Polda Butuh Pesawat Terbang

Komisi III DPR RI Anggarkan Di APBN 2013

JAYAPURA—Polda  Papua  membutuhkan  pesawat  terbang  untuk  mendukung  kegiatan keamanan dan ketertiban , terutama ketika  terjadi konflik  di wilayah Pegunungan atau Pemilukada.   “Kami kesulitan menghadapi  medan   yang  serba  berat  untuk memobilisasi  pasukan ketika pecah konflik, apalagi Polsek dan Polres  membutuhkan dukungan  pasukan  pengamanan,” kata dia.

Menanggapi   hal ini  Ketua  Komisi III DPR  RI Gede Pasek  Suwardika  ketika  kunjungan kerja di  Polda Papua,  Jayapura,  Rabu (7/11)  mengutarakan,  pihaknya menganggarkan pembelian 1  unit pesawat terbang  di  APBN 2013.

 “Kalau  kita lihat  problematikanya,  maka kami   segera  mengadakan  1 unit  pesawat  terbang  untuk mempercepat kinerja lembaga-lembaga mitra,”

katanya.

Karenanya, kata dia, pihaknya menilai permintaan Polda Papua sangat rasional   karena  Papua  tak  bisa disamakan dengan daerah-daerah lain di tanah air.

Sementara  itu,   Anggota  Komisi  III  DPR  RI  Said Mohamad yang  juga  adalah  Anggota   Badan Anggaran (Banggar)  DPR RI  mengatakan,  pihaknya  segera mendorong  untuk  anggaran pengadaan 1 unit  pesawat terbang.

 “Papua  dan  Aceh  adalah  daerah  yang diberlakukan  Otsus,  sehingga   Polda Papua juga  harus diperlakukan khusus.  Bila Jateng  menggunakan  mobil  logikanya di Papua menggunakan pesawat terbang,”

beber dia.(mdc/don/LO1)

Senin, 12 November 2012 08:04,

Polda Bentuk Timsus Ungkap Aksi Teror di Freeport

Kapolda Papua Irjen.Pol. Drs. M. Tito Karnavian, MA menyerahkan cinderamata kepada Ketua Ketua Komisi III DPR RI Gede Pasek Suwardika ketika kunjungan kerja Komisi III DPR RI di Polda PapuaTIMIKA—Jajaran kepolisian akan membentuk tim khusus (timsus) untuk menangani berbagai aksi teror penembakan yang kerap terjadi di areal PT Freeport Indonesia di Kabupaten Mimika, Papua.

Kepala Kepolisian Daerah Papua, Irjen Polisi Tito Karnavian yang dihubungi dari Timika, Rabu mengatakan tim khusus tersebut dibentuk di tingkat Polres Mimika yang bertugas memetakan dan menyelidiki sampai tuntas setiap kali terjadi insiden penembakan.

“Tim harus menangani setiap kasus secara serius sampai tuntas. Jangan sampai saat ada kejadian diselidiki ramai-ramai, tapi setelah itu hilang,”

kata Tito.

Kapolda Papua, Tito Karnavian bersama rombongan pekan lalu selama dua hari mengunjungi areal pertambangan PT Freeport Indonesia di Tembagapura, Mimika. Selama berada di Tembagapura, Tito Karnavian meninjau area tambang terbuka (open pit) Grasberg, dan meninjau operasi tambang bawah tanah (underground).

Menurut Kapolda Papua, dengan dibentuknya tim khusus di Polres Mimika untuk menangani berbagai kasus teror penembakan di areal Freeport maka diharapkan ke depan jika masih terjadi kasus tersebut akan segera ditangani lebih serius.

Pasalnya, berbagai kejadian teror penembakan yang kerap terjadi di areal Freeport sejak 2009 hingga 2012 sebagian besar tidak pernah terungkap siapa pelakunya. Selama periode itu, telah terjadi puluhan hingga ratusan kali teror penembakan oleh kelompok bersenjata tak dikenal di areal Freeport dan telah menewaskan lebih dari 20 orang baik karyawan, anggota Polri, anggota satuan pengamanan internal perusahaan maupun masyarakat biasa yang berprofesi sebagai pendulang tradisional.

Situasi Papua Kapolda Papua, Tito Karnavian menegaskan bahwa saat ini situasi keamanan di wilayah Papua dan Papua Barat aman dan terkendali.

Ia mengatakan sejumlah kasus kriminal seperti teror bom di Wamena sudah ditangani dan sudah terungkap para pelakunya. Demikian pula halnya dengan kasus penemuan bahan peledak di Timika juga sedang ditangani. Saat ini enam orang warga yang diduga terkait penemuan bahan peledak tersebut masih ditahan di Polres Mimika.

“Saya tidak mau melihat para pelaku dari kelompok mana, tetapi yang jelas kita tangani sesuai prosedur hukum. Kalau mereka melanggar hukum maka kita proses. Siapapun juga yang melanggar hukum kita proses,”

tegas Tito. (ant/achi/LO1)

Jumat, 09 November 2012 06:30,

Kapolda: Pola Pengamanan Freeport Perlu Ditinjau Ulang

JAYAPURA—Kapolda Papua Irjen. Pol. Drs. M. Tito Karnavian, MA mengklaim pola pengamanan di areal PT. Freeport Indonesia di Tembagapura, Mimika, yang selama ini diterapkan perlu ditinjau ulang, yang mana anggota hanya melakukan penjagaan dan patrol tanpa ada langkah-langkah proaktif dan pendekatan kemanusiaan.

Demikian disampaikan Kapolda usai acara kunjungan kerja Komisi III DPR RI di Polda Papua, Jayapura, Rabu (7/11). Katanya, engamanan selama ini sangat tidak efektif, karena polanya hanya penjagaan dan patroli, tanpa langkah-langkah pro-aktif, termasuk mendekati masyarakat yang melakkan penyerangan. Kita kan sudah tahu jaringannya, tinggal melakukan pendekatan kemanusiaan,” kata dia.

Menurut Kapolda, dengan pola lama, anggota yang melakukan penjagaan di arel Freepoort tidak mengetahui siapa yang melakukan penyerangan. Hal itu mengakibatkan timbulnya spekulasi pihak aparat yang merekayasa aksi penyerangan di Freeport.

“Polisi yang melakukan pengamanan Freeport diibaratkan seperti dalam aquarium, karena mereka hanya melakukan patroli, tanpa siapa tahu yang menyerang,”

paparnya.

Kapolda juga mengakui, jajaran kepolisian sudah mengetahui pelaku penembakan yang kerap terjadi diarel PT Freeport Indonesia dengan tafsiran berjumlah 70 orang. Sementara anggota Polri dari Brimob yang melakukan pengamanan berjumlah 700 personel dan TNI berkisar 100 lebih.

“Kita tahu siapa yang sering lakukan penembakan, mereka berjumlah 70 orang dan kami mau lebih proaktif dengan memasuki mereka untuk mempengaruhi mereka,”

tegasnya. (mdc/achi/LO1)

Jumat, 09 November 2012 06:10, BP.com

Merasa Tak Nyaman, Mahasiswa Palang Kampus

Rabu, 17 Oktober 2012 07:10

JAYAPURA – Kemarin, (Selasa, 16/10) Mahasiswa yang tinggal Asrama Rusunawa, dan Asrama Uncen Jayapura melakukan pemalangan Kampus Uncen Waena dan Kampus Uncen Jayapura. Pemalangan tersebut dilakukan pukul 06.30 Wit hingga sore hari. Akibat pemalangan tersebut aktifitas perkuliahan macet total.

Melihat hal itu, Rektor Uncen, Drs. Festus Simbiak, M.Pd, Danren/ 172 Jayapura, Kolonel Joppye Onesimus Wayangkau, Kapolres Jayapura, dan Wakapolda Papua, Brigjen Pol. Paulus Waterpauw, turun langsung ke lapangan berdialog dengan para pendemo, yang akhirnya pendemo bubar.
Koordinator Demo dan Ketua Asrama Mahasiswa Uncen Waena, Tenius Kombo mengatakan, buntut aksi demo dan pemalangan dimaksud tidak lain akibat sikap aparat keamanan yang datang di Asrama Uncen Waena melakukan intimidasi terhadap para penghuni asrama.

Intimidasi itu dilakukan Selasa, (16/10) pukul 04.30 Wit dini hari aparat keamanan datang ke Asrama dengan mobil Avansa warna hitam berpakaian preman dengan bersenjata lengkap mencari seseorang yang diduga melakukan pelanggaran hukum, namun ketika ditanya penghuni asrama aparat tersebut tidak memberikan namanya, bahkan ada penghuni asrama ditodongkan senjata.

Tak hanya itu ada juga aparat keamanan yang memaksa mencungkil pintu kamar asrama dan mengambil Hand Phone serta memukul dua orang penghuni asrama pada punggung belakangnya hingga kini berbaring sakit di asrama. “Atas masalah itu kami lakukan pemalangan agar masalah ini ditindaklanjuti sebab kami penghuni asrama tidak merasa nyaman sekali atas tindakan aparat. Kami mahasiswa masih trauma. Jika ada masalah sebaiknya dibicarakan sama-sama, jangan intimidasi seperti itu,” ujarnya kepada wartawan disela-sela kegiatan demonya itu di Gapura Kampus Uncen Waena, Selasa, (16/10).
Terhadap hal itu, dirinya meminta kepada Rektor Uncen Jayapura agar masalah ini dituntaskan supaya penghuni asrama mendapatkan kenyamanan, karena penghuni asrama perlu kuliah dengan tenang karena pihaknya datang untuk kuliah demi masa depan mereka dan masa depan tanah Papua, bukan untuk hidup dan kuliah dengan tidak tenang.

“Kalau cari seseorang, mari kita komunikasikan dengan baik. Kami tidak bermusuhan dengan aparat, tapi aparat yang suka cari masalah dengan kami. Kami minta aparat keamanan masuk ke asrama dan kampus. Kami saat tanya mereka hanya menyampaikan ada yang dicari namun tidak memberitahukan orang yang dicari terebut. Ini kan aneh,” imbuhnya.

Ditempat yang sama, Rektor Uncen Jayapura, Festus Simbiak, menandaskan, pasca tertembaknya Mako Tabuni membuat suasana mencekam dan rasa takut dari mahasiswa, dan memang pada saat itu Kapolda Papua menjamin untuk memberikan perlindungan, namun dalam perjalanannya para penghuni asrama melaporkan kondisi yang terjadi mulai dari aparat keamanan yang selalu mobilisasi ke asrama hingga kejadian dipagi ini (kemarin,red).
Kondisi demikian jelas membuat para mahasiswa menjadi takut dan merasa terintimidasi, akibatnya pada malam hari para penghuni asrama takut beraktifitas dimalam hari. Ini jelas sangat membatasi para mahasiswa didalam perkuliahaannya dan mencari hal lainnya yang berhubungan dengan perkuliahaannya.

“Jadi kami harapkan ada jaminan dari aparat keamanan agar keamanan kondusif dan para mahasiswa tidak merasa diintimidasi,” imbuhnya. Sementara itu, Wakapolda Papua, Brigjen Pol. Paulus Waterpauw, mengakui, bahwa memang pada pukul 04.30 Wit anggotanya masuk ke asrama, namun kepentingannya mencari seseorang yang diduga melakukan pelanggaran hukum.

Tapi adanya laporan dari para mahasiswa tersebut tentunya menjadi koreksi besar bagi Polda Papua. Dan dirinya meminta kepada para penghuni asrama yang diambil Hand Phonenyan dan yang dipukul supaya segera melaporkannya kepada dirinya untuk diproses, sebab siapapun tidak kebal terhadap hukum.

Ditambahkan, kejadian kedatangan anggotanya ke asrama mahasiswa tersebut memang terjadinya miss komunikasi, namun kedepannya komunikasi harus dibangun dengan baik supaya pada masa-masa mendatang ada perbaikan-perbaikan yang baik didalam semua struktur kehidupan.
“Kalau ada masalah silakan kritisi, karena semuanya ini demi kebaikan penerus pembangunan bangsa ini,” pungkasnya.(nls/don/l03)

Di Tolikara, TNI dan Polri Nyaris Bentrok

Selasa, 09 Oktober 2012 08:24, BP

JAYAPURA – Ketegangan antara personel TNI dan Polri terjadi di Karubaga Kabupaten Tolikara Papua, Senin 8 Oktober sekitar pukul 11.35 WIT. Ketegangan yang diduga dipicu sikap arogan dari salah satu personil institusi, nyaris berbuntut bentrok, sebelum kemudian berhasil diredakan masing-masing komandan satuan.

Juru Bicara Kodam 17 Cenderawasih Letkol Jansen Simanjuntak saat dikonfirmasi membenarkan adanya ketegangan itu. “Sempat ada ketegangan di Jalan Koramil Karubaga antara oknum anggota Polri dan TNI, ini dipicu akibat adanya anggota yang sama-sama bertugas di satu daerah bersifat arogan dengan menyakiti hati seseorang dari satuan lain,”ucapnya.
Beruntung, lanjutnya, ketegangan itu langsung bisa diredam sebelum berujung pada bentrokan. “Kedua komandan satuan mampu mengendalikan personilnya masing-masing,”tandasnya.

Bahkan, tambahnya, kedua satuan sepakat untuk saling meminta maaf dan kembali melaksanakan tugas bersama sebagai aparat keamanan. “Anggota yang arogan dan menyakiti akhirnya sepakat meminta maaf kepada anggota Kompi C Batalyon 755,”terangnya.

Ditanya secara detail pemicu ketegangan, Jansen Simanjutak enggan membeberkannya, namun ia meminta semua pihak untuk membatu meredakan ketegangan. “Kami berharap semua elemen ikut serta meredakan suasan ini,” singkatnya. Juru Bicara Polda Papua AKBP I Gede Sumert Jaya saat dikonfirmasi mengatakan, belum mengetahui secara pasti peristiwa itu. “Tunggu saya cek dulu ya,”imbuhnya. (jir/don/l03)

Polisi: 2 Bom Disiapkan Ledakkan Kantor Polisi dan TNI di Wamena

Selasa, 02 Oktober 2012 06:52, BintangPapua.com

JAKARTA – Dua bom siap ledak dan bahan bom ditemukan di sekretariat Komite Nasional Papua Barat (KNPB) di Wamena Jayawijaya. Berdasarkan penyelidikan, bahan peledak itu disiapkan untuk menyerang kantor polisi, TNI, jembatan, dan kantor kelurahan.

“Hasil penyelidikan sementara, infonya mereka akan meledakkan secara serentak dengan sasaran Polres, Kodim, Batalyon, jembatan Baliem, dan kantor kelurahan (samping kediaman kapolres Jawi),” kata Karo Penmas Mabes Polri Brigjen Boy Rafli Amar kepada detikcom, Minggu (30/9/2012) sebagaimana dilansir ulang Bintang Papua..

Polisi memeriksa sejumlah saksi, termasuk salah satu aktivis KNPB Pilemon Elosak. Pilemon mengaku mendapatkan bahan pembuat bom dari LH. Bom yang sudah jadi disimpan di tiga posko sekretariat KNPB di Kampung Abusa, Elabukama, dan Honailama.

“Dua bom yang ditemukan, sudah diamankan dan dijinakkan,” jelas Boy.

Penemuan bom ini diawali dari informasi dari masyarakat mengenai adanya serbuk bahan peledak di rumah Pilemon, Wamena, Jayawijaya. Kemudian polisi menggeledah sekretariat Nasional Papua Barat (KNPB) di Kampung Honailama. Dua bom siap ledak ditemukan, Sabtu (29/9/2012).

Peledak terdiri dari satu bom pipa berukuran 16 cm beserta detonator dan satu bom botol. Dalam penggeledahan yang berakhir pada pukul 20.55 WIT, polisi juga menemukan CD Papua Merdeka, jeriken berisi 3 liter bensin, wadah bahan peledak, bendera Bintang Kejora, uang Rp 13,6 juta, senapan angin, dan lain-lain.

Saat ini, polisi masih mengembangkan kasus tersebut. Belum bisa disimpulkan apakah temuan ini berhubungan dengan dua ledakan di kantor DPRD dan pos lalu lintas beberapa waktu lalu. Kondisi dilaporkan kondusif. Pjs. Kabid Humas Polda Papua AKBP I Gede Sumerta Jaya SIK ketika dikonfirmasi, Senin (1/10) membenarkan pihaknya menemukan 1 buah bom pipa siap ledak ketika penyisiran di Kantor Sekretariat KNPB Wamena. KNPB adalah organisasi yang selama ini mengkampanyekan Papua Barat merdeka.

Dikatakan, penyisiran ini setelah ditemukan bahan-bahan peledak yang diduga serbuk digunakan untuk bahan peledak di kediaman Filemon Vilosak. Selanjutnya, aparat mengecek di kediamanan Paul Vilosak ditemukan 3 serbuk bungkus kantong plastik bahan-bahan peledak jenis TnT dengan berat masing-masing 0,5 Kg dan 1 batang Detonator aluminium. 1 buah wadah handak kosong alumunium ukuran pasta gigi,uang tunai sebesar Rp 13.600.000, 1 buah bendera Bintang Kejora, 1 buah stempel KNPB, 3 buah Laptop Toshiba, 2 buah flash disk 2 digital, 3 ikat panah, 3 ikat busur,1 pucuk senapan angin, 8 bilah parang, 2 bilah kapak, 1 buah lember bendera warna merah bertuliskan lawan KNPB, 1 buah bendera warna hijau merah hitam bertuliskan Human Right, 2 buah Handycam merk Sony, 5 buah HP, 10 biah ID Card KNPB, 1 buah Pipa ukuran 1 meter, 1 buah baret petapa warna biru , 1 buah baju lengan panjang warna hitam. Sejumlah barang bukti kini diamankan di Mapolres Wamena untuk proses penyidikan.

Dia mengatakan, dari pengakuan Filemon Vilosak kepada Penyidik Polres Wamena menyebutkan bahan-bahan peledak itu diperoleh dari salah satu anggota KNPB berinisial LK dan MW, ternyata bahan-bahan peledak yang ada di kediamana Filemon Vilosak dan Paul Vilosak nantinya akan digunakan untuk diledakan secara serentak di sejumlah lokasi seperti Polres Wamena, Kodim Wamena, Batalyon, Jembatan Baliem, Kantor Kelurahan Wamena Kota. Bahan peledak ini juga telah ditempatkan di 3 titik meliputi Kampung Ehlaku Lama, Kampung Honay Lama dan Kampung Abusa.

Kata dia, aparat juga berhasil menangkap sedikitnya 9 orang yang diduga terlibat atas bahan-bahan peledak tersebut masing-masing berinisial JW, ED, YJ, BY, SK, SH, YD,RK dan NK. Kini ke-9 orang masih ditahan di Rutan Mapolres Wamena untuk dilakukan penyidikan.

Dari Mana KNPB Tahu Merakit Bom, Itu Skenario
Juru Bicara Badan Pengurus Pusat KNPB, Wim . F Medlama menyatakan, aparat kepolisian kembali menangkap aktifis KNPB dalam penyergapan aparat terhadap sekertariat KNPB di Baliem ( 29/9) pukul 17.00 atau jam 5 sore. Adapun penyergapan aparat saat itu melibatkan tim gabungan TNI/POLRI bersama Densus 88 dipimpin Kapolres Jayawijaya.

Dari press Release KNPB kepada wartawan dalam jumpa pesrnya Senin( 1/10) di Prima Garden Abepura, KNPB menerangkan, penyergapan yang dilakukan terhadap aktifis KNPB dilakukan aparat lengkap dengan senjata, dua truk Dalmas, 4 mobil Extrada, 2 mobil Polisi dan sekitar 14 motor dan 5 kendaraan masuk mengerebek sekertariat KNPB. Dalam penggerebekan tersebut, Sekjen dan 9 orang ditahan dan dibawa ke Polres Jayawijaya.

Dalam penangkapan terhadap aktifis KNPB, sejumlah barang milik mereka antara lain laptop, handphone, printer dan flas dish dan sejumlah barang lainnya termasuk uang tunai Rp. 18,5 dan barang lainnya yang berada di Sekertariat KNPB.
Menurut Wim Medlama, sampai saat ini pihaknya belum tahu apa sebab akibatnya sehingga Polisi bersama Densus 88 dan TNI melakukan penyergapan dan menangkap aktifis KNPB di Wamena. Bahkan KNPB menyatakan tidak benar bila aparat mnegatakan menemukan bom yang siap meledak, itu tidak benar, dari mana anggota KNPB bikin bom dan dari mana anggota KNPB tahu bom.

Medlama mengatakan, bila penemuan bom yang dikaitkan dengan keterlibatan anggota KNPB bahkan anggota KNPB dikatakan yang mempunyai bom dan siap untuk diledakan, itu tidak benar dan hanya sebagai skenario yang dibuat buat untuk mengkriminlisasikan KNPB sehingga kami menilai penemuan tersebut hanya permainan pihak pihak yang tidak ingin dengan perjuangan damai KNPB selama ini.

Dalam press Release itu terdapat 10 aktifis yang ditangkap masing masing, Edo Doga( 26), Yan Wamu ( 24) Yusuf Hiluka( 52), Luki Matuan( 27), Melianus Kossay( 29), Yan Mabel( 24). Amos Elopere(8), Ripka Kossay( 19), Natalis Kossay ( 19) dan Yupinus Daby( 34). Disebutkan, bila sebelumnya Polisi telah menangkap enam anggota KNPB dan Parlemen Rakayat Dearah( PRD) didepan Gereja Ebenheser, Timika pada( 23/9) jam 04.00 sore. Dalam penangkapan yang dilakukan Brimob menggunakan dua mobil avanza dan mobil patroli menghadang mereka tiba tiba saat hendak datang ikut pertemuan ditangkap tanpa alasan yang jelas pada jam 04.00.

Menurut Wim Medlama, terhadap apa yang dilakukan aparat kepolisian/TNI maupun Densus, KNPB menyatakan, Kapolres Jayawija segera menghentikan penangkapan dan mengembalikan anggota KNPB yang ditangkap di Wamena sebab anggota KNPB yang ditangkap itu bukan teroris yang harus digerebek dalam rumah lalu ditahan tanpa alasan yang jelas.

KNPB juga menegaskan, kepada Aparat Kepolisian dalam hal ini Polda Papua untuk segera hentikan penangkapan liar tanpa prosedur hukum terhadap aktifis KNPB serta seluruh pejuang Papua merdeka di Tanah air Papua Barat Sorong sampai Merauke, sebab KNPB Papua Barat berjuang dengan damai sesuai undang undang dan hukum yang berlaku di negara ini, jadi stop mengiring perjuangan rakyat Papua bersama KNPB ke kriminal dan teroris.

Medlama mengatakan, pihaknya KNPB tidak percaya dengan penemuan bom dan tidak benar kalau penemuan bom itu di sekertariat KNPB sebab KNPB tidak pernah merakit bom, sebab dari mana KNPB tahu merakit bom, itu hanya skenario dari pihak tertentu untuk mengkambinghitamkan KNPB.( binpa/mdc/Ven/don/l03)

BOM di Wamena Belum Bisa Disimpulkan

Rabu, 19 September 2012 23:24, BintapgPapua.com

JAYAPURA – Pos Polisi di Wamena yang terletak di pertigaan antara Jalan Ahmad Yani dan Jalan Sudirman, diledakan Selasa malam.

Polisi langsung melokalisir tempat kejadian, guna melaksanakan olah TKP. Namun, belum dapat menyimpulkan bahan peledak yang digunakan pelaku, yang sampai saat ini masih misterius.

Kapolres Jayawijaya AKBP Alfian saat dikonfirmasi Rabu 19 September mengatakan, pihaknya masih menjaga ketat Jalan Sudirman, untuk mencari dan mengamankan barang bukti. “Kami masih mengamankan lokasi dengan membuat garis polisi, untuk kepentingan olah TKP masih berjalan,”ujarnya.

Sejumlah barang bukti berupa sisa-sisa ledakan saat ini sudah dikumpulkan, tapi belum bisa mengidentifikasi jenis bahan peledaknya. “Sambil menunggu tim Labfor Mabes Polri, kami terus kumpulkan barang bukti di sekitar TKP,”jelasnya.
Pos Lalu lintas itu, kata dia, dari kesimpulan awal, sengaja diledakan. “Dari kesimpulan awal kami, memang Pos ini sengaja diledakkan dan menghancurkan tembok depan pelataran, kaca-kaca serta plafon, plafon pos lantas, pintu-pintu,”ucapnya.

Meski tidak ada korban jiwa, tapi ledakan cukup menggegerkan Wamena, apalagi lokasi adalah pusat kota dan perekonomian. “Memang warga sudah dihimbau untuk kembali beraktivitas, tapi diminta untuk meningkatkan kewaspadaan, dan jika ada yang dicurigai, sebaiknya langsung melapor kepada Polisi terdekat,”tukasnya. Mengenai pelaku, kata dia, masih dalam penyelidikan, namun sudah ada beberapa saksi yang dimintai keterangan. “Ada 3 saksi yang sedang diperiksa, tapi guna kepentingan penyidikan, identitasnya masih kami rahasiakan,”ucapnya.

Belum Bisa Disimpulkan Bom

Wamena-setelah polisi melakukan olah TKP dengan melibatkan anjing pelacak ledakan terkait insiden ledakan yang terjadi pada selasa (18/09) yang meledakan pos lalulintas wamena, polisi telah menemukan sisa bahan peledak dan beberap serpihan logam. Demikian disanpaikan Kapolres Jayawijaya AKBP Alfian Budianto, SH,MH saat jumpa pers di wamena (19/09) kemarin. dikatkan hasil temuan yang ada belum cukup kuat untuk menentukan jenis bahan peledak yang diledakan. selain melakukan olah TKP kapolres juga mengatakan telah memeriksa beberapa saksi untuk mengungkap modus, motif dan pelaku ledakan tersebut. Lanjut Kapolres ledakan tersebut belum bisa disimpulkan bahwa yang diledakan adalah murni BOM “kalo dibilang pengeboman itu namanya peledakan, ledakan itu tentunya ada bahan peledak, orang awam mengatakan itu bom tapi kalo bahasa yang sebenarnya itu bahan peledak, Cuma jenisnya kita masi mendalami untuk menentukan apaka hight atu low” tuturnya. dengan demikian pihaknya meminta bersabar karena pengungkapan kasus seperti ini merupakan tugas kepolisian. lanjut kapolres memang kasus peledakan seperti itu tidak mudah diungkap karena untuk menciptakan bahan peledak saja dengan teknoligi yang tinggi sehingga untuk mengungkapnya juga demikian “sedangkan kami di wamena ini serba terbatas seandainya kami punya alat lengkap pasti kita ungkap” ujarnya lagi untuk mengungkapnya dalam waktu dekat pihaknya akan di back up pus labfor mabes polri sebagaiman yang dilakukan untuk peledakan Badan Kkehormatan DPRD.
Ketika ditanya apakah ada keterkaitan deengan ledakan sebelumnya yaitu pada tanggal (01/09) yang meledakan Badan Kehormatan (BK) DPRD Jayawijaya, Kapolres Alfian Budianto menuturkan pihaknya belum menemukan keterkaitannya karena masih harus mendalami ledakan yang baru terjadi, namun Ia bekomitmen bahwa akan mengungkap siapa pelaku dan apa motifnya. untuk itu kapolres memintah kerja sama dari seluruh komponen masyarakat untuk semua informasi yang bias mendukung pengkungkapan peledakan agar segerah disampaikan ke pihak kepolisian. mengenai hambatan pada pengungkapan kasus ledakan menurutnya tidak ada kesulitan tetapi ada alat yang harus didatangkan. kepada masyarakat kapolres mengimbau agar tetap melaksanakan aktifitas sebagaimana biasanya.

Ledakan yang meledakan pos lantas yang terletak di perempatan Jalan Irian dan Jalan Ahmad Yani wamena tersebut terjadi pada Selasa (18/09) pada pukul 20:51 wit. Akibat ledakan itu kaca dan teras depan pos lantas ambruk, insiden itu tidak ada korban jiwa. pantauan bintang papua hingga sore kemarin garis polisi masih terpasang di TKP, dan aktifitas warga yang selalu rame karena jalan irian merupakan pusat perekonomian Wamena terilhat sepi. (jir/Cr-39/don/l03)

DIDUGA BOM MELEDAK DI POS POLISIDIDUGA BOM MELEDAK DI POS POLISI

Selasa, 18 September 2012 22:25

Jayapura – Warga Wamena Papua geger dengan bunyi ledakan di Pos Polisi yang terletak di Jalan Irian Selasa 18 September sekitar pukul 20.55 WIT. Ledakan yang mengakibatkan teras dan tembok serta kaca bagian pos itu hancur, diduga akibat Bom.

Dari data yang berhasil dihimpun, ledakan terjadi saat suasana Jalan Irian yang berada di tengah Kota Wamena sedang ramai. Tiba-tiba terdengar suara keras disertai berhamburnya sisa-sisa bangunan yang meledak. Kontan warga yang sedang melintas disekitar lokasi lari berhamburan.

Tidak berapa lama kemudian Polisi tiba di lokasi dan langsung mengamankan TKP. Bahkan sepanjang ruas Jalan Irian untuk saat ini ditutup sementara.

Kapolres Jayawijaya AKBP Alfian saat dikonfirmasi melalui telepon selulernya belum bersedia memberikan penjelasan. Meski nada sambung masuk dua kali, ia langsung mematikannya.

Sementara beberapa jam sebelumnya tepat pukul 18.00 WIT, warga Kota Jayapura juga Sempat geger dengan penemua kotak hitam tidak jauh dari Pos Polisi Skyland. Tim Jihandak Polda Papua kemudian menuju lokasi dan mengamankan benda tersebut. Setelah dibuka Kotak Hitam itu ternyata berisi pakaian anak-anak dan panci.

Menurut informasi yang diterima Bintang Papua, salah seorang warga pemilik kios tidak jauh dari pos Polisi menitip kotak itu, Senin 17 Oktober. Namun karena tidak diambil hingga Selasa Sore, ia makin curiga dan melaporkannya ke Polisi. Wakapolda Papua Brigjen Pol Paulus Waterpauw juga belum bersedia memberikan keterangan terkait dua peristiwa tersebut. Sementara itu suasana di Pos Polisi Skyland semalam sempat ramai. Para pengendara yang lewat sangat penasaran sehingga banyak yang berhenti di sekitar pos polisi. Bahkan beberapa penelpon ke redaksi Bintang Papua menyampaikan jika ada penemuan BOm di Pos Polsis Skyland. (jir/don/l03)

Banyak Orang di Inggris Anggap Papua Tak Aman

Pangdam XVII/Cenderawasih Mayjen TNI Moh. Erwin Syafitri berpose bersama Dubes Inggris H.E Mr. Mark Canning, dan rombongan, Selasa.
Pangdam XVII/Cenderawasih Mayjen TNI Moh. Erwin Syafitri berpose bersama Dubes Inggris H.E Mr. Mark Canning, dan rombongan, Selasa.

JAYAPURA — Dubes Inggris H.E Mr. Mark Canning menyampaikan, banyak orang di Inggris beranggapan Papua tak aman, tapi ketika ia berkunjung ternyata anggapan itu keliru Papua adalah wilayah yang aman dan kondusif bagi siapapun.

Demikian Siaran Pers yang disampaikan Pangdam XVII/Cenderawasih Mayjen TNI Moh. Erwin Syafitri ketika menerima kunjungan kerja Dubes Inggris H.E Mr. Mark Canning didampingi Julia Shand (Second Secretary Political), Benny Sastranegara (Political Analyst), Euan Ribbeck (Close Protection Team Leader), di ruang Cycloops Makodam XVII/Cenderawasih, Jayapura, Selasa (18/9).
Pangdam mengatakan, pihaknya bersama Dubes Inggris membahas berbagai isu, baik terkait perkembangan politik, perkembangan kehidupan sosial ekonomi masyarakat dan keamanan di Papua saat ini.

Pangdam mengatakan, pada intinya polisi yang lebih tahu, sedangkan Kodam hanya membantu tugas Kepolisian apabila dibutuhkan. Kodam XVII/Cenderawasih hanya melaksanakan tugas pokoknya, disamping itu juga melaksanakan pembinaan Teritorial, diantaranya pembinaan masyarakat.

Sedangkan pertanyaan dari Mr. Mark Canning tentang program UP4B, Pangdam menjelaskan bahwa pemerintah Inggris belum banyak melihat pemberdayaan masyarakat Papua. Agar pemberdayaan masyarakat dapat sinergis dan UP4B tidak semata-mata meningkatkan ekonomi di masyarakat, tapi juga meningkatkan pemberdayaan sosial dan budaya sehingga masalah di Papua dapat terselesaikan. Selanjutnya H.E. Mr. Mark Canning menanyakan apakah tantangan dalam penanganan perbatasan. Pangdam menjelaskan, hanya kelompok kecil separatis yang warga Papua New Guinea (PNG) dan mereka memanfaatkan daerah Abu-abu untuk pergerakannya.

Untuk pertanyaan tentang “Apakah mereka mempunyai senjata khusus?” Pangdam mengatakan, mereka tak mempunyai senjata. Hanya senjata rakitan dan senjata hasil rampasan. Gerakan mereka sangat kecil dan memaksa, mengancam, menakut-nakuti warga akan ditembak TNI jika tak ikut kemauan mereka.

Dubes Inggris berpendapat, “Sulit bagi militer untuk menangani masalah di Papua dengan menggunakan hard power sehingga harus menggunakan soft power”. Apa yang dilakukan Kodam XVII/Cenderawasih dalam penerapannya? Pangdam jawab, untuk penerapan soft power. Pertama, dengan cara mengajak secara persuasif orang-orang yang berpandangan lain untuk kembali ke NKRI. Kedua, mengajak lewat para pendeta supaya membujuk orang yang mengangkat senjata agar sadar dan tak mengangkat senjata kembali.

Namun demikian diakui masih terdapat kendala dalam pelaksanaannya yaitu pertama apabila mereka kembali mereka mengajukan syarat untuk dibuatkan rumah dan kebun. Selain itu, bila mereka kembali maka mereka minta dijadikan Bupati/ Kepala Daerah.

Dubes Inggris juga menanyakan berapa lama rotasi Pamtas. Dan dijawab oleh Pangdam rotasi dilaksanakan 6 bulan sampai dengan 1 tahun. Pamtas ini juga diperkuat oleh pasukan Pam Rahwan tetapi lebih pada tugas teritorial dimana tugas tersebut sangat dibutuhkan masyarakat.

Dalam berbagai perbincangan tersebut, Dubes Inggris sangat terkesan dengan pembebasan sandera yang dilaksanakan oleh Kopassus pada tahun 1996 dan seluruh sandera warga negara Inggris dapat dibebaskan tanpa luka sedikit pun. Dubes juga menyampaikan bahwa hubungan Inggris dan Indonesia terjalin baik.

“Tahun ini adalah tahun yang spesial karena PM Inggris pada April lalu melaksanakan kunjungan ke Jakarta dan pada Nopember nanti Presiden SBY akan melaksanakan kunjungan kenegaraan ke Inggris yang akan diterima Ratu Kerajaan Inggris dengan agenda peningkatan hubungan ekonomi, pendidikan serta kerja sama di bidang pertahanan,” ungkap Dubes.

Pada kesempatan itu juga, Pangdam menanyakan, apakah Beni Wenda tinggal di Inggris? Karena Beni Wenda merupakan Daftar Pencarian Orang (DPO). Dubes menjawab, Beni Wenda kini tinggal di Oxford, London, Inggris sejak tahun 2000.

Menurut Pangdam, Dubes mengatakan, Beni Wenda mengajukan suaka politik kepada pemerintah Inggris akan, tapi polisi Indonesia tak melaksanakan prosedur ke Interpol untuk melaksanakan pemeriksaan kepada Beni Wenda.
Beni Wenda adalah salah-seorang tokoh Lembaga Swadaya Masyarakat (LSM) yang terus-menerus mengkampanyekan Papua merdeka di kawasan Eropa dan Amerika Serikat. (mdc/don/l03)

Sumber: BintangPapua.com

Kekerasan Bersenjata Meningkat

Rabu, 12 September 2012 00:04, http://bintangpapua.com

Frits B Ramandei saat diwawancarai wartawan Selasa kemarin
Frits B Ramandei saat diwawancarai wartawan Selasa kemarin
JAYAPURA— Komnas HAM Perwakilan Papua merilis terkait dengan eskalasi kekerasan bersenjata yang selama ini terjadi di Papua makin naik atau meningkat. Dalam rilisnya pihak yang melakukan tindakan kekerasan bersenjata yang berpotensi melanggar HAM adalah oknum individu.

Demikian disampaikan Plt. Ketua Komnas HAM Perwakilan Papua Frits B Ramandei, S.Sos di sela-sela Focus Group Discution (FGD) Isu-isu Pemenuhan Hak Sipil Politik (Sipol) dan Ekonomi Sosial Budaya (Ekososbud) di Hotel Yotefa Viev, Jayapura, Selasa (11/9).

Dia memaparkan, pihak-pihak yang menjadi pelaku pelanggaran atas hak-hak Sipol dari tahun 2009 sampai 2012, individu (perorangan) sebanyak 155 kasus, kedua pemerintah daerah sebanyak 40 kasus, pemerintah pusat 17 kasus, Polri 38 kasus, lembaga legislatif 1 kasus, lembaga pemasyarakatan 3 kasus, koorporasi 6 kasus, BUMN/BUMD 1 kasus, lembaga pendidikan 2 kasus (swasta).

Kelompok masyarakat 40 kasus, organisasi 35 kasus, lembaga peradilan sebanyak 4 kasus, TNI sebanyak 10 kasus, kelompok anak-anak sebanyak 3 kasus, kelompok masyarakat adat 2 kasus, dan kejaksaan sebanyak 1 kasus.

Sedangkan pihak yang diduga melakukan pelanggaran Hak Ekosob dari tahun 2009 sampai 2012, adalah pertama, pemerintah daerah sebanyak 173, pemerintah pusat (kementerian) 5 kasus, lembaga legislatif sebanyak 10 kasus, lembaga negara (non kementerian) 1 kasus, TNI/Polri sebanyak 4 kasus, lembaga pemasyarakatan sebanyak 3 kasus, koorporasi sebanyak 13 kasus, BUMN/BUMD ditemukan 12 kasus, lembaga pendidikan (swasta) 4 kasus, individu 4 kasus, dan kelompok masyarakat sebanyak 6 kasus. Dia mengatakan, dari hasil yang ditemukan Komnas itu tingkat kekerasan bersenjata itu justru pelakunya oknum-oknum. “Kalau oknum atau kelompok tertentu itu kita bicara perorangan. Tak dilakukan institusi atau kelompok menggunakan pola yang parsial terjadi dimana-mana.

Menurutnya, pihaknya melihat motivasi pelaku lebih pada tindakan kriminal, misalnya menembak untuk merampas senjata. (mdc/don/l03)

Up ↑

Wantok COFFEE

Organic Arabica - Papua Single Origins

MAMA Minimart

MAMA Stap, na Yumi Stap!

PT Kimarek Aruwam Agorik

Just another WordPress.com site

Wantok Coffee News

Melanesia Foods and Beverages News

Perempuan Papua

Melahirkan, Merawat dan Menyambut

UUDS ULMWP

for a Free and Independent West Papua

UUDS ULMWP 2020

Memagari untuk Membebaskan Tanah dan Bangsa Papua!

Melanesia Spirit & Nature News

Promoting the Melanesian Way Conservation

Kotokay

The Roof of the Melanesian Elders

Eight Plus One Ministry

To Spread the Gospel, from Melanesia to Indonesia!

Koteka

This is My Origin and My Destiny