[JAYAPURA] Kepala Polda Papua Irjen Pol Bikman L Tobing belum mau berkomentar panjang lebar tentang aksi penembakan oleh orang tak dikenal di Kampung Nafri, Distrik Abepura pada Senin (1/8) dini hari tadi yang menewaskan empat orang. Sementara Kapolres Kota Jayapura AKBP Imam Setiawan menduga, pelakunya adalah dari kelompok Organisasi Papua Merdeka (OPM).
“Kami mengevakuasi korban dulu,” ujarnya singkat sambil memasuki mobil dinasnya di Abepura, Senin (1/8) pagi. Menurutu Bikman, pihaknya sedang melakukan olah tempat kejadian perkara (TKP).
Sementara itu Kapolres Kota Jayapura, AKBP Imam Setiawan kepada wartawan mengatakan, pelaku di duga kelompok Organisasi Papua Merdeka (OPM). “Dugaan kami sementara itu, dan pengejaran sejak kejadian kami lakukan pengejaran,” ujarnya di lokasi kejadian.
Sedangkan menurut data yang diperoleh SP dari RSUD Abepura, korban luka-luka dalam peristiwa itu adalah Ahmad Saud (27), Siti Amimah (49), Tarmuji ( 49), M.Saiun ( 25), Budiono ( 22). Sedangkan di RS Bhayangkara ada korban luka-luka bernama Suyono ( 37), Yulianto ( 20).
Sementara Korban meninggal dunia adalah Pratu Dominikus Kerap dengan NRP 31060418520386, anggota Kompi C Yonif 756 Senggi, sepasang suami istri yaitu Yusman dan Titin, serta Sardi. [154]
Salah seorang saksi Prada Hery Purwanto yang tengah diambil sumpahnya untuk kemudian dimintai keterangannya oleh hakim Senin (25/07) di Mahmil III-19 Jayapura
JAYAPURA— Sidang kasus kekerasan oleh Anggota TNI terhadap seorang warga sipil (Pendeta Ginderman Gire) di Puncak Jaya 17 Maret 2011 lalu, kembali dilanjutkan di Mahkamah Militer (Mahmil) III-19 Jayapura, Senin (25/7), dengan agenda pemeriksaan saksi-saksi.
Terungkap dalam persidangan kemarin, korbannya yang nota bene seorang pendeta bernama Gire, dipukul karena tidak bisa berbahasa Indonesia dan mencoba merampas senjata ketika dipukul, serta secara tidak sengaja tertembak ketika terjadi baku rampas senjata antara terdakwa dengan korban.
Kasus ini melibat 3 anggota TNI dengan dakwaan melakukan kekerasan terhadap korban. Mereka adalah Sertu Saut Tong Sihombing, Prada Hery Purwanto dan Pratu Hasirun.
Ketiga anggota TNI tersebut berasal dari satuan Batalyon Infantri 753/AVT Nabire. Dalam persidangan kemarin, Prada Hery Purwanto dan Sertu Saut Tong Sihombing diperiksa sebagai saksi. Sementara Pratu Hasirun dimintai keterangannya sebagai terdakwa. Dalam kesempatan kali ini sebenarnya, juga akan menghadirkan saksi dari warga sipil yang berjumlah 2 orang, yaitu Yakob Wenda warga Puncak Jaya dan Samsul sopir pengangkut bahan makanan dari Wamena-Mulia. Namun untuk persidangan kali ini hanya Prada Hery Purwanto yang dimintai keterangan karena sidang akan dilanjutkan lagi sehari kemudian. Atas perlakuan tiga anggota TNI ini, mereka dituding telah melakukan tindak pidana penganiayaan sebagaimana termuat dalam KUHP Militer pasal 351 ayat 1 junto pasal 103 ayat 1. Penganiayaan yang didakwakan mengakibatkan meninggalnya salah seorang warga bernama Ginderman Gire. Ketiga oknum korps berbaju loreng ini juga dianggap tidak mentaati perintah dinas. Korban yang disiksa satu diantaranya seorang pendeta bernama Ginderman Gire.
Persidangan itu dipimpin oleh Ketua Majelis Hakim Letnan Kolonel Adil Karokaro, beranggota Mayor B Indrawan dan Mayor Syarifuddin Tarigan. Usai pemeriksaan dua saksi tersebut, saksi selanjutnya hendak dimintai keterangan, namun tak hadir dengan alasan sementara ini sedang menjalankan tugas pramtama di wilayah Puncak Jaya. Atas alasan yang diberikan oleh Oditur, hakim menunda persidangan. Agenda persidangan selanjutnya masih dalam pemeriksaan saksi.
Prada Hery Purwanto saat dimintai keterangan oleh hakim mengatakan, ketika itu dirinya menyiksa korban, Ginderman Gire lantaran saat ditanya tak bisa berbahasa Indonesia. Dia juga mengaku, menyiksa dua rekan korban yang juga diinterogasi secara bersamaan. “Saya pukul dua kali dengan tangan. Pukulan ke arah wajah korban dan dua temannya. Satu orang berbadan besar dua lainnya berbadan kecil termasuk Ginderman Gire,” ujarnya saat ditanya Oditur.
Ketika dipukul, lanjut Hery, korban baru memberikan kejelasan dengan berbahasa Indonesia. Mereka dipukul lantaran hendak merampas senjata.
Dalam rentetan kejadian sebelumnya yang telah disidangkan, peristiwa penganiayaan terhadap Ginderman Gire terjadi sejak 17 Maret 2011. Saat itu Lettu Inf Sudarmin selaku Dan Pos Illu Puncak Jaya Papua memerintahkan para tersangka untuk melakukan patroli ke arah Mulia, ibukota Puncak Jaya. Para tersangka melaksanakan perintah itu dengan mengikuti konvoi mobil rombongan pengangkut bahan makanan.
Setibanya di Pintu Angin Kalome, seorang sopir pengangkut bahan makanan dari Wamena-Mulia melapor ke Sertu Saut Torang Sihombing, ada seorang warga bernama Ginderman Gire meminta bahan bakar minyak. Sertu Saut Torang Sihombing kemudian mendatangi korban guna menanyakan maksud dari permintaan itu. Saat itu, terdapat juga seorang warga lain bernama Pitinus Kogoya.
Sertu Sihombing menanyakan keduanya, tapi tak mendapat jawaban. Tindakan itu memicu emosi Sertu Sihombing yang kemudian memukul Ginderman Gire dibagian dada serta menempeleng Pitinus Kogoya dibagian pipi. Dipukul, Ginderman Gire kemudian memberikan jawaban. “Saya tidak takut pada TNI karena saya juga punya teman di atas Gunung 30 orang lengkap bersenjata,” ujar Prada Hery Purwanto menirukan perkataan Pitinus rekan Gire saat itu.
Mendapat jawaban itu, Sertu Sihombing lalu menangkap dan menyerahkan dua warga sipil itu, kepada Prada Hery Purwanto dan Pratu Hasirun untuk diinterogasi. Saat diinterogasi, warga sipil itu kemudian dipukuli. Saat itu Pitinus Kogoya bersama salah satu rekan berupaya melarikan diri dengan meloncat ke jurang. Pratu Hasirun kemudian menembakan senapannya ke atas sebagai tembakan peringatan, untuk menghentikan Pitinus Kogoya.
Secara bersamaan Ginderman Gire mencoba merampas senapan yang dipegang Hery Purwanto, namun tidak berhasil karena posisi senapan dikalungkan ke badan. Lalu secara refleks Hery Purwanto menembakan senapan jenis SS1 V-1 ke arah Ginderman Gire. Tembakan itu mengenai punggung tembus dada kiri. Tujuan penembakan itu agar Ginderman tidak lari.
Melihat kejadian itu, Sertu Saut Torang Sihombing menanyakan kepada dua anggotanya kenapa menembak. Saut memeriksa kondisi Ginderman Gire ternyata sudah tewas. Kejadian itu kemudian dilaporkan kepada Danpos Lettu Sudarmin. Dan diberi petunjuk agar diamankan.
Selanjutnya ketiga terdakwa mengangkut mayat Kinderman Gire ke mobil dan setibanya di jembatan Tingginambut, dilempar ke sungai oleh Sertu Saut Torang Sihombing dan Prada Hery Purwanto. Sedangkan Pratu Hasirun bertugas mengamankan situasi. (dee/cr-31/don/l03)
Senin, 25 Juli 2011 21:06 http://bintangpapua.com/headline/12961-terdakwa-korban-baku-rampas-senjata-
[JAYAPURA] 3 anggota TNI yang didakwa melakukan kekerasan terhadap warga sipil hingga tewas, ini terungkap dalam rekaman tindakan kekerasan ketiga oknum aparat tersebut menyebar di dunia maya. Ini terungkap pada sidang di Pengadilan Oditur Militer III-19 Jayapura, Rabu (20/7) petang.
Terungkap dakam sidang, ketiga oknum anggota TNI tercatat dari kesatuan Batalyon Infantri 753/AVT Nabire. Sidang militer dipimpin majelis hakim Mayor CHK Suyitno Heri Prasetio dan 2 hakim anggota Mayor B Indrawan dan Mayor Syarifuddin Tarigan. Oditur militer Kapten Jem CH Manibuy mendakwa ketiga anggota TNI masing-masing Sertu Saut Sihombing, Prada Hery Purwanto dan Hasirun telah melakukan tindak pidana penganiayaan seperti yang diatur dalam KUHP Militer pasal 351 ayat 1 junto pasal 103 ayat 1 yang mengakibatkan meninggalnya salah seorang warga bernama Kinderman Gire.
Ketiga terdakwa juga dianggap tidak mentaati perintah dinas.Atas dakwaan oditur, ketiga terdakwa menerima dan siap diperiksa oleh
pengadilan militer. “Ya, saya siap disidang karena telah melakukan tindak pidana penganiayaan terhadap warga sipil,” ujar Saut Torang Sihombing kepada majelis hakim. Namun, karena waktu sudah menjelang sore, sidang dilanjutkan Kamis 21 Juli.
Peristiwa penganiayaan terhadap Kinderman Gire terjadi 17 Maret 2010. Lettu Inf Sudarmin selaku Dan Pos Illu Puncak Jaya saat itu memerintahkan para tersangka berpatroli ke arah Mulia ibukota Puncak Jaya. Lantas, para tersangka kemudian melaksanakan
perintah itu, dengan mengikuti konvoi mobil rombongan mengangkut bahan makanan.
Setibanya di Pintu Angin Kalome, salah seorang sopir pengangkut bahan makanan dari Wamena-Mulia melapor ke Sertu Saut
Torang Sihombing, bahwa ada seorang warga bernama Kinderman Gire meminta Bahan Bakar minyak. Sertu Saut Torang Sihombing kemudian mendatangi korban, dan menanyakan kenapa meminta-minta BBM. Saat itu, warga lain bernama Pitinus Kogoya, lalu Sertu Sihombing juga menanyakannya. Tapi kedua warga sipil itu tidak memberikan jawaban, sehingga Sertu Sihombing emosi dan memukul Kinderman Gire di bagian dada. Serta menempeleng Pitinus Kogoya di bagian pipi.
Usai dipukul, Kinderman Gire kemudian memberikan jawaban, “saya tidak takut dengan TNI, karena saya juga punya teman di atas Gunung 30 orang lengkap bersenjata.
Selanjutnya, Sertu Sihombing menyerahkan dua warga sipil itu, kepada Prada Hery Purwanto dan Pratu Hasirun untuk diinterogasi. Saat diinterogasi, warga sipil itu kemudian dipukuli. Saat itu Pitinus Kogoya berupaya melarikan diri dengan meloncat ke jurang, Pratu Hasirun kemudian menembakan senapannya ke atas sebagai tembakan peringatan, untuk menghentikan Pitinus Kogoya. Lantas, secara bersamaan Kinderman Gire mencoba merampas senapan yang dipegang Hery Purwanto, namun tidak berhasil karena posisi senapan dikalungkan ke badan. Lalu secara refleks Hery Purwanto menembakan senapan jenis SS1 V-1 ke arah Kinderman Gire, dan mengenai punggung tembus dada kiri. Tujuannya, agar Kinderman tidak lari.
Melihat kejadian itu, Sertu Saut Torang Sihombing menanyakan kepada dua anggotanya kenapa menembak. Lantas Saut memeriksa kondisi Kinderman Gire ternyata sudah tewas. Kejadian itu kemudian dilaporkan kepada Danpos Lettu Sudarmin. Dan diberi petunjuk agar diamankan.
Selanjutnya ketiga tersangka mengangkut mayat Kinderman Gire ke mobil dan setibanya di jembatan Tingginambut, dilempar ke sungai oleh Sertu Saut Torang Sihombing dan Prada Hery Purwanto. Sedangkan Pratu Hasirun bertugas mengamankan situasi.[154]
Korban penembakan, anggota TNIWakil Ketua Komnas HAM, Nur Kholis bersama rombongannya saat menjenguk anggota TNI yang menjadi korban penembakan di Puncak Jaya, di Rumah Sakit Marthen Indey, Jayapura, Sabtu (16/7).
JAYAPURA – Dari tujuh anggota TNI yang menjadi korban penembakan sipil bersenjata di Puncak Jaya yang kini dirawat di Rumah Sakit Marthen Indey, lima orang sudah mulai membaik, sedangkan dua lainnya masih kritis dan masih berada di Ruang ICU.
Hal ini sebagaimana dikatakan oleh dokter specialis orthopaedi dan traumatologi, Zuhri Efendi kepada wartawan di Rumah Sakit Marthen Indey, Sabtu (16/7).
“Dari 7 anggota TNI yang sudah dirawat di rumah sakit ini, lima korban kondisinya berangsur membaik, namun dua anggota masih mengalami kritis yaitu prada Kadek dan pratu Haiber Rivo. Dimana prada Kadek adalah korban baku tembak pada tanggal 5 Juli 2011 lalu di kampung Kalome Distrik Tingginambut Kabupaten Puncak Jaya yang mengalami luka tembak di bagian kaki kiri,” katanya.
Menurut dokter, Kadek mengalami patah tulang hasta dan kini masih dalam keadaan kritis sebab luka bekas tembakan itu mengalami infeksi. “Lukanya sudah berapa kali dilakukan upaya pembersihan dan kami juga sudah memasang 2 pen di kakinya,” katanya.
Sedangkan pratu Haiber adalah korban tembak pada tanggal 12 Juli 2011 lalu di kampung Pillia Distrik Tingginambut Puncak Jaya yang mana Haiber terkena tembak pada ibu jari jempol telunjuk dan jari tengah tangan kanan.
“Rencananya pratu Haiber akan dievakuasi ke Jakarta karena pembuluh darah pada tangan bekas luka tembak putus. Sementara lima korban lainnya yang berangsur-angsur membaik itu dirawat di ruang Buana I RS TNI-AD Marthen Indey ini,” ungkapnya.
Sementara itu, setelah sebelumnya melakukan pertemuan dengan Pangdam XVII/Cenderawasih, Sabtu (16/7) sekitar pukul 10.00 WIT, Komisi Nasional Hak Asasi Manusia (Komnas HAM) Pusat menjenguk TNI yang menjadi korban penembakan di rumah sakit TNI-AD Marthen Indey.
Pada kesempatan itu, Wakil Ketua Komnas HAM, Nur Kholis didampingi dua anggotanya yaitu Asri Oktavianty dan Siti Hidayawati, serta dari Komnas HAM Perwakilan Papua. Dalam kunjungannya ini, mereka ini didampingi oleh dokter RS Marthen Indey yaitu dr Zuhri Efendi,SpOT.
Dari pantauan Cenderawasih Pos, Wakil Ketua Komnas HAM Nur Kholis,SH,MH melakukan dialog singkat kepada anggota TNI yang tertembak dalam insiden penembakan di Distrik Tingginambut Kabupaten Puncak Jaya.
Salah satu korban itu adalah Pratu Sitorus. Saat dijenguk Komnas Ham itu, ia menceritakan bahwa pada saat kejadian, mereka sedang melakukan patroli dengan dipimpin oleh Letda Inf Jefri Satriansyah, yang juga tertembak.
Dalam aksi tembak menembak dengan sekelompok orang tak dikenal tersebut, diakuinya, sangat susah melakukan perlawanan, dikarenakan medan yang sangat susah dan jauh. “Sementara dari pihak mereka sudah menguasai medan. Maka saat mereka melakukan penembakan, mereka sudah memperhitungkannya serta melakukan penembakan dari beberapa arah, yang mana bisa dibilang arahnya seperti bentuk gunting, dan kami di tengah-tengahnya,” tutur Sitorus.
Partu Sitorus ini merupakan orang ketiga yang tertembak dari lima orang rekannya yang terkena tembakan. “Kami anggota TNI yang tertembak tanggal 12 Juli 2011 kemarin. Di mana saya mengalami luka serpihan tembakan pada kaki bagian paha kanan dan kiri,” terangnya.
Setelah kejadian itu, delapan anggota lainnya membantu hingga bisa membebaskan diri dari sekelompok orang bersenjata tersebut. “Sepanjang evakuasi terhadap kami, tembak menembak terus terjadi. Apalagi jarak ke pos sangat jauh. Bayangin aja dari pagi hari sampai ke malam hari sekitar pukul 21.00 wit baru sampai ke pos,” ucapnya.
Saat Wakil Ketua Komnas HAM bertanya, “Dari pengalaman kamu sebagai anggota TNI bisakah kamu memprediksi senjata apa yang dipakai sekelompok orang bersenjata tersebut?” Sitorus menjawab, saat itu sangat banyak suara tembakan, apalagi dari beberapa arah. Namun dari pengalamannya bisa dibilang bahwa senjata mereka seperti AK 47, M 16 dan juga Moser.
Kepada Cenderawasih Pos Praka Sitorus menegaskan, dirinya tidak merasa trauma atas kejadian yang dialaminya. “Sebagai TNI itu sudah resiko saya terkena tembakan, atau juga harus berkorban nyawa. Apalagi menjadi TNI adalah cita-cita saya dari kecil,” ucapnya.
Saat ditanya apakah kedua orang tua mengetahui bahwa dirinya tertembak? Ia menyatakan, biarlah rasa sakit ini menjadi risiko dirinya, dan kedua orang tua tidak merasakan maupun memikirkannya. “Sekali lagi saya bilang ini adalah risiko saya,” tegasnya.
Sementara dari sumber terpecaya Cenderawasih Pos, kondisi di Puncak Jaya pascapenembakan sudah mulai membaik dan kondusif. Namun aparat TNI dan Polri tampak berjaga-jaga dan juga berusaha mengejar pelaku penembakan tersebut. (ro/fud)
JAYAPURA – Korban penembakan oleh kelompok orang tak dikenal (OTK) yang terjadi di Philia, Distrik Tingginambut Kabupaten Puncak Jaya, Selasa (12/7) ternyta 5 orang, yang kesemuanya merupakan anggota TNI Yonif 753/AVT Nabire (lihat grafis).
Dari lima korban itu, empat orang di antaranya telah dievakuasi ke Rumah Sakit Marthen Indey, Jayapura, Rabu (13/7) kemarin. Mereka adalah Letda Inf Jefri Satriansyah, Pratu Haiber Rivo, Pratu Sitorus, dan Praka Nur Awete.Sedangkan Pratu Imanuel masih dirawat di Rumah Sakit Mulia karena hanya terkena serpihan.
Salah satu sumber terpercaya menceritakan, sulitnya medan di lokasi penembakan membuat proses evakuasi para korban mengalami kendala, sehingga dari kejadian pagi hari, sekitar pukul 20.15 WIT proses evakuasi baru sampai di Puncak Senyum. Selanjutnya dari Puncak Senyum para korban dievakuasi ke Rumah Sakit Mulia, dan Rabu (13/7) kemarin empat korban diterbangkan ke Jayapura dengan menggunakan helikopter MI 15 milik TNI AD.
Turut langsung dalam proses evakuasi tersebut Danrem 173/PVB Kolonel Inf. HP Lubis dan AS Ops Kasdam XVII Cenderawasih Pos Letkol Inf Kemal Hindrayadi. Di mana sekitar pukul 10.40 helikopter itu tiba di Jayapura dan mendarat di lapangan golf Kodam XVII Cenderawasih.
Dari pantauan Cenderawasih Pos, para korban itu selanjutnya dibawa ke Rumah Sakit Marthen Indey sekitar pukul 11.00 WIT. Tidak menggunakan mobil ambulan, melainkan Kijang berwarnah biru dengan DS 960 FM.
Mobil itu datang tanpa pemeriksaan petugas yang berjaga dan langsung masuk ke belakang rumah sakit, sehingga wartawan susah untuk mengambil gambar para korban itu.
Seorang anggota TNI yang berpangkat Kopral saat berjaga mengatakan kepada wartawan untuk tidak meliput atau mengambil gambar di daerah pekarangan rumah sakit.
Sementara kronologi penembakan itu bermula saat TNI dan Polri melakukan penelusuran untuk menyergap markas TPN/OPM yang dipimpin Goliat Tabuni. Kemudian terjadi perlawanan oleh TPN/OPM, yang akhirnya 5 anggota TNI terkena tembakan.
Di tempat terpisah, Kabid Humas Polda Papua Kombes Pol Wachyono saat dikonfirmasi wartawan mengatakan bahwa suasana di Puncak Jaya kini sudah mulai membaik dan kondusif. “Dari suasana yang sudah mulai membaik ini, saya harapkan hal ini terus membaik dan bisa diredam,” katanya.
pascapenembakan itu, belum ada rencana dari Polda Papua untuk menambah Polri atau Brimob untuk membantu ke daerah Puncak Jaya itu. “Kami tetap siaga dalam menyikapi situasi pascapenembakan, baik dari Polsek maupun Polresnya,” terangnya.
Saat disinggung tentang anggota Polri Briptu M. Yazin anggota KP3 Bandara Mulia Puncak Jaya yang tertembak beberapa pekan yang lalu di bandara Mulia serta senjatanya hilang, apakah korban sudah sembuh dan sudah pulang ke Jayapura dan apakah pelakunya ada sangkut pautnya dengan penembakan ini? Kabid Humas menjelaskan bahwa korban masih di Rumah Sakit Bhayangkara Kramatjati Jakarta untuk mendapat perawatan.
“Hingga saat ini korban sudah membaik, namun untuk berbicara hingga saat ini saya belum mendapat informasinya. Tapi yang jelas saat ini korban sudah berangsur pulih kesehatannya,” katanya.
Sedangkan terkait kasusnya, masih dalam penyelidikan dan pengejaran. “Pelaku harus tetap dikejar dan ditangkap untuk mempertanggungjawabkan perbuatannya. Namun jika memikirkan apakah pelakunya adalah kelompok yang kini genjar melakukan penembakan, kami belum bisa memastikan hal tersebut, sebab kami tidak mau berandai-andai. Yang jelas kami akan terus menjaga pengamanan di bandara lebih ekstra lagi,” tegasnya. (ro/fud)
JAYAPURA – Korban penembakan oleh kelompok orang tak dikenal (OTK) yang terjadi di Philia, Distrik Tingginambut Kabupaten Puncak Jaya, Selasa (12/7) ternyta 5 orang, yang kesemuanya merupakan anggota TNI Yonif 753/AVT Nabire (lihat grafis).
Dari lima korban itu, empat orang di antaranya telah dievakuasi ke Rumah Sakit Marthen Indey, Jayapura, Rabu (13/7) kemarin. Mereka adalah Letda Inf Jefri Satriansyah, Pratu Haiber Rivo, Pratu Sitorus, dan Praka Nur Awete.Sedangkan Pratu Imanuel masih dirawat di Rumah Sakit Mulia karena hanya terkena serpihan.
Salah satu sumber terpercaya menceritakan, sulitnya medan di lokasi penembakan membuat proses evakuasi para korban mengalami kendala, sehingga dari kejadian pagi hari, sekitar pukul 20.15 WIT proses evakuasi baru sampai di Puncak Senyum. Selanjutnya dari Puncak Senyum para korban dievakuasi ke Rumah Sakit Mulia, dan Rabu (13/7) kemarin empat korban diterbangkan ke Jayapura dengan menggunakan helikopter MI 15 milik TNI AD.
Turut langsung dalam proses evakuasi tersebut Danrem 173/PVB Kolonel Inf. HP Lubis dan AS Ops Kasdam XVII Cenderawasih Pos Letkol Inf Kemal Hindrayadi. Di mana sekitar pukul 10.40 helikopter itu tiba di Jayapura dan mendarat di lapangan golf Kodam XVII Cenderawasih.
Dari pantauan Cenderawasih Pos, para korban itu selanjutnya dibawa ke Rumah Sakit Marthen Indey sekitar pukul 11.00 WIT. Tidak menggunakan mobil ambulan, melainkan Kijang berwarnah biru dengan DS 960 FM.
Mobil itu datang tanpa pemeriksaan petugas yang berjaga dan langsung masuk ke belakang rumah sakit, sehingga wartawan susah untuk mengambil gambar para korban itu.
Seorang anggota TNI yang berpangkat Kopral saat berjaga mengatakan kepada wartawan untuk tidak meliput atau mengambil gambar di daerah pekarangan rumah sakit.
Sementara kronologi penembakan itu bermula saat TNI dan Polri melakukan penelusuran untuk menyergap markas TPN/OPM yang dipimpin Goliat Tabuni. Kemudian terjadi perlawanan oleh TPN/OPM, yang akhirnya 5 anggota TNI terkena tembakan.
Di tempat terpisah, Kabid Humas Polda Papua Kombes Pol Wachyono saat dikonfirmasi wartawan mengatakan bahwa suasana di Puncak Jaya kini sudah mulai membaik dan kondusif. “Dari suasana yang sudah mulai membaik ini, saya harapkan hal ini terus membaik dan bisa diredam,” katanya.
pascapenembakan itu, belum ada rencana dari Polda Papua untuk menambah Polri atau Brimob untuk membantu ke daerah Puncak Jaya itu. “Kami tetap siaga dalam menyikapi situasi pascapenembakan, baik dari Polsek maupun Polresnya,” terangnya.
Saat disinggung tentang anggota Polri Briptu M. Yazin anggota KP3 Bandara Mulia Puncak Jaya yang tertembak beberapa pekan yang lalu di bandara Mulia serta senjatanya hilang, apakah korban sudah sembuh dan sudah pulang ke Jayapura dan apakah pelakunya ada sangkut pautnya dengan penembakan ini? Kabid Humas menjelaskan bahwa korban masih di Rumah Sakit Bhayangkara Kramatjati Jakarta untuk mendapat perawatan.
“Hingga saat ini korban sudah membaik, namun untuk berbicara hingga saat ini saya belum mendapat informasinya. Tapi yang jelas saat ini korban sudah berangsur pulih kesehatannya,” katanya.
Sedangkan terkait kasusnya, masih dalam penyelidikan dan pengejaran. “Pelaku harus tetap dikejar dan ditangkap untuk mempertanggungjawabkan perbuatannya. Namun jika memikirkan apakah pelakunya adalah kelompok yang kini genjar melakukan penembakan, kami belum bisa memastikan hal tersebut, sebab kami tidak mau berandai-andai. Yang jelas kami akan terus menjaga pengamanan di bandara lebih ekstra lagi,” tegasnya. (ro/fud)
TEMPO Interaktif, Jayapura – Lima anggota Tentara Nasional Indonesia (TNI) dari Yonif 753 AVT Nabire kembali terluka dalam insiden baku tembak di Mulia, Puncak Jaya, Rabu 13 Juli 2011, sekitar pukul 06.00 WIT.
Prajurit yang dikabarkan tertembak yakni Letda Jefri Satria di betis kanan, Praka Nahor di kaki kiri, Praka Sipir di tangan kanan, Pratu Manuel terluka di betis kanan, dan Pratu Sitorus tertembak pada betis kiri.
Baku tembak terjadi saat anggota TNI menyergap sarang kelompok bersenjata pimpinan Goliat Tabuni di Mulia sekitar pukul 04.30 WIT. Namun, ketika sampai di Kampung Monia, Distrik Tingginambut, anggota TNI dihadang dan ditembaki.
Peristiwa tersebut menambah daftar panjang penyerangan kelompok bersenjata selama 3 pekan terakhir. “Saya ada tugas di luar daerah. Jadi belum tahu perkembangan informasi itu. Benar saya belum mendapat laporan,” kata Kepala Penerangan Kodam XVII Cenderawasih, Kolonel Infantri, Ali Hamdan Bogra, Rabu 13 Juli 2011.
Ia mengatakan, anggota TNI di Puncak Jaya terus berusaha mengamankan wilayah itu. Terkait penembakan pada Selasa, 12 Juli 2011, yang melukai 2 aparat, Hamdan juga belum mendapat laporannya. “Saya belum tahu. Intinya saat ini adalah bagaimana kita menjaga keamanan secara bersama-sama,” ujarnya.
Sebelumnya, Selasa kemarin, baku tembak terjadi di Kampung Kalome, Distrik Tingginambut, Puncak Jaya, sekitar pukul 07.00 WIT. Penyerangan itu mengakibatkan 2 anggota TNI terluka. “Mereka (kelompok bersenjata) selalu berpindah tempat. Ini menyulitkan aparat untuk mengejar,” kata Kapolres Puncak Jaya, AKBP Alex Korwa.
Akibat penembakan Letda inf. J. terluka di bagian kaki dan Praka F terluka di tangan. “Penyerangan terjadi saat aparat TNI sedang menyisir untuk menangkap kelompok anggota Organisasi Papua Merdeka (OPM),” ujarnya.
[JAYAPURA] Helikopter yang membawa korban kontak senjata antara Orang Tak Dikenal (OTK) di Kampung Pilia, Distrik Tingginambut Kabupaten Puncak Jaya, Selasa (12/7), tiba di lapangan Helly Pad Makodam XVII Cenderawasih, sekitar pukul 10.50 WIT, Rabu (13/7). Korban Dalam kontak tembak tersebut 5 anggota TNI Yonif 753/AVT terluka.
Anggota ini dievakuasi dengan menggunakan Helly MI. 17. Sulitnya medan di daerah itu yang bergunung-gunung, mengakibatkan evakuasi para korban mengalami kesulitan. Selanjutnya para korban langsung menuju RSUD Mulia mendapatkan perawatan intensif.
Dari pantauan SP selanjutnya kelima korban di evakuasi menuju RS Marthen Indey, Aryoko dengan menggunakan mobil Kijang LGX, dan pukul 11.05 WIT korban tiba di RST Marthen Indey. Sumber SP di Kodam XVII Cenderawasih mengatakan ama korban penembakan adalah Letda Inf Jevy Satriansyah terkena luka tembak pada kaki kanan.
Praka Nohor Awate terkena luka tembak pada lutut kiri dan kaki bagian kanan dan dalam kondisi kritis. Lalu Pratu Heiberd Rivo Sipir terkena luka tembak telapak tangan kiri dan Pratu Sitorus luka kaki kiri terkena serpihan benda keras.
Kapendam Kapendam XVII Cenderawasih Letkol Ali Hamdan Bogra saat dihubungi SP pukul 10. 59 WIT, via handphonenya, namun tak dijawabnya. Dihubungi SP lagi pukul 14.50 WIT, ia mengaku sedang rapat. ” Saya sedang rapat,”jawabnya singkat lalu memutuskan pembicaraan.[154]
[JAYAPURA] Pembakan kembali terjadi di Puncak Jaya, Selasa ( 5/7) sore. Dari sumber SP, terungkap sebanyak tujuh orang anggota TNI dari Yonif 751 melakukan patroli di Kampung Kalome, Distrik Tinggi Nambut, Puncak Jaya. Saat berpatroli tim dihadang dan ditembaki, dan tim patroli membalasnya.
Sehingga terjdi kontak tembak antara Tentara Pembebasan Nasional (TPN) /Organisasi Papua Merdeka ( OPM) dengan personil 751. Akibatnya angota TNI tertembak atas nama Prada Kadek yang mengalami luka tembak pada bagian siku sebelah kanan.
Tak hanya itu saja pada saat tim evakuasi bergeser ke Tempat Kejadian Perkara (TKP) tim evakuasi dihadang dan kembali terjdi kontak tembak lagi antara TPN / OPM dengan tim evakuasi.
Kembali lagi dua anggota terkena bernama Sertu Deni, yang mengalami luka tembak pada bagian paha kanan. Dan Praka Fauzi mngalami luka tembak pada bgian tangan kanan.
Sekitar pukul 20.00 WIT, korban berhasil di evakuasi ke RSUD Mulia dan pagi ini sudah diterbangkan ke Jayapura untuk dirawat di RS Marten Indey Jayapura.
Kapendam XVII Cenderawasih, Kolonel Infantri, Ali Bogra tak ada ditempat saat didatangi wartawan di kantornya di Kodam XVII Cenderawasih, tak ada ditempat.Begitupun saat di hubungi SP, namun tak mengangkat teleponya.[154 ]
TIMIKA [PAPOS]- Kapolri Jenderal Polisi Timur Pradopo mengatakan, kasus penembakan dan pembakaran mobil karyawan di areal PT Freeport Indonesia awal April 2011 masih dalam proses penyelidikan polisi di wilayah Polda Papua.
“Untuk bisa mengungkap seterang-terangnya apa yang terjadi, kita mohon dukungan informasi sebanyak-banyaknya termasuk dari masyarakat,” kata Timur di Timika, Sabtu, saat kunjungan kerja tiga hari di Timika hingga Minggu.
Dalam kunjungan kerja ke Papua itu, Panglima TNI dan Kapolri akan mengunjungi wilayah perbatasan di Merauke dan Jayapura. Timur memohon doa restu dari seluruh masyarakat agar pengungkapan kasus penembakan hingga pembakaran mobil bersama karyawan Freeport itu bisa terungkap secepatnya.
Menurut Kapolri, keterlibatan tim Pusat Laboratorium Forensik [Puslabfor] Mabes Polri dalam mengidentifikasi bukti-bukti yang terdapat di lokasi kejadian beberapa waktu lalu merupakan bagian tak terpisahkan dari upaya mengungkap masalah tersebut.
Sebelumnya Kabid Penum Divisi Humas Mabes Polri, Kombes Pol Boy Rafli Amar yang ikut turut dalam rombongan Kapolri dalam kunjungan kerja ke Timika mengatakan kunjungan kerja Kapolri tidak terkait kasus penembakan dan pembakaran mobil karyawan PT Freeport April lalu.
Ia mengatakan, sesuai laporan dari Polda Papua proses pengungkapan pelaku penembakan dan pembakaran mobil karyawan Freeport di ruas jalan Tanggul Timur menuju Kampung Nayaro satu bulan lalu itu masih dalam tahap penyelidikan. “Mohon bersabar, proses di Puslabfor membutuhkan waktu,” kata Boy.
Situasi Kamtibmas Aman
Kepala Kepolisian Negara Republik Indonesia (Kapolri) Jenderal Polisi Timur Pradopo menilai situasi keamanan dan ketertiban masyarakat di wilayah Papua secara umum aman.
“Sebagaimana dilaporkan oleh Kapolda Papua dan Pangdam XVII/Cenderawasih, semua kegiatan masyarakat bisa berjalan sesuai rencana masing-masing. Artinya, kalau kegiatan masyarakat berjalan lancar, berarti wilayah itu aman,” kata Kapolri kepada wartawan di Timika, Sabtu.
Kapolri mendampingi Panglima TNI, Laksamana TNI Agus Suhartono melakukan kunjungan kerja ke wilayah Papua mulai Jumat (13/5). Timika merupakan wilayah pertama yang dikunjungi Panglima TNI dan Kapolri dalam rangka melakukan silahturahim dengan jajaran prajurit TNI dan Polri setempat.
Selanjutnya, Panglima TNI dan Kapolri bersama rombongan akan melanjutkan kunjungan kerja ke wilayah Merauke dan Jayapura.
Menurut Kapolri, agar situasi kamtibmas di wilayah Papua tetap kondusif maka sangat dibutuhkan keterlibatan masyarakat dan semua komponen setempat untuk secara sinergis melakukan pengamanan bersama.”Kalau semua pihak menjalin koordinasi secara sinergis sesuai arahan Bapak Panglima TNI, Insya Allah wilayah itu pasti aman,” kata Timur Pradopo.
Sebelumnya, Panglima TNI Agus Suhartono menegaskan sesuai laporan Pangdam XVII/Cenderawasih Mayjen TNI Erfi Triassunu, situasi keamanan di Papua secara umum khususnya di daerah yang rawan dan wilayah perbatasan dengan negara tetangga Papua Nugini (PNG) cukup kondusif.
“Tidak ada hal-hal yang perlu dikhawatirkan,” jelas Agus Suhartono usai melakukan tatap muka dengan jajaran prajurit TNI yang bertugas di Timika bertempat di Markas Komando Detasemen B Brimob Polda Papua.
Kabid Penum Divisi Humas Mabes Polri, Kombes Pol Boy Rafli Amar yang ikut dalam rombongan Panglima TNI dan Kapolri menjelaskan kunjungan kerja kedua petinggi institusi negara itu ke Papua sudah lama terjadwal.
“Tidak ada hal yang spesifik. Kunjungan kerja Bapak Panglima TNI dan Bapak Kapolri semata-mata untuk melihat bagaimana kondisi anggota di lapangan sekaligus memberikan pengarahan,” jelas Boy.
Wilayah Papua selama ini merupakan salah satu daerah di Indonesia yang cukup tinggi tingkat gangguan kamtibmasnya. Beberapa waktu lalu, aparat TNI dan Brimob terlibat baku tembak dengan kelompok separatis di wilayah Mulia Kabupaten Puncak Jaya.
Selain di Puncak Jaya, wilayah Mimika terutama di areal PT Freeport Indonesia juga sering dilanda teror penembakan oleh orang tak dikenal.Pada awal April 2011, dua karyawan PT Freeport Indonesia, Daniel Mansawan dan Hari Siregar tewas terpanggang api dalam mobil yang dikendarainya saat melintas di ruas jalan Tanggul Timur menuju Kampung Nayaro, tepatnya di Mil 37 MA 220.Hingga saat ini, kasus tersebut belum bisa diungkap secara tuntas oleh pihak berwajib.[bel/ant]