KSB Tembak Mati Tukang Ojek

JAYAPURA [PAPOAggota polisi saat berpatroli usai terjadi penembakan yang dilakukan KSB di Mimika. Aksi penembakan seperti ini kembali terjadi di Kabupaten Lanny jaya yang berujung meninggalnya, Narsito, seorang tukang ojek, Kamis (17/7/2014). S]- Hanya berselang sehari, pasca penembakan di Tingginambut Puncak Jaya yang menewaskan seorang warga bernama Kallo, Rabu (16/7/). Kini Kelompok Sipil Bersenjata (KSB) kembali berulah. Kali ini KSB menembak mati seorang tukang ojek bernama Narsito (40) di kampung Dogome Kabupaten Lanny Jaya, Kamis (17/7/2014) sekitar pukul 17.00 Wit.

Warga kampung Yokobag ini tewas ditempat kejadian, setelah timah panas mengenai kepala belakang hingga tembus pipi kanan.”Di tempat kejadian perkara polisi menemukan selongsongan peluru jenis FN. Korban diperkirakan ditembak dari dengan jarak sekitar 1 meter,” ujar Kabid Humas Kombes (Pol) Sulistyo Pudjo Hartono, S.Ik di Mapolda Papua, Kamis (17/7/2014).

Kabid Humas mengatakan, kejadian itu berawal saat korban mengantarkan penumpang Tiom, ibu kota Kabupaten Lannya menuju distrik Malagaineri.”Saat sampai di tempat tujuan, korban langsung ditembak dari belakang hingga meninggal dunia,”ujarnya.

Dengan adanya aksi teror penembakan tersebut, mantan Wadir Intelkam Polda Papua itu sampaikan di Tiom, Kabupaten Lanny Jaya masih ada kelompok kriminal bersenjata.

“Yang jelas bahwa dengan adanya penembakan tersebut menunjukkan bahwa masih adanya kelompok kriminal bersenjata yang mengganggu kamtibmas di wilayah Lany Jaya,” katanya.

Menurut Kabid Humas, perbuatan tersebut tidak dapat ditolerir dan di maafkan, sehingga pihaknya terus berupaya mempelajari dan mendalami kasus penembakan pengojek yang bisa meresahkan warga setempat.

“Kejahatan ini harus di tindak dan di bawa ke depan hukum dan saya pastikan bahwa pelaku akan di bawa ke depan hukum untuk mempertanggungjawabkan perbuatannya,” katanya.

Sementara itu, Plt Kepala Kantor Komnas HAM Perwakilan Papua, Frits Ramandey, S.Sos mengatakan Komnas HAM mengutuk aksi penembakan yang menimbulkan korban jiwa baik di Lanny Jaya, maupun kejadian sebelumnya di Puncak Jaya.

Menurut Frits, Komnas beranggapan bawah apa yang dilakukan oleh KSB tersebut termasuk pelanggaran HAM sebab menghilangkan nyawa orang lain.”Kami minta kepada KSB agar menjelaskan maksud dari aksi penembakan tersebut hingga menimbulkan korban jiwa di kalangan masyarakat sipil,”.[tom]

Jum’at, 18 Juli 2014 01:27, PAPOS

Anggota Brimob Tembak Tiga Warga Dogiyai

Jayapura, 6/5 (Jubi) – Oknum anggota Brgadir Mobil (Brimob) Polda Papua dikabarkan menembak tiga warga sipil di Kampung Edeida, Distrik Kamu, Kabupaten Dogiyai, Papua. Ketiga korban yakni Anthon Edowai (32) tertembak di paha, Yulius Anouw (27) ditembak di dada, dan Sepnat Auwe terkena tima panas di perut.

Dari informasi yang dihimpun tabloidjubi.com, insiden itu terjadi, Selasa (6/5) sekitar pukul 10.00 WIT. Wakapolda Papua, Brigadir Jenderal (Pol) Paulus Waterpau ketika dikonfirmasi wartawan membenarkan kejadian itu.

“Iya kabarnya seperti itu. Saya dapat laporan dari Kasad Brimob. Tapi baru laporan awal. Kasus ini sedang ditangani langsung Kepala Kepolisian Resort Paniai dan Kepala Kepolisian Sektor Kamu,”

kata Waterpauw, Selasa (6/5).

Menurutnya, terkadang di lapangan memang sulit ketika menghadapi kejadian. Namun harusnya anggota bertindak sesuai Standar Operasional Prosedur (SOP). “Kami akan pastikan lagi laporan lengkapnya,” singkatnya.

Salah satu saksi mata, Benny Goo ketika dihubungi wartawan via selulernya mengatakan, kejadian bermula saat seorang sopir truk dengan nomor polisi 9903, berinisial L menabrak dua warga setempat yakni Yusten Kegakoto (18) dan Jhon Anouw (20), Selasa (6/5) sekitar pukul 16:40 WIT

“Warga lalu mendatangi Kantor Polisek Monemani guna meminta pertanggung jawaban. Namun tanpa peringatan, oknum anggota Brimob itu menembak warga yang ada di Polsek,”

kata Benny Goo.

Menurutnya, kini tiga warga sipil yang diterjang timah panas itu sedang dirawat di Pusat Kesehatan Masyarakat (Puskesmas) Dogiyai. Masyarakat setempat juga menuntut pertanggung jawaban Kesatuan Brimob atas peristiwa itu,” ujarnya. (Jubi/Arjuna)

Kapendam XVII Cenderawasih: Berita Tentang Penembakan Tentara PNG itu Tidak Benar

Jayapura, 5/5 (Jubi) – Kodam XVII Cenderawasih membantah adanya penembakan yang dilakukan oleh tentara Indonesia terhadap patroli perbatasan Papua New Guinea (PNG) seperti yang diberitakan oleh media Papua New Guinea, Post Courier dan dikutip oleh media ini.

Kepala Penerangan Kodam (Kapendam) XVII Cenderawasih, Letkol Rikas Hidayatullah, Kodam XVII Cenderawasih menyampaikan bahwa tidak benar tentara PNG yang sedang melakukan patroli ditembaki oleh tentara Indonesia. Disampaikan oleh Kapendam, tentara Indonesia bahkan mempersilahkan patroli PNG untuk lewat di area no man’s land.

“Berita penembakan tentara PNG itu tidak benar. Tidak ada penembakan pada patroli perbatasan PNG. Karena faktanya, tentara Indonesia bertemu dengan tentara PNG di no man’s land area dan tentara Indonesia mempersilahkan tentara PNG untuk lewat.”

kata Kapendam kepada Jubi, Senin (5/5) malam.

Kapendam juga meminta agar pemberitaan tentang perbatasan Indonesia dan PNG lebih sensitif dan dikonfirmasikan terlebih dulu kepada pihaknya. Hal ini menjadi penting untuk menjaga situasi di wilayah perbatasan RI-PNG.

Semestinya, berita itu dikonfirmasi dulu kepada kami. Agar kita bisa sama-sama memastikan benar atau tidak informasi itu.” tambah Kapendam.

Sebelumnya, diberitakan oleh media ini, mengutip pemberitaan Post Courier, Mentri Luar Negeri dan Imigrasi PNG, Rimbink Pato memanggil Duta Besar Indonesia untuk PNG, Andrias Sitepu dan menyampaikan nota protes PNG atas insiden insiden penembakan yang terjadi pada pagi hari tanggal 19 April lalu. (Jubi/Victor Mambor)

Enhanced by Zemanta

PNG Protes, Patroli Perbatasannya Ditembaki Tentara Indonesia

Jayapura, 5/5 (Jubi) – Tentara Indonesia dilaporkan oleh media Papua New Guinea (PNG), Post Courier telah menembaki patroli perbatasan yang dilakukan PNG Defence Force (PNGDF).

Insiden penembakan ini dilaporkan oleh Post Courier, meningkatkan ketegangan lebih lanjut di perbatasan PNG-Indonesia sehingga memaksa Mentri Luar Negeri dan Imigrasi PNG, Rimbink Pato memanggil Duta Besar Indonesia untuk PNG, Andrias Sitepu dan menyampaikan nota protes PNG. Nota protes ini merupakan nota protes kedua yang dikeluarkan oleh pemerintah PNG atas kekhwatiran yang sama. Nota protes pertama, dikeluarkan sekitar satu bulan yang lalu.

Rimbink Pato, menyatakan keprihatinannya dan mengutuk insiden penembakan yang terjadi pada pagi hari tanggal 19 April itu.
Meskipun ada tidak ada laporan korban jiwa, pemerintah Indonesia harus memastikan bahwa insiden tersebut tidak terulang di masa mendatang,” kata Pato.

Meskipun pemerintah PNG menyampaikan protes, situasi bisa memburuk. Pemerintah PNG diharapkan untuk berdialog dengan pemerintah Indonesia guna mencari jalan keluar sesuai perjanjian kerjasama perbatasan kedua negara yang sudah dijalani bertahun-tahun.

Petinggi PNGDF, Murray Barracks masih bungkam kepada wartawan karena menganggap isu perbatasan belakangan ini sangat sensitif. Meski demikian, tentara PNG diminta untuk tidak melepaskan tembakan jika mereka terjebak dalam kontak tembak antara tentara Indonesia dengan kelompok bersenjata.

Seorang pejabat pemerintahan PNG mengatakan pada Post Courier, bahwa insiden tanggal 19 April itu bisa saja meningkat tensinya jika seorang tentara {NGDF terluka.

Ini bisa saja lebih buruk jika ada tentara kami terluka selama baku tembak pada pagi hari 19 April itu. Saat ini, situasinya sangat sensitif,” kata pejabat pemerintah PNG ini.

Untuk membahas kondisi perbatasan PNG – Indonesia ini, Duta Besar PNG untuk Indonesia, Peter Ilau akan memimpin delegasi PNG dalam pertemuan pembahasan perbatasan Indonesia – PNG yang akan dilangsungkan dalam waktu dekat ini. (Jubi/Victor Mambor)

Pileg di Distrik Mulia Diwarnai Kontak Senjata: Satu orang Tewas

Jayapura, 9/4 (Jubi) – Proses pencoblosan di Distrik Mulia, Kabupaten Puncak Jaya diwarnai kontak senjata antara aparat keamanan dengan kelompok sipil bersenjata (KSB) di Kampung Puncak Senyum, Rabu (9/4).Salah satu dari kelompok tersebut tewas tertembak.

Komandan Kodim 1714/PJ, Letnan Kolonel (Inf) A. Risman via seluler menuturkan kontak tembak terjadi di kampung puncak senyum antara Tim yonif 751 yang dipimpin Kapten (Inf) Syaikoni dengan kelompok sipil bersenjata.

Kelompok dari Pilia sekitar 10 orang dan seorang bernama Wakanio Enumbi dari kelompok itu tewas,” kata Risman, Rabu (9/4).

Selain menembak mati salah satu dari kelompok tersebut, pihaknya juga berhasil menyita satu pucuk senjata api laras panjang jenis SS1 V5 dan amunisi sebanyak 17 butir.

“Korban tewas diduga terlibat penyerangan Polsek pirime, penembakan anggota brimob di Wandegobak dan merampas senjata api Arsenal milik Brimob di Wandegobak, korban sebelumnya juga telah masuk daftar DPO (Daftar Pencarian Orang),”

ujar Risman.

Kapolda Papua, Inspektur Jendral (Pol) Tito Karnavian membenarkan penembakan tersebut. Menurutnya itu terjadi saat anggota TNI yang berjaga di satu pos melihat ada warga yang membawa senjata api.

Melihat hal itu, anggota TNI hendak mendatangi warga tersebut. Namun, dikatakan Tito, warga tersebut langsung menembaki anggota yang kemudian dibalas oleh anggota,.

satu anggota kelompok itu tewas dan yang lainnya melarikan diri,” kata Tito, Rabu (9/4) kemarin.

Namun begitu, Tito mengaku tidak mengetahui pasti jumlah kelompok tersebut. “Saya dapat informasi dari Kapolres bahwa yang meninggal ini juga terlibat dalam penyerangan sebelumnya di Puncak Jaya kasus yang lama dan disita juga satu senjata api,” ujar Tito.

Sementara itu, Ketua KPU Papua, Adam Arisoy, menilai insiden itu tidak berpengaruh pada jalannya pemilihan umum. Dia juga telah berkomunikasi dengan KPU Puncak Jaya dan mendapat informasi bahwa situasi pada saat pencoblosan aman terkendali.

Bunyi letusan senjata mungkin itu sudah biasa bagi mereka,sekalipun nyawa taruhannya,” kata Arisoy, Rabu (9/4).

Dari data kepolisian yang diberikan Kabid Humas Polda Papau, Komisaris Besar (Pol) Sulistyo Pudjo Hartono kepada sejumlah jurnalis melalui Blackberry Masengger (BBM). mengatakan korban tewas itu bernama Wakanio Enumbi, diduga terlibat kasus penembakan terhadap anggota Brimob pada 3 Desember 2011 di kali Semen Puja, penembakan Kapolsek Mulia, Ajun Komisaris (Pol) Dominggus Awes pada 24 November 2012 di Puncak Jaya, juga terlibat aksi penembakan di Tolikara (10/9/2012), penembakan Polsek Pirime (27/10/2012) dan penembakan Brigadir dua (Pol) Sukarno (28/1/2012) di Mulia, Puncak Jaya. (Jubi/Indrayadi TH)

Marinus : Pelaku Penembakan bukan TPN-OPM

Marinus YaungJAYAPURA – Pengamat Politk dari Universitas Cenderawasih, Marinus Yaung, menegaskan bahwa pelaku penembakan di Mulia, Puncak Jaya, bukanlah kelompok TPN-OPM sebagaimana yang ramai diberitakan saat ini.

“Penembakan warga sipil dan pesawat di Puncak Jaya bukan dari kelompok TPN-OPM pimpinan Goliat Tabuni. Karena pimpinan TPN-OPM di wilayah pegunungan tengah sudah memahami perkembangan masalah Papua di dunia internasional dewasa ini, jadi mereka tidak mungkin melakukan tindakan-tindakan kekerasan yang akan menjadi blunder politik bagi perjuangan diplomasi internasional masalah papua,”

terangnya kepada Bintang Papua, Kamis (9/1).

Ia pun menegaskan bahwa mereka yang melakukan penyerangan terhadap pos polisi dan mengambil 8 pucuk senjata serta menembak warga sipil dan pesawat Susi Air adalah kelompok kriminal pimpinan ‘JP’, seorang tokoh muda garis keras dalam perjuangan Papua merdeka, yang pernah ia jumpai di satu kota di PNG tahun kemarin.

“JP dan seorang temannya yang warga negara asing, merupakan otak dibalik semua kasus kekerasan di Puncak Jaya dalam kurun waktu 1 tahun belakangan ini. Kelompok kriminal JP ini kebanyakan anak-anak muda yang berumur belasan tahun sampai 30-an tahun. Mereka tersebar di beberapa kabupaten di pegunungan tengah dan juga di dalam Kota Jayapura. Dalam jaringan tubuh OPM sendiri, sekarang ini muncul banyak kelompok perlawanan, dimana kelompok ini dapat digolongan dalam 3 kelompok berdasarkan tujuan dan motivasi perlawanan mereka,”

ujarnya.

Dari kelompok itu, lanjutnya, ada yang berjuang untuk ideologi Papua merdeka, dimana jumlah kelompok ini sudah semakin berkurang. Lalu ada kelompok yang berjuang untuk cari makan, uang dan kedudukan dalam lingkaran kekuasaan dengan menjual perjuangan Papua merdeka dan terakhir kelompok kriminal yang muncul karena tidak puas dengan kebijakan-kebijakan pemerintah.

“Kelompok ketiga yang muncul saat ini di papua bagaikan munculnya cendawan atau jamur di musim hujan. Sangat banyak tapi mereka memiliki garis komando yang jelas. Untuk wilyah pegunungan dibawah koordinasi ‘JP’ dan untuk wilayah kota atau pantai di bawah koordinasi sekelompok orang. Ada sejumlah Tokoh-tokoh masyarakat yang menurut saya dapat mendamaikan situasi di sana,tetapi sampai hari ini para tokoh masyarakat ini masih belum di dekati pemerintah dan bahkan mereka sendiripun tidak mau berinisiatif bertemu pemerintah untuk selesaikan konflik Puncak Jaya,”

kata dia.

Ia menambahkan, sebaliknya, kalau ketua DPRP, MRP dan Gubernur Papua mau tampil untuk selesaikan konflik Puncak Jaya, justru mereka ini adalah tokoh-tokoh yang dinilainya tidak disukai oleh TPN-OPM sendiri.

“Lebih baik tokoh-tokoh yang dipercaya oleh OPM sajalah yang mengambil langkah-langkah menyelesaikan masalah Puncak Jaya. Selama tokoh-tokoh masyarakat yang dipercaya OPM tidak mau bicara dengan pemerintah, selain hanya mau bicara lewat forum dialog damai Papua-Jakarta, maka kasus konflik dan kekerasan tak akan pernah bisa diselesaikan,”

tandasnya.(art/don/l03)

Sabtu, 11 Januari 2014 06:51, BinPa

Enhanced by Zemanta

Penembakan Misterius di Freeport Skenario Asing?

Jayapura – Serangkaian aksi penembakan misterius di areal tambang PT Freeport Tembagapura Timika Papua, terus menjadi sorotan sejumlah pihak. DPR Papua tak henti-hentinya menyoroti aksi misterius yang hingga kini belum terungkap siapa pelakunya. Bahkan mensinyalir, aksi itu bisa saja skenario dari pihak asing.

”Perlu diwaspadai, kemungkinan serangkai aksi di Freeport bukan ulah lokal, tapi bisa saja pihak asing, dengan tujuan ingin mengeruk kekayaan alam kita, tanpa di awasi,”ujar Wakil Ketua Komisi A DPRP Bidang Politik Hukum dan HAM, Yanni , S.H., Senin 16 Desember.

Sinyalemen bahwa pihak asing bisa saja terlibat, lanjutnya, karena mudahnya pelaku dengan berbagai senjata dan amunisi yang dimiliki, masuk areal Freeport. “Pengawasan di areal Freeport kan sangat ketat, namun pelaku dan senjata yang dimilikinya, seperti mudah dimasukan untuk melakukan teror, ini salah satu yang mengindikasikan kemungkinan pihak asing bermain, dan seolah-olah OTK atau OPM sebagai pelakunya, “kata dia.” terangnya.

Apalagi, peristiwa penembakan misterius di Areal Freeport, sudah kerap terjadi, tapi pelaku belum pernah bisa diungkap. “Penembakan sudah sering terjadi, korban juga sudah cukup banyak, tapi siapa pelakunya tidak pernah terungkap.”paparnya.

Untuk itu, kata dia, aparat keamanan harus segera mengungkap pelaku serangkaian aksi penembakan misterius di areal Freeport, agar tak memunculkan berbagai persepsi atau opini yang kurang baik. “Persepsi publik kan jadinya negatif, karena pelaku teror tak pernah bisa diungkap dan ditangkap, jadi harus diungkap secepatnya,” tandasnya.
Ia juga meminta aparat keamanan dalam hal ini Kepolisian, untuk meningkatkan aksi razia atau sweeping senjata api, tajam maupun bahan peledak di Timika. “Dengan gencar menggelar razia, ruang gerak pelaku akan semakin sempit,”terangnya.

Mengenai pernyataan KSAD yang memerintahkan tembak ditempat bagi pelaku aksi teror di Freeport, harus di apresiasi, karena aksi itu sangat meresahkan dan mengganggu kegiatan tambang. “Kalau KSAD perintah ditempat, kita harus meresponnya, karena memang serangkaian aksi sudah sangat meresahkan,”pungkasnya.

Serangkaian aksi penembakan itu, sangat berimbas bagi kondisi keamanan di seluruh Papua, pasalnya, opini yang terbentuk khususnya di luar Papua, bahwa secara keseluruhan Papua tidak aman. “Kan yang dirugikan seluruh Papua, karena dianggap tidak aman, padahal kejadian hanya di Freeport,”tandasnya.

Sebelumnya, KSAD Jenderal TNI Budiman menganggap, eksistensi pengacau keamanan di Papua masih berjalan. Meski sudah memerintahkan Kodam XVII Cenderawasih dan jajarannya melakukan pendekatan persuasif.

“Penembakan yang diarahkan ke rombongan Komanda Korem 174/Anim Ti Weninggap atau ATW Brigadir Jenderal Bambang Haryanti dianggap, merupakan aksi melawan simbol negara. Selama ini kami anggap mereka saudara. Kalau mereka menggunakan senjata saya perintahkan hadapi juga dengan senjata. Sekalipun penyelidikan ditangani polisi, saya juga memerintahkan agar TNI ikut mengusut pelaku yang meresahkan masyarakat itu. Penembakan terhadap TNI juga harus dihadapi oleh anggota TNI,” kata Kasad Jenderal TNI Budiman.

Sementara itu Juru Bicara Polda Papua AKBP Pujo Sulistyo saat dikonfirmasi terkait perkembangan pengungkapan pelaku aksi teror penembakan di Freeport, mengatakan, pihaknya masih terus memburu para pelaku. “Kami masih kejar pelaku, bahkan guna mempersempit ruang geraknya, juga memperketat pengamanan di sepanjang areal Freeport,”ucapnya.

Selain itu, kata dia, pengawalan terhadap kendaraan perusahaan ditingkatkan. “Kendaraan perusahaan yang hilir mudik dari Timika ke Tembagapura dan sebaliknya, pengawalannya kami perketat,”ucapnya. (jir/don/l03)

Selasa, 17 Desember 2013 06:43, Binpa

Teror Penembakan di Freeport Makin Menjadi

JAYAPURA[Anggota Brimob saat melakukan penyisiran di sekitar Mile 42 pasca penembakan, Senin (10/12) lalu.PAPOS]-Aksi teror penembakan yang dilakukan kelompok sipil bersenjata (KSB) di kawasan PT Freeport Indonesia di Timika makin menjadi. Mereka seperti tak mau memilih korban. Setiap kendaraan yang melintasi kawasan tersebut menjadi sasaran tembak.

Kali ini satu mobil yang mengangkut rombongan Komandan Korem 174/Anim Ti Waninggap (ATW) Merauke, Brigjen TNI Bambang Hariyanto diberondong tembakan di sekitar Mil 42, Kamis (12/12) sekitar pukul 12.30 WIT.

Teror penembakan oleh orang tak dikenal ini merupakan keempat kalinya. Sebelumnya tiga penembakan beruntun terjadi mulai Minggu (9/12) hingga Selasa (11/12).

Dalam kejadian tersebut Danrem Korem 174/Anim Ti Waninggap (ATW) Merauke selamat termasuk Dandim Timika, Letkol Dwi Lagan, anggota polisi dan petinggi PT. Freeport. Kepala Penerangan Kodam XVII/Cenderawasih, Kolonel Inf. Lismer Lumban Siantar dihubungi semalam membenarkan adanya penembakan tersebut.

”Memang benar ada penembakan, namun selain rombongan Danrem Merauke, ada rombongan dari polisi, kemudian Freeport juga. Tidak ada korban dari kejadian ini,”

ujar Kapendam kepada Papua Pos melalui ponselnya semalam.

Menurut Kapendam, penembakan itu terjadi ketika rombongan usai melakukan peninjauan pos-pos pengamanan di areal Freeport. ”Saat mereka usai melakukan peninjauan, rombongan ditembaki,” ujarnya.

Kapendam mengatakan, walau petinggi TNI ditembaki, namun pihaknya menyerahkan kasus ini sepenuhnya kepada kepolisian untuk menanganinya.”TNI sebatas memback-up kepolisian,” ucapnya.

Masih menurut Kapendam.,Kapendam menuturkan, pihaknya belum mengetahui secara pasti motif penembakan tersebut.”Kami belum tahu, sebab masih dalam penyelidikan kepolisian,” katanya. Kapendam menegaskan, pihak TNI siap membantu kepolisian untuk melakukan pengejaran terhadap para pelaku penembakan.

Kenny Kwalik Dibalik Penembakan

Sementara Kapolda Papua, Irjen Polisi Tito Karnavian mengatakan dari pengembangan penyidikan diketahui bahwa aksi teror penembakkan di area Freeport tersebut diduga ada keterlibatan kelompok bersenjata Kali Kopi pimpinan Teny Kwalik yang bermarkas di Tanggul Timur.

“Kita sudah tahu mereka sehingga kita sedang meningkatkan pengamanan di area Freeport dengan melakukan patroli, pengawalan dan penjagaan. Kita tingkatkan dan intensifkan,” kata Tito kepada wartawan di Timika, Kamis pagi.

Meski aksi teror penembakkan kembali marak, namun Polda Papua belum berencana menambah pasukan pengamanan PT Freeport.

“Tidak ada penambahan pasukan karena personil yang disiagakan untuk melakukan pengamanan sebanyak 800 orang untuk menghadapi kelompok ini,”

kata Tito.

Dari data pihak kepolisian, kelompok bersenjata pimpinan Teny Kwalik berjumlah sekitar delapan hingga 10 orang. Kelompok ini diketahui memiliki beberapa pucuk senjata api. Senjata itulah yang selama ini digunakan untuk melakukan teror penembakan terhadap sejumlah kendaraan yang melintas di ruas jalan Timika-Tembagapura maupun ruas jalan Tanggul Timur menuju Kampung Nayaro.

Usai melakukan aksi teror penembakan, kelompok tersebut langsung melarikan diri ke dalam hutan.

Kapolda Papua mengakui pekan lalu jajarannya menerima surat selebaran yang mengatasnamakan Markas Komando Militer III Timika pimpinan Teny Kwalik.

Selebaran serupa diterima pihak Kodim 1710/Mimika. Dalam surat tersebut, kelompok Teny Kwalik menuntut agar limbah Freeport yang berdekatan dengan markas mereka harus dihentikan karena mereka merasa dirugikan.

“Motif inilah yang sedang kami pelajari bersama Freeport dan berupaya melakukan komunikasi dengan kelompok ini untuk menanyakan apa keinginan mereka. Jika mereka mengakui betul persoalan limbah Freeport maka kita akan berkoordinasi dengan Freeport untuk mencari jalan keluarnya dengan memindahkan aliran pembuangan limbah itu,”

kata Tito.

Selain limbah Freeport, perusahaan tambang asal Amerika Serikat itu diketahui juga mengambil material batu dan pasir dari area Kali Kopi untuk membangun Tanggul Timur.

Kelompok bersenjata pimpinan Teny Kwalik diketahui merupakan kelompok yang sudah lama terbentuk. Kelompok Teny Kwalik diketahui juga mendalangi serangkaian aksi teror penembakan di area Freeport sejak 2009.

Dengan semakin gencarnya pembangunan Tanggul Timur sebagai dinding pembatas area pengendapan tailing PT Freeport, kelompok Teny Kwalik merasa makin dibatasi ruang geraknya. [tom]

Jum’at, 13 Desember 2013, Ditulis oleh Tom/Papos  

 

Menyambangi “Markas Raja Cycloop” di Hutan Distrik Ravenirara (Bagian 3/Habis)

Laporan : Ibrahim S/ Walhamri Wahid

Adrianus Apaseray dan Oktovianus Sorondanya ketika mengajak wartawan SULUH PAPUA ‘menengok” rumah tinggalnya yang dirusak saat penyerbuan polisi ke Kampung Yonsu Yongsu pekan lalu, kondisi kampung sendiri hingga kini masih sunyiLEWAT tengah hari, akhirnya Adrianus Apaseray dan Oktovianus mendampingi saya keluar dari “markas” mereka dan berjalan kaki menuju ke Kampung Yonsu Spari, kediaman mereka, sepanjang perjalanan obrolan kami tetap berlangsung.

Adrianus mengeluarkan segala uneg – uneg yang mengganjal di hatinya termasuk soal tudingan polisi bahwa dirinya disamakan dengan teroris dan sedang belajar merakit bom sehubungan ditemukan sejumlah alat – alat yang di curigai untuk merakit bom di rumahnya.

“itu bukan alat merakit bom, yang mereka sita itu adalah alat – alat kerja meubel saya, mesin bor, sekap, mesin amplas, router dan beberapa alat lainnya, pipa yang mereka sita itu kan hanya pipa kosong bukan dipersiapkan untuk merakit bom, peluru yang mereka ambil juga itu peninggalan Perang Dunia II”, kata Adrianus sambil tertawa kecil mengetahui alat – alat kerja meubelnya di anggap sebagai peralatan merakit bom.

Ia juga menjelaskan bahwa senjata yang di sita dari rumahnya maupun rumah Oktovianus hanyalah sebuah senapan angin yang banyak di jual di toko karena biasa mereka gunakan untuk berburu.

“senjata rakitan kami bukan seperti itu, kalau kami mau bikin senjata rakitan itu hak kami karena itu untuk perjuangan kami, tapi kami bukan separatis apalagi teroris, kami memperjuangkan hak kami”

timpal Oktovianus

Setelah berjalan kurang lebih 1 jam, akhirnya kami sampai di tengah – tengah kampung, ada beberapa warga yang sudah berani muncul di kampung, namun mereka tidak menunjukkan gelagat takut saat melihat kedatangan kami.

“ada beberapa warga yang sudah berani pulang siang untuk jaga harta dan ternak yang masih ada, tapi biasanya malam itu mereka kembali ke pengungsian di keluarga di Dormena atau kampung tetangga lainnya, karena mereka khawatir akan di serbu lagi tengah malam”,

jelas Adrianus.

Menurutnya selama ini ia tidak pernah melakukan aktivitas meneror warga apalagi memeras, andaikan ada yang sedikit salah paham atau beda pendapat dengan beberapa warga bukan terkait pandangan dan perjuangannya, namun soal – soal lain di dalam pemerintahan.

“tidak benar kalau saya meneror semua warga, lihat kan, kita lewat tadi mereka biasa – biasa saja, karena saya tidak mengganggu warga yang tidak mencampuri urusan saya, kalaupun ada yang merasa terteror itu karena mereka menjadi mata – mata dan melaporkan aktivitas saya di kampung selama ini kepada aparat, jadi mereka – mereka itu yang terteror”,

jelasnya.

Ia juga mengakui aksi “melaporkan dirinya” ke aparat itu disebabkan juga karena urusan di dalam pemerintahan kampung, termasuk soal dana ADK, dimana ia dituduh menggelapkan sejumlah dana dimaksud.

“karena ada pihak – pihak yang tidak terima soal dana ADK itu, akhirnya mereka mau cari muka ke aparat dan melaporkan aktivitas saya selama ini”,

jelas Adrianus.

Tapi menurutnya peristiwa beberapa hari lalu tidak ada hubungannya dengan dana ADK atau masalah jabatan kampung, namun itu adalah bagian dari sebuah perjuangan.

Sambil kami melihat – lihat kondisi rumahnya yang rusak, kolam ikannya yang katanya diracun, Adrianus lalu menguraikan akar masalah sebenarnya, menurutnya awalnya memang menyangkut masalah dana ADK, kemudian di giring ke masalah politik, dimana ada beberapa oknum warga di Kampung Yonsu yang melaporkannya ke pihak keamaman.

“jadi saya dilaporkan meneror dan intimidasi warga kampung, padahal saya hanya bermasalah dengan mereka – mereka yang menjadi Yudas Iscariot, jadi yah itu, mungkin karena iri hati, atau bagaimana, sehingga di giring ke masalah politik, dan saya dianggap sebagai kelompok pengacau, saya memang anak buah Hans Jouweni, tapi saya bukan pengacau, apalagi meneror warga”,

kata Adrianus.

Ia juga membela diri, bila ia menggunakan dana itu, karena ia juga merasa berhak, karena ihwal turunnya dana Otsus adalah karena perjuangan TPN/OPM.

“dana Otsus itu ada karena OPM atau karena sebagian besar orang pribumi Papua minta merdeka, sementara ada pejabat-pejabat yang bisa korupsi sampai belasan miliar namun hukum tidak menyentuh mereka, oleh karena itu, pejabat Papua yang korupsi uang rakyat akan kami hancurkan sesuai dengan cara kami. Ini juga perjuangan kami”,

katanya

Soal pengibaran bendera Bintang Kejora di Balai Kampung, Oktovianus Sorondanya mengakui ia yang melakukannya, sebagai tanda perlawanan dan eksistensi kelompok mereka dibawah komando Brigjen (TPN/OPM) R. H. Jouweni.

“ya.. benar kami yang kasih naik bendera itu, sebagai tanda perlawanan kita, dan itu perintah dari organisasi OPM, karena apa yang kami lakukan adalah perintah dari atasan kami sebab kita bukan bagian dari Indonesia, dan dunia sudah tahu bahwa masalah Papua adalah masalah Internasional. Jadi kami minta kepada pihak Indonesia untuk segera membuka diri berdialog dengan Papua diatur oleh pihak yang netral ditempat yang netral sama seperti dong (Indonesia) berdialog dengan Aceh juga harus melibatkan PBB, Amerika Serikat dan Belanda karena mereka biang keladi yang telah menyerahkan Papua ke tangan Indonesia untuk dibantai, disiksa dan dihancurkan di atas tanah leluhur kami”,

kata Oktovianus berapi – api.

Lebih lanjut dikatakannya bahwa mereka sudah tidak percaya lagi pada pemerintah Republik Indonesia yang selalu membohongi rakyat pribumi Papua “kami tidak percaya pada pemerintah Republik Indonesia yang selalu membohongi orang Papua. Otonomi Khusus, tidak ada sesuatu yang khusus di Papua sebab semua aturan masih terus dipegang di Jakarta, UP4B dan Otsus Plus semua adalah penipuan.

Jadi tekad kami sudah bulan minta merdeka, nanti mau miskin melaratkah atau kayakah itu urusan belakang yang penting tanah Papua harus merdeka dulu” kata Oktovianus dan mengaku tidak takut meski kini ia dan kelompoknya masuk target aparat, karena menurutnya itu resiko dari perjuangan.

Kurang lebih 30 menit mereka berdua membawa saya keliling kampung, ia juga sempat menjelaskan kronologis peristiwa naas Jumat (29/11) lalu, termasuk lokasi dimana Eduard Okoseray di tembak dan kami juga sempat menyambangi kuburannya.

Keduanya juga membawa saya melihat kondisi rumah – rumah mereka yang porak poranda setelah di geledah oleh aparat yang hingga kini masih dibiarkan dalam kondisi apa adanya.

Menjelang sore, akhirnya saya berpamitan dan di dampingi penghubung sebelumnya untuk kembali berjalan kaki ke Kampung Dormena, dan akhirnya kami tiba sudah larut dan saya memutuskan untuk bermalam di kampung itu.

Tidak terasa saya sudah 2 hari putus kontak dengan keluarga dan kantor redaksi, dan saya pun tidak memikirkan bahwa mereka semua risau dan gelisah memikirkan keberadaan saya, hingga pagi – pagi saya dikejutkan dengan kedatangan keluarga yang mencoba menelusuri jejak saya, karena mereka khawatir kondisi saya yang tidak ada kabar selama 2 hari.

Rupanya karena tidak ada kabar dari saya selama 2 hari, seorang kakak saya berkoordinasi dengan Pimpinan Redaksi dan diputuskan untuk mengirim utusan dari keluarga guna menelusuri jejak dan keberadaan saya, dan mereka semua bahagia karena mengetahui keadaan saya yang baik – baik saja, dan akhirnya kami kembali ke Jayapura bersama – sama tengah hari itu. (SELESAI)

Kamis, 12-12-2013, SuluhPapua

Imparsial : Penembakan di Freeport Banyak Kepentingan “Main”

Direktur Eksekutif Imparsial, Poengki IndartiJAYAPURA – Serangkaian aksi penembakan secara berturut-turut selama 3 hari, terjadi di areal Tambang PT Freeport Timika Papua, dimana aparat Kepolisian belum mampu menghentikannya.

Mendapat tanggapan dari Imparsial LSM Pemerhati HAM. Imparsial mensinyalir terkait aksi teros penembakan ini ada banyak kepentingan yang “bermain” di sana.

“Penembakan di Freeport yang sangat marak sejak 2009, kembali terjadi lagi. Diawali pada Minggu 8 Desember dan terjadi berturut-turut di mile 40-41, mengenai kendaraan yang ditumpangi aparat keamanan. Ini teror yang sangat misterius, karena pelakunya tidak pernah bisa diketahui atau bahkan ditangkap,”

ujar Direktur Eksekutif Imparsial, Poengki Indarti melalui pesan elektroniknya, Rabu 11 Desember.

Kekerasan berupa penembakan yang tak pernah bisa dihentikan, jika pelakunya tidak berhenti sendiri, justru mengundang tanda tanya besar. “Mengapa Freeport yang selama ini selalu dijaga aparat keamanan bersenjata dengan sangat ketat, masih saja kecolongan dengan aksi para pelaku? Mengapa selama ini aparat keamanan gagal menangkap para pelaku? Apakah para pelaku sedemikian lihai mengecoh aparat? Atau justru ada sebab-sebab lain.”tanya dia.

Dari analisa Imparsial, kata dia, ada sejumlah hal yang menjadi pemicu kembali terjadinya aksi penembakan misterius di areal Freeport.

“Ada beberapa analisa terhadap hal ini. Kekerasan di Freeport terjadi tidak dalam ruang yang kosong. Ada banyak kepentingan “bermain”di situ. Bahkan situasi politik nasional juga kemungkinan besar bisa berdampak di Papua – pilihannya bisa di Freeport atau di Puncak Jaya. Dinamika politik di Papua juga bisa menjadi penyebab kembali maraknya aksi kekerasan di Freeport,”

terangnya.

Namun, faktor lain juga bisa menjadi munculnya aksi teror itu, seperti masalah uang atau upeti.

“Selain itu serangan ini bisa juga dialamatkan pada PT. Freeport Indonesia, dengan maksud mendapatkan uang dari PT. Freeport. Ini bisa dilakukan oleh pihak mana saja yang mempunyai akses pada senjata api,”

jelasnya.

Oleh karena itu, yang paling penting harus dilakukan adalah upaya Polda Papua secara serius dan sungguh-sungguh untuk melakukan pengejaran dan penangkapan terhadap para pelaku.

“Selain itu sangat penting bagi Polda untuk melakukan operasi razia senpi dan sajam, termasuk bahan-bahan peledak di seluruh Papua. Nama baik Polda dipertaruhkan untuk bisa menangkap para pelaku hidup-hidup dan membawanya ke pengadilan,”

terangnya. (jir/don/l03)

Kamis, 12 Desember 2013 08:26, Binpa

Up ↑

Wantok Coffee

Melanesia Single Origin Coffee

MAMA Minimart

MAMA Stap, na Yumi Stap!

PT Kimarek Aruwam Agorik

Just another WordPress.com site

Wantok Coffee News

Melanesia Foods and Beverages News

Perempuan Papua

Melahirkan, Merawat dan Menyambut

UUDS ULMWP

for a Free and Independent West Papua

UUDS ULMWP 2020

Memagari untuk Membebaskan Tanah dan Bangsa Papua!

Melanesia Spirit & Nature News

Promoting the Melanesian Way Conservation

Kotokay

The Roof of the Melanesian Elders

Eight Plus One Ministry

To Spread the Gospel, from Melanesia to Indonesia!

Koteka

This is My Origin and My Destiny