Vanuatu Fourth Happiest On The Planet

Pasifik.news – By Adam Boland – July 21, 2016

Vanuatu has been named the happiest country in the Asia Pacific region and fourth happiest in the world.

Australia didn’t even make the world’s top 100 while New Zealand came in at position 38.

The Happy Place Index measures life expectancy, human wellbeing and damage done to a country’s environmental footprint.

Vanuatu’s life expectancy is currently 71.3 years which is less than many countries in the region (Australians, for example, can expect to live to 82) but Vanuatu really shines in wellbeing and impact on the environment.

It’s not the first time the index has recognised Ni-Vanuatu as satisfied with their lives. Back in 2006, the country was named happiest in the world. Costa Rica was given the honour this year.

Authors of the index say one of Vanuatu’s strengths is that it prioritises family and community without needing to be consumer-driven.

But it’s not all smooth sailing. They say Vanuatu still has its challenges including a lack of a formal education infrastructure. “That’s resulted in school enrolments and attendance that’s among the lowest in the Pacific region,” says the report.

Papua: ULMWP Gagal Jadi Anggota MSG

Victor Mambor, Honiara, 2016-07-20

Upaya kelompok pro kemerdekaan Papua  – United Liberation Movement for West Papua (ULMWP) untuk menjadi anggota penuh organisasi Negara-Negara Melanesia yang tergabung dalam Melanesian Spearhead Group (MSG) belum terwujud.

Pertemuan pemimpin MSG di Honiara, Kepulauan Salomon pada 13-14 Juli 2016, memutuskan untuk menunda keputusan keanggotaan ULMWP.

Manaseh Sogavare, Ketua MSG yang juga adalah Perdana Menteri Solomon menjelaskan Jumat pekan lalu, bahwa tertundanya keputusan keanggotaan ULMWP karena kesalahan yang dibuat Sub Komisi Hukum MSG dalam menyusun kriteria dan panduan keanggotaan.

“Kesalahan ini sangat fatal. Kriteria baru menyebutkan yang menjadi anggota MSG adalah negara. Kata “negara” ini bukan saja menutup kemungkinan ULMWP menjadi anggota penuh tapi juga mengancam FLNKS,” kata Sogavare kepada BeritaBenar.

FLNKS atau Kanak Socialist National Liberation Front adalah gerakan separatis Kanak di Kaledonia Baru.

Salah satu tujuan pendirian MSG adalah untuk meningkatkan profil internasional suku Kanak tersebut dalam memperjuangkan kemerdekaannya dari Perancis, hal yang juga membuat MSG strategis bagi ULMWP dalam memperjuangkan cita-cita pergerakan yang juga ingin ke luar dari Indonesia ini, seperti dikutip dari situs the Interpreter. Oleh karena itulah keanggotaan di dalam MSG dinilai penting.

“Kami memberi waktu lagi pada sub komite hukum MSG untuk menyelesaikan tugas mereka. Sebelum September, para pemimpin akan bertemu lagi di Port Vila, Vanuatu, untuk menyelesaikan masalah keanggotaan ini,” jelas Sogavare.

Vanuatu dukung Papua

Usai pertemuan para Kepala Negara MSG, Perdana Menteri Vanuatu, Charlot Salwai menegaskan pertemuan di Port Vila tidak akan tertunda lagi seperti sebelumnya. Di Vanuatu, para pemimpin hanya akan membahas masalah kriteria dan keanggotaan ULMWP.

“Vanuatu adalah pendukung tradisional pembebasan Papua. Platform negara kami menegaskan Melanesia belum sepenuhnya bebas sampai seluruh wilayah Melanesia bebas dari penjajahan,” ujarnya.

Pertemuan di Honiara, kata Salwai, mengecewakan. Hasil pertemuan menunjukkan dengan jelas ketidakmampuan Sekretariat MSG dalam memahami tujuan pendirian MSG dan aspirasi politik bangsa Melanesia.

Fiji ancam keluar

Usai pertemuan para pemimpin MSG, seorang pejabat senior Kepulauan Solomon mengungkapkan konsensus yang dilakukan para kepala negara berlangsung tegang.

Vanuatu, Kepulauan Solomon dan FLNKS yang mendukung ULMWP jadi perwakilan bangsa dan rakyat Papua, harus berhadapan dengan Fiji yang mengancam akan keluar dari MSG jika ULMWP diterima sebagai anggota penuh.

“Fiji bersikap keras. Fiji akan keluar dari MSG jika ULMWP diterima dan kemungkinan Indonesia juga akan keluar. Sedangkan Papua New Guinea meski menentang aplikasi keanggotaan ULMWP, bersikap lebih lunak,” jelas pejabat senior Kepulauan Solomon yang menolak disebutkan namanya.

Kriteria baru yang “cacat” itu, menurut pejabat senior ini, digunakan pula oleh Papua New Guinea dan Fiji untuk menentang keanggotaan ULMWP.

Perdana Menteri Fiji, Frank Bainimarama terlihat meninggalkan lokasi acara sebelum pertemuan para pemimpin usai. Selanjutnya, delegasi Fiji dipimpin oleh Menteri Luar Negeri Fiji, Ratu Inoke Kubuabola.

“Perdana Menteri pulang lebih dulu untuk meresmikan tim rugby Fiji yang berangkat ke olimpiade Rio di Brazil,” jelas Kubuabola.

Galang dukungan

Pimpinan ULMWP mengaku dapat menerima dengan lapang datang meskipun batal menjadi anggota MSG dan masih dalam status observer. Octovianus Mote (Sekretaris Jenderal ULMWP) dan Benny Wenda (Juru Bicara ULMWP), menyatakan bisa menerima keputusan MSG.

“Kami orang Melanesia. Tapi kami adalah tamu di sini. Apapun keputusannya, tetap kami terima,” kata Mote.

Sedangkan Wenda mengatakan keputusan MSG tersebut mendorong ULMWP untuk menggalang dukungan lebih besar lagi dari negara-negara Pasifik, terutama wilayah Polinesia dan Mikronesia.

Tawarkan kerjasama ekonomi

Sementara itu, Indonesia menawarkan kerjasama ekonomi dengan negara-negara anggota MSG. Tetapi menurut pimpinan Delegasi Indonesia, rencana kerjasama itu terhambat dengan kehadiran delegasi ULMWP.

“Indonesia siap membantu MSG dalam berbagai kerjasama ekonomi di masa akan datang. 622 juta penduduk ASEAN bisa menjadi pasar potensial buat MSG. Kehadiran ULMWP hanya akan menghambat rencana kerjasama ini,” ungkap Desra Percaya, ketua delegasi Indonesia.

Dia menambahkan bahwa MSG seharusnya tegas menyatakan tidak ada tempat bagi kelompok separatis dalam organisasi itu.

Indonesia yang mengklaim memiliki sekitar 11 juta orang Melanesia yang tersebar di beberapa propinsi di bagian timur, melamar sebagai anggota MSG pada tahun 2010 dan mendapatkan status observer pada 2011. Dalam pertemuan di Honiara Juni 2015, MSG menaikkan posisi Indonesia sebagai anggota associate dan ULMWP sebagai observer, seperti dilaporkan di situs abc.

Vanuatu Deputy PM: MSG Members Have Their Own Agendas On West Papua

Natuman claims ‘MSG is being bought by others’

Compiled by Jane Joshua

Joe Natuman, Deputy PM Vanuatu
Joe Natuman, Deputy PM Vanuatu

PORT VILA, Vanuatu (Vanuatu Daily Post, July 20, 2016) – Deputy Prime Minister and Minister of Trades, Joe Natuman, believes other people are trying to use the Melanesian Spearhead Group (MSG) to drive their own agendas, saying it is similar to Jesus who was betrayed and sold for 30 pieces of silver.

The United Liberation Movement for West Papua (ULMWP) was not admitted as full member of the Melanesian Spearhead Group during the Special MSG summit in Honiara, Solomon Islands on July 14, 2016.

[PIR editor’s note: On July 20, 2016 Vanuatu Daily Post reported that ‘The Chairman of the Vanuatu Committee for Free West Papua, Pastor Allen Nafuki, has said he strongly believes that the Melanesian Spearhead Group (MSG) meeting to be held in Port Vila in September, will grant West Papua full membership into the Melanesian Spearhead Group.’]

“Our Prime Minister was the only one talking in support of full membership for West Papua in the MSG, the Solomon Islands Prime Minister couldn’t say very much because he is the chairman,” the veteran politician told Buzz FM 96’s Coffee and Controversy host Mark O’Brien yesterday morning.

“Prime minister Charlot Salwai was the only one defending Melanesians and the history of Melanesian people in the recent MSG meeting in Honiara.

“The MSG, I must repeat, the MSG, which I was a pioneer in setting up was established for the protection of the identity of the Melanesian people, the promotion of their culture and defend their rights. Right to self determination, right to land and right to their resources.

“Now it appears other people are trying to use the MSG to drive their own agendas and I am sorry but I will insist that MSG is being bought by others.

“It is just like Jesus Christ who was bought for 30 pieces of silver. This is what is happening in MSG. I am very upset about this and we need to correct this issue.

“Because if our friends in Fiji and Papua New Guinea have a different agenda, we need to sit down and talk very seriously about what is happening within the organization.

“And I am sorry but I will insist that MSG is being bought by others.”

Asked what transpired at the Honiara Summit, DPM Natuman said according to the Prime minister’s briefing on his return, there were some misunderstanding on what happened in the Officials’ Meeting and the Foreign Ministers meeting.

“What happened was that they presented to the Summit Leaders something which apparently was not discussed at the officers level so this was the problem,” he explained.

“The issue of Membership was supposed to be presented to the Leaders.

“Instead they present the leaders with a list of criteria for membership.

“This criteria was whether or not organisations or liberation movements should be considered for full membership.

“Finally, our Prime minister was the only one talking in support of West Papua membership, the Solomon Islands Prime Minister couldn’t say very much because he is the chairman.”

On the issue of New Caledonia, DPM Natuman said, “People are now saying we should not be interfering with Indonesia’s sovereignty. But what about New Caledonia? France has held onto New Caledonia.

“In the 1990s, we insisted that New Caledonia was a colonial possession of France, therefore we have the right to intervene .

“And we intervened, firstly we asked the people of New Caledonia to form an umbrella grouping, or political parties to support their cause. So they established the FLNKS at Vanuatu’s request.

“Through that means we promote their issues to the Forum and eventually they were listed in the UN’s listing of colonial territories.

“We have to assist them to get Independence, same as West Papua.

“West Papua was forcibly annexed by Indonesia and brutally overthrown. They were in the process of getting their independence in the early 1960s.

“West Papua is very rich in resources, gold, copper and forests thus a lot of western capitalists were interested in that.

“Now they say we cannot interfere, no, we must interfere. Melanesians are being killed by Asians, we have to interfere.”

The Deputy Prime Minister was part of the panel in yesterday’s 96Buzz FM’s Coffee and Controversy show at the Lava Lounge, which also features Glen Craig from Pacific Advisory and Job Dalesa who is on the West Papua Reunification Committee.

When asked on his opinion on whether MSG in itself has ‘lost its way’ as implied by the DPM, Dalsesa replied,” I certainly think so, West Papua has a lot of enemies. A lot of people are fighting over this area because of its resources, and by fighting you can do a lot of things including buying another country and I think this is what they are doing.

“The divide and rule tactic is a common tactic that has been used for a long time.”

Yesterday’s show revolved around Foreign Policy, MSG and the South China Sea dispute.

Don’t miss out on the next Coffee & Controversy Show, 9am next Tuesday.

Vanuatu Daily Post
Copyright © 2016 Trading Post Limited. All Rights Reserved

Nafuki believes ULMWP membership in MSG will be made in Septembe

DailyPost.vu, By Godwin Ligo |  Posted: Wednesday, July 20, 2016 8:00 am

The Chairman of the Vanuatu Committee for Free West Papua, Pastor Allen Nafuki, has said he strongly believes that the Melanesian Spearhead Group (MSG) meeting to be held in Port Vila in September, will grant West Papua full membership into the Melanesian Spearhead Group.

“It was right here in Port Vila, that Vanuatu played an important role in hosting of the reconciliation ceremonies between all West Papua Leaders, and the formation, and the signing of the agreement of the United Liberation Movement for West Papua (ULMWP) between all the West Papua Leaders,” Pastor Nafuki told the Daily Post.

He went on to state that: “As a Pastor in a Christian church and occupying the Chair of the Free West Papua Association in Vanuatu, I also strongly believe that it is God’s plan that the West Papua admission as a full member to the MSG will take place here in Vanuatu.

“In this regard I am calling on every Christian Leaders in all Christian denominations and all Christians across Vanuatu to rise in Pray in one accord for this dream for West Papua brothers and sisters to be fully realized in September 2016 here in Port Vila, Vanuatu,” he appealed.

“After the news was received from Honiara that West Papua full admission into the MSG did not happen, I gave a lot of thought about why the MSG Leaders had once again did not grant full admission to the Melanesian brothers and sisters in West Papua full MSG membership.

“What came across my mind is that we humans make plans but God’s will according to His plan and time is what we have to seek and accept.

“So, as of today as I am talking to the Daily Post, I wish to state that my Committee is reviewing plans and preparing an even stronger application which will be submitted in good time ahead of the MSG Leaders’ Summit here in Port Vila in September, 2016,”

said Pastor Nafuki.

“Let me reiterate my call on all Christian Leaders and all Christians across Vanuatu to place West Papua Melanesian brothers and sisters for a full membership into the MSG, in the hands of the Almighty God to grant this request in the MSG Leaders’ Summit in September 2016,”

Nafuki reiterated.

ligo@dailypost.vu

Vanuatu Deputy PM: Melanesians Being Killed By Asians

Pasifik.News – By Adam Boland – July 20, 2016

Vanuatu’s Deputy Prime Minister has hit out at Indonesia saying Melanesians must speak up for the people of West Papua.

Joe Natuman believes the Melanesian Spearhead Group (MSG) is being swayed by outside interests after it deferred making a decision on awarding full membership to the United Liberation Movement for West Papua (ULMWP).

“West Papua was forcibly annexed by Indonesia and brutally overthrown. They were in the process of getting their independence in the early 1960s,” he told Vanuatu’s Buzz FM 96. “Now they say we cannot interfere, no, we must interfere. Melanesians are being killed by Asians, we have to interfere.”

He says the MSG is failing to meet its charter.

“The MSG, I must repeat, the MSG, which I was a pioneer in setting up was established for the protection of the identity of the Melanesian people, the promotion of their culture and to defend their rights,” he said. “Now it appears other people are trying to use the MSG to drive their own agendas and I am sorry but I will insist that MSG is being bought by others.”

Vanuatu has been a strong supporter of the ULMWP getting full membership but Papua New Guinea and Fiji say it would undermine Indonesia’s sovereignty. Jakarta has confirmed it has been lobbying Melanesian countries intensely.

“If our friends in Fiji and Papua New Guinea have a different agenda, we need to sit down and talk very seriously about what is happening within the organisation,” said Mr Natuman.

West Papuans sold out for ’30 pieces of silver’, says Natuman

By PMC Editor – July 20, 2016

Joe Natuma
Vanuatu’s Deputy Prime Minister Joe Natuman believes other people are trying to use the Melanesian Spearhead Group (MSG) to drive their own agendas, saying it is similar to Jesus Christ who was betrayed and sold for 30 pieces of silver.

The United Liberation Movement for West Papua (ULMWP) was not admitted as full member of the Melanesian Spearhead Group during the Special MSG summit in Honiara, Solomon Islands, last week.

“Our Prime Minister was the only one talking in support of full membership for West Papua in the MSG, the Solomon Islands Prime Minister couldn’t say very much because he is the chairman,” the veteran politician told Buzz FM 96’s Coffee and Controversy host Mark O’Brien.

“Prime Minister Charlot Salwai was the only one defending Melanesians and the history of Melanesian people in the recent MSG meeting in Honiara.

“The MSG, I must repeat, the MSG, which I was a pioneer in setting up, was established for the protection of the identity of the Melanesian people, the promotion of their culture and defending their rights. Right to self determination, right to land and right to their resources.

“Now it appears other people are trying to use the MSG to drive their own agendas and I am sorry but I will insist that MSG is being bought by others.

“It is just like Jesus Christ who was bought for 30 pieces of silver. This is what is happening in the MSG. I am very upset about this and we need to correct this issue.

“Because if our friends in Fiji and Papua New Guinea have a different agenda, we need to sit down and talk very seriously about what is happening within the organisation.

‘It is being bought’

“And I am sorry but I will insist that MSG is being bought by others.”

Asked what transpired at the Honiara Summit, Natuman said that according to the Prime minister’s briefing on his return there were some misunderstandings on what happened in the Officials’ Meeting and the Foreign Ministers meeting.

“What happened was that they presented to the Summit Leaders something which apparently was not discussed at the officers level so this was the problem,” he explained.

“The issue of membership was supposed to be presented to the Leaders.

“Instead, they presented the leaders with a list of criteria for membership.

“This criteria was whether or not organisations or liberation movements should be considered for full membership.

“Finally, our prime minister was the only one talking in support of West Papua membership, the Solomon Islands Prime Minister couldn’t say very much because he is the chairman.”

New Caledonia contrast

On the issue of New Caledonia, Natuman said: “People are now saying we should not be interfering with Indonesia’s sovereignty. But what about New Caledonia? France has held onto New Caledonia.

“In the 1990s, we insisted that New Caledonia was a colonial possession of France, therefore we have the right to intervene .

“And we intervened. Firstly, we asked the people of New Caledonia to form an umbrella grouping, or political parties to support their cause. So they established the FLNKS at Vanuatu’s request.

“Through that means we [have] promoted their issues to the Forum and eventually they were listed in the UN’s listing of colonial territories.

“We have to assist them to get independence, same as [with] West Papua.

“West Papua was forcibly annexed by Indonesia and brutally overthrown. They were in the process of getting their independence in the early 1960s.

“West Papua is very rich in resources, gold, copper and forests thus a lot of Western capitalists were interested in that.

‘We must interfere’

“Now they say we cannot interfere. No, we must interfere. Melanesians are being killed by Asians, we have to interfere.”

The Deputy Prime Minister was part of the panel in yesterday’s 96Buzz FM’s Coffee and Controversy show at the Lava Lounge, which also featured Glen Craig, from Pacific Advisory, and Job Dalesa, who is on the West Papua Reunification Committee.

When asked his opinion on whether MSG has “lost its way” as implied by the DPM, Dalsesa replied: ”I certainly think so, West Papua has a lot of enemies. A lot of people are fighting over this area because of its resources, and by fighting you can do a lot of things, including buying another country and I think this is what they are doing.

“The divide-and-rule tactic is a common tactic that has been used for a long time.”

Yesterday’s show revolved around foreign policy, MSG and the South China Sea dispute.

Jane Joshua is a journalist with the Vanuatu Daily Post.

Vanuatu Deputy PM: Melanesians Being “Killed By Asians”

Vanuaty Daily Post – Vanuatu’s Deputy Prime Minister has hit out at Indonesia saying Melanesians must speak up for the people of West Papua.

Joe Natuman believes the Melanesian Spearhead Group (MSG) is being swayed by outside interests after it deferred making a decision on awarding full membership to the United Liberation Movement for West Papua (ULMWP).

“West Papua was forcibly annexed by Indonesia and brutally overthrown. They were in the process of getting their independence in the early 1960s,” he told Vanuatu’s Buzz FM 96. “Now they say we cannot interfere, no, we must interfere. Melanesians are being killed by Asians, we have to interfere.”

He says the MSG is failing to meet its charter.

“The MSG, I must repeat, the MSG, which I was a pioneer in setting up was established for the protection of the identity of the Melanesian people, the promotion of their culture and to defend their rights,” he said. “Now it appears other people are trying to use the MSG to drive their own agendas and I am sorry but I will insist that MSG is being bought by others.”

Vanuatu has been a strong supporter of the ULMWP getting full membership but Papua New Guinea and Fiji say it would undermine Indonesia’s sovereignty. Jakarta has confirmed it has been lobbying Melanesian countries intensely.

“If our friends in Fiji and Papua New Guinea have a different agenda, we need to sit down and talk very seriously about what is happening within the organisation,” said Mr Natuman.

Sikap NRFPB Merespon Hasil KTT MSG Di Honiara, Kepulauan Solomon

JAYAPURA – Gagalnya ULMWP (United Liberation Movement for West Papua) untuk menjadi anggota penuh pada Forum Melanesia Sparehead Group (MSG), nampaknya turut menjadi perhatian serius Forkorus Yobosembut, yang mengklaim diri sebagai Presiden Negara Federal Republik Papua Barat (NFRPB).

Forkorus Yoboisembut malah mempertanyakan bahwa kapan ULMWP dibentuk, mengapa dibentuk, dan dimana selama ini menggelar rapat-rapat di luar negeri dan dalam negeri, serta ULMWP bekerja dengan siapa, dirinya tahu dengan benar.

Kehadiran ULMWP tersebut juga disebabkan oleh dirinya, dimana ada dua stafnya yang memilih memisahkan diri dari NFRPB dan berjuang sendiri. Ibarat seperti ada dua anak yang kawin lari dan melahirkan, salah satunya melahirkan/mendirikan ULMWP.

“Kelompok ULMWP ini dulunya berada dalam perjuangan bersama NFRPB, tapi memilih memisahkan diri, dan menyampaikan kepada saya bahwa saya jangan menyesal, karena mereka mau bentuk sesuatu yang lain,” ungkapnya kepada Bintang Papua, usai doa syukur di Pendopo Masyarakat Adat Tabi di Kampung Sabronsari, Selasa, (19/7).

Dijelaskan, pada 19 Desember 2014, dirinya mengutus Edison Waromi, Markus Haluk dan Yakob Rumbiak ke pertemuan MSG untuk membacakan kriteria NFRPB menjadi anggota MSG di Port Moresby ketika itu, tapi hasilnya untuk Papua Barat akan membentuk suatu organisasi payung yang inklusif dengan Indonesia. Nah kesempatan yang digunakan oleh mereka yang dulunya bergabung dengan NFRB tersebut untuk membentuk ULMWP.

Disamping itu, dirinya menyampaikan agar ULMWP ini jangan dibentuk dulu, dan pihaknya melihat kriterianya dulu untuk membentuk ULMWP karena organisasi perjuangan kemerdekaan Papua sudah banyak, sehingga sebaiknya diserahkan saja nama-nama organisasi-organisasi tersebut kepada MSG untuk melihat mana organisasi yang memenuhi kriteria dan layak menjadi organisasi payung dalam memperjuangkan kemerdekaan Papua di luar negeri. Tetapi sarannya itu ditolak mentah-mentah oleh mereka yang membentuk ULMWP, yang dulunya dirinya menampung mereka di Sentani. Termasuk dirinya juga membentuk Komite Nasional Papua Barat (KNPB), tapi di tengah jalan, KNPB memilih untuk memisahkan diri dengan NFRPB.

Lanjutnya, sebelumnya ada utusan empat orang dari ULMWP datang bertemu dengan dirinya meminta restu untuk ke pertemuan forum MSG di Honiara, dan dirinya menyampaikan kepada mereka bahwa silakan jalan dan menghadang NFRPB di MSG, karena membantu Indonesia.

“Edison Waromi, Markus Haluk dan Yakob Rumbiak sekembali mereka dari Port Moresby, saya sampaikan kepada mereka bahwa untuk sementara putus hubungan kerja dengan Saya. Khusus Markus Haluk, saya pecat karena saya angkat dia dengan SK. Saya putuskan kerja dengan mereka karena mereka inkonsistensi dengan yang sudah saya tetapkan, khususnya inkonsisten terhadap deklarasi,” tandasnya.

Atas dasar itu, maka NFRPB tidak ada di dalam ULMWP, dan ULMWP sendiri dalam perjuangan hanya mengatasnamakan rakyat Papua saja, karena mereka tidak konsisten terhadap deklarasi, Itu harusnya ULMWP malu, karena tidak konsisten terhadap deklarasi, masih saja bawa nama NFRPB dan rakyat Papua.

Sehingga kemarin di MSG menunda keanggotaan ULMWP, karena MSG sendiri tidak mencapai konsensus bersama para anggota MSG. Berikutnya MSG akan mengadakan pertemuan khusus pada September 2016 untuk menyusun kriteria dan pedoman siapa yang berhak menjadi forum Full Member Only State, siapa yang berhak menjadi Asiciaty Member State, dan siapa yang berhak menjadi Observe Status.

Jadi kemungkinan kecil kalau sampai fundamental kriterianya itu Full Member Only State, maka ULMWP tidak menjadi anggota MSG, sebab kriterianya sangat ketat. Kalau MSG meniru kriteria seperti yang organisasi VIP punya, maka kemungkinan kecil ULMWP bisa menjadi anggota MSG. Itu berita yang benar, karena dirinya memperoleh informasi resmi dari rekan-rekannya di Australia dan Belanda.

“Jadi istilah kasarnya, ULMWP ditolak secara halus oleh MSG, sehingga kita tidak usah menipu rakyat, kita kasih tau saja kepada rakyat secara lurus saja supaya rakyat tidak menunggu sesuatu yang tidak benar atau tidak pasti. Masa kita mau membohongi rakyat kita, dan jangan Papua tipu Papua sebab di MSG dalam pengambilan keputusan tidak mengenal system votting, tetapi sistem suara bulat, dengan demikian jika satu anggota MSG tidak setuju, maka semua tidak setuju. Salomom Island pernah usulkan ULMWP boleh bergabung tapi tidak boleh bicara politik, hanya bicara ekonomi dan budaya, tetapi itupun tidak disetujui,” jelasnya.

Sementara itu, masyarakat Papua selama ini sangat menghormati tatanan adat yang ada di Tanah Papua karena hal tersebut adalah dasar dari sikap saling menghargai. Namun demikian, saat ini terdapat kelompok yang masih seumuran jagung kemudian mendeklarasikan diri dengan nama ULMWP atau Kelompok Persatuan Pembebasan Papua Barat dan mengklaim sebagai representasi masyarakat asli Papua. Melalui kampanye propaganda agar masyarakat mendukung perjuangan luar negeri yang dilakukan di MSG, mereka mengabaikan tatanan adat yang berlaku selama ini di Papua dan masyarakat juga sepertinya menjadi terjebak oleh konspirasi dalam kelompok tersebut. Jadi tidak ada tempat bagi ULMWP dalam masa depan MSG.

Demikian ditegaskan oleh Dubes Desra, Direktur Jenderal Asia Pasifik dan Afrika Kementerian Luar Negeri Republik Indonesia, dalam press releasenya ke Kantor Redaksi Bintang Papua, Selasa, (19/7).

ULMWP pada dasarnya bukan merupakan perjuangan murni dari dalam Papua tetapi lebih banyak untuk mengakomodir kepentingan pihak luar negeri yang dibawa oleh orang Papua dimana notabenenya telah menetap secara permanen di luar negeri. ULMWP yang juga mencatut nama NRFPB sebagai kelompok pendukungnya, telah menyebarkan kebohongan kepada seluruh masyarakat Papua karena sampai saat ini, NRFPB dengan tegas menyatakan tidak berada dalam ULMWP. NFRPB sendiri pada dasarnya berprinsip bahwa pengajuan aplikasi ke MSG harus dalam bentuk negara sehingga NFRPB yang seharusnya menjadi pemimpin dalam aplikasi yang akan diajukan, bukan ULMWP.

MSG adalah organisasi kerja sama sub-kawasan Melanesia yang bertujuan mempromosikan dan memperkuat hubungan perdagangan antar anggota, pertukaran budaya Melanesia, serta kerja sama teknik untuk mencapai pertumbuhan ekonomi, pembangunan berkelanjutan, pemerintahan yang baik, dan keamanan. Dari definisi tersebut, sudah sangat jelas bahwa langkah yang dilakukan oleh ULMWP selama ini adalah kekeliruan besar karena seharusnya permasalahan Papua, juga harus diselesaikan di Papua, bukan dengan membawanya ke luar negeri yang justru mengundang campur tangan negara lain dan tentunya menyimpan seribu kepentingan yang akan membuat rakyat Papua tidak lebih menjadi penonton di atas tanahnya sendiri.(Nls/don)

Tak Mau Ada Separatis, Komnas HAM Kecam Pernyataan Sultan

Rabu, 20 Juli 2016 | 18:34 WIB

TEMPO.CO, Yogyakarta – Komisi Nasional Hak Asasi Manusia (Komnas HAM) mengecam pernyataan Gubernur Daerah Istimewa Yogyakarta Sultan Hamengku Buwono X yang mengatakan tidak boleh ada separatis di Yogyakarta. Pernyataan itu dikeluarkan Sultan pada 19 Juli 2016 di Kepatihan menanggapi aksi sejumlah mahasiswa Papua di Yogyakarta yang menggelar dukungan atas United Liberation Movement For West Papua (ULMWP). Para mahasiswa Papua itu mendorong ULMWP menjadi anggota Melanesian Spearhead Group (MSG).

“Itu sangat berbahaya. dalam konteks budaya Jawa, itu pengusiran secara halus, bahwa orang Papua tak boleh di Jogja,” kata Komisioner Komnas HAM Natalius Pigai saat ditemui di Asrama Papua Kamasan sesaat sebelum bertolak ke Kepatihan Yogyakarta untuk menemui Sultan, Rabu, 20 Juli 2016.

Mengingat kedudukan Sultan tak hanya sebagai kepala pemerintahan, melainkan juga tokoh nasional dan Raja Jawa. Dan sebagai raja, lanjut Pigai, pernyataan Sultan akan diikuti semua rakyatnya. “Itu penyataan chauvinist pimpinan besar negara. Itu tidak boleh,” kata Pigai sembari mengingatkan adanya jaminan hukum dalam berekspresi dan menyatakan pendapat.

Selain ingin menanyakan ihwal maksud pernyataan Sultan, Pigai juga ingin meminta keterangan soal peran pemerintah dalam memberikan perlindungan kepada para mahasiswa Papua di Yogyakarta.

Juru bicara Persatuan Rakyat untuk Pembebasan Papua Barat (PRPPB) Roy Karoba pun menyesalkan pernyataan Sultan. “Itu menyulitkan kami di sini. Seolah label separatis itu melekat pada orang Papua,” kata Roy saat ditemui di Asrama Papua “Kamasan”.

Dia pun meminta Sultan menyampaikan secara tegas maksud dari pernyataannya soal tak boleh ada separatis di Yogyakarta itu. “Kalau benar itu pengusiran, kami akan angkat kaki dari Jogja,” kata Roy.

Sultan membantah maksud pernyataannya adalah tidak memperbolehkan mahasiswa Papua tinggal di Yogyakarta. Menurut Sultan, aspirasi untuk menentukan nasib sendiri yang dilakukan mahasiswa Papua boleh dilakukan, asalkan tidak disampaikan kepada publik. “Kalau di asrama, silakan. Kalau disampaikan ke publik, di tempat lain sana, tidak di Jogja,” kata Sultan di Kepatihan, Rabu, 20 Juli 2016.

Alasannya, masyarakat Yogyakarta itu untuk Indonesia, bukan Yogyakarta memberi ruang bagi separatis untuk memisahkan diri dari Indonesia. “Itu prinsip. Beberapa kali sudah terjadi dan sudah saya ingatkan. Saya tidak mau Yogyakarta menjadi tempat untuk aspirasi lain,” kata Sultan.

PITO AGUSTIN RUDIANA

PM Selandia Baru: Jokowi Janji Selesaikan Masalah HAM Papua

Penulis: Eben E. Siadari 08:32 WIB | Selasa, 19 Juli 2016

Presiden Joko Widodo dan Perdana Menteri Selandia Baru, Jhon Key di Istana Negara, Senin 18 Juli (Foto: setkab.go.id)

JAKARTA, SATUHARAPAN.COM – Dalam pembicarannya dengan Presiden Joko Widodo di Jakarta hari Senin (18/7), Perdana Menteri Selandia Baru mengkonfirmasi bahwa salah satu topik yang mereka bicarakan adalah masalah pelanggaran Hak Asasi Manusia (HAM) di Papua.

Bahkan dalam pertemuan itu, menurut Key, seperti dilaporkan oleh sebuah media Selandia Baru, newshub.co.nz, Jokowi sendiri yang secara proaktif mengangkat isu tersebut.

Menurut Key, dibandingkan dengan desakan untuk menghentikan hukuman mati di Indonesia –yang juga menjadi kepedulian Selandia Baru dan dibicarakan dalam pertemuan– Jokowi lebih mudah menerima saran untuk menyelidiki setiap pelanggaran HAM di Papua.

Masalah pelanggaran HAM di Indonesia telah menjadi sorotoan dunia internasional, termasuk ketika Kepolisian menangkap lebih dari 1.000 orang pada sebuah unjuk rasa menuntut referendum di Papua, belum lama ini.

Di Selandia Baru, tuntutan agar John Key mengangkat isu pelanggaran HAM Papua dibicarakan dalam pertemuan ini datang dari Partai Hijau.

Sebelum pertemuan itu, Partai Hijau mendesak Key untuk membahas “memburuknya situasi hak asasi manusia” di Papua.

Kepada media yang mewawancarainya setelah pertemuan dengan Jokowi, Key mengatakan mantan wali kota Solo itu serius untuk menangani situasi dan isu hak asasi manusia di Papua.

“Mereka mengangkat secara khusus tentang HAM, dan mengatakan jika ada masalah khusus dengan HAM, maka mereka menangani isu-isu tersebut, mereka menyelidikinya dan memastikan hal itu tidak terulang,” kata dia.

“Mereka tampaknya cukup tertarik untuk memiliki transparansi yang lebih besar,” ia menambahkan.

Di bagian lain keterangannya, John Key menekankan bahwa Selandia Baru tidak mempermasalahkan kedaulatan Indonesia di Papua.

“Kami tidak mempermasalahkan isu kedaulatan di Papua. Saya kira sudah lama Selandia baru memiliki posisi bahwa kami mengakui hak kedaulatan (Indonesia) di wilayah Papua tetapi dalam isu HAM secara luas, kami mengatakan kepada mereka, hal itu akan selalu menjadi kepedulian rakyat Selandia Baru.”

Menurut John Key, Jokowi dan Menlu Retno Marsudi, “memberikan jaminan kepada kami bahwa mereka menjaga HAM di sana.”

Ketika ditanya, apakah John Key mempercayai jaminan itu, ia mengatakan bahwa Indonesia telah menciptakan kemajuan nyata dan Indonesia tidak meremehkan keprihatinan Selandia Baru.

Hukuman Mati

Sementara itu terkait dengan isu hukuman mati yang dibicarakan pada pertemuan tersebut, John Key mengatakan ia memahami bahwa Indonesia belum dapat menghapus hukuman jenis itu.

Pada hari yang sama dengan pertemuan, Amnesty International menyerukan agar Key membicarakan masalah hukuman mati dengan Jokowi, yang tahun lalu saja, digunakan setidaknya 14 kali di Indonesia.

Jaksa Agung mengindikasikan bulan lalu bahwa 16 orang ditetapkan untuk menghadapi regu tembak tahun ini, dan mereka memiliki anggaran untuk mengeksekusi 30 lainnya pada tahun 2017.

Key mengatakan ia menyampaikan kepada Jokowi bahwa Selandia Baru sangat menentang penggunaan hukuman mati. Tapi dia tidak mengharapkan perubahan dalam waktu dekat.

“Kami menyampaikan perasaan kami bahwa hukuman mati adalah sesuatu yang kami tidak dapat terima dan dukung, meskipun beratnya kejahatan yang dilakukan oleh orang yang dikenai hukuman mati itu,” kata dia.

Namun, Key memahami bahwa Indonesia tidak mungkin dalam waktu dekat dapat mengubah hal itu.

“Indonesia menghadapi masalah narkotika yang besar, mereka menghadapi banyaknya orang Indonesia pecandu dan mencoba untuk mengirim pesan yang kuat, sekarang kita di Selandia Baru percaya bahwa hal itu dapat dikatakan dengan cara yang berbeda. ”

Isu lain yang dibicarakan pada pertemuan itu adalah masalah hubungan ekonomi. Key secara khusus mengatakan yakin akan dicapai kesepakatan mengenai ekspor daging sapi Selandia Baru ke Indonesia.

Editor : Eben E. Siadari

Up ↑

Wantok Coffee

Melanesia Single Origin Coffee

MAMA Minimart

MAMA Stap, na Yumi Stap!

PT Kimarek Aruwam Agorik

Just another WordPress.com site

Wantok Coffee News

Melanesia Foods and Beverages News

Perempuan Papua

Melahirkan, Merawat dan Menyambut

UUDS ULMWP

for a Free and Independent West Papua

UUDS ULMWP 2020

Memagari untuk Membebaskan Tanah dan Bangsa Papua!

Melanesia Spirit & Nature News

Promoting the Melanesian Way Conservation

Kotokay

The Roof of the Melanesian Elders

Eight Plus One Ministry

To Spread the Gospel, from Melanesia to Indonesia!

Koteka

This is My Origin and My Destiny