Kapolri sinyalir penembakan warga Australia terkait OPM

Jakarta–Pelaku penembakan terhadap warga Australia di Timika, Papua, diduga kuat terkait Oganisasi Papua Merdeka (OPM). Lokasi kejadiannya selama ini memang rawan terhadap dari aktivitas OPM.

Demikian jawab Panglima TNI Jenderal Djoko Santoso ditanya kaitan OPM dalam gangguan keamanan di kawasan Freeport, Timika. Hal ini disampaikan di Kantor Presiden, Jakarta, Selasa (14/7).

“Merunut laporan dari sana, disinyalir memang ada. Di km 50 kan memang daerah klasik,” ujar Djoko.

Berdasar identifikasi di lapangan, TNI menyarankan agar Polri memperketat keamanan di kawasan tersebut. Meski tidak ada penambahan personel, tapi TNI telah menyiapkan satgas untuk membantu Polri.

Sementara Kapolri Jenderal Pol Bambang Hendarso Danuri yang ditemui di kesempatan sama menyebut pihaknya menggelar berbagai operasi menyusul peningkatan gangguan keamanan di Papua. Sejumlah orang yang diduga anggota OPM berhasil diamankan.

“Di Yapen Waropen kita berhasil menangkap beberapa pelaku indikasi OPM. Di Timika kita tunggu tim ini bekerja,” ujar Kapolri.

dtc/fid

Tersangka Penyerangan Polsek Abe Masih Dirawat

JAYAPURA (PAPOS) –Sementara, dua tersangka kasus penyerangan Mapolsek Abepura 9 April 2009 lalu, menurut Direktur Reserse Kriminal Polda Papua Kombes Pol Bambang Budi Pratikno masih menjalani perawatan intensif di RS Bhayangkara. Perawatan itu karena luka tembak yang diderita belum sembuh.

“Polisi akan menunggu kedua tersangka ini sembuh sebelum melanjutkan proses hukum mereka,”katanya di Jayapura, Selasa (28/4) kemarin.

Kedua tersangka itu adalah DA dan YY.”Mereka harus diobati dulu hingga sembuh. Ini hak mereka berdua. Tidak boleh kami memeriksanya lalu menyerahkan mereka ke kejaksaan dalam keadaan sakit,” katanya di Jayapura, Selasa (28/4) kemarin.

Selain mendapatkan perawatan medis, Polda Papua juga akan mengupayakan keduanya didampingi pengacara selama menjalani penyidikan. Keduanya menderita luka tembak saat menyerang kantor polisi Kamis 9 April 2009 sekitar pukul 01.00 WIT bersama belasan orang kelompok kriminal bersenjata.

Dalam kasus Papua telah menetapkan tujuh tersangka namun satu tersangka dijerat dengan kasus pencurian. “Satu tersangka mencuri HT milik polisi. Dia tidak terlibat langsung penyerangan tapi pencurian,” katanya.

Sementara itu, dua tersangka tewas karena terkena tembakan polisi yang berusaha mencegah kelompok kriminal ini merusak Mapolsek Abepura. Kelompok ini menyerang kantor polisi dengan panah dan bom rakitan.

Kasus penyerangan kantor polisi yang terjadi hanya beberapa jam menjelang Pemilu itu mendapatkan perhatian serius dari Presiden Susilo Bambang Yudhoyono. Presiden memanggil Menkopolhukam Widodo AS, Panglima TNI Jenderal TNI Djoko Santoso, Kapolri Jenderal Pol Bambang Hendarso Danuri dan Kepala BIN Syamsir Siregar ke rumah pribadinya di Cikeas, Bogor untuk membahas masalah ini.(ant)

Ditulis oleh Ant/Papos
Rabu, 29 April 2009 00:00

Polri-TNI Bentrok di Karubaga

Mayjend TNI A. Y Nasution dan Irjen Pol Bagus EdodantoJAYAPURA (PAPOS) –Pratu Rustam anggota TNI dari Satgas 756 Pos Karubaka, mengalami luka-luka di bagian perut dan langsung jatuh pingsan di TKP, akibat dikeroyok oleh sejumlah anggota Polri di depan pos jaga masuk Mapolres Tolikara, Selasa (28/4) sekitar pukul 10.15 WIT kemarin.

Insiden pengeroyokan anggota TNI itu buntut dari peristiwa pada Senin (27/4) malam sekitar pukul 24.30 WIT, dimana sepeda motor salah satu anggota Polri yang berboncengan bersama salah seorang anggota Sat PP Pemerintah Kabupaten Tolikara, dihentikan oleh anggota regu jaga malam Satgas 756 Pos Karubaka.

Setelah mendapat pertolongan pertama di pos jaga Mapolres Mimika, Pratu Rustam kemudian dilarikan ke RSUD Tolikara, namun karena peralatan RSUD Tolikara tidak memadai, akhirnya korban dibawa ke RSUD Wamena dengan menggunakan jalan darat, dan saat ini masih dirawat di RSUD Wamena.

Malam sebelumnya, (Senin malam, red) anggota Satgas 756 Pos Karubaga yang tengah jaga malam, Senin (28/4) malam, sekitar pukul 24.30 WIT menghetikan laju kendaraan orang mabuk yang kebetulan dikendarai anggota Polri dan Sat PP saat melitas berboncengan dengan sepeda motor di depan pos jaga Satgas 756 Karubaka.

setelah petugas Pos jaga mengetahui bahwa kedua orang tesebut dalam keadaan mabuk, kemudian anggota Pos menanyakan, namun anggota jaga pos justru mendapat jawaban menantang. Karena keduanya dalam keadaan kondisi mabuk lalu kedua orang tersebut mengamuk.

Akhirnya, anggota pos langsung memukul kedua orang tersebut. Kedua orang mabuk tersebut mengaku bahwa mereka dari anggota Polres Jayawijaya dan anggota Polisi PP (Pamong Praja), akhirnya baik keduanya maupun petugas pos jaga saling meminta maaf.

Paginya Kapolres Tolikara sempat mendatangi pos jaga Satgas 756 Karubaga untuk mengklarifikasikan kejadian semalam. Kedua belah pihak pada waktu itu saling minta maaf, bahkan Kapolres mengatakan bahwa masalah ini sampai disini saja. “Jangan masalah ini Besar-besarkan,”ujarnya.

Karena sudah ada perdamaian Pratu Rustam pergi berjalan tanpa pakaian dinas ke luar pos, tetapi setibanya di depan pos jaga Mapolres dirinya justru dikeroyok. Ketika dikonfirmasi wartawan, Panglima Kodam XVII/Cenderawasih Mayjen TNI A.Y Nasution, usai peragaan Tekhnologi dan UKM Papua di GOR Cenderawasih mengatakan, insiden di Tolikara sudah diselesaikan secara baik.

“Itu hanya perselisihan biasa saja, dan sudah damai serta tidak ada korban jiwa,”kata Pandang kepada wartawan.

Ditempat yang sama Kapolda Papua Irjen Pol FX Bagus Ekodanto juga mengatakan hal yang sama, bahwa kejadian itu cuman hanya salah paham. Menurutnya, perselisihan tersebut awalnya dipicu karena mabuk, namun kini sudah diamankan.

POLISI TEMBAK WARGA SIPIL

Sementara itu, di kota Timika, seorang warga sipil Cauiruddin (21) ditembak oknum Polisi berpangkat Briptu Edward Kawab (25), sekitar pukul 24.00 WIT pada hari Minggu (26/4) lalu. Nyawa warga jalan Ahmad Yani itu tak tertolong, setelah diterjang dua peluru pistol Revolver milik pelaku anggota Polres Mimika di Rumah Sakit Mitra Masyarakat Kota Timika.

Data A1 yang berhasil dihimpun Papua Pos menyebutkan, kronologis penembakan itu berawal ketika pelaku dan korban berada di KM 10 Kota Timika. Keduanya saat itu asik menegak Minuman Keras (Miras) sambil bercanda. Dalam kondisi mabuk berat korban mengambil tas milik pelaku.

Tak selang beberapa lama kemudian pelaku berhasil merebut tasnya kembali lantas menyeluarkan pistol yang ada dalam tas dan menembakan kepada korban.Tembakan peratama mengenai bagian lengan kanan tembus ke telapak tangan kiri korban. Tembakan kedua, tembus dada bagian kanan, lalu korban jatuh.

Sesaat berikutnya satuan P3D tiba di TKP langsung mengamankan pelaku di Polre Timika. Selanjutnya korban dilarikan ke rumah sakit untuk mendapatkan pertolongan. Namun setelah tiba di rumah sakit korban tidak tertolong hingga meninggal dunia di rumah sakit Mitra Masyarakat Timika.

Ketika di lonfirmasi ke PLT Kabid Humas Polda Papua Nurhabri membenarkan atas kejadian tersebut. Menurutnya, anggota Polri Mimika itu telah menembak teman masyatakatnya hingga korban meninggal pada saat di bawa ke Rumah sakit Mitra Masyarakat.

“Korban telah dievakuasi ke tempat asalnya di daerah bugis,”katanya di Mapolda, Selasa (28/4) kemarin.

Namun untuk sementara pelaku telah diamankan Di Polres Mimika dan petugas P3D Polres Timika mengamankan barang bukti yang dibawa pelaku yakni, 1 PCK Senpi Sejenis Revolver dengan No seri AUN 8835, 3 Butir peluru yang masih utuh dan 2 butir selongsong Peluru.
Selain itu, Nurhabri mengatakan pelaku tetap ditahan dan akan dikenakan hukuman.”Bapak Kapolda telah menegaskan bahwa bila ada anggota yang terlibat mabuk akan tahan di sel dan apabila terbukti tindak pidana tidak segan-segan untuk di pecat,” ujarnya.(cr-50)

Ditulis oleh Cr-50/Papos
Rabu, 29 April 2009 00:00

OPM Berulah Lagi, 1 TNI Tertembak – Pangdam: Ini Merupakan Pelanggaran HAM

JAYAPURA- Disaat perhatian masyarakat Papua, tertujuh kepada kedatangan pencetus Organisasi Papua Merdeka (OPM), Nicholas Jouwe ke Jayapura , Kota tempat kelahirannya, maka di waktu yang hampir bersamaan dari Puncak Jaya dilaporkan kelompok separatis bersenjata TPN/OPM di sana, justru kembali berulah.

Jika sebelumnya, satu anggota TNI bernama Pratu Saiful Yusuf tewas setelah diterjang peluru dari anggota OPM saat melakukan kegiatan patroli di daerah Tingginambut, Puncak Jaya, maka Senin (23/3) sekitar pukul 05.00 WIT kelompok separatis bersenjata yang diduga kelompoknya Goliat Tabuni kembali menembak satu anggota TNI dari Yonif 754 Timika bernama Pratu Ahmad.

Dalam peristiwa ini, korban kondisinya kritis dan saat ini sedang menjalani perawatan intensif di RS Marthen Indey Jayapura. Dari data yang diperoleh Cenderawasih Pos, korban mengalami luka tembak di bagian dada tembus perut samping kiri serta lengan atas.
Korban merupakan anggota Yonif 754 yang baru saja mengalami pergeseran pasukan (Serpas) dari Timika untuk membantu keamanan jelang Pemilu.

Pangdam XVII/Cenderawasih Mayjen TNI A.Y Nasution mengungkapkan, korban tertembak anggota OPM pimpinan Goliat Tabuni saat melakukan patroli pasca peristiwa tertembaknya Pratu Saiful Yusuf empat hari lalu.

” Yang perlu diingat TNI adalah ksatria pelindung rakyat. Jadi tugas TNI adalah melindungi rakyat. Kalaupun dalam menjalankan tugas melindungi rakyat itu ada anggota TNI yang tertembak, itu sudah menjadi risiko,” ujar Pangdam kepada wartawan usai menjengkuk korban di kamar bedan RS Marthen Indey, Senin (23/3) kemarin.
Dikatakan, perbuatan yang dilakukan OPM itu sudah merupakan pelanggaran HAM berat. Sebab, selain menembaki anggota TNI yang sedang bertugas, mereka juga menembaki warga sipil hingga tewas. Karena mereka ini telah melakukan pelanggaran HAM berat, maka orang yang melanggar itu harus diburu dan dikejar.

Disinggung langkah-langkah apa yang akan diambil, Pangdam enggan berkomentar. Menurutnya, meski sudah ada anggota TNI yang menjadi korban, namun tugas TNI tetap harus melindungi rakyat.

Sekedar diketahui korban sendiri dievakuasi dari Mulia Puncak Jaya dengan menggunakan pesawat Susi Air. Setelah mendarat di Bandara Sentani sekitar pukul 11.50 WIT, korban selanjutnya diangkut dengan menggunakan Hely Puma dan mendarat di Lapangan heliped di Makodam. Selanjutnya korban diangkut menggunakan mobil Ambulance menuju RS Marthen Indey Jayapura. (mud)

Jenazah Korban Penembakan OPM, Dikirim ke Jawa – Polda Kejar Pelaku Penembakan

PUNCAK JAYA – Dua jenazah korban penembakan kelompok OPM di Kali Semen, Puncak Senyum, Distrik Mulia, Kabupaten Puncak Jaya, Provinsi Papua akhirnya diberangkatkan menuju kampung halamannya untuk dikuburkan. Kedua itu adalah Zainal (25) Achmad Solihan (35), diterbangkan dari Bandara Mulia, dengan pesawat Susi Air menuju Bandara Sentani untuk selanjutnya ke Probolinggo dan Jember.

Tampak antusias masyarakat saat hendak menghantarkan jenazah di Bandara Mulia dengan isak tangis yang tidak terbendung lagi. Bahkan Ketua Paguyuban Keluarga Jawa Sunda Madura (PKJSM), Subagyo juga ikut meneteskan air mata. Ia juga meminta kepada Bupati Puncak Jaya untuk menindaklanjuti tindakan yang telah dilakukan kelompok OPM karena telah meresahkan masyarakat. Pihaknya juga mewakili seluruh masyarakat PKJSM berharap agar peristiwa ini yang terakhir dan tidak terulang kembali”Kami meminta kepada pemerintah daerah supaya bisa menindaklanjuti kejadian ini dan kejadian ini yang terakhir, bahkan tidak terjadi lagi sehingga masyarakat di Kabupaten Puncak Jaya khususnya di Kota Mulia bisa merasa aman dalam melakukan semua kegiatannya,”ungkapnya saat dihubungi Cenderawasih Pos melalui ponselnya.

Tak hanya itu, tampak hadir di Bandara Mulia untuk memberangkatkan jenazah, Bupati Puncak Jaya, Lukas Enembe, S.IP, Asisten I, Syamsudin Roma, S.sos, Asisten II, Heri Dosinaen, S.IP, Kapolres Puncak Jaya, AKBP. B Chris Rihulay, Wakapolres, Kompol Drs. Marselis S, Pabung Puncak Jaya, Kapten Inf. Junaid. Bupati Lukas dalam arahan singkatnya mengungkapkan, pihaknya turut berduka cita atas peristiwa tersebut yang telah mengakibatkan 2 orang warga menjadi korban.

Bupati Puncak Jaya, lanjut Enembe, mengatakan pihaknya akan melakukan koordinasi dengan pihak keamanan, baik TNI maupun Polri untuk mencari solusi jalan keluar agar tidak terjadi kejadian yang sama bagi masyarakat. “Saya akan melakukan pertemuan dengan pihak TNI/Polri untuk membicarakan langkah selanjutnya sehingga peristiwa ini tidak bisa dibiarkan lagi, karena telah merugikan pemerintah dan masyarakat. Oleh karena itu, kami akan melakukan yang terbaik bagi daerah ini dan masyarakat ke depannya,”ujarnya.

Sekitar 200 lebih masyarakat dari berbagai kalangan bersama pejabat di lingkungan Pemkab Puncak Jaya mengantarkan jenazah menuju pesawat dan langsung diterbangkan menuju Bandara Sentani. Sekedar diketahui, 4 keluarga ikut menghantarkan jenazah menuju kampung halaman masing-masing dan semuanya dibiaya Pemkab Puncak Jaya.

Sementara itu Kapolda Papua, Irjen Pol Drs FX Bagus Ekodanto menegaskan, pihaknya saat ini berupaya melakukan pengejaran terhadap pelaku penghadangan dan penembakan tersebut.
Kapolda mengakui, ulah kelompok bersenjata ini, telah meresahkan masyarakat di daerah Distrik Mulia dan Distrik Tingginambut, Kabupaten Puncak Jaya, karena masyarakat juga melaporkan bahwa kelompok ini sering melakukan perampasan terhadap hasil bumi atau bahan makanan milik masyarakat, termasuk mengintimidasi masyarakat dengan senjata hasil rampasan tersebut dan beberapa kali dilaporkan juga melakukan pemerkosaan terhadap masyarakat.

Apalagi, laporan dari masyarakat dan pernyataan Bupati Puncak Jaya yang menyebutkan bahwa pelaku penghadangan dan penembakan warga tersebut merupakan tindak pidana.

“Jelas, mereka melakukan tindak pidana, sehingga kami akan lakukan penegakkan hukum terhadap mereka dengan melakukan pengejaran, penangkapan dan proses penegakan hukum lainnya,” tegas Kapolda dihubungi Cenderawasih Pos via telepon selulernya, Rabu (11/3) kemarin.

Soal pernyataan Bupati Puncak Jaya, Lukas Enembe yang akan memberikan mandat kepada TNI dan Polri melakukan pengejaran terhadap pelaku, Kapolda Bagus Ekodanto mengatakan bahwa pihaknya tetap akan melakukan pengejaran dalam upaya penegakan hukum terhadap mereka.

Untuk pengamanan pemilu di Kabupaten Puncak Jaya, Kapolda mengakui akan memberikan perhatian secara khusus, apalagi sudah 4 kali kejadian di Puncak Jaya yang dilakukan kelompok bersenjata, mulai dari penyerangan Pos Polisi Tingginambut dan perampasan senjata milik anggota Pos Pol, penghadangan terhadap anggota polisi yang mengakibatkan 1 orang anggota TPN/OPM pimpinan Goliat Tabuni, yakni Yendenak Wenda berhasil ditembak di pahanya, pencabutan dan pembakaran bendera merah putih dan terakhir penghadangan dan penembakan 4 warga sipil tersebut.

“Jadi, untuk pengamanan pemilu di Puncak Jaya, kami memberikan atensi khusus,” ujarnya.
Kapolda mengakui, pelaku penghadangan dan penembakan 4 warga sipil tersebut, sampai sejauh ini masih simpang siur berapa jumlahnya.

“Pelakunya masih simpang siur. Saksi menyebutkan ada sekitar 10 orang, muka dicorat-coret, termasuk kronologisnya atau realitanya bagaimana? Karena ada yang bilang dicegat di tengah jalan, ada yang ditembaki dari pinggir jalan, masih kami selidiki,” ungkapnya.

Kapolda menyebutkan, pelaku penghadangan dan penembakan tersebut diduga kuat berasal dari kelompok TPN/OPM pimpinan Goliat Tabuni.

“Ya, karena sekarang kita katakan seperti itu karena yang mempunyai senjata adalah kelompoknya Goliat Tabuni. Tapi dibawah itu, apakah dari anak buahnya yang mana kami belum tahu, namun yang jelas bahwa kelompok bersenjata yang beroperasi di daerah itu berasal dari kelompoknya Goliat Tabuni,” ujar jenderal bintang dua asal Malang Jawa Timur ini. (nal/bat)

Kondisi Kota Timika Normal

Kapolda Papua Irjen Polisi FX Bagus Ekodanto didampingi Direskrim Polda Papua Kombes Pol Paulus Waterpauw saat melayat di rumah duka Pasca tewasnya Simon Fader dan bentrok aparat dengan warga di Mapolsek Mimika Baru, Rabu (28/1) kemarin, situasi keamanan di kabupaten Mimika secara umum terkendali dan berangsur-angsur normal, dimana sebelumnya pada hari Minggu (25/1) dan Selasa (27/1) lalu, sempat mencekam.

KONDISI kota Timika sangat mencekam pada, Selasa (27/1) sejak pagi, saat massa long-march dan menyerang Polsek Mimika Baru, membuat sebagian besar warga lainnya memilih tinggal di rumah.
Keramaian agak terlihat di rumah kerabat jenasah Simon Fader yang sampai saat ini masih disemayamkan di Jalan Yos Sudarso depan Kantor Lembaga Pengembangan Masyarakat Amungme dan Kamoro (LPMAK).

Disekitar lokasi ini puluhan anggota Brimob berpakaian baju anti huru hara disiagakan, sementara di halaman rumah duka berdiri tenda besar dan berkumpul kerabat dan keluarga Simon Fader.

Dirreskrim Polda Papua Kombes Pol Paulus Waterpauw kepada wartawan di Kantor Lantas Mimika mengatakan, suasana kota Timika yang sebelumnya tegang berangsur-angsur mulai pulih.

”Situasi di kota Timika sudah berangsur-angsur pulih, kami harapkan agar warga dapat menahan diri agar tidak melakukan tindakan atau aksi yang mengganggu keamanan,” tegas Waterpauw.

Menurut Waterpauw, kasus yang terjadi di Timika membutuhkan penyelidikan dan waktu, sehingga Waterpauw meminta agar percayakan bahwa kasus ini agar dapat diungkap.

“Kasus ini akan ditindak lanjuti dengan mengumpulkan bukti dan penyidikan bersama tim Labfor dari Makassar yang akan membantu mengungkap pelaku penembakan oleh aparat,” ungkapnya.

Sementara itu, Kapolda Papua Irjen Polisi FX Bagus Ekodanto kepada wartawan, menegaskan kondisi Timika pasca bentrok sudah kembali normal. Dan terkait dengan kasus tersebut pihaknya sudah melakukan pertemuan dengan tokoh masyarakat yang mewakil warga Selasa 27/1 malam.

Dalam pertemuan tersebut tokoh masyarakat juga telah sepakat bahwa menjamin tidak ada lagi aksi atau tindakan yang mengatas nama keluarga atau kerabat khususnya masyarakat asal Maluku Tenggara (Key).

Selain itu, menurut Kapolda dalam kesepakatan tersebut, tokoh masyarakat juga meminta agar pelaku penembakan terhadap warga untuk ditangkap dan diproses sesuai hukum.

Kapolda Papua Ekodanto menghimbau agar warga tidak lagi melakukan tindakan atau aksi, bila ada warga atau kelompok yang tetap melakukan aksi maka, itu akan ditindak tegas oleh aparat dan diproses sesuai hukum.

MINTA Diotopsi
Kapolda Papua Irjen Polisi FX Bagus Ekodanto, kepada waratawan, Rabu (28/1) kemarin, meminta kepada keluarga korban agar jenazah Simon Fader untuk dilakukan otopsi.

”Proses otopsi sangat membantu untuk dapat mengungkap kasus terjadinya penembakan terhadap korban. Hasil otopsi dapat menjadi bukti dan kepastian terkait tertembaknya Simon Fader,” tegas Kapolda.

Namun menurut Kapolda, pihak keluarga menolak untuk melakukan otopsi, sehingga pihaknya juga tidak bisa memaksakan. Kapolda menambahkan, bahwa sesuai rencana hari ini (kemarin, red) jenasah Simon Fader akan dikebumikan.

Dari pantauan Papua Pos di rumah duka, tampak beberapa keluarga dekat Simon Fader masih shok dan diliputi suasana duka, dimana isak tangis terdengar dari beberapa kerabat.

Hingga berita ini diterima di meja Redaksi pukul 19.00 WIT menurut laporan wartawan Papua Pos di Timika, jenasah Simon Fader sampai sore kemarin masih disemayamkan di rumah duka. Informasi tentang pemakaman belum didapat kejelasan dari pihak keluarga.(**)

Ditulis Oleh: Husyen/Papos
Kamis, 29 Januari 2009
http://papuapos.com

Pemberitahuan Umum dari Markas Pusat Pertahanan TRPB: Peledakan di Timika

Disampaikan kepada segenap pejuang dan masyarakat bangsa Papua di Tanah Air dan di manapun Anda berada, bahwa terkait dengan sejumlah peledakan yang terjadi di berbagai tempat di Timika sejak beberapa hari lalu hingga belakangan ini maka:

Foto AFP
Foto AFP
  1. Markas Pusat Pertahanan TRPB masih melakukan kontak/ komunikasi menyangkut peristiwa dimaksud karena motif dan tujuan peristiwa dimaksud belum jelas: “Apakah peristiwa ini menuntut Freeport ditutup? Ataukah sekedar menarik perhatian Dubes AS yang ada di Timika pada saat ini?” Silahkan Rujuk ke http://www.kabarpapua.com dan http://www.cenderawasihpos.com dan http://www.papuapos.com.
  2. Dari pihak Polri dengan jelas dan pasti mengatakan ini bukan perbuatan TRPB dan atas perintah OPM. Tetapi ada pihak yang mengkleim sebagai perbuatan TNP/OPM, alias Tentara Nasional Papua Barat. Perlu diketahui bahwa Organisasi Papua Merdeka tidak memiliki sayap militer bernama Tentara Nasional Papua Barat (TNPB), karena Tentara Nasional akan terbentuk sendirinya setelah pemerintahan nasional terbentuk bersamaan dengan kepolisian dan berbagai aparatur pemerintahan nasional lainnya;
  3. Ada sejumlah kesalahan secara administrasi dan organisasi dalam Surat Selebaran yang dikeluarkan, mengatasnamakan Gen. TRPB Kelly Kwalik dimaksud, yang kesalahannya tidak dapat kami tunjukkan dalam pemberitahuan ini, tetapi cukup menunjukkan bukti ada pihak ketiga terlibat aktiv dalam peristiwa-peristiwa ini;
  4. Untuk sementara, dari Mabes Pertahanan Tentara Revolusi Papua Barat, atas nama Panglima Komando Revolusi Tertinggi Papua Barat, kami menghimbau agar masyarakat Papua tinggal tenang dan tidak terpancing oleh isu-isu yang menyesatkan;

Perjuangan Papua Merdeka kini telah memasuki babak dengan strategi yang tidak sama dengan yang sudah terjadi, sehingga biarkanlah NKRI dan musuh bangsa Papua bersandiwara untuk sesuap nasi di Bumi Cenderawasih. Untuk bangsa Papua hendaknya giat dalam membangun dan mempersiapkan diri dengan tenang dan tenteram.

Tindakan sporadis seperti ini telah banyak menyudutkan posisi Tentara Revolusi Papua Barat dan mengorbankan Masyarakat Adat Papua yang tak berdosa. Kami telah banyak belajar dari pengalaman sendiri.

Demikian untuk diketahui,

Dikeluarkan di: Markas Pusat Pertahanan
Tanggal:  14 September 2008
————————————

An. Panglima Komando Revolusi Tertinggi

Sekretaris Jenderal,

Leut Gen. TRPB A. Tabi
————————–

DAP Temui MRP Soal Insiden Wamena

JAYAPURA [CEPOS] – Ketua Majelis Rakyat Papua (MRP), Drs. Agus Alue Alua, M.Th menilai, insiden pengibaran Bintang Kejora (BK) yang berbuntut tertembaknya seorang warga di Wamena, merupakan tindakan menyalahi PP 77 tentang Lambang Daerah yang dikeluarkan Presiden Republik Indonesia.

“Secara tidak langsung aparat yang telah menembak itu menyalahi arahan dari Presiden, dimana penegakkan PP 77 haruslah dengan cara persuasif,” ungkapnya di depan wartawan menanggapi surat yang diberikan Dewan Adat Papua (DAP) memakai dasar hukum PP 77 sebagai pijakan tuntutannya di kantornya, Selasa (2/9) kemarin.Menurutnya, BK yang sudah sebanyak kurang lebih dari 10 kali, ini mengandung arti bahwa PP 77 itu ada masalah. Seringnya proses penangkapan hingga pengadilan terhadap orang-orang yang mengibarkan bendera ini. “Semua itu belum bisa diselesaikan pendekatan masalah adanya PP 77, artinya bahwa pengibaran itu akan tetap menjadi masalah Papua, sehingga diperlukan solusi baru terhadapnya,” tandasnya.Mengenai pertemuan MRP dengan DAP kemarin, Agus menjelaskan, bahwa pihak DAP telah mencantumkan dalam surat penundaaan pemeriksaan dengan melampiri persyaratan yang harus dipenuhi Kapolda saat memeriksa mereka. “DAP minta adanya dukungan dari MRP tentang posisi mereka dalam kasus tersebut,” tambahnya.

Dijelaskan, sekarang ini bukan posisi MRP itu mendukung atau menolak dengan apa yang dilakukan DAP. “Akan tetapi MRP hanya memberikan surat bahwa adanya penuntasan kasus tersebut dengan secepatnya, dengan memisahkan kasus per kasusnya,” lanjutnya.

Agus berpendapat, kasus penembakan dengan kasus pengibaran bendera itu sangat berbeda dan haruslah dipisahkan. Pihaknya akan memberi surat kepada pihak Polda untuk dapat memisahkan kedua kasus tersebut.

Sementara itu, Ketua Dewan Adat Papua (DAP) Forkorus Yoboisembut didampingi beberapa anggota DAP menyatakan, menolak adanya pemeriksaan lanjutan yang sedang dilakukan Polda Papua sebelum polisi berhasil mengungkap pelaku penembakan Opinus Tabuni dan persyaratan lainnya. “Ini berdasarkan keputusan dari rapat kami dengan perwakilan anggota DAP lainnya,” ungkapnya saat ditemui di gedung MRP.

Dijelaskan, dalam hasil rapat tersebut mengeluarkan keputusan bahwa pihaknya menolak adanya proses penyelidikan oleh pihak berwajib dengan mengeluarkan surat penundaaan pemeriksanaan ke Polda Papua sampai dengan orang yang membunuh dan motifnya serta latar belakang apa saja terungkap itu disampaikan kepada DAP.

Menurutnya, pengibaran bendera tersebut bukanlah tindakan dosa, yang berdosa adalah membunuh orang dilihat dari segi norma iman dan norma kemanusian serta norma hak asasi manusia (HAM). “Di dalam hal ini, kami merasa tidak bersalah sama sekali, bila dibandingkan membunuh orang,” lanjutnya.

Ditambahkan, pemeriksaan itu tidak sah karena pihaknya tanggal 9 Juli 2008 merayakan perayaan hari pribumi sedunia, dan polisi memenuhi syarat seperti sebelum polisi akan memeriksa harus ada 2 pengacara sekaligus, satu dari nasional dan satunya pengacara internasional yang berperan menjelaskan dan memberikan nasihat mengenai hari internasional tersebut. “Karena kami berdiri disaat perayaan internasional maka pihak polisi harus lakukan seperti itu,” tegasnya.

Selanjutnya, sebagai tindakan adil setelah polisi ini mengungkapnya kepada publik siapa pembunuhnya dan syarat-syarat tersebut, maka pihaknya akan menanyakan kepada masyarakat siapa yang mengibarkan bendera 44 atau BK itu. (ind)

Cenderawasih Pos, Edisi : 03 September 2008 | 04:44:28

Segera Umumkan Penembak Opinus Tabuni

Demo Menuntut Ungkap Pembunuh Otinus Tabuni (SP Daily)
Demo Menuntut Ungkap Pembunuh Otinus Tabuni (SP Daily)
SP/Robert Isidorus Vanwi

Sekitar 100 orang yang tergabung dalam Koalisi Mahasiswa dan Masyarakat Peduli Tanah Papua berunjuk rasa di Kota Jayapura, Jumat (22/8). Mereka mendesak segera diumumkan pelaku penembakan Opinus Tabuni saat perayaan Hari Pribumi Internasional di Wamena, Jayawijaya, Papua, 9 Agustus 2008.

[JAYAPURA] Koalisi Mahasiswa dan Masya- rakat Peduli Tanah Papua (KMMPTP) meminta United Nations Development Programme (UNDP) mendesak Kepolisian Daerah (Polda) Papua segera mengumumkan pelaku penembakan Opinus Tabuni saat perayaan Hari Pribumi Internasional di Wamena, Kabupaten Jayawijaya, 9 Agustus lalu.

Polda Papua diminta segera menghentikan pemeriksaan terhadap pimpinan Dewan Adat Papua (DAP) terkait pengibaran bendera bintang kejora dalam peringatan Hari Pribumi Internasional tersebut. Pemeriksaan harus ditunda sampai ada tim pendamping dari Komisi Hak Asasi Manusia (HAM) Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB). Sebab, peristiwa penembakan menodai Deklarasi PBB 13 September 2007 tentang Perlindungan Bangsa Pribumi Internasional (United Nations Declaration on the Rights Indigenous Peoples).

Sekretaris Jenderal KMMPTP Markus Haluk mengemukakan hal itu dalam dialog dengan Dewan Perwakilan Rakyat Papua (DPRP) di Jayapura, Jumat (22/8) mewakili sekitar 100 pengunjuk rasa yang menuntut pengusutan kematian Tabumi.

Menurut Markus, Pemerintah Provinsi Papua, Majelis Rakyat Papua (MRP), DPRP, dan De- wan Perwakilan Daerah (DPRD) supaya terlibat langsung dalam penyelesaian kasus penembakan Tabumi. Jangan membiarkan rakyat asli Papua terus menjadi korban akibat tindakan kekerasan dari aparat keamanan. Sebab, sejak integrasi tanggal 1 Mei 1963 hingga sekarang pelanggaran HAM di Tanah Papua semakin meningkat dalam segala bidang kehidupan.

Nasib Sendiri

Diungkapkan dari Deklarasi PBB tentang Perlindungan Bangsa Pribumi Internasional sebanyak 46 Pasal tersebut, Pasal 3 menyatakan masyarakat adat berhak menentukan nasib sendiri. Atas itu, mereka juga berhak menentukan status politik mereka dan secara bebas memacu pengembangan ekonomi sosial budaya. Karena itu, dalam pelaksanaan Undang-Undang Nomor 21 Tahun 2001 tentang Otonomi Khusus bagi Provinsi Papua harus memberikan ruang yang luas bagi upaya melindungi masyarakat asli di Tanah Papua.

Ketua Komisi F DPRP, Weynand Watori dalam pertemuan dengan pengunjuk rasa dari KMMPTP, berjanji akan menuntaskan kasus penembakan Tabuni. [154]

Last modified: 23/8/08

Up ↑

Wantok COFFEE

Organic Arabica - Papua Single Origins

MAMA Minimart

MAMA Stap, na Yumi Stap!

PT Kimarek Aruwam Agorik

Just another WordPress.com site

Wantok Coffee News

Melanesia Foods and Beverages News

Perempuan Papua

Melahirkan, Merawat dan Menyambut

UUDS ULMWP

for a Free and Independent West Papua

UUDS ULMWP 2020

Memagari untuk Membebaskan Tanah dan Bangsa Papua!

Melanesia Spirit & Nature News

Promoting the Melanesian Way Conservation

Kotokay

The Roof of the Melanesian Elders

Eight Plus One Ministry

To Spread the Gospel, from Melanesia to Indonesia!

Koteka

This is My Origin and My Destiny