Persoalannya Mentalitas Pemimpin Papua Merdeka: “Isu ini Tidak Dipangku, tetapi Dibiarkan di Lantai”

Dalam bahasa Lani disebut

“Wone ninogome waganggwe lek, nggwen paga tepinuk obari kenok pogum, ninegen pepagagwi, ta nen wagangge kamun, awone mbanggwe kamun, yinuk nggiru negen, tuwam mban wakgwe.”

Amunggut Tabi dari Markas Pusat Pertahanan (MPP) Tentara Revolusi West Papua (TRWP) mengatakan ini kepada PMNews awal bulan Maret 2017, jauh sebelum sejumlah hal berkembang belakangan ini, terlebih melihat perkembangan maneuver NKRI atas politik kawasan Pasifik Selatan, dalam kaitannya dengan ULMWP dan MSG.

TRWP bertanya lagi,

Siapa penanggungjawab isu ini pada saat ini? SekJend ULMWP? Jubir ULMWP? Anggota Komite Eksekutif ULMWP? Liaison Officer ULMWP? Siapa?

Dilanjutkan lagi oleh catatan berikut:

Ini perjuangan dengan nyawa ratusan ribu orang Papua, ini menyangkut penderitaan jutaan rakyat Papua, ini mengadung penderitaan ratusan ribu gerilyawan di Rimba New Guinea. Ini bukan masalah politik Pilkada, Politik jabatan, politik ekonomi, ini menyangkut nasib dan eksistensi sebuah ras di negara West Papua. Ini persoalan eksistensi, sangat mendasar, tidak boleh diperlakukan seperti ini.

Dilanjutkan lagi dalam bahasa Lani

Wologwe yi. Wone yi kinebe kwi’nogwe, kinakom tebe yinuk, wone yi kinogome wopinuk, ogut mambinuk, anggoma wapinuk, obangge yipinuk, awone mbaniyak. Neraket-keraket eriyak lek, an-kat yurak lek, kat meyuk-kat meya yurak lek. Ap Panggok.

Pada waktu isu ini dipangku, maka akan terjadi hal-hal berikut:

  1. Akan muncul satu orang pemimpin bangsa Papua, yang akan berbicara siang dan malam, bahwa isu dan perjuangan Papua Merdeka adalah urusannya, bebannya, masalahnya, yang dia harus selesaikan segera. Contohnya Dortheys Hiyo Eluay (Alm.);
  2. Akan muncul pemimpin bangsa Papua yang terbuka kepada semua orang Papua, baik secara Online, maupun secara Offline, akan berkomunikasi, akan bercerita, akan menerima pendapat dan akan menyampaikan pendapat, secara menyeluruh, secara inklusif; Contohnya Joko Widodo, Presiden Kolonial Republik Indonesia.
  3. Akan muncul pemimpin bangsa Papua yang mengundang semua organisasi yang memperjuangkan Papua Merdeka untuk menyampaikan program, kehendak, rencana dan masukan kepadanya; dan mengundang semua organisasi dimaksud untuk bergabung bersama-nya, di dalam lembaga yang dimpimpinnya dan di dalam langkah yang diambilnya; Contohnya Pemimpin Fretelin: Xanana Gusmao.
  4. Akan muncul pemimpin bangsa Papua yang setiap saat siap berkomunikasi dengan NKRI, dalam posisi sebagai pemimpin bangsa Papua untuk merdeka dan berdaulat di luar NKRI, tidak takut, tidak gentar, tidak ditawar-tawar, tetapi secara terbuka, secara jantan, secara tepat sasaran, dan tidak main kucing-kucingan, tidak main ketemu rahasia empat-mata, tetapi terbuka di media TV, di sidang, di konferensi pers dan sebagainya. Contohnya; Nelson Mandela (Alm.) dan M. Ghandi (Alm.)

Yang ada saat ini, para pemimpin bangsa Papua masing-masing mengurus kampanye mereka, masing-masing menganggap remeh satu sama lain, masing-masing menonjolkan keyakinan dna kemauan mereka, masing-masing mencurigai satu sama lain.

Semua orang Papua yang mencintai tanah-leluhurnya, yang mencintai cita-cita bangsanya, TIDAK AKAN PERNAH menunjukkan sikap dan kelakuan ini. Demi bangsa dan tanah air, dia akan menyerahkan semuanya, termasuk harga-diri, kemauan, rencana pribadi atau kelompoknya, akan dikorbankannya, termasuk nyawanya sendiri akan dia siap korbankan, demi satu hal: West Papua Merdeka di luar NKRI. Tetapi

Persoalannya Mentalitas Pemimpin Papua Merdeka: “Isu ini Tidak Dipangku, tetapi Dibiarkan di Lantai”

 

Why Western-style democracy is not suitable for Africa

In the West, the basic economic and social unit is the individual; in Africa, it is the extended family or the collective. –George Ayittey

(CNN) — Western-style multi-party democracy is possible but not suitable for Africa.

There are two forms of democracy. Democratic decisions can be taken by majority vote, which is the Western form. It has the advantage of being transparent, fast and efficient. But the downside is that it ignores minority positions.

The alternative is to take decisions by consensus. This has the advantage of taking all minority positions into account.

However, the demerit is that it can take an awfully long time to reach a consensus the larger the number of people involved. Nevertheless, the Nobel Peace Committee and the World Trade Organization (WTO) all take decisions by consensus.

So too do many traditional African societies. Just because a group does not take its decisions by voting does not mean they have no understanding of the essence of democracy.

In the early 1990s, following the collapse of the former Soviet Union, the winds of change swept across Africa, toppling long-standing autocrats.

In our haste to democratize — and also as a condition for Western aid — we copied and adopted the Western form of democracy and neglected to build upon our own democratic tradition.

The Western model allowed an elected leader to use power and the state machinery to advance the economic interests of his ethnic group and exclude all others: Kenyatta of Kenya and the Gikuyu, Moi of Kenya and the Kalenjin, Biya of Cameroon and the Beti, Eyadema of Togo and the Kabye, to name a few.

Virtually all of Africa’s civil wars were started by politically marginalized or excluded groups.

At Africa’s traditional village level, a chief is chosen by the Queen Mother of the royal family to rule for life. His appointment must be ratified by the Council of Elders, which consists of heads of extended families in the village.

In governance, the chief must consult with the Council on all important matters. Without this council, the chief is powerless. If the chief and the Council cannot reach unanimous decision on an important issue, a village meeting is called and the issue put before the people, who will debate it until they reach a consensus.

The village assemblies exist among various African tribes including: the Ashanti of Ghana, the Igbo of Nigeria, the Somali, the Tswana of Botswana, the Shona of Zimbabwe, the Xhosa and the Zulu of South Africa.

If the chief is “bad” he can be recalled by the Queen Mother, removed by the Council of Elders, or abandoned by the people, who will vote with their feet to settle somewhere else.

Traditionally, African kings had no political function. Their role was spiritual or supernatural — to mediate between the cosmological forces: the sky, the earth and the world, each of which is represented by a god.

The king’s role is to propitiate these gods and maintain harmony among them. If the sky god is “angry” there will be thunder, heavy downpour, floods, etc. That would mean the king had failed to perform his function and off went his head (regicide).

Africans could have built upon this system. In the West, the basic economic and social unit is the individual; in Africa, it is the extended family or the collective.

The American says, “I am because I am.” The African says, “I am because we are.” The “we” denotes the community.

So let each group choose their leaders and place them in a National Assembly. Next, let each province or state choose their leaders and place them in a National Council.

Choose the president from this National Council and avoid the huge expenditures on election campaigning that comes with Western-style democracy. Those resources can be better put to development in poor African countries.

Next, let the president and National Council take their decisions by consensus. If there is a deadlock, refer the issue to the National Assembly. This type of democracy is in consonance with our own African heritage.

The opinions expressed in this commentary are solely those of George Ayittey’s.

Other Links:

  1. http://papuapost.com/
  2. http://monthlyreview.org/
  3. facebook.com Tribal Models of Democracy 1
  4. facebook.com Tribal Models of Democracy 2

Selamat Jalan Nelson Mandela dari Rakyat Papua

Belasungkawa Papua untuk Nelson Mandela
Belasungkawa Papua untuk Nelson Mandela di Kedubes Afsel Jakarta

JAYAPURA [PAPOSMahasiswa dan aktivis Papua Barat se-Jakarta dan Bogor menghantarkan krans bunga tanda turut beduka cita ke kantor Dubes Afrika Selatan.] – Masyarakat di seluruh dunia, termasuk rakyat Papua Barat berkabung atas kepergian Nelson Madiba Mandela. Dia dihormati atas kesetian dan kerelaan dalam perjuangan melawan politik apartheid di Afrika Selatan.

Dia juga sebagai simbol perlawanan rakyat Afrika Selatan, bahkan menjadi tokoh kemanusiaan di abad-21 ini. Untuk mengenang Mandela, mahasiswa dan aktivis Papua Barat di Jakarta dan Bogor menghantarkan krans bunga tanda turut beduka cita dari seluruh rakyat Papua.

Belasan mahasiswa dan akvitis Papua Barat, Minggu (08/12), sekitarpukul 11.30 Wib,mewakili rakyat dan Bangsa Papua Barat menyampaikan ungkapan berdukacita dan menyerahkan krans bunga kepada perwakilan pemerintah Afrika Selatan di Kedutaan Besar Afrika Selatan untuk Indonesia di Jakarta.

Perwakilan rakyat dan Bangsa Papua Barat diterima oleh sekretaris satu (first Secretary) atase politik Kedutaan Besar Afrika Selatan untuk Indonesia, Mr. Moses Phahlane, di Kantor Kedutaan Besar Afrika Selatan, Suite 705, 7th floor 7, Wisma GKIB, Jln. JendSudirman No.28, Jakarta 10210.

“Kami atas nama rakyat dan Bangsa Papua Barat menyampaikan turut berdukacita atas kepulangan Nelson Mandela, tokoh perjuangan pembebasan bagi Afrika Selatan juga bagi dunia,” ucap aktivis Papua Elias Petege dalam rilis yang dikirim ke dapur Papua Pos.

“Dia adalah bapak bagi rakyat tertindas di berbagai bangsa di dunia, termasuk bagi rakyat Papua. Dia juga tokoh inspirasi bagi kami,”

ungkap Darmince Nawipa, salah satu perwakilan mahasiswa Papua dari Bogor.

“Kami tentu terinspirasi dari perjuangan rakyat Afrika Selatan, termasuk dari bapak Nelson Mandela,”

ujar Darmince.

Pages: 1 2

Nelson Mandela Wafat

Jakarta – Ucapan belasungkawa terus mengalir dari berbagai petinggi negara. Selain dari Presiden Amerika Serikat Barack Obama, giliran Perdana Menteri Inggris David Cameron memberikan ucapan belasungkawa. Cameron menilai sosok pemimpin kulit hitam pertama Afrika Selatan ini sebagai legendaris dan pahlawan global.

“Nelson Mandela adalah sebuah legenda dalam hidup dan kini dalam kematian, sosok pahlawan pahlawan global sejati,”

ucap Cameron seperti dilansir AFP, Jumat (6/12/2013).

“Sebuah cahaya besar telah pergi meninggalkan dunia,”

imbuhnya.

Dia menilai, seluruh dunia akan berkabung mengenang kepergian tokoh perjuangan segregasi rasialis di Afrika Selatan.

“Di seluruh negara yang dicintainya mereka akan berkabung terhadap seorang pria yang merupakan perwujudan dari kasih karunia,”

kenangnya.

Nelson Mandela meninggal, Jumat (6/12/2013) hari ini, karena penyakit infeksi paru-paru yang diidapnya. Nelson Mandela terus berjuang mesti dalam kondisi kritis. Putri Mandela menyebut ayahnya masih memiliki semangat berjuang, meski secara kasat mata terlihat tak berdaya di ranjang.

Mandela terus menjalani perawatan medis di kediamannya di Johannesburg selama penyakit yang diidapnya menyerang dirinya. Sebelum dirawat di rumah, Mandela menghabiskan waktu selama 3 bulan dirawat intensif di rumah sakit.

(ahy/kha)

Jumat, 06/12/2013 05:54 WIB, Andri Haryanto – detikNews

PM Abbot: Mandela Lebih Dikenang Sebagai Pemimpin Moral

Jakarta – Sosok perjuangan Nelson Mandela melawan segregasi rasialis di Afrika Selatan mengilhami banyak kalangan dan negarawan di belahan dunia lain. Perdana Menteri Australia Tony Abbott menilai Mandela adalah tokoh besar abad terakhir.

“Nelson Mandela adalah salah satu tokoh besar Afrika, bisa dibilang salah satu tokoh besar dari abad terakhir, “

kata Abbott dalam pernyataannya di Radio Fairfax, dan dilansir AFP, Jumat (6/12/2013).

“Dia adalah seorang pria yang benar-benar hebat. Selamanya akan dikenang sebagai lebih dari seorang pemimpin politik, dia adalah seorang pemimpin moral,”

kata Abbott.

Menurut Abbott, sebagian hidup Mandela diisi demi perjuangan melawan pemisahan kelompok rasial di Afrika Selatan. Perjuangan tersebut tak ayal berujung dijebloskannya Mandela ke penjara selama 27 tahun.

“Dia menghabiskan sebagian besar hidupnya berdiri melawan ketidakadilan apartheid,”

kenang Abbott.

Perlawanan Mandela terhadap ketidakadilan serta kehidupannya yang sederhana tentu patut menjadi teladan para pemimpin di belahan negara manapun.

Mantan perdana menteri Australia Malcolm Fraser , antara tokoh-tokoh internasional pertama yang mengunjungi Mandela di penjara sebagai ketua Commonwealth Kelompok Eminent Persons pada tahun 1986 , mengatakan kematiannya adalah kerugian bagi dunia .

“Kita bisa belajar dari teladannya. Dia meninggalkan warisan yang semua pemimpin berikutnya harus berusaha untuk meniru,” kata Mantan PM Australia Malcolm Frasher.

(ahy/kha)

Jumat, 06/12/2013 06:15 WIB, Andri Haryanto – detikNews

Berduka-Cita Sedalam-Dalamnya atas Wafatnya Nelson Mandela pada 05 Desember 2013 di Johannesburg, Afrika Selatan

TENTARA REVOLUSI WEST PAPUA (West Papua Revoutionary Army)
MARKAS PUSAT PERTAHANAN
koteka@papuapost.com; info@freewestpapua.org
=======================================================

Nelson Mandela
Nelson Mandela

 

Perihal: Ucapan Turut Berduka Cita
Disampaikan Kepada:
1. Presiden Afrika Selatan, Jacob Zuma
2. Rakyat Afrika Selatani
3. Keluarga dan anak curu yang ditinggalkan
4. Bangsa Kulit hitam di seluruh dunia
5. Bangsa kulit putih di seluruh dunia

Dengan menundukkan kepada ke Bumi, menggangkat hati ke langit, kami segenap perwira dan pasukan Tentara Revolusi West Papua (TRWP) dari Rimba Raya New Guinea dengan ini menyatakan

BERDUKA CITA SEDALAM-DALAMNYA

atas wafatnya Bapak Moralitas kemanusiaan manusia semesta: Nelson Mandela pada tadi larut malam (dinihari) 05 Desember 2013 di tempat kediaman, Johannesburg, Republik Afrika Selatan.

Teladan perjuangannya menentang diskriminasi berdasarkan warna kulit (apartheid) di Afrika Selatan secara konsisten dan tanpa kompromi yang dirayakan dengan kompromi besar-besaran dan tanpa ampun setelah memperoleh dukungan umat manusia di dunia dan kemenangan atas perjuannya merupakan pelajaran terbesar yang telah dicatatnya dalam riwayat peradaban umat manusia semesta.

Biarlah pelajaran hidupnya menjadi bagian dari perjuangan dan revolusi yang kita lakukan, di mana masih ada penjajahan, diskriminasi dan tindakan-tindakan yang melecehkan, meremehkan, merendahkan dan meniadakan nilai-nilai kemanusiaan dan moralitas di muka Bumi.

 

 

Dikeluarkan di: Markas Pusat Pertahanan
Pada Tanggal: 06 Desember 2013
————————————-

Panglima Tertinggi Komando Revolusi,

Mathias Wenda, Gen. TRWP
NBP:A.001076

Papua Post Mengucapkan “Selamat dan Syukur kepada Tuhan”

Seluruh Anggota Collective Editorial Boards dari The Diary of OPM (Online Papua Mouthpiece), dengan ini mengucapkan

Selamat dan Syukur kepada Tuhan Pencipta Langit dan Bumi dan Tanah serta Bangsa Papua

atas terpilih kembali Rev. Sofyan S. Yoman, M.A. sebagai Ketua Persekutuan Gereja-gereja Baptis Papua (PGBP)

dalam kongres PGBP ke-XVII, 9 Desember 2012 hingga 14 Desember 2012,  di Wamena, Jayawijaya.

Kami segenap  anggota dari WPNews Group Online Services berdoa agar Tuhan melindungi, memagari dan memberi kekuatan spesial kepada Rev. Yoman sehingga memimpin gereja-gereja Tuhan di Tanah Papua, dan umat Tuhan di pulau New Guinea mengadapi masa depan yang Damai dan Sejahtera, seperti kehidupan yang digambarkan dan dijanjikan dalam Kitab Suci.

Melanesia butuh seorang Nelson Mandela dari kawasan Oceania, orang Papua butuh seorang Uskup Belo dari pulau ini untuk menyuarakan suara-suara yang tak tersuarakan, mebela yang tertindas, membebaskan yang terbelenggu dan terjajah, dan terutama dalam memberikan peluang dan kesempatan kepada KEBENARAN! untuk membuktikan dirinya sebagai kebenaran.

Amin!

Enhanced by Zemanta

Up ↑

Wantok Coffee

Melanesia Single Origin Coffee

MAMA Minimart

MAMA Stap, na Yumi Stap!

PT Kimarek Aruwam Agorik

Just another WordPress.com site

Wantok Coffee News

Melanesia Foods and Beverages News

Perempuan Papua

Melahirkan, Merawat dan Menyambut

UUDS ULMWP

for a Free and Independent West Papua

UUDS ULMWP 2020

Memagari untuk Membebaskan Tanah dan Bangsa Papua!

Melanesia Spirit & Nature News

Promoting the Melanesian Way Conservation

Kotokay

The Roof of the Melanesian Elders

Eight Plus One Ministry

To Spread the Gospel, from Melanesia to Indonesia!

Koteka

This is My Origin and My Destiny