Presiden Sementara: Akses internet diblokir saat penangkapan para pemimpin pembebasan dimulai

Press Release, 2 Juni 2021

Indonesia telah memutuskan akses internet di West Papua untuk menyembunyikan tindakan kerasnya terhadap gerakan pembebasan damai. Erik Walela, sekretaris Departemen Politik ULMWP, bersembunyi, dan dua kerabatnya Abi (32) dan Anno (31) ditangkap oleh polisi kolonial Indonesia pada 1 Juni.

Victor Yeimo, juru bicara KNPB, sudah ditangkap . Saya prihatin bahwa semua pemimpin dan departemen ULMWP di West Papua sekarang dalam bahaya setelah Indonesia mencoba menstigmatisasi kami sebagai ‘teroris’ . Kepala Badan Nasional Penanggulangan Terorisme (BNPT) telah menyatakan bahwa mereka menganggap seluruh gerakan pembebasan , termasuk siapa pun yang terkait dengan saya, sebagai teroris.

Siapa pun yang menentang ketidakadilan di West Papua sekarang dalam bahaya. Indonesia memutuskan internet untuk menyembunyikan tindakan keras dan operasi militernya, melanjutkan tradisi lama menyembunyikan informasi dari dunia dengan melarang jurnalis internasional dan menyebarkan propaganda. Satu-satunya cara siapa pun saat ini dapat mengakses internet di dalam adalah dengan berdiri [join] di dekat markas militer, polisi, atau pemerintah .

Mereka mencoba melabeli kami ‘separatis’, ‘kelompok kriminal bersenjata’, dan pada 2019 menyebut kami ‘monyet’. Sekarang mereka mencap kami ‘teroris’. Ini tidak lain adalah diskriminasi terhadap seluruh rakyat West Papua dan perjuangan kami untuk menegakkan hak dasar kami untuk menentukan nasib sendiri. Saya ingin mengingatkan para pemimpin PBB, Pasifik dan Melanesia bahwa Indonesia menyalahgunakan isu terorisme untuk menghancurkan perjuangan fundamental kami untuk pembebasan tanah kami dari pendudukan dan penjajahan ilegal.

Lebih dari 21.000 tentara telah dikerahkan dalam waktu kurang dari tiga tahun, termasuk bulan lalu ‘pasukan setan’ yang terlibat dalam genosida di Timor Timur. Densus 88, dilatih oleh Barat , juga menggunakan keterampilan mereka melawan rakyat saya. Operasi ini dilakukan atas perintah langsung Presiden dan ketua MPR . Rakyat saya trauma, takut pergi ke kebun, berburu atau memancing. Ke mana pun mereka berbelok, ada pos dan pangkalan militer. Berapa lama dunia akan mengabaikan seruan saya? Berapa lama dunia bisa melihat apa yang terjadi pada orang-orang saya dan berdiri?

Benny Wenda
Interim Presiden
Pemerintah Sementara ULMWP
(https://www.ulmwp.org/interim-president-internet-access…)

ULMWP #WestPapua #FreeWestPapua #Referendum #TNIPolri #IndonesiaMilitary #Militerism #InternetAccess

Kejar Pelaku Penembakan Satu Peleton Brimob Dikirim ke Puncak Jaya

Kejar Pelaku Penembakan Satu Peleton Brimob Dikirim ke Puncak Jaya.

TIMIKA—Pelaku penembakan yang menyebabkan tewasnya seorang tenaga

Nepenthes maxima near Puncak Jaya, Western New...
Nepenthes maxima near Puncak Jaya, Western New Guinea (~2600 m asl) (Photo credit: Wikipedia)

medis dan melukai dua lainnya di Mulia, Puncak Jaya masih terus dikejar. Untuk mengejar pelaku yang diduga dari kelompok sipil bersenjata ini, aparat keamanan diperkuat/ditambah.

Ya, satu peleton personel Brigade Mobil Kepolisian Daerah Papua dikirim ke Mulia, Kabupaten Puncak Jaya, dengan menggunakan helikopter MI-17 TNI AD, Kamis (1/8/2013). Mereka ditugaskan mengejar pelaku penembakan ambulans RSUD Puncak Jaya di kawasan Puncak Senyum, Kabupaten Puncak Jaya, Papua, pada Rabu (31/7/2013). Penembakan itu menewaskan satu orang dan melukai beberapa orang lainnya.

“Hery Nyoman (sebelumnya diduga bernama Erik Yoman) yang meninggal dunia rencananya dimakamkan di Mulia, sementara dua petugas kesehatan yang terluka tembak harus dievakuasi untuk mengeluarkan proyektil peluru di RSUD Dok II Jayapura,” kata Kepala Bidang Hubungan Masyarakat Kepolisian Daerah Papua Kombes Pol I Gde Sumerta, Kamis (1/8/2013) sebagaimana dilansir kompas.com.

Mereka yang terluka adalah petugas RSUD Puncak Jaya, Darson Wonda (27) dan Frits Baransano (42). Darson adalah sopir ambulans, yang mengalami luka tembak di lengan kiri. Sementara Frits adalah tenaga medis, mengalami luka tembak di lengan dan rusuk kanan. Sementara itu, imbuh Sumerta, kondisi Kota Mulia saat ini sudah kembali kondusif.

Seperti yang diberitakan sebelumnya, pada Rabu siang, sekitar pukul 14.10 WIT telah terjadi penembakan terhadap mobil ambulans RSUD Puncak Jaya. Ambulans ditembaki kelompok bersenjata tidak dikenal di daerah Puncak Senyum dalam perjalanan kembali ke Kota Mulia usai menjemput pasien di Kampung Urgele, Distrik Tingginambut, Kabupaten Puncak Jaya. (binpa/don/l03)

Enhanced by Zemanta

Telisik Teror dan Terorisme di Papua

Jayapura — Mungkin tidak semua warga yang mengingat kalau, akhir 2003 lalu ada telepon ancaman teror bom di Hotel Matoa tepat dijantung Kota Jayapura. Sembilan tahun kemudian 2012 Gedung DPRD Kabupaten Wamena diduga hancur karena kena bom.

Bukan hanya itu saja ancaman psikologis juga pernah dialami salah seorang rekan wartawan gara-gara menulis korupsi dan penyelewengan.

”Awas kalau ko tulis berita tra baik,”

pesan short message send(sms) dari si peneror.

Max Sanggenafa salah seorang aktivis lingkungan dan seorang guru  dari Kabupaten Waropen menulis surat pembaca kepada Tabloid Jubi edisi cetak belum lama ini  mengatakan sebenarnya masyarakat Papua sudah mengalami terror mental mulai dari pemberitaan drakula hingga kematian Theys Hiyo Elluay.

Ancaman terror fisik pun mulai timbul, ancaman peledakan Hotel Matoa hingga Kantor Dinas Koperasi Provinsi Papua pernah pula dideteksi aparat kepolisian karena disangka ada bom. Hampir semua pelaku peledakan bom di Pulau Jawa dan Bali, memiliki pengetahuan elektronika yang kuat karena berhubungan dengan bom waktu dan  detonator. Memahami racikan bom dan pengetahuan kimia yang memadai.  Apalagi mereka semua dikenal sebagai  alumni Afghanistan.

Pengetahuan memakai bom di Papua, diawali dengan menggergaji bom-bom bekas tentara Sekutu Amerika Serikat dan Jepang saat Perang Dunia Kedua. Tidak semua orang memiliki pengetahuan menggergaji bom, karena bisa-bisa meledak dan tangan buntung atau pun  kehilangan nyawa.

Serbuk bom berwarna putih dimasukan ke dalam botol Coca Cola karena tebal dan cocok untuk bom ikan. Sumbunya pun hanya  memakai kabel yang telah diisi serbuk belerang. Saat mengemudi perahu si pemakai tinggal membakar dengan puntung rokok dan membuang ke laut tempat ikan ramai bermain.

Bukan hanya itu saja, pengetahuan lain yang dimiliki masyarakat di Papua  adalah membikin dopis. Bahan peledak ini biasanya bersumber dari korek api berwarna merah yang dibungkus menyerupai mercon. Bahkan belakangan ada ditemui bom molotov dan barang-barang bukti lainnya berupa serbuk Trinitrotoluene Trinitrotoluene (TNT). Atau nama lainnya adalah  2-Methyl-1,3,5-trinitrobenzene 2,4,6-TrinitrotolueneTNT Trotyl Empirical formula C7H5N3O6.

Dalam kondisi demikian tentunya pihak aparat khususnya Kepolisian harus cepat tanggap dan siap menghadapi gejala-gejala tersebut. Walau pun bukan berarti asal menghantam dan mencurigai tanpa memiliki bukti-bukti yang cukup kuat.

Sebenarnya ancaman dan terror bom bukanlah sesuatu yang baru di dunia ini, sebab dalam novel Joseph Conrad’s  berjudul The Secret Agent  mengungkap kerja-kerja teror mulai dari bom surat hingga bom yang memiliki kekuatan amat dasyat. Mungkin novel Joseph Conrad bisa dianggap sebagai inspirasi bagi kaum teroris di dunia, khususnya saat Perang Dingin masih berkecamuk antara Komunis dan Kapitalis.

Selain itu sekitar 1982, Christopher Dobson and  Ronald Payne menulis buku berjudul,The Terrorist Their Weapons, Leader and Tactics memasukan grup-grup terrorist dari seluruh dunia di Jerman ada group Baader Meinhof Gang( Red Army Faction),Jepang punya The Red Army(Sekigun). Palestina dengan peristiwa  The Black September dalam peledakan bom di lokasi penampungan atlit Olimpiade Israel di Munich Jerman Barat. Kemudian Israel membalas dengan operasi terror pembalasan dendam Mossad. Irlandia Utara, IRA maupun Irish National Liberation Army(INLA).

Dobson dan Payne pun menulis peristiwa penyanderaan anak-anak Sekolah dalam kereta api di Assen Negeri Belanda yang dilakukan oleh Republik Maluku Selatan(RMS) pada 23 Mei 1976. Teroris model 1970 an telah melahirkan salah seorang pentolannya yang sangat ditakuti agen-agen rahasia saat itu termasuk Mossad. Teroris itu adalah Carlos atau nama aslinya Illich Ramirez Sanchez. Ia diduga kuat teroris binaan agen rahasia Uni Soviet saat itu,Komitet gosudarstvennoy bezopasnosti or Committee for State Security (KGB) . Badan inteleigen ini bertugas untuk keamanan nasional bekas negara adi daya Uni Soviet bertugas dari 1917 sampai dengan 1991 dan memiliki tugas  internal securityintelligence, and secret police.  Belakangan Carlos diadili di Pengadilan Amerika Serikat karena salah satu aktor terroris Perang Dingin.

Tumbangnya Uni Soviet dan negara-negara komunis bukan berarti terrorisme pun berkurang. Ciri-ciri teroris yang berada di bawah negara-negara Komunis saat itu, selalu menenteng AK47, pistol Barreta dan jenis-jenis senjata otomatis buatan Jugoslavia. Teror tak selamanya tak bisa selesai termasuk konflik-konflik kekerasan pun tak akan bisa berhenti sama sekali. Malahan belakangan semakin bertambah canggih dan sulit dideteksi, karena semua pihak ikut bermain demi kepentingan politik sesaat.

Awal 2000, tepatnya 11 September 2001, dunia dikagetkan dengan model terror baru tanpa senjata dan bom. Pesawat American Airline, AA No.11 menabrak bagian Utara World Trade Center (WTC) New York. Pesawat United Airline UA No 175 menabrak menara Selatan gedung WTC. Sejak peristiwa itu tuduhan diarahkan ke Osama Bin Laden semakin kuat. Insinyur Sipil  kelahiran Ryadh 1957 orang yang paling dicari agen rahasia United State of America (USA), Central Intelellligen Agency (CIA).

Tudingan Amerika Serikat segera dibantah Osama dengan mengatakan,”Saya tidak terlibat, saya hanya seorang tamu di Afghanistan. Jika mereka punya bukti saya siap.” Belakangan Osama Bin Laden tewas ditangan militer USA tanpa melalui sebuah pembuktian di meja hijau. Bahkan Presiden Obama sendiri yang mengumumkan kematian Osama Bin Laden.

Gary Barnes dalam buku berjudul ,Osama Bin Laden, Teroris atau Mujahid? Menulis sepanjang sejarah,  manusia telah saling menghancurkan sesamanya dalam berbagai medan pertempuran. Dan perang tidak pernah berakhir. Kekejaman terbukti tidak akan berakhir ketika kekejaman dibalas dengan kekejaman pula. “Yang bisa menghentikan kekejaman adalah kehidupan tanpa berbuat dosa.” (Jubi/Dominggus A Mampioper)

Friday, November 23rd, 2012 | 20:30:10, www.tabloidjubi.com

Sipil Tak Berhak Menyimpan Senjata

JAYAPURA—Anggota Komisi A DPRP dr Johanes Sumarto menegaskan, pihaknya membenarkan tindakan aparat Polres Paniai yang memberikan batas waktu atau deadline kepada Panglima TPN/OPM John Yogi di Paniai untuk segera mengembalikan dua pucuk senjata yang diduga dirampasnya dari tangan aparat pada 26 Juni 2011 lalu.

Apabila dua pucuk senjata ternyata belum dikembalikan sesuai batas waktu yang diberikan, maka aparat Polres Paniai akan melakukan penyisiran dan pengejaran terhadap TPN/OPM tersebut. Demikian disampaikan Johanes Sumarto ketika dihubungi Bintang Papua diruang kerjanya, Rabu (7/9). Dia mengatakan, seorang warga sipil seperti John Yogi tak berhak memiliki atau menyimpan senjata. Apalagi senjata tersebut dirampasnya dari tangan aparat yang tengah melakukan tugas keamanan.
“Itu adalah tindakan pidana yang hukumannya sangat berat,” tandasnya.

Namun demikian, lanjutnya, pihaknya juga mendukung upaya Ketua Sinode Gereja Kemah Injil Indonesia (KINGMI) di Tanah Papua Pdt. Dr Benny Giay melakukan negosiasi dengan warga sipil untuk mengembalikan dua pucuk senjata itu.

Karena itu, ucapnya, pihaknya menyarankan agar pihak Gereja mengadakan negosiasi kepada John Yogi agar ia mengembalikan senjata yang dirampasnya kepada pemerintah. Perlu juga dilakukan pendekatan dengan pihak Kapolda Papua Irjen Pol Drs BL Tobing. Apabila Kapolda setuju atau tidak dilakukan penyisiran dan pengejaran terhadap TPN/OPM. Tapi dua pucuk senjata itu harus segera kembali menyangkut keamanan dan ketertiban di daerah.

Dia menyampaikan beberapa alternatif yang bisa digunakan terkait rencana penyisiran dan pengejaran terhadap TPN/OPM. Pertama, negosiasi dilakukan pihak Gereja yang difasilitasi Polri. Kedua, tetap dilakukan penyisiran sesuai aturan diperbolehkan. Tapi pihak Gereja atau Komnas HAM Perwakilan Papua diikutsertakan untuk menghindari kekerasan, penyiksaan terhadap warga sipil dan lain lain. “Apabila mereka ikut pasti lebih terjamin,” katanya.

Ketiga, pihak Gereja tak boleh menghalangi John Yogi diproses hukum karena siapapun warga negara mempunyai kedudukan sama dihadapan hukum agar orang juga jera melakukan tindak pidana.
“Kalau tak dilakukan tindakan hukum maka orang akan seenaknya sedikit sedikit melakukan negosiasi padahal pidana itu tak ada negosiasi,” tukasnya.

Terpisah, Angota Komisi C DPRP Albert Bolang SH menegaskan, pihaknya menentang tindakan polisi yang melakukan penyisiran. Pasalnya, hukum di Indonesia tak mengenal adanya penyisiran. Kata kata penyisiran yang kini menjadi bahasa bahasa yang seolah olah gampang dibuat itu sebenarnya mengundang ketakutan kepada masyarakat karena traumatik masyarakat di daerah Pegunungan cukup besar dengan kata kata penyisiran.

Alangkah eloknya, urai pakar hukum ini, apabila tak dilakukan penyisiran, tapi kembalikan kepada aturan hukum. Kalau ada pelaku tindak pidana silakan dikeluarkan surat penangkapan dan kemudian bisa melakukan penangkapan terhadap siapa pelaku tindak pidana karena pelaku tindakan pidana itu tanggungjawabnya adalah orang perorangan bukan dikolektifkan. Sehingga harus ada bahasa yang enak didengar dan tak membuat masyarakat terkungkung dari bahasa yang menakutkan itu. “Di wilayah Pegunungan sudah traumatik terhadap kata kata yang sifatnya akan melibatkan seluruh masyarakat disana,” ungkapnnya. “Kalaupun polisi mengambil langkah ambilah langkah hukum misalnya dijadikan tersangka kemudian kalau dia sudah tertangkap jadikanlah dia terdakwa dan dihukum sesuai aturan hukum.” (mdc/don/l03)

BintangPapua.com, Kamis, 08 September 2011 00:11

Massa Pro ‘M’ Siap Demo – Titik Kumpul Makam Theys, Abepura, dan Taman Imbi

JAYAPURA—Momen 1 Mei kemarin merupakan hari integrasi Papua ke NKRI yang oleh kelompok tertentu menyebutnya hari Aneksasi Papua Barat  ke dalam Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI). Mengingat 1 Mei kemarin bertepatan hari Minggu, maka perayaannya diundur satu hari, yakni 2 Mei hari ini dalam bentuk aksi damai oleh kelompok Pro Merdeka (pro M).  Ribuan massa dari Komite Nasional Papua Barat (KNPB) didukung berbagai komponen, seperti faksional pergerakan perjuangan Papua Barat, direncanakan turun jalan (maksudnya: menggelar aksi demo damai) di Kantor DPR Papua dan Kantor Gubernur, Jayapura, Senin (2/5) pukul 08.00 WIT    Wakil Ketua KNPB Mako Tabuni yang dihubungi Bintang Papua semalam membenarkan rencana aksi demi damai guna memperingati Hari Aneksasi Banga Papua Barat kedalam NKRI.
Dia mengatakan, pihaknya akan menyampaikan aspirasi kepada pemerintah RI melalui DPR Papua dan Gubernur Provinsi Papua untuk meluruskan Perjanjian New York (New York Agreement) dan meninjau kembali Penentuan Pendapat Rakyat (PEPERA) yang sangat merugikan Bangsa Papua Barat baik dari aspek politik maupun hukum.

Dijelaskan, aksi demo damai tersebut direncanakan  diikuti massa pergerakan perjuangan Papua Barat yang datang dari Manokwari, Sorong, Biak, Merauke, Sarmi, Keerom dan lain lain.
Menurut dia, aksi demo damai tersebut dengan Titik Kumpul di Sentani di  Makam Theys, Titik Kumpul Abepura di Depan Kantor Pos Abe serta Titik Kumpul Jayapura di Taman Imbi mulai pukul 08.00 WIT.  

Ditanya apakah pihaknya telah  mengantongi  izin resmi dari aparat kepolisian terkait aksi demo damai, dia menandaskan, pihaknya telah mendapatkanizin resmi dari Kepolisian setempat kerena aksi demo ini adalah aksi damai untuk menyampaikan aspirasi  Bangsa Papua Barat kepada pemerintah RI melalui DPR Papua dan Gubernur Provinsi Papua. 

Dia menandaskan, tanggal 1 Mei 1963 adalah Aneksasi Banga Papua Barat kedalam Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI) adalah awal pembunuhan embrio berbangsa dan  bernegara bagi rakyat Papua Barat.

Akibatnya, ujar dia,  nasib masa depan rakyat Papua Barat benar benar terancam  kepunahan (genocide) dari atas Tanah Warisan Leluhurnya. Yang ada dan dinikmati oleh rakyat Papua adalah dibunuh, dibantai, digusur, diperkosa hak dan martabat, diskriminasi, marginalisasi dan cucuran darah dan air mata oleh kejahatan keamanan negara RI. Sadar tak dasar martabat dan harga diri kita diinjak injak.

Semua demi kepentingan negara negara kapitalisme yang lebih mengutamakan emas,k kayu, munyak dan seluruh kekayaan alam yang ada diatas Tanah Papua dan manusia Papua (Ras Melanesia) yang  Allah ciptakan segambar dan serupa Allah. Supaya setiap manusia dapat hidup saling menghargai hakl setiap suku bangsa.

“Maka mari datang bergabung kita tunjukan harga diri kita  sebagai anak negeri Bangsa Papua Barat. Nasib negeri ini ada padamu kini untuk menentukan ribuan nasib anak cucu kedepan,” ujarnya. (mdc/don)

Minggu, 01 Mei 2011 16:32

, ,

Up ↑

Wantok Coffee

Melanesia Single Origin Coffee

MAMA Minimart

MAMA Stap, na Yumi Stap!

PT Kimarek Aruwam Agorik

Just another WordPress.com site

Wantok Coffee News

Melanesia Foods and Beverages News

Perempuan Papua

Melahirkan, Merawat dan Menyambut

UUDS ULMWP

for a Free and Independent West Papua

UUDS ULMWP 2020

Memagari untuk Membebaskan Tanah dan Bangsa Papua!

Melanesia Spirit & Nature News

Promoting the Melanesian Way Conservation

Kotokay

The Roof of the Melanesian Elders

Eight Plus One Ministry

To Spread the Gospel, from Melanesia to Indonesia!

Koteka

This is My Origin and My Destiny