Cerita Indonesia tentang Papua di PBB

Kredit foto: Cypri Dale
Kredit foto: Cypri Dale

TINJAUAN Periodik Universal (UPR) atas Indonesia di Dewan HAM PBB baru saja selesai (03/05/17). Pemerintah Indonesia yang diwakili delegasi besar yang dipimpin Menteri Luar Negeri dan Menteri Hukum dan HAM menampilkan pertanggungjawaban HAM Indonesia selama 5 tahun terakhir (sejak UPR 2012) dengan penuh kepercayaan diri diplomatik. Penegakan HAM di Papua menjadi isu sentral, demi menanggapi semakin intensifnya perhatian dan keprihatinan komunitas internasional atas situasi di kawasan itu. Sejumlah negara besar sekutu dekat Indonesia mengajukan pertanyaan dan pernyataan krusial. Sementara tujuh Negara Pasifik yang selama ini bersikap keras terhadap Indonesia dalam persoalan Papua justru memilih tidak hadir. Bagaimana perkembangan persoalan Papua di kancah internasional?

Litani Kesuksesan

UPR sejatinya merupakan mekanisme standar di PBB dengan tujuan untuk memperbaiki situasi HAM secara nyata di setiap negara anggota. Dalam UPR negara yang sedang direview memberikan laporan mengenai situasi HAM di dalam negeri serta pelaksanaan rekomendasi dari UPR sebelumnya. Negara-negara lain, berdasarkan observasi diplomatik serta informasi dari lembaga-lembaga HAM non-pemerintah, mengajukan pertanyaan dan rekomendasi yang harus dijalankan sebelum UPR berikutnya lima tahun mendatang.

Khusus tentang Papua, setidaknya ada empat hal yang disampaikan dalam pertanggungjawaban Menteri Luar Negeri dan Menteri Hukum dan HAM di Dewan HAM PBB dalam UPR kali ini.

Pertama, bahwa pemerintah sedang melakukan percepatan pembangunan yang dianggap sebagai solusi atas berbagai persoalan di Papua. Dilaporkan bahwa “presiden secara teratur mengunjungi kedua provinsi ini untuk mengecek kemajuan pembangunan infrastruktur dan yang paling penting untuk secara langsung berdialog dengan orang Papua.” Terkait dengan pendidikan dan kesehatan, Kartu Indonesia Pintar dan Kartu Indoensia Sehat, dilaporkan sebagai solusi untuk masalah di Papua. Disebutkan “ lebih dari 2,8 juta orang Papua telah menerima kartu sehat sementara 360 ribu siswa telah mendapatkan manfaat dari kartu Indonesia pintar.” Selain itu, pembangunan infrastruktur yang sedang sedang digencarkan pemerintah Indonesia dilaporkan sebagai kemajuan. Dikatakan “Pemerintah berencana membangun jalan Trans-Papua dari Merauke ke Sorong, yang terdiri dari 4325 km jalan di mana 3625 km telah selesai.” Tidak dijelaskan kaitan infrastruktur dengan penegakan HAM.

Kedua, Pemerintah Indonesia “memiliki komitmen yang sangat kuat untuk menyelesaikan persoalan-persoalan ketidakadilan, termasuk dugaan pelanggaran HAM di Papua.” Sebagai buktinya disebutkan bahwa “Sebuah tim integratif di bawah Kementerian Politik, Hukum dan Keamanan termasuk Komnas HAM dibentuk pada tahun 2016 untuk bekerja secara independen untuk menyelesaikan dugaan kasus pelanggaran HAM.” Apa hasil kerjanya? Dilaporkan “Tim ini menyimpulkan bahwa dari 12 laporan dugaan pelanggaran HAM di Papua dari tahun 1996-2004, tiga di antaranya adalah dugaan pelanggaran HAM berat, sementara sisanya adalah kasus kriminal biasa.” Disebutkan juga bahwa “Kejaksaan Agung sedang mempersiapkan proses pengadilan di Pengadilan HAM tetap di Makasar. Untuk kasus Paniai, Komnas HAM telah melakukan investigasi resmi untuk kemudian diproses di Kejaksaan Agung.”

Ketiga, bahwa “Pemerintah juga telah mencabut pembatasan bagi wartawan asing untuk mengunjungi Papua.” Sebagai buktinya ditunjukkan bahwa “39 wartawan asing datang ke Papua pada tahun 2015, sebuah peningkatan sebanyak 41% dari tahun sebelumnya.” Disebutkan juga bahwa pada tahun 2017 ini sudah ada 9 wartawan asing yang mengajukan izin mengunjungi Papua dan semuanya dikabulkan pemerintah.

Keempat, bahwa Otonomi Khusus Papua dilaksanakan untuk meningkatkan tata pemerintahan lokal yang efektif dan pembangunan. Disebutkan juga bahwa “dalam kerangka Otonomi Khusus, provinsi Papua dan Papua Barat juga terus menerima jumlah anggaran paling besar, dibanding provinsi-provinsi lain yaitu 69,71 triliun rupiah atau setara dengan 2.5 milyar dollar Amerika”.

 

Tanggapan Diplomatik

Menariknya sebagai tanggapan atas laporan Indonesia, sejumlah negara justru menyampaikan berbagai pertanyaan dan pernyataan sederhana; yaitu kenyataan pelaksanaannya secara konkret dan bagaimana langkah-langkah pemerintah itu berkontribusi pada penyelesaian masalah HAM yang masih terus terjadi di Papua.

Pemerintahan Swiss misalnya mempertanyakan “Kemajuan apa yang sudah dilakukan Pemerintah Indonesia dalam implementasi rencana yang sudah diumumkan oleh Menkopolhukam pada bulan Mei dan Oktober 2016 untuk menginvestigasi dan menyelesaikan pelanggaran HAM di Papua seperti kasus Paniai, Wasior, dan Wamena?”

Sambil mempertanyakan hal tentang penyelesaian kasus-kasus HAM, Pemerintah Jerman menyoroti pembatasan jurnalis di Papua. Ditanyakan “langkah-langkah apa yang sudah diambil untuk memperbaiki situasi kerja bagi para jurnalis yang bekerja pada persoalan-persoalan terkait HAM dan langkah-langkah apa yang sudah diambil untuk menghapus larangan untuk memberitakan persoalan-persoalan West Papua, termasuk pernyataan untuk membuka akses bagi jurnalis asing ke West Papua?”

Hal senada ditanyakan pemerintah Mexico menyoroti masalah pembela HAM dan Jurnalis, dan mempertanyakan langkah-langkah apa yang sudah diambil untuk “untuk menghentikan intimidasi dan represi terhadap para pembela HAM, jurnalis, dan LSM di Papua Barat?”

Sementara itu, Pemerintah Belanda yang menyambut baik perhatian dan seringnya kunjungan Presiden Joko Widodo ke Papua, mempertanyakan “apa saja yang sudah menjadi hasil dari dari hal-hal itu di bidang hak asasi manusia?”

Selain pertanyaan-pertanyaan tentang konkret pelaksanaan, sejumlah Negara juga menyampaikan rekomendasi krusial yang mengimplikasikan bahwa sebenarnya mereka tidak percaya pada litani kesuksesan yang disampaikan Pemerintah Indoensia.

Pemerintah Amerika Serikat, Australia, Austria, dan New Zeland secara khusus menyoroti kasus-kasus penangkapan aktivis dalam aksi damai serta pembatasan kebebasan berpendapat dan berekspresi. Delegasi Amerika Serikat menyebutkan, “Kami juga sangat prihatin dengan pembatasan kebebasan untuk berbicara dan berkumpul secara damai termasuk di provinsi Papua dan Papua Barat di mana telah terjadi penangkapan besar-besaran terhadap demonstrasi/aksi-aksi yang dilakukan secara damai, juga pembatasan terhadap simbol-simbol lokal.” Sementara delegasi Australia, “merekomendasikan agar Indonesia mengintensifkan seluruh usaha untuk menghormati dan menegakkan kebebasan berekspresi dan beragama serta berkepercayaan dan mencegah diskriminasi berdasarkan apa pun termasuk orientasi seksual dan identitas gender.

Bahkan sejumlah Negara menghendaki investigasi lebih lanjut tentang kondisi konkrit situasi HAM di Papua, dengan merekomendasikan dikirimnya Pelapor Khusus (Special Rapporteurs) ke Papua. Pemerintah Jerman dan Belgia meminta Indonesia menerima kunjungan Pelapor Khusus PBB tentang Kebebasan Berkespresi dan Berkumpul. Sementara Mexico meminta Indonesia menerima kunjungan Pelapor Khusus bidang Hak Masyarakat Asli ke Papua.

Menariknya, negara-negara itu sebenarnya merupakan sekutu dekat Indonesia yang selain memiliki hubungan ekonomi yang kuat, juga biasanya bersikap lunak. Kenyataan bahwa mereka secara eksplisit menyebut persoalan Papua dalam UPR menunjukkan meningkatnya keprihatinan pada tidak kunjung membaiknya situasi di Papua. Selain itu, melalui pertanyaan-pertanyaan dan pernyataan-pernyataan mereka, serta melalui jawaban-jawaban Indonesia yang cenderung menyembunyikan realitas, persoalan-persoalan di Papua semakin diketahui negara-negara anggota PBB di Dewan HAM. Semakin sulit bagi Indonesia untuk menganggap masalah di Papua hanya sebagai masalah dalam negeri saja.

 

Tujuh Negara Pasifik Absen

Sementara itu Negara-negara Pasifik yang selama ini bersikap keras terhadap Indonesia tentang Papua, justru memilih untuk tidak hadir saat UPR Indonesia di Dewan HAM. Dalam dunia diplomatik, tidak hadir, apalagi tidak hadir secara kolektif, adalah sebuah statement diplomatik yang keras dan penuh makna. Tujuh negara ini dalam Sidang Umum PBB di New York tahun lalu menyampaikan keprihatinan mendalam atas situasi di Papua; dan menghendaki dikirimnya tim pencari fakta (fact-finding-mission) internasional ke Papua. Selain itu, mereka menegaskan perlunya mengangkat hak atas penentuan nasib sendiri (the right for self-determination) sebagai solusi jangka panjang bagi Papua.

Dalam konteks itu, ketidakhadiran mereka dalam forum UPR setidaknya memiliki dua makna. Pertama, bahwa mereka tidak percaya kepada laporan Indonesia yang cenderung menyampaikan laporan lip-service demi menutup kenyataan. Kedua, mereka hendak mendorong solusi Self-determinasi seperti yang dikehendaki oleh rakyat Papua sendiri.

Menariknya, sembari absen dalam forum UPR di Komisi Tinggi HAM PBB di Geneva, negara-negara Pasifik ini melakukan langkah diplomatik khusus tentang Papua dalam pertemuan Dewan Menteri Perhimpunan Negara-negara Afrika, Caribean, dan Pacific (ACP) di Brussels pada hari yang sama (3 Mei 2017). Tujuh negara Pasifik ini menyampaikan peryataan yang keras mengutuk berbagai pelanggaran HAM oleh Indonesia di Papua. Mereka menyoroti berbagai kasus kekerasan dan diskriminasi yang dialami orang asli Melanesia/Papua: penangkapan peserta aksi damai, penyiksaan, pemerkosaan, penghilangan paksa, pembunuhan tanpa proses hukum, dll. Disebutkan bahwa melalui program pemindahan penduduk, “lebih dari dua juta orang Indonesia telah menduduki Papua”, dengan “jumlah yang sudah melampaui orang asli”. Mereka juga menyoroti ketimpangan ekonomi, di mana penduduk Indonesia “menguasai ekonomi di kota besar dan kecil, dan di pesisir, serta di area tambang dan perkebunan”. Mereka juga mengungkap penguasaan dan pendudukan yang didukung oleh Negara dalam apa yang disebut ‘penguasaan kolonial yang serupa aparteid’ yang akan lambat laun ‘menghilangkan orang Papua sebagai bangsa’, sambil ‘bangsa-bangsa lain berdiri menyaksikan begitu saja”.

Selain menyoroti persoalan pendudukan Indonesia di Papua, yang secara tegas disebut sebagai kelanjutan kolonialisme, negara-negara Pasifik itu juga menyoroti perjuangan orang Papua dalam melanjutkan perjuangan dekolonisasi yang belum tuntas. Untuk itu mereka mengajak Negara-negara anggota ACP untuk mendorong resolusi jangka panjang dengan mendukung hak self-determinasi politik bagi West Papua.

Disampaikan dalam forum bangsa-bangsa ACP, pernyataan seperti itu memiliki resonansi yang kuat. ACP adalah persatuan bangsa-bangsa yang seluruh anggotanya adalah bekas negeri-negeri jajahan, yang mencapai kemerdekaan mereka pada waktu atau bahkan setelah proses dekolonisasi Papua gagal pada era 1960an. Dengan demikian Negara-negara Pasifik ini mengkonsolidasi politik dekolonisasi, sebuah jalan yang membawa mereka menuju bangsa merdeka, dalam diplomasi internasional terkait Papua.

Tampaknya, dinamika yang didorong oleh Negara Pasifik ini, yang sekarang sudah sedang meluas ke Asia, Carriben dan Pasifik (ACP), dapat membawa dinamika baru pada persoalan Papua di kancah internasional pada waktu mendatang. Selain jalur penegakan HAM yang seperti berlangsung selama ini, agenda self-determinasi dan dekolonisasi dapat menjadi dinamika baru di forum-forum antar-bangsa.

 

Jokowi meninjau pembangunan infrastruktur jalan Trans Papua

 

Pembangunan Gaya Kolonial

Sambil berjanji (lagi) untuk mengusut secara tuntas kasus-kasus pelanggaran HAM berat dan menyangkal bahwa sekarang masih ada pelanggaran HAM yang baru (termasuk pelarangan kebebasan berekspresi, diskriminasi rasial, kekerasan terhadap pembela HAM, praktik penyiksaan), percepatan Pembangunan, terutama pembangunan infrastruktur, menjadi semacam pembelaan utama Indonesia di Papua di forum UPR.

Cerita pembangunan ini diulang-ulang dalam forum-forum PBB setiap kali persoalan Papua dibicarakan. Ini menjadi semacam inti kebijakan nasional Indonesia atas masalah Papua.

Presiden Jokowi sendiri di Jayapura pada Mei 2015 menegaskan bahwa “politik kita di Papua adalah politik pembangunan, politik kesejahteraan”. Ketika ditanya tentang persoalan di masa lalu, termasuk persoalan pelanggaran HAM, pencaplokan sumber daya, dan konflik sejarah, Presiden menegaskan “Tutup! Tutup! Kita mesti melihat ke depan”.

Sebagai bagian dari politik pembangunan itu, Presiden melancarkan pembangunan infrastruktur yang masif, seperti jalan raya trans-Papua, pelabuhan laut, sungai, dan udara, dan bahkan jalur kereta api. Pada saat yang sama membentuk kawasan-kawasan industri baru berbasis pertambangan, perkebunan, dan logging. Saat ini setidaknya ada 240 ijin tambang, 79 ijin HPH raksasa, 85 izin perkebunan sawit di Tanah Papua. Selain korporasi swasta, Pemerintahan Joko Widodo juga mendorong BUMN untuk berinvestasi. Hasilnya adalah kombinasi antara kapitalisme korporasi dan kapitalisme negara untuk eksplorasi dan eksploitasi industrial skala besar di seluruh Papua, mulai dari pesisir sampai ke belantara dan pegunungan. Untuk mendukung semua itu, pemerintah juga menguatkan infrastruktur keamanan, seperti pangkalan militer di Biak, Markas Brimob di Wamena, serta pos-pos militer dan polisi baru di sepanjang jalan trans-Papua yang sedang dibangun.

Yang menjadi pertanyaan adalah apakah ‘politik pembangunan’ dengan berfokus pada infrastruktur, industrialisasi, dan keamanan seperti ini merupakan solusi atau justru akan memperparah persoalan hak asasi manusia dan keadilan sosial di Papua? Bukankah pembangunan semacam itu yang menghancurkan Papua selama Orde Baru, yang membuat orang Papua justru merasa dijajah? Dan apakah pembangunan seperti itu yang dikehendaki oleh rakyat Papua?

Oleh karena fokus pada proyek infrastruktur dan eksploitasi sumber daya alam seperti itu, di Papua Jokowi diberi gelar “Joko Daendels”. Pemimpin gereja-gereja yang sebagian besar anggotanya masyarakat asli (Kingmi, Gidi, Baptis) pada April tahun lalu mengungkap kesamaan agenda Jokowi dengan Gubernur Jenderal Kolonial Belanda Herman Willem Daendels yang membangun jalan trans-Jawa Anyer Panurukan untuk kepentingan kolonial Belanda di awal abad ke-19. Secara terus-terang mereka mengkritik bahwa Presiden Jokowi –yang enggan berdialog dengan para pemimpin politik dan rakyat Papua terkait seluruh kompleksitas masalah di Papua— sudah sedang memaksakan pembangunan infrastruktur demi eksploitasi sumber daya alam dan penaklukan masyarakat Papua.

Di Geneva, sesaat setelah UPR Indonesia tentang Papua, koalisi NGO yang peduli Papua mengeluarkan pernyataan yang mengkritik keras pendekatan ekonomi Indonesia di Papua. Koalisi itu menulis, “Dari jawaban Pemerintah, terlihat bahwa West Papua dilihat dalam konteks pembangunan ekonomi, tapi tidak secara substansial menyelesaikan masalah Papua dari sisi martabat dan HAM orang asli Papua.” Mereka juga menambahkan bahwa

“Pemerintah juga tidak trasparan dalam menjelaskan tentang mengapa masih ada jurnalis yang ditahan, disiksa dan dideportasi keluar dari West Papua pasca Presiden menyatakan bahwa West Papua terbuka untuk wartawan asing, dan Pemerintah tidak menjelaskan tentang apa yang menyebabkan lamanya penyelesaian kasus Wasior, Wamena dan Paniai atau argumentasi dari Pemerintah untuk kasus Wasior, Wamena dan Paniai hanya merupakan pencitraan saja di forum UPR sesi ini, serta Pemerintah tidak menjelaskan tentang masih ada orang asli Papua yang menjadi tahanan politik, pembatasan hak kebebasan berekspresi dan berpendapat, hak kebebasan berkumpul secara damai dan berserikat dari aktivis Papua yang memperjuangkan hak penentuan nasib sendiri bagi orang asli Papua.”

Filep Karma, tokoh gerakan damai yang hadir memantau UPR di Geneva meyebut laporan Indonesia penuh kebohongan. Terkait pembangunan versi Jakarta, Filep menyampaikan metafor menarik. Rakyat Papua sebenarnya ingin meminum kopi. Tetapi Indonesia memaksakan orang Papua untuk minum coca-cola, dengan alasan bahwa dalam coca-cola sudah terkandung kopi. Analogi ini kiranya tepat mengungkapkan perbedaan pandangan antara Indonesia dan Papua, baik terkait dengan masalah politik penentuan nasib sendiri maupun terkait dengan masalah pembangunan.

Barangkali masalah kopi dan coca-cola inilah yang hendak disembunyikan Indonesia ketika membatasi akses jurnalis asing ke Papua, menangkap para aktivis, dan melakukan kekerasan terhadap jurnalis dan media lokal di Papua. Namun, kendati dibungkam dengan berbagai cara, suara orang Papua sudah mulai didengar di Indonesia, Pasifik, dan di seluruh dunia.

Di forum-forum internasional seperti di PBB, sekarang dan di waktu mendatang, cerita Pemerintah Indonesia bukan lagi kebenaran tunggal.***

 

Penulis peneliti pada Insitut Antropologi Sosial, Universitas Bern, Swiss

West Papuan demographics update highlights disparity

New statistics show indigenous Melanesians are not yet the minority they were thought to be in West Papua.

Indonesia’s Statistics Office has produced an ethnic breakdown of Papua region, based on the last census in 2010 which established an overall population of 3.6 million.

While the proportion of Papuan people as a percentage of the population continues to decline, this process varies widey between different regencies.

The percentage of Papuans has fallen catastrophically in some regions, particularly in urban centres, but Papuans still make up the vast majority in the Highlands.

Using the new data, Jim Elmslie of Sydney University’s West Papua Project has produced a new paper updating his previous work on Papua’s demographic transition.

He talks to Johnny Blades.

Ni-Vanuatu march in support of West Papuan self-determination aspirations.

Ni-Vanuatu march in support of West Papuan self-determination aspirations. Photo: Vanuatu government

Nafuki believes ULMWP membership in MSG will be made in Septembe

DailyPost.vu, By Godwin Ligo |  Posted: Wednesday, July 20, 2016 8:00 am

The Chairman of the Vanuatu Committee for Free West Papua, Pastor Allen Nafuki, has said he strongly believes that the Melanesian Spearhead Group (MSG) meeting to be held in Port Vila in September, will grant West Papua full membership into the Melanesian Spearhead Group.

“It was right here in Port Vila, that Vanuatu played an important role in hosting of the reconciliation ceremonies between all West Papua Leaders, and the formation, and the signing of the agreement of the United Liberation Movement for West Papua (ULMWP) between all the West Papua Leaders,” Pastor Nafuki told the Daily Post.

He went on to state that: “As a Pastor in a Christian church and occupying the Chair of the Free West Papua Association in Vanuatu, I also strongly believe that it is God’s plan that the West Papua admission as a full member to the MSG will take place here in Vanuatu.

“In this regard I am calling on every Christian Leaders in all Christian denominations and all Christians across Vanuatu to rise in Pray in one accord for this dream for West Papua brothers and sisters to be fully realized in September 2016 here in Port Vila, Vanuatu,” he appealed.

“After the news was received from Honiara that West Papua full admission into the MSG did not happen, I gave a lot of thought about why the MSG Leaders had once again did not grant full admission to the Melanesian brothers and sisters in West Papua full MSG membership.

“What came across my mind is that we humans make plans but God’s will according to His plan and time is what we have to seek and accept.

“So, as of today as I am talking to the Daily Post, I wish to state that my Committee is reviewing plans and preparing an even stronger application which will be submitted in good time ahead of the MSG Leaders’ Summit here in Port Vila in September, 2016,”

said Pastor Nafuki.

“Let me reiterate my call on all Christian Leaders and all Christians across Vanuatu to place West Papua Melanesian brothers and sisters for a full membership into the MSG, in the hands of the Almighty God to grant this request in the MSG Leaders’ Summit in September 2016,”

Nafuki reiterated.

ligo@dailypost.vu

Masyarakat Diminta Bijak Tanggapi Isu SARA

Selasa, 19 Juli 2016, 01:35 WIB, Rep: Eko Supriyadi/ Red: Yudha Manggala P Putra

 Asrama Mahasiswa Papua
Sejumlah anggota kepolisian berjaga di depan Asrama Mahasiswa Papua di Yogyakarta, Jumat (15/7).

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA — Di saat ramai-ramai kasus ‘pengepungan’ mahasiswa Papua di Yogyakarta, ada kelompok-kelompok yang menyulut isu SARA (Suku, Agama, Ras, dan Antargolongan). Pakar komunikasi Universitas Brawijaya Anang Sujoko menilai, hal ini terjadi karena persoalan dijadikan sebuah wacana publik, sehingga masyarakat bebas menyampaikan ekspresi.

Pada akhirnya, masyarakat cenderung emosi dalam provokasi-provokasi di media sosial yang tidak terkontrol. ”Tetapi, itu ada muatan komentar orang, yang memicu orang lain untuk berkomentar liar dan tidak santun yang pada akhirnya berujung pada SARA,” kata Anang, saat dihubungi, Senin (18/7).

Apalagi, opini-opini liar itu tidak dilandaskan dengan fakta-fakta yang ada, dan lebih mengedepankan emosi. Karena itu, Anang berharap masyarakat agar arif dan bijaksana dalam bersuara.

Intinya, saya berharap kembali semua media sosial, masyarakat harus cenderung arif dan bijaksana dalam bersuara. Karena akan dibaca dan mudah disebarkan kepada orang lain. Begitu juga jika ingin komentar mesti dipertimbangkan matang-matang.

Apalagi, isu HAM dan SARA sangat sensitif untuk diangkat media sosial dan media mainstream, yang dalam waktu cepat bisa menjadi viral di masyarakat.

Sementara itu, Pengamat Komunikasi Politik UIN Syarif Hidatatullah Gun Gun Heriyanto, mengimbau agar masalah ini disikapi bijak oleh berbagai pihak. Supaya tidak salah paham, sehingga membahayakan aspek kohesi sosial dan politik.

Ekspresi kebebasan harusnya dipergunakan dengan baik. Jangan merasa karena ada kebebasan berekspresi yang kemudian berlebihan. ”Yang menyikapi mesti wise, yang memberi stimulan seperti di opini, dengan spanduk dan pendapat mestinya mementingkan kepentingan publik. Tapi dua-duanya mesti bijak,” ujarnya.

Jakarta slams Solomons and Vanuatu over human rights

6:53 pm on 27 June 2016, http://www.radionz.co.nz

Indonesia has strongly rejected statements about West Papua by Vanuatu and Solomon Islands at the UN Human Rights Council session last week.

Delegates of the two Pacific Islands’ countries accused Indonesia of failing to prevent ongoing human rights abuses against West Papuans.

But Indonesia’s delegate at the session, Michael Tene, said Vanuatu and Solomon Islands’ statements showed a lack of understanding of Papua.

He said they were politically motivated in support of separatist groups which incite public disorder and terrorist attacks against civilians and security personnel.

Indonesia as a democratic country is committed to promoting and protecting human rights, including by taking necessary steps to address the allegations of human rights violations and abuses in Papua. No one is perfect. We are always open to have dialogue on human rights issues, but we reject politicisation of these issues. We deplore the way Solomon Islands and Vanuatu have abused this council and the universal principles of the promotion and protection of human rights by supporting the cause of separatism.

Michael Tene from Indonesia’s Permanent Mission to the UN.

He has described Vanuatu and Solomon Islands as being far from perfect on protection of human rights.

He said the two countries still face serious human rights problems, have rampant corruption in all segments of society and government, human trafficking, mistreatment of children and daily abuse of women.

“It would be for the betterment of their populations if the governments of Solomon Islands and Vanuatu give attention and priority to seriously address their respective own domestic human rights shortcomings.”

Furthermore, Mustika Hanum, the third secretary at Indonesia’s Permanent Mission, expanded on her country’s concerns about domestic violence in Solomon Islands.

5 Things You Need to Know About Indonesia’s Occupation of West Papua

The Indonesian president, Joko ‘Jokowi’ Widodo, recently finished his tour of the EU, signing five cooperation agreements with the UK during his stop in London. The protest that confronted Jokowi’s visit fractured his attempt to keep hidden one of Indonesia’s dark secrets: the 50 year war in its easternmost provinces. Here are five things you should know about Indonesian rule in West Papua:

1. It is one of the world’s longest-running military occupations.

Indonesia seized West Papua, the western half of the island of New Guinea, in 1963, shortly after the Dutch colonists pulled out. Political parties were immediately banned, nascent Papuan nationalism crushed, and tens of thousands of troops, police and special forces flooded in. In 1969 a UN-supervised sham referendum was held, and just over a thousand hand-picked representatives were bribed, cajoled and threatened into voting in favour of Indonesian rule.

A police state has shackled the vast region ever since, battling a low-level tribal insurgency and suppressing independence aspirations with such vigour that raising the Papuan national flag can land you 15 years in prison.

2. It’s possible that Indonesian rule constitutes a genocide.

Although international media and NGOs have been nearly uniformly banned from the territory for decades, most observers estimate that over 100,000 native Papuans have been killed since the 1960s – at least 10% of the population. With echoes of Indonesia’s rule in East Timor, which eliminated around one third of the population, a 2004 report from Yale Law School concluded: “[There is] a strong indication that the Indonesian government has committed genocide against the West Papuans.” Several other scholars have reached a similar conclusion.

Reports of barbarous killings regularly emerge, and one study recently described torture as a ‘mode of governance’ in the provinces. The abuse tends to be intertwined with projects of resource extraction and ‘transmigration’ – the effort (formerly supported by the World Bank) to shuttle hundreds of thousands of landless Indonesian peasants from the rest of Indonesia into West Papua.

During a military campaign in the early 1980s, the Indonesian army ran under the slogan, ‘Let the rats run into the jungle so that the chickens can breed in the coop’. In practice, this meant wiping out Papuan villages and bringing in ethnic Indonesians to work on economic projects like Freeport’s giant Grasberg gold and copper mine. The influx of Indonesians has left the original inhabitants a near-minority in the land, struggling to maintain their culture and often nomadic way of life. An Indonesian minister once in charge of the transmigration programme has stated: “The different ethnic groups will in the long run disappear because of integration, and there will be one kind of man.”

3. West Papuans overwhelmingly want independence.

Even the pro-Indonesian US ambassador admitted in the late 1960s that “possibly 85 to 90%” of West Papuans “are in sympathy with the Free Papua cause.” Paul Kingsnorth, an investigative reporter who travelled the region in the early 2000s, described the independence campaign as a “broad-based social movement, which almost everyone in West Papua, if you get them alone, will admit to belonging.”

Nothing speaks to this more than the long campaign of armed resistance and civil disobedience against the Indonesian state. In 2011, documents leaked from the Indonesian army detailed a “longstanding guerrilla network that is relatively well organised and which operates across the whole country.” A recent book describes the non-violent wing of the movement as ‘savvy and sophisticated’, and notes that “Papuans in 2015 desire freedom as much, if not more, than Papuans who desired freedom in 1963.”

Most West Papuans consider themselves Melanesian, with more in common with darker-skinned Pacific populations than the Indonesians who often treat them as racially inferior. Culturally, linguistically, ethnically – Papuans have little in common with Indonesians. For the overwhelming majority, nothing short of independence will suffice.

4. The Indonesian state is terrified of international exposure.

Alongside barring international media from West Papua, Indonesia runs counter-intelligence operations overseas to neutralise the international independence movement, surveilling and harassing campaigners based in Australia and elsewhere. Leaked military documents bemoan the success activists have had in “propagating the issue of severe human rights violations in Papua,” and Indonesia has been working hard to ensure exiled Papuan representatives are barred from regional Pacific organisations. Foreign visitors in the provinces are placed under routine surveillance, and Indonesian concern at the opening of the Free West Papua campaign office in Oxford even prompted the British ambassador in Jakarta to publicly distance himself from independence aspirations.

5. The West – including Britain – has supported Indonesia’s occupation for decades.

Britain’s historic alliance with the Indonesian state dates primarily to General Suharto’s bloody coup in 1965-6. In the midst of the slaughter of at least 500,000 suspected members of the Indonesian Communist Party – which British officials gleefully described as a ‘ruthless terror’ – the Foreign Office argued that “the Generals are going to need all the help they can get”, releasing £1m in aid and granting the export of military equipment. The Indonesian left was duly decimated – never to recover – and the pro-Western Suharto was firmly in control.

Since then, Britain’s support for Indonesian rule in West Papua has been unwavering. Privately recognising the ‘savage’ nature of Indonesian rule, publicly officials have voted to legitimate Indonesian rule at the UN and pledged support for Indonesia’s ‘territorial integrity’. Until the late 90s, the UK was one of Indonesia’s primary arms suppliers. Kopassus, the Indonesian special forces, have been trained and armed by the UK, US and Australia, despite a well-documented record of horrific human rights abuse in Papua. Britain funds and trains Detachment 88, the Indonesian counter-terrorism unit accused of massacres in Papua’s central highlands.

While in opposition, David Cameron described the situation in Papua as ‘terrible’; once in power, he headed to Jakarta with representatives from BAE Systems in tow. By contrast, Jeremy Corbyn is a long-time supporter of the Papuan struggle – another example of his “direct and open challenge to the British system of government of international alliances”, as Peter Oborne described it. It remains to be seen whether or not he will be able to dislodge the British establishment’s ossified support for the Indonesian state if he comes to power.

Photo: Dominic Hartnett/Flickr

The Muslim occupation of West Papua after Dutch granted independence

The Muslim Issue, How often do we hear how “bad” colonialism was? Whether it is from India, Africa or Papua New Guinea and West Papua we are painted a nightmarish picture of the “wicked white man” who is described to have “destroyed” the countries they ruled. But facts are different to these exaggerated left wing fairy tales of division and racism so common amongst the liberals. They have painted the crusaders, the brave Christian army that sacrificed their own lives to save Europe from Muslim takeover, in the same light.

The story of colonialism is different from natives who actually lived under colonialism. Unlike popular claims by left wingers and their historians, colonialism did far more good than bad and offered protecting of territories from the Muslim threat and other external threats. Read here what happened when the Dutch ‘colonialists’ tried to return Papua to its own people and left the country:

The Dutch colonialists tried to give Papua New Guinea and West Papua their independence back to the natives. There was no wars or attacks on the ‘colonialists’ needed for it and the natives gained their island back by appealing to the UN. The Dutch perfectly willingly decided to give it back to the people.

Note also in the story below that the natives and tribals had been able to live freely, protected, and by their own choice and natural lives in their jungles without interferences from the Dutch at all. So much so that they did not even know much about Dutch rule of their own country until after the Dutch left – quite contrary to the claims left wing writers tend to paint the picture. This testimony is the same one can find in India where many native people did not even know their country had been under British rule because they had never even seen an English man, and never had any interferences from the English into their lives for over three hundred years.

To return independence to this island the Dutch tried to prepare them for the task to avoid a Muslim takeover from neighboring Indonesia. Unfortunately the natives did not listen, grasp or take serious the groundwork the Dutch tried to create for them. Like many colonial societies they benefited from the protection and rule colonialism had given them, and did not imagine things would change drastic without it. West Papua, like the Dutch feared, quickly fell into Muslim hands once they had left and the natives have been living under Muslim oppression, rape, arson, threats and mass murders ever since.

Up ↑

Wantok COFFEE

Organic Arabica - Papua Single Origins

MAMA Minimart

MAMA Stap, na Yumi Stap!

PT Kimarek Aruwam Agorik

Just another WordPress.com site

Wantok Coffee News

Melanesia Foods and Beverages News

Perempuan Papua

Melahirkan, Merawat dan Menyambut

UUDS ULMWP

for a Free and Independent West Papua

UUDS ULMWP 2020

Memagari untuk Membebaskan Tanah dan Bangsa Papua!

Melanesia Spirit & Nature News

Promoting the Melanesian Way Conservation

Kotokay

The Roof of the Melanesian Elders

Eight Plus One Ministry

To Spread the Gospel, from Melanesia to Indonesia!

Koteka

This is My Origin and My Destiny