Benny Wenda Gelar Acara Bakar Batu di Inggris Kenang Kepergian Dr. Ondowame

Benny Wenda
Benny Wenda (baju hitam) saat gelar acara bakar batu di Brighton, Inggris (Foto: Ist)

Acara bakar batu yang digelar di lokasi peternakan, dekat Brighton, Inggris, ini dihadiri juga oleh sejumlah warga Inggris yang selama ini aktif mengkampanyekan kerinduan bangsa Papua Barat untuk merdeka.

Benny Wenda, dalam sambutannya mengatakan, Dr. Ondowame merupakan tokoh intelektual, dan diplomat Papua Merdeka yang cukup terkenal di kawasan kepulauan Pasifik, dan telah mengabdikan seluruh hidupnya untuk pembebasan Papua.

“Selama menggelar acara ini, kami juga meratapi kepergiaan Dr. Ondowame, tetapi juga merayakan prestasi luar biasa ia tunjukan dengan terus membantu rakyat Papua Barat agar bebas dari penjajahan,” kata Benny.

Lanjut Benny, Dr. Ondowame merupakan seorang pejuang sejati yang konsisten untuk memperjuangkan kemerdekaan Papua Barat hingga ajal menjemputnya.

“HIdupnya diabdikan untuk pembebasan rakyat Papua, selamat jalan Dr. Ondowame, kami selalu mengenang jasa-jasamu untuk rakyat bangsa Papua Barat,” tegas Benny.

Sebelumnya, seperti ditulis media ini, Dr. Ondowame meninggal di Rumah Sakit Port Villa Vanutu, pada 4 September 2014, karena serangan jantung. (Baca: Tokoh OPM Berpulang; KNPB Serukan Duka Nasional, Benny Wenda Tulis Surat Duka Cita).

Selama ini Dr. Ondowame berjuang untuk pembebasan nasional bangsa Papua Barat, dan menjadi diplomat di kawasan Pasifik bersama Rex Rumakiek, Andy Ayaimseyba, dan Paula Makabory. (Baca: Masyarakat Sipil di Jayapura Gelar Ibadah Penguatan Kepergian Dr. Ondowame).

Baca juga: Pesan Dr. Jhon Otto Ondowame: Rakyat PB Harus Bersatu dan Lanjutkan Perjuangan Sampai Papua Merdeka (Bagian I dan bagian kedua baca: Pesan Dr. Ondowame: Rakyat PB Harus Bersatu dan Lanjutkan Perjuangan Sampai Papua Merdeka (Bagian II/Habis).

Untuk lihat foto-foto bakar batu: Kenang Kepergian Dr. Ondowame, Benny Wenda Gelar Bakar Batu di Brighton, Inggris

Sumber: SUARAPAPUA>com

PM Vanuatu Hadiri Pemakaman Dr. Jhon Otto Ondowame

PM Vanuatu, Joe Natuman saa
PM Vanuatu, Joe Natuman saat memberikan penghormatan kepada jenazah Dr. Ondowame (Foto: Ist)

Dalam acara pemakaman yang juga dihadiri oleh mantan Perdana Menteri Vanuatu, Moana Kalosil, Natuman memberikan penghormatan terakhir kepada pemimpin bangsa Papua Barat yang telah terus konsisten memperjuangkan kemerdekaan Papua Barat.

“Selamat tinggal Dr. John Otto Ondowame, perjuangan masih terus berlanjut, dan kemenangan yang pasti akan dicapai,” katanya, dalam sebuah pernyataan, saat mengantar peti jenazah ke liang kubur.

Peti mati John terbungkus rapi dengan bendera Papua Barat (Bintang Kejora), dan bendera Kanaky (Kaledonia Baru), sebelum dimakamkan.

Benny Wenda, diplomat Papua Merdeka di Inggris yang tidak bisa menghadiri pemakaman pejuang asal tanah Amungsa ini memberikan penghormatan melalui pesan di media.

“Semoga Anda Istirahat dalam Perdamaian tuan Dr John Otto Ondawame, seluruh hidup anda telah dikontribusikan untuk kebebasan rakyat kita,” kata pendiri kantor Free West Papua Campaign (FWPC) di sejumlah Negara di Eropa ini. (Baca: Benny Wenda Gelar Acara Bakar Batu di Inggris Kenang Kepergian Dr. Ondowame).

Sebelumnya, seperti ditulis media ini, Dr. Jhon Otto Ondowame meninggal di Rumah Sakit Port Vila, Vanuatu, pada 4 September 2014 karena serangan jantung. (Baca: Tokoh OPM Berpulang; KNPB Serukan Duka Nasional, Benny Wenda Tulis Surat Duka Cita).

Source: SUARAPAPUA.com

 

Benny Wenda Gelar Acara Bakar Batu di Inggris Kenang Kepergian Dr. Ondowame

Benny Wenda

Benny Wenda (baju hitam) saat gelar acara bakar batu di Brighton, Inggris (Foto: Ist)

Acara bakar batu yang digelar di lokasi peternakan, dekat Brighton, Inggris, ini dihadiri juga oleh sejumlah warga Inggris yang selama ini aktif mengkampanyekan kerinduan bangsa Papua Barat untuk merdeka.

Benny Wenda, dalam sambutannya mengatakan, Dr. Ondowame merupakan tokoh intelektual, dan diplomat Papua Merdeka yang cukup terkenal di kawasan kepulauan Pasifik, dan telah mengabdikan seluruh hidupnya untuk pembebasan Papua.

“Selama menggelar acara ini, kami juga meratapi kepergiaan Dr. Ondowame, tetapi juga merayakan prestasi luar biasa ia tunjukan dengan terus membantu rakyat Papua Barat agar bebas dari penjajahan,” kata Benny.

Lanjut Benny, Dr. Ondowame merupakan seorang pejuang sejati yang konsisten untuk memperjuangkan kemerdekaan Papua Barat hingga ajal menjemputnya.

“HIdupnya diabdikan untuk pembebasan rakyat Papua, selamat jalan Dr. Ondowame, kami selalu mengenang jasa-jasamu untuk rakyat bangsa Papua Barat,” tegas Benny.

Sebelumnya, seperti ditulis media ini, Dr. Ondowame meninggal di Rumah Sakit Port Villa Vanutu, pada 4 September 2014, karena serangan jantung. (Baca: Tokoh OPM Berpulang; KNPB Serukan Duka Nasional, Benny Wenda Tulis Surat Duka Cita).

Selama ini Dr. Ondowame berjuang untuk pembebasan nasional bangsa Papua Barat, dan menjadi diplomat di kawasan Pasifik bersama Rex Rumakiek, Andy Ayaimseyba, dan Paula Makabory. (Baca: Masyarakat Sipil di Jayapura Gelar Ibadah Penguatan Kepergian Dr. Ondowame).

Baca juga: Pesan Dr. Jhon Otto Ondowame: Rakyat PB Harus Bersatu dan Lanjutkan Perjuangan Sampai Papua Merdeka (Bagian I dan bagian kedua baca: Pesan Dr. Ondowame: Rakyat PB Harus Bersatu dan Lanjutkan Perjuangan Sampai Papua Merdeka (Bagian II/Habis).

Untuk lihat foto-foto bakar batu: Kenang Kepergian Dr. Ondowame, Benny Wenda Gelar Bakar Batu di Brighton, Inggris

Sumber: SUARAPAPUA>com

Benny Wenda Gelar Acara Bakar Batu di Inggris Kenang Kepergian Dr. Ondowame was originally published on PAPUA MERDEKA! News

Negara-Negara di Balik Gerakan Papua Merdeka

Kompasiana.com, 11 September 2014 21:28:31 Diperbarui: 18 Juni 2015 00:58:55 Dibaca : Komentar : Nilai :

Dalam banyak ulasan saya sebelumnya dan didukung referensi dari postingan rekan-rekan Kompasianer lainnya, bisa dibaca dengan jelas negara mana saja yang mempunyai kepentingan langsung maupun tak langsung terhadap Papua. Berikut ini ulasan saya tentang keterlibatan sejumlah negara berdasarkan berita media terpercaya.

Noam Chomsky seorang Profesor Linguistik Modern dari Massachusetts Institute of Technology awal Desember 2013 menuding Amerika Serikat dan Australia telah melakukan skandal besar mengenai masalah Papua. Tudingan itu diungkapkan dalam sebuah wawancara yang dilakukan YouTube dan dipublish di media sosial itu 8 Desember 2013. Chomsky menilai perlawanan di Papua Barat akan terus terjadi walaupun tidak akan berhasil. Untuk meredam perlawanan itu, Chomsky menyarankan pihak barat (Australia dan AS) harus mengambil tanggungjawab dan tindakan atas konisi yang terjadi. http://youtu.be/EaaaeHFKXI4

Tudingan Chomsky itu dilontarkan setelah tahun 2011 lalu, Presiden AS Barack Obama dalam perjalanan menuju Bali dalam rangka dua KTT, ASEAN dan Ekonomi Asia Timur, Obama singgah di Australia. Obama mengumumkan sebuah keputusan penting, yaitu AS akan menempatkan 2.500 personil marinir di Darwin, Australia Utara. Menurut Obama kehadiran pasukan AS Darwin dalam rangka mengimbangi pergerakan China di kawasan Asia Tenggara. AS dan Astralia sama-sama memiliki kepentingan di Papua. AS melalui PT Freeport, sedangkan Australia selain soal kesamaan ras penduduk asli Papua dengan etnis Aborigin, juga punya sejumlah perusahaan penebangan kayu yang beroperasi di wilayah Papua Nugini, dan bukannya tidak mungkin Australia juga mengincar kayu di hutan-hutan Papua.

Dalam sebuah analisis yang dipublish situs rajawalinews.com, menyebutkan kehadiran militer AS di Darwin itu harus dilihat sebagai sebuah “peringatan” bagi Jakarta. AS sendiri sudah menyatakan kekhawatirannya tentang pergerakan China. China sudah berhasil memasukan perusahaan gas miliknya ke Tangguh, Papua Barat. Antisipasi yang perlu dilakukan adalah boleh jadi penempatan marinir di Darwin dalam rangka menyambut perubahan yang mungkin bisa terjadi di Indonesia yang berdampak di Papua. Jika situasi panas di Papua bereskalasi dan Indonesia tidak punya kemampuan mengatasinya, maka AS bersama-sama Australia sewaktu-waktu dapat “menyelamatkan” Papua. Yang berbahaya adalah “penyelamatan” Papua oleh kedua negara itu belum tentu menguntungkan Indonesia. http://rajawalinews.com/5109/pasukan-as-di-australia-antisipasi-papua-keluar-dari-nkri/

Selain China, Inggris sudah lebih dahulu menempatkan perusahaannya di Papua, yaitu Perusahaan minyak dan gas bumi British Petroleum (BP) di Tangguh, Papua Barat. Untuk “mengamankan” usahanya itu, Inggris “memelihara” Benny Wenda dengan memberinya sejumlah kemudahan, antara lain suaka politik dan kantor perwakilan OPM yang diresmikan April 2013. Menyusul kemudian, kelompok pendukung gerakan Papua merdeka di Australia membuka kantor perwakilan OPM di Melbourne pada 25 Juni 2014. Kantor tersebut terletak di wilayah Docklands yang merupakan salah satu area bisnis di Melbourne. Besar kemungkinan, pembukaan kantor tersebut juga didanai pihak Australia. Advokat kemerdekaan Papua Barat, Ronny Kareni kepada ABC, seperti dikutip Australia Network News mengharapkan Pemerintah Australia dapat melakukan proses negosiasi dengan Indonesia untuk mencari masa depan Papua Barat. http://international.okezone.com/read/2014/06/25/413/1004080/cari-dukungan-pbb-pendukung-papua-barat-buka-kantor-di-australia

Australia juga diketahui telah menginisiasi pembentukan kaukus parlemen internasional untuk mendukung kemerdekaan Papua (International Parliamentarians for West Papua / IPWP). IPWP diluncurkandi Canberra tanggal 28 Februari 2012 (Kompas.com, 17 April 2012). Kaukus ini beranggotakan sejumlah politikus lintas partai politik dari sejumlah negara, antara lain Ricard Di Natale dan Bob Brown dari partai Hijau Australia, Powes Parkop dari Papua Nugini (PNG), Rahl Regenvanu (Vanuatu), Chaterine Delahunty (New Zeland).

Di pasifik selatan, Vanuatu merupakan salah satu negara yang konsisten dan terang-terangan mendukung kemerdekaan Papua. Vanuatu telah berusaha mendukung masuknya Papua kedalam organisasi MSG (Melanesian Spearhead Group). Marinus Yaung, pengamat Politik Papua dari Uncen Jayapura kepada koran lokal Bintang Papua 14 Agustus 2014 dan dirilis papuapost.com mengatakan, berdasarkan pengamatannya, isu Papua Merdeka di negara Vanuatu telah menjadi komoditi politik para elit politik di Vanuatu untuk memperebutkan kursi kekuasaan perdana menteri. Isu Papua Merdeka yang disuarakan di Vanuatu, tidak untuk kepentingan orang Papua, tetapi untuk kepentingan politik para elit politiknya. Hampir sebagian besar Perdana Menteri Vanuatu yang terpilih sejak Tahun 1986 sampai sekarang, selalu menjadikan isu Papua Merdeka sebagai isu kampanye politiknya untuk mendapatkan kepercayaan parlamen dan rakyat Vanuatu. http://papuapost.com/2014/08/isu-papua-merdeka-hanya-kepentingan-elit-politik-vanuatu/

Dalam MSG Summit di Port Moresby Juni 2014, pengajuan kembali proposal kelompok gerakan Papua merdeka untuk menjadi anggota MSG lagi-lagi ditolak. MSG meminta agar proposal itu harus diajukan oleh sebuah organisasi resmi yang mempresentasikan seluruh elemen perjuangan masyarakat asli Papua. Keputusan MSG ini kemudian ditindaklanjuti oleh Perdana Menteri Vanuatu yang baru, Joe Natuman dengan memfasilitasi pertemuan rekonsiliasi seluruh komponen perjuangan Papua Merdeka di Port Villa, Vanuatu, namun hingga kini, pertemuan dimaksud belum juga digelar.

Menurut Marinus, jika sampai Oktober 2015 tidak ada lagi 1-2 negara yang ikut bersama Vanuatu mendukung secara terbuka kemerdekaan Papua, Papua tidak masuk menjadi anggota MSG. Maka semua orang Papua harus mengecam dan mengutuk negara Vanuatu bersama-sama para elit politiknya yang hanya menjadikan orang Papua sebagai bagian dari strategi eksploitasi politik mereka.

Sebelum mengakhiri tulisan ini, tidak lupa saya menyebut Belanda. Karena Belanda-lah yang membentuk tentara berisikan orang-orang Papua untuk menghadapi ancaman Trikora tahun 1961. Dan patut diduga, tentara bentukannya itulah yang kemudian bermetamorfosis menjadi OPM sekarang.

Menurut Nicolaas Jouwe, OPM didirikan oleh opsir-opsir Belanda pada 1965 bersamaan dengan pecahnya G-30S/PKI untuk memusuhi Indonesia dan mengganggu keamanan di wilayah Papua. OPM berkeyakinan bahwa Papua telah mendapatkan kemerdekaan yang diberikan oleh Belanda dan memerdekaan itu telah dideklarasikan tanggal 1 Desember 1965 oleh Nieuw Guinea Raad dimana Nicolaas Jouwe sebagai salah satu anggotanya. Peristiwa 1 Desember 1961 inilah yang seringkali menjadi dasar klaim pemimpin Papua sekarang bahwa ‘negara’ Papua pernah ada, tetapi telah dirampas oleh konspirasi internasional Indonesia, Amerika Serikat, dan Belanda (antaranews.com 13 Mei 2014).

Negara-negara yang disebutkan di atas dalam diplomasi dengan Pemerintah Indonesia selalu menyatakan menghormati dan mengakui kedaulatan wilayah Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI) termasuk Papua. Namun diplomasi itu tentu saja dilakukan demi kepentingan ekonomi negaranya. Namun jika kebijakan Indonesia atas Papua mengganggu kepentingan ekonomi mereka, pengakuan kedaulatan bisa saja berubah. Ini akan menjadi pekerjaan rumah teramat berat bagi Pemerintahan Jokowi-JK ke depan.

Mathias Wenda: Berduka Sedalam-Dalamnya atas Wafatnya Dr. OPM John Otto Ondawame

para tokoh Papua Merdeka
Dari Kiri Layar Anda: Alm. Dr. Ondawamena, Mr. Benny Wenda, Mr. Any Ayamiseba

Dari Markas Pusat Pertahanan Tentara Revolusi West Papua (TRWP) di rimba raya New Guinea, Panglima Tertinggi Komando Revolusi Gen. TRWP Mathias Wenda bersama seluruh staff dan gerilyawan menyatakan

BERDUKACITA SEDALAM-DALAMNYA

atas wafatnya Dr. OPM John Otto Ondawame di Port Vila, Republik Vanuatu.

Dari rimbaraya New Guinea, dari Markas Pusat Pertahanan di mana Dr. OPM Ondawame pernah tinggal bersama di tempat ini, kami segenap pasukan menyatakan:

  1. Perjuangan yang telah ditinggalkan akan terus kami perjuangkan sampai cita-cita bersama tercapai;
  2. Akan terus mendorong mobilisasi Masyarakat Melanesia dalam memperjuangkan hargadiri, jatidiri dan kemerdekaan demi perdamaian kawasan Melanesia dan Pasifik Selatan;
  3. Mendorong dan mewujudkan lamaran West Papua untuk menajdi anggota MSG sebagai dengan langkah-langkah konkrit sesuai perjuangan Dr. Ondawame belakangan ini.

Untuk sekalian bangsa Papua, diserukan untuk terus memperjuangkan nilai-nilai kebenaran dengan komitmen dan konsistensi, sampai titik darah penghabisan seperti yang dibuktikan Almarhum, dan meninggalkan perbuatan penghianatan yang telah dicontohkan oleh tokoh Papua Merdeka lainnya yang kini bekerjasama dengan kolonial NKRI untuk mematikan perjuangan Papua Merdeka.

Demikian pernyataan DUKA SEDALAM-DALAMNYA ini kami sampaikan di hadapan sekalian rakyat bangsa Papua di manapun Anda berada, dengan seruan agar kita terus bergerak mempercepat proses pendaftaran bangsa Papua di MSG dan proses persatuan di antara para pejuang Papua Merdeka.

Dikeluarkan di: Markas Pusat Pertahanan

Pada tanggal: 10 September 2010

———————

Panglima,

 

TTD/ Cap

 

Mathias Wenda, Gen. TRP

——————————-
NBP:A.001076

 

John Otto Ondawame, Ujung Tombak Papua dari Nemangkawi

Jayapura, 9/9 (Jubi)-Orang Papua baru saja tersentak , menundukkan kepala atas kepergian salah satu tokoh pejuang Papua dari Nemangkawi. Radio New Zealand menyebutnya sebagai pemimpin penting bagi orang-orang Papua.

Namanya John Otto Ondowame , lelaki Amungme kelahiran Wanamun, Bumi Amungsa, 30 November 1953. Sejak 2013 bersama rekan-rekannya di WPNCL berjuang untuk Papua Barat masuk dalam deretan bangsa-bangsa Ujung Tombak Melanesia.

Rex Rumakiek, salah seorang rekan seperjuang dari WPNCL mengatakan orang Papua telah kehilangan tokoh penting dan ilmuwan politik dalam perjuangan Papua Merdeka. Katanya, Ondowame adalah orang yang berpendidikan tinggi dan datang dari wilayah yang kaya tambang emas, tetapi memilih hidup sederhana dan bersahaja. Ia tamat dari Universitas Cenderawasih (Uncen) dan masuk dalam semak-semak hutan rimba, memanggul senjata dan berjuang demi tanah Papua.

Sayangnya pejuang ujung tombak bangsa Papua telah pergi menghadap Hai Yogon Nerek atau Jomun Somun Nerek, Bapak Maha Kuasa, Maha Baik, Maha Suci yang berada di Surga atau Sang Pencipta dalam bahasa Amungme.

Dia menghembuskan nafas terakhir pada 4 September lalu di Rumah Sakit di Port Villa Vanuatu, di Pasifik Selatan, setelah berjuang mempertahankan hidup dari penyakit jantung yang dideritanya. Ia pergi meninggalkan seorang isteri perempuan asal Fiji dan anak laki-laki bernama Jacob.

Para pemuda Amungme pada awal 1970 an banyak yang datang belajar di Kota Jayapura, termasuk John Otto Ondowame mahasiswa administrasi negara Uncen, Thom Beanal mahasiswa STFT Taburia Padangbulan, Constan Hanggaibak mahasiswa APDN Yoka, Kelly Kwalik bersekolah di SPG Taruna Bhakti Waena.

Selesai meraih gelar sarjana muda dari Universitas Cenederawasih 1976, pilihannya memperjuangkan kemerdekaan Papua. Setahun kemudian 1977 pecah peristiwa sosial dan masyarakat Amungme mengungsi sampai ke tambang Ok Tedi di Papua New Guinea, akibat operasi militer. Seluruh wilayah pegunungan berkecamuk, pesawat tempur Bronco memborbardir dari udara, menghilangkan nyawa banyak orang. Peristiwa Kobagma ini menjadi awal tragedi 1977.

John Otto Ondowame bergabung bersama pejuang Papua Jacob Pray yang juga sarjana muda lulusan Universitas Cenderawasih. Bertahun-tahun dia berjuang di hutan perbatasan Papua dan Papua New Guinea(PNG). Sekitar 1983 para pejuang di hutan Papua ini mendapat suaka politik di Eropa. Jacob Pray dan Otto Ondowame ke Stockolm Swedia dan bergabung dengan Nick Messet, Indey, Dr Mauri. Sedangkan Zeth Roemkoren mendapat suaka politik di Yunani.

Orang Amungme selalu mengungkapkan perasaan mereka dengan memakai kata-kata kiasan yang memiliki arti sangat mendalam. Mendiang Mozes Killangin tokoh Amungme dalam tulisannya kepada Majalah Triton 1958 mengungkapkan, Pasang Lampu Lekas Antero Masih Gelap. Dalam artikelnya Guru Mozes Kilangin menegaskan kawasan Akimuga dan Puncak Cartensz masih tertinggal dan belum pernah ada sentuhan pembangunan dari pemerintah Belanda.

Begitu pula salah seorang putra Amungme, almarhum Anthon Kelanangame, eks wartawan Tifa Papua dalam skripsi sarjana muda di Sekolah Tinggi Filsafat Fajar Timur(STFT) berjudul, “Belum Bertanya Sudah Menjawab”. Artinya, mereka semua belum bertanya kepada masyarakat Amungme sudah menjawab dengan membuka tambang di kawasan Nemangkawi.

John Otto Ondowame . Laki laki dari Amungme, patut dikenang sebagai ujung tombak Papua yang runcing, memperjuangkan hak-hak orang Papua untuk lepas dari belenggu pasca kolonialisme modern.

Meski berjuang dengan segala keterbatasan, John Otto Ondowame tak lupa untuk belajar, mereguk sumur pengetahuan.. Bayangkan saja dia mampu meraih gelar PhD , political science dari Australian National University 2000. pendidikan Pasca Sarjana dia selesaikan dari University of Western Sidney.

Menyimak dari berbagai gelar kesarjaannya, Otto Ondowame adalah orang yang selalu belajar baik secara otodidak maupun melalui jalur resmi.

Sangat jarang menemui seorang pejuang Papua yang berpendidikan tinggi dan mau berjuang untuk orang Papua Merdeka. Bahkan pertemuan di Noumea, Kaledonia Baru, sangat nampak menegaskan bahwa Otto Ondowame memegang peran penting untuk melobi Papua Barat, masuk dalam keluarga besar Ujung Tombak Melanesia.

Lidah Ondonawe sangat fasih berbahasa Inggris, Swedia dan juga Belanda. Tak heran kalau kemampuan berbahasa asing membuatnya memiliki kelebihan untuk bernegosiasi dalam diplomasi politik.

Ondowame menulis disertasinya berjudul ’One people, one soul’: West Papuan nationalism and the Organisasi Papua Merdeka (OPM)/Free Papua Movement. PhD, RSPAS, ANU, c. 2000. Mendiang Ondowame juga menulis berbagai artikel tentang Papua terutama tentang hak penentuan nasib sendiri. (Jubi/Dominggus A Mampioper)

Jubi Penulis : Dominggus Mampioper on September 9, 2014 at 18:25:32 WP Editor : Syam Terrajana

Ini Kutipan Belasungkawa buat Dr. John Otto Ondawame

Dr. OPM John Otto Ondawame
Dr. OPM John Otto Ondawame

VANUATU (Liputan7) – Beragam komentar dan ucapan belangsungkawa ditujukan kepada Dr. John Otto Ondawame yang dikenal sebagai politikus senior Papua Barat. Berikut di antara tanggapan kerabat dan koleganya:

Demi Nawipa Jr. :

Seorang Doktor yang pernah belajar tentang sosial sains membiarkan kepentingan hidup pribadinya, sebenarnya beliau putra asli satu-satu dari areal lisensi pertambangan tembaga dan emas terbesar dunia di Papua. Tetapi, dia menjadi terasing untuk memperjuangkan penentuan nasip sendiri bagi bangsanya. Dia juga tahu bahwa kekayaan alam Papua yang di ambil oleh penguasa itu adalah secara curi dan tidak sah, sehingga beliau menghabiskan umur hidupnya berkomitment untuk memperjuangkan nasib bangsa melanesia di papua barat tanpa tawar-menawar oleh penguasa.http://srmpapua.blogspot.com/…/putra-asli-dari-glasberg…

Ebenheizar Christiano :

Turut berduka cita atas berpulangnya bapa pemersatu Bangsa Papua di Port Villa, semoga atas kepergian bapak pemersatu ini menjadi teladan bagi kami kami semua untuk bersatu dalam pembebasan Tanah Papua dari tangan kolonial, selamat jalan bapa Doktor ketempat yg maha tinggi dirumah Bapa di surga. Tuhan memberkati.

Simon Carlos Magal :

Amole Nerekge John Otto Ondawame, selamat jalan Bpk, kami seluruh rakyat Papua Barat, turut berduka atas kepergianmu di rumah Bapak yang kekal semoga arwah Bpk diterima oleh di Allah Bapak Yang Maha Kuasa di Surga.

Nak Papua :

Kami seluruh Masyrakat suku KIMYAL turut berduka cita atas berpulangnya seorang pahlawan bangsa Papua Barat, kami sangat menghargai dan menghormati semua pengorbanan Bapak bangsa Papua. Kami berdoa bagi keluarga yang ditinggalkan Tuhan Yesus Elohim Israel memberkati dan menguatkan-Nya.

Gorbaco Zongg :

TURUT berduka cita atas berpulangnya tokoh pejuang Papua, dan putera yang yang terbaik dalam perjuangan,maka kami rakyat papua Barat berduka diseluruh tanah papua demi perjuangan kehilangan seorang pemimpin masa depan rakyatnya.

Moi kami dari sorong mengucapkan turut berduka cita yang sebesarnya atas kepergian politikus senior papua, semoga Tuhan Yesus di surga menyertai dan menerima

Elly van Vliet :

I am so sorry that this sweet and great man has passed away too soon. I last saw him in January this year at his house. He was already suffering from a weak health. He has dedicated his life to the West Papua cause. RIP dear John.

Diana Salakory Dengan ini Keluarga L.D. Kunu –

Salakory Turut Berduka Cita! Semoga Keluarga Besar Ondawame jang di tinggalkan mendapat Penghiburan serta Kekuatan dari Tuhan Jesus. (mag)

Dr. John Otto Ondawame Meninggal Dunia Akibat Serangan Jantung

VANUATU (Liputan7) – Politikus senior Bangsa Papua Barat, Dr. John Otto Ondawame, telah meninggal dunia sekitar pukul 21.30 WIT akibat serangan jantung di Port Vila General Hospital, Vanuatu.

Wakil Ketua West Papua National Coalition for Liberation (WPNCL) ini, meninggalkan seorang istri dan seorang anak laki-laki.

“WPNCL mengapresiasi sumbangsih almarhum yang mempertaruhkan seluruh hidupnya demi memperjuangkan masa depan Papua Barat yang bebas dari para penjajah,” ungkap kerabat almarhum.

Dikatakan pula, pengabdian almarhum tercatat dengan tinta emas dalam lembaran sejarah perjuangan bangsa Papua Barat. (mag)

Ini Alasan Keluarga Martinus Yohame di Sorong Tolak Otopsi

Sorong, 5/9 (Jubi) – Kepala Suku Masayarakat Jayawijaya Wilayah Sorong Raya, Pdt. Kias Kogoya mengemukakan, mengapa keluarga besar Alm. Martinus Yohamen yang merupakan Ketua KNPB Sorong yang ditemukan tewas, Selasa (26/8) menolak jasadnya untuk diotopsi pihak kepolisian.

“Karena pihak kelaurga Martinus, yaitu bapak dan ibunya di Jayawijaya telah merelahkan kepergian anaknya dan kematian almahurm. Sebab ini meruapakan kosenkuensi dari perjuangan Papua merdeka,” kata Kogoya.

Kogoya mengakui, sebagai kepala suku, dirinya tak dapat mengintervensi keluarganya untuk harus melakukan otopsi bagi jasad Martinus.

“Saya hanya sebatas kepala suku, sayang tak bisa mengintervensi keluarganya. Sebab keluarganya sudah rela kematian Alm. Martinus Yohame. Bahkan oran tuanya sudah di sumpah untuk almarhum menjalankan perjuangan ini,”

jelasnya.

Hal ini juga diperkuat oleh pernyataan Plt. Ketua KNPB Sorong Raya, H. Heselo. Bahkan menurut Heselo, dirinya selaku ketua sementara mengakuai, polisi sebenarnya meminta mereka ijin untuk melakukan otopsi jasad Alm. Martinus Yohame. “Tapi kami tolak, karena ini sudah jelas penculikan dan pembunuhan terencana. Kami bilang kenapa tidak otopsi sewaktu jenasah masih di kamar mayat, padahal kami sudah bawa pulang untuk kubur,” katanya.

Sekadar diketahui, jenasah Alm. Martinus Yohame dibawa keluarga bersama massa KNPB Sorong Raya pada Selasa (26/8) sore ke rumah kediaman almarhum yang terletak di Jalan F. Kalasuat Malanu Kampung, Kompleks Universitas Kristen Papua. Lalu dimakamkan di Pekuburan Umum Kilometer 10 Kota Sorong, Rabu (27/8) sore. (Jubi/Nees Makuba)

Penulis : Ness Makuba on September 5, 2014

Komnas HAM Papua: Mayat Misterius itu Ketua KNPB Sorong Raya

JAYAPURA- Kendati Polda Papua belum merilis siapa identitas mayat yang ditemukan nelayan di pulau Nana, Distrik Doom, Kabupaten Sorong, namun Komnas HAM perwakilan Papua, telah mendapatkan informasi soal pembunuhan terhadap mayat tersebut, bahwa mayat tersebut merupakan Ketua KNPB Sorong Raya Martinus Yohame.

Pasalnya PLT.Kepala Kantor Perwakilan Komnas Ham Papua Frits Ramandey mengungkapkan bahwa pihaknya menerima pengaduan yang diberikan oleh anggota KNPB sorong ke Komnas HAM Papua, sejak 26 Agutus lalu ada mayat yang ditemukan dimasukkan ke dalam karung, di ikat kaki dan tangan.

Oleh sebab itu, Frits meminta, agar Polda Papua melalui Polres Sorong harus berhasil mengungkap kasus ini, siapa otak dibelakang pembunuhan sadis ini.

“Kita mendapatkan informasi dari anggota KNPB Sorong, mereka juga menceritakan sebelumnya tanggal 19 Agustus, yang bersangkutan (Martinus Yohame), masih ada, dan memberikan keterangan pers, dan pernyataan terkait dengan kunjungan Presiden SBY ke Sail Raja Ampat,”

ungkapnya, saat ditemui di ruang kerjanya,Kamis (28/8),kemarin.

Lanjut Frits ramandey, bahwa sejak yang bersangkutan usai memberikan keterangan pers, 19 Agustus lalu, sejak saat itulah yang bersangkutan tidak ada lagi sampai ditemukan di Pulau Nana, Distrik Doom, tepatnya hari Selasa (26/8) lalu. “Kita lihat motif pembunuhan ini, maka dilakukan oleh kelompok terlatih,”tuturnya.

Frits Ramandey menjelaskan mengapa kasus ini menjadi konsentrasi dari Komnas HAM Papua, karena kejadian ini berkenan dengan kendatangan Presiden SBY di Sorong, maka Martinus Yohame, sebagai aktivis yang memberikan keterangan pers terkait dengan kedatangan Presiden. Dan ini wajar dimana ketika ada kunjungan dari tokoh negara, sering ada keterangan pers atau aksi, untuk mengingatkan Presiden terkait dengan kondisi HAM dan lingkungan. “Jadi ini sebenarnya hal yang baik, dalam rangka mengingatkan negera terkait dengan kondisi di Papua Barat,” tuturnya.

Frits, melihat dari rentetan peristiwa, dimana tanggal 19 Agustus yang bersangkutan memberikan keterngan pers, tanggal 26 Agustus ditemukan tewas, karena itu terkait dengan undang-undang no.39 tahun 1999, tentang HAM pasal 33, dimana setiap orang berhak untuk bebas dari penghilangan paksa dan penghilangan nyawa, jadi jika kondis ini dibiarkan, maka akan sama dengan kasus-kasus sebelumnya pada periode orde baru, atau sebut saja seperti kematian Theis Hiyo Eluai.

“Kita minta agar Polda Papua melalui Polres Sorong, untuk segera mengungkap, siapa dalangnya,”Dalam waktu dekat, jika tidak maka, akan memalukan institusi Polri,” tukasnya.

Bahkan kata Frits, jika ini dibiarkan lagi, maka akan menjadi preseden buruk bagi kondisi HAM di Papua, terutama terhadap para aktivis, dimana masyarakat internasional akan menilai jika negara tidak memberikan perlindungan kepada aktivis.

Sementara itu mayat seorang warga yang diduga Ketua Komite Nasional Papua Barat (KNPB) Sorong Raya, Marthinus Yohame, akhirnya gagal diotopsi setelah Kepala Suku Wamena yang ada di Sorong, Tias Kogoya, mengambil jenazah tersebut untuk kemudian dilakukan pemakaman di Taman Pemakaman Umum Kilo 10 Sorong, Rabu (27/8) kemarin.

Dengan tidak dilakukannya otopsi ini, otomatis pihak kepolisian akan kesulitan mengungkap penyebab pembunuhan mayat yang diduga bernama MY tersebut. Namun demikian, Kabidhumas Polda Papua, Kombes Pol Sulistyo Pudjo tidak memberikan sinyal bahwa kasus tersebut akan dihentikan penyelidikannya meskipun akan semakin sulit.

“Kemarin beberapa orang yang mewakili keluarga korban dan dipimpin kepala suku mereka datang ke Polres Kota Sorong. Mereka bertemu Kapolres dan Kasat Reskrim dan menyatakan menolak dilakukan otopsi. Padahal polisi menjelaskan kepada keluarga, otopsi adalah syarat mutlak dalam proses penyelidikan kasus dugaan pidaan penyebab, waktu dan modus, dan bukti-bukti di badan korban harus ditentukan dari otopsi,”

kata Pudjo kepada wartawan di ruangannya, Kamis (28/8).

Sebagaimana yang telah diberitakan sebelumnya bahwa dari otopsi itu bisa ketahui penyebab kematian korban, apakah karena dipukul dengan benda tumpul, terkena sabetan atau tikaman benda tajam atau bahkan bisa diketahui bahwa korban ditembak dan lain-lain.

“Nanti nanti kalau dihentikan penyidikannya, kasus yang bisa dihentikan itu pertama karena tidak cukup bukti, kasusnya telah kadaluarsa, atau tersangka ternyata telah meninggal dunia. Nah untuk kasus ini belum bisa diarahkan ke sana, jangan-jangan nanti tersangkanya muncul, ada, jadi tidak bisa begitu saja dihentikan,”tambahnya.

Mengenai pihak keluarga dan kepala suku yang sudah mengambil mayat korban atas nama keluarga sehingga bisa disebutkan bahwa korban adalah Marthinus Yohame, Kabidhumas masih belum meyakininya. Pasalnya, kata Kabidhumas, pihak keluarga bisa saja menduga namun pihak kepolisian harus berdasarkan fakta dan data. Jika berdasarkan ciri fisik yang terlihat, memang keluarga korban merasa bahwa mayat tersebut adalah MY.

“Tidak bisa dipastikan karena sudah berapa lama dalam air. Tentu proses penyelidikan dan penyidikan sangat terhambat. Namun kita masih akan melakukan penyelidikan, polisi menyidik bersifat profesional yakni harus berdasarkan bukti, bukan hanya informasi,”

tandasnya.(cak/rib/wen

Jum’at, 29 Agustus 2014 , 23:17:00, CEPOS

Up ↑

Wantok Coffee

Melanesia Single Origin Coffee

MAMA Minimart

MAMA Stap, na Yumi Stap!

PT Kimarek Aruwam Agorik

Just another WordPress.com site

Wantok Coffee News

Melanesia Foods and Beverages News

Perempuan Papua

Melahirkan, Merawat dan Menyambut

UUDS ULMWP

for a Free and Independent West Papua

UUDS ULMWP 2020

Memagari untuk Membebaskan Tanah dan Bangsa Papua!

Melanesia Spirit & Nature News

Promoting the Melanesian Way Conservation

Kotokay

The Roof of the Melanesian Elders

Eight Plus One Ministry

To Spread the Gospel, from Melanesia to Indonesia!

Koteka

This is My Origin and My Destiny