Kapolda : Situasi Keamanan di Wamena Dapat Dikendalikan

Jayapura (ANTARA) – Kepala Kepolisian Daerah Papua Irjen Pol Bekto Suprapto mengatakan, kondisi keamanan di Wamena, Kabupaten Jayawijaya pasca penyerangan markas Polsek KP3 Udara dapat dikendalikan.

“Situasi keamanan di Wamena kini sudah dapat dikendalikan, namun pihaknya tetap melakukan pengamanan di markas Polsek KP3 Udara setempat,” kata Kapolda Papua Bekto Suprapto, di Jayapura, Selasa.

Menurut Kapolda , saat ini hubungan antara pihak Kepolisian di Wamena dengan tokoh agama, tokoh adat, tokoh masyarakat, pemuda, berjalan baik.

“Kami tetap akan melibatkan para tokoh yang ada di Wamamen guna menyelesaikan permasalahan yang terjadi Senin (4/10) di daerah itu,” ujarnya.

Ketika disinggung mengenai korban tewas, jelas Kapolda, pihaknya tetap akan melakukan pendekatan ke pihak keluarga agar korban tewas bernama Ismael Lokobal itu dapat diotopsi guna penyelidikan lebih lanjut.

“Korban harus diotopsi, dengan melakukan itu kami bisa tahu penyebab pasti kematiannya. Apabila ditembak, dengan otopsi kita bisa tahu dari jarak berapa dia di tembak, tambahnya. Untuk itu kami sangat berharap keluarga mau bekerja sama dengan Kepolisian setempat,” jelasnya.

Dewa Adat Papua

Kasus penyerangan Mapolsek KP3 Udara Wamena bermula saat pesawat terbang Trigana Air Serice ATR 42 PK-YRH dari Bandara Sentani mendarat di Wamena pukul 07:10, anggota Polsek KP3 memeriksa semua barang bawaan penumpang yang datang.

Saat pemeriksaan itu, petugas KP3 menemukan sebanyak dua koli barang yang berisi pakaian dan baret dari Satgas Dewan Adat Papua (DAP) serta dokumen penting sehingga langsung diamankan .

Saat itu juga, puluhan anggota satgas DAP mendatangi Mapolsek KP3 Udara Wamena untuk mengambil barang tersebut, namun polisi langsung melakukan interogasi dan ternyata anggota satgas tidak menerima dan melakukan pelemparan.

Mendengar informasi penyerangan Mapolsek KP3, Kapolres Jayawijaya bersama anggota Dalmas langsung menuju lokasi kejadian untuk mengamankan situasi. Meski begitu, puluhan orang tetap melakukan pelemparan sehingga mengenai Kapolres Jayawijaya bersama empat orang anggotanya.

Pasca kejadian, Kapolres bersama anggotanya langsung mengamankan lokasi mulai dari Mapolsek hingga ke kantor DAP yang tidak jauh dari lokasi kejadian. Dari hasil olah tempat kejadian perkara , Polisi menemukan serpihan peluru, 50 batu yang digunakan untuk melempari Mapolsek.

Menanggapi itu, tegas Kapolda, pihaknya akan mengusut tuntas permasalahan Wamena dan menindak tegas pelaku yang terbukti melanggar hukum.

“Menurut informasi yang saya terima, tiga warga sudah diamankan, dan tersangka lainnya yang belum ditangkap akan dikejar terus. Hal ini juga berlaku untuk anggota Polisi yang terbukti bersalah. Jika terbukti bersalah, semua saya akan tindak dengan tegas,” tegasnya.

Dalam menyelesaikan permasalahan di Wamena, tambah Kapolda Papua, pihaknya tidak akan menambah pasukan.

Kapolda Papua Bekto Suprapto mengatakan, dalam situasi apa pun, polisi harus tetap bekerja secara profesional sesuai dengan aturan yang berlaku.

Kondisi Wamena Belum Normal] Kondisi Wamena Belum Normal

Liputan6.com, Wamena: Kondisi Wamena, Kabupaten Jayawijaya, Papua, Senin (4/10), belum normal setelah Markas Kepolisian Sektor Bandar Udara Wamena diserang puluhan orang. Untuk menangani kasus tersebut, Musyawarah Pimpinan Daerah (Muspida) setempat langsung berdialog dengan pimpinan Dewan Adat Papua (DAP). Peristiwa berasal dari adu mulut antar polisi dengan sejumlah anggota DAP pagi tadi. Saat itu personel Kesatuan […]

FPI Berpotensi Ganggu Kehidupan Beragama di Papua

fpi_thumb_medium299_217 JUBI — Ketua II Bidang Konsolidasi Pengurus Pusat Majelis Muslim Papua (MMP), Sayid Fadhal Alhamid mengatakan Muslim Papua tidak membutuhkan Kehadiran Front Pembela Islam (FPI) karena berpotensi mengganggu kehidupan beragama di Papua.

Menurut Alhamid, ormas-ormas Islam di Papua dibentuk dengan dasar semangat kebersamaan dan persaudaraan, dengan sesama umat muslim maupun dengan agama-agama yang lain. Bila semangat ini dinodai dengan tindakan-tindakan seperti di Monas setahun silam maka akan menimbulkan konflik antar agama di Papua, ujarnya.

“Bila ada perkumpulan FPI di Papua harus ada kordinasi dengan Majelis Muslim Papua, apabila ini tidak dilakukan dan kemudian ada konflik mengatasnamakan Islam, maka pihak berwajib harus bertindak tegas,” kata Alhamid di Jayapura, Selasa (10/8).

Pernyataan Alhamid terkait isu masuknya Front Pembela Islam oleh beberapa kalangan di Papua. Isu tersebut muncul pasca tuntutan Refrendum yang dilakukan sejumlah warga sipil Papua pekan lalu. (Marten Ruma)

Wilayah Tingginambut Masih Rawan

Jayapura [PAPOS] – Wilayah Distrik Tiginambut, Kabupaten Puncak Jaya, hingga kini masih rawan penyerangan oleh kelompok bersenjata yang tidak dikenal.

Hal ini diungkapkan Bupati Puncak Jaya, Lukas Enembe, di Jayapura, Jumat, terkait penyerangan dengan membakar sebuah mobil pada tiga hari lalu.

"Biasanya mobil yang masuk ke Puncak Jaya dari Wamena sekitar 20 sampai 30 mobil, untuk lewat jalur ini," katanya.

Ia menambahkan, penyerangan sebelumnya terjadi pada 4 mobil yang melintas dengan tujuan Wamena, namun tiba di Tingginambut mereka dihadang tembakan dari kelompok sipil bersenjata.

"Mungkin mereka yang lewat merasa yakin, akan tetapi sebenarnya sangat bahaya," katanya.

Enembe mengakui, dalam mengendalikan wilayah ini, kemampuan TNI dan polisi sangat kuat, namun medan dan alam di sana "dikuasai" kelompok tak dikenal ini.

Untuk mengejar para pengacau keamanan di wilayah Tingginambut, Lukas mengatakan perlu ada perencanaan yang baik, termasuk jika ingin melakukan pengejaran, karena kelompok ini menguasai alam di Tiginambut.

Dia mengatakan, kalau hanya aparat menjaga di sepanjang jalan, tidak akan menyelesaiakan masalah.

Terkait kasus-kasus penyerangan di Tiginambut, Pemerintah Daerah Kabupaten Puncak Jaya telah memperpanjang imbauan dan ultimatum. Yakni meminta kelompok bersenjata di hutan untuk menyerahkan diri dan kembali membangun daerah.

"Semua pendekatan sudah dan akan terus kami lakukan, bahkan berupa imbauan, akan tetapi ini menyangkut idiologi yang sudah tertanam puluhan tahun," ungkap Enembe, yang juga Ketua Partai Demokrat Provinsi Papua.

Daerah Puncak Jaya, kata dia, memang selalu terjadi penyerangan, baik bagi masyarakat maupun aparat keamanan di sana dalam beberepa tahun terakhir.

"Kelompok ini ada yang berjuang untuk kemerdekaan, tetapi ada juga yang ikut karena gagal jadi anggota dewan atau bupati, termasuk ada yang dendam karena perang antarsuku," katanya.

Sementara itu, Danrem 172/PYJ, Kolonel TNI. Daniel Ambat saat acara pertemuan dengan para wartawan di Aula Korem 172/PYJ, Kamis (29/7) lalu mengatakan, bahwa kondisi keamanan wilayah Papua masih termasuk kondusif dibandingkan dengan daerah lain di Indonesia. Menyangkut adanya serangan pihak sipil bersenjata di Tingginambut menurutnya adalah merupakan tindakan perampokan, sama seperti yang terjadi dikota-kota besar di Indonesia.

“ Aksi-aksi itu sama halnya seperti aksi perampokan yang terjadi dikota besar. Mereka merampok dengan memakai senjata,” katanya seraya menambahkan kalau masalah keamanan di Papua cukup aman. [ant/agi]

Gereja baik Katolik maupun Protestan di Timika turun tangan dan mengajak masyarakat menghentikan aksi saling Serang Antarkelompok di Kwamki Lama, Timika, Propinsi Papua

Jakarta, 14 Juni 2010

Kepada Yth
Bapak Pimpinan Media Cetak & Elektronik
di

Tempat

Hal : Mohon untuk Dipublikasikan

Press Release:

DPR Minta Gereja Ikut Tuntaskan Keamanan

Jakarta–Anggota Komisi X DPR RI asal Papua Diaz Gwijangge, S.Sos meminta pihak Gereja baik Katolik maupun Protestan di Timika turun tangan dan mengajak masyarakat menghentikan aksi saling serang antarkelompok di Kwamki Lama, Timika, Propinsi Papua.

Menurut legislator dari Partai Demokrat, hingga saat ini terkesan konflik antarkelompok di Kwamki Lama berlarut-lartu tak pernah diakhiri dengan kesadaran penuh kedua belah pihak. Padahal, pemerintah dan aparat keamanan setempat sudah bekerja maksimal untuk menghentikan.

“Saya pikir sudah saatnya Bapak Uskup Timika dan Bapak Ketua Sinode Kingmi, GKI, dan Bapak Ketua PGGP mengajak warga yang juga umat dari dua belah pihak yang bertikai untuk duduk bersama saling menyapa dalam semangat persaudaraan sebagai umat Tuhan. Masih banyak agenda pembangunan yang butuh peran serta warga untuk menyukseskan,” ujar Diaz Gwijangge kepada wartawan di Gedung MPR/DPR Senayan, Jakarta, Senin, 14/6 pagi.

Selain itu, lanjut Diaz, gereja dan para pemimpinnya secara kelembagaan diminta untuk terus-menerus mengemban misi diakonia memberikan peneguhan kepada umat dengan nilai-nilai kasih, perdamaian, saling menghormati. “Para pemimpin gereja segera turun tangan ikut menyelesaikan masalah keamanan di Kwamki,” tandasnya.

Permintaan anggota DPR RI yang juga bekas aktivis Lembaga Studi dan Advokasi Hak-hak Asasi Manusia Papua itu dikemukakan menyusul meletusnya aksi saling serang dua kelompok di Kwamki Lama, Papua, Minggu (13/3) kemarin. Meski terlibat saling serang dengan menggunakan panah, namun insiden itu tidak menimbulkan korban jiwa maupun luka-luka.

Dia mengatakan, pihak keuskupan dan Kingmi, GKI, dan PGGP perlu mengambil peran bersama pemerintah dan aparat keamanan kemudian meyakinkan masyarakat bahwa konflik seperti itu justru melenyapkan kesempatan meraih sukses bagi warga sendiri.

Pihak aparat keamanan, eksekutif maupun legislatif di Timika juga diharapkan tidak membiarkan Kwamki Lama sebagai daerah bak neraka tetapi segera mendekati pihak-pihak yang bertikai agar konflik segera diakhiri.

“Masyarakat juga tentu kita minta agar mereka harus membangun kesadaran bersama bahwa konflik apapun tak akan membawa manfaat namun justru mengantar mereka pada situasi yang tidak menguntungkan. Karena itu tak ada pilihan lain kecuali menghentikannya,” ujar Diaz.

Berkas Tersangka Teror Freeport Dinyatakan Lengkap

Timika, CyberNews. Berkas Berita Acara Pemeriksaan (BAP) salah satu tersangka kasus teror di areal PT Freeport Indonesia atas nama Apius Wanmang telah dinyatakan lengkap oleh Kejaksaan Tinggi (Kejati) Papua.

“BAP salah satu tersangka sudah lengkap, dalam waktu dekat akan dilakukan pelimpahan tersangka dan barang bukti dari penyidik ke penuntut umum guna diproses lebih lanjut,” kata Kepala Seksi Pidana Umum Kejaksaan Negeri Timika, Febrian SH di Timika, Jumat (16/10).

Febrian menerangkan, tersangka Apius Wanmang diduga terlibat kasus kepemilikan amunisi. Atas hal itu, Apius dijerat UU Darurat No 12 tahun 1951 tentang kepemilikan senjata api dengan ancaman maksimal hukuman mati.

Penanganan hukum kasus tersebut akan dilakukan oleh pihak Kejati Papua.

Sementara berkas enam tersangka teror di areal Freeport lainnya hingga kini masih ditangani oleh pihak penyidik Polres Mimika. Enam tersangka yang lain atas nama Simon Beanal, Tomy Beanal, Dominikus Beanal, Eltinus Beanal, Anton Yawame, dan Hender Kiwak yang diduga terlibat kasus penembakan di areal Freeport dijerat pasal 340 jo pasal 338 jo pasal 55 ayat (1) KUHP dengan ancaman maksimal hukuman mati.

Sebelumnya Direktur Yayasan Hak Azasi Manusia Anti Kekerasan (YAHAMAK) Timika, Papua, Yosepha Alomang menilai proses hukum tujuh tersangka kasus teror di areal Freeport sarat konspirasi politik. “Saya melihat anak-anak itu bukan pelaku, mereka masyarakat biasa yang tidak tahu apa-apa,” kata Yosepha Alomang.

Ia menduga, ketujuh tersangka yang seluruhnya merupakan warga suku Amungme selaku pemilik hak ulayat atas areal tambang PT Freeport itu “dipaksa” untuk mengakui melakukan teror penembakan di areal Freeport yang telah menewaskan tiga orang.

“Ya, mereka sepertinya dipaksa untuk mengaku melakukan penembakan,” kata Yosepha tanpa menyebut kelompok mana yang memaksa para tersangka dimaksud.

Penerima piagam Hak Azasi Manusia (HAM) dari masyarakat internasional tahun 2002 itu mendesak jajaran Polres Mimika segera menuntaskan kasus hukum yang dituduhkan kepada tujuh tersangka. “Mereka sudah ditahan hampir tiga bulan di Polres Mimika, bagaimana mungkin mereka bisa ditahan selama itu sementara kasusnya belum disidangkan,” tutur Yosepha.

Wakil Direktur YAHAMAK Timika, Arnold Ronsumbre meminta jajaran kepolisian dan PT Freeport terbuka dalam mengumumkan siapa sesungguhnya dalang di balik aksi teror di areal perusahaan selama Juli-September.

Salah satu orang tua tersangka, Viktor Beanal menilai proses hukum yang ditimpahkan kepada empat orang putranya sarat rekayasa. Viktor Beanal sendiri beberapa waktu lalu juga ditangkap bersama 18 warga lainnya dengan tuduhan melakukan teror penembakan di areal Freeport.

Namun lelaki yang sudah uzur itu akhirnya dibebaskan karena tidak terbukti sebagai pelaku teror. “Badan dan tulang rusuk saya dipukul pakai senjata. Sampai sekarang saya masih merasakan sakit di tubuh saya,” tuturnya.

Viktor Beanal merupakan kepala suku Amungme di Kampung Tsinga, Tembagapura.

Pada 11 Januari 1974 ia bersama lima tokoh lainnya antara lain Tom Beanal, Mozes Kilangin, Paulus Magal, Twuarek, dan Neimun Natkime memberikan cap jempol pada selembar kertas kepada James Movet sebagai persetujuan dimulainya operasional tambang perusahaan Freeport Mcmoran.

Momentum penandatanganan nota persetujuan dimulainya operasional PT Freeport itu yang dikenal dengan istilah Januari Agreement.

Kapolda Papua, Irjen Pol Drs FX Bagus Ekodanto menegaskan proses hukum tujuh tersangka tersebut berdasarkan fakta hukum, bukan atas dasar rekayasa polisi. “Polisi bekerja berdasarkan fakta hukum, bukan atas dasar asumsi-asumsi,” kata Ekodanto dalam pertemuan dengan sejumlah tokoh masyarakat Mimika di Hotel Rimba Papua Timika beberapa waktu lalu.

Guna mendampingi para tersangka dalam persidangan nanti, keluarga telah memberikan kuasa kepada 18 orang pengacara dari LBH Jayapura, Kontras Papua dan Aliansi Demokrasi Papua (ALDP).

( Ant / CN13 )

Kwamki Lama Timika Kembali Kondusif

Selasa, 22 September 2009 17:17 WIB | Peristiwa | Hukum/Kriminal | Dibaca 405 kali
Timika (ANTARA News) – Situasi keamanan di Kwamki Lama, Kelurahan Harapan, Timika, Papua yang sempat memanas pada Senin (21/9) malam hingga pagi tadi, kini aat ini sudah kembali kondusif.

Sebagaimana pantauan ANTARA News, Selasa siang hingga sore, warga Kwamki Lama beraktivitas seperti biasa. Meski begitu, sejumlah aparat kepolisian tampak masih berjaga di sekitar Rumah Panjang dekat SDI Kwamki I.

Sejumlah warga yang ditemui mengatakan tidak khawatir akan terjadi konflik antarkeluarga Wandikbo dan keluarga Kum pascameninggalnya Dorkas Wandikbo, Senin (21/9) malam.

“Sangat kecil kemungkinan terjadi konflik, karena itu kami minta polisi segera menangkap dan memproses para pelakunya,” kata Karel Kum, seorang warga Kwamki Lama.

Warga lainnya, Yohanes Kogoya meminta aparat kepolisian melakukan razia senjata tajam agar warga tidak seenaknya membawa senjata tajam berupa panah, parang dan lain-lain di tempat-tempat umum.

Yohanes berharap kasus pembunuhan Dorkas Wandikbo segera diselesaikan secara hukum maupun secara adat agar tidak merembes ke komunitas warga Kwamki Lama yang lain.

Situasi keamanan di Kwamki Lama Timika khususnya di Jalan Mambruk Jalur III sempat memanas pada Senin malam hingga tadi pagi menyusul tewasnya Dorkas Wandikbo.

Dorkas tewas setelah ditikam oleh Elkin Uamang pada rusuk bagian kanannya karena diduga yang bersangkutan berselingkuh dengan Jhon Kum.

Seorang korban lainnya, Lusia Kum yang mengalami luka robek pada pinggang kanan karena terkena anak panah. Ia kini menjalani perawatan intensif di Rumah Sakit Mitra Masyarakat (RSMM) Timika.

Kwamki Lama merupakan lokasi permukiman warga suku-suku dari wilayah pegunungan Papua. Di wilayah tersebut rawan terjadi perang suku.

Pada 2006, perang suku antara suku Damal dan Dani di Kwamki Lama berlangsung selama lebih dari empat bulan hingga menewaskan belasan orang dan ratusan lainnya luka-luka. (*)

COPYRIGHT

Situasi di Kwamki Lama Timika Memanas

Timika (ANTARA News) – Situasi di Kwamki Lama, Kelurahan Harapan, Timika, Papua memanas menyusul pembunuhan terhadap Dorkas Wandikbo, Senin (21/9) malam. Warga suku Damal yang bermukim di Jalan Mambruk Jalur III Kwamki Lama sejak semalam terus berjaga-jaga.

Guna mengantisipasi kemungkinan terjadi serangan dari pihak keluarga korban, aparat kepolisian dari Polres Mimika sejak Selasa pagi diterjunkan ke Kwamki Lama.

Menurut informasi yang dihimpun, pembunuhan terhadap Dorkas dilatarbelakangi masalah perselingkuhan.

Dorkas yang diduga berselingkuh dengan Jhon Kum pada Senin malam sekitar pukul 19.30 WIT tewas setelah ditikam oleh Elkin Uamang, keluarga Jhon Kum.

Korban mengalami luka pada rusuk bagian kanan. Seorang korban lainnya, Lusia Kum menderita luka karena terkena anak panah.

Kedua korban langsung dilarikan ke RSUD Timika, namun nyawa Dorkas akhirnya tidak tertolong.

Sedangkan Lusia telah dirujuk ke Rumah Sakit Mitra Masyarakat (RSMM) Timika untuk mengeluarkan anak panah dari tubuhnya.

Almarhumah Dorkas rencananya akan dimakamkan siang ini di Tempat Pemakaman Umum (TPU) di Kwamki Lama.

Usai pemakaman, kedua kubu yang bersitegang akan dipertemukan di rumah David Wandikbo untuk mencari solusi atas persoalan yang terjadi.

Kwamki Lama merupakan lokasi pemukiman warga suku-suku dari wilayah pegunungan Papua. Wilayah ini rawan terjadi perang suku.

Pada 2006, perang suku antara suku Damal dan Dani di Kwamki Lama berlangsung selama lebih dari empat bulan hingga menewaskan belasan orang dan ratusan lainnya luka-luka. (*)

COPYRIGHT

Noordin M Top Tewas!

JAKARTA – Gembong teroris paling dicari, Noordin M Top akhirnya tewas ditembak oleh tim Densus 88, dalam penyergapan yang dilakukan di sebuah rumah, di Desa Kahuripan, Solo, Kamis (17/9) kemarin. Selain Noordin, 3 teroris lainnya ikut tewas dalam penyergapan tersebut.

Dalam jumpa pers di Mabes Polri sore ini, Kapolri Jendral (Pol) Bambang Hendarso Danuri membeberkan kronologis penggerebekan tersangka teroris di Solo yang berujung pada kematian Noordin M Top. Menurut Kapolri, penggerebekan dilakukan setelah Densus 88 menangkap dua nama yang dianggap tahu keberadaan Noordin.

Kapolri membeberkan, Rabu (16/9) pagi, Densus 88 menangkap Rahmat Pudji Prabowo alias Bejo, di pasar Gading, Solo. Seteleh dinterogasi, Bejo mulai menyebut nama lain. Pengakuan Bejo ditindaklanjuti dengan penangkapan Supono. “Densus 88 menangkap Supono, sekitar pukul 15.00 di Pasar Gading, Solo,” ungkap Kapolri.

Selanjutnya, Supono memberi petunjuk tentang persembunyian para tersangka teroris di Desa Kahuripan, Solo, di sebuah rumah yang disewa Susilo. “Diduga, ada diduga beberapa orang pelaku teror yang ada di sana,” sambung Kapolri. Beberapa nama di rumah tersebut diantaranya adalah Noordin M Top, Ario Sudarso (pembuat bom, murid langsung Dr Azahari), serta Bagus Budi Pranoto alias Urwah (pelaku bom Kedubes Australia).

Akhirnya, kemarin malam sekitar pulul 11.30 Densus mulai melakukan evakuasi warga Desa Kahuripan yang tinggal di sekitar rumah Susilo, tempat persembunyian Noordin Cs. Kemudian, kata Kapolri, setelah masyarakat diamankan sekitar pukul 12 malam Densus mulai bergerak.

“Jam 12 anak-anak Densus mencoba mendobrak pintu, tetapi dari dalam langsung disambut dengan rentetan tembakan. Anak-anak mundur, kita beri peringatan (Noordin Cs) untuk menyerahkan diri. Tetapi peringatan kita malah dibalas dengan teriakan heroirk,” urai Kapolri.

Densus pun tidak langsung menggempur Noordin Cs. Densus mencoba menahan diri, dan mengulang-ulang peringatan agar Noordin Cs keluar rumah dan menyerah baik-baik. “Sampai akhirnya terjadilah tembak-menembak. Di dalam ada sepeda motor dan terbakar, kemudian mereka mengamankan diri di kamar mandi,” turut Kapolri.

Polisi pun tak kehilangan akal. Tembok rumah dijebol dengan dengan sebuah ledakan, atau yang lebih dikenal dengan breaching wall. “Dan menjelang subuh, setelah tiga jam, akhirnya anak-anak masuk. Empat korban tewas, satu luka-luka,” sebut Kapolri.
Empat korban tewas itu adalah Noordin M top, Susilo, Ario Sudaro, serta Urwah. Sedangkan korban luka adalah Munawaroh, istri Susilo si penyewa rumah.

Sedangkan dari pihak Densus satu anggotanya terluka karena tembakan. “Terluka ringan di kaki. Sekarang dirawat di Solo,” imbuh Kapolri.

Kabar kematian gembong teroris Noordin M. Top sampai juga ke telinga keluarganya di Malaysia. Tadi malam, keluarga besar Noordin yang tinggal terpisah di Kuala Lumpur, Kluang, dan Johor telah saling berkomunikasi. Mereka menggelar musyawarah dan pertemuan darurat. “Kami masih belum tuntas membicarakan langkah selanjutnya karena ada beberapa anggota keluarga yang masih belum tiba,” tegas juru bicara Keluarga Noordin, Badaruddin Ismail ketika dihubungi Jawa Pos (grup Cenderawasih Pos) dari Jakarta kemarin petang.

Badaruddin mengaku sempat shock ketika pertama kali mendengar kabar kematian Noordin. Yang menarik, dia mendapat kabar pertama kali dari wartawan, bukan dari polisi. “Kami baru yakin setelah mendengar penjelasan resmi dari polisi,” ujarnya.
Besok (hari ini), kata Badaruddin, perwakilan keluarga akan menghadap ke kantor kementerian Luar Negeri Malaysia. Tujuannya, untuk berkonsultasi seputar rencana pemulangan jenazah dari Indonesia. “Barangkali ada dokumen atau perlengkapan yang harus kami siapkan,” terangnya.

Keluarga, kata dia, ingin agar jasad pria yang menjadi top most wanted FBI itu dipulangkan ke Malaysia. Setelah buron selama sembilan tahun, keluarga mengaku ada rasa rindu dan ingin mengapresiasi keinginan Noordin agar dimakamkan di tanah airnya.”Tapi kami masih mempertimbangkan kesulitan dan teknisnya. Nanti setelah rapat keluarga saya jelaskan lagi,” terang dia.

Apakah keluarga memiliki target waktu memulangkan Noordin” Dia tidak menjawabnya dengan pasti. Yang pasti, menurut Badaruddin, diharapkan semua proses akan bisa tuntas setelah Idul Fitri. “Karena ini serba mepet dengan Idul Fitri jadi kami juga sulit memutuskan,” tegas dia.

Keluarga besar, kata dia, tidak memiliki areal pemakaman khusus. Kemungkinan besar, jenazah akan dimakamkan di areal pemakaman umum setempat. “Mungkin pemakaman umum di Johor. Di sana keluarga akan dimakamkan,” terang dia.

Dihubungi terpisah, Mertua Noordin di Kampung Sungai Tiram, Rusdi Hamid tampak tak begitu antusias dengan kabar itu. Rusdi tampaknya sudah patah arang perihal simpang siur kabar kematian sang menantu. “Saya biasa-biasa saja. Lebih baik saya menjalani puasa Ramadan dengan baik saja,” ujarnya.

Rusdi, mengatakan mati atau hidup, Noordin sudah tidak meninggalkan kesan apapun bagi dirinya. Lalu bagaimana dengan istri Noordin” Rusdi mengaku putrinya masih belum bisa bericara kepada media. Yang pasti, saat ini, Siti Rahma mengaku mematangkan rencana mengirim salah satu anggota keluarga untuk bisa datang ke Jakarta dan melihat langsung jenazah sang menantu. “Nanti akan kami sampaikan (kepada media, Red),” kata dia sambil mengakhiri pembicaraan.

Dalam sejumlah kesempatan, Rusdi yang sempat ditemui Jawa Pos di kediamannya memang menyatakan lebih mementingkan menghidupi anak tiga cucunya, yang merupakan keturunan Noordin. Buron seharga Rp 1 miliar tersebut meninggalkan tiga anak hasil perkawinannya dengan putri kelima Rusdi. Masing-masing adalah dua orang anak lelaki berusia 10 tahun dan sembilan tahun, serta seorang anak perempuan berusia delapan tahun. Sejak Noordin meninggalkan rumahnya di Kampung Sungai Tiram 8?9 tahun lalu, anak-anak Noordin telah tumbuh besar tanpa mengenal sosok sang ayah. Karena itu, dia meminta dengan hormat agar mereka tidak diekspos dan dijauhkan dari segala informasi seputar Noordin. Bahkan, kata Rusdi, jika ditanya tentang ayah mereka, pasti anak-anak Noordin sama sekali tidak mengenali karena mereka ditinggalkan ketika masih bayi.(zul/kum/mas/ara/JPNN)

Kapolda Yakin, Pelaku Penembakan Segera Terungkap

JAYAPURA-Serangkaian kasus penembakan yang diawali kasus pembakaran yang terjadi di area obyek vital nasional PT Freeport Indonesia, Tembagapura, Timika, Kabupaten Mimika yang terjadi sejak pertengahan Juli hingga September 2009 ini masih terus menjadi perhatian serius aparat keamanan dan dalam hal ini Kapolda Papua meyakini pelakunya akan segera terungkap.

Keyakinan ini disampaikan Kapolda Papua Irjen Pol. Drs. FX. Bagus Ekodanto kepada wartawan di RM Borobudur di sela-sela buka puasa bersama dengan insan pers di Kota Jayapura, Kamis (17/9).

“Untuk kasus pembakaran dan serangkaian penembakan di Freeport itu, sebentar lagi mungkin pelakunya akan kita ungkap,” kata Kapolda Bagus Ekodanto didampingi Kabid Humas Kombes Pol Drs. Agus Rianto.

Kapolda menegaskan, para pelaku penembakan di area PT Freeport Indonesia ini diperkirakan ada 6 orang dari warga sipil dan saat ini masih dilakukan pengejaran.
Ditanya indikasi keterlibatan kelompok lain dalam serangkaian penembakan di Freeport itu? Kapolda mengakui belum mengetahui secara pasti. “Kami belum tahu, soal keterlibatan kelompok lain dalam kasus penembakan itu,” ungkapnya.

Soal motif penembakan di area obyek vital nasional itu, Kapolda mengatakan bahwa pada intinya yang diperoleh aparat kepolisian adalah pelaku berkeinginan agar PT Freeport Indonesia tutup atau tidak beroperasi lagi.

Hanya saja, lanjut Kapolda, pihaknya sudah melakukan upaya pendekatan dengan serikat buruh, karyawan, Komnas HAM dan dampaknya para karyawan tidak terpengaruh dengan adanya kasus penembakan di area PT Freeport Indonesia tersebut. Apalagi, karyawan sudah mengerti dan bersama-sama untuk melawan teror yang dilakukan oleh kelompok bersenjata tersebut.

Kapolda mengatakan, dari TNI sudah ada penambahan 600 personel dan saat ini tinggal surat perpanjangan saja, yang didatangkan dari Papua, sedangkan dari Polri didatangkan dari luar Papua.

Untuk pengamanan di Area PT Freeport Indonesia ini, jelas Kapolda, dilakukan di sepanjang mile, yang telah dibagi tugas dengan TNI. “Sebetulnya aktivitas dan mobilitas karyawan seperti biasa. Ya, jika ada kejadian, kadang-kadang manajemen menghentikan sementara, ya berhenti. Tapi, aparat tetap mengamankan mobilitas baik personel, handak dan logistik setiap hari tetap berjalan,” ujarnya.

Soal mile yang dianggap paling rawan, Kapolda mengakui bahwa kejadian itu selalu berubah-ubah tempatnya, hanya saja biasanya antara mile 41 dan mile 42, serta terakhir di Kali Kopi yang berada di luar Tembagapura.

Ditanya adanya informasi anggota TNI yang tertembak? Kapolda mengakui tidak ada, bahkan Kapolda balik menanyakan hal itu kepada wartawan. “Gak ada itu. Dari mana infonya,” tandas Kapolda.

Sementara dalam ceramah buka puasa yang disampaikan oleh Ustadz H. Muhammad Soleh antara lain mengatakan, setiap orang harus bisa mengendalikan hawa nafsunya. Sebab orang biasanya kalau diuji dengan harta masih belum goyah, tetapi ketika diuji dengan hawa nafsu, misalnya wanita, maka biasanya akan jatuh. “Hawa nafsu itu akan menyurut kepada kejahatan, karena itu waspadalah,” tegas ustadz mengingatkan.
Acara buka bersama ini juga dihadiri Wakapolda Papua Brigjen Pol. Drs. Achmad Riadi Koni,SH dan para pejabat teras Polda Papua lainnya. (bat/fud)

Up ↑

Wantok Coffee

Melanesia Single Origin Coffee

MAMA Minimart

MAMA Stap, na Yumi Stap!

PT Kimarek Aruwam Agorik

Just another WordPress.com site

Wantok Coffee News

Melanesia Foods and Beverages News

Perempuan Papua

Melahirkan, Merawat dan Menyambut

UUDS ULMWP

for a Free and Independent West Papua

UUDS ULMWP 2020

Memagari untuk Membebaskan Tanah dan Bangsa Papua!

Melanesia Spirit & Nature News

Promoting the Melanesian Way Conservation

Kotokay

The Roof of the Melanesian Elders

Eight Plus One Ministry

To Spread the Gospel, from Melanesia to Indonesia!

Koteka

This is My Origin and My Destiny