Markas OPM Tanah Hitam Digerebek, 1 Tewas

Mayat Miron Wetipo yang tewas tertembak di leher sesaat jenazahnya akan dimasukkan ke kantong jenazah untuk dievakuasi ke RS Bhayangkara.Jayapura- Upaya untuk mengungkap penembakan misteri di tanjakan Kampung Nafri oleh Polresta Jayapura yang dibakap aparat TNI dari Korem 172/PWY, POMDAM XVII/Trikora maupun dari Yonif 751/BS, tampaknya tidak sia-sia. Terbukti, sebuah rumah yang diduga digunakan sebagai markas para pelaku yang diidentifikasi dari kelompok TPN/OPM pimpinan DK (Dhani Kogoya), Kamis (2/12) sekitar pukul 02.00 WIT digerebek aparat. Dari markas yang terletak di Kompleks Perumahan BTN Atas Puskopad Tanah Hitam, aparat berhasil menyita sejumlah amunisi jenis SS 1 dan dokumen-dokumen terkait penyerangan di Nafri maupun dokumen rencana operasi kelompok tersebut. Kapolresta Jayapura AKBP Imam Setiawan,SIK saat ditemui wartawan disela-sela proses penggeledahan dan pengidentifikasian Markas TPN/OPM tersebut mengatakan dari penggerebekan markas TPN/OPM tersebut, aparat gabungan TNI/Polri berhasil mengamankan 9 orang yang dibawa ke Polresta Jayapura.

“Bahwa tadi malam saya melakukan penggerebekan dan ditemukan beberapa amunisi dan delapan orang. Delapan orang ini sedang dalam pendalaman di Polresta,” ungkapnya Jumat (3/11).

Pada Jumat (3/12) pagi harinya, saat kembali melakukan penggeledahan, menurut Kapolres ditemukan amunisi dan dokumen TPN/OPM. “Tadi pagi kita melakukan pengembangan dari yang tadi malam. Dan ternyata tadi pagi kita menemukan lagi dua kotak amunisi jenis SS 1 ditambah dokumen-dokumen dari gerakan OPM,” lanjutnya.

Dalam dokumen yang ditemukan aparat di markas yang sering dipakai sebagai tempat ibadah tersebut, menurutnya terdapat catatan bahwa tanggal 28 November peristiwa penembakan di Nafri bagian dari operasinya. “Saya sudah bilang kita akan terus mengejar,” tandasnya.
Sementara jenis amunisi yang ditemukan adalah caliber 5,56 40 butir, caliber 12 1 butir, kalibar 7,62 1 butir dan barang bukti lain berupa stempel dan cap TON/OPM serta dokumen terkait penyerangan terhadap TNI/Polri. Menurut Kapolres sejumlah barang bukti ini ditemukan di bawah tanah dengan menggunakan alat pendeteksi sinal laser (light detector). “Pada saat penggeledahan tadi, pasukan gabungan tiba-tiba diserang lima orang tidak dikenal dengan menggunakan berbagai jenis senjata.

Anggota sudah memberikan peringatan agar tidak melakukan perlawanan, dan pada saat yang genting anggota gabungan akhirnya mengeluarkan tembakan dan satu orang tewas atas nama Miron Wetipo, dan satu orang ditangkap atas nama Jack Mabel,” paparnya.

Sementara, masih menurut Kapolres bahwa tiga orang yang melakukan penyerangan kepada parat berhasil lari dan aparat masih masih berupaya melakukan pengejaran. “Rupanya kelima orang tadi adalah napi yang melarikan diri tadi pagi. Mereka kemungkinan ke rumah itu mau mengambil peluru dan bertemu dengan kita,” jelasnya.

Dalam dokumen yang ditemukan di markas OPM pimpinan DK yang masih dalam pengejaran tersebut, yang mengejutkan bahwa menurut Kapolres juga ada rencana operasi di wilayah Waena. “Dalam dokumen yang ditemukan juga terdapat rencana penyerangan di tempat lain yang salah satunya di Buper,” jelasnya.

Operasi yang tergolong cukup berhasil tersebut menurut Kapolres adalah dari kerjasama tim gabungan TNI/Polri. “Terdiri dari Satgas Korem yang di BKO kan di Polres Jayapura. Mereka di sini mulai bekerja sejak kasus Nafri, sampai sekarang yang merupakan pengembangan dari kasus Nafri,” ujarnya.

Komnas HAM Tolak Pembunuhan Terhadap Miron Wetipo
Sementara itu, tewasnya warga sipil Miron Wetipo yang tertembak mati ketika digelar operasi gabungan TNI-Polri di Abepura Gunung Jumat (3/12) yang hingga kini belum jelas alasannya, ditanggapi pihak Komnas HAM Papua. “Sesuai mandat dan tugas Komnas HAM kami menolak perilaku kekerasan dan pembunuhan di luar prosedur hukum nasional yang berlaku. Stop kekerasan dan hormatilah HAM bagi semua. Setiap orang mempunya hak untuk hidup dan berkarya diatas Tanah Papua.

Demikian disampaikan Wakil Ketua Komnas HAM Perwakilan Papua Mathius Murib kepada Bintang Papua di Jayapura, Jumat (3/12) malam. (aj/mdc/don/03)

Ruang Gerak Penembak Misterius, Dipersempit

Jayapura- Tak mudah mengungkap pelaku penembakan misterius di Nafri. Terbukti hingga tiga hari pasca penembakan yang menewaskan satu orang dan melukai 4 warga lainnya, siapa pelakunya belum belum juga tertengkap.Meski demikian, jajaran Kepolisian dari Polresta Jayapura dibantu pihak TNI dari Kodam XVII/Cendrawasih terus melakukan upaya penyisiran dan razia guna mempersempit ruang gerak para pelaku. Sayangnya, hingga hari ketiga ini, Polisi belum menemukan titik terang terkait keberadaan mereka.
Adanya informasi dua warga diamankan yang diduga bagian dari pelaku penembakan, Kapolresta Jayapura AKBP H. Imam Setiawan SiK enggan berkomentar lebih jauh. “Ini masih dalam tahap penyelidikan, kita belum bisa mengatakan mereka ini terlibat atau tidak” ungkap Kapolresta ketika ditemui wartawan di ruang kerjanya, Selasa (30/11) kemarin.Diakui, saat ini fokus kepolisian tidak hanya pada upaya pengungkapan kasus penembakan, tapi juga bagaimana menormalkan kembali kehidupan masyarakat yang sempat terganggu.

“Oleh karena itu saya mengajak kepada semua masyarakat, mari bekerja sama bahu membahu untuk menciptakan rasa aman dengan cara rajin memberikan informasi kepada Polisi, baik yang di Pos POL di Yanmo maupun di Polres. Masyarakat jangan apatis, bila menemukan hal hal yang mencurigakan silahkan lapor kepada kami. Tidak perlu takut, kami akan menjamin kerahasiaan dan keamanan yang melapor,” harap Kapolresta.Sementara itu, dalam rangka pengamanan jelang perayaan 1 Desember aparat Kepolisian menyiagakan 700 personil gabungan dari Polresta, Polda Papua dan Satuan Brimob ditambah 100 personil dari Kodam XVII/Cenderawasih.

Dari Razia yang dilakukan di beberapa titik selama dua hari, Polisi menyita 13 senjata tajam seperti kapak, badik, pisau juga panah. Terkait hal ini, Kapolresta menambahkan, pemilik sajam dikenakan UU Darurat no.12 tahun 1951 tentang kepemilikan senjata tajam dan bahan peledak. (ar/don03)

1 Desember, Fokus di Makam Theys

Peringatan 1 Desember (hari ini) dipastikan oleh DAP tanpa pengibaran bendera Bintang Kejora namun hanya akan diisi dengan ibadah dan orasi politik dari semua perwakilan DAP di makam Theys Eluay di Sentani. Tampak suasana makam Theys H Eluay beberapa waktu lalu yang akan dipadati ribuan masa hari ini.Sentani- Tepat hari ini 1 Desember 2010, selain diperingati sebagai hari AIDS se-dunia, tapi juga oleh sebagian rakyat Papua dirayakan sebagai suatu hari ‘keramat’ yaitu hari kemerdekaan bangsa Papua. Karena itu, setiap 1 Desember dilakukan berbagai agenda kegiatan oleh masyarakat, bahkan tidak jarang diwarnai pengibaran bendera bintang kejora (BK).

Lantas apa saja kegiatan masyarakat Adat Papua hari ini memperingati 1 Desember? Ketua Umum Dewan Adat Papua, ( DAP) Forkorus Yoboisembut telah menyerukan pada seluruh bangsa Papua pada hari besar peringatan 1 Desember tidak dibenarkan mengibarkan Bintang Kejora, namun lebih menfokuskan diri pada ibadah bersama dan agenda lainnya, yaitu mendengar orasi politik, juga mengadakan jumpa pers yang semuanya akan di gelar di lapangan lokasi Makam Theys Hiyo Eluay, tokoh aktifis Papua, yang di makamkan di lapangan, tepat depan jalan menuju bandara Sentani. “ Jika tidak hujan semua terfokus di satu titik yaitu makam Theys, tapi jika cuaca kurang mendukung, perayaan ibadah akan tetap di laksanakan, namun di gedung-gedung wilayah masing-masing,”katanya.

Forkorus kembali mengingatkan bahwa dalam peringatan 1 Desember ini tidak ada pengibaran bendara bintang Kejora di seluruh penjuru tanah Papua.

“ Saya sudah menyerukan pada semua pimpinan-pimpinan DAP di daerah, baik itu di perbatasan Timur, Barat, Selatan , Pegunungan dan perbatasan utara,” ungkap Forkorus kepada Bintang Papua via teleppn selularnya Selasa 30/11) kemarin.
Selain menyurakan agar seluruh masyarakat bangsa papua tidak kibarkan BK, Forkorus juga meminta seluruh masyarakat untuk tidak takut pada pernyataan TNI/Polri yang sebelumnya telah mempublikasikan akan mengerahkan ratusan personil untuk menjaga keamanan pada puncak kegaiatan 1 Desember.

“ Jangan takut, tugas TNI/Polri adalah menjaga keamanan dan ketertiban serta tugas kita adalah merayakan hari besar kita dengan menggelar ibadah bersama dengan tertib, jadi tetap lah berkumpul selama kita benar, jangan pernah merasa takut,” himbaunya pada seluruh bangasa Papua yang sebelumnya merasa khawatir atas pengamanan yang akan di lakukan aparat TNI/Polri pada hari H nya.

Ditambahkan, jika dalam agenda kegaitan 1 Desember, selain memberikan kesempatan pada setiap pimpinan DAP di berbagai wilayah di Tanah Papua untuk menyampaikan orasi politiknya, kegiatana ini akan diawali dengan menggelar ibadah bersama, dan juga jumpa pers. “Dari DAP akan mengakomodir semua pimpinan- wilayah untuk menyampaikan orasi politiknya ,” kata Forkorus.

Disinggung mengenai orasi politik yang akan di sampaikan oleh Ketua Umum DAP, Forkorus mengatakan, akan berorasi terkait landasan ilmiah dari DAP, karena menurutnya hukum apa pun semua akan kembali pada hak azasi manusia untuk menyampaikan pendapat juga pikirannya.(as/don/03)

TNI Grebek Rumah Tokoh Organisasi Papua Merdeka di Keerom

TEMPO Interaktif, Jayapura – Anggota Tentara Nasional Indonesia menggerebek sebuah rumah milik tokoh Organisasi Papua Merdeka, Lamberth Paikikir, di Arso, Kabupaten Keerom, Jumat dini hari (26/11) tadi. Kodam XVII/Cenderawasih menyatakan, penggerebekan tersebut belum bisa dipastikan, namun harus diverifikasi kembali.

“Saya sudah dapat info itu, tapi nantilah, saya cek dulu kebenarannya sehingga tidak terjadi salah penulisan berita,” kata Kepala Penerangan Kodam XVII/Cenderawasih, Letkol Czi. Harry Priyatna, Jumat (26/11).

Sebelumnya istri Lamberth Paikikir membenarkan jika telah terjadi penangkapan oleh tentara terhadap suaminya. Penangkapan tersebut terjadi dinihari tadi. Warga lain di Arso menyebut, penggerebekan itu bisa saja benar. “Ada tentara yang datang pegang senjata. Tapi kurang tahu apa ada penggerebekan atau tidak,” kata Gode, warga Arso.

Sementara itu, Kepala Kepolisian Sektor Arso Kota, AKP. Yoseph Goran mengatakan belum mengetahui penangkapan tersebut. “Saya bahkan belum dapat informasinya, nanti saya cek dulu,” ujarnya.

Hingga laporan ini diturunkan, Kodam XVII/Cenderawasih belum memastikan berapa banyak orang tertangkap dalam penggerebekan tersebut dan apakah penggerebekan benar terjadi seperti disebut sejumlah saksi. Kodam XVII/Cenderawasih belum bersedia menyimpulkan apakah terjadi perlawanan saat penangkapan atau tidak.

Jum’at, 26 November 2010 | 10:21 WIB
TEMPO/Wahyu Setiawan

Diduga Lindungi OPM, Rumah Warga Digeledah TNI

JAYAPURA – Satu kompi aparat TNI dari Kostrad 330, dini hari tadi, menggeledah rumah salah satu warga kampung Workwana, Distrik Arso, Kabupaten Keerom, Kota Jayapura, Papua.

Penggeladahan rumah milik Lukas Menigir ini dilakukan karena warga Kabupaten Keerom tersebut dilaporkan melindungi salah satu dari anggota DNPB (Dalam negeri Papua Barat) atau yang lebih dikenal dengan sebutan TPN/OPM yaitu Lambert Pekikir.

Namun, penggeledahan yang berlangsung selama kurang lebih satu jam, mulai pukul 04.30 sampai pukul 05.30 WIT ini sama sekali tak membuahkan hasil.

Karena sebetulnya, Lambert Pekikir yang tak lain adalah Panglima TPN/OPM wilayah Kabupaten Keerom, tak berada di rumah Lukas Menigir seperti yang dilaporkan selama ini.

Tak ada kerusakan yang dilakukan aparat pasca-penggeledahan tersebut, namun warga sekitar mengaku trauma dengan penggeledahan yang dianggap semena-mena itu.

“Kita minta untuk diberikan jaminan perlindungan keamanan, karena sebagai warga kita merasa terancam dengan kecurigaan para aparat, “ ujar Lukas di Jayapura, Jumat (26/11/2010).

Sementara itu, pihak TNI belum mau memberikan keterangan kepada media terkait dengan penggeledahan tersebut. (teb)

Jum’at, 26 November 2010 – 15:05 wib
Nurlina Umasugi – Okezone

Cari Tokoh OPM, TNI Geledah Rumah Warga

Jayapura—Dini hari (26/11), Warga di sekitar Kampung Workwana Arso, dikejutkan dengan aksi dari Satgas 303 Kostrad yang menggledah tiga rumah warga di tengah malam.

Aksi pengeledahan itu diduga untuk menangkap Lamber Pekikir, salah satu tokoh OPM yang beroperasi di wilayah perbatasan Arso.

Dari data yang dihimpun Bintang Papua melalui sumber terpercaya, sekitar pukul 01.00 Wit puluhan anggota TNI dari Satgas 303 Kostrad, mendatangi kediaman Randukir salah satu warga yang bermukim di kampung workwana.

Para satgas tersebut meminta Randukir untuk menunjukkan alamat Kepala Kampung Workwana, satu keluarga pun digiring anggota untuk menunjukkan kediaman kepala kampung.

Sesampainya di alamat yang dituju, ternyata disana telah ada belasan anggota yang sudah mengepung rumah kepala kampung yang saat itu tidak berada di kediamannya, aksi satgas di tengah keheningan malam, menarik perhatian tetangga di sekitaran kediaman kepala kampung. “Tengah malam mereka gedor-gedor pintu rumah, sambil berteriak dan membuat kegaduhan, lalu istri dan anak kepala kampung keluar rumah, trus bilang kalau kepala kampung tidak di rumah, ada tidur dibalai kampung, mereka tidak percaya, lalu masuk di rumah geledah cari paksa kepala kampung, setelah itu paksa kami lagi minta diantar ketemu kepala kampung, yang saat itu lagi tidur dibalai kampung,” ujar sumber kepada Bintang Papua melalui telp selularnya sembari meminat agar namanya tidak dikorankan.

Pukul 03.30 Wit, satgas menggiring dua keluarga untuk diantar ke kepala kampung yag saat itu tengah beristirahat di balai kampung Workwana,setelah berhasil menemui kepala kampung, satgas meminta diantar kekediaman mertua Lamber Pekikir.

“ Mereka datang kasi bangun saya, minta di kasi tunjuk rumah Lamber Pekiki, tapi saya bilang cuma ada rumah mertuanya saja, jam 04.00 Wit, mereka paksa saya juga yang lainnya untuk antar lagi ke rumah Lukas (Mertua Lamber),” ungkap kepala kampung Gasper Tafor yang merasa tidak dihargai dengan baik oleh apatar satgas 303 Kostrad.

Sesampai di kediaman Lukas ( mertua lamber), anggota satgas kembali membuat kericuhan, sekalipun sudah diterangkan kepada anggota bila Lamber sudah lama tidak tinggal di rumah mertuanya, namun anggota kostrad itu tetap ngotot dan memaksa masuk. Dengan paksa, anggota mendobrak pintu kamar dimana saat itu istri lamber tengah tertidur.

Karena tidak menemukan Lmber dalam kamar, anggota menggeledah lemari pakaian dan merobek kelambu juga lemari plastic milik istir Lamber.

Sementara itu Juru Bicara Kodam XVII Cenderawasih, Papua, Letkol Czi Harry Priyatna ketika dikonfirmasi wartawan mengatakan, pengepungan rumah dilakukan berdasarkan laporan dari warga, bahwa aktivis kelompok bersenjata sedang berada di rumah itu.

Lantas dilakukan penggeledahan. ‘’Kami melakukan penggeledahan, setelah mendapat info dari warga, bahwa Lambertus Pekikir dan pengikutnya sedang berada di rumah warga yang ternyata belakang diketahui rumah mertuanya. Tentu, karena ia adalah aktivis kelompok bersenjata, kita langsung menindaklanjuti laporan tersebut,’’ katanya sebagaimana dilansir media online vivanews.com.

Menurut Harry, proses penggeledahan dilakukan sesuai prosedur dengan terlebih dulu melapor kepada kepala kampung setempat.

Ia juga membantah bila yang melakukan penggeledahan sebanyak 1 kompi. ‘’Anggota yang menggeledah hanya yang sedang berpatroli,’’ katanya.

Intensitas razia dan sejenisnya di wilayah Papua kemungkinan akan terus meningkat terutama menjelang 1 Desember, yang diyakini sebagai hari ulang tahun kemerdekaan Bangsa Papua Barat.(as/don/don)
http://www.bintangpapua.com/index.php?option=com_content&view=article&id=8868%3Acari-tokoh-opm-tni-geledah-rumah-warga&catid=25%3Aheadline&Itemid=96

Komnas HAM Papua : Terdakwa Kasus Tingginambut Akan Jadi Pahlawan

JUBI — Komisi Nasional Hak Asasi Manusia Papua di Jayapura, memperediksi empat terdakwa yang terlibat dalam kasus video penganiayaan dan kekerasan terhadap warga di Distrik Tingginambut, Kabupaten Puncak Jaya, akan naik pangkat dan jadi pahlawan setelah disidang dan menjalani hukuman. SUMBER

“Kami sudah prediksi mereka akan diberi hukuman yang ringan. Persindangan ini sama dengan sidang militer kasus pembunuhan tokoh Papua, Theys Hiyo Eluay. Kami tidak kaget dengan putusan ringan itu karena para terdakwa akan jadi pahlawan,” kata Wakil Ketua Komnas HAM Papua di Jayapura, Matius Murib kepada JUBI, Rabu (10/11).

Menurut Murib, pelaku pembunuhan terhadap Almarhum Theys Eluay sejak itu diberi hukuman ringan. Seusai menajalani hukuman pangkatnya dinaikan.

Empat terdakwa yang melakukan penganiayaan dan kekerasan terhadap warga di Tingginambut juga akan mengalami hal yang sama yakni naik pangkat setelah menjalani hukuman.

Bagi dia, pihak TNI menilai kasus tersebut tidak melanggar Hak Asasi Manusia dan sama sekali tak ada hubungannya. “Mereka menilai masalah ini bukan kasus pelanggaran HAM tapi merupakan masalah internal TNI yakni tak menjalankan perintah yang diturunkan oleh pucuk pimpinan. Padahal jelas-jelas sudah melanggar HAM.”

Lanjut Murib, pihaknya tak bisa berbuat banyak karena wilayah tersebut bukan merupakan wilayah hukum Komnas HAM Papua. “Kita tidak bisa ngotot dan tuntut banyak karena bukan wilayah hukum kita.”

Dia mengatakan, pihak TNI menjatuhkan hukuman ringan karena mereka menilai Tentara Pembebasan Nasional Organisasi Papua Merdeka adalah kelompok pemberontak dan melawan negara. Kelompok tesebut yang dianiaya dan siksa sehingga dianggap sebagai hal yang biasa. “Bagi prospektif mereka hal ini wajar dilakukan karena mereka lawan Negara,” ujar Murib.

Oditur Militer III-19 Kodam XVII/Cenderawasih, Jayapura, Selasa (9/11) menutut terdakwa, Letnan dua (Letda) infantri Kosmos ditahan selama empat bulan penjara di potong masa tahanan. Sementara tiga terdakwa lainnya yakni Praka Syaiminan Lubis, Prada Joko Sulistiono, Prada Dwi Purwanto masing-masing dituntut tiga bulan penjara.

Terdakwa dituntut karena tampak dalam video mereka memukul dan menendang beberapa warga di Tingginambut, Puncak Jaya. Video penganiayaan dan kekerasan terhadap warga di Tingginambut, Papua beredar melalui situs You Tube. Tak hanya itu, video tersebut juga ditanyangkan di TV, Metro TV dan TV One. (Musa Abubar)

oleh Richson Aruman pada 11 November 2010 jam 14:28

Mahasiswa Tuntut Menkopolhukan Telusuri Video Kekerasan di Puncak Jaya

Mahasiswa Pendemo
Mahasiswa Pendemo

JUBI — Mahasiswa Papua di Jakarta, Selasa (26/10) menggelar unjuk rasa menuntut Menko Polhukam menelusuri video kekerasan yang diduga dilakukan oleh Tentara terhadap warga di Tingginambut, Puncak Jaya, Papua.

Mahasiswa juga meminta Menkopolhukam menangani sejumlah kasus pelanggaran HAM yang terjadi di Papua. “Aksi ini kami lakukan dengan tujuan meminta kepada Menkopolhukam agar menelusuri kasus pelanggaran yang berulang kali terjadi di Papua, khususnya di Tingginambut,” ujar Melianus Sol, aktivis Papua kepada JUBI, Selasa.

Pendemo berorasi didua tempat yakni di Bundaran HI dan Monas di Jakarta Pusat. Masa mencapai kurang lebih 800 orang. “Hampir sebagian besar mahasiswa Papua yang kuliah di Jakarta semua turun jalan,” ungkapnya.

Video penyiksaan tentara yang dipublikasikan sebuah lembaga yang menamakan dirinya Asian Human Rights Commission diklaim terjadi pada Oktober 2010 di kawasan Tingginambut, Puncak Jaya, Papua.

Selama 22 jam, video yang menggambarkan kekerasan itu beredar di situs YouTube, Senin (18/10) kemarin. (Musa Abubar)

TNI Akui Kebenaran Video Papua

Cuplikan rekaman penyiksaan yang dialami satu warga Papua yang dituduh sebagai anggota OPM. Video yang disebarluaskan melalui situs Youtube ini dilansir oleh lembaga Asian Human Rights Commission.
Cuplikan rekaman penyiksaan yang dialami satu warga Papua yang dituduh sebagai anggota OPM. Video yang disebarluaskan melalui situs Youtube ini dilansir oleh lembaga Asian Human Rights Commission.
JAKARTA, KOMPAS.com — Tentara Nasional Indonesia mengakui kebenaran isi video kekerasan berjudul “Indonesia Military Ill-Treat and Torture Indigenous Papua” yang ditayangkan YouTube sejak Sabtu lalu.

Konfirmasi kebenaran ini disampaikan Menteri Koordinator Politik, Hukum, dan Keamanan Djoko Suyanto kepada para wartawan, Jumat (22/10/2010) di Kantor Presiden, Jakarta, setelah diadakan penyelidikan oleh TNI, Kementerian Pertahanan, dan Kemenko Polhukam.

“Ada tindakan prajurit di lapangan yang berlebihan,” ujar Djoko, didampingi Menteri Pertahanan Purnomo Yusgiantoro dan Panglima TNI Laksamana Agus Suhartono.

Ketiganya, dan juga menteri terkait lainnya, dipanggil Presiden Susilo Bambang Yudhoyono ke Kantor Presiden guna membicarakan soal video yang ditayangkan sejak Sabtu lalu. Djoko mengatakan, berdasarkan laporan awal, korban yang berada di video tersebut diduga adalah pelaku penembakan karyawan perusahaan yang berada di Papua, seperti Freeport Indonesia.

Korban juga diduga pelaku instabilitas keamanan di Papua. Ketika ditanya soal identitas pelaku, Djoko enggan mengatakan. Mantan Panglima TNI ini hanya mengatakan, penyelidikan saat ini terus dilangsungkan.

Saat ini, sudah ada tim khusus yang menyelidiki kasus ini. Sebelumnya, Kamis kemarin, Ketua Komisi Nasional Hak Asasi Manusia Ifdhal Kasim mengatakan, video tersebut benar. Diperkirakan, video direkam pada 12 April. Sementara korban kekerasan diduga bernama Kindeman Gire, pendeta sebuah gereja di Desa Hurage. Korban saat ini diperkirakan sudah meninggal.

Kompas.com, Hindra Liu | Glori K. Wadrianto | Jumat, 22 Oktober 2010 | 12:30 WIB

Buntut Video Penyiksaan TNI Djoko Bantah Operasi Militer di Papua

Salah satu cuplikan adegan penyiksaan terhadap seorang warga Papua yang diduga terlibat dalam Organisasi Papua Merdeka (OPM).
Salah satu cuplikan adegan penyiksaan terhadap seorang warga Papua yang diduga terlibat dalam Organisasi Papua Merdeka (OPM).
JAKARTA, KOMPAS.com — Menteri Koordinator Politik, Hukum, dan Keamanan Djoko Suyanto membantah bahwa pemerintah telah melakukan operasi militer diam-diam di Papua sejak tahun 2004, seperti yang disampaikan Komisi Nasional Hak Asasi Manusia.

“Tidak benar seolah negara masih lakukan operasi militer,” kata Djoko kepada para wartawan di Kantor Presiden, Jakarta, Jumat (22/10/2010).

Didampingi Menteri Pertahanan Purnomo Yusgiantoro dan Panglima TNI Laksamana Agus Suhartono, Djoko mengakui kebenaran video kekerasan berjudul “Indonesia Military Ill-Treat and Torture Indigenous Papuans” yang ditayangkan YouTube sejak Sabtu lalu.

Ditekankan Djoko, pemerintah menekankan pendekatan kebijakan ekonomi dan kesejahteraan rakyat dalam mengelola Papua dan Nanggroe Aceh Darussalam. Ke depan, Djoko mengatakan, perlu pembekalan kepada para prajurit TNI soal tugas mereka di Papua.

“Perlu ditekankan, fokusnya adalah bagaimana keberadaan mereka di sana dapat memberikan manfaat bagi masyarakat sekitar, bukan malah menimbulkan rasa antipati masyarakat terhadap TNI. Jadi, TNI bisa membangun desa, menjadi guru, membangun kampung,” kata Djoko.

Ketua Komnas HAM Ifhdal Kasim mengatakan, peristiwa penyiksaan yang termuat dalam video tersebut bukan terjadi satu atau dua kali. Berdasarkan catatan Komnas HAM, pada 2010, ada 11 kasus kekerasan di Puncak Jaya. “Memang ada pelanggaran hak asasi manusia di sana semenjak penambahan pasukan tersebut, yaitu penyiksaan, pembunuhan, penangkapan, dan pengusiran secara paksa,” katanya.

Kompas.com, Hindra Liu | Glori K. Wadrianto | Jumat, 22 Oktober 2010 | 12:48 WIB

Up ↑

Wantok Coffee

Melanesia Single Origin Coffee

MAMA Minimart

MAMA Stap, na Yumi Stap!

PT Kimarek Aruwam Agorik

Just another WordPress.com site

Wantok Coffee News

Melanesia Foods and Beverages News

Perempuan Papua

Melahirkan, Merawat dan Menyambut

UUDS ULMWP

for a Free and Independent West Papua

UUDS ULMWP 2020

Memagari untuk Membebaskan Tanah dan Bangsa Papua!

Melanesia Spirit & Nature News

Promoting the Melanesian Way Conservation

Kotokay

The Roof of the Melanesian Elders

Eight Plus One Ministry

To Spread the Gospel, from Melanesia to Indonesia!

Koteka

This is My Origin and My Destiny