KTT Vanuatu, Pemimpin Papua Barat Segera Buat Badan Kordinasi Kerja

Jayapura, Jubi – Delegasi berbagai organisasi diharapkan bersatu dengan segera membuat badan kordinasi kerja untuk menjawab aplikasi Melanesian Spearhead Group (MSG) usai menghadiri Konferensi Tingkat Tinggi (KTT) Penyatuan Papua Barat yang tengah berlangsung di Port Vila, Vanuatu.

Elias Ramosta Petege, aktivis HAM Papua di Jogjakarta mengatakan, persatuan semua organisasi di Papua Barat untuk perjuangan pembebasan Bangsa Papua harus segera ditindaklanjuti. Menurutnya, penyatuan itu bisa diawali dengan melakukan rekonsiliasi, dimana para pemimpin organisasi harus mau membuat badan kordinasi kerja terkait aplikasi Melanesian Spearhead Group.

“Para pemimpin Papua harus segera membuat rekonsiliasi dan persatuan menyeluruh dalam sebuah badan kordinasi bersama. Setelah mereka pulang dari Vanuatu, entah hasilnya baik atau jelek, kita di Papua harus ada semangat baru, hidup baru yang dapat menghimpun semua kekuatan rakyat sipil dan organ-organ pergerakan yang ada di Papua untuk melawan penindasan dan ketidakadilan di Papua,”

kata Petege kepada Jubi, Rabu (3/12).

Menurut Petege, masyarakat Papua sedang berada dalam sistem penindasan pemerintah Indonesia. Sistem penindasan itu digambarkannya melalui berbagai kebijakan pemerintah pusat bagi masyarakat di Bumi Cenderawasih. Diantaranya, melakukan pemekaran wilayah-wilayah padahal belum memenuhi syarat dilakukannya suatu pemekaran, seperti jumlah penduduk. Untuk itu, Petege dari Nasional Papua Solidaritas (NAPAS) yang berbasis di Jakarta itu mengimbau agar hal-hal yang menimbulkan perpecahan antar masyarakat Papua dapat dihindari.

“Karena kita sudah akan melawan sistem penindasan pemerintah. Dan itu harus juga dinyatakan dengan membentuk sebuah wadah kordinasi bersama. Di wada inilah, setiap pemimpin Papua harus bersatu tanpa curiga, ego dan tanpa ragu demi Papua,”

harapnya.

Petege mengatakan, ada empat syarat utama untuk penyatuan. “Pertama, para pemimpin Papua harus saling mengakui apa adanya. Kedua, para pemimpin Papua harus meninggalkan sikap ambisi, egois dan tidak boleh praktekkan politik primodialisme.”

Lanjut Petege, syarat ketiga, para pemimpin harus punya kekhasan berdemokrasi.

“Itu artinya, para pemimpin Papua harus mengarahkan arah perjuangan Papua pada penegakkan prinsip-prinsip demokrasi. Contohnya, jika kemerdekaan politik adalah agenda utama, maka setiap pemimpin harus setia melaksanakan agenda tersebut sampai sukses,”

ujarnya.

Kemudian, syarat keempat, para pemimpin Papua harus melaksanakan segala sesuatu berdasarkan kebenaran. “Karena kebenaran akan membenarkan kita dan mengalahkan pemerintah, yang menindas dan membunuh rakyat Papua selama ini,” lagi kata Petege.

Dalam kesempatan berbeda, Yusak Reba, dosen Fakultas Hukum di Universitas Cenderawasih (Uncen) mengatakan, rakyat di Tanah Papua telah lama merindukan hubungan dan penyatuan antar setiap pemimpin. Ia mengaharapkan, sekembalinya para delegasi Papua Barat dari Vanuatu nanti, semua harapan rakyat Papua untuk persatuan itu benar-benar terwujud. (Ernest Pugiye).

Penulis : Ernest Pugiye on December 5, 2014 at 13:37:00 WP, Jubi

Dua Anggota Brimob Tewas Ditembak di Ilaga

Jayapura, Jubi – Dua orang anggota Brigadir Mobil (Brimob) Polda Papua tewas ditembak Kelompok Bersenjata di Ilaga, Ibukota Kabupaten Puncak, Papua, Rabu (3/12) sekitar pukul 10:00 WIT.

Sumber Jubi mengatakan, kedua korban yakni Ajun Inspektur Dua (Pol) Thomson Siahaan dan Brigadir Dua (Pol) Everson. Kedua adalah anggota Brimob yang diperbantukan untuk Polsek Ilaga.

“Keduanya ditembak ketika mengantar kursi untuk perayaan Natal Gereja Kristen Injili (GKI) Klasis Ilaga. Dua senpi juga dibawa kabur pelaku,” kata sumber Jubi yang tak ingin disebutkan identitasnya.

Juru Bicara Polda Papua, Komisaris Besar (Pol) Sulistyo Pudjo Hartono membenarkan adanya penembakan itu. Menurutnya, kedua anggota Brimob ditembak ketika sedang berada di atas kendaraan roda empat mengangkut kursi yang akan digunakan pada perayaan Natal GKI Klasis Ilaga.
“Aipda Thomson Siahaan tertembak di kaki dan dada. Bripda Everson ditembak di pelipis. Keduanya meninggal di tempat. Kini jenazah berada di Puskesmas Ilaga. Rencana, Kamis (4/12), jenazah akan dibawa ke Jayapura,” kata Kombes (Pol) Pudjo.

Katanya, pasca penembakan itu, Wakil Kepala Kepolisian Papua, Brigadir Jenderal (Pol) Paulus Waterpauw bersama beberapa pejabat kepolisian setempat, langsung berangkat ke Kabupaten Puncak.

“Para pelaku masih dalam penyelidikan dan pengejaran anggota Brimob dan TNI yang ada di sana. Dua pucuk senjata api jenis AK milik anggota juga dibawa kabur para pelaku,” ucapnya. (Arjuna Pademme)

Sumber: TabloidJubi.com

Pasca Dua Brimob Tewas, Situasi Ilaga Mencekam

Jayapura, Jubi – Pasca tewasnya dua anggota Brimob Polda Papua, Aipda Thomson dan Bripda Forsen, situasi di Ilaga dikabarkan mencekam.

Anggota DPRD Kabupaten Puncak, Penilus Balinal, mengatakankan insiden penembakan ini tidak bisa dikaitkan dengan perdamaian abadi, lantaran perdamaian tersebut soal konflik Pemilukada.
“Sekarang ini masalah baru. Ini bukan karena senjata api dan panah tapi senjata api lawan senjata api,” tegas Balinal, Rabu (3/12).

Menurut Balinal, saat perdamaian kemarin situasi sangat aman. Dirinya tidak tahu dalam rangka apa insiden penembakan ini. Saat ini masyarakat sangat khawatir dan merasa takut.
“Informasi yang saya terima, pihak keamanan membakar honai-honai di sekitar lokasi kejadian. Jumlahnya belum tahu. Tapi setelah kejadian ini masyarakat kumpul satu tempat di kantor terdekat,” ujarnya.

Sementara itu, Waka Polda Papua, Brigadir Jenderal (Pol) Paulus Waterpauw, menyesalkan adanya insiden tersebut karena sebelumnya sudah disepakati perdamaian abadi.
“Saya pikir ini salah. Ini harus dibahas lagi, jangan aparat ditekan kemudian tidak mampu berbuat lebih karena khawatir dengan lingkaran HAM. Itu yang nanti kami akan coba untuk bagaimana lakukan langkah-langkah lanjut dengan semua pihak untuk membicarakan upaya-upaya seperti ini,” kata Waterpauw.

Dari data yang dihimpun Jubi, pasca tewasnya dua anggota Brimob Polda Papua di Ilaga Kabupaten Puncak, pelaku diduga melarikan diri ke arah gunung melewati depan Kantor Bupati Puncak menuju kampung Pancuran.

Aparat keamanan mengejar pelaku hingga ke kampung tersebut dan membakar sekitar 15 honai di kampung tersebut, yang sudah dalam keadaan kosong. (Indrayadi TH)

Sumber: Penulis : Indrayadi TH on December 4, 2014 at 15:17:44 WP, Jubi

Wakapolda Papua: Kami akan Kejar Mereka, Hidup atau Mati

Jayapura, Jubi – Wakapolda Papua, Brigadir Jenderal (Pol) Paulus Waterpau, berjanji akan menangkap pelaku, hidup atau mati.

Pernyataan tegas itu disampaikan Paulus Waterpauw pasca tewasnya dua anggota Brigade Mobile (Brimob) Detasemen A Kotaraja, Aipda Thomson Siahaan dan Bripda Forsen, di Ilaga Kabupaten Puncak, Rabu (3/12).

Wakapolda Papua mengecam tindakan kelompok warga sipil tersebut dan prihatin atas insiden yang menewaskan dua anggotanya.
“Tadi pagi kami dikagetkan berita dua anggota kami diserang saat membantu bersama pemuda gereja untuk melaksanakan Natal bersama,” katanya.

Pihaknya mengutuk keras dan akan mengejar para pelaku pembunuhan dua anggota nya.
“Kami akan mencari siapa mereka dan kejar. Kami akan tangkap mereka, hidup atau mati. Saya pikir ini perilaku dan perbuatan yang tidak manusiawi,” ujarnya.

Waterpauw juga pertanyaan HAM atas insiden berdarah tersebut. Menurutnya selama ini TNI dan Polri ditekan terus soal HAM. “Tapi kenyataannya selama ini justru kami jadi korban kekerasan oleh masyarakat sipil bersenjata,” katanya.

Sebelumnya, Kabid Humas Polda Papua, Komisaris Besar (Pol) Sulistyo Pudjo Hartono, membenarkan penembakan terhadap dua anggota Brimob yang terjadi disaat anggota polisi sedang membantu kegiatan di GKI Ilaga.
“Bripda Everson ditembak pada bagian pelipis dan Aipda Thomson Siahaan ditembak di kaki dan dada. Keduanya tewas di tempat. Saat ini jenazah masih berada di Puskesmas Ilaga. Jenasah baru akan dievakuasi ke Jayapura besok pagi,” kata Pudjo.

Data yang dihimpun Jubi, Aipda Thomson Siahaan mengalami luka tembak di rahang kiri tembus kepala dan tulang kering kaki kiri. Sedangkan Bripda Forsen mengalami luka hantaman benda tumpul pada bagian kepala dan lengan kanan hingga patah tulang. (Indrayadi TH)

Sumber: Penulis : Indrayadi TH on December 4, 2014 at 15:15:54 WP, Jubi

Di Ilaga, Dua Brimob Tewas Ditembak KKB

Kabid Humas Polda Papua, Kombes Pol, Sulistyo Pudjo HartonoJAYAPURA – Dua Anggota Brigadir Mobil (Brimob) Detesemen A Polda Papua, masing-masing bernama Iptu Thomon Siahaan dan Bripda Everson tewas tertembak oleh Kelompok Kriminal Bersenjata (KKB) di depan Kantor Bupati Ilaga, Kabupaten Puncak, Papua, Rabu (3/12) pagi sekitar pukul 09.00 WIT.

Korban Aipda Thomson Siahaan tewas akibat terkena tembak di bagian kaki dan dada, sedangkan korban Bripda Everson terkena dibagian pelipis.
Kedua anggota Brimob yang di-BKO-kan ke Polsek Ilaga itu, ditembak saat membantu mengantar dan mengangkat kursi untuk perayaan natal ke Gereja GKI Klasis Ibu Kota Ilaga, Kabupaten Puncak Jaya, tepat di depan Kantor Bupati Puncak.

Selain menembaki kedua korban, pelaku yang diduga lebih dari 5 orang itu merampas dua pucuk senjata api (Senpi) jenis AK milik kedua korban, yang selanjutnya lari menuju hutan.

Kepala Bidang Hubungan Masya rakat (Humas) Polda Papua, Komisari Besar Polisi, Sulistyo Pudjo Hartono saat dikonfirmasi wartawan, membenarkan penembakan terhadap dua anggota Brimob tersebut.

Kronologis kejadian itu, Pujdo menjelaskan, awalnya kedua korban sedang membantu kegiatan gereja dengan mengangkat kursi-kursi dan tenda di gereja GKII.

“Saat menurunkan tenda di depan pintu gereja GKII, Ilaga Kabupaten Puncak, tiba-tiba datang sekelompok KKB dengang menggunakan senjata api langsung menembaki kedua korban hingga meninggal di tempat. Senjata yang mereka gunakan ikut dirampas,” katanya.

Menurutnya, sejak kejadian anggota Polsek di bantu TNI berusaha mengejar para pelaku, namun tidak berhasil ditangkap lantaran melarikan diri ke hutan.
Sementara kedua jenazah korban direncanakan besok, Kamis (4/11) diterbangkan ke Jayapura. “Pelakunya tidak dari kelompok mana, yang jelas mereka merupakan kelompok KKB yang sengaja mengganggu rakyat dan aparat. Kami berusaha merebut kembali senjata tersebut,” katanya.

Pudjo mengatakan, peristiwa penembakan tersebut, Wakapolda Papua sejumlah pejabat utama Polda Papua langsung berangkat ke Illaga masing-masing Kabid Humas, Kasat Brimob dan Wadir Intel Polda Papua turun untuk melakukan penyelidikan dan penyidikan serta melakukan olah TKP.

SITUASI IBUKOTA KABUPATEN PUNCAK MENCEKAM

Pasca tewasnya dua anggota Polisi setelah ditembak KKB, di Ilaga Kabupaten Puncak Papua, situasi mencekam, masyarakat resah dan ketakutan. Apalagi sejumlah Honai (rumah adat tempat tinggal warga Pegunungan Papua) dibakar aparat keamanan yang melakukan penyisiran guna mencari para pelaku.

Anggota DPRD Kabupaten Puncak Pelinus Balinal mengatakan, warga Puncak khususnya yang ada di Ilaga saat ini merasa ketakutan, dan memilih mengungsi kesejumlah tempat yang aman, setelah aksi penembakan terhadap dua anggota Polisi terjadi.

“Sejumlah rumah Honai milik warga dibakar pasca penembakan terhadap 2 anggota Polisi, ini membuat situasi mencekam dan warga memilih mengungsi ke tempat yang dianggap aman,”ujar Pelinus, Rabu 3 Desember.

Lanjutnya, sesuai keterangan warga, alasan aparat keamanan membakar sejumlah Honai, guna mencegah dijadikan tempat persembunyian oleh para pelaku. “Alasan aparat, jangan sampai Honai dijadikan lokasi persembunyian, dimana, para pelaku kembali membaur dengan warga,” ujarnya. Karena situasi sangat mencekam, sambungnya, DPRD Puncak meminta Polda Papua dan TNI turun tangan langsung ke lokasi guna mengendalikan keadaan.

“Saya atas nama DPRD Puncak minta Polisi dan tentara segera mengatasi keadaan disana, karena warga sudah sangat ketakutan dan juga untuk mencegah jangan sampai meluas,”

ucapnya.

DPRD Puncak juga mengimbau, sebaiknya seluruh warga Puncak menjaga situasi tetap kondusif, dengan tidak melakukan aksi-aksi kekerasan. “Kami hanya bisa himbau sebaiknya semua pihak mengedepankan langkah persuasif agar tercipta suasana damai,” pungkasnya.

Mengenai kelompok pelaku, Pelinus Balinal mengatakan, tidak mengetahui secara persis. “Siapa pelaku penembakan dan perampasan senjata anggota Polisi, kami sama sekali belum mengetahuinya,”singkat dia.

Sementara itu, dari informasi yang berhasil diperoleh, kelompok pelaku diduga adalah kelompok bersenjata pimpinan Tenggatmati yang selama ini bermarkas di Kulirik Mulia Puncak Jaya. Kelompok ini ditengarai sedang berupaya menggagalkan proses perdamaian yang kini sedang berjalan di Puncak.
Juru Bicara Polda Ppaua Kombes Pudjo Sulistyo saat dikonfirmasi terkait adanya pembakaran sejumlah Honai, enggan memberikan komentar.

PELAKU PENEMBAKAN DIDUGA KELOMPOK BERSENJATA YAMBI

Pelaku penembakan terhadap kedua anggota Brimob di Ilaga, diduga berasal dari kelompok Yambi yang dipimpin Lekhakha Telenggen dan Tengahmati Telenggen. Kabid Humas Polda Papua mengaku belum dapat laporan tentang kelompok yang menembak mati dua anggota Brimob yakni Ipda Thomson Siahaan dan Bripda Eferson.

Ditambahkan, Rabu (3/12) kemarin ia mendampingi Waka Polda Papua Brigjen Pol Paulus Waterpauw dan pejabat polda lainnya bersiap menuju Ilaga melalui Timika. Bila cuaca memungkinkan Kamis (4/12) kami menuju Ilaga untuk melihat dari dekat situasi daerah itu sekaligus mengevakuasi kedua korban.(loy/jir/ant/aj)

Sumber: Kamis, 04 Desember 2014 00:45, BP

Bomomani Untuk Mengenang Kemerdekaan Papua

Jayapura, Jubi – Masyarakat di Kabupaten Dogiyai Distrik Mapia melaksanakan doa bersama untuk memperingati 1 Desember lalu. Ibadah dipimpin langsung oleh Pdt. Obed Magai di Gereja St.Maria Menerima Kabar Gembira, Bomomani Keuskupan Timika. Perayaankudus ini dihadiri oleh kurang lebih 5.000 umat dari 4 Paroki dan satu klasis di wilayah Tota Mapiha Kab.Dogiyai.

“Kami telah berdoa sesuai budaya kami untuk Papua. Ini penting karena doa merupakan kekuatan Tuhan bagi bangsa Papua yang pernah disembunyikan pemerintah selama lima dekade,”

ujar Magai kepada Jubi Selasa (1/12).

Dalam doanya, ia mendoakan pejuang kemerdekaan Papua di hutan, kota dan di luar negeri.

“Kami telah berdoa buat utusan rakyat bangsa Papua yang telah memenuhi undangan Perdana Menteri Vanuatu H.E Joe Natuman yang berlangsung hari ini di Vanuatu agar Papua dapat diterima, anggota MSG nanti,”

katanya.

Selain itu, mereka juga mendoakan bagi para pejuang Papua yang telah dibunuh oleh pemerintah Indonesia. “Semoga melalui doa kami, arwah mereka dapat diterima Allah di surga. Intinya, kami sudah doa untuk kedaulatan kemerdekaan Papua karena ini maha baik untuk Papua,” katanya.

Perayaan tersebut dimulai pukul 09.00 hingga 01.00 siang. Tata liturginya dirayakan secara inkulturatif.

Ketua Sekolah ST FT Fajar Timur Abepura, Pater Neles Tebay Pr, mengatakan rakyat yang ada di seantero Papua telah memaknai 1 Desember ini dengan doa karena selain doa, kekuatan, juga merupakan panah dan tombak perdamaian universal antara Allah dengan dunia dan dunia dengan manusia demi keselamatan bersama dan kemuliaan nama-Nya. (Ernest Pugiye)

Sumber: Penulis : Ernest Pugiye on December 3, 2014 at 15:47:57 WP, Jubi

Port Vila berparade untuk Kemerdekaan West Papua

Posted: Wednesday, December 3, 2014 12:00 am, By Len Garae | Vanuatu Daily Post, diterjemahkan PMNews

Kemarin pagi Port Vila bangun dengan gegap gempita menyambut marching dari Brigade Mobil (Brimob) Brass Band dan pukulan yang membuat semua mata mau melihatnya, saat mereka memimpin paradanya melewati Ibukota menuju ke bukit di mana Bendera Bintang Kejora telah berkibar berdampingan dengan Bendera Vanuatu di Saralana yang dikibarkan oleh para pejuang kemerdekaan dari Vanuatu.

Sejumlah orang melambaikan bendera West Papua dipimpin oleh Perdana Menteri dan anggota kabinetnya dan delegasi dari West Papua yang telha tiba pada waktunya untuk mengambil bagian dari Pertemuan Unifikasi di Rumah Adat (Nakamal) para Kepala Suku dalam waktu tiga hari dimulai dari hari ini

Benny Wenda: Pertemuan ini Akan Berakhir Sesuai Harapan

Sekretaris-Jenderal Dewan Musyawarah Masyarakat Adat (DeMMAK), tuan Benny Wenda pada tanggal 3 Desember 2014 saat dihubungi PMNews menyatakan pertemuan ini akan berakhir sesuai harapna, iaut akan mengangkat Secretary-General dan Spokesperson, karena masing-masing organisasi yang sudah ada dan berjuang untuk Papua Merdeka adalah modal yang tidak dapat dibubarkan. Yang harus dilakukan ialah penyatuan program dan langkah-langkah perjuangan. Sedangkan kita semua satu dalam tujuan dan cita-cita.

Hal tersebut dikatan Tuan Wenda menjawab pertanyaan PMnews menyangkut hasil yang akan didapatkan dari Workshop yang diselenggarakan oleh Gereja di Vanuatu, dan didukung sepenuhnya secara militer, sipil dan politik oleh masyarakat, tentara dan pemerintah Republik Vanuatu.

Dalam upacara resmi pada tanggal 1 Desember 2014, para Kepala Suku di Vanuatu memberikan hadiah khusus benda budaya salah satu suku di Vanuatu dan sesudahnya memerintahkan Benny Wenda untuk digotong beralaskan satu ekor babi yang telah disembelih untuk upacara adat pada saat peringatan HUT Hari Besar bangsa Papua tahun ini.

Benny Wenda bukan orang baru bagi para ni-Vanuatu. Beliau pernah menyelenggarakan sebuah Konferensi Kepala-Kepala Suku Melanesia pertama pada 28 Deesmber 2013 – 1 Januari 2014 di Republik Vanuatu, di mana beliau juga sudah pernah diberi mandat oleh para Kepala Suku di Vanuatu bersama dengan Jurubicara DeMMAK, Mr. Amunggut Tabi, yang kini diberi tugas sebagai Secretary-General Tentara Revolusi West Papua oleh Panglima Tertinggi Komando Revolusi, Gen. TRWP Mathias Wenda. Mereka berdua ditemani oleh Sekretaris I dan Sekretaris II Tentara Pembebasan Nasional Papua Barat – Organisasi Papua Merdeka (TPN PB – OPM) Maj. Hans Karoba dan Brig. Gen. Abumakarak Wenda.

Selama 6 bulan mereka berada di Vanuatu dan melakukan lobi, kampanye serta pertemuan dengan fokus utama kepada membangun dukungan di tingkat masyarakat adat.

Selanjutnya Benny Wenda dalam pertemuan ini dimintakan oleh para Kepala Suku Vanuatu untuk berbicara lebih banyak tentang perjuangan Papua Merdeka, walaupun pada awalnya beliua memilih diam karena sudah banyak orang Papua yang hadir dan mengkleim diri sebagai pejuang dan pendahulu dalam membangun jaringan di Vanuatu. Mendengar desakan dari para Kepala Suku Vanuatu lalu Benny Wenda menceritakan apa yang pernah terjadi 10 tahun lalu, dan semua peserta terkejut bahwa fondasi dukungan perjuangan Papua Merdeka bukan dimulai tahun 2006, 2010, 2012, tetapi sepuluh tahun lalu.

Masih menurut Wenda, pertemuan ini sangat alot, karena masing-masing organisasi yang masuk masih mempertahankan ego identitas dan kepemimpinan mereka. Sudah diusahakan untuk bersatu tetapi semua pihak sulit mengendalikan diri. Akhirnya pertemuan ditunda karena larut malam, dan akan disambung besok, tanggal 3 Desember.

Menurut Wenda sebagian utusan besok akan diputuskan apa yang harus dilakukan setelah pertemuan ini, bagaiman aformat organisasi, apa nama organisasi dan kalau Tuhan berkehendak, siapa yang dipercayakan sebagai Sekretaris Jenderal dan Jurubicara. Katanya semua organisasi perjuangan yang ada tidak harus dibubarkan atau disakukan, tetapi hanya ditunjuk orang-orang untuk memimpin semua pihak bersatu mengajukan permohonan kepada MSG kembali.

Ketua Nafuki katakan Masyarakat ada di belakang WPNCL

Posted: Tuesday, December 2, 2014 12:00 am

Dilaporkan By Len Garae | Vanuatu Daily Post

Diterjemahkan PMNews:

Ketua “West Papua Unification Committee Meeting”, Pastor Allan Nafuki, mengatakan masyarakat West Papua perlu ketahui bahwa masyarakat Vanuatu ada di belakang mereka dalam roh, dalam pertahanan mereka merebut kembali kemerdekaan mereka dari kolonial yang brutal.

Sang Ketua membuat pernyataan ini di hadapan tantangan yang tradis yang terus menantang para pemimpin di organisasi yang berbasis di Port Vila West Papua National Coalition for Liberation (WPNCL).

Kapolda Papua Curhat Ke Presiden

JAKARTA [PAPOS] – Kapolda Papua Irjen Yotje Mende saat memaparkan kondisi keamanan di Papua kepada presiden Jokowi dalam pertemuan kapolda seluruh Indonesia dengan presiden di Akademi Kepolisian di Semarang, Selasa 02-12-2014a polda Papua, Irjen Yotje Mende curhat ke Presiden Jokowi soal kondisi keamanan di Papua dimana masih ada 6 kelompok Kelompok Kriminal Bersenjata dan ada 5 Kelompok separatis yang menjadi target pihak kepolisian.

Masih ada kelompok separatis militer yang beroperasi di Papua Tengah. Sedang kelompok kriminal bersenjata ada 6 kelompok besar yang menjadi sasaran target operasi‎ kami,” kata Kapolda Papua kepada Presiden Joko Widodo ketika pertemuan para Kapolda se-Indonesia dengan Presiden Jokowi yang diberikan kesempatan untuk mengutarakan uneg-unegnya dalam pertemuan di Akademi Kepolisian (Akpol) di Semarang, Jawa Tengah, Selasa (02/12) kemarin.

Kelompok-kelompok ini adalah Goliath Tabuni dengan kekuatan 20 orang dan 11 pucuk senjata di Puncak Jaya. Puro Wenda dengan kekuatan 50 orang dan 24 pucuk senjata di Puncak Jaya dan Lani Jaya. Mathias Wenda beranggotakan 80 orang dengan 14 senjata di Jayapura dan Wamena. Kelompok Legatap Telegan dengan 30 orang anggota dan 20 senjata di Puncak Jaya. Kelompok Kalikopi Kualik beranggotakan 50 orang dengan 11 senjata di Timika dan sering mengganggu Freeport. Lalu ada kelompok Leogami Yogi dengan kekuatan 150 orang dan 24 senjata di Nabire dan Timika.

Sedangkan untuk separatis politik ada 5 kelompok,” katanya.

Menurut Kapolda Yotje. pihaknya telah menerapkan berbagai strategi untuk menangkal berbagai kejahatan tersebut. Langkah yang diambil termasuk melakukan pelayanan dan kebijakan yang pro rakyat, adil dan transparan.

“Kita juga lakukan kegiatan intelijen, penegakan hukum yang profesional dan proporsional. Selain itu juga penguatan deteksi dini, intelijen dan memaksimalkan Bimas, Babinkamtibmas,”

katanya.

Yotje mengatakan, masalah menonjol di kawasan tersebut adalah konflik vertikal, konflik horizontal dan juga persoalan hukum lainnya.

Kurangnya personel polisi di Papua menjadi suatu kendala dalam penengakan hukum di wilayah Papua, untuk itu Kapolda Yotje Mende sekaligus meminta agar Polda Papua Barat dibentuk mengingat luasnya wilayah Papua menjadi suatu wilayah Polda.

“Sebagaimana diketahui Polda Papua sangat luas, ada dua provinsi yaitu Papua dan Papua Barat. Dengan luas wilayah 443 ribu kilometer persegi. Penduduk 2,7 jiwa, 31 Polres, 42 Kabupaten Kota, 176 Polsek. Ada 14.630 personel ini masih kurang 45 persen dari daftar standar personel,”

kata Yotje Mende.

Yotje berharap agar Polda Papua Barat bisa segera dibentuk. Selain itu, dia mengusulkan membentuk Direktorat Polisi Udara dan Direktorat Tipikor di Papua.

“Ini penting karena ketika kami bergerak harus menggunakan pesawat, kemudian peningkatan sarana/prasarana Kompi Brimob,” katanya.

Sebelumnya, Kapolri Jenderal Sutarman menyatakan Presiden Jokowi ingin menerima masukan dari wilayah masing-masing. Hal ini penting untuk pengambilan keputusan strategis Presiden.

“Para Kapolda dipersilakan menyampaikan singkat, maksimal 2-3 menit dan itu menggambarkan persoalan di daerahnya masing-masing. Tidak perlu basa-basi bahasanya, tapi persoalan langsung, sehingga persoalan bisa langsung disampaikan kepada Presiden dan Presiden akan membuat arahan. Nanti juga diberikan waktu untuk bertanya,”

katanya.

Acara ini digelar di Gedung Graha Cendika Akademi Kepolisian Semarang. Hadir seluruh kapolda dan kapolres se-Indonesia. Hadir juga Menko Polhukam Tedjo Edhi, Menhan Ryamizard Ryacudu, dan MenPAN RB Yuddy Chrisnandi. Setelah pemaparan Kapolda Papua acara berlangsung tertutup. [dtk/agi]

Ditulis oleh Dtk/Agi/Papos, Rabu, 03 Desember 2014 00:52

Up ↑

Wantok Coffee

Melanesia Single Origin Coffee

MAMA Minimart

MAMA Stap, na Yumi Stap!

PT Kimarek Aruwam Agorik

Just another WordPress.com site

Wantok Coffee News

Melanesia Foods and Beverages News

Perempuan Papua

Melahirkan, Merawat dan Menyambut

UUDS ULMWP

for a Free and Independent West Papua

UUDS ULMWP 2020

Memagari untuk Membebaskan Tanah dan Bangsa Papua!

Melanesia Spirit & Nature News

Promoting the Melanesian Way Conservation

Kotokay

The Roof of the Melanesian Elders

Eight Plus One Ministry

To Spread the Gospel, from Melanesia to Indonesia!

Koteka

This is My Origin and My Destiny