SODELPA Fiji Launching Manifesto Politik Kemerdekaan West Papua

Buku Manifeto Politic SOLDEPA
Buku Manifeto Politic SOLDEPA (JUbi/Mawel)

Suva,21/7 (Jubi) – Pada Jumat, 18 Juli 2014 lalu, Partai Sosial Demokrasi Liberal (SODELPA) Fiji mendeklarasikan manifesto politik menjelang pemilihan umum 17 September 2014.

Partai pemilik pendukung terbanyak ini mengatakan, perjuangan rakyat West Papua (Papua Barat) akan menjadi agenda utama politik luar negeri dalam pemerintahan Fiji nanti.

“Ambil pendekatan baru menyangkut isu West Papua dan itu tawaran untuk kemerdekaan dari kekuasaan Indonesia,” tulis manifesto politik pada poin 8 bagian hubungan Internasional dan Perdagangan.

Manifesto SODELPA Fiji juga menyebutkan akan meningkatkan kerja sama, meninjau kembali sejumlah agenda kerjasama di tingkat regional kawasan Pacific dan Internasional. “Kerja sama penuh dengan Australia, New Zealand, US, Uni Eropa, Commonwealth dan Pacific Island Forum dan terus mendorong kerja sama Pacific Forum Island dan seluruh aspek kerja sama lainnya”.

Selain itu, juga meninjau dan merevitalisasi hukum dan beragam negosiasi perdagangan antara lain : Pacific Island Countries Trade Agreement (PICTA), Economic Patnership Agreement (EPA), and Pacific Closer Econimic Relations (PACER) dan negosiasi dengan pihak lain seperti United State, Japan dan China. Selanjutnya, juga meninjau keanggotaan Fiji pada Non Aligned Movement and dan Melanesia Spearhead Group (MSG) dan menguji relevansi Pacific Island Development Forum (PIDF)

Partai yang dipimpin Ro Teimumu Kepa ini tidak menyebut satu poin pun mengenai Kerja Sama Ekonomi Asia Pacific (APEC) dan Indonesia. Ia hanya menekan akan kerja sama dengan negara Jepang dan China.

Peluncuran manifesto ini memang bagian dari janji SOLDEPA FIJI sebelumnya. Saat itu, Ro Teimumu Kepa pernah mengatakan, perjuangan rakyat West Papua untuk bebas dari pendudukan Indonesia, bukanlah perjuangan yang terlupakan dari sesama Melanesia di Pacific. Seluruh rakyat Melanesia di Fiji ada bersama perjuangan West Papua.

“Anda tidak sendirian. Benih dukungan sedang bertumbuh untuk persoalan Anda. Kami ada bersama dengan Anda,” kata RO Teimumu di Suva, Fiji, Minggu (22/6).

Kepa menyampaikan pesan itu setelah Presiden Indonesia Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) mengunjungi Fiji dan berbicara pada Forum Pembangunan Kepulauan Pacific (PIDF) kedua di Nandi, Fiji, (19/6) Minggu lalu.

Menurut Kepa, Presiden SBY tidak mengangkat masalah West Papua di pertemuan PIDF kemarin, sementara sebelum meninggalkan Indonesia, media Indonesia menyebarkan kabar kalau SBY ke Pacific untuk menjelaskan isu dan banyak informasi yang salah mengenai West Papua di Fiji.

“Tapi dia dilaporkan tidak mengangkat isu West Papua secara terbuka di forum, meskipun dikutip di Indonesia bahwa ia bermaksud untuk menjelaskan masalah West Papua,”

kata Kepa.

Karena itu, Kepa menilai kehadiran Presiden Indonesia dalam pertemuan PIDF hanyalah diplomasi politik demi mempertahankan Papua tetap bagian dari Indonesia.

“Tujuannya adalah untuk menjaga sebanyak mungkin pemimpin Pasifik agar berada dalam kebijakan Indonesia atas West Papua dan untuk melawan meningkatnya tekanan internasional dan regional dalam mendukung West Papua,” kata Kepa.

Intelegen Fiji melancarkan pengamanan tingkat tinggi selama satu minggu, sebelum Presiden SBY melakukan kunjungan ke Fiji, untuk mengantisipasi adanya gerakan rakyat setempat mendukung West Papua di hadapan Presiden SBY.

Jurnalis yang vokal terhadap masalah Papua pun menjadi perhatian khusus dari agen rahasia Fiji. Bahkan polisi melarang kehadiran jurnalis senior Fiji, Netani Rika dalam pertemuan PIDF yang dihadiri Presiden Indonesia.
“Dia terlalu vokal,” telepon anggota agen rahasia ke Kantor Redaksi Fiji Times satu hari sebelum pertemuan PIDF. (Jubi/Mawel)

Penulis : Benny Mawel on July 21, 2014 at 16:52:24 WP, TABLOIDJUBI.com

Tiga Kali Letusan Senjata di Batas RI-PNG

Jayapura, 20/7 (Jubi) – Letusan senjata sebanyak tiga kali yang diduga berasal dari Orang Tak Dikenal (OTK) terdengar di Wutung, Distrik Muara Tami, Kota Jayapura tepatnya batas RI-Papua New Guinea (PNG).

Kepala Bidang Hubungan Masyarakat Polda Papua, Komisaris Besar (Pol) SulistyoPudjo mengatakan, letusan senjata itu terjadi, Sabtu (19/7) sekitar pukul 11.00 WIT.

“Kala itu terdengar bunyi tembakan sebanyak tiga kali dari arah Gunung Pawa, 500 meter dari tempat pencucian mobil dan motor Satgas Pamtas. Pelakunya diduga OTK,” kata Sulistyo Pudjo, Minggu (20/7).

Menurutnya, setelah mendengar letusan senjata itu, dua tim dari 751/R dan 623/BWU melakukan pengejaran ke arah suara tembakan tersebut itu. Namun tak menemukan satupun orang di lokasi.

“Sampai sekarang aparat keamanan masih menyisir di sekitar lokasi, termasuk pasukan 751/R yang ada disekitar Tempat Kejadian Perkara (TKP),” ujarnya. Tak ada korban dalam kejadian tersebut. Baik orang maupun benda.

“Untuk sementara pasukan yang berada di perbatasan RI-PNG sedang siaga dan keadaan di perbatasan dalam keadaan aman,” katanya.

Dalam sepekan terakhir, dua kasus penembakan terjadi di wilayan Pegunungan Papua. Kejadian pertama adalah penembakan terhadap warga sipil di Kalomen, Puncak Jaya. Satu korban meninggal dunia dan dua lainnya menjalani perawatan di Rumah Sakit Mulia, Puncak Jaya.

Kejadian serupa kembali terulang di Tiom, Lanny Jaya, Kamis (17/7). Korban adalah seorang tukang ojek asal Probolinggo Jawa Timur, Nasito (45) yang merupakan warga Kampung Yokobag. Ia ditembak penumpangnya yang diduga bagian kelompok kriminal bersenjata di wilayah itu hingga tewas di tempat.

Kepala Kepolisian (Kapolda) Papua, Brigadir Jenderal (Pol) Yotje Mende menyatakan akan menindak tegas para oknum pelaku kriminal bersenjata di Papua.

“Tindakan oknum-oknum tersebut merusak tatanan bangsa dan negara. Prinsip saya, kita akan selalu berpegang teguh pada negara kesatuan kita. Siapapun yang ganggu keamanan akan ditindak tegas,’’

kata Yotje Mende akhir pekan kemarin.

Menurutnya, guna menindaklanjuti dua penembakan di Puncak Jaya dan Lanny Jaya, sudah ada tim gabungan Polisi dan TNI yang diturunkan untuk menyelidiki kedua kasus tersebut. Tim dipimpin Direktur Reserse dan Kriminal Umum Polda Papua Komisari Besar (Pol) Dwi

Perbatasan Wutung Memanas Lagi

JAYAPURA – Perbatasan Wutung yang menghubungkan wilayah Indonesia dan Papua New Guniea (PNG) kembali memanas setelah adanya rentetan penembakan oleh Kelompok Kriminal Bersenjata di sekitar Wutung, Distrik Muara Tami, Kota Jayapura, Sabtu (19/7) pagi pukul 10.00 WIT.

Beruntung aksi penembakan yang diduga dilakukan kelompok kriminal bersenjata itu tidak ada korban jiwa. Meskipun tidak ada korban jiwa, aparat TNI Polri bergegas langsung melakukan pengejaran dan pencarian terhadap kelompok tersebut.

Kepala Bidang Hubungan Masyarakat Polda Papua, Komisaris Besar Polisi Sulistyo Pudjo Hartono saat dikonfirmasi membenarkan adanya tembakan di sekitar Perbatasan Wutung yang dilakukan oleh Kelompok Kriminal Bersenjata. “Tembakan itu terjadi di daerah gunung sebanyak 1 kali dan selang 30 menit kemudian terdengar lagi bunyi tembakan selama tiga kali dari hutan,” jelas Pudjo, Sabtu (19/7).

Menurut Pudjo, aksi penembakan itu disebabkan adanya pembakaran dua Camp milik Kelompok Kriminal Bersenjata pimpinan Meki Gombo oleh Tentara PNG, yang ditengarai membuat kesal kelompok tersebut dengan mengeluarkan tembakan.

“Mulanya sekitar pukul 10.00 WIT terlihat dari menara pemantau oleh aggota Pos Polisi ada kepulan asap hitam di wilayah hukum PNG. Kemudian setelah dilakukan pengecekan di kampung Wutung ternyata asap tersebut berasal dari 2 camp milik Meki Gombo (pok KKB ) yang dibakar oleh Army PNG,”

ungkap Pudjo.

Pudjo berpandangan motif penembakan itu, guna menciptakan rasa takut dimasyarakat, sehingga masyarakat Indonesia maupun PNG resah dan takut melaksanakan kegiatan sehari-hari, termasuk proses belajar mengajar.

“Kelompok tersebut selalu berusaha membuat keresahan dengan cara menakut nakuti masyarakat dan hendak mengambil keuntungan di perbatasan, yang mengakibatkan rakyat baik indonesia atau PNG sangat resah sehingga mereka tidak mampu melaksanakan giat sehari-hari, seperti berkebun, berdagang, bersekolah dan lain-lain. Maka giat kelompok ini harus dikutuk dan dijadikan musuh bersama,”

kata Pudjo. (Loy/don/l03)

Senin, 21 Juli 2014 10:59, BinPa

 

Markas OPM Disergap Polisi

JAYAPURA – Sebuah Markas TPN/OPM yang berlamat di Kampung Berraf, Distrik Nimbokrang disergap oleh Gabungan Brimob dan Polres Jayapura pada Minggu (20/7) sore sekitar pukul 15.00 WIT.

Dari data yang dihimpun Bintang Papua menyebutkan, penyergapan markas TPN/OPM tersebut dipimpin langsung Kapolres Jayapura, AKPB Sondang Siagian. Awalnya pukul 11.00 WIT, tim gabungan dari Markas Polres hendak menuju ke Kampung Berraf, tepat di rumah Levi Tarko yang diduga tempat juru bicara TPN/OPM atas nama, Satto.

Begitu tiba di lokasi kejadian, tiba-tiba mendapat tembakan dari kelompok TPN/OPM yang berasal dari rumah milik Levi Tarko, sehingga tim gabungan Polres Jayapura bersama Brimob Polda Papua menyebar dan melakukan penyisiran di Kampung Berraf.

Dari hasil penyisiran itu, aparat berhasil menemukan sebuah markas miliki TPN-OPM di daerah hutan. Namun, kelompok tersebut telah melarikan diri ke arah hutan.

Namun dari hasil pemeriksaan Markas, aparat menyita 1 Pucuk senjata Laras Panjang Kaliber 22 Rakitan, 1 unit Mesin bubut, Pakaian Loreng, Sepatu PDL, Dokumen, 2 buah bendera Bintang Kejora, Id card anggota Rakornas, Mesin potong, Buku panduan tempur dan buku panduan Intelejen.

Ketika dikonfirmasi ke Kabid Humas Polda Papua, Kombes (Pol) Sulistyo Pudjo Hartono belum bisa memberikan keterangan adanya penyergapan tersebut. “Masih di tahan info sama team yang ada di gunung, karena tim yang berkerja dalam jumlah yang cukup dan didukung tim lengkap. Waktu mau bergerak saya ikut, jadi belum ada karena tim masih bergerak,” katanya, Minggu (20/8).

Sementara itu, ketika dikonfirmasi ke Kapendam XVII/Cenderawasih Letkol Rikas Hidayatulah membenarkan adanya penyergapan tersebut. “Betul ada penyergapan itu. Bukan kita yang didalam, kita hanya mengawal di luar saja,” katanya tadi malam. (Loy/don/l03)

Senin, 21 Juli 2014 10:43, BintangPapua.com

Markas OPM Disergap Polisi

JAYAPURA – Sebuah Markas TPN/OPM yang berlamat di Kampung Berraf, Distrik Nimbokrang disergap oleh Gabungan Brimob dan Polres Jayapura pada Minggu (20/7) sore sekitar pukul 15.00 WIT. Dari data yang dihimpun Bintang Papua menyebutkan, penyergapan markas TPN/OPM tersebut dipimpin langsung Kapolres Jayapura, AKPB Sondang Siagian. Awalnya pukul 11.00 WIT, tim gabungan dari Markas Polres hendak…

Markas OPM Disergap Polisi was originally published on PAPUA MERDEKA! News

Usut Penembakan, Polisi dan TNI Bentuk Tim Gabungan

Kapolda Papua dan rombongannya
Kapolda Papua dan rombongannya

Tampak Kapolda Papua baru, Brigjend (Pol) Drs. Yotje Mende, M.H., M.Hum., didamping Wakapolda Papua saat disambut sejumlah Pamen Polda Papua ketika memasuki Markas Polda Papua sebagai hari pertema kerjanya pada, Juamt (18/7) kemarin. (Loy/Binpa)JAYAPURA – Kepolisian Daerah Papua menyatakan telah membentuk tim gabungan bersama TNI dalam rangka penyelidikan dan pengungkapan kasus penembakan di Kabupaten Puncak Jaya dan Kabupaten Lanny Jaya, baru-baru ini.

Seperti apa yang dipaparkan Kapolda yang lama, masalah tersebut masih ditangani dan masih dalam penyelidikan intensif oleh anggota–anggota di lapangan.

“Polda Papua bersama TNI telah menurunkan Tim gabungan dalam rangka penyelidikan dan pengungkapan masalah tersebut,” kata Kapolda Papua, Brigadir Jenderal Polisi Yojte Mende usai pemaparan bersama ASRENA Kapolri, Irjen (Pol) Tito Karnavian, Jum’at (18/7).

Tim ini, kata Kapolda, dipimpin oleh Direktur Reskrim Umum, Komisaris Besar Polisi Dwi Rianto. Selain menyelidiki kasus penembakan di Puncak Jaya, sambung dia, tim ini juga akan menyelidiki kasus penembakan di Lanny Jaya.

“Saya belum bisa menyampaikan siapa dan bagaimana, karena masih menunggu hasil dilapangan. Saya berharap doa dari temen-temen wartawan. Untuk Ketua Timnya Direskrim Umum, termasuk penyelidikan Lanny Jaya,”

jelas Yotje Mende.

Disinggung komitmen untuk Papua, Kapolda Yotje berprinsip akan selalu berpegang teguh pada NKRI yang berdaulat dan akan menindak tegas siapa saja yang mengganggu keamanan. Dalam artian, lanjut dia, akan ditindak sesuai dengan hukum dengan mengajak semua pihak, baik aparat TNI maupun aparat Daerah bersatu padu.

Menurut Kapolda, tindakan oknum-oknum separatis merusak tatanan bangsa, makanya perlu dilakukan pencegahan. “Saya sendiri belum tahu modus-modusnya. Kita belum pelajari secara mendalam, nanti kita lihat,” kata dia.

Soal adanya tudingan Komnas HAM bahwasanya terjadi pembiaran oleh aparat, Kapolda menyatakan belum bisa menanggapi pernyataan tersebut. “Saya belum tahu itu, jadi saya belum bisa menanggapinya,”tutur Yotje.

Sebelum menutup wawancara, Kapolda menyampaikan sangat senang bisa bertugas di Papua. “Saya senang bertugas di sini, karena bapak saya juga dulu berdinas di Sorong, walaupun tidak pernah ke Jayapura, tapi saya pernah menginjak Papua,” ucap dia. (Loy/don/l03)

Sabtu, 19 Juli 2014 11:23, BintangPapua.com

Ribuan Pendukung Siap Jemput Forkorus Cs

Elias Ayakeding di dampingi anggotanya saat memberikan keterangan persnyaJAYAPURA – Pembebasan ‘Presiden’ NFRPB, Forkorus Yoboisembut, dan ‘Perdana Menteri’ NFRPB, Edison Waromi dari Lembaga Pemasyarakatan (Lapas) Abepura, Senin, (21/7), bakal disambut dengan kemenangan oleh ribuan massa pendukungnya.

Elias Ayakeding, yang disebut-sebut sebagai ‘Kepala Kepolisian’ Negara Federal Republik Papua Barat, (NFRPB), mengklaim ada sekitar 10 ribu massa Papua Barat akan menjemput pembebasan Forkorus Cs. “Ya kami pastikan sekitar 10 ribu rakyat Papua Barat akan memadati areal Lapas Abepura hingga kediaman Presiden di Sabron Yaru,” ungkapnya kepada wartawan dalam keterangan persnya di Prima Garden Abepura, Jumat, (18/7).

Dalam penyambutan itu tentunya diwarnai dengan sejumlah acara, seperti nyanyian suling tambur dengan berpakain adat sesuai dengan negara bagian masing-masing, dan baik Presiden Forkorus dan ‘Perdana Menteri’ Waromi akan diarak dari Lapas Abepura hingga Sabron Yaru. Setiba di Sabron Yaru dilanjutkan dengan berbagai agenda lainnya.

Terkait dengan itu, sebagaimana dengan statemennya yang sebelumnya bahwa, menghimbau kepada seluruh rakyat yang dihidup di Tanah Papua, supaya pada Senin (21/7) menghormati/menghargai pemimpin besar NFRPB, dengan cara tetap menjaga stabilitas keamanan dan ketertiban. Disamping itu pula hendaknya berhenti sejenak melakukan aktivitasnya untuk turut mendukung kelancaran hari pembebasan Presiden dan Perdana Menteri NFRPB. Termasuk kepada pemilik toko-toko di pinggir jalan dari Abepura sampai kediaman Presiden Forkorus harus menghentikan (tutup) aktivitas usahanya. Ini agar adanya kebersamaan.
Ditegaskannya, bagi masyarakat yang hendak turut berpartisipasi dalam melakukan penjemputan sebaiknya diminta jangan membawa alat tajam, alat tumpul dengan tujuan anarkis (mengganggu ketertiban keamanan) dan tidak boleh membawa Bendera Bintang Kejora (BK).

Namun sangat disarankan untuk membawa busana-busana adat dan menampilkan tari-tarian dan suling tambur untuk memeriahkan hari pembebasan Presiden Forkorus Cs.

  “Itu perintah tegas dari Presiden Forkorus Yoboisembut. Dalam penjemputan itu nantinya pihaknya menurunkan sekitar 1000 personil Polisi NFRPB untuk melakukan pengamanan,”

tegasnya.

Dirinya juga meminta kepada TNI/Polri RI diharapkan dapat membantu Polisi NFRPB untuk menjaga keamanan dan ketertiban agar kehidupan masyarakat tetap aman. Disamping itu pula diharapkan pula TNI/Polri jangan mengintervensi jalannya penjemputan itu, demi menghindari terjadi gesekan-gesekan yang pada akhirnya memunculkan terjadinya konflik.

 “Saya minta Kapolda dan Pangdam agar sama-sama bersama kami menjaga keamanan di Tanah Papua, karena keamanan itu kebutuhan semua pihak. Kami minta masyarakat jangan membawa hal-hal yang memancing aparat keamanan bertindak ,”

pungkasnya.

Forkorus Minta Tidak Dirayakan Besar-besaran

Sementara itu, Forkorus Yaboisembut, S.Pd, August M. Sananay Kraar, S.IP, Dominikus Serabut, Edison Gladius Waromi dan Selpius Bobii minta seluruh pendukungnya tak perlu  merayakan besar-besarannya pembebasannya pada Senin (21/7) sekitar pukul 09.00 WIT.  Tapi tetap berdoa dan bersyukur kepada Tuhan Yesus yang masih mempertemukan masing-masing umatnya.

Permintaan Forkorus Cs ini disampaikan Kepala Lapas Klas I A Abepura Endang Lintang Hardiman, SH., MH., ketika dikonfirmasi Bintang Papua di ruang kerjanya, Jumat (18/7).

Dikatakan Endang Lintang Hardiman, Forkorus Cs  juga mengharapkan masa pembebasan Forkorus Cs sudah selesai dari masa tuntutan pidana sesuai prosedur, sehingga pihaknya mengharapkan masyarakat ikut menjaga kamtibmas tetap tenang, aman dan kondusif. Tak ada hal-hal yang membuat situasi di Papua tak aman.
“Kami juga sudah koordinasi dengan instansi-instansi agar ikut menjaga kamtibmas saat Forkorus Cs bebas,” tukas Endang Lintang Hardiman.

Dikatakan, Forkorus Cs ditahan pada  20 Oktober 2011 karena secara sah dan resmi terbukti melanggar Pasal 106 Jo Pasal 55 Ayat (i) ke-1 KUHP tentang kejahatan terhadap keamanan negara, pasca peringatan Kongres Rakyat Papua (KRP) III di Lapangan Zakeus, Padang Bulan, Distrti Heram, Kota Jayapura. Forkorus Cs akhirnya dibebaskan pada 21 Juli 2014. (nls/Mdc/don/l03)

Sabtu, 19 Juli 2014 11:17, BintangPapua.com

Ribuan Pendukung Siap Jemput Forkorus Cs

Elias Ayakeding di dampingi anggotanya saat memberikan keterangan persnyaJAYAPURA – Pembebasan ‘Presiden’ NFRPB, Forkorus Yoboisembut, dan ‘Perdana Menteri’ NFRPB, Edison Waromi dari Lembaga Pemasyarakatan (Lapas) Abepura, Senin, (21/7), bakal disambut dengan kemenangan oleh ribuan massa pendukungnya. Elias Ayakeding, yang disebut-sebut sebagai ‘Kepala Kepolisian’ Negara Federal Republik Papua Barat, (NFRPB), mengklaim ada sekitar 10 ribu massa…

Ribuan Pendukung Siap Jemput Forkorus Cs was originally published on PAPUA MERDEKA! News

Jubir TPN/OPM: “Kami Berbeda Pandangan Politik Dengan NRFPB”

PAPUAN, Jayapura — Menyangkut pembebasan Forkorus Yaboisembut dan Edison Waromi yang diklaim sebagai Presiden dan Perdana Menteri Negara Republik Federal Papua Barat (NRFPB), Tentara Pembebasan Nasional Papua Barat – Organisasi Papua Merdeka (TPN-OPM) mengaku memiliki pandangan politik yang berbeda.

“Selama ini Forkorus Yaboisembut Cs tidak berjalan  bersama semangat revolusi yang dibangun TPM/OPM,” tegas Saul Bomay, Juru Bicara TPN-OPM, di dampingi Sekertaris Jenderal TPN-OPM, Yusak Pakage, saat memberikan keterangan kepada wartawan, di Jayapura, Sabtu (19/7/2014) siang.

Menurut Bomay, selama ini NRFPB juga tidak berjalan dalam perahu yang sama dengan TPN/OPM, bahkan dianggap berbeda kendaraan politik.

“Saya berbicara prinsipnya komando revolusi TPN/OPM, dan mereka (red, NRFPB) adalah negara Federasi, dan saya menilai negara Federasi itu masih bagian dari NKRI atau negara bagian,”

ujarnya.

Dikatakan, TPN/OPM sejak dahulu kala tidak memunyai sayap negara federasi, sebab sudah jelas, penanggungjawab umum adalah sayap militer.

“Kelompok Forkorus Cs karena membentuk negara Federasi, berarti mereka bagian dari Negara Republik Indonesia. Karena kalau mereka berbicara Federasi, sama saja dengan otonomi, berarti negara bagian dari NKRI, sedangkan TPN/OPM berbicara lepas dari Republik Indonesia,”

ujarnya.

Yusak Pakage, Sekjen TPM/OPM menambahkan, telah banyak terjadi penyusupan di Papua, terutama dalam berbagai elemen gerakan yang ada.

“Termasuk ada yang menyusup masuk ke dalam tubuh TPN/OPM, tapi mereka bisa dihitung dengan jari, ini jelas-jelas menggangu perjuangan kedepan,” katanya.

Dalam segala pertikaian dan konflik di Papua, menurut Pakage, “Aparat TNI/Polri sendiri yang menciptakan konflik, dengan tujuan memancaing turunnya dana pengamanan. Sering pake kasus-kasus untuk naik pangkat,” jelas Pakage.

Pakage juga memberikan apresiasi kepada masyarakat internasional yang saat ini semakin intens memberikan dukungan untuk rakyat Papua.

“Internasional sekarang sudah bekerja keras untuk mendukung Papua Merdeka, ini membuktikan bahwa Papua tidak selamanya dengan NKRI, salah satunya dukungan negara-negara pasifik,” kata Pakage.

Sebelumnya, seperti diberitakan media ini, Forkorus Yaboisembut bersama kelima aktivis Papua lainnya akan dibebaskan pada 21 Juli 2014 dari Lembaga Permasyarakatan Abepura, Papua. (Baca: Forkorus Yaboisembut Cs Akan Dibebaskan).

Sumber: SP.com

KSB Tembak Mati Tukang Ojek

JAYAPURA [PAPOAggota polisi saat berpatroli usai terjadi penembakan yang dilakukan KSB di Mimika. Aksi penembakan seperti ini kembali terjadi di Kabupaten Lanny jaya yang berujung meninggalnya, Narsito, seorang tukang ojek, Kamis (17/7/2014). S]- Hanya berselang sehari, pasca penembakan di Tingginambut Puncak Jaya yang menewaskan seorang warga bernama Kallo, Rabu (16/7/). Kini Kelompok Sipil Bersenjata (KSB) kembali berulah. Kali ini KSB menembak mati seorang tukang ojek bernama Narsito (40) di kampung Dogome Kabupaten Lanny Jaya, Kamis (17/7/2014) sekitar pukul 17.00 Wit.

Warga kampung Yokobag ini tewas ditempat kejadian, setelah timah panas mengenai kepala belakang hingga tembus pipi kanan.”Di tempat kejadian perkara polisi menemukan selongsongan peluru jenis FN. Korban diperkirakan ditembak dari dengan jarak sekitar 1 meter,” ujar Kabid Humas Kombes (Pol) Sulistyo Pudjo Hartono, S.Ik di Mapolda Papua, Kamis (17/7/2014).

Kabid Humas mengatakan, kejadian itu berawal saat korban mengantarkan penumpang Tiom, ibu kota Kabupaten Lannya menuju distrik Malagaineri.”Saat sampai di tempat tujuan, korban langsung ditembak dari belakang hingga meninggal dunia,”ujarnya.

Dengan adanya aksi teror penembakan tersebut, mantan Wadir Intelkam Polda Papua itu sampaikan di Tiom, Kabupaten Lanny Jaya masih ada kelompok kriminal bersenjata.

“Yang jelas bahwa dengan adanya penembakan tersebut menunjukkan bahwa masih adanya kelompok kriminal bersenjata yang mengganggu kamtibmas di wilayah Lany Jaya,” katanya.

Menurut Kabid Humas, perbuatan tersebut tidak dapat ditolerir dan di maafkan, sehingga pihaknya terus berupaya mempelajari dan mendalami kasus penembakan pengojek yang bisa meresahkan warga setempat.

“Kejahatan ini harus di tindak dan di bawa ke depan hukum dan saya pastikan bahwa pelaku akan di bawa ke depan hukum untuk mempertanggungjawabkan perbuatannya,” katanya.

Sementara itu, Plt Kepala Kantor Komnas HAM Perwakilan Papua, Frits Ramandey, S.Sos mengatakan Komnas HAM mengutuk aksi penembakan yang menimbulkan korban jiwa baik di Lanny Jaya, maupun kejadian sebelumnya di Puncak Jaya.

Menurut Frits, Komnas beranggapan bawah apa yang dilakukan oleh KSB tersebut termasuk pelanggaran HAM sebab menghilangkan nyawa orang lain.”Kami minta kepada KSB agar menjelaskan maksud dari aksi penembakan tersebut hingga menimbulkan korban jiwa di kalangan masyarakat sipil,”.[tom]

Jum’at, 18 Juli 2014 01:27, PAPOS

Up ↑

Wantok Coffee

Melanesia Single Origin Coffee

MAMA Minimart

MAMA Stap, na Yumi Stap!

PT Kimarek Aruwam Agorik

Just another WordPress.com site

Wantok Coffee News

Melanesia Foods and Beverages News

Perempuan Papua

Melahirkan, Merawat dan Menyambut

UUDS ULMWP

for a Free and Independent West Papua

UUDS ULMWP 2020

Memagari untuk Membebaskan Tanah dan Bangsa Papua!

Melanesia Spirit & Nature News

Promoting the Melanesian Way Conservation

Kotokay

The Roof of the Melanesian Elders

Eight Plus One Ministry

To Spread the Gospel, from Melanesia to Indonesia!

Koteka

This is My Origin and My Destiny