteka

This is My Origin and My Destiny