TNI Tambah 600 Prajurit Amankan Freeport

Ditulis oleh Ant/Papos

Pangdam XVII/Cenderawasih Mayjen TNI Ahmad Yani Nasution Irjen Pol Drs. FX Bagus Ekodanto
BIAK (PAPOS) – Sedikitnya 600 prajurit TNI AD akan diperbantukan mengamankan areal kerja PT Freeport Indonesia di Tembagapura, Timika, Papu mulai 2 September 2009.

Pangdam XVII/Cenderawasih Mayjen TNI Ahmad Yani Nasution di Biak, Senin, mengatakan, penempatan ratusan prajurit TNI itu atas permintaan Polri dalam upaya memulihkan situasi Kamtibmas di areal PT.Freeport.

“Ke-600 prajurit TNI AD tambahan itu akan bertugas secara efektif 2 September,” kata Mayjen AY Nasution.
Ia mengakui, prajurit TNI AD yang diperbantukan mengamankan Freeport dipersiapkan untuk menghadapi kelompok separatis (TPN/OPM) yang sering mengganggu keamanan masyarakat setempat, khususnya di sekitar Freeport.

Nasution belum memastikan sampai kapan prajurit tambahan itu akan bertugas di Freeport, yang jelas sampai situasi keamanan di sana benar-benar pulih.
Menyinggung situasi keamanan di Papua dan Papua Barat, Pangdam Nasution mengemukakan, sampai saat ini tetap kondusif. Aktivitas warga masyarakat maupun fasilitas umum berjalan normal seperti biasanya.

“Untuk wilayah teritorial Kodam XVII/Cenderawasih situasi aman dan terkendali,” ujar Nasution.

Kembali Normal
Mobilitas kendaraan dari Timika menuju Tembagapura dan sebaliknya kembali normal pasca insiden penembakan terhadap bis karyawan dan truk trailer PT Freeport Indonesia , Jumat (28/8).

Kepala Bidang Humas Polda Papua, Kombes Pol Agus Rianto di Timika, Senin mengatakan situasi keamanan di sepanjang ruas jalan Timika-Tembagapura masih cukup rawan sehingga setiap kendaraan yang melintas harus dikawal oleh aparat gabungan TNI dan Brimob.

“Kami akan melakukan koordinasi dengan manajemen PT Freeport untuk mengatur mobilitas karyawan yang hendak naik atau turun disesuaikan dengan jadwal kerja mereka dan juga memperhatikan situasi keamanan yang belum sepenuhnya kondusif,” katanya.

Agus Rianto membenarkan sempat terjadi kontak tembak sekitar 20 menit antara aparat gabungan TNI dan Brimob dengan kelompok bersenjata yang menyerang bis karyawan dan truk trailer Freeport di Mile 42-41, Jumat lalu.

“Sempat terjadi kontak tembak dengan aparat gabungan yang mengawal bis karyawan sekitar 10-20 menit. Namun tidak ada korban yang terluka dalam kejadian itu,” jelasnya.

Menurut Agus, polisi membutuhkan dukungan dari semua pihak agar dapat mengungkap dan menangkap pelaku yang selalu membuat teror di areal Freeport selama dua bulan belakangan.

Bis karyawan yang terkena tembakan oleh kelompok bersenjata yang belum diketahui identitasnya itu dikemudikan Usman.

Saat itu, bis naas yang mengangkut puluhan karyawan Freeport dan kontraktornya itu sedang melintas dengan beberapa kendaraan lain di sekitar Mile 42-41 dalam perjalanan dari Tembagapura menuju Terminal Gorong-gorong Timika.

Ketika tembakan terjadi, karyawan panik dan spontan melakukan tiarap di dalam bis.

Insiden penembakan yang terjadi berulang-ulang di sepanjang ruas jalan Timika-Tembagapura sempat mengakibatkan mobilitas karyawan dari Timika ke Tembagapura dan sebaliknya ditutup selama hampir dua minggu. (ant)

Polda Siap Amankan Warga Mamberamo

Jayapura (PAPOS) – Polda Papua telah menyiapkan satu kapal polisi perairan (Polair) dan sejumlah perahu kayu di dekat lapangan terbang perintis Kasepo, Distrik Mamberamo Hilir, Kabupaten Mamberamo Raya yang telah dikuasai kelompok bersenjata sejak 19 Mei 2009.
Kepala Divisi Humas Polri Irjen Pol Abubakar Nataprawira, beberapa hari lalu, mengatakan, kapal Polair dipakai sebagai sarana negosiasi antara polisi dengan kelompok bersenjata.

“Kapal Polri itu dilengkapi dengan pengeras suara sehingga dapat dipakai untuk menghimbau warga agar meninggalkan lapangan terbang,” katanya.

Sedangkan sejumlah perahu disediakan untuk warga yang bersedia meninggalkan lapangan terbang secara sukarela.

Polri, katanya, hingga kini tetap menggunakan upaya persuasif dengan melibatkan tokoh agama, tokoh adat dan pejabat pemerintah setempat.

“Upaya negosiasi telah tiga kali dilakukan dan akan terus diupayakan agar mereka meninggalkan lapangan terbang secara sukarela,” ujarnya.

Menurut dia, kendati jumlah warga yang menduduki bandara sekitar 150 orang namun hanya tiga orang yang memiliki senjata api dan diduga sebagai pihak yang menggerakkan warga.

“Warga sekitar itu hanya direkrut tiga orang untuk sama-sama menduduki lapangan terbang. Warga dijadikan tameng oleh ketiga orang itu,” katanya.

Polri sangat hati-hati untuk melakukan upaya tindakan kepolisian sebab bisa jadi akan jatuh korban warga yang hanya ikut-ikutan saja.

“Polisi lebih mementingkan keselamatan warga. Jika ada tindakan represif, tiga orang ini akan berlindung di balik warga sehingga bisa jadi akan jatuh korban dari warga,” ujarnya.

Kini, Polda Papua telah mengerahkan tim dari Brimob ke sekitar lapangan terbang dan siap bertindak jika dibutuhkan untuk merebut lapangan terbang.(ant)

Ditulis oleh Ant/Papos
Selasa, 02 Juni 2009 00:00

DAP Minta Aparat Transparan

JAYAPURA (PAPOS) -Aparat keamanan diharapkan dapat mengungkap secara transparan segala peristiwa yang meresahkan masyarakat di Papua, terutama yang terjadi menjelang, saat dan beberapa hari pasca Pemilu 2009.

Hal tersebut disampaikan Sekretaris Umum Dewan Adat Papua (DAP) Leonard Imbiri.”Kami berharap, aparat tidak saja mengungkap dan menangkap pelaku tindakan-tindakan anarkis yang terjadi di Jayapura dan daerah lainnya, tapi juga motif dan aktor utama di balik semua peristiwa itu,” tandasnya di Jayapura, Rabu (22/4) kemarin.

Peristiwa yang meresahkan masyarakat di antaranya penyerangan Kantor Polsekta Abepura, Jayapura yang disusul pembakaran gedung rektorat Universitas Cenderawasih (Uncen) oleh beberapa orang yang tidak bertanggung jawab, menjelang hari pencentangan, Kamis (9/4).

Sebelumnya, masyarakat juga dikejutkan dengan penemuan bom yang terpasang di jembatan Muara Tami, Distrik Muara Tami. Bahkan ada pula pembunuhan yang menimbulkan jatuhnya beberapa korban jiwa di Wamena, Kabupaten Jayawijaya. Selain itu, di kabupaten ini juga SMP Asologoima ikut dirusak.

Rangkaian kejadian itu masih disusul dengan penyebaran isu akan adanya penyerangan dari sekelompok orang terhadap komunitas masyarakat tertentu dan teror bom yang semakin mengganggu kondisi kemanan dan ketertiban masyarakat di Jayapura, terutama pada hari-hari penghitungan suara.

Penemuan bom di tempat-tempat keramaian di Abepura, Jayapura beberapa waktu lalu turut menambah ketegangan masyarakat yang akan beraktivitas.

“Keadaan ini menimbulkan situasi yang tidak menentu dan membingungkan masyarakat,” kata Leonard.

Di lain pihak, dampak dari hal tersebut adalah terusiknya hubungan sosial kemasyarakatan yang rawan konflik horizontal.

Lebih lanjut dia mengatakan, di masyarakat kini timbul rasa saling curiga dan menjaga diri karena telah ada pengkotak-kotakan kelompok masyarakat satu dengan lainnya.

Oleh karena itu, agar situasi ini tidak menyebabkan masalah yang lebih besar lagi, dia berharap pihak keamanan dapat menuntaskan kasus-kasus kekerasan tersebut secara gamblang dan terbuka.(ant)

Ditulis oleh Ant/Papos
Kamis, 23 April 2009 00:00

Bas Prihatin Terjadinya Masalah Sosial

JAYAPURA (PAPOS) – Rentetan peristiwa yang terjadi sebelum dan sesudah pelaksanaan pemilihan umum (Pemilu), di Wamena, Biak dan Kota Jayapura yang kini sangat meresahkan masyarakat mendapat perhatian serius dari ketua Klasis GKI Jayapura, Pdt. Bas Weyai.

Bas Weyai mengaku cukup prihatin atas terjadinya masalah-masalah social yang terjadi di beberapa daerah di tanah Papua saat ini, khususnya di kota Jayapura.’’Saya turut prihatin dengan kondisi keamanan dan ketertiban masyarakat yang belakangan ini dipengaruhi rasa cemas dan ketakutan akibataksi kekerasan yang dilakukan oknum-oknum yang tidak bertanggungjawab baik kekerasan secara fisik maupun pisikis di kota Jayapura,’’ kata Bas kepada Papua Pos di Jayapura, Rabu (15/4) kemarin.

Bertolak pada kondisi objektif yang diselimuti kekhawatiran, kecemasan dan ketakutan terhadap aksi kekerasan tersebut, maka selaku pimpinan umat sekaligus petugas gereja ia menyerukan kepada segenap lapisan masyarakat dan umat beragama agar tidak terprovokasi dengan isu-isu kekerasan yang terjadi di Papua pada umumnya dan khususnya di kota Jayapura, Wamena dan Biak. ‘’Belakangan ini isu kekerasan tersebut cukup meresahkan dan mecemaskan tatanam hidup bermasyarakat,’’ ujarnya.

Selaku masyarakat agamawi di tanah Papua Bas mengajak seluruh elemen masyarakat untuk menghargai hidup masing-masing sebagai anugerah Tuhan yang patut dipertanggungjawabkan dalam iman untuk menciptakan suasana damai dan kehidupan yang utuh dan harmoni. ‘’Mari kita hindari perilaku yang menyusahkan hidup orang lain dan tindakan kekerasan yang menghancurkan moral masyarakat,’’ pintanya.

Bahkan selaku ketua klasis GKI Jayapura menghimbau situasi kecemasan yang berkangsung hamper sepekan ini supaya dihentikan. Tindakan seperti itu menurut dia tidak terpuji dan tidak mencerminkan kerukunan umat beragama dan pergaulan kemasyarakatan yang selama ini tercipta dengan baik dan berlangsung dalam suasana damai di tanah Papua.

‘’Selaku pimpinan umat saya menghimbau seluruh umat Kristiani di kota Jayapura agar menghindari akses-akses tindakan kekerasan yang berbenturan dengan budaya damai, budaya persaudaraan, yang rukun dan budaya saling menghargai dan menghormati hak hidup tiap orang dan sesame kita yang hidup berdampingan, supaya memelihara dan mempertahankan norma-norma kemanusian dalam suasana hidup yang berkeadilan dan bermartabat,’’ tandasnya.

Sebagai pengamat masalah social di kota Jayapura, ia mengharapkan situasi ini dicermati dan ditangani aparat keamanan, dalam hal ini Polda Papua beserta jajarannya untuk menyelidiki kasus-kasus tersebut secara hukum dan dengan pendekatan yang bersahaja dan sistematik, agar memberi kenyamanan bagi msayarakat sehingga kasus-kasus serupa tidak lagi mencemaskan dan meresahkan masyarakat pada waktu-waktu mendatang. (bela)

Ditulis oleh Javaris/Papos
Kamis, 16 April 2009 00:00

Kondisi Keamanan di Aceh Mencemaskan

Uni Eropa dan Crisis Management Initiative (CMI) di Minta Bertindak.

Menurut Informasi yang kami terima dari Juru Bicara KPA (Komite Peralihan Aceh) Ibrahim Syamsuddin atau KBS dari Aceh, bahwa pada 04 April 2009 jam 8.30 telah terjadi penembakan terhadap M.Jamil 42 Tahun, anngota KPA (Komite Peralihan Aceh) kawasan Aramiah, Langsa. Penembakan dilakukan oleh 2 orang menggunakan RX King dengan baju jaket hitam. Ibrahim Syamsuddin atau KBS dari Aceh, bahwa pada 04 April 2009 jam 8.30 telah terjadi penembakan terhadap M.Jamil 42 Tahun, anngota KPA (Komite Peralihan Aceh) kawasan Aramiah, Langsa. Penembakan dilakukan oleh 2 orang menggunakan RX King dengan baju jaket hitam. Kronologis korban menggunakan sepeda motor Mega Pro dari Birem, Bayuen menuju Kuala Simpang pulang ke rumah, sampai di desa Lhok Bani, Jalan Prof. Majid Ibrahim korban di tembak di kawasan sepi penduduk tulis KBS.

Dengan itu kami atas nama Perkumpulan Rakyat Aceh se Dunia World Acehnese Association (WAA ) menyampaikan rasa duka yang mendalam atas kejadian yang menimpa anngota KPA yang di sebut bernama M.Jamil.

Kami mengutuk keras tindakan yang sangat tidak manusiawi tersebut. Padalah saat ini rakyat Aceh sangat membutuhkan ketentraman dan kedamaian, apa lagi rakyat Aceh akan menghadapi pemilihan umum dalam beberapa hari lagi.

Kekerasan yang masih terus terjadi di Aceh tanpa di ketahui pelakunya, itu merupakan kegagalan pihak yang bertanggung jawab terhadap keamanan di Aceh.

Sangat di sayang kan jika kondisi ini akan berpengaruh buruk terhadap proses perdamaian antara GAM (Gerakan Aceh Merdeka) dan Pemerintah Indonesia kedepan. Kami meminta negara-negara dan badan Internasional kusunya Uni Eropa dan Crisis Management Initiative (*CMI*) yang terlibat dalam perdamaian Aceh, untuk segera turun tangan menyelesaikan berbagai kasus kekerasan dan pembunuhan yang terjadi di Aceh. Kami ingin pihak Internasional mengambil sesuatu tindakan yang dapat meredakan kondisi tersebut yang terus memakan korban, Demikian harapan kami. Minggu 05 April 2009

Fjerritslev, Denmark.
Tarmizi Age
World Acehnese Association (WAA)
Ban sigom donja *keue Aceh!*

Tarmizi Age/Mukarram
*World Acehnese Association* *( WAA )*
* *Ban sigom donja *keu Aceh* *!*
**
*Sekretariat:*
Molleparken 20,9690 Fjerritslev,Denmark,
Mobile:0045 24897172
mukarramwaa@yahoo.com

Wempi Wetipo : Di Wamena, Peluang Konflik Sangat Besar – Terutama Menjelang Pemilu Legislatif Mendatang

WAMENA – Bupati Wempi Wetipo, S.sos, M.Par selaku pembina politik di Kabupaten Jayawijaya mengatakan, menjelang proses pelaksanaan pesta demokrasi di Kabupaten Jayawijaya bahkan di kabupaten pemekaran lainnya sangat sarat dengan terjadinya peluang konflik. Hal itu dikarenakan penyelenggara pemilihan umum (KPUD) hanya ada satu yaitu KPUD Jayawijaya yang membawahi 5 kabupaten sehingga sangat dipikir akan menimbulkan peluang konflik.

“Ya kita mengetahui bahwa KPUD yang ada saat ini hanya satu dengan membawahi 5 kabupaten sehingga kenapa tidak salah kalau kita pikir peluang terjadinya konflik sangat besar,”ungkapnya kepada wartawan baru-baru ini.

Oleh karena itu, Bupati menghimbau supaya semua partai politik (parpol) yang ikut mensukseskan pesta demokrasi agar bersaing secara sehat dan baik sehingga peluang konflik tidak terjadi. Karena, kata dia, proses ini bukan seperti melamar pekerjaan, tapi ini merupakan amanat rakyat yang dibawa sebab ketika sudah siap masuk dalam arena politik maka berarti bicara untuk kepentingan rakyat dan bukan kepentingan bicara diri sendiri.

Lebih lanjut dikatakan, ketika banyak orang terdaftar sebagai caleg tapi sedikit yang terpilih maka itulah kemauan rakyat dan bukan kemauan pemerintah, dengan demikian, semua elemen harus berjiwa besar menerima kekalahan dan menerima kemenangan sebab itu sudah melalui keputusan rakyat. Kemudian orang yang terdaftar tersebut harus siap mental dalam arti siap mental untuk menang dan siap mental untuk kalah karena pertarungan ini bukan hanya diikuti oleh satu atau dua orang saja melainkan banyak orang.

Misalnya, jelas Bupati Wempi, Distrik Wawalagama 3 kursi yang diperebutkan tapi caleg yang masuk 39 orang untuk merebut 3 kursi maka bagaimana 39 orang caleg bisa memperebutkan 3 kursi ini. Hal inilah yang perlu kita lihat dalam arti bahwa apakah akan menimbulkan konflik atau tidak, untuk itu perlu dihimbau supaya semua bisa saling bijaksana. Kalaupun ada permasalahan disalah satu kabupaten maka pihaknya meminta supaya diselesaikan di daerahnya dan tidak membawa di kabupaten induk.

” Ada kesepakatan melalui surat pernyataan supaya jangan membawa dosa dari kabupaten induk ke kabuapaten pemekaran tapi sekarang kami mau balikkan kata tersebut supaya jangan membawa permasalahan dari kabupaten pemekaran ke kabupaten induk. Untuk itu, saya juga mau menyampaikan bahwa kalau mau berdemo silahkan melakukan di kabupaten yang bersangkutan dan jangan melakukan di kabupaten induk dalam arti bagaimana kita bisa menjaga stabilitas keamanan,”tandasnya. (nal)

Gubernur : Sistem Suara Terbanyak Rawan Konflik – Polda Akan Tindak Tegas Pengacau Pemilu

JAYAPURA- Gubernur Papua Barnabas Suabu, SH mengungkapkan, sistem Pemilu dengan menganut suara terbanyak bagi Caleg untuk lolos ke kursi lembaga legeslatif dinilai akan memunculkan kerawanan potensi konflik, baik antar Parpol maupun internal Parpol ( sesama Caleg).

Dikatakan, kerawanan konflik ini kemungkinan bisa terjadi, akibat adanya persaingan antar Parpol maupun antar Caleg internal Parpol untuk meraih kursi dilembaga legeslatif. Untuk menyikapi hal ini, Gubernur minta agar peran Panwaslu ( Panitia Pangawas Pemilu) lebih independent, profesional, dan tidak mudah diintervensi oleh kepentingan siapapun.

Penegasan ini diungkapkan Gubernur Bas Suebu saat menjadi pemateri pada Rapat Pimpinan (Rapim) Kodam XVII/Cenderawasih di Aula Tony A Rompis Makodam, Kamis (19/2) kemarin.

Dikatakan, potensi konflik horizontal itu bisa terjadinya, akibat adanya sejumlah kepentingan seperti terjadinya manipulasi data penduduk dan pemilih yang dilakukan KPU dengan Parpol yang berkepentingan. Sebab, berdasarkan pengalaman, kejadian itu pernah terjadi di Kabupaten Mimika pada Pemilu 2004 lalu, dimana KPUD Mimika terlibat dalam proses pengubahan data pemilih yang bisa menguntungkan salah satu Parpol peserta Pemilu.

Kemungkinan pelanggaran Pemilu lainnya yang bisa memicu konflik horizontal menurut Gubernur adalah adanya perdagangan surat suara, terutama di daerah-daerah pedalaman. Bila pada Pemilu 2009 ini hal-hal tersebut masih saja terjadi, maka yang terjadi adalah penghianatan terhadap Pemilu.

” Saya pikir dana yang cukup besar yang telah negara keluarkan sama sekali tidak ada gunanya jika proses Pemilu masih diwarnai dengan berbagai kecurangan dan manipulasi. Karena itu saya berharap kepada seluruh Caleg agar memiliki dan memberikan pendewasaan politik yang baik, santun dan bermartabat,” pungkasnya.

Diungkapkan, tingginya persaingan antar Parpol maupun antar Caleg ini sendiri tidak terlepas dari sedikitnya jumlah kursi yang tersedia yang harus perebutkan ribuan Caleg.

Untuk DPD RI, 15 orang harus merebutkan 4 kursi. Di DPRP, 1103 Caleg akan memperebutkan 56 kursi. Sedangkan untuk di masing-masing Kabupaten/Kota, 200-500 Caleg harus memperebutkan 20-25 kursi.

Guna menghindari praktek-praktek kecurangan selama proses pelaksanaan Pemilu, KPUD maupun Panwas diharapkan dapat menjaga netralitasnya selaku wasit dalam sebuah pertandingan.

Sebab, jika mereka ini mudah diintervensi kepentingan Parpol, maka yang akan terjadi adalah akan memunculkan permasalahan yang sangat besar dan sulit untuk diselesaikan.

Polda Tindak

Sementara itu, Kapolda Papua Irjen. Pol. FX. Bagus Ekodanto mengajak kepada seluruh elemen masyarakat untuk ikut bersama-sama saling menjaga ketertiban dan keamanan demi kelancaran dan kesuksesaan Pemilu. Sebab, jika ada pihak-pihak yang ingin berusaha mengganggu atau mengacaukan pelaksanaan Pemilu, Polda tidak segan-segan akan menindak tegas yang bersangkutan.

” Yang jelas Pemilu di Papua dan Papua Barat harus berjalan aman dan lancar. Jika nantinya ada gangguan hingga pada eskalasi gangguan bersenjata, kami dari jajaran Polda akan menindaktegas para pengacau tersebut. Intinya kami tidak akan kompromi dengan pihak-pihak atau kelompok manapun yang ingin mengganggu jalannya agenda nasional tersebut,” tegas Kapolda saat ditanya Cenderawasih Pos usai menjadi pemateri pada Rapim Kodam di Aula Tony A Rompis Makodam, Kamis (19/2) kemarin.

Menurut Kapolda, dalam pelaksaaan Pemilu 2009 ini ada beberapa potensi gangguan yang dapat memicu terjadinya kontigenji, seperti benturan fidik antara pendukung Parpol, penyerangan dan sabotase melalui rapat umum, serta penyerangan dari kelompok gerakan separatis bersenjata.

Guna menyikapi kemungkinan terjadinya gangguan pada saat pelaksaan Pemilu itu, pihaknya telah menyiapkan pola atau system pengamanan Pemilu, khususnya di lokasi-lokasi TPS ( Tempat Pemunggutan Suara).

Diungkapkan, penempatan jumlah kekuatan personel Polri di TPS-TPS disesuaikan dengan wilayah-wilayah yang dianggap rawan akan gangguan. Untuk daerah rawan 1, perbandingan aparat kepolisian yang diterjunkan di lokasi TPS adalah 2 : 4 : 2 atau 2 anggota Polri, 4 anggota Linmas untuk 2 TPS. Sedangkan, untuk daerah rawan 2, perbandingan anggota Polri yang ditempat ke setiap TPS adalah, 2 : 4 : 1 atau 2 anggota Polri, 4 anggota Linmas untuk 1 TPS.

Sedangkan penempatan kekuatan Polri di lokasi yang dianggap aman, perbandingannya adalah 2 : 10 : 5 TPS atau 2 anggota Polri, 10 anggota Linmas untuk 5 TPS. Untuk menunjang tugas-tugasnya, anggota Polri akan diberikan fasilitasi kendaraan agar mereka bisa melakukan patroli ke setiap lokasi secara mobile.

Lebih lanjut dikatakan, untuk mengantisipasi terjadinya tingkat kerawanan gangguan distribusi logistik Pemilu, Polda memberikan gambaran, agar sebaiknya H-30 hari seluruh logistik Pemilu sudah harus terkirim ke Kabupaten/Kota, H-10 logistik Pemilu sudah tiba di PPK dan H-3 logistik Pemilu sudah tiba di PPS.

Yang menjadi persoalan kata Kapolda, mampu tidak KPU melakukan pendampingan untuk menunjang kelancaran distribusi Pemilu.
Sementara itu, terkait pengamanan Pemilu di daerah-daerah rawan gangguan kelompok separatis, menurut Kapolda pihaknya akan meminta bantuan aparat TNI, terutama jalur-jalur mana yang dianggap memiliki potensi kontijensi. Hanya saja, bantuan TNI ini tidak harus sampai lokasi-lokasi TPS, melainkan cukup melakukan pengawalan di titik-titik yang dianggap rawan ancaman kelompok separatis bersenjata.

Namun yang jelas, Polri dan TNI tidak akan ragu-ragu lagi, jika nantinya kelompok-kelompok separatis bersenjata melakukan hal-hal yang bisa mengganggu jalannya Pemilu, pihaknya akan melakukan pengamanan secara totalitas. Soal perlunya tindakan pengejaran terhadap kelompok tersebut, menurut Kapolda akan dilakukan sesuai tahapan yang ada. (mud)

TNI, Puncak Jaya Rawan

JAYAPURA (PAPOS) –Pemindahan Kodim Agats ke Puncak Jaya sebagai rencana strategi Kodam XVII/Cenderawasih yang belum bisa terlaksana karena terkendala keterbatasan anggaran yang dimiliki TNI.

Demikian ditegaskan Pangdam XVII/Cenderawasih Mayjen TNI A.Y Nasution kepada wartawan usai memimpin Rapim Kodam XVII/Cenderawasih di aula Tony Rompis, Selasa (17/2) kemarin. Pemindahan Kodim itu menurut Pangdam bukan dipincu karena pemekaran wilayah, namun sebagai langkah strategi TNI untuk mengantisipasi daerah rawan konflik umumnya seperti daerah terpencil misalnya Puncak Jaya.

Dijelaskan Pangdam, wilayah seperti Puncak Jaya merupakan daerah yang perlu diwaspadai, namun pembentukan satuan baru TNI di daerah itu dilakukan didasari pada hakekat ancaman kedaulautan negara.

Disinggung Pemilu yang tinggal 53 hari lagi, TNI siap mengamankan jalannya pesta demokrasi tersebut dengan kesiapan membantu mengatasi keterlambatan pengiriman logistik pemilu ke daerah-daerah terpencil.

Antisipasi keterlambatan pengiriman logistic itu bilamana sewaktu-waktu TNI diminta untuk membantu asalkan ada persetujuan dari Mabes TNI serta adanya permohonan dari KPU. “TNI juga siap membantu Polri dalam pengamanan Pemilu,”tegas Pangdam.(lina)

Ditulis Oleh: Lina/Papos
Rabu, 18 Februari 2009

Siaga Satu Masih Diberlakukan di Papua

JAKARTA – Kepolisian Daerah Papua hingga kini masih memberlakukan siaga satu untuk status keamanan di Papua setelah aksi unjuk rasa ribuan warga Papua di Papua, Kamis 16 Oktober kemarin.

“Siaga dilakukan bersama instansi terkait,” kata Wakil Kepala Divisi Humas Mabes Polri Brigjen Sulistyo Ishaq kepada wartawan, di Mabes Polri, Jalan Trunojoyo, Jakarta Selatan, Jumat (17/10/2008).

Selain siaga satu, kata Sulistyo, polisi juga melakukan sweeping senjata tajam.

Sulistyo menambahkan, terkait pengibaran bendera binjang kejora, Polda Papua juga akan menindaklanjutinya.

Seperti diketahui, Kamis kemarin, ribuan Papua di Papua dan Yogyakarta melakukan penggalangan dukungan terhadap sidang parlemen Internasional yang mendorong kemerdekaan Papua, di London, Inggris.

Di Papua, aksi dilakukan di pelataran Taman Expo Wamena, Jayapura, Papua, sementara di Yogyarkata, bendera bintang kejora berkibar selama tiga jam di Asrama papua, Jalan Kusumanegara, Yogyakarta.
(enp)

Up ↑

Wantok Coffee

Melanesia Single Origin Coffee

MAMA Minimart

MAMA Stap, na Yumi Stap!

PT Kimarek Aruwam Agorik

Just another WordPress.com site

Wantok Coffee News

Melanesia Foods and Beverages News

Perempuan Papua

Melahirkan, Merawat dan Menyambut

UUDS ULMWP

for a Free and Independent West Papua

UUDS ULMWP 2020

Memagari untuk Membebaskan Tanah dan Bangsa Papua!

Melanesia Spirit & Nature News

Promoting the Melanesian Way Conservation

Kotokay

The Roof of the Melanesian Elders

Eight Plus One Ministry

To Spread the Gospel, from Melanesia to Indonesia!

Koteka

This is My Origin and My Destiny