Jakarta – Kepolisian belum menemukan adanya keterlibatan OPM dalam aksi penembakan sejumlah anggota Brimob di Timika, Papua. Namun dilihat dari aksi penembakan, indikasi adanya keterlibatan OPM terus ditelusuri.
“(Keterlibatan) OPM belum. Tapi indikasi ke arah sana iya,” kata Kadivhumas Mabes Polri Irjen Pol Edward Aritonang di Mabes Polri, Jl Trunojoyo, Jakarta Selatan, Senin (25/1/2010).
Edward mengatakan, dilihat dari aksi dan praktek penyerangan memang mirip dengan aksi OPM. Namun, polisi tidak mau mengambil kesimpulan terlalu cepat.
“Mereka kan sering melakukan penyerangan seperti itu. Dan dari kasus yang terungkap modus atau cara-cara seperti itu,” jelasnya.
Edward mengatakan, polri belum menambah jumlah personel atau pengerahan operasi di Timika, Papua pascapenembakan. Polri hanya akan mengerahkan kekuatan dengan melakukan pengejaran pada pelaku.
“Kita intensifkan kekuatan di sana dan lakukan pengejaran. Kita lakukan penyisiran di TKP dan tempat lain yang diduga menjadi tempat pelaku bersembuyi,” tandasnya.
Apakah ada hubungannya dengan Kelly Kwalik? “Belum tahu,” pungkasnya.
Jayapura–Seorang warga pendatang terluka karena tembakan dari orang tak dikenal di perbatasan RI-Papua Nugini. Penembak tersebut lari menuju Papua Nugini. Aparat keamanan kini tengah mencari pelaku penembakan.
“Ini sedang dicari. Saya mau cek ke lokasi,” kata Komandan Distrik Militer (Dandim) 1701 Jayapura Letkol Infanteri Imam Santoso MA kepada detikcom, Sabtu (19/12).
Menurut Imam, rentetan senjata di perbatasan bukan dari OPM namun dari orang tak dikenal tiba-tiba menembak warga pendatang kemudian kabur ke Papua Nugini. Warga yang terkena tembakan itu kemudian dibawa ke rumah sakit terdekat.
“Hanya luka bukan meninggal. Sudah dibawa ke rumah sakit,” jelasnya.
Imam mengatakan, hingga kini situasi di lokasi kejadian masih aman dan kondusif. Pasar Lonjing yang tadinya dikabarkan ditutup masih buka.
“Pedagang juga masih ada. Nggak ada masalah. Masyarakat masih berjualan seperti biasa,” imbuhnya.
Keluarga menolak melakukan tes DNA lantaran berbenturan dengan adat istiadat.
Alm Jenderal TRWP Kely Kwalik
VIVAnews – Kepolisian masih kesulitan melakukan uji Deoxyribonucleic acid (DNA) terhadap jenazah pria yang diduga kuat pimpinan Organisasi Papua Merdeka (OPM), Kelly Kwalik. Kepolisian sulit mendapatkan unsur pembanding untuk uji DNA.
Kepala Kepolisian RI, Jenderal Bambang Hendarso Danuri, mengatakan, keluarga menolak melakukan tes DNA lantaran berbenturan dengan adat istiadat. “Untuk tes DNA agak kesulitan, makanya kita mendekati saksi-saksi. Dan dibantu dengan gambar CD, video yang ada. Karena itu menjadi kualitatif,” katanya, Jumat, 18 Desember 2009.
Polisi memandang penangkapan Kelly Kwalik penting untuk stabilitas keamanan di Papua. Kelly yang menjadi buron selama lebih 10 tahun diduga sebagai dalang sejumlah kasus penembakan misterius yang terjadi di kawasan Papua. “Jelaskan keberadaan Kelly Kwalik di wilayah tengah, artinya (penangkapan) ini sangat penting,” ujar Kapolri.
Pria yang diduga kuat Panglima Tentara Pembebasan Nasional Organisasi Papua Merdeka wilayah Timika itu tewas tertembak dalam operasi penyergapan di tengah hutan, Papua, sekitar pukul 03.00 waktu Indonesia timur, Rabu, 16 Desember 2009. Dalam penyergapan itu, polisi juga meringkus lima orang lainnya.
Penyergapan bernama sandi ‘Operasi Kencana Lestari’ yang berlangsung intensif sejak Oktober 2009. Penyergapan dilakukan tim khusus di bawah koordinasi Deputi Operasi Kapolri yang terdiri dari Brimob Polri, Detasemen Khusus 88 Antiteror, Badan Intelijen Keamanan Polri, dan jajaran Polda Papua. Tim itu dibentuk setelah penembakan misterius terjadi berturut-turut pada Juli-November 2009.
Meski sulit melakukan uji DNA, polisi yakin 100 persen jenazah itu adalah Kelly Kwalik. Keyakinan itu berdasarkan uji kualitatif yang dilakukan tim kepolisian. Kini, jenazah Kelly Kwalik telah diterbangkan ke Timika melalui Bandara Sentani. Jenazah akan dikembalikan ke pihak keluarga.
TEMPO Interaktif, Timika – Kematian Kelly Kwalik menjadi duka terdalam bagi seluruh rakyat Papua. Jenazah Kelly Kwalik sudah tiba di Timika diantar Direskrim Polda Papua Kombes Petrus Wayna pada Jumat (18/12) siang.
Di hadapan sekitar 500 warga Papua, Petrus mengatakan pihaknya sudah meminta pada Kapolri untuk membawa jenazah Kelly ke Timika. "Tugas kami membawa jenazah Kelly sudah kami lakukan. Kami minta warga tidak terpancing isu-isu," kata Petrus.
Petrus juga meminta warga ada yang mau menerima jenazah secara resmi. "Jangan takut, tidak ada yang akan ditangkap," kata Petrus. Warga Amungme dan Papua memutuskan akan menerima jenazah Kelly secara kolektif, dan akan menanggung semua biaya secara kolektif.
Tokoh masyarakat Amungme, Hans Magal, mengatakan semua orang Papua sedang berduka. "Semua orang papua sedang berduka, mari kita berdoa menghormati jasad Tuan Kelly Kwalik. Hari ini hari ketiga Tuan Kelly dinyatakan meninggal," kata Hans.
Menurut Hans, tokoh-tokoh warga sudah membicarakan dengan DPRD Mimika dan Kapolres Mimika tentang siapa yang akan menerima jenazah. "Setelah diserahkan siapa rakyat Papua yang menerima, lalu mau disemayamkan dimana dan dimakamkan dimana dan kapan. Kami belum mengambil keputusan kami sepakat bersama pemimpin papua mau membicarakan kesepakatan ini," kata Hans.
Dalam pertemuan di halaman DPRD Mimika juga muncul desakan untuk merdeka dan referendum. "Kami minta DPRD dan Kapolres menyediakan dua meja di depan. Masyarakat akan pilih sendiri siapa yang mau gabung dengan NKRI, dan siapa yang mau lepas," kata tokoh warga, Douw.
Warga juga meminta pemerintah mengijinkan mengibarkan bendera Bintang Kejora di makam Kelly karena Kelly adalah tokoh kemerdekaan Papua.
Jakarta – Kepolisian menetapkan Jeep Murip (24) sebagai tersangka terkait kasus separatisme di Papua. Dia ditangkap bersama empat orang lainnya dalam penggerebekan yang menewaskan Kelly Kwalik, pimpinan Organisasi Papua Merdeka (OPM).
“Karena dia memegang peluru, dikenakan pasal UU darurat,” kata Kadiv Humas Mabes Polri Irjen Pol Nanan Soekarna di Mabes Polri, Jl Trunojoyo, Jaksel, Kamis (17/12/2009.
Nanan menjelaskan peran Jeep adalah ajudan Kelly Kwalik. “Dia anggota Kelly Kwalik,” ujarnya.
Empat orang lain, lanjut Nanan, tidak dikenakan status tersangka. Sebab mereka hanyalah istri dan anggota keluarga Kelly Kwalik. “Karena dia keluarga, dia istri, tidak bisa dikenakan pasal apapun,” ujar Nanan.
Nanan menjelaskan, saat ini keluarga masih diamankan di Polres Timika. Mabes Polri pun tidak akan membawa keluarga Kelly ke Jakarta. “Cukup di Polda Papua,” ujarnya.
JAYAPURA-Pasca penembakan di areal pertambangan PT Freeport Indonesia, Selasa (20/10) yang mengakibatkan 2 orang karyawan Freeport terluka, tampaknya sedikit mulai mengganggu operasional, salah satu tambang emas terbesar di dunia itu.
Pasalnya demi untuk pengamanan, kegiatan operasional Freeport pada malam hari untuk sementara dihentikan. Sedangkan kegiatan siang hari berjalan normal.
Hal ini disampaikan Kepala Bidang Humas Polda Papua Komisaris Besar Polisi Drs Agus Rianto saat dikonfirmasi Bintang Papua di Mapolda Papua di Jayapura, Rabu (21/10).
Menurut Agus Rianto, Polda Papua belum menemukan pelaku yang sebenarnya. Pasca penembakan pihaknya terus mendalami kasus ini dan menugaskan anggota untuk melakukan pencarian. Untuk menemukan pelaku penembakan, tambah Agus Rianto, pihaknya telah melakukan olah TKP beberapa saat setelah kejadian tersebut
Seperti diketahui, Selasa (20/10) sekitar pukul 09.45 WIT, iring-iringan bus yang mengangkut karyawan Freeport ditembak oleh orang tak dikenal di sekitar Mile 42 ruas jalan Timika-Tembagapura. Empat dari tujuh bus karyawan yang dikawal anggota brimob diberondong tembakan dari sisi kiri dan kanan mengakibatkan dua karyawan terluka.
Kedua karyawan itu, Kristian Karangan dan Rudi Parendeng, saat ini dirawat di RS SOS Tembagapura dan Klinik Kuala Kencana.
Aksi penembakan dan teror orang tidak dikenal (OTK) di kawasan PT Freeport terjadi sejak 11 Juli itu, telah menewasakan 4 orang, dua di antaranya karyawan PT Freeport dan dua anggota Polri. Selain itu, mencederai puluhan orang, baik anggota Polri, TNI maupun karyawan PT Freeport. Terakhir terjadi Rabu (22/10) sekitar pukul 15.00 WP di mile 38 dan mile 39 Kali Kopi, tapi sayangnya pelakunya belum juga tertangkap.
DENGAN melihat aksi teror yang terjadi selama empat bulan di areal Freeport seharusnya bisa ditangani aparat keamanan, lantaran lokasi penembakan hanya di sekitar Mile 40-50.
Di sisi lain, jumlah aparat keamanan sudah sangat banyak yang mencapai 1.320 personel dan pos-pos aparat gabungan TNI dan Polri telah dibangun di sepanjang ruas jalan Timika-Tembagapura. Namun ironisnya, aksi penembakan terus terjadi hingga saat ini dengan target para karyawan Freeport.
Kapolda Papua Irjen Pol Bagus Ekodanto menduga para pelaku penembakan di areal PT.Freeport hingga kini mempunyai pola tersendiri guna menghindari penanggapan yang dilakukan tim gabungan Polri/TNI.
RUMAH sederhana di kompleks perumahan Brimob Polda Jogja, Jalan Imogiri Timur Kompi C, Gondowulung, Bantuntapan, Bantul, itu kemarin pagi dipenuhi pelayat. Di antara deretan pelayat wanita yang memenuhi ruang tamu rumah tersebut, wajah Ny Supartinah terlihat sangat sedih. Kedua matanya sembap. Wanita 44 tahun itu adalah istri Brigadir Pol Murdiyono.
Murdiyono (bukan Mardiono sebagaimana diberitakan kemarin) adalah salah seorang di antara tiga korban yang tewas setelah diberondong peluru oleh komplotan perampok. Aksi brutal penjahat itu terjadi di Km 7 Jalan Magelang-Jogja, tepatnya di Desa Gulon, Kecamatan Salam, Kabupaten Magelang, Selasa (15/9)
Saat itu, Murdiyono mengawal dua karyawan PT Kelola Jasa Artha (Kejar), Arif Widiono (warga Kebumen) dan Arif Sudiono (warga Tegalrejo), yang mengangkut brankas berisi uang tunai. Uang tersebut baru diambil dari Bank Danamon Magelang.
Mengendarai Panther, rombongan itu menempuh perjalanan dari Magelang ke Jogja. Peristiwa tak diinginkan terjadi sekitar pukul 16.30. Saat itu, sebuah Suzuki APV memepet Panther tersebut. Selanjutnya, dari dalam APV itu, para penjahat memberondong Panther, sehingga oleng dan menabrak tiang telepon di sebelah jembatan Kali Senowo. Tiga penumpang Panther tewas, yakni Arif Widiono, Arif Sudiono, dan Brigadir Murdiyono. Namun, uang dalam brankas tetap berada di mobil itu.
Kemarin pagi, jenazah tiga korban tersebut dibawa ke rumah masing-masing. Sekitar pukul 08.00, jenazah Murdiyono dibawa ke rumahnya di kompleks perumahan Brimob Polda di Bantul. Begitu jenazah diturunkan dari ambulans milik RS Bhayangkara Polda Jateng, tangis sanak saudara pun pecah.
Saat itulah, istri Murdiyono sampai tak kuasa berdiri. Kedua matanya menatap nanar peti berisi jenazah suaminya tersebut saat akan dibawa masuk ke dalam rumah. Kedua anaknya, Heru Riyanto, 28, dan Herlina Murdiyanti, 25, juga tak kuasa membendung air mata.
Herlina menyatakan, dirinya sama sekali tak merasakan firasat sebelum ayahnya meninggal. ”Tidak ada firasat apa pun. Semua baik-baik saja,” katanya sambil mengusap air mata yang terus menetes dari kelopak matanya.
Hal yang sama dirasakan kakak Herlina, Heru Riyanto. ”Saya tidak pernah merasakan perasaan aneh, semua berjalan seperti biasa. Jadi, saat ada kabar bapak meninggal, saya sempat tidak percaya,” ungkapnya.
Di antara dua anak Murdiyono itu, yang paling terpukul adalah Herlina. Sebab, dia akan melangsungkan pernikahan. Menurut rencana, pernikahannya dengan Bripda Nurhadianto dilaksanakan akhir tahun ini.
Kematian Murdiyono membuat rencana pernikahan tersebut dipercepat. Atas kesepakatan keluarga, kemarin dilakukan ijab kabul antara Herlina dan Nurhadianto di depan jenazah Murdiyono.
Dalam prosesi ijab kabul yang berlangsung di Aula Kompi C, Mako Brimobda Jogja, Gondowulung, Bantul, tersebut, Heru Riyanto bertindak sebagai wali Herlina. Penghulunya adalah KH Wazirudin, pimpinan Ponpes Wonokromo, Bantul.
Jika biasanya dalam ijab kabul wajah mempelai perempuan berseri-seri, kemarin wajah Herlina terlihat murung. Kedua matanya seperti tak pernah berhenti meneteskan air mata. Sang ibu yang duduk di sebelahnya juga tak henti-henti menangis. Suasana pun mengharu biru.
Prosesi pernikahan itu dimulai pukul 08.35 dipimpin Kiai Wazirudin. Setelah prosesi pernikahan, diiringi salawat nabi, satu per satu hadirin dengan tertib memberikan ucapan selamat kepada kedua mempelai dan keluarga.
Namun, pernikahan yang berlangsung dalam suasana duka tersebut tidak dihadiri petugas KUA (kantor urusan agama).
Setelah prosesi pernikahan, sekitar pukul 14.00, dilakukan pemakaman jenazah Murdiyono di TPU Dusun Suren.
Murdiyono meninggalkan seorang istri, Supartinah, 44, dan dua anak, yakni Heru Riyanto, 28, dan Herlina Murdiyanti, 25. Juga, seorang cucu bernama Kaka Deski Putra, 2, anak pasangan Heru Riyanto dan Eli Herwati, 26.
Murdiyono terakhir bertugas di Satuan Brimob Polda DIJ selama 20 tahun. Sebelum di Brimobda DIJ, almarhum sempat bertugas di Brimobda Jawa Tengah.
Di bagian lain, aparat kepolisian terus menyelidiki perampokan berdarah Selasa lalu (15/9) di Jalan Magelang-Jogja km 7 yang menewaskan tiga orang, yang satu di antaranya anggota Brimob. Kemarin tim Labfor (Laboratorium Forensik) Mabes Polri melakukan olah TKP (tempat kejadian perkara) lanjutan. Dugaan sementara, aksi penjahat itu melibatkan orang dalam.
“Segala kemungkinan dan keterlibatan pihak mana pun dalam kasus ini bisa saja terjadi. Kami masih menyelidikinya,” kata Kapolwil Kedu Kombespol Agus Sofyan Abadi di sela-sela olah TKP kemarin. Juga ada kemungkinan pelaku merupakan sindikat jaringan perampok yang sering beraksi di wilayah Jawa Tengah dan DI Jogja.
Saat ditanya tentang pelaku yang mengenakan pakaian polisi, Agus belum bisa memastikannya. Sebab, dalam kasus perampokan sering ditemukan hal serupa. “Intinya kami masih mendalami kejadian ini. Nanti kami ungkapkan ke publik kalau sudah terbukti,” jelasnya.
Dalam olah TKP itu, petugas juga memastikan bahwa uang sekitar Rp 2 miliar masih utuh di brankas mobil tersebut. Hal itu diketahui setelah petugas bersama Kepala Cabang PT Kejar Jogjakarta Ari Mardiyanto membuka brankas yang terletak di bagian belakang mobil. Di dalamnya masih terdapat dua karung uang yang baru diambil dari dua bank Danamon di Kota dan Kabupaten Magelang. (vie/jpnn/kum) Kematian Brigadir Pol Murdiyono, anggota Brimob Polda Jogja yang ditembak komplotan perampok di Jalan Magelang-Jogja, Selasa (15/9), membuat pernikahan putrinya dipercepat. Istri Tak Kuasa Berdiri, sang Putri Murung saat Ijab Kabul
JAYAPURA-Serangkaian kasus penembakan yang diawali kasus pembakaran yang terjadi di area obyek vital nasional PT Freeport Indonesia, Tembagapura, Timika, Kabupaten Mimika yang terjadi sejak pertengahan Juli hingga September 2009 ini masih terus menjadi perhatian serius aparat keamanan dan dalam hal ini Kapolda Papua meyakini pelakunya akan segera terungkap.
Keyakinan ini disampaikan Kapolda Papua Irjen Pol. Drs. FX. Bagus Ekodanto kepada wartawan di RM Borobudur di sela-sela buka puasa bersama dengan insan pers di Kota Jayapura, Kamis (17/9).
“Untuk kasus pembakaran dan serangkaian penembakan di Freeport itu, sebentar lagi mungkin pelakunya akan kita ungkap,” kata Kapolda Bagus Ekodanto didampingi Kabid Humas Kombes Pol Drs. Agus Rianto.
Kapolda menegaskan, para pelaku penembakan di area PT Freeport Indonesia ini diperkirakan ada 6 orang dari warga sipil dan saat ini masih dilakukan pengejaran.
Ditanya indikasi keterlibatan kelompok lain dalam serangkaian penembakan di Freeport itu? Kapolda mengakui belum mengetahui secara pasti. “Kami belum tahu, soal keterlibatan kelompok lain dalam kasus penembakan itu,” ungkapnya.
Soal motif penembakan di area obyek vital nasional itu, Kapolda mengatakan bahwa pada intinya yang diperoleh aparat kepolisian adalah pelaku berkeinginan agar PT Freeport Indonesia tutup atau tidak beroperasi lagi.
Hanya saja, lanjut Kapolda, pihaknya sudah melakukan upaya pendekatan dengan serikat buruh, karyawan, Komnas HAM dan dampaknya para karyawan tidak terpengaruh dengan adanya kasus penembakan di area PT Freeport Indonesia tersebut. Apalagi, karyawan sudah mengerti dan bersama-sama untuk melawan teror yang dilakukan oleh kelompok bersenjata tersebut.
Kapolda mengatakan, dari TNI sudah ada penambahan 600 personel dan saat ini tinggal surat perpanjangan saja, yang didatangkan dari Papua, sedangkan dari Polri didatangkan dari luar Papua.
Untuk pengamanan di Area PT Freeport Indonesia ini, jelas Kapolda, dilakukan di sepanjang mile, yang telah dibagi tugas dengan TNI. “Sebetulnya aktivitas dan mobilitas karyawan seperti biasa. Ya, jika ada kejadian, kadang-kadang manajemen menghentikan sementara, ya berhenti. Tapi, aparat tetap mengamankan mobilitas baik personel, handak dan logistik setiap hari tetap berjalan,” ujarnya.
Soal mile yang dianggap paling rawan, Kapolda mengakui bahwa kejadian itu selalu berubah-ubah tempatnya, hanya saja biasanya antara mile 41 dan mile 42, serta terakhir di Kali Kopi yang berada di luar Tembagapura.
Ditanya adanya informasi anggota TNI yang tertembak? Kapolda mengakui tidak ada, bahkan Kapolda balik menanyakan hal itu kepada wartawan. “Gak ada itu. Dari mana infonya,” tandas Kapolda.
Sementara dalam ceramah buka puasa yang disampaikan oleh Ustadz H. Muhammad Soleh antara lain mengatakan, setiap orang harus bisa mengendalikan hawa nafsunya. Sebab orang biasanya kalau diuji dengan harta masih belum goyah, tetapi ketika diuji dengan hawa nafsu, misalnya wanita, maka biasanya akan jatuh. “Hawa nafsu itu akan menyurut kepada kejahatan, karena itu waspadalah,” tegas ustadz mengingatkan.
Acara buka bersama ini juga dihadiri Wakapolda Papua Brigjen Pol. Drs. Achmad Riadi Koni,SH dan para pejabat teras Polda Papua lainnya. (bat/fud)
Brigjen Pol Drs. Achmad Riadi Koni, SH
MERAUKE (PAPOS)—Wakil Kepala Kepolisian Daerah (Wakapolda) Papua, Brigjen Pol Drs. Achmad Riadi Koni, SH menegaskan, pelaku penembakan yang terjadi di wilayah Freeport, Timika bukan kelompok separatis. Mereka yang melakukan penembakan adalah para kriminal bersenjata.
Penegasan itu disampaikan Wakapolda Papua usai melakukan tatap muka dengan anggota Polres Merauke, Senin (31/8) kemarin.
Menurutnya, saat ini, situasi di daerah Freeport aman terkendali, namun pengamanan oleh pasukan dari Polda diback up TNI tetap dilakukan sebagaimana biasa.
“Kita juga sudah menangkap tujuh orang dan ditetapkan sebagai tersangka. Namun, proses pemeriksaan terhadap mereka masih sedang berlangsung,” ungkap Wakapolda.
Penembakan yang dilakukan oleh kelompok bersenjata itu, kata Wakapolda, selalu berpindah-pindah sehingga terkadang menyulitkan aparat untuk melakukan pengejaran. Ditambah lagi dengan medan wilayah yang sangat menyulitkan sehingga para pelaku pun langsung menghilang setelah melakukan aksinya. Meski demikian, polisi masih tetap melakukan penjagaan secara ketat guna mengantisipasi jangan sampai ada yang melakukan penembakan terhadap para karyawan Freeport.
Ditanya tentang jumlah personil yang diitempatkan di sekitar lokasi Freeport, Wakapolda mengungkapkan, kurang lebih 1000 orang. Sebagian besar personil dari Polda sedangkan sisanya adalah TNI.
“Saya belum bisa memastikan sampai kapan personil di Freport akan melakukan penjagaan dan pengawasan, tetapi yang jelas bahwa situasi saat ini dalam keadaan aman terkendali,” katan